Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

MODUL 8 KALORIMETER

Disusun Oleh : Nama Npm Kelompok Hari, tanggal Waktu Asisten : Setia Shofi Pertiwi : 240110110039 : 2 (Dua) : Selasa, 08 November 2011 : Pukul 10.00 S.d 11.40 WIB : Adhi Purnama

LABORATORIUM FISIKA DASAR TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Peralatan-peralatan listrik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, khususnya di zaman globalisasi ini. Tentunya peralatan-peralatan listrik tersebut memiliki rangkaian listrik yang akan berubah menjadi energi lain, seperti energi kalor. Dalam praktikum ini, akan mengkaji mengenai panas yang ditimbulkan oleh arus listrik. Panas yang ditimbulkan tergantung pada beda potensial, arus listrik serta waktu yang diperlukan.

1.2 Tujuan 1. Memahami sistem kerja kalorimeter. 2. Memahami arti fisis tara panas listrik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Arus, Hambatan dan Tegangan 1. Arus Arus listrik adalah banyanyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Muatan listrik dapat mengalair melalui kabel atau pengahntar listrik lainnya. Secara matematis arus listrik dituliskan sebagai berikut: I = Q/T Keterangan: I = arus listrik (A) Q = besar muatan listrik (c) T = waktu (s) 2. Hambatan Hambatan listrik adalah perbandingan antra tegangan listrik dari suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Secara matematis hambatan dituliskan sebagai berikut: R =V/I Keterangan: R = hambatan (ohm) V = beda potensial (v) 3. Tegangan Tegangan listrik adalah perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik. Besaran ini mengukur energi potensial sebuah medan listrik untuk menyebabkan aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensi listrik satu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi dan ekstra tinggi. Secara matematis tegangan dituliskan sebagai berikut: V = I.R

2.2 Hukum Ohm

Hukum ini dicetuskan oleh Goerge Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825. Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya. Secara matematis jukum ohm dituliskan sebagai berikut: V = I.R Dimana I adalah arus listrik yang mengalir [ada suatu penghantar dalam satuan ampere, V adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt, dan R adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.

2.3 Kalor Kalor adalah bentuk energi yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah. Jika suatu benda menerima atau melepas kalor, maka suhu benda tersebut akan turun atau naik, atau benda mengalami perubahan wujud. Berikut ini adalah beberapa pengertian kalor: Kalori adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 gram air sebesar 1oC. 1 kalori = 4,18 joule 1 joule = 0,24 kalori Kapasitas kalor (H) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh zat untuk menaikkan suhunya 1oC (satuan kalori/ oC). Kalor jenis (c) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 gram atau 1kg zat sebesar 1oC (satuan kalori/gram. oC atau kkla/kgoC). Kalor yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan suhu tanpa mengubah zat, secara matematis dituliskan sebagai berikut: Q = H. T Q = m.c. T H = m.c

Keterangan: Q = kalor yang dilepas/diterima H = kapasitas kalor T = perubahan suhu (kenaikkan/penurunan) m = massa benda c = kalor jenis Sementara itu, kalor yang dilpeas/diterima (Q) dalam proses perubahan wujud benda secara matematis dituliskan sebagai berikut: Q = m.L Keterangan: m = massa benda L = kalor laten (kalor lebur, kalor beku. kalor uap,kalor embun, kalor sublim, kalor lenyap) /kg Jadi kalor yang diserap atau yang dilepas pada saat terjadi perubahan wujud benda tidak menyebabkan perubahan suhu benda (suhu benda konstan).

2.4 Tara Panas Listrik Tara panas listrik merupakan perbandingan antara energi listrik yang diberikan terhadap panas yang dihasilkan. Secara matematis dituliskan sebagai berikut: J = W/H (Joule/kalori) Teori yang melandasi tara panas listrik adalah Hukum Joule dan Asas Black, penjelasannya adalah sebagai berikut: Suatu bentuk energi dapat berubah menjadi bentuk energi lain. Misalnya pada peritiwa gesekan energi mekanik berubah menjadi panas. Pada mesin uap panas diubah menjadi energi mekanik. Demikian pula energi listrik dapat diubah menjadi panas atau sebaliknua. Sehingga dikenal adanya kesetaraan antara panas dengan energi mekanik/listrik, secara kuantitatif hal ini dinyatakan dengan angka kesetaraan panas-energi listrik/mekanik. Kesetaraan panas-energi mekanik pertama kali diukur oleh Joule dengan mengambil energi mekanik benda jatuh untuk mengaduk air di dalam kalorimeter sehingga air menjadi panas. Energi listrik dapat diubah menjadi panas dengan cara mengalirkan arus listrik pada suatu kawat tahanan yang tercelup dalam air yang berada dalam kalorimeter. Energi listrik yang hilang dalam kawat tahanan besarnya adalah:

W = V.I.t Energi listrik sebesar V.I.t joule ini merupakan energi mekanik yang hilang dari elektron-elektron yang bergerak dari ujung kawat berpotensial rendah ke potensial tinggi. Energi ini berubah menjadi panas. Jika tidak ada panas yang keluar dari kalorimeter maka panas yang timbul besarnya: H = (M+Na).(ta-tm) Keterangan: M = m air.c air Na = nilai air kalorimeter ta = suhu akhir air tm = suhu air mula-mula Untuk tujuan penentuan tara panas listrik, kumparan (pengahantar) yang terdapat pada kalorimeter akan dilalui arus listrik, yang akan menimbulkan perubahan suhu atau timbul panas Q, yang sebanding dengan kuadrat arus I, tahanan penghantar R dan lamanya arus mengalir t. Secara matematis dituliskan sebagai berikut: Q = a I2 R t Jika pada kalorimeter, pertukaran kalor dengan sekitarnya diabaikan maka berlaku rumus: a=
( )

2.5 Hukum Kekekalan Energi Energi memiliki hukum kekekalan, dimana energi tersebut tidak diciptakan dan tidak adapat hilang melainkan hanya berubah. Banyaknya energi yang berubah menjadi bentuk energi lain sama dengan banyaknya energi yang berkurang sehingga total energi dalam sistem tersebut adalah tetap. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat berubah bentuk menjadi bentuk energi lain. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum kekekalan energi. Suatu bentuk energi dapat berubah menjadi bentuk energi yang lain. Perubahan bentuk energi yang biasa dimanfaatkan sehari-hari antara lain sebagai berikut:

Energi listrik menjadi energi panas. Contoh perubahan energi listrik menjadi energi panas terjadi pada mesin pemanas ruangan, kompor listrik, setrika listrik, heater, selimut listrik, dan solder.

Energi mekanik menjadi energi panas. Contoh perubahan energi mekanik menjadi energi panas adalah dua buah benda yang bergesekan. Misalnya, ketika kamu menggosok-gosokkan telapak tanganmu maka kamu akan merasa panas.

Energi mekanik menjadi energi bunyi. Perubahan energi mekanik menjadi energi bunyi dapat terjadi ketika kita bertepuk tangan atau ketika kita memukulkan dua buah benda keras.

Energi kimia menjadi energi listrik. Perubahan energi pada baterai dan aki merupakan contoh perubahan energi kimia menjadi energi listrik.

Energi listrik menjadi energi cahaya dan kalor. Perubahan energi listrik menjadi energi cahaya dan kalor terjadi pada berpijarnya bohlam lampu. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa energi cahaya biasanya disertai bentuk energi lainnya, misalnya kalor. Coba dekatkan tanganmu ke bohlam lampu yang berpijar! Lama kelamaan tanganmu akan merasa semakin panas.

Energi cahaya menjadi energi kimia. Perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dapat kita amati pada proses pemotretan hingga terbentuknya foto.

2.6 Kalorimeter Kalorimeter adalah suatu alat untuk memperlihatkan besarnya kalor jenis suatu zat. Kalorimeter ini bekerja berdasarkan asas black. Asas Black berbunyi Besarnya kalor yang dilepaskan oleh sebuah benda yang suhunya lenih tinggi akan sama dengan kalor yang diterima oleh benda yang bersuhu lebih rendah.

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan 1. Sebuah kalorimeter dilengkapi dengan kumparan pemanas dan pengaduk. 2. Termometer sebagai alat pengukur suhu. 3. Sebuah voltmeter sebagai alat pengukur tegangan. 4. Sebuah ampermeter sebagai alat pengukur kuat arus. 5. Sebuah gelas ukur. 6. Sebuah stopwatch sebagai alat pengukur waktu. 7. 5 kabel penghubung, untuk menghubungkan rangakain.. 3.2 Prosedur Percobaan 1. Kalorimeter diisi dengan air suling sebanyak 50 ml. 2. Massa air dihitung. 3. Alat percobaan dihitung. 4. Arus dalam waktu yang singkat dihubungkan dan arus sebesar 1 A diatur kemudian sumber tegangan DC dimatikan lagi. 5. Air diaduk dan suhu dicatat sebagai suhu awal T1. 6. Arus listrik dialirkan kembali dan tegangan yang terukur dalam voltmeter dicatat. 7. Suhu dicatat saat 3 menit, 6 menit, 9 menit, 12 menit, 15 menit kemudian diisi sebagai suhu akhir T2. Setelah 15 menit sumber tegangan DC dimatikan. 8. Air didalam kalorimeter diganti kemudian percobaan diulangi dengan besar arus yang mengalir 2 A. 9. Tara panas listrik dihitung. 10. Hambatan dan daya listrik kumparan dihitung. 11. Ketelitian percobaan dengan literature dihitung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


I (A) V(V) T (s) 180 360 1 1,5 540 720 900 180 360 2 2,5 540 720 90 0 34 30 T1 () T2() 32 33 33 34 34 36 39 42 44 45 T () 2 3 3 4 4 2 5 8 10 11 a 1,55.10-3 1,16.10-3 0,77.10-3 0,77.10-3 0,62.10-3 0,46.10-3 0.58.10-3 0,62.10-3 0,58.10-3 0,51.10-3 0,97.10-3 arata-rata

0,55.10-3

Diketahui: - Cair = 4,2 kj/kg.k - aair = 0,238 - mair = 50gr 1. Kesalahan relatif: KRis= | Ketelitian relatif: 100% - %KRis = 100% - 0,02428% = 99,97572% 2. Kesalahan relatif: KRis= | | =| | = 0,04317% | =| | = 0,02428%

Ketelitian relatif: 100% - %KRis = 100% - 0,04317% = 99,95683%

4.2 Pembahasan Pada praktikum mengenai kalorimeter ini, diperoleh data untuk menghitung nilai tara panas listrik (a). Tara panas listrik dipengaruhi oleh massa zat, kalor jenis, perubahan suhu, tegangan, arus, dan waktu. Tara panas listrik berbanding terbalik dengan tegangan dan arus lstrik. Semakin besar tegangan dan arus listrik, maka semakin kecil nilai tara panas listriknya, begitu pula sebaliknya. Seperti yang dapat dilihat pada tabel, bahwa nilai arus (1A), tegangan (1,5V) dan tara panas listrik rata-rata (0,97.10-3). Sedangkan pada percobaan dua nilai arus (2A), tegangan (2,5V) dan tara panas listrik rata-rata (0,55.10-3). Nilai tara panas listrik rata-rata percobaan kedua lebih kecil dibanding percobaan pertama. Selain itu, dengan diketahuinya nilai a, maka dapat dihitung besar presentase kesalahn dan ketelitian relatif. Pada percobaan pertama besar presentase kesalahan relatif, yaitu 0,02428% sementara ketelitian relatifnya adalah 99,97572%. Sedangkan pada percobaan kedua, besar presentase kesalahan relatif, yaitu 0,04317%, sementara ketelitian relatifnya 99,95683%. Terjadinya kesalahan dalam perhitungan dapat disebabkan karena beberapa hal, antara lain kurangnya ketelitian dan keakuratan dalam membaca stopwatch, kesalahan perhitungan, kondisi alat dan bahan yang digunakan kurang baik dan sebagainya.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Kalor merupakan bentuk energi yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah. Jika suatu benda menerima atau melepas kalor, maka suhu benda tersebut akan turun atau naik, atau benda mengalami perubahan wujud. Kalorimeter merupakan suatu alat untuk memperlihatkan besarnya kalor jenis suatu zat, yang mana bekerja berdasarkan asas Black. Tara panas listrik merupakan perbandingan antara energi listrik yang diberikan terhadap panas yang dihasilkan. Teori yang melandasinya adalah Hk. Joule dan asas Black. Tara panas listrik dipengaruhi oleh massa zat, kalor jenis, perubahan suhu, tegangan, arus, dan waktu. Tara panas listrik berbanding terbalik dengan tegangan dan arus lstrik.

5.2 Saran Pada percobaan ini ketelitian sangat dibutuhkan agar hasil yang diperoleh akurat. Selain itu alat dan bahan yang digunakan harus dalam kondisi yang baik agar praktikum berjalan dengan baik dan lancar serta hasil yang diperoleh akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Hukum Ohm. Id.Wikepedia.org (Diakses pada Sabtu, 12 November 2011 pukul 11.25 WIB). Deateytomawin. 2010. Hukum Kekekalan Energi. Wordpress.com(Diakses pada Sabtu, 12 November 2011 pukul 11.28 WIB). Meli. 2009. Tara panas listrik. Yahoo.com (Diakses pada Sabtu, 12 November 2011 pukul 11. 19 WIB). Taghyr. 2008. Pengertian Hambatan, Tegangan dan Arus. Wordpress.com (Diakses pada Sabtu 12 November 2011 (pukul 11. 10 WIB).