Anda di halaman 1dari 43

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Pendakian ke Gunung Bawakaraeng merupakan ajang untuk mengimplementasikan ilmu kepencinta alaman

BAB II GAMBARAN UMUM GUNUNG BAWAKARAENG


Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai. Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan. Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang. Pada tanggal 26 Mei 2004, terjadi tragedi longsor di kaki Gunung Bawakaraeng, tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong. Musibah longsor ini menewaskan 30 warga dan menimbum ribuan areal sawah dan perkebunan. Eks wilayah longsor tersebut mengakibatkan daerah aliran sungai (DAS) menjadi labil. Setiap musim hujan, lumpur di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke Bendungan Bilibili, bedungan terbesar di Sulawesi Selatan yang ada di Kabupaten Gowa, yang menjadi sumber air baku di Gowa dan Makassar. Lumpur juga mengalir masuk ke Sungai Jeneberang, sungai terbesar di Gowa yang membelah Sungguminasa ibukota Kabupaten Gowa serta membendung Kota Makassar di wilayah selatan. Gunung yang tingginya sekitar 2.705 meter dari permukaan laut ini juga menjadi arena pendakian. Namun, sudah banyak menelan korban akibat mati kedinginan bila mendaki pada musim hujan.

A. TINJAUAN UMUM Gunung Bawakaraeng berdiri dengan ketinggian 2.830m d.p.l, dan berada pada posisi 11956'40" BT dan 0519'01" LS. dan suhu minimum adalah sekitar 17C hingga maksimum 25C. Hutan gunung ini didominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pengunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak ditemui diantaranya Jenis pinus, anggrek, edelweis, paku-pakuan, pandan, cengkeh, santigi, rotan, lumut kerak dan lain sebagainya. Sedangkan untuk jenis fauna yang bisa ditemui antara lain, Anoa, babi hutan, burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang dan lainnya. Gunung ini merupakan darah tangkapan air untuk Kabupaten Gowa, Makassar dan Sinjai. Juga merupakan hulu sungai Jene' berang. Serta merupakan Kawasan Hutan Wisata. Gunung ini juga termasuk kedalam kawasan Hutan Lindung Lompobatang Pada bulan menjelang Idhul Adha, Gunung ini menurut penduduk akan menjadi sangat ramai, karena sebagian kecil masyarakat di kabupaten Gowa percaya, kalau mendaki Gunung bawakaraeng, sama dengan melakukan perjalanan ke Tanah Suci, jadilah istilah Haji Bawakaraeng. Gunung Bawakaraeng yg posisinya sangat dekat dengan laut, juga pada malam hari kota Makassar terlihat begitu indah dari puncak bawakaraeng, ternyata gunung ini menyimpan banyak misteri, dan banyak juga legenda Mistis yg melekat di gunung ini.Dibalik itu, sebagai gunung yg paling sering dikunjungi dan pada bulan - bulan di musim penghujan, kondisi cuaca di gunung ini menjadi sangat buruk dan sering terjadi badai di pegunungan lompobatang. Waktu kunjungan terbaik biasanya di anjurkan pada bulan Mei - September, karena pada bulan tersebut cuaca lumayan baik dan pemandangan alam akan begitu terlihat indah. Gunung ini hanya berjarak 75 km dari Kota Makassar dan menjadikan gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.Rute

PendakianSecara Geografis, Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa, akan tetapi pencapaian menuju puncak gunung ini dapat dilakukan dari dua jalur yaitu, jalur Lembanna yang juga terletak di kabupaten Gowa. Dan jalur satunya adalah jalur Tassoso' yang terletak di Kabupaten Sinjai.JALUR LEMBANNA Lembanna terletak disebelah Utara Laut puncak Bawakaraeng. Daerah ini juga berada tepat dikaki gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 1.400m d.p.l, pada

posisi koordinat 11954'18" BT dan 0515'15" LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani.

B. WISATA ALAM Ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi disekitar gunung Bwakaraeng ini antar lain : 1. Air terjun di wilayah Tassoso' degnan tinggi 50 meter dan terletak pada ketinggian 1.470m d.p.l. Dapat dicapai dengan alan kaki dengan jarak tempuh 5 jam pulang pergi, selain air terjun terdapat juga beberapa goa. 2. Di wilayah Lembanna dijumpai juga sebuah air terjun dengan ketinggian 15 meter dan terletak pada ketinggian 1.514 mdpl dan dapat dicapai dengan jalan kaki. Memakan waktu tempuh sekitar 1 jam pulang pergi. 3. Air Terjun Malino 4. Air Terjun Takapalu 5. Air Terjun Ketemu Jodoh 6. Taman Wisata Hutan MalinoPetaLembar Peta 2010-62 Malakaji

BAB III SISTEMATIKA PERJALANAN


Selasa, 24 November 2009 15.30 wita Sore itu saya memanfaatkan untuk lari lari mengeliling lapangan sepak bola POLESA yang tepat berada di depan MABES MAPATEK STT-Baramuli Pinrang bersama dengan teman yang bernama Fheris. Setelah mengelilingi Lapangan sebanyak 7 (tujuh) putaran akhirnya kami memutuskan untuk istrahat. Dengan keringat yang bercucuran kami duduk melepas lelah. Tiba tiba kanda fauzan (ocang) yang dari tadi menyaksikan kami dari pinggir lapangan mengajak saya untuk mendaki ke gunung Bawakaraeng dalam menyambut idul adha, tanpa berfikir panjang saya pun menyetujui ajakan tersebut, kemudian saya bertanya kita berangkatnya kapan? Katanya besok hari rabu kita sudah berangkat ke Makassar. Dengan demikian sore itu juga saya pulang kerumah untuk memeinta izin kepada orang tua dan mengambil perlengkapan berupa Sleeping Bag (SB) dan jaket tebal. Rabu, 25 November 2009 11.00 wita suasana sekretariat Mapatek tidak seperti biasanya sebab siang itu saya dan Kanda Fauzan lagi sibuk Packing barang untuk kegiatan mendaki gunung Bawakaraeng. 15. 30 wita Setelah semua perlengkapan yang kami butuhkan di secretariat telah kami packing kami pun berpamitan dengan teman-teman di secretariat. 16.25 wita kami berangkat menuju Makassar, sesuai rencana saya naik kendaraan mobil sewa menuju Makassar dan kanda Fauzan menggunakan motor bersama salah satu teman yang kebetulan saat itu akan ke Makassar juga untuk urusan bisnis. Di Makassar kami akan bermalam di rumah kanda fauzan di jalan Rappocini sebelum melakukan pendakian. 20.30 wita sekitar 4 jam perjalanan dari Pinrang akhirnya sampai di Makassar tepatnya di depan salah satu kampus ternama STIMIK Dipanegara, berhubung saya tidak tahu jalan menuju Rumah Kanda fauzan, jadi saat itu saya kemudian menghubungi Aslan ( wakil ketua MAPATEK) yang saat itu kebetulan melakukan Praktek di Kampus UNHAS. Aslan kemudian Muncul dari dalam lorong bersama Budiman (anggota MAPATEK) Dengan mengendarai motor. Mereka kemudian mengantar saya untuk beristirahat di rumah yang mereka tempati sambil menunggu Kanda fauzan. Tak berselang berapa lama kanda fauzan pun tiba kami kemudian melanjutkan perjalanan kerumahnya. Malam itu kami beristirahat untuk persiapan perjalanan esok harinya. Kamis, 26 November 2009 08.00 Pagi yang mendung tidak mengurangi semangat kami untuk mendaki Gunung bawa karaeng. Setelah sarapan pagi kami ke Sekretariat MAHORPALA UNM untuk meminjam Tranggia dan mengajak angghota Mahorpala yang saat itu berada di secretariat untuk ikut mendaki namun karena mereka ingin pulang kekampung halaman masing untuk Lebaran Idul adha di tidak ada yang bisa ikut. Sepulang dari secretariat Mahorpala kami singgah terlebih dahulu membeli ransum/logistik.

11.00 wita setelah selesaii packing ulang barang kami kedalam carrier kemudian berangkat menggunakan motor menuju Desa Lembanna kecamatan Tinggi Moncong kabupaten Gowa dengan ketinggian 1500dpl. Untung siang itu mendung jadi di perjalanan kami tidak kepanasan, Di dalam perjalanan kami singgah untuk membeli baterai untuk kamera digital, naik gunung tanpa kamera bagai makan tanpa lauk, Dengan di bonceng kanda fauzan Sepanjang perjalanan betul-betul saya nikmati apalagi setelah memasuki daerah kecamatan Tinggimoncong yang mulai dingin ditambah hujan gerimis menghiasi perjalanan kami. Memasuki kelurahan Malino yang menjadi salah satu ikon kabupaten Gowa memang betul indah pemandangan mulai dari struktur bangunan yang tertata rapi hingga hutan Pinus yang juga tertata dengan baik menambah keindahan perjalanan kami. 14.00 wita Setelah kurang lebih 3 jam perjalan akhirnya kami sampai didesa kaki gunung bawakaraeng desa Lembanna, kami beristirahat di rumah salah satu masyarakat yaitu Tata SUPU berhubung kedatangan kami disambut hujan dan sudah merupakan kebiasaan sebelum mendaki harus berkonsultasi dengan warga, dari desa Lembanna karakter perjalanan sudah mulai terlihat. 14. 10 Wita Setelah hujan mulai reda kami sudah siap untuk melakukan pendakian, kami berjalan kaki mulai dari rumah TATA SUPU kemudian melewati petak demi petak perkebunan sayur warga setempat. Belum jauh berjalan gerimis kembali turun. Target kami adalah sampai pada Pos 5 dan kami usahakan sampai sebelum gelap. Pendakian menuju pos 1 merupakan hutan Pinus. 14. 45 wita Sampai di pos 1, kami beristirahat sejenak dan mengambil sebuah botol aqua yang tertinggal di pos 1 itu kemudian di isi dengan air bersama dengan botol-botol yang kami bawa, aliran air yang sangat jernih dan dingin mengalir di samping pos 1 sehingga sangat layak untuk camp. Setelah botol-botol telah terisi, perjalanan kami lanjutkan dengan diguyur hujan tetapi tidak begitu keras menemani langkah demi langkah perjalanan kami disertai kabut tipis. Melewati pos 1 terdapat areal yang telah terbakar munkin dilakukan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Sesekali kami beristirahat mengambil nafas yang tesengal-sengal kemudian lanjut lagi, kami tidak singgah di pos 2, 3, dan 4 mengingat kami harus sampai di pos 5 sebelum malam. Sepanjang jalan setapak yang terlewati terkadang terdapat batang pohon yang melintang sakibat tumbang sehingga memerlukan tenaga lebih untuk menyebranginya dengan beban yang cukup berat di pundak. Setelah melewati pos 2, 3, dan 4 beberapa lama kemudian terdapat banyak bongakahan pohon tumbang maupun yang masih berdiri tetapi telah kering akibat pernah terbakar beberapa waktu lalu dan itu menandakan pos 5 telah semakin dekat. 17.05 wita Dengan langkah dan perjalanan yang melelahkan akhirnya sampai juga di pos 5. Tanpa menunggu lama tenda dalam carrier di keluarkan untuk segera dipasang. Setelah tenda terpasang barang-barang dalam carrier semua di keluarkan untuk diamankan dalam tenda dari guyuran hujan. Untuk mencegah masuk angin pakaian basah yang masih melekat di badan kami ganti dengan pakaian kering.

18. 00 wita karena lapar sudah terasa, saya memutuskan untuk segera memasak nasi dan indomie instant. Kami memasak dengan menggunakan Tranggia tepat di depan mulut tenda berhubung di luar masih hujan. Sumber air di pos 5 berada cukup jauh di sebelah kiri jalan setapak, namun kami tidak perlu pusing mencari sumber air, sebab kami bisa memanfaatkan air hujan yang sengaja kami tampung di atas Flysheet untuk di minum atau buat memasak. Sebagai alat penerangan kami menggunakan Head Lamp. 19. 07 wita masakan telah siap saji, cuaca yang cukup dingin sangat pas dengan makanan yang masih hangat, kami berdua pun menyantap makanan yang masih hangat tersebut. Setelah makan malam di lanjutkan dengan memasak air panas untuk membuat teh untuk menghangatkan tubuh dengan menikmati cemilan sambil berbincang bincang mengenai perjalanan tadi yang sangat melelahkan dan rencana perjalanan besok dan hasilnya kami sepakat untuk sampai ke Pos 7. Untuk di ketahui cuaca di Pos 5 kira-kira sekitar 21 derajat celcius, ukuran yang cukup dingin untuk daerah tropis. 20. 30 wita setelah selesai bincang bincang kami memutuskan untuk beristirahat dan tidur, malam itu kami cepat tidur berhubung hujan yang tidak berhenti meskipun tidak keras tetapi membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa di luar tenda. Untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin kami tidur menggunakan jaket dan sleeping bag (SB). 07. 30 wita Pagi itu tidak hujan lagi, namun matahari belum jg menampakkan dirinya karena mendung dan terhalang kabut tebal. Saya segera keluar tenda dan mengambil air hujan yang cukup banyak tertampung di atas flysheet digunakan untuk mengisi botol air minum yang kosong dan keperluan memasak dan cuci peralatan makan yang semalam belu di cuci. 08.15 wita kami memasak kemudian sarapan pagi, menu pagi itu sama dengan yang menu makan malam hanya saja di tambah dengan satu kaleng ikan Sardine sehingga jadi lebih lezat. Selesai sarapan saya menjemur carrier dan semua pakaian yang basah di bawah langit yang cerah namun tanpa panas matahari. Kemudian untuk pertama kalinya kami mengeluarkan kamera untuk berfoto di sekitar pos 5 tersebut. Pemandangan pagi itu benar-benar sangat indah. Sesekali saya berkeliling melihat pemandangan. Kanda Fauzan menunjukkan kepada saya posisi pos 7 yang berada di salah satu puncak yang hanya sesekali terlihat akibat terhalang kabut. Puncang bawakaraeng sendiri tidak dapat terlihat dari pos 5 karena terhalang puncak pos 7. Hingga hari semakin siang kami belum meninggalkan pos 5, bahkan kami sempat berfikir hanya sampai pada pos 5, mengingat cuaca yang kurang bersahabat. Namun niat itu urung kami lakukan dan tetap berharap bisa sampai pada pos 7. Meski hari sudah agak siang tetap saja mendung. 11. 25 wita tiba-tiba saya mendengar seperti suara orang dari bawah, dan benar dugaanku tak beberapa lama muncul 5 orang pendaki menuju kearah kami, sambil memberi salam mereka juga memperkenalkan diri mereka, mereka adalah wartawan dari salah satu TV lokal di Makassar yaitu Fajar TV, ternyata salah satu dari mereka adalah junior kanda fauzan di Universitas Fajar (UNIFA) sehingga kami cepat akrab.

11. 55 wita berselang sekitar 30 menit muncul lagi rombongan 6 orang dari gabungan Tim SAR UNHAS dan SAR Tamalanrea Makassar sehingga jumlah kami di pos 5 saat itu 13 orang yang terdiri dari 3 kelompok. Sambil mereka masak dan makan kami juga membuka tenda kemudian packing barang untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba gerimis pun turun lagi sehingga kami pun berteduh dibawah ponco yang masih terpasang. 13. 00 wita setelah gerimis berhenti kami mengajak rombongan wartawan dari fajar TV untuk melanjutkan perjalanan dan pamit terlebih dahulu tim SAR Gabungan. Sepanjang perjalanan menuju pos 6 kami meninggalkan rombongan wartawan tersebut yang berjalan lebih lambat, disbanding kami yang memang telah beristrahat sejak semalam dan kami berniat menunggu mereka di pos 6. Diantara pos 5 dengan 6 terdapat hamparan bunga edelweiss yang sangat banyak dan saya juga melihat dua buah patok yang merupakan in memorian pendaki yang meninggal saat melakukan pendakian. Antara pos 5 dengan pos 6 merupakan daerah yang terbuka karena wilayah itu pernah terbakar sehinnga bongkahan peponan yang tumbang terdapat dimana mana. Namun kabut yang tebal menghalangi pandangan, jarak pandang terkadang diperkirakan kurang lebih hanya 70 meter. 13. 30 wita kami tiba di pos 6 dan bermaksud beristirahat sejenak sambil menunggu rombongan wartawan yang kami tinggalkan di perjalanan. Namun baru sekitar 30 menit kemudian baru mereka muncul dan ternyata salah satu dari mereka trouble sehingga mereka harus berjalan lambat, beruntung saat itu saat itu rombongan SAR gabungan menyusul sehingga dapat memanfaatkan obat yang mereka bawa. Pos 6 merupakan daerah lembah dan daerah yang sangat rimbun. 14. 15 wita kami meninggalkan Pos 6 mengingat waktu istrahat sudah terlalu lama dan perjalanan masih cukup jauh. Medan dari pos 6 lebih mendaki dari pada pos 5 sehingga terkadang harus memanfaatkan pohon sebagai bantuan. Pohon-pohon yang terbungkus lumut tebal menandakan suhu yang cukup dingin pada daerah ini. Dan yang lebih unik adalah pohon-pohon yang sangat pendek namun diperkirakan sudah sangat berumur tua, tinggi pohon tersebut kira hanya 2-3 meter bahkan ada yang hanya kurang lebih 1 meter saja. Sebelum mencapai Pos 7 terlebih dahulu terdapat puncak Sorabaya dengan ketinggian 2560 mdpl dan perupakan percabangan jalan meuju lembah Ramma. Di tempat ini kami memanfaatkan untuk berfoto karena pemandangan yang cukup indah. 15. 05 wita setelah berjalan kira-kira 100 meter kami tiba di pos 7, kami beristirahat sejenak dan menyusul SAR gabungan tiba di pos 7 momen itu kami manfaatkan untuk berfoto namun kendala kabut memebuat hasil kamera kurang jelas. Tanpa berlama kami semua melanjutkan perjalanan menuju pos delapan dengan jalur menurun namun bukan berarti perjalan lebih mudah sebab disisi kiri merupakan daerah terjal sehingga kami harus berhati-hati, Setelah penurunan kami harus kembali mendaki, jalur ini merupakan jalur yang cukup panjang diantara pos lainnya dan lebih rumit, ini merukan jalur baru pasca longsor sehingga harus di alihkan, yang sebelumnya melalui puncak sorabaya menuju lembah ramma. 17.00 wita sampailah kami di pos 8, kami sempat berfikir untuk melanjutkan ke pos 9 namun niat itu kami urungkan karena masih ada beberapa teman yang belum sampai, setelah semua rombongan SAR gabungan tiba, kami memutuskan untuk camp di pos 8 dengan pertimbangan kondisi air

kemunkinan tidak ada air di pos 9 karena melihat di pos 8 saja air sungai tidak mengalir. setelah sepakat untuk camp di pos 8 kami semua memasang tenda masing-masing. 18. 10 wita setelah tenda terpasang saya dan kanda fauzan mulai memasak nasi dan air panas untuk indomie dan kopi.sumber air di pos 8 adalah sungai namun saat itu tidak mengalir dan hanya terdapat pada kubangan-kubangan, airnya pun agak berwarna kehijau-hijauan karena lumut. Beberapa lama kemudian rombongan dari wartawan fajar TV juga tiba. 19.00 wita kami makan malam dan bersiap untuk beristrahat, namun sebelum beristrahat kami berbincang-bincang dengan ketua SAR UNHAS sambil menikmati makanan ringan dan teh hangat. 20.30 wita saya memutuskan untuk cepat beristrahat mengingat kami juga tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan karena cuaca yang sangat dingin yang mencapai sekitar 15 derajat celcius. Dengan memanfaatkan jaket dan SB sebagai penghangat tubuh saya dapat tertidur dengan nyenyak. Jumat, 27 November 2009 06.30 wita pagi yang cerah membangunkan kami, tanpa berlama-lama kami segera mempersiapkan perlengkapan seadanya saya dan kanda Fauzan bergegas menuju puncak, kami hanya membawa 2 botol air minum dan sedikit makanan ringan, kami meninggalkan barang-barang dan tenda di pos 8 sebab masih ada rekan dari SAR UNHAS yg tetap tinggal untuk menjaga camp, dan ternyata sebagian teman dari SAR gabungan telah lebih dahulu menuju puncak.dan kami pun menyusulnya. Hari itu adalah hari yang berbeda buat saya karena harus merasakan idul adha di gunung tanpa keluarga, setelah berniat lebaran kami mulai jalan menuju puncak dengan melalui pos 9 meskipun tanpa beban berat namun pendakian tetap cukup melelahkan dari pos 9 menuju pos 10 medannya leih sulit lagi namun pemandangan yang begitu indah perlahan menghilangkan rasa lelah di tambah dengan hamparan bunga abadi/edelweis. 07.00 wita kami tiba di puncak dan menemukan rombongan masyarakat yang telah melaksanakan shalat idul adha, mereka berjumlah 17 0rang mereka adalah warga setempat namun menurut informasi dari mereka sudah ada yang turun sekitar 13 orang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke puncak yang di tandai dengan adanya beton sebagai titik tertinggi Bawa karaeng dengan 2830 mdpl yang berada tidak jauh dari camp masyarakat yang telah melaksanakan shalat idul adha di puncak bawa karaeng, titik tertinggi ini juga adalah pos 10 gunung bawa karaeng. Di puncak ini kanda fauzan menghubungi Posko SAR UNHAS di makassar denga menggunakan Handy Talky untuk melaporkan posisi serta situasi di Puncak Gunung Bawa karaeng, setelah itu dilanjutkan dengan berfoto-foto bersama salah satu momen yang tak ingin kami lewatkan. Cuaca di puncak juga cukup cerah. 07.30 wita kami turun dari puncak menuju camp masyarakat untuk mendata dan mencari informasi, menurut mereka puncak bawakaraeng adalah salah satu tempat suci sehingga melaksanakan shalat idul adha di tempat tersebut, namun saat itu tidak ada ritual-ritual yang dilakukan, bahkan acara kurban pun tidak, hanya salah salah satu dari mereka menyatakan bahwa mereka Cuma bisa berkorban

perasaan yang di ucapakan dengan nada bercanda dan dalam bahasa makassar. Mereka juga mengaku dari keluarga tata Rasyid yaitu salah satu orang yang mereka hormati di daerahnya. 08.30 wita kami memutuskan untuk turun dan kembali ke pos 8 berhubung masyarakat jg sudah bersiap untuk pulang. Sebenarnya masih ada pos setelah pos 10 yaitu jalur menuju gunung lompo battang, namun kami tidak memiliki tujuan kesana. Sepanjang perjalanan pulang di lalui dengan medan penurunan. Melewati pos 9 menuju pos delapankami bertemu dengan rombongan wartawan fajar TV yang baru akan menuju puncak. 09.00 wita lebih dahulu. kami tiba di pos 8, saya dan kanda Fauzan sudah mulai Packing barang untuk pulang

09.30 wita Barang telah siap kami berdua pamit dengan rombongan SAR unhas dan SAR Tamalanrea, medan pos 8 ke pos 7 sama sulit ketika dari pos 7 ke pos 8. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan 2 orang pendaki yang tidak lain adalah orang yang kami kenal yaitu yang akrab di Panggil Bang Nevi dan yang satu adalah senior MAPALA STIK Tamalate Makassar. Kanda Fauzan menyempatkan berbincang sejenak sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan. 11.40 wita kami tiba di pos 5 dan memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu waktu shalat jum at berlalu. Waktu istrahat kami manfaatkan untuk menikmati makanan ringan dan minuman yang telah di campur dengan nutrisari sebagai pelepas dahaga. Tiba-tiba muncul seorang masyarakat yg juga turun dari puncak bawakaraeng yang telah melaksanakan shalat idul adha, orang tersebut sempat bertanya kepada kami adakah teman saya yang lewat di jalur ini (dengan bahasa makassar) kanda fauzan menjawab belum ada. Menurut orang tersebut ada 2 orang temannya yang telah jalan lebih dahulu, setelah itu kami menunjukkan jalur menuju desa lembanna kepada orang tersebut. 12.30 wita kami meninggalkan pos 5 dan melanjutkan perjalanan langsung menuju desa lembanna dengan cuaca yang mulai kembali mendung dan kemunkiinan akan turun hujan. 13.15 wita sekitar 45 menit berjalan kami telah berada di antara pos 4 dan pos 3, kami merasa seperti ada yang mengukuti kami, ketika menoleh kebelakang kami melihat 2 orang, untuk itu kami memutuskan untuk singgah, ketika orang tersebut mendekati kami mereka menanyakan 3 temannya. Kami menjawab bahwa baru 1 orang yang turun melalui jalur ini, setelah berbincang dan mempelajari masalahnya masalahx kami menyimpulkan bahwa kedua temannya yang mereka cari turun melalui puncak sorabaya menuju lembah ramma, dan 3 masyarakat yang melulai jalur ini adalah kesasar, sehingga kami menyarankan untuk tetap turun melalui desa lembanna, nanti di desa lembanna mereka menggunakan pete-pete menjuju desa mereka. 13.30 wita kami berjalan bersama dengan kedua masyarakat yang kesasar tersebut menuju desa lembanna, namun ketika tiba di pesimpangan jalan yaitu jalan lain menuju lembah ramma kami sarankan untuk memilih jalur, namun mereka memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan bersama kami, dengan pertimbangan jalur menuju lembah ramma cukup jauh, sedangkan untuk mencapai desa lembanna menyisakan waktu perjalanan kurang lebih 1 jam lagi.

14.30 wita kami tiba di pos 1, kami beristrahat sejenak untuk minum, kami menunjukkan jalan yang harus dilalui kepada kedua masyarakat yang bersama kami untuk berjalan lebih dahulu dan kemudian kami mengikuti dari belakang. Tidak lama kemudian hujan mulai turun. Berada di hutan pinus dan melihat perkebunan masyarakat bertanda kami sudah akan masuk desa lembanna. Dengan di guyur hujan kami berjalan di antara petak-petak perkebunan masyarakat yang membentang luas dan menghijau. 15.30 wita akhirnya kami tiba di desa lembanna dan rumah salah satu masyarakat yang bernama Tata Supu. Mereka menyambut kami dengan sangat ramah bahkan mereka menyuguhkan makan siang untuk kami. Kami beristirahat di rumah Tata supu sambil menunggu hujan reda untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota makassar. 16. 15 wita karena hujan sudah reda, kami meninggalkan rumah Tata Supu menuju kota makassar dengan menggunakan kendaraan bermotor, saya sempat berfikir untuk membeli bunga edelweis di Malino namun keputusan tersebut saya urungkan, ketika memasuki kota makassar ban motor kami bocor sehingga harus segera di tambal di bengkel. 18.05 wita setelah ban motor telah selesai di tambal kami pelanjutkan perjalanan menuju rumah kanda Fauzan 18.30 wita kami tiba dirumah kanda fauzan, saya langsung mandi kemudian memasak untuk makan malam, lucunya saya memasak masih menggunakan Trangia yang harusnya di gunakan saat di gunung. Kemudian makan malam dan istrahat.

07.00 wita kami bangun dan sarapan pagi kemudian berangkat menuju Sekretariat MAHORPALA UNM untuk mengembalikan Trangia, namun karena secretariat lagi kosong kami memutuskan untuk mencari tempat Bordir untuk menyulam lambang SAR bahkan saya masuk ke Mall Panakukang dengan menenteng Trangia sebenarnya malu juga sih tapi kata kanda Fauzan cuek saja. 11.45 wita setelah berkeliling kota makassar kami kembali kerumah kanda fauzan untuk bersiap pulang ke pinrang. Dan trangia kami titipkan pada salah satu Mahasiswa UNM untuk di sampaikan kepada Pengurus Mahormala UNM. 13. 50 wita kami meninggalkan rumah kanda Fauzan menuju pinrang, beruntung siang itu cuaca tidak panas hanya tampak mendung bahkan di perkirakan akan turun hujan namun sepanjang perjalanan tidak turun hujan. Ketika tiba di pelabuhan pare-pare kami singgah membeli es teller untuk melepaskan dahaga setelah perjalanan panjang melewati kabupaten demi kabupaten yang jalanananya masih dalam tahap pekerjaan dan sangat menguras tenaga. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan kembali. 17.30 wita kami tiba di secretariat MAPATEK sebelum adzan maghrib berkumandang, rasa capek dan lelah sangat terasa sehingga kami ingin cepat-cepat untuk beristirahat. Sampai disinilah sekilas perjalanan kami..

RINCIAN ANGGARAN BIAYA PENDAKIAN 1430 H BAWAKARAENG 2830 mdpl

Perlengkapan 1. 2. 3. 4. Spritus 1 Bks @ Rp. 12.000,Lilin 1 Pack @ Rp. 5.000,Batteray Alkaline 2 bh @ Rp. 5000,Korek Gas 1 bh @ Rp. 1.000,= Rp. 12.000 = Rp. 5.000 = Rp. 10.000 = Rp. 1.000

Konsumsi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Mie Instant 10 bks @ Rp. 1.500,Kopi susu 4 sachet @ Rp. 1.000,Susu coklat 4 (sachet) @ Rp. 1.000,Nutrisari 6 (enam sachet) @ Rp. 500,Teh celup 1 Pack @ Rp. 5.000 Rokok malrboro 1 (satu) bks @ Rp. 9.000,wafer coklat 5 bks @ Rp. 1.000,Roti 4 bh @ Rp. 1.000 Ikan sardine 3 kaleng @ Rp.2.500 Telur asin 3 Bh @ 1.500 = Rp. 15.000,= Rp. 4.000,= Rp. 4.000,= Rp. 3.000 = Rp. 5.000,= Rp. 9.000 = Rp. 5.000,= Rp. 4.000,= Rp. 7.500,= Rp. 4.500,-

TRANSPORTASI 1. Ongkos mobil panther Pinrang Makasaar 2. Beli bensin Motor = Rp. 40.000,= Rp. 30.000,-

Gunung Bawakaraeng
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari

Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.

Daftar isi
[sembunyikan] 1 Mitos 2 Tragedi longsor 3 Lihat pula 4 Catatan kaki

[sunting] Mitos
Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.

[sunting] Tragedi longsor


Pada hari Jumat, tanggal 26 Maret 2004 sekitar pukul 14.00 WITA, terjadi tragedi longsor di kaki Gunung Bawakaraeng, tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong [1]. Musibah longsor ini menewaskan 30 warga dan menimbum ribuan areal sawah dan perkebunan. Eks wilayah longsor tersebut mengakibatkan daerah aliran sungai (DAS) menjadi labil. Setiap musim hujan, lumpur di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke Bendungan Bilibili, bedungan terbesar di Sulawesi Selatan yang ada di Kabupaten Gowa, yang menjadi sumber air baku di Gowa dan Makassar. Lumpur juga mengalir masuk ke Sungai Jeneberang, sungai

terbesar di Gowa yang membelah Sungguminasa ibukota Kabupaten Gowa serta membendung Kota Makassar di wilayah selatan. Gunung yang tingginya sekitar 2.705 meter dari permukaan laut ini juga menjadi arena pendakian. Namun, sudah banyak menelan korban akibat mati kedinginan bila mendaki pada musim hujan.

Gunung Bawakaraeng (2830M DPL)

Gunung Bawakaraeng berdiri dengan ketinggian 2.830m d.p.l, dan berada pada posisi 1195640 BT dan 051901 LS. dan suhu minimum adalah sekitar 17C hingga maksimum 25C. Hutan gunung ini didominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pengunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak ditemui diantaranya Jenis pinus, anggrek, edelweis, paku-pakuan, pandan, cengkeh, santigi, rotan, lumut kerak dan lain sebagainya. Sedangkan untuk jenis fauna yang bisa ditemui antara lain, Anoa, babi hutan, burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang dan lainnya. Gunung ini merupakan darah tangkapan air untuk Kabupaten Gowa, Makassar dan Sinjai. Juga merupakan hulu sungai Jene berang. Serta merupakan Kawasan Hutan Wisata. Gunung ini juga termasuk kedalam kawasan Hutan Lindung Lompobatang. Gunung Bawakaraeng yg menurut masyarakat sekitar punya arti Bawa = Mulut dan karaeng = Tuhan, kalau diartikan menjadi Gunung Bawakaraeng = Gunung Mulut Tuhan, termasuk kedalam wilayah kawasan Hutan Lindung Lompobatang. Pada bulan menjelang Idhul Adha, Gunung ini menurut penduduk akan menjadi sangat ramai, karena sebagian kecil masyarakat di kabupaten Gowa percaya, kalau mendaki Gunung bawakaraeng, sama dengan melakukan perjalanan ke Tanah Suci, jadilah istilah Haji Bawakaraeng. Gunung Bawakaraeng yg posisinya sangat dekat dengan laut, juga pada malam hari kota Makassar terlihat begitu indah dari puncak bawakaraeng, ternyata gunung ini menyimpan banyak misteri, dan banyak juga legenda Mistis yg melekat di gunung ini. Dibalik itu, sebagai gunung yg paling sering dikunjungi dan pada bulan bulan di musim penghujan, kondisi cuaca di gunung ini menjadi sangat buruk dan sering terjadi badai di pegunungan lompobatang. Waktu kunjungan terbaik biasanya di anjurkan pada bulan Mei September, karena pada bulan tersebut cuaca lumayan baik dan

pemandangan alam akan begitu terlihat indah. Gunung ini hanya berjarak 75 km dari Kota Makassar dan menjadikan gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.

Rute Pendakian

Secara Geografis, Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa, akan tetapi pencapaian menuju puncak gunung ini dapat dilakukan dari dua jalur yaitu, jalur Lembanna yang juga terletak di kabupaten Gowa. Dan jalur satunya adalah jalur Tassoso yang terletak di Kabupaten Sinjai. JALUR LEMBANNA

Lembanna terletak disebelah Utara Laut puncak Bawakaraeng. Daerah ini juga berada tepat dikaki gunung Bawakaraeng dengan ketinggian 1.400m d.p.l, pada posisi koordinat 1195418 BT dan 051515 LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 2.034mm/tahun dengan suhu udara minimum 15C dan maksimum 20C. umumnya penduduknya ber etnik Makassar atau penduduk asli, dan umumnya rumahnya bersedia digunakan untuk bermalam. Desa yg termasuk dalam kecamatan Tinggi Moncong, kabupaten Gowa, lebih dikenal dengan daerah Wisata Malino.Masyarakat desa Lembana ini sangat ramah dan bersahabat, banyak pendaki yang menginap gratis di rumah penduduk sebelum mendaki, Tiap akhir pekan tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh Pendaki yang ingin mendaki gunung Bawakaraeng ataupun orang yang hanya sekedar santai menikmati hari libur dikaki gunung Bawakaraeng. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut:

Makassar> Sungguminasa> Malino> Lembanna> Puncak Gunung Bawakaraeng

Jika datang dari Makassar atau dari Luar pulau sulawesi, naik angkutan Kota menuju ke Terminal Gowa, atau bisa juga Turun di perempatan Sunggu Minasa, Jalan arah ke Malino. Dari sini, Naik Angkutan Pedesaan jurusan Malino, waktu tenpuh kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Biasanya Sopir angkutan sudah hafal, kalau ada pendaki yg akan mendaki Bawakaraeng, Sopir Angkutan akan mengantar sampai ke Desa lembanna. Desa terakhir di kaki gunung Bawakaraeng. Tariff per Orang Rp. 8000. para pendaki pada umumnya bermalam terlebih dahulu di Desa lembanna, yg punya ketinggian 1400 Mdpl, baru keesokan paginya pendakian dimulai. Atau bisa juga melakukan pendakian pada Malam hari. Desa Lembanna

Pendakian dimulai dari Desa Lembanna, medannya berupa perkebunan penduduk lalu mulai masuk pintu Hutan Pinus dan untuk mencapai Pos 1 dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan. Pos 1

Dari Pos 1 yg ketinggian mencapai 1650 mdpl, pendakian terus landai hingga mencapai Pos 2, diperlukan waktu tak lebih dari 1 jam perjalanan, disini tersedia mata air yg mengalir.

Pos

Perjalanan belum terlalu mendaki, masih landai dan mulai masuk vegetasi hutan khas sulawesi, waktu tempuh tak berbeda dengan dari Pos 1 ke Pos 2, Pos Di pos 3 juga tersedia mata air dan bisa mendirikan Tenda. Pos 4 3

Pos 4 di tempuh dalam waktu lebih dari 1 Jam perjalanan dan perjalanan di lanjut hingga Pos 5, di pos 5 terdapat mata air, hanya saja lumayan jauh. Biasanya I Pos 5 digunakan untuk bermalam. Pos 5

Dari Pos 5, perjalanan mulai mendaki dan sepanjang perjalanan akan melewati Pohon-pohon yg tumbang karena dari Pos 5 6, hutannya habis terbakar, kalau mendaki malam hari sebaiknya berhati-hati, karena disini biasanya pendaki sering tersasar, karena jalur tak begitu terlihat. Pos 6

Ketika tiba di Pos 6, perjalanan masih melalu hutan yg lumayan lebat, perjalanan terus melandai dan mulai mendaki dan hutan mulai menghilang berganti vegetasi hutan yg berbeda dan setelah 2 jam perjalanan, akan tiba di Pos 7, yg punya ketinggian 2710 mdpl. Pos Di Pos 7 pemandangan sangat indah dan lumayan terbuka. Dipos 7 inilah yg sering terjadi badai. Pos 8 7

Dari Pos 7 menuju Pos 8, jalur mulai naik turun, di sepanjang jalur ini terdapat 2 kuburan dan ada pula In-memoriam pendaki yg tewas, setelah melewati 2 bukit yg punya ketinggian rata-rata 2700 mdpl, jalur akan menurun dan Tiba di Pos 8, disini tersedia mata air, dan biasanya pendaki bermalam disini baru keesokan paginya menuju puncak Bawakaraeng. Pemandangan rumput savana dan puncak bawakaraeng terlihat dari pos 8 ini, suhu pada malam hari antara 8-10 derajat. Pos 9

Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, di pos 9 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Pos 10

Pos 10 adalah Puncak Bawakaraeng. Untuk mencapai puncak bawakaraeng, tidak lah terlalu sulit, walaupun sedikit mendaki. Setelah menempuh kurang lebih jam perjalanan, maka akan tiba di Puncak Bawakaraeng. Sebaiknya sebelum menuju puncak perhatian kondisi alam di puncak, terkadang angin bertiup lumayan kencang.

Rute alternative bisa juga menggunakan jalur lintas, yaitu melewati lembah Rama, dari Pos 1 ada percabangan jalan, ambil jalur kanan dan tembuh di Pos 8, jalur ini lumayan panjang dan melewati lembah yg lumayan luar, bisa melihat Air Terjun Taka Palu yg punya ketinggian 50 meter. Rute Alternative lintas LompoBatang, Pendakian bisa juga lintas ke Gunung LompoBatang melalui puncak bawakaraeng dan Turun di Kabupaten Gowa, menurut informasi dibutukan waktu 3 hari perjalanan. JALUR TASSOSO

Dusun Tassoso terletak disebelah Timur Laut puncak Gunung Bawakaraeng. Daerah ini yang berda tepat dibawah kaki gunung ini dan berada pada ketinggian 1.320m d.p.l, pada posisi koordinat 1195838 BT dan 055855 LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 78.7mm/tahun dengan suhu udara minimum 15C dan maksimum 27C. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut: Makassar> Sinjai Barat (Manipi)> Gunung Perak (Tassoso)> Puncak Gunung Bawakaraeng Keadaan Puncak

Ketika tiba dipuncak Bawakaraeng, pemandangan di puncak ini termasuk yg paling bagus di sulawesi, tak heran setiap minggu gunung ini ramai di daki oleh para pendaki yg umumnya datang dari Sulawesi selatan, juga dari propinsi lainnya. Terdapat Sumur yg dikeramatkan oleh masyarakat, biasanya mereka mengambil air dari sumur tersebut untuk di bawapulang, juga terdapat batu yg biasa digunakan untuk sesajen. Luas puncaknya kurang lebih 100 m2, pemandangan Laut dan Kota Makassar di arah barat, di arah Timur Awan terlihat tebal dan terdiam menggumpal, di arah selatan terlihat Gunung Bulusaraeng dan arah selatan, adalah Gunung LompoBatang 2871 mdpl, bisa dilintasi lewat Gunung Bawakaraeng. Waktu tempuh untuk pendakian Gunung Bawakaraeng, kalau diratarata dari Desa Terakhir kira-kira 6 8 jam perjalanan. Perijinan

Tidak ada perijinan yang berbelit-belit untuk mendaki gunung ini, hanya perlu melapor ke kepala desa setempat dan untuk lebih baiknya menyertakan surat jalan yang dilampiri data lengkap para pendakinya. Porter

Keberadaan

Didesa lembanna, kebanyakan penduduk bersedia untuk mengantar dan sekaligus menjadi Porter, hanya saja tak ada Tempat Menarik Ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi disekitar gunung ini antar lain: Air terjun di wilayah Tassoso degnan tinggi 50 meter dan terletak pada ketinggian 1.470m d.p.l. Dapat dicapai dengan jalan kaki dengan jarak tempuh 5 jam pulang pergi, selain air terjun terdapat juga beberapa goa. tariff yg jelas. Tergantung kesepakatan.

Di wilayah Lembanna dijumpai juga sebuah air terjun dengan ketinggian 15 meter dan terletak pada ketinggian 1.514m d.p.l dan dapat dicapai dengan jalan kaki. Memakan waktu tempuh sekitar 1 jam pulang pergi.

Air Terjun Malino Air Terjun Takapalu Air Terjun Ketemu Jodoh Taman Wisata Hutan Malino

Gunung Bawakaraeng Selayang pandang

Oleh : Nevy Jamest jika tumpukan maka tumpukan anda bebatuan, anda tulang berpikir tanah menempatkan belulang, bahwa dan diri daging gunung pepohonan anda dan tak hanyalah yang lebih darah sekedar tinggi; dari saja

(IAndi Ributtatoayya).

I.

Pendahuluan

Gunung Bawakaraeng merupakan suatu tempat yang memiliki ketinggian 2883 m dpl (diatas permukaan laut) dengan letak geografis pada 119 56 40 BT ; 0519 01 LS ; dan berada dalam wilayah administrasi kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Saat ini, nama Gunung Bawakaraeng lebih dikenal dalam aktivitas kepencintaalaman / kepetualangan, geologi, dan tradisi budaya / ritual mistis (intensitasnya telah berkurang).

Pembicaraan mengenai Gunung Bawakaraeng memuncak saat terjadinya bencana alam / peristiwa longsor (lebih tepat disebut patah dan jatuh) di badan gunung tersebut dengan material buangan 300 juta meter kubik pada 26 maret 2004.

Peristiwa alam tersebut menjadi perhatian dunia internasional karena merupakan peristiwa longsor terbesar (dilihat dari jumlah buangan material) yang pernah ada di muka bumi. II. Pengertian

1.

Nama

Bawakaraeng

Bawakaraeng adalah suatu nama / istilah dari bahasa Makassar , yakni ; Bawa memiliki arti : ucapan (mulut) dan Karaeng menunjukkan arti : suatu predikat yang dihormati / yang dihargai (raja); atau secara harfiah berarti mulut raja; sehingga istilah Bawakaraeng secara maknawiah menjelaskan bahwa kehormatan seseorang atau nilai diri (harga diri) seseorang terletak pada ucapannya (mulutnya).

Hingga saat ini belum ditemukan suatu catatan yang menjelaskan (sejak kapan dan latar belakang) mengenai penempatan nama Bawakaraeng pada sebuah Gunung (yang ada saat ini), meskipun dapat dimengerti bahwa kebiasaan pemberian nama pada suatu tempat, umumnya berdasarkan riwayat kejadiannya.

Selain

Bawakaraeng,

terdapat

sebutan

predikat

lain

bagi

tempat

(Gunung)

tersebut,

yakni

Buttatoayya (dari bahasa Makassar); Butta berarti Tanah; Toa berarti Tua; dan Ayya menunjukkan (kata) sifat; sehingga secara harfiah Buttatoayya berarti Tanah yang memiliki sifat yang Tua; atau secara maknawiah Buttatoayya menegaskan sebagai suatu tempat (yang tinggi) yang dituakan (bukan tua secara geologis) karena telah dipilih / disepakati oleh para wali / para karaeng / kaum suci (Islam) sebagai tempat untuk berdoa (bersembahyang) dan bertemu untuk membicarakan kebaikan.

Predikat sebagai Buttatoayya lalu didudukkan pada sebuah Gunung yang diberi nama Bawakaraeng. Predikat Buttatoayya lebih dipahami oleh pelaku tradisi budaya / ritual mistis atau mereka yang sangat mendalami kedudukan Bawakaraeng.

2.

Geologis

Gunung

Bawakaraeng

(sekilas)

Gunung merupakan suatu wilayah / tempat (morfologi) di permukaan bumi yang berbentuk tonjolan dan memiliki titik ketinggian lebih dominan dibanding titik ketinggian yang ada disekitarnya (bukit).

Gunung Bawakaraeng tidak terlalu tepat untuk disebut sebagai gunung oleh karena gunung Bawakaraeng terletak atau bagian dari jajaran pegunungan Lompobattang serta salah satu puncak dan puncak tertinggi dari jajaran pegunungan Lompobattang. Beberapa puncak di jajaran pegunungan Lompobattang, antara lain : puncak Van Bonthain (umumnya disebut puncak Lompobattang), puncak Bulu Assuempolong, puncak Bulu Kaca, puncak Kobang, puncak Bulu Baria, puncak Bulu Porong, Puncak Bawakaraeng dan puncak Sarobaiyya.

Secara geologis bermula dari terbentuknya formasi gunung api Lompobattang yang pecah (meletus) dan membentuk sejumlah kawah (saat ini lebih dikenal dengan Lembah Ramma, Lembahlowe dan Lembah Anjayya) lalu terjadinya proses pengangkatan (gunung Bawakaraeng) dan membentuk kesatuan jajaran pegunungan Lompobattang.

3.

Gunung

Bawakaraeng

Bersandar pada penjelasan diatas, maka dapat dipahami bahwa Gunung Bawakaraeng merupakan suatu wilayah ketinggian yang memiliki kedudukan sebagai tempat untuk berkomunikasi, berdoa (memohon, meminta) kepada Sang Maha Pencipta dan tempat untuk mendidik manusia dalam proses mencari kebaikan dalam kehidupan di dunia.

Gunung Bawakaraeng merupakan sebuah gunung yang disucikan dan berfungsi sebagai tempat untuk bersembahyang. III. Tradisi Budaya (ritual mistis) Di Gunung Bawakaraeng

Sejauh ini belum dan sulit ditemukan catatan atau informasi yang tepat tentang awal mula berlangsungnya tradisi mistisisme di Gunung Bawakaraeng.

Tetapi dapat dipastikan bahwa tradisi ini sudah berlangsung berabad abad lamanya (bandingkan dengan pendakian / penelitian biologi di wilayah puncak Lompobattang oleh James Brook, pada tahun 1847). Tradisi mistis tersebut dilakukan oleh lebih dari satu kelompok aliran dengan kecenderungan menutup diri, sehingga pengumpulan data akan mengalami kesulitan dan dapat menimbulkan kesimpangsiuran informasi (misalnya tradisi haji Gunung Bawakaraeng).

1.

Tentang

Tradisi

(Haji

?)

Bawakaraeng

Istilah Haji Bawakaraeng mencuat saat terjadinya peristiwa meninggalnya sejumlah orang (13 orang masyarakat umum; bukan dari komunitas pencinta alam / pendaki gunung)

yang tengah melakukan perjalanan / pendakian / aktivitas di Gunung Bawakaraeng pada bulan Haji / Zulhijah (awal agustus 1987). Peristiwa tersebut kemudian di plintir, menjadi peristiwa haji Bawakaraeng, dan bermuara dikeluarkannya larangan oleh pemerintah daerah kabupaten Gowa untuk melakukan perjalanan / pendakian ke Gunung Bawakaraeng pada bulan Zulhijjah.

Terdapat suatu kelompok / komunitas tertentu dari masyarakat di Indonesia, terutama di Sulawesi Selatan memiliki tradisi untuk selalu / secara berkala / pada saat tertentu, termasuk pada bulan Zulhijah (bulan haji) melakukan perjalanan (karena ada suatu aktivitas / tujuan yang jelas) ke Gunung Bawakaraeng. Dominan (jumlah terbesar) dari komunitas tersebut justru tidak bertempat tinggal / berdomisili dekat / di kaki Gunung Bawakaraeng. Kelompok masyarakat yang melakukan perjalanan ke Gunung Bawakaraeng pada bulan Zulhijah dapat di pilah pilah berdasarkan sebab / tujuan, yakni :

a. Kelompok keluarga yang menjalankan tradisi (mempertahankan tradisi) turun temurun; Shalat bersama keluarga dan berdoa memohon sesuatu (kebaikan) kepada Allah SWT, lalu bersama sama menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan. Tidak ada ritual sesajenan. b. Kelompok yang merupakan gabungan dari beberapa kelompok kecil / individu individu dengan seorang pemimpin; Shalat Idul Adha bersama, mendengar khotbah / petuah kebaikan, berdoa memohon sesuatu (kebaikan) kepada Allah SWT, lalu bersama sama menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan. Tidak ada ritual sesajenan.

c. Kelompok / individu yang ingin memenuhi janjinya karena suatu sebab. Shalat idul adha bersama-sama dan berdoa menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena keinginannya telah terkabul; atau perjalanan mereka baru pada tahap berdoa / memohon sesuatu (kebaikan, rezki agar bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Mekkah, dikaruniai anak, kesembuhan dari sakit yang diderita, dll) kepada Allah SWT; lalu bersama sama menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tidak ada acara ritual sesajenan.

d. Kelompok yang sama dengan diatas (a, b,c) tetapi diakhiri dengan ritual melepas hewan hidup (umumnya ayam dan kambing). e. Kelompok yang sama dengan diatas (a, b, c) tetapi diakhiri dengan ritual menyimpan: makanan (nasi ketan biasa / songkolo; nasi ketan manis / waji / baje), Pangajai (daun siri, kapur siri, siri, gambir yang telah di racik).

f.

Kelompok

yang

melakukan

semua

ritual

yang

ada

diatas.

Individu individu yang keinginan untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Mekkah (Arab Saudi) telah terkabul; kelak akan kembali ke Gunung Bawakaraeng hanya untuk menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT (tidak persis sama dengan pernyataan yang mengatakan bahwa : mereka menyempurnakan hajinya di bawakaraeng; pernyataan ini memiliki kecenderungan menyesatkan pemahaman).

Pointnya ialah bahwa di Tanah Gunung Bawakaraeng mereka berdoa (meminta dan menyampaikan rasa syukur) kepada Allah SWT.

Memang benar bahwa beberapa tempat di Tanah Gunung Bawakaraeng terdapat / diberi nama seperti : Madinah, Makkayya (Mekkah), Titian Anjayya (jembatan sirathal mustaqim), dll. Tetapi apapun namanya, semua itu hanyalah penggambaran yang ditujukan (proses belajar) untuk menambah dan mempertinggi tingkat penghayatan / keyakinan kepada Allah SWT; sehingga tidak benar terdapat suatu aktivitas / prosesi haji di Gunung Bawakaraeng untuk memperoleh predikat haji (Bawakaraeng). IV. Tujuh Belas Petunjuk

Terdapat 17 (tujuh belas petunjuk) yang sebaiknya diperhatikan jika hendak melakukan perjalanan ke Gunung Bawakaraeng, 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Bersihkan Shalatlah di pintu diri : sebelum 1, sebelum 3, masuk 5, masuk 6, pintu dan Api Pintu Air Tanah itu Bawakaraeng Udara hanyalah Bawakaraeng ada sementara, 7 (tujuh), itu tempat sumber itu (ber) disetiap hati pintu yakni bersujud kehidupan jalan wajib hatilah menyampaikan dan dan : berdiri. kebersihan. napas. padanya. salam. . . pintu. 7 6.

Berwudhulah

11. 12. 13. 14. 15. 16. Wanita

Sujudlah Berdzikirlah Berpuasalah Jagalah Sadarkanlah yang berhalangan diri

sesampai disetiap setelah (lidah pikiranmu hanya dibolehkan

di

tujuan. napas. pulang.

dan

kemaluan) selalu.

samapi

di

pintu

5.

17. Jika ditimpa kemalangan segeralah berdoa kepada Allah SWT.

Tujuh belas petunjuk diatas masih bersifat dan berbahasa pemahaman dan kesadaran sehingga perlu dijabarkan secara teknis agar mudah dimengerti dalam pelaksanaannya.

Misalnya : Buang air kecil (kencing) disebelah kiri dari jalan setapak menuju puncak. Saat kencing (air kencing) dilewatkan melalui media daun, kayu atau batu sebelum tiba ditanah (penghargaan kepada tanah). - Buang air besar disebelah kiri. Galilah lubang, tempatkan selembar daun di dasar lubang, lalu buang besar. Setelah itu timbunlah kembali.

Khusus

bagi

kaum

perempuan

sebelum

ditimbun

terlebih

dahulu

tutuplah

dengan

selembar

daun.

Sebelah kiri menggambarkan sesuatu / tempat dari sesuatu. Tanah nenek moyang berarti nenek / moyang manusia adalah tanah; maka hargailah tanah jika ingin menghargai diri sebagai manusia. V. Nilai nilai pembelajaran

Dari uraian singkat diatas,, beberapa hal yang dapat ditarik menjadi nilai atau pesan pembelajaran (nilai edukatif) , meliputi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menjaga Hidup Selau mengucapkan Membiasakan diri Percaya dan Percaya Diingatkan lingkungan, dengan membersihkan hal untuk menghidupkan rasa diri yang hidup yakin terhadap kepada untuk lingkungan syukur dan baik dengan (melepas (mau menjaga (menjaga tata hewan eksistensi hal Allah : SWT gaib shalat. hidup). berbagi) diri. lidah). karma.

9. Selalu memohon rahmat Allah SWT. VI. Penutup

Nilai pendidikan merupakan nilai-nilai yang bersifat mendidik manusia sehingga minimal didalamnya dapat menyampaikan nilai dasar manusia.

Mythos (mitos) apapun pengertiannya janganlah dikesampingkan hanya karena keterbatasan untuk mendalamiinya (dengan sains sekalipun), karena pada saat ini banyak hal yang sebelumnya disebut mythos ternyata telah dibuktikan oleh sains sebagai sebuah kebenaran.

Fisik (Physical Quotient), Pikiran (Inteligentia Quotient), Hati (Emotional Quotient) dan Bathin (Spiritual Quotient); semuanya hanyalah alat bantu (teknologi alami) yang dapat membantu manusia untuk mengenal dirinya, fenomena alam Untuk itu bangunlah dan pemikiran yang Allah beriman (logika SWT. beriman).

(I Andi Ri Buttatoayya)

(Catatan ini sengaja saya turunkan untuk meluruskan pemahaman yang keliru bahkan telah menjurus ke Fitnah dan Gibah terhadap Bawakaraeng Buttatoayya sebagai sebuah Gunung; Semoga catatan ini dapat membangun sikap kehati-hatian dalam berpikir dan berbicara Bawakaraeng Buttatoayya sebagai sebuah Gunung) !

(Semoga bermanfaat))

Koordinat Gunung Bawakaraeng


July 1, 2007 in Bawakaraeng, Mountain | Tags: Bawakaraeng, data, gunung, mendaki

Rate This

I. KETINGGIAN DAN KOORDINAT Ketinggian No. Lokasi (mdpl) S 05 15 13,1 1 Desa Lembanna 1511 E 119 54 20,0 S 05 16 07,3 2 Pos I 1721 E 119 54 44,1 S 05 16 31,6 3 Pos II 1811 E 119 54 53,4 S 05 16 42,7 4 Pos III 1841 E 119 54 58,6 S 05 16 57,0 5 Pos IV 1960 E 119 55 18,7 S 05 17 12,0 6 Pos V 2167 E 119 55 47,9 Koordinat

S 05 17 31,2 7 Pos VI 2372 E 119 56 09,2 S 05 17 50,2 8 Pos VII 2558 E 119 56 11,5 S 05 18 29,2 9 Pos VIII 2507 E 119 56 38,8 10 Pos IX S 05 19 01,6 11 Pos X 2836 E 119 56 40,2 II. JARAK DAN WAKTU TEMPUH Jarak Udara No. Lokasi Pukul Waktu Tempuh (kilo meter) 1 2 3 4 Kampus Ujung Pettarani Pettarani Terminal Terminal Kampung Beru Kampung Beru Lembanna Jumlah 16.15 16.55 17.05 17.28 17.45 20.30 20.35 20.54 40 menit 23 menit 2 jam 45 menit 19 menit 4 jam 7 menit

ORGANISASI PECINTA ALAM SAVANA ( MAKASSAR / MAROS )

Gunung Bawakaraeng

Gunung yg bisa di bilang Gunung Andalannya para pendaki Makassar, jaraknya hanya 75 km dari Kota Makassar dan menjadi gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.

Gunung ini bisa dicapai dari kabupaten Gowa, yg berbatasan dengan Kota Makassar, bisa juga ditempuh melalui Kabupaten Sinjai, hanya saja jalur lewat Kabupaten Sinjai jarang digunakan. Rute yg paling sering digunakan adalah melalui Kabupaten Gowa, Kalau pendaki berasal dari Sulawesi - selatan atau dari Luar pulau sulawesi, naik angkutan Kota menuju ke Terminal Gowa, atau bisa juga Turun di perempatan Sunggu Minasa, Jalan arah ke Malino.

AKSES KASANA MAKASSAR - SUNGGUMINASA - LEMBANNA Dari Pusat kota makassar naik angkot (pete-pete) ke terminal sungguminasa (Term. Lama) dengan tarif perorang Rp. 3.000, Dari terminal sungguminasa menggunakan mobil yang berwarna merah yang jurusan ke malino sampai di desa lembanna (Kampung Beru), Dari sini, Naik Angkutan Pedesaan jurusan Malino, waktu tempuh kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Biasanya Sopir angkutan sudah hafal, kalau ada pendaki yg akan mendaki Bawakaraeng, Sopir Angkutan akan mengantar sampai ke Desa lembanna. Desa terakhir di kaki gunung Bawakaraeng. Tarif per Orang Rp. 30.000. Biasanya banyak pendaki bermalam terlebih dahulu di Desa lembanna, yg punya ketinggian 1400 Mdpl, baru keesokan paginya pendakian dimulai. Atau bisa juga melakukan pendakian pada Malam hari.

Tahapan rute Pendakian.

* Pendakian dimulai dari Desa Lembanna, medannya berupa perkebunan penduduk lalu mulai masuk pintu Hutan Pinus dan untuk mencapai Pos 1 dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.

* Dari Pos 1 yg ketinggian mencapai 1650 mdpl, pendakian terus landai hingga mencapai Pos 2, diperlukan waktu tak lebih dari 1 jam perjalanan, disini tersedia mata air yg mengalir.

* Perjalanan belum terlalu mendaki, masih landai dan mulai masuk vegetasi hutan khas sulawesi, waktu tempuh tak berbeda dengan dari Pos 1 ke Pos 2, di pos 3 juga tersedia mata air dan bisa mendirikan Tenda. * Pos 4 di tempuh dalam waktu lebih dari 1 Jam perjalanan dan perjalanan di lanjut hingga Pos 5, di pos 5 terdapat mata air, hanya saja lumayan jauh. Biasanya I Pos 5 digunakan untuk bermalam. * Dari Pos 5, perjalanan mulai mendaki dan sepanjang perjalanan akan melewati Pohon-pohon yg tumbang karena dari Pos 5 - 6, hutannya habis terbakar, kalau mendaki malam hari sebaiknya berhati-hati, karena disini biasanya pendaki sering tersasar, karena jalur tak begitu terlihat. * Ketika tiba di Pos 6, perjalanan masih melalu hutan yg lumayan lebat, perjalanan terus melandai dan mulai mendaki dan hutan mulai menghilang berganti vegetasi hutan yg berbeda dan setelah 2 jam perjalanan, akan tiba di Pos 7, yg punya ketinggian 2710 mdpl. Di Pos 7 pemandangan sangat indah dan lumayan terbuka. Dipos 7 inilah yg sering terjadi badai. * Dari Pos 7 menuju Pos 8, jalur mulai naik turun, di sepanjang jalur ini terdapat 2 kuburan dan ada pula In-memoriam pendaki yg tewas, setelah melewati 2 bukit yg punya ketinggian rata-rata 2700 mdpl, jalur akan menurun dan Tiba di Pos 8, disini tersedia mata air, dan biasanya pendaki bermalam disini baru keesokan paginya menuju puncak Bawakaraeng. Pemandangan rumput savana dan puncak bawakaraeng terlihat dari pos 8 ini, suhu pada malam hari antara 8-10 derajat. * Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, di pos 9 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. * Pos 10 adalah Puncak Bawakaraeng. Untuk mencapai puncak bawakaraeng, tidak lah terlalu sulit, walaupun sedikit mendaki. Setelah menempuh kurang lebih jam perjalanan, maka akan tiba di Puncak Bawakaraeng. Sebaiknya sebelum menuju puncak perhatian kondisi alam di puncak, terkadang angin bertiup lumayan kencang.

Rute alternative bisa juga menggunakan jalur lintas, yaitu melewati lembah Rama, dari Pos 1 ada percabangan jalan, ambil jalur kanan dan tembuh di Pos 8, jalur ini lumayan panjang dan melewati lembah yg lumayan luar, bisa melihat Air Terjun Taka Palu yg punya ketinggian 50 meter. Rute Kab. Sinjai barat, nama Desa Terakhir adalah Desa Kasoso dan katanya melewati Lembah Cina, hanya saja jalurnya jarang dilalui. Rute Alternative lintas LompoBatang, Pendakian bisa juga lintas ke Gunung LompoBatang melalui puncak bawakaraeng dan Turun di Kabupaten Gowa, menurut informasi dibutukan waktu 3 hari perjalanan. Puncak Bawakaraeng.

Ketika tiba dipuncak Bawakaraeng, pemandangan di puncak ini termasuk yg paling bagus di sulawesi, tak heran setiap minggu gunung ini ramai di daki oleh para pendaki yg umumnya datang dari Sulawesi selatan, juga dari propinsi lainnya. Terdapat Sumur yg dikeramatkan oleh masyarakat, biasanya mereka mengambil air dari sumur tersebut untuk di bawapulang, juga terdapat batu yg biasa digunakan untuk sesajen. Luas puncaknya kurang lebih 100 m2, pemandangan Laut dan Kota Makassar di arah barat, di arah Timur Awan terlihat tebal dan terdiam menggumpal, di arah selatan terlihat Gunung Bulusaraeng dan arah selatan, adalah Gunung LompoBatang 2871 mdpl, bisa dilintasi lewat Gunung Bawakaraeng. Waktu tempuh untuk pendakian Gunung Bawakaraeng, kalau dirata-rata dari Desa Terakhir kira-kira 6 8 jam perjalanan. Objek Menarik

Air Terjun Lembanna

Air Terjun Takappala Taman Wisata Hutan Malino Perijinan Biasanya Biaya perijinan untuk mendaki gunung ini Rp. 2.000 /orang, dan hanya mengisi Buku Tamu dan lapor kepada Kepala Dusun di Lembanna.

Jalan Jalan Jadikan Teman | Kirim Pesan Fachrul Khairuddin

Terus Menulis!!!

Beberapa Cerita Tentang Gunung Bawakaraeng


HL | 17 February 2011 | 19:56 434 11 1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

Gunung Bawakaraeng adalah gunung yang terletak di kampung Lembanna. Masuk dalam kawasan wisata puncak Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dapat ditempuh sekira tiga jam perjalanan dari Makassar dengan berkendaraan darat ke arah selatan.

Pohon-pohon pinus di Kawasan Wisata Puncak Malino Bawakaraeng, secara bahasa, berarti mulut tuhan. Diambil dari bahasa Makassar: bawa artinya mulut; karaeng artinya tuhan. Siapa yang memberikan nama dan apa latar belakangnya, penulis tidak mendapatkan data tentang itu. Yang jelas, gunung Bawakaraeng bukanlah mulut tuhan dalam arti yang sebenarnya.

Pemandangan Pos 5 yang sering terjadi badai

Pemandangan dari Pos 7, puncak bukit I Bawakaraeng

Masih pemandangan lain dari Pos 7

Bawakaraeng terdiri dari bukit-bukit yang berjejer megah. Bukit tertinggi memiliki tinggi sekira 2.700 meter di atas permukaan laut. Untuk mendakinya sampai ke puncak, kita harus menyusuri dua bukit dan 10 pos jalur pendakian. Pepohonan lebat beragam jenis, kabut tipis, sungai kecil, dan pelbagai keindahan alam lainnya akan menghiasi setiap jalur pendakian dari pos ke pos hingga ke puncak.

Pemandangan dari pos 10, puncak tertinggi Bawakaraeng

Masih pemandangan dari puncak II, Pos 10

Trianggulasi (tanda ketinggian) di puncak Bawakaraeng Mereka yang Mati

Pada 1980-an, seorang pendaki wanita bernama Noni bunuh diri di pos 3 Bawakaraeng. Dia menggantung dirinya di sebuah pohon. Dugaan penyebabnya karena patah hati. Pohon itu masih berdiri hingga kini. Bentuknya anker, seanker kejadian di baliknya. Batangnya besar bercabang; daunnya habis tak tersisa. Bagi yang sudah mendaki Bawakaraeng, pasti kenal betul dengan pohon itu karena pohon itulah yang menjadi penanda pos 3. Karena alasan mistis, para pendaki enggan mengabadikan pohon itu dalam bentuk foto maupun video. Bahkan mereka juga enggan singgah di pohon itu. Beberapa kesaksian menjelaskan bahwa kejadian aneh terjadi waktu mereka singgah di pohon itu: tiba-tiba hujan, angin kencang, dan lainnya, entahlah! Penulis sendiri tidak terlalu percaya cerita tersebut. Beberapa pendaki juga mati di Bawakaraeng. Badai, suhu dingin, kelaparan, adalah sebagian dari penyebabnya. Pusara yang terpasang menjadi penanda sejarah mereka. Paling terakhir, matinya dua mahasiswa Geologi Universitas hasanuddin, Awy dan Iccank, di Pos 5 karena badai. Penulis hanya mendapati pusara Awy.

Pemandangan pos 5 yang sering terkena badai Longsor yang Menimbun

Pada 2004 silam, longsor terjadi di salah satu bukit Bawakaraeng. Bukit itu terlihat jika kita berjalan menurun dari pos 7 menuju pos 8, seperti gunungan ice cream yang sudah digigit. Akibat longsor, pos 8 lama yang berbentuk padang luas dengan ilalangnya harus berganti dengan pos 8 baru yang gersang, dekat telaga Bidadari yang kering kerontang, hanya menyisakan air yang cokelat dan kotor.

Telaga Bidadari yang kering kerontang Longsor itu juga menimbun kampung-kampung kecil di lereng Bawakaraeng, tanpa sisa. Lumpur bawahannya malah sempat membuat khawatir sebagian orang karena dianggap tekanannya akan merobohkan bendungan bili-bili, tapi syukurlah, hal tersebut tidak menjadi kenyataan.

Longsoran Bawakaraeng, seperti potongan ice cream Ritual Di Bawakaraeng

Setiap hari raya Idul Adha, banyak warga dari berbagai daerah menuju ke puncak Bawakaraeng untuk melakukan salat Idul Adha dan ritual. Mereka datang sehari sebelum hari raya dan bermalam di puncak dengan bekal dan pakaian seadanya.

Beberapa warga yang melakukan ritual

Tempat tidur warga

Esok subuh, mereka pun memulai salat Idul Adha dan ritual. Mereka memberikan sesajian-sesajian untuk mencari berkah dan keselamatan: gula merah untuk mencari manisnya dunia, kelapa untuk mencari nikmatnya dunia, lilin untuk mencari terangnya dunia, dan sebagainya.

Warga yang salat bersama sesajian beras dan telur dalam kantung plastik

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa warga ke puncak Bawakaraeng untuk melaksanakan ibadah haji, tapi pendapat tersebut dibantah oleh Tata Rasyid, penjaga dan penolong Bawakaraeng. Tata Rasyid menegaskan, Yang benar itu warga naik ke puncak untuk lebaran haji, bukan naik haji. Naik haji itu di Mekkah.

Warga salat menghadap trianggulasi di puncak Bawakaraeng (foto: Edelweis Sastra Unhas) Beberapa keindahan Gunung Bawakaraeng:

Pohon besar di pos 4

Penulis dan teman-teman lagi ngopi dan ngeroti di pos 2

Hutan pinus di pos 1

Gunungnya tinggi seperti hatiku (Nusantara, Koes Plus)

Tidak tahu buah apa ini? Hehehe.

Penulis dan teman-teman di pos 9 menuju pos 10kayak di dasar laut, bukan? Demikianlah teman-teman pembaca, beberapa cerita tentang gunung Bawakaraeng. Bagi yang belum puas, silahkan mendaki sendiri sampai ke puncaknya. Dari Makassar, naik mobil angkot warna merah jurusan Sungguminasa, bayar Rp 3.000. Turun di terminal Sungguminasa, naik angkot jurusan Malino, bayar Rp 25.000, dijamin diantar sampai ke kampung Lembanna. Di Lembanna, jalan kaki sampai ke puncak gunung. Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, [Okta ft. Erros - Gie]