Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN REGURGITASI

Dosen pembimbing : Dadang Kusbiantoro, S.Kep, Ns

Oleh :

Lukman Efendi (09.02.01.05) Supenti (09.02.01.0544) VI B S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN 2012/201

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Anak Dengan Regurgitasi Makalah ini disusun berdasarkan tugas materi Keperawatan Anak 2 yang ada di STIKES Muhammadiyah Lamongan. Dalam penyusunan makalah ini kami banyak mendapat bantuan materil maupun nonmateriil sehingga makalah ini dapat terselasaikan. Untuk itu kami tim penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat bapak/ibu : 1. Drs. Budi Utomo, S.Kep, Ns, M.kes selaku ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan. 2. Dadang Kusbiantoro, S.Kep, Ns selaku PJMK sekaligus selaku dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Anak 2. 3. Semua pihak yang telah memberikan bantuan moril dan materil demi terselesainya makalah ini. Semoga bimbingan, bantuan, arahan dan dukungan yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai kebijakan kelak dikemudian hari. Tim penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Lamongan, 14 Mei 2012 Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... KATA PENGANTAR........................................................................................ DAFTAR ISI....................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN.......................................................................

i ii iii

A.............................................................................................Latar Belakang ................................................................................................1 B.............................................................................................Rumusan Masalah ................................................................................................1 C.............................................................................................Tujuan ............................................................................................... BAB II PEMBAHASAN.......................................................................... A. Konsep Teori Regurgitasi...................................................... B. Konsep asuhan keperawatan.................................................. BAB III PENUTUP A.............................................................................................Kesimpulan.................... ...............................................................................................15 B.............................................................................................Saran.............................. ............................................................................................... 15 3 10 2 1 D.............................................................................................Manfaat .........................

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

16

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ludah atau disebut juga regurgitasi adalah hal yang biasa terjadi pada bayi. Mereka kadang kala suka meludah, bahkan ada yang biasa meludah setiap selesai makan. Hal ini terjadi baik pada bayi yang mengkonsumsi ASI maupun pada bayi yang mengkonsumsi susu formula. Bayi biasanya meludahkan susu yang telah tercampur dengan air ludah dan mukus pada saat mereka bersendawa, hal ini terjadi karena mereka mengkonsumsi terlalu banyak sampai perut mereka sudah tidak dapat menampungnya. Bila susu yang dikonsumsi bayi hanya sampai melewati esofagus, maka susu yang diludahkan akan berwarna persis sama seperti pada saat bayi mengkonsumsinya. Tetapi bila susu tersebut telah sampai diperut, maka susu yang diludahkan akan tampak dan berbau asam. Untuk mengetahui secara rinci tentang regurgitasi akan kami bahas dalam bab selanjutnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian regurgitasi? 2. Apa etiologi dari regurgitasi? 3. Bagaimana patofisiologi dari regurgitasi? 4. Manifestasi klinis apa yang timbul pada regurgitasi? 5. Diagnosa apa yang timbul pada regurgitasi dan bagaimana rencana asuhan keperawatannya? C. Tujuan 1.Untuk mengetahui pengertian regurgitasi 2. Untuk mengetahui etiologi dari regurgitasi

3. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari regurgitasi 4. Untuk mengetahui manifestasi klinis yang timbul pada regurgitasi 5. Untuk mengetahui diagnosa yang timbul dan rencana asuhan keperawatan pada regugitasi. D. Manfaat a). Penulis menambah pengetahuan dan pengalaman tentang pendokumentasian asuhan keperawatan pada anak b). Pembaca memberi pengetahuan mengenai masalah pada anak dengan regurgitasi c). Institusi sebagai bahan kepustakaan yang membutuhkan acuan pada asuhan keperawatan anak

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Regurgitasi atau biasa dikenal dengan istilah gumoh adalah proses dikeluarkannya isi lambung melalui mulut akibat belum sempurnanya katub antara lambung dan esofagus (kerongkongan). Depkes R.I tahun 1999 Regurgitasi adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan, beberapa saat setelah minum susu (Depkes 2007). Gumoh adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan ketika beberapa saat setelah minum susu botol/ menyusui dan dalam jumlah sedikit. (Depkes 2007). mendefinisikan Regurgitasi sebagai keadaan normal yang sering terjadi pada bayi denagn usia dibawah 6 bulan. Seiring dengan bertambahnya usia, yaitu sampai usia diatas 6 bulan, maka regurgitasi semakin jarang dialami oleh anak. Bisa dipastikan hampir semua bayi yang menyusui, baik ASI maupun memakai susu formula, pasti mengalami gumoh.

Umur 0 -3 bulan 4 bulan 7 bulan 12 bulan

Kebiasaan Regurgitasi 50% 67% 21% 5%

Meskipun kelihatannya bayi meludahkan semua susu yang dia konsumsi, sebetulnya bayi hanya meludahkan satu atau dua sendok teh susu yang telah tercampur dengan air ludah dan mukus. Cobalah untuk menumpahkan satu sendok teh susu di meja, anda akan melihat bahwa susu tersebut akan kelihatan sangat banyak. Regurgitasi tidak sama dengan muntah. Muntah adalah pengeluaran isi lambung melalui mulut dengan kekuatan secara aktif, disertai dengan kontraksi lambung dan abdomen. Muntah bisa disebabkan karena adanya faktor fisiologis, seperti kelainan kongenital dan infeksi. Selain itu, muntah juga dapat disebabkan oleh gangguan psikologis, seperti keadaan tertekan atau cemas, terutama pada anak yang lebih besar. Pada masa bayi, terutama masa neonatal, muntah jarang terjadi. Oleh karena itu bila terjadi muntah maka harus segera dilakukan observasi terhadap kemungkinan adanya gangguan. Cairan muntah yang keluar biasanya lebih banyak dibanding regurgitasi. Meskipun regurgitasi adalah keadaan normal pada bayi, tapi regurgitasi yang terjadi secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan bayi. Karena regurgirasi dianggap keadaan normal dan wajar pada bayi, maka orang tua cenderung tidak peduli dan baru mencari pertolongan dokter setelah terjadi komplikasi. Regurgitasi yang tidak diatasi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan akibat makanan yang terus keluar. 2. Etiologi Regurgitasi sering disebabkan oleh asam yang naik dari lambung (refluk asam). Regurgitasi juga bisa disebabkan oleh penyempitan (striktur) atau penyumbatan kerongkongan. Penyumbatan bisa terjadi karena beberapa penyebab, termasuk di dalamnya kanker kerongkongan. Penyumbatan juga bisa disebabkan oleh gangguan pengendalian saraf kerongkongan dan katupnya di mulut lambung. Regurgitasi tanpa penyebab fisik disebut ruminasi. Regurgitasi semacam ini sering terjadi pada bayi dan jarang ditemukan pada orang dewasa. Ruminasi pada orang dewasa lebih sering terjadi pada mereka yang mengalami kelainan emosi, terutama selama mengalami stres. Selain beberapa sebab di atas, ada faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya regurgitasi, antara lain :

a. Posisi saat menyusui yang tidak tepat. Posisi menyusui, ibu sering menyusui sambil tiduran dengan posisi miring sementarara bayi tidur telentang. Akibatnya, cairan tersebut tidak masuk ke saluran pencernaan tetapi ke saluran pernafasan yang menyebabkan bayi gumoh.

b. Pemberian minum pada bayi yang terlalu terburu buru. c. Bayi sudah kenyang tetapi diberi minum karena orang tuanya khawatir kalau anaknya kekurangan makan. Susu atau ASI yang diminum bayi melebihi kapasitas lambung, padahal di usia itu kapasitas lambung bayi masih sangat kecil. d. Terlalu aktif. Misalnya pada saat bayi menggeliat atau pada saat bayi terus menerus menangis. Ini akan membuat tekanan didalam perutnya tinggi, sehingga keluar dalam bentuk gumoh. e. Klep penutup lambung belum berfungsi sempurna. Dari mulut, susu akan masuk ke saluran pencernaan atas, baru kemudian ke lambung. Nah, di antara kedua organ tersebut terdapat klep penutup lambung. Pada bayi, klep ini biasanya belum berfungsi sempurna. Akibatnya, kalau bayi dalam posisi yang salah susu akan keluar dari mulut. Bayi yang gumoh (regurgitasi) sesudah minum biasanya hanya untuk membersihkan sisa susu dari mulutnya. Gumoh menjadi abnormal bila jumlahnya banyak dan partambahan berat badan bayi tidak mencukupi. 3. Patofisiologi Biasanya bayi mengalami gumoh setelah diberi makan. Selain karenapemakaian gurita dan posisi saat menyusui, juga karena iaditidurkan telentang setelah diberi makan. Cairan yang masuk ditubuh bayi akan mencari posisi yang paling rendah. Bila adamakanan yang masuk ke Esofagus atau saluran sebelum ke lambung,maka ada refleks yang bisa menyebabkan bayi gumoh.Lambung yang penuh juga bisa membuat bayi gumoh. Ini terjadikarena makanan yang terdahulu belum sampai ke usus, sudah diisimakanan lagi. Akibatnya bayi tidak hanya mengalami gumoh tapijuga bisa muntah. Lambung bayi punya

kapasitasnya sendiri.Misalnya bayi umur sebulan, ada yang sehari bisa minum 100 cc,tapi ada juga yang 120 cc Regurgitasi dikoordinasi oleh pusat muntah di formasio reticularis medulla oblongata. Reseptor regurgitasi terutama terdapat di dasar ventrikel ke empat otak dan disebut sebagai chemoreceptor trigger zone yang terletak di luar sawar darah otak. Sumber yang dapat menjadi input ke pusat muntah antara lain: Chemoreceptor trigger zone yang mengandung reseptor dopamine D2, reseptor serotonin 5-HT3, reseptor opioid, reseptor asetilkolin, dan reseptor substansi P. Stimulasi dari reseptor yang berbeda tersebut dapat merangsang pusat muntah melalui jalan yang berbeda. - Saraf otak ke-X (vagus) diaktifasi bila daerah faring terangsang sehingga menimbulkan refleks regurgitasi. - Sistem saraf usus dan vagus merupakan input dari sistem gastrointestinal. Iritasi dari mukosa gastrointestinal. Iritasi dari mukosa gastrointestinal karena kemoterapi, radiasi, distensi usus, dan gastroenteritis dapat mengaktivasi reseptor 5-HT3 melalui jalur ini. Susunan saraf pusat mempunyai peran pada regurgitasi yang berkaitan dengan gangguan psikiatrik dan stres. Pada keadaan gumoh, biasanya lambung sudah dalam keadaan terisi penuh, sehingga terkadang gumoh bercampur dengan air liur yang mengalir kembali keatas dan keluarmelalui mulut pada sudut sudut bibir. Hal tersebut disebabkan karena otot katup diujung lambung tidak bisa bekerja dengan baik. Otot tersebut seharusnya mendorong isi lambunng kebawah. Keadaan ini dapat juga terjadi pada orang dewasa dan anak anak yang lebih besar. Kebanyakan gumoh terjadi pada bayi dibulan bulan pertama kehidupannya. 3. Manifestasi klinis Asam yang berasal dari lambung menyebabkan regurgitasi dari bahan-bahan yang terasa asam atau pahit. Penyempitan atau penyumbatan kerongkongan menyebabkan regurgitasi cairan berlendir yang tidak berasa atau makanan yang belum dicerna. Pada ruminasi, penderita mengeluarkan sejumlah kecil makanan dari lambung, biasanya 15-30

menit setelah makan. Mereka kemudian mengunyah bahan-bahan tersebut dan menelannya lagi. Penderita tidak merasakan mual, nyeri atau kesulitan menelan.

4. Komplikasi regurgitasi Bayi yang gumoh tetap sehat. Hanya sedikit bayi 1 diantara 1.000 sampai 1 diantara 300 yang mengalami komplikasi. Meskipun hal ini bukan merupakan hal yang serius, gumoh dapat merupakan hal yang menguatirkan bagi bayi dan orang tuanya. Sebuah studi telah membuktikan bahwa bayi yang suka gumoh biasanya mempunyai permasalahan dalam pemberian makan termasuk diantaranya menolak untuk makan lebih lama dari satu jam setelah bayi berumur satu tahun. Para ahli menyimpulkan bahwa bayi yang menderita regurgitasi dapat mengasosiasikan makan sebagai hal yang tidak menyenangkan sehingga bayi cenderung untuk menghindari makan. 5. Dampak Gumoh 1. Infeksi pada saluran pernafasan 2. Cairan gumoh yang kembali keparu-paru dapat menyebabkan radang 3. Nafas terhenti sesaat 4. Bayi tersedak dan batuk 5. Cairan gumoh dapat menimbulkan iritasi 6. Pucat pada wajah bayi karena tidak bisa bernafas 6. Pencegahan Gumoh 1. Perbaiki teknik menyusui. Cara menyusui yang benar adalah bibir bayi menutup puting susu serta daerah yang berwarna hitam disekitar putting susu (areola), dengan begitu kemungkinan udara yang masuk dan tertelan pada saat menyusu bisa diperkecil. 2. Beri bayi ASI sedikit-sedikit tetapi sering (minimal 2 jam sekali), jangan langsung banyak. 3. Hindari mengajak bayi banyak bergerak sesaat setelah menyusu. 4. Posisikan bayi tegak beberapa lama (15-30 menit) setelah menyusui

5. Hindari memberikan ASI / susu ketika bayi sangat lapar, karena bayi akan tergesagesa saat menyusu sehingga menimbulkan udara masuk. 6. Apabila menggunakan botol, perbaiki cara minumnya. Posisi botol susu diatur sedemikian rupa sehingga susu menutupi seluruh permukaan botol dan dot harus masuknya seluruhnya ke dalam mulut bayi. 7. Sendawakan bayi sesaat setelah minum. Bayi yang selesai minum jangan langsung ditidurkan, tetapi perlu disendawakan dahulu terlebih dahulu. Sendawa dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Bayi digendong dalam posisi berdiri dengan kepala bersandar dipundak ibu. Kemudian, punggung bayi ditepuk perlahan-lahan sampai terdengar suara bersendawa. 2. Menelungkupkan bayi dipangkuan ibu, lalu usap / tepuk punggung bayi sampai terdengar suara bersendawa.

7. Pengobatan untuk mengurangi regurgitasi Bayi yang jarang gumoh mempunyai kebutuhan nutrisi yang sama dengan bayi yang lain, pemberian susu formula dapat membantu pemenuhan nutrisi tersebut. Beberapa ahli menyarankan penggunaan susu anti regurgitasi untuk mengurangi kebiasaan gumoh. Susu anti regurgitasi ini mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi. Susu ini terbukti efektif mengurangi kebiasaan dan volume regurgitasi. Bayi menjadi jarang menangis dan tidur lebih lama. Susu anti regurgitasi diformulasikan agar mudah dicerna oleh bayi. Mengandung tepung jagung yang berfungsi untuk mengentalkan susu formula di dalam perut. Kandungan protein dalam susu formula anti regurgitasi lebih tinggi jika dibandingkan dengan formula gandum biasa. Kasein dapat memproduksi dadih dalam perut, dadih inilah yang dikeluarkan dan diludahkan oleh bayi.

Susu formula lain mungkin mengandung bahan pengawet seperti getah kacang yang tidak dapat dicerna dan menyebabkan bayi memproduksi gas. Beberapa pengawet bahkan dapat menghalangi penyerapan zat besi dan kalsium. Ahli kesehatan dapat membantu untuk memutuskan susu formula anti regurgitasi apa yang cocok bagi bayi. 8. Penatalaksanaan Gumoh

Kaji penyebab gumoh Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan

umurnya dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.


susu ibu

lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung ynag luas

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Identitas sering terjadi pada anak bayi denagn usia gumoh dibawah atau 6 bulan muntah. Cara dan bahan makanan yang keuar. Hal ini dimaksudkan untuk mengalami Pola minum yang perlu diperhatikan adalah apakah susu diberikan dengan Umumnya

mengidentifikasiapakah

menggunakan botol, sendok, atau menetek pada ibunya, sudah benarkah cara minumnya, serta berapa jumlah dan cara pemberiannya. Suasana saat minum, anak yang tergesa-gesa minumnya mudah mengalami gumoh. 9. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan berlebih. 2. Resiko terjadinya hipertermi berhubungan dengan defisit volume cairan (dehidrasi). 3. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang regurgitasi. 10. Rencana Asuhan Keperawatan No Diagnosa 1 Resiko tinggi kebutuhan dengan Tujuan berlebihan. : keseimbangan volume cairan. defisit Intervensi Rasional volume - Ukur tanda-tanda - Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia. - Hitung intake dan - Menurunnya output Mempertahankan output dan konsentrasi dan konsentrasi urine urine. akan meningkatkan

cairan dan elektrolit kurang dari vital. tubuh output berhubungan cairan yang

Kriteria hasil : Tanda - tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balance cairan seimbang.

kepekaan/endapan sebagai kesan dehidrasi membutuhkan peningkatan cairan. Anjurkan pada untuk meminimalkan minum hilangnya cairan. sering. meminimalkan hilangnya cairan. Untuk medis dalam cairan Untuk keluarga memberi tapi tim salah satu adanya dan

sedikit demi sedikit - Kolaborasi dengan pemberian

infuse bila diperlukan.

No Diagnosa 2 Resiko terjadinya berhubungan dengan

Intervensi hipertermi Ukur tanda-tanda defisit vital.

Rasional - Merupakan indicator secara dini terhadap hipertermi.

volume cairan (dehidrasi).

Tujuan

Mempertahankan volume

Pantau

- Ketidakseimbangan antara output input dan akibat

keseimbangan

cairan keseimbangan intake

agar tidak terjadi hipertermi. dan output cairan.

Kriteria

Hasil

Tidak

ada

regurgitasi merupakan indicator terjadinya Anjurkan pada untuk minum - Cairan meminimalkan dehidrasi pemberian tapi meminimalkan regurgitasi. - Kolaborasi dengan tim medis dalam cairan pemberian - Untuk meminimalkan hilangnya cairan. - Merupakan indikator pertama melakukan intervensi. - Berikan pengetahuan - Mengurangi akibat rasa cemas pada keluarga kurangnya pada pengetahuan. - Kecemasan keluarga berkurang untuk dan minum sering akibat dehidrasi. keluarga memberi tapi sering. awal hipertermi

kenaikan suhu yang menandakan terjadinya hipertermi.

sedikit demi sedikit

yang sedikit sedikit

Kecemasan

orang

infuse bila diperlukan. tua - Kaji sejauh mana tentang regurgitasi.

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga pengetahuan tentang regurgitasi. Tujuan : kecemasan keluarga berkurang. Kriteria mengetahui berkurang. hasil : tentang keluarga pada keluarga tentang penyebab regurgitasi dan cara Anjurkan pada untuk tindakan apabila masih perbaikan

regurgitasi sehingga kecemasan cepat penanganannya. keluarga melakukan secepatnya regurgitasi dengan

dan masalah pada anak tertangani.

terjadi lagi. Misalnya

teknik menyusui, cara minum menggunakan botol, bayi minum. - Kolaborasi dengan tim medis untuk edukasi memberikan regurgitasi. - Memaksimalkan penanganan secepatnya regurgitasi. pada sendawakan sesaat setelah

lain berkaitan dengan

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Regurgitasi atau biasa dikenal dengan istilah gumoh adalah proses dikeluarkannya isi lambung melalui mulut akibat belum sempurnanya katub antara lambung dan esofagus (kerongkongan). Regurgitasi sering disebabkan oleh asam yang naik dari lambung (refluk asam). Regurgitasi dikoordinasi oleh pusat muntah di formasio reticularis medulla oblongata. Asam yang berasal dari lambung menyebabkan regurgitasi dari bahan-bahan yang terasa asam atau pahit. Diagnosa keperawatan yang dapat di tegakkan di antaranya : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. mual dan muntah. B. Saran Regugitasi atau biasa disebut dengan gumoh yang biasa terjadi pada anak usia kurang dari 1 tahun sering dianggap hal yang biasa oleh orang tua, namun jika hal ini tidak mendapat tindak lanjut maka nantinya juga dapat berpengaruh buruk pada bayi. Apabila regugitasi terus berlanjut pada bayi sebaiknya para orang tua segera membawa bayi ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pediatrik.com/isi03.php? page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-ebtq258.htm

http://dedyarinerz.blogspot.com/2011/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html

19