Anda di halaman 1dari 27

LABORATURIUM MINGGU 1

Tugas individu 1. Manfaat penggunaan DDST : Mengetahui tahap perkembangan yang dicapai Menemukan adanya keterlambatan pada perkembangan anak sedini mungkin Memungkinkan kesadaran orang tua untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan anak 2. Hal-hal yang mempengaruhi variasi perkembangan anak a. Faktor genetik Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak, potensi genetik yng bermutu dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal. b. Faktor lingkungan Lingkungan yang terdiri dari lingkungan bio-fisio-psiko-sosial sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dibagi atas : Factor lingkungan prenatal 1. Gizi ibu pada waktu hamil 2. Toksin/zat kimia 3. Pengaruh hormon 4. Kandidasis 5. Infeksi 6. Stress Faktor lingkungan post natal 1. Lingkungan biologis/Ras, jenis kelamin, umur, gizi 2. Perawatan kesehatan 3. Kepekaan terhadap penyakit 4. Penyakit kronis

c. Factor fisik Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah Sanitasi Radiasi

d. Factor psikososial 1. Stimulasi : Anak yang mendapat stimulasi akan lebih cepat berkembang

2. Motivasi belajar : ditimbulkan sejak dini, dengan lingkungan yang kondusif untuk belajar 3. Ganjaran atau hukuman sesuai dengan perbuatannya 4. Kelompok sebaya : untuk proses sosialisasi anak memerlukan teman sebaya 5. Stress : mempengaruhi tumbuh kembang anak, anak menarik diri dan rendah diri 6. Cinta dan kasih sayang 7. Kualitas interaksi anak dan orang tua akan menimbulkan keakraban dalam keluarga e. Factor keluarga dan adat istiadat Pekerjaan dan pendapatan keluarga Pendidikan ayah dan ibu Jumlah saudara Adat istiadat, norma-norma, tabu Agama / urbanisasi

LABORATURIUM MINGGU 2
Tugas individu 1. Kebutuhan karbohidrat dan protein untuk anak balita a. Kebutuhan karbohidrat Sumber energy yang tersedia dengan mudah di setiap makanan. Karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab kekurangan karbohidrat 15 % saja dari kalori yang ada maka dapat menyebabkan kelaparan dan BB menurun demikian pula sebaliknya. Jika kalori yang tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah yang tinggi, dapat menyebabkan terjadinya peningkatan BB (Obesitas). Dalam mendapatkan jumlah karbohidrat yang cukup, maka dapat diperoleh dari susu, sereal, nasi tim, atau nasi dan sebagainya. b. Kebutuhan protein Zat gizi dasar yang berguna dalam pembentukan protoplasma sel dan juga untuk pertumbuhan dan perbaikan sel jaringan dan sebagai larutan untuk keseimbangan osmotik. Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial. 2 jenis protein yaitu hewani, yang didapat dari daging. Protein hewani lebih besar daripada protein nabati dan lebih mudah diserap oleh tubuh. Meskipun demikian, kombinasi penggunaan protein dari nabati sangat dianjurkan 2. Gangguan nutrisi yang Lazim terjadi pada anak KKP (kekurangan Kalori Protein) terbagi menjadi : a. Marasmus yaitu anak jatuh dalam keadaan Malnutrisi (kurang kalori) dan protein disebabkan oleh ketidakseimbangan konsumsi zat gizi dalam makanan dan penyakit infeksi misalnya, pada saluran pencernaan, misalnya cacingan. Tanda dan gejalanya yaitu : Diare/konstipasi Vena superfisialisis mencolok Mata besar dan dalam Akral dingin Suhu badan dibawah normal Denyut nadi lambat

b. Kwashiokor adalah suatu keadaan dimana anak menderita malsutrisi protein,disebabkan oleh : Kekurangan protein dalam makanan Gangguan penyerapan protein Kehilangan protein secara tidak normal dengan proteinuria Infeksi Perdarahan hebat Tanda dan gejalanya yaitu : Anak cengeng Letargi (Lemah) Apatis Edema Rambut mudah rontok Kulit kering dan mudah terinfeksi Anemia

LABORATURIUM MINGGU 3
Tugas individu 2. Manfaat prosedur diagnostik yaitu : a. Mendeteksi adanya penyakit b. Menentukan risiko pajanan terhadap suatu penyakit c. Memantau perkembangan suatu penyakit d. Sebagai data peenunjang dalam menegakkan suatu diagnose e. Menentukan keadaan yang sebenarnya dari penyakit atau mendekatinya 3. Nilai Laboraturium darah pada anak yang mengalami infeks 1. Haemoglobin (Hb) Nilai normal : 2. Hematokrit (Ht) Nilai normal : 3. Leukosit ( hitung total) Nilai normal : Leukosit ( hitung jenis ) Nilai normal hitung jenis: Basofil Eousinofil Netrofil batang Limfosit Netrofil segmen Monosit : : : : : : 0-1% ( absolut 20-100 sel/mm3) 1-3 % (absolut 50-300 sel/mm3) 3-5% ( absolut 50-500 sel/mm3) 25-35%( absolut 1750-3500 sel/mm3) 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3) 4-6% ( absolut 200-600 sel/mm3) Anak : 11-16 gr/dl Balita : 9 15 gr/dl Bayi : 10 17 gr/dl Neonatus : 14 -27 gr/dl anak :31-45% Balita : 35-44% Bayi : 29-54% Neonatus :40-68 % Anak 10 tahun 4500-13500 /mm3 Bayi balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3 Neonatus 9000-30000 sel/mm3

4. Trombosit Nilai normal pada anak 150000-450000 sel/mm3 5. LED ( laju endapan darah) Nilai normal pada anak < 10 mm/ jam pertama 6. Hitung Eritrosit Nilai normal : - Anak : 3,6-4,8 juta sel/mm3 - Bayi : 3,8 6,1 juta sel/mm3 Nilai lab darah bila anak mengalami infeksi yaitu : Apabila anak mengalami infeksi maka jumlah leukosit akan meningkat, baik leukosit hitung jenis maupu hitung total. Pada leukosit hitung jenis, terjadi peningkatan jumlah newtrofil ( baik batang maupun segmen ) relatif dibanding limfosit dan monosit dikenal dengan sebutan shift to left. Infeksi yang disertai shift to left biasanya infeksi bakteri atau malaria dan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to right. Infeksi yang disertai shift to right biasaya merupakan infeksi virus. Pada leukosit hitung total, maka terjadi peningkatan dari nilai normal, baik pada anak 10 tahun, bayi dan balita maupun neonatus. Selain itu, LED juga meningkat menandakan adanya infeksi ataupun inflamasi. Pada infeksi shift to left, terjadi penurunan eritrosit disebuah nilai normal.

LABORATURIUM MINGGU 4
Tugas individu 1. Perbedaan memandikan bayi yang belum puput tali pusat dengan bayi yang sudah puput tali pusat ? a. Sebelum tali pusat lepas, Mandikan bayi dengan air hangat setiap pagi dan sore. Selama memandikan, usahakan tali pusat tak basah; jangan sampai terkena air. b. Usai mandi, lilitkan kain kasa -yang sudah direndam alkohol 70 persen- pada tali pusat bayi. Sebaiknya, saat membuka botol alkohol, jangan sampai botol terbuka cukup lama karena kadarnya akan berkurang hingga tak lagi 70 persen. Alkohol berguna mempercepat pengeringan tali pusat. Jadi, sebaiknya alkohol digunakan sampai tali pusat lepas. c. Setelah tali pusat lepas, alkohol tak diperlukan lagi. Bila masih ada sisa bekuan darah yang tertinggal, gunakan betadine untuk membersihkannya. Sebab, sisa bekuan-bekuan darah di tali pusat ini juga jadi tempat yang disukai kuman. d. Jika bekuan darah tak ada lagi dan luka pemotongan tali pusat sudah mengering betul, penggunaan betadine pun bisa dihentikan. Tali pusat cukup dibersihkan dengan sabun dan air selagi bayi dimandikan. e. Biasakan mencium bau tali pusat setiap bayi usai dimandikan. Kita perlu waspada bila tercium bau busuk atau tak enak. Kemungkinan ada infeksi atau pembusukan yang bisa saja terjadi di lipatan-lipatan kulit yang tak kelihatan di bagian tali pusat. f. Bila tampak gejala infeksi seperti tanda-tanda radang kemerahan, kemudian suhu tubuh memanas atau hangat (tapi gejala ini tak selalu ada), anak rewel dan tampak merintih, sebaiknya segera ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Tetanus-Membawa-Kematian

2. Bagaimana mencegah agar bayi tidak infeksi ? Tindakan Pencegahan Infeksi Pada Bayi Secara Umum Bersihkan pantat dan daerah sekitar anus bayi setiap selesai mengganti popok. Gunakan sarung tangan waktu merawat tali pusat. Ajari ibu merawat payudara dan bagaimana cara mengurangi trauma pada payudara dan puting agar tidak terjadi mastitis. Cara Lain Untuk Mencegah Infeksi Ruang perawatan bayi resiko di lokasi area yang tidak terlalu banyak dilewati orang dan jalur masuknya terbatas Bila mungkin, sediakan ruangan khusus untuk bayi baru lahir Yakinkan bahwa tenaga yang berhubungan langsung dengan bayi baru lahir telah di imunisasi rubella, campak, hepatitis B dan parotitis serta mendapat vaksin influenza setiap tahun Tenaga yang mempunyai lesi / infeksi kulit tidak boleh datang dan berhubungan langsung dengan bayi baru lahir Pengunjung atau staf yang sedang menderita infeksi akut (misalnya virus pernafasan) tidak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan bayi resiko tinggi Hindari / jangan meletakkan dua bayi dalam boks atau inkubator yang sama Batasi jumlah tenaga yang menangani bayi

Mencegah Infeksi Nosokomial Untuk infeksi kulit atau mata dan diare (injeksi nosokomial yang paling sering terjadi di bangsal bayi baru lahir). Perhatikan cara-cara berikut : Letakkan bayi bersama ibunya dalam tangan tersendiri Gunakan sarung tangan yang bersih dan ganti sarung tangan sesudah kontak dengan benda infeksius

Pakailah gaun atau jas luar bila memasuki ruang bayi yang menderita diare / sedang mengeluarkan nanah dari kulit bayi atau bayi dengan infeksi mata Sebelum keluar ruangan : o Lepaskan gaun atau jas luar sebelum keluar ruangan o Lepas sarung tangan o Cuci tangan dengan cairan anti bakteri atau larutan pencuci tangan berbasis alcohol o Sesudah melepas jas atau gaun luar atau sarung dan cuci tangan, maka jangan menyentuh benda atau permukaan yang potensial untuk terjadinya kontaminasi sebelum keluar ruangan, dan yakinkan bahwa baju yang dipakai tidak terkontaminasi banda tersebut o Batasi pemindahan bayi ke ruang lain dalam rumah sakit, kecuali mutlak diperlukan o Selama proses pemindahan berlangsung, tetap perhatikan penatalaksanaan pencegahan infeksi o Bila memungkinkan sediakan cadangan alat yang tidak terkontaminasi (misalnya stetoskop, thermometer) dan hanya dipakai untuk bayi yang terinfeksi

LABORATURIUM MINGGU 5
Tugas individu Nilai normal untuk pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis pemeriksaan : yaitu 1. 2. 3. 4. 5. 6. Hemoglobin / Haemoglobin (Hb) Hematokrit (Ht) Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential count) Hitung trombosit / platelet count Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR) Hitung eritrosit (di beberapa instansi)

Hemoglobin (Hb) Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil 10-15 gram/dL Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-27 gram/dL

Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL.

Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.

Hematokrit Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46% Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, neonatus 40-68%

Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. Secara kasar, hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.

Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.

Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung, perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht <15%.

Leukosit (Hitung total) Nilai normal 4500-10000 sel/mm3 Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3, Anak 10 tahun 4500-13500/mm3, ibu hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3, postpartum 9700-25700 sel/mm3 Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:

Anemia hemolitik Sirosis hati dengan nekrosis Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga) Keracunan berbagai macam zat Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid.

Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.

Leukosit (hitung jenis) Nilai normal hitung jenis


Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3) Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3) Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3) Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3) Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3) Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3)

Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.

Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.

Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the right biasanya merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin.

Trombosit Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak 150.000-450.000 sel/mm3.

Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam berdarah dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm3.

Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit keganasan, sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika >1.000.000 sel/mm3.

Laju endap darah Nilai normal dewasa pria <15 mm/jam pertama, wanita <20 mm/jam pertama Nilai normal lansia pria <20 mm/jam pertama, wanita <30-40 mm/jam pertama Nilai normal wanita hamil 18-70 mm/jam pertama Nilai normal anak <10 mm/jam pertama

LED yang meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit imunologis, gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.

LED yang sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.

Hitung eritrosit Nilai normal dewasa wanita 4.0-5.5 juta sel/mm3, pria 4.5-6.2 juta sel/mm3. Nilai normal bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3, anak 3.6-4.8 juta sel/mm3.

Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar, perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemia sickle cell.

Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan, penurunan fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat (kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat)

LABORATURIUM MINGGU 6
Tugas individu 1. Indikasi bayi yang harus dirawat dalam incubator Bayi yang lahir tidak cukup bulan, sehat/sakit Bayi yang berat badannya < 2000 gr, sehat/sakit Bayi yang berat badannya > 2000 gr, keadaan sakit terutama kesulitan bernapas Bayi yang mengalami operasi (pasca operasi) sebelum pemulihan Bayi hipotermi

2. Tindakan keperawatan yang diberikan pada bayi yang dilakukan fototherapi a. Mengatur posisi bayi tiap 6 jam : miring ke kanan, telungkup, dan miring ke kiri b. Mencatat kondisi perkembangan bayi c. Pemberian vitamin K untuk mencegah perdarahan intracranial

LABORATURIUM MINGGU 8
Tugas individu 1. Pencegahan infeksi pada anak dengan gangguan system kardiovaskuler Pencegahan infeksi merupakan suatu uasah yang dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko penularan infeksi mikroorganisme dari lingkungan dan tenaga kesehatan. Tindakan pencegahan infeksi yaitu : 1. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan 2. Memakai sarung tangan terutama bila harus bersentuhan dengan specimen 3. Memakai perlengkapan pelindung : celemek, kacamata, sepatu tertutup dan masker 4. Menggunakan teknik aseptic 5. Memproses alat bekas pakai dengan sterilisasi 6. Menjaga kebersihan dan merapikan lingkungan serta pembuangan sampah dengan benar

2. Gejala krisis pada anak dengan leukemia? a. Anemia atau pucat


Anemia terjadi karena tubuh kekurangan sel darah. Anak-anak leukemia umumnya mengalami anemia dengan ciri-ciri muka pucat, tak bertenaga alias lemas, gampang lelah dan sesak napas.

b. Demam berkepanjangan dan mudah terkena infeksi


Karena sel darah putihnya abnormal, kuman yang masuk jadi tidak bisa dilawan sel darah putih. Sel darah putih yang harusnya bertugas melindungi tidak berfungsi. Akibatnya anak jadi rentan kena infeksi dan sering demam. Demam dan infeksi adalah tanda awal leukemia. Tidak mudah memang membedakan dengan demam lainnya seperti flu. Tapi demam pada leukemia biasanya lebih dari 38 derajat celcius yang berlangsung beberapa hari dan sering terjadi.

c. Pembengkakan Kelenjar
Kelenjar getah bening bengkak merupakan salah satu gejala awal sering diamati pada anak leukemia. Bengkak akibat kelenjar bisa terlihat di dada, pangkal paha leher dan ketiak. Kelenjar getah bening bisa membengkak karena akumulasi sel-sel darah putih

yang abnormal. Bedanya dengan bengkak kelenjar pada sakit lainnya adalah pada anak leukemia berlangsung selama beberapa hari berbeda dengan bengkak karena sakit flu.

d. Nyeri tulang
Nyeri tulang ini bukan karena luka atau memar. Nyeri tulang pada anak leukemia biasanya semakin memburuk dari waktu ke waktu karena sumsum tulangnya terakumulasi sel-sel darah putih yang abnormal.

e. Mudah berdarah dan memar


Anak-anak leukemia gampang sekali berdarah dan memar yang merupakan tanda tingkat pembekuan darahnya rendah. Trombosit adalah fragmen sel atau sel yang membantu darah untuk membeku yang diproduksi oleh sumsum tulang. Rendahnya tingkat trombosit dalam tubuh dapat mengakibatkan keterlambatan dalam pembekuan darah sehingga anak-anak leukemia gampang berdarah untuk periode yang sering.

f. Gejala lainnya adalah mimisan, perdarahan gusi, kesulitan bernapas, kehilangan nafsu
makan, berat badan rendah, sakit kepala, hati dan limpa membesar, keringat berlebihan pada malam hari dan munculnya bintik-bintik merah kecil pada kulit, yang dikenal sebagai petechiae. Untuk memastikan anak menderita leukemia harus dilakukan dengan pemeriksaan fisik, tes darah darah lengkap, CT scan, MRI, biopsi sumsum tulang, apusan darah tepi, dan analisis cytogenic dan tekan tulang belakang

LABORATURIUM MINGGU 9
Tugas individu 1. Resiko akibat pemberian oksigen yang tidak tepat g. Depresi ventilasi Pemberian O2 yang tidak di monitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat, klien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi. h. Keracunan O2 Dapat terjadi bila terapi O2 yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu relative lama. Keadaanini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan kerusakan surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu.

2. Kontraindikasi pelaksanaan postural drainase Tension pneumothoraks Hemopsisis Gengguan system kardiovaskuler seoerti hipertensi, hipotensi, infark miokard dan aritmia. Edema paru Efusi pleura yang luas

LABORATURIUM MINGGU 10
Tugas individu 1. Ukuran NGT - Nomor 14-20 untuk ukuran dewasa - Nomor 8-16 untuk anak-anak - Nomor 5-7 untuk bayi (infant) - Nomor 8-10 untuk toddler 2. Indikasi pelaksanaan wash out - Klien yang akan di operasi - Klien yang keracunan 3. Jenis-jenis cairan a. Cairan isotonis 0,9 % NaCl (saline isotonis) Cairan Ringer Laktat Na+ 130 mEq/L K+ 4 mEq/L Ca2+ 3 mEq/L Cl-109 mEq/L Dextrose 5 % dalam air

b. Cairan hipotonik 0,45 % NaCl (saline kekuatan menengah)

c. Cairan hipertonik 3 % NaCl 5 % NaCl

LABORATURIUM MINGGU 11
Tugas individu 1. Indikasi pelaksanaan lumbal punktie Lumbal punktie ialah suatu cara untuk mengambil cairan cerebro spinalis dengan menusukkan jarum punksi pada celah tulang belakang antara L3-L4 dan antara L4-L5, dengan maksud untuk mengukur tekana liquor dan mengurangi tekanan tersebut bila diperlukan. Adapun indkasi pelaksanaan lumbal punktie adalah : a. Kejang atau twitching b. Koma yang belum diketahui penyebabnya c. Kelainan pada ubun-ubun yang menonjol d. Kaku kuduk dengan kesadaran yang menurun e. TBC miller f. Leukemia g. Mastoditis kronik (dicurigai meningitis) h. Paresis i. Paralisis

LABORATURIM MINGGU 12
Tugas individu SAP PENYULUHAN UNTUK DERMATITIS DAN SCABIES A. DERMATITIS

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


1. Pokok Bahasan : Dermatitis 2. Subpokok Bahasan : a. Pengertian dermatitish b. Gejala dermatitish c. Penyebab dermatitish d. Komplikasi dermatitish e. Mencegah dan Mengatasi dermatitis 3. Sasaran : Tn.W 4. Waktu : 30 menit 5. Tempat : Rumah Tn.W di Desa Bonto jaya, Kec. Bissappu, Kab. Banataeng 6. Hari/Tanggal: Senin, 31 Mei 2011 7. Tujuan Penyuluhan : a. Tujuan Instruksional Umum/TIU : Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan Tn.W dapat memahami tentang penyakit dermatitish b. Tujuan Instruksional Khusus/TIK : Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan Tn.W mampu : Menjelaskan pengertian dermatitish Menyebutkan gejala dermatitish Menyebutkan sedikitnya 3 faktor penyebab dermatitish Menyebutkan komplikasi dermatitish Menyebutkan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi dermatitish

8. Kegiatan No Langkah Waktu Kegiatan Penyuluh Langkah 1. Pendahuluan 3 menit a. Memberi salam b. Memperkenalkan diri c. Menjelaskan maksud dan tujuan 2. Penyajian 15 a. Menjelaskan pengertian menit dermatitish b. Menjelaskan gejala dermatitish c. Menjelaskan faktor penyebab dermatitish d. Menjelaskan komplikasi pada dermatitish e. Menjelakan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi dermatitish 3. Evaluasi 10 a. Tanya jawab menit b. Menanyakan kembali c. Postest 4. Penutup 2 menit a. Meminta/memberi pesan dan kesan b. Memberi salam Kegiatan Sasaran a. Menjawab salam b. Menjawab pertanyaan Mendengarkan dengan seksama

Partisipasi aktif

a. Memberi pesan dan kesan b. Menjawab salam

9. Metode : Ceramah dan Tanya jawab 10. Media : Leaflet 11. Materi : Terlampir 12. Evaluasi : Pertanyaan : a. Apakah yang dimaksud dengan dermatitis? b. Sebutkan gejala dermatitis ? c. Sebutkan seikitnya 3 faktor penyebab dermatitis ? d. Sebutkan komplikasi pada dermatitis ? e. Sebutkan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi dermatitis ? Jawaban : a. Tn.W mengerti tentang pengertian dermatitis. b. Tn.W dapat menyebutkan gejala dermatitis.

c. Tn.W dapat menyebutkan sedikitnya 3 faktor penyebab dermatitis. d. Tn.W dapat menyebutkan komplikasi yang bisa timbul pada dermatitis. e. Tn.W dapat menyebutkan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi dermatitis.

B. SCABIES

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


1) Pokok Bahasan : Scabies 2) Subpokok Bahasan : a) Pengertian Scabies b) Gejala Scabies c) Penyebab Scabies d) Komplikasi Scabies 3) Mencegah dan Mengatasi Scabies 4) Sasaran : Tn.A 5) Waktu : 30 menit 6) Tempat : Rumah Tn.A di kelurahan Bonto Cinde kec.Bissappu, kab.bantaeng 7) Hari/Tanggal : Senin, 18 april 2011 8) Tujuan Penyuluhan : a. Tujuan Instruksional Umum/TIU : Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan Tn.A dapat memahami tentang penyakit Scabies b. Tujuan Instruksional Khusus/TIK : Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan Tn.A mampu : Menjelaskan pengertian Scabies Menyebutkan gejala Scabies Menyebutkan sedikitnya 3 faktor penyebab Scabies Menyebutkan komplikasi Scabies Menyebutkan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi Scabies

9) Kegiatan No 1. Langkah Langkah Pendahuluan Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Sasaran a. Menjawab salam b. Menjawab pertanyaan Mendengarkan dengan seksama

2.

Penyajian

3.

Evaluasi

4.

Penutup

3 menit a. Memberi salam b. Memperkenalkan diri c. Menjelaskan maksud dan tujuan 15 a. Menjelaskan menit pengertian Scabies b. Menjelaskan gejala Scabies c. Menjelaskan faktor penyebab Scabies d. Menjelaskan komplikasi pada Scabies e. Menjelakan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi Scabies 10 a. Tanya jawab menit b. Menanyakan kembali c. Postest 2 menit a. Meminta/memberi pesan dan kesan b. Memberi salam

Partisipasi aktif

a. Memberi pesan dan kesan b. Menjawab salam

10) Metode : Ceramah dan Tanya jawab 11) Media : Leaflet 12) Materi : Terlampir 13) Evaluasi : Pertanyaan : a. Apakah yang dimaksud dengan Scabies ? b. Sebutkan gejala Scabies ? c. Sebutkan seikitnya 3 faktor penyebab Scabies ? d. Sebutkan komplikasi pada Scabies ? e. Sebutkan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi Scabies?

Jawaban : f. Tn.A mengerti tentang pengertian Scabies! g. Tn.A dapat menyebutkan gejala Scabies! h. Tn.A dapat menyebutkan sedikitnya 3 faktor penyebab Scabies i. Tn.A dapat menyebutkan komplikasi yang bisa timbul pada Scabies j. Tn.A dapat menyebutkan langkah langkah untuk mencegah dan mengatasi Scabies.

LABORATURIUM MINGGU 13
Tugas individu Pendidikan pada anak dengan Down Syndrom Berdasarkan penemunya John Langdon Down, sindroma down adalah salah satu tipe anak tunagrahita yang mengalami penyimpangan genetic yang disertai dengan keterlambatan perkembangan mental dan motorik. Anak yang tergolong sindroma down biasanya mudah dikenali, karena mereka memiliki raut muka menyerupai orang Mongol sehingga anak sindroma down sering disebut anak mongoloid. Umumnya mereka memiliki tampilan umum seperti hidung pesek, jarak kedua mata sangat jauh, lehernya pendek, kadang-kadang ada titik putih dari bagian hitam mata (brushfield), garis telapak tangan yang hanya satu dan bergaris dalam, juga jari kelingking yang pendek dan melengkung, serta ruas jarinya kadang-kadang hanya dua. Karena anak sindroma down umumnya mengalami keterlambatan dalam perkembangan mental dan motorik, maka dalam memberikan pelayanan -- penanganan terhadap anak penyandang sindrom down selain membutuhkan penanganan terpadu dari layanan pendidikan khusus seperti Sekolah Luar Biasa bagian C/ Tunagrahita, kerja sama dengan para ahli, juga keterlibatan dan kasih sayang orang tua yang paling terpenting. Sebab, latihan di tempat khusus tersebut biasanya dilakukan hanya dua sampai tiga kali seminggu, sementara penyandang sindrom down membutuhkan latihan setiap hari. Mengapa demikian? Karena anak-anak penyandang sindrom down membutuhkan waktu yang cukup lama dalam belajar dibanding dengan anak pada umumnya. Dengan keterlibatan orang tua dalam meningkatkan frekuensi latihan yang kurang akan adanya kesinambungan antara latihan di sekolah-- tempat pelatihan dan dalam kehidupan sehari-hari dirumahnya masing-masing.

Kesabaran dan Kasih Sayang Memang kesabaran dan kasih sayang sangatlah penting dalam melatih mereka. Untuk mencapai perkembangan tertentu orang tua dari anak-anak penyandang sindroma down ini diharapkan tidak menaruh target terlalu tinggi terhadap anak-anaknya. Beberapa petunjuk bagi orang tua dalam memberikan latihan kegiatan sehari-hari pada anak penyandang sindroma down yaitu: a. Perhatikan apakah sudah ada tanda-tanda bahwa anak sudah siap untuk menerima latihan. b. Belajar hendaklah dalam keadaan rilek/ santai. c. Latihan-latihan hendaknya diberikan dengan singkat dan setahap demi setahap serta tunjukkan pasa anak cara melakukan sesuatu dengan benar. d. Janganlah Anda kikir akan pujian bila usaha yang dilakukan anak berhasil baik. Misalnya ''Sari memasukkan kancingnya sudah betul, bagus!'' e. Kecelakaan dan kesalahan adalah hal yang biasa, jangan Anda merasa kecewa. f. Gunakanlah kata-kata atau istilah yang sama pada saat melaksanakan latihan.

Melalui latihan yang intensif, penuh kesabaran dan kasih sayang dan keterlibatan orang tua serta dukungan dari lingkungan sosial anak, ternyata banyak anak-anak penyandang sindroma down yang dapat mencapai perkembangan kemampuan fisik yang sama dengan anak-anak umumnya. Karena dari hasil penelitian terlihat, anak-anak Sindroma Down yang berada dalam pengasuhan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dari orang tuanya, mempunyai intelegensi 50% lebih tinggi dibandingkan anak-anak sindroma down yang berada di panti asuhan.