Anda di halaman 1dari 75

BAB 1 PENDAHULUAN

2012 PT. BAHANA NUSANTARA

2012

PT. BAHANA

NUSANTARA

[PENYUSUNAN KAJIAN DAN PEMETAAN RUPABUMI DI KOTA TANGERANG]

PROPOSAL TEKNIS PENYUSUNAN KAJIAN DAN PEMETAAN RUPABUMI DI KOTA TANGERANG

1

BAB 1 PENDAHULUAN

Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN

5

1.1

Latar Belakang

5

1.2

Maksud dan Tujuan Pekerjaan

5

1.3

Sasaran Pekerjaan Pekerjaan

6

1.4

Keluaran Pekerjaan

6

1.5

Pelaksanaan Pekerjaan/Ruang Lingkup Pekerjaan

6

1.5.1

Sumber Daya Manusia

6

1.5.2

Ruang Lingkup Pekerjaan

7

1.5.3

Tahapan pelaksanaan

7

BAB 2 PENGALAMAN

8

2.1

Latar Belakang

8

2.2

Lingkup Jasa Konsultansi

8

2.2.1

Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota

9

2.2.2

Pengembangan Sumber Daya Air

10

2.2.3

Transportasi dan Prasarana

13

2.2.4

Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya

14

2.2.5

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

15

2.2.6

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi

16

2.3

Organisasi Perusahaan

17

2.4

Pengalaman Perusahaan Secara Umum

19

2.5

Perangkat Kantor

19

BAB 3 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

20

3.1 Tanggapan Terhadap Latar Belakang

20

3.2 Tanggapan Terhadap Tujuan Pekerjaan

20

3.3 Tanggapan Terhadap Sasaran Pekerjaan

20

3.4 Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan

21

3.5 Tanggapan Terhadap Keluaran Pekerjaan

21

3.6 Tanggapan

Terhadap Lingkup Pekerjaan

21

3.7 Tanggapan Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan

21

3.8 Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli

22

3.9 Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi

22

BAB 4 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

24

4.1

Tanggapan Terhadap Personil

24

2

4.2

Tanggapan Terhadap Fasilitas Pendukung

24

BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 5 PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

25

6.1

Pendekatan

25

6.1.1

Pendekatan Normatif

26

6.1.2

Pendekatan Teknis

27

6.1.2.1

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

27

6.1.2.2

Gazetir

34

6.1.2.3

Peta

36

6.1.2.4

Sistem Informasi Geografi

36

6.1.2.5

Sosiologi

43

6.1.2.6

Sejarah

47

6.1.2.7

Profil Wilayah Kota Tangerang

53

6.2

Metodologi

62

6.2.1

Program Kerja

65

6.2.2

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

66

6.3

Organisasi dan Personil

68

6.3.1

Organisasi pelaksanaan pekerjaan

68

6.3.2

Jadwal penugasan tenaga ahli

69

6.3.3

Komposisi Tim Dan Penugasan

69

6.3.4

Kerangka Berfikir Makro Pekerjaan

73

6.3.5

Kerangka Berfikir Mikro Pekerjaan

74

6.3.6

Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan

75

3

BAB 1 PENDAHULUAN

Daftar Gambar

Daftar Tabel

Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

66

Tabel 2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

69

Tabel 3 Komposisi Tim Dan Penugasan

69

4

BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan Otonomi daerah dimana dimungkinkannya pemekaran wilayah guna efektifitas pelayanan publik secara maksimal, akan berimbas kepada berubahnya pola dan nama pengadministrasian wilayah yang merupakan dampak langsung dari pergantian administrasi kepemerintahan daerah beserta jajaran dibawahnya, dalam hal pemekaran wilayah di kabupaten kota, dengan terbentuknya wilayah administratif kecamatan dan kelurahan baru misalnya, tentu akan memerlukan pola dan nama pengadministrasian wilayah kecamatan dan

kelurahan yang baru pula. Pemberian dan pembakuan nama unsur geografis di wilayah kabupaten dan kota ini menjadi suatu pekerjaan yang sangat penting untuk dilaksanakan karena merupakan suatu titik akses langsung dan intuitif terhadap sumber informasi lain, yang dapat membantu untuk pengambilan keputusan bagi para pembuat kebijakan serta membantu kerjasama diantara organisasi di tingkat

Penamaan rupabumi suatu daerah

kabupaten kota harus memiliki keunikan yang menunjukan identitas daerah, letak geografis yang pasti dan memiliki batas wilayah yang jelas. Tanpa adanya pembakuan dalam penggunaan nama rupabumi, akan terjadi kerancuan dan kekacauan pada alur sistem kepemerintahan di daerah dan pada

kabupaten dan kota maupun tingkat nasional

kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat.

1.2 Maksud dan Tujuan Pekerjaan Kegiatan pembakuan nama rupabumi dimaksudkan dan bertujuan untuk mencipyakan sinergitas, kesinambungan dan koordinasi yang berkelanjutan antara Pemerintah, Propinsi dan Kabupaten/Kota guna memantapkan data dan informasi

5

Sasaran Pekerjaan Pekerjaan

akurat mengenai nama rupabumi baik untuk kepentingan daerah, propinsi, dan pembangunan nasional. Pembakuan nama rupabumi dilakukan dengan tujuan :

1) mewujudkan tertib administrasi di bidang pembakuan nama rupabumi di Kota Tangerang;

2)

3) mewujudkan data dan informasi akurat mengenai nama rupabumi di di Kota Tangerang, baik untuk kepentingan pembangunan daerah maupun pembangunan tingkat nasional. 4) menunjang adanya gasetir nasional sehingga ada kesamaan pengertian mengenai nama rupabumi di Kota Tangerang dan di lndonesia pada umumnya;

menjamin tertib administrasi di Kota Tangerang;

1.3 Sasaran Pekerjaan Pekerjaan

Sasaran pekerjaan ini terdiri atas;

1)

Teridentifikasinya unsur-unsur rupa bumi di wilayah kota tangerang

2)

Teridentifikasinya permasalahan-permasalahan pemetaan di wilayah kota tangerang

3)

terhadapa pedoman pembakuan nama rupa bumi Teridentifikasinya nama, sejarah dan lokasi rupa bumi di wilayah kota tangerang

1.4 Keluaran Pekerjaan Keluaran pekerjaan ini adalah tersedianya gezetir lokasi instansi diwilayah kota tangerang.

1.5 Pelaksanaan Pekerjaan/Ruang Lingkup Pekerjaan

Pelaksanaan pekerjaan ini terdiri atas beberapa aspek yakni; sumber daya manusia yang

diharapkan dapat membantu; (ii) ruang lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan; (iii) dan

tahapan pekerjaan.

1.5.1 Sumber Daya Manusia

1)

Tenaga Ahli, dengan kualifikasi S2 Pendidikan, Pengalaman kerja minimal 5 (lima)-8 (delapan) tahun yang terdiri atas 1 Orang Ahli Sosiologi, 1 Orang Ahli teknik geodesi/Geologi

6

Ruang Lingkup Pekerjaan

2)

Asisten tenaga ahli S2 Pendidikan, Pengalaman kerja minimal 1 (satu)-4 (empat) tahun

3)

yang terdiri atas 1 Orang Asisten Sosiologi, 1 Orang Asisten geodesi/Geologi Tenaga Pendukung, pengalaman kerja minimal 1(satu)-4(Empat) tahun yang terdiri atas : 1 Orang Operator Autocad; 1 Orang Operator Komputer; 5 Orang Tenaga Surveyor.

1.5.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

Yang termasuk dalam ruang lingkup kegiatan meliputi :

1)

Kegiatan Koordinasi dan konsultasi penyusunan rupa bumi kota Tangerang

2)

Kegiatan Tim Counterpart dalam penyusunan rupa bumi kota Tangerang

3)

Kegiatan Evaluasi kegiatan penyusunan rupa bumi kota Tangerang

1.5.3 Tahapan pelaksanaan

1)

Pelaksanaan kegiatan Koordinasi dan konsultasi penyusunan rupa bumi kota

Tangerang.

2)

Pelaksanaan Kegiatan Tim Counterpart dalam penyusunan rupa bumi kota Tangerang

:

a.

Draft Awal

b.

Draft Ahir

3)

Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi kegiatan penyusunan rupa bumi kota Tangerang

P

P

p

p

p

7

BAB 2 PENGALAMAN

BAB 2 PENGALAMAN

BAB 2 PENGALAMAN BAB 2 PENGALAMAN 2.1 Latar Belakang PT. Bahana Nusantara didirikan pada tahun 1986

2.1 Latar Belakang PT. Bahana Nusantara didirikan pada tahun 1986 sebagai jawaban atas peningkatan kebutuhan keahlian dalam bidang teknik, lingkungan, bio-fisik, sosial ekonomi dan institusi, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkembang pesat. Kami telah menjadi anggota Ikatan Konsultan Indonesia (INKINDO) sejak tahun 1986 dan telah melakukan kurang lebih 142 pekerjaan pelayanan jasa konsultan, baik dari pemerintah maupun swasta.

2.2 Lingkup Jasa Konsultansi PT. Bahana Nusantara mampu memberikan layanan jasa konsultansi secara luas. Layanan tersebut dibagi dalam beberapa disiplin atau divisi dan sub divisi.

Layanan keahlian kami adalah memberikan bidang dengan jangkauan yang luas untuk beberapa disiplin :

Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota;

Pengembangan Sumber Daya Air;

Transportasi dan Prasarana;

Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya;

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan:

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi;

Arsitektur, Landsekap dan Struktur Bangunan Gedung.

Untuk setiap disiplin, kami memberikan layanan jasa konsultansi untuk memenuhi semua tahapan pembangunan, termasuk :

8

Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota

Rencana Induk;

Identifikasi dan Pra Studi Kelayakan;

Rancangan dan Perencanaan Teknis;

Analisis Kelayakan Ekonomi dan Keuangan;

Pengawasan Konstruksi dan Manajemen Proyek

Dll.

Kami melaksanakan pekerjaan dengan kualitas yang baik untuk memenuhi standar yang

ditetapkan baik nasional maupun internasional. Pada setiap tahapan pekerjaan, kami

melihat

kemajuan pekerjaan sesuai yang diharapkan. Kami menyediakan layanan yang bervariasi,

mulai jangka pendek sampai dengan jangka panjang sesuai dengan ketersediaan dana dan waktu. Setiap penugasan yang diberikan kepada kami, akan dilaksanakan secara cermat dan seksama.

pentingnya kerjasama profesional dengan pemberi tugas, untuk menjamin

2.2.1 Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Kota

Kawasan wilayah dan perkotaan kerap berkembang lebih pesat daripada rekayasa dan tingkat pelayanannya. Rekayasa, rancang bangun, dan pembangunan prasarana kota merupakan tugas kompleks, yang memerlukan identifikasi pokok masalah dan penyelesaian yang tepat guna. Salah satu penyelesaiannya adalah melalui pendekatan terpadu yang dimulai dari skenario pengembangan wilayah/kota, kemampuan pendanaan, penyediaan air bersih, drainase kota, pengelolaan limbah manusia/sanitasi dan persampahan, prasarana jalan dan sistem angkutan kota sampai dengan perkuatan kelembagaan dan sumber daya manusia.

Prasarana Air Bersih

Sistem air bersih yang berkelanjutan;

Instalasi pengolahan dan penjernihan air;

Pengendalian kebocoran air;

Perencanaan teknis;

Pengelolaan distribusi air;

9

Pengembangan Sumber Daya Air

Pengawasan konstruksi

Drainase dan Sanitasi

Sistem sanitasi hemat biaya;

Sistem drainase dan perpipaan air limbah;

Perencanaan teknis;

Pengawasan konstruksi;

Pengelolaan operasi dan pelatihan.

Persampahan

Pengelolaansampah perkotaan;

Sistem pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan;

Pembuangan, penimbunan dan kompos;

Pemulihan lokasi dan perencanaan teknis TPA sampah.

Jalan Kota dan Angkutan

Rancangan angkutan perkotaan;

Teknik lalu lintas dan pengelolaannya;

Operasi dan pemeliharaan;

Supervisi konstruksi.

Pembangunan Kota

Rancangan induk dan disain rinci untuk pengembangan kota baru, permukiman dan kawasan industri serta pusat rekreasi;

Perbaikan kampung;

Perbaikan pasar.

2.2.2 Pengembangan Sumber Daya Air

Irigasi dan Drainase

10

Pengembangan Sumber Daya Air

Suatu jaringan irigasi tidak hanya terdiri dari saluran, bendung, bendungan dan bangunan keairan lainnya. Namun terdapat pula masyarakat, aspek sosial dan kegiatan pertanian. Hal ini memerlukan pendekatan yang terpadu, baik untuk rancangan, pengembangan irigasi baru ataupun rehabilitasi jaringan yang ada. PT. Bahana Nusantara dapat membantu dalam hal :

Rancangan program;

Studi kelayakan;

Perencanaan teknis;

Pengelolaan proyek;

Rehabilitasi;

Operasi dan pemeliharaan;

Pengembangan jaringan tersier dan pencetakan sawah;

Irigasi air tanah.

Pengaturan Sungai dan Pengendalian Banjir

Dalam teknik pengaturan sungai adalah penting untuk memperhatikan stabilitas badan air dengan wawasan luas, khususnya pada bagian sungai yang ditinjau. Pekerjaan ini termasuk perlindungan tebing sungai dari erosi pengendalian meander sungai.

Tujuan pekerjaan tersebut adalah untuk mengendalikan aliran banjir. Hal ini dapat diselesaikan dengan mempertinggi tanggul yang ada sehingga dapat meningkatkan kapasitas badan air tersebut.

Untuk mencapai sasaran dari pekerjaan tersebut, kebutuhan dasar berikut ini haruslah dipenuhi, yaitu : stabilitas, fleksibiltas, daya tahan, pemeliharaan, keamanan, kelayakan lingkungan dan biaya yang efisien.

PT. Bahana Nusantara bersedia melayani untuk :

Survey topografi dan pemetaan;

Perencanaan teknis pekerjaan pengendalian banjir dan pengaturan sungai;

Pengawasan konstsruksi.

11

Pengembangan Sumber Daya Air

Pembangunan Daerah Pengaliran Sungai

Pembangunan yang berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya air dalam suatu daerah pengaliran sungai seringkali menjadi kompleks dan menimbulkan problema, bilamana menyangkut perbedaan kepentingan diantara para pemakai air. Studi mengenai kuantitas dan kualitas sumber daya air akan memberikan informasi, antara lain air larian, debit sungai, angkutan sedimen dan lain-lain. Data tersebut dapat digunakan untuk perencanaan pengendalian banjir, irigasi ataupun rehabilitasi jaringan yang sudah ada.

Untuk menjawab problema tersebut, PT. Bahana Nusantara menawarkan berbagai pengetahuan mengenai :

Pengelolaan sumber daya air;

Pengelolaan bantaran sungai;

Pengelolaan daerah pengaliran sungai;

Hidrologi;

Hidrolgeografi;

Model-model simulasi;

Perencanaan jaringan secara terpadu;

Pemantauan dan evaluasi;

Pengembangan institusi.

PT. Bahana Nusantara dapat membantu dalam layanan :

Survey kondisi tanah dan pemetaan;

Survey dan pemetaan topografi;

Identifikasi rawa/lahan basah;

Studi kelayakan;

Analisis ekonomi dan keuangan;

Perencanaan teknis prasarana;

Pengembangan sistem angkutan air di daerah pedalaman.

12

2.2.3

Transportasi dan Prasarana

Transportasi dan Prasarana

Pembangunan ekonomi dan sosial akan mempengaruhi kebutuhan mobilitas orang dan barang. Oleh karena itu, jaringan arteri perhubungan ke berbagai arah tujuan harus dibuka untuk membantu mengurangi kemacetan lalu lintas orang dan barang. Menghadapi masalah demiikian, PT. Bahana Nusantara dapat memikirkan model angkutan terpadu dilengkapi dengan prasarana dan sarana jalan, kereta api dan jembatan.

Sektor Perhubungan

Rekayasa dan rancangan transportasi;

Jalan pedesaan dan layanan angkutan umum;

Keamanan lalu lintas secara terpadu;

Pembangunan jalan masuk dan perparkiran;

Perencanaan dan operasi pelabuhan;

Lokasi dan perencanaan bandar udara;

Perencanaan muatan dan distribusi barang;

Evaluasi ekonomi dan studi dampak.

Teknik Jalan Raya

Penyelidikan tanah dan laboratorium;

Studi kelayakan;

Perencanaan teknis jalan raya;

Supervisi dan manajemen konstruksi;

Pengelolaan dan pemeliharaan jalan;

Survey inventarisasi kondisi jalan;

Pangkalan data sistem jaringan jalan;

Evaluasi kegiatan pemeliharaan jalan;

Penguatan organisasi pemeliharaan jalan dan sumber daya manusia.

Teknik Jembatan

13

Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya

Perencanaan teknis;

Pengawasan konstruksi.

Pelabuhan

Lingkungan pelabuhan;

Sedimentasi kolam pelabuhan dan pengerukan;

Perencanaan terminal;

Manuver kapal, kanal masuk kapal dan sebagainya;

Perencanaan bangunan pemecah gelombang;

Analisa ekonomi dan keselamatan pelayaran.

2.2.4 Teknik Lingkungan dan Pengelolaannya

PT. Bahana Nusantara selalu menggunakan pendekatan inovatif dan terpadu dalam menangani perbaikan kualitas lingkungan. Penanganan aspek lingkungan tidak hanya terbatas pada komponen air, buangan air kotor dan sampah, tetapi juga mencakup pengendalian polusi udara, tanah dan kebisingan serta pengelolaan dan audit lingkungan.

PT. Bahana Nusantara menawarkan sistem pemantauan lingkungan :

Aspek Teknik Lingkungan

Pemilihan lokasi;

Kawasan penyangga;

Substitusi dan minimasi sumber daya;

Modifikasi proses dan penyimpangan;

Pengembangan sistem pemantauan lingkungan.

Instalasi Pengolahan Air Limbah

Sistem aerobik dan anaerobik

Sistem UASB;

14

Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

Sistem Carrousel dan Carroisel-2000;

Penanganan logam berat;

Stabilisasi lumpur hasil pengolahan.

Pengelolaan Lingkungan

Audit lingkungan;

Prosedur operasi standar;

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL);

Analisa resiko lingkungan;

Upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL dan UPL).

2.2.5 Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

Masyarakat pedesaan hasuslah menjadi penanggung jawab utama dalam pembangunan di wilayahnya. Walaupun demikian, para tenaga ahli dapat mendukung proses ini dengan

membantu dalam program-program pertanian dan pengembangan pedesaan. Keberhasilan dari program ini tergantung pada kemampuan mengintergrasikan berbagai komponen yang mendukung program tersebut. Pendekatan multidisiplin dan pengalaman para tenaga ahli merupakan jaminan keberhasilan suatu proyek.

PT. Bahana Nusantara menawarkan berbagai macam jasa di bidang pertanian, yang berupa bantuan teknis, pelatihan dan manajemen. Bidang keahlian kami meliputi evaluasi dan perencanaan kesesuaian lahan sampai kegiatan-kegiatan pasca panen dan pengembangan kelembagaan.

Pertanian

Evaluasi lahan;

Perencanaan penggunaan lahan;

Penyuluhan;

Sistem pertanian;

Kegiatan pasca panen;

15

Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi

Penyiapan studi kelayakan;

Penilaian ekonomi dan keuangan;

Prospek pasar;

Manajemen perkebunan.

Pengembangan Pedesaan

Studi dan tinjauan sektoral;

Pemantapan prosedur perencanaan dan kelembagaan;

Pengembangan masyarakat;

Analisis biaya keuntungan sosio ekonomi;

Permukiman dan transmigrasi;

Air bersih pedesaan;

Koperasi;

Penanganan kemiskinan;

Agribisnis;

Pemantauan dan evaluasi;

Energi pedesaan.

2.2.6 Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Institusi

Kami berkeyakinan bahwa hutan, pantai, taman nasional dapat dilestarikan bila dikelola

dengan baik. Kegunaan upaya pelestarian adalah untuk memacu pertumbuhan ekonomi agar lebih bergairah meningkatkan pendapatan dan penyediaan lapangan pekerjaan untuk penduduk setempat. Penduduk dapat mengkonsumsikan hasil tebangan atau produksi hutan secara selektif atau untuk non konsumsi seperti perlindungan daerah aliran sungai, eko-turisme dan lain-lain.

Kawasan Pantai

PT. Bahana Nusantara dapat menerima penugasan dalam bentuk :

Perencanaan dan pengelolaan kawasan pantai;

Perlindungan pantai;

16

Organisasi Perusahaan

Teknik reklamasi pantai.

Sumber Daya Biota Aquatik

Biota aquatik banyak terdapat di kolam, situ di pedesaan, waduk dan bantaransungai. PT. Bahana Nusantara telah memikirkan penanganan pencegahan kemungkinan polusi tanah terhadap asam sulfat dan reklamasi hutan bakau yang berwawasan lingkungan.

Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem Alam

Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati bukan sekedar melindungi spesies yang dalam bahaya. Hal ini bertujuan untuk menjamin keberadaan varietas genetik langka yang diperlukan untuk pengembangan yang lebih produktif dan varietas yang resisten. Ekosistem alam juga mempunyai fungsi yang berguna memberikan keuntungan lebih banyak dalam mendapatkan kembali area-area tersebut. PT. Bahana Nusantara melakukan pendekatan proyek-proyek reklamasi lahan dan pembangunan dengan mempertimbangkan fungsi-fungsi alamiah, bilamana diperlukan.

Konservasi Alam dan Eco-turisme

Walaupun eco-turisme masih pada tahap awal pembangunan, PT. Bahana Nusantara telah menganalisis isu-isu yang berkaitan dengan hal itu untuk mencari jalan keluar dalam mengkombinasikan program konservasi alam dengan perencanaan untuk integrasi ekonomi. Kami juga berusaha keras untuk menjembatani pemerintah dan sektor swasta yang berminat untuk berinvestasi dalam taman nasional.

2.3 Organisasi Perusahaan PT. Bahana Nusantara dalam menjalankan pekerjaannya dibagi dalam 8 (delapan) divisi yaitu Divisi Perencanaan Umum, Divisi Jasa Survey, Divisi Studi Kelayakan, Divisi Perencanaan Teknik, Divisi Pengawasan/Supervisi, Divisi Manajemen, Divisi Pemberdayaan Masyarakat dan Divisi Penelitian.

Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi PT. Bahana Nusantara dapat dilihat pada gambar berikut :

17

Organisasi Perusahaan

STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN

DIREKTUR DIREKTUR DIREKTUR EKSEKUTIF TEKNIK PEMASARAN MANAJER MANAJER KEUANGAN KANTOR DIVISI DIVISI DIVISI
DIREKTUR
DIREKTUR
DIREKTUR
EKSEKUTIF
TEKNIK
PEMASARAN
MANAJER
MANAJER
KEUANGAN
KANTOR
DIVISI
DIVISI
DIVISI
DIVISI
PERENCANAAN
JASA
PERENCANAAN
STUDI
KELAYAKAN
DIVISI
DIVISI
DIVISI
DIVISI
PENGAWASAN /
PENELITIAN
PEMBERDAYAAN
MANAJEMEN
SUPERVISI
MASYARAKAT

18

2.4

Pengalaman Perusahaan Secara Umum

Pengalaman Perusahaan Secara Umum

PT. Bahana Nusantara mempunyai berbagai jenis pengalaman kerja yang meliputi Perencanaan Umum, Jasa Survey, Studi Kelayakan, Perencanaan Teknik, Pengawasan/Supervisi, dan Penelitian.

Pelayanan jasa teknik yang dilakukan PT. Bahana Nusantara meliputi perencanaan dan pengawasan pembangunan prasarana pendukung desa antara lain jalan dan jembatan, air bersih, sanitasi, perumahan dan permukiman dan lain-lain. Secara terperinci dapat dilihat dalam daftar pengalaman perusahaan kami.

2.5 Perangkat Kantor

PT. Bahana Nusantara yang berkedudukan di Jl. Ciniru IV No. 6 Kebayoran Baru Jakarta Selatan mempunyai bangunan dengan luas 250 m 2 yang terdiri dari dua lantai lantai satu dengan luas ruangan 200 m 2 dan lantai dua dengan luas 50 m 2 lantai satu terdiri dari ruang tamu ruang rapat ruang kerja direktur ruang kerja bagian keuangan dan pemasaran dan ruang serba guna lantai dua terdiri dari tiga ruangan kerja bagian teknis dan administrasi. PT. Bahana Nusantara juga didukung oleh berbagai jenis peralatan dan

perangkat kerja yang digunakan untuk menunjang kelancaran suatu pekerjaan. Perangkat kerja selalu disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan jaman, khususnya yang berkaitan dengan sistem informasi modern. Perangkat kerja meliputi perangkat- perangkat guna menunjang seluruh aktifitas kerja baik teknis maupun non teknis.

19

BAB 3 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

BAB 3 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

Konsultan ingin memberikan tanggapan (tanggapan = kritik, komentar) terhadap kerangka acuan kerja yang telah diberikan. Beberapa hal yang konsultan ingin tanggapi adalah sebagai berikut :

3.1 Tanggapan Terhadap Latar Belakang Bahwa didalam latar belakang yang diterakan dalam kerangka acuan kerja pemberi pekerjaan tidak memberikan indikasi yang jelas terhadap permasalahan didalam perubahan wilayah administrasi baik itu ditingkat desa, kelurahan, kecamatan dan wilayah kota. Selain itu konsultan tidak melihat adanya indikasi indikasi permasalahan pada persoalan historis pemberian nama unsur rupa bumi, dimana hal ini adalah hal yang sangat penting dalam mempertahankan sejarah dan nilai serta makna pemberian nama di tingkat internasional, nasional dan daerah.

3.2 Tanggapan Terhadap Tujuan Pekerjaan Terhadap tujuan pekerjaan, konsultan ingin memberikan pendapat bahwa Studi Penyusunan Masterplan Transportasi Laut ini diharapkan tidak hanya berupa kajian penelitian biasa, namun ditindaklanjuti kepada kementerian dalam negeri dan kepada kelompok kerja ECOSOC Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

3.3 Tanggapan Terhadap Sasaran Pekerjaan Sesungguhnya konsultan setuju terhadap sasaran yang harus dilakukan. Ketiga (3) langkah ini merupakan rangkaian kegiatan untuk menyusun gazetir lokasi instansi di wilayah kota tangerang.

20

Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan

3.4 Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan Konsultan menanggapinya cukup jelas dan mengerti terhadap tiga (3) langkah dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut .

3.5 Tanggapan Terhadap Keluaran Pekerjaan Konsultan ingin memberikan tanggapan terhadap keluaran pekerjaan yang diharapkan, yakni tersedianya gazetir lokasi instansi di wilayah kota tangerang. Seperti yang diketahui, bahwa gasetir adalah daftar atau list yang memuat semua nama rupabumi yang baku atau dibakukan lengkap dengan informasi penunjangnya. Informasi mengenai nama rupabumi atau gasetir secara terus menerus direvisi karena merupakan acuan untuk berbagai keperluan (Buku Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi). Sedangkan instansi adalah badan pemerintah umum seperti jawatan atau kantor. Dan atau Instansi pemerintah adalah sebutan kolektif meliputi satuan kerja/satuan organisasi kementerian/departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, kesekretariatan lembaga tinggi negara, dan instansi pemerintah lainnya, baik pusat maupun daerah, termasuk Badan Usaha Milik Negara, Badan Hukum Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah (menurut Wikipedia). Konsultan memahami dan mengerti bahwa di dalam pekerjaan kajian dan pemetaan ini, pemberi pekerjaan ingin membatasi pekerjaan hanya untuk membuat gazetir lokasi instansi saja.

3.6 Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan Setelah membaca lingkup kegiatan tersebut, konsultan setuju dengan tahapan yang ada dalam kerangka acuan kerja. Namun konsultan tidak melihat adanya PPNR atau yang disebut dengan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi yang diangkat oleh kepala daerah.

3.7 Tanggapan Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan Konsultan ingin menanggapi tentang waktu pelaksanaan kegiatan, diharapkan konsultan dapat melaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam

21

Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli

kerangka acuan kerja. Namun demikian juga memperhatikan waktu-waktu libur nasional, dan libur hari kerja regular.

3.8 Tanggapan Terhadap Tenaga Ahli Membaca kerangka acuan pekerjaan yang diberikan oleh PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), konsultan ingin memberian saran terhadap seluruh tenaga ahli sesuai dengan pengalaman, keahlian dan sertifikasi yang ada. Bahwa konsultan memahami bahwa tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini

sebanyak

68
68

68

MM terdiri dari :

MM terdiri dari :
68 MM terdiri dari :

Comment [t1]: Menunggu RAB Menunggu RAB

1) Ahli Sosiologi (Team Leader) atau yang disebut ahli sosiolog 1 orang. Dengan syarat kompetensi S2-master sosiologi dengan pengalaman 5 (lima) tahun sampai dengan 8 (delapan) tahun.

2)

Ahli teknik Geodesi, 1 orang, dengan kompetensi S2, Magister Teknik Geodesi, Pengalaman 5 (lima) sampai dengan 8 (delapan) tahun.

3)

Ahli Sosiologi, 1 orang, dengan kualifikasi magister di bidang sosiologi. Dengan pengalaman empat (4) tahun.

4) Ahli Geodesi, 1 orang. Dengan komptensi magister teknik geodesi dengan pengalaman minimal empat (4) tahun.

5)

Tenaga ahli pendukung, dengan pengalaman satu (1) sampai empat (4) tahun, yang terdiri atas;

a. Operator Autocad, 1 orang

b. Operator computer, 1 orang

c. Tenaga surveyor, 5 orang

3.9 Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi Konsultan memahami bahwa, produk yang dihasilkan dalam pekerjaan ini terdiri atas Draft awal dan draft akhir. Namun sesuai dengan peraturan presiden republik indonesia nomor 54 tahun 2010, laporan draft tidak dikenal dan gamang, untuk itu konsultan ingin memberikan saran berupa:

1. Laporan awal, berisi:

a. Uraian ringkas pekerjaan

22

Tanggapan Terhadap Sistem Pelaporan Dan Diskusi

b. Pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang tersebut dalam lingkup pelaksanaan kegiatan;

c. Daftar kebutuhan data dan informasi, serta

d. Daftar kebutuhan dukungan/fasilitasi yang diperlukan konsultan dari stakeholder terkait

e. Rencana kerja rinci dan rencana mobilisasi tenaga ahli yang dilengkapi dengan rincian tugas dan keluaran yang dihasilkan oleh masing-masing tenaga ahli.

Waktu penyerahan : Minggu ke-4 (hari ke 29) Kelengkapan berupa : Berita acara hasil diskusi/pengarahan (BA) Jumlah Laporan : 5 (Lima) Eksemplar

2. Laporan Akhir Sementara (Draft Final Report), berisi;

a. Daftar permasalahan;

b. Daftar unsur rupa bumi di wilayah kota tangerang;

c. Daftar sementara gazetir lokasi instansi di wilayah kota tangerang; Waktu penyerahan : Akhir bulan kelima (5)

Kelengkapan berupa : Berita acara hasil diskusi/pengarahan dengan dinas terkait (BA) Jumlah laporan : 15 (Lima belas) eksemplar

3. Laporan Akhir, berisi;

a. Gazetir lokasi instansi di wilayah kota tangerang;

b. Berita Acara Pembakuan nama.

Waktu penyerahan : Akhir bulan ketiga (3) Kelengkapan berupa : Berita acara hasil diskusi/pengarahan dengan dinas

terkait (BA) Jumlah laporan : 5 (Lima) eksemplar

23

BAB 4 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

BAB 4 TANGGAPAN & SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG

4.1 Tanggapan Terhadap Personil Didalam kerangka acuan kerja yang disampaikan, konsultan ingin memberikan saran agar ditambahkannya tenaga ahli dan asisten ahli bidang hukum. Ahli ini menjadi peranan penting dalam menetapkan pemabkuan nama sebelum dilakukannya persepakatan counterpart antara pelaksana pekerjaan, pemberi pekerjaan, PPNR dan Kepala Daerah. Untuk itu menjadi saran masukan kepada pemberi pekerjaan untuk menambahkan 1 orang ahli dan 1 asisten hukum dengan MM 2-1 bulan.

4.2 Tanggapan Terhadap Fasilitas Pendukung Didalam kerangka acuan kerja yang diberikan oleh pemberi pekerjaan, tidak terterakan fasilitas yang akan diberikan kepada pelaksana pekerjaan yaitu konsultan. Beberapa fasilitas yang diharapkan dapat diberikan kepada konsultan adalah akses kepada seluruh stakeholder terutama di dinas terkait untuk mendapatkan data dan informasi untuk penyusunan kajian dan pemetaan rupa bumi di wilayah kota tangerang.

24

BAB 5 PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

BAB 5 PENDEKATAN, METODOLOGI & PROGRAM KERJA

6.1 Pendekatan

Didalam pekerjaan ini konsultan akan mengunakan beberapa pendekatan untuk dapat menjawab tujuan dari pekerjaan ini. namun sebelum itu konsultan akan memberikan gambar proses skematik yang diharapkan dapat menjadi panduan.

Lingkup

Pekerjaan

Keluaran

Pekerjaan

Tujuan Pekerjaan /Intangible Goal
Tujuan Pekerjaan
/Intangible Goal
Keluaran Pekerjaan Tujuan Pekerjaan /Intangible Goal Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja Gambar 1 Skema

Pendekatan,

Metodologi dan

Program Kerja

Gambar 1 Skema pendekatan

Seperti yang telah dijelaskan dalam kerangka acuan pekerjaan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah kota tangerang adalah adanya perubahan batas-batas atau yang disebut dengan deliniasi wilayah kepemerintahan baik itu di level desa, kelurahan, kecamatan maupun wilayah kota. Selain itu juga terjadi permasalahan pembakuan unsur unsur rupa bumi di wilayah kota tangerang yang secara internasional, nasional dan daerah memiliki nilai penting dalam tatanan sosial dan budaya dunia.

Pendekatan di dalam kamus besar bahasa Indonesia, dinyatakan adalah : (n) 1

proses, perbuatan, cara mendekati (hendak berdamai, bersahabat, dsb) 2 antara usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode- metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian.

25

Pendekatan Normatif

Untuk itu konsultan mengusulkan dua macam pendekatan terhadap permasalahan yang telah disampaikan dalam kerangka acuan pekerjaan, yakni pendekatan secara normative dan teknis. Yang dimaksud dengan pendekatan normative adalah pendekatan yang dilakukan melalui kebijakan, peraturan, pedoman dan aturan lainnya yang dapat digunakan oleh pelaksana pekerjaan untuk mendapatkan pemahaman yang jelas terhadap pencapaian tujuan pekerjaan. Sedangkan yang dimaksud dengan pendekatan teknis adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara-cara mengandalkan bantuan alat, teknologi, formula dan lainnya untuk dapat mendekati permasalahan yang ada sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang telah disampaikan di dalam kerangka acuan kerja.

6.1.1 Pendekatan Normatif

Beberapa kebijakan yang terkait dengan kerangka acuan kerja yang telah disampaikan oleh pemberi pekerjaan adalah sebagai berikut ;

1. Resolusi PBB no 4 tahun 1967 tentang Pembakuan Nama Unsur Geografi di Negara- negara anggota PBB

2. Resolusi PBB no 15 tahun 1987 tentang otoritas pembentukan dan pembakuan nama unsur geografi nasional bagi negara-negara anggota PBB yang belum memiliki/melakukannya.

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4844);

4. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi;

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupa Bumi;

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2009 tentang Pedoman Pembentukan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi;

7. Buku Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi, Bakosurtanal.

8. Peraturan Daerah Provinsi Banten no 36 tahun 2002, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten.

26

Pendekatan Teknis

9.

Peraturan daerah Kota Tangerang no 23 tahun 2000, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang.

6.1.2 Pendekatan Teknis

6.1.2.1 Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

a.

Pengertian

Dalam buku Prinsip, Kebijakan, dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi ini yang dimaksud dengan:

Prinsip adalah asas yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak untuk penamaan

unsur rupabumi. 2) Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan yang berkaitan dengan penamaan unsur rupabumi 3) Prosedur adalah tahap kegiatan untuk menyelesaikan aktivitas penamaan unsur rupabumi. 4) Pedoman adalah petunjuk tatacara survei pengumpulan nama di lapangan berupa cara pencatatan, penulisan, pengejaan, pengolahan, pengelolaan, dan pemublikasian nama unsur rupabumi yang baku. 5) Pembakuan adalah proses penetapan dan pengesahan nama unsur rupabumi oleh lembaga yang berwenang baik secara nasional maupun internasional melalui proses pengusulan dari masyarakat. Pembakuan nama rupabumi meliputi pemberian nama baru, pengubahan, penghapusan, dan penggabungan nama yang telah ada. 6) Unsur Rupabumi adalah bagian permukaan bumi yang berada di atas dan/atau di bawah permukaan laut yang dapat dikenali identitasnya sebagai unsur alam dan/atau unsur buatan manusia. Unsur rupabumi terdiri dari tiga unsur yaitu unsur fisik, unsur buatan, dan unsur administrasi. 7) Unsur fisik adalah unsur yang berada di permukaan daratan, lautan dan di bawah permukaan laut yang identitasnya dapat dikenali. Contoh, antara lain: gunung, pegunungan, bukit, dataran tinggi, gua, lembah, danau, sungai, muara, samudera, laut, selat, teluk, pulau, kepulauan, tanjung, semenanjung, gunung bawah laut (seamount), palung. Unsur buatan manusia adalah unsur berupa infrastruktur yang

1)

27

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

merupakan fasilitas umum, sosial, ekonomi dan budaya. Contoh, antara lain: bandara, bendungan, waduk, jembatan, terowongan, mercu suar, kawasan permukiman, 8) kawasan industri, kawasan hutan, candi, tugu. Unsur administrasi adalah wilayah fungsional dari 9) instansi pemerintahan, dengan batas administrasi yang jelas. Contoh, antara lain:

desa, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi. 10) Nama Rupabumi adalah nama diri dari unsur rupabumi. Nama Unsur Rupabumi terdiri dari 2 elemen, yaitu elemen generik dan elemen spesifik. Elemen generik adalah nama yang menerangkan dan/atau menggambarkan bentuk umum suatu unsur rupabumi dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah, sebagai contoh: sungai (dalam Bahasa Indonesia), krueng (sungai dalam bahasa Aceh), bulu (gunung dalam bahasa Bugis), dolok ( gunung dalam bahasa Batak). 11) Elemen spesifik adalah nama diri dari elemen generic yang sudah disebutkan sebelumnya, sebagai contoh: Merapi adalah nama spesifik dari elemen generik yang berupa gunung, Bogor adalah nama spesifik dari elemen generik yang berupa wilayah administrasi kota. 12) Endonim adalah nama diri unsur rupabumi dalam bahasa resminya. Contoh :

Nederland, New Zealand , Jakarta, Bandung, Wina. 13) Eksonim adalah nama diri unsur rupabumi dalam bahasa Indonesia untuk sebuah nama diri unsur rupabumi yang berada di luar Indonesia. Contoh: Negeri Belanda adalah eksonim Bahasa Indonesia untuk Nederland dan Selandia Baru eksonim dalam Bahasa Indonesia uuntuk New Zealand. 14) Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan/atau buatan manusia yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan proyeksi dan skala tertentu. 15) Gasetir (Gazetteer) adalah daftar nama unsur rupabumi baku yang dilengkapi dengan informasi tentang jenis elemen, posisi geografis, lokasi wilayah administrasi, dan berbagai informasi lain yang diperlukan. 16) Toponimi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari nama unsur rupabumi. 17) Toponim adalah nama unsur rupabumi. 18) Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi adalah Tim yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia, Nomor 112 tanggal 29 Desember 2006. 19) PPNR adalah Panitia Pembakuan Nama Rupabumi di wilayah Provinsi, Kabupaten / Kota dan yang dibentuk oleh Kepala Daerah setempat atas dasar Peraturan Presiden tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi.

28

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

b. Bahasa Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara multikultural, multietnis, multiagama, dan multibahasa. Bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa nasional yang berfungsi sebagai bahasa persatuan di seluruh Indonesia. Bahasa Indonesia ditulis dengan menggunakan abjad Romawi. Dengan demikian, semua nama unsur rupabumi harus ditulis sesuai ejaan baku dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Abjad Romawi yang lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

digunakan dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : c. Bahasa Daerah Bahasa lokal yang dimaksud dalam

c. Bahasa Daerah

Bahasa lokal yang dimaksud dalam buku ini yaitu bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk setempat. Di seluruh Indonesia terdapat 726 bahasa daerah. Berdasarkan distribusi geografis di Jawa, Madura, dan Bali terdapat 19 bahasa daerah, Sumatera terdapat 52 bahasa,

Nusatenggara 68 bahasa, Kalimantan 82 bahasa, Sulawesi 114 bahasa, Maluku 131 bahasa, dan Papua 265 bahasa. Berdasarkan jumlah penuturnya terdapat 13 bahasa daerah yang penuturnya di atas satu juta orang yaitu: Bahasa Jawa (75.200.000 penutur), Sunda (27.000.000 penutur), Melayu (20.000.000 penutur), Madura (13.694.000 penutur), Minang

29

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

(6.500.000 penutur), Batak (5.150.000 penutur), Bugis (4.000.000 penutur), Bali (3.800.000 penutur), Aceh (3.000.000 penutur), Sasak (2.100.000 penutur), Makassar (1.600.000 penutur), Lampung (1.500.000 penutur), dan Rejang (1.000.000 penutur). Dengan demikian Pusat Bahasa hanya membuat Pedoman Ejaan Bahasa Daerah bagi bahasa daerah dominan tersebut.

d. Ejaan

Untuk pembakuan nama rupabumi diusahakan untuk menggunakan ejaan yang berlaku yaitu ejaan bahasa Indonesia yang tertuang dalam buku panduan Ejaan Yang Disempurnakan (1978) atau ejaan bahasa daerah yang telah dibakukan.

e.

Prinsip, Kebijakan dan prosedur

e.1

Prinsip:

Prinsip 1: Penggunaan huruf Romawi

Nama unsur rupabumi yang dibakukan semua ditulis dengan huruf Romawi. Dengan catatan tidak diperkenankan menggunakan diakritik , seperti ‘, á, â, ã, ä, î, ï, ú, û, ü, è, é, è, ö, ô, õ, dan tanda penghubung ( - ).

Prinsip 2: Satu nama untuk satu unsur rupabumi

Satu unsur rupabumi hanya mempunyai satu nama dalam satu tingkatan wilayah administrasi, kecuali yang sudah digunakan sebelum pedoman ini berlaku. Apabila satu unsur rupabumi mempunyai beberapa nama, maka perlu ditetapkan satu nama resmi dan Nama lainnya tetap tercatat di gasetir sebagai nama varian.

Prinsip 3: Penggunaan nama lokal

Nama unsur rupabumi berdasarkan nama lokal yaitu nama yang dikenal dan digunakan oleh penduduk setempat. Nama lokal terdiri dari elemen generik dan elemen spesifik.

Prinsip 4: Penggunaan elemen generik lokal

Nama unsur rupabumi pada dasarnya mengadopsi penggunaan elemen generik lokal sebagai nama resmi. Contoh, antara lain: Ci, Krueng, Batang, Wai yang berarti sungai dalam Bahasa Indonesia. Nusa, Wanoatu, Meos, Lihuto yang berarti pulau dalam Bahasa Indonesia.

Prinsip 5: Nama berdasarkan Undang-undang atau

30

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

Keputusan Presiden Nama unsur rupabumi dapat berdasarkan nama lokal yang diresmikan oleh UU dan/atau KEPPRES. Nama baru dapat diputuskan berdasarkan Undang-undang atau Keppres sebagai nama resmi dan baku untuk menggantikan nama lama. Contoh, antara lain:

Hollandia menjadi Jayapura , Buitenzorg menjadi Bogor , dan Batavia menjadi Jakarta.

Prinsip 6: Tidak bersifat SARA

Nama unsur rupabumi tidak menggunakan Nama yang menghina suku, agama, ras, dan antargolongan.

Prinsip 7: Tidak menggunakan Nama berbahasa asing

Nama unsur rupabumi tidak menggunakan Nama berbahasa asing dalam hal ini terkait dengan prinsip 3. Contoh penggunaan Nama yang menggunakan bahasa asing, seperti Bogor Lake Side , Billabong Park View Prinsip 8: Tidak menggunakan nama diri. Nama unsur rupabumi tidak menggunakan nama diri dalam hal ini baik nama instansi maupun nama

perorangan yang masih hidup. Termasuk tidak menggunakan nama proyek sebagai nama unsur rupabumi resmi. Contoh penggunaan nama orang yang masih hidup adalah Bukit Suharto .

Prinsip 9: Tidak menggunakan nama yang terlalu

Panjang Nama unsur rupabumi tidak menggunakan nama yang terlalu panjang, demi efisiensi komunikasi. Contoh, antara lain: Purbasinombamandalasena adalah nama kampung di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Prinsip 10: Tidak menggunakan rumus matematika

Nama unsur rupabumi tidak menggunakan rumus matematika, agar tidak membingungkan. Contoh, antara lain: IV X 11 6 Lingkung (Ampek Kali Sabaleh Anam Lingkung ).

Prinsip 11: Pemberian nama unsur rupabumi buatan Manusia

Fasilitas umum yang merupakan bagian dari unsur rupabumi buatan manusia dibangun oleh berbagai instansi. Unsur rupabumi buatan manusia seperti bandara, stasiun kereta api, bendungan, jalur transportasi, hutan lindung, kanal, bangunan serbaguna, rumah ibadah, rumah sakit, sekolah, gelanggang olahraga, pertokoan, dan perumahan dapat diberi nama oleh instansi yang bersangkutan selama tidak bertentangan dengan prinsip dan kebijakan

31

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

pemberian nama. Contoh, antara lain: Bandara Tjilik Riwut nama bandara di Palangkaraya, Gelora Bung Karno nama Gelanggang Olah Raga di Jakarta.

e.2 Kebijakan Pemberian Nama

Berdasarkan Prinsip 8 tidak diperkenankan memberi nama unsur rupabumi dengan nama diri

baik nama instansi maupun nama pribadi. Namun ada kebijakan yang memperbolehkan pemakaian nama diri sebagai nama unsur rupabumi apabila seseorang (WNI atau WNA) dianggap berjasa luar biasa di wilayah setempat dan/atau nasional serta tokoh tersebut sudah meninggal sekurangkurangnya 5 tahun. Contoh, antara lain: Jalan Sudirman dan Bendungan Sutami .

Kebijakan Penggunaan Nama Lokal

Berdasarkan Prinsip 3 nama rupabumi berdasarkan nama yang dikenal dan digunakan oleh penduduk setempat. Namun tidak jarang ditemukan beberapa nama lokal untuk satu unsur rupabumi. Kebijakan yang diambil yaitu menggunakan nama lokal berdasarkan bahasa daerah yang dipakai oleh penduduk setempat sebagai nama resmi, sedangkan nama lainnya dianggap sebagai nama varian, namun semua nama lokal yang ditemukan akan didaftarkan di dalam gasetir.

Kebijakan Satu Nama Untuk Satu Unsur Rupabumi

Berdasarkan Prinsip 2, maka satu unsur rupabumi seharusnya hanya mempunyai satu nama dalam satu tingkatan wilayah administrasi. Namun demikian Nama yang sama yang terdapat dalam satu tingkatan wilayah administrasi dapat dipertahankan apabila dianggap mempunyai nilai sejarah. Dengan demikian Nama tersebut tidak perlu diganti karena sudah digunakan sebelum pedoman ini berlaku. Contoh, antara lain: Pulau Pisang, Pulau Babi, dan Pulau Batu .

e.3 Prosedur Pemberian Nama

Pembakuan nama rupabumi, Pembakuan adalah proses penetapan dan pengesahan nama unsur rupabumi oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, yang diketua oleh Menteri Dalam Negeri. Pembakuan nama rupabumi meliputi pemberian nama, pengubahan nama, penghapusan nama, dan penggabungan nama.

Pemberian nama rupabumi, Pemberian nama rupabumi harus mengikuti sebelas prinsip pemberian nama rupabumi yang telah dijelaskan pada prinsip pemberian nama.

32

Pedoman Prinsip, Kebijakan dan Prosedur Pembakuan Nama Rupabumi

Pengubahan nama rupabumi, Nama suatu unsur rupabumi dapat diubah dengan pertimbangan sebagai berikut :

Sudah dipakai dalam wilayah tingkatan administrasi yang sama;

Berasal dari bahasa asing;

Status dan fungsinya berubah;

Demi kepentingan politik, ekonomi dan sosial;

Untuk melestarikan sejarah dan budaya setempat;

Untuk memberikan penghargaan bagi seseorang yang berjasa luar biasa bagi bangsa dan negara.

Penghapusan nama rupabumi, Nama geografis dapat dihapus atau tidak dicantumkan lagi dalam administrasi pemerintahan atas pertimbangan beberapa faktor :

Pengubahan wilayah administrasi karena adanya pemekaran atau penggabungan wilayah.

Adanya bencana alam yang mengakibatkan kampung atau desa atau unsur rupabumi hilang.Contoh, antara lain: Bencana Lapindo, Tsunami di Kabupaten Simeulue.

Adanya kegiatan pembangunan yang mengakibatkan hilangnya suatu permukiman.Contoh, antara lain: Desa Kedungombo hilang karena adanya pembangunan Waduk Kedungombo.

Penggabungan nama rupabumi, Penggabungan nama rupabumi pada umumnya terjadi karena proses penggabungan Daerah atau penyatuan Daerah yang dihapus kepada Daerah lain (PP 129/2000).

e.4 Langkah langkah penetapan dan pengesahan nama rupabumi

Langkah 1:

Pemberian, pengubahan, penghapusan dan penggabungan nama rupabumi diusulkan oleh

masyarakat desa atau oleh kelurahan setempat kepada kepala desa atau lurah dengan mengikuti Pedoman Pembakuan Nama Rupabumi;

Langkah 2:

Kepala desa atau lurah mengolah lebih lanjut usulan dari masyarakat bersama Badan Permusyawaratan Desa. Selanjutnya usulan tersebut disampaikan kepada Bupati atau Walikota melalui Camat;

33

Langkah 3:

Gazetir

Bupati atau walikota berdasarkan usulan Kepala Desa atau Lurah memberikan tugas kepada Panitia Pembakuan Nama Rupabumi (PPNR) Kabupaten atau Kota untuk melakukan pengkajian;

Langkah 4:

PPNR melaporkan kepada Bupati atau Walikota untuk merekomendasikan hasil kajian usulan nama rupabumi di wilayahnya kepada Gubernur;

Langkah 5:

Berdasarkan usulan pembakuan nama rupabumi dari Bupati atau Walikota, Gubernur memberikan tugas PPNR Provinsi mengkaji usulan pembakuan tersebut pada tataran Provinsi lalu melaporkannya kepada Tim Nasional untuk dilakukan pembakuan oleh Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Tim Nasional.

Langkah 6:

Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Tim Nasional membakukan semua nama yang ditetapkan oleh Tim Nasional dalam bentuk gasetir.

Langkah 7:

Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Tim Nasional mempunyai hak prerogratif dari Presiden untuk mengubah, menghapus atau menggabungkan Nama rupabumi yang tidak sesuai dengan usulan PPNR, dengan catatan Nama yang diusulkan oleh PPNR tetap dimasukkan dalam gasetir sebagai nama varian (nama lain).

6.1.2.2 Gazetir

Gasetir merupakan daftar atau list yang memuat semua nama rupabumi yang baku atau dibakukan lengkap dengan informasi penunjangnya. Informasi mengenai nama rupabumi atau gasetir secara terus menerus direvisi karena merupakan acuan untuk berbagai keperluan. Gasetir dapat berupa gasetir singkat (concise gazetteer), yaitu gasetir yang memuat informasi unsur rupabumi secara singkat seperti nama, kode/jenis unsur, posisi/koordinat, informasi nama dan nomor peta. Sedangkan gasetir lengkap (complete gazetteer) memuat informasi unsur rupabumi secara lengkap seperti nama, kode/jenis unsur, posisi/koordinat, informasi nama dan nomor peta,

34

Gazetir

pengucapan, asal bahasa, genealogi/sejarah, aksesibilitas, potensi dan informasi lain. Jika diperlukan dapat ditambah dengan informasi relevan lain yang lebih detil. Produk gasetir dari Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi adalah berupa Gasetir Nasional yang harus digunakan sebagai acuan resmi oleh semua administrator pemerintahan dan swasta, pendidik, penyedia informasi dan seluruh warga negara Indonesia dalam menuliskan namanama unsur rupabumi yang baku.

pendidik, penyedia informasi dan seluruh warga negara Indonesia dalam menuliskan namanama unsur rupabumi yang baku. 35

35

6.1.2.3

Peta

Peta

Peta adalah salah satu bentuk publikasi yang memberikan gambaran unsur-unsur alam dan/atau buatan manusia yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi. Peta dibuat pada suatu bidang datar dengan proyeksi dan skala tertentu dengan memuat nama unsur rupabumi baku yang tercantum dalam gasetir nasional. Dengan demikian nama-nama rupabumi yang termuat di dalam peta rupabumi merupakan nama-nama yang sudah baku dan dapat dijadikan sebagai referensi ataau acuan dalam pembuatan peta-peta turunan lain. Peta yang memuat nama-nama rupabumi yang baku yaitu peta rupabumi yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) skala 1:10.000, 1:25.000, 1:50.000, 1:100.000, 1:250.000 dan 1:1000.000. Peta-peta yang siap untuk digunakan adalah peta rupabumi dalam bentuk digital, karena sudah melewati proses validasi data nama-nama rupabumi baik hasil dari lapangan maupun proses evaluasi dan aktualisasi gasetir. Jadi peta-peta rupabumi dari berbagai skala tersebut dapat dijadikan sebagai sumber kedua setelah gasetir, untuk informasi nama-nama rupabumi yang baku.

gasetir, untuk informasi nama-nama rupabumi yang baku. 6.1.2.4 Sistem Informasi Geografi Sistem Informasi Geografis

6.1.2.4 Sistem Informasi Geografi

Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi

36

Sistem Informasi Geografi

keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.

Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi. Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa

Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa diterapkan di Ottawa, Ontario oleh Departemen Energi, Pertambangan dan Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian disebut CGIS (Canadian GIS - SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan, menganalisis dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi Tanah Kanada (CLI - Canadian land

37

Sistem Informasi Geografi

Inventory) - sebuah inisiatif untuk mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor pemeringkatan klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis.

klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis. GIS dengan gvSIG. CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan

GIS dengan gvSIG.

CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan aplikasi pemetaan yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay), penghitungan, pendijitalan/pemindaian (digitizing/scanning), mendukung sistem koordinat national yang membentang di atas benua Amerika , memasukkan garis sebagai arc yang memiliki topologi dan menyimpan atribut dan informasi lokasional pada berkas terpisah. Pengembangya, seorang geografer bernama Roger Tomlinson kemudian disebut "Bapak SIG".

CGIS bertahan sampai tahun 1970-an dan memakan waktu lama untuk penyempurnaan setelah pengembangan awal, dan tidak bisa bersaing denga aplikasi pemetaan komersil yang dikeluarkan beberapa vendor seperti Intergraph. Perkembangan perangkat keras mikro komputer memacu vendor lain seperti ESRI, CARIS, MapInfo dan berhasil membuat banyak fitur SIG, menggabung pendekatan generasi pertama pada pemisahan informasi spasial dan atributnya, dengan pendekatan generasi kedua pada organisasi data atribut menjadi struktur database.

38

Sistem Informasi Geografi

Perkembangan industri pada tahun 1980-an dan 1990-an memacu lagi pertumbuhan SIG pada workstation UNIX dan komputer pribadi. Pada akhir abad ke-20, pertumbuhan yang cepat di berbagai sistem dikonsolidasikan dan distandarisasikan menjadi platform lebih sedikit, dan para pengguna mulai mengekspor menampilkan data SIG lewat internet, yang membutuhkan standar pada format data dan transfer.

Indonesia sudah mengadopsi sistem ini sejak Pelita ke-2 ketika LIPI mengundang UNESCO dalam menyusun "Kebijakan dan Program Pembangunan Lima Tahun Tahap Kedua (1974-1979)" dalam pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan riset.

Jenjang pendidikan SMU/senior high school melalui kurikulum pendidikan geografi SIG dan penginderaan jauh telah diperkenalkan sejak dini. Universitas di Indonesia yang membuka program Diploma SIG ini adalah D3 Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, tahun 1999. Sedangkan jenjang S1 dan S2 telah ada sejak 1991 dalam Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Penekanan pengajaran pada analisis spasial sebagai ciri geografi. Lulusannya tidak sekedar mengoperasikan software namun mampu menganalisis dan menjawab persoalan keruangan. Sejauh ini SIG sudah dikembangkan hampir di semua universitas di Indonesia melalui laboratorium-laboratorium, kelompok studi/diskusi maupun mata pelajaran.

Komponen Sistem Informasi Geografis

Komponen-komponen pendukung SIG terdiri dari lima komponen yang bekerja secara terintegrasi yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), data, manusia, dan metode yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Perangkat Keras (hardware)

Perangkat keras SIG adalah perangkat-perangkat fisik yang merupakan bagian dari sistem komputer yang mendukung analisis goegrafi dan pemetaan. Perangkat keras SIG mempunyai kemampuan untuk menyajikan citra dengan resolusi dan kecepatan yang tinggi serta mendukung operasioperasi basis data dengan volume data yang besar secara cepat. Perangkat keras SIG terdiri dari beberapa bagian untuk menginput data, mengolah data, dan mencetak hasil proses. Berikut ini pembagian berdasarkan proses :

Input data: mouse, digitizer, scanner

Olah data: harddisk, processor, RAM, VGA Card

39

Sistem Informasi Geografi

Output data: plotter, printer, screening.

Perangkat Lunak (software)

Perangkat lunak digunakan untuk melakukan proses menyimpan, menganalisa, memvisualkan data-data baik data spasial maupun non-spasial. Perangkat lunak yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah:

Alat untuk memasukkan dan memanipulasi data SIG

Data Base Management System (DBMS)

Alat untuk menganalisa data-data

Alat untuk menampilkan data dan hasil analisa

Data

Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung SIG yaitu : Data Spasial

Data Spasial

Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta, gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.

Data Non Spasial (Atribut)

Data non spasial adalah data berbentuk tabel dimana tabel tersebut berisi informasi- informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial yang ada.

Manusia

Manusia merupakan inti elemen dari SIG karena manusia adalah perencana dan pengguna dari SIG. Pengguna SIG mempunyai tingkatan seperti pada sistem informasi lainnya, dari tingkat spesialis teknis yang mendesain dan mengelola sistem sampai pada pengguna yang menggunakan SIG untuk membantu pekerjaannya sehari-hari.

Metode

Metode yang digunakan dalam SIG akan berbeda untuk setiap permasalahan. SIG yang baik tergantung pada aspek desain dan aspek realnya.

40

Sistem Informasi Geografi

Ruang Lingkup Sistem Informasi Geografis (SIG)

Pada dasarnya pada SIG terdapat enam proses yaitu:

Input Data

Proses input data digunakan untuk menginputkan data spasial dan data non-spasial. Data spasial biasanya berupa peta analog. Untuk SIG harus menggunakan peta digital sehingga peta analog tersebut harus dikonversi ke dalam bentuk peta digital dengan menggunakan alat digitizer. Selain proses digitasi dapat juga dilakukan proses overlay dengan melakukan proses scanning pada peta analog.

overlay dengan melakukan proses scanning pada peta analog. Manipulasi Data Tipe data yang diperlukan oleh suatu

Manipulasi Data

Tipe data yang diperlukan oleh suatu bagian SIG mungkin perlu dimanipulasi agar sesuai dengan sistem yang dipergunakan. Oleh karena itu SIG mampu melakukan fungsi edit baik untuk data spasial maupun non-spasial.

41

Sistem Informasi Geografi

Sistem Informasi Geografi Manajemen Data Setelah data spasial dimasukkan maka proses selanjutnya adalah pengolahan data

Manajemen Data

Setelah data spasial dimasukkan maka proses selanjutnya adalah pengolahan data non-spasial. Pengolaha data non-spasial meliputi penggunaan DBMS untuk menyimpan data yang memiliki ukuran besar.

DBMS untuk menyimpan data yang memiliki ukuran besar. Query dan Analisis Query adalah proses analisis yang

Query dan Analisis

Query adalah proses analisis yang dilakukan secara tabular. Secara fundamental SIG dapat melakukan dua jenis analisis, yaitu:

42

Sosiologi

Analisis Proximity

Analisis Proximity merupakan analisis geografi yang berbasis pada jarak antar layer. SIG menggunakan proses buffering (membangun lapisan pendukung di sekitar layer dalam jarak tertentu) untuk menentukan dekatnya hubungan antar sifat bagian yang ada.

Analisis Overlay

Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda. Secara sederhana overlay disebut sebagai operasi visual yang membutuhkan lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik.

lebih dari satu layer untuk digabungkan secara fisik. Visualisasi Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil

Visualisasi

Untuk beberapa tipe operasi geografis, hasil akhir terbaik diwujudkan dalam peta atau grafik. Peta sangatlah efektif untuk menyimpan dan memberikan informasi geografis.

6.1.2.5 Sosiologi

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

43

Sosiologi

Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya.[rujukan?] Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil- hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.

Pokok bahasan sosiologi

Pokok bahasan sosiolgi ada empat: 1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.[rujukan?]

Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).

2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang

lain.

Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.

3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang

ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah persmasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.

Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa

44

Sosiologi

yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.

4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

Ciri-Ciri dan Hakikat Sosiologi

Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu telah memenuhi semua unsur ilmu pengetahuan. Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto, sosiologi sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut.[1]

Empiris, yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).

Teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.

Komulatif, yaitu disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama.

Nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut.[2]

Sosiologi adalah ilmu sosial karena yang dipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan.

Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukan merupakan disiplin ilmu kategori yang membatasi diri pada kejadian saat ini dan bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.

Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science) dan ilmu pengetahuan terapan.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.

45

Sosiologi

Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antara manusia.

Kegunaan Sosiologi

Kegunaan Sosiologi dalam masyarakat,antara lain:

Untuk pembangunan, Sosiologi berguna untuk memberikan data-data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan maupun penilaian pembangunan

Untuk penelitian, Tanpa penelitian dan penyelidikan sosiologis tidak akan diperoleh perencanaan sosial yang efektif atau pemecahan masalah-masalah sosial dengan baik.

Objek Sosiologi

Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai beberapa objek.

Objek Material, Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.

Objek Formal,Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Objek budaya,Objek budaya salah satu faktor yang dapat memengaruhi hubungan satu dengan yang lain.

Objek Agama,Pengaruh dari objek dari agama ini dapat menjadi pemicu dalam hubungan sosial masyarakat, dan banyak juga hal-hal ataupun dampak yang memengaruhi hubungan manusia.

Ruang Lingkup Kajian Sosiologi

Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi.[4] Misalnya seorang sosiolog mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut

46

Sejarah

berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya.[5] Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:[6]

Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;

Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;

Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya.

Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia. Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara di masa yang akan datang. Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat memengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia, serta proses dalam kelompoknya. Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi.

6.1.2.6 Sejarah

Sejarah, babad, hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Adapun ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia. Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir

47

Sejarah

secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah atau ahli sejarah disebut sejarawan.

Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora). Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis. Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan pada masa lalu. Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologi, historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik.

historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik. Klasifikasi Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu

Klasifikasi

Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis seperti H.G. Wells, Will Durant, dan Ariel Durant menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan sejarawan memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing.

Ada banyak cara untuk memilah informasi dalam sejarah, antara lain:

1)

Berdasarkan kurun waktu (kronologis).

2)

Berdasarkan wilayah (geografis).

3)

Berdasarkan negara (nasional).

4)

Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis).

5)

Berdasarkan topik atau pokok bahasan (topikal).

48

Sejarah

Dalam pemilahan tersebut, harus diperhatikan bagaimana cara penulisannya seperti melihat batasan-batasan temporal dan spasial tema itu sendiri. Jika hal tersebut tidak dijelaskan, maka sejarawan mungkin akan terjebak ke dalam falsafah ilmu lain, misalnya sosiologi. Inilah sebabnya Immanuel Kant yang disebut-sebut sebagai Bapak Sosiologi mengejek sejarah sebagai "penata batu-bata" dari fakta-fakta sosiologis.

Banyak orang yang mengkritik ilmu sejarah. Para pengkritik tersebut melihat sejarah sebagai sesuatu yang tidak ilmiah karena tidak memenuhi faktor-faktor keilmuan, terutama faktor "dapat dilihat atau dicoba kembali", artinya sejarah hanya dipandang sebagai pengetahuan belaka, bukan sebagai ilmu. Sebenarnya, pendapat ini kurang bisa diterima akal sehat karena sejarah mustahil dapat diulang walau bagaimana pun caranya karena sejarah hanya terjadi sekali untuk selama- lamanya. Walau mendapat tantangan sedemikian itu, ilmu sejarah terus berkembang dan menunjukkan keeksisannya dalam tataran ilmu.

Catatan Sejarah

Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai "sejarah penceritaan", atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periodeyang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan dan menjaga catatan sejarah, termasuk: alasan administratif (misalnya: keperluan sensus, catatan pajak, dan catatan perdagangan), alasan politis (guna memberi pujian atau kritik pada pemimpin negara, politikus, atau orang-orang penting), alasan keagamaan, kesenian, pencapaian olah raga (misalnya: rekor Olimpiade), catatan keturunan (genealogi), catatan pribadi (misalnya surat-menyurat), dan hiburan.

Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda. Yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik

49

Sejarah

intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan

atau tidak.

Wawancara juga dipakai sebagai sumber sejarah. Namun perlu pula sejarawan bertindak kritis

baik dalam pemilahan narasumber sampai dengan translasi ke bentuk digital atau tulisan.

Sejarah Tangerang

Dulu bernama Tanggeran

Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang

dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger dan perang.

Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan

sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17. Oleh

sebab itu, ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata Tanggeran (dengan satu g

maupun dobel g). Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane

(Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu dibangun

oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis

prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut:

Bismillah peget Ingkang Gusti Diningsun juput parenah kala Sabtu Ping Gasal Sapar Tahun Wau Rengsena Perang nelek Nangeran Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu Tanggal 5 Sapar Tahun Wau Sesudah perang kita memancangkan Tugu Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas (Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian Semua menjaga tanah kaum Parahyang

Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan

sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin

dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat

Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut

50

Sejarah

juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana (Yudhanegara, Wangsakara dan Santika) yang diangkat oleh penguasa Banten. Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Agung Tirtoyoso (1651-1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten. Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut-turut gugur satu persatu.

Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.

Sebutan “Tangerang” menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken seperti termuat dalam Po No. 34/2604. Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.

Asal Mula Penduduk Tangerang

Latar belakang penduduk yang mendiami Tangerang dalam sejarahnya dapat diketahui dari berbagai sumber antara lain sejumlah prasasti, berita-berita Cina, maupun laporan perjalanan bangsa kulit putih di Nusantara.

51

Sejarah

“Pada mulanya, penduduk Tangeran boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor, dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangeran sebelah barat”.*1+

Orang Banten yang menetap di daerah Tangerang diduga merupakan warga campuran etnis Sunda, Jawa, Cina, yang merupakan pengikut Fatahillah dari Demak yang menguasai Banten dan kemudian ke wilayah Sunda Calapa. Etnis Jawa juga makin bertambah sekitar tahun 1526 tatkala pasukan Mataram menyerbu VOC. Tatkala pasukan Mataram gagal menghancurkan VOC di Batavia, sebagian dari mereka menetap di wilayah Tangeran.

Orang Tionghoa yang bermigrasi ke Asia Tenggara sejak sekitar abad 7 M, diduga juga banyak yang kemudian menetap di Tangeran seiring berkembangnya Tionghoa-muslim dari Demak. Di antara mereka kemudian banyak yang beranak-pinak dan melahirkan warga keturunan. Jumlah mereka juga kian bertambah sekitar tahun 1740. Orang Tionghoa kala itu diisukan akan melakukan pemberontakan terhadap VOC. Konon sekitar 10.000 orang Tionghoa kemudian ditumpas dan ribuan lainnya direlokasi oleh VOC ke daerah sekitar Pandok Jagung, Pondok

Di kemudian hari, di antara mereka banyak yang

menjadi tuan-tuan tanah yang menguasai tanah-tanah partikelir.

Kacang, dan sejumlah daerah lain di Tangeran

Penduduk berikutnya adalah orang-orang Betawi yang kini banyak tinggal di perbatasan Tangerang-Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang di masa kolonial tinggal di Batavia dan mulai berdatangan sekitar tahun 1680. Diduga mereka pindah ke Tangeran karena bencana banjir yang selalu melanda Batavia.

Menurut sebuah sumber, pada tahun 1846, daerah Tangeran juga didatangi oleh orang-orang dari Lampung. Mereka menempati daerah Tangeran Utara dan membentuk pemukiman yang kini disebut daerah Kampung Melayu (Thahiruddin, 1971)[2]. Informasi mengenai seputar migrasi orang Lampung, akan dibahas dalam tulisan ini di bagian bab berikutnya,

Di jaman kemerdekaan dan Orde Baru, penduduk Tangerang makin beragam etnis. Berkembangnya industri di sana, mengakibatkan banyak pendatang baik dari Jawa maupun luar Jawa yang akhirnya menjadi warga baru. Menurut sensus penduduk tahun 1971, penduduk Tangerang berjumlah 1.066.695, kemudian di tahun 1980 meningkat menjadi 1.815.229 dan hingga tahun 1996 tercatat mencapai 2.548.200 jiwa. Rata-rata pertumbuhan per-tahunnya mencapai 5,23% per tahun.

52

Profil Wilayah Kota Tangerang

Untuk sekedar memetakan persebaran etnis-etnis di Tangerang, dapat disebutkan di sini bahwa

daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Cina serta berbudaya

Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi.

Daerah Tangeran Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangeran Utara

sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa[3]. Persebaran penduduk tersebut di masa kini

tidak lagi bisa mudah dibaca mengingat banyaknya pendatang baru dari berbagai daerah. Maka,

apabila ingin mengetahui persebaran etnis di Tangerang, tentunya dibutuhkan studi yang lebih

mendalam.

6.1.2.7 Profil Wilayah Kota Tangerang

A. KONDISI GEOGRAFIS KOTA TANGERANG

Kota Tangerang yang terbentuk pada tanggal 28 Februari 1993 berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1993, secara geografis terletak pada 106’36 – 106’42 Bujur Timur (BT) dan 6’6 - 6 Lintang Selatan (LS), dengan luas wilayah 183,78 Km 2 (termasuk luas Bandara Soekarno-Hatta sebesar 19,69 km 2 ). Secara administrasi Kota Tangerang terdiri dari 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan (Gambar 2.1).

Kota Tangerang berada pada ketinggian 10 - 30 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan bagian utara memiliki rata-rata ketinggian 10 meter dpl seperti Kecamatan Neglasari, Kecamatan Batuceper, dan Kecamatan Benda. Sedangkan bagian selatan memiliki ketinggian 30 meter dpl seperti Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Larangan. Adapun batas administrasi Kota Tangerang adalah sebagai berikut:

Sebelah utara

: Kecamatan Teluknaga dan Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang.

Sebelah selatan

:

Kecamatan Curug, Kecamatan Serpong dan Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Sebelah timur

:

DKI Jakarta.

Sebelah Barat

:

Kecamatan Pasar Kemis dan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Memperhatikan posisi geografis, maka Kota Tangerang memiliki letak strategis karena berada di antara DKI Jakarta, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi

53

Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga Ibukota Negara DKI Jakarta.1

Gambar x.x. Batas Administrasi Kota Tangerang

1 Sekarang hal tersebut diatur dalam Perpres No. 54 tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur
1 Sekarang hal tersebut diatur dalam Perpres No. 54 tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur
Profil Wilayah Kota Tangerang

54

Profil Wilayah Kota Tangerang

Posisi strategis tersebut menjadikan perkembangan Kota Tangerang berjalan dengan pesat. Pada satu sisi, menjadi daerah limpahan dari berbagai kegiatan di Kota Jakarta, di sisi lainnya Kota Tangerang menjadi daerah kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Tangerang sebagai daerah dengan sumber daya alam yang produktif. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang, didukung pula dari tersedianya sistem jaringan transportasi terpadu dengan wilayah Jabodetabek, serta aksesibilitas dan konektivitas berskala nasional dan internasional yang baik sebagaimana tercermin dari keberadaan Bandara International Soekarno-Hatta, Pelabuhan International Tanjung Priok, serta Pelabuhan Bojonegara sebagai gerbang maupun outlet nasional. Kedudukan geostrategis Kota Tangerang tersebut telah mendorong bertumbuhkembangnya aktivitas industri, perdagangan dan jasa yang merupakan basis perekonomian Kota Tangerang saat ini.

B. KONDISI TOPOGRAFIS

Secara topografi, Kota Tangerang sebagian besar berada pada ketinggian 10-30 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan bagian utaranya (meliputi sebagian besar Kecamatan Benda) ketinggiannya rata-rata 10 m dpl, sedang bagian selatan memiliki ketinggian 30 m dpl. Selanjutnya Kota Tangerang mempunyai tingkat kemiringan tanah 0-3% dan sebagian kecil (yaitu di bagian selatan kota) kemiringan tanahnya antara 3-8% berada di Kelurahan Parung Serab, Kelurahan Paninggilan Selatan dan Kelurahan Cipadu Jaya.

Disamping itu wilayah Kota Tangerang dilalui oleh 3 (tiga) aliran sungai yaitu sungai Cisadane, kali Angke dan kali Cirarab dengan panjang daerah yang dilalui 32 kilometer ditambah dengan rata- rata curah hujan yang tinggi yaitu 2.494,60 mm per bulan selama 210 hari, hal ini mengakibatkan hampir setiap tahun terdapat daerah-daerah yang dilalui aliran sungai tersebut mengalami genangan air dengan luas 180,5 ha tersebar di 49 lokasi pada kawasan pemukiman dan jalan. Daerah genangan air tersebut antara lain di Kecamatan Larangan, Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Cipondoh, Kecamatan Pinang dan Kecamatan Periuk. Dari aspek penggunaan lahan memperlihatkan bahwa Kota Tangerang merupakan daerah perkotaan (urbanized area). Hal ini ditunjukkan dengan luas wilayah yang sudah terbangun mencapai 48 % (8. 510 Ha), sedangkan sisanya sekitar 52 % (9.220 Ha) belum terbangun. Lahan yang telah terbangun tersebut pemanfaatannya meliputi: permukiman, industri, perdagangan dan perkantoran.

PROFIL DEMOGRAFI

Karakteristik penduduk yang meliputi usia, tempat tinggal dan tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kebijakan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Kota Tangerang

55

Profil Wilayah Kota Tangerang

dan wilayah sekitarnya menjadikan pertumbuhan penduduk tidak hanya dipengaruhi dari kelahiran (fertilitas), tetapi juga dari perpindahan (migrasi). Hal ini tidak terlepas dari posisi Kota Tangerang sebagai hinterland DKI Jakarta.

Jumlah penduduk/sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan modal pembangunan yang berharga, namun demikian bila kualitasnya kurang baik ditambah dengan pertumbuhan yang tidak terkendali maka akan menjadikan permasalahan dalam pelaksanaan pembangunan. Jumlah penduduk Kota Tangerang adalah Pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu tahun 2000-2007 cukup fluktuatif antara 0,64 % sampai dengan 4,62%. Seiring dengan pertambahan penduduk dengan luas wilayah yang tetap maka tingkat kepadatan akan semakin bertambah.

yang tetap maka tingkat kepadatan akan semakin bertambah. Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk

Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan dan lain-lain, penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan lainnya, yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

Jumlah, Pertumbuhan Dan Kepadatan Penduduk

Perkembangan Jumlah Penduduk 653,566 658,180 2000 1,311,746 674,731 679,495 2001 1,354,226 707,007 709,835 2002
Perkembangan Jumlah Penduduk
653,566
658,180
2000
1,311,746
674,731
679,495
2001
1,354,226
707,007
709,835
2002
1,416,842
747,757
718,820
2003
1,466,577
759,996
728,670
2004
1,488,666
774,978
762,266
2005
1,537,224
776,733
770,404
2006
1,547,137
790,404
784,736
2007
1,575,140
0
200,000
400,000
600,000
800,000
1,000,000
1,200,000
1,400,000
1,600,000
Jumlah Penduduk
Perempuan
Laki - Laki
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Tangerang Tahun 2001-2008

56

Profil Wilayah Kota Tangerang

Berdasarkan grafik terlihat bahwa kepadatan penduduk Kota Tangerang mengalami kecenderungan meningkat pada periode tahun 2001 hingga 2008 dengan total jumlah penduduk pada tahun 2008 adalah 1.531.666 jiwa.

Pertumbuhan Penduduk

4.62 5 4.5 4 3.51 3.49 3.24 3.26 3.5 3 2.5 1.81 2 1.51 1.5
4.62
5
4.5
4
3.51
3.49
3.24
3.26
3.5
3
2.5
1.81
2
1.51
1.5
0.64
1
0.5
0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Perhitungan kepadatan penduduk per km² dilakukan pada area Kota Tangerang dengan luas cakupan 164.55 km² (tahun 2000 2007) yang sudah dikurangi dengan luas bandara.

Kepadatan Penduduk Per KM2

9,572 9,342 9,402 10,000 9,047 8,913 8,610 8,230 7,972 9,000 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000
9,572
9,342
9,402
10,000
9,047
8,913
8,610
8,230
7,972
9,000
8,000
7,000
6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
Grafik Kepadatan Penduduk Per Km² Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Secara umum, permasalahan kependudukan yang dialami oleh suatu daerah melingkupi berbagai permasalahan berikut :

Jumlah penduduk yang tinggi.

57

Penyebaran penduduk/distribusi yang tidak merata.

Komposisi penduduk usia muda tinggi

Arus urbanisasi tinggi

Penyebaran sumberdaya juga tidak merata

Jumlah Dokumen Dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

800000 700000 600000 500000 400000 300000 200000 100000 0 2003 2004 2005 34444 41864 42324
800000
700000
600000
500000
400000
300000
200000
100000
0
2003
2004
2005
34444
41864
42324
Akte Kelahiran
276
207
254
Akte Kematian
457
326
266
Akte Nikah
30
18
28
Akte Cerai
758000
88000
400000
Kartu Tanda Penduduk
179500
12000
63700
Kartu Keluarga

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang

Gambar 2.5 Grafik Jumlah Dokumen Dikeluarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang Tahun 2003-2005

Jumlah Rumah Tangga Pengertian rumah tangga lebih mengacu pada sisi ekonomi, sedangkan keluarga lebih mengacu pada hubungan kekerabatan, fungsi sosial dan lain sebagainya.

Jumlah Rumah Tangga 398,626 400,000 391,679 390,000 384,899 380,000 373,022 368,858 370,000 361,791 360,000
Jumlah Rumah Tangga
398,626
400,000
391,679
390,000
384,899
380,000
373,022
368,858
370,000
361,791
360,000
354,723
348,234
350,000
340,000
330,000
320,000
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Sumber : Kota Tangerang dalam Angka 2002, 2003, 2004, 2005 dan BPS
58
Profil Wilayah Kota Tangerang

Profil Wilayah Kota Tangerang

Grafik Jumlah Rumah Tangga Kota Tangerang Tahun 2000-2007

Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah tangga juga ikut berkembang seperti halnya jumlah penduduk Kota Tangerang. Pada tahun 2000 jumlah rumah tangga sebesar 348.234 dan pada tahun 2007 menjadi 398.626.

Kepadatan penduduk Kota Tangerang cenderung mengalami peningkatan selama periode tahun 2000 hingga 2007. Pada tahun 2007, total jumlah penduduk mencapai 1.575.140 jiwa, dengan komposisi 790.404 jiwa (50,18%) penduduk laki-laki dan 784.736 jiwa (49,82%) perempuan. Selama kurun waktu 2000-2007, rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 2,62% per tahun. Capaian rata-rata laju pertumbuhan penduduk tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan capaian Provinsi Banten 2,20%, DKI Jakarta 1,20%, maupun Nasional 1,30% pada periode yang sama. Pertambahan jumlah penduduk ini disebabkan karena beberapa hal seperti natalitas (kelahiran) dan migrasi (perpindahan) dari luar wilayah Kota Tangerang ke dalam wilayah Kota Tangerang. Selama periode 2002-2007, pertumbuhan penduduk Kota Tangerang, ditandai oleh rata-rata kelahiran bayi hidup sebesar 29.428 jiwa per tahun, rata-rata kematian 778 jiwa per tahun, rata-rata migrasi masuk 16.300 jiwa per tahun, serta rata-rata migrasi keluar 230 jiwa per tahun. Dari kondisi diatas menunjukkan, bahwa tingkat kelahiran merupakan faktor utama yang mendorong tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang, disusul oleh faktor migrasi masuk lihat gambar 2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7

1.600.000 5,00 4,59 4,50 1.550.000 4,00 1.500.000 3,49 3,50 3,26 3,24 1.450.000 3,00 1.400.000 2,50
1.600.000
5,00
4,59
4,50
1.550.000
4,00
1.500.000
3,49
3,50
3,26
3,24
1.450.000
3,00
1.400.000
2,50
2,17
2,00
1.350.000
1,81
1,77
1,50
1.300.000
1,00
1.250.000
0,64
0,50
1.200.000
-
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Jumlah Penduduk
Laju Pertumbuhan Penduduk
(Jiwa)
1.325.854
1.354.657
1.416.840
1.462.726
1.488.666
1.537.244
1.547.138
1.575.140
(Persen)

Sumber : Kota Tangerang Dalam Angka Tahun 2007

59

Terkait dengan pertumbuhan penduduk, maka pada tahun 2007, Kecamatan Larangan dengan luas wilayah 9,40 Km
Terkait dengan pertumbuhan penduduk, maka pada tahun 2007, Kecamatan Larangan dengan
luas wilayah 9,40 Km 2 , merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terbesar, mencapai
14.902 jiwa/km 2 . Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar terdapat di
Profil Wilayah Kota Tangerang

60

Profil Wilayah Kota Tangerang

Kecamatan Karawaci yaitu 171.966 jiwa. Namun kepadatan di Kecamatan Karawaci masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan Kecamatan Larangan. Kepadatan penduduk di setiap kecamatan dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut.

Administrasi Kependudukan

Jumlah penduduk yang memiliki KTP dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan, dan telah mencapai 60% dari jumlah penduduk keseluruhan di Kota Tangerang. Peningkatan tersebut disebabkan adanya kemudahan dalam pelayanan administrasi kependudukan seperti pelayanan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kematian, Akta Perceraian, Akta Kelahiran dan Akta Nikah. Sedangkan untuk jumlah kelahiran bayi yang memiliki akte setiap tahunnya mengalami peningkatan, kecuali di tahun 2005 mengalami penurunan cukup drastis yaitu 29.329 jiwa, dibandingkan pada tahun 2004 sebesar 41.864 jiwa (lihat Tabel 2.1).

Tantangan yang dihadapi Kota Tangerang terkait masalah kependudukan adalah pengendalian pertumbuhan penduduk dan database. Salah satu upaya pengendalian pertumbuhan penduduk, terutama diarahkan pada pengendalian jumlah migrasi masuk melalui penataan sistem administrasi kependudukan dan penguatan pengawasan kependudukan. Di samping itu perlu adanya peningkatan kerjasama pengelolaan administrasi kependudukan dengan DKI Jakarta maupun Kabupaten Tangerang. Sementara untuk menekan angka pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh angka kelahiran, dilakukan peningkatan penyelenggaraan program Keluarga Berencana (KB). Adapun permasalahan dan tantangan database kependudukan, terletak pada belum akurat dan sempurnanya data kependudukan. Hal tersebut dipengaruhi oleh belum adanya sistem pengarsipan data kependudukan, sehingga seringkali terdapat perbedaan data kondisi penduduk.

Tabel Jenis Dokumen yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tangerang 2004-2007

Indikator

2004

2005

2006

2007

Jumlah penduduk ber KTP

643.724

654.974

784.184

847.759

Jumlah bayi ber-akte kelahiran

41.864

29.329

32.140

45.828

Jumlah akte nikah

316

266

313

527

Sumber : LKPJ AMJ Walikota Tangerang 2004-2008

61

Metodologi

6.2 Metodologi

Metodologi berasal dari bahasa Yunani “metodos”, kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Sesuai dengan kerangka acuan kerja (KAK) yang diberikan oleh PPK, maka konsultan membagi beberapa tahapan kegiatan pelaksanaan pekerjaan diantaranya adalah;

1)

Tahap persiapan

2)

Tahap persiapan adalah tahap dimana pasca kontrak melalui persiapan dokumen administrasi seperti persiapan dokumen kontrak kerja, dokumen survey, pematangan metodologi, persiapan alat survey, mobilisasi tenaga ahli serta pengkoordinasian dengan pihak pemberi pekerjaan terkait pelaksanaan survey dan tata cara analisis data yang akan dilakukan. Pada tahap persiapan ini, kelengkapan data seperti peta dengan skala 50.000 hingga 10.000 dipersiapakn dengan baik dan memiliki validitas hokum yang sah. Selain itu juga dilakukan pengumpulan data berupa peraturan daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten dan Wilayah Kota Tangerang. Hal penting lainnya adalah pengumpulan fakta dan sejarah Kota Tangerang sejak zaman sejarah kesultanan Belanda Masa Kemerdekaan Indonesia Sekarang/saat ini. Persiapan lainnya yang sangat penting adalah penyiapan table atau list administrasi wilayah instansi kerja baik itu level desa kelurahan kecamatan wilayah kota Tangerang. Dilengkapi dengan Gazetir yang sudah ada (exsisting) baik itu dari peraturan daerah maupun peraturan yang lebih tinggi diatasnya. Contoh [No] [nama], [kode/jenis unsur], [posisi/koordinat], [informasi nama] dan [nomor peta], [pengucapan], [asal bahasa], [genealogi/sejarah], [aksesibilitas], [potensi] dan [informasi lain] Tahap Survey Tahap survey adalah tahap kegiatan verifikasi dilapangan, menggunakan alat bantu seprti form list, kamera dokumentasi, alat ukur, alat rekam, alat navigasi dan lainnya. Stakeholder yang akan ditemui di lokasi verifikasi adalah tokoh tokoh pengambil keputusan seperti kepala desa, lurah, camat, serta tokoh tokoh

62

Metodologi

3)

4)

masyarakat yang memahami sejarah dan perkembangan kota Tangerang. Selain itu juga dilakukan survey di tempat-tempat yang memiliki tempat penyimpanan bukti sejarah dan budaya masa lalu yang dapat mengangkat bukti keterkaitan budaya yang lebih luas (internasional) regional yakni asia. Tahap Analisis tahap analisis adalah proses penilaian dan pertimbangan terhadap penemuan fakta di lapangan maupun proses teknokratis dan proses genealogi. Proses teknokratis yang digunakan adalah proses penilaian, pertimbangan dengan memanfaatkan teknologi system informasi geografis yang telah disampaikan pada bab sebelumnya. Sedangkan proses genealogi adalah proses penilaian sejarah, budaya dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya yang memiliki kesamaan budaya/sejarah/nilai dalam skala yang lebih luas yaitu asia dunia nasional daerah local. Proses ini akan dilakukan oleh ahli sosiologi dengan menggunakan perangkat analisa yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, proses pemberian nama, prinsip, kebijakan dan prosedur akan menggunakan pedoman dan kebijakan peraturan pemerintah maupun standar yang telah dianut oleh pemerintah Republik Indonesia, pasca resolusi PBB di Jenewa. Contoh ; [no] [nama administrasi/instansi] [kode unsur/jenis] [informasi genealogi] [permasalahan genealogi] [ lainnya] Contoh ; [no] [nama administrasi] [permasalahan tapal batas] [ koordinat] [ lainnya] Tahap Pembakuan Nama Rupabumi Tahap pembakuan nama rupabumi kota tangerang, yakni lokasi instansi [desa kelurahan kecamatan] adalah serangkaian proses pasca analisis dan pasca rapat koordinasi dan meeting counterpart dengan pemberi pekerjaan, PPNR (panitia pembakuan nama rupabumi) . Tahap pembakuan nama ini, konsultan akan mengeluarkan rekomendasi tahapan terhadap hasil pekerjaan untuk mendorong pemerintah local daerah nasional agar dapat segera menyamakan persepsi pemberian nama/pembakuan yang telah dianut oleh anggota perserikatan bangsa-bangsa.

agar dapat segera menyamakan persepsi pemberian nama/pembakuan yang telah dianut oleh anggota perserikatan bangsa-bangsa.

63

Metodologi

Konsultan Counterpart Meeting Pemberi PPNR Pekerjaan
Konsultan
Counterpart
Meeting
Pemberi
PPNR
Pekerjaan

Gambar skema counterpart meeting pembakuan nama rupabumi kota Tangerang.

64

Program Kerja

Rekomendasi yang diharapkan dapat dihasilkan oleh konsultan pelaksana adalah

ditemukannya nilai budaya, sejarah, genealogi local dan asia di wilayah Kota

Tangerang. Sehingga hasil yang didapat dapat diberikan kepada pemerintah

nasional dan kelompok kerja (POKJA UNGEGN ECOSOC PBB) untuk dapat

disamakan/pembakuan nama di level internasional/dunia.

Gambar skema Proses rekomendasi pembakuan nama rupabumi wilayah Kota Tangerang

Gazetir Negara -Negara di Gazetir Region Asia Pemerintah Pasifik Gazetir Provinsi Republik Banten Indonesia
Gazetir Negara
-Negara di
Gazetir
Region Asia
Pemerintah
Pasifik
Gazetir Provinsi
Republik
Banten
Indonesia
Gazetir Daerah
Kota Tangerang
Gazetir Negara - Negara Anggota PBB
Gazetir Negara
- Negara
Anggota PBB

6.2.1 Program Kerja

Beberapa program kerja yang akan disiapkan oleh konsultan pelaksana untuk

dapat menghasilkan tujuan dari kerangka kerja yang telah diberikan;

1)

2) Menyiapkan perangkat analisa baik untuk kegiatan di lapangan dan di ruang

Menyiapkan dan memobilisasi tenaga ahli yang diperlukan.

3)

kerja.

Menyiapkan standar, pedoman dalam pemberian pembakuan nama rupabumi

wilayah kota tangerang.

65

6.2.2 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Jadwal pelaksanaan kegiatan adalah jadwal terinci tentang aktivitas yang akan dilaksanakan oleh konsultan.

Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Minggu ke - No Uraian Bulan Ke -1 Bulan Ke -2 Bulan Ke -3 1
Minggu ke -
No
Uraian
Bulan Ke -1
Bulan Ke -2
Bulan Ke -3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
I
TAHAP PERSIAPAN
1.1
Penyiapan Administrasi Proyek
1.2
Pemantapan Metodologi dan Rencana
Kerja
1.3
Pengumpulan data-data spasial dan non
spasial
1.4
Persiapan Penyusunan Daftar List Nama
Unsur Rupabumi
II
TAHAP SURVEY
2.1
Survey di Kecamatan Tangerang dan
Karawaci
2.2
Survey di Kecamatan Jatiuwung dan
Cibodas
2.3
Survey di Kecamatan Periuk dan
Neglasari
2.4
Survey di Kecamatan Batu Ceper dan
Benda
2.5
Survey di Kecamatan Cipondoh dan
Pinang
2.6
Survey di Kecamatan Ciledug dan
Larangan, Karangtengah
III
TAHAP ANALISIS
3.1
Analisis berdasarkan pedoman Prinsip,
Kebijakan dan Prosedur Pembakuan
66
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Minggu ke - No Uraian Bulan Ke -1 Bulan Ke -2 Bulan Ke -3 1
Minggu ke -
No
Uraian
Bulan Ke -1
Bulan Ke -2
Bulan Ke -3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Nama Rupabumi
3.2
Analisis Sosiologi/budaya sejarah
pemberian nama
3.3
Analisis Tumpang tindih/overlay
IV
TAHAP AKHIR dan PEMBAKUAN UNSUR
Penetapan definitive batas administrasi
4.1
wilayah desa, kelurahan, kecamatan dan
wilayah kota.
4.2
Gasetir rupabumi kota tangerang
4.3
Gasetir lokasi instansi kota tangerang
4.4
Pembakuan nama unsur dan lainnya
V
PELAPORAN & SEMINAR
7.1
Laporan Pendahuluan
7.2
Laporan Akhir
7.3
Rapat Koordinasi & Counterpart

67

Organisasi dan Personil

6.3 Organisasi dan Personil

6.3.1 Organisasi pelaksanaan pekerjaan

Organisasi pelaksanaan pekerjaan yang dimaksud dibawah ini adalah organisasi pelaksana pekerjaan yang dimulai dari pemberi pekerjaan, konsultan dan tim konsultan.

Gambar 2 Organisasi pelaksanaan pekerjaan

Direktur Utama PT. BAHANA NUSANTARA Pemberi Pekerjaan BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KOTA TANGERANG KETUA TIM
Direktur Utama
PT. BAHANA NUSANTARA
Pemberi Pekerjaan
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN
DAERAH KOTA TANGERANG
KETUA TIM
AHLI SOSIOLOGI

AHLI

GEODESI/GEOLOGI

TANGERANG KETUA TIM AHLI SOSIOLOGI AHLI GEODESI/GEOLOGI TENAGA PENDUKUNG Keterangan : Garis Perintah Garis
TENAGA PENDUKUNG
TENAGA
PENDUKUNG
Keterangan : Garis Perintah Garis Koordinasi Warna Menyatakan Kelompok Tugas
Keterangan :
Garis Perintah
Garis Koordinasi
Warna Menyatakan Kelompok Tugas

68

6.3.2

Jadwal penugasan tenaga ahli

Tabel 2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

No Posisi Nama Nama Bulan ke Ket Personil Perusahaan I II III IV V VI
No
Posisi
Nama
Nama
Bulan ke
Ket
Personil
Perusahaan
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
Jumlah
OB
1
Ketua Tim/Ahli
xx
PT. Bahana
Sosiologi
Nusantara
2
Ahli
xx
PT. Bahana
Geodesi/Geologi
Nusantara
3
Asisten Ahli
Tobe
PT. Bahana
Sosiologi
name
Nusantara
4
Asisten Ahli
Tobe
PT. Bahana
Geodesi/Geologi
name
Nusantara
5
Drafter
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
6
Operator
Tobe
PT. Bahana
Komputer
name
Nusantara
7
Surveyor
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
8
Surveyor
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
9
Surveyor
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
10
Surveyor
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
11
Surveyor
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
12
Surveyor
Tobe
PT. Bahana
name
Nusantara
6.3.3
Komposisi Tim Dan Penugasan
Tabel 3 Komposisi Tim Dan Penugasan
Tenaga Ahli (Personil Inti)
N
Nama
Perusah
Tenaga Ahli
Lingkup
Posisi yang
Uraian Pekerjaan
Juml
o
Perso
aan
Lokal/Asing
Keahlian
diusulkan
ah
nil
OB
PT.
Tenaga lokal
Magister
Ketua
Memimpin
dan
Bahana
Sosiologi
Tim/Ahli
mengkoordinasi-kan
Jadwal penugasan tenaga ahli

69

Komposisi Tim Dan Penugasan

Nusant

   

Sosiologi

pekerjaan

agar

dalam

ara

pelaksanaannya

dapat

berjalan

dengan

lancar

guna

mencapai

tujuan

dan

sasaran

yang

diharapkan.

Mengawasi pelaksanaanmencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan. secara rutin dan menjamin setiap pelaporan

secara

rutin

dan

menjamin

setiap

pelaporan

kemajuan

proyek agar tepat waktu.

Bertanggungjawab

jawab

untuk

semua

kegiatan

survey

dan

diskusi

dengan pemerintah.

Bertanggungjawab

jawab

terhadap

penyusunan

materi.

Bertanggungjawab

jawab

dalam

koordinasi

penyusunan semua jenis

pelaporan.

 

Memberikanpetunjuk

petunjuk

pada

tim

kerja

konsultan.

PT.

Tenaga lokal

Geodesi/G

Ahli

Bekerja sama denganPT. Tenaga lokal Geodesi/G Ahli

Bahana

eologi

Geodesi/G

tenaga ahli lainnya dalam

Nusant

eologi

membuat rumusan perangkat alat survey yang diharapkan dalam kerangka acuan kerja

ara

 

Bertanggung jawab atas validitas subtansi dan muatan pekerjaan sesuai dengan keahliannya.yang diharapkan dalam kerangka acuan kerja ara   Bertanggungjawab terhadap pengumpulan data, analisis

Bertanggungjawab terhadap pengumpulansubtansi dan muatan pekerjaan sesuai dengan keahliannya. data, analisis sesuaikeahliannya Bertanggung jawab

data,

analisis

sesuaikeahliannya

Bertanggung jawab bersama-sama dengan ahliterhadap pengumpulan data, analisis sesuaikeahliannya lainnya dalam pengiddentifikasian unsur unsur rupabumi

lainnya

dalam

pengiddentifikasian unsur unsur rupabumi kota tangerang

Membantu team leader dalam menyelesaikandengan ahli lainnya dalam pengiddentifikasian unsur unsur rupabumi kota tangerang pekerjaan secara keseluruhan.

pekerjaan secara keseluruhan.

70

Komposisi Tim Dan Penugasan

Tenaga pendukung (Personil lainnya)

 
   

PT.

Tenaga lokal

Sosiologi

Asisten

Bekerja sama dengan tenaga ahli utamanya dalam membuat rumusan perangkat alat survey yang diharapkan dalam kerangka acuan kerjaMelakukukan survey ke lapangan

Melakukukan survey ke lapangansama dengan tenaga ahli utamanya dalam membuat rumusan perangkat alat survey yang diharapkan dalam kerangka acuan

 

Bahana

Ahli

Nusant

Sosiologi

ara

Bekerjasama dengan asisten tenaga ahli lainnyake lapangan   Bahana Ahli Nusant Sosiologi ara Bertanggungjawab terhadap kedalam substansi, pengumpulan

Bertanggungjawab terhadap kedalam substansi, pengumpulan data, analisis dan penyusunan laporan akhir.Sosiologi ara Bekerjasama dengan asisten tenaga ahli lainnya Membuat laporan dan tetap berkoordinasi dengan ahli utama

Membuat laporan dan tetap berkoordinasi dengan ahli utamapengumpulan data, analisis dan penyusunan laporan akhir.     PT. Tenaga lokal Geodesi/G Asisten

   

PT.

Tenaga lokal

Geodesi/G

Asisten

Bekerja sama dengan tenaga ahli utamanya    PT. Tenaga lokal Geodesi/G Asisten

 

Bahana

eologi

Geodesi/G

Nusant

eologi

dalam membuat rumusan perangkat alat survey yang diharapkan dalam kerangka acuan kerja

ara

 

Melakukukan survey ke lapanganyang diharapkan dalam kerangka acuan kerja ara   Bekerjasama dengan asisten tenaga ahli lainnya

Bekerjasama dengan asisten tenaga ahli lainnyaacuan kerja ara   Melakukukan survey ke lapangan Bertanggungjawab terhadap kedalam substansi, pengumpulan

Bertanggungjawab terhadap kedalam substansi, pengumpulan data, analisis dan penyusunan rencana kepada ahli utama.ke lapangan Bekerjasama dengan asisten tenaga ahli lainnya Membuat laporan dan tetap berkoordinasi dengan ahli utama

Membuat laporan dan tetap berkoordinasi dengan ahli utamadata, analisis dan penyusunan rencana kepada ahli utama.     PT. Tenaga lokal AutoCad Operator

   

PT.

Tenaga lokal

AutoCad

Operator

Membuat gambar- gambar yang diperlukan dalam setiap laporan    PT. Tenaga lokal AutoCad Operator

 

Bahana

AutoCad

Nusant

ara

Membuat rancangan gambar yang diperlukanara

   

PT.

Tenaga lokal

Komputer

Operator

Membantu para ahli dalam pembuatan laporan dan presentasi    PT. Tenaga lokal Komputer Operator

 

Bahana

Komputer

Nusant

 

ara

 
   

PT.

Tenaga lokal

Survey

Surveyor

Melakukan    PT. Tenaga lokal Survey Surveyor survey dan

survey

dan

 

Bahana

pengumpulan

data

71

Komposisi Tim Dan Penugasan

Nusant

     

sesuai arahan dari para ahli.

ara

PT.

Tenaga lokal

Survey

Surveyor

Melakukan survey dan pengumpulan data sesuai arahan dari para ahli.PT. Tenaga lokal Survey Surveyor

Bahana

 

Nusant

ara

PT.

Tenaga lokal

Survey

Surveyor

Melakukan survey dan pengumpulan data sesuai arahan dari para ahli.PT. Tenaga lokal Survey Surveyor

Bahana

Nusant

ara

PT.

Tenaga lokal

Survey

Surveyor

Melakukan survey dan pengumpulan data sesuai arahan dari para ahli.PT. Tenaga lokal Survey Surveyor

Bahana

 

Nusant

ara

PT.

Tenaga lokal

Survey

Surveyor

Melakukan survey dan pengumpulan data sesuai arahan dari para ahli.PT. Tenaga lokal Survey Surveyor

Bahana

Nusant

ara

72

6.3.4

Kerangka Berfikir Makro Pekerjaan

Kerangka Berfikir Makro Pekerjaan

Gambar 3 Kerangka Berfikir Makro Pekerjaan

GAZETIR NEGARA-NEGARA PBB GAZETIR NEGARA NEGARA ASIA PASIFIK GAZETIR NASIONAL REPUBLIK INDONESIA GAZETIR PROVINSI
GAZETIR NEGARA-NEGARA PBB
GAZETIR NEGARA NEGARA
ASIA PASIFIK
GAZETIR NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA
GAZETIR PROVINSI
BANTEN
GAZETIR KOTA
TANGERANG
GAZETIR
INSTANSI
KOTA
TANGERA
NG

73

6.3.5

Kerangka Berfikir Mikro Pekerjaan

Kerangka Berfikir Mikro Pekerjaan

TUJUAN KEGIATAN Menjawab Tujuan 1 Pekerjaan; 1. Kajian Genealogi 2. Kajian dan Analisis menggunakan pedoman
TUJUAN KEGIATAN
Menjawab Tujuan 1 Pekerjaan;
1. Kajian Genealogi
2. Kajian dan Analisis menggunakan
pedoman prinsip, kebijakan dan
prosedur pembakuan nama;
Menjawab Tujuan 2 Pekerjaan;
KAJIAN DAN PEMETAAN
1. Kajian dan Analisis menggunakan
RUPABUMI KOTA TANGERANG
pedoman prinsip, kebijakan dan
prosedur pembakuan nama;
2. Proses verifikasi lapangan
mendapatkan bukti lapangan dan
permasalahan.
1.
PENDAHULUAN;
2.
GAMBARAN UMUM KOTA
TANGERANG;
3.
UNSUR UNSUR RUPA BUMI KOTA
TANGERANG;
4.
GAZETIR LOKASI INSTANSI KOTA
TANGERANG
Menjawab Tujuan 3 Pekerjaan;
5.
PEMBAKUAN NAMA UNSUR RUPA
BUMI GAZETIR LOKASI INSTANSI
1.
Kajian dan analisis teknokratis
dengan Sistem Informasi Geografis;
2.
Proses verifikasi lapangan
mendapatkan bukti lapangan dan
permasalahan;
Menjawab Tujuan 4 Pekerjaan;
1. Melakuan rapat counterpart
dengan Pemberi Pekerjaan, PPNR
dan Konsultan Pelaksana;
2. Pembakuan nama rupabumi
wilayah Kota Tangerang;
3. Memberikan rekomendasi kepada
PPNR Nasional.;

Gambar 4 Skema kerangka berfikir mikro pekerjaan

74

6.3.6

Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan

Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan

INPUT
INPUT
PROSES
PROSES
OUTPUT
OUTPUT
Kajian Kebijakan dan Pedoman : 1. Resolusi PBB no 4 tahun 1967 tentang Pembakuan Nama
Kajian Kebijakan dan Pedoman :
1. Resolusi PBB no 4 tahun 1967 tentang
Pembakuan Nama Unsur Geografi di
Negara-negara anggota PBB.
2. Resolusi PBB no 15 tahun 1987 tentang
otoritas pembentukan dan pembakuan
nama unsur geografi nasional bagi negara-
negara anggota PBB yang belum
memiliki/melakukannya.
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah.
4. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2006
tentang Tim Nasional Pembakuan Nama
Rupabumi;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39
Tahun 2008 tentang Pedoman Umum
Pembakuan Nama Rupa Bumi;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 35
Tahun 2009 tentang Pedoman
Pembentukan Panitia Pembakuan Nama
Rupabumi.
7. PERDA no 36 Tahun 2002 tentang RTRW
Provinsi Banten
8. PERDA No 23 Tahun 2000 tentang RTRW
Kota Tangerang
9. Pedoman Prinsip, Kebijakan, dan Prosedur
Pemberian Nama Rupabumi
Data dan Informasi :
1.
Peta Bakosurtanal terupdate skala 1 juta
s/d 10.000;
2.
Peta sejarah masa kerajaan/kesultanan
Banten
3.
Peta sejarah colonial belanda
4.
Peta RTRW Provinsi dan RTRW Kota
Tangerang
5.
Sejarah Banten, Tangerang, dan lainnya
yang memiliki nilai budaya dunia, nasional
local terkait secara
spasial/keruangan/unsur geografis.
A. Analisis perubahan batas unsur geografis; 1. Proses tumpang tindih (overlay). LAPORAN KAJIAN DAN PEMETAAN
A.
Analisis perubahan batas
unsur geografis;
1.
Proses tumpang tindih
(overlay).
LAPORAN KAJIAN DAN PEMETAAN
RUPA BUMI KOTA TANGERANG
2.
Proses penyepakatan
penentuan batas dengan unsur
6.
PENDAHULUAN;
alami dan buatan melalui
(FGD/focus group discussion)
lintas pengambil keputusan.
7.
GAMBARAN UMUM KOTA
TANGERANG;
8.
UNSUR UNSUR RUPA BUMI
B.
Analisis unsur dan pembakuan
KOTA TANGERANG;
nama ;
9.
GAZETIR LOKASI INSTANSI
1.
Prinsip pemberian nama;
KOTA TANGERANG
2.
Kebijakan pemberian nama;
10.
PEMBAKUAN NAMA UNSUR
3.
Perkembangan pendapatan asli
daerah;
RUPA BUMI DAN GAZETIR
LOKASI INSTANSI
4.
Prosedur pemberian nama;
Alat analisis/metoda;
1.
Peta Bakosurtanal;
2.
Perangkat lunak
ArcGIS/Mapinfo;
3.
Perangkat keras komputer;
4.
Rapat (Conterpart Meeting)
antara pemberi pekerjaan,
PPNR dan Pelaksana Pekerjaan;
5.
Survey Lapangan;
LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN AKHIR
LAPORAN PENDAHULUAN
LAPORAN AKHIR

Gambar 5 Skema Metodologi Pekerjaan

dan Pelaksana Pekerjaan; 5. Survey Lapangan; LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN AKHIR Gambar 5 Skema Metodologi Pekerjaan 75

75