Anda di halaman 1dari 3

JAWABAN: A. Pencegahan infeksi pada bayi 1.

Cara umum Pencegahan infeksi pada bayi sudah harus dimulai dalam masa antenatal. Infeksi ibu harus diobati dengan baik, misalnya infeksi umum, lokarea, dll. Dalam kamar bersalin harus ada pemisahan yang sempurna antara bagian yang septic dan bagian yang aseptic. Pemisahan ini mencakup ruangan, tenaga perawatan, alat kedokteran, dan alat perawatan. Ibu yang akan melahirkan sebelum masuk kamar bersalin sebaiknya dimandikan dahulu dan memakai baju khusus untuk kamar bersalin. Pada kelahiran bayi harus diberi pertolongan secara aseptic. Suasana kamar bersalin harus sama dengan kamar operasi. Alat yang digunakan untuk resursitasi harus steril. Dalam bangsal bayi pun harus ada pemisahan yang sempurna antara BBL dengan partus aseptic. Pemisahan ini mencakup tenaga, fasilitas perawatan, dan alat-alat. Selain itu, harus terdapat kamar isolasi untuk bayi yang perlu diasingkan. Dalam ruangan petugas harus memakai jubah steril, sandal khusus, di dalam ruangan tidak boleh banyak bicara, perawat/dokter yang menderita penyakit saluran pernafasan atas tidak boleh masuk ruangan. Pengunjung yang mau melihat bayi harus memakai masker dan jubah, atau sebaiknya melihat bayi melalui jendela kaca. ASI yang dipompa sebelum diberikan kepada bayi harus dipasteurisasi. Setiap bayi harus mempunyai tempat sendiri untuk pakaian, Megah Fitrian PO.71.3.201.10.1.076

thermometer, obat-obatan, kasa, dll. Incubator harus selalu dibersihkan. Lantai rungan harus benar-benar dibersihkan setiap hari, dan setiap minggu dicuci dengan antiseptikum. 2. Cara khusus Pemberian antibiotika hanya dibolehkan untuk tujuan dan indikasi yang jelas. Dalam beberapa hal, misalnya ketuban pecah lama (>24 jam), air ketuban keruh, infeksi umum pada ibu, partus lama dengan banyak tindakan intravaginal, resusitasi yang berat, dsb. Sering timbul keragu-raguan apakah akan diberi antibiotika secara prifilaktik. Penggunaan antibiotika yang banyak dan tidak terarah dapat menyebabkan timbulnya strain kuman yang bertahan dan penumbuhan fungus yang berlebihan, misalnya Candida albicans. Sebaliknya, pemberian antibiotika terlambat pada penyakit infeksi neonates, sering mengakibatkan kematian. Kalau kemampuan pengamatan klinik dan monitoring laboratorium cukup baik, sebaiknya tidak perlu diberi antibiotika sebagai pencegahan. Kalau kemampuan tersebut tidak ada, maka dapat dipertanggungjawabkan untuk memberi antibiotika sebagai pencegahan berupa ampisilin 100 mg/kgBB dan kanamisin 15 mg/kgBB selama 3 hari, sebagai pengganti Kanamisin dapat dipakai Gentamisin. Cara lain untuk mencegah infeksi: Ruang perawatan bayi resiko di lokasi/area yang tidak terlalu banyak dilewati orang dan jalur masuknya terbatas. Bila mungkin, sediakan ruangan khusus untuk BBL Yakinkan bahwa tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan BBL telah diimunisasi rubella, campak, hepatitis B, dan parotitis serta mendapat vaksin influenza setiap tahun. Tenaga perawat yang mempunyai lesi/infeksi kulit tidak boleh dating dan berhubungan dengan BBL Pengunjung atau staf yang sedang menderita infeksi akut (misalnya virus pernafasan) tidak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan bayi resti. Hindari/jangan meletakkan dua bayi dalam box atau incubator yang sama Batasi jumlah tenaga yang menangani bayi. Mencegah infeksi Nosokomial Untuk infeksi kulit/mata dan diare (infeksi nosokomial yang paling sering terjadi di bangsal BBL), caranya yaitu: Letakkan bayi bersama ibunya dalam ruangan tersendiri Bila memasuki ruangan bayi: ~ Gunkan sarung tangan yang bersih dan ganti sarung tangan sesudah kontak dengan benda infeksius ~ Pakailah gaun atau jas luar bila memasuki ruang bayi yang menderita diare atau sedang mengeluarkan nanah dari kulit bayi atau bayi dengan infeksi mata Sebelum keluar ruangan: ~ Lepas gaun/jas sebelum keluar ruangan ~ Lepas sarung tangan ~ Cuci tangan dengan cairan antibakteri/larutan pencuci tangan berbasis alcohol ~ Sesudah melepas jas/gaun, sarung tangan dan cuci tangan, maka jangan menyentuh benda atau permukaan yang potensial untuk terjadinya kontaminasi sebelum keluar ruangan, dan yakinkan bahwa baju yang dipakai tidak terkontaminasi benda tersebut. Batasi pemindahan bayi ke ruang lain, kecuali mutlak diperlukan

Megah Fitrian PO.71.3.201.10.1.076

Selama proses pemindihan berlangsung, tetap perhatikan penatalaksanaan pencegahan infeksi Bila memungkinkan, sediakan alat yang tidak terkontaminasi, misalnya stetoskop, thermometer, dll dan hanya dipakai untuk bayi yang terinfeksi

B. Pelaksanaan toilet training pada anak 1. Kesiapan anak a. Kesiapan fisik - Mampu mengontrol sfingter anal dan uretral, biasanya pada usia 12-24 bulan - Mampu menahan berkemih (celana tetap kering) selama 2 jam - Pergerakan bowel teratur - Memiliki kemampuan motorik kasar, seperti berjalan, duduk dan jongkok - Memiliki kemampuan motorik halus untuk melepaskan bajunya b. Kesiapan mental - Menyadari keinginan berkemih/defekasi - Kemampuan komunikasi verbal dan non verbal yang mengindikasikan keinginan berkemih/defekasi - Kemampuan kognitif untuk meniru tingkah laku yang sesuai dan mengikuti petunjuk c. Kesiapan psikologis - Mengekspresikan keinginan untuk mempersilahkan orang tua - Mampu duduk di toilet selama 10-15 menit tanpa rewel - Penasaran dengan kebiasaan toileting orang dewasa/saudaranya - Tidak sabar jika celananya basah dan ingin untuk segera diganti 2. Kesiapan keluarga Menyadari tingkat kesiapan anak Memliliki keinginan untuk meluangkan waktunya untuk toilet traininh Tidak ada stress/perubahan dalam keluarga, seperti perceraian, pindah, saudara baru, atau liburan yang akan dilaksanakan sesaat lagi 3. Persiapan alat WC/toilet yang difasilitasi dengan jamban Kran air Sabun cuci tangan

Megah Fitrian PO.71.3.201.10.1.076