Anda di halaman 1dari 23

TUGAS TERSTUKTUR MATA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS DAN HUKUM KOMERSIAL

BENTUK BENTUK BADAN USAHA

OLEH DIAH KARTIKA RETNA ASIH C4C011004

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS EKONOMI PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI PURWOKERTO 2012

A. Firma Firma berdasarkan pasal 16 KUHD adalah tiap-tiap persekutuan perdata yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan di bawah satu nama bersama. Jadi firma adalah persekutuan perdata yang khusus, yaitu menggunakan nama bersama atau firma. Di mata pihak ketiga, tiap-tiap sekutu firma bertanggung jawab secara tanggung menanggung atas segala perikatan firma. (ps. 18 KUHD). Namun demikian, harus diingat bahwa hanya sekutu yang berwenang menurut anggaran dasar firma yang dapat mengikat pihak ketiga (ps. 17 KUHD). Dengan demikian, sekutu yang tidak berwenang atau walaupun berwenang tetapi tindakannya tersebut tidak sesuai dengan lingkup kegiatan firma, maka sekutu yang bersangkutan bertanggung jawab secara individu atas tindakan yang dilakukannya dengan mengatasnamakan firma. (ps. 17 KUHD). Untuk mendirikan firma persyaratan tersebut di bawah ini harus dilengkapi:

Pembuatan akta otentik berupa akta notaris pendirian firma (Ps. 22 KUHD)

Pendaftaran akta pendirian tersebut di kepaniteraaan pengadilan negeri di dalam daerah hukum dimana persekutuan firma itu berdomisili (ps. 23 KUHD), yang sekarang cukup Pendaftaran Wajib Perusahaan pada kantor pendaftaran perusahaan (ps. 14 ayat 1 dan 2 UU No. 3 tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan)

Pengumuman akta pendirian tersebut di dalam berita negara melalui kantor percetakan negara. (ps. 28 KUHD)

Perlu diperhatikan bahwa bila pendaftaran dan pengumuman belum dilakukan sepenuhnya, maka terhadap pihak ketiga firma dianggap suatu persekutuan perdata (ps. 29 KUHD). Firma bukan-lah badan hukum seperti halnya perseroan terbatas.

Karena undang-undang di Indonesia mengatur firma sebagai perusahaan yang dibentuk hanya berdasarkan persekutuan, bukan diakui sebagai badan hukum. Selain itu juga, syarat lain bagi suatu entitas untuk dapat dikatakan sebagai

badan hukum

adalah

mempunyai

kekayaan

yang terpisah dengan

pengurusnya. Pada firma tidak ada pemisahan kekayaan firma dengan pengurus, maksudnya adalah pertanggungjawaban firma kepada pihak ketiga mencakup sampai kepada harta pribadi sekutu-sekutunya (ps. 33 KUHD), berbeda halnya dengan perseroan terbatas yang merupakan badan hukum dimana pertanggungjawaban kepada pihak ketiga hanya sebatas kekayaan yang dimiliki oleh perseroan terbatas tersebut. Karena firma adalah bentuk persekutuan perdata yang khusus, maka pengaturan pembubaran firmas cukup diatur dalam KUH Perdata, yaitu di Buku III, Bab VIII bagian IV. Berdasarkan pasal 1646 KUH Perdata persekutuan dapat berakhir karena:

Telah mencapai waktu yang telah ditentukan sebelumnya dalam akta pendirian (apabila ada)

Musnahnya barang atau selesainya perbuatan yang menjadi pokok perjanjian

Atas kehendak semata-mata dari beberapa orang sekutu Jika salah seorang sekutu meninggal atau berada di bawah pengampuan atau dinyatakan pailit Sebab berakhirnya persekutuan firma yang dikarenakan meninggalnya

salah seorang sekutu, dapat dikesampingkan apabila sebelumnya diantara sekutu-sekutu tersebut telah diperjanjikan bahwa meninggalnya salah seorang sekutu tidak berpengaruh terhadap kelangsungan firma. Persekutuan (dalam hal ini, dengan firma) tersebut dapat berlangsung terus dengan ahli warisnya, atau akan berlangsung terus diantara sekutusekutu yang masih ada. (ps. 1651 KUHPer).

B. CV (Commanditer Venootschap) CV tidak diatur secara tersendiri dalam KUHD karena pada hakikatnya CV adalah perusahaan berbentuk firma dalam bentuk khusus. Persekutuan komanditer adalah persekutuan firma yang mempunyai sekutu komanditer. Pasal 19 KUHD, CV adalah suatu persekutuan untuk menjalankan suatu perusahaan yang dibentuk antara seseorang atau beberapa orang sekutu yang secara langsung bertanggung jawab untuk seluruh kegiatan perusahaan di satu pihak, dan seseorang atau lebih sekutu sebagai yang meminjamkan atau pelepas uang di pihak lain. CV merupakan Badan Usaha yang tidak berbadan hukum, dan kekayaan para pendirinya tidak terpisahkan dari kekayaan CV. Karakter CV yang tidak dimiliki Badan Usaha lainnya adalah CV didirikan minimal oleh dua orang, dimana salah satunya akan bertindak selaku Sekutu Aktif dan Sekutu Pasif. 1. Sekutu Aktif Ini adalah sekutu yang menjadi pengurus perusahaan. Artinya aktif menjalankan kegiatan perusahaan dan aktif berhubungan dengan pihak ketiga sehingga sekutu ini biasa disebut sebagai sekutu kerja atau sekutu komplementer. Sekutu aktif bertanggung jawab secara pribadi untuk seluruh hutang dan perjanjian yang dibuat oleh perusahaan komanditer. Sekutu aktif yang nantinya akan bergelar direktur. Seorang sekutu aktif akan bertindak melakukan segala tindakan pengurusan, dengan demikian dalam hal terjadi kerugian amak sekutu aktif akan bertanggung jawab secara penuh dengan seluruh harta pribadinya utnuk mengganti kerugian yang dituntut oleh pihak ketiga. 2. Sekutu Pasif Sekutu pasif dalah sekutu yang hanya menyerahkan uang pada kas perusahaan tetapi tidak turut ikut campur dalam pengurusan/pengelolaan perusahaan. Sekutu ini juga disebut sebagai sekutu komanditer atau sekutu di belakang layar atau sekutu diam atau sleeping partner. Oleh

karena itu, tanggung jawab sekutu pasif hanya sebatas pada jumlah uang yang dia setorkan ke kas perusahaan. Selain dua keanggotaan tersebut di atas ada beberapa sekutu lain yang terdapat dalam partner CV, seperti : 1. Sekutu Rahasia (Secret Partner) Mereka aktif dalam perusahaan, tetapi tidak diketahui oleh umum bahwa mereka sebenarnya termasuk anggota partner CV. 2. Sekutu Dormant (Dormant Partner) Sekutu dormant adalah seseorang yang tidak aktif perananannya di dalam perusahaan dan tidak diketahui umum sebagai anggota dalam partner CV. 3. Sekutu Nominal (Nominal Partner) Sekutu nominal sebenarnya bukan pemilik perusahaan, tetapi ia selalu memberikan saran kepada orang lain dengan kata-kata atau tindakan seperti partner. 4. Sekutu Senior dan Junior (Senior and Junior Partner) Keanggotaan mereka biasanya didasarkan pada lamanya investasi atau lamanya bekerja dalam perusahaan.

Pendirian CV CV dapat didirikan sengan syarat dan prosedur yang mudah, yaitu hanya mensyaratkan pendirian oleh 2 orang, dengan menggunakan akta Notaris yang berbahasa Indonesia. Walaupun pada masa sekarang ini pendirian CV mengharuskan adanya akta notaries, namun dalm Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa pendirian CV tidak mutlak harus dengan akta notaries. Pada saat para pihak sudah sepakat untuk mendirikan CV, maka dapat dating ke kantor Notaris dengan membawa KTP. Untuk pendirian CV, tidak diperlukan adanya pengecekan nama CV terlebih dahulu. Namun demikian, dengan tidak didahuluinya dengan pengecekan nama CV, menyebabkan nama CV sering sama antara satu dengan yang lainnya. Pada waktu pendirian CV,

yang harus dipersiapkan sebelum dating ke Notaris adalah adanya persiapan mengenai : 1. Calon nama yang akan digunakan oleh CV tersebut. 2. Tempat kedudukan dari CV 3. Siapa yang akan bertindak selaku Sekutu aktif, dan siapa yang akan bertindak selaku sekutu pasif. 4. Maksud dan tujuan yang spesifik dari CV tersebut (walaupun tentu saja dapat mencantumkan maksud dan tujuan yang seluas-luasnya) Untuk menyatakan telah berdirinya suatu CV, sebenarnya cukup hanya dengan akta notaries tersebut, namun untuk memperkokoh posisi CV tersebut, sebaiknya CV tersebut didaftarkan pada Pengadilan Negeri setempat dengan membawa kelengkapan berupa Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP) dan NPWP atas nama CV yang bersangkutan. Dalam menjalankan suatu usaha yang tidak memerlukan tender pada instansi pemerintahan, dan hanya digunakan sebagai wadah berusaha, maka dengan surat-surat tersebut saja sudah cukup untuk pendirian sebuah CV. Namun apabila menginginkan izin yang lebih lengkap dan akan digunakan untuk keperluan tender, biasanya dilengkapi dengan surat-surat lainnya yaitu : 1. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP) 2. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) 3. Tanda Daftar Perseroan (khusus CV) 4. Keanggotaan pada KADIN Jakarta Pengurusan izin-izin tersebut dapat dilakukan bersamaan sebagai satu rangkaian dengan pendirian CV dimaksud, dengan melampirkan berkas tambahan berupa : 1. Copy kartu kelurga Sekutu aktif (direktur) CV 2. Copy NPWP Sekutu aktif (direktur) CV 3. Copy bukti pemilikan atau penggunaan tempat usaha, dimana a. Apabila milik sendiri, harus dibuktikan dengan copy sertifikat dan copy bukti pelunasan PBB tahun terakhir.

b. Apabila sewa kepada orang lain, maka harus dibuktikan dengan adanya perjanjian sewa menyewa, yang dilengkapi engan pembeyaran pajak sewa (PPh) oleh pihak setempat. 4. Pas photo ukuran 3x4 sebanyak 4 lembar dengan latar belakang merah. Jangka waktu pengurusan semua izin-izin tersebut dari pendirian sampai selesai lebih kurang selama 2 bulan.

Kelebihan dan Kelemahan CV Kelebihan : 1. Akan lebih mudah menerima suntikan dana dikarenakan badan usaha persekutuan komanditer sudah cukup popular di Indonesia. 2. Kemampuan manajemennya lebih besar. 3. Pendiriannya relative lebih mudah jika dibandingkan dengan peseroan terbatas (PT)

Kelemahan : 1. Sebagai anggota atau sekutu di persekutuan komanditer mempunyai tanggung jawab tidak terbatas. 2. Kelangsungan hidupnya tidak menentu. 3. Sulit untuk menarik kembali modal yang telah ditanam, terutama bagi sekutu pimpinan.

C. PT (Perseroan Terbatas) Menurut Undang-Undang No.40 tahun 2007, Perseroan terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan memiliki tanggung jawab social dan lingkungan yaitu komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Organ perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan Dewan Komisaris. Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS adalah organ perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksiatau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. Dewan Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengwasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta member nasihat kepada Direksi. Perseroan harus mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan/atau kesusilaan. Pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi saham yang dimiliki. Nmaun ketentuan ini tidak berlaku apabila : 1. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi.

2. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan untuk kepentingn pribadi. 3. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan. 4. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.

Pendirian Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaries yang dibuat dalam bahasa Indonesia. Setiap pendiri Perseroan wajib mengambil bagian saham pada saat perseroan didirikan kecuali dalam rangka peleburan. Perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan. Setelah perseroan memperoleh status badan hukum dan pemegang saham menjadi kurang dari 2 (dua) orang, dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak keadaan tersebut pemegang saham yang bersangkutan wajuib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang lain atau perseroan mengeluarkan saham baru kepada orang lain. Apabila dalam jangka waktu 6 bulan telah dilampaui, pemegang saham tetap kurang dari 2 (dua) orang, pemegang saham bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian perseroan, dan atas permohonan pihak yang berkepentingan, pengadilan negeri dapat membubarkan perseroan tersebut. Ketentuan yang mewajibkan perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih sebagaimana dimaksud di atas, tidak berlaku bagi : 1. Persero yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Negara. 2. Perseroan yang mengelola bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpangan dan penyelesaian, dan lembaga lain sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Pasar Modal.

Akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain berkaitan dengan pendirian perseroan. Keterangan tersebut memuat : 1. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, dan kewarganegaraan pendiri perseorangan, atau nama, tempat kedudukan dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum dari pendiri perseroan. 2. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir,pekerjaan, tempat tinggal, kewarganegaraan anggota direksi dan dewan komisaris yang pertama kali diangkat. 3. Nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor. Dalam pembuatan akta pendirian, pendirian dapat diwakili oleh orang lain berdasarkan surat kuasa. Untuk memperoleh keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan, pendiri bersama-sama mengajukan permohonan melalui jasa teknologi informasi system administrasi badan hukum secara elektronik kepada menteri dengan mengisi format isian yang memuat skurang-kurangnya : 1. Nama dan tempat kedudukan perseroan. 2. Jangka waktu berdirinya perseroan. 3. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan. 4. Jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. 5. Alamat lengkap perseroan. Permohonan untuk memperoleh keputusan menteri, harus diajukan kepada menteri paling lambat 60 hari terhitung sejak tanggal akta pendirian ditandangani, dilengkapi keterangan mengenai dokumen pendukung. Apabila format isian dan keterangan mengenai dokumen pendukung telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, menteri langsung

menyatakan tidak berkeberatan atas permohonan yang bersangkutan secara elektronik. Apabila semua hal tersebut tidak sesuai dengan undang-indang, maka menteri langsung memberikan penolakan beserta alasannya kepada

pemohon secara elektronik. Dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak tanggal pernyataan tidak keberatan, pemohon yang bersangkutan wajib menyampaikan secara fisik surat permohonan yang dilampiri dokumen pendukung. Apabila sua persyaratan tersebut telah dipenuhi secara lengkap, paling lambat 14 hari, menteri menerbitkan keputusan tentang pengesahan badan hukum perseroan yang ditandatangani secara elektronik. Apabila perayaratan tentang jangka waktu dan kelengkapan dokumen pendukung tidak dipenuhi, menteri langsung memberitahukan hal tersebut kepada pemohon secara elektronik, dan pernyataan tidak berkeberatan yang telah diberikan akan menjadi gugur. Dalam hal pernyataan tidak keberatan gugur, pemohon dapat mengajukan kembali permohonan untuk memperoleh keputusan menteri. Apabila permohonan tersebut tidak diajukan dalam waktu yang ditentukan, maka akta pendirian menjadi batal sejak lewatnya jangka waktu tersebut dan perseroan yang belum memperoleh status badan hukum bubar karena hukum dan pemberesannya dilakukan oleh pendiri.

Anggaran Dasar Anggaran dasar perseroan terbatas memuat sekurang-kurangnya : 1. Nama dan tempat kedudukan perseroan. 2. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan. 3. jangka waktu berdirinya perseroan. 4. Besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. 5. Jumalh saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumalh saham untuk tiap klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal setiap saham. 6. Nama jabatan dan jumlah anggota direksi dan dewan komisaris. 7. Penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS 8. Tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian anggota direksi dan dewan komisaris. 9. Tata cara penggunaan laba dan pembagian dividen.

Anggaran dasar tidak boleh memuat ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas saham dan ketentuan tentang pemberian manfaat pribadi kepada pendiri atau pihak lain . Perseroan tidak boleh memakai nama yang : 1. Telah dipakai secara sah oleh Perseroan lain atau sama pada pokoknya dengan nama perseroan lain. 2. Bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan. 3. Sama atau mirip dengan nama lembaga Negara, lembaga pemerintah, atau lembaga internasional, kecuali mendapatkan izin dari yang bersangkutan. 4. Tidak sesuai dengan maksud dan tujuan, serta kegiatan usaha, atau menunjukkan maksud dan tujuan perseroan saja tanpa nama diri. 5. Terdiri atas angka atau rangkaian angka, huruf atau rangkaian huruf yang tidak membentuk kata. 6. Mempunyai arti sebagai perseroan, badan hukum, atau persekutuan perdata.

D. Koperasi Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi Primer adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan orang-seorang sekurang-kurangnya 20 orang. Koperasi Sekunder adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Koperasi sekurang-kurangnya 3 koperasi. Fungsi dan peran koperasi : 1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umunya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. 2. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat. 3. memperkokoh perekonomian rakyat nsebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya. 4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asa kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Anggaran dasar koperasi memuat sekurang-kurangnya : 1. Daftar nama pendiri. 2. Nama dan tempat kedudukan. 3. Maksud dan tujuan serta bidang usaha. 4. Ketentuan mengenai keanggotaan. 5. Ketentuan mengenai rapat anggota 6. Ketentuan mengenai pengelolaan. 7. Ketentuan mengenai permodalan. 8. Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya. 9. Ketentuan mengenai pembagian sisa hasil usaha. 10. Ketentuan mengenai sanksi.

Koperasi memperoleh status badan hukum setelah akta pendiriannya disahkan oleh pemerintah. Untuk memperoleh pengesahan tersebut, para pendiri mengajukan permintaan tertulis disertai akta pendirian koperasi. pengesahan akta pendirian diberikan dalam jangka waktu paling lama 3 bulan setelah diterimanya permintaan pengesahan. Pengesahan akta pendirian diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Anggota koperasi adalah pemilik dan sekaligus pengguna jasa koperasi. Keanggotaan koperasi dicatat dalam buku daftar anggota. Yang dapat menjadi anggota koperasi adalah setiap warga negara Indonesia yang mampu melakukan tindakan hukum atau koperasi yang memenuhi persyaratan sebagaiman ditetapkan dalam anggaran dasar. Koperasi dapat memiliki anggota luar biasa yang persyaratan, hak, dan kewajiban keanggotaannya ditetapkan dalam anggaran dasar. Kewajiban anggota koperasi : 1. Mematuhi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta keputusan yang telah disepakati dalam rapat anggota. 2. Berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh koperasi. 3. Mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasar atas asas kekeluargaan. Hak anggota koperasi : 1. Menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam rapat anggota. 2. Memilih dan/atau tidak dipilih menjadi anggota pengurus atau pengawas. 3. Meminta diadakan rapat anggota menurut ketentuan dalam anggaran dasar. 4. mengemukakan pendapat atau saran kepada pengurus di luar rapat anggota baik diminta maupun tidak diminta. 5. Memanfaatkan koperasi dan mendapatkan pelayanan yang sama antara sesama anggota. 6. Mendapatkan keterangan mengenai perkembangan koperasi menurut ketentuan dalam anggaran dasar.

Modal Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri dapat berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan, dan hibah. Modal pinjaman dapat berasal dari anggota, koperasi lainny/ atau anggotanya, bank dan lembaga, penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, dan sumber lain sah. Selain modal tersebut, koperasi dapat pula melakukan pemupukan modal yang berasal dari modal penyertaan.

Usaha Koperasi Koperasi dapat menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan dan koperasi lain serta anggotanya. Kegiatan usaha simpan pinjam dapat dilaksanakan sebagai salah satu atau satu-satunya kegiatan usaha koperasi.

SHU (Sisa Hasil Usaha) Sisa hasil usaha koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi biaya, penyusutan, dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkkutan. Sisa hasil usaha setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan lain dari koperasi, sesuai dengan keputusan rapat anggota. Besarnya pemupukan dan cadangan ditetapkan dalam rapat anggota.

Pembubaran Koperasi Keputusan rapat anggota atau keputusan pemerintah. Keputusan pembubaran oleh pemerintah dilakukan apabila : 1. Terdapat bukti bahwa koperasi yang bersangkutan tidak memenuhi ketentuan undang-undang 2. Kegiatannya bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan.

3. Kelangsungan hidupnya tidak dapat lagi diharapkan. Keputusan pembubaran koperasi oleh pemerintah dikeluarkan dalam waktu paling lambat 4 bulan terhitung sejak tanggal diterimanya surat pemeberitahuan rencana pembubaran tersebut oleh koperasi yang

bersangkutan. Dlam jangka waktu paling lambat 2 bulan sejak tanggal penerimaan pemberitahuan, koperasi yang bersangkutan berhak mengajukan keberatan. Keputusan pemerintah mengenai diterima atau ditolaknya keberatan atas rencana pembubaran diberikan paling lambat 1 bulan sejak tanggal diterimanya pernyataan keberatan tersebut. Keputusan pembubaran koperasi oleh rapat anggota diberitahukan secara tertulis oleh kuasa rapat anggota kepada semua kreditor dan pemerintah. Pemberitahuan kepada semua kreditor dilakukan oleh

pemerintah, dalam hal pembubaran tersebut berlangsung berdasarkan keputusan pemerintah. Selama pemberitahuan pembubaran koperasi belum berlaku baginya.

Penyelesaian Penyelesaian dilakukan oleh penyelesaian pembubaran yang

selanjutnaya disebut penyelesai. Untuk penyelesaian berdasarkan keputusan rapat anggota, penyelesai ditunjuk oleh rapat anggota. untuk penyelesaian berdasarkan keputusan pemerintah, penyelesai ditunjuk oleh pemerintah. Selama dalam proses penyelesaian, koperasi tersebut tetap ada dengan sebutan Kopersi dalam penyelesaian. Penyelesaian segera dilaksanakan setelah dikelurakn keputusan pembubaran koperasi. Penyelesai bertanggung jawab kepada Kuasa Rapat Anggota dalam hal Penyelsaian ditunjuk oleh rapat anggota dan kepada pemerintah dalam hal penyelesai ditunjuk oleh pemerintah. Penyelesai mempunyai hak, wewenang, dan kewajiban sebagai berikut : 1. Melakukan segala perbuatan hukum untuk dan atas nama Koperasi dalam penyelesaian. 2. Mengumpulkan segala keterangan yang diperlukan;

3. Memanggil pengurus, anggota dan bekas anggota tertentu yang diperlukan, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama; 4. Memperoleh, memeriksa, dan menggunakan segala catatan dan arsip Koperasi; 5. Menetapkan dan melaksanakan segala kewajiban pembayaran yang didahulukan dari pembayaran hutang lainnya; 6. Menggunakan sisa kekayaan Koperasi untuk menyelesaikan sisa kewajiban Koperasi; 7. Membagikan sisa hasil penyelesaian kepada anggota; 8. Membuat berita acara penyelesaian.

Pembinaan Dalam upaya mendorong dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan dan pemasyarakatan Koperasi, Pemerintah :
1. Memberikan kesempatan usaha yang seluas-luasnya kepada Koperasi; 2.

Meningkatkan dan memantapkan kemampuan Koperasi agar menjadi Koperasi yang sehat, tangguh, dan mandiri;

3.

Mengupayakan tata hubungan usaha yang saling menguntungkan antara Koperasi dengan badan usaha lainnya;

4. Membudayakan Koperasi dalam masyarakat.

Dalam rangka memberikan bimbingan dan kemudahan kepada Koperasi, Pemerintah : 1. Membimbing usaha Koperasi yang sesuai dengan kepentingan ekonomi anggotanya.; 2. Mendorong, mengembangkan, dan membantu pelaksanaan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan penelitian perkoperasian; 3. Memberikan kemudahan untuk memperkokoh permodalan Koperasi serta mengembangkan lembaga keuangan Koperasi; 4. Membantu pengembangan jaringan usaha Koperasi dan kerja sama yang saling menguntungkan antar Koperasi;

5.

Memberikan bantuan konsultasi guna memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh Koperasi dengan tetap memperhatikan Anggaran Dasar dan prinsip Koperasi.

E. Yayasan Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang social, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. Yayasan mempunyai organ yang tersidiri atas Pembina, pengurus, dan pengawas. Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuannya dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha. Yayasan tidak boleh membagikan hasil kegiatan usaha kepada pembina, pengurus, dan pengawas. Kekayaan yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh yayasan berdasarkan undang-undang, dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung,baik dalam bentuk gaji, upah, maupun honorarium, atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang kepada Pembina, pengurus, pengawas, karyawan, atau pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap yayasan. Hal tersebut tidak berlaku apabila pengurus yayasan merupakan bukan pendiri yayasan dan tidak terafiliasi dengan pendiri, pembina, dan pengawas serta melaksanakan kepengurusan yayasan secara langsung dan penuh. Yayasan wajib membayar segala biaya atau ongkos yang dikeluarkan oleh oragan yayasan dalam rangka menjalankan tugas yayasan.

Pendirian Yayasan didirikan oleh satu orang atau lebih dengan memisahkan sebagian harta kekayaan pendirinya sebagai kekayaan awal. Pendirian yayasan dilakukan dengan akta notaries dan dibuat dalam bahasa Indonesia. Pendirian yayasan juga dapat dilakukan berdasarkan surat wasiat. Dalam pembuatan akta pendirian yayasan, pendiri dapat diwakili oleh orang lain berdasarkan surat kuasa. Pendirian yayasan yang dilakukan berdasarkan surat wasiat, penerima wasiat bertindak mewakili pemberi wasiat. Apabila surat wasiat tidak dilaksanakan, maka atas permintaan pihak

yang berkepentingan, pengadilan dapat memerintahkan ahli waris atau penerima wasiat yang bersangkutan untuk melaksanakan wasiat tersebut. Yayasan memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian yayasan memperoleh pengesahan dari menteri. Untuk memperoleh

pengesahan, pendiri atau kuasanya mengajukan permohonan kepada menteri melalui notaries yang membuat akta pendirian yayasan tersebut. Notaris wajib menyampaikan permohonan pengesahan kepada menteri dalam jangka waktu paling lambat 10 hari terhitung sejak tanggal akta pendirian yayasan ditandatangani. Dalam memberikan pengesahan akta pendirian yayasan, menteri dapat meminta pertimbangan dari instansi terkait dalam jangka waktu paling lambat 7 hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. Instansi terkait wajib menyampaikan jawaban dalam jangka waktu paling lambat 14 hari terhitung sejak tanggal permintaan pertimbangan diterima.

Anggaran Dasar Anggaran dasar sekurang-kurangnya memuat : 1. Nama dan tempat kedudukan. 2. Maksud dan tujuan serta kegiatan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. 3. Jangka waktu pendirian. 4. Jumlah kekeayaan awal yang dipisahkan dari kekayaan pribadi pendiri dalam bentuk uang atau benda. 5. Cara memperoleh dan penggunaan kekayaan. 6. Tata cara pengangkatan, pemberhentian, dan penggantian anggota pembina, pengurus, dan pengawas. 7. Hak dan kewajiban anggota Pembina, pengurus, dan pengawas. 8. Tata cara penyelenggaraan rapat organ yayasan. 9. Ketentuan mengenai perubahan anggaran dasar. 10. Penggabungan dan pembubaran yayasan.

11. Penggunaan kekayaan sisa likuidasi atau penyaluran kekayaan yayasan setelah pembubaran. Yayasan tidak boleh memakai nama yang telah dipakai secara sah oleh yayasan lain atau bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan. Nama yayasan harus didahului dengan kata Yayasan. Yayasan dapat didirikan untuk jangka waktu tertentu atau tidak tertentu yang diatur dalam anggaran dasar. Dalam hal yayasan didirikan untuk jangka waktu tertentu, pengurus dapat mengajukan perpanjangan jangka waktu pendirian kepada menteri paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu pendirian yayasan.

Laporan Tahunan Pengurus wajib membuat dan menyimpan catatan atau tulisan yang berisi keterangan mengenai hak dan kewajiban serta hal lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha yayasan. Selain itu, pengurus wajib membuat dan menyimpan dokumen keuangan yayasan berupa bukti pembukuan dan data pendukung administrasi keuangan. Dalam jangka waktu paling lambat 5 bulan terhitung sejak tanggal tahun buku yayasan ditutup, pengurus wajib menyusun laporan tahunan secara tertulis yang memuat sekurang-kurangnya : 1. Laporan keadaan dan kegiatan yayasan selama tahun buku yang lalu serta hasil yang telah dicapai. 2. laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan kativitas, laporan arus kas, dan catatan laporan keuangan. Ikhtisar laporan tahunan wajib diumumkan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia bagi yayasan yang memperoleh bantuan Negara, bantuan luar negeri, atau puhak lain sebesar Rp 500.000.000,00 atau lebih dan yayasan yang mempunyai kekayaan di luar harta wakaf sebesar Rp 20.000.000.000,00 atau lebih. yayasan yang seperti itu, wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Hasil audit terhadap laporan tahunan yayasan disampaikan kepada Pembina yayasan yang bersangkutan dan tembusannya kepada

menteri dan instansi terkait. Bentuk ikhtisar laporan tahunan disusun seseuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Pemeriksaan terhadap yayasan untuk mendapatkan data atau keterangan dapat dilakukan dalam hal terdapat dugaan bahwa organ yayasan: 1. Melakukan perbuatan melawan hukum atau bertentangan dengan anggaran dasar. 2. Lalai dalam melaksanakan tugasnya. 3. Melakukan perbuatan yang merugikan yayasan atau pihak ketiga. 4. Melakukan perbuatan yang merugikan Negara. Pemeriksaan tersebut hanya dapat dilakukan berdasarkan penetapan pengadilan atas permohonan tertulis pihak ketiga yang berkepentingan disertai alasan. Namun pemeriksaan terhadap perbuatan yang merugikan Negara dapat dilakukan berdasrkan penetapan pengadilan atas permintaan kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum.

Pembubaran Yayasan bubar karena : 1. Jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar berakhir. 2. Tujuan yayasan yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah tercapai atau tidak tercapai. 3. Putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan : a. Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. b. Tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit. c. Harta kekayaan yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut.

Ketentuan Pidana Setiap anggota organ yang melanggar ketentuan dalam pasal 5 yaitu mengenai penerimaan kekayaan yayasan, dipidan dengan pidana penjara paling lama 5 tahun. Selain pidana penjara, anggota organ yayasan juga

dikenakan pidana tambahan berupa kewajiban mengembalikan uang, barang, atau kekayaan yayasan yang dalihkan atau dibagikan. Pengumuman ikhtisar laporan tahunan, tidak menghapus hak dan dari pihak yang berwajib untuk melakukan pemeriksaan, penyidikan, dan penuntutan, apabila ada dugaan terjadi pelanggaran hukum.