Anda di halaman 1dari 17

KONSEP PERKEMBANGAN MAKALAH diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Dosen

: Drs. Sudaryat Nurdin Akhmad

oleh : Azukni Devi Handaya Handi A. Hidayat M. Lutfi Fajar 0900794 0905920 0908810 0906999

JURUSANl PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam konsep perkembangan pendidikan manusia mencapai klimaks paradigma yang sempurna, tergantung bagaimana mereka mengoptimalkan potensi yang mereka miliki menjadi sebuah amunisi berpikir utuh terhadap hambatan yang mereka hadapi kelak suatu saat nanti. Kendati pun demikian untuk menuju hal yang lebih baik lagi manusia membutuhkan proses yang panjang, step demi step mereka harus lalui dengan suka maupun duka. Terlepas dari masa transisi, manusia hakikatnya itu baik, lingkunganlah yang membentuk mereka kurang bersyukur atas nikmat-nikmat Tuhannya. Pengalaman yang baik pun dapat menumbuhkan karakter berpikir emosionalnya stabil, sehingga manusia berpikir rasional terhadap apa yang mereka lihat dan dengar, terbentuklah sikap berpikir positif (positive thinking) terhadap tumbuh kembangnya, hingga dewasa kelak manusia akan tetap menjadi sebuah polemik di muka bumi. B. Tujuan Penulisan 1. Memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. 2. Memahami totalitas materi yang dibuat. 3. Mempresentasikan makalah ini di depan kelas. 4. Inspirasi terhadap karya ilmiah lain. C. Teknik Penulisan Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan problematika yang dibahas jelas dan konprehensif. Data teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah.

Penulis pun menggunakan metode online atau browsing dalam mengumpulkan data yang terkait. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema makalah. D. Sistematika Penulisan Sistematika yang digunakan penulis dalam menyusun makalah ini sesuai dengan buku Pedoman Penulisan Karya ilmiah Universitas Pendidikan Indonesia. Yaitu: Sampul Depan, Kata Pengantar, Daftar Isi, Bab I Pendahulan berisi (Latar belakang masalah, Tujuan penulisan, teknik penulisan, dan sistematika penulisan), Bab II Pembahasan, Kesimpulan, Daftar Pustaka.

BAB II PEMBAHASAN

A. Perkembangan Sebagai Bagian dari Psikologi Psikologi perkembangan adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut. Beberapa definisi psikologi perkembangan menurut para ahli : 1) Menurut Monks, Knoers dan Haditono bahwa psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang lebih mempersolankan faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan (perubahan) yang terjadi dalam diri pribadi seseorang dengan menitik beratkan pada relasi antara kepribadian dan perkembangan.

2) Menurut Kartono bahwa Psikologi perkembangan (psikologi anak) adalah suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai dengan periode masa bayi, anak pemain, anak sekolah, masa remaja sampai periode adolesense menjelang dewasa. 3) Encyclopedia International : Developmental psychology is a branch of psychology devoted been placed on the search for those elements of behavior in the child which are thought to be prerequisite for complex adult behavior.(Psikologi perkembangan adalah suatu cabang dari psikologi yang mengetengahkana pembahasan tentang perilaku anak secara historic titik berat pembahasannya pada penganalisaan elemen-elemen perilaku anak yang dimungkinkan akan menjadi syarat terbentuknya perilaku dewasa yang kompleks). 4) Good dalam Dictionary Of Education : Developmental psychology: the branch of psychology concerned with the course of progressive stages of behavior, considered phylogenetically anda ontogenetically, and including both the phase of growth and of decline, broder in meaning than genetic psychology, though the terms are frequently use interchangeably.Psikologi perkembangan adalah cabang dari psikologi yang membahas tentang arah atau tahapan kemajuan dari perilaku yang mempertimbangkan phylogenetic dan ontogenetic, termasuk semua phase pertumbuhan dan penurunan. Hal ini berarti adanya pembatasan yang lebih luas dari pengertian ilmu jiwa keturunan, walaupun bentuk dan polanya ada persamaannya serta dapat dipertukarkan). Jadi dari beberapa definisi psikologi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh dapat ditarik garis besar bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia. B. Pengertian Pertumbuhan, Kematangan, Belajar, dan Latihan 1. Pengertian Pertumbuhan (Growt) Tumbuh adalah dapat diartikan sebagai perubahan kuantitas pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari yang tidak ada menjadi yang ada, dari kecil

menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Ini berarti, bahwa pertumbuhan ini hanya berlaku pada hal hal yang bersifat kuantitaif, karena tidak selamanya material itu kuantitatif. Material dapat terdiri dari bahan-bahan kuantitatif seperti misalnya atom, sel, kromosom, rambut, molekul, dan lain-lain, dapat pula material terdiri dari bahan-bahan kualitatif seperti misalnya kesan, ide, keinginan, gagasan, pengetahuan, nilai dan lainlain. jadi material itu terdapat terdiri dari kualitas maupun kuantitas. Kenyataan inilah yang barangkali membuat orang mengalami kesulitan dan membedakan antara pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu kelengahan orang adalah yang menyebut material kualitatif sebagai perkembangan. Pertumbuhan pribadi sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Material pribadi seperti : sel, kromosom, butir darah, rambut, lemak, tulang, adalah tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh. Begitu juga material pribadi seperti : kesan, ide, keinginan, pengetahuan, nilai selama tidak dihubungkan dengan fungsinya tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh. 2. Pengertian Kematangan (Maturation) Kematangan (maturity) adalah suatu keadaan atau kondisi bentuk struktur dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organisasi, baik terhadap satu sifat. Kematangan membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disebut Readiness yang berupa tingkah laku, baik tingkah laku yang instingtif maupun tingkah laku yang dipelajari. Tingkah laku instingtif adalah suatu pola tingkah laku yang diwariskan melalui proses hereditas. Sedangkan maksud dari tingkah laku yang dipelajari yaitu orang tak akan berbuat secara intelijen apabila kapasitas intelektualnya belum memungkinkan. Untuk itu kematangan dalam struktur otak atau system syaraf sangat diperlukan. Sedangkan pengertian belajar secara individu adalah suatu kegiatan yang dilakukan kerena memenuhi salah satu dari ketiga insting yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup,

yakni insting mempertahankan diri, mengembangkan diri dan mempertahankan diri. Kerena insting yang kedua yakni mengembangkan diri itulah maka manusia belajar. Secara umum definisi daripada belajar itu sendiri adalah suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan atau dengan maksud memperoleh perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan, ketrampilan atau sikap. Sedangkan pengertian belajar menurut Winkel adalah adanya perubahan dalam tingkah laku. Belajar merupakan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar, apa yang sedang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang lain. Bahkan hasil belajar orang itu tidak langsung kelihatan, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang menampakkan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar. Maka, berdasarkan perilaku yang disaksikan dapat ditarik kesimpulan seseorang telah belajar adalah jika suatu aktifitasmental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. 3. Pengertian Belajar (Learning) Pengertian Belajar yang objektif terutama belajar disekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Pengertian belajar sudah banyak diungkapkan oleh para ahli psikologi termasuk psikologi pendidikan. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahanperubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. a. Ciri-ciri dalam belajar : 1) Belajar harus memiliki tujuan Kegiatan daripada belajar mengajar yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. Adanya suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam interaksi belajar mengajar, seorang

guru sebagai pengajar akan berusaha semaksimal mungkin agar siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karenanya guru harus dapat menciptakan situasi dimana agar anak dapat belajar. Di samping itu juga dengan interaksi ini membutuhkan adanya perencanaan dan persiapan yang matang, baik perencanaan dan persiapan secara tertulis maupun perencanaan dan persiapan diri.

2) Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan materi yang khusus Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah materi harus di desain sedemikian rupa, cocok untuk mencapai tujuan dan juga harus memperhatikan komponenkomponen lainnya. 3) Ditandai aktifitas anak Aktifitas anak didik, baik secara fisik ataupun secara mental harus aktif dalam kelas. 4) Dalam kegiatan belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing Guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi kepada anak didik agar terjadi proses interaksi yang kondusif dalam proses belajar mengajar di kelas, sekaligus guru harus siap menjadi mediator dalam situasi kegiatan belajar mengajar sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang guru akan menjadi panutan bagi muridnya. 5) Kegiatan belajar mengajar membutuhkan kedisiplinan Disiplin dalam hal ini adalah suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaaati oleh guru dan murid. 6) Ada batas waktu

Hal ini merupakan salah satu ciri yang tidak bias ditinggalkan, karena setiap bahan pelajaran harus diberi waktu tertentu kapan bahan tersebut harus selesai. 7) Evaluasi Evaluasi sangat penting setelah guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus dilakukan oleh seorang guru agar dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pengajaran yang telah ia berikan pada muridnya. b. Cara-cara belajar yang baik, menurut Dr. Rudolf Pintner ada beberapa cara belajar yang baik, yaitu : 1) Metode keseluruhan kepada bagian (whole to part method) Di dalam mempelajari sesuatu, kita harus memulai dahulu dari keseluruhan, kemudian baru mendetail kepada bagian-bagiannya. Metode ini berasaldari pendapat psikologi Gestalt. 2) Metode keseluruhan lawan bagian (whole versus part method) Untuk bahan-bahan pelajaran yang skopnya tidak terlalu luas tepat dipergunakan metode keseluruhan. Seperti membaca buku cerita pendek. Namun untuk bahan-bahan yang bersifat non verbal misalnya mengetik lebih tepat digunakan metode bagian. 3) Metode campuran antara keseluruhan dan bagian (mediating method) Metode ini hanya digunakan untuk bahan-bahan pelajaran yang skopnya sangat luas atau yang sukar-sukar. Misalnya tata buku dsb. 4) Metode resitasi (recitation method) Yakni mengulangi atau mengucapkan kembali sesuatu yang telah dipelajari. Metode ini dapat dilakukan pada semua mata pelajaran.

5) Jangaka waktu belajar (length of practice period) Dari hasil-hasil eksperimen ternyata bahwa jangka waktu (priode) belajar yang produktif seperti metode menghafal adalah antara 0 30 menit.

6) Pembagian waktu belajar (distribution of practice period) Belajar yang terus menerusdalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat tidak efisien dan efektif. Menurut hokum Jost tentang belajar yakni 30 menit sehari selama enam hari lebih baik daripada sekali belajar selama 6 jam. 7) Membatasi kelupaan Agar tidak terjadi hal demikian, maka dalam belajar perlu adanya ulangan atau review pada waktu-waktu tertentu atau setelah akhir suatu tahap pelajaran yang diselesaikan guna untuk mengingatkan kembali bahan yang pernah dipelajari. 8) Menghafal (cramming) Untuk dapat menguasai serta mereproduksi kembali dengan cepat bahan-bahan pelajaran yang luas atau banyak dalam waktu yang relatif singkat. 9) Kecepatan belajar dalam hubungannya dengan ingatan Di sini terdapat adanya korelasi antara kecepatan memperoleh suatu pengetahuan dengan daya ingatan terhadap pengetahuan itu. Mengingat adalah suatu aktifitas kognitif dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau / ata berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh dimasa lampau. Terdapat dua bentuk mengingat yaitu mengenal kembali (rekognisi) dan mrngingat kembali (reproduksi).

10) Retroactive inhibition Pada waktu terjadi proses berfikir, maka akan terjadi adanya penokan atau penahanan dari suatu unit pengetahuan tertentu terhadap unit yang lain sehingga terjadi kesalahan dalm berfikir. Untuk menghindari agar tidak terjadi hal semacam itu, hendaknya dalam belajar mengajar tidak terjadi pencampur adukan beberapa mata pelajaran dalam waktu sekaligus, maka diperlukan adanya jadwal (time schedule) dalam belajar yang harus ditaati bersama. 4. Pengertian Latihan (Exercise) Latihan adalah suatu kegiatan untuk memperbaiki kemampuan kerja seseorang dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Latihan membantu peserta didik dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan, dan sikap yang diperlukan oleh pendidikan dalam usaha mencapai tujuannya.

C. Definisi Perkembangan (Development) Perkembangan pada dasarnya adalah perubahan kualitatif sesuatu hingga membuahkan hasil atau manfaat bagi pihak lain. dapat diartikan pula sebagai perubahan kualitatif dari fungsi-fungsi yang dimungkinkan adanya perubahan tingkah laku hasil belajar. 1. Hukum Perkembangan Suatu konsepsi yang biasanya bersifat deduktif dan menunjukkan adanya hubungan yang ajeg(continue) serta dapat diramalkan sebelumnya antara variabelvariabel yang empirik, hal itu lazimnya disebut sebagai hokum perkembangan. Hukumhukum perkembangan tersebut antara lain : a. Hukum Tempo Perkembangan.

Bahwa perkembangan jiwa tiap-tiap anak itu berlainan, menurut temponya masing-masing perkembangan anak yang ada. Ada yang cepat (tempo singkat) adapula yang lambat. Suatu saat ditemukan seorang anak yang cepat sekali menguasai ketrampilan berjalan, berbicara,tetapi pada saat yang lain ditemukan seorang anak yang berjalan dan berbicaranya lambat dikuasai. Mereka memiliki tempo sendiri-sendiri. b. Hukum Irama Perkembangan. Hukum ini mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya perkembangan anak, akan tetapi tentang irama atau rythme perkembangan. Jadi perkembangan anak tersebut mengalami gelombang pasang surut. Mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak tersebut mengalami juga kemunduran dalam suatu bidang tertentu. Misalnya , akan mudah sekali diperhatikan jika mengamati perkembangan pada anak-anak menjelang remaja. Ada anak yang menampakkan kegoncangan yang hebat, tetapi adapula anak yang melewati masa tersebut dengan tenang tanpa menunjukkan gejalagejala yang serius. c. Hukum Konvergensi Perkembangan. Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil pendidikan yang dicapai anak selalu di hubung-hubungkan dengan status pendidikan orang tuanya. Menurut kenyataan yang ada sekarang ternyata bahwa pendapat lama itu tidak sesuai lagi dengan keadaan. Pandangan lama ini dikuasai oleh aliran nativisme yang dipelopori Schopen Hauer yang berpendapat bahwa manusia adalah hasil bentukan dari pembawaan d. Hukum Kesatuan Organ. Tiap-tiap anak itu terdiri dari organ-organ tubuh , yang merupakan satu kesatuan diantara organ-organ tersebut antara fungsi dan bentuknya, tidak dapat dipisahkan berdiri integral. Contoh : perkembangan kaki yang semakin besar dan panjang , mesti diiringi oleh perkembangan otak, kepala, tangan dan lain-lainnya. e. Hukum Hierarkhi Perkembangan.

Bahwa perkembangan anak itu tidak mungkin akan mencapai suatu phase tertentu dengan spontan, akan tetapi harus melalui tingkat-tingkat atau tahapan tertentu yang tersusun sedemikian rupa sehingga perkembangan diri seorang menyerupai derajat perkembangan. Contoh : perkembangannya pikiran anak, mesti didahului dengan perkembangan pengenalan dan pengamatan. f. Hukum Masa Peka. Masa peka ialah suatu masa yang paling tepat untuk berkembang suatu fungsi kejiwaan atau fisik seseorang naka. Sebab perkembangan suatu fungsi tersebut tidak berjalan secara serempak antara satu dengan lainnya. Contoh : masa peka untuk berjalan bagi seorang anak itu pada awal tahun kedua dan untuk berbicara sekitar tahun pertama. Istilah peka pertama kali ditampilkan oleh seorang ahli biologi dari Belanda bernama Hugo de Vries (1848-1935), kemudian istilah tersebut dibawa kedalam dunia pendidikan, khussusnya psikologi oleh Maria Montessori (Italia 1870-1952). g. Hukum Mengembangkan Diri. Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangkan diri. Dorongan mempertahankan diri terwujud misalnya dorongan makan dan menjaga keselamatan diri sendiri. Contoh : * Anak menyatakan perasaan lapar, haus , sakit dalam bentuk menangis maka tangisan itu dianggap sebagai dorongan mempertahankan diri.* Seorang anak yang ingin menjadi juara, pandai dan sukses. h. Hukum Rekapitulasi. Perkembangan jiwa anak adalah ulangan kembali secara singkat dari perkembangan manusia di dunia dari masa berburu hingga masa industri. Teori ini berlangsung dengan lambat secara berabad-abad. Jika pengertian rekapitulasi ini ditransfer ke psikologi perkembangan, dapat dikatakan bahwa perkembangan jiwa anak mengalami ulangan ringkas dari sejarah kehidupan umat manusia.

D. Prinsip Perkembangan 1. Bahwa perkembangan melibatkan perubahan. Tujuan perkembangan adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuan bawaan. Sikap anak terhadap perubahan dipengaruhi oleh kesadaran akan perubahan tersebut, bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku anak, sikap social terhadap perubahan ini, bagaimanan mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimana mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimanan kelompok sosial bereaksi terhadap anak ketika perubahan ini terjadi. 2. Perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan selanjutnya. Bahwa perkembangan awal lebih penting dari pada perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman. Apabila perkembangan membahayakan penyesuaian pribadi dan sosial anak, ia dapat diubah sebelumnya menjadi pola kebiasaan. 3. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Perkembangan menekankan kenyataan bahwa perkembangan timbul dari interaksi kematangan dan belajar dengan kematangan yang menetapkan batas dari perkembangan. 4. Pola perkembangan dapat diramalkan. Walaupun pola yang dapat diramalakan ini dapat diperlambat dan dipercepat oleh kondisi lingkungan di masa pra lahir dan pasca lahir. 5. Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan. Yang penting diantaranya adalah persamaan pola perkembangan bagi semua anak, perkembangan berlangsung dari tanggapan umum ke tanggapan spesifik, perkembangan terjadi secara berkesinambungan, berbagai bidang perkembangan dengan kecepatan yang berbeda, dan terdapat korelasi dalam perkembangan. 6. Terdapat perbedaan individu dalam berkembang. Bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan yang sebagian karena pengaruh bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku baik dalam perkembangan fisik maupun psikologis. Kepentingan untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan individu dalam

perkembangan adalah bahwa ia mennekankan pentingnya melatih anak sesuai dengan kebutuhannya dan tidak mengharapkan perilaku yang sama pada semua anak. 7. Periode pola perkembangan. Periode perkembangan biasanya diebut periode pralahir, masa neonatus, masa bati, masa kanak-kanak, akhir masa kanak-kanak, dan masa puber. Dalam semua periode ini terdapat saat-saat keseimbangan dan ketidakseimbangan, serta pola perilaku yang normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya biasanya disebut perilaku bermasalah. 8. Pada setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial. Harapan sosial ini terbentuk tugas perkembangan yang menungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasaiberbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik. 9. Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya dan potensial. Bahaya tersebut terjadi baik fisik maupun psikologis yang dapat mengubah pola perkembangan. 10. Kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan. Tahun pertama kehidupan biasanya paling bahagia dan masa puber biasanya yang paling tidak bahagia.

BAB III KESIMPULAN

Adalah penting dari sebuah karakter manusia itu membentuk suatu sikap yang positif dari fenomena konsep perkembangan. Dimana terdapat sekelompok manusia yang hidup rukun dalam suatu tatanan masyarakat yang mengedepankan sosialisme dalam konsep perkembangan baik ditinjau dari psikologi perkembangan maupun prinsip-prinsip perkembangan yang utuh. Berangkat dari sebuah konsep perkembangan akan melahirkan peserta didik yang berkompeten dan berdaya saing unggul dalam pencapaian nilai-nilai luhur bangsa kita.

DAFTAR PUSTAKA

Rudy, A. (2009). Psikologi. Wilkipedia. Bandung http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi [ 9 Maret 2010]

[Online].

Tersedia:

Edy. (2009). Pengertian dan Dasar-dasar Perkembangan. [Online]. Tersedia:http://edpsycourse.blogspot.com/2009/02/2-pengertian-dan-prinsipperkembangan.html [9 Maret 2010]

Khofif. (2009). Ciri-ciri Kematangan dalam Belajar Mengajar. [Online]. Tersedia:http://khofif.wordpress.com/2009/02/14/ciri-ciri-kematangan-dalam-belajarmengajar.html [9 Maret 2010]

Junaidi, W. (2009). Pengertian Belajar. [Online]. Tersedia: junaidi.blogspot.com/2009/10/pengertian-belajar.html [9 Maret 2010]

http://wawan-

Makmun, A.S. (2005). Psikologi Kependidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.