Anda di halaman 1dari 6

1

MENENTUKAN LUAS PLOT MINIMUM (Minimal Area)

1.

TUJUAN PRAKTIKUM Mengetahui luas plot minimum yang perlu dianalisis agar hasilnya dapat mewakili kawasan tersebut. Hasil analisis yang diperoleh dapat dijadikan sebagai patokan/acuan dalam melakukan studi lebih lanjut sesuai dengan tujuan dan parameter yang diinginkan. Tujuan khusus : a. Peserta dapat melakukan tahapan kerja dengan benar dalam membuat plot-plot pengamatan di lapangan. b. Peserta dapat melakukan pencatatan data-data lapangan yang diperlukan secara benar. c. Peserta dapat menganalisis data-data yang diperoleh dan memvisualisasikan dalam bentuk kurva luas plot minimum (minimal area). d. Peserta dapat menghitung/menentukan luas minimum area semak belukar yang perlu dianalisis agar hasilnya dapat mewakili vegetasi tersebut secara keseluruhan.

2.

BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan bahan Peralatan yang diperlukan mencakup peralatan-peralatan kerja lapangan, seperti : parang, tali plastik, dan pancang untuk membuat rintisan dan plot pengamatan, alat-alat tulis, dan perlengkapan kerja.

2.2

Metode Untuk menganalisis vegetasi dengan parameter biologi, yaitu jumlah jenis

suatu tumbuhan menggunakan metode survey dengan teknik pengumpulan data dengan metode plot tunggal.

2.3

Cara kerja

1) Pilih salah satu tempat/lokasi berukuran minimal 20x20 m. Atur posisi kelompok sedemikian rupa agar antara satu kelompok dengan kelompok lainnya tidak saling berselingkupan (overlapping). 2) Buat plot pengamatan pertama berukuran 1x1 m pada pojok kiri di area tersebut, gunakan pancang kayu/besi untuk menandai keempat titik sudutnya. Catat

jumlah jenis tumbuhan (herba, semak, perdu, dan anakan pohon) yang terdapat didalam plot pertama tersebut, catat hasilnya pada tabel. 3) Lakukan perluasan ke sisi sebelah kanan dari plot pertama sejauh 1 m, sehingga plot yang telah diperluas tersebut mempunyai ukuran 2x1 m. Catat jumlah jenis baru yang ditemukan pada plot yang telah diperluas. Hitung jumlah kumulatif jenis yaitu jumlah jenis pada plot sebelumnya ditambah dengan jumlah jenis baru pada plot yang diperluas. Catat hasilnya pada tabel. 4) Lakukan perluasan berikutnya ke sisi depan sehingga plot yang diperluas tersebut berukuran 2x2 m. Catat jumlah jenis baru yang ditemukan dan jumlah kumulatif jenis oada tabel. 5) Lakukan perluasan pada salah satu sisi sehingga luas plot berikutnya menjadi 2x4 m. Hitung jumlah jenis baru dan jumlah kumulatif jenis pada plot keempat tersebut. 6) Lakukan cara yang sama sampai perluasan ke-7 dengan luas plot akhir 8x8 m. Apabila masih memungkinkan, dapat dilakukan perluasan menjadi 8x16 m, 16 x 16 m, 32x16 m, dan seterusnya.

6 3 4 2 Gambar 1. Tata letak plot (nested plot) di lapangan

2.4 Parameter dan Analisis Data 1) Parameter Parameter yang digunakan dalam praktikum ini adalah parameter biologi, yaitu dengan melakukan pencuplikan pada sejumlah area yang diperluas, kemudian mencatat jenis dan jumlah jenis (parameter biologi) yang terdapat pada setiap plot tersebut.

2) Analisis Data Jumlah Jenis Baru = Jumlah jenis baru yang terdapat pada setiap perluasan plot Jumlah Kumulatif Jenis = Jlh jenis baru + jlh jenis pada seluruh plot sebelumnya Penambahan Jenis Baru =

Cara membuat kurva minimal area : Jumlah kumulatif jenis x 10 % Ukuran plot terluas x 10 %

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil praktikum

Tabel 1. Rekapitulasi data hasil pengamatan dalam penentuan luas plot minimum pada suatu komunitas semak Jumlah Ukuran dan Nama jenis Penambahan Penambahan No Kumulatif Luas Plot Tumbuhan Jenis Baru Jenis baru Jenis Spesies 1 3 2 1 1 1m =1m Spesies 2 3 0 Spesies 3 2 3 2 1m =2m2 2 2m =4m2 4 2 m = 8 m2 Spesies 4 Spesies 5 Jeruk Bali Spesies 6 Spesies 7 Jeruk nipis Spesies 8 Bunga putih Spesies 9 ilalang Spesies 10 Spesies 11 Spesies 12 Paku-pakuan 1 2 4 6 33 % 50 %

50 %

4 4 m = 16 m2 8 4 m = 32 m2 8 8 m = 64 m2 16 x 8 m =128 m2 16 x 16 m=256m2

11

22,22 %

13

18,18 %

15

15,3 %

8 9

2 0

17 17

13,5 % 0

18 17 16 15 14 13 Jumlah Jenis 12 11 10 9 8 6 4 3 2 0 1 2 4 8 16 32 2) Luas (m 64 128 256 4 6 Series 1 17

Jumlah jenis Luas plot

: 17 x 10 % = 1,7 : 256 x 10 % = 25, 6

Gambar 2. Grafik luas plot minimum yang diamati

3.2 Pembahasan Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi . Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa veg etasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak co ntoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu dip erhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa veget asi yang digunakan (Agustia, E. W, dkk, 2011). Dari hasil pengamatan pada tabel 1 diatas diperoleh data pada plot yang berukuran 1 x 1 m ditemukan adanya 3 jenis tumbuhan yang tidak diketahui namanya, yaitu Spesies 1, 2, dan 3. Pada plot ke 2 dengan luas 2 x 1 m, hanya ditemukan satu penambahan spesies yaitu Spesies 4. Begitupula pada plot ke tiga dengan luas 2 x 2 m, ditemukan penambahan dua jenis spesies, yaitu Spesies 5 dan tanaman jeruk bali. Dan begitulah seterusnya, yangmana terjadi peningkatan keragaman jenis dari plot pertama hingga plot kedelapan, tetapi pada plot kesembilan dan selanjutnya tidak ada lagi penambahan keanekaragaman jenis tumbuhan. Hal ini disebabkan penyebaran vegetasi tanaman dalam

suatu plot dipengaruhi oleh tanaman yang paling banyak tumbuhnya dalam satu plot tersebut. Menurut Anonimus dalam Asriani, L (2010) luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat . Luas minimun ini ditetapkan dengan dasar jika penambahan luas petak tidak m enyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 5-10% (Oosting, dkk dalam Agustia, E. W, dkk, 2011). Jenis baru hingga plot kedelapan terjadi peningkatan, sedangkan pada plot kesembilan tidak terjadi penambahan jenis baru lebih dari 10 %, maka untuk menentukan luas plot minimum dapat dibuat kurva minimal area dengan menggunakan data luas pada sumbu x dan jumlah jenis pada sumbu Y. Dapat dilihat pada Gambar 2 diatas, terlihat pada grafik tidak terjadi penambahan jumlah spesies dari plot pertama hingga plot kedelapan, yang ditunjukkan oleh menaiknya arah kurva hingga jumlah kumulatif jenisnya bernilai 17. Berdasarkan grafik di atas dapat ditentukan luas minimum yang diperlukan untuk menganalisis vegetasi semak disekitar gedung Laboratorium PMIPA UR dengan ukuran 8 x 4 m2 atau 32 m2. Hal ini dinyatakan pada saat garis mulai mendatar, atau penambahan jumlah jenis tumbuhan tidak lebih dari 10%.

4.

KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan yaitu : 1. Luasan minimum yang dapat mewakili seluruh karakteristik komunitas vegetasi semak yang berada disekitar gedung Laboratorium PMIPA UR dengan ukuran 8 x 4 m2 atau 32 m2. 2. 3. Ada hubungan antara pertambahan luas plot dengan pertambahan jenis spesies. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas petak contoh/plot yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang.

5.

DAFTAR PUSTAKA Agustia, E. W., Asneti, T., Juwilda., Trioktavia, D., dan Tridesianti, S. 2011. Analisis Vegetasi. http://dc360.4shared.com/doc/KfdAkoYy/preview.html. Diakses Rabu, 16 Mei 2012. Anonimus dalam Asriani. 2010. Jumlah Minimum dan Luas Minimum. http://gadisturatea.blogspot.com/2010/04/jumlah-minimum-dan-luasminimum-oleh.html. Diakses Rabu, 16 Mei 2012.