Anda di halaman 1dari 87

MODUL

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

KMB III / MUSKULOSKELETAL/ MODUL 1-5

PENYUSUN MURDIYANTO TRI WIBOWO WIDJIJATI DEWI PUJIASTUTI SUDIYANTO SUNARTO

......

SISTER SCHOOL PROGRAM DINAS KESEHATAN PROPINSI JAWA TENGAH SEMARANG 2004

PENGANTAR
Selamat, Anda telah naik ke tingkat III dan masuk ke semester 5. Salah satu mata kuliah yang diajarkan dalam semester 5 adalah Keperawatan Medikal Bedah III (KMB III) dengan beban studi 5 SKS. Mata kuliah ini bukti sebagai pedoman menggunakan ilmu pengetahuan dan praktek berdasarkan dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkaitan

dengan masalah kesehatan yang sering dialami oleh pasien dewasa baik akut, kronik yang termasuk dalam kasus penyakit dalam maupun bedah. Area-area spesifik yang dibahas meliputi gangguan terhadap fungsi normal tubuh pada sistem urogenital, muskuloskeletal, integumen dan sistem sensory. Tujuan utama mata kuliah ini untuk membekali Anda dengan konsep teori dan prinsip-prinsip praktek berdasarkan bukti secara aman dan efektif bagi pasien dewasa yang mengalami gangguan-gangguan penyakit dalam maupun bedah. Mahasiswa juga diberikan kesempatan belajar untuk mengaplikasikan konsep teori untuk pengembangan ketrampilan di laboratorium keperawatan. Proses pembelajaran mata kuliah ini diberikan dalam bentuk pemahaman konsep penyakit, menejemen kolaborasi dan pelaksanaan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan. Kegiatan belajar mengajar memungkinkan mahasiswa untuk lebih mandiri dan menggunakan belajar berdasarkan masalah serta meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis. Modul ini memfasilitasi Anda untuk belajar sistem muskuloskeletal yang merupakan bagian dari mata kuliah KMB III, yang dijabarkan menjadi 5 modul yaitu: modul 1 berisi tentang review anatomi dan fisiologi dan pengkajian sistem muskuloskeletal, modul 2 membahas gangguan sistem muskuloskeletal akibat trauma, modul 3 membahas perawatan klien dengan tindakan khusus pada gangguan sistem muskuloskeletal, modul 4 berfokus pada gangguan akibat penyakitpenyakit infeksi, dan modul 5 menguraikan gangguan sistem muskuloskeletal akibat keganasan. Dari kelima modul tersebut masing-masing berisi kegiatan-kegiatan belajar yang secara spesifik dapat dilihat dalam uraian masing masing modul.

Untuk menyelesaikan seluruh modul ini anda akan membutuhkan waktu kurang lebih 1440 menit (24 jam) selama satu semester. Waktu tersebut sudah termasuk waktu yang Anda gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Bila dalam setiap modul anda mampu menguasai 80% latihan-latihan yang diberikan berarti Anda telah berhasil menyelesaikan modul tersebut, dan Anda berhak melanjutkan modul berikutnya. Bila Anda mengalami kesulitan dalam mempelajari modul ini, silahkan berdiskusi dengan rekan-rekan atau tutor Anda. Akhirnya, selamat mempelajari modul ini, semoga Anda berhasil mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dengan baik. Semoga sukses.

KONSEP DASAR SISTEM MUSKULOSKLETAL


Pendahuluan

MODUL

S elamat, Anda telah mendapat kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan setingkat lebih tinggi, yaitu mengikuti Program Diploma III Keperawatan. Semoga Anda bersemangat dalam mengikuti program pendidikan ini. Salah satu mata ajar pada semester ini adalah Keperawatan Medikal Bedah III. Mata ajar Keperawatan Medikal Bedah III membahas tentang masalah yang lazim terjadi pada usia dewasa baik yang bersifat akut maupun kronik. Adapun pokok bahasan meliputi gangguan fungsi tubuh pada sistem perkemihan, muskuloskeletal, integumen, dan penginderaan. Modul ini akan membahas pada pokok bahasan gangguan fungsi tubuh pada sistem muskuloskeletal. Di akhir kegiatan belajar Modul 1 ini, peserta didik diharapkan akan mampu menjelaskan secara rinci asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem muskuloskeletal. Untuk mencapai tujuan akhir dari Kegiatan Belajar Modul 1 ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran khusus tentang tinjaun fisiologik berikut ini: 1. Mampu menjelaskan sistem skelet. 2. Mampu menjelaskan penyembuhan tulang 3. Mampu menjelaskan sistem persendian 4. Mampu menjelaskan sistem otot skelet. Selanjutnya akan diuraikan materi dari masing-masing tujuan pembelajaran di atas.

Kegiatan Belajar 1

ANATOMI DAN FISIOLOGI


Sistem muskuloskeletal meliputi tulang, persendian, otot, tendon, dan bursa.Masalah yang berhubungan dengan struktur ini sangat sering terjadi dan mengenai semua kelompok usia. Masalah sistem muskuloskeletal biasanya tidak mengancam jiwa, namun mempunyai dampak yang bermakna terhadap aktifitas dan produktifitas penderita. Masalah tersebut dapat dijumpai di segala bidang praktek keperawatan, serta dalam pengalaman hidup sehari-hari.

TINJAUAN FISIOLOGIK

Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%. Kesehatan dan baiknya fungsi sistem muskuloskeletal sangat tergantung pada sistem tubuh yang lain. Struktur tulang memberi perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung, dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk menyangga struktur tubuh. Otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak. Matriks tulang menyimpan kalsium, fosfor, magnesium, dan fluor. Lebih dari 99% kalsium tubuh total terdapat dalam tulang. Sumsum tulang merah yang terletak di dalam rongga tulang menghasilkan sel darah merah dan putih dalam proses yang dinamakan hematopoiesis. Kontraksi otot menghasilkan suatu usaha mekanik untuk gerakan produksi panas untuk mempertahankan temperatur tubuh.

Sistem Skelet

A. Anatomi Sistem Skelet Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, yang terbgi dalam 4 kategori: tulang panjang (mis. Femur), tulang pendek (mis. Tulang tarsalia), tulang pipih (mis. sternum), dan tulang tak teratur (mis. vertebra). Bentuk dan

konstruksi tulang tertentu ditentukan oleh fungsi dan daya yang bekerja padanya. Tulang tersusun oleh jaringan tulang kanselus (trabekular atau spongius) atau kortikal (kompak). Tulang panjang (mis. Femur berbentuk seperti tangkai atau batang panjang dengan ujung yang membulat). Batang, atau diafisis, terutama tersusun atas tulang kortikal. Ujung tulang panjang dinamakan epifisis dan terutama tersusun oleh tulang kanselus. Plat epifisis memisahkan epifisis dari diafisis dan merupakan pusat pertumbuhan longitudinal pada anak-anak. Pada orang dewasa, mengalami klasifikasi. Ujung tulang panjang ditutupi oleh kartilago artikular pada sendi-sendinya. Tualng panjang disusun untuk menyangga berat badan dan gerakan. Tulang pendek (mis. metakarpal) terdiri dari tulang kanselus ditutupi selapis tulang kompak. Tulang pipih (mis. sternum) merupakan tempat penting untuk hematopoiesis dan sering memberikan perlindungan bagi organ vital. Tulang pipih tersusun dari tulang kenselus diantara dua tulang kompak. Tulang tak teratur(mis. vertebra) mempunyai bentuk yang unik sesuai dengan fungsinya. Secara umum struktur tulang tak teratur sama dengan tulang pipih. Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Selselnya terdiri atas tiga jenis dasar osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast berfungsi dalam pementukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% substansi dasar {glukosaminoglikan (asam polosakarida) dan proteoglikan}. Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang). Osteoklast adalah sel multinuklear (berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorbsi dan remodeling tulang. Osteon merupakan unit fungsional mikroskopis tulang dewasa. Di tengah osteon terdapat kapiler. Di sekeliling kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan lamela. Di dalam lamela terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi memlalui prosesus yang berlanjut ke dalam kanalikuli

yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0.1 mm). Tulang diselimuti di bagian luar oleh membran fibrus padat dinamakan periosteum. Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligamen. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang. Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast, yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lakuna Howship (cekungan pada permukaan tulang). Sumsum Tulang merupakan jaringan vaskuler dalam rongga sumsum (batang) tulang panjang dan dalam tulang pipih. Sumsum tulang merah, yang terutama terletak di sternum, ilium, vertebra dan rusuk pada orang dewasa bertanggung jawab pada produksi sel darh merah dan putih. Pada orang dewasa, tulang panjang terisi oleh sumsum lemak kuning. Jaringan tulang mempunyai vaskularisasi yang sangat baik. Tulang kanselus menerima asupan darah yang sangat banyak melalui pembuluh darah metafisis dan epifisis. Pembuluh periosteum mengangkut darh ke tulang kompak melalui kanal Volkmann yang angat kecil. Selain itu, ada arteri nutrient yang menembus periosteum dan memasuki rongga meduler melalui foramina (lubang-lubang kecil). Arteri nutrien memasok darah ke sumsum dan tulang. Sistem vena ada yang mengikuti arteri, ada yang keluar sendiri. Pembentukan Tulang. Tualng mulai terbentuk lama sebelum kelahiran. Osifikasi adalah proses dimana matriks tulang (di sini serabut kolagen dan substansi dasar) terbentuk dan pengerasan mineral (di sini garam kalsium) ditimbun di serabut kolagen dalam suatu lingkungan elektro negatif. Serabut

kolagen memberi kekuatan terhadap tarikan pada tulang, dan kalsium memberikan kekuatan terhdap tekanan kepada tulang. Ada dua dasar model osifikasi: intramembran dan endokondral.

Penulangan intramembranus di mana tulang tumbuh di dalam membran, terjadi pada tulang wajah dan tengkorak. Maka ketika tengkorak mengalami penyembuhan, terjadi union secara fibrus. Bentuk lain pembentukan tulang adalah penulangan endokondral, di mana terbentuk dahulu model tulang rawan. Pertama terbentuk jaringan serupa tulang rawan (osteoid), kemudian mengalami resorbsi, dan diganti oleh tulang. Kebanyakan tulang di tubuh terbentuk dan mengalami penyembuhan melalui osifikasi endokondral. Pemeliharaan Tulang. Tulang merupakan jaringan yang dinamis dalam keadaan peralihan yang konstan (resorbsi dan pembentukan ulang). Kalsium dalam tulang orang dewasa di ganti dengan kecepatan sekitar 18% per tahun. Faktor pengatur penting yang menentukan keseimbangan antara pembentukan dan resorbsi tulang antara lain stress terhadap tulang, vitamin D, hormon paratiroid, kalsitonin, dan peredaran darah. Vitamin D berfungsi meningkatkan jumlah kalsium dalam darah dengan meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran pencernaan. Kekurangan vitamin D menyebabkan defisit mineralisasi, deformitas dan patah tulang. Hormon paratiroid dan kalsitonin adalah hormon utama yang mengatur homeostasis kalsium. Hormon paratiroid mengatur konsentrasi kalsium dalam darah ebagain dengan cara merangsang perpindahan kalsium dari tulang. Sebagai respon kadar kalsium darah yang rendah, peningkatan kadar hormon paratiroid akan mempercepat mobilisasi kalsium, demineralisasi tulang, dan pembentukan kista tulang. Kalsitonin dari kelenjar tiroid meningkatkan penimbunan kalsium dalam tulang. Pasokan darah juga mempengaruhi pembentukan tulang. Dengan menurunnya pasokan darah atau hiperemia (kongesti), akan terjadi penurunan

osteogenesis dan tulang mengalami osteoporosis (berkurang kepadatannya). Nekrosis tulang akan terjadi bila tulang kehilangan aliran darah.

B. Penyembuhan Tulang Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondral. Ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut. Namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Ada beberapa thapan dalam penyembuhan tulang: (1) inflamasi, (2) proliferasi sel, (3) pembentukan kalus, (4) penulangan kalus, dan (5) remodeling menjadi tulang dewasa. Inflamasi. Dengan adanya ptah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihakan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberap hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Proliferasi Sel. Dalam sekitar lima hari, hematoma akan mengalami organisasi. osteoblast. Fibroblast dan osteoblast ( berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum), akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan

tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektro negatif. Pembentukan Kalus. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu 3 sampai 4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan. Osifikasi. Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2 sampai 3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benr telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat tetap elektronegatif. 4 bulan. Remodeling. Tahap akhir perbaiakn patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat dari pada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung. Ketika remodeling telah sempurna, muatan permukaan patah tulang tidak lagi negatif. Proses penyembuhan tulang dapat dipantau dengan pemeriksaan radiologi. Imobilisasi harus memadai sampai tampak tanda-tanda adanya kalus pada gambaran sinar-x. Kemajuan program terapi (dalam hal ini pemasangan gips pada pasien yang mengalami patah tulang femur telah Pada patah tulang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu 3 sampai

ditinggalkan dan diimobilisasi dengan traksi skelet) ditentukan dengan adanya bukti penyembuhan patah tulang.

C. Sistem Persendian. Tulang-tulang dalam tubuh dhubungkan satu sama lain dengan sendi atau artikulasi yang memungkinkan berbagai macam gerakan. Berapapun besarnya gerakan yang mungkin dilakukan, hubungan antara dua tulang atau lebih dinamakan sendi. Ada tiga macam sendi: sinartrosis, amfiartrosis, dan diartrosis. Sendi sinartrosis adalah sendi yang tak dapat digerakkan, misalnya adalah sendi pada tulang tengkorak. Amfiartrosis, seperti sendi pada vertebra dan simfisis pubis, memungkinkan gerakan terbatas. Tualng dipisahkan oleh tulang rawan fibrus. Diartrosis adalah sendi yang mampu digerakkan secara bebas.
Jenis Sendi Diartrosis

Sendi

Peluru,

misalnya

pada

persendian

panggul

dan

bahu,

memungkinkan gerakan bebas penuh. Sendi Engsel memungkinkan gerakan melipat hanya pada satu arah dan contohnya adalh siku dan lutut. Sendi Pelana memungkinkan gerakan pada dua bidang yang saling tegak lurus. Sendi pada dasar ibu jari adalah sendi pelana dua sumbu. Sendi Pivot contohnya adalah sendi antara sendi radius dan ulna. Memungkinkan rotasi untuk melakukan aktivitas seperti memutar pegangan pintu. Sendi Peluncur memungkinkan gerakan terbatas ke semua arah dan contohnya adalah sendi-sendi tulang karpalia di pergelangan tangan. Pada sendi yang dapat digerakkan, ujung persendian tulang ditutupi oleh tulang rawan hialin yang halus. Persendian tulang tersebut dikelilingi oleh selubung fibrus kuat kapsul sendi. Kapsul dilapisi oleh membran, sinovium,

yang mensekresikan cairan pelumas dan peredam getaran ke dalam kapsul sendi. Maka, permukaan tulang tidak dapt kontak langsung. Pada beberapa sendi sinovial, terdapat diskus fibrokartilago di antara permukaan tulang rawan sendi. Bagian ini merupakan peredam getaran. Ligamen (pita jaringan ikat fibrus) mengikat tulang dalam sendi. Ligamen dan tendon otot yang melintasi sendi, menjaga stabilitas sendi. Pada beberapa sendi, ligamen antara sendi (mis. Ligamen krusiatum di lutut) terletak di dalam kapsul sendi dan memperkuat stabilitas sendi. Bursa adalah suatu kantung berisi cairan sinovial yang terletak di titik pergeseran. Bursa biasanya merupakan bantalan bagi pergerakan tendon, ligamen dan tulang di siku, lutut, dan beberapa sendi lainnya. Sistem Otot Skelet Anatomi Otot Skelet. Otot skelet (otot lurik) berperan dalam gerakan tubuh, postur dan fungsi produksi panas. Otot dihubungkan oleh tendon (tali jaringan ikat fibrus) atau aponeurosis (lembaran jaringan ikat fibrus yang lebar dan pipih) ke tulang, jaringan ikat, atau kulit. Konstraksi otot menyebabkan dua titik perelekatan mendekat satu sama lain. Otot bervariasi ukuran dan bentuknya bergantung aktifitas yang dibutuhkan. Otot akan berkembang dan terpelihara bila digunakan secara aktif. Proses penuaan dan disuse menyebabkan kehilangan fungsi otot sehingga jaringan otot kontraktil diganti oleh jaringan fibrotik. Otot tubuh tersusun oleh kelompok sel otot yang paralel (fasikuli) yang terbungkus dalam jaringan fibrus dinamakan epimisium atau fasia. Semakin banayk fasikuli yang terdapat dalam otot semakin rinci gerakan yang ditimbulkan. Kecepatan kontraksi otot berbeda-beda. Mioglobulin merupakan pigmen protein yang serupa dengan hemoglobin yang terdapat dalam otot lurik. Mioglobulin bermanfaat sebagai transport oksigen untuk memenuhi

kebutuhan metabolik sel dari kapiler darah ke mitokondria sel otot. Otot mengandung sejumlah besar mioglobulin (otot merah) yang ternyata berkontraksi lebih lambat dan lebih kuat (mis. Otot pernapasan dan postur). Otot yang sedikit mengandung mioglobulin (otot putih) berkontraksi cepat dan dalam waktu yang lama (mis. Otot ekstra okuler di mata). Kebanyakan otot tubuh mengandung baik serat otot merah maupun serat otot putih. Tiap sel otot sering juga disebut serabut otot mengandung miofibril, yang pada gilirannya tersusun atas sekelompok sarkormer, yang merupakan unit kontraktil otot skelet yang sebenarnya. Komponene sarkormer dikenal sebagai filamen tebal dan tipis. Filamen tipis tersusun terutama oleh protein yang dikenal sebgai aktin. Filamen tebal tersusun terutama oleh protein miosin. Kontraksi Otot Skelet. Kontraksi otot diakibatkan oleh kontraksi masing-masing komponen sarkormer. Kontraksi sarkormer disebabkan oleh interaksi antara miosin dalam filamen tebal dan aktin dalam filamen tipis, yang saling mendekat dengan adanya peningkatan lokal kadar ion kalsium. Ketika kadar kalsium dalam sarkormer menurun, filmen miosin dan aktin berhenti berinteraksi dan sarkormer kembali ke panjang istirahat awalnya (relaksasi). Aktin dan miosin tidak dapat berinteraksi bila tidak ada kalsium. Serabut otot akan berinteraksi sebagai respon terhadap rangsangan listrik. Bil terangsang, sel otot akan membangkitkan suatu potensial aksi dengan cara serupa dengan yang terlihat pada sel saraf. Potensial aksi ini akan menjalar sepanjang membran sel dan mengakibatkan pelepasan ion kalsium ke dalam sel otot yang sebelumnya tersimpan dalam organel khusus yang dinamaka retikulum sarkoplasmikum. Adalah kalsium yang memungkinkan interaksi antara aktin dan miosin dalam sarkormer. Segera setelah menbran sel mengalami depolarisasi, membran ini akan kembali ke tegangan membran istirahat. Kalsium dengan cepat diambil dari sarkomer oleh reakumulasi aktif dalam retikulum sarkoplasmikum, dan otot kembali rileks.

Depolarisasi sel otot normalnya terjadi sebagai respon terhadap rangsangan yang dibawa oleh sel saraf. Komunikasi antara sel saraf dan sel otot terjadi pada motor end plate. Neuron yang mengatur aktifitas sel otot skelet dinamakan lower motor neuron. Neuron ini berasal dari kornu anterior korda spinalis. Dibutuhkan energi untuk kontraksi dan relaksasi otot. Banyaknya energi yang diperlukan oleh otot skelet berbeda-beda; sangat menigkat selama latihan. Sumber energi bagi sel otot adalah Adenosin Tri Phosphat (ATP) yang dibangkitkan melalui oleh metabolisme oksidatif seluler. Kretinin phosphat yang terdapat dalam sel otot, berperan sebagai cadangan kedua energi metabolisme; dapat di konversi menjadi ATP bila perlu. Pada aktifitas rendah, otot skelet mensintesis ATP dari oksidasi glukosa menjadi air dan karbondioksida. Selama masa aktifitas tinggi, bila tidak tersedia oksigen yang memadai, glukosa terutama dimetabolisme menjadi asam laktat. Meskipun ATP dapat dihasilkan selama produksi asam laktat, proses ini tidak efisien bila dibandingkan dengan jalur oksidatif. Sehingga diperlukan lebih banyak glukosa dan harus disediakan oleh glikogen otot. Glikogen adalah suatu tepung yang dibuat dari glukosa, disimpan dalam sel selama periode istirahat, dan dipergunakan dalam periode aktifitas. Kelelahan otot mungkin disebabkan oleh pemecahan glikogen dan simpanan energi serta penumpukan asam laktat. Sebagai akibatnya, lingkaran kontraksi dan ralaksasi otot tak dapat berlanjut. Selama kontrakasi otot, energi yang dilepaskan dari ATP tidak seluruhnya digunakan oleh aparatus kontraktil. Kelebihan energi ini akan dilepaskan dalam bentuk panas. Selama kontraksi isometrik, hampir semua energi dilepaskan dalam bentuk panas; selama masa kontraksi isotonik, sebagaian energi dikeluarkan dalam bentuk kerja mekanis. Pada keadaan tertentu, seperti saat mengigil karena kedinginan kebutuhan untuk menghasilkan panas merupakan rangsangan utama untuk kontraksi otot. Jenis-jenis Kontraksi Otot. Kontrakasi serabut otot dapat

menghasilkan kontraksi isotonik maupun isometrik. Pada kontraksi isometrik,

panjang otot tetap konstan tetapi tenaga yang dihasilkan oleh otot meningkat contohnya adalah bila kita mendorong dinding yang tak dapat digerakkan. Kontraksi isotonik, sebaliknya ditandai dengan pemendekan otot tanpa peningkatan tegangan dalam otot; contohnya adalah fleksi lengan atas. Pada aktifitas normal, kebanyakan gerakkan otot adalah kombinasi kontraksi isotonik dan isometrik. Misalnya ketika berjalan, kontraksi isotonik menyebabkan pemendekan tungkai dan selama kontraksi isometrik, kekuatan tungki akan mendorong lantai. Tonus Otot. Otot yang sedang relaksasi menunjukkan suatu keadaan yang selalu siap untuk berespon terhadap setiap rangsangan kontraksi. Keadaan selalu siap ini dikenal sebagai tonus otot dan disebabkan karena tetap terjaganya beberapa serat otot dalam keadaan kontraksi. Organ indera dalam otot (spindel otot) selalu memantau tonus otot. Tonus otot menjadi paling minimal saat tidur dan meningkat ketika seseorang dalam keadaan cemas. Otot yang tonusnya kurang dari normal disebut flasid; otot yang tonusnya lebih tinggi dari normal dinamakan spastik. Pada kerusakan lower motor neuron (mis. Polio), otot yang mengalami denervasi akan menjadi atonik (lunak dan menggelambir) dan atrofi. Kerja Otot. Otot mampu melkukan gerakan hanya dengan cara konmtraksi. Melalui koordinasi kelompok-kelompok otot tubuh mampu melakukan berbagai macam gerakan. Penggerak utama adalah otot yng menyebabkan gerakan tertentu. Otot yang membantu penggerak utama dinamakan sinergis. Otot yang menyebabkan gerakan berlawanan dengan penggerak utama dikenal sebagai antagonis. Otot antagonis harus rileks untuk memberikan kesempatan penggerak utama berkontraksi, menghasilkan gerakan. Misalnya, ketika kontraksi biseps menyebabkan fleksi sendi siku, biseps merupakan penggerak utama dan triseps sebagai antagonis. Bila otot mengalami paralisis, orang tetap dapat memperoleh kembali fungsi otot melalui kelompok sinergis untuk berkoordinasi sedemikian rupa untuk

menghasilkan gerakan yang diinginkan. Penggerak sekunder kemudian menjadi penggerak utama. Fleksi ditandai dengan adanya lipatan pada sendi (mis. Siku). Gerakan yang berlawanan adalah ekstensi, atau pelurusan sendi. Abduksi adalah gerakan yang menjauhkan diri dari garis tengah tubuh. Gerakan yang mendekati garis tengah tubuh dinamakan Adduksi. Rotasi adalah gerakan memutar pada sumbu tertentu (mis. Sendi bahu). Sirkumduksi adalah gerakan ibu jari yang berbentuk corong. Gerakan khusus tubuh meliputi supinasi (membalik telapak tangan ke atas), pronasi (membalik telapak tangan ke bawah), inversi (memutar telapak kaki ke dalam), eversi (lawan gerakan inversi), protraksi (menarik dagu ke depan), dan retraksi (menarik dagu ke belakang). Latihan, Disuse, dan Perbaikan. Otot harus selalu dilatih untuk menjaga fungsi dan kekuatannya. Bila otot berulang-ulang mencapai tegangan maksimum atau mendekati maksimum selama waktu yang lama, seperti pada latihan beban teratur, maka irisan meilantang otot akan membesar (hipertrofi). Ini disebabkan karena penambahan ukuran masing-masing serat otot tanpa peningkatan jumlah serat otot. Hipertrofi hanya bisa dipertahankan selama latihan dilanjutkan. Fenomena sebaliknya terjadi jika disuse otot dalam waktu yng lama. Pengecilan ukuran otot dinamakan atrofi. Tirah baring dan immobilisasi akan menyebabkan kehilangan massa dan kekuatan otot. Bila immobilisasi karena suatu modalitas penanganan (mis. pada gips dan traksi), kita dapat mengurangi efek immobilitas pasien dengan latihan isometrik otot-otot di bagian yang diimmobilisasi Latihan kuadriseps (mengencangkan otot paha) dan latihan gluteal (mengencangkan otot bokong) dapat membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan. Latihan aktif dan beban berat badan pada bagian tubuh yang tidak mengalami cedera dapat mencegah terjadinya atrofi otot.

Ketika otot mengalami cedera, harus diistirahatkan dan diimmobilisasi sampai terjadi perbaiakan. Otot yang sudah sembuh kemudian dilatih secara progresif uuntuk mencapai kemampuan fungsional dan kekuatan seperti sebelum cedera.

LATIHAN Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan Anda mengerjakan latihan berikut ini! 1. Jelaskan tentang 2. Petunjuk Jawaban Latihan RANGKUMAN

PENGKAJIAN PASIEN DENGAN ANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

Kegiatan Belajar 2

I.

DEFINISI : Terputusnya dari jaringan tulang ( patah tulang )

II. fraktur

ETIOLOGI DAN PATOFISOLOGI : Disebabkan oleh adanya kekerasan atau trauma dan ada juga disebut sekunder, misalnya: Osteoporosis.

III.

KLASIFIKASI KLINIS : 1. Fraktur Dahan Patah ( greenstick fracture ), adalah : Terjadi pada anak anak, tulang patah di bawah lapisan periosteum yang elastis dan tebal. ( lapisan periosteum itu sendiri tidak rusak ). 2. Fissura Fraktur, adalah : Patah tulang yang tidak disertai perubahan letak yang berarti. 3. Fraktur yang lengkap ( Complete fracture ), adalah : Terpisahnya bagian bagian tulang. ( Gambar 1 & 2 ). 4. Comminuted Fracture, adalah : Tulang patah menjadi beberapa fragmen. ( Gambar 2 ). 5. Fraktur Tekan ( Stress Fracture ), adalah : Kerusakan tulang karena kelemahan yang terjadi sesudah berulang-ulang ada berlebihan yang tidak lazim. 6. Impacted Fracture, adalah : Fragmen fragmen tulang terdorong masuk ke arah dalam tulang satu sama lain, sehingga tidak dapat terjadi gerakan di antara fragmenfragmen itu.

20

Ojo lali gambaranne yo,...........!!!!!

GAMBARAN KLINIS :

1. Riwayat trauma. 2. Nyeri, pembengkakan dan nyeri tekan pada daerah fraktur (Tenderness). 3. Perubahan bentuk ( Deformitas ). 4. Hilangnya fungsi anggota badan dan persendian persendian yang terdekat. 5. Gerakan gerakan yang abnormal. 6. Krepitasi ( bunyi atau suara pada fraktur bila digerakkan ). V. MACAM MACAM FRAKTUR : 1. Fraktur oleh terjadinya terbuka disebut kerusakan juga Compound Fracture , terjadi karena adanya trauma yang hebat yang menyebabkan

tulang dan jaringan lunak atau luka yang

terjadi oleh karena benda dari luar masuk mengenai tulang atau tulang itu sendiri yang menusuk kulit luar ( within out ). Dibedakan menjadi : Derajat I Derajat II Derajat III : luka amat kecil ( pin point ). : luka bersih 1 2 cm. : luka lebih besar dari 2 cm, kotor dengan kerusakan Jaringan yang luas Catatan : 6 ( enam ) jam pertama dari terjadinya patah tulang terbuka .3adalah waktu kontaminasi yang seharusnya tidak terlampau dalam menangani patah tulang terbuka ( golden period ). Waktu ini dapat diperpanjang dengan pemberian antibiotika. .

21

2. Fraktur tertutup disebut juga Fraktur Simplex , di sini patahan tulang tidak mempunyai hubungan dengan udara terbuka atau belum terkontaminasi.
3. Fraktur Komplikata, di sini persendian, syaraf, pembuluh darah atau

organ viscera juga ikut terkena. Fraktur seperti ini dapat berbentuk Fraktur tertutup atau pun Fraktur terbuka , misalnya : Fraktur Pelvis tertutup..... ruptur Vesica Urinaria. Fraktur Costa.................. luka pada Paru paru. Fraktur Corpus Humeri... paralisis n. Radialis. 4. Fraktur Patologis, disebabkan oleh karena adanya penyakit lokal pada tulang, maka kekerasan yang ringan saja sudah dapat menyebabkan fraktur. Fraktur dari jenis apapun dapat mengalami perubahan letak. Fragmen proximal tetap pada posisi semula, sedang fragmen distal berpindah tempat. Pengembalian fragmen distal ke tempat semula dilakukan dengan reposisi, dalam hal ( paling ideal ) adalah kembalinya fragmen tersebut menurut posisis anatomisnya. Fragmen distal dapat berpindah ke samping lateral atau medial, atau dapat pula berada di atas ( menumpangi ) fragmen proximal, sehingga terjadi pemendekan. Perubahan bentuk lain yang sering terjadi pada tempat fraktur adalah angulasi dan atau endo-rotasi atau exo-rotasi. ( Gambar 4, 5, 6 ). Kesembuhan fraktur dapat dibantu oleh aliran darah yang baik, stabilitas ujung patahan tulang. pada bagian tersebut

Ojo lali gambaranne

22

VI.

PEMERIKSAAN FISIK :

LOOK: Fraktur tertutup: - deformitas ( bengkak, haematoma ). Fraktur terbuka: - deformitas. - vulnus. - perdarahan. - fragmen tulang. FEEL: Nyeri tekan setempat. Nyeri tekan sumbu. Krepitasi. MOVE: Nyeri pada pergerakan pasif. Nyeri pada pergerakan aktif. VII. KOMPLIKASI FRAKTUR : 1. Shock : Perdarahan selalu terjadi pada tempat fraktur dan perdarahan ini dapat terjadihebat sekali, sehingga terjadi shock. 2. Infeksi : Paling serta menyertai fraktur terbuka. ( pemberian antibiotika dan toksoid ). 3. Nekrosis Avaskuler : Fraktur dapat mengganggu aliran darah ke salah satu sehingga fragmen tersebut kemudian mati. 4. Cedera Vaskuler dan Saraf ; Kedua organ ini yang 5. Kaku : Bila organ yang mengalami fraktur dan bila sudah mengalami pembedahan atau dioperasi, dan tidak sesegera mungkin melakukan mobilisasi, maka akan terjadi kekakuan. 6. Malunion : Malunion diatasi dengan menghilangkan penyebabnya, yaitu dengan imobilisasi yang benar. 23 dapat cedera akibat ujung patahan tulang tajam.Kerusakan yang diakibatkannya dapat menimbulkan fragmen,

iskemia ekstermitas dan gangguan saraf.

VIII.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK : Pemeriksaan radiologis sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai frakturnya.

IX.

PENATALAKSANAAN;

TINDAKAN MEDIS : 1. Reposisi. 2. Imobilisasi: a. Fraktur eksterna: 1). Gips: - Spalk. - Sirkuler. 2). Traksi: - Skin traksi. Skletal traksi.

b. Fraktur interna: operasi : - sekrup - paku - pelat logam. 7. Fisioterapi dan mobilisasi.

TINDAKAN KEPERAWATAN:

1. Imobilisasi. 2. Perawatan: - luka. ( untuk fraktur terbuka atau yang menggunakan alat fiksasi internal ). - traksi. - gips.

24

I.

PENGERTIAN Fraktur adalah perlukaan traumatic pada tulang dimana kontinuitas jaringan

tulang terpotong. ETIOLOGI Benturan langsung / trauma. Gerakan kontraksi otot yang kuat dan secara tibatiba Patah tulang karena letih otot tidak dapat mengabsorpsi energi seperti berjalan terlalu lama. Kondisi patologis, misalnya: osteoporosis, tumor tulang. III. PENGKAJIAN 1. Data Obyektif Luka fraktur Nyeri hebat di sekitar permukaan atau daerah fraktur Bengkak pada jaringan atau hematoma pada daerah luka Deformitas: perubahan bentuk Krepitasi: tulang bergeser Paralisis Perdarahan Hilang keterbatasan fungsi mobilisasi
2. Data Subyektif

Faktor usia Riwayat kecelakaan Tidak kuat menopang badan karena berat badan berlebihan

25

Jenis pekerjaan yang dilakukan: mekanik, bangunan, banyak berdiri. Lokasi nyeri
IV. DIAGNOSA KEPEAWATAN A. SEBELUM OPERASI

1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot kerusakan sekunder terhadap fraktur. 2. Resti terhadap penurunan / interupsi aliran darah berhubungan dengan cedera vaskuler langsung 3. Resti terhadap kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan penekanan jaringan oleh karena adanya gips
B. SESUDAH OPERASI

1.

Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak oleh

karena operasi 2. Resti infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit 3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler 4. Kecemasan V. PERENCANAAN A. SEBELUM OPERASI 1. DP 1 Tujuan: nyeri berkurang / hilang Kriteria: keluhan nyeri hilang ekspresi wajah rileks tidak merintih Intervensi: Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring gips, pembebat, traksi Dengarkan keluhan pasien Evaluasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan karakteristik termasuk

26

intensitas ( skala 0 10 ) Perhatikan penunjukan nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi / perilaku ) Kolaborasi dengan Dokter / menjalankan untuk pemberian analgetik. 2. DP 2 Tujuan: Penurunan aliran darah tidak terjadi Kriteria: Tanda vital dbn ( T= 110 140 mmHg dan 70 90 mmHg. N = 80100 x / mnt, S = 36 37 ) Kulit hangat, nadi teraba Intervensi : Lepas perhiasan dari ekstremitas yang sakit Evaluasi adanya / kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi. Bandingkan dengan ektremitas yang sehat. Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk program medis

pembengkakan / pembentukan edema. Selidiki tanda iskemia ektremitas tiba-tiba, contoh penurunan suhu kulit, peningkatan nyeri. Dorong pasien untuk selalu rutin latihan jari / sendi distal cedera, ambulasi sesegera mungkin. Monitor tanda vital Kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi Siapkan untuk intervensi bedah ( mis: Fibulektomi ) sesuai indikasi Siapkan / buatkan informed consent untuk dilakukan operasi 3. DP 3 Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit karena pemasangan gips

27

Kriteria: Rasa nyaman dari bawah gips Kulit utuh bila gips dibuka Intervensi: Beri bantalan pada daerah yang akan dipasang gips Pegang gips dengan telapak tangan Tutup tepi gips dengan plester Instruksi pasien tidak memasukkan apapun di antara gips dan kulit Beritahu pasien indikator nekrosis tekanan dalam gips: nyeri, sensasi terbakar, bau tidak sedap 4. DP 4 Tidak terjadi infeksi Data yang diharapkan: luka bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi 5. DP 5 Tidak terjadi gangguan komunikasi verbal Data yang diharapkan: pasien dapat berkomunikasi secara normal ( lancar ). 6. DP 6 Perawatan di rumah dapat dilakukan Data yang diharapkan: mengharapkan penatalaksanaan tentang instruksi pulang. 7. DP 7 Mampu melaksanakan tindakan perawatan diri Data yang diharapkan: mengidentifikasi area kebutuhan, pasien tampak rapi, bersih. B. SESUDAH OPERASI
1. DP 1

Tujuan: - Nyeri berkurang / hilang Kriteria: 28

Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengontrol nyeri Pasien nampak rileks dan nyaman Intervensi : Anjurkan pasien untuk menjelaskan tipe lokasi nyeri Beri posisi nyaman Bantu merubah posisi secara teratur Gunakan strategi memodifikasi nyeri: modifikasi lingkungan

dan pemberian analgetik sesuai program 2. DP 2 Tujuan: Infeksi tidak terjadi / teratasi Kriteria: Tidak ada tanda-tanda infeksi Luka kering, bersih , tidak kemerahan Tanda vital dbn ( S = 36 37, T = 110 140 mmHg dan 70 90 mHg, N = 80 100 x / mnt ) Intervensi : Observasi tanda vital Observasi drainage luka, warna dan jumlah Lakukan kultur / biakan dan tes sensitivitas dari cairan luka Ganti balutan luka operasi dengan prinsip steril Kolaborasi dengan Dokter / menjalankan program medis

untuk pemberian antibiotika. 3. DP 3 Tujuan:


Pasien dapat bergerak sesuai kemampuannya tanpa rasa takut lebih parah Kriteria:

Pasien meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang mungkin Pasien mempertahankan posisi fungsional Pasien meningkatkan kekuatan / fungsi yang sakit

paling tinggi

29

Mengkompensasikan bagian tubuh Pasien menunjukkan teknik kemampuan aktifitas Intervensi: Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera / perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi Dorong partisipasi pada aktifitas terapeutik / rekreasi Bantu dalam rentang gerak pasien pada yang sakit dan yang tidak sakit Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan ( mis mandi dll ) Monitor tekanan darah selama melakukan aktifitas, perhatikan pusing Ubah posisi secara periodic dan dorong untuk latihan batuk / nafas dalam Kolaborasi untuk konsul dengan ahli fisioterapi keluhan pengobatan dan

4.

DP 4 Tujuan: Cemas teratasi Kriteria:

Pasien dapat memperagakan teknik relaksasi yang tepat Pasien dapat mengungkapkan perasaan lebih santai, tenang Intervensi: Kajitingkat kecemasan Ajarkan dan bantu teknik penatalaksanaan stres Kaji perilaku koping yang ada dan anjurkan penggunaan perilaku yang telah berhasil digunakan Dorong untuk berinteraksi dengan orang terdekat, saudara, teman Jelaskan semua prosedur dan pengobatan Libatkan pasien dalam perencanaan

VI.

TINDAKAN KEPERAWATAN

30

Di dalam melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan fraktur adalah mencegah cedera tulang / jaringan lebih lanjut, menghilangkan nyeri, mencegah terjadinya komplikasi / infeksi, mobilisasi yang tepat, keamanan, kenyamanan, menghilangkan kecemasan serta pelaksanaan asuhan Keperawatan sesuai rencana yang dibuat
VII. A. EVALUASI SBELUM OPERASI

1. Nyeri berkurang / hilang Ekspresi wajah rileks, tidak merintih 2. Resti terhadap penurunan / interupsi aliran darah, data yang diharapkan nadi teraba, kulit hangat, sensori normal, tanda vital stabil S = 36-37, N = 80-100 x/ mnt, T = 110-140 mmHg dan 70-90 mmHg 3. Resti terhadap perubahan aliran darah, data yang diharapkan fungsi pernafasan adekuat yaitu adanya sianosis / dispnea, analisa gas darah dbn 4. Tidak terjadi kerusakan integrasi kulit ditandai kulit kering tidak ada luka

B.

SESUDAH OPERASI

1. Nyeri berkurang / hilang Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengontrol nyeri Pasien tampak rileks 2. Infeksi tidak terjadi / teratasi Tidak ada tanda-tanda infeksi Luka kering, bersih, tidak kemerahan 3. Pasien dapat bergerak sesuai kemampuan tanpa rasa takut 4. Cemas teratasi Pasien dapat memperagakan teknik relaksasi

31

I.

DEFENISI

Adalah keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi, kalau sebagian masih berada di mangkok sendi disebut sebagai Subluxasi. Dislokasi merupakan kasus gawat darurat pada bedah Orthopaedi, oleh karena itu setiap adanya dislokasi, maka harus segera mendapat penaganan yang segera, kalau tidak, maka akan menjadi kasus yang sangat sulit untuk ditangani dan malah akan memberikan kecacatan pada penderita.
II. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI Disebabkan oleh adanya trauma, baik langsung maupun tidak langsung. III. JENIS JENIS DISLOKASI Jenis Dislokasi yang sering dijumpai adalah pada daerah Humerus dan Coxae. IV. DIAGNOSIS BANDING Dilakukan dengan pemeriksaan Radiologi. V. DIAGNOSIS MEDIS

Secara klinis untuk menegakkan diagnosis Dislokasi cukup mudah, perlu ditanyakan bagaimana cara traumanya, kemudian pemeriksaan dilakukan dengan membandingkan sendi yang kontra lateral. Pada Dislokasi akan tampak adanya Deformitas, mangkok sendi akan teraba kosong, gerakan aktif maupun pasif berkurang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan membuat pemeriksaan Radiologis denga proyeksi paling sedikit 2 ( dua ) arah, untuk sendi bahu dan sendi panggul kadang dengan 1 ( satu ) proyeksi saja sudah cukup
VI. KOMPLIKASI

32

Komplikasi akibat Dislokasi harus dicatat secara cermat, terutama gangguan neurovaskuler yang timbul.
VII. PENATALAKSANAAN

REPOSISI

Setiap menegakkan Diagnosis Dislokasi, maka segera pula harus melakukan Reposisi, dengan cara yang dianjurkan untuk setiap sendi dan dilakukan dibawah Anaesthesi umum.
IMMOBILISASI

Immobilisasi selama 3 ( tiga ) minggu dan selama ini dilakukan kontraksi isometris dari otot di sekitar sendi tersebut. Fisioterapi sendi tersebut baik secara pasif maupun aktif baru dilakukan setelah 3 ( tiga ) minggu.

I.

DEFENISI

Merupakan gangguan neurovaskuler yang terjadi post trauma, baik yang bersifat sementara atau menetap.

II.

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Gangguan neuro vaskuler post trauma sering disebabkan oleh karena adanya peningkatan tekanan intra kompartmental yang menunjukkan gejala berupa Compartment Syndrome , dapat pula disebabkan oleh karena tertekannya

33

neurovaskuler oleh karena adanya Dislokasi sendi atau terjadi karena putusnya Sistem Neurovaskuler.

III.

DIAGNOSIS

Untuk menegakkan adanya gangguan neurovaskuler harus diingat gejala Compartment Syndrome berupa GEJALA 6 ( ENAM ) P : P : Pain P : Pale P : Pulseness P : Paresthesia P : Paralyse P : Poikillothermia

Adapun gejala yang paling dini adalah adanya nyeri ( pain ) ekstensi pasif dari otot yang mengalami iskhemia. Tempat-tempat yang sering mengalami gangguan neurovaskuler adalah pada fraktur daerah siku, fraktur tibia proximal dan fraktur ankle.

IV.

PENATALAKSANAAN

Bila dicurigai adanya gangguan neurovaskuler, maka harus segera dicari penyebabnya, sementara itu semua bentuk immobilisasi yang diberikan dilonggarkan ( bila menggunakan gips / balutan / skin traksi ) bagian tersebut diekstensikan, dilakukan observasi apakah dengan tindakan tersebut ada perbaikan atau tidak. Bila adanya perbaikan, maka penderita dipersiapkan untuk dilakukan FASCIOTOMY. Luka operasi dirawat secara terbuka, setelah keadaan membaik dan tidak adanya tanda-tanda infeksi baru dilakukan penutupan kulit.

34

I. 1.

PENGKAJIAN Data Subyektif

Riwayat kecelakaan Nyeri daerah Dislokasi Sulit menggerakkan daerah Dislokasi

2.

Data Obyektif

Pasien meringis Bengkak daerah Dislokasi Ketidakmampuan bergerak

II. A.

DIAGNOSA KEPERAWATAN SEBELUM OPERASI

35

1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot kerusakan sekunder terhadap Dislokasi. 2. Resti terhadap penurunan / interupsi aliran darah berhubungan dengan cedera vaskuler langsung. 3. Keterbatasan gerak berhubungan dengan intoleransi aktifitas.

B.

SESUDAH OPERASI

1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak akibat reposisi. 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler / kerusakan muskuloskeletal.

III. A.

PERENCANAAN SEBELUM OPERASI

1. DP 1 Tujuan: nyeri berkurang / hilang Kriteria: Keluhan nyeri hilang / berkurang Ekspresi wajah rileks Pasien tidak meringis Intervensi: Kaji tingkat nyeri ( skala 1 10 ) Anjurkan / ajarkan teknik dalam hal nafas dalam pada saat nyeri timbul. Pertahankan imobilisasi pada bagian yang sakit Dengarkan keluhan pasien Perhatikan penunjukan nyeri non verbal ( perubahan tanda vital dan emosi / perilaku ). Kolaborasi dengan Dokter / menjalankan program medis untuk pemberian analgetik 2. DP 2

36

Tujuan: penurunan aliran darah tidak terjadi Kriteria: Tanda vital dbn ( T= 120 / 80 mmHg. N= 80-100 x / mnt, S= 36-37 C) Kulit hangat, nadi teraba Intervensi: Monitor tanda vital Evaluasi adanya / kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi. Bandingkan dengan daerah yang sehat Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan daerah Dislokasi Kaji perluasan pembengkakan Siapkan untuk intervensi bedah ( Peposisi ) sesuai indikasi Siapkan / buatkan informed consent untuk dilakukan reposisi distal pada

3.

DP 3 Tujuan: Pasien dapat bergerak sesuai kemampuan Kriteria:

Pasien mempertahankan posisi fungsional Pasien meningkatkan kekuatan / fungsi yang sakit Pasien dapat mengkompensasikan tubuh Paien menunjukkan teknik kemampuan aktifitas Intervensi: Kaji tingkat aktifitas Motivasi pasien pada aktifitas terapeutik Bantu dalam rentang gerak pasien pada daerah yang sakit dan yang sehat.

B. 1.

SESUDAH OPERASI DP 1

37

Tujuan: Rasa nyeri hilang / berkurang Kriteria:

Pasien dapat mengantipasi nyeri Pasien tampak rileks dan tidak meringis Intervensi: Kaji tingkat nyeri ( skala 1 10 ) Anjurkan / ajarkan teknik relaksasi dalam hal nafas dalam bila nyeri timbul Kolaborasi dengan Dokter / menjalankan program medis untuk pemberian analgetik

2.

DP2 Tujuan: Pasien dapat bergerak bagian yang sakit Kriteria:

Bergerak sesuai kemampuan Mempertahankan posisi fungsional Mengkompensasi bagian tubuhMenunjukkan teknik aktifitas Intervensi: Kaji derajat imobilitas Motivasi pasien pada aktifitas terapeutik Bantu dalam hal perawatan diri / kebersihan diri Kolaborasi dengan ahli Fisioterapi

IV.

TINDAKAN KEPERAWATAN

Di dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Dislokasi, adalah mencegah lepasnya kembali tulang dari sendinya lebih lanjut, menghilangkan rasa nyeri, mencegah terjadinya komplikasi, melakukan mobilisasi yang tepat dan tindakan asuhan keperawatan lainnya sesuai dengan yang direncanakan.
V. EVALUASI

38

A.

SEBELUM OPERASI

1. Nyeri berkurang / hilang Ekspresi wajah rileks, tidak meringis 2. Tanda-tanda vital stabil, nadi teraba, kulit hangat, sensori normal 3. Dapat menggerakkan sesuai kemampuan

B.

SESUDAH OPERASI

1. Nyeri berkurang / hilang 2. Pasien dapat melakukan pengotrolan diri terhadap nyeri Pasien tampak rileks 3. Pasien dapat melakukan aktifitas sesuai kemampuan

39

OLEH : SUNARTO,SST

Pemakaian tenaga tarikan terhadap anggota tubuh atau bagian lain dari tubuh

Pemeriksaan Ro

1. pertolongan Emergency mempertahankan aligment dari frakmen tulang perlindungan lebih lanjut pada jaringan sekitar mengurangi rasa nyeri mencegah shock mengurangi perdarahan

2. Reposisi dari fraktur dan imobilisasi

40

Traksi yg kontinyu

fraktur yang tidak stabil dan garis fraktur oblique

jumlah beban yang digunakan u/ mereposisi bervariasi ; tergantung kekuatan trauma , tarikan otot , waktu kejadian trauma

Adalah tralsi yang langsung pada tulang Gambaran dari traksi skeletal :

dilakukan anestesia lokal Kirschner wire/ Steinman pin dimasukkan dalam tulang pad distal yang patah Kawat dimasukkan dalam kulit menembus tulang Kedua ujung kawat dipasang gabus sumbat botol/penghalang logam,jarum kawat yg masuk ditutup kasa Pada jarum dipasang penarik huruf U dan di beri bobot

Dipakai pada fraktur :

Tibia Femur Humerus Vertebra cervikal

41

Dilaksanakan dengan pembalut flamel,pleister atau alat lain EKSTENSI BUCKS

Bentuk sederhana Menarik penuh pada etremitas Dipakai untuk penyembuhan spasme otot Mobilitas bagian anggota badan sementara Ex. fraktur panggul sebelum dilakukan reduksi terbuka dan fiksasi interna Bila menggunakan bahan perekat kulit, kaki dicukur Pleister/flamel dipasang lateral/medial Dipererat dengan pembalut kassa /elastik banded Pita harus dipasang lebih lebarb agar tarikannya lebih sempurna Berat max 3,6 kg Kontraindikasi :
Dermatitis statis Arteriosklerosis Alergi pleister Varises Ulkus varises

42

Ganggren

TRAKSI RUSSEL

Untuk pertolongan fraktur intertrocanorik dari femut jika pembedahan merupakan kontraindikasi Dapat juga untuk pengobatan nyeri pinggang dan mengurangi spasmus

1. knowledge defisit r/t lack of experience with traction

43

kreteria hasil : klien mengerti tentang tujuan dan aplikasi dari traksi

intervensi : kaji pengetahuan klien tentang traksi jelaskan tentang traksi yang berhubungan dg. Luka/trauma ajarkan cara mencegah injury dan komplikasi dr traksi/pen untuk skeletal traksi jelaskan prosedur pin Insertio

2. pain r/t fractured limb; musle spasme kriteria hasil : pasien mampu mengekspesikan rasa sakit pasien mampak nyaman

intervensi : kaji tentang tanda dan gejala nyeri kaji kegiatan yang dapat menambah nyeri kaji tentang gambaran nyeri asses correct positioning traction

3. impaired physical mobility r/t fractur limb kriteria hasil : mobilisasi klien optimal mampu menggerakkan otot intervensi : kaji tentang kemapuan ADL kaji kemapuan ROM kaji tingkat ketegangan otot

44

dorong klien untuk beraktifitas semaksimal mungkin pertahankan fungsi tubuh secara seimbang kaji komplikasi dari immobilisasi

4. high risk for infection r/t pin sites/open wounds


kriteria hasil :

tidak ada tanda infeksi no redness normal lekosit intervensi : kaji pin sites/ open wound

infection? kaji ketegangan kulit kaji tanda vital kaji pin setiap 8 jam gunakan teknik aseptik pin sites

rawat PIN

perubahan drainage

45

OLEH:SUNARTO,SST

1. Immobilissi pada kasus patah tulang 2. Immobilisasi pada kasus kasus penyakit tulang dan sendi 3. Koreksi pada cacat tulang 4. Pembelatan darurat 5. Immobilisasi pada kasus luka bakar

Prinsip dasar pemasangan Gips

1. Lingkungan a. wastafel b. meja pengering yang panjang,licin berlapis logam c. lantai yang mudah dicuci d. meja kursi,penahan kaki

2. perlengkapan a. Proteksi (selimut debu,sepatu bot untuk operator dll) b. Alat-alat Kain pelindung 46

Pembalut gips dengan berbagai ukuran Lempengan gips dengan berbagai ukuran Gunting gips Gunting gips besar Pembengkok gips Pisau gips Pensil 2-3 inchi kain pembalut plaster elastoplast 2,5 cm dua ember air kain segitiga /penggendong tumit untuk berjalan

3. personil
I orang operator I orang asisten I orang asisten : :

untuk memberikan balutan yang masih basah ke operator

Untuk selalu menjaga tetapnya posisi yang diinginkan

4. Pencatatan
Yang perlu dicatat adalah :

Nama,alamt dan umur Dignosa dan tipe pembalut Intruksi yang diberikan Alat pembantu yang diberikan Hari kunjungan berikutnya

5. Aplikasi Tempatkan penderita pada posisi senyaman mungkin

47

Isilah ember dengan air hangat (suhu 25oC-30oC) Jelaskan prosedur pada pasien

6. Pembalut Celupkan pembalut dalam posisi miring untuk mengelurkan gelembung udara Keluarkan pembalut dan peras agar airnya keluar Lepas ujung pembalut Balutkan pada daerah yang akan di gips Balutlah secara sirkuler sesuai bentuk badan Jangan terlalu ketat

1. Berubahnya posisi Oleh karena bengkak Perlu dicek 24 jam sesudah pemasangan gips dengan Ro

2. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh gips


Muncul oleh karena beberapa sebab :

a. cara pemasangan b. kesalhan instruksi 48

c. pengawasan d. adanya benda asing

3. hilangnya kekuatan 4. terganggunya peredaran darah

Pemakaian Gunting

pilihlah gunting sesuai dengan ukurannya buatlah garis diatas gips,hindari pada tonjolan tulang mata gunting harus diselipkan dibawah pembalut perhatikan efek dari terlalu kuatnya tekanan gunting pada kulit

Penggunaan pemotong Gips listrik

digunkan khusus untuk gips yang berbantal tempatkan mata gergaji secar hati-hati tekanan jangan terlalu kuat

Menjelaskan pemasangan gyps dan gunanya Jelaskan pada klien bahwa gips akan terasa panas Jelaskan lamanya immobilisasi Jelaskan pemeliharaan gips

49

Ingatkan pada klien agar jangan menusuk pakai benda tajam

Bila mengangkat gips harus dengan telapak tangan, agar tidak terjadi lekukan Gips harus dialasi kain yang muadh menyerap air Gips harus terkena angin agar cepat kering Putar bagian gips agar semua bagian cepat kering Jangan dicat

Periksa pinggir gips jika ada iritasi kulit Bersihkan sisa gips dengan air hangat Boleh dipergunkan krem Perhatikan keluhan klie

50

Pantau neurosirkulasi tiap 24 jam , laporkan dokter jika didapatkan : perubahan warna kulit, perubahan sensasi Ektremitas yg cidera ditinggikan dengan bantal sampai bahaya bengkak hilang ( 24-48 jam ) Setelah imobilisasi diperbolehkan hindarkan dari pemakaian penahan dlam jangka waktu yang lama Setelah kas diangkat dari ektremitas bawah, anjurkan klien untuk memakai stocking elastis

Bidai digunakan untuk menstabilkan atau menunjang persendian dalam menggunakan sendi secara benar atau melindungi trauma dengan benar Untuk mengistirahatkan bagian badan atau sendi pada fungsinya sehingga otot diseputar sendi relaks Penggendong yang dilengkapi per dibuat sedemikian rupa agar bekerja berlawanan dengan bagian yang lumpuh

Yang perlu diperhatikan pada pemasangan bidai & artrosis:

1. Sepatu korektif dapat dipesan, dengan menggunakan tali 51

2. Perhatikan kulit penderita pada pemasangan orthrosis 3. Pasien harus melepas atau memasang bidai/ortrosis

GIPSONA / BIDAI

52

OLEH : SUNARTO,SST NIP.140 353 064

Disajikan dalam perkuliahan AKPER WIDYA HUSADA , ASIH HUSADA SEMARANG dan sebagai bahan Panduan CLINICAL INSTRUKTUR IRNA A2 RSUP DR KARIADI Semarang . 2002/2003

53

54

Osteomielitis akut dan Septik Arthritis akut dibahas bersama oleh karena mempunyai gejala klinis yang hampir sama dan penanganannya pun hampir sama.

I.

DEFENISI

Merupakan infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang terjadi secara hematogen di daerah metafise. Sedangkan Septik Arthritis akut merupakan infeksi pada sendi yang disebabkan oleh kuman yang purulen.

II.

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Osteomielitis akut hematogenus terjadi oleh karena adanya kuman di dalam darah yang berasal dari fokus primer ( radang saluran nafas bagian atas ), kemudian kuman tadi berkembang di dalam metafise tulang panjang. Hal ini dapat terjadi oleh karena jalannya darah di metafise lambat. Kuman di dalam metafise ini terus berkembang dan memberikan reaksi radang dan bahkan dapat menimbulkan terbentuknya nanah.

III.

GEJALA KLINIS Osteomielitis dapat bersifat akut dan khronis.

55

Fase akut ialah fase sejak terjadinya infeksi sampai 10 15 hari. Pada fase ini

Anak tampak sangat sakit, panas tinggi, pembengkakan dan gangguan fungsi anggota gerak yang terkena. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan LED yang meningkat dan Leukositosis, sedang gambaran radiologik tidak menunjukkan kelainan. Pada osteomielitis khronik biasanya rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena merah dan bengkak atau disertai terjadinya fistel. Pemeriksaan radiologik ditemukan suatu involukrumdan sequester. Osteomielitis khronik tidak dapat sembuh sempurna sebelum semua jaringan yang mati disingkirkan. Antibiotika dapat diberikan secara sistematik atau lokal. Yang termasuk Osteomielitis khronik adalah Osteomielitis Tuberkulosa. Hampir 50 % kasus mengatakan bahwa keadaan ini didahului oleh adanya trauma, 50 % lainnya didahului adanya kelainan lain, misalnya infeksi saluran nafas. Gejala umum berupa: febris tinggi, malaise, nause, anoreksia, dan anak tampak sakit keras. Gejala lokal: didapat adanya nyeri konstan dan hebat pada salah satu tulang panjang. Adanya pembengkakan yang kemerahan, adanya nyeri tekan dan adanya pseudoparalysis.
IV. DIAGNOSIS BANDING

Pemeriksaan Radiologis tidak memberikan informasi apa-apa pada tulang, hanya berupa pembengkakan jaringan lunak kalau pemeriksaan ini dikerjakan sebelum 1 ( satu ) minggu. Pemeriksaan BBS dan Leukosit akan menunjukkan adanya peningkatan sesuai dengan tanda-tanda radang yang banal.

V.

PENATALAKSANAAN

56

Osteomielitis akut hematogen adalah keadaan yang serius dan diagnosis harus cepat dan sedini mungkin, oleh karena pengobatan yang sedini mungkin akan sangat mempengaruhi prognosis / penyembuhan penyakitnya. Begitu diagnosis ditegakkan ( hanya berdasarkan klinis saja ), pengobatan secara sistematik dan adekuat harus segera diberikan, misalnya: 1. Tirah baring dan pemberian analgetik. 2. Supportive therapy pemberian cairan intra vena, transfusi kalau perlu. 3. Imobilisasi untuk mengurangi rasa nyeri atau mencegah kontraktur. 4. Pemberian antibiotika secara parenteral selam 2 ( dua ) minggu, baru kemudian dilanjutkan dengan oral. Antibiotika pilihan pertama adalah golongan penisillin. Bila hasil kultur ada, antibiotika diganti yang sesuai dengan sensitivity test , tetapi pada umumnya golongan penisillin masih positif 70 % kasus. 5. Setelah 24 jam dengan terapi yang adekuat seperti di atas, tetapi tidak ada kemajuan segera dilakukan drilling atau membuka periosteum untuk dekompresi. Kalau dignosis kita adalah Septik Arthritis akut, maka harus segera dilakukan drainage intra artikuler. 6. Antibiotika diberikan minimal 4 ( empat ) minggu diberhentikan bila LED normal pada pemeriksaan 2 ( dua ) kali berturut-turut dalam selang waktu 1 ( satu ) minggu. 6. Tindakan pembedahan, dilakukan bila telah teraba suatu abses. Banyak peneliti yang melakukan tindakan pembedahan pencegahan seperti yang dilakukan oleh TRUETA dengan alasan: 1. Dapat menegakkan diagnosis dan untuk pemeriksaan sensitivitas. 2. Mengurangi gangguan vaskularisasi yang disebabkan oleh penekanan. 3. Mengurangi rasa sakit dengan melakukan dekompresi terhadap jaringan yang
terinfeksi. Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan adalah :

57

1. Adanya sequester. 2. Adanya abses. 3. Rasa sakit yang hebat. 4. Bila mencurigakan adanya perubahan ke arah keganasan ( karsinoma epidermoid ). Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum telah cukup kuat mencegah terjadinya fraktur pasca pembedahan.
Kegagalan pemberian antibiotika dapat disebabkan oleh :

1. Pemberian antibiotika yang tidak sesuai dengan mikro organisme penyebab. 2. Dosis tidak adekuat. 3. Lama pemberian tidak cukup. 4. Timbulnya resistensi. 5. Kesalahan hasil biakan ( laboratorium ). 6. Antibiotika antagonis. 7. Pemberian pengobatan supportive yang buruk. 8. Kesalahan diagnostik.

VI.

KOMPLIKASI 1. Dini 2. Lanjut : Mati oleh karena septikemia, abses di tempat lain. : Osteomielitis kronika, kontraktur sendi dan adanya gangguan pertumbuhan.

58

I.

DEFENISI

Merupakan penyakit infeksi khronis pada tulang yang disebabkan oleh mikro bakterium tuberkulosa yang berasal dari tempat lain ( misalnya paru-paru ) melalui peredaran darah ke tulang, sering mengenai vertebra, tulang jari, koksa, dan genue.

II.

ETIOLOGI DAN PATOFISOLOGI

Osteomielitis Tuberkulosa terjadi secara sekunder dari fokus primer di tempat lain ( umumnya paru-paru )melalui aliran darah menuju sinovium sendi atau ke metafise dari tulang. Kuman tersebut kemudian berkembang dan memberikan gejala infeksi pada sendi maupun pada tulang.

III.

GEJALA KLINIS

Gejala klinis secara umum hampir sama dengan tuberkulosa di tampat lain dan sangat tergantung daripada virulensi kuman dan daya tahan tubuh.
Gejala yang khas pada tuberkulosa tulang adalah:

1. Ada infeksi tuberkulosa di tempat lain. 2. kadang-kadang trauma dianggap sebagai awal. 3. Gejala-gejala pada tulang, misalnya ada pembengkakan, nyeri yang tak hebat, spasme otot, nangis pada malam hari ( anak - anak ), ada kekakuan sendi ringan sampai berat. 4. Gejala tuberkulosa secara umum.

59

IV.

DIAGNOSIS BANDING

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Tuberkulin tes ( Mantoux ), bila positif ( + ): pernah ada tuberkulosa dalam tubuh, jika negatif ( - ) berarti tidak ada kuman tuberkulosa. Kultur dan sensitivity test. Darah lengkap. Relatif limphositosis. LED kadang normal.

RADIOLOGI Terdapat adanya osteoporotik dengan dengan daerah yang densitasnya Subnormal menunjukkan adanya fokus granula.

V. 1.

PENATALAKSANAAN Pemberian obat-obatan anti tuberkulosa

PAS 10 - 20 gr / hari. INH 4 mg / kg. BB / hari. Streptomisin 1 2 gr / hari.

Catatan :
Sekarang telah banyak obat anti tuberkulosa tersedia untuk itu macam apapun regimen anti tuberkulosa yang diberikan harus diingat bahwa pemberian anti tuberkulosa ini diberikan lebih lama daripada pemberian anti tuberkulosa paru. 2. Tindakan Pembedahan Dilakukan debridement dan bone graft. Arthrodesi ( kekakuan sendi melalui pembedahan, sehingga tak mungkin

60

Terjadi gerakan lagi pada sendi yang bersangkutan ). Drainage dan curetage. Amputasi.

61

I. 1.

PENGKAJIAN Data Subyektif

Rasa nyeri yang sangat hebat di sekitar daerah pembengkakan dan sangat sakit bila digerakkan pada anggota gerak yang terkena. Malaise. Nause. Anoreksia. Rasa suhu tubuh yang meningkat.

2.

Data Obyektif

Bengkak pada daerah anggota gerak yang terkena. Adanya abses pada daerah yang mengalami pembengkakan. Pasien terlihat sangat lemah. Hilangnya keterbatasan fungsi mobilisasi. Pasien tampak sakit keras. Suhu tubuh meningkat.

II. A.

DIAGNOSA KEPERAWATAN SEBELUM OPERASI

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya infeksi pada

62

daerah anggota gerak yang terkena. 2. Nyeri berhubungan dengan adanya pembengkakan dan bila menggerakkan anggota gerak yang terkena. 3. Perubahan pola makan berhubungan dengan tidak adanya nafsu makan dan nause. 4. Resti terhadap penurunan / interupsi aliran darah berhubungan dengan adanya pembengkakan pada daerah yang terkena. 5. Resti terhadap kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan adanya pembengkakan pada daerah yang terkena. 6. Perubahan pola tidur / istirahat berhubungan dengan nyeri. 7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan adanya pembengkakan pada daerah anggota gerak yang terkena.
8. Personal hygiene kurang berhubungan dengan kelemahan fisik dan malaise. B. SESUDAH OPERASI

1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan oleh karena operasi. 2. Resti infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit. 3. Gangguan mobilitas fisik dan kurang mampu merawat diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.

III.

PERENCANAAN

A. SEBELUM OPERASI

1. DP 1 Tujuan: suhu tubuh normal. Kriteria: suhu tubuh normal. Intervensi: Monitor tanda vital.

63

Beri kompres. Buat suasana lingkungan yang nyaman. Kolaborasi dengan Dokter / melaksanakan program medis untuk pemberian antipiretik 2. DP2 Tujuan: nyeri berkurang / hilang.
Kriteria:

Keluhan nyeri hilang. Ekspresi wajah rileks. Tidak merintih. Intervensi: Kaji skala nyeri. Anjurkan / peragakan penggunaan teknik relaksasi nafas dalam dan visualisasi. Berikan tindakan tindakan pemberian rasa nyaman alternatif, perubahan posisi. Anjurkan penggunaan aktifitas pengalihan. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring. Dengarkan keluhan pasien. Perhatikan penunjukan nyeri non verbal ( perubahan pada tanda vital dan emosi / perilaku ). Kolaborasi dengan Dokter / melaksanakan program medis untuk pemberian analgetik yang progresif, latihan

3.

DP 3 Tujuan:

Nafsu makan meningkat. Rasa mual hilang. Kriteria: Makan yang dihidangkan habis 1( satu ) porsi. 64

Berat badan bertambah. Nause hilang. Intervensi: Monitor pilihan diet harian pada menu pasien. Hidangkan makanan porsi kecil tapi sering. Hidangkan makanan dalam keadaan hangat. Motivasi agar makanan yang dihidangkan habis. Catat makanan yang habis termakan. Timbang berat badan tiap 3 ( tiga ) hari sekali. Kolaborasi dengan ahli Gizi untuk pemberian Diet makanan. Kolaborasi dengan Dokter / melaksanakan program medis untuk pemberian roborantia dan antiemetik

4.

DP 4 Tujuan: Penurunan aliran darah tidak terjadi. Kriteria:

Tanda vital dbn ( T= 100 / 60 mmHg, N= 92-100 x / mnt, S= 36-37 C ). Kulit hangat, nadi teraba. Intervensi: Monitor tanda vital. Observasi daerah pembengkakan pada anggota yang terkena. Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba, contoh penurunan suhu kulit dan peningkatan nyeri. Motivasi pasien agar sesegera mungkin melakukan ambulasi. 5. DP 5
Tujuan:

Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, oleh karena pembengkakan.

65

Kriteria: Rasa nyaman pada kulit di daerah pembengkakan. Kulit utuh di sekitar pada daerah yang tidak mengalami pembengkakan. Intervensi: Beritahu pasien bila rasa nyeri timbul dan bau tidak sedap. Beri bantalan pada daerah pembengkakan.

6 DP 6 Tujuan: Agar tidak terjadi perubahan pola tidur / istirahat. Kriteria: Tidur / istirahat cukup. Intervensi:

Beri lingkungan yang nyaman. Batasi pengunjung. Motivasi agar pasien dapat tidur.

7 DP 7 Tujuan: Agar tidak terjadi intoleransi aktifitas. Kriteria:

Dapat menggerakkan anggota yang terkena . Tidak terjadi kontraktur. Intervensi: Kaji tingkat fungsi aktifitas. Pantau sirkulasi / fungsi saraf yang mengalami pembengkakan pada anggota yang terkena. Lakukan mobilisasi fisik sesegera mungkin. Topang fiksator bergerak. Anjurkan penggunaan sisi pengaman tempat tidur untuk merubah posisi. 66 anggota yang mengalami pembengkakan selama

Peragakan / bantu latihan ROM pada ekstremitas yang tidak sakit. Dekatkan alat-alat atau barang - barang ke pasien bila penunggu akan meninggalkan pasien untuk sementara waktu. Kolaborasi dengan ahli Fisioterapi.

8 DP 8 Tujuan: Agar personal hygiene terpenuhi. Kriteria: Pasien bersih dan rapi. Intervensi: Bantu kebutuhan pasien sehari-hari. B. SESUDAH OPERASI 1. DP 1 Tujuan, Kriteria sama dengan Diagnosa Keperawatan pada sebelum operasi. 2. DP 2 Tujuan: Tidak terjadi infeksi / bebas dari infeksi. Kriteria:

Tidak ada tanda-tanda infeksi. Tanda vital dbn. Luka kering, bersih dan tidak kemerahan. Intervensi: Monitor tanda vital. Lakukan perawatan luka. 3. DP 3 Tujuan:

67

Agar pasien dapat berjalan. Kriteria: Berjalan dengan aman dengan alat bantu. Intervensi: Monitor sirkulasi pembengkakan. Topang fiksator anggota yang megalami pembedahan selama bergerak. Anjurkan penggunaan sisi pengaman tempat tidur untuk merubah posisi. / fungsi saraf pada anggota yang mengalami

IV.

TINDAKAN KEPERAWATAN

Pada saat melakukan tindakan asuhan keperawatan pasien dengan Osteomielitis, yaitu mencegah infeksi yang menyebar, menghilangkan nyeri, mobilisasi yang tepat, kenyamanan, keamanan serta pelaksanaan asuhan keperawatan lainnya sesuai dengan rencana yang dibuat.

V. A.

EVALUASI SEBELUM OPERASI

1. Suhu tubuh menurun / normal. 2. Nyeri berkurang / hilang. Ekspresi wajah rileks, tidak merintih. 3. Nafsu makan meningkat. Makanan yang dihidangkan habis 1 porsi. Berat badan meningkat. 4. Nadi teraba, kulit hangat, sensori normal, tanda-tanda vital stabil. 5. Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, ditandai dengan kulit kering pada
daerah dekat terjadinya pembengkakan. B. 1. SESUDAH OPERASI Nyeri berkurang / hilang.

68

Pasien dapat melakukan pengontrolan terhadap nyeri. Pasien tampak rileks.


2. Tidak terjadi infeksi / teratasi.

Tidak ada tanda-tanda infeksi. Luka kering, bersih dan tidak kemerahan. 3a. Pasien dapat berpartisipasi
kekuatan otot. b. Meningkatkan level aktifitas.

dalam aktifitas untuk mempertahankan

c. Memperagakan teknik / perilaku yang memungkinkan memulai kembali


aktifitas.

69

70

OLEH : SUNARTO,SST

Bursa ad/ kantung kecil diantara permukaan sendi berupa garis pada membran sinovial Berfungsi sbg jaringan penghubung antara otot tendon dan tulang Memudahkan sendi ,bekerja bantalan tehadap permukaan sendi

71

PENGERTIAN :

Bursitis adalah pembesaran dan peradangan dalam satu bursa


ETIOLOGI :

Merupakan akibat dari trauma sekunder yang bersifat terus menerus Infeksi akut & kronik sendi

Artritis

akibat penyakit metabolik ex. penimbunan asam urat pada bursa

GAMBARAN KLINIS

nyeri kekakuan pada jaringan lunak dan otot biasanya didahului tendonitis,tenosinovitis

sendi yang sering terkena bursitis : sendi bahu

nyeri

pergerakan sendi terbatas 72

sendi achillis

tendon achiles + tulang kalkaneus tumit

nyeri pada daerah tumit Bursitis prepatelar

Gejala nyeri saat berlutut Kaku Bengkak Kemerahan pada anterior lutut

Bursitis pada panggul Bursitis pada pergelangan tangan

1. RIWAYAT KEP 73

Pasien menyatakan nyeri hebat, menyebar pada sekitar sendi /bursa


Bursitis akut

Nyeri terjadi saat pergerakan extremitas


Bursitis kronik

2. PEMERIKSAAN FISIK Teraba lunak pada area/sendi yang terinfeksi ROM terbatas Pada bursitis kronis dpt kekakuan Kulit berwarna kemerahan Terjadi bengkak Teraba lunak

3. RIWAYAT PSIKOSOSIAL

Pasien merasa cemas

Nyeri

ggn.persendian

4. PEMERIKSAAN LAB 74

Lekosit meningkat

Gangguan rasa nyaman nyeri Gangguan aktifitas : pergerakan terbatas

1. gangguan rasa nyaman nyeri


Tujuan ; Kebutuhan rasa nyaman pasien terpenuhi

75

Intervensi :

mengistirahkan bagian yang terinfeksi latihan untuk relaksasi dan upaya pengalihan perhatian kaji nyeri dengan Provoking, quality,Region,Severity, Time pemberian kompres/ terapi panas pada kondisi kronis

efek vasodilatasi

endorfin kolaborasi pemberian analgetik

2. gangguan aktifitas : pergerakan terbatas

tujuan ; aktifitas pasien meningkat secara optimal

Intervensi :

berikan kompres hangat pada bursitis kronis bila kondisi akut teratasi

76

lakukan mobilitas aktif/pasi f

menilai sejauh mana masalah teratasi apakah rasa nyaman nyeri klien berkurang/hilang apakah klien dapat melakukan aktifitas seoptimal mungkin

77

78

DAFTAR PUSTAKA Doenges Marilynn E, et al, Penerapan Proses Keperawatan Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta,1987. Komite Farmasi & Therapi RSUP Denpasar, Pedoman Dignosis Dan Terapi Ilmu Bedah, LAB / UPF ILMU BEDAH Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Denpasar, Denpasar, 1992. Rekso Soelarto, et al, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1995. Dan Diagnosa

DAFTAR PUSTAKA

Bloch Bernard, penterjemah MUDR Timbang M. Simandjuntak (Chirurg), et al, Fraktur &

Dislokasi, Penerbit Buku Kedokteran, Yogyakarta, 1978. Engram Barbara, ahli bahasa Dra. Suharyati Samba, SKp, et al, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 1998. Komite Farmasi dan Terapi RSUP Denpasar, Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah, LAB / UPF ILMU BEDAH Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP
Denpasar, Denpasar, 1992.

Nosi Hasnah, et al, Asuhan Keperawatan Bedah, Bagian Keperawatan Bedah RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Bandung, 1995. Reksoprodjo Soelarto, et al, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1995.

79

OLEH:SUNARTO,SST

80

Adalah pertumbuhan jaringan baru yang terus menerus secara cepat dan pertumbuhannya tidak terkendali
Klasifikasi tumor tulang :

A. Tumor tulang Benigna 1. Osteoma Berasal dari jaringan tulang sejati Jarang terjadi Sering terjadi pada tulang membranosa

2. Chondroma Sering terjadi pada tulang panjang Seperti lengan,atau tulang datar ileum

3. Osteokhondroma Berasal dari sel sel tertinggal tulang

B. Tumor tulang Maligna

1. Tumor tulang maligna primer a. osteosarcoma berasal dari osteoblas pada metafisis tulang terlihat pada daerah pertumbuhan aktif sering diidstal femur,proximal tibia,humerus

b. Ewings sarcoma Tumor ganas yang timbul dlm sumsum tulang belakang Sering pada femur,tibia,fibula,humerus,ulna,verte bra ,dan scapula

c. Multiple myeloma

81

Secara patologi terdapat kerusakan tulang yang multiple d. Fibrosarcoma Tumor yang biasanya menuju kearah ujung korpus tulang panjang terutama tulang femur ,tibia

e. Chondrosarcoma Timbul dari ujung tulang panjang yang besar tau dari tulang pipih

2. Tumor Tulang Maligna sekunder


Berasal dari metastase tumor :

Payudara,broncus,prostat,ginjal

Pengertian : Suatu pertumbuhan yang cepat pada tumor maligna tulang Patofisiologi Awal pertumbuhan ;

Sumsum tulang /myeoloma Jaringan sel tulang/sarkoma Tumor tulang/carsionomas

Tahap lebih lanjut :

82

Sel-sel tulang akan berada pada nodul ;

Hati ,linfe dan ginjal

Efek yang ditimbulkan :

Aktifitas hematopoetik sumsum tulang yang cepat Sel-sel plasma yang belum matang terus bertambah Jumlah sel tidak terkontrol

Manifestasi klinis :

Sering terjadi pada usia 10-25 th Nyeri dan bengkak BB menurun Anemia Nyeri punggung Hiperkalsemia,peningkatan asam urat

Gangguan produksi antibody Infeksi; o/k efek kemoterapi,radiaoterapi,steroid Fraktur patologik Apatis/fatique

83

Tindakan pengangkatan tumor; amputasi Kemoterapi Analgetik/narkotik Alopurinol; kontrol hiperuresemia

1. riwayat kep kaji nyeri,kapan terjadinya,kebiasaan, umur,riwayat dalam keluarga ,pernahkah terpapardalam waktu lama zat-zat karsinogenik

2. pengkajian fisik identifikasi adanya nyeri,bengkak,pergerakan terbatas

3. Riwayat psikososial Kaji adanya kecemasan,takut,ataupun depresi

4. Pemeriksaan diagnostik
Periksa adanya anemia,hiperkalsemia,hiperuresemia

5. Diagnosa kep

84

Gangguan nutrisi Kurang penget Cemas

1. Gangguan nutrisi kurang dr kebutuhan b/d anoreksia


Tujuan : Status nutrisi pasien dapat memenuhi kebut tubuh Intervensi :

Beri makanan dengan diet TKTP Monitor intake cairan dan makanan Sediakan makanan dalam keadaan hangat Timbang pasien setiap hari Kolaborasi dengan bagian gizi untuk memberikanan makanan semenarik mungkin

2. kurang pengetahuan tentang amputasi,kemoterapi,radiotera


Tujuan :

Pasien dan keluarga memahami proseduroperasi,kemoterapi


Intervensi :

85

Perkuat keterangan dokter tentang prosedur operasi,rehabilitasi peralatan post op Beri penjelasan tentang kemoterapi,radioterapi,efeksamping Ciptakan lingkungan yang mendukungpasien untuk mengekspresikan perasaan Potensial terjadinya komplikasi

2. Cemas
Tujuan : Kecemasan pasien menurun Interveni ;

Kaji kembalai tingkat kecemaan klien Sertakan secara aktif dalam pengambilan perawatan /tindakan Jelaskan setiap prosedur dan tindakan kperawatan /medik keputusan untuk semua aspek

Komplikasi dapat teratasi Nutrisi adequat Nyeri berkurang dan dapat teratasi Bekas biopsi bersih, kering dan utuh Memahami setiap prosedur baik pre dan post rehabilitasi, kemoterapi maupaun radiaoterapi

86

87