Anda di halaman 1dari 20

1 LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN LETAK SUNGSANG

I. KONSEP DASAR 1.1 Defenisi Letak sungsang adalah kehamilan dengan janin yang membuujur dalam rahim dengan bokong pada bagian bawah (Pedoman Pelayanan Medis SMF Obstetri dan Gineakologi RSK St. Vincentius A Paulo Surabaya, 2010). Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang terendah atau presentase bokong (http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/12/askepibu-dengan-letak-sungsang) 1.2 Etiologi (YBP-SP,1994:611) 1) Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air tuban masih banyak dan kepala anak relatif besar. 2) Hydramnion karena anak mudah bergerak. 3) Placenta praevia karena menghalangi turunnya kepala ke dalam pintu atas panggul. 4) Bentuk rahim yang abnormal seperti uterus bicornis. 5) Panggul sempit; walaupun panggul sempit sebagai sebab letak sungsang masih disangsikan oleh berbagai penulis. 6) Kelainan bentuk kepala: hydrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul.

1.3 Klasifikasi (Bobak, dkk, 2005: 787)

Adapun letak sungsang dapat dibagi menjadi sebagai berikut : 1) Letak bokong murni ; prensentasi bokong murni (Frank Breech). Bokong saja yang menjadi bagian terdepan sedangkan kedua tungkai lurus keatas. 2) Letak bokong kaki (presentasi bokong kaki) disamping bokong teraba kaki (Complete Breech). Disebut letak bokong kaki sempurna atau tidak sempurna kalau disamping bokong teraba kedua kaki atau satu kaki saja. 3) Letak lutut (presentasi lutut ekstensi di bawah bokong) disebut dengan istilah Incomplete Breech . 4) Letak kaki (kaki ekstensi di bawah bokong) yang disebut; Incomplete Breech. Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut atau hanya teraba satu kaki atau lutut disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna. Dari semua letak-letak ini yang paling sering dijumpai adalah letak bokong murni. Punggung biasanya terdapat kiri depan. Frekuensi letak sungsang lebih tinggi pada kehanilan muda dibandingkan dengan kehamilan aterm dan lebih banyak pada multigravida dibandingkan dengan primigarvida. Posisi bokong ditentukan oleh sakrum, ada 4 posisi : 1) Left sacrum anterior (sakrum kiri depan) 2) Right sacrum anterior (sakrum kanan depan) 3) Left sacrum posterior (sakrum kiri belakang) 4) Right sacrum posterior (sakrum kanan belakang)

1.4 Tanda dan Gejala 1. Pergerakan anak terasa oleh ibu dibagian perut bawah dibawah pusat dan ibu sering merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga. 2. Pada palpasi teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri.

3 3. Punggung anak dapat teraba pada salat satu sisi perut dan bagian-bagian kecil pada pihak yang berlawanan. Diatas sympisis teraba bagian yang kurang budar dan lunak. 4. Bunyi jantung janin terdengar pada punggung anak setinggi pusat. 1.5 Komplikasi (YBP-SP,2006:201) 1) Komplikasi pada janin: Kematian perinatal Prolaps funikuli. Trauma pada bayi akibat: tangan yang ekstended, kepala yang ekstended, pembukaan cerviks yang belum lengkap, CPD. Asfiksia karna prolaps funikuli, kompresi tali pusat, pelepasan plasenta, kepala macet. Perlukaan/trauma pada organ abdominal atau pada leher.

2) Komplikasi pada ibu: Cemas dan stress (Bobak,dkk,2005:787). Pelepasan plasenta. Perlukaan vagina atau cerviks. Endometritis.

1.6 Prognosa (YBP-SP,1994:613) Prognosa bagi ibu pada letak sungsang tak banyak berbeda dengan prognosa pada letak kepala; mungkin reptura perineal lebih sering terjadi. Sebaliknya prognosa bagi anak dengan letak sungsang lebih buruk terutama kalau anaknya besar dan pada ibu primgravida. Kematian anak 14 %. Kalau kematian karena prematuritas dikurangi maka kematian anak dengan letak sungsang tetap 3 kali lebih besar dari pada kematian anak letak kepala. Sebab-sebab kematian anak pada letak sungsang ialah:

1) Setelah pusat lahir, maka kepala anak mulai masuk ke dalam rongga pingul, sehingga tali pusat tertekan antara kepala dan ronga pinggul. Diduga bahwa kepala harus lahir dalam 8 menit, sesudah tai pusat lahir supaya anak dapat lahir dengan selamat. 2) Pada letak sungsang dapat terjadi perdarahan otak karena kepala dilahirkan dengan cepat. 3) Dapat terjadi kerusakan dari tulang belakang karena tarikan pada badan anak. 4) Pada letak sungsang lebih sering terjadi prolapsus foeniculi, karena bagian depan kurang baik menutup bagian bawah rahim. Selain itu karena pertolongan mungkin terjadi fraktur dari humerus atau clavicula, parayse lengan karena tekanan atau tarikan pada plexus brachialis. 1.7 Pemeriksaan Diagnostik 1) Anamnese: pergerakan anak teraba oleh ibu di dibagian perut bawah, di bawah pusat dan ibu sering merasa benda keras ( kepala) mendesak tulang iga ((YBP-SP,1994:609). 2) Palpasi abdomen

Pada bagian fundus uteri teraba bagian bulat, keras dan melenting atau kepala teraba di bagian atas (YBP-SP,2006:197). Pada bagian bawah rahim teraba bagian yang kurang bulat, bulat dan tidak melenting atau bokong teraba pada daerah pelvis (YBP-SP,2006:197). 3) Auskultasi (Bobak, dkk, 2005: 787 )

Auskultasi menunjukan DJJ terdengar keras di umbilikus atau di atasnya. Lokasinya lebih tinggi atau pada punggung anak setinggi pusat. 4) Pemeriksaan vaginal teraba bokong dengan atau kaki serta walau ada

5 mekoneum masih normal (Bobak, dkk, 2005: 787). 5) 6) Pemeriksaan USG (Bobak, dkk, 2005: 787) Pemeriksaan X ray.

1.8 Penatalaksaan 1) Prenatal/ antenatal Menurut Pedoman Pelayanan Medis SMF Obstetri dan Gineakologi RSK St. Vincentius A Paulo Surabaya, 2010): a) Waspada letak sungsang dimulai sejak kehamilan 24 minggu. b) Usia kehamilan 28 30 minggu yang masih didapatkan letak sungsang maka dilakukan USG untuk mencari kemungkinan adanya kelainan letak placenta (placenta previa), cacat bawaan atau bentuk rahim. c) Apabila dalam pemeriksaan USG tidak ditemukan kelainan maka dicoba dilakukan versi luar ke letak kepala (tanpa paksaan). d) Pasien diminta kontrol 1 minggu kemudian,bila versi luar gagal maka kontrol 1 minggu lagi dicoba versi luar sekali lagi, bila gagal versi luar tidak dilakukan. e) Untuk kasus-kasus seperti primitua, kehamilan resiko tinggi maka harus dilakukan pertimbangan khusus. f) Koreksi dengan cara Knee Chest Position diharapkan janin akan kembali ke presesntasi kepala (YBP-SP,2006:199).

Caranya: Posisi knee chest (bersujud dengan kaki sejajar pinggul dan dada sejajar lutut). Lakukan 3 kali sehari selama 10-15 menit setiap kali, lakukan saat perut Anda kosong, dan bayi aktif, atau dapat menggunakan papan miring). menekuk lutut tetapi

menjaga kaki datar di papan. Tenang, bernapas dalam-dalam, hindari ketegangan otot. Juga bisa dengan menggunakan bantal pada permukaan yang datar untuk menaikkan pinggul 12-18 inci di atas bahu. Gravitasi mendorong kepala bayi ke fundus, melipat, dan bayi kemudian dapat melakukan jungkir balik ke posisi vertex.

2) Pada waktu persalinan (YBP-SP,2006:197). a) Sebelum in partu: 1. Tentukan apakah persalinan dapat pervagiman. Setiap persalinan sungsang sebaiknya dotolong pada fasilitas kesehatan yang dapat dilakukan operasi. 2. Bila kehamilan berumur 37 minggu atau lebih dan kemungkinan kecil lahir pervaginam, lakukan versi luar. (bila dilakukan versi pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu sering terjadi kembali pada presentasi semula). 3. Versi luar bisa dilakukan pada: Ketuban intak, Air ketuban cukup, Tidak ada komplikasi atau kontraindikasi (IUGR, perdarahan, bekas seksio, kelainan janin, kehamilan kembar, hipertensi) b) Saat in partu 1. Persalinan pervagiman oleh tenaga penolong yang terlaih akan aman bila:

7 Pelvis adekuat Complete breech/ frank breech Kepala fleksi

2. Ikuti kemajuan persalinan dengan seksama dengan partograf 3. Jangan pecahkan ketuban. Bila ketuban pecah periksa apakah ada prolaps tali pusat dan apabila prolaps tali pusat dan kelahiran pervaginam tidak mungkin maka lakukan seksio sesarea. 4. Indikasi persalinan dilakukan secara sectio caesaria pada letak sungsang adalah sesabagai berikut: a. Persalinan pervaginam sukar, berbahaya (CPD/ skor Zatuchi Andros < 3). b. Tali pusat menumbung pada primigravida, multigravida (kala I). c. Kemacetan persalinan: Fase laten > 14 jam Secondary arrest of dillatation Prolong second stage

d. Kehamilan premature EFW 2000 gram/ lebih.

Skor Ztuchi Andros (ZA score) Paritas Pernah sungsang EFW Umur kehamilan Station Dilatasi 0 primi tidak >3600 gram >36 minggu < -3 2 1 multi 1x 3629 3176 gram 38 minggu -2 3 2 >2 < 3176 gram <37 minggu -1 4

Syarat: ZA skor hanya berlaku untuk kehamilan aterm / EFW > 2000 gram. Skor < 3 : persalinan abdominal (SC) Skor 4 : perlu evaluasi cermat Skor > 5 : persalinan pervaginam

2. KONSEP DASAR PERAWATAN 2.1 Pengkajian 1) Identitas: Pendidikan: Pendidikan rendah atau merem huruf akan mempersulit dalam penerimaan informasi. 2) Keluhan Pergerakan janin terasa dibagian perut bawah, di bawah pusat dan ibu sering merasa benda keras ( kepala) mendesak tulang iga. 3) Riwayat menstruasi HPHT untuk menentukan perkiraan persalinan dan umur kehamilan.

9 4) Riwayat kehamilan yang lalu Riwayat kehamilan premature, multi para, riwayat kelainan letak sungsang, hydramnion, placenta previa, panggul sempit beresiko untuk terjadi kelainan letak sungsang. 5) Riwayat kesehatan Penyakit yang pernah diderita ibu apakah ibu menderita DM, HT, Jantung,asma,ginjal, dan apakah ada penyakit keturunan seperti DM, HT, dan jantung. 6) Riwayat kehamilan sekarang Letak sungsang bisa terjadi pada kehamilan primi atau multigravida terutama pada multigravida, ini karena pada multi gravida ruang rahim lebih luas sehingga pergerakan janin lebih bebas. Letak sungsang terjadi pada usia kehamilan < 32 minggu karena pada usia kehamilan tersebut air ketuban masih banyak yang memudahkan janin bergerak dan mudah terjadi leteak sungsang, tetapi masih bisa kembali pada posisi letak kepala sampai usia kehamilan < 37 minggu. Pada usia kehamilan 37 minggu atau lebih letak sungsang sudah tidak dapat kembali ke posisi kepala. Tinggi fundus uteri pada kehamilan sungsang sesuai dengan usia kehamilan. 7) Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar a) Aktivitas dan istirahat Aktivitas pada ibu hamil harus diimbangi dengan istirahat yang cukup supaya kondisi ibu tetap baik dan tidak turun karena akan sangat berpengaruh terhadap kondisi janin. b) Nutrisi dan cairan Tidak ada diit khusus pada kehamilan sungsang. Tetapi kualitas makanan ibu hamil tetap harus diperhatikan, karena nutrisi sangat diperlukan untuk kesehatan ibu dan janin.

c) Eliminasi: Keluhan yang sering muncul konstipasi dan sering bak. Karena pengaruh hormon progesterone yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus, selain itu desakan usus oleh pembesaran janin juga menyebabkan bertambahnya konstipasi. Untuk seringnya bak didisebabkan pembesaran janin menyebabkan desakan pada kantong kemih. 8) Status psikososial Tingkat penerimaan dicerminkan dalam kesiapan wanita dan respon emosionalnya dalam menerima kehamilan, Ibu hamil dengan letak sungsang akan merasakan cemas terhadap keadaan dirinya dan keadaan janinya, memikirkan proses saat melahirkan apabila tidak bisa lahir spontan maka harus dilakukan operasi.

Dukungan keluarga dan lingkungan terhadap ibu hamil sangat penting dalam mempersiapkan persalinan dan semua kemungkinan yang akan terjadi. 9) Pemeriksaan fisik a) Kepala: Rambut : warna, kebersihan, mudah rontok/tidak Muka: cloasma, jerawat, sianosis, berkeringat Mata: sclera, conjungtiva, anemi/tidak, kotoran /secret Telinga: kebersihan, gangguan pendengaran Hidung: kebersihan, pernafasan cuping hidung, polip Mulut: karies gigi, kebersihan mulut dan lidah, kelembaban bibir, stomatitis, perdarahan gusi b) Leher: pembesaran kelenjar limfe, tiroid, vena jugularis c) Dada: retraksi dada, denyut jantung teratur, whezing d) Payudara: bentuk simetris/tidak, hiperpigmentasi aerola, kondisi putting

11 susu, pengeluaran kolostrum terjadi kehamilan trimester tiga. e) Abdomen Pembesaran perutdan TFU sesuai umur kehamilan, striae gravidarum, luka bekas operasi, linea nigra, mendengarkan DJJ terdengar diatas setinggi pusat atau di atasnya, gerakan janin terasa di perut bagian bawah di bawah pusat, melihat kontraksi, letak janin sungsang, ukuran panggul ibu mempengaruhi proses persalinan, pada letak sungsang bokong lahir lebih dulu sehingga bisa terjadi partus lama. f) Vulva dan perineum Keadaan vulva bersih atau kotor, pengeluaran pervaginam bila berupa cairan, seperti air berarti ketuban sudah pecah, bila darah dan lender berarti permulaan persalinan, bila ada varices resiko terjadi perdarahan, bila ada luka resiko terjadi infeksi. g) Anus: bila ada hemoroid resiko terjadi perdarahan h) Ekstrimitas: melihat adanya oedem atau tidak, reflek patella, bila reflek patella resiko kelemahan waktu mengejan 2.2 Diagnosa Keperawatan (Carpenito, 2006) 1) Kecemasan berhubungan dengan takut pada kondisi ibu dan janin 2) Resiko cedera pada bayi (asfiksia) berhubungan dengan prolaps tali pusat (funikuli). 3) Gangguan rasa nyaman nyeri brhubungan dengan penekanan kepala janin pada diafragma. 2.3 Intervensi 1. Kecemasan berhubungan dengan takut pada kondisi ibu dan janin a) Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan , kecemasan berkurang. Kriteria hasil: Klien tidak gelisah Klien tampak tenang dan tidak tegang Tensi sistol 110-140 & diastole 60-90 Nadi 60-100x/mnt b) Intervensi 1) Informasikan kondisi ibu dan janin saat ini R/dengan memberitahu kondisi ibu dan janin akan memberika perasaan lega dan nyaman 2) Jelaskan hubungan kecemasan dengan his R/: semakin tinggi tingkat cemas akan semakin sering his muncul 3) Berikan penjelasan tentang kemungkinan persalinannya nanti bisa lahir spontan tetapi memang memerlukan observasi yang cermat, tetapi apabila keadaan tidak memungkinkan untuk lahir spontan baru dilakukan seksio. R/: Pengertian klien tentang kemungkinan kemungkinan persalinannya dapat membantu mengurangi stres 4) Monitor tingkat kecemasan klien melalui observasi keadaan kesadaran, nadi dan tensi R/: Perubahan tanda- tanda vital dan penurunan kesadaran merupakan tanda adanya kecemasan dan indikasi untuk melakukan intervensi segera. 5) Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman R/: lingkungan yang nyaman dan aman dapat membantu menurunkan stres 6) Bantu klien dalam mengidentifikasi sumber sumber stres R/: Ditemukannya sumber stres dapat mempermudah intervensi keperawatan

13 7) Anjurkan klien untuk bernafas dalam dan perlahan R/Dengan bernapas dalam dan perlahan , dapat membantu menurunkan stress

2. Resiko cedera pada bayi (asfiksia) berhubungan dengan prolaps tali pusat (funikuli). a) Tujuan : Selama dilakukan antanatal care tidak terjadi asfiksia pada janin. Kriteria hasil: DJJ teratur DJJ terdengar 120 -160 x/mnt. Gerakan janin aktif

b) Intervensi 1) Motivasi ibu untuk memriksakan kandungannya secara teratur sesuai jadwal kunjungan R/ untuk mengetahui kondisi janin dan menentukan tindakan yang tepat bila terjadi kelainan pada janin 2) Jelaskan pada ibu tanda-tanda kegawatan janin dalam kandungan dan segera kontrol. R/: Pengetahuan ibu tentang tanda-tanda kegawatan janin akan membantu mencegah komplikasi yang lebih berat menentukan tindakan. 3) Observasi DJJ janin ( kekuatan dan frekwensi). R/: DJJ yang lemah dan tidak teratur merupakan tanda terjadinya asfiksia bayi dalam kandungan. 4) Observasi pergerakan anak dalam rahim

R/: pergerakan janin dalam rahim yang lemah dan jarang merupakan tanda tanda bahaya janin yang harus diwaspadai. 5) Kolaborasi dengan dokter bila menemukan tanda-tanda asfiksia pada janin. R/: Meberikan pertolongan segera pada janin dan mencegah komplikasi yang lebih berat/kematian janin.

15

WOC KEHAMILAN LETAK SUNGSANG Premature Hidramnion Placenta Previa Panggul sempit Bentuk rahim abnormal Kelainan bentuk kepala

Air ketu ban bany ak Ukur an kepa la janin lebih besa r Hidr ocephal us Anen ceph al

Janin bebas bergerak

Menghalangi penurunan janin ke PAP Tidak seseuai dengan PAP Kelainan Letak Sungsang

Pergerakan janin lebih banyak di abdomen bagian bawah

Prenatal (Antenatal Care)

Usia Kehamilan < 30 minggu

Usia Kehamilan > 30-37 minggu

Knee Chest Position Kepala

Knee Chest Position

Kecemasan idak nyaman

17
janin menekan diafragma Berhasil Letak kepala Nyeri Partus Spontan Bokong lebih lunak Tidak ada faktor penyulit persalinan ada faktor penyulit persalinan: - Porl aps tali pusa t - CPD - Skor ZA< 3 - Plac enta prev ia - Part us mac et Gagal Letak Sungsang Prolaps tali pusat Observasi Berhasil

Tali pusat terjepit bokong janin & panggul ibu

Resiko partus lama Partus Spontan Suplay O2 ke janin berkurang

Sectio Fetal Distres

Kecemasan

Cedera pada janin (Asfiksia) Perubahan perfusi jaringan perifer

Janin kekuranga n oksigen

19 DAFTAR PUSTAKA

Bobak. 1995. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. 2004. Alih bahasa: Maria A. Wijayanti. Jakarta: EGC. Carpenitto, Lynda Juall. 2004. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. 2006. Alih Bahasa: Yasmin Asih. Jakarta: EGC Sinclair, Constance. 2009. Buku Saku Kebidanan. Alih bahasa: Renata Komalasari. 2010 Jakarta: EGC

Bidankitacara-mengubah-bayi-sungsang-menjadi-letak-kepala. http://www.bidankita.com/index.

Hidayat. Askep Ibu Dengan Letak Sungsang. http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/12/askep-ibu-dengan-letak-sungsang/