Anda di halaman 1dari 4

POSITIVISME AUGUSTE COMTE: Dari Ilmu Alam ke Ilmu Sosial Zulkarnain A.

Pendahuluan Lahirnya renaissans telah memberikan arti penting bagi perkembangan ilmu pengeta huan dan teknologi di Barat. Setelah ditabuhnya semangat pencerahan maka lahirla h pemikir-pemikir yang sangat mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, sebut saja misalnya Rene Descartes (1596-1650) dengan rasionalismenya, yang memusatkan perhatian pada rasio. Bagi Descartes, suatu pengetahuan bukanlah hasil dari pro ses pengindraan tetapi merupakan pemeriksaan oleh akal. Teori ini kemudian dilan jutkan oleh Baruch de Spinoza (1632-1677), Gottfried Wilhem von Leibnis (1646-17 16). Selanjutnya, rasionalisme ini berhadapan dengan empirisme. Empirisme menya takan sebaliknya, bahwa untuk mencapai pengetahuan yang sahih, bukan dengan rasi o tapi melalui pengalaman indera. Mazhab empirisme ini diplopori oleh David Hume (1711-1776). Menurut Hume, manusia terlahir dalam situasi yang kosong dari ide atapun pengetahuan, atau tabula rasa. Sehingga dengan adanya interaksi indra den gan berbagai realitas dalam kehidupan, maka muncullah konsep tentang segala sesu atu yang pernah dialami oleh indra. Dalam paradigma empirisme ini, sungguhpun in dra merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manus ia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting. Hanya saja, nilai rasio itu tetap diletakkan dalam kerangka empirisme. Tokoh yang men gusung empirisme, seperti, Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Ge orge Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776). Pertentangan tentang sumber k ebenaran yang valid dari kedua kutub pemikian ini, coba dilerai oleh Immanuel Ka nt (1724-1804), dengan kritisimenya. Kritisme merupakan sintesa dari keduanya, s ehingga kata kunci untuk teori yang digagas Kant ini adalah sintesa. Bagi Kant, pengetahuan yang didapat melalui rasio (atau dalam istilah Kant disebut a priori ), belumlah cukup untuk mendapatkan mendapatkan pengetahuan yang valid. Begitu j uga pengetahuan yang hanya didasarkan dengan pengalaman indra (a posteriori), ka renanya Kant menawarkan sintesa a priori. Walaupun begitu, bukan berarti gagasa para ilmuan, tapi tetap saja tidak ada kesepakata n Kant di-ia-kan dan menjadi ijma n tunggal dalam proses pencarian kebenaran. Demikianlah perjalan ilmu pengetahua n yang terus mengalami evolusi. Tiap-tiap teori terus mengalami perbaikan dan p enyempurnaan oleh generasi selanjutnya. Masing-masing mempunyai paradigma atau c ara pandang yang berbeda-beda dalam melihat suatu kebenaran. Walaupun demikian, perkembangan keilmuan selanjutnya tetap saja merupakan turuna n dari empirisme dan rasionalisme. Entah itu menggabungkan keduanya atau memodif ikasasi dan menyempurnakan salah satunya. Salah satu aliran filsafat yang merup akan irisan dari aliran empirisme adalah positivisme. Dalam perkembangan selanjutnya, Positivisme berpengaruh besar terhadap perkemban gan bangunan keilmuan. Baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial bahkan humaniora sampai saat ini. Secara akademis, istilah positivisme mungkin kita ken al setelah kita bersentuhan dengan filsafat. Namun secara praktis, ajaran-ajaran positivisme sesungguhnya sudah mendominasi praktik kehidupan kita. Baik itu dal am dunia pendidikan maupun sistem hukum yang digunakan di negara kita. Beranjak dari sinilah mengapa kajian tentang positivisme ini penting dilakukan. Sehingga dalam makalah ini akan dicoba untuk mengekplorasi bagaimana landasan fi losofis dari aliran yang dibidani oleh Auguste Comte ini. B. Bangunan Filosofis Positivisme Positivisme merupakan suatu istilah umum untuk posisi filosofis yang menekankan aspek factual pengetahuan. umumnya positivisme berupaya menjabarkan pernyataan-p ernyataan factual pada suatu landasan pencerapan (sensasi). Atau dengan kata lai n, positvisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu-ilmu alam (em piris) sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak nilai kogn itif dari studi filosofis atau metafisik dan theologik. Atau setidaknya, mendu dukkan metafisik dan teologik sebagai primitif. Akan tetapi, sungguhpun indra me rupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia den gan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting. Hanya saja, nilai rasio itu tetap diletakkan dalam kerangka empirisme. Sehingga menurut emp

irisme, ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empiri. Karenanya, Posti visme dianggap sebagai kelanjutan dari empirisme, akan tetapi, ada hal yang memb edakan dari keduanya. Empirisme masih menerima adanya pengalaman subjektif yang bersifat rohani, sedangkan positivisme menolaknya sama sekali. Empirisme Berkele y khususnya, ia cenderung memutlakkan subjek. Positivisme sendiri mengembangkan paham empiris tentang pengetahuan menjadi lebih ekstrem dengan mengatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains. Orang yang pali ng tersohor dalam meletakkan bangunan epistemologis dari Positivisme adalah Augu st Comte. Ketika terjadi perubahan sosial secara fundamental di Eropa, yang dikenal dengan Revolusi Prancis. Comte melihat ada anarkisme intektual yang mewarnai masyarakat pada masa itu dan bersikap kritis terhadap para pemikir Prancis yang melahirkan pencerahan, yang kemudian dilanjutkan oleh suatu revolusi sosial. Comte kemudian mengembangkan po sitivisme untuk melawan apa yang ia yakini sebagai filsafat negative dan dekstru ktif dari para pemikir pencerahan yang dikatakannya belum bisa melepaskan diri d ari khayalan-khayalan metafisika. Comte menggunakan istilah Filsafat Positif . Yang dimaksud dengan Filsafat adalah tentang konsep-konsep manusia, sedangkan positif diartikan sebagai, teori yang bertuj uan untuk menyususun fakta-fakta yang teramati. Fakta-fakta tersebut bersifat m aterialistik mekanistik, artinya bahwa hukum-hukum mekanik itu iheren dalam bend a itu sendiri. Sehingga ilmu dapat menyajikan gambaran dunia secara lebih meyaki nkan apabila didasarkan pada penelitian empirik dari pada sepekulasi filosofis. Karenanya, dalam pandangan positivisme, pengetahuan hendaknya tidak melampaui f akta-fakta. Sehingga positivisme menolak tegas metafisika dalam kerja ilmiyah. Positivisme juga merupakan jawaban terhadap ketidakmapuan filsafat spekulatif (M isalnya, idealisme Jerma Klasik) untuk memecahkan persoalan-persoalan filosofis yang muncul akibat perkembangan ilmu. Ditambah dengan adanya Revolusi Industri d i Inggris abad ke-18 dengan keberhasilan teknologi industry. Inilah iklim kultu ral yang mendasari langkah positivisme dalam membangun optimismenya. Positivisme merupakan perkembangan lebih lanjut dari aliran empirisme yang diduk ung oleh para filsuf Inggris, seperti Locke, Berkeley, dan Hume. Empirisme menja di sumber filosofis bagi positivism, terutama pandangan objektivistik mereka ter hadap ilmu pengetahuan. Positivisme mengkrucutkan pemahaman tentang objektivisti k dalam kerja ilmiyah. Objek yang diterima oleh positivisme adalah objek positif . Positivisme memaksa filsafat untuk melepaskan diri dari kerja spekulatifnya menc ari-cari hakikat ontologisme maupun metafisis yang telah dijalaninya selama ribu an tahun. Menurut positivisme, dalam mencari hakikat kebenaran, filsafat tidak p unya pilihan lain selain dengan jalan sains, atau melalui paradigma positivisme. Comte memulai langkah ilmiahnya dengan melakukan pembabakan terhadap sejarah per kembangan pemikiran manusia. Dalam Cours de Philosophie Positive, sebagaimana di kutip Hardiman, Comte menjelaskan, bahwa perkembangan pemikiran manusia melalui tiga tahap, yaitu teologis, metafisis dan tahap positif. Dalam tahap teologis, manusia mencari sebab-sebab terakhir dibelakang berbagai peristiwa-peristiwa ala m. Sehingga menemukan bahwa penyebab tersebut bersifat adimanusiawi, yang mereka sebut sebagai dewa-dewa, malaikat, ataupun Allah. Dewa, malaikat ataupun Allah tersebut mempunyai kekuatan dan kehendak yang melampaui manusia. Artinya, perist iwa-pwristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah kehendak atau tingkah dewa-de wi. Tahap teologis ini dibagi lagi menjadi tiga jenjang, pertama jenjang fetesisme a tau animisme, ini adalah tahap yang paling primitive. Dalam jenjang ini manusia menganggap bahwa segala sesuatu, atau objek fisik itu mempunyai jiwa, kehendak, dan kekuatan. Kedua, jenjang politeisme, yaitu ketika manusia menganggap bahwa kelompok-kelompok benda mempunyai penguasa-penguasa yang abstrak. Sehingga kekua tan atau potensi-potensi alam diproyeksikan dalam bentuk dewa-dewa. Ketiga, jenj ang monoteisme, disini manusia menghilangkan proyeksi dewa yang beragam, dan kek uatan yang adi kodrati itu diformulasikan dalam atau entitas tunggal. Tahap pemikiran manusia setelah teologis adalah tahap metafisis, dalam tahap ini

, manusia tidak lagi mempercayai adanya kekuatan-kekuatan personal yang berkuasa , tetapi semua itu adalah abstraksi-abstraksi metafisis. Setelah melalui tahap i ni, maka manusia sampai pada kedewasaan atau kematangan yang disebut sebagai tah ap positivistik. Manusia tidak lagi mencari sebab-sebab dari objek yang tidak bi sa teramati, atau fakta-fakta luar yang abstrak. Aktifitas ilmiyah hanya bekerja pada objek factual yang positifistik yang bekerja menurut hukum hukum umum. Ilm u pengetahuan tidak hanya melukiskan sesuatu yang real, tapi juga pasti dan berg una bagi manusia. Demikianlah perjalanan perkembangan pemikiran manusia menurut Comte. Puncak kematangan pemikiran manusia pada tahap positistik. Sehingga manu sia tidak lagi mencar-cari solusi kehidupan pada objek-objek yang tidak factual dan spekulatif. Karenanya penganut Positifisme menyerukan untuk menuju masyaraka t positifistik, maka maysarakat harus meninggalkan teologi dan methafisikan yang notabenenya merupakan cerminan masyarakat primitif. Positivisme sangat optimis bahwasanya masyarakat akan mengalami kemajuan dan kesejahraan hidup apabila meni nggalkan angan-angan theologis methafisik, dan beralih kepada cara berpikir sain tis. Karena dengan jalan itulah sains dan teknologi yang notabenenya merupakan p emudah hidup manusia bisa berkembang. C. Positivisme: Paradigma Sosiologi Modern Untuk melanjutkan proyek pemikirannya, Comte memperkenalkan langkah selanjutnya dalam proses pencarian kebenaran. Langkah ini dinamakan metodologi ilmiyah, kare na persoalan metodologilah yang menjadi isu utama dalam posivisme. Metodologi po sitivisme tentunya tidak terlepas dari pandangan Comte tentang objek positif. Se hingga kreteria ilmiyah dalam pandangan positisme adalah, pertama, semua pengeta huan harus terbukti lewat rasa kepastian, pengamatan sistematis yang terjamin se cara intersubjektif. Kedua, Kepastian metodis sama pentingnya dengan rasa kepast ian. Sehingga kesahihan pengetahuan ilmiyah dijamin oleh kesatuan metode. Ketiga , Ketetapan pengetahuan kita dijamin hanya oleh bangunan teori-teori yang secara formal kokoh yang mengikuti deduksi hipotesis-hipotesis yang menyerupai hukum. Keempat, pengetahuan ilmiyah harus dapat dipergunakan secara teknis. Dalam artia n bahwa ilmu pengetahuan memungkinkan kontrol teknis atas proses-proses alam mau pun sosial kekuatan kontrol atas alam dan masyarakat dapat dilipatgandakan hanya de ngan mengakui asas-asas rasionalitas, bukan melalui perluasan buta dari riset em piris, melainkan melalui perkembangan dan penyatuan teori-teori. Kelima, pengeta huan kita pada prinsipnya tidak pernah selesai dan relatif, sesuai dengan difat relatif dan semangat positif. Dengan penekanan terhadap kreteria tersebut di atas, positivisme beranggapan bah wa ilmu-ilmu menganut tiga prinsip: bersifat objektif-empiris, deduktif-monologi s, instrumental-bebas nilai (value free). Selain itu, sains itu harus testable, verificable, predictable, repeatable. Dengan keyakinan tersebut, Comte juga menjamin, bahwa paradigma positivisme tida k terbatas pada ilmu-ilmu alam atau fisika, tapi juga ilmu-ilmu sosial dan human iora. Bagi Comte, prilaku sosial masyarakat, akan dapat ditentukan hukum-hukumny a yang pasti dan berlaku universal sebagaimana hukum alam. Dalam perkembangan s elanjutnya, paradigma positivisme ini telah mendominasi kerja ilmiyah sampai den gan saat ini. Yang tidak hanya terbatas ilmu-ilmu eksakta tapi juga ilmu-ilmu so sial dan humaniora. Dalam ilmu-ilmu sosial, sikap positivisme mengandaikan bahwa prosedur metodolog is ilmu-ilmu alam dapat lansung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial. Gejala subjekt if manusia, kepentingan maupun kehendak manusiawi, tidak mengganggu objek pengam atan, yaitu tingkah laku sosial manusia. Kemudian, hasil penelitian dapat dirumu skan dalam bentuk hukum-hukum seperti dalam ilmu-ilmu alam. Selanjutnya, ilmu-ilmu sos ial harus bersifat teknis, yaitu menyediakan ilmu pengetahuan yang bersifat inst rumental murni. Salah satu sasaran prinsipil yang ingin dicapai oleh positivisme dalam ilmu sosi al, sebagaimana dikatakan Gidden adalah menghilangkan semua teori dan metode yan g masih berpijak pada kualitas-kualitas abstrak yang dipahami secara eksklusif o leh metafisika. Sehingga pada gilirannya, positivisme mengmbangkan metodologi a ksiomatisasi teori ilmu ke dalam logika matematik, dalam tataran praktisnya. Met odologi ini terbangun dari asumsi dasar bahwasanya hukum-hukum mekanik itu inher

en dalam benda itu sendiri. Ilmu dapat menyajikan gambaran dunia secara lebih me yakinkan didasarkan pada penelitian empirik daripada spekulasi filosofik. Dalam tataran praktisnya, paradigma positivisme mengambil bentuk metodologi kuan titatif dalam penelitian ilmiah. Positivisme mengadopsi analogi biologis dan mek anical dalam studi tentang manusia. Sistem biologis dan mekanis tersebutlah digu nakan untuk memahami prilaku manusia.Dalam hal ini, Comte membedakan antara soci al static dengan social dynamics. Yang pertama merupakan dimensi struktur, yang kedua merupakan proses atau fungsi. Sehingga dalam kehidupan sosial struktur su atu masyarakat tidak berubah atau atatis, memang ada dinamika, tetapi sebatas se bagai proses sesuai dengan fungsi keseluruhan strukstur atau fungsi bagian-bagia n tertentu. Demikianlah paradigma positivisme,p ada akhirnya, gejala sosial masyarakat yang sesungguhnya terus mengalami perubahan dan perkembangan harus dilihat sebagaiman a halnya hukum alam yang mempunyai mekanisme tetap. Selain itu, justifikasi terh adap sesuatu yang dianggap dan tidak ilmiyah hanyalah diukur melalui objek yang real, positifistik, dan berguna secara pragmatis. D. Penutup Positivisme terlahir ketika ilmu-ilmu alam sedang mengalami performa gemilang de ngan banyaknya temuan-temuan dalam bidang teknologi. Sehingga pada akhirnya, yan g menjadi ukuran ilmiah tidaknya bangunan keilmuan harus diuji dengan standar-s tandar positivisme. Positivisme, yang sebelumnya merupakan paradigma dalam mel akukan kerja ilmiyah pada bidang ilmu-ilmu alam, namun pada perkembangan pada ak hirnya digunakan juga untuk mengkaji ilmu-ilmu social dan humaniora. Sehingga ma nusia dengan berbagai dimensi sosialnya dilihat sebagai sesuatu tang bersifat st atis dan ajek sebagaimana hukum alam. Sekian Wassalam. Daftar Pustaka F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; Dari Macheviale Sampai Nietzche. (Jakarta: Gr amedia Pustaka, 2004). --------Kritik Ideologi, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 2009). Giddens, Anthony dan Turner, Jonathan , Sosial Theory Today, terj oleh Yudi Sant oso, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008). Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2005) cet. IV. Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangk a Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2008). Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi IV, (Yogyakarta: Rake Sarasi n, 2002), Cet. II. Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Prenada Media, 2004). Russel, Bertran, Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan dengan kondisi sosi o-politik dari zaman kuno hingga sekarang, terj. Sigit Jatmiko, Agung Prihantoro , Imam Muttaqien, Imam Baihaqi, Muhammad Shosiq, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2 007), cet. III.