Anda di halaman 1dari 99

rumus inflasi

Penelusuran lanjutan Sekitar 122,000 hasil

1. Cara Menghitung Inflasi


Indeks harga konsumen disebut consumer price index (CPI). Berdasarkan indeks. Rumus Menghitung Laju Inflasi. Inflasi = IHKN IHK n-1 x 100 IHKn-1 ... www.scribd.com/doc/13285493/Cara-Meng... - Tembolok - Mirip

2. Inflasi Dan Indeks Harga Kelas x


MENGHITUNG INFLASI RUMUS INDEKS HARGA : Pn IHn = Po IHn : Indeks harga ... www.scribd.com/doc/14445554/Inflasi-D... - Tembolok - Mirip

3. Indeks harga dan inflasi - Blog Studi Komputer dan Ekonomi


Rumus untuk menghitung Laju inflasi adalah : Laju Inflasi = IHK Periode n - IHK tahun sebelumnya. Contoh soal : IHK bulan Agustus 2009 sebesar 115,34 dan ... peunaronesia.blogspot.com/2009/09/ind... - Tembolok - Mirip

4. Rumus Inflasi...??? - PortalReksadana.com


14 Jan 2010 ... Rumus Inflasi - Future Value. Freddy Pieloor's picture. Dear Rekan,. Benar yang disampaikan oleh Rekan Rina, bahwa untuk mencari nilai uang ... www.portalreksadana.com/node/408 - Tembolok - Mirip

5. jiunkpe-ns-s1-2002-31496094-3047-suku_bunga-chapter3 - Analisa ...


menggunakan rumus: AYt = aAY t-i + (3AXt-i + Y^ t-i + m dimana,. AY, = first difference spread inflasi. AX t-i = first difference spread suku bunga deposito ... digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/eman/2... - Tembolok - Mirip

6. Rumus inflasi ebook download and Rumus inflasi pdf download - on ...
Download rumus inflasi ebook and Download rumus inflasi pdf - on www.findtoyou.com. www.findtoyou.com/ebook/rumus%2Binfla... - Tembolok - Mirip

7. News Article rumus dampak inflasi terhadap ekonomi Berita IT dan ...
Berita IT Artikel Teknologi Internet dan informasi IT Indonesia . menyediakan berita-berita terbaru di bidang teknologi informasi. menerima ... www.beritanet.com/search.php%3Ftext%3... - Mirip

8. Rumus Laju Inflasi - JEVUSKA


Artikel rumus laju inflasi di situs ini gratis 0. Download rumus laju inflasi print for free from jevuska.com. www.jevuska.com/topic/rumus%2Blaju%2B... - Tembolok - Mirip

9. Yahoo! Answers - Bagaimanakah rumus untuk menghitung inflasi?


Bagaimanakah rumus untuk menghitung inflasi? 7 menit lalu; - 4 hari tersisa untuk dijawab. Lapor Penyalahgunaan Jawab Pertanyaan ... id.answers.yahoo.com/question/index%3... - Tembolok - Mirip

10. Rumus Inflasi In Indonesia - IhramSulthan.Com


Untuk menemukan artikel terkait rumus inflasi in indonesia di IhramSulthan.Com 0 Baca selanjutnya artikel umum rumus inflasi in indonesia di IhramSulthan. ihramsulthan.com/topik/rumus%2Binflas... - Tembolok - Mirip 12345678910Berikutnya

1 http://www.scribd.com/doc/13285493/Cara-Menghitung-Inflasi Cara Menghitung

Inflasi
Cara Menghitung Inflasi
Angka inflasi dihitung berdasarkan angka indeks yang dikumpulkan dari beberapa macam barang yang diperjualbelikan di pasar dengan masing-masing tingkat harga. Barangbarang yang dimaksud adalah barang yang paling banyak dan merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Angka indeks yang digunakan adalah indeks harga konsumen (IHK). Indeks harga konsumen disebut consumer price index (CPI). Berdasarkan indeks

Rumus Menghitung Laju Inflasi


Inflasi = IHKN IHK n-1 x 100

IHKn-1
2 http://www.scribd.com/doc/14445554/Inflasi-Dan-Indeks-Harga-Kelas-x

INFLASI
EKONOMI X
AGUS SUHENDI, S.Pd
SMA NEGERI 2 DEPOK
Rumus Inflasi Penyebab Inflasi Laju Inflasi Teori Inflasi Menghitung Inflasi Inflasi Berat

3 http://peunaronesia.blogspot.com/2009/09/indek-harga-dan-inflasi.html Berikut Bebarapa Materi Ekonomi SMA kelas X sesuai dengan kurikulum KTSP, dan beberapa pembahasan Soal-soal Olimpiade Sains Ekonomi yang sesuai dengan materi :

Indek Harga Dan Inflasi


(Writen By : Agus Triono, S.Pd)

A. Indek Harga 1. Pengertian Angka Indek Angka indek merupakan suatu konsep yang dapat memberikan gambaran tentang perubahan-perubahan variabel dari suatu priode ke periode berikutnya. Dengan demikian angka indek dapat diartikan sebagai angka perbandingan yang perubahan relatifnya dinyatakan dalam bentuk prosentase (%) terhadap yang lain.

2. Peranan angka indek dalam ekonomi Indek harga dalam ekonomi mempunyai peranan antara lain :

Dapat dijadikan standar/pedoman untuk melakukan perbandingan harga dari waktu ke waktu.

Indek harga merupakan petunjuk/indikator yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi secara umum.

Indek harga pedagang besar dapat memberikan gambaran/trend dalam perdagangan.

Indek harga konseumen dan indek biaya hidup dapat digunakan sebagai dasar penetapan gaji, termasuk dasar untuk mengubahnya.

Indek harga yang dibayar/diterima petani dapat menggambarkan apakah petani semakin makmur atau tidak.

Indek harga dapat dijadikan dasar untuk menetapkan pola / kebijakan ekonomi dan moneter oleh pemerintah.

3. Jenis-jenis angka indek a. Indek harga konsumen (IHK) Indek harga konsumen adalah ukuran statistik yang dapat menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada eceran barang dan jasa yang diminta oleh konsumen dari waktu ke waktu. b. Indek harga perdagangan besar (Whole Saler) Indek harga perdangan besar adalah angka indek yang menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi atas harga pada pasar primer mengenai barang-barang tertentu. c. Indek harga yang diterima petani Angka indek yang diterima petani adalah indek harga yang berhubungan dengan pengorbanan (harga pokok) yang telah dikorbankan denganhasil/yang diterima petani. d. Indek harga yang dibayar petani. Indek yang dibayar petani adalah indek harga yang meliputi pembelian/biaya konsumsi dan pembelanjaan untuk biaya produksi pertaniannya.

4. Perhitungan angka indek harga (price index).

Angka indek harga adalah angka indek yang menunjukkan perubahan harga dari suatu periode ke periode lainnya. angka indek harga dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pn Pn = --------------- x 100% Po Keterangan : P = angka indek harga pada tahun n Pn = harga tahun n, tahun yang akan dihitung indeknya Po = harga tahun dasar Contoh kasus : beberapa harga kebutuhan pokok sebagai berikut :
---------------------------------------------------------------Jenis barang Beras Terigu Gula Harga Tahun 2003 (Po) 3.000 7.000 10.000 Po = 20.000 Harga Tahun 2004 (Pn) 4.000 8.000 8.000 Pn = 20.000

---------------------------------------------------------------

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

jika tahun 2003 dianggap tahun dasar maka angka indek tahun 2003 adalah 100. sedangkan angka indek tahun 2004 secara agregatif daapt dicari sebagai berikut : 20.000 Pn = ------------ x 100% 20.000 Pn = 1 x 100% Pn = 100%, jadi angka indek tahun 2004 adalah 100%. 5. Indek harga dengan Metode Laspeyres Perhitungan angka indek laspeyres (IL) merupakan angka indek tertimbang dengan faktor penimbang (W) secara obyektif. Faktor

penimbangnya ditentukan dengan kuantitas (Q) dengan menggunakan tahun dasar (Qo). angka indek laspeyres (IL) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Pn x Qo IL = --------------- x 100% Po x Qo keterangan : IL = angka indek laspeyres. Pn = harga tahun n, tahun yang akan dihitung angka indeknya. Po = harga tahun dasar. Qo = kuantitas tahun dasar. untuk lebih jelasnya tentang IL, mari kita bahas soal dibawah ini : beberapa harga kebutuhan pokok sebagai berikut :
--------------------------------------------------------------------------------Jenis Barang Harga 2003 (Po) Beras Terigu Gula 3.000 7.000 10.000 20.000 Harga 2004 (Pn) 4.000 8.000 8.000 20.000 Kuantitas (Kg) 2003 (Qo) 90 50 10 150 2004 (Qn) 95 60 25 180 270.000 350.000 100.000 720.000 360.000 400.000 80.000 840.000 Po x Qo Pn x Qo 2004 2003

---------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

JIka tahun 2003 dianggap sebagai tahun dasar maka angka indek tahun 2003 adalah 100. untuk angka indek laspeyres tahun 2004 adalah sebagai berikut : Pn x Qo IL = --------------- x 100% Po x Qo

840.000 IL = -------------- x 100% 720.000 IL = 116,67% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa harga kebutuhan pokok pada tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 16,67% dibandingkan tahun dasar 2003. 6. Indek harga dengan metode Paasche Angka indek paasche merupakan angka indek tertimbang dengan faktor penimbang secara obyektif. Faktor penimbangnya ditentukan dengan jumlah (Q) dengan menggunakan jumlah tahun n (Qn). angka indek Paasche dihitung menggunakan rumus sebagai berikut : Pn x Qn IP = --------------- x 100% Po x Qn Contoh Kasus: Tabel daftar harga beberapa kebutuhan pokok tahun 2003 s/d 2004
-------------------------------------------------------------------------------Jenis Barang Harga 2003 (Po) Beras Terigu Gula 3.000 7.000 10.000 Harga 2004 (Pn) 4.000 8.000 8.000 Kuantitas 2003 (Qo) 90 50 10 150 Po x Qn 2004 (Qn) 95 60 25 180 285.000 420.000 250.000 955.000 380.000 480.000 200.000 1.060.000 2003 Pn x Qn 2004

--------------------------------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------------------------------20.000 20.000 ---------------------------------------------------------------------------------

JIka tahun 2003 dianggap sebagai tahun dasar maka angka indek tahun

2003 adalah 100. untuk angka indek Paasche tahun 2004 adalah sebagai berikut :

Pn x Qn IP = --------------- x 100% Po x Qn 1.060.000 IP = -------------- x 100% 955.000 IP = 110,99% dengan demikan dapat disimpulkan bahwa harga beberapa kebutuhan pokok pada tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 10,99% dibanding tahun dasar 2003.

B. Inflasi 1. Pengertian inflasi Inflasi adalah suatu keadaan ekonomi yang memperlihatkan naiknya harga barang dan jasa secara umum dan berlangsung terus menerus.

2. Jenis Inflasi.

Jenis-jenis inflasi debedakan menjadi 3, yaitu : a. Inflasi dilihat dari asalnya, dibedakan menjadi :

Inflasi dari dalam negeri (domestic inflation) adalah inflasi yang disebabkan oleh terjadinya peristiwa ekonomi di dalam negeri. Contoh : gagal panen secara menyeluruh.

Inflasi dari luar negeri (imported inflation) adalah inflasi yang disebabkan tingginya harga barang-barang yang dibeli dari luar negeri. contoh : harga bahan baku untuk produksi dalam negeri.

b. Inflasi dilihat dari tingkat keparahan parah tidaknya inflasi dibedakan menjadi :

Inflasi ringan ( 0% s/d 10% ) Inflasi Sedang ( >10% s/d 30% ) Inflasi berat ( >30% s/d 200% ) Inflasi tak terkendali (Hyper inflation) ( > 100 %)

c. Inflasi dilihat dari penyebabnya, dibedakan menjadi :

Inflasi yang terjadi karena meningkatnya permintaan terhadap berbagai macam barang dan jasa (demand pull inflation).

Inflasi yang terjadi karena kenaikan ongkos produksi secara terus menerus, yang disebut dengan cosh push inflation.

3. Penyebab terjadinya inflasi Inflasi dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain :

Pemerintah, jika penerimaan pemerintah lebih kecil daripada pengeluaran, maka pemerintah dapat mencetak uang baru, hal ini akan dapat menimbulkan inflasi jika tidak diimbangi dengan penambahan produksi yang akan ditawarkan kepada masyarakat.

Pihak swasta, inflasi dapat terjadi jika pihak swasta banyak menerima kredit dengan jumlah besar untuk memenuhi permintaan penjamin kredit pihak swasta.

Ekspor impor, jika ekspor lebih besar daripada impor maka devisa yang diterima akan menambah jumlah uang yang beredar didalam negeri sehingga kemungkinan dapat menimbulkan inflasi.

Penerimaan dan pengeluaran negara, apabila jumlah penerimaan lebih kecil dari pengeluaran maka terjadi defisit, sehingga pemerintah harus mencetak uang baru, tetapi kalau penambahan uang baru tidak seimbang dengan yang dibutuhkan maka justru dapat menimbulkan inflasi.

4. Cara mengatasi inflasi. Untuk mengatasi inflasi, pemerintah melakukan bebarapa kebijakan sebagai berikut :

Kebijakan moneter, adalah kebijakan pemerintah melalui bank sentral mengatur jumlah uang yang beredar. kebijakan moneter

berupa kebijakan diskonto, pasar terbuka, Cash ratio dan pembatasan kredit. Kebijakan fiskal, adalah kebijakan mengatur pengeluaran pemerintah dan mengatur perpajakan. untuk mengatasi inflasi pemerintah mengambil langkah : (1) menekan pengeluaran pemerintah. (2) menaikkan pajak. (3) mengadakan pinjaman pemerintah.

Kebijakan non Moneter adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi inflasi diluar kebijakan Moneter dan kebijakan fiskal. kebijakan non moneter yang dilakukan pemerintah antara lain : mengendalikan harga, menaikkan hasil produksi, dan kebijakan upah.

5. Cara menghitung inflasi untuk menghitung besarnya inflasi terlebih dahulu harus diketahui indek harga konsumen (IHK). IHK adalah ukuran perubahan harga dari kelompok barang dan jasa yang paling banyak dikonsumsi oleh rumah tangga dalam jangka waktu tertentu. untuk menghitung IHK digunakan rumus : Harga sekarang IHK = ----------------------- x 100% Harga pada tahun dasar Contoh menghitung IHK : Harga jenis barang tertentu pada tahun 2003 Rp. 50.000 dan harga pada tahun dasar Rp. 40.000, maka IHK tahun 2003 adalah... 50.000 IHK = ---------- x 100% = 125% 40.000 Rumus untuk menghitung Laju inflasi adalah :

Laju Inflasi = IHK Periode n - IHK tahun sebelumnya Contoh soal : IHK bulan Agustus 2009 sebesar 115,34 dan IHK pada bulan september 2009 seesar 125,30, maka laju inflasi bulan september adalah .... Jawab : Laju inflasi = 125,30 - 115,34 = 9.96%

DAFTAR PUSTAKA : Purwanto, Wiji. Ekonomi SMA X. Jakarta : Tunas Melati, 2006. Demikian saja pembahasan kita pada kesempatan kali ini, Jika ada pertanyaan seputar indek harga dan inflasi dan juga pertanyaan seputar soal olimpiade sains ekonomi dan soal ujian UN ekonomi, silahkan diposkan pada bagian komentar dibawah ini. Terimakasih. kami tunggu pertanyaannya.

3 komentar:

Anonim mengatakan... Salam kenal, saya sangat berterima kasih sekali dengan artikel indeks ini. Semoga Tuhan selalu memberkahi Pak Agus Triono. 27 November 2009 20:15

Zainman mengatakan... Thankyou buat penulis. Saya kebetulan semester ini diminta mengajarkan ekonomi makro, salah satunya mengenai indeks harga ini. Lumayan buat menambah referansi saya. Trimakasih banyak...

9 April 2010 19:10

siti mengatakan... saya mau tanya,kebetulan tahun ini skripsi mengenai inflasi dan ihk,saya ingin mncari perubahan harga dr lap.keuangan dan mnghitung menggunakan ihk,yg mw saya tanyakan,pada buku indeks harga konsumen yg saya dpt dr BPS,saya hrs melihat dr sisi mananya,dr kumulasi ihk per kota,atau per jatim (nasional)? penelitian saya kali ini didapat dr sebuah cv perusahaan kontraktor di salah satu kota di jatim.trimakasih,mohon balasannya 16 Januari 2011 00:37

4 http://www.portalreksadana.com/node/408 Dear All, Berapapun usia Anda sekarang, Anda pasti akan mencapai usia pensiun (55 th)dan saat itu Anda harus KELUAR dari pekerjaan yang disediakan oleh MAJIKAN Anda. Saat itu siap atau tidak siap, Anda harus SADAR untuk RELA digantikan sama yang lebih muda, pintar, enerjik dan murah (gaji rendah). Oleh sebab itu Anda harus memikirkan "APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN?" saat itu, sampai Anda meninggal dunia. Pernahkan Anda berpikir berapa biaya hidup yang Anda butuhkan selama 25 tahun (bila Anda berencana meninggal pada usia 80 tahun)? Bila Anda saat ini berusia 30 tahun dan biaya hidup Anda sebesar Rp.3 juta, maka pada usia 55 tahun biaya tsb menjadi Rp.32.5 jt (dengan asumsi inflasi 10% p.a.). Katakanlah biaya hidup Anda menurun menjadi 80% atau Rp.26 jt, maka biaya hidup Anda selama 25 tahun adalah Rp.7,8 milyar. Biaya sebesar ini tidak saya kenakan inflasi dan Anda tidak pakai sakit serta tidak bisa jalan-jalan ke HAWAII.

Anda 'kan tidak mau saat Pensiun, menjadi BENALU atau PARASIT bagi keluarga? Sebaliknya Anda layak masih memiliki keuangan yang memadai, sehingga saat cucu Anda ulang tahun, Anda masih mampu membelikan kado bagi mereka. Anda harus memulai dari sekarang melakukan INVESTASI yang tepat, dan pikirkan USAHA APA YANG LAYAK ANDA MILIKI saat itu!!! Usaha ini sebagai ARENA atau "BENGKEL" OTAK & TUBUH Anda. Benamkanlah dan tenggelamlah dalam "bengkel" tsb. agar Anda bahagia, sehat dan sejahtera. Mari bangun Investasi & Usaha Mandiri, agar Anda sejahtera dan bahagia kelak. JANGAN MENYESAL NANTI, JANGAN BANGKRUT SEBELUM MATI. Salam, Freddy Pieloor

Buletin PortalReksadana.com Financial Planning Freddy Pieloor's blog Login or register to post comments

Comments
Submitted by DewAsmara on Mon, 02/08/2010 - 23:35.

Sekedar Sharing

Saya pensiun dini saat krisis. Untung sudah dari beberapa tahun silam persiapan invest di beberapa produk investasi. Jadi ketika perusahaan bangkrut tanpa memberikan uang pensiun, masih ada sejumlah dana yang cukup sebagai cadangan menghadapi hari tua

Login or register to post comments

Submitted by rdlshell on Mon, 01/18/2010 - 07:40.

gampangnya rumus infalsi

Nulis rumusnya aq gk bisa ni disini, tp gampangnya gini, kalo inflasi 10%, dan uang awal 3 jt. maka mengnitungnya : th 1, 3jtx10% = 3.3jt, th ke 2, 3.3jt x 10% = 3.630 jt, dst sampai berapa tahun yang diinginkan. oh rumusnya sih Future Value

Login or register to post comments

Submitted by herlan84 on Mon, 01/18/2010 - 00:10.

Rumus Inflasi...???

Dear suhu Freddy dan Master2 PortalReksadana mhon pencerahanya..cara hitung inflasi, contohnya spt artikel suhu diatas,dari 3jt 25 tahun lg jd 32,5jt. bgmna cara menghitungnya?? tq bgt

Login or register to post comments

Submitted by Freddy Pieloor on Tue, 01/19/2010 - 09:55.

Rumus Inflasi - Future Value

Dear Rekan, Benar yang disampaikan oleh Rekan Rina, bahwa untuk mencari nilai uang saat ini di masa depan memakai "Future Value". Gampangnya begini (asumsi inflasi 10%): Rp.3 juta tahun ini, akan menjadi Rp.3,3 juta tahun 2011 Rp.3,3 juta di 2011 akan menjadi Rp.3,63 jut di 2012 sampai akhirnya menjadi Rp.32,5 di 25 tahun mendatang (10,835 kalinya) Demikian, dan semoga bisa menemukan angka tersebut.

Salam, Freddy Pieloor 5 6 7 http://www.jevuska.com/topic/cakupan+teori+ekonomi+makro+output+inflasi+penganggu ran+dan.html

Artikel menarik lainnya:


Powered by

Cakupan Teori Ekonomi Makro, Output, Inflasi, Pengangguran, Dan


cakupan teori ekonomi makro, output, inflasi, pengangguran, dan cakupan teori ekonomi makro, output, inflasi, pengangguran, dan variabel ekonomi makro lainnya 1. mikroekonomi vs makroekonomi untuk dapat memahami ilmu makro ekonomi, sebaiknya kita
Source: http://staff.ui.ac.id/internal/060803004/material/SuplemenNoteKuliah1.pdf

Teori Ekonomi 2 (makro)


teori ekonomi 2 (makro) pengangguran dan resesi j. medan kesamaan upah nominal fluktuasi dalam investasi, output dan tingkat sadono sukirno, pengantar teori ekonomi makro 6. michael parkin dan robin bade
Source: http://www.unisla.ac.id/doc/sap-ekonomi/MIKRO%202.pdf

Teori Ekonomi 2
teori ekonomi 2 macam dan jenis teori-teori inflasi 1 beberapa cakupan kebijakan dan perencanaan pembangunan ekonomi wijaya, teori ekonomi makro, bpfe, yogyakarta 6. michael parkin dan
Source: http://mukhyi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/12130/SAP+TEORIE.pdf

Fakultas Ekonomi Dan Manajemen


fakultas ekonomi dan manajemen dan ketidakmerataan, populasi dan migrasi, pengangguran diperkuat dengan analisis dan teori - teori ekonomi makro baik penduduk dan pembangunan ekonomi; dan analisa input-output
Source: http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/14554/16/287-314%20image0001-16.pdf

Metodologi Ekonomika
metodologi ekonomika nasional, inflasi, pengangguran, neraca pembayaran, nilal mata uang dan teori ekonomi makro adalah teori yang mempelajari stabilitas dan pertumbuhan cakupan ekonomi dan metodologi
Source: http://eprints.undip.ac.id/16915/1/Metodologi_Ekonomika_(OK).pdf

8 http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110104190618AAQGzbD

Bagaimanakah rumus untuk menghitung inflasi?


1 bulan lalu Lapor Penyalahgunaan

by KONTOP Ndasmu! Anggota sejak: 31 Agustus 2008 Total poin: 5,073 (Tingkat 5)

Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Ini pertanyaan jadul dan untuk anak SMA: Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum

dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggirendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. (Jawaban di atas ada di http://id.answers.yahoo.com/question/ind Nah, untuk menghitung inflasi dengan dasar CPI (Consumer Price Index) atau Indeks Harga Konsumen (IHK), rumusnya adalah: Inflasi = [(IHKn IHKn-1)/IHKn-1]x100% Pengertian: IHKn = IHK pada tahun/bulan tertentu IHKn-1= IHK pada tahun/bulan sebelumnya Jadi tinggal hitung saja angka-angka IHK dalam rentang waktu tertentu. Di Indonesia Statistik harga secara khusus statistik harga konsumen/retail dikumpulkan dalam rangka penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks ini merupakan salah satu indikator ekonomi yang secara umum dapat menggambarkan tingkat inflasi/deflasi harga barang dan jasa. Mulai Juni 2008, IHK disajikan dengan menggunakan tahun dasar 2007=100 dan mencakup 66 kota yang terdiri dari 33 ibukota propinsi dan 33 kota-kota besar di seluruh Indonesia. IHK sebelumnya menggunakan tahun dasar 2002=100 dan hanya mencakup 45 kota. (Lihat http://www.bps.go.id/aboutus.php?id_suby Semoga anak-anak SMA lulus UAN model baru ya... 60:40 katanya ya?

1 bulan lalu Lapor Penyalahgunaan

100% 2 Suara

Bukan jawaban yang benar? Coba Yahoo! Search


Cari di Yahoo! untuk Saat ini tidak ada komentar untuk pertanyaan ini. * Anda harus sign in ke Yahoo! Answers untuk memberikan komentar. Sign in or Daftar.

Jawaban Lain (2)

by buffallo Anggota sejak: 14 Februari 2009 Total poin: 215 (Tingkat 1)


o o

Tambah Kontak Blokir

inflasi dalam makro ekonomi, salah satu yang dibahas adalah soal uang sebagai alat tukar resmi masyarakat. kalau nilai uang menaik atau menurun itu adalah apresiasi atau depresiasi . jika terjadi depresiasi maka yang terjadi adalah de-valuasi atau penurunan nilai uang yang diakui negara. inflasi adalah sisi sebelah lain dari devaluasi, tapi terjadi dalam mekanisme pasar yang seringkali justru diluar kekuasaan negara. inflasi ini jugalah yang menjadi salah satu faktor dicetuskannya pemikiran ekonomi makro menggantikan ide pemikiran ekonomi psar bebas di era sebelumnya. salah satu keinginannya adalah agar bisa mengendalikan 'inflasi' yang cenderung liar di 'rimba' pasar. penjelasan paling sederhana biasanya terkait dengan suplay demand. ketika suplay berlebih harga akan turun, atau sebaliknya jika demand menaik. Namun ini bukan satu-satunya partner faktor dari terjadinya inflasi atau terjadinya suatu kondisi nilai uang yang disebut inflasi. faktor lainnya adalah karakter keberlakuan inkam diskresi atau inkam disposhable ditengah masyarakat. tentu saja jika inkam diskresi ternyata terlalu menyusut setelah inkam dishposhable dengan sendirinya akan juga terjadi 'inflasi' dalam artian bukan harga yang menaik, tetapi karena daya beli yang menurun hingga harga menjadi terasa 'mahal'. .

materi referensi:
analisis makro ekonomi islam
o o

1 bulan lalu Lapor Penyalahgunaan

0% 0 Suara

by Evan Yoteni Anggota sejak: 05 Januari 2011 Total poin: 643 (Tingkat 2)
o o

Tambah Kontak Blokir

Angka inflasi dihitung berdasarkan angka indeks yang dikumpulkan dari beberapa macam objek yang ingin kita hitung. CONTOH : barang yang diperjualbelikan di pasar dengan masing-masing tingkat harga . Barang- barang yang dimaksud adalah barang yang paling banyak dan merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Angka indeks yang digunakan adalah indeks harga konsumen (IHK). Indeks harga konsumen disebut consumer price index (CPI). Berdasarkan indeks. rumus INFLASI =IHKN-IHK n-1 x 100 IHKn1 cuma ini saja yang saya tahu mudah-mudan berguna,mohon mf klw ada kesalahan
o o

1 bulan lalu Lapor Penyalahgunaan

Temukan di Ekonomi

Mohon bantuan,,,ak. biaya........? Ada yg ngerti ga soal ini? kalo ngerti tolong jawab iia? Apa dampak inflasi bagi perekonomian regional ?please bantu? Apakah bisa permintaan menciptakan penawarannya sendiri? 10 kelebihan perekonomian Indonesia?

Pertanyaan Terselesaikan

Lihat lainnya http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AsAi9tRKlZiX9.DLqV2A1DT9Rgx.;_yl v=3?qid=20110212225924AAJRDbb

Mohon bantuan,,,ak. biaya........?


Untuk setiap sepeda yang diproduksi, X Company menegeluarkan biaya bahan baku langsung $6, tenagak kerja langsung $3, dan biaya overhead variabel $1. Biaya overhead tetap X Company adalah $1000 per bulan. 1.Berapa biaya utama per unit? 2.Berapa biaya konversi variabel per unit? 3.Berapa biaya manufaktur variable per unit? 4.Berapa total biaya manufaktur yang akan terjadi pada bulan di mana 500 sepeda diproduksi? trima kasih....

5 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

by Cher I Anggota sejak: 08 Februari 2010 Total poin: 4,475 (Tingkat 4)


Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Penanya


1. Biaya Utama adalah biaya bahan baku ditambah biaya tenaga kerja langsung. ---> $6 + $3 = $9 per unit sepeda 2. biaya konversi variabel adalah biaya tenaga kerja langsung ditambah biaya overhead pabrik variabel. ----> $6 + $1 = $7 per unit sepeda 3. biaya manufaktur variabel adalah biaya bahan baku langsung + biaya TKL + biaya OH variabel ----> $6 + $3 + $1 = $10 per unit sepeda

4. Total biaya manufaktur = Bi. Bhn Baku + Bi. TKL + Bi. OH variabel + Bi. OH tetap -----> $6 + $3 + $1 + $2 = $12 per unit sepeda Total biaya manufaktur yg terjadi pd bln di mana 500 sepeda diproduksi adalah $6000 -----> 500 unit x $12 = $6000

materi referensi:
Biaya OH tetap X Company = $1000/bulan speda yg diproduksi pd 1 bln = 500 unit Biaya OH tetap per unit = $1000 : 500 unit = $2 per unit

4 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

Penilaian Penanya: Komentar Penanya: trima kasih....


Panel Tindakan: 0 bintang - tandai ini sebagai Pertanyaan Menarik!

Siapa yang menilainya menarik


Jadilah orang pertama yang menandai pertanyaan ini sebagai pertanyaan yang menarik!

Email Beri Komentar (0) Simpan o Tambahkan ke Daftar Pantau pribadi o Simpan ke Yahoo! Bookmarks o RSS

Saat ini tidak ada komentar untuk pertanyaan ini. * Anda harus sign in ke Yahoo! Answers untuk memberikan komentar. Sign in or Daftar.

Jawaban Lain (2)


Tampilkan:

by Guktong Anggota sejak: 02 Januari 2011 Total poin: 5,946 (Tingkat 5)


o o

Tambah Kontak Blokir

sorry, ane cuman dapet D dulu mata kuliah itu :)


o o

5 hari lalu Lapor Penyalahgunaan by Gita

Anggota sejak: 24 Januari 2011 Total poin: 555 (Tingkat 2)


o o

Tambah Kontak Blokir

PR ekonomi ya?? haduh jurasan aku bukan IPS nih,, maaf2 ga bisa bantu,,, enak dijurusan IPA loh..
o o

5 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AsAi9tRKlZiX9.DLqV2A1DT9Rgx.;_yl v=3?qid=20110212013725AAM2p2j

Pertanyaan Terselesaikan
Lihat lainnya

Ada yg ngerti ga soal ini? kalo ngerti tolong jawab iia?


jika buku tulis sebagai produksi akhir,maka identifikasi yang termasuk produksi antaranya (intermediate goods)

6 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

by Reni Anggota sejak: 03 Januari 2011 Total poin: 701 (Tingkat 2)


Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Menurut saya produksi antaranya adalah kertas karena sebelum dibentuk menjadi buku tulis, terlebih dahulu buku tulis berwujud lembaran2 kertas..

6 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

100% 1 Suara

Panel Tindakan: 0 bintang - tandai ini sebagai Pertanyaan Menarik!

Siapa yang menilainya menarik


Jadilah orang pertama yang menandai pertanyaan ini sebagai pertanyaan yang menarik!

Email Beri Komentar (0) Simpan o Tambahkan ke Daftar Pantau pribadi o Simpan ke Yahoo! Bookmarks o RSS

Saat ini tidak ada komentar untuk pertanyaan ini. * Anda harus sign in ke Yahoo! Answers untuk memberikan komentar. Sign in or Daftar.

Jawaban Lain (1)

by jordan Anggota sejak: 25 Januari 2011 Total poin: 316 (Tingkat 2)


o o

Tambah Kontak Blokir

kyknya sih kertas.

materi referensi:
pendapat sendiri
o o

6 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AvB.YPPyZBcJH7YMz07LYUL9Rgx.;_ ylv=3?qid=20110211063956AAS3BuF

Pertanyaan Terselesaikan
Lihat lainnya

Apa dampak inflasi bagi perekonomian regional ?please bantu?


1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

by Alfinn Ramdhani Anggota sejak: 08 Oktober 2010 Total poin: 1,029 (Tingkat 3)

Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Penanya


Inflasi dapat mengakibatkan perekonomian tidak berkembang.inflasi berdampak sebagai berikut : 1. Mendorong penanaman modal spekulatif 2. Menyebabkan tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi investasi. 3. Menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi di masa depan.jika gagal mengendalikan inflasi, akan berdampak terhadap ketidakpastian ekonomi. 4. Menimbulkan masalah neraca pembayaran. Inflasi akan menyebabkan harga barangbarang impor lebih murah daripada harga barang yang dihasilkan di dalam negeri

1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

Penilaian Penanya: Komentar Penanya: mkasih banyak. succes for you


Panel Tindakan: 1 bintang - tandai ini sebagai Pertanyaan Menarik!

Siapa yang menilainya menarik


1. Alfinn Ramdhani Email Beri Komentar (0) Simpan o o o Tambahkan ke Daftar Pantau pribadi Simpan ke Yahoo! Bookmarks RSS

Saat ini tidak ada komentar untuk pertanyaan ini.

* Anda harus sign in ke Yahoo! Answers untuk memberikan komentar. Sign in or Daftar.

Jawaban Lain (3)


Tampilkan:

by Zul Anggota sejak: 08 Desember 2010 Total poin: 2,690 (Tingkat 4)


o o

Tambah Kontak Blokir

Daya beli masyarakat rendah, pertumbuhan ekonomi melamban, tingkat kemiskinan naik.
o o

1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan by sty

Anggota sejak: 14 Juni 2010 Total poin: 914 (Tingkat 2)


o o

Tambah Kontak Blokir

Inflasi adalah suatu proses atau peristiwa kenaikan tingkat herga barang-barang secara umum. inflasi sangat merugikan masyarakat karena dapat mengakibatkan orang cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang daripada dalam bentuk tabungan uang, tidak adanya investasi berupa uang tunai, pengusaha enggan untuk melakukan investasi, dan daya beli masyarakat menurun karena nilai uang turun
o o

1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

by Bagas Putra Anggota sejak: 14 Januari 2011 Total poin: 1,195 (Tingkat 3)
o o

Tambah Kontak Blokir

inflasi sangat merugikan masyarakat karena dapat mengakibatkan orang cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang daripada dalam bentuk tabungan uang, tidak adanya investasi berupa uang tunai, pengusaha enggan untuk melakukan investasi, dan daya beli masyarakat menurun karena nilai uang turun
o o

1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AjbbVZo8O1YBrKRv7wE44fb9Rgx.;_yl v=3?qid=20110211063133AAZKP0R

Pertanyaan Terselesaikan
Lihat lainnya

Apakah bisa permintaan menciptakan penawarannya sendiri?


kita tahu bahwa hukum say menyatakan bahwa penawaran dpt menciptakan permintaan nya sendiri.sekarang dibalik, apakah permintaan bisa menciptakan penawarannya sendiri? knp?klo bisa kasih contoh ya biar ngerti. thanks :)

1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

by eka_irgi... Anggota sejak:

17 Juli 2010 Total poin: 196 (Tingkat 1)


Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Penanya


permintaan bisa menciptakan penawaran sendiri. karena permintaan itu diciptakan atas keinginan kita sendiri,penawaran dapat tercipta dengan adanya kesepakatan antara pihak yang berhubungan dengan permintaan itu sendiri. contoh : jika kita ingin membeli sebuah rumah diperumahan,yang pertama kita minta adalah bentuk dari bangunan yang seperti apa yang kita inginkan,selanjutnya melakukan penawaran ,,,,, jika tidak sesuai dengan permintaan kita biasanya akan tercipta penawaran tersendiri buat kita....

6 hari lalu Lapor Penyalahgunaan

Penilaian Penanya: Komentar Penanya: okay,thanks ya :) http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=Ao5T8kF4yinuQGxN74dqYnf9Rgx.;_ylv =3?qid=20110210080451AAUojwB

Pertanyaan Terselesaikan
Lihat lainnya

10 kelebihan perekonomian Indonesia?


1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

by Sally Tamachan Anggota sejak: 17 Desember 2010 Total poin:

497 (Tingkat 2)

Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Ciri-ciri positif: 1. Perekonomian disusun sbg usaha bersama atas dasar asas kekeluargaan. 2. Cabang-cabang produksi yg penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak di kuasai oleh negara. 3. Bumi, air, dan kekayaan alam yg terkandung di dalamnya, sbg pokok-pokok kemakmuran rakyat dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarny untuk kemakmuran rakyat. 4. Sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan dengan permufakatan lembaga perwakilan rakyat dan pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga perwakilan rakyat. 5. Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yg dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yg layak bagi kemanusiaan. 6. Hak milik perseorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dg kepentingan masyarakat. 7. Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yg tidak merugikan kepentingan umum. 8. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

materi referensi:
buku ekonomi kelas x. >.<

1 minggu lalu Lapor Penyalahgunaan

100% 2 Suara

1 http://id.shvoong.com/business-management/marketing/2065869-pengertian-inflasi/ --------------------------Microsoft Internet Explorer


shvoong.com The Global Source for Summaries & Reviews

Daftarkan diri

pengertian inflasi
Masuk

Sekitar 462,000 hasil

Write & earn Pengertian Inflasi 23 Okt 2010 ... Inflasi adalah Peningkatan tingkat harga umum dari barang dan jasa dalam periode tertentu. Tipe Inflasi Inflasi mungkin berakibat ... id.shvoong.com/business-management/ma... - Tembolok - Mirip sarmi jawanti ( 20206889 ): Pengertian Inflasi 10 Mar 2010 ... PENGERTIAN INFLASI. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum, atau inflasi dapat juga dikatakan sebagai penurunan daya beli uang. ... sarmijawanti.blogspot.com/2010/03/pen... - Tembolok - Mirip Definisi / Pengertian Inflasi, Stagnasi & Stagflasi Serta Dampak ... 17 Des 2007 ... A. Arti Inflasi. Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang ... organisasi.org/definisi-pengertian-in... - Tembolok - Mirip Pengertian dan Arti Inflasi dalam Ekonomi Online Sciences 18 Feb 2011 ... Inflasi adalah suatu proses atau peristiwa kenaikan tingkat herga barang-barang secara umum. Atau dapar dikatakan inflasi adalah suatu ... www.g-excess.com/id/pengertian-dan-ar... - Tembolok - Mirip Pengertian Inflasi Ekonomi, Kasus dan Kenyataan | INDOSKRIPSI 17 Feb 2008 ... Inflasi adalah kenaikan harga secara umum, atau inflasi dapat juga dikatakan sebagai penurunan daya beli uang. Makin tinggi kenaikan harga ... one.indoskripsi.com/node/720 - Tembolok - Mirip Inflasi ; Definisi, Komponen, Tingkat dan Metode Pengukuran ... Menurut para pakar beberapa pengertian mengenai inflasi: 1. Menurut Nopirin (1987:25) Proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus ... jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/infla... - Tembolok - Mirip Pengertian Inflasi Fery24's_Shinigami Pengertian Inflasi April 25, 2010. Filed under: Uncategorized fery24 @ 7:35 pm. inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan ... fery24.wordpress.com/2010/04/25/121/ - Tembolok - Mirip Pengertian inflasi powerpoint download and Pengertian inflasi ppt ... Download pengertian inflasi powerpoint and Download pengertian inflasi ppt - on www.findtoyou.com. www.findtoyou.com/powerpoint/pengerti... - Tembolok - Mirip Yahoo! Answers - Kajilah inflasi dan deflasi dari segala segi ... Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan ... id.answers.yahoo.com/question/index%3... - Tembolok - Mirip hella: PENGERTIAN INFLASI 8 Nov 2010 ... PENGERTIAN INFLASI. Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) ... hellahandira.blogspot.com/2010/11/pen... - Tembolok - Mirip

Pencarian berhubungan dengan: pengertian inflasi


penyebab inflasi pengertian deflasi inflasi menyebabkan arti inflasi dan deflasi

pengertian pengangguran pengertian deflasi dan inflasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya


Bahasa Cari Ketegori

definisi inflasi dan deflasi penanggulangan inflasi


Halaman Utama Shvoong Bisnis & Keuangan Marketing & Penjualan Pengertian Inflasi
> > >

Follow us:

t f

Pengertian Inflasi
Pengarang : Jeff Madura
Summary rating: 2 stars

oleh: AndaiYani

(25 Tinjauan)

Kunjungan : 3205 kata:300

More About : pengertian

inflasi

Inflasi adalah Peningkatan tingkat harga umum dari barang dan jasa dalam periode tertentu. Tipe Inflasi Inflasi mungkin berakibat bertambahnya biaya produksi. Misalnya apabila harga bahan bakar naik, dan biaya transportasi untuk memproduksi barang pun naik. Perusahaan yang terbebani biaya lebih tinggi akibat biaya transportasi tinggi menaikkan harga pokoknya untuk menutupi biaya yang tinggi. Situasi ini ketika perusahaan menaikkan harga karena biaya juga naik disebut cost push inflation (inflasi biaya dorong). Begitu juga dengan demand pull inflation yang berarti apabila harga barang dan jasa tertariknaik karena adanya permintaan konsumen yang tinggi.Inflasi adalah Peningkatan tingkat harga umum dari barang dan jasa dalam periode tertentu. Tipe Inflasi Inflasi mungkin berakibat bertambahnya biaya produksi. Misalnya apabila harga bahan bakar naik, dan biaya transportasi untuk memproduksi barang pun naik. Perusahaan yang terbebani biaya lebih tinggi akibat biaya transportasi tinggi menaikkan harga

pokoknya untuk menutupi biaya yang tinggi. Situasi ini ketika perusahaan menaikkan harga karena biaya juga naik disebut cost push inflation (inflasi biaya dorong). Begitu juga dengan demand pull inflation yang berarti apabila harga barang dan jasa tertariknaik karena adanya permintaan konsumen yang tinggi.
Diterbitkan di: Oktober 23, 2010 Diperbarui: Oktober 23, 2010 Mohon Resensi ini dinilai :12345 Nilai :
1 2 3 4 5

More About : pengertian

inflasi

Lebih lanjut tentang: Pengertian Inflasi

2 http://sarmijawanti.blogspot.com/2010/03/pengertian-inflasi.html

SARMI JAWANTI ( 20206889 )


Page

Home Gallery Lagu

About

Blog ini Di-link Dari Sini Web

Pengertian Inflasi
PENGERTIAN INFLASI
Inflasi adalah kenaikan harga secara umum, atau inflasi dapat juga dikatakan sebagai penurunan daya beli uang. Makin tinggi kenaikan harga makin turun nilai uang. Defenisi diatas memberikan makna bahwa, kenaikan harga barang tertentu atau kenaikan harga karena panen yang gagal misalnya, tidak termasuk inflasi. Ukuran inflasi yang paling banyak adalah digunakan adalah: Consumer price indeks atau cost of living indeks. Indeks ini berdasarkan pada harga dari satu paket barang yang dipilih dan mewakili pola pengeluaran konsumen. Barang-barang dalam paket itu dibobot sesuai dengan kepentingan relatifnya bagi konsumen. Dan data harga diperoleh dalam bentuk indeksasi. Indeks yang lain juga dapat diperoleh dari deflatoir GNP pada harga konstan. Kelebihan indeks ini bukan hanya memperhitungkan harga barang konsumen tetapi juga harga barang kapital dan barang ekspor. Inflasi adalah masalah seluruh dunia. Namun berdasarkan data negara yang sedang berkembang, yang lebih banyak pengalamannya dalam hal ini inflasi dibanding dengan negara industri. Penyebaran inflasi keseluruh dunia terjadi oleh karena adanya mekanisme perdagangan keuangan yang saling berkaitan antara negara dunia. Inflasi merembes keseluruh dunia dengan bebas. Kenaikan harga minyak empat setengah kali pada tahun 1973 1974 telah meningkatkan laju inflasi dunia dengan cepat pada tahun 1974 1975. Demikian juga perluasan money supply dunia pada tahun 1970 an telah mendorong inflasi. Kenyataan ini adalah akibat kekakuan exchange rate. Bila exchange rate (nilai tukar), fleksibel sempurna maka inflasi dapat dihindari. Sebaliknya kebanyakan negara dunia memiliki tingkat penukaran mata uang asing (exchange rate) yang tidak fleksibel, sehingga inflasi tak dapat dihindari. Generalisasi seperti ini tentu ada kecualinya, yaitu negara yang mempunyai sistem perencanaan sentral di Eropa Timur atau Uni Soviet (tempo dulu). Pada negara-negara

ini harga ditetapkan oleh pemerintah pusat (secara administratif). Jadi bukan karena permainan permintaan dan penawaran. Ini tidak berarti bahwa permintaan tidak pernah melebihi penawaran. Bila kenyataan ini juga terjadi maka penjatahan atau antri dapat diberlakukan terhadap produksi, sebelum penawaran ditingkatkan. A. Arti Inflasi Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama terus-menerus. Harga lama D. Dampak Sosial Dari Inflasi Inflasi dapat menyebabkan gangguan pada stabilitas ekonomi di mana para pelaku ekonomi enggan untuk melakukan spekulasi dalam perekonomian. Di samping itu inflasi juga bisa memperburuk tingkat kesejahteraan masyarakat akibat menurunnya daya beli masyarakat secara umum akibat harga-harga yang naik. Selain itu distribusi pendapatan pun semakin buruk akibat tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan inflasi yang terjadi. INFLASI DI INDONESIA Tingkat inflasi merupakan variabel ekonomi makro paling penting dan paling ditakuti oleh para pelaku ekonomi termasuk Pemerintah, karena dapat membawa pengaruh buruk pada struktur biaya produksi dan tingkat kesejahteraan. Bahkan satu rezim kabinet pemerintahan dapat jatuh hanya karena tidak dapat menekan dan mengendalikan lonjakan tingkat inflasi. Tingkat inflasi yang naik berpuluh kali lipat, seperti yang dialami oleh pemerintahan rezim Soekarno dan rezim Marcos, menjadi bukti nyata dari rawannya dampak negatif yang harus ditanggung para pengusaha dan masyarakat. Dalam jangka pendek, tingkat inflasi di Indonesia dapat ditekan di bawah angka 10% setelah sebelumnya mengalami lonjakan yang terduga mencapai 18 persen pada akhir tahun 2005. Lonjakan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh dampak negatif dari pengaruh multiplier peningkatan harga minyak bumi dunia pada kisaran 60 sampai 70 dollar AS selama tahun 2005. Seperti kita alami tingginya harga minyak bumi dunia ini membawa implikasi barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku di mana-mana dan dalam rentang waktu yang cukup

dikeluarkannya kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri dan pengurangan subsidi Pemerintah untuk harga BBM tersebut. Pada paruh pertama tahun 2006 ini, harga minyak bumi tersebut belum juga turun, sebagian dipengaruhi oleh ekskalasi ketegangan akibat serangan pasukan Israel ke wilayah Libanon Selatan. Penurunan tingkat inflasi pada pertengahan tahun 2006 membawa ruang gerak yang lebih leluasa bagi Bank Indonesia untuk segera menurunkan tingkat bunga BI Rate secara bertahap. Kecenderungan ini mendapatkan response dari kalangan dunia usaha dan masyarakat dengan meningkatnya tingkat kepercayaan konsumen pada bulan Agustus. Perkembangan Inflasi 1970 2005 Gejolak dan perkembangan tingkat inflasi di Indonesia memiliki kecenderungan berikut ini : Dari kondisi tingkat inflasi yang sangat tinggi (hyperinflation) pada masa pemerintahan Orde Lama (kabinet Soekarno) maka praktis sejak tahun 1970 Indonesia mengalami tingkat inflasi yang sedang. Hyperinflation adalah tingkat inflasi melebihi 50 % per bulannya. Tingkat inflasi ini kemudian menunjukkan trend yang menurun selama periode 1970-71, yang sebagian besar didorong oleh program stabilisasi ekonomi yang dijalankan pemerintah pada era kabinet Soeharto. Tingkat inflasi ternyata masih naik kembali pada periode 1972-74, yang akhirnya mencapai 41% pada tahun 1974. Tingkat inflasi ini berhasil ditekan selama periode 1970-1992 mencapai tingkatan rata-rata 12,7% per tahunnya. Baru kemudian sejak tahun 1988, angka inflasi selalu dibawah 10% dihitung dengan metode indeks biaya hidup . Pada era pemerintahan sejak krisis perekonomian pada tahun 1998-99, laju inflasi masih bergejolak; tetapi dengan rentan fluktuasi batas satu digit ( dibawah tingkat 10%). Program pengendalian inflasi yang sukses setelah krisis ekonomi, masih bergejolak kembali pada pertengahan tahun 2005. Gejolak ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintahan kabinet Soesilo Bambang Yudhoyono dalam melepas program subsidi BBM dan menaikankan harga BBM di dalam negeri. Faktor-Faktor Pemicu Tingkat Inflasi Laju kenaikan tingkat inflasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, sebagian ditentukan dari sudut pandang teori inflasi yang dianut. Pada kasus perekonomian di Indonesia paling tidak terdapat beberapa

faktor yang baik secara langsung maupun secara psikologis dapat mendorong trend kenaikan tingkat inflasi. Faktor ekonomi dan non-ekonomi yang diperkirakan mempengaruhi tingkat inflasi di negara kita antara lain dapat diidentifikasi berikut ini: (1) Adanya peningkatan jumlah uang beredar. Peningkatan jumlah uang beredar ini di Indonesia disebabkan antara lain oleh peristiwa: Kenaikan harga migas di luar negeri Meningkatnya bantuan luar negeri Masuknya modal asing, khususnya investasi portfolio di pasar uang Meningkatnya anggaran Pemerintah secara mencolok Depresiasi nilai Rupiah dan gejolak mata uang konvertibel (2) Adanya tekanan pada tingkat harga umum, yang dapat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian berikut ini : Penurunan produksi pangan akibat musim kering yang berkepanjangan Peningkatan harga komoditi umum secara mendadak Pencabutan program subsidi BBM Kenaikan harga BBM yang mencolok Kenaikan tarif listrik (3) Kebijakan Pemerintah dalam mendorong kegiatan ekspor non-migas; maupun kebijakan lainnya yang bersifat distortif seperti antara lain: Lonjakan inflasi setelah dikeluarkannya kebijakan devaluasi Kebijakan tata niaga yang monopolistis Pungutan-pungutan yang dikenakan dalam perjalanan lalu lintas barang dan mobilitas tenaga kerja Kebijakan peningkatan tingkat upah minimum regional (4) Peningkatan pertumbuhan agregat demand yang dipicu oleh perubahan selera masyarakat, atau kebijakan pemberian bonus perusahaan dan faktor spekulatif lainnya: Pemberian bonus THR mendekati jatuhnya Hari Raya. Pemberian bonus prestasi perusahaan Perkembangan pusat belanja yang ekspansif dengan mematikan fungsi keberadaan pasar tradisional di lokalitas tertentu. menciptakan pasar yang oligopolistis dan

Pada masa lalu pencetus inflasi di Indonesia lebih dipengaruhi oleh inflasi yang berasal dari impor bahan baku dan penolong. Hal ini beralasan karena sebagian besar dari bahan baku tersebut masih diimpor dari luar negeri, akibat struktur industri yang sedikit mengandung local content. Dua faktor dapat berpengaruh atas kenaikkan harga di dalam negeri. Jika terjadi kelangkaan pasokan akibat gangguan logistik atau perubahan permintaaan dunia atas bahan baku tersebut di dunia. Jika terjadi penurunan nilai rupiah kita terhadap mata uang asing utama seperti dollar Amerika Serikat. Saat ini inflasi di negara kita lebih banyak dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak bumi di pasar internasional, yang dapat mendorong lebih lanjut biaya pengadaan sumber energi listrik dan bahan bakar untuk sebagian besar pabrik-pabrik pengolahan. Dimasa depan ancaman lonjakan harga minyak bumi masih akan mengancam inflasi di negara kita. Potensi kelangkaan bahan baku batubara dan gas akan juga terjadi dan mengakibat kan kenaikkan biaya energi. Disamping itu ancaman jangka menengah atas kemungkinan terjadinya inflasi di beberapa daerah di Indonesia adalah akibat adanya kelangkaan bahan makanan pokok masyarakat yang timbul akibat paceklik, hama penyakit, dan penurunan produktivitas padi, kedelai dan kacang-kacangan. Memang inflasi pada tingkat yang rendah merupakan perangsang bagi produsen untuk menambah kapasitas produksinya; tetapi jika terlalu tinggi akan memberikan dampak negatif atas meningkatnya ketidakpastian dan penurunan daya beli konsumen, sekaligus potensi penjualan perusahaan. (copyright@aditiawan chandra)
D I P O S K A N O L E H S A RM I J A W A N T I D I 0 6 . 4 1

3 http://organisasi.org/definisi-pengertian-inflasi-stagnasi-stagflasi-serta-dampak-sosialinflasi

Definisi / Pengertian Inflasi, Stagnasi & Stagflasi Serta Dampak Sosial Inflasi

Mon, 17/12/2007 - 3:02pm godam64

A. Arti Inflasi Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-barang secara umum mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama terus-menerus. Harga barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku di mana-mana dan dalam rentang waktu yang cukup lama B. Arti Stagnasi Stagnasi adalah suatu keadaan di mana tingkat pertumbuhan ekonomi adalah sekitar 0% per tahun. C. Arti Stagflasi Stagflasi adalah suatu kondisi suatu perekonomian mengalami inflasi dan stagnasi dalam waktu yang bersamaan. D. Dampak Sosial Dari Inflasi Inflasi dapat menyebabkan gangguan pada stabilitas ekonomi di mana para pelaku ekonomi enggan untuk melakukan spekulasi dalam perekonomian. Di samping itu inflasi juga bisa memperburuk tingkat kesejahteraan masyarakat akibat menurunnya daya beli masyarakat secara umum akibat harga-harga yang naik. Selain itu distribusi pendapatan pun semakin buruk akibat tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan inflasi yang terjadi.

4 http://www.g-excess.com/id/pengertian-dan-arti-inflasi-dalam-ekonomi.html

Pengertian dan Arti Inflasi dalam Ekonomi


Inflasi adalah suatu proses atau peristiwa kenaikan tingkat herga barang-barang secara umum. Atau dapar dikatakan inflasi adalah suatu proses menurunnya nilai uang secara kontinu.

Inflasi dikatakan sebagai proses kenaikan harga apabila ada kecenderungan harga meningkat terus menerus atau tidak bersifat musiman. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Inflasi:

Macam-macam Inflasi dalam Ekonomi Penyebab Inflasi dan Teori Inflasi dalam Ekonomi Pengaruh dan Akibat Inflasi dalam Ekonomi Cara Mengatasi Inflasi dalam Ekonomi

5 http://www.journalonlines.info/ 6 http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/inflasi-definisi-komponen-tingkat-dan.html

Inflasi ; Definisi, Komponen, Tingkat dan Metode Pengukuran


Bahan Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan. Definisi Inflasi : Secara umum inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus selama waktu tertentu . Menurut para pakar beberapa pengertian mengenai inflasi: 1. Menurut Nopirin (1987:25) Proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus selama peride tertentu. 2. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998: 578-603) Inflasi dinyatakan sebagai kenaikan harga secara umum. Jadi tingkat inflasi adalah tingkat perubahan harga secara umum yang dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut: Rate of inflation (year t) = Price level (year t)- price level (year t-l) :Price level (year t-l)

Komponen Inflasi Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, Prathama dan Mandala (2001:203) 1. Kenaikan harga Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi darpada harga periode sebelumnya. 2. Bersifat umum Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga secara umum naik. 3. Berlangsung terus menerus Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan

Tingkat Inflasi Kondisi inflasi menurut Samuelson (1998:581), berdasarkan sifatnya inflasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu 1) Merayap {Creeping Inflation) Laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% pertahun), kenaikan harga berjalan lambat dengan persentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang relatif lama. 2) Inflasi menengah {Galloping Inflation) Ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar dan kadang-kadang berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi yang arrinya harga-harga minggu/bulan ini lebih tinggi dari minggu/bulan lalu dan seterusnya. 3) Inflasi Tinggi {Hyper Inflation) Inflasi yang paling parah dengan dtandai dengan kenaikan harga sampai 5 atau 6 kali dan nilai uang merosot dengan tajam. Biasanya keadaan ini timbul apabila pemerintah mengalami defisit anggaran belanja.

Metode Pengukuran Inflasi Suatu kenaiikan harga dalam inflasi dapat diukur dengan menggunakan indeks harga. Ada beberapa indeks harga yang dapat digunakan untuk mengukur laju inflasi (Nopirin,1987:25) antara lain: a) ConsumerPriceIndex (CPI) Indeks yang digunakan untuk mengukur biaya atau pengeluaran rumah tangga dalam membeli sejumlah barang bagi keperluan kebuthan hidup:

CPI= (Cost of marketbasket ingiven year : Cost of marketbasket in base year) x 100%

b) Produsen PriceIndex dikenal dengan Whosale Price Index Index yang lebih menitikberatkan pada perdagangan besar seperti harga bahan mentah (raw material), bahan baku atau barang setengah jadi. Indeks PPI ini sejalan dengan indeks CPI. c) GNP Deflator GNP deflator ini merupakan jenis indeks yang berbeda dengan indeks CPI dan PPI, dimana indeks ini mencangkup jumlah barang dan jasa yang termasuk dalam hitungan GNP, sehingga jumlahnya lebih banyak dibanding dengan kedua indeks diatas:

GNP Deflator = (GNP Nominal : GNP Riil) x 100%

Faktor - faktor yang mempengaruhi Inflasi Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998:587), ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi: a. DemandPull Inflation Timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian, menarik harga ke atas untuk menyeimbangkan penawaran dan pennintaan agregat.

b. Cost Push Inflation or Supply Shock Inflation Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang efektif.

Sedangkan faktor- faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation tetapi juga dipengaruhi oleh : a) Domestic Inflation Tingkat inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan harga barang secara umum di dalam negeri. b) ImportedInflation Tingkat inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang import secara umum

Labels: Manajemen Keuangan

7 http://fery24.wordpress.com/2010/04/25/121/

Pengertian Inflasi

April 25, 2010

Filed under: Uncategorized fery24 @ 7:35 pm

inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggirendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruhmempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10% 30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi). Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
1. 2. 3. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun) Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun) Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun) Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

4.

Penyebab
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi desakan biaya terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu

kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang. dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:
1. 2. 3. 4. 5. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa Tuntutan kenaikan upah dari pekerja. Kenaikan harga barang impor Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. akibatnya angka inflasi mencapai 70%.

Dampak
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.

Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Peranan dari bank sentral


Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

10 http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080407065750AAnYGxS

Kajilah inflasi dan deflasi dari segala segi! (pengertian,jenis,dampak, penanggulangan,dll)?


3 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

by okta Anggota sejak: 03 April 2008 Total poin: 15,903 (Tingkat 6)


Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Hai sArAs .... Salam hangat, Semoga bermanfaat INFLASI 1. Pengertian Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggirendahnya tingkat harga. 2.Jenis Inflasi dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% 3.Dampak a. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya

inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. b. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). c. Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. 4. Penyebab Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. 5. Penggolongan Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan : 1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun) 2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun) 3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun) 4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

6. Penanggulangan peran bank sentral sangat berpengaruh Peran bank sentral Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia. DEFLESI 1. Pengertian Dalam keuangan modern, deflasi didefinisikan sebagai meningkatnya permintaan terhadap uang berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat. Teori Jumlah Peredaran Uang (Quantity Theory of Money) didapatkan dari persamaan Fisher sebagai berikut: MV = PT Ket : M : Money Supply atau Persediaan Uang di masyarakat V : Velocity atau kecepatan perputaran uang. P : Average Price Level atau tingkat harga rata-rata. T : Total Number of transactions atau Jumlah Transaksi. 2.Penyebab Jadi dapat disimpulkan bahwa ada empat buah penyebab Deflasi : 1. Menurunnya persediaan uang di masyarakat. 2. Meningkatnya Persediaan Barang

3. Menurunnya permintaan akan barang. 4. Naiknya permintaan akan uang 3. Dampak Deflasi dapat menyebabkan menurunnya persediaan uang di masyarakat dan akan menyebabkan depresi besar (seperti yang dialami Amerika dulu) dan juga akan membuat pasar Investasi (Saham) akan mengalami kekacauan. Dikarenakan harga barang mengalami penurunan, konsumen memiliki kemampuan untuk menunda belanja mereka lebih lama lagi dengan harapan harga barang akan turun lebih jauh. Akibatnya aktivitas ekonomi akan melambat dan memberikan pengaruh pada spiral deflasi (deflationary spiral). Dampak susulan dari melesunya kegiatan ekonomi adalah banyak pekerja yang akhirnya mengalami PHK karena pemiliki bisnis tidak sanggup membayar gaji karyawannya (lha barang tidak laku, mau bayar dari mana?). Dengan demikian pendapatan yang diterima masyarakat menjadi sedikit dan jumlah uang yang beredar di masyarakat semakin berkurang. Dari sisi investasi, deflasi juga mengakibatkan melesunya investasi di sektor riil maupun di lantai bursa. Akibatnya ini akan menambah berat kelesuan ekonomi dikarenakan tidak ada lagi aktivitas bisnis yang berjalan. Deflasi juga dapat menyebabkan suku bunga disuatu negara menjadi nol persen. Lalu diikuti juga dengan turunnya suku bunga pinjaman di bank. Ini memang merupakan langkah paliatif untuk mencegah masyarakat menyimpan uangnya di bank yang dapat membuat peredaran uang semakin kecil. 4. Penanggulangan Cara mengatasi Deflasi Deflasi dapat diibaratkan jatuh sakitnya seseorang karena jarang berolah raga. Apabila seseorang pada dasarnya memiliki kaki normal namun malas menggunakannya, maka ini akan mengakibatkan menyusutnya otot-otot kaki yang jarang digunakan tersebut. Dalam jangka waktu lebih lama orang tersebut akan tidak dapat berjalan sama sekali berhubung otot sudah terlalu lemah untuk digunakan. Apabila keadaan ini justru didiamkan, bukan tidak mungkin akan mengalami kelumpuhan selamanya. Hal ini parallel dengan deflasi. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan melatih kembali otot-otot yang sudah lama tidak digunakan. Meski memakan waktu lama, hal ini adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan kekuatan otot yang melemah. Dengan kata lain untuk mencegah deflasi menjadi krisis ekonomi besar, pemerintah dan semua pihak yang terkait harus bersepakat untuk memulai kembali kegiatan ekonomi yang sempat terhenti karena salah urus tersebut. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang tidak sedikir. Lazim dikatakan oleh para analis eknonomi bahwa deflasi merupakan kondisi krisis

moneter yang sebenarnya tidak memiliki obat yang efektif. Apabila pada inflasi Bank Sentral dapat menaikkan suku bunga untuk menahannya, menurunkan suku bunga bahkan hingga nol persen bukanlah jalan keluar bagi deflasi. Pasalnya ini akan membuat pemasukan pemerintah menjadi nol juga atau bahkan negative. Belum lagi hal ini akan memicu aksi spekulan luar negeri yang dapat menjalankan Carry Trade sehingga nilai uang justru menjadi jatuh. Akibatnya, biaya impor menjadi terbebani sementara ekspor tidak menunjukkan kenaikan signifikan berhubung melemahnya mata uang disebabkan oleh aksi spekulan semata-mata. Cara yang paling lazim digunakan adalah memberikan stimulus ekonomi berupa bantuan likuiditas ke sektor bisnis. Dengan demikian diharapkan kegiatan ekonomi kembali berputar. Pemerintah juga dapat memotong pajak dan meningkatkan belanjanya sendiri untuk menggairahkan perekonomian. Dari sisi Bank Sentral, pemerintah juga dapat meningkatkan peredaran uang di masyarakat dengan membeli surat hutang sektor swasta dan menukarkannya dengan uang tunai. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan memotong suku bunga. Namun seperti dijelaskan di atas, memotong suku bunga bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya tetapi hanya sekedar pengobatan sementara untuk menggairahkan ekonomi dan mengharapkan harga bergerak naik dengan sendirinya.

materi referensi:
References http://web.mit.edu http://www.elliottwave.com http://www.federalreserve.gov http://www.thenation.com http://www.mises.org http://www.inflationdata.com http://en.wikipedia.org

3 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

Bukan jawaban yang benar? Coba Yahoo! Search

Cari di Yahoo! untuk Cari

Pencarian Terkait:

pengertian inflasi adalah pengertian inflasi dan deflasi

Jawaban Lain (2)

by tio Anggota sejak: 26 November 2007 Total poin: 4,505 (Tingkat 4)


o o

Tambah Kontak Blokir

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruhmempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator. Inflasi dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30% 100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun. Penyebab Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga.

Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Penggolongan Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi). Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan : Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun) Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun) Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun) Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun) Mengukur inflasi Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya: Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI). Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barangbarang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering

digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditaskomoditas tertentu. Indeks harga barang-barang modal Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa. Dampak Pekerja dengan gaji tetap sangat dirugikan dengan adanya Inflasi.Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat. Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih

tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Peran bank sentral Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia. Dalam ekonomi, deflasi (bahasa Inggris deflation) adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah.[1] Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar, dimana cara menanggulanginya adalah dengan cara menurunkan tingkat suku bunga.

materi referensi:
Wikipedia
o o

3 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

0% 0 Suara

by JIN DARI TIMUR TENGAH Anggota sejak: 14 Maret 2008 Total poin: 2,134 (Tingkat 3)
o o

Tambah Kontak Blokir

Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga dalam satu periode. Misal Inflasi bulan Januari, Inflasi tahun 2007, dsb. Inflasi berdampak: a. Baik. Dengan adanya inflasi maka produsen memperoleh margin keuntungan sehingga tidak ragu untuk menyetok barang dan belanja modal lainnya. Bank akan menetapkan suku bunga yang cukup tinggi untuk mengimbangi inflasi sehingga banyak orang akan berinvestasi dengan membuka tabungan dan deposito b. Buruk. Inflasi akan menyebabkan nilai uang tidak lagi berarti di masa depan karena akan terus merosot. Inflasi menyebabkan kemiskinan dan membuat yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Orang kaya akan membeli tanah dan properti yang akan terus naik harganya sedangkan orang miskin tidak akan pernah mampu punya rumah atau mobil karena harganya terus naik akibat inflasi. Inflasi tinggi suku bunga tinggi sehingga orang banyak menabung tapi tidak ada yang meminjam. Bank akan kelebihan dana dan mengakibatkan bank bangkrut sehingga tinggal menunggu resesi ekonomi. Inflasi menyebabkan barang langka di pasaran karena orang lebih suka menyimpan barang daripada memegang uang. Deflasi adalah penurunan harga dalam perekonomian di masa waktu tertentu. Dampak : a. Baik, deflasi akan membuat orang menyimpan uang sehingga uang benar-benar dihargai dan jaminan keamanan sosial politik. Orang akan banyak berinvestasi langsung dan ketersediaan barang terjamin. b. Buruk. deflasi akan membuat jatuh nilai properti. Orang lebih suka mendepositokan uangnya di bank atau pasar modal daripada beli properti yang tidak naik. Penanggulangan : Inflasi harus terjadi setiap tahun. Inflasi yang baik sekitar 5% per tahun. Di atas itu berbahaya. Di bawah 5% akan mengakibatkan produsen tutup karena bahan baku yang disetok akan tidak bernilai.

o o

3 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

0% 0 Suara

Temukan di Ekonomi

Mohon bantuan,,,ak. biaya........? Ada yg ngerti ga soal ini? kalo ngerti tolong jawab iia? Apa dampak inflasi bagi perekonomian regional ?please bantu? Apakah bisa permintaan menciptakan penawarannya sendiri?

wikipedia definis inflasi


Sekitar 58,900 hasil

Menampilkan hasil untuk wikipedia definisi inflasi. Atau telusuri wikipedia definis inflasi 1. Inflasi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat ... id.wikipedia.org/wiki/Inflasi - Tembolok - Mirip

2. Kebijakan moneter - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


... antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat ... id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter - Tembolok - Mirip

3. Pengertian Inflasi Wikipedia - IhramSulthan.Com


Untuk menemukan artikel terkait pengertian inflasi wikipedia di IhramSulthan.Com 0 Baca selanjutnya artikel umum pengertian inflasi wikipedia di ... ihramsulthan.com/topik/pengertian%2Bi... - Tembolok - Mirip

4. Kurva Inflasi Wikipedia - IhramSulthan.Com


Untuk menemukan artikel terkait kurva inflasi wikipedia di IhramSulthan. ... ihramsulthan.com/topik/kurva%2Binflas... - Tembolok - Mirip

5. Definisi Inflasi Dan Deflasi - Contoh Makalah di Mina Love


Kumpulan cerita berisi definisi inflasi dan deflasi di MinaLove.com 0. ... deflasi wikipedia bahasa melayu ensiklopedia bebas Dalam ekonomi, ... minalove.com/artikel/definisi%2Binfla... - Tembolok - Mirip

6. A. Pengertian Inflasi Menurut sumber Wikipedia - Blogspot


1 Agu 2010 ... Berikut ini pengertian inflasi yang saya kutip dari wikipedia sebagai bahan pembanding, meskipun secara teoritis tetap sama. ... opinimasding.blogspot.com/2010/08/pen... - Tembolok - Mirip

7. TELAAH SINGKAT PENGENDALIAN INFLASI DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN ...

21 Jul 2010 ... Wikipedia memberikan definisi kebijakan moneter dengan sebuah proses yang ... Adapun definisi inflasi dalam Dictionary of Economics ... salmantotal.staff.fkip.uns.ac.id/2010... - Tembolok - Mirip

8. telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalam-perspekti-kebijakan ...
186 40 Monetary Policy, dalam http://www.wikipedia.com 41 Dictionary of Economics ... Kedua, sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter, definisi inflasi ... www.scribd.com/doc/47466523/telaah-si... - Tembolok - Mirip

9. definisi inflasi doc~4 - Find-Docs.com - Free Documents Search Engine


Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia ... Laju inflasi di Indonesia terkategori ... Definisi tujuan keempat sulit ditegaskan, ... www.find-docs.com/definisi-inflasi-do... - Tembolok - Mirip

10. BHARA CENTRUM: Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan ...


20 Nov 2009 ... Wikipedia memberikan definisi kebijakan moneter dengan sebuah proses yang ... Adapun definisi inflasi dalam Dictionary of Economics ... developmentcountry.blogspot.com/2009/... - Tembolok - Mirip 12345678910Berikutnya

1 http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi

Inflasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

tingkat inflasi di dunia Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Penyebab 2 Penggolongan 3 Mengukur inflasi 4 Dampak 5 Peran bank sentral 6 Lihat pula 7 Pranala luar 8 Referensi

[sunting] Penyebab
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).[rujukan?] Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll. Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.

[sunting] Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi). Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan : 1. 2. 3. 4. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun) Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun) Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun) Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

[sunting] Mengukur inflasi

Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI). Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditaskomoditas tertentu. Indeks harga barang-barang modal Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

[sunting] Dampak

Pekerja dengan gaji tetap sangat dirugikan dengan adanya Inflasi. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau

karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat. Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

[sunting] Peran bank sentral


Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.

Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

[sunting] Lihat pula


Aturan 72 (sebuah aturan "ibu jari" untuk menghitung periode untuk inflasi menyetengahkan harga pembelian dari jumlah tetap) Bank sentral Deflasi Devaluasi Ekonomi Ekonomi mikro Ekonomi makro Inflasi dan perekonomian Indonesia Hiperinflasi Monetarisme Revolusi harga Uang

[sunting] Pranala luar


Arguments for and against inflation and inflation targeting The Inflation Calculator Another Inflation Calculator by the Bureau of Labor Statistics Project Gutenberg Edition of Fiat Money Inflation in France: How ... November 2004 The mechanics of inflation The great government swindle and how it works is one of a series of documents about economics and money at abelard.org Basics of Inflation Tingkat Inflasi Tahunan (Indeks Harga Konsumen)

[sunting] Referensi
1. 2. 3. 4. 5. 6. Barro, Robert J. Macroeconomics Brown, A. World Inflation Since 1950 Case, Karl E. and Fair, Ray C. Principles of Macroeconomics Bureau of Labor Statistics Kieler, Mads The ECB's Inflation Objective George Reisman, Capitalism: A Treatise on Economics (Ottawa : Jameson Books, 1990), 503-506 & Chapter 19 ISBN 0-915463-73-3

7. Murray N. Rothbard, What has government done to our money? ISBN 0945466-10-2. Good introduction to Austrian school's view on money, inflation etc. 1. ^ Ekspektasi kenaikan harga ini antara lain bisa disebabkan adanya
kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan tarif-tarif komoditas yang dikendalikan pemerintah, seperti BBM, listrik, serta ketidaklancaran distribusi barang dan/atau berkurangnya ketersediaan barang atau jasa sebagai akibat mahalnya biaya transportasi atau miniminya infratstruktur yang memadai,

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi" 2 http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter

Kebijakan moneter
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, "margin requirement", kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil. [1] Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar

valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu : [2] 1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar 1. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy) Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain : [3] 1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang. 1. Fasilitas Diskonto (Discount Rate) Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang. 1. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio. 1. Himbauan Moral (Moral Persuasion)

Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian. Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. [4] Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumeninstrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.

[sunting] Lihat pula


Devaluasi mata uang Inflasi Monetary base Kebijakan moneter UE Kebijakan moneter AS Kebijakan moneter Swedia Uang Sistem persediaan internasional

[sunting] referensi
1. ^ http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/kebijakan-moneter-derfinisi-dan.html

2. ^ http://organisasi.org/definisi-pengertian-kebijakan-moneter-dan-kebijakanfiskal-instrumen-serta-penjelasannya

3. ^ http://organisasi.org/definisi-pengertian-kebijakan-moneter-dan-kebijakanfiskal-instrumen-serta-penjelasannya 4. ^ http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Tujuan+Kebijakan+Moneter/

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter" 3 4 5 6 http://opinimasding.blogspot.com/2010/08/pengertian-inflasi-menurut-sumber.html

Minggu, 01 Agustus 2010


A. Pengertian Inflasi Menurut sumber Wikipedia
Berikut ini pengertian inflasi yang saya kutip dari wikipedia sebagai bahan pembanding, meskipun secara teoritis tetap sama. Sebelum saya akan menerangkan pengertian dari definisi teknis mulai dari tahap pencacahan di lapangan, pengawasan/pemeriksaan, editing/coding, pengolahan/data entry, tabulasi tabel IHK (Indeks Harga Konsumen) dan Inflasi, hingga pressrelease atau BRS (Berita Resmi Statistik). Pengertian Inflasi menurut Wikipedia adalah sbb : Inflasi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun. Penyebab Inflasi Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).[rujukan?] Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll. Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan. Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu

kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang. Penggolongan Inflasi Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi). Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan : Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun) Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun) Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun) Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun) Mengukur inflasi Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya: Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI). Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.

Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu. Indeks harga barang-barang modal Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa. Dampak Inflasi Pekerja dengan gaji tetap sangat dirugikan dengan adanya Inflasi. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat. Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk

melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Peran bank sentral Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia. Referensi Barro, Robert J. Macroeconomics Brown, A. World Inflation Since 1950 Case, Karl E. and Fair, Ray C. Principles of Macroeconomics Bureau of Labor Statistics Kieler, Mads The ECB's Inflation Objective George Reisman, Capitalism: A Treatise on Economics (Ottawa : Jameson Books, 1990), 503-506 & Chapter 19 ISBN 0-915463-73-3 Murray N. Rothbard, What has government done to our money? ISBN 0-94546610-2. Good introduction to Austrian school's view on money, inflation etc.

Ekspektasi kenaikan harga ini antara lain bisa disebabkan adanya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan tarif-tarif komoditas yang dikendalikan pemerintah, seperti BBM, listrik, serta ketidaklancaran distribusi barang dan/atau berkurangnya ketersediaan barang atau jasa sebagai akibat mahalnya biaya transportasi atau miniminya infratstruktur yang memadai, Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
Posting by Mohammad Nurdin Diposkan oleh masding di Minggu, Agustus 01, 2010 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz Label: inflasi, inflasi adalah, pengertian, wikipedia

7 http://salmantotal.staff.fkip.uns.ac.id/2010/07/21/telaah-singkat-pengendalian-inflasidalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/

TELAAH SINGKAT PENGENDALIAN INFLASI DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN MONETER ISLAM


2 Comments

Ditulis oleh M. Hatta Tuesday, 13 July 2010 A. Pendahuluan Sebelas tahun sudah Asia Tenggara khususnya Indonesia melewati sebuah peristiwa ekonomi yang telah membuka mata dan pikiran semua pihak betapa rapuhnya bangunan ekonomi yang dibangun. Setelah sebelumnya mendapat julukan sebagai The East Asian Miracle dan macannya Asia (Asian tiger), tidak lama berselang terjadilah guncangan (shock) ekonomi yang berawal dari sisi moneter. Dari sisi nilai tukar (exchange rate), pada tanggal 18 januari 1998 rupiah mencapai puncak kejatuhannya dengan menembus angka Rp. 16.000 per 1 dolar AS . Dari sisi inflasi, angka inflasi mencapai 77,60 % dan PDB -13,20 % . Bagaimana dengan kondisi ekonomi saat ini? Kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2007 secara umum berada dalam tekanan krisis pada sektor properti (kredit macet subprime mortgage) yang terjadi di Amerika Serikat serta melambungnya harga minyak dunia yang mencapai US $100 per barrel dan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Sebagaimana halnya di tahun 2007, kondisi makroekonomi Indonesia pada tahun 2008 masih tetap dalam tekanan krisis subprime mortgage yang masih terus berlanjut di AS bahkan ada kecendungan untuk semakin gawat, berpotensinya harga minyak dunia mengalami kenaikan yang tajam, masih berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia . Serta dikeluarkannya keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM sekitar 28,5 % yang sudah dapat dipastikan berimplikasi kepada kenaikan harga-harga barang .Walaupun kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan stabilitas yang terjaga , faktor-faktor eksternal di atas akan sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar dan pencapaian target inflasi di tahun 2008 ini . Hal ini tentu saja akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sektor riil. Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak stabilnya sektor riil dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim pemerintahan yang berkuasa serta otoritas moneter . Lebih dari itu, ada kecendrungan Inflasi dipandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan terjadi . Hal ini tercermin dari kebijakan otoritas moneter dalam menjaga tingkat inflasi. Setiap tahunnya otoritas moneter senantiasa menargetkan bahwa angka atau tingkat inflasi harus diturunkan menjadi satu digit atau inflasi moderat . Dengan paradigma berpikir seperti itu, otoritas moneter dalam upayanya menyelesaikan permasalahan inflasi cenderung berkutat pada bagaimana menurunkan tingkat inflasi yang tinggi, bukan berpikir bagaimana agar inflasi tidak terjadi . Upaya otoritas moneter mengendalikan iflasi meman sangatlah

beralasan. Terutama disebabkan dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari segi biaya, biaya yang harus ditanggung pemerintah dengan adanya inflasi sangatlah besar . Terjadinya inflasi dapat mendistorsi hargaharga relatif, tingkat pajak, suku bunga riil, pendapatan masyarakat akan terganggu, mendorong investasi yang keliru, dan menurunkan moral . Maka dari itu, mengatasi inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter . Secara empirik, pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari krisis tahun 1997 1998 yang mengakibatkan terganggunya sektor riil. Krisis ini diawali dari krisis di sektor moneter (depresiasi nilai tukar rupiah dengan dolar) yang kemudian merambat kepada semua sektor tanpa terkecuali . Tingkat Inflasi ketika itu sebesar 77,60 % yang diikuti pertumbuhan ekonomi minus 13,20 % . Adapun terganggunya sektor riil tampak pada kontraksi produksi pada hampir seluruh sektor perekonomian. Tahun 1998, seluruh sektor dalam perekonomian (kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih) mengalami kontraksi. Sektor konstruksi mengalami kontraksi terbesar yaitu 36,4 %. Disusul kemudian sektor keuangan sebesar 26,6 % . Inflasi sesungguhnya mencerminkan kestabilan nilai sebuah mata uang . Stabilitas tersebut tercermin dari stabilitas tingkat harga yang kemudian berpengaruh terhadap realisasi pencapaian tujuan pembangunan ekonomi suatu negara, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataan distribusi pendapatan dan kekayaan, perluasan kesempatan kerja, dan stabilitas ekonomi . Sebagaimana disebutkan di atas, kestabilan nilai mata uang sangat penting untuk dijaga yang merupakan cerminan dari inflasi. Maka timbul pertanyaan, bagaimana caranya menjaga kestabilan nilai mata uang kertas sekarang? Sistem moneter dunia kini dikuasai fiat money yang sangat rentan dengan fluktuasi (Volatile) , kecuali beberapa negara yang menggunakan uang dwi-logam (dinar dan dirham) . Implikasi dari dominannya penggunaan fiat money, perjalanan perekonomian dunia senantiasa mengalami pasangsurut. Robert A Mundell, peraih nobel ekonomi, mengatakan ketika masyarakat dunia menggunakan fiat money, maka konsekuensi logisnya, mereka telah memasuki tahapan ekonomi baru: regime of permanent inflation atau inflasi abadi . Hal yang sama juga dikatakan oleh William Cobbet dalam tulisannya yang berjudul Peper Againts Gold (1828). Ia mengatakan bahwa utang nasional dan inflasi adalah anak dari sistem uang kertas . Dalam rangka mengendalikan inflasi dan menjaga stabilnya nilai mata uang, Pemerintah dan otoritas moneter yang ada mengambil beberapa kebijakan baik dari segi moneter, fiskal, maupun sektor riil . Dari segi moneter maka bank sentral akan menaikkan suku bunga dan pengetatan likuiditas perbank-kan, mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebijakan moneter, mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi, memformulasikan respon kebijakan moneter .Dari segi fiskal, pemerintah menerapkan kenaikan prosentase pungutan pajak, mengadakan pinjaman sukarela atau pinjaman paksa, memotong uang, membekukan sebagian atau seluruhnya simpanan-simpanan (deposito) pihak-pihak partikulir (bukan punya pemerintah) yang ada dalam bank-bank, serta penurunan pengeluaran pemerintah . Tampak pada gambar di atas, tindakan BI, Pemerintah, dan Usaha Swasta dalam mengendalikan inflasi hanyalah sebatas menyentuh permasalahan teknis atau gejala (symptom) semata. Sebaliknya, perpaduan kebijakan yang digunakan menimbulkan krisis bertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belum terpecahkan sebagaimana secara jelas dikatakan oleh Samuelson dan Nordhaus. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkan oleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguran secara bersamaan justru menyebabkan efek sampingan yang lebih buruk dari penyakitnya itu sendiri . Ini terjadi dikarenakan obat yang diberikan hanya sebatas menghilangkan penyakit bagian permukaan saja, sementara penyakit bagian dalamnya masih belum disembuhkan . Penyakit bagian dalam yang belum tersentuh oleh perpaduan kebijakan di atas adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dan sistem yang melingkupinya serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uang sebagai alat tukar yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turut diperdagangkan dengan imbalan bunga (interest) . Dari sini dapat disimpulkan bahwa, kehadiran kebijakan moneter alternatif (mata uang yang kuat dan stabil, serta kebijakan moneter yang tidak memunculkan dilema di sektor riil) yang mampu mengendalikan inflasi sudah sangat mendesak dibutuhkan dan segera diaplikasikan. Dalam hal ini, Abdul Qadim Zallum (Pemimpin Ke 2 Hizbut Tahrir) dalam bukunya Sistem Keuangan di Negara Khilafah mengatakan bahwa, sistem moneter yang berbasis kepada emas dan perak merupakan satusatunya sistem moneter yang mampu menyelesaikan problematika mata uang, menghilangkan inflasi besar-besaran yang menimpa seluruh dunia, dan mampu mewujudkan stabilitas mata uang dan stabilitas nilai tukar, serta bias mendorong kemajuan perdagangan internasional . Untuk itu, penulis sangat tertarik untuk meneliti kebijakan moneter alternatif yang mampu mengendalikan inflasi menurut Hizbut Tahrir. Meskipun secara khusus, sebenarnya Hizbut Tahrir tidak pernah membuat konsep moneter Islam baik dalam buku, booklet, leaflet, dan publikasipublikasi resmi Hizbut Tahrir lainnya, namun kebijakan moneter Hizbut Tahrir dapat dihimpun dan dianalisa dari pandangan Hizbut Tahrir tentang dinar & dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing, hokum pertukaran mata uang, hukum riba, hukum pasar modal, hukum perbankan, hukum pertukaran internasional. B. Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam

1. Definisi Kebijakan Moneter dan Inflasi Untuk memudahkan analisa permasalahan pengendalian inflasi dalam perspektif kebijakan moneter Islam, maka penulis terlebih dahulu akan memabahas secara singkat berkaitan dengan dua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yakni kebijakan moneter dan inflasi. Aulia Pohan mengatakan kebijakan moneter (monetary policy) adalah suatu pengaturan di bidang moneter yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara kestabilan nilai uang dan mendorong kelancaran produksi dan pembangunan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat . Hampir senada dengan definisi yang diutarakan Pohan, dalam kamus istilah keuangan dan perbankan kebijakan moneter didefinisikan dengan rencana dan tindakan otoritas moneter yang terkoordinasi untuk menjaga keseimbangan moneter, dan kestabilan nilai uang, mendorong kelancaran produksi dan pembangunan, serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat . Wikipedia memberikan definisi kebijakan moneter dengan sebuah proses yang dilakukan oleh pemerintah, bank sentral, atau otoritas moneter dari sebuah negara untuk mengontrol, penawaran uang, ketersediaan uang, tingkat bunga, dalam rangka mencapai seperangkat tujuan orientasi kepada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Dimana biasanya kebijakan moneter dikenal sebagai pilihan antara kebijakan ekspansi atau kebijakan kontraksi . Definisi ini hampir senada dengan definisi yang diberikan oleh Dictionary of Economics, dimana dikatakan kebijakan moneter adalah suatu instrument kebijakan ekonomi makro yang mengatur penawaran uang, kredit dan tingkat bunga dalam rangka mengendalikan tingkat pembelanjaan atau pengeluaran dalam perekonomian . Definisi kebijakan moneter yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagaimana definisi yang disampaikan oleh Pohan. Definisi ini lebih bersifat netral (tidak memihak kepada salah satu aliran ekonomi yang ada, sebagaimana definisi yang ada pada wikipedia dan kamus Istilah Keuangan dan Perbankan yang lebih dominan kepada aliran moneteris) . Adapun definisi inflasi dalam Dictionary of Economics didefinisikan dengan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu . Samuelson dan Nordhaus dalam buku mereka Macro Economics mendefinisikan inflasi dengan cukup pendek yaitu kenaikan tingkat harga umum . Adapun Bank Indonesia mendefinisikan inflasi dengan kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus . Definisi di atas mendapat kritikan cukup tajam dari mazhab ekonomi Austria. Ekonom dari mazhab Austria mengatakan bahwa definisi inflasi di atas tidak mengambarkan fakta inflasi sesungguhnya, terlebih lagi adalah faktor pemicu inflasi itu sendiri. Definisi di atas hanya sebatas menjelaskan salah satu akibat inflasi . Aliminsyah dan Padji memberikan definisi inflasi sebagai berikut suatu keadaan yang menunjukkan jumlah peredaran uang yang lebih banyak dari pada jumlah barang yang beredar, sehingga menimbulkan penurunan daya beli uang dan selanjutnya terjadi kenaikan harga yang menyolok . Definisi ini hampir senada dengan yang disampaikan oleh Murray N. Rothbard . Terjadinya perbedaan delam mendefinisikan inflasi ini dikarenakan sebagian pakar ekonomi menjelaskan makna inflasi berdasarkan sebab yang menimbulkan inflasi dan sebagian yang lain berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh inflasi . Secara umum, definisi inflasi yang jamak dipakai adalah definisi yang penulis tulis pada bagian pertama . Sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter yang digunakan dalam penelitian ini, maka dalam definisi inflasi penulis menggunakan definisi inflasi yang disampaikan oleh Bank Indonesia. Mengapa penulis menggunakan definisi inflasi yang pertama? Ada dua alasan yang penulis gunakan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, harus kita pahami bahwa sebuah definisi adakalanya berasal dari sebuah konsep tentang nilai yang dalam perumusannya diharuskan merujuk kepada dalil-dalil syari dan adakalanya terkait dengan konsep yang murni berasal dari sebuah fakta . Definisi inflasi sepenuhnya didasarkan pada penelaahan yang cermat (dan tepat) terhadap fakta fenomena perkembangan harga barang dan jasa. Dengan kata lain, definisi inflasi adalah berbicara fakta apa adanya (das sein), bukan berbicara apa yang seharusnya (das sollen) . Dalam hal ini, definisi inflasi kelompok yang ke dua tidaklah menggambarkan fakta apa adanya . Ini sama halnya ketika kita mendefinisikan tentang akal. Akal atau berpikir adalah proses pemindahan fakta melalui indera ke dalam otak disertai dengan informasi sebelumnya yang digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Definisi ini diperoleh dari fakta kegiatan berpikir manusia . Metode telaah seperti inilah yang seharusnya juga diterapkan dalam mendefinisikan fakta tentang inflasi. Kedua, sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter, definisi inflasi kelompok yang ke dua memasukkan unsur besaran jumlah uang beredar sehingga definisi tersebut tidak bersifat netral (mengikuti aliran moneteris). Dengan kata lain, ia hanya memuat salah satu dari penyebab terjadinya inflasi. Padahal secara faktual penyebab inflasi sangatlah beragam sebagaimana yang penulis tuliskan di bawah ini. Secara umum, berdasarkan penyebabnya inflasi terbagi ke dalam 3 macam, yakni: Pertama, tarikan permintaan (demandpull inflation). Inflasi ini timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian. Kedua, dorongan biaya (cosh-push inflation). Inflasi ini timbul karena adanya depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. Ketiga, ekspektasi inflasi. Inflasi ini dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan dan penentuan upah minimum regional . Dalam rangka menjaga

inflasi agar tetap dalam tingkat moderat baik pemerintah (kebijakan fiskal) maupun otoritas moneter (kebijakan moneter) mengambil sejumlah langkah sebagaimana yang telah kami tuliskan pada bagian latar belakang . Bagaimana inflasi dalam perekonomian Islam? Sesungguhnya, apabila inflasi didefinisikan dengan kecendrungan kenaikan harga-harga secara umum, maka akan kita dapati bahwa dalam setiap perekonomian (apakah itu menggunakan sistem ekonomi Kapitalis ataupun Islam) akan senantiasa ditemui permasalahan inflasi. Hanya saja, terdapat perbedaan yang cukup signifikan (baik secara kuantitatif maupun kualitatif) antara permasalahan inflasi yang ada di dalam perekonomian Islam dengan yang ada di dalam perekonomian Kapitalis. Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan itu adalah dikarenakan mata uang yang digunakan dalam perekonomian Islam adalah bimetalik (dinar dan dirham). Dimana dalam diri dinar dan dirham tersebut mempunyai sejumlah keunggulan dibandingkan dengan mata uang kertas yang digunakan pada saat ini. Salah satu keunggulan itu adalah adanya nilai intrinsik (nilai ini tidak terdapat pada fiat money) yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, inflasi yang disebabkan faktor lemahnya mata uang (depresiasi nilai) sebagaimana yang terjadi dalam perekonomian Kapitalis tidak akan terjadi dalam perekonomian Islam . 2. Kebijakan Moneter Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, dalam tulisan ini penulis akan mencoba memberikan deskripsi kebijakan moneter Islam (Perspektif Hizbut Tahrir) dalam mengendalikan inflasi. Setidaknya ada tujuh kebijakan moneter Islam yang menurut penulis dapat mengendalikan inflasi baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu: Dinar dan dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing, hukum pertukaran mata uang, hukum bunga, hukum pasar modal, hokum perbankan, hukum pertukaran internasional, dan otoritas kebijakan moneter. Di bawah ini penulis akan menjelaskan (secara singkat) empat dari tujuh kebijakan moneter di atas dalam kaitannya mengendalikan inflasi. 2.1 Dinar dan Dirham Di atas penulis sudah menjelaskan bagaimana eksistensi dari fiat money yang secara pasti menyebabkan terjadinya inflasi. Lebih dari itu, ia merupakan faktor utama terjadinya inflasi dalam sitem Kapitalisme. Berbeda halnya dalam sistem ekonomi Islam, inflasi yang disebabkan kelemahan dari mata uang relatif cukup kecil kemungkinan terjadinya (kalau tidak bisa dikatakan tidak akan terjadi). 56 dirham dapat mengendalikan inflasi terlebih dahulu harus diketahui kelemahan dari fiat money. Setelah itu dikomparasikan dengan karakteristik mata uang dinar dan dirham.Telah diketahui bahwa, Fiat money memiliki kelemahan yang teramat fatal . Sebaliknya, dinar dan dirham tidaklah memiliki kelemahan sebagaimana yang ditemukan dalam fiat money. Faktor fundamental dari kekuatan dinar dan dirham adalah setaranya antara nilai nominal dengan nilai intrinsik yang terdapat pada mata uang tersebut. Eksistensi nilai intrinsik ini akan secara otomatis menjaga nilai tukarnya terhadap mata uang lain. Sehingga inflasi yang disebabkan lemahnya nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang asing yang berdampak kepada naiknya komoditas impor, output gap, dan ekspektasi inflasi dapat dikatakan tidak akan terjadi . 2.2 Hukum Bunga Pergerakan ekonomi dalam sistem ekonomi konvensional sangat bergantung pada sistem bunga. Begitu pentingnya sistem bunga bagi ekonomi Kapitalisme, maka dalam kebijakan moneter konvensional struktur suku bunga menjadi salah satu instrumen moneter untuk mencapai sasaran akhir (inflasi). Hampir semua sektor ekonomi Kapitalisme terkait dengan system bunga, mulai dari sektor riil terlebih lagi adalah sektor non riil. Sistem bunga mengakibatkan sektor non riil berkembang lebih cepat dibandingkan dengan sektor riil. Hal ini dikarenakan sektor non riil dalam memberikan keuntungan relatif lebih cepat dan besar jumlahnya apabila dibandingkan dengan sector riil. Akibatnya sektor riil mengalami kekurangan darah untuk menggerakkan roda ekonomi. Ketika roda ekonomi sudah berjalan lambat dan bahkan terhenti bisa dipastikan inflasi adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi. Sebaliknya, Islam secara tegas berpendapat bahwa, bunga hukumnya adalah haram . Kalau bunga dalam Islam diharamkan, lalu bagaimana caranya menggerakkan roda ekonomi? Islam menggariskan bahwa, harta yang dimiliki oleh seseorang individu apabila ingin dikembangkan haruslah melewati cara yang memang dihalalkan oleh Allah Swt. Dalam hal ini Islam memberikan tiga pilihan apakah dengan cara usaha mandiri, kerjasama pihak kedua (syarikah), dan kerjasama pihak ketiga (melalui lembaga mediasi Bank Syariah). Dengan kata lain, Islam tidak mengijinkan pengembangan harta melalui perdagangan uang (uang beranak uang) dengan sistem bunga. Kebijakan Islam melarang perdagangan uang ini tentunya akan mencegah uang beredar pada tempat tertentu saja (sektor non riil), sehingga kebutuhan darah (dana) bagi sektor riil dapat terpenuhi. Ketika dana segar bagi sektor riil telah tercukupi maka bisa dipastikan gerak dari roda ekonomi akan berjalan dengan baik dan mencegah terjadinya inflasi . 2.3 Hukum Perbankan Dalam sistem ekonomi Kapitalisme, lembaga keuangan (perbankan) menempati posisi yang sangat menentukan. Melalui lembaga inilah system bunga dapat berjalan dengan baik dan bergerak sangat cepat. Apabila dalam sistem ekonomi Kapitalisme perbankan merupakan suatu keniscayaan. Maka dalam sistem ekonomi Islam (SEI) adalah sebaliknya. Islam memandang pendirian suatu bank adalah mubah (boleh) , hanya saja kegiatan dari perbankan tersebut tetap mengacu kepada ketentuan-ketentuan (dhawabit) syariah. Dengan demikian, apabila eksistensi perbankan dalam sistem ekonomi Kapitalisme cenderung

semakin memperdalam jurang antara sektor riil dengan sektor non riil yang berujung kepada inflasi. Sebaliknya dalam SEI lembaga keuangan yang ada akan membantu atau mendukung pergerakan sektor riil . 2.4 Otoritas Kebijakan Moneter Islam Dalam SEI, otoritas kebijakan moneter dan fiskal tidaklahlah terpisah dengan struktur pemerintahan (lembaga eksekutif) yang ada sebagaimana yang ada pada SEK (sistem ekonomi Kapitalis). Kebijakan moneter dan Fiskal dalam SEI sama-sama berada di bawah departemen Baitul Maal . Sehingga tidak diperlukan lagi koordinasi atau pembahasan apakah otoritas moneter dengan lembaga eksekutif perlu dipisahkan atau tidak untuk mengambil kebijakan moneter. C. Kesimpulan dan Penutup Pada bagian kesimpulan ini penulis tidak hendak mengulang kembali pembahasan singkat yang telah dipaparkan di atas. Melainkan ingin menyampaikan bahwa Islam selain memiliki fikrah (konsep) juga memiliki thariqoh (metode) bagaimana menerapkan konsep yang telah ada tersebut. Lebih dari itu, konsep Islam antara satu dengan yang lainnya salingterkait erat. Oleh karena itu, segala konsep yang diajarkan dalam Islam tidaklah dapat diterapkan secara parsial. Konsep Islam perlu dan harus diterapkan secara kaffah (totalitas). Mana mungkin syariah Islam diterapkan dimana kepemimpinan politiknya berada dalam kungkungan demokrasi Kapitalisme, padahal syariah Islam mengutuk demokrasi??? Dalam konteks ini, mana mungkin kebijakan moneter berbasis syariah dijalankan oleh orang-orang yang menghamba kepada hukum thagut dan antek-antek barat??? Oleh karena itu, kebijakan moneter berbasis syariah yang telah penulis paparkan di atas hanya bisa diterapkan dan dijalankan oleh kepemimpinan yang juga sesuai dengan syariah, yakni Daulah Khilafah Rasyidah. Wallhualam bi ash-shawab Posted in EKONOMI ISLAM 2 Comments Posted by salmantotal

2 Responses to "TELAAH SINGKAT PENGENDALIAN INFLASI DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN MONETER ISLAM"
CECIL says:
September 8, 2010 at 9:36 am

CheapTabletsOnline.Com. Canadian Health&Care.Best quality drugs.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy. High quality pills. Buy pills online Buy:Viagra Super Force.VPXL.Cialis Soft Tabs.Viagra.Soma.Viagra Soft Tabs.Propecia.Viagra Professional.Tramadol.Levitra.Zithromax.Super Active ED Pack.Maxaman.Cialis Super Active+.Viagra Super Active+.Cialis Professional.Cialis.

TYRONE says:
November 11, 2010 at 3:40 pm

NEW FASHION store. Original designers collection at low prices!!! 20 % TO 70 % OFF. END OF SEASON SALE!!!

BUY FASHION. TOP BRANDS: GUCCI, DOLCE&GABBANA, BURBERRY, DIESEL, ICEBERG, ROBERTO CAVALLI, EMPORIO ARMANI, VERSACE

8 http://www.scribd.com/doc/47466523/telaah-singkat-pengendalian-inflasi-dalamperspekti-kebijakan-moneter-islam

T E L A A H S I N G K A T P E N G E N D A L I A N I N F L A S I D A L A M P E R S P E K T I F K E B I J A K A N M O N E T E R I S L A M Oleh: M. Hatta Publikasi: JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS http://www.jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalianinflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/ email: muttaqin [at] jurnal-ekonomi.org

Publikasi: JURNAL

EKONOMI

IDEOLOGIS

http://www.jurnal-ekonomi.org/2008/06/16/telaah-singkat-pengendalianinflasi-dalam-perspektif-kebijakan-moneter-islam/ email: muttaqin [at] jurnal-ekonomi.org

Explore Content Wikipedia Definis Inflasi Dan Inflasi Pengendalian Inflasi Ekspektasi Inflasi Kebijakan Moneter Target Inflasi Hal 1 A. Pendahuluan Sebelas tahun sudah Asia Tenggara khususnya Indonesia 1 melewatisebuah peristiwa ekonomi yang telah membuka mata dan pikiran semuapihak betapa rapuhnya bangunan ekonomi yang dibangun. Setelahsebelumnya mendapat julukan sebagai The East Asian Miracle dan macannyaAsia ( Asian tiger) , tidak lama berselang terjadilah guncangan ( shock ) ekonomiyang berawal dari sisi moneter. Dari sisi nilai tukar ( exchange rate ), padatanggal 18 januari 1998 rupiah mencapai puncak kejatuhannya denganmenembus angka Rp. 16.000 per 1 dolar AS. 2 Dari sisi inflasi, angka inflasimencapai 77,60 % dan PDB -13,20 %. 3 Bagaimana dengan kondisi ekonomi saat ini? Kondisi ekonomiIndonesia pada tahun 2007 secara umum berada dalam tekanan krisis padasektor properti (kredit macet

subprime mortgage ) 4 yang terjadi di AmerikaSerikat serta melambungnya harga minyak dunia yang mencapai US $100 perbarrel 5 dan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. 6 Sebagaimana halnya di tahun 2007, kondisi makroekonomiIndonesia pada tahun 2008 masih tetap dalam tekanan krisis subprimemortgage yang masih terus berlanjut di AS bahkan ada kecendungan untuksemakin gawat, 7 berpotensinya harga minyak dunia mengalami kenaikanyang tajam, 8 masih berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. 9 Serta dikeluarkannya keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBMsekitar 28,5 % yang sudah dapat dipastikan berimplikasi kepada kenaikanharga-harga barang. 10 Walaupun kondisi ekonomi Indonesia masihmenunjukkan stabilitas yang terjaga, 11 faktor-faktor eksternal di atas akansangat mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar dan pencapaian target 1 Indonesia sudah mengalami krisis ekonomi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun1940an (ketika penjajahan jepang), tahun 1965 (disaat ambruknya pemerintahan Bung Karno),ketiga pada tahun 1997 yang lalu. Lihat Wawancara Prof. Sumitro Djojohadikusumo, dalamhttp://www.tempo.co.id/har/ti/juni10-1.htm. Lihat juga Sejarah BI; Moneter, http://www.bi.go.id 2 Ismail Yusanto. Mencari Solusi Krisis Ekonomi. Dalam buku Dinar Emas Solusi KrisisMoneter, cet. I (Jakarta: PIRAC, SEM Institute, Infid, 2001), hal. 3 3 Staf Ahli Menneg PPN Bidang Ekonomi Perusahaan. Pengkajian dan MonitoringPelaksanaan Penyehatan Perbankan, hal. 4 4 Subprime mortgage adalah sebuah fasilitas kredit rumah yang diperuntukkan bagikalangan masyarakat yang kemampuan ekonominya lemah. Oleh karenanya kredit inimempunyai potensi gagal (default)

bayar yang sangat tinggi. Lihat Kajian Stabilitas KeuanganNo. 9, September 2007, hal. 16, http://www.bi.go.id 5 Analisis faktor penyebab naiknya harga minyak dunia bisa dilihat di http://www.hizbut-tahrir.or.id, Soal Jawab Kenaikan Harga Minyak Dunia. 6 Faktor lain yang membayangi kondisi makroekonomi Indonesia adalah tingginya aruscapital inflow yang berjangka pendek ( hot money ). Lihat Ibid., Kajian Stabilitas Keuangan No. 9,September 2007, hal. 3 7 A Tony Prasetiantono. Menuju Jurang Kebangkrutan. http://www.jurnalekonomi.org 8 Kurtubi, Gejolak harga minyak dan APBN 2008. http://www.UNISOSDEM.org. Hal inidiperparah tren tingkat produksi (lifting) minyak cenderung terus menurun akibat lapangan-lapangan minyak yang ada sudah berusia tua sementara penemuan lapangan minyak baru(eksplorasi) semakin minim. Lihat Jurnal al Waie No.92 Tahun VIII, 2008. 9 SEACEN: Krisis Finansial AS Diyakini Tak Mampir ke Asia. http://www.detik.com 10 Akibat Spekulan Harga Minyak Capai Rekor Baru US $ 135. http://www.jurnal-ekonomi.org 11 Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : Bi Rate Tetap 8,0%, No.10/ 8 /Pshm/Humas.http://www.bi.go.id

Hal 2 inflasi di tahun 2008 ini. 12 Hal ini tentu saja akan mengakibatkanterhambatnya pertumbuhan sektor riil.Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak stabilnya sektor riil dariwaktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian sebuah rezim pemerintahanyang berkuasa serta otoritas moneter. 13 Lebih dari itu, ada kecendrunganInflasi dipandang sebagai permasalahan yang senantiasa akan terjadi. 14 Hal ini tercermin dari kebijakan otoritas moneter dalam menjagatingkat inflasi. Setiap tahunnya otoritas moneter senantiasa menargetkanbahwa

angka atau tingkat inflasi harus diturunkan menjadi satu digit atauinflasi moderat. 15 Dengan paradigma berpikir seperti itu, otoritas moneter dalamupayanya menyelesaikan permasalahan inflasi cenderung berkutat padabagaimana menurunkan tingkat inflasi yang tinggi, bukan berpikir bagaimanaagar inflasi tidak terjadi. 16 Upaya otoritas moneter mengendalikan iflasi memang sangatlahberalasan. Terutama disebabkan dampak inflasi terhadap pertumbuhanekonomi. Dari segi biaya, biaya yang harus ditanggung pemerintah denganadanya inflasi sangatlah besar. 17 Terjadinya inflasi dapat mendistorsi harga-harga relatif, tingkat pajak, suku bunga riil, pendapatan masyarakat akanterganggu, mendorong investasi yang keliru, dan menurunkan moral. 18 Makadari itu, mengatasi inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneter. 19 Secara empirik, pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomidapat dilihat dari krisis tahun 1997 - 1998 yang mengakibatkan terganggunyasektor riil. Krisis ini diawali dari krisis di sektor moneter (depresiasi nilai tukarrupiah dengan dolar) yang kemudian merambat kepada semua sektor tanpaterkecuali. 20 Tingkat Inflasi ketika itu sebesar 77,60 % yang diikutipertumbuhan ekonomi minus 13,20 %. 21 Adapun terganggunya sektor riiltampak pada kontraksi produksi pada hampir seluruh sektor perekonomian.Tahun 1998, seluruh sektor dalam perekonomian (kecuali sektor listrik, gas, 12 Ibid., Target Bank Indonesia di tahun 2008 ini inflasi berada pada angka 4,5%. 13 Bambang Kusumanto. Dapatkah Inflasi di Indonesia dijinakkan? Fiskal.depkeu.go.id.Kamis, 24 mei 2007 14 T. Gilarso. Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Makro, cet. IX (Yogyakarta: Kanisius,2002), hal. 398. 15 Pada tahun 1998 triwulan pertama ketika inflasi sebesar 20% maka BI segramengambil kebijakan untuk menaikkan suku bunga sertifikat Bank

Indonesia (SBI) sebesar 15%.Lihat Tony Prasetiantono, Efektivitas Rupiah Superketat, Majalah D&R, 04 April 1998. 16 Riawan Amin, Mengendalikan atau Menghapus Inflasi, 18 Mei 2007,http://www.sebi.ac.id 17 Besarnya biaya disinflasi (kebijakan untuk menurunkan tingkat inflasi) di Amerikapada periode 1980-1984 misalnya telah membebani negara sekitar $ 215 milyar kerugian output(dalam harga 1990) per satuan persentase pengurangan inflasi. Lihat Paul A. Samuelson danWilliam D. Nordhaus. Macro Economics (Makro Ekonomi), cet. XI (Jakarta; Erlangga, 2005), hal.336 18 Ibid., hal. 320. Lihat juga Dictionary of Economics , second edition , alih bahasa olehTumpal Rumapea, Posman Haloho. Penerbit Erlangga, 1994. hal. 303. 19 Undang Undang No. 23 Th. 1999 Tentang Bank Indonesia mengamanatkanpencapaian kestabilan nilai rupiah, khususnya dalam bentuk inflasi, sebagai sasaran akhirkebijakan moneter Bank Indonesia. Conference on Monetary Policy and Inflation Targeting inEmerging Economies. http://www .bi.go.id 20 Ismail Yusanto. Mencari Solusi Krisis Ekonomi, hal. 2 21 Staf Ahli Menneg PPN Bidang Ekonomi Perusahaan. Pengkajian dan MonitoringPelaksanaan Penyehatan Perbankan, hal. 4 Hal 4 dan air bersih) mengalami kontraksi. Sektor konstruksi mengalami kontraksiterbesar yaitu 36,4 %. Disusul kemudian sektor keuangan sebesar 26,6 %. 22 Inflasi sesungguhnya mencerminkan kestabilan nilai sebuah matauang. 23 Stabilitas tersebut tercermin dari stabilitas tingkat harga yangkemudian berpengaruh terhadap realisasi pencapaian tujuan pembangunanekonomi suatu negara, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataandistribusi pendapatan dan kekayaan, perluasan kesempatan kerja, danstabilitas ekonomi. 24

Sebagaimana disebutkan di atas, kestabilan nilai mata uang sangatpenting untuk dijaga yang merupakan cerminan dari inflasi. Maka timbulpertanyaan, bagaimana caranya menjaga kestabilan nilai mata uang kertassekarang?Sistem moneter dunia kini dikuasai fiat money yang sangat rentandengan fluktuasi ( Volatile 25 ), kecuali beberapa negara yang menggunakanuang dwi-logam (dinar dan dirham). 26 Implikasi dari dominannya penggunaanfiat money, perjalanan perekonomian dunia senantiasa mengalami pasang-surut. Robert A Mundell, peraih nobel ekonomi, mengatakan ketikamasyarakat dunia menggunakan fiat money, maka konsekuensi logisnya,mereka telah memasuki tahapan ekonomi baru: regime of permanent inflation atau inflasi abadi. 27 Hal yang sama juga dikatakan oleh William Cobbet dalamtulisannya yang berjudul Peper Againts Gold (1828). Ia mengatakan bahwautang nasional dan inflasi adalah anak dari sistem uang kertas. 28 Dalam rangka mengendalikan inflasi dan menjaga stabilnya nilai matauang, Pemerintah dan otoritas moneter yang ada mengambil beberapakebijakan baik dari segi moneter, fiskal, maupun sektor riil. 29 Dari segimoneter maka bank sentral akan menaikkan suku bunga dan pengetatanlikuiditas perbank-kan, mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalurtransmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebijakan moneter,mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi,memformulasikan respon kebijakan moneter. 30 Dari segi fiskal, pemerintah menerapkan kenaikan prosentasepungutan pajak, mengadakan pinjaman sukarela atau pinjaman paksa,memotong uang, membekukan sebagian atau seluruhnya simpanan-simpanan 22 Deniey Adi Purwanto, Sudahkah Perekonomian Indonesia Keluar dari Krisis? 23 Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id 24

Mulya E. Siregar. Manajemen Moneter Alternatif, dalam Buku Dinar Emas Solusi KrisisMoneter. Cet. I (Jakarta; PIRAC, SEM Institute, Infid, 2001), hal. 88 25 Volatile sama dengan tidak stabil, rentan fluktuasi, atau nilainya gampang mengalaminaik turun secara relatif dibandingkan dengan mata uang lainnya. Lihat M. Lutfi Hamidi. GoldDinar (Sistem Moneter Global yang Stabil dan Berkeadilan), cet. I (Jakarta: Senayan Publishing,2007), hal. 32 26 Negara tersebut adalah Kuwait, Yordania, Tunisia, Bahrain, Iran dan beberapa negaraTimur Tengah lainnya. Lihat, Benny, Pengaruh Penggunaan Mata Uang Berbasis Emas (DinarKuwait) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Kuwait Tahun 1994-2003, Skripsi: STIKER,Yogyakarta, hal. 11 27 A. Riawan. Mengendalikan atau Menghilangkan Inflasi, http://www.sebi.ac.id 28 Tarek El Diwany. The Problem with Interest (Sistem bunga dan Permasalahannya),cet. I (Jakarta: Akbar, 2003), hal. 53 29 Peranan Bank Indonesia Dalam Pengendalian Inflasi, 24 Mei 2007, http://www.bi.go.id 30 Ibid., Hal 5 (deposito) pihak-pihak partikulir (bukan punya pemerintah) yang ada dalambank-bank, serta penurunan pengeluaran pemerintah. 31 Gambar 1. Dilema Kebijakan Pengendalian Inflasi danAkibat Buruk Fiat Money Sumber: Diolah sendiri dari beberapa sumber Tampak pada gambar di atas, tindakan BI, Pemerintah, dan UsahaSwasta dalam mengendalikan inflasi hanyalah sebatas menyentuhpermasalahan teknis atau gejala ( symptom ) semata. 31 M. Manullang. Ekonomi Moneter, cet. XIII (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1993), hal. 93-96

Sumber: Diolah sendiri dari beberapa sumber Tampak pada gambar di atas, tindakan BI, Pemerintah, dan UsahaSwasta dalam mengendalikan inflasi hanyalah sebatas menyentuhpermasalahan teknis atau gejala ( symptom ) semata.

31 M. Manullang. Ekonomi Moneter, cet. XIII (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1993), hal. 93-

Hal 6 Sebaliknya, perpaduan kebijakan 32 yang digunakan menimbulkan krisisbertambah parah. Inilah sebuah dilema yang sampai saat ini belumterpecahkan sebagaimana secara jelas dikatakan oleh Samuelson danNordhaus. Bahkan mereka mengatakan kebijakan atau solusi yang ditawarkanoleh para ahli dalam memecahkan permasalahan inflasi dan pengangguransecara bersamaan justru menyebabkan efek sampingan yang lebih buruk daripenyakitnya itu sendiri. 33 Ini terjadi dikarenakan obat yang diberikan hanyasebatas menghilangkan penyakit bagian permukaan saja, sementara penyakitbagian dalamnya masih belum disembuhkan. 34 Penyakit bagian dalam yang belum tersentuh oleh perpaduankebijakan di atas adalah terkait dengan hakikat mata uang itu sendiri dansistem yang melingkupinya 35 serta penyalahgunaan dari fungsi dasar uangsebagai alat tukar yang bertambah menjadi tidak hanya sebatas sebagai alattukar, melainkan juga menjadi sebuah barang (komoditas) yang turutdiperdagangkan dengan imbalan bunga ( interest ). 36 Dari sini dapat disimpulkan bahwa, kehadiran kebijakan moneteralternatif (mata uang yang kuat dan stabil, serta kebijakan moneter yangtidak memunculkan dilema di sektor riil) yang mampu mengendalikan inflasisudah sangat mendesak dibutuhkan dan segera diaplikasikan.Dalam hal ini, Abdul Qadim Zallum (Pemimpin Ke 2 Hizbut Tahrir)dalam bukunya Sistem Keuangan di Negara Khilafah mengatakan bahwa,sistem moneter yang berbasis kepada emas dan perak merupakan satu-satunya sistem moneter yang mampu menyelesaikan problematika matauang, menghilangkan inflasi besar-besaran yang menimpa seluruh dunia, danmampu mewujudkan stabilitas mata uang dan stabilitas nilai tukar, serta bisamendorong kemajuan perdagangan internasional. 37

Untuk itu, penulis sangat tertarik untuk meneliti kebijakan moneteralternatif yang mampu mengendalikan inflasi menurut Hizbut Tahrir.Meskipun secara khusus, sebenarnya Hizbut Tahrir tidak pernah membuatkonsep moneter Islam baik dalam buku, booklet, leaflet, dan publikasi-publikasi resmi Hizbut Tahrir lainnya, namun kebijakan moneter Hizbut Tahrirdapat dihimpun dan dianalisa dari pandangan Hizbut Tahrir tentang dinar & 32 Di Indonesia, sinergi kebijakan dalam rangka antisipasi inflasi ini dituangkan dalamKeputusan Menteri Keuangan yang menyatakan pengendalian inflasi akan dilakukan dalam suatuforum yang dikoordinasi oleh Menko Perekonomian, yang beranggotakan Menteri Keuangan,Gubernur BI, Menteri Perdagangan, dan menteri-menteri terkait. Pembahasan yang lebih lanjuttentang sinergi kebijakan antara pemerintah dengan otoritas moneter dapat dibaca padaIskandar Simorangkir. Koordinasi Kebijakan Moneter dan Fiskal di Indonesia: Suatu Kajiandengan Pendekatan Game Theory. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, vol. 9, no. 3, Januari2007. 33 Lihat Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Economic Macro (Makro Ekonomi),hal. 322. Dilema kebijakan moneter digambarkan oleh Kwik Kian Gie dengan pernyataan Jangansampai nilai tukar rupiah merosot walaupun sektor riilnya ambruk, Lihat Kwik Kian Gie,Membengkaknya Sertifikat BI. Bisnis Indonesia, 4 maret 2007, dalamhttp://www.UNISOSDEM.org. Ketua Umum Kadin M.S. Hidayat memberikan keterangan perihalbeban besar yang ditanggung BI dalam setahun untuk membiayai bunga dari SBI (sebesar 20triliun) sejatinya dapat meningkatkan sektor riil yang cukup signifikan, lihat Gung Panggodo S,Menanti Trobosan di Sektor Keuangan. Bisnis Indonesia, 5 Maret 2007, dalamhttp://www.UNISOSDEM.org. Ibid., Ryan Kiryanto, Dana di SBI: Sebuah Dilema 34 Pengendalian inflasi dalam perspektif al Quran, http://www.dwicondro.blogspot.com 35 fractional reserve requirement, floating exchange rate, interest 36 Lihat gambar 1. Ismail Yusanto. Mencari Solusi., hal. 3 37 Abdul Qadim Zallum. Sistem Keuangan di Negara Khilafah, cet. I (Bogor: PustakaThariqul Izzah, 2002), hal. 239 Hal 7

dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing, hukumpertukaran mata uang, hukum riba, hukum pasar modal, hukum perbankan,hukum pertukaran internasional. B. Pengendalian Inflasi dalam Perspektif Kebijakan Moneter Islam1. Definisi Kebijakan Moneter dan Inflasi Untuk memudahkan analisa permasalahan pengendalian inflasi dalamperspektif kebijakan moneter Islam, maka penulis terlebih dahulu akanmemabahas secara singkat berkaitan dengan dua variabel yang digunakandalam penelitian ini, yakni kebijakan moneter dan inflasi.Aulia Pohan mengatakan kebijakan moneter ( monetary policy ) adalahsuatu pengaturan di bidang moneter yang bertujuan untuk menjaga danmemelihara kestabilan nilai uang dan mendorong kelancaran produksi danpembangunan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. 38 Hampirsenada dengan definisi yang diutarakan Pohan, dalam kamus istilah keuangandan perbankan kebijakan moneter didefinisikan dengan rencana dan tindakanotoritas moneter yang terkoordinasi untuk menjaga keseimbangan moneter,dan kestabilan nilai uang, mendorong kelancaran produksi dan pembangunan,serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat. 39 Wikipedia memberikan definisi kebijakan moneter dengan sebuahproses yang dilakukan oleh pemerintah, bank sentral, atau otoritas moneterdari sebuah negara untuk mengontrol, penawaran uang, ketersediaan uang,tingkat bunga, dalam rangka mencapai seperangkat tujuan orientasi kepadapertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Dimana biasanya kebijakan moneterdikenal sebagai pilihan antara kebijakan ekspansi atau kebijakan kontraksi. 40 Definisi ini hampir senada dengan definisi yang diberikan oleh Dictionary of Economics, dimana dikatakan kebijakan moneter adalah suatu instrumenkebijakan ekonomi makro yang mengatur penawaran uang, kredit dan tingkatbunga dalam rangka mengendalikan tingkat pembelanjaan atau pengeluarandalam perekonomian. 41 Definisi kebijakan moneter yang digunakan pada penelitian ini adalahsebagaimana definisi yang disampaikan oleh Pohan. Definisi ini lebih bersifatnetral (tidak memihak kepada salah satu aliran ekonomi yang ada,sebagaimana definisi yang ada pada wikipedia dan kamus Istilah Keuangandan Perbankan yang lebih dominan kepada aliran moneteris). 42

Adapun definisi inflasi dalam Dictionary of Economics didefinisikandengan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomianyang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu. 43 Samuelsondan Nordhaus dalam buku mereka Macro Economics mendefinisikan inflasi 38 Aulia Pohan. Potret Kebijakan Moneter Indonesia, cet. I (Jakarta; Rajawali Pers,2008), hal. 11 39 Aliminsyah dan Padji. Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan, cet. II(Bandung:Yrama Widya, 2006), hal. 186 40 Monetary Policy, dalam http://www.wikipedia.com 41 Dictionary of Economics, hal. 416-417 42 Indikasi dari ketidaknetralan tersebut adalah disebutkannya kontrol penawaran uang,tingkat bunga, kebijakan ekspansi dan kontraksi moneter. 43 Dictionary of Economics, hal. 303

Hal 8 cukup pendek yaitu kenaikan tingkat harga umum. 44 Adapun BankIndonesia mendefinisikan inflasi dengan kecenderungan dari harga-hargauntuk meningkat secara umum dan terus menerus. 45 Definisi di atas mendapat kritikan cukup tajam dari mazhab ekonomiAustria. Ekonom dari mazhab Austria mengatakan bahwa definisi inflasi diatas tidak mengambarkan fakta inflasi sesungguhnya, terlebih lagi adalahfaktor pemicu inflasi itu sendiri. Definisi di atas hanya sebatas menjelaskansalah satu akibat inflasi. 46 Aliminsyah dan Padji memberikan definisi inflasi sebagai berikut suatukeadaan yang menunjukkan jumlah peredaran uang yang lebih banyak daripada jumlah barang yang beredar, sehingga menimbulkan

penurunan dayabeli uang dan selanjutnya terjadi kenaikan harga yang menyolok 47 . Definisi ini hampir senada dengan yang disampaikan oleh Murray N. Rothbard. 48 Terjadinya perbedaan delam mendefinisikan inflasi ini dikarenakansebagian pakar ekonomi menjelaskan makna inflasi berdasarkan sebab yangmenimbulkan inflasi dan sebagian yang lain berdasarkan akibat yangditimbulkan oleh inflasi. 49 Secara umum, definisi inflasi yang jamak dipakai adalah definisi yangpenulis tulis pada bagian pertama. 50 Sebagaimana halnya definisi kebijakanmoneter yang digunakan dalam penelitian ini, maka dalam definisi inflasipenulis menggunakan definisi inflasi yang disampaikan oleh Bank Indonesia.Mengapa penulis menggunakan definisi inflasi yang pertama? Ada duaalasan yang penulis gunakan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, haruskita pahami bahwa sebuah definisi adakalanya berasal dari sebuah konseptentang nilai yang dalam perumusannya diharuskan merujuk kepada dalildalilsyari dan adakalanya terkait dengan konsep yang murni berasal dari sebuahfakta. 51 Definisi inflasi sepenuhnya didasarkan pada penelaahan yang cermat(dan tepat) terhadap fakta fenomena perkembangan harga barang dan jasa.Dengan kata lain, definisi inflasi adalah berbicara fakta apa adanya (das sein),bukan berbicara apa yang seharusnya (das sollen). 52 Dalam hal ini, definisiinflasi kelompok yang ke dua tidaklah menggambarkan fakta apa adanya. 53 Ini sama halnya ketika kita mendefinisikan tentang akal. Akal atauberpikir adalah proses pemindahan fakta melalui indera ke dalam otak disertaidengan informasi sebelumnya yang digunakan untuk menafsirkan fakta 44 Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus. Macro Economics , hal. 307 45 http://www.bi.go.id 46

Murray N. Rothbard. What has Government Done to Our Money? (Apa yang DilakukanPemerintah Terhadap Uang Kita?), cet I (Jakarta; Granit, 2007), hal. Xiii-xiv 47 Aliminsyah dan Padji. Kamus Istilah., hal. 370 48 Murray N. Rothbard. What has., . Lihat juga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet IX (Jakarta; Balai Pustaka, 1997), hal. 378. Lihat jugaInflasi, http://www.id.wikipedia.org 49 Ahmad Hasan. Al Auraq Al Naqdiyah Fi Al- Iqtishad Al Islamy (Qimatuha waAhkamuha) (Mata Uang Islami: Telaah Komprehensif Sistem Keuangan Islami) , (Jakarta:Rajawali Pers, 2005), hal. 273-274 50 Kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus 51 Muhammad Shiddiq Al Jawi, Seputar Konsep Syakhsiyah.http:///www.khilafah1924.org 52 Ibid., 53 Memasukkan unsur jumlah uang beredar Hal 9 tersebut. Definisi ini diperoleh dari fakta kegiatan berpikir manusia. 54 Metodetelaah seperti inilah yang seharusnya juga diterapkan dalam mendefinisikanfakta tentang inflasi.Kedua, sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter, definisi inflasikelompok yang ke dua memasukkan unsur besaran jumlah uang beredarsehingga definisi tersebut tidak bersifat netral (mengikuti aliran moneteris).Dengan kata lain, ia hanya memuat salah satu dari penyebabterjadinya inflasi. Padahal secara faktual penyebab inflasi sangatlah beragamsebagaimana yang penulis tuliskan di bawah ini.Secara umum, berdasarkan penyebabnya inflasi terbagi ke dalam 3macam, yakni: Pertama, tarikan permintaan ( demand-pull inflation ). Inflasiini timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dibandingkandengan potensi produktif perekonomian. Kedua, dorongan biaya ( cosh-pushinflation

). Inflasi ini timbul karena adanya depresiasi nilai tukar, dampakinflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatanhargaharga komoditi yang diatur pemerintah ( administered price ), danterjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunyadistribusi. Ketiga, ekspektasi inflasi. Inflasi ini dipengaruhi oleh perilakumasyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking . Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkatprodusen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besarkeagamaan dan penentuan upah minimum regional. 55 Gambar 2Keterkaitan Antar Jenis-jenis Inflasi Sumber: http://www.bi.go.id 54 Muhammad Shiddiq al Jawi, Seputar., 55 http://.www.bi.go.id

54 Muhammad Shiddiq al Jawi, Seputar., 55 http://.www.bi.go.id

hal 10 rangka menjaga inflasi agar tetap dalam tingkat moderat baikpemerintah (kebijakan fiskal) maupun otoritas moneter (kebijakan moneter)mengambil sejumlah langkah sebagaimana yang telah kami tuliskan padabagian latar belakang. 56

Bagaimana inflasi dalam perekonomian Islam? Sesungguhnya, apabilainflasi didefinisikan dengan kecendrungan kenaikan harga-harga secaraumum, maka akan kita dapati bahwa dalam setiap perekonomian (apakah itumenggunakan sistem ekonomi Kapitalis ataupun Islam) akan senantiasaditemui permasalahan inflasi.Hanya saja, terdapat perbedaan yang cukup signifikan (baik secarakuantitatif maupun kualitatif) antara permasalahan inflasi yang ada di dalamperekonomian Islam dengan yang ada di dalam perekonomian Kapitalis.Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan itu adalahdikarenakan mata uang yang digunakan dalam perekonomian Islam adalahbimetalik (dinar dan dirham). Dimana dalam diri dinar dan dirham tersebutmempunyai sejumlah keunggulan dibandingkan dengan mata uang kertasyang digunakan pada saat ini. Salah satu keunggulan itu adalah adanya nilaiintrinsik (nilai ini tidak terdapat pada fiat money ) yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, inflasi yang disebabkan faktor lemahnya matauang (depresiasi nilai) sebagaimana yang terjadi dalam perekonomianKapitalis tidak akan terjadi dalam perekonomian Islam. 57 2. Kebijakan Moneter Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, dalam tulisan ini penulisakan mencoba memberikan deskripsi kebijakan moneter Islam (Perspektif Hizbut Tahrir) dalam mengendalikan inflasi.Setidaknya ada tujuh kebijakan moneter Islam yang menurut penulisdapat mengendalikan inflasi baik secara langsung maupun tidak langsung,yaitu: Dinar dan dirham sebagai mata uang, hukum jual beli mata uang asing,hukum pertukaran mata uang, hukum bunga, hukum pasar modal, hukumperbankan, hukum pertukaran internasional, dan otoritas kebijakan moneter.Di bawah ini penulis akan menjelaskan (secara singkat) empat daritujuh kebijakan moneter di atas dalam kaitannya mengendalikan inflasi. 2.1 Dinar dan Dirham Di atas penulis sudah menjelaskan bagaimana eksistensi dari fiatmoney yang secara pasti menyebabkan terjadinya inflasi. Lebih dari itu, iamerupakan faktor utama terjadinya inflasi dalam sitem Kapitalisme.Berbeda halnya dalam sistem ekonomi Islam, inflasi yang disebabkankelemahan dari mata uang relatif cukup kecil kemungkinan terjadinya (kalautidak bisa dikatakan tidak akan terjadi). 56 Pada halaman 5 dan 6 57 Efek dari depresiasi nilai tukar mata uang akan mengakibatkan efek berantai, yaitumenurunnya nilai rupiah terhadap sejumlah barang yang sifatnya dibutuhkan dunia internasional(komoditi internasional; minyak

misalnya), dan meningkatnya harga bahan baku bagi industridalam negeri yang di dapatkan di luar negeri melalui mitra dagang sehingga mengakibatkannaiknya biaya produksi.

Hal 11 Mengapa demikian? Untuk mengetahui mengapa penggunaan dinardan dirham dapat mengendalikan inflasi terlebih dahulu harus diketahuikelemahan dari fiat money. Setelah itu dikomparasikan dengan karakteristikmata uang dinar dan dirham.Telah diketahui bahwa, Fiat money memiliki kelemahan yang teramatfatal. 58 Sebaliknya, dinar dan dirham tidaklah memiliki kelemahansebagaimana yang ditemukan dalam fiat money. Faktor fundamental darikekuatan dinar dan dirham adalah setaranya antara nilai nominal dengan nilaiintrinsik yang terdapat pada mata uang tersebut.Eksistensi nilai intrinsik ini akan secara otomatis menjaga nilaitukarnya terhadap mata uang lain. Sehingga inflasi yang disebabkanlemahnya nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang asing yangberdampak kepada naiknya komoditas impor, output gap, 59 dan ekspektasiinflasi 60 dapat dikatakan tidak akan terjadi. 61 2.2 Hukum Bunga Pergerakan ekonomi dalam sistem ekonomi konvensional sangatbergantung pada sistem bunga. Begitu pentingnya sistem bunga bagiekonomi Kapitalisme, maka dalam kebijakan moneter konvensional struktursuku bunga menjadi salah satu instrumen moneter untuk mencapai sasaranakhir (inflasi).Hampir semua sektor ekonomi Kapitalisme terkait dengan sistembunga, mulai dari sektor riil terlebih lagi adalah sektor non riil. Sistem bungamengakibatkan sektor non riil berkembang lebih cepat dibandingkan dengansektor riil. Hal ini dikarenakan sektor non riil dalam memberikan keuntunganrelatif lebih cepat dan besar jumlahnya apabila dibandingkan dengan sektorriil.Akibatnya sektor riil mengalami kekurangan darah untukmenggerakkan roda ekonomi. Ketika roda ekonomi sudah berjalan lambat danbahkan terhenti bisa dipastikan inflasi adalah sebuah keniscayaan yang akanterjadi.Sebaliknya, Islam secara tegas berpendapat bahwa, bunga hukumnyaadalah haram. 62 Kalau bunga dalam Islam diharamkan, lalu bagaimanacaranya menggerakkan roda ekonomi?Islam menggariskan bahwa, harta yang

dimiliki oleh seseorangindividu apabila ingin dikembangkan haruslah melewati cara yang memang 58 Lihat gambar 1 59 Output gap (deflationary gap) adalah kesenjangan output atau deflasioner. Maksudnyaadalah penurunan pengeluaran total permintaan agregat (aggregat demand) pada tingkatkesempatan kerja penuh (full employment) pendapatan nasional potensial (potensial GNP).Karena pengurangan beberapa pengeluaran, maka beberapa sumber-sumber ekonomi yang tidakproduktif akan menyebabkan produksi nasional bruto actual (actual GNP) di bawah produksinasional bruto potensial. Dictionary of Economics, hal. 135 dan 469. 60 Inflasi yang disebabkan perilaku ekonomi masyarakat dan pelaku ekonomi (antisipasi)dari kejadian yang akan datang perihal perkembangan ekonomi, yaitu: pembentukan harga ditingkat produsen, dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan danpenentuan upah minimum regional (UMR). Lihat Pengenalan inflasi di Indonesia dalamhttp://www.bi.go.id 61 Lihat gambar 2, keterkaitan antara nilai tukar (rupiah) dengan inflasi komoditas impor 62 Lihat pembahasan lengkap tentang bunga dalam M. Ahmad ad Daur. Bantahan AtasKebohongan-kebohongan Hukum Seputar Riba dan Bunga Bank, cet. I (Bogor: Al Azhar Press,2004).

Hal 12 Dengan kata lain, Islam tidak mengijinkan pengembangan hartamelalui perdagangan uang (uang beranak uang) dengan sistem bunga.Kebijakan Islam melarang perdagangan uang ini tentunya akan mencegahuang beredar pada tempat tertentu saja (sektor non riil), 64 sehinggakebutuhan darah (dana) bagi sektor riil dapat terpenuhi. Ketika dana segarbagi sektor riil telah tercukupi maka bisa dipastikan gerak dari roda ekonomiakan berjalan dengan baik dan mencegah terjadinya inflasi. 65 2.3 Hukum Perbankan Dalam sistem ekonomi Kapitalisme, lembaga keuangan (perbankan)menempati posisi yang sangat menentukan. Melalui lembaga inilah sistembunga dapat berjalan dengan baik dan bergerak

sangat cepat.Apabila dalam sistem ekonomi Kapitalisme perbankan merupakansuatu keniscayaan. Maka dalam sistem ekonomi Islam (SEI) adalahsebaliknya. Islam memandang pendirian suatu bank adalah mubah (boleh), 66 hanya saja kegiatan dari perbankan tersebut tetap mengacu kepadaketentuan-ketentuan ( dhawabit ) syariah.Dengan demikian, apabila eksistensi perbankan dalam sistem ekonomiKapitalisme cenderung semakin memperdalam jurang antara sektor riildengan sektor non riil yang berujung kepada inflasi. Sebaliknya dalam SEIlembaga keuangan yang ada akan membantu atau mendukung pergerakansektor riil. 67 2.4 Otoritas Kebijakan Moneter Islam Dalam SEI, otoritas kebijakan moneter dan fiskal tidaklahlah terpisahdengan struktur pemerintahan (lembaga eksekutif) yang ada sebagaimanayang ada pada SEK (sistem ekonomi Kapitalis). Kebijakan moneter dan Fiskaldalam SEI sama-sama berada di bawah departemen Baitul Maal. 68 Sehinggatidak diperlukan lagi koordinasi atau pembahasan apakah otoritas moneterdengan lembaga eksekutif perlu dipisahkan atau tidak untuk mengambilkebijakan moneter. 69 63 Ismail Yusanto. Analisis Keuangan Bank Muamalat Indonesia Pada Periode KrisisEkonomi Tahun 1998 1999. Program Pascasarjan Sekolah Tinggi Ekonomi IPWI Jakarta, 2000. 64 Lebih dari itu, eksistensi sektor non riil tidaklah diakui dalam Islam. 65 Haramnya bunga juga didukung oleh kebijakan yang lain, yakni diterapkannya hukumzakat. Faktor ini juga sangat signifikan dalam mencegah menumpuknya uang atau hartakekayaan pada orang tertentu saja. 66 Muhammad Husain Abdullah. Dirasat Fi al Fikri al Islami (Studi Dasar-dasar PemikiranIslam), cet. I (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), hal. 217 67

Misalnya bank menjadi perantara antara pemilik modal dan pekerja untuk membentuksyirkah mudharabah dimana bank nantinya akan memperoleh komisi. Ibid., hal. 218. lebih dariitu, dalam SEI dikotomi sektor moneter (non riil) dan riil tidak dikenal. Kalaupun ada sektormoneter maka ia adalah suatu mekanisme pembiayaan transaksi atau produksi di pasar riil. LihatAgustianto. Ke Arah Moneter Syariah (bagian II). 68 Lihat http://www.khilafah.com dan Jaribah bin Ahmad Al Haritsi. Al Fiqh Al Iqtishadi LiAmiril Mukminin Umar Ibn Al Khathab (Fikih Ekonomi Umar bin Al Khathab), Cet. I (Jakarta:KHALIFA, 2006), hal. 339-348. 69 Dalam SEK, diskursus kewenangan moneter apakah berada dibawah koordinasieksekutif atau mutlak menjadi kewenangan bank sentral telah menjadi suatu hal yang teramat

Hal 13 Gambar 3Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter dan Sektor Riil Perspektif Islamdalam Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi C. Kesimpulan dan Penutup Pada bagian kesimpulan ini penulis tidak hendak mengulang kembalipembahasan singkat yang telah dipaparkan di atas. Melainkan inginmenyampaikan bahwa Islam selain memiliki fikrah (konsep) juga memilikithariqoh (metode) bagaimana menerapkan konsep yang telah ada tersebut.Lebih dari itu, konsep Islam antara satu dengan yang lainnya salingterkait erat. Oleh karena itu, segala konsep yang diajarkan dalam Islamtidaklah dapat diterapkan secara parsial. Konsep Islam perlu dan harusditerapkan secara kaffah (totalitas).Mana mungkin syariah Islam diterapkan dimana kepemimpinanpolitiknya berada dalam kungkungan demokrasi Kapitalisme, padahal syariahIslam mengutuk demokrasi??? Dalam konteks ini, mana mungkin kebijakanmoneter berbasis syariah dijalankan oleh orang-orang yang menghambakepada hukum thagut dan antek-antek barat???Oleh karena itu, kebijakan moneter berbasis syariah yang telah penulispaparkan di atas hanya bisa diterapkan dan dijalankan oleh kepemimpinanyang juga sesuai dengan syariah, yakni Daulah Khilafah Rasyidah. Wallhualam bi ash-shawab pelik dan menguras energi banyak pihak. Lebih lengkapnya lihat Ibid., Iskandar SimorangkirKoordinasi Kebijakan Moneter

C. Kesimpulan dan Penutup Pada bagian kesimpulan ini penulis tidak hendak mengulang kembalipembahasan singkat yang telah dipaparkan di atas. Melainkan inginmenyampaikan bahwa Islam selain memiliki fikrah (konsep) juga memilikithariqoh (metode) bagaimana menerapkan konsep yang telah ada tersebut.Lebih dari itu, konsep Islam antara satu dengan yang lainnya salingterkait erat. Oleh karena itu, segala konsep yang diajarkan dalam Islamtidaklah dapat diterapkan secara parsial. Konsep Islam perlu dan harusditerapkan secara kaffah (totalitas).Mana mungkin syariah Islam diterapkan dimana kepemimpinanpolitiknya berada dalam kungkungan demokrasi Kapitalisme, padahal syariahIslam mengutuk demokrasi??? Dalam konteks ini, mana mungkin kebijakanmoneter berbasis syariah dijalankan oleh orang-orang yang menghambakepada hukum thagut dan antek-antek barat???Oleh karena itu, kebijakan moneter berbasis syariah yang telah penulispaparkan di atas hanya bisa diterapkan dan dijalankan oleh kepemimpinanyang juga sesuai dengan syariah, yakni Daulah Khilafah Rasyidah. Wallhualam bi ash-shawab pelik dan menguras energi banyak pihak. Lebih lengkapnya lihat Ibid., Iskandar SimorangkirKoordinasi Kebijakan Moneter