Anda di halaman 1dari 3

Transmisi Impuls Cahaya dan Penglihatan Warna Oleh Gusti Rizky Teguh Ryanto, 0906508106 Pendahuluan Penglihatan merupakan

salah satu proses kompleks yang melibatkan organ mata sebagai pemroses awal rangsangan dari luar (yang berupa cahaya) dan akan diteruskan sampai ke korteks serebri untuk kemudian diterjemahkan menjadi apa yang kita lihat.1,2 Rangsang cahaya yang awalnya direfraksikan terlebih dahulu oleh lensa mata kemudian akan diterima di lapisan retina mata dan kemudian dikonversikan menjadi potensial aksi sehingga dapat dibawa melalui jaras penglihatan menuju korteks serebri dimana sinyal tersebuk akan diolah.1,2 Dalam membedakan warna pun, terdapat suatu mekanisme tertentu dimana warna yang ditangkap memiliki area proyeksi tersendiri di korteks serebri.1 Transmisi Impuls Cahaya Perubahan potensial yang menginisiasi potensial aksi pada retina dicetuskan oleh reaksi cahaya pada bagian fotosensitif di sel batang dan kerucut retina. Saat cahaya diserap oleh substansi ini, strukturnya berubah sehingga terjadi rangkaian kejadian yang menyebabkan aktivitas neural. Mata memiliki keunikan tersendiri, dimana potensial reseptor dari fotoreseptor dan respon elektrik dari sebagian besar elemen neural di retina merupakan graded potentials dan hanya sel ganglion saja yang bersifat all-or-none. Respon sel-sel dalam retina pun berbeda-beda, dimana sel batang, kerucut, dan horizontal menyebabkan hiperpolarisasi, sementara sel bipolar dapat menyebabkan hiperpolarisasi atau depolarisasi. Sel amakrin menyebabkan depolarisasi dan lonjakan yang dapat menjadi potensial pemicu untuk lonjakan di sel ganglion. Potensial dari sel retina pun berbeda. Sel kerucut memiliki onset dan offset yang cepat, sementara sel batang memiliki onset cepat dan offset lambat. Kurva amplitudo pada sel batang dan kerucut terbilang sama bentuknya, akan tetapi sel batang lebih sensitif, sehingga sel batang dapat bereaksi pada stimulus yang normalnya dibawah threshold untuk sel kerucut. Sel kerucut di lain pihak dapat bereaksi terus pada pencahayaan tingkat tinggi yang telah melewati batas maksimal reaksi dari sel batang. Bagian fotosensitif pada sel batang dan kerucut terbentuk dari protein bernama opsin dan retinene1, bentuk aldehid dari vitamin A1 (retinol). Retinene disebut juga sebagai retinal.

Di sel batang dan kerucut terdapat kanal Na+ yang terbuka saat gelap hari, sehingga arus ion akan bergerak dari dalam keluar dan juga ke ujung sinaps fotoreseptor. Pada bagian dalam, terdapat pompa Na+-K+ yang menjaga keseimbangan ion. Pada saat gelap, pelepasan transmitter terjadi secara steady, sementara saat cahaya masuk ke segmen luar mata, sebagian kanal Na+ akan tertutup sehingga memicu potensial reseptor yang bersifat hiperpolarisasi. Hiperpolarisasi ini mengurangi pelepasan transmitter di sinaps, sehingga mencetuskan sinyal di sel bipolar yang akhirnya mencetuskan potensial aksi di sel ganglion dan diteruskan ke otak. Secara molekuler, mekanisme transmisi impuls cahaya berada pada suatu pigmen di sel batang yang bernama rhodopsin. Rhodopsin mengandung retinene1 dan opsin (dinamakan scotopsin) yang telah disebutkan sebelumnya. Retinene1 pada rhodopsin berada pararel dengan membran rod disk. Pada saat gelap, retinene1 akan berada pada konfigurasi 11-cis. Akan tetapi, bila diberikan rangsangan cahaya, maka konfigurasi tersebut akan berubah jadi isomer trans. Perubahan ini kemudian akan mengalterasi konfigurasi dari opsin, yang kemudian mengaktivasi Gprotein bernama transducin. Transducin akan mengganti GDP menjadi GTP dan melepaskan subunit alfa yang tetap aktif hingga GTPase bekerja kembali dalam menghidrolisis GTP. Kerja transducin juga dipercepat dengan pengikatan beta-arrestin kepada transducin. Subunit alfa yang lepas tadi akan mengaktivasi cGMP fosfodiesterase yang kemudia mengkonversikan cGMP ke 5-GMP. cGMP secara normal akan bekerja langsung di kanal Na+ agar mereka tetap terbuka, sehingga bila banyak cGMP yang dikonversikan banyak kanal Na+ yang tertutup dan terjadilah hiperpolarisasi. Kaskade reaksi ini terjadi sangat cepat dan menyebabkan amplifikasi sinyal cahaya tadi. cGMP dapat disintesis kembali dengan memanfaatkan efek cahaya terhadap Ca2+, dimana konsentrasinya akan semakin berkurang sehingga akan mengaktivasi guanilil siklase yang mencetuskan cGMP. Kembali ke retinene1 tadi, setelah diubah menjadi konfigurasi trans, retinene1 akan memisah dengan opsin (bleaching). Sebagian dari trans-retinene akan dikembalikan menjadi 11-cis oleh retinal isomerase dan kembali berikatan dengan scotopsin, sehingga suplai rhodopsin akan kembali. Beberapa 11-cis retinene juga akan disintesis dari vitamin A. Proses tersebut bekerja independen terhadap rangsangan cahaya. Pigmen di sel kerucut bekerja dengan mekanisme yang relatif sama, dengan perbedaan pada kemampuan penangkapan panjang gelombang (sel kerucut berespon maksimal pada cahaya 440, 535, dan 565 nm, sementara sel batang berespon maksimal pada 505 nm). Sel kerucut juga berperan pada penglihatan warna yang akan dibahas selanjutnya.

Setelah pemrosesan di sel kerucut dan batang selesai, sinyal akan kemudia dihantarkan ke sel bipolar. Daftar Pustaka 1. M 2.

Anda mungkin juga menyukai