Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan

rahmat-NYA, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan seminar dengan judul Pedofilia. Tinjauan kepustakaan ini kami buat sebagai salah satu tugas kepaniteraan klinik di SMF Ilmu Kedokteran Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. dr. Hendro Riyanto, Sp.KJ. MM 2. dr. Trisno Budi Utomo 3. Rekan-rekan sejawat dokter muda Kami menyadari tinjauan kepustakaan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mohon kritik dan saran dari pembaca. Kami berharap tinjauan kepustakaan ini bermanfaat bagi kalangan medis, non medis, dan paramedis.

Surabaya, 25 April 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1 DAFTAR ISI 2 BAB I BAB II : PENDAHULUAN 3 : PEMBAHASAN.. 4 2.1 ETIMOLOGI DAN DEFINISI. 4 2.2 PSIKODINAMIKA. 4 2.3 KLASIFIKASI 6 2.4 KARAKTER PEDOFILIA7 2.5 DIAGNOSIS 10 2.6 PENATALAKSANAAN. 11 2.7 PROGNOSIS. 12 BAB III : RINGKASAN 12 DAFTAR PUSTAKA 14

BAB I : PENDAHULUAN Pedofilia adalah paraphilia yang melibatkan ketertarikan abnormal terhadap anakanak. Paraphilia sendiri berarti gangguan yang dicirikan oleh dorongan seksual yang intens berulang, serta fantasi seksual yang umumnya melibatkan: objek bukan manusia; penderitaan atau penghinaan terhadap diri sendiri atau pasangan; atau hewan dan anakanak. Pedofilia juga merupakan gangguan psikoseksual, yang mana fantasi atau tindakan seksual dengan anak-anak prapubertas merupakan cara untuk mencapai gairah dan

kepuasan seksual. Perilaku ini mungkin diarahkan terhadap anak-anak berjenis kelamin sama atau berbeda dengan pelaku. Beberapa pedofil tertarik pada anak laki-laki maupun perempuan. Sebagian pedofil ada yang hanya tertarik pada anak-anak, tapi ada pula yang juga tertarik dengan orang dewasa dan anak-anak. Kebanyakan pakar kesehatan mental membatasi definisi pedofilia sebagai aktivitas seksual dengan anak-anak praremaja, yang umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda. Beberapa pedofil membatasi perilaku mereka dengan mengekspos diri atau bermasturbasi di depan anak, atau mencumbu dan membuka baju anak, tapi tanpa kontak kelamin. Namun, ada pula pedofil yang memaksa anak melakukan seks oral atau berhubungan intim. Sebagian ahli menganggap pedofilia timbul karena faktor psikososial daripada karakteristik biologi. Sebagian orang berpendapat pedofilia timbul akibat pelecehan seksual yang dialami seseorang ketika kecil. Sementara itu, ada juga yang berpikir perilaku itu berasal dari interaksi pelaku dengan orang tua selama tahun-tahun awal kehidupannya. Beberapa peneliti mengungkapkan, seorang pedofil mengalami perkembangan emosional yang tertahan. Mereka tidak pernah dewasa secara psikologis sehingga lebih tertarik terhadap anak-anak. Pedofilia juga dipercaya timbul akibat keperluan untuk mendominasi pasangan. Karena anak-anak bertubuh lebih kecil dan biasanya lebih lemah dibandingkan orang dewasa, mereka dapat dianggap sebagai mitra potensial yang tidak mengancam.

BAB II : PEMBAHASAN 2.1 ETIMOLOGI DAN DEFINISI Kata ini berasal dari bahasa Yunani: paidophilia ()pais (, "anakanak") dan philia (, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan". Di zaman modern, pedofil digunakan sebagai ungkapan untuk "cinta anak" atau "kekasih anak" dan sebagian besar dalam konteks ketertarikan romantis atau seksual.[1] By diagnostic criteria of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth edition, a pedophile is an individual who fantasizes about, is sexually aroused by, or experiences sexual urges toward prepubescent children (generally < 13 years) for a period of at least 6 months.[2] Generally, the individual must be at least 16 years of age and at least 5 years older than the juvenile of interest to meet criteria for pedophilia.[2]

2.2 PSIKODINAMIKA Sejumlah penelitian telah dilakukan mengenai, apa penyebab orang tertarik pada anak-anak. Pedofilia, terutama jenis eksklusif mungkin sebaiknya dikategorikan tersendiri sebagai orientasi seksual, tidak dikategorikan kedalam identitas heteroseksual atau homoseksual. [2] Teori ini kemudian menimbulkan pertanyaan, Apakah orang memilih untuk menjadi pedofil? atau Apakah mereka dilahirkan seperti itu?. Jika mereka dilahirkan seperti itu, adakah jenis pengobatan yang mengkonversi mereka ke dalam orientasi seksual orang dewasa normal? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi kontroversi dalam kalangan medis. [2] Informasi berikut ini adalah contoh beberapa teori yang telah diusulkan dan dipelajari : 1. Perbedaan Neuropsikiatri Penelitian telah dilakukan untuk mencari perbedaan neuropsikiatri antara pedofilia dengan populasi masyarakat umum, populasi narapidana, dan pelaku seksual lainnya. Telah dilaporkan perbedaan mencakup intelegensi rendah (masih kontroversi), sedikit peningkatan yang menonjol pada individu kidal, gangguan kemampuan kognitif, perbedaan neuroendokrin, dan kelainan otak, khususnya 4

perbedaan pada pronto-kortikal atau kelainan pronto-kortikal. Gangguan kontrol impuls merupakan factor penyebab tertinggi (contoh: gangguan kepribadian eksplosif, kleptomania, pyromania, judi patologis) telah ditemukan pada pedofilia (30% - 55%). Factor-faktor ini telah diterima untuk menunjukkan bahwa pedofilia mungkin memiliki gangguan perkembangan saraf. [2] Sebuah penelitian oleh Schiffer et al, menggunakan voxel-based morphometry magnetic resonance imaging techniques pada 18 orang dengan pedofilia dari sebuah penjara dengan tingkat keamanan maksimum (9 homoseksual dan 9 pedofil heteroseksual) dengan 24 kontrol (12 laki-laki homoseksual dan 12 laki-laki heteroseksual ditemukan penurunan volume gray matter bilateral di striatum ventral, insula, orbitofrontal cortex, dan otak kecil pada seorang pedofil. Temuan ini serupa dengan penelitian pencitraan lain dimana didapatkan perubahan pada unilateral dan bilateral lobus frontalis, lobus temporal, dan cerebellar pada seorang pedofil. Schiffer et al menyatakan bahwa perubahan ini mungkin berarti terdapatnya gangguan atribut neurofisiologis. Perubahan serupa juga telah dilaporkan pada pasien dengan gangguan control inpuls, seperti kecanduan, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), dan gangguan kepribadian antisosial. [2]

2. Factor Sosial atau Lingkungan Factor lingkungan dapat mempengaruhi individu untuk menjadi pedofil. Pada seorang pedofil factor lingkungan sering dilaporkan sebagai factor yang meningkatkan dorongan atau keinginan untuk menyakiti anak. [2] Salah satu contoh yang paling jelas dari factor lingkungan dimana meningkatkan kemungkinan seorang individu menjadi seorang pelaku pedofil jika ia pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak. Hubungan ini dikenal sebagai victim-to-abuser cycle atau abused-abusers phenomena. [2] Banyak teori telah berspekulasi tentang mengapa terjadi abused-abusers phenomena : identifikasi dengan aggressor, dimana anak yang mengalami pelecehan seksual mencoba untuk mendapatkan identitas baru dengan menjadi seorang pelaku pelecehan seksual ; tercetaknya pola rangsangan seksual yang dibentuk dari pelecehan dini ; pelecehan dini mengarah ke perilaku hiperseksual ; atau terjadinya suatu bentuk social learning. Sebagai catatan, walaupun individu yang mengalami pelecehan seksual kemungkinan besar akan menjadi pelaku 5

pelecehan seksual terhadap orang lain, kebanyakan individu yang mengalami pelecehan seksual tidak menjadi pelaku pelecehan seksual. Terdapat perhatian khusus mengenai ke-valid-an dari banyaknya laporan seorang pedofil, yang mengaku mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanaknya. Pernyataan ini sering dibuat pada tingkat hukum atau pada suatu kelompok perawatan dimana seorang pedofil mungkin mencoba untuk mengurangi masa hukuman mereka atau untuk memperoleh simpati atas perilaku mereka. [2]

2.3 KLASIFIKASI Pedofilia dapat diklasifikasikan ke dalam 5 tipe, yaitu : [5] 1. Pedofilia yang menetap Orang dengan pedofilia tipe ini, menganggap dirinya terjebak pada lingkungan anak. Mereka jarang bergaul dengan sesama usianya, dan memiliki hubungan yang lebih baik terhadap anak. Mereka digambarkan sebagai lelaki dewasa yang tertarik pada anak laki-laki dan menjalin hubungan layaknya sesama anak laki-laki. 2. Pedofilia yang sifatnya regresi Di lain pihak, orang dengan pedofilia regresi tidak tertarik pada anak lelaki, biasanya bersifat heteroseks dan lebih suka pada anak perempuan berumur 8 atau 9 tahun. Beberapa di antara mereka mengeluhkan adanya kecemasan maupun ketegangan dalam perkawinan mereka dan hal ini yang menyebabkan timbulnya impuls pedofilia. Mereka menganggap anak sebagai pengganti orang dewasa, dan menjalin hubungan layaknya sesama dewasa, dan awalnya bersifat tiba-tiba dan tidak direncanakan. 3. Pedofilia seks lawan jenis Pria dengan pedofilia yang melibatkan anak perempuan, secara tipik didiagnosa sebagai pedofilia regresi. Pedofilia lawan jenis umumnya mereka menjadi teman anak perempuan tersebut, dan kemudian secara bertahap melibatkan anak tersebut dalam hubungan seksual, dan sifatnya tidak memaksa. Seringkali mereka mencumbu si anak atau meminta anak mencumbunya, dan mungkin melakukan stimulasi oral, jarang bersetubuh.

4. Pedofilia sesama jenis Orang dengan pedofilia jenis ini lebih suka berhubungan seks dengan anak lakilaki ataupun anak perempuan dibanding orang dewasa. Anak-anak tersebut berumur antara 10 12 tahun. Aktivitas seksnya berupa masturbasi dengan cara stimulasi oral oleh anak-anak tersebut, dan berhubungan lewat anus. 5. Pedofilia wanita Meskipun pedofilia lebih banyak oleh laki-laki, tetapi juga dilakukan oleh wanita, meskipun jarang dilaporkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perasaan keibuan pada wanita. Dan anak laki-laki tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sifatnya negatif, karenanya insidennya kurang dilaporkan. Biasanya melibatkan anak berumur 12 tahun atau lebih muda.

2.4 KARAKTER PEDOFILIA Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang pedofilia : [6] 1. Pola perilaku jangka panjang dan persisten. Memiliki latar belakang pelecehan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual merupakan korban dari kekerasan seksual berikutnya. Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja. Pada waktu remaja, pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual yang kurang terhadap seseorang yang seumur dengan mereka. Riwayat pernah dikeluarkan dari militer. Militer dan organisasi lainnya akan mengeluarkan pedofilia dan akan membuat dakwaan dan tuntutan terhadap mereka. Sering berpindah tempat tinggal. Pedofilia menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat selama beberapa tahun, mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba pindah dan berganti pekerjaan tanpa alasan yang jelas. Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya. Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan polisi karena perbuatan yang berulang-ulang, yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak. Korban banyak. Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan seksual pada korban yang berlainan, ini merupakan indikator kuat bahwa ia adalah pedofilia. 7

Percobaan berulang dan beresiko tinggi. Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai korban dengan cara yang sangat terampil merupakan indikator kuat bahwa pelaku adalah seorang pedofilia.

2. Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual Usia > 25 tahun, single, tidak pernah menikah. Pedofil mempunyai preferensi seksual terhadap anak-anak, mereka mempunyai kesulitan dalam berhubungan seksual dengan orang dewasa dan oleh karena itu mereka tidak menikah. Tinggal sendiri atau bersama orang tua. Indikator ini berhubungan erat dengan indikator di atas. Bila tidak menikah, jarang berkencan. Seorang laki-laki yang tinggal sendiri, belum pernah menikah dan jarang berkencan , maka harus dicurigai sekiranya dia memiliki karakteristik yang disebutkan di sini. Bila menikah, mempunyai hubungan khusus dengan pasangan. Pedofilia kadangkadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk menutupi dan juga memperoleh akses terhadap anak-anak. Minat yang berlebih pada anak-anak. Indikator ini tidak membuktikan bahwa seseorang adalah seorang pedofilia, tapi menjadi alasan untuk diwaspadai. Akan menjadi lebih signifikan apabila minat yang berlebih ini dikombinasikan dengan indikator-indikator lain. Memiliki teman-teman yang berusia muda. Pedofil sering bersosialisasi dengan anak-anak dan terlibat dengan aktifitas-aktifitas golongan remaja. Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya. Seorang pedofil mempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Jika seseorang yang dicurigai sebagai pedofil mempunyai teman dekat, maka ada kemungkinan temannya itu adalah juga seorang pedofil. Preferensi umur dan gender. Pedofil menyukai anak pada usia dan gender tertentu. Ada pedofil yang menyukai anak lelaki berusia 8-10 tahun , ada juga yang menyukai anak lelaki 6-12 tahun. Semakin tua preferensi umur, semakin eksklusif preferensi umur. Menganggap anak bersih, murni, tidak berdosa dan sebagai obyek. Pedofil kadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang diekspresikan

melalui tulisan dan bahasa, mereka menganggap anak-anak sebagai obyek, subyek dan hak milik mereka.

3. Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban Terampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh. Pedofilia memilih korban mereka, kebanyakan anak-anak korban broken home atau korban dari penelantaran emosi atau fisik. Ketrampilan ini berkembang dengan latihan dan pengalaman. Berhubungan baik dengan anak, tahu cara mendengarkan anak. Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih baik daripada orang dewasa lainnya. Mereka juga tahu cara mendengarkan anak dengan baik. Mempunyai akses ke anak-anak. Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Pedofil mempunyai metode tersendiri untuk memperoleh akses ke anak-anak. Pedofil akan berada di tempat anak-anak bermain, menikah atau berteman dengan wanita yang memiliki akses ke anak-anak, memilih pekerjaan yang memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia akhirnya dapat berhubungan khusus dengan anak-anak. Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak, seringkali tidak melibatkan orang dewasa lain. Pedofilia selalu mencoba untuk mendapatkan anak-anak dalam situasi dimana tanpa kehadiran orang lain. Terampil dalam memanipulasi anak. Pedofil menguunakan cara merayu, kompetisi, tekanan teman sebaya, psikologi anak dan kelompok, teknik motivasi dan ancaman. Merayu dengan perhatian, kasih sayang dan hadiah. Pedofil merayu anak-anak dengan berteman, berbicara, mendengarkan, memberi perhatian,

menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli hadiah. Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak. Pedofil mengkoleksi mainan, boneka atau menjadi badut atau ahli sulap untuk menarik perhatian anak-anak. Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak. Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk menelepon ke pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang eksplisit melalui komputer pada anak-anak. 9

4. Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak Dekorasi rumah yang berorientasi remaja. Pedofilia yang tertarik pada remaja akan mendekorasi rumah mereka seperti seorang remaja lelaki. Ini termasuk pernak-pernik seperti mainan, stereo, poster penyanyi rock, dll. Memfoto anak-anak. Pedofilia memfoto anak-anak yang berpakaian lengkap, setelah selesai dicetak, mereka menghayalkan melakukan hubungan seks dengan mereka. Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak. Pedofil menggunakan koleksi ini untuk mengancam korban agar tetap menjaga rahasia aktivitas seksual mereka. Koleksi ini juga digunakan untuk ditukar dengan koleksi pedofil yang lain.

2.5 DIAGNOSIS Pedoman diagnostik F 65.4 Pedofilia menurut PPDGJ-III : [7] Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan. Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan. Preferensi tersebut harus berulang dan menetap. Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang khronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti.

Pedoman diagnostik F 65.4 Paedophilia menurut ICD-10 : [3] A. The general criteria for F65 Disorders of sexual preference must be met. B. A persistent or a predominant preference for sexual activity with a prepubescent child or children. C. The person is at least 16 years old and at least five years older than the child or children in B.

10

Pedoman diagnostik Pedophilia in DSM-IV-TR (2000) : [4] A. Over a period of at least 6 months, recurrent, intense sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving sexual activity with a prepubescent child or children (generally age 13 years or younger). B. The person has acted on these sexual urges, or the sexual urges or fantasies cause marked distress or interpersonal difficulty. C. The person is at least age 16 years and at least 5 years older than the child or children in Criterion A. Note: Do not include an individual in late adolescence involved in an ongoing sexual relationship with a 12- or 13- year-old. Specify if: Sexually Attracted to Males, Sexually Attracted to Females, Sexually Attracted to Both Specify if: Limited to Incest Specify type: Exclusive Type (attracted only to children), Nonexclusive Type

2.7 PENATALAKSANAAN Tidak ada pengobatan yang efektif untuk pedofilia kecuali pedofil sendiri bersedia terlibat dalam pengobatan. Individu pedofilia dapat tersinggung selama dalam psikoterapi aktif, saat menerima pengobatan farmakologis, bahkan setelah castration atau pengembirian. Pada saat ini pengobatan pedofil lebih terfokus pada pencegahan pedofil untuk melakukan pelecehan seksual dari pada mengubah orentasi seksual pedofil terhadap anak-anak. [2] Schober et al menemukan bahwa individu pedofil masih menunjukkan ketertarikan seksual terhadap anak-anak. Yang diukur menggunakan metode Abel Assessment for Sexual Interest / AASI, bahkan setelah setahun mendapatkan terapi kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi, sementara laporan dari seorang pedofil telah mengalami penurunan dalam melakukan pelecehan seksual dan masturbasi. Temuan ini menunjukkan bahwa dorongan seksual dapat diatasi, namun ketertarikan saat melihat anak-anak tidak berubah.[2]

11

Pilihan pengobatan yang sering dipakai adalah supresi testosterone secara farmakologis (misalnya: terapi antiandrogenik atau chemical castration).[2]

2.8 PROGNOSIS Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi follow-up, maka prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama penyimpangan seks, adanya gejala penarikan diri secara sosial maupun seksual dan kekuatan serta kelemahan kepribadian pasien. Tetapi perilaku ini biasanya tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi. [5]

BAB III : RINGKASAN By diagnostic criteria of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth edition, a pedophile is an individual who fantasizes about, is sexually aroused by, or experiences sexual urges toward prepubescent children (generally < 13 years) for a period of at least 6 months. Generally, the individual must be at least 16 years of age and at least 5 years older than the juvenile of interest to meet criteria for pedophilia. Psikodinamika pedofilia : 1) Perbedaan neuropsikiatri 2) Factor Sosial atau Lingkungan Klasifikasi pedofilia : 1) Pedofilia yang menetap 2) Pedofilia yang sifatnya regresi 3) Pedofilia seks lawan jenis 4) Pedofilia sesama jenis 5) Pedofilia wanita Karakter pedofilia : 1) Pola perilaku jangka panjang dan persisten 2) Menjadikan anakanak sebagai obyek preferensi seksual 3) Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban 4) Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak Diagnosa pedofilia : Pedoman diagnostik F 65.4 Pedofilia menurut PPDGJ-III : [7] Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan. Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan. Preferensi tersebut harus berulang dan menetap. Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang khronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti. Penatalaksanaan pedofilia : tidak ada pengobatan yang efektif untuk pedofilia kecuali pedofil sendiri bersedia terlibat dalam pengobatan dan pilihan pengobatan yang sering 12

dipakai

adalah

supresi

testosterone

secara

farmakologis

(misalnya:

terapi

antiandrogenik atau chemical castration). Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi follow-up, maka prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama penyimpangan seks, adanya gejala penarikan diri secara sosial maupun seksual dan kekuatan serta kelemahan kepribadian pasien. Tetapi perilaku ini biasanya tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi.

13

DAFTAR PUSTAKA 1. http://id.wikipedia.org/wiki/Pedofilia#cite_note-Liddell.2C_H.G._1959-4. Accessed April 29, 2012. 2. A Profile of Pedophilia: Definition, Characteristics of Offenders, Recidivism, Treatment Outcomes, and Forensic Issues. PDF file. http://www.abusewatch.net/pedophiles.pdf. Accessed April 29, 2012. 3. International Classification of Diseases 10. PDF file.

http://www.who.int/classifications/icd/en/GRNBOOK.pdf. Accessed April 29, 2012. 4. The DSM Diagnostic Criteria for Pedophilia. PDF file.

http://www.dsm5.org/Documents/Sex%20and%20GID%20Lit%20Reviews/Paraphilias/D SMV.PEDO.pdf. Accessed April 29, 2012. 5. Kelainan Seksual Pedofilia. http://astaqauliyah.com/2006/02/kelainan-seksual-

pedofilia/. Accessed April 29, 2012. 6. http://eronia.blogspot.com/2009/12/mengenal-pedofilia.html. Accessed April 29, 2012. 7. Buku Saku. Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasan dari PPDGJ-III.

14