Anda di halaman 1dari 14

PEMAHAMAN MENGENAI ENTITAS DAN LINGKUNGANNYA

I. PENDAHULUAN Dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan, auditor harus memperoleh pengetahuan tentang bisnis yang cukup untuk memungkinkan auditor mengidentifikasi dan memahami peristiwa, transaksi, dan praktik, yang menurut pertimbangan auditor, kemungkinan berdampak signifikan atas laporan keuangan atau atas laporan pemeriksaan atau laporan audit. Sebagai contoh, pengetahuan tersebut digunakan oleh auditor dalam menaksir risiko bawaan dan risiko pengendalian dan dalam menentukan sifat, saat, dan luasnya prosedur audit. Tingkat pengetahuan auditor untuk suatu perikatan mencakup pengetahuan umum tentang ekonomi dan industri yang menjadi tempat beroperasinya entitas, dan pengetahuan yang lebih khusus tentang bagaimana entitas beroperasi. Namun, tingkat pengetahuan yang dituntut dari auditor biasanya lebih rendah bila dibandingkan dengan yang dimiliki oleh manajemen. Daftar hal-hal yang perlu dipertimbangkan mengenai pengetahuan tentang bisnis, dalam perikatan tertentu disajikan dalam lampiran. Sebelum menerima suatu perikatan, auditor harus memperoleh pengetahuan pendahuluan tentang industri dan hak kepemilikan, manajemen dan operasi entitas yang akan diaudit, dan akan mempertimbangkan apakah tingkat pengetahuan tentang bisnis memadai untuk melaksanakan audit yang akan diperoleh. Setelah penerimaan perikatan, informasi lebih lanjut dan lebih rinci akan diperoleh. Sejauh praktis dilaksanakan, auditor akan memperoleh pengetahuan yang diperlukan pada awal dimulainya perikatan. Sepanjang perjalanan pekerjaan audit, informasi tersebut akan ditentukan dan dimutakhirkan serta informasi lebih banyak akan diperoleh. Pemerolehan pengetahuan tentang bisnis yang diperlukan merupakan proses berkelanjutan dan bersifat kumulatif dalam pengumpulan dan penentuan informasi dan pengaitan pengetahuan yang diperoleh dengan bukti audit serta informasi di setiap tahap audit. Sebagai contoh, meskipun informasi dikumpulkan pada tahap perencanaan, biasanya informasi tersebut diperhalus dan ditambah pada tahap audit berikutnya karena auditor dan asistennya belajar lebih banyak tentang bisnis. Dalam perencanaan audit, pemahaman atas industri klien merupakan langkah pertama yang harus dilakukan auditor. Untuk memahami materi ini, makalah ini akan membahas

tentang Pemahaman mengenai Entitas dan Lingkungannya lebih lanjut serta kasus yang berhubungan, yaitu Capitalbanc Coorporation. II. LANDASAN TEORI 1. Komunikasi dengan Auditor Pendahulu (Setelah Penunjukan) Menurut PSA no. 16 auditor pendahulu adalah auditor yang telah melaporkan laporan keuangan auditan terkini atau telah mengadakan perikatan untuk melaksanakan namun belum menyelesaikan audit laporan keuangan kemudian dan telah mengundurkan diri, bertahan untuk menunggu penunjukan kembali, atau telah diberitahu bahwa jasanya telah, atau mungkin akan, dihentikan. Auditor pengganti adalah auditor yang sedang mempertimbangkan untuk menerima perikatan untuk mengaudit laporan keuangan, namun belum melakukan komunikasi dengan auditor pendahulu. Auditor pengganti harus meminta keterangan yang spesifik dan masuk akal kepada auditor pendahulu mengenai masalah-masalah yang menurut keyakinan auditor pengganti akan membantu dalam memutuskan penerimaan atau penolakan perikatan. Hal-hal yang dimintakan keterangan harus mencakup: a. b.
c.

Informasi yang kemungkinan berkaitan dengan integritas manajemen. Ketidaksepakatan dengan manajemen mengenai penerapan prinsip akuntansi, prosedur audit, atau soal-soal signifikan yang serupa. Komunikasi dengan komite audit atau pihak lain dengan kewenangan dan tanggung jawab setara tentang kecurangan, unsur pelanggaran hukum oleh klien, dan masalahmasalah yang berkaitan dengan pengendalian intern.

d.

Pemahaman auditor pendahulu tentang alasan penggantian auditor.

Auditor pengganti harus memperoleh bukti kompeten yang cukup untuk memberikan basis memadai guna menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang menjadi objek perikatan auditnya, termasuk penilaian konsistensi penerapan prinsip akuntansi. Bukti audit yang digunakan untuk menganalisis dampak saldo awal atas laporan keuangan tahun berjalan dan konsistensi prinsip akuntansi merupakan masalah pertimbangan profesional. Bukti audit tersebut dapat mencakup laporan keuangan auditan yang dilaporkan oleh auditor pendahulu dalam laporannya, hasil permintaan keterangan auditor pendahulu, hasil review yang dilakukan oleh auditor pengganti terhadap kertas kerja auditor pendahulu, dan prosedur audit yang dilaksanakan terhadap transaksi tahun berjalan yang dapat memberikan bukti tentang saldo awal atau konsistensi.

2. Pelaksanaan Prosedur Analitik Prosedur analitik merupakan bagian penting dalam proses audit dan terdiri dari evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya, atau antara data keuangan dengan data nonkeuangan. Prosedur analitik mencakup perbandingan yang paling sederhana hingga model yang rumit yang mengaitkan berbagai hubungan dan unsur data. Asumsi dasar penerapan prosedur analitik adalah bahwa hubungan yang masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan berlanjut, kecuali jika timbul kondisi yang sebaliknya. Kondisi tertentu yang dapat menimbulkan penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain, peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak, atau salah saji (SA 329). Prosedur analitik digunakan dengan tujuan sebagai berikut: a. Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit lainnya. b. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi. c. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit. Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. Auditor mengembangkan harapan tersebut dengan mengidentifikasi dan menggunakan hubungan yang masuk akal, yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor mengenai klien dan industrinya. Berikut ini adalah contoh sumber informasi yang digunakan dalam mengembangkan harapan: a. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan dengan memperhatikan perubahan yang diketahui. b. Hasil yang diantisipasikan, misalnya anggaran atau prakiraan termasuk ekstrapolasi dari data interim atau tahunan. c. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam satu periode. d. Informasi industri bidang usaha Mien, misalnya informasi laba bruto. e. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan. 3. Pertimbangan akan Pengendalian Internal SA Seksi 110 (PSA No. 01) Tanggung Jawab dan Fungsi Auditor Independen, menyatakan bahwa "Auditor bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan audit

untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan dan kecurangan." Faktor-faktor risiko kecurangan tidak dapat dengan mudah disusun peringkatnya menurut pentingnya atau digabungkan menjadi model prediksi yang efektif. Signifikan atau tidaknya faktor risiko adalah sangat bervariasi. Beberapa faktor tersebut akan ada di entitas yang di dalamnya kondisi khusus tidak menunjukkan adanya risiko salah saji material. Oleh karena itu, auditor harus menggunakan pertimbangan profesional pada waktu mempertimbangkan faktor risiko secara individual atau secara gabungan dan apakah terdapat pengendalian khusus untuk mengurangi risiko. Sebagai contoh, suatu entitas mungkin tidak melakukan penyaringan karyawan baru yang memiliki akses ke aktiva yang dicurigai rentan terhadap pencurian. Faktor ini, secara tunggal, mungkin tidak berdampak signifikan terhadap penaksiran risiko salah saji material sebagai akibat dari kecurangan. Namun, jika faktor tersebut digabung dengan kurangnya pengawasan oleh manajemen dan kurangnya pengamanan fisik terhadap aktiva yang mudah dijual di pasar seperti sediaan dan aktiva tetap, gabungan dampak faktor-faktor yang berkaitan tersebut dapat menjadi signifikan dalam penaksiran risiko. SA Seksi 319 (PSA No. 69) Pertimbangan Pengendalian Intern dalam Audit atas Laporan Keuangan mensyaratkan agar dalam merencanakan audit, auditor memperoleh pemahaman memadai tentang pengendalian intern entitas atas pelaporan keuangan. Juga disebutkan bahwa pengetahuan tersebut harus digunakan untuk mengidentifikasi tipe salah saji potensial, mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap risiko salah saji material, dan mendesain pengujian substantif. Pemahaman tersebut seringkali akan berdampak terhadap pertimbangan auditor tentang signifikan atau tidaknya faktor risiko kecurangan. Di samping itu, pada waktu mempertimbangkan signifikan atau tidaknya faktor risiko kecurangan, auditor dapat menentukan apakah terdapat pengendalian khusus yang mengurangi risiko tersebut atau apakah kelemahan pengendalian tertentu dapat meningkatkan risiko tersebut. 4. Kebutuhan akan Supervisi Kecurangan seringkali terjadi menyangkut hal berikut ini: (a) suatu tekanan atau suatu dorongan untuk melakukan kecurangan, (b) suatu peluang yang dirasakan ada untuk melaksanakan kecurangan. Meskipun tekanan dan peluang khusus untuk terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan dapat berbeda dari kecurangan melalui perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva, dua kondisi tersebut biasanya terjadi di kedua tipe kecurangan tersebut. Sebagai contoh, kecurangan dalam pelaporan keuangan dapat dilakukan karena manajemen berada di bawah tekanan untuk mencapai target laba yang tidak realistik.

Perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva dapat dilakukan karena individu yang terlibat hidup di luar batas kemampuannya. Peluang dirasakan ada jika seorang individu yakin bahwa ia dapat menghindari pengendalian intern (SA 316) Kecurangan dapat disembunyikan dengan memalsukan dokumentasi, termasuk pemalsuan tanda tangan. Sebagai contoh, manajemen yang melakukan kecurangan dalam pelaporan keuangan dapat mencoba menyembunyikan salah saji dengan menciptakan faktur fiktif, karyawan atau manajemen yang memperlakukan kas secara tidak semestinya dapat mencoba menyembunyikan tindakan pencurian mereka dengan memalsu tanda tangan atau menciptakan pengesahan elektronik yang tidak sah di atas dokumen otorisasi pengeluaran kas. Audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia jarang berkaitan dengan keaslian dokumentasi, atau auditor tidak terlatih sebagai atau diharapkan sebagai seorang yang ahli dalam menguji keaslian seperti itu. Kecurangan juga disembunyikan melalui kolusi di antara manajemen, karyawan atau pihak ketiga. Sebagai contoh, melalui kolusi, bukti palsu bahwa pengendalian aktivitas telah dilaksanakan secara efektif dapat disajikan kepada auditor. Contoh lain, auditor dapat menerima konfirmasi palsu dari pihak ketiga yang melakukan kolusi dengan manajemen. Kolusi dapat menyebabkan auditor percaya bahwa suatu bukti dapat meyakinkan, meskipun kenyataannya palsu. Karena kemungkingan terjadinya kecurangan sangat tinggi, perusahaan menerapkan pengawasan yang lebih ketat lagi. Semakin tinggi tingkat kecurangan yang terjadi dalam perusahaan , kebutuhan akan supervisi juga akan semakin tinggi.
III. KASUS CAPITALBANC CORPORATION Pada tahun 1975, Cordova dan beberapa investor lainnya mendirikan Capital National Bank (CNB) di Bronx, New York. Cordova ditunjuk sebagai banks executive officer (CEO) dan Ketua Dewan. Selama beberapa tahun terakhir, bank membuka 5 kantor cabang di New York City. CNB adalah bank yang khusus melayani Hisponic American dan komunitas imigran di New York City. Pada tahun 1986, Cordova dan beberapa pemilik CNB lainnya membentuk CapitalBanc Corpotation, yang terdaftar di Securities and Exchange Commision (SEC). Sepanjang keberadaannya, entitas operasi utama yang dikendalikan oleh CapitalBanc adalah CNB. Cordova juga berperan sebagai presiden, CEO dan ketua dewan pada perusahaan baru tersebut. Pada musim gugur tahun 1987, CapitalBanc menyewa Arthur Andersen & Co sebagai KAPnya. Tugas pertamanya adalah mengaudit laporan keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal

berakhir 31 Desember 1987. Thomas Curtin sebagai partner Arthur Andersen sejak tahun 1979, kembali menjadi partner untuk audit Capitalbanc tahun 1987. Curtin bertanggung jawab untuk menyusun perencanaan-perencanan audit bersama James Lukenda, yaitu manager audit KAP Arthur Andersen sejak tahun 1983. Lukenda juga mengawasi staf-staf auditor yang ditugaskan pada Capitalbanc. Pada 29 Desember 1987, beberapa orang staf auditor KAP Arthur Andersen didampingi oleh anggota staf audit internal CNB bermaksud mengamati dan berpartisipasi dalam pemeriksaan mendadak dana kas kantor cabang bank jalan 177 mengenai tujuan audit terkait termasuk pengujian kepatuhan CNB dengan prosedur pengawasan tertentu dan mengevaluasi kompetensi staf audit internal bank. Personil akuntansi di setiap cabang CNB menyimpan lembar bukti buku besar dalam sebuah ruangan atau brangkas yang disesuaikan dengan kas di tangan untuk saldo akun buku besar kas cabang. Selama pemeriksaan akun kas di kantor cabang jalan 177 ini, auditor Arthur Andersen menemukan 2,7 juta dolar sesuai dengan lembar bukti yang ada. Jumlah ini setara dengan 61 persen saldo buku besar kas dan 45 persen dari total dana kas yang seharusnya tersedia pada saat pemeriksaan mendadak ini. Ketika staf auditor menanyakan uang sebesar 2,7 juta dolar ini, karyawan bank mengatakan bahwa Cordova telah memisahkan kas ini di dalam sebuah kabinet (lemari) terkunci di dalam ruangan atau brangkas utama bank. Dibutuhkan 3 kunci untuk membuka kabinet (lemari) tersebut. Cordova saat ini sedang ke luar negeri dan dia membawa salah satu kunci kabinet (lemari). Pemeriksaan semetara terhambat, dan staf auditor menelepon Lukenda menyampaikan kepada Lukenda tentang informasi pemisahan kas sebesar 2,7 juta dolar tersebut. Setelah mempertimbangkan hal tersebut dan mendiskusikannya dengan Curtin, Lukenda memerintahkan untuk menunda perhitungan kas ini sampai Cordova kembali. Lukenda juga mengatakan kepada staf auditornya bahwa tidak perlu segel audit untuk pintu kabinet (lemari) atau cara lain dengan membuat 3 kunci untuk sistem keamanan seperti yang digunakan pada cabang ini. Mengikuti percakapan dengan Lukenda via telepon tadi, staf auditor memberitahukan kepada personil bank bahwa pemeriksaan akun kas akan dilanjutkan pada hari dimana Cordova telah kembali dari perjalanannya. Praktik CNB yang melakukan pemisahan sejumlah besar kasnya pada kabinet (lemari) terkunci tersebut jelas bukan merupakan prosedur bank yang tidak normal. Seletah penyelidikan, SEC memberikan komentarnya terhadap praktek ini: Ini merupakan keadaan yang tidak biasa, karena sebagian besar dari kas bank harus bisa diakses pada suatu periode, dan hal ini juga tidak biasa dimana sebagian besar dari asset bank tidak diinvestasikan dan menghasilkan pendapatan bunga pada suatu periode. Pada awal Januari 1988, karyawan dari cabang jalan 177 memberitahukan kepada Arthur Andersen bahwa Cordova akan kembali pada tanggal 14 Januari. Pada hari itu, staf auditor Arthur Andersen sampai di cabang dan menyelesaikan pemeriksaan dana kas mereka. Cordova membuka

kunci kabinet (lemari) bersama staf auditor. Auditor kemudian mulai menghitung kas sebesar 2,7 juta dolar yang belum dihitung pada pemeriksaan tanggal 29 Desember 1987. Semua kas ternyata ada. Dana kas lainnnya pada bank cabang jalan 177 atau labang CNB lainnya diperiksa oleh auditor Arthur Andersen pada tanggal 14 Januari 1988. Setelah pemeriksaan dana kas yang terpisah, staf auditor menanyakan kepada Cordova mengapa menyimpan dana ini pada kabinet (lemari) terkunci. Cordova menjawab bahwa nasabah yang medepositokan uangnya dalam jumlah besar mendesak untuk menguangkan sertifikat deposito sesuai dengan permintaannya setiap saat. Menurut Cordova, nasabah bermaksud untuk menggunakan uangnya untuk membeli mata uang asing pada saat kondisi pasar menguntungkan. Ketidakstabilan pasar valuta asing membuat nasabah dapat mengakses dana langsung setiap hari. Mendekati penyelesaian audit Capitalbanc tahun 1987, Lukenda meninjau kembali kertas kerja yang mendokumentasikan penjelasan Cordova tentang pemisahan kas sebesar 2,7 juta dolar. Lukenda mendiskusikan penjelasan ini dengan Curtin. Setelah mempertimbangkan masalah ini, Curtin meminta staf auditor Lukenda untuk mengkonfirmasikan untuk menghapus kewajiban memberikan kompensasi kepada pelanggan di dalam catatan akuntansi yang jumlahnya sama dengan dana yang dipisahkan. Staf auditor memperoleh dokumentasi kewajiban langsung dari personil CNB. Informasi ini tidak dikonfirmasi lagi dengan nasabah. Staf auditor juga tidak memperoleh informasi yang menyatakan bahwa nasabah telah menguangkan sertifikat deposito dalam jumlah besar. Akhirnya, staf auditor mengabaikan untuk memperoleh bukti-bukti yang menguatkan pernyataan Cordova mengenai dana yang direncanakan akan digunakan oleh nasabah. Setelah penyelesaian audit Capitalbanc pada bulan Maret 1988, Arthur Andersen mengeluarkan pendapat wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan perusahaan tahun1987. Laporan keuangan ini melaporkan laba bersih 701 ribu dolar, total dana kas 14,1 juta dolar, dan total aktiva 143,2 juta dolar. Laporan Keuangan Auditan Capitalbanc ada dalam pernyataan pendaftaran 10-K SEC tahun 1987.

Pertannyaan :
1. Dalam pengauditan kas, manakah dari lima asersi manajemen yang dibahas dalam SAS

No. 31 tentang Evidential Matter yang merupakan perhatian utama auditor? Mengapa? Langkah pertama dalam proses logika audit adalah mengidentifikasi asersi klien. Asersi klien adalah representasi eksplisit atau implisit oleh manajemen yang terkandung dalam laporan keuangan. Sebenarnya asersi merupakan proposisi yang menyangkut setiap akun dalam laporan keuangan. Auditor harus menguji proposisi tersebut dengan mengumpulkan bukti untuk mendukung atau menyangkalnya. SAS No. 31, Evidential Matter (AU 326), mengklasifikasikan pernyataan laporan keuangan menjadi lima kategori (Boynton, 195) 1) Eksistensi atau kejadian Asersi eksistensi atau kejadian merupakan pernyataan manajemen bahwa aktiva dan kewajiban yang dicatat dalam laporan keuangan secara aktual ada pada tanggal neraca dan transaksi yang dicatat dalam laporan keuangan. Program audit harus mencantumkan prosedur yang dirancang untuk menguji asersi eksistensi atau kejadian tentang unsur-unsur material dari laporan keuangan. 2) Kelengkapan Asersi mengenai kelengkapan dapat dipandang sebagai kebalikan dari asersi eksistensi. Kelengkapan berarti semua transaksi dan akun yang seharusnya tercatat dalam laporan keuangan telah dicatat. Sebaliknya, eksistensi berarti bahwa akun dan transaksi yang tercatat dalam laporan keuangan adalah akun dan transaksi yang benar-benar harus dicatat. Jika asersi eksistensi tidak benar, maka akun akan dinyatakan terlalu tinggi, sementara jika asersi kelengkapan tidak benar, maka akun akan dinyatakan terlalu rendah. 3) Hak dan Kewajiban Asersi mengenai hak dan kewajiban lebih ditekankan dalam audit perusahaan kecil, dimana terdapat potensi kesamaan antara transaksi pribadi pemilik dengan transaksi perusahaannya. Dalam situasi ini, laporan keuangan klien mungkin meliputi aktiva atau kewajiban pribadi pemilik atau pegawai. Bukti mengenai hak dan kewajiban bervariasi sesuai dengan sifat akun aktiva serta aktiva yang sedang diaudit. Untuk pabrik dan peralatan, auditor mencari bukti kepemilikan dari sertifikat, akta notaris, atau perjanjian lease. Untuk persediaan auditor menanyakan tentang perjanjian konsinyasi dan tetap berjaga-jaga atas transaksi

persediaan yang mungkin mengindikasikan akivitas konsinyasi. Asersi hak dan kewajiban unuk kewajiban yang dapat diuji dengan memeriksa instrument hutang yang meningkatkan kewajiban. 4) Penilaian dan Alokasi Asersi mengenai penilaian dan alokasi apakah aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban yang tercatat dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat. Penilaian yang tepat atas pos-pos laporan keuangan telah dijabarkan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Alokasi merupakan bagian dari penilaian yang tepat untuk beberapa item atau pos laporan keuangan. Persediaan yang diperoleh selama setahun harus dialokasikan antara harga pokok pejualan dan persediaan akhir, harga pokok pabrik dan peralatan harus dialokasikan antara beban penyusutan dan saldo yang tidak disusutkan, serta pendapatan harus dialokasikan ke periode akuntansi di mana pendapatan itu diperoleh. 5) Penyajian dan Pengungkapan Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan merupakan pernyataan manajemen bahwa komponen-komponen laporan keuangan telah diklasifikasikan, diuraikan dan diungkapkan secara tepat sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa dalam pemeriksaan kas, yang menjadi perhatian utama auditor adalah asersi eksistensi atau keterjadian. Kas merupakan harta perusahaan yang sangat menarik dan sifatnya sangat mudah diselewengkan sehingga sangat besar kemungkingan terjadinya risiko salah saji material. Dan umumnya banyak transaksi dalam perusahaan yang berhubungan dengan penerimaan dan pengeluaran kas. Karena alasan tersebut asersi eksistensi atau keterjadian sangat diperlukan dalam proses audit kas karena asersi ini berhubungan dengan apakah aktiva atau hutang entitas ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat telah terjadi selama periode tertentu.
2. Identifikasi prosedur audit yang harus diterapkan oleh klien di tempat usahanya dalam

menjaga dana kasnya . Prosedur Audit adalah tindakan yang di lakukan atau metode dan teknik yang digunakan oleh auditor untuk mendapatkan atau mengevaluasi bukti audit. Prosedur-prosedur audit yang dilakukan untuk kas: a. Prosedur Analitis

Terdiri dari kegiatan yang mempelajari dan membandingkan data yang memiliki hubungan. Prosedur analitis mengahasilkan bukti analitis. b. Menginspeksi Meliputi kegiatan pemeriksaan secara teliti atau pemeriksaan secara mendalam atas dokumen catatan atau pemeriksaan fisik atas sumber-sumber berwujud. Dengan cara ini auditor dapat membuktikan keaslian suatu dokumen. c. Mengkonfirmasi Adalah suatu bentuk pengajuan pertanyaan yang memungkinkan auditor untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber independent dari luar perusahaan. d. Mengajukan pertanyaan Hal ini bisa dilakukan secara lisan ataupun tertulis. Pertanyaan bisa dilakukan kepada sumber intern pada perusahaan klien atau pada pihak luar. e. Menghitung Penerapan prosedur menghitung yang paling umum dilakukan adalah: melakukan perhitungan fisik atas barang-barang berwujud menghitung dokumen bernomor tercetak

Tindakan yang pertama dimaksudkan untuk mengevaluasi bukti fisik dari jumlah yang ada di tangan sedangkan yang kedua merupakan cara untuk mengevaluasi bukti dokumen khususnya yang berkaitan dengan kelengkapan catatan akuntansi. f. Menelusur Yang biasa dilakukan adalah : memilih dokumen yang di buat pada saat transaksi terjadi menentukan bahwa dokumen pada transaksi tersebut telah dicatat dengan tepat dalam catatan akuntansi. g. Mencocokkan ke dokumen Kegiatannya meliputi :

memilih ayat jurnal tertentu dalam catatan akuntansi mendapatkan dan menginspeksi dokumen yang menjadi dasar pembuatan ayat jurnal tersebut untuk menentukan validasi dan ketelitian transaksi yang dicatat.

h. Mengamati Aktivitas ini merupakan kegiatan rutin dari suatu tipe transaksi.
i. Melakukan ulang (review)

Auditor juga bisa melakukan ulang beberapa aspek dalam proses transaksi tertentu untuk memastikan bahwa proses yang telah dilakukan klien sesuai dengan prosedur dan kebijakan pengendalian yang telah di tetapkan.
j. Teknik audit berbantu komputer

3. Identifikasi kesalahan yang dibuat oleh personil Arthur Andersen ketika mengaudit dana

kas pada cabang jalan 177.


a. Staf auditor KAP Arthur Andersen tidak mengumpulkan bukti yang mendukung

pernyataan Cordova mengenai sejumlah kas yang dipisahkan sebesar 2,7 juta dolar. Staf auditor hanya mengkonfirmasikan kepada Cordova tentang pemisahan kas yang dilakukannya, tanpa mencari tahu kebenaran dari pernyataan tersebut.
b. Staf auditor tidak melakukan penelusuran ke dokumen-dokumen yang terkait dengan

pemisahan kas yang dilakukan oleh Cordova.

c. IV. KESIMPULAN 1. Auditor pengganti harus meminta keterangan yang spesifik dan masuk akal kepada auditor pendahulu mengenai masalah-masalah yang menurut keyakinan auditor pengganti akan membantu dalam memutuskan penerimaan atau penolakan perikatan.
2. Prosedur analitik merupakan bagian penting dalam proses audit dan terdiri dari evaluasi

terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya, atau antara data keuangan dengan data nonkeuangan. 3. Auditor bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan dan kecurangan.
4. Asersi manajemen dalam SAS No. 31 yaitu: eksistensi atau keterjadian, kelengkapan, hak

dan kewajiban, penilaian atau alokasi, serta penyajian dan pengungkapan. Yang menjadi perhatian auditor dalam mengaudit kas adalah eksistensi atau keterjadian.
5. Prosedur Audit adalah tindakan yang di lakukan atau metode dan teknik yang digunakan

oleh auditor untuk mendapatkan atau mengevaluasi bukti audit.


6. Beberapa

prosedur

untuk

audit

kas

yaitu,

prosedur

analitis,

menginspeksi,

mengkonfirmasi, mengajukan pertanyaan, menghitung, menelusuri, mencocokkan ke dokumen, mengamati, melakukan ulang, serta teknik audit berbantuan komputer.

7. DAFTAR REFERENSI Standar Audit 315, Komunikasi antara Auditor Pendahuludan Auditor Pengganti. Standar Audit 316, Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan. Standar Audit 317, Unsur Tindakan Melawan Hukum. Standar Audit 318, Pemahaman atas Bianis Klien. Standar Audit 320, Surat Perikatan Audit. Standar Audit 329, ProsedurAnalitik. http: //www.akuntansi-ku.co.cc/p/audit.html, download 2 Januari 2011.