Anda di halaman 1dari 14

BAROTRAUMA

Pembimbing : dr. Priyanti, SpTHT-KL

Penyusun : Heldhi Yonathan Putra, S.Ked (2005.04.0.0045) Djoko Bagus Rahardjo, S.Ked (2005.04.0.0050)

BAROTRAUMA

Disebut juga Caisson Disease Diperkenalkan oleh Paul Bert di tahun 1878 Pada awalnya berhubungan dengan pekerja di pembangunan jembatan yang harus melakukan pekerjaan bawah air laut dan kembali ke daratan Gejala : pusing, susah bernafas, nyeri yang sangat terutama di persendian atau di abdomen Manifestasi mulai dari nyeri labial, nyeri auris, sakit kepala, nyeri persendian, paralise, koma sampai dengan kematian Manifestasi utama : ada efek di sinus atau auris media, decompression sickness (DCS), emboli gas arteri, paru-paru, dll Dapat terjadi saat menyelam atau saat bepergian lewat udara. Barotrauma disebabkan karena adanya perbedaan tekanan antara lingkungan luar dan bagian dalam telinga. Dimana karena sebab tertentu sehingga ruang dalam telinga tak dapat menyamakan tekanan dengan lingkungan sekitar. Bisa terjadi saat ascent atau descent Bisa terjadi karena kesalahan penyelam Barotrauma bisa juga merupakan efek samping dari penggunaan terapi oksigen hiperbarik Terbanyak pada umur 20-40th (idiopatik), pekerja pada ruangan tekanan tinggi / rendah

BAROTRAUMA
HUKUM FISIKA PENYELAMAN
Hukum Newton Tekanan akan berbanding lurus dengan kedalaman penyelaman Tekanan pada penyelaman ada 2 unsur : 1. Tekanan atmosfer di atas air = 1 atm ( 760 mmHg ) 2. Tekanan air itu sendiri = 1 atm (10,08 m) Hukum Boyle Bila temperatur dipertahankan konstan, volume gas berbanding terbalik dengan tekanan Dengan rumus P1 x V1 = P2 x V2 Tekanan naik(saat Descent) Volume gas turun Tekanan turun(saat Ascent) Volume gas naik Hukum Henry Kelarutan suatu gas berbanding lurus dengan tekanan parsial gas diatas larutan Satuan kelarutan suatu gas (Sgas), tekanan parsial gas (Pgas), konstanta henry (kH) bernilai tertentu untuk kombinasi gas solven pada suhu tertentu Rumus : Sgas= kH x Pgas Dengan Sgas adalah mol/L, Pgas adalah atm, kH adalah mol/L . atm

BAROTRAUMA
Syarat terjadinya barotrauma 1. Harus ada udara 2. Tempatnya harus dipisahkan oleh dinding yang keras 3. Tempatnya harus tertutup 4. Tempatnya harus memiliki pembuluh darah 5. Terjadi perubahan tekanan dari lingkungan sekitar

BAROTRAUMA
Barotrauma Descent 1. Jika Equalisasi gagal saat penyelam turun 2. Tekanan dalam rongga fisiologis jadi relatif negatif 3. Kerusakan jaringan lunak dalam rongga 4. Dapat terjadi : kongesti vaskuler, odema mukosa, transudasi cairan tubuh dan perdarahan ke dalam rongga fisiologis tubuh Barotrauma Ascent 1. Penurunan tekanan Volume meningkat 2. Normalnya udara disalurkan keluar dari rongga melalui saluran-saluran 3. Jika ada obtruksi udara terperangkap dalam rongga tubuh 4. Nyeri mendadak, Vertigo, Tinnitus, tuli ringan 5. Pencegahan : jangan naik terlalu cepat, berhenti dulu atau turun lagi perlahan sampai gejala hilang

BAROTRAUMA
Efek barotrauma pada auris Eksternum Auris eksterna berhubungan dengan dunia luar. Saat descent air masuk ke dalam MAE. Jika ada sumbatan di MAE air tidak masuk, udara terperangkap di canalis acusticus externa & tidak dapat menyamakan tekanan. Akibatnya : kolaps canalis acusticus externa, kongesti, perdarahan & MT tertarik ke lateral. Mulai terjadi jika perbedaan tekanan 150 mmHg (1,5-2m)

BAROTRAUMA
Terapi barotrauma auris externum Membersihkan saluran telinga luar dari sumbatan mencegah menyelam atau bepergian melalui udara sebelum sumbatan terkoreksi dan saluran telinga kembali normal jangan memakai ear plug saat menyelam

BAROTRAUMA
Media Lebih banyak terjadi saat descent,pada kedalaman 10 m pertama. MT memisahkan cavum timpani dgn auris ext, cavum timpani berhubungan dgn dunia luar lewat tuba eustachii. Normal : Tuba eustachii merupakan saluran untuk equalisasi tek.udara dalam cavum timpani dgn tek.sekeliling. Equalisasi auris media saat descent lebih sulit drpd saat ascent Jika ada sumbatan di tuba equalisasi gagal tekanan relatif negatif di cavum timpani, lalu kongesti / oedema sampai bleeding cavum timpani, MT retraksi ke medial, akhirnya bisa ruptura MT Gejala : a. Nyeri yang bervariasi intensitasnya, jika ruptur MT, nyeri berkurang b. Epistaksis akibat perdarahan cavum timpani yang terdorong keluar saat ascent c. Telinga buntu/tuli konduksi ringan. d. Vertigo jika air masuk cavum timpani akibat ruptur Sumbatan pada tuba eustachii berupa : a. Kongesti mukosa karena ISPA b. Otitis media c. Polip mukosa

GRADASI PADA MEMBRAN TIMPANI

BAROTRAUMA
Skala Teed (untuk evaluasi membran timpani) Derajat 0-I : Tanpa keluhan / ada keluhan (tanpa gejala pada MT) Derajat II : Perdarahan sedikit di manubrium maleus dan umbo Derajat III : Perdarahan sedang di MT Derajat IV : Perdarahan luas dalam MT Derajat V : MT bombans, tampak biru gelap (karena darah dlm MT dan deoksigenasi)

BAROTRAUMA
Terapi barotrauma auris media

Istirahat, dilarang menyelam Dekongestan atau antihistamin peroral atau topikal Antibiotik pada kasus perdarahan atau perforasi MT

Pencegahan

Periksa MT sebelum menyelam sambil manuver valsava mengetes baik tidaknya fungsi tuba

BAROTRAUMA
Auris internum Merupakan komplikasi barotrauma auris media, karena manuver valsava yg dipaksakan. Saat descent: Tekanan meningkat sehingga MT terdorong ke cavum timpani. Akibatnya foot plate stapes terdorong menekan perilymph dan foramen rotundum terdorong ke luar. Jika saat itu dilakukan manuver valsava dengan keras, akan terjadi kebalikan dari proses diatas

BAROTRAUMA
Terapi barotrauma auris internum

Penderita MRS, tidur dengan posisi kepala ditinggikan 30-40

derajat

Operasi

rekonstruksi

mikroskopis

membrana

foramen

rotundum yang ruptur

Setelah sembuh, tidak boleh langsung menyelam sebelum fungsi pendengaran dan fungsi keseimbangan kembali

normal

Dilarang menyelam bila manuver valsava di permukaan sudah menimbulkan vertigo

BAROTRAUMA
Diagnosa Fisik riwayat pasien Inspeksi dan palpasi pada ekstremitas apa ada gangguan pada persendian Inspeksi nasal (polip, bleeding, lesi), transiluminasi sinus Inspeksi membran timpani untuk cek jumlah bagian yang terkena, adanya bleeding, atau sampai ruptur MT Tes keseimbangan dan pendengaran DCS I : inspeksi persendian, tes keseimbangan, palpasi bilamana ada fraktur, evaluasi status neurovaskuler (cek fungsi sensorik dan motorik, fungsi cerebelum, status mentalis) DCS II : DCS I + evaluasi sistem kardiovaskuler dan pulmoner, GCS dan mini mental state examination Emboli gas arteri : sama dengan DP DCS II
Pemeriksaan lab Cek DL, BGA, level serum kreatinin-fosfokinase Pemeriksaan Radiologi Foto thoraks, foto polos ekstremitas / persendian, CT Scan / MRI, Echocardiografi, ECG Diagnosa Anamnesa + Pemeriksaan Fisik + Lab + Imaging