Anda di halaman 1dari 14

I.

Tujuan percobaan 1. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi skrining terhadap fungsi ginjal dengan cara urinanalisis. 2. Menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh.

II.

Prinsip percobaan Berdasarkan perubahan warna pada carik uji dibandingkan dengan standar yang ada.

III.

Dasar teori Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.

Secara umum, proses pembentukan urin terjadi dalam 4 tahap, yaitu : 1. Penyaringan ( Filtrasi ) Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler dengan struktur spesifik dibuat untuk menahan komonen selular dan medium-molekular-protein besar kedalam vascular sistem, menekan cairan yang identik dengan plasma di elektrolitnya dan komposisi air. Cairan ini disebut filtrate glomerular. Tumpukan glomerulus tersusun dari jaringan kapiler. Pada mamalia, arteri renal terkirim dari arteriol afferent dan melanjut sebagai arteriol eferen yang meninggalkan glomrerulus. Tumpukan glomerulus dibungkus didalam lapisan sel epithelium yang disebut kapsula bowman. Area antara glomerulus dan kapsula bowman disebut bowman space dan merupakan bagian yang mengumpulkan filtrate glomerular, yang menyalurkan ke segmen pertama dari tubulus proksimal. Struktur kapiler glomerular terdiri atas 3 lapisan yaitu : endothelium capiler, membrane dasar, epiutelium visceral. Endothelium kapiler terdiri satu lapisan sel yang perpanjangan sitoplasmik yang ditembus oleh jendela atau fenestrate (Guyton.1996). Dinding kapiler glomerular membuat rintangan untuk pergerakan air dan solute menyebrangi kapiler glomerular. Tekanan hidrostatik darah didalam kapiler dan tekanan oncotik dari cairan di dalam bowman space merupakan kekuatn untuk proses filtrasi. Normalnya tekanan oncotik di bowman space tidak ada karena molekul protein yang medium-besar tidak tersaring. Rintangan untuk filtrasi (filtration barrier) bersifat selektiv permeable. Normalnya komponen seluler dan protein plasmatetap didalam darah, sedangkan air dan larutan akan bebas tersaring (Guyton.1996). Pada umunya molekul dengan raidus 4nm atau lebih tidak tersaring, sebaliknya molekul 2 nm atau kurang akan tersaring tanpa batasan. Bagaimanapun karakteristik juga mempengaruhi kemampuan dari komponen darah untuk menyebrangi filtrasi. Selain itu beban listirk (electric charged) dari sretiap molekul juga mempengaruhi filtrasi. Kation (positive) lebih mudah tersaring dari pada anion. Bahan-bahan kecil yang dapat terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di

glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein (Guyton.1996). 2. Penyerapan ( Absorbsi) Tubulus proksimal bertanggung jawab terhadap reabsorbsi bagian terbesar dari filtered solute. Kecepatan dan kemampuan reabsorbsi dan sekresi dari tubulus renal tiak sama. Pada umumnya pada tubulus proksimal bertanggung jawab untuk mereabsorbsi ultrafiltrate lebih luas dari tubulus yang lain. Paling tidak 60% kandungan yang tersaring di reabsorbsi sebelum cairan meninggalkan tubulus proksimal. Tubulus proksimal tersusun dan mempunyai hubungan dengan kapiler peritubular yang memfasilitasi pergherakan dari komponen cairan tubulus melalui 2 jalur : jalur transeluler dan jalur paraseluler. Jalur transeluler, kandungan dibawa oleh sel dari cairn tubulus melewati epical membrane plasma dan dilepaskan ke cairan interstisial dibagian darah dari sel, melewati basolateral membrane plasma (Corwin.2001). Jalur paraseluler, kandungan yang tereabsorbsi melewati jalur paraseluler bergerakdari vcairan tubulus menuju zonula ocludens yang merupakan struktur permeable yang mendempet sel tubulus proksimal satu daln lainnya. Paraselluler transport terjadi dari difusi pasif. Di tubulus proksimal terjadi transport Na+ melalui Na+, K+ pump. Di kondisi optimal, Na+, K+, ATPase pump menekan tiga ion Na+ kedalam cairan interstisial dan mengeluarkan 2 ion K+ ke sel, sehingga konsentrasi Na+ di sel berkurang dan konsentrasi K+ di sel bertambah. Selanjutnya disebelah luar difusi K melalui canal K+ membuat sel polar. Jadi interior sel bersifat negative . pergerakan Na+ melewati sel apical difasilitasi spesifik transporters yang berada di membrane. Pergerakan Na+ melewati transporter ini berpasangan dengan larutan lainnya dalam satu pimpinan sebagai Na+ (contransport) atau berlawanan pimpinan (countertransport). (Corwin.2001). Substansi diangkut dari tubulus proksimal ke sel melalui mekanisme ini (secondary active transport) termasuk gluukosa, asam amino, fosfat, sulfat, dan organic anion. Pengambilan active substansi ini menambah konsentrasi intraseluler dan membuat substansi melewati membrane plasma basolateral dan kedarah melalui pasif atau difusi

terfasilitasi. Reabsorbsi dari bikarbonat oleh tubulus proksimal juga di pengaruhi gradient Na+. (Corwin.2001) 3. Penyerapan Kembali ( Reabsorbsi ) Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal. Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrate dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali. (Corwin.2001) Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03%, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osn osis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal (Corwin.2001). 4. Augmentasi Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin. Zat sisa metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H2O, NHS, zat warna empedu, dan asam urat (Cuningham, 2002). Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak

berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut (Corwin.2001). Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin. Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah (Corwin.2001). Tes fisik urin dapat dilakukan untuk skrining, diagnosis, dan pemantauan efektivitas pengobatan. Selama pemeriksaan visual, dokter atau staf laboratorium dapat mengamati warna, kejernihan dan baunya yang akan dikonfirmasi dengan pemeriksaan kimia dan mikroskopis. Penampilan fisik urin yang dapat dilihat dengan observasi langsung adalah: 1. Warna urin dapat bervariasi dari bening kekuningan sampai gelap kecoklatan. Ini dipengaruhi cairan yang Anda minum, jenis makanan yang Anda makan, obat-obatan yang Anda ambil dan penyakit tertentu yang Anda miliki. Bila Anda kurang minum, warna urin cenderung gelap. Dehidrasi dan demam juga menyebabkan urin lebih pekat sehingga berwarna lebih gelap. 2. Urin biasanya jernih. Zat yang menyebabkan kekeruhan namun dianggap normal adalah lendir, sperma dan cairan prostat, sel-sel kulit, kristal urin normal, dan kontaminan seperti salep dan bedak. 3. Urin berbau sedikit pesing yang khas. Beberapa penyakit menyebabkan perubahan bau urin, misalnya infeksi bakteri E. coli menyebabkan bau tidak sedap dan diabetes menyebabkan bau amis.

Kandungan urin yang dapat diketahui dengan pemeriksaan kimia antara lain: 1. Kepekatan urin (disebut juga osmolalitas atau specific gravity) dapat dihitung dengan berat jenisnya. Berat jenis adalah perbandingan berat urin dengan air murni dalam volume yang sama. 2. Ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Oleh karena itu, kondisi apapun yang menghasilkan asam atau basa dalam tubuh atau konsumsi makanan yang bersifat asam atau basa, secara langsung dapat memengaruhi pH urin. 3. Demam, olahraga keras, kehamilan, dan beberapa penyakit dapat menyebabkan protein berada dalam urin. Kondisi di mana terdapat protein di dalam urin disebut proteinuria. Kandungan urin yang dapat diperiksa dengan analisis mikroskopik antara lain: 1. Sel darah merah (eritrosit). Biasanya, sel darah merah hanya sedikit hadir dalam urin. Peradangan, cedera, atau penyakit di ginjal atau di tempat lain di saluran kemih dapat menyebabkan sel darah merah bocor dari pembuluh darah ke dalam urin. 2. Sel darah putih (leukosit). Jumlah leukosit dalam urin biasanya rendah. Jumlahnya yang tinggi dapat menunjukkan infeksi atau peradangan di saluran kemih. 3. Sel epitel. Sel-sel epitel dari kandung kemih atau uretra dapat ditemukan dalam urin. Selsel dari ginjal kurang umum. 4. Mikroorganisme. Kehadiran bakteri di urin menandakan infeksi. Bakteri dapat memasuki saluran kemih melalui uretra dan naik ke kandung kemih, menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK). 5. Kristal. Zat-zat ini dapat membentuk padatan kristal yang tidak beraturan atau seperti jarum. Kristal dianggap normal jika berasal dari zat terlarut yang biasanya ditemukan dalam urin. 6. Bilirubin. Zat ini menjadi bagian dari cairan empedu yang disekresikan ke usus untuk membantu pencernaan makanan. Bilirubin tidak hadir dalam urin normal. Pada penyakit tertentu, seperti obstruksi bilier atau hepatitis, bilirubin bocor kembali ke aliran darah dan diekskresikan ke urin.
7. Urobilinogen. Zat ini terbentuk di dalam usus dari bilirubin dan sebagian diserap kembali

ke dalam aliran darah. Konsentrasi tinggi urobilinogen di urin mengindikasikan penyakit

seperti hepatitis, sirosis hati dan anemia hemolitik. Tes yang di uji Darah Bilirubin Urobilinogen Keton Protein Nitrit Glukosa pH S.G / BJ Leukosit Vit Hasil + + 6 ++++ + ++++

DATA PENGAMATAN

Tes fisik Warna Bau Kekeruhan pH

hasil Kuning bening ++ 6

PEMBAHASAN Pada praktikum analisis urin dalam percobaan kali ini, bertujuan untuk mengevaluasi terhadap fungsi ginjal dengan cara urinalisis dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Pada urinalisis banyak metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat yang terkandung di dalam urin. Analisis urin meliputi analisis fisik, analisis kimiawi dan analisis secara mikroskopik. Pada percobaan kali ini digunakan analisis kimiawi urin dengan strip test dan analisis fisik urin. Sampel urin yang digunakan adalah urin sampel pria. Pada analisis urin, harus menggunakan sampel urin yang masih fresh/segar. Analisis fisik urin dapat dilihat dari warna, bau, dan kejernihan. Menurut literatur adanya kelainan pada warna dan kekeruhan pada sifat fisik urin menandakan adanya kelainan. Obat tertentu juga dapat mengubah warna urin. Urin yang sangat berbusa menandakan adanya sejumlah besar protein dalam urin (proteinuria). Pada urin yang berwarna kuning keruh menandakan adanya infeksi, urin dengan warna pekat menandakan adanya dehidrasi, jika warna urin seperti teh ada kemungkinan terdapat penyakit liver sedangkan warna orange menandakan adanya kerusakan otot urin. Untuk urin

dengan warna merah menandakan adanya sel darah merah pada urin yang disebut juga dengan hematuria. Pemeriksaan urin dengan menggunakan reagent strips mempunyai beberapa keuntungan yaitu mudah dilakukan, cepat dan biaya relatif murah. Akan tetapi, reagent strip tidak dapat dijadikan informasi yang akurat tentang adanya kelainan karena analisis urin reagent strip ini merupakan tes secara kualitatif. Untuk membuktikan adanya kelainan harus dilakukan tes lebih lanjut lagi. Reagent strip merupakan strip plastik kecil yang memiliki beberapa kotak berwarna yang melekat padanya. Pada masing-masing kotak merupakan komponen dari uji yang digunakan untuk menafsirkan urinalisis berdasarkan nilai referensi urin. Nilai Referensi Urine yang terdapat pada wadah reagent strip, yaitu glucose, ketones, blood, leukocyte, nitrite, bilirubin, urobilinogen, dan glutamate. specific gravity, pH, dan protein. Cara analisis urin yaitu strip dicelupkan ke dalam sampel urin setelah itu dilihat perubahan warna pada kotak-kotak kecil tersebut. Setiap perubahan pada kotak kecil tersebut harus selalu diperhatikan dengan cermat dan dicatat karena warna pada reagent strip mudah berubah. Perubahan warna ini terjadi setelah beberapa detik hingga beberapa menit dari mencelupkan strip. Pembacaan tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lama agar didapat hasil yang akurat. Setiap perubahan warna pada kotak tertentu mungkin menunjukkan kelainan tertentu dalam sampel urin yang disebabkan oleh reaksi kimia tertentu. Acuan perubahan warna terdapat pada wadah botol plastik strip tes urine, sehingga perubahan warna-warna tersebut dapat diinterpretasikan. Pada sampel urin 1 diketahui memiliki berat jenis 1,030 g/ml. Nilai ini masuk kedalam nilai berat jenis yang normal yaitu 1.005-1.030 g/ml. Jika berat jenis urin yang lebih dari normal menunjukkan gangguan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih, kelebihan hormon antidiuretik, demam, diabetes melitus, diare/dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin yang kurang dari normal menunjukkan gangguan fungsi ginjal berat, diabetes insipidus, atau konsumsi antibiotika golongan aminoglikosida Selain pH tercatat nilai pH 6. Hal ini menandakan bahwa kemampuan ginjal menyimpan konsentrasi ion hidrogen normal di dalam cairan ekstraseluler dan plasma baik. pH normal urin sehat berkisar antara 4,6 - 8. pH di bawah 7,0 disebut asam (acid) dan pH di atas 7,0 dinamakan basa (alkali). Beberapa keadaan dapat menyebabkan pH urine menjadi basa , misalnya : diet vegetarian, setelah makan, muntah hebat, infeksi saluran kencing oleh bakteri Proteus atau

Pseudomonas, urine yang disimpan lama, terapi obat-obatan tertentu, atau gangguan proses pengasaman pada bagian tubulus ginjal. Sebaliknya, pH urine bisa menjadi rendah atau asam dapat dijumpai pada : diabetes, demam pada anak, asidosis sistemik, terapi obat-obatan tertentu. Pada sampel urin menunjukkan nilai leukosit yang positif. Hal ini menandakan bahwa pada urin ditemukan adanya infeksi dalam saluran kemih. Sebab adanya infeksi, salah satunya dapat ditandai dengan peningkatan kadar leukosit pada urin. Pada sampel urin juga menunjukkan nilai protein yang negatif.. Protein tidak seharusnya ditemukan dalam urin, tetapi jika ditemukan dapat mengindikasikan adanya gangguan di ginjal atau kehamilan. Adanya protein dalam urine disebut proteinuria. Proteinuria menunjukkan kerusakan pada ginjal, adanya darah dalam air kencing atau infeksi kuman. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proteinuria adalah : penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefropati karena diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid), demam, hipertensi, multiple myeloma, keracunan kehamilan (pre-eklampsia, eklampsia), infeksi saluran kemih (urinary tract infection). Proteinuria juga dapat dijumpai pada orang sehat setelah kerja jasmani, urine yang pekat atau stress karena emosi Sedangkan untuk kadar nitrit pada sampel urin menunjukkan nilai yang positif. Hal ini menandakan bahwa urin terinfeksi bakteri. Adanya senyawa nitrit dalam urin dapat mengindikasikan adanya infeksi bakteri dalam saluran kemih. Dalam urine orang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolism protein. Jika terdapat infeksi saluran kemih (urinary tract infection) oleh kuman dari spesies Enterobacter, Citrobacter, Escherichia, Proteus dan Klebsiela yang mengandung enzim reduktase, maka nitrat akan diubah menjadi nitrit. Kadar glukosa urin juga menunjukkan nilai normal. Bila terjadi peningkatan kadar glukosa dalam urin bisa disebabkan oleh tingginya kadar gula seperti diabetes yang tidak terkontrol atau akibat gangguan di ginjal. Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes melitus.Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna. Senyawa keton juga terdapat pada sampel yang ditunjukkan dengan nilai positif. Adanya keton dalam urine ketika lemak diuraikan dalam tubuh sebagai energi. Kehadiran keton

ditunjukkan saat sedang puasa, diet tinggi protein, karbohidrat yang rendah serta konsumsi alkohol. Pada kondisi ekstrem, keton dapat berpotensi bahaya yang dikenal sebagai diabetic ketoacidosis (tubuh mendapatkan energi dari lemak karena tidak dapat mengubah glukosa menjadi energi). Perubahan warna terjadi uribilinogen untuk urin. Setelah dilihat pada skala warna menunjukkan nilai normal. Hal tersebut berarti tidak ada indikasi gangguan hati/hepatitis. Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau terdapat kelebihan urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis infeksiosa, anemia sel sabit. Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah (jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat. Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik. Pada sampel urin tidak dijumpai adanya senyawa bilirubin yang dapat dilihat dari hasil urinalisis yang menunjukkan nilai negatif untuk senyawa bilirubin.

IV.

Daftar pustaka Balconi, J.E. Sherwood and M. Giroux. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem edisi ke 2 : Jakarta : EGC ; 2001. Corwin, Elizabeth. Patofisiologi. Jakarta : EGC ; 2001 Ganong, William.Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC ; 2002

Guyton & Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta ; 1996

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA KLINIK Analisis Urin

Nama / NPM

Akhmad Depi J.

/ A091 0008

Dani Mulawarman Eva Safitri Fiqi Daynul I. Silvya Poela Kelas / Kelompok Tanggal Praktikum Tanggal Masuk Laporan Asisten Laboratorium : Reguler / 1 (satu) : 25 April 2012 : 02 Mei 2012

/ A091 0009 / A091 0011 / A091 0020 / A091 0005

: Rival Ferdiansyah, S.Farm., Apt.

LABORATORIUM KIMIA KLINIK SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA YAYASAN HAZANAH BANDUNG 2012
DISTRIBUSI KERJA :

No 1 2 3

Nama Silvya Poela Dani Mulawarman Fiqi Daynul Iqbal

Tugas Tujuan, Prinsip Teori Alat-Bahan dan Prosedur Data Pengamatan dan Perhitungan

4 5

Eva Safitri Akhmad Depi Juniarto

Pembahasan dan Kesimpulan Edit dan Print