BPK RI

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PERSERO)
Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 dan 2003

Nomor Tanggal

: 25.A/Auditama V/GA/V/2005 : 30 Mei 2005

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 31 Jakarta 10210 Telp. (021) 5700380, 5738740, 5720957, 5738727, 5704395 s.d. 9 pesawat 511 Fax. (021) 5700380, 5723995

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN DAFTAR ISI Halaman LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI - Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal tersebut Neraca Konsolidasi Laporan Laba Rugi Konsolidasi Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasi Laporan Arus Kas Konsolidasi Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasi 1 3 4 5 6 i iv

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 25.A/ Auditama V/GA/V/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kami telah mengaudit Neraca Konsolidasian PT.Perusahaan.Listrik.Negara (Persero) selanjutnya disebut PLN - tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Kami juga melakukan pengujian atas kepatuhan PLN terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern. Laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan pengendalian intern berdasarkan audit kami. Kami tidak mengaudit laporan keuangan anak-anak perusahaan PLN yaitu PT Indonesia Power, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Indonesia Comnet Plus, PT PLN Batam, PLN Tarakan, dan PT PLN Enjinering untuk tahun 2004, dan PT Indonesia Comnet Plus, PT PLN Batam, dan PT PLN Enjinering untuk tahun 2003, yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan, yang laporan keuangannya secara keseluruhan menyajikan total aktiva berturut-turut sebesar Rp93.993.542,40 juta dan Rp1.458.419,10 juta pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, dan total laba berturut-turut sebesar Rp3.179.361,97 juta dan Rp14.415,53 juta untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan PT Indonesia Power, PT Pembangkitan Jawa Bali, PT Indonesia Comnet Plus, PT PLN Batam, PLN Tarakan, dan PT PLN Enjinering diaudit oleh auditor independen lain dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, yang laporannya telah diserahkan kepada kami, dan pendapat kami, sejauh yang berkaitan dengan jumlah-jumlah untuk anak-anak perusahaan, semata-mata hanya didasarkan atas laporan manajemen dan auditor independen lain tersebut.

i

BPK-RI/AUDITAMA V

Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen. posisi keuangan PLN pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003.547. 24 (Revisi 2004) dan melakukan penyesuaian tahun lalu serta secara retrospektif menyajikan kembali laporan keuangan konsolidasi tahun 2003 atas perubahan dan penyesuaian tersebut. Perubahan taksiran masa manfaat ekonomis tersebut berdampak pada penurunan beban penyusutan sebesar Rp2. Menurut pendapat kami.031. dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. jaringan transmisi dan distribusi yang diterapkan secara prospektif.630. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan PLN terhadap kontrak.795.368. serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. berdasarkan audit kami dan laporan auditor independen lain yang kami sebut di atas.824.109.402 untuk tahun 2004 serta kenaikan kewajiban pajak tangguhan sebesar Rp770.547.785 tahun 2004 dan ii BPK-RI/AUDITAMA V . persyaratan bantuan dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Seperti dijelaskan dalam Catatan 50 atas laporan keuangan konsolidasian.567.674 dan kenaikan beban pajak tangguhan sebesar Rp770.402 pada tanggal 31 Desember 2004. Suatu audit meliputi pemeriksaan. atas dasar pengujian. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Catatan 2e dan 4 atas laporan keuangan konsolidasian menjelaskan bahwa pada tahun 2004 Perusahaan dan anak perusahaan melakukan perubahan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tetap pembangkitan. bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Catatan 30 atas laporan keuangan konsolidasian menjelaskan bahwa Perusahaan dan anak perusahaan mempunyai kewajiban bunga hutang pajak penghasilan final atas selisih penilaian kembali aktiva tetap. Perusahaan dan anak perusahaan telah mencatat beban bunga atas hutang pajak penghasilan final sebesar Rp2.Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang ditetapkan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. dalam semua hal yang material. pada tahun 2004 Perusahaan dan anak perusahaan telah melakukan perubahan akuntansi imbalan kerja untuk menyesuaikan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. laporan keuangan konsolidasian yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar.109. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.

kewajiban bunga atas hutang pajak penghasilan final yang jatuh tempo tanggal 15 Desember 2004 dan 2003 sebesar Rp4. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit. Sampai dengan tanggal laporan ini.PJ/060/DIR/2001 tanggal 8 Oktober 2001 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) No. 30 Mei 2005 iii BPK-RI/AUDITAMA V . pada tahun 2004 Perusahaan dan anak perusahaan mencatat bunga atas hutang pajak penghasilan final yang ditanggung Pemerintah tersebut sebagai penghasilan lain – lain.976 ditetapkan ditanggung Pemerintah.659. Dalam surat tanggal 2 Oktober 2003. Selanjutnya.071.863. 9 Tahun 2002 tanggal 16 Januari 2002.2082/80/SJN. Drs. Catatan 49i atas laporan keuangan konsolidasian menjelaskan bahwa Perusahaan dan anak perusahaan belum mengakui dan mencatat jumlah tagihan Pertamina sebesar Rp726. Perusahaan dan anak perusahaan tetap berpegang pada Perjanjian Payung Jual Beli BBM No. berdasarkan surat Menteri Keuangan Republik Indonesia Kepada Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dan Direktur Jenderal Perbendaharaan No. Misnoto. belum ada penyelesaian akhir mengenai masalah tersebut.. Sehubungan dengan itu. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan kepatuhan terhadap pengendalian intern kami sampaikan kepada manajemen secara terpisah dalam laporan kami Nomor 25.947.125 yang merupakan 25% harga pasar untuk pembelian BBM diatas kuota yang ditetapkan Pertamina dalam tahun 2002.Rp1. Ak.579. serta Keppres RI No. S-445/MK.753. Departemen Keuangan Republik Indonesia juga meminta agar penyelesaian permasalahan tersebut dilaksanakan sebagaimana lazimnya penyelesaian hutang piutang bisnis biasa dan tidak perlu melibatkan Pemerintah. MA.01/2004 tanggal 30 Desember 2004. Register Negara No.191 tahun 2003.383. D – 1416 Jakarta.647.593.K/2003 tanggal 24 Juni 2003.27 Tahun 2002 tanggal 30 April 2002.B/Auditama V/GA/V/2005 tanggal 30 Mei 2005. Permasalahan ini telah disampaikan kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai surat No.

DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT .

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku. perihal penugasan untuk melakukan audit atas laporan keuangan konsolidasi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) tahun buku 2004 di Kantor Pusat Jakarta dan Unit-unit di Daerah.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-undang No.X/MPR/2002 serta TAP MPR RI No.12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan. serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. 2. dan TAP MPR RI No. Peraturan Pemerintah No.1/10/2004 tanggal 4 Oktober 2004. Dasar Penugasan a. Suatu audit meliputi pemeriksaan atas dasar pengujian bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Undang-undang Dasar Tahun 1945 pasal 23 E.19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan yang kami uji mencakup: a. 23 F dan pasal 23 G. Undang-undang No. Audit dilaksanakan dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintahan yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. iv BPK-RI/AUDITAMA V . c. b. d.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Undang-undang No. c.66/ST/VII-XV. Ruang Lingkup Audit Audit ini bersifat general audit atas laporan keuangan konsolidasi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2004. Surat Tugas Badan Pemeriksa Keuangan No. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Selain itu audit mencakup pengujian atas kepatuhan perusahaan terhadap kontrak dan pasal-pasal tertentu peraturan perundang-undangan serta kepatuhan terhadap pengendalian intern. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen.VI/MPR/2002. b.DASAR PENUGASAN DAN RUANG LINGKUP AUDIT 1.

K/920/DIR/1998 tanggal 3 Juni 1998 tentang Pengadaan Barang dan Jasa.K/40/MEM/2001 tanggal 24 Agustus 2001 Biaya Penyambungan Tenaga Listrik Yang Disediakan Oleh PT PLN (Persero). Peraturan Pemerintah No. Pedoman dan Kebijakan Akuntansi PT PLN (Persero). Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2038. l. h. j. o. PT Indonesia Comnet Plus. Surat Edaran Direksi No.078. i.009. q. p. m. g. Anggaran Dasar Perusahaan PT PLN (Persero).038. Keputusan Direksi No. PT PLN v BPK-RI/AUDITAMA V .K/010/DIR/2001 tanggal 31 Desember 2001 tentang Penetapan Harga Jual dan Biaya Pelayanan Tenaga Listrik yang Terkait Dengan TDL. dan Perusahaan Jawatan (Perjan) kepada Menteri Negara BUMN. Keputusan Direksi No. Perusahaan Umum (Perum).E/012/DIR/2002 tanggal 31 Desember 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tarif Tenaga Listrik Tegangan Tinggi.021. f. PT Pembangkitan Jawa Bali. Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahun 2004. 021. Surat Edaran Direksi No.E/82/DIR/1994 Tentang Batasan Beban Operasi dan Biaya Investasi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 2002 tanggal 31 Desember 2002 tentang Harga Jual Tenaga Listrik Yang Disediakan Oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara.K/46/MEM/2001 tanggal 31 Desember 2001 tentang Ketentuan Pelaksanaan Harga Jual Tenaga Listrik yang Disediakan Oleh PT PLN (Persero).41 tahun 2003 tentang Pengalihan Kedudukan.010. k.K/010/ DIR/1999 tanggal 20 April 1999 tentang Perubahan/Penyempurnaan Atas Penjelasan Surat Edaran Direksi No. n. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 3032.K/05999/DIR/1995 tanggal 23 Mei 1995 tentang Pedoman dan Petunjuk Tata Usaha Pelanggan.A. Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan pada Perusahaan Perseroan (Persero). Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No.e. Kami tidak mengaudit laporan keuangan anak-anak perusahaan PLN yaitu PT Indonesia Power.E/012/DIR/2002 tanggal 28 Juni 2002 tentang Arus Dana Receipt. Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 256-8.

yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan. dan PT PLN Enjinering tersebut diaudit oleh auditor independen lain dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. sejauh yang berkaitan dengan jumlah-jumlah untuk anak-anak perusahaan yang tidak kami audit.Batam. Pelaksanaan audit di lapangan mulai tanggal 22 Nopember 2004 sampai dengan 30 Mei 2005. PLN Tarakan. yang laporan keuangannya secara keseluruhan menyajikan total aktiva berturut-turut sebesar Rp93. dan total laba berturut-turut sebesar Rp3. Laporan keuangan PT Indonesia Power.53 juta untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. PT PLN Batam. dan PT Indonesia Comnet Plus. PT PLN Tarakan.419.361.179.415.542.458. dan PT PLN Enjinering untuk tahun 2003.993. yang laporannya telah diserahkan kepada kami. dan PT PLN Enjinering untuk tahun 2004. semata-mata hanya didasarkan atas laporan auditor independen lain tersebut.40 juta dan Rp1. PT PLN Batam. PT Indonesia Comnet Plus.97 juta dan Rp14. dan pendapat kami. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA vi BPK-RI/AUDITAMA V . PT Pembangkitan Jawa Bali.10 juta pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003.

LAPORAN KEUANGAN POKOK .

254.961.780.49 179.4.324 12.339 687.314.594.316 199.200.190.028.834.597.068 15.831.677.801.124.320.718.419 2.289.693.42 2g.2j.846 6.392.14 15.037.851 tahun 2004 dan Rp 28.11 6.42 2j.151 179.525.955.244 *) Disajikan kembali .926 tahun 2003 Piutang lain-lain Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Persediaan Pajak dibayar dimuka Biaya dibayar dimuka dan uang muka Jumlah Aktiva Lancar JUMLAH AKTIVA 2k.setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp 228.978.197.928 185.setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 37.728.19.596.962 2.204.2t.2t.502.165.694.190.989 1.148.260.421.7 8.864 61.467 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas Investasi jangka pendek Piutang usaha .344.204 312.838 211.073.391.501.564.641 2l.409.530. -1- .990.028.406.057.483.5 2h.16.874.413.770 523.848.094 1.619 879.476.008.465.487 12.633.467.679.044.619 436.368.45.141.777 209.807 472.46 2i.051.534.20.463.253.561.657.116.46 13 2m.596.26 13.25 2f.25.740 tahun 2004 dan Rp 53.539.603 511.759.6 2u.387.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 Catatan AKTIVA AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva tetap .172.112.892.45 1.820.282 2.783.060.480 563.Catatan 50 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.070.114.339.275.603.9.575.10 2h.793.772.756.363.212 196.974 92.920.730 12.391 351.812.905.660.775.187.130.754.960.824.799.307.905 217.975 tahun 2003 Pekerjaan dalam pelaksanaan Investasi jangka panjang Aktiva pajak tangguhan Aktiva tidak digunakan dalam operasi Piutang pihak hubungan istimewa Aktiva tidak lancar lain-lain Jumlah Aktiva Tidak Lancar 2004 Rp 2003 *) Rp 2e.463.12.612.119 13.639.329.858.991 2.000 521.067 1.172 1.596.

323 10.869.991.786.608 600.078.000 417.42 5.000.782.337.186 49.425 278.788.914 52.968.107.017.110.622.863.408.000.087.46.080.823.099.558.144.793.917.359.664.108.822.581.000.000.739.000 per saham Modal dasar .533.45 2n.339 934.49 46 2u.716.891.24 2e.469.087.148.680.244 .915.289.945 199.239.567.771.523.678.530.406 3.829 15.748.000.703.569.942 7.023.29.311.768.029.23 24 25 2s.303 3.857 515.26 2s.640.358.Catatan 50 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.191.355 (62.175 5.434.439.682.798 209.31.28 14.551 46.49 29.19.204.923 2.894.389.49 30 2t.768 239.29.107.947.24 18.834.368.439.957.000 17.647.848 4.setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Penerusan pinjaman Hutang kepada Pemerintah Hutang bank Hutang obligasi Hutang listrik swasta Hutang pajak selisih penilaian kembali aktiva tetap Kewajiban imbalan kerja Hutang biaya proyek Jumlah Kewajiban Tidak Lancar KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Hutang lain-lain Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Hutang pajak Biaya masih harus dibayar Kewajiban jangka panjang jatuh tempo dalam satu tahun Penerusan pinjaman Hutang kepada Pemerintah Hutang bank Hutang listrik swasta Kewajiban imbalan kerja Jumlah Kewajiban Lancar JUMLAH EKUITAS DAN KEWAJIBAN *) Disajikan kembali .42.920.196 82.504.000 232.955 29.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh 46.928.226.680.634.524.354.20.993 7.154 saham Tambahan modal disetor Selisih penilaian kembali aktiva tetap Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Saldo laba (defisit) Ditentukan penggunaannya Tidak ditentukan penggunaannya Jumlah Ekuitas KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Pendapatan ditangguhkan Uang jaminan langganan Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban jangka panjang .476.49 2t.470 2.154.27.090.977.409.30 2b.502.863.325.978.366 2.536 484.000.127.781.Lanjutan Catatan EKUITAS DAN KEWAJIBAN EKUITAS Modal saham . -22004 Rp 2003 *) Rp 17.348.694.070 3.63.000 16.254 1.988 59.107.464.024.792.809 4.605 9.367.000.966) 142.988 59.261) 142.000 6.929.572.569.808.568.628.044.193.114 2.584.372.487.189.127.174.23 24 25 2p.789.598.941.817 2.596.000.640.311 1.605.772.142.974.253.148.833.088.542.27.681.295.215 77.961.521.43.972.041.569.609 211.860 77.036 2.181.45 38.431.810 440.878.000 21.181 443.922 750.43 31 2n.078.30 46.986.21 22 2u.797.558.741.533.989 69.154.479.737.167 2.589.894.462.120.182.nilai nominal Rp 1.717.20.491 4.43.355 (64.084 69.173.000.096 253.350.314.254 1.194.182.869 316.282 2n.30.000 19.683 1.635.694.338 2o.915.400.240.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 .127.721.474 9.000.078.842.130.230.713.124.

766.927.406 222.970.469 3.935.202.052.021.843 184.43 2004 Rp 58.477.064.633.400) (3.536 5.658.815.389.46 2e.819 54.000) (1.097.990.430.734) (127.170.433 4.716) 152.833.883.619.381.547.010.061.827.4 39 24.484.388.609 59.551.47 41 231.335) 10.924.273.810.045 (2.644) (6.890 10.555 387.Catatan 50 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.581.256.302.800.533) .486.475.945 62.880) 4.879.743 (4.449.789.554.Bersih LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK BEBAN PAJAK Pajak kini Pajak tangguhan Beban pajak RUGI DARI AKTIVITAS NORMAL POS LUAR BIASA .056.829 2.444.Bersih setelah pajak RUGI BERSIH RUGI PER SAHAM Termasuk pos tidak berulang dan luar biasa Tidak termasuk pos tidak berulang dan luar biasa *) Disajikan kembali .366.32.824.671 12.21 2r.428.999.182.408 2q.184.534.500.419.469.983 21.146.384.038) (281.290.606.027.385.096.867.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 Catatan PENDAPATAN USAHA Penjualan tenaga listrik Penyambungan pelanggan Subsidi listrik Lain-lain Jumlah Pendapatan Usaha BEBAN USAHA Bahan bakar dan pelumas Pembelian tenaga listrik Pemeliharaan Kepegawaian Penyusutan aktiva tetap Lain-lain Jumlah Beban Usaha LABA (RUGI) USAHA PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Penghasilan bunga Beban bunga dan keuangan Bunga hutang pajak atas selisih penilaian kembali aktiva tetap ditanggung Pemerintah Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing .459 2.384.519) 2s.148) 1.404.894 4.739.383.979) 2u.685.11 40 30 2d.605.963.000) (1.395 11.bersih Lain-lain .383.562.777.889 342.965) (164.976 (1.809.130.267 182.605.497.586.200.881.533.808.532.338 (4.489.807.637.261 (1.855.829.021) 1.040.37 38.180.580 (5.669.034.837.295) (7.113) 1.082.44 (43.841) (37.45 2e.751.675.459.927.42 (53.812 2003 *) Rp 49.155.053 (3.bersih Beban Lain-lain .196.801.977.49 2o.585.33 34 35 36.124 2.531.099 6.014.495.742.082.885.002.250.947.262.491.847. -32v.730 58.349.753.007.600) (3.659.745.086.42 2u.919.325.569.257) (2.931 5.962 307.117.900.297.232.294.146.485.720.795.234 9.948.503.611.702.605.134) (7.047.710.795.818.687.134) (1.164.

000 Tambahan modal disetor Rp 18.000 46.021.533) (62.599.900.19.127.628.355 21.171 59.980.366.355 1.Catatan 50 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.358.703.154.107.021.700) 77.897.174. -4- .569.533) 142.154.845 966.110.966) (2.000.000.083 260.569.078.640.708 19.795 Saldo per 1 Januari 2003 Pengaruh kumulatif atas Perubahan akuntansi dan penyesuaian tahun-tahun lalu Saldo per 1 Januari 2003 setelah disajikan kembali Penambahan tahun berjalan Penilaian kembali aktiva tetap Rugi bersih tahun berjalan Saldo per 31 Desember 2003 *) Penambahan tahun berjalan Rugi bersih tahun berjalan Saldo per 31 Desember 2004 50 (20.894.808.842.148.491 1.558.355 (56.605.640.268.491.084.426.107.311.655.950) 17 2e.355 (2.275.917.372.082.665.107.302.608.348.694.033.558.432.355 (52.808.934.915.877.000.569.869.000) (59.666.20 46.366.927.605.530.006.493.419.717.422.261) 147.655.915.419.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 Catatan Modal ditempatkan dan disetor penuh Rp 46.894.988 77.000.355 1.462.036) (4.694.860 1.397) Jumlah ekuitas Rp 152.688 (24.000 46.215 77.261.493.152 966.808.148.814.432.863.152 Selisih penilaian kembali aktiva tetap Rp 137.680.000.628.691.894.254 59.569.682.988 59.563.368.078.533.240.401.581.666.894.725.340.254 1.383.083 (4.900.471 (5.533.434.569.000 18.148.340.127.685 Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Rp - Saldo laba (defisit) Ditentukan Tidak ditentukan penggunaannya penggunaannya Rp Rp 1.569.089.433) (5.000.708 235.042.148.817.813.154.739.082.894.320.295) (64.154.834.551 17 *) Disajikan kembali .042.997) 59.295) 142.107.392.

400.195.328) (72.203) 7.140.637.052.244) 12.529) (42.681.770 5.023.236.102.296.719.419) (39.817.774.516.030 .524 22.469.336.763.621.268.048.312.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 2004 Rp ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari langganan Pembayaran kepada pemasok dan karyawan Pembayaran untuk operasi lainnya Kas dihasilkan dari aktivitas operasi Penerimaan subsidi listrik Pembayaran bunga Penerimaan bunga Penerimaan restitusi pajak penghasilan Pembayaran pajak selisih penilaian kembali aktiva tetap Pembayaran pajak penghasilan Kas Bersih Diperoleh Dari Aktivitas Operasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Hasil penjualan aktiva tetap Perolehan aktiva tetap.751.000) (276.808.423.873.450.346.800) (443.218.271.846.520) (686.830.842) (10.237.145) 230.000.515 (9.760 (1.669.401 398.180.395.000) (56.672 1.422.082) 308.686 (5.745 18.946.257 - 668.113) (1.309.759.930) (518.788.159.229.576.496.012) (593.000 235.036.000.126.886.094) (189.657.355.004 (744.399.000.493 678.569.732 (2. pekerjaan dalam pelaksanaan dan aktiva tidak digunakan dalam operasi Penambahan piutang hubungan istimewa Penambahan investasi jangka panjang Penambahan investasi jangka pendek Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Pembayaran penerusan pinjaman Hasil emisi obligasi Biaya emisi obligasi Pembayaran hutang kepada pemerintah Pembayaran hutang bank Penambahan hutang bank Pembayaran hutang listrik swasta Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan PENURUNAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN PENGUNGKAPAN TAMBAHAN Aktivitas investasi dan pendanaan yang tidak mempengaruhi kas: Perolehan aktiva tetap melalui Penarikan pinjaman dan hutang biaya proyek Bantuan Pemerintah Kapitalisasi biaya pinjaman Kapitalisasi biaya penyusutan Penghapusbukuan aktiva karena bencana alam Reklasifikasi hutang listrik swasta dari hutang usaha Peningkatan saldo ekuitas melalui : Selisih penilaian kembali aktiva tetap dan selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.668.948.126.064.701.015.057.135.181.359.750.414.117.747) 1.605.000.815.334) (70.179.048.484 (39.809.532.759.868) (2.073.582.596.382.859.461.000 (244.759.046.103.600) (1.573.037) 6.828.307.016) (1.414.279) 160.517.551.064.837.574.115.328.098) 11.000.532.683.136.028.693.543.387.831.409.418.441.593.000.952.912.657.974) 8.432 795.708 38.978.641.500.128.021.215 966.807 6.666.941.387.070.966) 128.563.445.659.614.010 6.370.958.101 24.047.100. -560.364 4.324.734.713.821.579.151.977.493.559.770 281.979.616.151 2.807 234.697.638 (3.555) (42.938.934) (125.313.591) (2.831.600.896.007) 10.000.948.559.890.011 (1.924) (5.205.339.136) (458.043.352.411 (46.000 (10.351 2003 Rp 51.910) (3.656.520.284.

usaha penunjang tenaga listrik dan melaksanakan tugas khusus yang diberikan oleh pemegang saham. maksud dan tujuan Perusahaan berusaha dalam bidang penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum meliputi pembangkitan.400 lembar Obligasi PLN VI tahun 1997 Seri A. Perusahaan listrik Belanda tersebut meliputi NV ANIEM. Kemudian berdasarkan akta No. Penawaran Umum Efek Hutang Pada tanggal 11 Nopember 2004. Trunojoyo Blok M I No. Pendirian dan Informasi Umum Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara (“Perusahaan”) didirikan pada tahun 1961 dalam bentuk Jawatan di dalam lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga. SH. Selain itu Perusahaan dapat melakukan kerjasama dengan pihak penyelenggara ketenagalistrikan lain serta melakukan investasi pada perusahaan badan usaha lainnya. tingkat bunga tetap dan mengambang dan jangka waktu 10 (sepuluh) tahun atau jatuh tempo pada tahun 2007.5 triliun untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun atau jatuh tempo pada tahun 2014 dengan tingkat bunga tetap 12. Selanjutnya ditetapkan menjadi Perusahaan Umum (Perum) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 1.25%. 73 tanggal 13 September 1994. NV EMBALOM.TH. NV OJEM. 169 tanggal 30 Juli 1994 dari Sutjipto SH. distribusi.01 Th. C2-11. 18 tahun 1972. penyaluran. 19 tahun 1965. UMUM a.01. C-13047 HT. Perusahaan berdomisili di Jakarta dan memiliki 16 (enam belas) kantor wilayah dan 30 (tiga puluh) kantor satuan usaha yang tersebar di wilayah Indonesia.04.2001 tanggal 13 Nopember 2001 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.HT. Akta perubahan ini disahkan dengan Keputusan Menteri Kehakiman No. -6- . 33 tanggal 23 April 2002 Tambahan No. Tambahan No. mengenai perubahan modal saham. Perusahaan menerbitkan 1. terakhir dengan akta No.01. Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan. NV EMS. 43 tanggal 26 Oktober 2001 dari notaris Haryanto. Pada tanggal 11 Agustus 1997. b. Seri B dan Seri C dengan nilai Rp 600 miliar. notaris di Jakarta.519. NV SEM. NV GEBEO. Perusahaan menerbitkan 150. Perubahan ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.94 tanggal 1 Agustus 1994. NV OGEM dan NV WEMI. 135. 30 tahun 1970 yang dipertegas dengan Peraturan Pemerintah No. Perusahaan merupakan kelanjutan usaha beberapa perusahaan listrik Belanda yang diambilalih oleh Pemerintah Republik Indonesia. status Perusahaan berubah menjadi perusahaan yang berbadan hukum. Jakarta. 289. Anggaran dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan. 6731. status badan hukum Perusahaan berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama Perusahaan Perseroan PT Perusahaan Listrik Negara disingkat PT PLN (Persero). Obligasi tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Surabaya pada tanggal 12 Agustus 1997. Kantor Pusat Perusahaan beralamat di Jl.000 lembar “Obligasi PLN VII Tahun 2004” dengan nilai Rp 1. Obligasi ini dicatatkan pada Bursa Efek Surabaya pada tanggal 12 Nopember 2004. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.

860 karyawan tahun 2004 dan 47. susunan dewan komisaris dan direksi Perusahaan pada 31 Desember 2004 adalah sebagai berikut: Komisaris Utama Komisaris Komisaris Independen Direktur Utama Direktur Pembangkitan dan Energi Primer Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan Direktur Transmisi dan Distribusi Direktur Keuangan Direktur Sumber Daya Manusia dan Organisasi : : : : : : : : : Andung A. Nitimiharja Isnuwardianto Komara Djaja Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro Lutfi Hamid Eddie Widiono Suwondho Ali Herman Ibrahim Sunggu Anwar Aritonang Herman Darnel F. kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.504 yang diberikan atas dasar keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan tanggal 25 Juni 2004.504 tahun 2004 dan Rp 4.080. 2.340. IKTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING a. c.399.560 karyawan tahun 2003.733. Karyawan. KEP-09/M-MBU/2004 tanggal 28 Januari 2004 dan No. -7- . adalah dasar akrual. Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi.520. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Dalam kompensasi kepada dewan komisaris dan direksi tahun 2004 termasuk jasa produksi sebesar Rp 4. tunjangan dan jasa produksi sebesar Rp 8. Jumlah karyawan Perusahaan dan anak perusahaan rata-rata 47. investasi dan pendanaan. Parno Isworo Juanda Nugraha Ibrahim Perusahaan membayar kompensasi kepada dewan komisaris dan direksi Perusahaan berupa gaji. yang pengukurannya disusun berdasarkan nilai historis. Perusahaan telah melunasi seluruh obligasi ini. KEP-180/M-MBU/2003 tanggal 6 Maret 2003. Obligasi PLN III tahun 1995 dan Obligasi PLN tahun 1996. Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasi.641. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah. kecuali untuk laporan arus kas. fasilitas.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Perusahaan juga telah menerbitkan Obligasi PLN I tahun 1992. Direksi dan Komisaris Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.165 tahun 2003. Obligasi PLN tahun 1993.

kecuali selisih kurs mata uang asing yang dikapitalisasi sebagai biaya pinjaman. Aktiva tetap perolehan sebelum tahun 2002. Peningkatan nilai aktiva karena penilaian kembali dikreditkan pada selisih penilaian kembali aktiva tetap dalam akun ekuitas. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. e. Prinsip Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi mencakup laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan Perusahaan (anak perusahaan). Aktiva tetap termasuk material cadang untuk menjaga kelangsungan. -8- .PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan b. c. telah dinilai kembali sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aktiva dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aktiva dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aktiva dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. lebih dari 50% hak suara. Pengendalian dianggap ada apabila perusahaan memiliki. kecuali pengendalian atas anak perusahaan tersebut bersifat sementara atau terdapat pembatasan jangka panjang yang mempengaruhi kemampuan anak perusahaan untuk memindahkan dana ke Perusahaan. dan diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat pelepasan investasi yang bersangkutan. Pada tanggal neraca. kestabilan operasi instalasi dan mesin pembangkit listrik dalam rangka memproduksi serta mendistribusikan tenaga listrik. kecuali tanah. Transaksi dan Saldo Dalam Mata Uang Asing Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Aktiva Tetap Aktiva tetap dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai penilaian kembali aktiva tetap. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi. dikurangi akumulasi penyusutan. aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. baik secara langsung atau tidak langsung melalui anak perusahaan. Perubahan nilai investasi akibat perubahan ekuitas anak perusahaan berasal dari transaksi modal antara anak perusahaan dengan perusahaan lain diakui sebagai bagian dari ekuitas pada akun “Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan”. d. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi tahun yang bersangkutan. Pengendalian ada apabila Perusahaan mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan keuangan dan operasi perusahaan sehingga memperoleh manfaat dari aktivitas perusahaan tersebut. Saldo dan transaksi material termasuk keuntungan/kerugian yang belum direalisasi atas transaksi antar perusahaan dieliminasi untuk mencerminkan posisi keuangan dan hasil usaha Perusahaan dan anak perusahaan sebagai satu kesatuan usaha.

Akumulasi pekerjaan dalam pelaksanaan akan dipindahkan ke masing-masing aktiva tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan. Bila nilai tercatat suatu aktiva melebihi taksiran jumlah yang dapat dipulihkan kembali (estimated recoverable amount) maka nilai tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat dipulihkan kembali tersebut. Aktiva tetap yang sudah tidak digunakan lagi dalam operasi atau akan dihapuskan/dijual. f. Biaya perolehan mencakup biaya pinjaman selama masa pembangunan dari pinjaman yang digunakan untuk pembangunan dan beban penyusutan aktiva tetap yang digunakan dalam pekerjaan pembangunan. mutu produksi atau peningkatan standar kinerja dikapitalisasi.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Aktiva tetap. kecuali tanah. Pada tahun 2003. sebagai berikut : 2004 Tahun Bangunan umum. Perusahaan dan anak perusahaan melakukan perubahan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva pembangkitan. Pekerjaan Dalam Pelaksanaan Pekerjaan dalam pelaksanaan merupakan biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan pembangunan aktiva tetap. -9- . Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada saat terjadinya. waduk dan prasarana Instalasi dan mesin pembangkit Perlengkapan penyaluran transmisi Perlengkapan penyaluran distribusi Perlengkapan umum Kendaraan bermotor dan peralatannya Material cadang Perlengkapan pengolahan data dan telekomunikasi 10 – 47 13 – 30 37 15 – 37 4–8 3–5 10 – 25 5 – 10 2003 Tahun 10 – 40 10 – 25 5 – 25 10 – 25 4–8 3–5 10 – 25 5 – 10 Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai penilaian kembali dan tidak disusutkan. dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap berikut akumulasi penyusutannya dan keuntungan atau kerugian atas penarikan atau penjualan aktiva tetap tersebut diakui dalam tahun yang bersangkutan. pengeluaran yang memperpanjang masa manfaat atau memberi manfaat ekonomis di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas. Pada tahun 2004. aktiva yang dinilai kembali tahun 2002 disusutkan selama sisa masa manfaat ekonomis masing-masing aktiva tetap berdasarkan perubahan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tetap yang dinilai kembali berdasarkan penelaahan kondisi fisik aktiva tetap yang dilakukan oleh penilai independen. jaringan transmisi dan distribusi untuk lebih mencerminkan masa manfaat ekonomis dari aktiva tetap. disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus (straight line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tetap. yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara harga jual neto dan nilai pakai. Taksiran masa manfaat ekonomis baru aktiva tetap tersebut ditetapkan berdasarkan penelaahan penilai independen. Pekerjaan dalam pelaksanaan dinyatakan sebesar biaya perolehan.

Bila terjadi penurunan nilai yang bersifat permanen. melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan atas kebijakan finansial dan operasional investee.10 - . dalam hal demikian. aktiva dan kewajiban dari perusahaan asosiasi digabungkan dalam laporan keuangan konsolidasi dengan mengunakan metode ekuitas. nilai tercatatnya dikurangi untuk mengakui penurunan tersebut dan kerugiannya dibebankan pada laporan laba rugi tahun yang bersangkutan. Investasi pada perusahaan asosiasi dicatat di neraca sebesar biaya perolehan dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan dalam bagian kepemilikan Perusahaan atas aktiva bersih perusahaan asosiasi yang terjadi setelah perolehan. Biaya Dibayar Dimuka Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaatnya dengan menggunakan metode garis lurus. Beban Ditangguhkan Biaya perolehan perangkat lunak. Aktiva yang untuk sementara waktu tidak digunakan dalam operasi tidak disusutkan sampai digunakan kembali. Aktiva Tidak Digunakan Dalam Operasi Aktiva tetap yang tidak digunakan dalam operasi meliputi aktiva tetap yang untuk sementara waktu tidak digunakan dalam operasi dan aktiva yang akan dihapuskan. tambahan kerugian diakui sebesar kewajiban atau pembayaran tersebut. . Investasi pada unit penyertaan Investasi pada unit penyertaan dinyatakan sebesar nilai wajar berdasarkan nilai aktiva bersih reksadana yang bersangkutan. namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama. Deposito berjangka Deposito berjangka yang jatuh temponya kurang dari tiga bulan namun dijaminkan dan deposito berjangka yang jatuh temponya lebih dari tiga bulan disajikan sebagai investasi jangka pendek dan dinyatakan sebesar nilai nominal. Penghasilan. i. pengurusan hak legal tanah dan lainnya. dikurangi dengan penurunan nilai yang ditentukan untuk setiap investasi secara individu. ditangguhkan dan diamortisasi dengan metode garis lurus selama masa manfaatnya. Bagian Perusahaan atas kerugian perusahaan asosiasi yang melebihi nilai tercatat dari investasi tidak diakui kecuali jika Perusahaan mempunyai kewajiban atau melakukan pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi yang dijaminnya. h. j. Investasi Investasi pada perusahaan asosiasi Perusahaan asosiasi adalah suatu perusahaan dimana induk Perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan g. Investasi lainnya Investasi dalam saham dengan pemilikan kurang dari 20% yang nilai wajarnya tidak tersedia dan dimaksudkan untuk investasi jangka panjang dinyatakan sebesar biaya perolehan (metode biaya). Aktiva yang akan dihapuskan dinyatakan sebesar jumlah terendah antara jumlah tercatat dan nilai realisasi bersih.

Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata bergerak. mana yang lebih rendah. Penyisihan piutang tersebut dibentuk berdasarkan penelaahan terhadap keadaan masing-masing piutang pada akhir periode. Penerusan Pinjaman Penerusan pinjaman diakui berdasarkan otorisasi penarikan (Withdrawal Authorization) atau dokumen lain sejenis yang diterbitkan pemberi pinjaman. Persediaan Persediaan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih.04/1981 tanggal 23 Desember 1981. Pada tahun 2003 penyisihan dihitung 3% dari saldo rata-rata piutang sesuai SK Menkeu No. Piutang dihapuskan dalam tahun piutang tersebut dipastikan tidak akan tertagih. l. bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari dari tanggal perolehannya dan tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya. Pendapatan Ditangguhkan Penerimaan atas biaya penyambungan listrik dari pelanggan ditangguhkan dan diamortisasi sebesar 5% per tahun sejak listrik sudah tersambung.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan k. sedangkan beban diakui sesuai manfaatnya pada tahun yang bersangkutan (accrual basis). n. Subsidi Pemerintah Subsidi listrik Pemerintah yang diberikan melalui Perusahaan kepada pelanggan golongan tarif tertentu. . p. Selanjutnya pada tahun 2004 Perusahaan menetapkan penyisihan sebesar 3% atas saldo rata-rata piutang ditambah dengan 50% atas piutang dari pelanggan putus rampung setelah memperhitungkan uang jaminan langganan yang bersangkutan. m. Selisih antara hasil emisi bersih dengan nilai nominal merupakan biaya emisi obligasi yang diamortisasi selama jangka waktu obligasi yang bersangkutan dengan metode garis lurus. Penerusan pinjaman dicatat dan terhutang sebesar jumlah pinjaman yang diberikan atau setara rupiah apabila pinjaman ditarik dalam mata uang asing.11 - . 1460/KMK. Piutang Piutang dinyatakan sebesar jumlah bruto tagihan setelah dikurangi penyisihan piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih. r. Biaya Emisi Obligasi Biaya emisi obligasi dikurangkan langsung dari hasil emisi dalam rangka menentukan emisi bersih obligasi tersebut. diakui sebagai pendapatan usaha berdasarkan estimasi sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia (accrual basis). q. o. Selisih antara jumlah estimasi dan realisasi penerimaan subsidi diakui pada tahun realisasi pembayaran subsidi. Kas dan Setara Kas Kas dan setara kas terdiri dari kas. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pendapatan penjualan listrik diakui berdasarkan rekening listrik yang dicetak pada bulan yang bersangkutan sesuai dengan pemakaian energi listrik (kWh).

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan s. Restrukturisasi Hutang Restrukturisasi hutang melalui modifikasi persyaratan tanpa pengalihan asset atau pemberian saham dicatat secara prospektif sejak saat restrukturisasi dilakukan. Keuntungan restrukturisasi hutang tidak diakui, kecuali jika jumlah tercatat hutang (termasuk bunga dan denda) melebihi jumlah pembayaran masa depan pokok dan bunga yang ditetapkan dalam persyaratan baru, tanpa memperhitungkan nilai tunai. Keuntungan restrukturisasi hutang setelah memperhitungkan beban restrukturisasi dan pajak penghasilan terkait, diakui pada tahun terjadinya restrukturisasi dan disajikan dalam pos luar biasa. t. Imbalan Kerja Imbalan Pasca-Kerja dan Jangka Panjang Lain Perusahaan dan anak perusahaan menyelenggarakan program pensiun imbalan pasti untuk semua karyawan tetap, yang dikelola Dana Pensiun PLN (Persero). Selain program pensiun, Perusahaan dan anak perusahaan memberikan imbalan pasca-kerja lain berupa uang pesangon, penghargaan masa kerja dan ganti kerugian kepada karyawan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan kebijakan Perusahaan dan anak perusahaan. Imbalan pascakerja selain program pensiun merupakan imbalan pasti tanpa pendanaan, sehingga kewajiban imbalan pasca-kerja diakui dalam laporan keuangan. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari jumlah yang lebih besar diantara nilai kini kewajiban imbalan pasti atau nilai wajar aktiva program diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung, apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya diakui sebagai beban dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested. Perusahaan dan anak perusahaan juga memberikan imbalan kerja jangka panjang lain berupa uang cuti besar, tunjangan kecelakaan dinas, bantuan kematian dan pemakaman dan penghargaan winduan bagi karyawan yang memenuhi persyaratan. Keuntungan (kerugian) aktuarial dikreditkan (dibebankan) langsung pada tahun yang bersangkutan. Imbalan pasca-kerja dan jangka panjang lain tersebut di atas dihitung secara aktuaria menggunakan metode projected unit credit. Imbalan Pemeliharaan Kesehatan Perusahaan dan anak perusahaan menyediakan program pemeliharaan kesehatan bagi pensiunan dan keluarganya yang memenuhi persyaratan. Program ini merupakan manfaat pasti tanpa pendanaan sehingga kewajiban imbalan pemeliharaan kesehatan diakui dalam laporan keuangan. Perhitungan imbalan pemeliharaan kesehatan dihitung secara aktuaria berdasarkan nilai tunai prakiraan biaya kesehatan dimasa datang (medical claim cost). Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari jumlah nilai kini kewajiban imbalan pemeliharaan kesehatan diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung, apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya diakui sebagai beban dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.

- 12 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan kerja di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan kerja disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial belum diakui dan biaya jasa lalu belum diakui, dan dikurangi dengan nilai wajar aktiva program. Aktiva yang diakui akibat perhitungan ini, terbatas pada jumlah kerugian aktuaria dan biaya jasa lalu belum diakui, ditambah dengan nilai kini dari manfaat ekonomis yang tersedia dalam bentuk pengembalian dana dari program atau pengurangan iuran masa datang. u. Pajak Penghasilan Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aktiva dan kewajiban menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aktiva dan kewajiban. Kewajiban pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aktiva pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan rugi fiskal, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa mendatang. Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi, kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan disajikan di neraca, kecuali aktiva dan kewajiban pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda, atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aktiva dan kewajiban pajak kini. v. Laba per Saham Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih residual dengan jumlah rata-rata tertimbang saham beredar pada tahun yang bersangkutan. Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih residual dengan jumlah ratarata tertimbang saham biasa yang telah disesuaikan dengan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif. w. Informasi Segmen Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen geografis sedangkan segmen sekunder adalah segmen usaha. Segmen geografis adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa pada lingkungan (wilayah) ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan (wilayah) ekonomi lain. Segmen usaha adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa (baik produk atau jasa individual maupun kelompok produk jasa terkait) dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen lain.

- 13 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 3. ANAK PERUSAHAAN Perusahaan memiliki saham anak perusahaan baik langsung maupun tidak langsung sebagai berikut :
Jenis Usaha Pembangkitan tenaga listrik Cogeneration, pemasok energi, jasa pelayanan dan manajemen Perdagangan batubara Persentase pemilikan 2004 2003 100,0 100,0 Tahun Operasi Komersial 1995 Jumlah aktiva (dalam miliar Rupiah) 2004 2003 52.943 52.457

Anak Perusahaan PT Indonesia Power (IP) dan anak perusahaan PT Cogindo DayaBersama (CDB) *)

Domisili Jakarta

Jakarta

99,9

99,9

1999

41

48

PT Artha Daya Coalindo (ADC) *) PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan anak perusahaan PT PJB Service (PJBS) *) PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (PLN Batam) PT Indonesia Comnets Plus (ICON) PT Prima Layanan Nasional Enjiniring (PLNE) (Catatan 6)

Jakarta

60,0

60,0

1999

16

23

Surabaya Pembangkitan tenaga listrik Surabaya Jasa Batam Penyediaan tenaga listrik Jasa penyediaan jaringan komunikasi Jasa enjiniring, pengadaan dan konstruksi Penyediaan tenaga listrik

100,0

100,0

1995

39.261

39.107

95,0 100,0

95,0 100,0

2001 2000

19 1.436

32 1.308

Jakarta

100,0

100,0

2000

188

138

Jakarta

99,3

99,3

2003

15

6

PT Pelayanan Listrik Nasional Tarakan (PLN Tarakan) PT Rekadaya Elektrika (RDE) **)

Tarakan

100,0

100,0

2004

163

117

Surabaya Jasa listrik dan enjiniring

53,9

-

2004

24

-

*) Pemilikan tidak langsung **) Pemilikan tidak langsung melalui PJB sebesar 30,78%, IP sebesar 15,38% dan PLN Batam sebesar 7,69% (Catatan 6)

- 14 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 4. AKTIVA TETAP
1 Januari 2004 Rp Biaya perolehan atau penilaian kembali Tanah Bangunan umum, waduk dan prasarana Instalasi dan mesin pembangkit Perlengkapan penyaluran transmisi Perlengkapan penyaluran distribusi Perlengkapan umum Kendaraan bermotor dan peralatannya Material cadang Perlengkapan pengolahan data dan telekomunikasi Jumlah Akumulasi penyusutan Bangunan umum, waduk dan prasarana Instalasi dan mesin pembangkit Perlengkapan penyaluran transmisi Perlengkapan penyaluran distribusi Perlengkapan umum Kendaraan bermotor dan peralatannya Material cadang Perlengkapan pengolahan data dan telekomunikasi Jumlah Jumlah Tercatat 7.202.624.987.858 22.732.310.847.991 81.762.630.225.626 39.472.833.723.234 53.023.535.412.977 1.759.371.762.028 428.147.160.779 186.640.010.925 923.588.424.287 207.491.682.555.705 Penambahan Rp 389.696.550.901 611.253.610.268 4.270.506.885.117 2.811.244.973.500 2.337.593.433.161 398.443.240.345 44.307.983.141 162.477.082.536 290.060.443.208 11.315.584.202.177 Pengurangan Rp 262.907.875.143 94.705.933.956 308.973.053.363 129.265.290.245 341.470.187.741 31.376.501.635 6.811.178.164 21.093.756.117 6.051.343.548 1.202.655.119.912 31 Desember 2004 Rp 7.329.413.663.616 23.248.858.524.303 85.724.164.057.380 42.154.813.406.489 55.019.658.658.397 2.126.438.500.738 465.643.965.756 328.023.337.344 1.207.597.523.947 217.604.611.637.970

2.392.986.963.958 11.730.703.761.179 3.197.586.525.643 9.348.551.003.397 963.913.020.713 240.359.046.271 85.909.562.632 461.304.530.182 28.421.314.413.975 179.070.368.141.730

820.689.516.131 4.519.551.539.532 1.600.036.118.790 2.415.889.316.512 318.558.099.943 65.966.024.870 17.498.297.004 129.048.723.960 9.887.237.636.742

47.983.801.837 139.500.537.568 15.985.644.916 240.075.867.553 27.385.253.767 6.131.191.247 4.616.961.744 6.041.679.234 487.720.937.866

3.165.692.678.252 16.110.754.763.143 4.781.636.999.517 11.524.364.452.356 1.255.085.866.889 300.193.879.894 98.790.897.892 584.311.574.908 37.820.831.112.851 179.783.780.525.119

1 Januari 2003 Rp Biaya perolehan atau penilaian kembali Tanah Bangunan umum, waduk dan prasarana Instalasi dan mesin pembangkit Perlengkapan penyaluran transmisi Perlengkapan penyaluran distribusi Perlengkapan umum Kendaraan bermotor dan peralatannya Material cadang Perlengkapan pengolahan data dan telekomunikasi Jumlah Akumulasi penyusutan Bangunan umum, waduk dan prasarana Instalasi dan mesin pembangkit Perlengkapan penyaluran transmisi Perlengkapan penyaluran distribusi Perlengkapan umum Kendaraan bermotor dan peralatannya Material cadang Perlengkapan pengolahan data dan telekomunikasi Jumlah Jumlah Tercatat 6.983.076.021.701 22.599.213.067.203 81.580.808.551.979 35.595.424.583.709 51.542.001.249.059 1.572.843.921.598 389.681.317.463 234.362.194.323 820.855.993.512 201.318.266.900.547

Penambahan Rp 226.730.192.357 191.294.927.631 508.556.999.512 3.991.779.571.358 1.529.517.244.191 205.620.256.982 43.311.911.306 9.319.031.974 107.962.643.869 6.814.092.779.180

Pengurangan Rp 7.181.226.200 58.197.146.843 326.735.325.865 114.370.431.833 47.983.080.273 19.092.416.552 4.846.067.990 57.041.215.372 5.230.213.094 640.677.124.022

31 Desember 2003 Rp 7.202.624.987.858 22.732.310.847.991 81.762.630.225.626 39.472.833.723.234 53.023.535.412.977 1.759.371.762.028 428.147.160.779 186.640.010.925 923.588.424.287 207.491.682.555.705

1.625.786.659.419 6.750.722.960.649 1.589.876.639.233 4.645.695.842.791 589.604.412.588 165.423.579.762 58.622.068.657 274.596.969.307 15.700.329.132.406 185.617.937.768.141

771.493.414.071 5.033.680.517.962 1.629.529.316.893 4.709.025.850.607 381.548.464.491 77.606.344.375 28.347.687.617 189.301.398.001 12.820.532.994.017

4.293.109.532 53.699.717.432 21.819.430.483 6.170.690.001 7.239.856.366 2.670.877.866 1.060.193.642 2.593.837.126 99.547.712.448

2.392.986.963.958 11.730.703.761.179 3.197.586.525.643 9.348.551.003.397 963.913.020.713 240.359.046.271 85.909.562.632 461.304.530.182 28.421.314.413.975 179.070.368.141.730

- 15 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Beban penyusutan dialokasi sebagai berikut :

2004 Rp Beban usaha Kapitalisasi ke pekerjaan dalam pelaksanaan Jumlah 9.547.554.658.124 18.596.052.770 9.566.150.710.894

2003 Rp 12.745.047.489.459 24.831.296.432 12.769.878.785.891

Penambahan aktiva tetap termasuk pemindahan pekerjaan dalam pelaksanaan yang telah selesai dan beroperasi ke aktiva tetap sebesar Rp 7.257.616.923.889 tahun 2004 dan Rp 3.073.739.497.493 tahun 2003, dan pemindahan nilai tercatat aktiva tidak digunakan dalam operasi ke aktiva tetap sebesar Rp 486.882.610.309 tahun 2004 dan Rp 2.013.440.295.259 tahun 2003, sehubungan dengan pengoperasian kembali aktiva tetap tersebut. Pengurangan aktiva tetap termasuk pemindahan nilai tercatat aktiva tidak digunakan dalam operasi sebesar Rp 820.760.288.470 tahun 2004 dan Rp 136.635.105.590 tahun 2003. Pada tahun 2004, Perusahaan dan anak perusahaan melakukan perubahan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva pembangkitan, jaringan transmisi dan distribusi untuk lebih mencerminkan masa manfaat ekonomis dari aktiva tetap. Perubahan taksiran masa manfaat aktiva tetap ini didasarkan pada hasil evaluasi dari PT Sucofindo Appraisal Utama, penilai independen, dengan laporannya tanggal 28 April 2005, yang diterapkan sejak awal tahun 2004. Perubahan taksiran masa manfaat ekonomis tersebut menurunkan beban penyusutan sebesar Rp 2.567.031.824.674. Penurunan beban penyusutan tersebut juga berdampak pada kenaikan beban pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan masing-masing sebesar Rp 770.109.547.402. Pada tahun 2002, Perusahaan dan anak perusahaan melakukan penilaian kembali aktiva tetap untuk posisi 1 Januari 2002 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 486/KMK.03/2002 tanggal 28 Nopember 2002 dan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. KEP-519/PJ/2002 tanggal 2 Desember 2002. Pada tanggal 31 Desember 2002, Perusahaan dan anak perusahaan telah memperoleh persetujuan penilaian kembali aktiva tetap dan penetapan pajak penghasilan final selisih penilaian kembali aktiva tetap dari Direktur Jenderal Pajak dalam beberapa surat keputusan. Pada tahun 2003, Perusahaan dan anak perusahaan mengajukan permohonan pengurangan pajak penghasilan final selisih penilaian kembali terhutang dan Direktur Jenderal Pajak menyetujui pengurangan tersebut dalam beberapa surat keputusan. Penilaian kembali aktiva tetap Perusahaan dan anak perusahaan untuk posisi 1 Januari 2002 dilakukan oleh PT Sucofindo Appraisal Utama, penilai independen sesuai dengan laporannya No. 124-REV/SAU-APP/PST/XII/02 tanggal 28 Pebruari 2003. Penilaian kembali aktiva tetap menggunakan metode pendekatan biaya dan harga pasar. Penilaian kembali aktiva tetap juga mencakup taksiran sisa masa manfaat ekonomis aktiva tetap yang dilakukan berdasarkan penelaahan kondisi fisik aktiva tetap.

- 16 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Selisih penilaian kembali aktiva tetap Perusahaan dicatat dalam akun “Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap” sebagai bagian dari ekuitas. Selisih penilaian kembali aktiva tetap anak perusahaan dicatat sebesar persentase pemilikan Perusahaan dalam akun “Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan” (Catatan 19 dan 20). Perusahaan dan anak perusahaan memiliki beberapa bidang tanah dengan hak legal berupa Hak Pakai, Hak Guna Bangunan dan surat pelepasan hak atas tanah. Hak pakai tidak mempunyai jangka waktu. Hak guna bangunan berjangka waktu antara 20 tahun sampai dengan 30 tahun yang jatuh tempo antara tahun 2016 sampai dengan 2034. Aktiva tetap tanah dan bangunan dipergunakan sebagai jaminan penerbitan obligasi dan pinjaman yang diperoleh Perusahaan dan anak perusahaan dari beberapa bank (Catatan 25 dan 26). Manajemen berpendapat bahwa tidak ada indikasi penurunan nilai aktiva tetap pada tanggal neraca. Pada tanggal 31 Desember 2004, aktiva tetap berupa instalasi, mesin pembangkit dan peralatan transmisi telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran dan lainnya dengan jumlah pertanggungan sebesar US$ 10.632.012.149 dan Rp 287.502.721.794. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas aktiva yang dipertanggungkan. Perusahaan dan anak perusahaan tidak menutup asuransi atas aktiva tetap selain instalasi, mesin pembangkit serta peralatan transmisi terhadap risiko kemungkinan kerugian yang timbul. 5. PEKERJAAN DALAM PELAKSANAAN Akun ini merupakan biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan pembangunan sarana kelistrikan, sebagai berikut : 2004 2003 Rp Rp

Pembangkitan Transmisi Distribusi Perlengkapan Jumlah

5.692.982.551.284 6.444.129.443.970 1.424.258.121.616 42.169.087.130 13.603.539.204.000

4.477.566.164.250 6.495.549.075.272 1.013.291.445.172 42.312.305.510 12.028.718.990.204

Pekerjaan dalam pelaksanaan pembangkitan terutama merupakan PLTA Musi 3 x 70 MW, PLTP Sarulla 330 MW, PLTA Renun 2 x 41 MW dan PLTA Sipansihaporas 33 MW dan 17 MW. Pekerjaan dalam pelaksanaan transmisi terutama merupakan pekerjaan jaringan transmisi Sumatra, Jawa dan Bali. Pekerjaan dalam pelaksanaan pada tanggal 31 Desember 2004, diperkirakan akan selesai antara tahun 2005 dan 2006. Pada tanggal 23 Januari 2004, Perusahaan mengambil alih pembangkit listrik tenaga panas bumi Sarulla dengan harga US$ 60.000.000 dari Unocal North Sumatra Geothermal Ltd. (UNSG). Aktiva UNSG yang diambil alih termasuk dalam pekerjaan dalam pelaksanaan pembangkitan. Biaya pinjaman, mencakup beban bunga dan keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing, dikapitalisasi ke pekerjaan dalam pelaksanaan sebesar Rp 678.666.126.745 tahun 2004 dan Rp 38.734.948.101 tahun 2003.

- 17 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 6. INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi jangka panjang Perusahaan meliputi penyertaan saham pada perusahaan dan kerjasama konsorsium sebagai berikut :
Domisili / lokasi Pemilikan langsung PT Geo Dipa Energi PT Unelec Indonesia Pemilikan tidak langsung PT Bajradaya Sentranusa PT Rekadaya Elektrika (Catatan 3) PT Daya Citra Mulia PT PT PT PT Sumber Segara Primadaya Pro Infokom Indonesia Mitra Energi Batam Indo Muba Power Bandung Jakarta Jenis usaha Penyedia tenaga listrik Penunjang penyedia tenaga listrik Penyedia tenaga listrik Penyedia tenaga listrik Pertambangan dan perdagangan batu bara Penyedia tenaga listrik Telekomunikasi Penyedia tenaga listrik Penyedia tenaga listrik Penyedia tenaga listrik Perkebunan ramie Penyedia tenaga listrik Penyedia tenaga listrik Tahun operasi komersial 2002 1988 Persentase penyertaan 2004 2003 33,00 32,35 33,00 32,35

Asahan Jakarta Banjarmasin Cilacap Jakarta Batam Jakarta Batam Saguling Bandung Berau

*) 2004 2002 *) *) 2004 *) *) *) *) *)

25,02 25,00 49,00 25,00 30,00 35,00 55,00 49,00 80,00 50,00

25,00 30,78 25,00 25,00 55,00 49,00 80,00 50,00

Kerjasama konsorsium Konsorsium CBE Konsorsium KSPM Konsorsium IP-NTP Konsorsium Indo Pusaka Berau *) Tahap pengembangan

Mutasi investasi pada perusahaan-perusahaan tersebut adalah sebagai berikut :
2004 Jumlah tercatat 1 Januari 2004 Rp PT Geo Dipa Energi PT Unelec Indonesia PT Bajradaya Sentranusa PT Rekadaya Elektrika (Catatan 3) PT Daya Citra Mulia PT Sumber Segara Primadaya PT Pro Infokom Indonesia PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (Persero) PT Mitra Energi Batam PT Indo Muba Power Kerjasama konsorsium Konsorsium CBE Konsorsium KSPM Konsorsium IP-NTP Konsorsium Indo Pusaka Berau Jumlah 218.475.570.000 18.182.802.379 10.000.000.000 1.459.697.250 2.250.000.000 3.450.000.000 13.820.510.324 349.860.000 512.214.800 44.060.821.419 312.561.476.172 Bagian atas laba (rugi) bersih asosiasi tahun berjalan Rp (70.274.465.068) 1.755.648.417 (481.714.595) 157.717.866 206.907.600 242.948.147 (68.392.957.633) Jumlah tercatat 31 Desember 2004 Rp 148.201.104.932 1.755.648.417 17.701.087.784 1.617.415.116 254.186.907.600 231.103.000 24.572.948.147 1.886.420.000 8.054.646.863 478.912.400 512.214.800 61.950.000.009 521.148.409.068

Penambahan (pengurangan) Rp (10.000.000.000) 253.980.000.000 (2.018.897.000) (3.450.000.000) 24.330.000.000 1.886.420.000 (5.765.863.461) 129.052.400 17.889.178.590 276.979.890.529

- 18 -

073.000 384.539 Jumlah tercatat 31 Desember 2003 Rp 218.700 44.161.250.250.053.800 44. Penyertaan saham pada PT Rekadaya Elektrika (RDE) dilakukan melalui PJB pada tahun 2003.060.182.289. Pada tahun 2004.558.875.104. pemegang saham lain meningkatkan modal saham Unindo dan Perusahaan tidak mengambil bagian sehingga persentase kepemilikan Perusahaan terdilusi dari 44.697.897. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan. anak perusahaan mengakuisisi 980 saham (49%) PT Sumber Segara Primadaya (SSP) dengan biaya perolehan sebesar Rp 980 juta. Penyertaan saham Pada tanggal 28 Januari 2004 dan 8 April 2004. PT Indonesia Power (IP) dan PT Pelayanan Listrik Nasional Batam telah menempatkan investasi saham pada RDE masing-masing sebesar Rp 5 miliar (15.570.059. PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).248 3.475.000 18. PJB telah meningkatkan investasi saham sebesar Rp 253 miliar.514 Bagian atas laba bersih asosiasi tahun berjalan Rp 119.000.000 2.623.36% menjadi 32.000. Pada tanggal 29 Januari 2004.419 52.000 3.78% menjadi 53.765.000 1.863.712.450.018.510.561.820.000.537 170.450. .000.69%).725.459.324 349.119 Untuk tahun 2004 dan 2003.860. Dalam pengurangan investasi tahun 2004 termasuk penurunan nilai investasi pada PT Pro Infokom Indonesia dan Konsorsium CBE masing-masing sebesar Rp 2.727.19 - . Pada tahun 2003.000.000 128.35%.802.570. nilai investasi saham pada Unindo adalah nihil.000 13.476.002 289.172 Penambahan (pengurangan) Rp (3.461.38%) dan Rp 2.000 3.000.85% mengakibatkan laporan keuangan RDE dikonsolidasikan (Catatan 3).324 349.842 1.860 didasarkan pada Peraturan Pemerintah RI No.100 1.000 18. tidak terdapat dividen dari perusahaan-perusahaan tersebut.5 miliar (7.821.419 312. peningkatan modal dasar SSP belum memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. Pada tanggal 31 Desember 2003.000) 10.000.000 dan Rp 5.475.000 259. Penyertaan saham pada PT Unelec Indonesia (Unindo) sebesar Rp 15.000.063.873. 2/1998 tanggal 7 Januari 1998.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 2003 Jumlah tercatat 1 Januari 2003 Rp PT Geo Dipa Energi PT Prima Layanan Nasional Enjiniring (Catatan 3) PT Bajradaya Sentranusa PT Rekadaya Elektrika PT Daya Citra Mulia PT Pro Infokom Indonesia PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (Persero) Kerjasama konsorsium Konsorsium CBE Konsorsium KSPM Konsorsium IP-NTP Konsorsium Indo Pusaka Berau Jumlah 218.074.000. karena akumulasi bagian rugi bersih asosiasi tersebut telah melebihi biaya perolehan investasi saham.697.820.379 10.250 2. sehingga persentase kepemilikan tidak langsung Perusahaan pada RDE meningkat dari 30.000.860.725.000 13.000 512.821.000.510.214.123.

169. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan. Manajemen berpendapat nilai tercatat kerjasama konsorsium dapat dipulihkan.311. AKTIVA TIDAK DIGUNAKAN DALAM OPERASI 2004 Rp Aktiva akan direlokasi.614.703 571.679.420 160.339.428.128.101 695.465.214.307.241.375 14.326. penyertaan saham tersebut masih terhutang sebesar Rp 23. Kerjasama konsorsium ini akan diubah menjadi perusahaan patungan dalam bentuk perseroan terbatas pada saat pengembangan proyek tersebut selesai atau pada saat perusahaan patungan terbentuk.714 14.859 171.362. Kerjasama Konsorsium IP dan PT Cogindo Daya Bersama (CDB) mengadakan beberapa kerjasama konsorsium dengan pihak-pihak lain untuk melaksanakan pengembangan proyek-proyek tertentu.000.731.000 dari Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan .000.013.261.999.517 166.362.066.897 2.904.140 86.551 58.547.PLN.362.020.847.199. Manajemen berpendapat bahwa penurunan nilai investasi saham tersebut tidak perlu dibentuk.148.010.272.850.245.288.749.220.366.251 1.804.548.195 574.732.338.966 733.20 - .825.624.000.391 .001. 7.836 2.172.307.343.251 2.825.863 1.714. diperbaiki dan dihapusbuku Biaya perolehan Aktiva tetap akan direlokasi Aktiva tetap akan dihapusbuku Aktiva tetap akan diperbaiki Material akan dihapusbuku Pekerjaan dalam pelaksanaan akan dihapusbuku Jumlah Akumulasi penyusutan atau penurunan nilai Aktiva tetap akan direlokasi Aktiva tetap akan dihapusbuku Aktiva tetap akan diperbaiki Material akan dihapusbuku Pekerjaan dalam pelaksanaan akan dihapusbuku Jumlah Jumlah tercatat Aktiva belum beroperasi Material belum digunakan Jumlah 2003 Rp 582.125.039 2.466 162. Pada tanggal 28 Januari 2004 dan 8 April 2004.332 756.302.125 301.028.900.507 89.063. IP dan CDB mengakui kerjasama konsorsium dalam laporan keuangan sebesar dana yang dikeluarkan untuk proyek-proyek tersebut setelah dikurangi penurunan nilai investasi.251 1. karena nilai tercatat investasi saham dapat dipulihkan.319.825.677.472.062 957.561.330.000. anak perusahaan mengakuisisi 24.337.109.345.619 89.978.062. PT Pelayanan Listrik Nasional Batam.772.955 100.531 528.023.335.053 57.675.092 14.978 1.361.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan PT Geo Dipa Energi merupakan perusahaan patungan antara Perusahaan dan Pertamina yang ditujukan untuk melanjutkan pembangunan pembangkit tenaga listrik Dieng dan Patuha yang sebelumnya dimiliki Himpurna California Energy Limited dan Patuha Power Limited.195.516 134.622.308.330 saham (30%) PT Mitra Energi Batam dengan biaya perolehan sebesar Rp 24.995.

958 (77.388.537. jatuh tempo 28 Januari 2013 dengan tingkat bunga 12. jaringan transmisi dan distribusi. • . Piutang berikut bunga telah diterima pelunasannya pada tanggal 23 Maret 2005.000. Jumlah tercatat aktiva tersebut telah nihil sehingga hasil penjualan tersebut dicatat sebagai keuntungan penjualan aktiva tetap (Catatan 41).080. jatuh tempo 5 Juli 2005 dengan tingkat bunga 10% per tahun.804. anak perusahaan. Aktiva akan dihapus terutama merupakan pembangkit PLTD Apung. Bunga akan diterima dalam 15 (lima belas) kali angsuran semesteran mulai 28 Januari 2006 sampai dengan 28 Januari 2013.000 pada tanggal 28 Januari 2004.515 tahun 2004 dan Rp 5.000.217. rumah dinas dan jaringan distribusi.958.576.080.241.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Kerugian penurunan nilai aktiva adalah sebesar Rp 255.268.686 tahun 2003.260.241.116.658.160.891 tahun 2004 dan Rp 36.801. Aktiva akan direlokasi terutama merupakan instalasi mesin pembangkit.791.000. 8.392. di Nangroe Aceh Darussalam.21 - . Pemberian pinjaman ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PJB tanggal 14 Januari 2004.266.991.712.122 1. Aktiva belum beroperasi terutama merupakan bangunan saluran air proyek PLTA Renun.078.000 30.400. Piutang ini akan diangsur dalam 4 (empat) kali angsuran mulai 28 Juli 2011 sampai dengan 28 Januari 2013.502.414. memberikan pinjaman kepada PT Sumber Segara Primadaya (SSP) sebagai berikut : • Piutang jangka panjang ditujukan sebagai bagian pembiayaan proyek PLTU Cilacap milik SSP sebesar US$ 52.619) 351.907% per tahun.039 345.919 537.161 2003 Rp 125.996.761) 879.954 tahun 2003.000. Piutang jangka pendek ditujukan sebagai pembiayaan letter of credit sebesar US$ 8.637.187.039 381.669.096.667 30.067 (185. Perusahaan telah menjual aktiva tetap tidak digunakan dalam operasi dengan hasil penjualan aktiva sebesar Rp 22.190.804.408.333 160.333) (139.339 PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).076.960. peralatan transmisi dan penyaluran tenaga listrik dan lain-lain. Piutang ini dijamin dengan L/C atau bank garansi yang diberikan kontraktor kepada SSP.297. PIUTANG PIHAK HUBUNGAN ISTIMEWA 2004 Rp PT Sumber Segara Primadaya PT Bajradaya Sentranusa PT Geo Dipa Energi Direksi dan karyawan Jumlah Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun (Catatan 13) PT Sumber Segara Primadaya Direksi dan karyawan Bagian jangka panjang 560.

tanpa jaminan dan jadual pengembalian pasti.528. piutang ini masih dalam proses perpanjangan.563. Pemberian pinjaman tersebut ditujukan untuk restrukturisasi hutang BDSN.992.661.090.815.145 221.212 Uang muka kepada PT Central Java Power merupakan dana yang dikeluarkan Perusahaan sehubungan dengan fasilitas pendanaan PPN Impor untuk PLTU Tanjung Jati B (Catatan 49).212.875 136.936 21. 9.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan PJB juga memberikan pinjaman kepada PT Bajradaya Sentranusa (BDSN).633.198 166.316 101.000 13.098.597.626.754.892.828.830. .770 687.997.418.775.534 341.177.189.842. Pelunasan piutang dilakukan melalui pemotongan gaji.703 223.992.410.22 - .134 52.830.425.198 727.000 4.231.114.742.173.250 41.253 1.971 362.244 706.395 173.353.389. Piutang direksi dan karyawan merupakan pinjaman pemilikan rumah tanpa bunga. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan.410. PJB membebankan bunga sesuai tingkat bunga yang berlaku di Bank DBS Indonesia untuk tahun 2004 dan Bank Internasional Indonesia untuk tahun 2003.000.565. Piutang kepada PT Geo Dipa Energi (GDE) merupakan pinjaman dana talangan untuk operasional GDE. jatuh tempo 7 Mei 2005. Pinjaman ini tidak dikenakan bunga. AKTIVA TIDAK LANCAR LAIN-LAIN 2004 Rp 2003 *) Rp Beban ditangguhkan .556.841.268.231.Catatan 50 495.000.004.798.659 632.463.042.541 45.227 21.bersih Hak atas tanah dan lainnya Perangkat lunak Jumlah Biaya dibayar dimuka Program pensiun (Catatan 45) Sewa tanah dan gedung Lain-lain Jumlah Uang muka PT Central Java Power Proyek Jumlah Piutang lain-lain Jumlah *) Disajikan kembali .770 101.002.114.

598.748 384.112.116 10.709.335 1.051.347.483.802.325.047 28.884 388.591.497 22.514 5.507.658 10.575.335.294.391 66.364.686.097.104.514 4.094 192.407 .811.762.777.480 41. Rupiah US Dollar Bank Muamalat Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank CIC International Bank Niaga Bank DBS Indonesia Bank NISP Rupiah SGD Bank Mega Jumlah kas dan bank 60.781.589 5.150.734.602.735.218 89.065.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 10.058.116.200.818.356 204.511 163.399 2.167 2.327.342.376.798 4.644.426.466.654 152.564.774 43.345 160.981.671 15.314 1.137.736.565.986.368 49.843.010.647 821.789 7.774.957.875 17.580 13.619.566.988 109.337 1.953 1.924 991.975.739.570.467 300.181 30.890 28.503.866.821.723.101.495.495.354 11.426.621.577.228.466 1.983.426.260.800.146 130.120.273.620 17.387.23 - .877 12.207.719.766.413 6.678.424.603 625.076.762.790.658 1.492.618.292 33.604.543 2.801.220.283.597.534.937 171.988.610.030.713.900.142.696.185.220 1.205.683.108 34.330.819 14.123.608.569.467 14.370 41.704.297 1.419. KAS DAN SETARA KAS 2004 Rp Kas Bank Bank Mandiri Rupiah US Dollar Yen Frank Swiss Euro Poundsterling Bank Negara Indonesia Rupiah US Dollar Euro Frank Swiss Bank Rakyat Indonesia Rupiah US Dollar Yen Euro Bank Bukopin Rupiah US Dollar Bank Central Asia Rupiah US Dollar Bank Pembangunan Daerah Rupiah US Dollar Yen Bank Buana Indonesia Bank Artha Graha Bank International Indonesia Rupiah US Dollar Euro Bank Tabungan Negara Bank Panin Bank Danamon Lippo Bank Citibank N.301.111.732.481.916.128.A.778.798 392.779 1.383.356 20.429.962.938.556.095.773 5.320 1.875.570 2003 Rp 81.746.199.898 137.193 158.788.413.788.344.881.844.150.351.900 38.259 6.203 45.115.164 1.584.653.296.023 12.791 12.626 333.439 5.338.138.708.592.426.012 23.456 11.526 139.154 7.078.726 20.041 691.030.470.394.923 750.543.354 12.230.763.076.252.530.345.768.827.905.960.620.241.

000 7.693.000.000.215.000 451.641 5.000.574.000.057.000.000.911.903.641 6% .000 8.000.0.24 - .000.000.000 53.000.500.200 6.000.15% 0.350.000 20.000 100.000.000 413.770 3.500 523.998.004 2.000.14.961.000 12.000.500.000 472.000 62.400.845.427.000 13.564.49% .342 7.000 32.000 5.524.361.000.245.000 9.000.000.322.000.000.000 26.657.000.807 6% .000.000.49% .8.200 2.858.000.000.000.000 17.498.000.800.000.048.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Setara kas .400 20.000.000.000 55. INVESTASI JANGKA PENDEK Deposito berjangka Bank Negara Indonesia Rupiah US Dollar Bank Mandiri Rupiah US Dollar Bank Rakyat Indonesia Bank Bukopin Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank International Indonesia Rupiah US Dollar Bank DBS Indonesia Bank Muamalat Jumlah Unit penyertaan Reksadana Melati .75% .000.65% 2003 Rp 115.939.0.000 1.500.000 15.665.759.8% .000 105.000 5.000 52.000.387.000.716.000 13.000.14.000 43.000 5.000.000.028.000 17.US Dollar Reksadana Ganesha Abadi Investasi lainnya Jumlah investasi jangka pendek Tingkat bunga deposito berjangka per tahun Rupiah US Dollar 2004 Rp 30.000.618.500.000.000 8.000.282.000.000.Deposito berjangka Bank Rakyat Indonesia Bank Negara Indonesia Rupiah US Dollar Bank Bukopin Bank Mandiri Bank Pembangunan Daerah Citibank Bank NISP Bank Tugu Bank Bumiputera Jumlah deposito berjangka Jumlah Kas dan Setara Kas Tingkat bunga deposito berjangka per tahun Rupiah US Dollar 11.000.400 6.000 85.2.000 10.691.000.000.500.000.000 9.000.592.000.846 5.950.000.500.445.65% 2003 Rp 26.200.000 197.000.317.000.35% 1% .35% - 2004 Rp 137.000 99.000 27.000 1.000.000.395.000 105.501.860.000.75% .000 25.073.34% 0.8.000 2.292.000.870.000 2.156.

875. PIUTANG USAHA 2004 Rp a.824.912.467.969.365.902.824.848.285.902.037.610.202.614.784. Pada tahun 2003 penyisihan dihitung 3% dari saldo rata-rata piutang sesuai SK Menkeu No. Kenaikan NAB Reksadana sebesar US$ 360.814.467.351 pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003.912.611.377.358.342 pada tanggal 31 Desember 2004.657.860. Selanjutnya pada tahun 2004. Berdasarkan umur (hari) 1 s/d 90 hari 91 s/d 360 hari Lebih dari 361 hari Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu Bersih Mutasi penyisihan piutang ragu-ragu Saldo awal tahun Pemulihan (penambahan) Penghapusan Saldo akhir tahun 1.860.107. sebesar Rp 2.514 unit dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) masing-masing sebesar US$ 6.193 1. Perusahaan menetapkan penyisihan sebesar 3% atas saldo rata-rata piutang ditambah dengan 50% atas piutang dari pelanggan putus rampung setelah memperhitungkan uang jaminan langganan yang bersangkutan.275.693. 1460/KMK.693.402.972. Sehubungan dengan perubahan ini.142.5 miliar pada Bank Bukopin dan sebesar Rp 3.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Pada tanggal 31 Desember 2004.203.053. Reksadana Ganesha Abadi terdiri dari 2.740) 1.961) 10.478.645 (228. pinjaman pembelian kendaraan bermotor koperasi karyawan IP dan jaminan pelaksanaan pekerjaan pembangunan PLTD Lirik.393.694.25 - .585.555 696.812.053.554 (228.928 (70.740) 1.179 unit dengan NAB sebesar Rp 2.808.959.275.047.795. Piutang ini terdiri dari tagihan rekening dan denda keterlambatan. .340 (53.737.391.598.938 110.667.275.218.854 (53.926) 1.074 172.246.344 2.342 tahun 2004 dan sebesar US$ 4.404.369.147.332 tahun 2003 dicatat sebagai pendapatan lain-lain.214 dan Rp 215.681 187.04/1981 tanggal 23 Desember 1981.969.264.037.368) 24.391.685.461.620.467.848.874.037.391.391.598.835 1.926) (199. penyisihan piutang ragu-ragu untuk tahun 2004 meningkat sebesar Rp 175.740) 1.808.004.215. deposito berjangka sebesar Rp 10 miliar pada Bank Rakyat Indonesia.812.896.905 2003 Rp 1.640.814.980 512.375 309.715 2.161.608.565 dan US$ 6. Berdasarkan langganan Umum Pemerintah Badan Usaha Milik Negara TNI dan Polri (Eks.791.695 6.905 (53.674.186.926) 1. Reksadana Melati terdiri dari 49.854 (53. 01K/N/2005 tanggal 15 Pebruari 2005 sebesar Rp 108.35 miliar pada Bank Mandiri digunakan sebagai jaminan atas pinjaman modal kerja.037.203.096 148.738.599. ABRI) Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu Bersih b.928 1.161.333.694.565.521.926) Dalam piutang usaha termasuk tagihan ke PT Polysindo Eka Perkasa yang dinyatakan pailit sesuai Keputusan Mahkamah Agung No.874.652 229.047.031.445.645 (228.575 36.985 45. 12.

458) (844.168 2.850.845.356. Perusahaan dan anak perusahaan tidak menutup asuransi atas persediaan terhadap risiko kemungkinan kerugian yang timbul atas persediaan.390.202.26 - .745.025 436.029.981.989 26.744 51.965.576.667) 640.060.840 25.259.215.503 86. 14.974 (21.333 139.280.159.960.598 203.612.342.748 2.008.851.626.269.798 72.855.999.400.922.396.200.596.209.322 (21.660.801.078.960.197.175 39.926 630.165.858.801.597 29.974.783.864 (17.110.289.363.006.991 622.291) 574.022.253.440.088 2.301.773.706.791.210) (4.625.943.419 (21.544 (22.282 1.130.356.094 2003 Rp 185.458) Manajemen berpendapat bahwa penyisihan penurunan nilai persediaan memadai untuk menutup risiko penurunan nilai persediaan.999. pembatas dan kontrol Persediaan umum Jumlah Penyisihan penurunan nilai Bersih Mutasi penyisihan penurunan nilai persediaan Saldo awal tahun Penambahan Penghapusan Saldo akhir tahun 1.376 360.771.799.078 25.013.999. .217. Piutang usaha digunakan sebagai jaminan fasilitas pinjaman dan Obligasi PLN VI Tahun 1997 (Catatan 25 dan 26).414.761 217.356.000.535.241.000 1.684 1.470.275.205) 2003 Rp 1.894.458) 2.535.269.440.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Manajemen berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu memadai untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya piutang dan tidak terdapat risiko yang terkonsentrasi secara signifikan atas piutang usaha.793.530.922.137.187.463. 13.668.557.148 68.201.885.179 (22. PIUTANG LAIN-LAIN 2004 Rp Pihak hubungan istimewa (Catatan 8) PT Sumber Segara Primadaya Direksi dan karyawan Jumlah Pihak ketiga Subsidi listrik Piutang bunga Lain-lain Jumlah Jumlah 77.140.320.060.619 185. PERSEDIAAN 2004 Rp Bahan bakar dan pelumas Transformator Switchgear dan jaringan Kabel Alat ukur.665 714.982.610 Manajemen berpendapat bahwa seluruh piutang lain-lain dapat tertagih sehingga penyisihan piutang ragu-ragu tidak perlu dibentuk.619 992.275.205) 2.

Perusahaan dalam surat No.BDH/2005 tanggal 17 Mei 2005.256 416.252.215.877.603 Pada tahun 2004.000.702 43.499.604 118.799.121 563.037 64.551.424.766 17.658 66.892.109.613.061.650. PJB menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atas pajak penghasilan pasal 23 tahun 2002 sebesar Rp 30.704.551.Catatan 50 171.620.090 493.978. 16.320. 02523/547/DD.256.478.811.708.277.407.525 22.604.456.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 15.404 511.384.881.431 4.000 169.503.000 836.220.279.938 478.712.552 23.286.681 46.229. mengajukan permohonan kepada Kantor Pelayanan Pajak untuk memperhitungkan jumlah tersebut dalam SKPLB tahun 2002.535 30.787 61.938. BIAYA DIBAYAR DIMUKA DAN UANG MUKA 2004 Rp Biaya dibayar dimuka Program pensiun (Catatan 45) Gaji dan tunjangan Premi asuransi Sewa Lain-lain Jumlah Uang muka Pembelian barang Lain-lain Jumlah Jumlah *) Disajikan kembali .254.480 5.974.324 .604 934.804.051.938 365.599.793.487 52.626.433.288 522.998.126.582.215.865 41.998.061.944.520.27 - .632.925 8.410.295 18.344.747.256 69.000.390 5.240 92.039. Kewajiban pajak tersebut telah dibayar oleh PJB.890 522.000 185.581 5.295 27.756.836.329. sehingga Perusahaan mencatat pembayaran tersebut sebagai pajak dibayar dimuka.836.336.834.639.240.920 27.063 10.804.747.375. sehubungan dengan bunga pinjaman PJB kepada Perusahaan.821.961.440.366 2003 *) Rp 171.702 95.693. PAJAK DIBAYAR DIMUKA 2004 Rp Pajak penghasilan badan lebih bayar (Catatan 42) Perusahaan Tahun 2004 Tahun 2003 Tahun 2002 Anak perusahaan Tahun 2004 Tahun 2003 Tahun 2002 Tahun 2001 Pajak atas selisih penilaian kembali aktiva tetap Pajak penghasilan pasal 15 Pajak pertambahan nilai Pajak penghasilan pasal 23 dalam peninjauan kembali Jumlah 2003 Rp 2.067.640.

860 Bantuan proyek merupakan penerimaan dana yang berasal dari bantuan luar negeri (project aid) untuk bidang kelistrikan yang diteruskan Pemerintah Republik Indonesia kepada Perusahaan. pemegang saham menyetujui antara lain : • Melakukan kompensasi piutang Pemerintah sebesar Rp 28.064.000 per saham.000.687 789.477.781.000. 61 tahun 2001.627.377.530.949.354.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 17.000.170.755.000. Seluruh saham Perusahaan dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.826.000 saham dengan nilai nominal Rp 1. Dana Daftar Isian Proyek (DIP) merupakan penerimaan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui DIP atas nama Departemen Pertambangan dan Energi untuk pembangunan kelistrikan. dengan rincian sebagai berikut : 2004 Rp Bantuan proyek Dana Daftar Isian Proyek Bantuan Pemerintah Daerah dan lainnya Tunggakan bunga dan denda penerusan pinjaman (Catatan 24) Jumlah 14.240. 18. S-352/MK.000 yang terbagi atas 63. Bantuan Pemerintah Daerah antara lain berupa tanah dan jaringan listrik yang disumbangkan kepada Perusahaan. MODAL SAHAM Perusahaan mempunyai modal dasar sebesar Rp 63.884.638.000.717. notaris di Jakarta.452 21.107.000.000. TAMBAHAN MODAL DISETOR Tambahan modal disetor merupakan bantuan yang diterima Perusahaan dari Pemerintah sejak pendirian yang statusnya belum ditetapkan.882 87.294 789. sehingga modal ditempatkan dan disetor Perusahaan menjadi sebesar Rp 46.354.834. • Meningkatkan modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp 28.452 19.484.154 saham dengan nilai nominal Rp 1.452 yang berasal dari tunggakan bunga dan denda penerusan pinjaman Perusahaan menjadi tambahan penyertaan modal Pemerintah (Catatan 24).000.781. tambahan penyertaan modal Pemerintah tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. Pada tanggal 1 Agustus 2001. 43 tanggal 26 Oktober 2001 dari Haryanto SH.000 per saham. Kompensasi piutang menjadi penyertaan modal telah memperoleh persetujuan Menteri Keuangan Republik Indonesia sesuai surat No.390 32.000.28 - .338.863. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 18 Juli 2001. .194 7.107. terbagi atas 46.462.154.000.368.660. sebagaimana dinyatakan dalam akta No.215 2003 Rp 13.454.789.06/2001 tanggal 20 Juni 2001.724 6.170.

726.813.915.457.687 115.018.694.652) Penyesuaian PPh final sesuai surat keputusan tanggal 12 Nopember 2003 (Catatan 30) (24.106.558.408. anak perusahaan yang telah dinilai kembali pada tahun 2002 sehingga keuntungan ditangguhkan tersebut diperhitungkan dalam selisih penilaian kembali aktiva tetap.254 .705.018.665.665.309.106.176 208.927.810.Catatan 50 33.957.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 19.796 551.457. SELISIH PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP Pada tahun 2002.176 208.725. 20.531.694.533. SELISIH TRANSAKSI PERUBAHAN EKUITAS ANAK PERUSAHAAN Akun ini merupakan bagian Perusahaan atas perubahan ekuitas anak perusahaan yang berasal dari selisih penilaian kembali aktiva tetap anak perusahaan (Catatan 19).973.796 Keuntungan penjualan aktiva tetap ditangguhkan 551.431 59.489 (3.276.556.161.452. Perhitungan selisih penilaian kembali aktiva tetap tersebut adalah sebagai berikut : 2004 Rp Selisih antara jumlah tercatat dengan nilai penilaian kembali aktiva tetap 77.810.700) Pengaruh pajak tangguhan 2.309.675.431 59.060.640.988 2003 *) Rp 77.725.556.968.055 77.463.558.652) (24.408.060.531.463.705.653. 2004 Rp PT Indonesia Power PT Pembangkitan Jawa Bali PT Pelayanan Listrik Nasional Batam PT Indonesia Comnets Plus PT Artha Daya Coalindo Jumlah *) Disajikan kembali .927.745 26.726. surat keputusan tanggal 21 Januari 2003 (3.653. Perusahaan melakukan penilaian kembali aktiva tetap untuk posisi 1 Januari 2002.700) 2.745 26.675.215 22.215 22.055 Selisih penilaian kembali aktiva tetap *) Disajikan kembali .813.687 115.968.29 - .078.973.957.Catatan 50 77.489 PPh final.254 2003 *) Rp 33.915.276.988 Keuntungan penjualan aktiva tetap ditangguhkan merupakan keuntungan atas pengalihan aktiva tetap Perusahaan kepada PLN Batam dan ICON.640.452.078.161.533.

844 2.736 (387.852.822.010. UANG JAMINAN LANGGANAN Akun ini merupakan uang jaminan langganan yang nilainya ditentukan berdasarkan besar daya dan golongan tarif.311 377.095 3.256.972.914.822. .510.251 864.833.359.082.521. Penerusan pinjaman ini digunakan untuk membiayai proyek-proyek Perusahaan dan tidak diikat jaminan.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 21.036 22.633.202.868.737.467 339.408.521.218 (342.406 2003 Rp 2.024. dengan memperhitungkan jumlah rekening listrik yang belum dibayar.144.924. dengan rincian sebagai berikut : 2004 Rp Saldo awal tahun Penambahan tahun berjalan Diakui sebagai pendapatan tahun berjalan Saldo akhir tahun 4.568.453.30 - .737.359.291. PENERUSAN PINJAMAN (TWO-STEP LOANS) Akun ini merupakan pinjaman luar negeri Pemerintah Republik Indonesia yang diteruskan kepada Perusahaan. dengan rincian sebagai berikut : 2004 Rp Saldo awal tahun Penambahan tahun berjalan .972.311 23.433) 4. PENDAPATAN DITANGGUHKAN Akun ini merupakan penerimaan dari pelanggan sehubungan dengan penyambungan baru dan penambahan daya listrik pelanggan.036 1.337.822. Uang jaminan langganan akan dikembalikan apabila pelanggan berhenti menjadi pelanggan.998.289.289.748.142.600.350.303 2003 Rp 3.469) 5.264.bersih Saldo akhir tahun 2.

394.234 11.207.321.689.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Penerusan pinjaman terdiri dari : 2004 Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Rp Bagian jangka panjang Rp Jadual pengembalian Tahun Jumlah Rp International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) Rupiah US Dollar Asian Development Bank (ADB) Rupiah US Dollar Kreditanstalt Fur Wiederaufbau.344 196.19 LIBOR + 1.174.4.184 262.332.924.199 1.263 154.865.386 4.3.629 53.913.385.579.135 32.407.941 312.417.75 1980-2014 1995-2020 2003-2016 1979-2009 1983-2005 68.535.923.517.946.00 12 .US Dollar Islamic Development Bank .195 7.264.321.049.596.803.844 80.029.70 6.356 627.157.951.979.596.709.307.289 492.312.424.387.25) IBRD + 0.34 .487.659 16.804.484 17.747.292.FRF ABN AMRO N.017.950.619.766.059 5.250 16.228 319.329 65.029.863 198.604 274.981.532.130.966 186.535.526 246.326 124.756 2.417.774.517.452.593.347.422 49.052.797.19 LIBOR + 1.822.312.403.859 110.535.688 8.024.587 13.693.161.821.437.335.460.362 324.840 204.372.174.127.546 1.318.402.850 14.888 5.932.319.302.256 8.156.85 1994-2007 1996-2008 1996-2007 1995-2007 1995-2007 1995-2007 1995-2006 2005-2022 1995-2007 1995-2007 1995-2013 1995-2007 1995-2007 1995-2007 1996-2008 1996-2020 1996-2007 1998-2006 1995-2007 2013-2033 1997-2022 .562.5 SBI + 1 SBI + 1 3.983 15.968.194 32.434..095 10.530.678.085.278.821.137.079.955.850.571 26.925 183.35 ADB + (1.268.5 3 4.003 3.466.246.50) ADB + 0.457.617 2.793 222.350 49. .915.424 49.103.213.615.420.978.65 .586.606 191.150.100 2.65 SBI + 1 1985-2008 1987-2008 1995-2006 1995-2007 1995-2006 23.592.AUD Jumlah Tingkat bunga % 1.638.683 35.025.85 6.357.115.955.228.278.517.552.549 5.869 14.782.741.079 4.438 23.710.389.06 6.388.015 33.147.75 atau SBI + 0.497.482 14.933.910.826.762.476 436.334.579 41.033.808 32.935 3.623.155 6.556.749 174.960 1.737.370.021.223 275.852 3.009.322.773.059.840.984 10.177.484.697 16.25 + 0.537.983.2 SBI + 1 LIBOR + 1.905.092.287 325.610.014.073 106.324 7.984 13.603.131.177 1.080 14.357.80 3.760.89 .414.SLA 1163 Efic Australia .95 1.925 173.347.229.85 + 1.217 112.500.947.034.A.594.50 + 10.990 14.947.GBP Banque National .195.678 9.226.83 6.863.505.NLG JBIC IP 5112 .068. Jerman (KFW) Rupiah DEM EUR United Stated Agency for International Development (USAID) Swiss Confederation Export-Import Bank of The United States (US Bank Exim) Rupiah US Dollar The Export-Import Bank of Japan Rupiah JPY Meespierson NV Belanda Generale Bank S.030.54 3.853.328.261.758 50.262 5.744.85 5.234.971.922.804.936.694.834.984 13.077.907.443 1.551.637.811.035.369.690.724.337 133.152 690.119.291 4.110.532 89.3.US Dollar Mitsui Leasing .958.095.166 13.416.375.364 165.367.108.6.767.718.039.137.245 11.057.301 540.V.487 175.723.061.753.835 26.676.764.360.308 17. Belgia dan Barclay Bank PLC Rupiah BEF Midland Bank Public Limited Company Konsorsium Bank Swiss Banque Paribas Rupiah GBP FRF EUR Ryoshin International (Hongkong) Limited Bank Austria Aktiengesellschaft Rupiah ATS Bank of China Sumisho Leasing .31 - .097.748.856.55 .264.507.748.953 18.809 SBI + 1 6.653 5.268.125.US Dollar West Merchant Bank Limited .143.173.561.0.635.473.95 SBI + 1 4.US Dollar Nebula Leasing .786.588 9.870.157.483 1.35 1983-2013 1994-2016 1983-2016 1995-2015 717.75 .534 785.957.084.090 209.416 30.560 282.102.967 952.175.896.525.031 20.482.742 IBRD + (1.690.492 - 3.301 176.864.926 10.455 122.307.760.95 SBI + 1 SBI + 1 SBI + 1 7.952.170 4.

19 LIBOR + 1.618 11.597.415.552.030.234 7.567.598.89 .25) IBRD + 0.06 6.379 162.687 7.228.760 102.729.476 39.566 280.416 SBI + 1 6.495 3.551.173.737.357.677.468.408 2.020.023.751.815 26.262 199.449.GBP Banque National .234.00 12 .85 + 1.473.803.343 300.372.907.573.265.890.670 144.887 4.75 atau SBI + 0.066.903 386.194.122.585.260.822.032.674.171 240.330 2.389.848 SBI + 1 3.979.957.087.727.947.046.341.695.263 110.324 33.822 28.6.382 7.230.347.326 188.197 6.3.760.043 8.850.728.178.397.181 17.947.205.892.125 19.069.633.799.438.244.A.077.474.308 SBI + 1 1995-2007 43.482.566.154.055 9.166 23.882.507 7.95 1985-2008 1987-2008 4.553.986.288 291.936.314 10.US Dollar Mitsui Leasing .717.829.945 275.19 LIBOR + 1.217.337.268.759.111 161.609 42.490 989.414.047.929.463.177.419.355..134.025 257.395 40.797.292.927 1.NLG Efic Australia .289.85 1995-2007 1995-2013 1995-2007 1995-2007 1995-2007 1996-2008 1996-2020 1996-2007 1998-2006 1995-2007 1997-2022 46.582 9.774 568.656 43.886.533.65 .121.015 10.099 16.341 14.151.167 138.568.025.017.680.444.4.285.894.906 582.293 1.787.622.957 177. .32 - .252.702.294.202.732.497 1.554 316.35 1983-2016 1995-2015 2.586.3.914.362.632 13.636.954 102.744 369.374.252.496.95 SBI + 1 SBI + 1 1994-2007 1996-2008 1996-2007 1995-2007 97.389. Jerman (KFW ) Rupiah DEM United Stated Agency for International Development (USAID) Swiss Confederation Export-Import Bank of The United States (US Bank Exim) Rupiah US Dollar The Export-Import Bank of Japan Rupiah JPY Meespierson NV Belanda Generale Bank S.546.551.985.724.261 IBRD + (1.687.080 2.213.943. Belgia dan Barclay Bank PLC Rupiah BEF Midland Bank Public Limited Company Konsorsium Bank Swiss Banque Paribas Rupiah GBP FRF Ryoshin International (Hongkong) Limited Bank Austria Aktiengesellschaft Rupiah ATS Bank of China Sumisho Leasing .606.195 7.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 2003 Bagian jatuh tempo Jumlah Rp International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) Rupiah US Dollar Asian Development Bank (ADB) Rupiah US Dollar Kreditanstalt Fur W iederaufbau.457.075.FRF ABN AMRO N.216.904 28.258.85 5.411 ADB + (1.218.656.450.835.967 1.233.461 28.737 1.040 179.857.199.700.833 174.127.818.530 17.830 696.078 162.818.850.804.US Dollar W est Merchant Bank Limited .594.582 SBI + 1 7.153 1.456.65 SBI + 1 1995-2006 1995-2007 1995-2006 94.372.504.934.865.007.772 68.089.083 1.432 3.US Dollar Nebula Leasing .25 1980-2014 1995-2020 2.708.286.739 757.691.749.925.55 .85 6.122 15.958 110.484.029 7.50) ADB + 0.US Dollar Islamic Development Bank .050.978.963 151.620.826.292.394.95 3.969.200.978.084.270.085.941 354.269 262.525.739.053.219.243.507.237.297 3 4.790.541.83 6.378 3.291.622 SBI + 1 4.947.497 12.132 29.752.857.383.599 762.75 1979-2009 1983-2005 896.063.714 13.75 .323.968.610.629 67.701.2 SBI + 1 LIBOR + 1.320.368 279.890.710.995.437.7 6.231 55.302.079.321.803.50 + 10.54 1995-2007 1995-2007 1995-2006 33.533.240.592.916 97.V.481 14.357.439.487.302 4.220.575 36.623.741 183.562.774.179.924.592 218.281.125.158.078 23.781.122 4.178.175.35 1983-2013 1994-2016 dalam satu tahun Rp Bagian jangka panjang Rp Tingkat bunga % Jadual pengembalian Tahun .AUD Jumlah 24.715.425 59.722.

348 sampai dengan 15 Juli 2001 dengan tingkat bunga sebesar 14.996. Rekening Dana Investasi No.344 sesuai dengan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia No. tambahan penyertaan modal Pemerintah tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. Pinjaman ini dibayar secara angsuran setiap semester sebesar Rp 146.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 24.182.000 103.000.288.634. RDI-298/DP3/1996 Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman investasi sebesar Rp 230 milliar.084 Rekening Dana Investasi No.896. S-1398/MK. S-352/MK. Perusahaan dan Pemerintah menyetujui restrukturisasi tunggakan angsuran pokok dan bunga penerusan pinjaman yang jatuh tempo sampai dengan 30 Juni 1996. Pemerintah juga menyetujui tunggakan denda dan bunga sebesar Rp 28.5% per tahun.354.781.224.000 316. RDI-324A/DP3/1997 Pada tanggal 31 Desember 1996. RDI-393/ DP3/2001 Pada tanggal 20 Juni 2000.935 2003 Rp 4.000 126.182. Rekening Dana Investasi No. RDI-298/DP3/1996 Rekening dana investasi No.945 4.863.474.700.682.000.000. Sesuai dengan Surat Direktur Jenderal Lembaga Keuangan No. Selisih antara tambahan penyertaan modal Pemerintah dan peningkatan modal disetor sebesar Rp 789. RDI-393/DP3/2001 Rekening dana investasi No. RDI-324A/DP3/1997 Jumlah Bagian jangka panjang 4. Pinjaman ini dikenakan bunga 4% per tahun dan tanpa jaminan.5 miliar sampai dengan 13 Maret 2008.267.643.781.792.634.295.112.000.464.792.792. Tunggakan bunga masa tenggang dan . tunggakan pokok sampai dengan tanggal 30 Juni 1996 sebesar Rp 742.452 disajikan sebagai tambahan modal disetor (Catatan 18).788. 61 tahun 2001.748.954.768 23.000 126.029 293.636.482 diangsur setiap semester sebesar Rp 74.112. RDI-324A/DP3/1997 Jumlah Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Rekening dana investasi No.500.970.975. Pinjaman ini digunakan untuk pembiayaan uang muka kredit ekspor dalam rangka pembangunan PLTGU Muara Tawar dan dibayar secara angsuran setiap semester sebesar Rp 11.589.000.167 293.029 443.17/1996.000 4.916 23.789.000.226.06/2001 menjadi pinjaman berjangka waktu 20 (dua puluh) tahun termasuk tenggang waktu 2 (dua) tahun.781.029 5.223. HUTANG KEPADA PEMERINTAH 2004 Rp Rekening dana investasi No.33 - . Perusahaan dan Pemerintah menyetujui restrukturisasi tunggakan angsuran pokok penerusan pinjaman sebesar Rp 5.500.996.504. RDI-298/DP3/1996 Rekening dana investasi No.565 sampai dengan 30 Juli 2021.319.223. Pada tanggal 1 Agustus 2001.768 4.994. RDI-393/DP3/2001 Rekening dana investasi No.464.935 80. jangka waktu 12 (dua belas) tahun termasuk 2 (dua) tahun masa tenggang dari Pemerintah Republik Indonesia. Pinjaman ini dikenakan bunga 9% per tahun untuk periode 6 (enam) tahun pertama dan untuk periode selanjutnya dikenakan bunga sesuai tingkat bunga rata-rata 3 (tiga) bulanan Sertifikat Bank Indonesia selama 6 (enam) bulan periode sebelumnya.389.452 menjadi tambahan penyertaan modal Pemerintah pada Perusahaan.

000. Pinjaman ini dibayar kembali dalam 20 (dua puluh) angsuran semesteran sebesar Rp 15 miliar.092 124.5%.664.367.271.620 160.000. Pinjaman ini dijamin dengan piutang usaha atau tanah dan bangunan apabila jaminan yang disebutkan sebelumnya tidak dapat dipenuhi.866.866.000 269.000. penjualan asset dan go public.635.334.500.000.000.500. anak perusahaan IP.000.000 59. Tanpa persetujuan tertulis dari Bank Rakyat Indonesia. Pinjaman ini dijamin dengan piutang usaha.620 160. Bank Rakyat Indonesia Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman investasi sebesar Rp 275 miliar.364. 25. Perusahaan tidak diperbolehkan menggunakan kredit diluar pembiayaan proyek yang tercantum dalam perjanjian dan mengajukan permohonan pailit atau penundaan pembayaran kepada instansi atau pengadilan negeri.608 Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman investasi sebesar Rp 300 miliar.096 69.078.000.455.704 30. akuisisi.425 30. memperoleh fasilitas pinjaman rekening koran masing-masing sebesar Rp 9.297.246.078.000.000 2.000.271.75 miliar.000 4.000.805.654.000.000 37. jatuh tempo . antara lain: melakukan merger.000 1. jatuh tempo 28 Desember 2005 dengan tingkat bunga per tahun sebesar tingkat bunga deposito untuk 6 (enam) bulan ditambah 2%. tingkat bunga 10% per tahun.000.000.878.500. ADC.654.425 - 30.34 - .000. Perusahaan diwajibkan memenuhi batasan tertentu yang harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Bank Mandiri. mengadakan perikatan jaminan dengan pihak lain dan atau menjaminkan kekayaan Perusahaan dan melakukan pelepasan atau pengalihan atas jaminan fasilitas kredit ini.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan bunga berjalan sebesar Rp 759.000 32.000.000.973 diangsur setiap semester dalam jumlah yang berbeda sampai dengan 15 Juli 2004.000.004 10.000.004 21. jatuh tempo 23 Desember 2005 dengan bunga tahunan sebesar suku bunga deposito 6 (enam) bulanan ditambah 2.000 199.412.000 1.8 miliar tahun 2004 dan Rp 5 miliar tahun 2003.664.000 239.771.000 37.423.805 10.423.000.406.000.914.297.912.700 124. HUTANG BANK 2004 Rp Bank Mandiri Bank Rakyat Indonesia Bank Negara Indonesia Bank Bukopin Bank DBS Indonesia Bank Internasional Indonesia Jumlah Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bank Mandiri Bank Rakyat Indonesia Bank Negara Indonesia Bank Bukopin Bank DBS Indonesia Bank Internasional Indonesia Jumlah Bagian jangka panjang Bank Mandiri 2003 Rp 60. Pinjaman ini dibayar dalam 20 (dua puluh) angsuran semesteran sebesar Rp 13.000.000 239.135.805 10.

tingkat bunga 12% per tahun. Selain itu juga PJB diwajibkan memenuhi rasio keuangan debt service coverage minimal 150%. tagihan kepada IP dan JOB Pertamina masing-masing sebesar Rp 1 milliar dan aktiva tetap CBD. mengubah anggaran dasar.35 - . PJB memperoleh fasilitas kredit berulang maksimum sebesar Rp 160 miliar. Pinjaman ini dikenakan bunga sebesar 10.50% tahun 2003.75%. PJB memperoleh fasilitas pinjaman promes berulang dan rekening koran masing-masing sebesar Rp 124 miliar dan Rp 1 miliar. Pinjaman ini telah dilunasi pada tanggal 16 Juli 2004. Pinjaman ini dijamin dengan deposito berjangka ADC sebesar Rp 10 miliar pada bank yang sama Bank Negara Indonesia Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman investasi sebesar Rp 105 miliar. 26. pengeluaran modal lebih dari Rp 10 miliar. memperoleh fasilitas pinjaman investasi sebesar Rp 8 miliar. penggantian susunan pengurus. Pinjaman ini dibayar dalam 20 (dua puluh) angsuran semesteran sebesar Rp 5. pinjaman baru. Bank DBS Indonesia Pada tahun 2004. PJB diwajibkan mengirim pemberitahuan tertulis kepada bank setiap akan melakukan pembayaran dividen.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 8 Agustus 2005. jatuh tempo pada 13 Juli 2005 dan dapat diperpanjang kembali. tingkat bunga per tahun 15% . debt to EBITDA maksimal 200% dan nilai jaminan tidak kurang dari 150% dari maksimum pinjaman. Bank Bukopin CDB. jatuh tempo 10 Agustus 2005.5% tahun 2004 dan 16.93% per tahun dan dijamin dengan piutang usaha PJB kepada Perusahaan sebesar 150% dari jumlah maksimum pinjaman. Pinjaman ini dijamin dengan jaminan fidusia atas tagihan CDB kepada PT Para Bandung Propertindo Rp 2 miliar. anak perusahaan IP. Bank Internasional Indonesia Pada tahun 2003. interest service coverage minimal 200%.50% . HUTANG OBLIGASI Rincian hutang obligasi adalah sebagai berikut : . jatuh tempo 22 Desember 2005 dengan tingkat bunga per tahun sebesar tingkat bunga deposito berjangka untuk 6 (enam) bulan ditambah 1. rencana investasi.25 miliar.19. mengganti struktur dan lingkup usaha.16. Pinjaman ini dibayar kembali dalam 44 (empat puluh empat) angsuran bulanan.

000 250.000. mengalihkan aktiva tetap.000 (9.000. memberikan izin kepada anak perusahaan untuk memberikan pinjaman kepada atau melakukan investasi.0.000.000 16.0001 . memberikan penjaminan. Perusahaan dapat membeli kembali (buy back) sebagian atau seluruh Obligasi ini sebelum tanggal pelunasan pokok obligasi.596 .Q.400 lembar Obligasi PLN VI Tahun 1997 Seri A.0201 .000. Dalam penerbitan Obligasi ini.000.500.C.000 100.000.000.000.000.0016 PLN VI. pajak dan penyusutan dan amortisasi (termasuk hitungan aktuaria imbalan kerja) .087.100.000.000. mengubah bidang usaha.N.000 39. mengadakan penggabungan.000.PLN VI. 9 tanggal 1 Oktober 2004 dari Imas Fatimah S.500.1.B.Q.B.000.000 39. Seri PLN VII Tahun 2004 PLN VI Tahun 1997 PLN VI. tingkat bunga tetap dan mengambang dan jangka . memberikan pinjaman.P. konsolidasi dan akuisisi yang menyebabkan Perusahaan bubar.A.942 2003 Rp 16.1.000 600.000.PLN VI.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Jumlah lembar 150. Bunga dibayarkan setiap tiga bulan dimulai pada tanggal 11 Pebruari 2005 dan terakhir pada tanggal 11 November 2014. Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia.000.000 No. Perusahaan tanpa persetujuan tertulis dari wali amanat tidak akan melakukan antara lain menjaminkan harta kekayaan Perusahaan.000.Q. yang juga merupakan tanggal pelunasan pokok Obligasi.000.36 - .090.000.PLN VI.A.000.PLN VI.Q.25% per tahun.000.0001 .314.B.500. terakhir diubah dengan akta No.C.000.912. Bank Mandiri bertindak sebagai wali amanat.095 PLN VI. Selain itu Perusahaan juga diwajibkan memenuhi rasio keuangan antara kewajiban dengan jumlah aktiva tidak melebihi dari 80% dan antara laba sebelum beban bunga.000 500. peringkat Obligasi ini adalah A (Single A) pada tanggal 31 Desember 2004. Hak pemegang obligasi adalah paripassu tanpa preferen dengan hak-hak kreditur lain.000 10.058) 2.000 284.000.000 500.000.PLN VI. notaris di Jakarta.000 500.096 .400 Nilai Obligasi Denominasi Rp 10.B.000.000.000.000 1.000 600. menerbitkan obligasi yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kedudukan obligasi yang diterbitkan.379 PLN VI.000. Obligasi ini dicatatkan pada Bursa Efek Surabaya pada tanggal 12 Nopember 2004.000.000. Obligasi ini dijamin dengan seluruh aktiva Perusahaan. mengurangi modal dasar.000.B.685.000 16 200 395 500 284 5 151. Obligasi PLN VI Tahun 1997 Pada tahun 1997. modal ditempatkan dan disetor.0200 PLN VI. Perjanjian perwaliamanatan menetapkan antara lain bahwa satu tahun sejak tanggal emisi.0005 Jumlah Biaya emisi obligasi belum diamortisasi Bersih Obligasi PLN VII Tahun 2004 Pada tanggal 11 November 2004.000 1.0.000.000.A.000.596 PLN VI.000 50.000 284.5 triliun untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun atau jatuh tempo pada tahun 2014 dengan tingkat bunga tetap sebesar 12.000 2.000.B.H. 55 tanggal 26 Oktober 2004 dari notaris yang sama.PLN VI. berdasarkan Akta Perjanjian Perwaliamanatan No.0.000 100. Obligasi ini digunakan untuk membiayai kembali (refinance) proyek PLTG Muara Tawar.P.000.000. Perusahaan menerbitkan “Obligasi PLN VII Tahun 2004” dengan nilai Rp 1.000 10.000.N. Perusahaan menerbitkan 1.B.000 250.(EBITDA) dengan beban bunga lebih kecil dari 2 : 1.000 2004 Rp 1. Seri B dan Seri C dengan nilai Rp 600 miliar.0001 .

ditambah premi sebesar 1. 61 tanggal 19 Mei 1997 dari S. terakhir diubah dengan akta No. . Henny Singgih. S. Bunga Obligasi Seri A ditetapkan dengan tingkat bunga tetap selama 10 (sepuluh) tahun atas dasar swap Rupiah 10 (sepuluh) tahun dari Asean Interest Rate Swap dari Reuter page EROT.37 - .P.4%. Perjanjian perwaliamanatan mengatur antara lain perhitungan tingkat bunga sebagai berikut : a.H. Dalam penerbitan Obligasi PLN VI Tahun 1997. notaris di Jakarta. 7 tanggal 3 Pebruari 2000 dari notaris yang sama. Obligasi tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Surabaya pada tanggal 12 Agustus 1997. Bank Mandiri bertindak sebagai wali amanat. berdasarkan Akta Perjanjian Perwaliamanatan No.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan waktu 10 (sepuluh) tahun atau jatuh tempo 8 Agustus 2007.

Selanjutnya Obligasi ini dijamin dengan piutang usaha sebesar 120% dari pokok obligasi. Obligasi ini jatuh tempo pada tanggal 8 Agustus 2007. peringkat Obligasi ini adalah idA. ditambah premi tetap sebesar 1%. c. HGB No.4%. Jawa Barat.25% untuk satu kali pembayaran bunga yang dibayarkan sesudah pelaksanaan RUPO. HGB No. para pemegang obligasi menyetujui antara lain : • • Perusahaan menarik seluruh jaminan tanah dan bangunan serta sebagian piutang usaha. Kelurahan Kota Bambu. Bunga dibayarkan setiap semester dimulai pada tanggal 20 Januari 1998. Kecamatan Grogol Petamburan. 23 tanggal 14 Juli 2004 dari Imas Fatimah SH. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) sebagaimana dinyatakan dalam akta No. Jakarta.38 - . Perusahaan membayar tambahan premi bunga sebesar 0. Kecamatan Pulo Gadung. Kelurahan Kayu Putih. notaris di Jakarta. Jawa Tengah dan Jawa Timur. 1083/Gunung. HGB No. Kecamatan Gambir. . Jakarta.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan b.(Single A Minus) pada tanggal 31 Desember 2004. Jakarta. Kecamatan Setiabudi. Bank Niaga dan Bank Permata (d/h Bank Bali) yang dihitung selama 5 hari kerja sebelum penentuan tingkat bunga obligasi. 1289/Kuningan Timur. 348/Kota Bambu. Kelurahan Kuningan Timur. Kelurahan Gambir. 670/Kuningan Timur. Jakarta. Jakarta. HGB No. Perusahaan diwajibkan memenuhi rasio keuangan antara laba sebelum beban bunga. Bank Mandiri. Kelurahan Gunung. Kelurahan Kuningan Timur. 4119/Kayu Putih. Jakarta. Kecamatan Kebayoran Baru. Tanah dan bangunan tersebut meliputi : • • • • • • HGB No. pajak dan penyusutan dan amortisasi (EBITDA) dengan beban bunga lebih kecil dari 2 : 1. Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia. HGB No. Bunga Obligasi seri C ditetapkan berdasarkan IRSOR 6 (enam) bulan yang dihitung secara rata-rata selama 5 hari kerja sebelum penentuan tingkat bunga obligasi. ditambah premi tetap sebesar 1. Kecamatan Setiabudi. Bunga Obligasi Seri B ditetapkan berdasarkan rata-rata bunga deposito Rupiah berjangka 6 (enam) bulan pada Bank Negara Indonesia. Bank Tabungan Negara. Obligasi ini dijamin dengan piutang usaha Perusahaan dan tanah berikut bangunan diatasnya. Obligasi ini digunakan untuk membiayai proyek transmisi dan gardu induk di Jakarta. 298/Gambir.

363.863.39 - .294.439.369.000. Berdasarkan pemasok PT Paiton Egergy PT Jawa Power PT Cikarang Listrindo PT Energi Sengkang Jumlah Dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang b.194.572. Berdasarkan jadual pembayaran Pembayaran jatuh tempo pada tahun 2003 2004 2005 2006 2007 dan seterusnya Jumlah pembayaran Jumlah bunga Nilai tunai pembayaran Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang *) Disajikan kembali .662 101.087. HUTANG BIAYA PROYEK Akun ini merupakan biaya konstruksi dan pengadaan material yang akan direklasifikasi ke akun penerusan pinjaman pada saat penerbitan Withdrawal Authorization (WA) dan dokumen lain yang disamakan.682.164.302.000 12.716.556.600.319.683 49.000 15.189.572.800.682. diterima Perusahaan.000 635.606 (253.792 548.000 40.333.810) 7.000 14.716.Catatan 50 6.792 7.796.460.561 629.958.070 54.080.000 73.712 495.111.800.340.768.771.908 7. .707.042.526.536) 6.000 690.182.039 542.526.989.110.792 (7.814.600.456.810) 7.783.017.290.984.536.493 (278.042.000 13.958.536) 6.255.963.576) 7.784.908.768.920.448.796.182 (7. HUTANG LISTRIK SWASTA (INDEPENDENT POWER PRODUCER) Akun ini merupakan hutang usaha yang direstrukturisasi dengan penyedia listrik swasta (Catatan 49) dengan rincian sebagai berikut : 2004 2003 *) Rp Rp a.282.087.986 191.189.606 (253.182.956.780.683 6.080.439.505.789.708.211.295.609.070 28.460.277.341.825.723.255.821.148.789.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 27.000.796.621 500.776.299) 7.493 (278.

512.245.470.290.367 54. PT Sumber Daya Sewatama PT Siemens Station JCC PT Jorong Barutama Graston PT Poeser & Possi PT Bukaka Teknik Utama PT Expan Kalimantan Lainnya (masing-masing saldo kurang dari Rp 15 miliar) Jumlah Jumlah 2003 *) Rp 27.691.157.506.678.497 394.261 2.959 32.372 68.976.454 47.720.542.426.530 30.430.911.132.850 591.182.032 32. HUTANG USAHA Akun ini merupakan kewajiban sehubungan dengan pembelian barang dan jasa.037 25.673.40 - .187.191.333.278.012.838.495.883.087 7.388.023.196 9.705.903.172.US Dollar Luar Pulau Jawa Pengadaan batubara PT Daya Citra Mulia Jumlah Pihak ketiga Pembelian tenaga listrik Pulau Jawa US Dollar Rupiah Luar Pulau Jawa US Dollar Rupiah Pembelian bahan bakar.326.045 16.646.678.431.649.020 749.438.424.801 3. barang dan jasa Pertamina PT Tambang Batubara Bukit Asam Konsorsium Siemens AG.831.421.420.569.964.143 287.518.366.831.354.698 41. sebagai berikut : 2004 Rp a.161 38.738.073 39.496.454 12.995.200 35.103 119.556.350.059.270.486.772 418.957.332 3.273.041 42.698.270.155 18.645.807.738.947.702.700 19.993 69.175 7.330.497.892 345.143.432.068 12.070.540.103.593 2.464 9.326.516.530.810 27.951 237. PT Siemens Indonesia.758.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 29.470.182 18.135.073.961. Berdasarkan pemasok Pihak hubungan istimewa (Catatan 46) Pembelian tenaga listrik Pulau Jawa .230.484.583.737.660 33.785 7.542.467.823.877.018 29.038.415.947.605.649 22.993.435. Balfour Beatty Sakti Indonesia dan Samsung Corporation PT Kideco Jaya Agung PT Medco Energi International PT Alstom Power Energy Systems Indonesia PT Berau Coal PT Caraka Tirta Pratama PT Alstom T & DSA PT Andaro Indonesia PT Agita Prasarana PT Arutmin Indonesia PT Expan Nusantara PT Kumagai Wika Jo.760.462.058 13.188 36.075.114.582.250.445 42.331 3.166 53.614.574.447.230.993 3.212.037.026.639.168 .505 2.219.605 69.466.179 60.332 15.519.680.357 3.215.760.

878.530.449.801 4.857 2003 *) Rp 1.097.220. hutang pajak selisih penilaian kembali aktiva tetap adalah sebagai berikut : 2004 Perusahaan Anak perusahaan Jumlah Rp Rp Rp Saldo awal tahun Pembayaran Saldo akhir tahun Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang 2.251.945.284.677 (688.921.641 7.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 2004 Rp b.065 10.588. 30.991 220.088.358.568 30.212.042.223.528.311.941.424.216 belum direstrukturisasi pada PT Star Energy Investment – Proyek Wayang Windu (Catatan 49).820 96.012.031.705.664.721.543.234.285.244.131 (1.826.204.871.593) 1.168 35.004.918.409.916 (1.256.349.339.978.244 (1.252.214.869.41 - .449. Berdasarkan umur (hari) 1 s/d 180 hari 181 s/d 360 hari Lebih dari 360 hari Jumlah 2003 Rp 7.824.366 Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003.892) 1.499.564 10.702.567 (1.749.979.003.036.893 3.066.450.970.836.908 1.346 2.343.847.948.046.723.692 34.470.323 .217.941.Catatan 50 34.420.869.252.862.657.127.899.536.449.100.749 120.511 26.929.366.701) 1.929.619 2.979.281.019.001.290.026.091.409.528.144 1.328) 3. HUTANG PAJAK 2004 Rp Pajak kini (Catatan 42) Pajak penghasilan Pasal 21 Pasal 22 Pasal 23 Pasal 15 dan 29 Pajak pertambahan nilai Bea materai Pajak selisih penilaian kembali aktiva tetap jatuh tempo dalam satu tahun Jumlah *) Disajikan kembali .311.419.436) 2.959.450.024 342.959.377.187.694 2.116 9.593 2.874 6.395.255.978.168 Dalam hutang pembelian listrik swasta kepada pihak ketiga tanggal 31 Desember 2004 termasuk saldo hutang pembelian listrik sebesar US$ 265.795.420.476.892) 688.878 1.378.959.844.435.785 (688.457 1.430 5.863.770 2.428.152.840.

607.318.255.539.742) Jumlah .659.468 (3.352. Berdasarkan surat Menteri Keuangan Republik Indonesia kepada Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan No.071.893.234 Jumlah Rp 1.767.bersih 1.878) 2.331.368.863.297) 34.005.982.368.870 24.795.653.359.762.795.607.689 Perusahaan Rp Saldo awal tahun Penyesuaian.795.845 15 Desember 2005 992.753.528.202.397.976 ditanggung Pemerintah.163.803.484 Jumlah bunga hutang pajak 2004 dan 2003 ditanggung Pemerintah (1.101.785 2.349.567 (1.383.220. .502.893.630.727.120.202.383.377.785 tahun 2004 dan Rp 1.294 1.408.536.713.897 15 Desember 2004 992.803.770) 3. sesuai surat keputusan tanggal 12 Nopember 2003 Pengaruh PPh final atas perbedaan rugi fiskal dilaporkan Pembayaran Saldo akhir tahun Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang *) Disajikan kembali .679.221) 3.878.739.191 tahun 2003 (Catatan 40).760. Perusahaan dan anak perusahaan juga dinyatakan terhutang bunga atas hutang pajak penghasilan final tersebut.659.653.997) 34.893) 2.401.959.757.749.023.474 Pada tahun 2003.947.897 Jumlah 3.358.071.700 (1.244 (1.114) 5.528.826 (3.826 (2.502.863.036.579.863. S-445/MK.785 1.352.630.959.207.294 6.005.753.357.01/2004 tanggal 30 Desember 2004.579.947.753.268.724.959 (294.288.Catatan 50 3.940 1.449.862. Perusahaan dan anak perusahaan mengajukan permohonan pengurangan pajak atas selisih penilaian kembali aktiva tetap dan Direktur Jenderal Pajak telah menyetujui pengurangan pajak tersebut.881.795.945.191 9.507.826.368. hutang bunga disajikan sebagai biaya masih harus dibayar (Catatan 31).PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 2003 *) Anak perusahaan Rp 6.813.077.677 (688.881.268.918. Bunga atas hutang pajak penghasilan final berdasarkan jatuh tempo adalah sebagai berikut : Jatuh tempo Perusahaan Rp Anak perusahaan Rp 1.659.871.892) 1.785 Jumlah Rp 9.654.947.191 2.917.976) 4.927.679.507.579. Jumlah tersebut dicatat Perusahaan dan anak perusahaan sebagai penghasilan lain-lain.794.899.845 15 Desember 2006 661.163.760.630.940 1.168.596.352.895.101.476.976 15 Desember 2003 661.42 - .871.005. kewajiban bunga hutang pajak penghasilan final atas selisih penilaian kembali aktiva tetap yang jatuh tempo tanggal 15 Desember 2004 dan 2003 sebesar Rp 4.829 (270.234) 3.383.382.307.011.256. Dalam keputusan pembetulan penetapan kembali pembayaran pajak penghasilan final atas selisih penilaian kembali aktiva tetap.641.952 (4. Beban bunga hutang pajak atas selisih penilaian kembali aktiva tetap sebesar Rp 2.066.449.705.742 Pada tanggal 31 Desember 2003.401.

437.120.220 71.325.352 1.014 1.892.863.648. S-2.131.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 31.527.353 1.580 1.469.715.191 429.555 2003 Rp 46.223.749 88.411 44.309. BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR 2004 Rp Bunga Hutang pajak atas selisih penilaian kembali aktiva tetap (Catatan 30) Hutang penerusan pinjaman Hutang kepada pemerintah Obligasi Hutang bank Hutang listrik swasta Jumlah Hutang biaya Jumlah 2003 Rp 280.876. . R-1.808.404 93.418.809.894 2.384.513 79.516.033.002.637.803.347. Subsidi listrik tersebut merupakan selisih antara harga pokok penjualan rata-rata tegangan rendah dan harga penjualan listrik rata-rata untuk golongan tarif tersebut. sehingga Perusahaan mencatat subsidi listrik sebagai pendapatan usaha.895 2.473.451.365.979 68.628.232. 33.674.840.638.209 58.665.114 32.923 1.628.219.594.113 398.842.388.731.568 447.396.517.445.500.894 347.753.944 515.000. I-1 dan B-1 dengan daya tersambung sampai dengan 450 VA.223. ABRI) Jumlah 53.561.597.800.600.989.083.629 49.000 dan Rp 3.764. PENJUALAN TENAGA LISTRIK Penjualan tenaga listrik menurut pelanggan adalah sebagai berikut : 2004 Rp Umum Pemerintah Badan Usaha Milik Negara TNI dan Polri (Eks.404. SUBSIDI LISTRIK Pemerintah Republik Indonesia memberikan subsidi listrik melalui Perusahaan kepada pelanggan golongan tarif S-1.987. Tidak terdapat pelanggan yang memiliki transaksi lebih besar 10% dari penjualan tenaga listrik.444 39.447.889 Pendapatan penjualan tenaga listrik tersebut didasarkan pada tarif dasar listrik yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia.579.000.523.596.850.024. Pada tahun anggaran 2004 dan 2003.083 42.806.361 28.650.479.43 - .880 2.097.274.759.003.817.481.209. Pemerintah Republik Indonesia menetapkan plafon subsidi listrik masing-masing sebesar Rp 3.

168 4.3-43/SKOR/2003 tanggal 30 Desember 2003.261.846 dari escrow accounts tersebut.084.014.046.745.651 184.316.473.633.440.000 3.134. 34.689 91. Pada tahun 2004.44 - .795.819 .745.440.267 Sesuai dengan Surat Perintah Membayar Menteri Keuangan Republik Indonesia No.633.056. Pada tanggal 31 Desember 2004.788. PENDAPATAN USAHA LAINNYA 2004 Rp Sewa trafo Perubahan daya tersambung dan administrasi Jasa-jasa dan lainnya Jumlah 52.795. Perusahaan telah mencairkan estimasi sisa tagihan subsidi listrik tahun anggaran 2003 sebesar Rp 360.916.839.927.649.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Pendapatan usaha dari subsidi listrik adalah sebagai berikut : 2004 Rp Realisasi penerimaan subsidi tahun anggaran berjalan Realisasi penerimaan subsidi tahun anggaran sebelumnya Estimasi sisa tagihan subsidi tahun anggaran berjalan Jumlah pendapatan subsidi 2.168 berikut hasil finalisasi subsidi listrik tahun anggaran 2003 sebesar Rp 160.367 360. 1647/KM.997 160.945 2003 Rp 46.419.469. Penempatan dana tersebut merupakan escrow accounts yang pencairannya atas persetujuan Menteri Keuangan Republik Indonesia.884.411 182.742.249.593.000.735 32. sisa dana subsidi dari anggaran tahun 2003 ditempatkan pada Rekening Cadangan Dana Subsidi Listrik di Bank Mandiri dan Bank BNI 46 masing-masing sebesar Rp 460.304.566. escrow accounts tersebut juga telah dipindahbukukan ke rekening Bendahara Umum Negara (502 000 000) sebesar Rp 398.596.999.605 39.254.795.014.919.545.846 992.250.559.096.419.048 dipindahbukukan pada bulan Januari 2005.014.850.673 103.745.855.254.854. sedangkan bunga escrow accounts sebesar Rp 2.744.732 896.843 2003 Rp 2.

579.571.868.736.276 292.097 72.835.073 161.190.095 4.068.491.994.403.556.758.764 24.317 189.921.218.481.346.684.624 121.970.475 396.745.330 684.387.971.807.810.319 62.764.722.835. BEBAN BAHAN BAKAR DAN PELUMAS 2004 Rp Bahan Bakar Minyak Solar High Speed Diesel Residu Solar Industrial Diesel Lainnya Jumlah Bahan Bakar .654.890 342.541 8.537.238.754.634.122 93.140.712.866 4.773 122.600 3.357. 36.860.110 245.372.286.485.046.436. BEBAN PEMBELIAN TENAGA LISTRIK 2004 Rp PT Paiton Energy PT Jawa Power Magma Nusantara Ltd.Non Minyak Gas alam Batubara Panas bumi Minyak pelumas Air Jumlah Jumlah 11.379.210.435.866.394 753.269.167 3.45 - .051.890 Jumlah pembelian bahan bakar minyak dan pelumas dari Pertamina melebihi 10% dari jumlah beban bahan bakar dan pelumas.120.611.575 3.370 11.179.783.362.955.290.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 35.144.650.632.253 652.568 3.385.725.929.626.883.522.580.931 2003 Rp 4.175.395 3.584 8.703 10.910.867.296 17.521.806.584.016 677.615.662.894 Jumlah pembelian tenaga listrik dari PT Paiton Energy dan PT Jawa Power melebihi 10% dari jumlah beban pembelian tenaga listrik.474.815.943.772 37.538.477.618.827.855.862.052.172.795.613.487 53.sewa diesel Jumlah 4.912 786.696.621.667.078.038.957 3.669.962.983.125.837.200.427.083. Unocal Geothermal Indonesia Ltd.952.294 202.248.087 164.450.287 421.927.838.846.284 54.079.622.628.211 70.849 467.666. .876.322 21.843 1.986 165.818.250.656.911 935.510.150 15.418. PT Energi Sengkang Amoseas (Drajat) PT Cikarang Listrindo PT Makassar Power PT Geo Dipa Energi (Catatan 46) PO Jatiluhur Lain-lain .214 12.631 2003 Rp 8.123.475.026.390.

046 249.634.164.456.609 2003 Rp 315.791.613 1.46 - .PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 37.904.035 37.730 .999.281.124.378.204 5.460.534.345 199.785 305.262.347.423.864.788.399.022.234 2003 *) Rp 1. 38.410.000.127.640.837.799.367.610.417.919.095.769 70.879.297.114.Catatan 50 1.412.408 93.253 138.008.101 132.946.480.393.563 679.854.000 521.132.080.885.964.084.471. BEBAN KEPEGAWAIAN 2004 Rp Gaji Tunjangan Imbalan kerja (Catatan 45) Jasa produksi dan insentif prestasi kerja Lain-lain Jumlah *) Disajikan kembali .172.886.171 137.926.618.590.886.182.872 119.979 78.166 2.655.530 121.590 545.178.368 194.422 197.818.007.418.638 112.170.646.000 232.221. BEBAN USAHA LAIN-LAIN 2004 Rp Biaya pengolahan data dan penagihan Honorarium Perjalanan dinas Beban piutang ragu-ragu Pemakaian gas.618 107.636.000.459.751.327 293.830.684.384.397 3.819.700 372.619. listrik dan air Sewa Asuransi Konsumsi Pos.191 83.456.827 958.699.483.551.017.592.107.790 755.162.354.770 6.692 95.030.714 1.026 148.932.036 305.560.371.075.298 2.671 39. BEBAN PEMELIHARAAN Akun ini merupakan beban yang timbul dari pemakaian suku cadang dan jasa borongan untuk pemeliharaan.947.552.533.598.881. telepon dan telegram Alat tulis kantor Barang cetakan Beban pajak Lain-lain Jumlah 453.

302.325.500.537.832.990.514.581.139 22.077 213.485.278 222.184.686 (36.974.290.148 41.927.290.307.958.154. PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN 2004 Rp Pendapatan denda administrasi Pendapatan jasa dan klaim Premi penerangan jalan umum Keuntungan penjualan aktiva Rugi penurunan nilai aktiva Beban penelitian Lain-lain Jumlah *) Disajikan kembali .381.848.655 71.102.400 3.510.195.800.076 96.838.000 1.801 396.703.000 7.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 40.503.297.880 2003 Rp 1.125.983.Catatan 50 42.669.891) (87.954) (131.134 .449.800.086.408.352 21.662.892 4.630. PAJAK PENGHASILAN Beban pajak Perusahaan dan anak perusahaan dari aktivitas normal terdiri dari : 2003 *) Rp 206.515 (255.129.414.349.863.637.600 3.753.119.220.349.824 72.611.756.054.977.191 997.495.248 3.459.378.855 217.881.130.174 1.170.563 5.229 34.461 413.021) 63.579.785 978.754 34.863.145.824.045 383.779.738.576.404.687.134 1.937) (41.658.478.425.141 93.188.795.395) 152.Catatan 50 53.261 2004 Rp Jumlah beban pajak kini Pajak atas pos luar biasa Pajak kini dari aktivitas normal Pajak tangguhan Beban pajak *) Disajikan kembali .129.47 - .702.737.602.368.784.388.836 11.585.769.990.531.006.008.824.077.600 53.546.000 2003 *) Rp 7.365. BEBAN BUNGA DAN KEUANGAN 2004 Rp Hutang pajak atas selisih penilaian kembali aktiva tetap Penerusan pinjaman Hutang listrik swasta Hutang kepada pemerintah Obligasi Hutang bank Hutang pembelian aktiva tetap Jumlah 2.

712) (3.618.687.797.834) .899.057.742.941.927.057.413.471 (7.081.875 (8.692.964.551.963.537 370.956.581) 2.064.605.812 6.549.913 (7.564.095.405) 1.579.183.067.000 193.416.48 - .748 (5.028.685.580 (2.430.641.381.038.909.414.979) 1.615.051.256 (168.868.905.673) (9.680.293.532.161) (18.832.724.180.272.673) (8.196.842.374.Catatan 50 2003 *) Rp 1.883) (6.508.356.257) (4.955.126.727.000.817 11.508.608.492.000 (7.007) 593.824.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Pajak Kini Rekonsiliasi antara rugi sebelum pajak menurut laporan laba rugi konsolidasi dan rugi fiskal Perusahaan adalah sebagai berikut: 2004 Rp Laba (rugi) sebelum pajak dari aktivitas normal menurut laporan laba rugi konsolidasi Pos luar biasa Laba anak perusahaan sebelum pajak Rugi Perusahaan sebelum pajak Perbedaan temporer Penyambungan pelanggan Penyusutan aktiva tetap Imbalan pasca-kerja Penyisihan piutang ragu-ragu dan penurunan nilai persediaan Perbedaan tetap Kesejahteraan karyawan Penyusutan rumah dinas Penghasilan bunga yang telah dikenakan pajak final Beban lain yang tidak dapat dikurangkan Rugi fiskal Perusahaan sebelum akumulasi rugi fiskal Rugi fiskal tahun 2003 2002 .935.575.778) (6.setelah penyesuaian Akumulasi rugi fiskal *) Disajikan kembali .053) 573.445.404.962 (281.848.511.387.426.177) 507.981.040) 311.045) 994.497.034.482.639.738 (307.951.468) (8.909.809.028.742) (24.746.000.937.444.177.254.

473.000 5.388.130.251.821.500.193 (32.853 5.381.632.844.134 .500.181.702.980 1.031.567.600 53.440.990.824.003 tahun 2003.880.662.511 1.253 1.588 2.435.635.989.804.000 7.033.884 1.800.370.796.915) 12.632.511 (5.420 3.349.840.085 215.425.390) (18.875.193) Rugi fiskal dan lebih bayar pajak Perusahaan tahun 2003 tidak sesuai dengan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) yang disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP).390 38.957 40.998.998.875.824.445.031.336.800.316.358.251.495.766) (33.253 512.168 34.366.704) (32. Pajak Tangguhan Beban pajak tangguhan Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut : 2004 Rp Perusahaan Anak perusahaan Beban pajak tangguhan .229.448.804. untuk disampaikan ke KPP.989.051.Catatan 50 1.347 12.600 2003 *) Rp 7.938) (27.261.270.916.949.435.000 Beban pajak kini Perusahaan Anak perusahaan Jumlah Pembayaran pajak dimuka Perusahaan Pajak penghasilan Pasal 22 Pasal 23 Pasal 25 Jumlah Anak perusahaan Jumlah Beban pajak kini setelah dikurangi pajak dibayar dimuka Terdiri dari : Hutang pajak kini Perusahaan Anak perusahaan Jumlah hutang pajak kini Pajak penghasilan lebih bayar Perusahaan Anak perusahaan Jumlah pajak penghasilan lebih bayar Bersih 1.810.844.bersih *) Disajikan kembali .881.181.409.531.168 (2.400 2003 *) Rp 639.255 39. Rugi fiskal sesuai SPT adalah sebesar Rp 5.440.529.445.349.212.932 1.559.407.559.968.193) 34.459.49 - .PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Perhitungan beban dan hutang pajak kini (pajak dibayar dimuka) adalah sebagai berikut : 2004 Rp 53. Perusahaan sedang menyiapkan SPT tahun 2004.525) (21.171.938 33.964.795.250 741.870 879.990.

344.986.155.445) (68.500.523 5.419 27. Sehubungan dengan timbulnya kewajiban pajak tangguhan yang signifikan dari aktiva tetap.216.734.044.308.119) (1.259 2003 *) Rp 237.461.407 (68.745.165.173.476.071.595.bersih Kewajiban Pajak Tangguhan 2003 *) Rp 2.728.541) (8.707.040.505.038.962 Kewajiban pajak tangguhan merupakan jumlah bersih setelah diperhitungkan dengan aktiva pajak tangguhan dari masing-masing entitas usaha dengan rincian sebagai berikut : 2004 Rp Aktiva pajak tangguhan Imbalan kerja Rugi fiskal Pendapatan ditangguhkan Lainnya Jumlah Kewajiban pajak tangguhan Biaya dibayar dimuka Aktiva tetap Jumlah Kewajiban pajak tangguhan .461.340 1.402.513.923 1.600.000) (2.010.851. .214.193.258 52.113.406 43.821 4.125.331.991.838.299.177.393 (98. Perusahaan mempunyai aktiva pajak tangguhan sebesar Rp 1.781 (101.330.008.781.858 3.782.505.536.774.Catatan 50 3.997.632.974) 1.194.074.986.173.244.600.059.972 yang disajikan sebagai bagian aktiva pajak tangguhan sebesar Rp 1.176.056.482. pada tanggal 31 Desember 2004 posisi pajak tangguhan tersebut menjadi kewajiban pajak tangguhan sebesar Rp 484.536.985.194.000 195.396 4.534.349.326.044.419.952 3.974) (2.008 yang termasuk dalam kewajiban pajak tangguhan sebesar Rp 3.185.062.705.bersih *) Disajikan kembali .700.364.445) 15.028.166.000) (8.728.728.302.174.282.119) (2.249.200.145.282) (5.959.861.200.882.165.50 - .507.197 84.848.338) Pada tanggal 31 Desember 2003.566.955.541) (3.000 1.807.386.000) (2.083.268.556.000 815.513.091.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Aktiva Pajak Tangguhan Aktiva pajak tangguhan merupakan jumlah bersih setelah diperhitungkan dengan kewajiban pajak tangguhan dari masing-masing entitas usaha dengan rincian sebagai berikut : 2004 Rp Aktiva pajak tangguhan Imbalan kerja Pendapatan ditangguhkan Rugi fiskal Lainnya Jumlah Kewajiban pajak tangguhan Biaya dibayar dimuka Aktiva tetap Jumlah Aktiva pajak tangguhan .166 4.174.151.

551.225.276.689.147. karena manajemen anak perusahaan berkeyakinan bahwa kerugian fiskal tersebut dapat dimanfaatkan melalui kompensasi laba kena pajak masa datang.980 1.640 tahun 2004 dan Rp 2.381.383.564.330.086.549.374.202) 2003 *) Rp (6.987.503.579.51 - .177) (2.824.404.020 3.425.444.964.259.577 (50.212) 93.177.605.834 tahun 2003 yang menghasilkan aktiva pajak tangguhan sebesar Rp 7.255.950 masing-masing pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003.292 dan Rp 858.972.250 748.576.821 (92.644.302 (2.196.861.214) 298.273.045 3.585.539.069.374 1.430.023.288.552.962 (281.563 639.285.747 tahun 2003 yang menghasilkan aktiva pajak tangguhan sebesar Rp 248.635.727.935.449. Oleh karena itu Perusahaan tidak mengakui aktiva pajak tangguhan tersebut dalam laporan keuangan dan akan diakui pada saat Perusahaan memperoleh laba kena pajak yang dapat dikompensasi dengan kerugian fiskal tersebut.448.687.184.154.229.616) 172.049.378.653) 2.872.622.524.023.325.061 111.337.413.884 1.921.440 58.994.381.984.064.134 Perusahaan belum mempunyai dasar memadai untuk menentukan manfaat pajak masa datang dari akumulasi rugi fiskal sebesar Rp 24.917.624.126.853. .996.883 tahun 2004 dan Rp 18.000 2.417.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Rekonsiliasi antara jumlah beban pajak dan hasil perkalian laba akuntansi sebelum pajak dengan tarif pajak efektif rata-rata adalah sebagai berikut: 2004 Rp Laba (rugi) sebelum pajak dari aktivitas normal menurut laporan laba rugi konsolidasi Pos luar biasa Laba anak perusahaan sebelum pajak Rugi Perusahaan sebelum pajak Beban pajak sesuai tarif yang berlaku Pengaruh pajak Pajak tangguhan tidak diakui (diakui) Rugi fiskal Penyisihan piutang ragu-ragu dan penurunan nilai persediaan Perbedaan tetap Kesejahteraan karyawan Penyusutan rumah dinas Penghasilan bunga yang telah dikenakan pajak final Beban lain yang tidak dapat dikurangkan Jumlah beban pajak Perusahaan Beban pajak anak perusahaan Jumlah beban pajak *) Disajikan kembali .944 2.445.689.876.881.979) 1.007) (1.181.937.147.685.282.388.899.293.024 masing-masing pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003.064.769.511.257) (4.575.180.580 (2.624.956. Anak perusahaan mengakui aktiva pajak tangguhan atas akumulasi rugi fiskal sebesar Rp 827.778) (6.408.314.482.686.712) (3.Catatan 50 1.365 dan Rp 5.369.034.

Selisih antara jumlah tercatat hutang dengan jumlah penjadualan hutang disajikan sebagai keuntungan pos luar biasa. Perusahaan mengakui beban pajak atas keuntungan restrukturisasi hutang sebesar nihil.257) (281.pos luar biasa *) Disajikan kembali .500) 1.064.733. yang meliputi pajak pertambahan nilai.440.742. POS LUAR BIASA Rincian keuntungan (kerugian) pos luar biasa adalah sebagai berikut : 2004 Rp Kerugian karena bencana alam Keuntungan restrukturisasi hutang Jumlah hutang tercatat Diselesaikan melalui penjadualan hutang Jumlah keuntungan (kerugian) .551.385. 00110/406/02/051/04 atas pajak penghasilan badan tahun 2002 sebesar Rp 11.917.080 (398.924. pasal 23 dan 26 tahun 2002 dan 2001. dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp 34. IP menerima SKPKB dan Surat Tagihan Pajak (STP).550. sedangkan untuk perbedaan antara rugi fiskal ditetapkan dan dilaporkan sebesar Rp 1.447. Perusahaan telah menyelesaikan restrukturisasi hutang pembelian listrik tertunggak kepada PT Cikarang Listrindo melalui penjadualan hutang.155.686. proses surat keberatan tersebut masih berlangsung. karena Perusahaan masih mengalami rugi fiskal dan Perusahaan tidak mengakui pajak tangguhan atas rugi fiskal tersebut (Catatan 42). Perusahaan juga menerima Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) atas pajak penghasilan badan tahun 2002 sebesar Rp 365. IP telah menerima SKPLB No.254. Pada tahun 2003.180.064.Catatan 50 (281.115.866.747. Sumatera Utara dan Pembangkitan dan Penyaluran Bagian Sumatera Utara dan Wilayah Papua.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Surat Ketetapan Pajak Pada tahun 2004. Perusahaan juga menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB). Pada tanggal 28 Juni 2004.001. .891.370. Pada tahun 2005.685.747. 43. Kantor Pelayanan Pajak telah memindahbukukan hasil SKPLB dengan SKPKB tersebut. dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp 313. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan proses surat keberatan tersebut masih berlangsung. IP telah menyetujui pajak penghasilan lebih bayar tersebut.295 dicatat sebagai pajak dibayar dimuka.277. yang meliputi pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan pasal 22 tahun 2002.580 Kerugian karena bencana alam diakui meliputi Wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan.917 dan pemindahbukuan SKPLB sebesar Rp 365.257) 2003 *) Rp 2.551.038.382. namun karena Perusahaan mengajukan keberatan atas SKPKB tersebut Perusahaan belum mencatat kewajiban pajak sebesar Rp 34.356.52 - . pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) final.924. Atas SKPKB dan STP tersebut IP telah mengajukan surat keberatan. pasal 21.404.170 dan rugi fiskal sebesar Rp 867.180.519. IP mengajukan surat keberatan.295 dan rugi fiskal tahun 2002 menjadi sebesar Rp 8.953.550.083.

000 1.000.685.000 2004 Imbalan kerja jangka panjang lain Rp 160.113) Perusahaan tidak mempunyai efek berpotensi dilusi saham.000. sehingga Perusahaan tidak menghitung rugi per saham dilusian. Tidak Termasuk Pos Tidak Berulang dan Luar Biasa Rugi Tambahan informasi rugi per saham dasar menyajikan data rugi setelah eliminasi pos-pos yang tidak diharapkan mempengaruhi kinerja masa datang.569. Rugi tersebut dihitung sebagai berikut : 2004 Rp Rugi bersih tahun berjalan Penyesuaian pos luar biasa .580) (1.763.533) (1.000.000.947.935.000.900.000 1.000.000 144.107.000 Imbalan pasca-kerja lain Rp 255.154 saham tahun 2004 dan 2003.000.120.386.000.082.710.199.569.000.469.000.000 (19.000.203.419.486.000) 1.000.000.000.389.986.739.Catatan 50 (2.678. RUGI PER SAHAM Termasuk Pos Tidak Berulang dan Luar Biasa Rugi Rugi bersih untuk tujuan perhitungan rugi per saham dasar adalah sebesar Rp 2.000 (285.000 Jumlah Rp 662. IMBALAN KERJA Beban imbalan kerja Perusahaan dan anak perusahaan dibebankan ke beban usaha – kepegawaian adalah sebagai berikut : Imbalan pasca-kerja.295) 281.000 7.000 50.038) (7.000) 274.257 2003 *) Rp (5.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 44.585.295 tahun 2004 dan Rp 5.824.000 .000.229.082.000.000 Imbalan pemeliharaan kesehatan Rp 121.601. Lembar saham Rata-rata tertimbang saham untuk tujuan perhitungan rugi per saham dasar adalah sebesar 46.000 127.000.000) 206.021.180.593.000 12.bersih setelah beban pajak Rugi bersih untuk perhitungan rugi per saham tidak termasuk pos tidak berulang dan pos luar biasa *) Disajikan kembali .000.533 tahun 2003.138.942.366.700.421.000. 45.000 61.943.848.000 134.900.000.815.53 - .000.000 (285.000 475.000.378.021.000 741.554.064. program pensiun Rp Biaya jasa kini Biaya jasa lalu Hasil investasi Beban bunga Kerugian (keuntungan) aktuaria Jumlah 124.503.000.000 870.000 574.415.000.000 33.404.551.000 4.484.786.000.942.419.366.000.972.

000) 500.751.581.000.220.789.256.950.205.000 (172.657.000 (440.000.033.568.000.000.000 4.497.674.321.000) 9.000.884.000 (136.000.134.000.000 23.524.000) 1.000 (2.000.276.000.000.000. program pensiun Rp Nilai tunai kewajiban Biaya jasa lalu belum diakui Keuntungan (kerugian) aktuaria belum diakui Nilai wajar aktiva bersih Kewajiban (Pensiun dibayar dimuka) Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang 2.591.000.400.000.080.205.647.000) 4.000) 5.926.000 72.000 (266.000.000 (173.000 2003 *) Imbalan kerja dibayar dimuka.390.000) 4.454.966.000.288.000 (303.000) 4. program pensiun Rp Nilai tunai kewajiban Biaya jasa lalu belum diakui Kerugian aktuaria belum diakui Nilai wajar aktiva bersih Kewajiban (Pensiun dibayar dimuka) Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Bagian jangka panjang *) Disajikan kembali .487.763.005.000.112.000 Imbalan pasca-kerja lain Rp 221.000.000.908.000) Kewajiban imbalan kerja Jangka Pemeliharaan panjang lain kesehatan Rp Rp 631.759.000) 181.000.000.000 2.000.000.156.000.000) 171.000 Pasca-kerja lain Rp 5.550.376.000.000) 602.199.000 (484.127.000.000 Kewajiban (dibayar dimuka) imbalan kerja Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut : 2004 Imbalan kerja dibayar dimuka.000.000.000.032.833.000) 685.000.881.000) 163.000.000 (26.199.000.000) (344.000.000.846.000.000 (4.715.000) (337.088.000 1.991.100.000.951.717.000.000 (4.000.000.276.000 (128.912.000 .000.000 11.000.000 (102.000 Pasca-kerja lain Rp 5.000 Jumlah Rp 12.232.000 8.626. program pensiun Rp Biaya jasa kini Biaya jasa lalu Hasil investasi Beban bunga Kerugian (keuntungan) aktuaria Jumlah 108.482.441.000.000.000.000 43.000 56.000 1.000 (252.214.208.552.134.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 2003 *) Imbalan kerja jangka panjang lain Rp 121.033.000.632.000 Imbalan pasca-kerja.000 Jumlah Rp 609.148.526.000.257.000) 54.846.000.651.000 5.000.777.000 (252.377.000) (24.000 (130.291.000.000) 9.447.000 Jumlah Rp 10.000.000.192.000) 171.748.000.000.547.000.863.Catatan 50 2.437.079.000 415.000.000.000 (166.083.243.000.000.000) (2.162.084.000 778.000) (56.884.000.008.000.000.309.000.000.954.000.000.878.000.601.210.000 472.000 691.428.000 Imbalan pemeliharaan kesehatan Rp 157.028.000) 4.54 - .000 4.000.000.000) 10.700.000 (169.619.601.000.372.000 (169.000.723.351.589.000.671.000 (253.000) Kewajiban imbalan kerja Jangka Pemeliharaan panjang lain kesehatan Rp Rp 691.471.000 3.700.000 (22.000) (2.000) 554.749.000.000.000.000.322.000.740.000) 5.000 6.000) (2.000.000.000.000) 1.283.734.418.761.431.000.000 548.763.000.539.456.930.000.456.000.000 (279.000) (57.

000.000.000) 127.607.000.000.276.000. penghargaan masa kerja dan ganti kerugian kepada karyawan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan kebijakan Perusahaan dan anak perusahaan.884.000 Imbalan Pasca-Kerja dan Jangka Panjang Lain Program Pensiun Perusahaan dan anak perusahaan menyelenggarakan program pensiun imbalan pasti untuk semua karyawan tetap.134.17/1997 tanggal 15 Mei 1997.000.005.000.220.482. bantuan kematian dan pemakaman dan penghargaan winduan bagi karyawan yang memenuhi persyaratan.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Mutasi kewajiban (dibayar dimuka) imbalan kerja Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut : 2004 Imbalan kerja dibayar dimuka.000.000 2.000.457.846.000) Kewajiban imbalan kerja Jangka Pemeliharaan panjang lain kesehatan Rp Rp 602.846.000.000 3.43% .96% untuk tahun 2003 dari penghasilan dasar pensiun.000.000) 9.881.819.000 3.19% .601. .000) 4.000) 602.651.000 (114.000) 11.000.000.000) 5.000) (344.482.000 Jumlah Rp 9. program pensiun Rp Saldo awal tahun Beban tahun berjalan Pembayaran iuran/ imbalan tahun berjalan Saldo akhir tahun (344.000.000 Pasca-kerja lain Rp 3.846.943.000.000.497.000 (615.763.568.000.000.000.930.000 (171. Imbalan Pasca-Kerja dan Jangka Panjang Lain Selain program pensiun.000.000 (117. tunjangan kecelakaan dinas.205.008.000.771.474.000 Pasca-kerja lain Rp 5.000 870.025.619.000) 5.601.088.55 - .677.000.941.99% untuk tahun 2004 dan 6% dan 6.972.000 (211.000 (120.000.000) 54.322.Catatan 50 (327.836.083.651.276.000.700.005. Program pensiun ini memberikan imbalan pensiun yang ditentukan berdasarkan penghasilan dasar pensiun dan masa kerja karyawan.685.000 778.000 (71.000.000 (326.000.435.530.276.000 741.568.900.000.000 1. Tidak terdapat dana yang disisihkan sehubungan dengan program ini.612. Program pensiun ini dikelola oleh Dana Pensiun PLN (Persero) (DP-PLN) yang akta pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Surat Keputusannya No.565.000.8. KEP-284/KM.000) 4.631.000 2003 *) Imbalan kerja dibayar dimuka.6.000) (337.700.000.291.763.000.000.000.000 163.000) Kewajiban imbalan kerja Jangka Pemeliharaan panjang lain kesehatan Rp Rp 529.550.000 Jumlah Rp 7.000.000) 691.674.000.000 (417.000. Perusahaan dan anak perusahaan memberikan imbalan pasca-kerja lain berupa uang pesangon.000.871.000.000 (90.884.000. Pendanaan DP-PLN terutama berasal dari iuran karyawan dan pemberi kerja masing-masing adalah sebesar 6% dan 8.000. Perusahaan dan anak perusahaan juga memberikan imbalan kerja jangka panjang lain berupa uang cuti besar. program pensiun Rp Saldo awal tahun Beban tahun berjalan Pembayaran iuran/ imbalan tahun berjalan Saldo akhir tahun *) Disajikan kembali .000 4.000 206.000.

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Pada awal tahun 2003, Perusahaan dan anak perusahaan meningkatkan manfaat uang pesangon, penghargaan masa kerja dan ganti kerugian sesuai Keputusan Direksi No. 039.K/010/DIR/2000, dan No. 225.K/010/DIR/2002 dan No. 039.K/010/DIR/2003. Perhitungan imbalan pasca-kerja dan jangka panjang lain dihitung oleh PT Binaputera Jaga Hikmah, aktuaris independen, sesuai dengan laporannya tanggal 14 April 2005. Asumsi utama yang digunakan oleh aktuaris adalah sebagai berikut: Umur pensiun normal Tingkat diskonto per tahun Tingkat kenaikan gaji per tahun Program pensiun Imbalan pasca-kerja dan jangka panjang lain Imbalan Pemeliharaan Kesehatan Perusahaan dan anak perusahaan juga menyediakan program kesehatan bagi pensiunan dan keluarganya yang memenuhi syarat. Tidak terdapat dana yang disisihkan sehubungan dengan manfaat tersebut. Perhitungan imbalan pemeliharaan kesehatan dihitung oleh PT Binaputera Jaga Hikmah, aktuaris independen, sesuai dengan laporannya tanggal 14 April 2005. Asumsi utama yang digunakan oleh aktuaris adalah sebagai berikut: Tingkat diskonto per tahun Tingkat kenaikan biaya kesehatan : 11% : 21% tahun 2004 dan 24% tahun 2003, menurun secara linear sebesar 3% untuk setiap tahun berikutnya. : 56 tahun : 11% : 5% : 10%

46. TRANSAKSI HUBUNGAN ISTIMEWA Dalam kegiatan usahanya, Perusahaan dan anak perusahaan melakukan transaksi tertentu dengan pihak hubungan istimewa. Perusahaan dan anak perusahaan tidak mengungkapkan transaksi dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah sebagai pihak hubungan istimewa sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7. Seluruh transaksi signifikan dengan pihak hubungan istimewa baik yang dilakukan dengan persyaratan dan kondisi yang sama dengan atau tidak sama dengan pihak ketiga, telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. Ringkasan transaksi dan sifat hubungan istimewa tersebut mencakup sebagai berikut :

- 56 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Transaksi Hubungan Istimewa
Catatan Piutang hubungan istimewa PT Sumber Segara Primadaya PT Bajradaya Sentranusa PT Geo Dipa Energi Direksi dan karyawan Jumlah Hutang usaha PT Geo Dipa Energi PT Mitra Energi Batam PT Daya Citra Mulia Jumlah Hutang lain-lain Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan - PLN PT Mitra Energi Batam Dana Pensiun - PLN Koperasi Karyawan Jumlah Jumlah Pembelian listrik swasta PT Geo Dipa Energi PT Mitra Energi Batam Jumlah Pembelian bahan bakar - batubara PT Daya Citra Mulia Pembelian aktiva tetap PT Mitra Energi Batam Pembelian investasi saham Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan - PLN 4 6 24.330 0,01% 36 8 2004 Rp juta 560.297 160.388 30.081 345.502 1.096.268 27.496 7.614 3.432 38.542 %* 0,26% 0,08% 0,01% 0,16% 0,52% 0,04% 0,01% 0,01% 0,06% 2003 Rp juta 125.000 30.081 381.996 537.077 69.231 69.231 %* 0,06% 0,01% 0,18% 0,26% 0,10% 0,10%

29

45.411 13.661 54 23.804 82.930 121.472 121.347 7.614 128.961 11.830 13.661

0,07% 0,02% 0,00% 0,03% 0,12% 0,18% 1,01% 0,06% 1,07% 0,05% 0,01%

5.182 5.182 74.413 70.816 70.816 -

0,01% 0,01% 0,11% 0,65% 0,65% -

* Persentase terhadap jumlah aktiva/kewajiban/beban yang bersangkutan

Sifat Hubungan Istimewa a. b. c. d. Perusahaan merupakan pemegang saham dengan pemilikan langsung dan tidak langsung pada perusahaan asosiasi (Catatan 6). Pengurus koperasi karyawan juga merupakan karyawan Perusahaan dan anak perusahaan. Pendiri dan pengawas Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan PT PLN (Persero) (YPK) merupakan pengurus dan karyawan Perusahaan dan anak perusahaan. Karyawan merupakan orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggungjawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan Perusahaan.

- 57 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 47. AKTIVA DAN KEWAJIBAN MONETER DALAM MATA UANG ASING Pada tanggal neraca, Perusahaan dan anak perusahaan mempunyai aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing sebagai berikut :
2004 Mata uang asing Aktiva Kas dan setara kas CHF EUR GBP JPY USD SGD USD EUR USD 809.364 8.217.770 10.833 824.986.378 18.898.693 26.801 10.837.565 18.000 60.546.582 Ekuivalen Rp 6.598.252.203 103.465.240.010 192.766.779 74.297.366.619 175.163.245.756 152.364.923 100.371.048.004 227.736.000 562.477.747.399 1.022.945.767.693 ATS AUD BEF DEM FRF GBP JPY NLG USD EUR USD ATS EUR SFR CAD CHF DEM FRF GBP ITL JPY NLG USD USD EUR ATS AUD BEF DEM FRF GBP JPY NLG USD 167.593.968 25.245.514 36.759.128 49.977.791 15.380.018 27.772.131 15.284.334.633 119.711.188 761.508.433 33.955.103 799.160.328 27.588.407 2.365.038 327.092 100.453 486.229 25.189.989 646.393 411.965.621 346.819 15.841.450 537.641.249 4.100 91.532 94.340 388.316 1.238.784 1.407.300 370.118 262.759.184 701.417 8.832.441 154.856.826.549 183.762.097.697 11.579.125.184 324.955.596.793 29.821.855.242 499.398.460.833 1.389.161.077.653 690.853.268.350 7.109.442.730.933 431.807.042.400 7.460.960.821.959 25.495.803.675 30.075.168.455 2.537.166.928 827.449.977 3.161.404.180 48.834.032.248 11.623.484.461 37.442.690.167 2.001.330.095 147.895.781.510 5.013.159.462.356 49.200.000 84.589.461 686.726.090 122.411.119 8.054.426.422 2.728.231.844 6.655.491.996 23.881.630.458 4.047.545.636 82.459.670.961 23.738.422.601.632 (22.715.476.833.939) 178.432.858 25.540.891 38.568.645 51.232.695 121.857.642 32.275.171 22.382.786.318 155.976.241 817.216.468 827.882.512 27.645.868 385.651 3.027.249 327.081 144.255 664.966 33.753.319 809.488 10.565.930 865.322.960 3.407.033 19.152.656 391.430.118 1.045.025 834.317 302.284 3.712.718 291.110 376.609.942 922.921 21.485.160 Mata uang asing 1.079.614 24.529.372 10.894 389.442.306 56.852.510 10.477.351 234.715 2003 *) Ekuivalen Rp 7.338.435.531 259.709.882.301 163.387.953 30.682.629.471 479.269.224.824 88.422.927.641 1.986.865.861 867.573.353.582 138.727.978.688 162.957.270.530 10.228.790.368 280.243.355.261 198.744.940.453 489.109.877.165 1.781.199.752.382 757.220.978.078 6.952.060.495.428 7.042.796.526.606 21.494.109.487 4.125.848.675 19.613.366.957 2.150.622.663 989.420.863 3.637.371.273 55.050.312.733 12.267.283.086 58.429.593 68.861.535.808 16.540.189.506 162.931.645.137 3.321.083.708.002 6.667.523.220 221.269.120 1.653.494.601 6.055.294.069 4.411.589.041 29.970.242.550 4.480.522.650 182.774.254.418 21.738.327.998.411 (20.870.754.644.829)

Investasi jangka pendek Piutang lain-lain Jumlah Aktiva Kewajiban Penerusan pinjaman

Hutang listrik swasta Hutang proyek

Hutang usaha Biaya masih harus dibayar

Jumlah Kewajiban Jumlah Kewajiban - Bersih *) Disajikan kembali - Catatan 50

- 58 -

PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Pada tanggal neraca, kurs konversi mata uang asing yang digunakan Perusahaan dan anak perusahaan adalah kurs jual-beli yang dikeluarkan Bank Indonesia, sebagai berikut :

2004 Jual Rp Mata uang USD CHF GBP YPY AUD CAD EUR 9.336,00 8.237,16 17.982,07 90,89 7.279,28 7.756,73 12.716,57 Beli Rp 9.244,00 8.152,39 17.795,70 89,96 7.204,77 7.677,10 12.587,55 Jual Rp

2003 Beli Rp 8.423,00 6.788,36 14.997,99 78,76 6.313,04 6.506,26 10.587,71

8.507,00 6.858,82 15.154,37 79,58 6.380,25 6.575,20 10.698,40

Sehubungan dengan fluktuasi kurs mata uang Rupiah terhadap mata uang asing, Perusahaan dan anak perusahaan mencatat kerugian kurs mata uang asing sebesar Rp 1.675.829.753.716 tahun 2004 dan keuntungan kurs mata uang asing sebesar Rp 1.010.385.428.406 tahun 2003. 48. INFORMASI SEGMEN Segmen Geografis Untuk tujuan pelaporan manajemen, saat ini Perusahaan dan anak perusahaan dibagi dalam operasi geografis Jawa dan Luar Jawa. Operasi geografis tersebut menjadi dasar pelaporan informasi segmen primer Perusahaan dan anak perusahaan, sebagai berikut :
2004 Jawa Rp Pendapatan usaha Pendapatan eksternal Pendapatan antar segmen Jumlah Hasil segmen Beban usaha tidak dapat dialokasikan Laba usaha Penghasilan (beban) lain-lain tidak dapat dialokasikan Beban pajak Pos luar biasa - bersih setelah pajak Rugi bersih Aktiva segmen Aktiva tidak dapat dialokasikan Jumlah aktiva konsolidasi Kewajiban segmen Kewajiban tidak dapat dialokasikan Jumlah kewajiban konsolidasi 21.547.500.545.513 4.414.802.733.487 (20.682.938.527.486) 159.530.176.083.512 56.608.071.521.065 (99.702.999.838.450) 49.369.455.630.288 49.369.455.630.288 19.308.929.417.826 Luar Jawa Rp 12.903.606.217.524 12.903.606.217.524 (2.971.944.142.966) Eliminasi Rp 30.822.999.270.079 Jumlah Rp 62.273.061.847.812 62.273.061.847.812 47.159.984.544.939 (44.597.689.660.956) 2.562.294.883.983 (1.117.606.948.021) (3.184.503.325.000) (281.551.180.257) (2.021.366.569.295) 116.435.247.766.127 95.358.349.006.862 211.793.596.772.989 5.279.364.751.514 64.165.389.151.924 69.444.753.903.438

- 59 -

880 209.267 342.894 12.885) 43.190.404.273.271 61.303.017.249.795.165.906.384.473.692.182) Eliminasi Rp 26.668.199.914.878.608.801.926.335) (2.441.528.889 4.786) 157.990.555 3.644) (1. Operasi Perusahaan dan anak perusahaan yang bukan bergerak dalam bidang tenaga listrik mencakup 0.165.469.14% dan 0.433 79.533) 31.327.860.920.461.421.753 *) Disajikan kembali .119.327.062.633.350.316.642.264.181.665.364 177.482 66.382.833.061.161 91.720.206.303.265.651 62.355.637.985.Catatan 50 Segmen Usaha Operasi Perusahaan dan anak perusahaan terutama bergerak dalam bidang penyediaan tenaga listrik.200.408 54.60 - .306.bersih setelah pajak Rugi bersih Aktiva segmen Aktiva tidak dapat dialokasikan Jumlah aktiva konsolidasi Kewajiban segmen Kewajiban tidak dapat dialokasikan Jumlah kewajiban konsolidasi 49.472.124.155.161 54.514 (4.777.924.885.314.386 (39.777.761.622 10.096.547.596.430.334.662.273.580 (5.887. Pendapatan usaha tersebut adalah sebagai berikut : 2004 Rp Usaha penyediaan tenaga listrik Penjualan listrik berdasarkan golongan tarif Industri Rumah tangga Usaha Umum Jumlah Subsidi listrik Pendapatan penyambungan pelanggan Perubahan daya tersambung dan administrasi serta sewa trafo Jumlah Lain-lain Jumlah 2003 Rp 22.535.502.225.881.745.382.469 92.408 35.040.812 19.410.411 54.307.801.641.271.430.014.527.194 Jumlah Rp 54.030.777.251.406 (103.244 5.374 Luar Jawa Rp 11.146.256.479.711.474.18% dari pendapatan usaha masing-masing tahun 2004 dan 2003.492.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 2003 *) Jawa Rp Pendapatan usaha Pendapatan eksternal Pendapatan antar segmen Jumlah Hasil segmen Beban usaha tidak dapat dialokasikan Rugi usaha Penghasilan (beban) lain-lain tidak dapat dialokasikan Beban pajak Pos luar biasa .909 21.690.232.594 3.311.651 59.450 49.720.430.002.368.900.064.097.134) 1.408 .963.746.408 54.350.636.514 11.001.793.721) (4.449.894 43.273.082.620.755.404.311.587.265.065.658.339.843 387.082.146 18.007.919.474.527.107.685.004.392.699 8.088 (180.801.923.388.809.027.698.657.853.504 58.916.030.419.997 103.520 3.294 62.115.452.847.637.

PJ/061/DIR/2002 0073-2. Perusahaan telah melaksanakan renegosiasi terhadap PPA dan ESC melalui Kelompok Kerja Renegosiasi Kontrak Khusus PLN (KKRK) dibawah arahan Tim Keppres. Sejak tahun 1998. Ltd.28 31 40. . CNOOC ONWJ Ltd dan Paladin Resources (Sunda) Ltd.000 No.P/061/IP/2002 050.IPP) skala besar sebelum tahun 1997.000 6.P/061/IP/2002 0003.9 juta dari Bank Negara Indonesia. Itochu Oil Exploration Co. Fasilitas SBLC berjangka waktu 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 31 Desember 2016.000.PJ/061//1996 0007.PJNP/9212/1997/M 003.PJ/060/DIR2003 0059-4. Perjanjian 30-12-2003 PJ-291/PST/89 0059-2. Perusahaan mempunyai fasilitas SBLC sebesar US$ 39.Palembang Kaji .PJ/061/DIRUT/2003 00145. Perusahaan mengadakan perjanjian jual beli tenaga listrik (Power Purchase Agreement PPA) dan Energy Sales Contract .000 336.500.65 32.PJ/060/DIR/2001 0073-1.000 6.Palembang Pemasok *) Pertamina/Arco Pertamina/Kodeco Pertamina Pertamina Pertamina/Exspan Pertamina Pertamina/Exspan Pertamina/Exspan Pertamina/Exspan No.683 311 152 24 9.PJ/061/DIRUT/2003 Periode 2004-2017 1993-2012 1994-2004 2002-2011 2001-2010 2003-2012 2001-2010 2003-2011 2003-2008 2004-2013 Satuan TBtu BSCF TBtu BSCF BSCF BSCF BSCF TBtu TBtu TBtu Jumlah yang disepakati 679 1.100.Palembang Tanjung Batu Samarinda Borang .23 25.64 *) BP West Java Ltd.000 3.P/061/IP/2002 161.61 - .PJ/PJB-DCM/12/2004 Satuan Metrik ton Metrik ton Metrik ton Metrik ton Metrik ton Metrik ton Metrik ton Metrik ton Periode 2003-2006 2003-2005 2002-2005 2002-2005 2003-2012 1999-2004 2003-2004 2003-2004 b. Untuk menjaga kesinambungan kegiatannya.Palembang Tarakan . Batubara Pemasok PT Adaro Indonesia PT Berau Coal PT Kideco Jaya Agung PT Batubara Bukit Asam PT Jorong Barutama Greaston PT Daya Citra Mulia Jumlah per tahun 3.P/600/2003 34. Renegosiasi tersebut meliputi antara lain keseimbangan kondisi kontrak. kewajaran harga dan disparitas harga jual listrik swasta dan harga jual Perusahaan. Kontrak 055. IKATAN DAN KONTINJENSI Perusahaan dan anak perusahaan memiliki perikatan yang signifikan dan kontinjensi sebagai berikut : a.940.000 3.600. Gas Sektor Muara Karang dan Tanjung Priok Gresik Gresik Belawan Kramasan .PJ/06/DIR/2003 Dalam proses 0074-1. Inpex Jawa Ltd.ESC) dengan penyedia dan pengembang tenaga listrik swasta (Independent Power Producer . ii. Perusahaan dan anak perusahaan mengadakan perjanjian pengadaan bahan bakar gas sebagai berikut : i.Kaltim Indralaya .PJ/061/DIR/2002 0068. Pembayaran pembelian gas dijamin dengan stand-by letter of credit (SBLC).000 336.000 1. MC Oil & Gas Java BY.500.P/061/IP/2002 0006.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 49.

7. Jabar Kamojang. dan PT Drajat Geothermal Ind. Perusahaan dan IPP telah menyepakati perubahan PPA dan ESC. 2. 10. 6. 3. Sumut Sibayak. Perusahaan bersama Pertamina dan Magma Nusantara Ltd (Proyek Wayang Windu) telah mengadakan interim agreement yang menyepakati penggunaan tarif harga pembelian listrik interim sampai dengan ditandatanganinya ESC hasil restrukturisasi. 4. Magma Nusantara Ltd (MNL) 3) PT Geo Dipa Energi 4) PT Asrigita Prasarana Jumlah Proyek/lokasi Cikarang. 4. Jabar Bahan bakar Gas Gas Panas Bumi MFO Batubara Batubara Panas Bumi Kapasitas (MW) 150 200 330 60 1. Perusahaan PT Cikarang Listrindo PT Energi Sengkang Unocal Geothermal Indonesia Ltd. Jatim Paiton II. Jateng Amurang. Sulsel Paiton I. Sulsel Salak. Pada tanggal 31 Desember 2000. Chevron Drajat Ltd. AF = Faktor Pemasokan Tenaga yang harus diserap Perusahaan. sampai dengan tanggal 31 Desember 2004. Jateng Palembang Timur. 5) YPK PLN 6) Pertamina 7) PT Geo Dipa Energi 4) PT Bajradaya Sentranusa 8) PT Dizamatra Powerindo Jumlah Proyek/lokasi Cilacap. Jabar Dieng.320 110 200 175 10 60 180 180 10 2. 9. 2.2026 2003-2033 2003-2033 2004-2040 1998-2028 2004-2034 2004-2046 2010-2040 1996-2030 1) Perjanjian berlaku sejak perjanjian ditandatangani dan jual beli tenaga listrik berlaku antara 19 tahun sampai dengan 30 tahun sejak tanggal produksi komersial (periode produksi). Sumut Bahan bakar Batubara Batubara Batubara Batubara Panas Bumi Panas Bumi Panas Bumi Panas Bumi Tenaga Air Panas Bumi Kapasitas (MW) 600 1. Wayang Windu. 5. 9. Belum Beroperasi (Dalam Tahap Pengembangan) No.2036 2004 .230 1. Perusahaan PT Sumber Segara Prima d) PT Central Jawa Power c) PT Tenaga Listrik Amurang PT Tenaga Listrik Sibolga Pertamina dan Bali Energy Ltd.220 140 AF 2) (%) 72 85 90 80 85 83 95 Jangka waktu perjanjian 1) 1996-2016 1997/1998 2028/2031 2002-2040 1999-2016 1994-2040 1995-2030 20002030/2040 1998/1999 2008/2029 2004-2046 2002-2022 8. Sudah Beroperasi No. 1.62 - . Jabar Sengkang. 2) 3) . Jatim Drajat. Jabar Patuha. Perusahaan masih menunggu arahan dari Pemerintah mengenai negosiasi perubahan ESC. sebagai berikut : i. 10. Jabar Pare-pare.845 AF 2) (%) 80 80 80 80 95 90 90 85 75 90 Jangka waktu perjanjian 1) 2004 . Panas Bumi Panas Bumi Gas 110 60 150 3. 1. proyek tersebut diakuisisi oleh PT Star Energy Investment. 3. Pada tahun 2004. PT Makassar Power PT Paiton Energy PT Jawa Power Pertamina. Bali Cibuni.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Berdasarkan renegosiasi tersebut. 8. 5. Jabar Asahan I. Sumut Bedugul. 7.650 90 85 85 ii. Texaco Drajat Ltd. Jateng Tanjung Jati B. Sulut Sibolga. 6.

c. Tim Keppres menyetujui Pertamina mengakuisisi proyek tersebut dari LTBE. 5) 6) 7) 8) Dalam perjanjian dengan perusahaan pembangkit tenaga listrik tertentu. CJP menunjuk sebuah Unit Kerja Sama Operasi antara SC dengan PT Wasa Mitra Engineering (SCWM) dan Summit Power Development Limited sebagai Kontraktor Engineering Procurement and Construction (EPC). Perusahaan diwajibkan menyediakan fasilitas pendanaan PPN impor maksimum sebesar Rp 900 miliar sehubungan dengan pembangunan pembangkit tersebut. Perusahaan bersama dengan CJP dan PT Bank Mandiri menandatangani Funding and Repayment Agreement No. Perusahaan akan mengoperasikan pembangkit sesuai dengan Operation and Maintenance Agreement dan memiliki hak opsi untuk membeli pembangkit pada akhir masa sewa. dan kepentingan atas proyek yang bersangkutan. Pemerintah Indonesia mengambil alih proyek tersebut melalui pembayaran ganti rugi asuransi kepada OPIC sebesar US$ 260 juta. Perusahaan bertanggungjawab untuk membangun. Perusahaan mengadakan perjanjian dengan PT Central Java Power (CJP).63 - . Pada tanggal 16 September 1996 dan 26 Desember 1997. Pada tahun 2002. Perusahaan dapat melaksanakan opsi untuk membeli hak penjual. Perusahaan dan PT HI Power Tubanan I sepakat untuk mengakhiri PPA tersebut. Pertamina dan Perusahaan mendirikan PT Geo Dipa Energi untuk melanjutkan proyek tersebut.PJ/061/PST/2003 pada tanggal 23 Mei 2003. Pembayaran angsuran dilakukan melalui Escrow Account. Perusahaan bersama PT HI Power Tubanan I (d/h PT Cepa Indonesia) menandatangani PPA untuk pengembangan dan pengoperasian pembangkit tenaga listrik 2 x 660 MW Tanjung Jati B dan 2 x 660 MW Tanjung Jati C. Pada tanggal 8 Januari 2004. Sumitomo Mitsui Banking Corporation. telah ditandatangani amandemen ESC. Sebelumnya proyek dimiliki PT Yala Tekno Geothermal (YTG) dan pada tanggal 7 Agustus 2003 Tim Keppres menyetujui Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan PLN mengakuisisi proyek tersebut dari YTG. mengoperasikan pembangkit dan memiliki fasilitas transmisi. . Pembiayaan dilakukan melalui penyertaan modal dari Sumitomo Corporation (SC) kepada CJP dan pinjaman dari bank. Tokyo bertindak sebagai Security Agent. Untuk melanjutkan pengembangan proyek Tanjung Jati B. Saat ini sedang dalam proses akuisisi.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan 4) Sebelumnya merupakan pembangkit listrik swasta milik Himpurna California Energy Limited dan Patuha Power Limited. 0028. milik. Selanjutnya Perusahaan dan CJP menandatangani Financial Lease Agreement (FLA) yang mengatur antara lain CJP akan menyewakan pembangkit tersebut selama 20 tahun kepada Perusahaan sejak tanggal operasi komersial dengan pembayaran angsuran sewa setengah tahunan. Amandemen ESC telah ditandatangani. telah ditandatangani amandemen PPA. disepakati bahwa pada setiap saat setelah tanggal pembiayaan hingga berakhirnya perjanjian. Perusahaan juga memiliki opsi untuk membeli pembangkit sebelum masa FLA berakhir sebesar jumlah tertentu sesuai dengan Call Right Agreement. CJP berkewajiban untuk memiliki tanah lokasi proyek serta bertanggungjawab dalam pembangunan dan pembiayaan proyek melalui pinjaman dan dana sendiri. Sebelumnya proyek dimiliki PT Latoka Trimas Bina Energi (LTBE) dan pada tanggal 7 Agustus 2003. Pada bulan April 2003. Pada tanggal 19 Pebruari 2004. Singapura bertindak sebagai Escrow Agent dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation. Pada tanggal 2 Mei 2001.

Putusan Pengadilan Negeri Purwakarta dan memerintahkan Pengadilan Tinggi untuk memeriksa dan memutus pokok perkara. Ltd. Berdasarkan berita acara rapat tanggal 15 Desember 2004. f. . Pada 31 Desember 2004.747. kedua belah pihak setuju untuk tidak menggunakan hukum International Arbitration di Singapura dalam penyelesaian kasus ini. Perusahaan dan PJB merupakan pihak tergugat II dan III. Pada tanggal 25 Agustus 2003 dan tanggal 19 Januari 2004. Pengadilan Tinggi Bandung memutuskan untuk menerima permohonan banding Perhutani dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Purwakarta dan menyatakan gugatan para Penggugat tidak dapat diterima. sedangkan Perhutani dan Badan Pertanahan Nasional masing-masing sebagai tergugat I dan IV. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan. Proyek ini diharapkan selesai dalam tahun 2007. g. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan. menerima permohonan kasasi dari Penggugat dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung jo. Kecamatan Manis.208. Perhutani menolak keputusan tersebut dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Bandung. Pada tahun 2003.64 - . Berdasarkan surat dari Columbia tanggal 27 Januari 2005. Pada tanggal 17 Mei 2004. Kabupaten Purwakarta atas penggunaan tanah yang diperoleh dari Perum Perhutani Unit II Jawa Barat (“Perhutani”) untuk pembangunan PLTA Cirata.797.2 juta dan Rp 115 miliar.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan d.0. Pengadilan Negeri Purwakarta memenangkan Penggugat. h. PJB melakukan pemutusan kontrak “Non-OEM Re-engineered Hot Gas Part of Muara Tawar Project” dengan Columbia Turbo and Engineering Service Pte. dan Perhutani wajib membayar kompensasi tanah kepada penduduk Desa Sirnagalih. Pada bulan April 2000.20% .995. Singapura (Columbia). Pada tanggal 29 Juli 1999. Columbia meminta jumlah penggantian atas komponen berwujud dan komponen tidak berwujud masing-masing sebesar 4% dan 8% dari nilai kontrak atau sejumlah US$ 4. Mahkamah Agung Republik Indonesia melalui putusan No. perkara tersebut masih dalam proses.090.094 yang belum digunakan dan akan berakhir pada tahun 31 Desember 2008. e. Perusahaan memiliki saldo fasilitas penerusan pinjaman dalam beberapa mata uang asing atau setara Rp 5.75% per tahun (Catatan 23). salah satu unit pembangkitan PJB.5 miliar dan pengembalian tanah seluas 88.. Provisi atas fasilitas belum digunakan tersebut sebesar 0. Pada bulan Juli 2003. Kemudian Penggugat mengajukan kasasi atas keputusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut.900 Ha dari penduduk Desa Sirnagalih.4 miliar dari anggota Kelompok Konsumen Listrik Perusahaan. Perusahaan menghadapi gugatan atas padamnya listrik di Nanggroe Aceh Darussalam sebesar Rp 110. Perusahaan dan PJB. tidak termasuk PPN. Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Nanggroe Aceh Darussalam menolak gugatan tersebut. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan perkara tersebut masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia. 2671 K/Pdt/2001. menghadapi gugatan sebesar Rp 162. jumlah biaya penggantian tersebut belum disepakati sehingga estimasi kewajiban yang timbul dari kasus pemutusan kontrak tersebut belum dapat ditetapkan. Perusahaan dan China National Machinery & Equipment Import & Export Corporation (CMEC) menandatangani kontrak pembangunan dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Labuhan Angin masing-masing berkapasitas 115 MW. Nilai kontrak yang disepakati sebesar US$ 182.

kreditur.864.995 dan Rp 15. pihak lain yang dipandang perlu oleh manejemen Perusahaan dan pemegang saham.K/2003 tanggal 24 Juni 2003. tuntutan Perusahaan dimenangkan dan menghukum para tergugat secara tanggung renteng. . Kota Indah.000. angka-angka komparatif tahun 2003 disajikan kembali.593. 8 Tahun 1995. serta Keppres RI No. Departemen Keuangan Republik Indonesia juga menganjurkan agar penyelesaian perbedaan tersebut dilaksanakan sebagaimana lazimnya penyelesaian hutang piutang bisnis biasa dan tidak perlu melibatkan Pemerintah. Perusahaan dan Pertamina telah melakukan pembahasan untuk memperoleh kesepakatan mengenai penyelesaian atas selisih harga BBM tersebut. Penyajian kembali laporan keuangan konsolidasi tersebut mencakup hal-hal signifikan sebagai berikut : a.000 dan beban tahun 2003 sebesar Rp 1. j.. Pada tanggal 27 Januari 2005 dan 3 Pebruari 2005. Perusahaan dan anak perusahaan belum mengakui dan mencatat jumlah tagihan Pertamina sebesar Rp 726. Nahkoda MV.65 - . terjadi kerusakan kabel laut di Selat Madura akibat tersangkut jangkar kapal MV. Pelaksanaan eksekusi keputusan ini masih dalam proses.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan i. Perusahaan dan anak perusahaan menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. Pada tanggal 19 Pebruari 1999. Perkara ini telah melalui proses pengadilan dan terakhir dengan Keputusan Mahkamah Agung No.125 yang merupakan 25% harga pasar untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) diatas kuota yang ditetapkan Pertamina dalam tahun 2002. namun sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan ini.699. Penyelesaian perbedaan ini telah disampaikan kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai surat No. belum ada penyelesaian akhir mengenai masalah tersebut. Manajemen berpendapat perkara-perkara tersebut tidak material dan tidak mempengaruhi aktivitas dan kegiatan usaha Perusahaan. Pengaruh kumulatif untuk mencatat imbalan kerja berikut pengaruh pajak tangguhannya pada defisit awal tahun 2003 sebesar Rp 4. Dalam surat tanggal 2 Oktober 2003. k.100. Kota Indah. Pada tahun 2004.. 071.905 kepada Advance Container Lines (Pte) Ltd. 9 Tahun 2002 tanggal 16 Januari 2002. 50. 2082/80/SJN. oleh karenanya. 24 (Revisi 2004) tentang ”Imbalan Kerja”. Shaukat Ali Akhtar.813. The Britania Steam Ship Insurance Association Ltd (P & I Club). PENYAJIAN KEMBALI LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI Sebelumnya Perusahaan telah menerbitkan laporan keuangan konsolidasi tahun 2003 kepada pemegang saham. Perusahaan menuntut ganti rugi sebesar US$ 5.000. Pacific International Lines (Pte) Ltd. Perusahaan memutuskan untuk menerbitkan dan menyajikan kembali laporan keuangan konsolidasi tahun 2003 tersebut. Perusahaan juga menghadapi gugatan ganti rugi di beberapa lokasi atas bangunan jaringan transmisi/distribusi.697. 27 tahun 2002 tanggal 30 April 2002.PJ/060/DIR/2001 tanggal 8 Oktober 2001 dan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) No. 1801 K/Pdt/2002 tanggal 15 Juli 2004.195.800. Perubahan akuntansi ini ditetapkan secara retrospektif.647. Sehubungan dengan penawaran umum obligasi Perusahaan dan untuk memenuhi pasal 64 Undang-Undang Pasar Modal No.798. Perusahaan dan anak perusahaan tetap berpegang pada Perjanjian Payung Jual Beli BBM No.

000.796 yang sebelumnya dicatat sebagai penghasilan lain-lain tahun 2003.078.121.66 - .000 menjadi hutang lain-lain kepada Pemda Banten.630 yang sebelumnya dicatat sebagai pendapatan lain-lain pada tahun 2003.042. • • Penyesuaian pembelian bahan bakar tahun 2002 sebesar Rp 331.162 dan pos luar biasa sebesar Rp 672. Penyesuaian yang berdampak pada laporan keuangan konsolidasi tahun 2002 dicatat sebagai pengurang defisit awal tahun 2003 sebesar Rp 480.893. agar sesuai dengan penyajian laporan keuangan konsolidasi tahun 2004 sebagai berikut: • • • • Reklasifikasi selisih penilaian kembali aktiva tetap menjadi selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan sebesar Rp 59. Penyesuaian penghasilan lain-lain tahun 2003 sebesar Rp 706.060.854 pada tahun 2002.348.799.000.502. Perusahaan dan anak perusahaan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan konsolidasi tahun 2003 dan tahun sebelumnya.772.287.418 atas hutang listrik swasta sebesar Rp 15.751. kembali tahun 2002 Kewajiban pajak tangguhan aktiva tetap yang diperhitungkan terlalu besar Rp 163.185. Penyesuaian selisih penilaian kembali aktiva tetap tahun 2003 sebesar Rp 34.340.000.654.680.143. Penyesuaian kewajiban pajak tangguhan atas kekurangan penghitungan penyusutan fiskal tahun 2003 sebesar Rp 347.594.434.822. Perusahaan dan anak perusahaan juga melakukan reklasifikasi akun dalam laporan keuangan konsolidasi tahun 2003.908. Penyesuaian tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut : • • Penyesuaian hutang listrik swasta yang disepakati pada tahun 2002 sebesar Rp 165.122. . Reklasifikasi tambahan modal disetor awal tahun 2003 sebesar Rp 20. Penyesuaian selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan atas pengurangan pajak penghasilan final sebesar Rp 294.380.275.451.322.791.879.783.062.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan b.083.826 untuk memperhitungkan kompensasi rugi fiskal anak perusahaan atas hutang pajak pengasilan final tahun 2003.353 dan kelebihan perhitungan penyusutan fiskal tahun 2002 sebesar Rp 199. • • • c.655.674. dan penyesuaian yang berdampak pada laporan keuangan konsolidasi tahun 2003 dicatat pada akun yang bersangkutan. beban bunga sebesar Rp 16.885. Penyesuaian selisih penilaian kembali aktiva tetap sehubungan dengan : − − − Beban penyusutan aktiva tetap sebelum penilaian diperhitungkan terlalu besar sebesar Rp 115.964.605. Pada tahun 2004.584 dan Rp 240.105 menjadi pajak dibayar dimuka.706. Penyesuaian biaya masih harus dibayar tahun 2003 dan 2002 masing-masing sebesar Rp 358. Reklasifikasi taksiran tagihan pajak dibayar dimuka sebesar Rp 61.982. Reklasifikasi hutang usaha sebesar Rp 279.600.163.445.364.140 menjadi hutang listrik swasta.997 yang sebelumnya dicatat sebagai selisih penilaian kembali aktiva tetap. Pada tahun 2004.

697.427.082.035.421.915.808.756.324 207.615.799.939.685.558.892.533.190.424.941.096.966 142.419.087.149.679.558.702.040.322 340.651.582 (77.583 7.100.071 253.000 7.756.368.716.533 (127.862.000.140) 1.404.900.581.808.000 484.109 (1.051.418.233.155.476.348.917.782.999 6.400.007.449.523.193.920.67 - .339.212 2.PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 – Lanjutan Berikut disajikan pos-pos penting dalam laporan keuangan konsolidasi tahun 2003 sesudah dan sebelum penyajian kembali : Sebelum Sesudah disajikan kembali disajikan kembali Rp Rp Aktiva pajak tangguhan Aktiva tidak lancar lain-lain Pajak dibayar dimuka Biaya dibayar dimuka dan uang muka Jumlah aktiva Selisih penilaian kembali aktiva tetap Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Defisit .127.672.524.212 61.165.742.984.202 55.446.924.064.747.643.789.497.578.305.568.988 59.992.713.819.168 2.979 149.175.474 9.720.187.694.342.244 77.629.204.176) (99.728.124.695) 1.869 55.481 53.535 3.120.898.603 511.338 6.078.346.439.523.114 66.672) 3.134 (1.743 (4.717.465.640.012.335) (2.bersih Beban pajak Pos luar biasa Rugi bersih Rugi per saham Termasuk pos tidak berulang dan luar biasa Tidak termasuk pos tidak berulang dan luar biasa 514.tidak ditentukan penggunaannya Jumlah ekuitas Kewajiban pajak tangguhan Hutang listrik swasta Bagian jangka panjang Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Hutang pajak selisih penilaian kembali aktiva tetap Kewajiban imbalan kerja Bagian jangka panjang Bagian jatuh tempo dalam satu tahun Hutang usaha Biaya masih harus dibayar Jumlah kewajiban Beban usaha Rugi usaha Penghasilan (beban) lain-lain .703.311.597.965) (164.111.580) 5.818.881.479.740.882.080.701) (1.519) ******** .453.775.596.858 (1.963.703.044.350.547.388.117 3.644) 1.885.110.027.984.956.877.308 2.870.325.419 687.597.491 1.254 62.301 137.502.753 58.000.105 2.586.324 209.

5723995 . 9 pesawat 511 Fax. 31 Jakarta 10210 Telp.BPK RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN EVALUASI KINERJA PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PERSERO) Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 Nomor Tanggal : 25. 5704395 s. 5720957. 5738727.C/Auditama V/GA/V/2005 : 30 Mei 2005 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 5738740. (021) 5700380.d. (021) 5700380.

4. 5. Penyusunan dan pelaksanaan RKAP tahun 2004 Analisa perbandingan antara realisasi hasil usaha tahun 2004 dengan RKAP dan realisasi tahun 2003 Analisis tingkat kesehatan perseroan Perkembangan usaha perseroan Pemahaman atas struktur pengendalian intern Informasi lainnya 9 12 17 19 5 5 i . BAB II Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2004 Perbandingan realisasi hasil usaha tahun 2004 dengan RKAP Tingkat kesehatan perusahaan Perkembangan usaha perusahaan Pemahaman atas struktur pengendalian intern Informasi lainnya 1 2 2 2 3 3 HASIL EVALUASI 1. 4. 2. 6. 3. 3. 6.DAFTAR ISI Halaman BAB I SIMPULAN 1. 5. 2.

64 GWh atau 104.BAB I SIMPULAN 1. 100.273.710. RKAP disusun berpedoman pada Surat Menteri Negara BUMN Nomor KEP101/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penyusunan RKAP Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun 2004 RKAP PT PLN (Persero) – selanjutnya disebut PLN – tahun 2004 ditetapkan dan disahkan berdasarkan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 31 Desember 2003.47 GWh atau 101.984. Beban usaha Realisasi beban usaha dalam tahun buku 2004 sebesar Rp59.00 juta.097.282. 1 BPK-RI/Auditama V . 2.78% dari target yang ditetapkan dalam RKAP sebanyak 98. Pendapatan usaha Realisasi pendapatan usaha dalam tahun buku 2004 sebesar Rp62.01% dari rencana yang ditetapkan dalam RKAP sebanyak 22.589.53 GWh dan pembelian tenaga listrik swasta dan sewa genset sebanyak 27.93% dari rencana sebanyak 89.96 juta atau 99.112.24 GWh.85 juta atau 2.20 GWh. Penjualan tenaga listrik tersebut berasal dari produksi sendiri sebanyak 93.811.72 GWh atau 103.061.05% dari anggaran yang ditetapkan dalam RKAP sebesar Rp60.3.575.131.346.2. 2.75% dari anggaran yang ditetapkan dalam RKAP sebesar Rp61. Perbandingan Realisasi Hasil Usaha Tahun 2004 dengan RKAP Pencapaian hasil usaha tahun 2004 apabila dibandingkan dengan target menurut RKAP tahun 2004 menunjukkan keadaan sebagai berikut : 2.766.065. Produksi dan penjualan tenaga listrik Realisasi volume penjualan tenaga listrik tahun 2004 sebanyak 100.00 juta.1.

021.00 juta atau 73. 4.78% dari anggaran sebesar Rp4.47% dari anggaran sebesar Rp2. Perkembangan Usaha Perusahaan Perkembangan usaha perusahaan selama 2 (dua) tahun terakhir menunjukkan kondisi sebagai berikut: 4. Rugi bersih (setelah pajak) tahun 2004 mencapai sebesar Rp2.311. Jumlah Aktiva/Kewajiban & Ekuitas pada tahun 2004 sebesar Rp211.118.1.50 juta atau naik sebesar 1.232.38 juta dibanding tahun 2003 sebesar Rp49.00 juta atau 52. dana sendiri (APLN) sebesar Rp9.124.125. dengan hasil sebagai berikut: Tingkat kesehatan perusahaan tahun 2004 dalam kondisi “Sehat” dengan total skor 66.79% dari anggaran yang ditetapkan dalam RKAP sebesar Rp15.414. dengan total skor 59.082.340.388.10 juta atau meningkat sebesar 16.508.77 juta dibanding tahun 2003 sebesar Rp209.366.00 juta.482.596.54% dari anggaran sebesar Rp9. Investasi dan sumber pembiayaan Realisasi investasi selama tahun 2004 sebesar Rp13.3. Kondisi ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tingkat kesehatan tahun 2003 yaitu “Kurang Sehat (BBB)”.187.786.900.91%.KEP-100/MBU/2002 tgl 4 Juni 2002 tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN Non Jasa Keuangan.42 juta. 3.474.920.00 juta dan pinjaman sebesar Rp2.017. Tingkat Kesehatan Perusahaan Tingkat kinerja perusahaan didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Negara P.00 juta. Pendapatan dari penjualan tenaga listrik tahun 2004 sebesar Rp58.210.809.74% dibanding pencapaian rugi bersih tahun 2003 sebesar Rp5.200.793.254.2. 2 BPK-RI/Auditama V .BUMN No.25.637.183. 4.57 juta atau menurun 65.00 juta. 4.00.28%.2.002.4.00 juta atau hanya 85. Sumber pembiayaan atas investasi tersebut berasal dari dana Pemerintah sebesar Rp1.00 juta atau 103.

Satuan Pengawasan Intern (SPI) dapat menjalankan fungsinya dalam membantu manajemen untuk meyakinkan ditaatinya prosedur dan kebijakan dalam sistem pengendalian manajemen perusahaan 6. Dari 23 temuan tersebut selama tahun 2004 telah ditindaklanjuti sebanyak 2 temuan sehingga sisa temuan yang masih harus dipantau tindaklanjutnya sampai akhir tahun 2004 sebanyak 21 temuan. Restrukturisasi Korporat Sampai dengan akhir tahun 2004 telah diambil beberapa kebijakan khusus yang terkait dengan restrukturisasi korporat untuk meningkatkan efektivitas operasi organisasi. Pembinaan Transmisi dan Pembinaan Distribusi serta organisasi P3B Sumatera.2. Anak Perusahaan Perusahaan mempunyai 4 (empat) anak perusahaan yaitu PT Indonesia Power (IP).5. Temuan hasil pemeriksaan tahun 2004 Jumlah temuan hasil pemeriksaan operasional yang dilakukan oleh Satuan Pengawasan Intern (SPI) tahun 2004 sebanyak 275 temuan.2.1. PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (PT PLN 3 BPK-RI/Auditama V . Struktur pengendalian intern yang diterapkan telah cukup memadai dalam mendukung aktivitas perusahaan. Tindak Lanjut Temuan SPI a. Temuan hasil pemeriksaan tahun 2003 Sisa temuan hasil pemeriksaan SPI tahun 2003 yang masih dipantau sebanyak 23 temuan (6. Pemahaman atas Struktur Pengendalian Intern 5. 5. Restrukturisasi korporat tersebut antara lain melalui pemisahan fungsi pembangkitan. Dari 275 temuan tersebut yang sudah ditindaklanjuti sampai dengan akhir tahun 2004 sebanyak 205 temuan (74.27% dari 367 temuan). 6. Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan dan Pembangkitan Sumatera Bagian Utara. 6.55%).1. penyaluran dan distribusi yang direalisasikan dengan dibentuknya tiga organisasi Deputi Direktur yaitu: Pembinaan Pembangkitan.3. b. Informasi Lainnya 6.

Misnoto. PT Indonesia Comnets Plus (PT ICON). PT ICON bergerak dalam bidang penyediaan. dan PT PLN Enjinering (PT PLN E). pengadaan dan konstruksi.Batam). Drs. D – 1416 Jakarta. PT IP. sedangkan PT PLN E bergerak dalam usaha bidang ketenagalistrikan dan non ketenagalistrikan yang antara lain seperti enjiniring. MA. dan PT PLN Batam bergerak dalam bidang pengusahaan tenaga listrik. pemasaran. dan penjualan jasa telekomunikasi. pendidikan dan pelatihan. Register Negara No. operasi dan pemeliharaan. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit. 30 Mei 2005 4 BPK-RI/Auditama V . jasa konsultasi. studi sistem kelistrikan. Ak. PT PJB. studi analisa dampak lingkungan.

Rek2/DK-PLN/2003. Penyusunan dan Pelaksanaan RKAP Tahun 2004 RKAP disusun berpedoman kepada Surat Menteri Negara BUMN Nomor KEP101/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002 tentang Penyusunan RKAP Badan Usaha Milik Negara (BUMN).787.416 45.34 RKAP 3 98. Produksi dan Penjualan Tenaga Listrik a.097.23 2003 Realisasi 4 90.009 47. Penetapan dan pengesahan RKAP tahun 2004 dilaksanakan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 31 Desember 2003. Analisa Perbandingan Antara Realisasi Hasil Usaha Tahun 2004 dengan RKAP dan Realisasi Tahun 2003 Pencapaian hasil usaha tahun 2004 apabila dibandingkan dengan target menurut RKAP tahun 2004 dan realisasi tahun 2003 adalah sebagai berikut: 2. adalah sebagai berikut : 2004 Uraian 1 Penjualan Tenaga Listrik (GWh) Pelanggan Daya Tersambung (MVA) Realisasi 2 100.440. Penyerahan RKAP tahun 2004 kepada Menteri Negara BUMN dilaksanakan tanggal 15 Desember 2003 melalui surat Dewan Komisaris Nomor 37. Realisasi penjualan dan penyaluran tenaga listrik kepada pelanggan tahun 2004 dibandingkan dengan RKAP tahun 2004 dan realisasi tahun 2003.346.24 33.96 5 BPK-RI/Auditama V .852.10 2:3 5 101.78 99. RKAP tahun 2004 disusun dan dirumuskan sesuai dengan kondisi yang ada dan prospek perkembangan perseroan.47 33.590.14 % (2-4)/4 6 10.90 32.410.68 3.78 4.366.1.446 47.BAB II HASIL EVALUASI 1.151.87 100. Penyusunan RKAP secara umum telah sesuai dengan pedoman/ketentuan yang berlaku dan kebijakan manajemen secara keseluruhan. 2.

b.87% dari target RKAP.47 GWh atau 101. Produksi Tenaga Listrik Realisasi jumlah produksi tenaga listrik (produksi sendiri. atau lebih rendah 0. Jumlah pelanggan PLN sampai dengan akhir tahun 2004 mencapai 33.346.366.097.71% dari sasaran dalam RKAP yakni sebesar 12.96 95.50 14.Realisasi penjualan tenaga listrik tahun 2004 secara keseluruhan sebesar 100. Jumlah pelanggan ini mengalami kenaikan sebesar 3. Susut Jaringan (Transmisi dan Distribusi) Realisasi susut Transmisi dan Distribusi tenaga listrik tahun 2004 dibandingkan dengan RKAP tahun 2004 dan realisasi tahun 2003 adalah sebagai berikut : 2004 Realisasi 1 Susut Transmisi Susut Distribusi Total 2 2.22 94.852.78% dari jumlah pelanggan pada akhir tahun 2003.96 11.87 2:3 5 89. pembelian.65) (33.37 16.59 9.446 pelanggan atau 99.08) Realisasi susut jaringan tahun 2004 membaik yaitu sebesar 11.80) (37.96% dibanding akhir tahun 2003.68% dibandingkan tahun 2003 atau sebesar 90.29 RKAP 3 2. dan sewa genset/diesel) untuk tahun 2004 dibandingkan dengan RKAP tahun 2004 dan realisasi tahun 2003. atau mengalami kenaikan sebesar 4. Penjualan tenaga listrik tahun 2004 mengalami kenaikan 10. c.00%.34 MVA.24 GWh. Jumlah daya tersambung sampai dengan akhir tahun 2004 mencapai 47.78% dari target RKAP sebesar 98.33 8.440.08 (dalam %) % (2-4)/4 6 (6.29%. perbaikan administrasi penerbitan rekening dan dampak operasi Penertiban Penyaluran Tenaga Listrik (P2TL). Perbaikan susut jaringan terjadi karena tidak ada lagi perubahan pola baca meter.41 12.90 GWh. adalah sebagai berikut : 6 BPK-RI/Auditama V .00 2003 Realisasi 4 2.

002.74 62.38 387.86 54.69% dari realisasi tahun 2003.696.082.493.78 381.809.978.029. Pembelian tenaga listrik tahun 2004 di atas rencana sebesar 7.08 108.269.816.41 103.93% dari rencana dan meningkat sebesar 3.36 GWh atau mencapai 103.273.244.30 2003 Realisasi 4 90.256.919.153.27 RKAP 3 57.548.41% dari realisasi tahun 2003.061.62 103.87 61.53 22.676.363.280.30) 0.10 3.633.736. Produksi tenaga listrik dari sewa genset mencapai 82.17 422.428.59 16.250.72 23.69 29.50% dari realisasi tahun 2003.83 4.609.811.67 82.430.86 3.469.85 5.435. Pendapatan Realisasi pendapatan selama tahun buku 2004 dibandingkan RKAP tahun 2004 sebagai berikut : (dalam jutaan Rupiah) 2004 Uraian 1 Pendapatan Usaha Penjualan Tenaga Listrik Penyambungan Pelanggan Subsidi Listrik Lain-lain Total Pendapatan Usaha Pendapatan di Luar Usaha Jumlah Realisasi 2 58.41 52.00 545.71% dari rencana.17 % (2-4)/4 6 16.91 13.50 6.056.95% dari RKAP.90 % 2:3 5 103.233.244.045.01 182. 2.17 33.317.38 Realisasi total produksi tenaga listrik tahun 2004 sebesar 120.387.93 107.10 342.862.67% dan meningkat sebesar 16.99 14.80 3.212.92 3.305.24 2:3 5 101.54 120.76 62. Pencapaian produksi tenaga listrik tahun 2004 di atas sasaran dan penjualan tenaga listrik juga di atas sasaran akibat adanya susut jaringan yang lebih rendah 0.20 113.150.98 2.589.59 7 BPK-RI/Auditama V .044.24 101.520.232.95 (2-4)/4 6 3.10 (15.72 100. Produksi tenaga listrik yang dibangkitkan sendiri mencapai 103.80 20.225.42 67.41 16.62% dari rencana dan meningkat sebesar 29.80 184.637.36 RKAP 3 89.065.(dalam GWh) 2004 Produksi Tenaga Listrik 1 Produksi Sendiri Pembelian Sewa Genset/Diesel Jumlah Realisasi 2 93.096.2.777.112.75 1194.91 115.93 2003 Realisasi 4 49.52 3.44 57.

795.53% dari RKAP dan 52.29 62.810.52 4.02 1.496.47 11.04 5.547. Peningkatan ini karena adanya bunga atas pajak revaluasi aktiva tetap ditanggung oleh pemerintah. beban pemeliharaan.92 72.26 10.96 6.81 12. 2.146.827.605. Peningkatan terjadi pada beban bahan bakar.68 120.384.Realisasi pendapatan usaha tahun 2004 sebesar Rp62.75% dari nilai pendapatan usaha yang ditargetkan dalam RKAP tahun 2004 dan meningkat sebesar 14.04%) dan naik 1. dan beban di luar usaha selama tahun buku 2004 dibandingkan dengan RKAP adalah sebagai berikut : (dalam jutaan Rupiah) 2004 Uraian 1 Beban Usaha Bahan Bakar Pembelian Tenaga Listrik Penyusutan Aktiva Tetap Pemeliharaan Kepegawaian Lain-Lain Sub Jumlah Beban di Luar Usaha Jumlah 24. 8 BPK-RI/Auditama V .492. Realisasi beban usaha di bawah RKAP (99.14%) dan turun 25.46% dari tahun 2003.26 2.611.554.052.497. Realisasi pendapatan di luar usaha tahun 2004 meningkat besar hingga 1. Beban Realisasi beban yang terdiri atas beban usaha.061.81 3.11 1.282.867.39 5. pembelian tenaga listrik.92% dari tahun 2003.10 104.193.67 9.41% dari realisasi tahun 2003.74 114.20 10.619.96% dari realisasi tahun 2003.745. beban kepegawaian dan beban lain-lain.894.32 21.109.161.674.76 (13.09% dari tahun 2003.273.382.710.75 59.164.429.94% dari RKAP dan 5.202.33 juta atau 105.566.047.879.491.33 23.837.03 10.766.05 325.534.654.757. sedangkan kenaikan beban kepegawaian karena peningkatan pengeluaran di atas anggaran.872.167.63 13.736.401.85 juta adalah 100.66 5.94 14.98 2.078.575.17 2.61 6.49 4.54 5.33 60.182.333.37 65.999.21 62.53 58.96 Realisasi 2 RKAP 3 2003 Realisasi 4 2:3 5 % (2-4)/4 6 Realisasi beban selama tahun buku 2004 sebesar Rp65.586.24 105.818.3. Kenaikan beban pemeliharaan disebabkan adanya peningkatan biaya untuk pembelian material.872.524.92 99.73 119.49 (25.99) 33.177.05 70.495. Biaya penyusutan aktiva tetap dibawah RKAP (70.524.14 90.09) 7.993.970.477.581.533.

78 18.203. Analisis Tingkat Kesehatan Perseroan Evaluasi tingkat kesehatan BUMN didasarkan pada pedoman yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. investasi tahun 2004 meningkat sebesar 76.711.00 701.809.00 2.687.675.414. Investasi dan Sumber Pembiayaan Realisasi investasi menurut sumber pembiayaannya selama tahun 2004 dibanding RKAP tahun 2004 sebagai berikut : (dalam jutaan Rupiah) 2004 Sumber Dana 1 Dana Pemerintah a.482.00 2:3 5 73.088.187.310.95 63.72 2.97) 76.4.55 631.44 215.17 (28.42 2003 Realisasi 4 970.22 103. yang meliputi aspek penilaian dan bobot sebagai berikut : 9 BPK-RI/Auditama V .649.00 1.00 85. Valuta Asing Dana Sendiri/APLN Pinjaman Luar Negeri Obligasi/Bank Jumlah Realisasi 2 1.00 5.00 358.663.124.47 122. Pencapaian investasi di bawah anggaran disebabkan terbatasnya perolehan dana investasi baik dari dana pemerintah dalam valuta asing dan dana pinjaman luar negeri untuk pembiayaan proyek.200.489.817.26% atau sebesar Rp5.26 Realisasi investasi tahun 2004 menurut sumber dana hanya mencapai 85.54 52. 3.388.00 13. Jika dibandingkan dengan tahun 2003.00 RKAP 3 2.291.118. 2. KEP-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002.483.254.77 1.111.291.183.722.395.210.00 709.78 9.310.000.952.14 4.72 1.72 115.583.500.396. sedangkan dana yang berasal dari obligasi dan perbankan meningkat sebesar 10% dari anggaran.339.00 701.Penurunan yang cukup signifikan ini dikarenakan PLN melakukan review dan merubah masa manfaat aktiva tetap pada tahun 2004.017.786.00 juta.00 9.28 51.474.79 % (2-4)/4 6 52.79% dari anggaran.00 15.00 612.508.00 498.385.52 15.54 110.00 772. Rupiah/APBN b.00 7.

00 4.5 11.00 10.Ratio Total Modal Sendiri Terhadap Total Aktiva Sub Jumlah Aspek Operasional 1.37% 73.09% 1.00 3.50 7. Tara Kalor 15 10 3 4 4 4 4 6 50 15 10 3 4 4 4 4 6 50 (1.00 10 BPK-RI/Auditama V .00 7.00 4.75% 12.88 2.11 hari 2.420.00 (2.00 3.90 12.539.4 hari 14.31)% 6.00 14. Efisiensi Produksi dan Produktivitas a.Bobot Maksimal • Aspek Keuangan • Aspek Operasional • Aspek Administrasi Total Bobot 50 35 15 100 Kinerja keuangan dan hasil usaha serta perhitungan skor tingkat kesehatan PLN untuk tahun 2004 dan 2003 sebagai berikut: Realisasi 2004 Nilai Skor Realisasi 2003 Nilai Skor Bobot Bobot 2003 2004 Indikator Aspek Keuangan .05 hari 31.30% 7.36% 38.00 10.Rasio Kas .30 hari 4. SAIFI (kali padam/pelanggan) 2. Susut Jaringan b.00 0.Return on Investment (ROI) .00 15.25 20.50 22 28.00 4.50 10 5 10 7. SAIDI (menit padam/pelanggan) b. Pelayanan kepada Pelanggan a.83% 76.00 1.21% 1.50 3.44)% 5.00 2.Perputaran Persediaan .50% 67.5 5 5 619.68 11.Rasio Lancar .Collection Periods .5 16.64% 41.29 2.55 5.75 4.40% 74.51 7.00 4.50 3.Perputaran Total Asset .Return on Equity (ROE) .50 4.00 0.5 7.00 5.

60 7.Lap.13% 3 3 3 3 3 3 Juni 61 hari 40 hari 0.50 6.00 8. tingkat kesehatan perusahaan tahun 2004 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan selisih total skor sebesar 6.00 Kurang A Sehat BBB 40.00 0 0 0 2.23% 1.00 30. Apabila dibandingkan dengan tahun 2003.00 66.00 26.Indikator Realisasi 2004 Nilai Skor Realisasi 2003 Nilai Skor Bobot Bobot 2003 2004 3.00 9.00 60 hari 3. Peningkatan Kualitas SDM a.40 4.Kinerja PUKK * Efektivas Penyaluran Dana * Tingkat Kolektibilitas Pinjaman Sub Jumlah Jumlah Kriteria 3 3 15 100 3 3 15 100 Sehat 83.25 5 35 35 35.00 2. kinerja operasional maupun kinerja administrasi dalam kondisi sehat. HOP (hari orang pegawai) b.00 yang termasuk dalam klasifikasi “Sehat (A)”. Kesejahteraan (biaya pegawai/pegawai) Sub Jumlah Aspek Administrasi .00 59. 11 BPK-RI/Auditama V .00 195 hari Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh total skor 66.50 5 7.5 6.00 April 3.Laporan Periodik .91% 49.10 5. Perhitungan Tahunan .75 terutama pada aspek kinerja.30% 47. Hal ini berarti perusahaan secara keseluruhan. baik kinerja keuangan.00 3.00 3.Rancangan RKAP .

28 12.070.73 (3-4)/4 6 (3.530.091.172.78 3.32 (0.54 1.42 137.66) 76.39 1. Aktiva tidak lancar lain-lain h.154.633.44 10.34 879.605.703.679.340.998.14 185.60 13.665.401.351.754.694.780.41 15.11 608.80 45.775.77 13. Kewajiban pajak tangguhan d.48 12.863.87 142.00 46.154.558. Selisih revaluasi aktiva tetap c.53 59.107.659. Aktiva pajak tangguhan e.11) (60.028.289. Aktiva tetap b.08 77.68 (10.124.485.11 259.894.00 46.107. Aktiva tidak digunakan dalam operasi f.08 12 BPK-RI/Auditama V . 4.558.74 (11.19) 13. Kewajiban jangka panjang 179.96 2.842. Neraca Tahun 2004 2 2003 3 2002 4 (dalam jutaan rupiah) % Perkembangan naik (turun) (2-3)/3 5 0.39 0.920.476.348.88 166.60 9.54) (54.12) 142.19 1.25) 13. Investasi jangka panjang d.99 521.640.116.915.74 1.845.368.31 147.801.78 12.19 4.855.04 2.94 (0.37 19.561.301.34 3.154.350.521.793.82 447.534.655.148.344.449.617.88 211.568.67) 4.11) 199.365.53) 25.86 (98.923.204.47 20.20 687.144.024.456.55) 5.53 179.834.77 209. Modal saham b.107.406.596.11 (0.4.359. Saldo Laba (Defisit) Total Ekuitas Kewajiban a. Perkembangan Usaha Perseroan Perkembangan perusahaan selama tahun 2004 mengalami peningkatan yang cukup berarti.581.142.48 1.20 13.75 46.43 77.270.14 8.435.41 3.915.47 351.605.217.00 21.728.03) 0.08 77.558.823.42 (35.08 (4.47 150.718.868. Pekerjaan dalam pelaksanaan c.626.039.1.04 (62.21 12.972.677.307. Piutang pihak hubungan istimewa g.937.07) 40. hal ini terlihat dari peningkatan jumlah aktiva dan pencapaian laba tahun berjalan.193.40 13.260.74 (3.82 2.04 59. Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan d.71 165. 29) (3.36 5.47 312.530.539. Uang Jaminan Pelanggan c.87 1.978.173.69 40.50 216.640.694.462.24 18.09 66.986.183.28) (38. Tambahan modal disetor c.53 59.633.577.603.07 12.575.897.587.165.19) Uraian 1 AKTIVA a.45 2. Pendapatan Ditangguhkan b.783.020.026. Aktiva lancar Jumlah aktiva PASSIVA Ekuitas a.20 3.

13 BPK-RI/Auditama V .622. • Aktiva tetap tahun 2004 meningkat 0.493.020.94% dan Rp746.Uraian 1 e.39 211.509.99 (3.74% dari tahun sebelumnya.13 juta atau 8.25 juta atau 3.688. Tambahan modal disetor tahun 2004 dan 2003 masing-masing mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar Rp1.27 % Perkembangan naik (turun) (2-3)/3 5 (44.27 juta atau 1. Peningkatan tersebut terutama karena adanya penyertaan saham anak perusahaan.81 juta atau 5.31) 8.421.145. • Investasi jangka panjang tahun 2004 meningkat tajam sebesar Rp208.69 4.53% setelah adanya revaluasi aktiva tetap di tahun 2002.44 2002 4 551. yaitu untuk tahun 2003 mengalami penurunan sebesar Rp6.041.41 juta atau 165.19 68.62 69.50 216.19% dari tahun 2002.39 juta dibandingkan tahun 2003.795.547.741.360.753.64 juta atau 166. Aktiva tetap tahun 2003 menurun sebesar Rp6.29% atau sebesar Rp561.40% atau bertambah sebesar Rp703. PT PJB.920.89 juta dari tahun 2003.676.124.895.28 (3-4)/4 6 (24. pada PT Sumber Segara Prima Daya.569.28 juta dari tahun sebelumnya. Hutang Biaya Proyek f.73%. Peningkatan di tahun 2004 terutama disebabkan peningkatan bantuan luar negeri dan dana DIP yang belum ditetapkan statusnya.039.90 66.977.487.77 209.63 juta atau 3.628.572. yaitu pada tahun 2003 turun 4.021.586. dan untuk tahun 2004 meningkat sebesar Rp2.061.19) 17. dan tahun 2004 meningkat 1.11%.980.666.29 Tahun 2003 3 417. • Kewajiban pajak tangguhan tahun 2004 dan 2003 mengalami kenaikan masingmasing sebesar Rp1.28% dari tahun 2003.618.97 16.444.412.93 juta atau 66.20) (3.61 15.19% atau Rp149.793.75 • Jumlah aktiva PLN selama tiga tahun berturut-turut mengalami kenaikan/penurunan.39% dan sebesar Rp966.596.55 1. • • Modal saham untuk kurun waktu tiga tahun berturut-turut cenderung tetap.20) 2.239.191.339. Kewajiban lancar Total Kewajiban Jumlah Passiva 2004 2 232.119. • Jumlah aktiva lancar selama tiga tahun terakhir berfluktuasi.

894.08 59.74) Realisasi 2 62.065.900.03) (123.282.040.766.2.687.881.562.33 RKAP 3 61.384.61 56.31) 129.80 58.25) 14 BPK-RI/Auditama V .96 2.42) (3.640.11 1.717.687.75 99.562. perusahaan menderita rugi sebesar Rp2. Laporan Perubahan Ekuitas (dalam jutaan Rupiah) Uraian 2004 1 Modal saham Modal disetor lainnya Selisih revaluasi aktiva tetap Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Saldo laba telah ditentukan penggunaannya Saldo laba belum ditentukan penggunaannya Jumlah 2 46.06) (116.39) (281.18 60.154.606.24 77.41 1.430. Laporan Laba-Rugi (dalam jutaan Rupiah) 2004 Uraian 1 Pendapatan Usaha Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha Penghasilan (Beban) Lain-lain Laba (Rugi) Sebelum Pajak Beban Pajak Laba (Rugi) Sebelum Pos Luar Biasa Laba (Rugi) Pos Luar Biasa Laba (Rugi) Bersih (1.29 Pada tahun 2004 perusahaan memperoleh laba sebelum pajak sebesar Rp1.082.03) (6.815.3.842.20 % (2-4)/4 6 14.366.444.71) (65.694.03) 1.08 59.62) (3.06 (5.18 juta. 4.834.91 (161.68) 142.366.107.21 2.130.551.811.199.702.61 (7.57 (62.154.530.273.348.388.739.384.45 2:3 5 100.021.06 (1.20% dari laba yang dianggarkan sebesar Rp56.640.497.528.581.558.685.808.53 1.61 juta.00 21.4.11) 142.85 59.53 1.739.18) (2.586.294.61 2003 Realisasi 4 54.148. Namun setelah diperhitungkan dengan beban pajak sebesar Rp3.155.863.148.01) (2.94 3.00 19.558.915.777.605.584.384.96) (77.57 (64.39 3.486.105.503.444.48) 1.76) (45.22 (0.404.894.94 juta atau 2.87 Realisasi 2003 3 46.04 167.37 77.384.085.31 % Perkembangan Naik (Turun) 4=(2-3)/3 8.184.57) 56.95) 1.50 juta dan kerugian akibat bencana alam di Nangro Aceh Darussalam dan daerah lain sebesar Rp281.551.107.462.720.92 76.562.710.703.117.88 (1.585.021.061.57 juta dalam tahun 2004.575.174.885.81 (4.694.915.472.490.46) 56.

38 Tahun 2003 3 8.49) 49.98) (686. nilai arus kas dari aktivitas operasi mengalami kenaikan 27.36) (10. Penurunan terjadi terutama karena adanya kenaikan saldo defisit yang berasal dari rugi tahun berjalan.073.03 (458. Rasio Keuangan Kinerja perusahaan dari aspek keuangan dapat terlihat dari rasio likuiditas.313.605.75% dari ekuitas tahun sebelumnya (turun 0. URAIAN RASIO LIKUIDITAS Cash Ratio Acid Test Ratio (Quick Ratio) Current Ratio Net Working Capital to Sales 38.49%.600.62% dari nilai tahun 2003 dan nilai arus kas dari aktivitas pendanaan mengalami penurunan sebesar 52.697.057.25%).22% 73. 2.87 juta atau 99.75% (7.759. 3.4.015.39 6.057.450.218.08 (52.82) 7. 1.03 juta atau turun sebesar 10.62 79.18) (3.873. A. Meskipun demikian.657.57 % Perkembangan Naik (Turun) 4=(2-3)/3 27. 4.842.423.517.445.41) (1.63 (6.073.759. 4.348.5.657. rasio leverage.37% 57.16% dari saldo akhir kas tahun 2003 sebagai akibat kenaikan penggunaan kas untuk aktivitas investasi.324.39 Saldo akhir kas tahun 2004 sebesar Rp6.56) (5.573. Laporan Arus Kas (dalam jutaan Rupiah) Uraian Tahun 2004 1 Arus kas dari aktivitas operasi Arus kas dari aktivitas investasi Arus kas dari aktivitas pendanaan Penurunan bersih kas dan setara kas Saldo awal kas dan setara kas Saldo akhir kas dan setara kas 2 11.36) 6.75)% HASIL 15 BPK-RI/Auditama V .16) (10. rasio solvabilitas dan rasio rentabilitas sebagai berikut: NO.859. rasio aktivitas.21 6.Saldo ekuitas tahun 2004 sebesar Rp142.759. 4.579.

3.37 kali (12. 7. 2. 1. 2. 6.42)% 32. E. 5. 2. C.532 676 1.32 kali 0.803 695 2.86% (3. 4.89 % (2-4)/4 6 (0. 1.70 2:3 5 98.79% (125.44 kali 12. D. 2.02%) (1.288 706 2. 5.32 2003 Realisasi 4 47. 1.25 16 BPK-RI/Auditama V . 4. 6.42)% Sumber Daya Manusia Kebijakan perusahaan tentang optimasi sumber daya manusia mengakibatkan semakin membaiknya rasio jumlah pelanggan per pegawai.902.25)% 5.51) 4.6.12% 7.05 hari 29.92 101. 4.91)kali 32.76 RKAP 3 47.40 hari 4. 3.79% 48. B.59 kali 0.057.NO.36% (1. 1. Perincian peningkatan pendayagunaan tenaga kerja disajikan sebagai berikut : 2004 Uraian 1 Jumlah Pegawai (orang) Pelanggan/Pegawai (Pelanggan) MWh Jual / Pegawai (MWh) Realisasi 2 47.78% 4.44 11.116.58 102. URAIAN RASIO AKTIVITAS Inventory Turn Over Receivable Turn Over Collection Period Current Asset Turn Over Fixed Asset Turn Over Total Asset Turn Over Sales to Net Working Capital RASIO LEVERAGE Debt to Total Assets Time Interest Earned RASIO SOLVABILITAS Solvabilitas Debt to Equity Ratio RASIO RENTABILITAS Gross Profit Margin EBITDA Margin Net Profit Margin Return On Investment Return On Capital Employed Return On Equity HASIL 14.

44% dibandingkan realisasi tahun 2003. Mempersiapkan acuan rencana implementasi (action plan) dalam memasuki era kompetisi dengan menyusun tahapan inisiatif stratejik mewujudkan PLN menjadi perusahaan kelas dunia pada tahun 2010-2020 sekaligus roadmap pengembangan organisasi/ unit-unit usaha dan SDM dalam waktu 3 tahun ke depan (2004-2006) memasuki era kompetisi. proses bisnis dan portofolio anak-anak Perusahaan dan unit-unit Bisnis. e. menyeluruh. terpadu dan berkesinambungan berkaitan dengan perubahan-perubahan organisasi 17 dan sistem manajemen BPK-RI/Auditama V peran serta biaya usaha-usaha investasi penunjang operasi PLN serta dalam rangka efisiensi dan mengendalikan .116. d. Pemahaman Atas Struktur Pengendalian Intern Strategi pengembangan organisasi tahun 2004 adalah menyempurnakan organisasi Kantor Pusat. Rasio jumlah pelanggan per pegawai pada akhir tahun 2004 mencapai 706 atau meningkat 4. Kebijakan pengembangan organisasi adalah: a.25% dibandingkan realisasi tahun 2003. Memantapkan peran Komite Pengawas Unit Bisnis (KPUB) yang ada dalam struktur organisasi Kantor Pusat sebagai kepanjangan tangan Direksi dalam memonitor kinerja Unit-unit Bisnis sebagai salah satu bentuk penerapan good corporate governance (GCG) dengan memberikan kejelasan tugas. penyiapan job description dan dilanjutkan dengan evaluasi jabatan. Melakukan sosialisasi secara intensif. tanggungjawab dan kewenangan sebagai komite pengawas dan tatacara dalam berhubungan dengan lembaga tata kelola lainnya baik lingkungan bisnis unit asuhannya maupun di perusahaan secara keseluruhan. 5. b.51% dibandingkan jumlah pegawai pada akhir tahun 2003.Jumlah pegawai pada tahun 2004 semakin optimal dan menurun sebesar 0. Mengoptimalkan meningkatkan pendayagunaannya. Rasio MWh terjual per pegawai pada akhir tahun 2004 mencapai 2. Melaksanakan analisa dan evaluasi jabatan secara berkelanjutan melalui metode analisis IRMA (Interrelationship of Management Accountability). c.76 MWh/pegawai atau meningkat 11.

k. Memperkenalkan dan mengembangkan model pemantauan kinerja organisasi melalui otomatisasi Balance Scorecard berbasis WEB dan menerapkannya di setiap Wilayah/ unit Bisnis dengan evaluasi periodik setiap 3 bulan. Mempersiapkan pembentukan Unit Resource Center di unit-unit. g.11% dari rencana. i. Selama tahun 2004 SPI telah melakukan pemeriksaan pada 30 unit organisasi yang dilaksanakan selama 6 periode pemeriksaan atau 111. Mempersiapkan pembentukan Anak-anak Perusahaan dari unit-unit bisnis penunjang dalam bidang produk unggulan masing-masing. Menyempurnakan organisasi unit-unit bisnis (UB). c. Menyiapkan kajian perencanaan SDM untuk mendukung organisasi. j. f. Mempersiapkan pembentukan Unit Bisnis Distribusi Banten. Menyempurnakan organisasi Kantor Pusat. d. Sedangkan program pengembangan organisasi adalah: a. Mempersiapkan pembentukan Unit Bisnis Agen Penjualan di Jawa-Madura-Bali. h. Melaksanakan optimasi Formasi Tenaga Kerja. f.perusahaan. untuk mendapatkan kesamaan pemahaman dan dukungan dari seluruh anggota perusahaan. Menyempurnakan organisasi Unit Bisnis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban JawaMadura-Bali. Melaksanakan perubahan organisai Proyek Induk menjadi Unit Bisnis Jasa Manajemen Konstruksi. Hal ini menunjukan secara umum SPI telah memadai untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. serta Unit Bisnis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera. Melakukan pembentukan Unit Bisnis pembangkitan Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Selatan.11% dari Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) sebanyak 27 unit dengan realisasi penerbitan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) sebanyak 30 buah atau 111. Berikut ini adalah aktivitas SPI selama tahun 2004 18 BPK-RI/Auditama V . b. e.

6. Tindak Lanjut Temuan Tahun 2004 Dari hasil pemeriksaan operasional SPI tahun 2004 diperoleh 275 temuan. b. sampai dengan akhir tahun 2004 telah ditindaklanjuti sebanyak 2 temuan. Sisanya sebanyak 21 temuan masih dipantau penyelesaian tindak lanjutnya. sebanyak 205 temuan (74.11 LHP LHP LHP 30 7 37 27 7 34 111.236.1. PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). 6.73 juta. Restrukturisasi Korporat Sampai dengan akhir tahun 2004 telah diambil beberapa kebijakan khusus yang terkait dengan restrukturisasi korporat antara lain dengan diterbitkannya Pedoman Pengembangan Organisasi Unit dan dengan dibentuknya organisasi Pembinaan Pembangkitan. PT Indonesia Comnets Plus (PT ICON).4. PT PLN Enjiniring (PT PLN E) 19 BPK-RI/Auditama V .830.84 juta dan telah ditindaklanjuti sebesar Rp1. Jumlah nilai dari 23 temuan SPI tersebut adalah sebesar Rp1.Uraian • • Satuan Organisasi yang Diperiksa Jumlah Laporan Hasil Pemeriksaan a.040. Jumlah nilai temuan tahun 2004 adalah sebesar Rp1.46 juta telah ditindaklanjuti seluruhnya.2. Tindak Lanjut Temuan Tahun 2003 Sisa temuan hasil pemeriksaan SPI tahun 2003 adalah sebanyak 23 temuan. sehingga ada sisa nilai temuan sebesar Rp196. Pemeriksaan sesuai PKPT Pemeriksaan Khusus Satuan Obyek Realisasi 30 Rencana 27 % 111. Anak Perusahaan Perusahaan mempunyai 5 (lima) anak perusahaan yaitu PT Indonesia Power (IP).11 juta yang masih dalam proses penyelesaian.3. 6.11 100. PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (PT PLN Batam).00 108.82 Jumlah Laporan Hasil Pemeriksaan 6. Pembinaan Transmisi dan Pembinaan Distribusi serta dibentuknya P3B Sumatera.55%) telah ditindaklanjuti. Dari jumlah temuan tersebut. Informasi Lainnya 6.

PT PJB. Jumlah 20 BPK-RI/Auditama V .00 MW dengan daya mampu produksi sebesar 5. pendidikan dan pelatihan.00 MW. Total produksi energi listrik sebesar 27. Kapasitas daya terpasang berbagai jenis yang dimiliki oleh PT IP sebesar 8. sedangkan PT PLN E bergerak dalam usaha bidang ketenagalistrikan dan non ketenagalistrikan yang antara lain seperti enjiniring. PT ICON bergerak dalam bidang penyediaan.60 MW dengan daya mampu produksi sebesar 8.20 MW. dan penjualan jasa telekomunikasi. Gambaran secara umum kegiatan usaha anak perusahaan sebagai berikut : a.84 GWh dan sewa diesel sebesar 462.542.00 GWh.00 GWh. jasa konsultasi.00 MW.894.00 GWh dan energi yang disalurkan ke PLN melalui PLN P3B untuk didistribusikan sebesar 42. PT IP. Daya terpasang pembangkit pada sistem Batam adalah sebesar 256. yang terdiri dari pembangkit sendiri sebesar 115.477.30 GWh. b.dan PT PLN Tarakan. Kegiatan pengusahaan PT ICON selama tahun 2004 telah berhasil meningkatkan pencapaian pendapatan jasa telekomunikasi dari sektor publik di luar ketenagalistrikan. PT PLN Batam.823. Kapasitas daya terpasang berbagai jenis pembangkit yang dimiliki PT PJB sebesar 6.885. operasi dan pemeliharaan. d. PT ICON.417.80 MW dan pembangkit sewa 140.11 GWh.908. c. studi analisa dampak lingkungan. PT PLN Batam dan PT PLN Tarakan bergerak dalam bidang pengusahaan tenaga listrik. PT PJB.00 MW.00 GWh dan energi yang disalurkan ke PLN melalui PLN P3B untuk didistribusikan sebesar 26. studi sistem kelistrikan. pengadaan dan konstruksi. Total produksi energi listrik sebesar 841. Selain itu juga telah berhasil memenuhi kebutuhan jasa telekomunikasi dan teknologi informasi di lingkungan PLN sendiri. PT IP. Total produksi tenaga listrik yang dihasilkan sebesar 44.14 GWh yang berasal dari produksi sendiri sebesar 378. pemasaran. sedangkan penjualan energi listrik sebesar 740.331.

368. PT PLN Tarakan.505.595. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 21 BPK-RI/Auditama V . Selama tahun 2004.644 MW. Daya terpasang pembangkit yang dimiliki oleh PT PLN Tarakan adalah sebesar 31. Korea Selatan untuk melakukan feasibility study of Bojonegara Combined Cycle Power Plant Project (750 MW Class). e. sedangkan penjualan energi listrik sebesar 105. PLN E telah mengerjakan 13 proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp54.06 MWh. Total produksi energi listrik sebesar 114. PT PLN E.80 juta.04 MWh. yang berasal dari satu lokasi sentral PLTD dengan 11 unit mesin pembangkit.pelanggan korporasi yang berasal dari sektor ketenagalistrikan sebanyak 25 pelanggan dan dari sektor publik sebanyak 76 pelanggan. PT PLN E juga melakukan kerjasama operasi dengan mitra kerja perusahaan konsultan di bawah perusahaan KEPCO. f.

5704395 s.B/Auditama V/GA/V/2005 : 30 Mei 2005 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jalan Gatot Subroto No. 9 pesawat 511 Fax. 5723995 . (021) 5700380. 5738740. 5738727.d. 5720957. (021) 5700380.BPK RI LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PERSERO) Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2004 KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN DAN PENGENDALIAN INTERN Nomor Tanggal : 25. 31 Jakarta 10210 Telp.

DAFTAR ISI I.23 juta dalam pelaksanaan kontrak Pekerjaan Perbaikan/pemeliharaan jaringan listrik Dalam Keadaan Bertegangan 14. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2002 1 3 3 6 7 11 12 14 16 18 19 19 23 25 26 28 29 31 i BPK-RI/AUDITAMA V . Terdapat penyimpangan penyaluran aliran tenaga listrik kepada PT Polysindo Eka Perkasa Tbk.67 juta 11.60 juta 15. PT Semen Bosowa menunggak kekurangan biaya beban sejak Oktober 2003 sebesar Rp2. Keputusan RUPS tentang pemberian jasa produksi tahun 2003 sebesar Rp186. PLN lebih bayar sebesar Rp869. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2003 16.44 juta tidak sesuai dengan ketentuan 4.952. PLN Disjabar kurang menagih biaya beban PT Asahimas Chemical sebesar Rp21. Terdapat biaya yang perlu diperhitungkan kembali sebesar Rp607. KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. PLN Disjabar menyalurkan tenaga listrik ke pelanggan industri besar tidak sesuai ketentuan 7. Pekerjaan pemantauan lingkungan PLTU Labuhan Angin sebesar Rp117.313. PLN belum mengenakan denda keterlambatan sesuai ketentuan kontrak 6.31 juta tidak didasarkan pada ketentuan yang berlaku 2. Pemberian pinjaman dana talangan (bridging finance) sebesar Rp119.706. PLN Disjabar tidak tegas melaksanakan pengenaan tarif tenaga listrik tegangan tinggi sesuai ketentuan 8.50 juta 9.37 juta atas pengadaan Material Distribusi Utama melalui Perjanjian Kerjasama dengan pabrikan 5.252.00 juta tidak sesuai dengan ketentuan dalam kontrak 13. LAMPIRAN A 1. PLN belum melaksanakan keputusan Direksi tentang sanksi pemutusan aliran listrik kepada pelanggan yang menunggak 12. Laporan Auditor Independen B. yang dapat menyebabkan kerugian negara sebesar Rp106. PLN belum sepenuhnya melakukan penyesuaian Uang Jaminan Langganan terhadap pelanggan yang terkena Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik 10. PLN belum melunasi kekurangan pembayaran pajak sehingga berpotensi dikenai sanksi administrasi 3.

965.64 juta yang belum jelas kelanjutannya dan masih harus dipertanggungjawabkan 4. Terdapat ketidakhematan sebesar Rp810. Terdapat material persediaan Slow Moving di PLN Wilayah Palembang dan Disjaya masing – masing senilai Rp4. Penyesuaian harga kabel twisted tegangan menengah melalui perjanjian kerjasama terlalu tinggi sebesar Rp99.07 juta 2.394. Penerapan sistem Automatic Meter Reading belum memberikan manfaat sesuai yang diharapkan 33 33 36 38 40 41 43 44 55 51 52 54 55 56 65 67 69 ii BPK-RI/AUDITAMA V .09 juta dalam penyesuaian ongkos angkut BBM selama tahun 2004 10. Terdapat kontrak yang memuat ongkos pengangkutan material yang tidak perlu dilaksanakan 11.53 ribu dan Rp2. Modifikasi pusat listrik berbahan bakar solar di Payo Selincah dan Batanghari senilai Rp62.948.23 juta belum didukung dengan kontrak penyediaan gas 14. Pengendalian kewajaran harga pengadaan melalui penetapan Harga Perhitungan Sendiri masih lemah 13.384. Pengendalian atas saldo pembayaran dimuka kepada kontraktor masih lemah 5.515. Lampiran B 1. Perhitungan penyesuaian BBM dalam formula penyesuaian harga batubara untuk listrik swasta Paiton tidak tepat.99 juta dan Rp1.88 juta 9.280.92 juta 15. PLN Cabang Makassar belum sepenuhnya menerapkan tingkat mutu pelayanan dalam penyambungan listrik perumahan 8. Pengendalian atas pengadaan lahan untuk proyek regasifikasi LNG lemah 7.90 juta atas pokok sebesar Rp1.08 juta 12. Laporan Auditor Independen B.135. KEPATUHAN TERHADAP PENGENDALIAN INTERN A. PLN mengembalikan pinjaman sebesar Rp22. Pengendalian intern atas investasi jangka panjang PLN berupa penyertaan saham masih lemah 3. 6.II. Terdapat sisa uang muka pekerjaan jasa supervisi proyek PLTA Peusangan senilai Yen 274. Susut tenaga listrik yang berasal dari pemasangan penerangan jalan umum oleh masyarakat di Jawa Tengah merugikan PLN sebesar Rp112.569.

d 2004 yang penyelesaiannya berlarut-larut 19. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2003 25. Terdapat aktiva hibah dari PT Jawa Power kepada PLN yang belum dicatat sebagai aktiva tetap 22. Pengendalian atas Rekening Koran Bank Receipt PLN S2JB masih lemah 23.00 ribu 18. Pengembangan Program Periperal Hyper TextProtocol untuk Material Cadang dan Pemeliharaan pada PLN P3B Kantor Induk masih belum tepat 20. Nilai kontrak jasa supervisi untuk pembangunan PLTU Labuhan Angin terlalu tinggi sebesar US$87. Proses serah terima proyek antara PLN Pikitring JBN dengan unit pengelola aset berlarut – larut 21. Terdapat 112 kontrak pekerjaan jasa konstruksi sejak tahun 2002 s.16. Pengendalian atas tanah masih lemah 17. Pengendalian angsuran pembayaraan rumah dinas yang dijual masih lemah 24. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2002 71 74 75 76 77 80 80 83 84 96 iii BPK-RI/AUDITAMA V .

I. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN iv BPK-RI/AUDITAMA V .

dan persyaratan bantuan.B/Auditama V/GA/V/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit neraca konsolidasian PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selanjutnya disebut PLN . kontrak. peraturan.tanggal 31 Desember 2004. peraturan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material.A/Auditama.V/GA/V/2005 tanggal 30 Mei 2005 Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan Standar Auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. laporan perubahan ekuitas. dan bantuan yang berlaku bagi PLN merupakan tanggung jawab manajemen. Kepatuhan terhadap hukum. dan telah menerbitkan laporan nomor: 25. tujuan audit kami atas laporan keuangan adalah tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap pasal-pasal tersebut.BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 25. kami melakukan pengujian terhadap kepatuhan PLN terhadap pasal-pasal tertentu hukum. kami 1 BPK-RI/AUDITAMA V . Namun. Oleh karena itu. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material. dan laporan arus kas konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. serta laporan laba rugi.

dalam semua hal yang material. dan persyaratan bantuan disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada Lampiran A. Drs. Namun. Ak. Misnoto. Laporan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi bagi komite audit. pasal-pasal yang kami sebut dalam paragraf di atas. manajemen dan dewan komisaris.tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu. dalam semua hal yang material. kami mencatat masalah-masalah tertentu yang tidak material berkaitan dengan kepatuhan PLN terhadap pasal-pasal tertentu hukum. MA Register Negara No. peraturan. pasal-pasal tersebut. berkaitan dengan unsur yang kami uji. tidak ada satu pun yang kami ketahui yang menyebabkan kami percaya bahwa PLN tidak mematuhi. D-1416 Jakarta. PLN mematuhi. Berkaitan dengan unsur yang tidak kami uji. Namun apabila laporan ini merupakan catatan publik distribusinya tidak dibatasi. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit. Hasil pengujian kami menunjukkan bahwa. 30 Mei 2005 2 BPK-RI/AUDITAMA V .

252. Bonus untuk karyawan sesuai keputusan RUPS tersebut ditetapkan 1. Dari lampiran keputusan RUPS tahun 2003 tersebut diketahui bahwa penghitungan jasprod Dirut PLN sebesar Rp579.096.MBU/2004 tanggal 25 Juni 2004 memberikan jasa produksi (jasprod) tahun 2003 untuk Dewan Komisaris (Dekom).000.701.162.00 sedangkan untuk direktur sebesar 90%. dan Direksi serta bonus kepada karyawan PLN.5 x take home pay bulan Desember 2003 dan pelaksanaannya diserahkan kepada Direksi dan Komisaris.000.446.000 x 30% Nilai kinerja berdasarkan batas maksimal bagian laba dibagikan untuk tantiem direksi dan komisaris.00 Dari uraian tersebut diatas tampak bahwa dalam risalah RUPS pembayaran tersebut menggunakan istilah jasa produksi namun perhitungannya dalam lampiran risalah RUPS tersebut menggunakan perhitungan tantiem. komisaris 36% dan sekretaris komisaris sebesar 15% dari jasprod Dirut PLN.LAMPIRAN A 1.716. Walaupun PLN rugi.450.000. Sehubungan dengan kerugian yang diderita oleh PLN tahun 2002 dan 2003 maka selisih laba operasi tersebut menggunakan nilai pengurangan kerugian PLN tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2002 sebesar Rp6.00 tersebut menggunakan metoda penghitungan tantiem dengan formula sebagai berikut: Tantiem Dirut = (hak x IPT) Catatan: Hak dihitung 14 x gaji x 30% = 14 x 40. komisaris utama 40%.000.00 miliar turun menjadi sebesar Rp1.A/Auditama V/GA/III/2004 tanggal 31 Maret 2004 yang diterbitkan BPK–RI diketahui bahwa PLN menderita rugi usaha sebesar Rp1.450.00.00 + 411.450.00 miliar yakni rugi usaha tahun 2002 sebesar Rp8.000.000. + NK (nilai kinerja) 579.446. selama tahun 2003 dan 2002 PLN menderita rugi sehingga selayaknya tidak ada pembayaran jasa produksi/tantiem ke Direksi 3 BPK-RI/AUDITAMA V .450. Jasprod yang diberikan kepada Dirut sebesar Rp579. Keputusan RUPS tentang pemberian jasa produksi tahun 2003 sebesar Rp186.427.000. ternyata Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) melalui risalah RUPS No. Disamping itu.00 miliar.Ris8/D4.31 juta tidak didasarkan pada ketentuan yang berlaku Sesuai Laporan Auditor Independen atas Laporan Keuangan Konsolidasi PLN Tahun 2003 nomor 08.00 = 168.

00 186. tantiem dan lain-lain yang prosentasenya masing-masing ditetapkan tiap tahun oleh RUPS. maka sebenarnya kepada pegawai PLN telah diberikan Intensif Prestasi Kerja (IPK).00 dengan rincian sebagai berikut: No. kinerja organisasi.232.252. disiplin dan produktivitas kerja.912.409. untuk meningkatkan prestasi. atau pembagian lain seperti tansiem (tantiem) untuk direksi dan komisaris.180. 2. Jumlah pembayaran tantiem/jasprod tahun 2003 yang dibayarkan selama tahun 2004 sebesar Rp186. PLN tidak memotong Pajak Penghasilan (PPh) atas pembayaran jasprod tersebut yang nilai minimalnya 10 % dari jasprod.K/010/DIR/2004 tanggal 25 Juni 2004. akan dibagikan untuk cadangan. serta memberikan penghargaan atas prestasi yang dicapai. deviden.684.941.dan Komisaris serta bonus ke karyawan PLN.312.00 3. Undang – undang No.00 Sebagai tambahan informasi.312.105. 3.120.478. tarif dan disiplin waktu kerja. Nilai IPK yang dibayarkan selama tahun 2004 sebesar Rp179. bonus untuk 4 BPK-RI/AUDITAMA V . Direksi Pegawai Jumlah Dibayarkan kepada Dekom dan sekretaris dekom Tantiem/jasprod Tantiem Tantiem Jasprod Nilai 1.684. 1. penjelasan pasal 62 ayat (1) antara lain menyatakan bahwa RUPS dapat menetapkan sebagian atau seluruh laba bersih akan digunakan untuk pembagian dividen kepada pemegang saham.153.975.186.00.004. Sesuai dengan: a.252. Disamping itu. diketahui bahwa sesuai keputusan RUPS tersebut dinyatakan bahwa RUPS menyetujui pemberian jasprod tahun 2003 untuk dewan komisaris dan direksi dengan catatan pajak ditanggung penerima.500.00 181. Sesuai Surat Keputusan (SK) Direksi PLN No. pemberian IPK tersebut dilakukan untuk setiap semester (6 bulan) berdasarkan faktor kinerja individu.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Anggaran Dasar PLN pasal 28 pembagian laba poin 1 dinyatakan bahwa laba yang ditentukan oleh rapat pemegang saham setelah dikurangi pajak perseroan. b.

050.00 + Rp318. Ada kelompok perusahaan yang dalam tahun 2002 laba usaha negatif dan ada yang mempunyai laba usaha positif. RKAP tahun 2003 dan hasil audit 2003. 5 BPK-RI/AUDITAMA V . Hal tersebut terjadi karena: a.h. Kuasa pemegang saham/RUPS (d.karyawan. Bagian Keuangan PLN Kantor Pusat(KP) tidak memungut PPh atas pembayaran jasprod kepada Dekom dan Direksi PLN. Dibandingkan antara hasil audit tahun 2002.310. b. PLN menanggapi bahwa dasar keputusan RUPS adalah bahwa jasprod dan bonus tersebut merupakan insentif atas kerja keras selama tahun 2003 dan justifikasinya perhitungannya telah didasarkan kriteria berikut: a.40) dalam kondisi perusahaan yang sedang mengalami kerugian cenderung membebani keuangan PLN.697. c. Pembayaran tantiem/jasprod senilai Rp186.312. Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Deputi Usaha Pertambangan. Mendasarkan ketentuan tersebut di atas seharusnya setiap pembayaran tantiem/jasprod selalu dikaitkan dengan perolehan laba perusahaan. Industri Strategis.252. BPK – RI menyarankan agar: a. PLN menagih PPh jasprod kepada Dekom dan Direksi PLN penerima jasprod tahun 2003. cadangan dana sosial dan lain-lain. Kriteria ini berlaku umum untuk BUMN dibawah Deputy V kantor Meneg BUMN dan dijelaskan dalam rapat tanggal 28 Juni 2004 yang dihadiri oleh BUMN dibawah Deputy V. Deputi Bidang Usaha Pertambangan. Industri Strategis.00 dan PPh jasprod minimal sebesar Rp434. atau penempatan laba bersih tersebut dalam cadangan perseroan yang antara lain diperuntukkan bagi perluasan usaha perseroan. Energi dan Telekomunikasi Kementerian BUMN) tidak mentaati ketentuan perundangan yang berlaku.500.i. b.40 (Rp115.008.684.550. Energi dan Telekomunikasi Kementerian BUMN terkait dengan pemberian jasprod kepada Dekom dan Direksi PLN serta bonus kepada karyawan PLN tahun 2003. b.

00 + Rp4.00 38. dan tgl penerbitan SKPKB 00066/207/02/051/04 tgl 2/11/04 00014/287/02/051/04 tgl 2/11/04 00002/202/02//05/04 tgl 2/11/04 00033/203/02/051/04 tgl 2/11/04 00034/201/051/04 tgl 2/11/04 Nilai (Rp) 5. Jenis Pajak PPN PKP PPN WAPU PPh pasal 22 Dalam Negeri PPh pasal 23 PPh pasal 21 Jumlah No.5113/547/DD. 1.636.223.826. Atas hal tersebut.534. Sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan No.654. PLN telah menyampaikan surat permohonan keberatan kepada Kepala KPP BUMN yaitu No.16 Tahun 2000 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang No. Sedangkan 3 SKPKB lainnya sebesar Rp32.00 . PLN belum melunasi kekurangan pembayaran pajak sehingga berpotensi dikenai sanksi administrasi Pada bulan Nopember 2004.534.00 Dari kelima SKPKB tersebut telah dibayar oleh PLN sebanyak 2 buah yaitu untuk SKPKP PPh pasal 23 dan pasal 21 sejumlah Rp6. PLN telah menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dari Direktorat Jenderal Pajak Kantor Pelayanan Pajak Badan Usaha Milik Negara (KPP BUMN) sebanyak 5 buah terdiri dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPh dengan rincian sebagai berikut: No.551.290. PLN tidak melunasi sisa SKPKB tersebut karena terdapat beberapa transaksi perhitungan dalam SKPKB yang menurut PLN tidak termasuk obyek pajak.776.005/12/04 BEIIIA tanggal 6 Desember 2004. 6 BPK-RI/AUDITAMA V . 4.497.413.00 (Rp1.323.323.00 1.413.787. 8049/547/DD.8050/547/DD.353.982.092.00) belum dilunasi.327.449.00 4. No.497.290.419.Rp6.540.00) melalui Bank Mandiri ex Bank Exim sesuai bukti jurnal No.962.00 22. 3.223.983.551.2.826.BDH/2004 tanggal 10 Desember untuk perhitungan PPN Wajib Pungut (WAPU) dan No.982.298.BDH/2004 tanggal 10 Desember 2004 untuk perhitungan PPh pasal 22 Dalam Negeri.636.253.677. 2.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan perihal SKPKB diatur hal berikut: a.677.00 4. Pasal 9 (3) : SKPKB yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. Menurut penjelasan dari Dinas Perpajakan PLN Kantor Pusat (KP).00 (Rp38. 5.983.BDH/2004 tanggal 23 Desember 2004 untuk perhitungan PPN KP.

BPK – RI menyarankan agar PLN mentaati ketentuan perpajakan. Pasal 25 (7) : Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak c.d. dan PLN waktu itu mengajukan permohonan untuk tidak dulu membayar SKPKB karena akan membayar Pajak Revaluasi tahun 2004. dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan untuk seluruh masa. 3. Hal tersebut terjadi karena Direktorat Keuangan PLN tidak memperhatikan ketentuan perpajakan yang berlaku. Hal tersebut mengakibatkan PLN berpotensi dikenai sanksi administrasi minimal sejak bulan Desember 2004 s.40 (2% x 5 bulan x Rp32.626.244. Kantor Pelayanan Pajak BUMN menyetujui secara lisan dengan catatan PLN mempunyai niat baik untuk melunasi dengan tidak mengajukan keberatan secara keseluruhan.40 akan gugur atau tidak terutang pajak apabila keberatan dikabulkan.636.935.364.353. Pasal 19 (1) : apabila pada saat jatuh tempo pembayaran tidak atau kurang dibayar.654. PLN akan mengajukan keberatan untuk 5 (lima) SKPKB. maka atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu. Pemberian pinjaman dana talangan (bridging finance) sebesar Rp119. April 2005 sebesar Rp3.323.244.44 juta tidak sesuai dengan ketentuan Akun Pembayaran Dimuka kepada kontraktor dengan kode akun no. yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal pembayaran atau 1 (satu) bulan setelah diterbitkan SKPKB. Selanjutnya denda sanksi administrasi sebesar Rp3.534.401 pada 7 BPK-RI/AUDITAMA V .935.harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Dengan demikian PLN hanya membayar 2 (dua) SKPKB sebesar Rp6.449. b.365.00. PLN merasa yakin keberatan akan dikabulkan karena penambahan aktiva yang menurut pemeriksa merupakan obyek pajak yang harus dipungut PPN dan PPh Pasal 22 merupakan penambahan aktiva karena revaluasi aktiva yang tidak terutang PPN dan PPh pasal 22.952. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.100. PLN menjelaskan bahwa setelah dikoordinasikan dengan Kantor Pajak.00).

13 Juli 1998 dan Amandemen No. Namun pemberian bridging finance tersebut tidak mendapatkan persetujuan tertulis dari Komisaris atau RUPS.891.12 Desember 2002 Proyek Three Distribution Control Centres di Sumatera 2 ALSTHOM T&D SA (u Tj Jt B) Side Agreement 19 September 2003 017. Bridging Finance No.30 Desember 2004 013.440. tgl. Pengeluaran dana PLN untuk bridging finance tersebut tidak pernah dianggarkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) PLN tahun 2003 dan 2004 yang disetujui oleh RUPS. tgl.00 Dari ketiga kontrak bridging finance tersebut diketahui bahwa: a. Proyek yg ditalangi Proyek yang ditalangi Jadwal Pengembalian 7 Hari setelah kontraktor menerima pembayaran atau cairnya Loan No.347.952.IND0062 Jumlah finance bridging (Rp) 2.092.10598 31.PJP/546/DIRTN D/2004 tgl. yaitu: 8 BPK-RI/AUDITAMA V .PJP/922/1998/M.423. yang karena suatu sebab pinjaman tersebut belum cair. Sibolga A) 86.A04/2004. Berdasarkan Daftar Rekapitulasi Bulanan Pembayaran Dimuka kepada Kontraktor per 31 Desember 2004 yang dibuat oleh Dinas Akuntansi Kantor Pusat (DKP) diketahui terdapat Pembayaran Dimuka kepada Kontraktor sebesar Rp119. Kontrak & tgl. Rincian bridging finance tersebut adalah sebagai berikut: No.181.227. Di dalamnya terdapat saldo dana talangan (Prefinance/Bridging Finance) kepada kontraktor untuk proyek yang didanai oleh pinjaman luar negeri. tgl.117. Ansaldo. tgl.00.00 1 Maunsel Limited 0142. Bukit Sunur.posisi Laporan Keuangan PLN Kantor Pusat (KP) posisi per 31 Desember 2004 bersaldo sebesar Rp141.138.A01/2002.00 kepada 3 Kontraktor yang merupakan bridging finance (dana talangan). Ketiganya sudah mendapatkan persetujuan melalui Perjanjian Penerusan Pinjaman (Subsidiary Loan Agreement/SLA).347.28 Oktober 2002 Lot 13:500/150 kV Associated Transmission Lines of Private Power Plant Project (Tj Jati.PJ/060/DIR/200 4. tgl.826.387.00 - 3 ABB AGPower Line Division 0320.PJ/061/DIR/2002. 31 Maret 2004 Lot 15: Sulawesi 150 kV Transmission Lines 14 Hari setelah kontraktor menerima pembayaran atau cairnya KFW-Loan No.255.597.PJ/922/1998/M dan Amandemen No. Nama Kontraktor No.16 Maret 2004 0066.Kontrak & tgl.

sesuai surat dari Direktur Keuangan PLN kepada Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK) nomor 00634/520/DITKEU/2005 tanggal 31 Januari 2005. & Tgl.0/-/2005 tanggal 23 Pebruari 2005 dari Direktur Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan RI dengan nilai total sebesar Rp125.000. sesuai surat dari Direktur Keuangan PLN kepada DJAPK nomor 00634/520/DITKEU/2005 tanggal 31 Januari 2005. Dari Ketiga bridging financenya tersebut prosesnya sampai saat ini adalah sebagai berikut: 1) Untuk pembiayaan Proyek Three Distribution Control Centres di Sumatera (SLA1173/DP-3/2004) baru dalam tahap pengajuan permohonan alokasi dana dalam Satuan 3 APBN 2005.00 yang termasuk di dalamnya porsi 9 BPK-RI/AUDITAMA V . SLA Uraian Dana Pinjaman yang berasal dari Islamic Development Bank (IDB) dengan perjanjian pinjaman nomor IND-0062 tanggal 15 Juni 1998 untuk pembiayaan Proyek Three Distribution Control Centres di Sumatera Dalam rangka penggunaan Dana Eks Calyon (Lead Manager) dan BNP Paribas (Co Lead Manage) untuk pembiayaan Proyek Lot 13 : 500 Kv dan 150 Kv Associated Transmission Lines of Private Power Plant Project Dana Pinjaman yang berasal dari Kreditanstalt fur Wiederaufbau (KFW) dengan perjanjian pinjamanan nomor 10598 tanggal 12 Desember 2003 untuk pembiayaan Proyek Lot-15 Sulawesi 150 Kv Transmission Lines 1 Maunsel Limited SLA-1173/DP3/2004.No.000. 16 September 2004 3 ABB AG-Power Division Line SLA-1183/DP3/2004.000. 2) Untuk pembiayaan Proyek Lot 13 : 500 kV dan 150 kV Associated Transmission Lines of Private Power Plant Project (SLA-1175/DP-3/2004) baru dalam tahap pengajuan permohonan Alokasi Dana dalam Satuan 3 APBN 2005. Nama Kontraktor No. 15 Desember 2004 b. 3) Untuk pembiayaan Proyek Lot-15 Sulawesi 150 kV Transmission Lines (SLA1183/DP-3/2004) sudah mendapatkan Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Proyek (DIPA) Tahun Anggaran 2005 Nomor:034.0/69-03. 20 Agustus 2004 2 ALSTHOM T&D SA (u Tj Jt B) SLA-1175/DP3/2004.

00) karena digunakan untuk memberikan bridging finance kepada 10 BPK-RI/AUDITAMA V .00 kontraktor.138. yaitu menerima dan/atau memberikan pinjaman jangka menengah/panjang serta memberikan pinjaman jangka pendek yang bersifat operasional/melebihi jumlah tertentu yang ditetapkan oleh RUPS. PLN menjelaskan bahwa ketiga kontrak tersebut terkait dengan proyek lain sehingga tertundanya penyelesaian kontrak–kontrak ini akan berdampak pada kerugian yang lebih besar bagi PLN.423.00 + Rp86.227. Sesuai dengan Perubahan Anggaran Dasar PLN Tahun 1998 pasal 11 tentang tugas dan wewenang Direksi.00 dan masih dalam proses pengajuan Surat Kuasa Pembebanan (SKP) dan Letter of Credit (L/C). pada: a. ayat 9 huruf c. buktinya kontraktor tidak dikenakan bunga pinjaman karena tidak menikmati fasilitas ini tetapi memang haknya untuk dibayar.826.387.181. ayat 6 huruf b.511. BPK – RI menyarankan agar Direksi PLN meminta persetujuan komisaris PLN dan atau RUPS untuk setiap pemberian bridging finance kepada kontraktor.117. (Rp2.440.347.092. Hal tersebut mengakibatkan PLN KP tidak dapat memanfaatkan dana sebesar Rp119. berikut b.347. Bridging finance bukanlah pinjaman kepada kontraktor yang memerlukan ijin RUPS.00 + Rp31. menyebutkan antara lain bahwa perbuatan Direksi harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Komisaris untuk memberikan pinjaman jangka pendek atas nama Perseroan dengan memperhatikan ayat 9 huruf c. Hal tersebut terjadi karena Direksi PLN tidak mematuhi anggaran dasar perusahaan.untuk Lot-15 sebesar Rp84.952. menyebutkan antara lain bahwa perbuatan ini hanya dapat dilakukan oleh Direksi setelah mendapat persetujuan dari RUPS dan persetujuan tersebut diberikan setelah mendengar pendapat dan saran dari Komisaris dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku. PLN meminta kontraktor memulai pekerjaan sedini mungkin dan untuk tahapan prestasi pekerjaan tersebut PLN membayarnya dengan dana APLN karena pendanaan SLA belum tersedia.200.000.

200. 1.000 3.000 37.000 1. PLN lebih bayar sebesar Rp869. 1 2 Masa Berlaku (Periode) 2 Volume Pengadaan thn 2004 3 Harga Satuan 4 Pembanding Unit 5 Harga 6 Selisih Harga 7=4-6 Jumlah Kemahalan 8=3x7 Disjateng Kabel NFA2X 0.390.666.000 101.000 2.723.873.065 Disjaya Disjabar 1. 2 x 10 mm2 KWH Meter Fase Tunggal 230 V 5/20 A kelas 2 Sub jumlah 290.856 2.382.465 52.750 221.846.952.000 47.325 101.690 B.325 2.400 Disjaya 170. 4.000 15.00 dengan rincian perhitungan sebagai berikut: No.866 2.519.950 89.465 66.835.307 869.000 3. maka harga satuan barang akan disesuaikan dengan harga yang lebih rendah 11 BPK-RI/AUDITAMA V .997.714.11 Oct 12 .377.075 79. Disjabar NA2XSEYBY 3 x 240 mm2 Trafo 3 phasa 20 KV 315 KVA Trafo 3 phasa 20 KV 400 KVA KWH Meter Fase Tunggal 230 V 5/20 A kelas 2 Sub jumlah Jumlah A + B PPN 10% Total selisih harga 499.888. 5.600 1.635 790.000 634.377.040.600 469 25 2.326.065 Disjaya Disjaya Disjaya 34.034.37 juta atas pengadaan Material Distribusi Utama melalui Perjanjian Kerjasama dengan pabrikan Dalam pelaksanaan kontrak Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan pabrikan tahun 2004 ternyata harga beberapa Material Distribusi Utama (MDU) sejenis yang dijual di PLN Distribusi Jawa Tengah (Disjateng) dan Distribusi Jawa Barat (Disjabar) lebih tinggi dari harga MDU di PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang (Disjaya) sehingga dalam pemeriksaan BPK–RI ditemukan kelebihan pembayaran sebesar Rp869.31 Oct Okt – Des 113.300 98.000 98.440 1 .490 173.1 KV.343.6/0.000 182.382 24 Mei – 8 Juli 55.635 Sesuai ketentuan PKS diatur bahwa apabila dalam periode waktu berlakunya harga satuan barang diatas pihak kedua (dalam hal ini pihak pabrikan) ternyata melakukan penjualan kepada unit distribusi lainnya dengan harga yang lebih rendah dari harga satuan barang di atas.752.4. Sep – Des Sep – Des Okt – Des 39 25 74. MDU 1 A.000 39.400 188.139 36.

Masing . PLN Disjateng dan PLN Disjabar tidak mentaati ketentuan harga dan pembayaran sesuai yang diatur dalam kontrak PKS. PLN Disjateng dan PLN Disjabar setuju dengan temuan BPK–RI dan akan menagih selisih harga PKS tersebut pada pabrikan yang bersangkutan. PLN belum mengenakan denda keterlambatan sesuai ketentuan kontrak Dari pemeriksaan atas pelaksanaan kontrak pengadaan dan pemborongan pekerjaan tahun 2004 diketahui bahwa terdapat rekanan yang belum dikenakan denda keterlambatan sebesar Rp4. 5.382. PLN Disjateng memesan kabel Tegangan Menengah (TM) 3x20+50 mm2 sebanyak 23.402. Masalah tersebut mengakibatkan terjadi kelebihan pembayaran MDU ke pabrikan sebesar Rp869. Berhubung PT TK s. PLN Disjateng 1) Kontrak PKS atas kabel Berdasarkan surat pesanan No.d. b.088 meter dan 12 BPK-RI/AUDITAMA V . Hal tersebut terjadi karena: a.951.00. akhir Nopember 2004 tidak dapat memasok kabel sesuai kontrak. b.780. Belum ada usaha diantara PLN Distribusi untuk saling memberikan informasi harga MDU loko pabrikan. BPK–RI menyarankan agar: a.377.00 dengan rincian sebagai berikut: a.826.00 kepada PT Terang Kita (PT TK).039. maka diterbitkan addendum pengurangan volume pekerjaan menjadi sebesar 7.198 meter senilai Rp3. PLN Disjateng dan Disjabar menagih selisih harga MDU tahun 2004 ke para pabrikan.SP/061/BIDIS/2004 tanggal 1 September 2004.tersebut.masing distribusi saling memberi dan atau mencari informasi harga MDU selama periode tertentu sebelum menerbitkan surat pesanan.000.108. Waktu penyerahan paling lambat tanggal 24 September 2004. Apabila telah terjadi transaksi pembayaran maka pihak pabrikan wajib mengembalikan kelebihan pembayaran sebesar jumlah barang yang dipasok dikalikan selisih harga satuan barang dengan memperhatikan PPN yang telah dibayar.

27% s.385. PLN Disjaya Pekerjaan pengadaan/pembangunan konstruksi Sambungan Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 20 kV dilaksanakan dalam 4 kontrak dengan total nilai Rp22.800. sehingga pelaksana kontrak harus dikenakan denda sejumlah Rp1.736.780.00.010. ITB.038.222.perpanjangan jangka waktu penyerahan sampai dengan tanggal 28 Desember 2004 yang dituangkan dalam surat pesanan No.09%.650. PLN KP Pekerjaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Indralaya 2 dilaksanakan oleh konsorsium PT Indonesia Power – PT Imeco Inter Sarana berdasarkan kontrak No. Sampai dengan saat pemeriksaan tanggal 15 Pebruari 2005 penyelesaian pekerjaan tersebut baru mencapai 36.02/SP/061/BIREN/2004 tanggal 3 Desember 2004. b.00 atas keterlambatan tersebut. 80. sehingga harus dikenakan denda maksimum sebesar Rp378.774.00 dan US$111. Waktu penyelesaian pekerjaan paling lambat antara tanggal 14 September s.00) atas keterlambatan tersebut (sejak tanggal 24 September 2004). dan UGM) bekerjasama dengan perusahaan swasta. Pekerjaan harus selesai paling lambat tanggal 8 Agustus 2004. sehingga pelaksana harus dikenakan denda minimal sebesar Rp1. Sampai dengan saat pemeriksaan tanggal 14 Pebruari 2005 seluruh kontrak tersebut belum selesai. Undip.00 dengan pembayaran secara angsuran selama 15 tahun.0100-3.00. 17 Desember 2004.608.00 (10% x Rp3.619.554.447.00 dan US$18. PT TK belum juga menyerahkan material di gudang PLN. 12 Nopember 2004.00 atau 13 BPK-RI/AUDITAMA V . Waktu penyelesaian pekerjaan paling lambat antara tanggal 14 Nopember s.500. Pekerjaan tersebut selesai tanggal 14 Agustus atau terlambat 6 hari sehingga pelaksana pekerjaan harus dikenakan denda sebesar Rp147.399.759.200.715.SPK/063/DIRUT/2003 tanggal 19 September 2003 senilai Rp24. Sampai dengan saat pemeriksaan tanggal 14 Pebruari 2005.d. 2) Kontrak pengembangan sarana teknologi informasi dan survai pelanggan Pengembangan sarana teknologi informasi dan survai pelanggan dilaksanakan dalam 9 kontrak dengan total nilai kontrak Rp66.00 atas keterlambatan tersebut. Pekerjaan dilaksanakan oleh universitas (UI.548.200. c.000.854.913.d.108.000.d.

00 + Rp1. 6.00 + Rp1.826.033/PST/87 tanggal 14 Pebruari 1987 diketahui bahwa PT Gunung Garuda (PT GG) adalah industri peleburan baja dan merupakan pelanggan I-4 14 BPK-RI/AUDITAMA V .913.402.Pj.390.00 (Rp378.390. Sesuai ketentuan kontrak.038.385.00 + Rp1.554. Area Pelayanan Jaringan (APJ) Bogor Sesuai dengan SPJBTL No.208.000 kVA. BPK–RI menyarankan agar PLN memberi sanksi kepada rekanan yang belum melaksanakan pekerjaan dan mengenakan denda atas setiap keterlambatan penyelesaian sesuai ketentuan kontrak.00 = Rp9. PT AP merupakan pelanggan bukan tanur busur.951. diketahui bahwa PT Aspex Paper (PT AP) adalah industri pengolahan kertas dan merupakan pelanggan I-4 dengan daya 45. setiap hari keterlambatan dikenakan denda sebesar 1 per mil dari nilai pekerjaan/kontrak dengan denda maksimum 10%.447. Hal tersebut terjadi karena PLN Disjateng. Berita Acara Resetting Relay (BARR).200.00).00 (kurs US$1. APJ Bekasi Sesuai dengan SPJBTL No.131/PST/84 tanggal 1 Mei 1984 dan amandemen III tanggal 10 Pebruari 2000. namun rele pembatas disetel pada 115% dari daya kontrak. PLN Disjabar menyalurkan tenaga listrik ke pelanggan industri besar tidak sesuai ketentuan Pemeriksaan atas Arsip Induk Langganan pelanggan industri besar (I – 4) PLN Disjabar yaitu Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL). Masalah tersebut mengakibatkan PLN belum dapat memanfaatkan material/jasa tersebut untuk kegiatan operasi perusahaan dan belum mengenakan denda keterlambatan sebesar Rp4.Pj.senilai ± Rp1. serta Berita Acara Pembacaan Meter (BAPM) diketahui hal–hal berikut: a.00). Disjaya dan KP kurang tegas melaksanakan kesepakatan kontrak. PLN Disjateng. Disjaya dan KP menjelaskan akan mengenakan denda keterlambatan kepada pelaksana pekerjaan sesuai dengan ketentuan kontrak.800.208.200.854. b.500.010.

Rele pembatas pelanggan I-4 bukan tanur busur disetel pada daya kontraknya. Sesuai BAPM trafo 2 bulan Mei dan Juli 2004. Setting relay setiap pelanggan seharusnya didasarkan pada Surat Edaran (SE) Direksi PLN No.Pj.000 kVA dan 45.E/012/DIR/2002 tanggal 31 Desember 2002 dan ketentuan yang ditetapkan dalam kontrak. Berdasarkan BARR tanggal 20 Maret 2000 diketahui bahwa PT GG dialiri listrik melalui dua trafo yakni trafo 2 dan trafo 5 dengan daya masing-masing 20.25 A dan 6 A.000 kVA (36.dengan daya 65. pemakaian daya maksimum yang diukur melalui alat kVA maks pernah mencapai 36.530 kVA dengan masing-masing trafo sebesar 46.000 kVA).25 x 200/5 x √3) dan trafo2 sebesar 62.000 kVA. APJ Banten 1) Sesuai dengan SPJBTL No.000 kVA.750 kVA.Pj/471/1991/M tanggal 9 Juli 1991 diketahui bahwa PT Petrokimia Nusantara Interindo (PT PENI) merupakan pelanggan I-4 dengan daya 40. Dengan demikian daya terpasang PT AMI sebenarnya adalah 93.000 kVA. Hal tersebut menunjukkan bahwa BARR trafo 2 sebesar 23. Dengan demikian daya tersambung melalui trafo 2 terlalu tinggi sebesar 16.000 kVA. antara lain: a.000 kVA. tidak sesuai dengan kondisi di lapangan yang mencapai 36.765 kVA (150 x 3 x 300/5 x √3). Data setting over current relay (OCR) menunjukkan bahwa PT PENI dialiri listrik melalui dua trafo yaitu trafo 1 dan trafo 2 yang masing-masing mempunyai rasio Current Transformer (CT) 200/5 A dan setting arus pada OCR masing-masing trafo 6.000 kVA.069. PT GG merupakan pelanggan tanur busur.000 kVA dan 51. rele pembatas disetel 115% dari daya kontrak sehingga daya terpasang masing-masing trafo seharusnya sebesar 23.306 kVA yaitu pada trafo 1 sebesar 64.000 kVA – 20. c. Dengan demikian daya terpasang PT PENI sebenarnya adalah 127.000 kVA. 15 BPK-RI/AUDITAMA V .952 kVA (150 x 6. Sesuai Tarif Dasar Listrik.021. 354 kVA (150 x 6 x 200/5 x √3). 2) PT Amoco Mitsui PTA Indonesia (PT AMI) merupakan pelanggan I-4 dengan daya kontrak sebesar 31. Data setting OCR menunjukkan bahwa PT AMI dialiri listrik melalui dua trafo yang masing-masing mempunyai rasio CT 300/ 5 A dan setting arus masing-masing 3 A.

200 16 BPK-RI/AUDITAMA V . 7. c. Hal tersebut terjadi karena PLN Disjabar dan PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) secara bersama–sama tidak menerapkan setting rele daya sesuai ketentuan. Besar daya tersambung adalah arus sekunder dikali faktor kali CT dikali tegangan primer. BPK–RI menyarankan agar PLN melakukan pengecekan setting rele pelanggan industri lainnya. Penyaluran tenaga listrik ke PT TIS tersebut didasarkan pada SPJBTL Nomor Pj. invoice rekening listrik dan bukti setoran pembayaran rekening listrik PT TIS diketahui bahwa pemakaian kVA maks selama tahun 2004 telah melebihi 110% dari daya kontrak dan wajib naik daya sekurang-kurangnya sebesar 25.b. PLN Disjabar tidak tegas melaksanakan pengenaan tarif tenaga listrik tegangan tinggi sesuai ketentuan Berdasarkan temuan pemeriksaan BPK–RI atas pemeriksaan laporan keuangan tahun buku 2003 diketahui bahwa pemakaian kVA maksimal (kVA maks) PT Toyogiri Iron & Steel (PT TIS) selama bulan Pebruari sampai dengan Desember 2003 telah melebihi 110% dari daya terpasang namun belum ada tindak lanjut dari manajemen PLN Disjabar untuk mengaddendum kontrak/SPJBTL. PLN menjelaskan akan berkoordinasi dengan P3B untuk melakukan penyetelan kembali rele sesuai SE Direksi No.021. melakukan setting rele kembali pelanggan yang setting rele pembatasnya tidak sesuai ketentuan dan melaksanakan penyaluran tenaga listrik ke pelanggan sesuai ketentuan.145/PST/89 tanggal 19 Juni 1989 dengan daya 20. Rele pembatas pelanggan I-4 tanur busur disetel pada 115 % dari daya kontrak. Teknis penyetelan rele terpaksa dijadwal sesuai kesiapan pelanggan untuk dipadamkan selama penyetelan rele dilakukan oleh PLN. Sesuai BAPM selama tahun 2004.500 kVA yang berlokasi di APJ Bekasi.E/012/DIR/2002 tanggal 31 Desember 2002 dan apabila ada kewajiban pelanggan akan ditagihkan kepada yang bersangkutan. Semua pelanggan tersebut telah bersedia melaksanakan hal ini. Hal tersebut mengakibatkan pelanggan dapat menggunakan daya melebihi daya kontrak.

00).700. SE Direksi PLN No.E/012/DIR/2002 tanggal 31 Desember 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tarif Tenaga Listrik Tegangan Tinggi antara lain menyatakan bahwa Rele pembatas pelanggan I-4 tanur busur disetel pada 115 % dari daya kontrak dan apabila pemakaian daya tertinggi melebihi 110% dari daya tersambung/daya kontrak sesuai SPJBTL.000. Hal tersebut terjadi karena PLN Disjabar tidak memperhatikan temuan BPK– RI. tidak menerapkan setting rele daya sesuai ketentuan dan belum sepenuhnya melaksanakan SE Direksi PLN No.021. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya tersambung PT TIS terlalu tinggi sebesar 4.E/012/DIR/2002 tanggal 31 Desember 2002.000 x Rp200. 021.000. PLN Disjabar.700 kVA (25.000. maka daya tersambungnya harus dinaikkan (tambah daya dengan pengenaan BP atau Uang Jaminan Langganan (UJL)) menjadi sekurang-kurangnya sebesar daya kVA yang terukur pada bulan yang bersangkutan.00.00 (4. PLN menjelaskan bahwa PT TIS adalah pelanggan I – 4 yang menggunakan tanur busur dengan batasan kVA maks yang disetting sesuai ketentuan sebesar 115%.200 kVA – 20. Hal tersebut mengakibatkan PLN kehilangan kesempatan memperoleh penerimaan BP sebesar Rp940.500 kVA)). BPK–RI menyarankan agar Direksi PLN segera menerbitkan ketentuan tambahan sebagai penegasan atas pelanggan yang diharuskan tambah daya bila menggunakan daya melebihi 110% dari daya kontrak dan PLN Disjabar meminta PT TIS untuk mengajukan tambah daya kontrak.E/012/DIR/2002 tanggal 31 Desember 2002 tersebut yang mengharuskan pelanggan menambah daya apabila penggunaan dayanya melebihi 110% dari daya kontrak dan ketentuan batasan kVA maks sebesar 115% dari daya kontrak untuk pelanggan yang menggunakan tanur busur maka Direksi PLN akan menerbitkan ketentuan untuk menegaskan kondisi tersebut. Nilai BP atas kelebihan daya tersebut sebesar Rp940. 17 BPK-RI/AUDITAMA V . Guna menghilangkan kerancuan sebagai akibat maksud SE Direksi No.kVA.000. 021.

SE Direksi PLN No.5 menyatakan bahwa biaya beban yang diperhitungkan dalam rekening listrik pelanggan I-4 adalah berdasarkan kVA maksimal dalam bulan yang bersangkutan dan minimal sebesar daya kontrak atau daya tersambung. Total tagihan biaya beban berjumlah Rp2.313.E/012/DIR tanggal 31 Desember 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tarif Tenaga Listrik Tegangan Tinggi bagian Pembatasan dan Pengukuran point 2.225.00.00.499. Hal tersebut terjadi karena PLN Cabang Makassar tidak tegas terhadap pelanggan yang tidak membayar tagihan rekening listrik dan PLN belum mempunyai ketentuan mengenai sanksi atas keterlambatan pembayaran pelanggan di luar tunggakan rekening listrik (biaya keterlambatan). Nopember 2004 selalu diatas daya kontrak sesuai dengan yang tercatat dalam kVA maks. 18 BPK-RI/AUDITAMA V .50 juta PT Semen Bosowa merupakan pelanggan listrik I-4 PLN Cabang Makassar dengan daya kontrak 30.d. PLN menjelaskan akan melanjutkan upaya penagihan piutang ini dengan memungkinkan alternatif pembayaran secara mengangsur.000 KVA. PLN Cabang Makassar tiap bulan telah menagih kelebihan daya kontrak tersebut. Hasil pemeriksaan BAPM Transmisi Tenaga Listrik GI tahun 2004 menunjukkan bahwa realisasi daya tersambung sejak Oktober 2003 s. PT Semen Bosowa menunggak kekurangan biaya beban sejak Oktober 2003 sebesar Rp2.225. 021.8. namun sampai dengan pemeriksaan tanggal 8 Desember 2004 PT Semen Bosowa tidak bersedia membayar tagihan biaya beban atas selisih daya kVA maks dengan daya kontrak.313. Hal tersebut mengakibatkan PLN belum dapat memanfaatkan pendapatan yang berasal dari selisih biaya beban sebesar Rp2. BPK – RI menyarankan agar PLN Cabang Makasar tegas dalam melaksanakan ketentuan penjualan tenaga listrik dan mengupayakan PT Bosowa bersedia melunasi tagihan kekurangan biaya beban. serta Direksi PLN segera menerbitkan ketentuan mengenai sanksi atas keterlambatan pembayaran pelanggan di luar tunggakan rekening listrik (biaya beban dan biaya lainnya).313.499.

Hal tersebut terjadi karena Bagian Pemasaran dan Niaga PLN Cabang Makassar dan Palembang belum sepenuhnya menerapkan ketentuan tentang penyesuaian UJL. Tunggakan tersebut 19 BPK-RI/AUDITAMA V . telah mengungkapkan bahwa terdapat tunggakan pembayaran rekening listrik PEP sebesar Rp88.215.068.PJ 054/PST/87 tanggal 1 Agustus 2001. Hal tersebut mengakibatkan tujuan penyesuaian UJL guna mengamankan tagihan penjualan tenaga listrik sesuai yang ditetapkan dalam SK Direksi PLN tidak tercapai. 2003.226.K/010/DIR/2002. Terdapat penyimpangan penyaluran aliran tenaga listrik kepada PT Polysindo Eka Perkasa Tbk.706.243.9. PLN Cabang Makassar dan Palembang menjelaskan bahwa sebagian cabang untuk penyesuaian UJL masih berpedoman pada Keputusan Direksi (Kepdir) No. (PEP) didasarkan pada Surat Perjanjian No. BPK–RI menyarankan agar PLN menerbitkan tagihan susulan atas P2TL sesuai ketentuan serta Satuan Pengawasan Intern (SPI) mengikuti dan memantau kepatuhan pelaksanaan tagihan susulan terhadap ketentuan yang berlaku.K/010/DIR/2000 dan telah menginstruksikan seluruh unit/rayon untuk segera melakukan perhitungan tagihan susulan sesuai Kepdir No.PJ 054/PST/87 tanggal 19 Maret 1987 dan terakhir diubah dengan Suplemen VII No. Keputusan Direksi PLN No.383. yang dapat menyebabkan kerugian negara sebesar Rp106. Hasil pemeriksaan BPK-RI atas laporan keuangan PLN Tahun Buku 2003 yang dilakukan tahun 2004.00 sejak tahun 1999 s.215.K/010/DIR/2002 tentang UJL Pasal 6 Ayat (2) yang antara lain menyebutkan bahwa penyesuaian UJL bagi pelanggan harus dilaksanakan pada saat penyelesaian tagihan susulan akibat penertiban pemakaian tenaga listrik. PLN belum sepenuhnya melakukan penyesuaian Uang Jaminan Langganan terhadap pelanggan yang terkena Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik Pemeriksaan uji petik atas laporan pemeriksaan tagihan susulan Penertiban Penyaluran Tenaga Listrik (P2TL) tahun 2004 dan bukti pembayarannya menunjukkan bahwa PLN Cabang Makassar dan Palembang belum melakukan penyesuaian UJL terhadap pelanggan yang kena P2TL.d. 10.67 juta Penjualan tenaga listrik kepada PT Polysindo Eka Perkasa Tbk.

461.00.674. PEP menyatakan kesanggupannya untuk melunasi seluruh biaya penggunaan listrik pada akhir Pebruari 2004. dan menyelesaikan kasus Texmaco (PEP termasuk dalam Texmaco Group) melalui sidang kabinet yang dilaksanakan pertengahan Pebruari 2004. c.693. sedangkan penyelesaian sisa tunggakan yang belum dibayar akan dibahas minggu ke-3 bulan Februari 2004. Surat jawaban PEP tanggal 7 Pebruari 2005 atas surat konfirmasi Tim BPK-RI perihal konfirmasi saldo piutang aliran listrik.946.610.643.664.00 dan BK sebesar Rp36.belum termasuk Biaya Keterlambatan (BK) sebesar Rp24. PLN tetap tidak melakukan pemutusan aliran listriknya. PEP tidak pernah merealisasikan kesanggupan yang telah dijanjikan sebagaimana tersebut di atas. Sesuai surat Gubernur Jateng No. General Manager PLN Disjateng maupun Direksi PLN belum melaksanakan pemutusan aliran listrik pada pelanggan PEP tersebut.180/168/809 tanggal 19 Desember 2003. Tunggakan pembayaran rekening listrik PEP per 31 Desember 2004 sebesar Rp108.664.d.180/168/809 tersebut kepada Direktur Utama PLN yang merekomendasikan penangguhan pemutusan aliran listrik s. Sesuai hasil rapat PLN dan PEP tanggal 16 Desember 2003. Sampai dengan akhir 20 BPK-RI/AUDITAMA V . Alasan penundaan pemutusan aliran listrik PEP antara lain surat Gubernur Jawa Tengah No.377. PLN ternyata tidak membukukan BK ke dalam laporan TUL IV-04 dan pendapatan PLN. b. PEP menyelesaikan tunggakan setelah investor masuk. Pada kenyataannya. bulan Pebruari 2004 untuk memberi kesempatan kepada PEP berproduksi.693.30 terdiri atas tunggakan rekening pemakaian listrik sebesar Rp71. Sampai dengan saat pemeriksaan BPK-RI berikutnya yang dilakukan pada bulan Maret 2005. PEP telah beberapa kali menjanjikan pelunasan tunggakan tersebut antara lain: a.611.00. menyelamatkan nasib karyawan. Meskipun tunggakan tersebut berjumlah besar dan telah berlangsung lama. namun tidak mengakui tunggakan BK.00. mengakui saldo piutang aliran listrik sebesar Rp71. PEP akan membayar tunggakan tersebut berkisar 5 milyar sampai dengan 8 milyar untuk bulan Januari 2004 sampai dengan Maret 2004.000.296.768. Sesuai hasil perundingan tanggal 24 Desember 2003.377.

00 dan defisiensi modal (modal negatif) sebesar Rp8.446.546.30 tidak akan dapat dibayar oleh PEP.292.00 (modal Rp10.419.00 dari total kewajiban per 30 September 2004.00. modal kerja negatif sebesar Rp14.725.261.325.956. PLN dengan memperhitungkan UJL yang dikuasainya sebesar Rp1. Laporan keuangan PEP membukukan rugi bersih sebesar Rp1.755.145.007.397. PEP telah melakukan pemutusan hubungan kerja serta merumahkan sekitar 45% karyawannya dengan memberikan gaji sebesar 50% s.429.326.635. Mahkamah Agung (MA) dengan registrasi No.181.d. 1) Laporan Keuangan Konsolidasian (audited) PEP Tahun Buku 2003 dengan auditor independen (KAP Hendrawinata & Rekan) yang diterbitkan pada tanggal 15 April 2004 memberikan opini tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion) karena timbulnya kesangsian besar mengenai kemampuan PEP dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.00 ekuitas mengalami dengan defisiensi total aktiva PEP negatif) sebesar sebesar Rp6. Selain itu terdapat kewajiban berupa wesel bayar yang terjamin sebesar Rp9.000. Kondisi keuangan PEP sesuai hasil konfirmasi ke Bursa Efek Jakarta diketahui sebagai berikut: a.00 21 BPK-RI/AUDITAMA V .00.781.384.00 dan total kewajiban sebesar Rp17.461.986.301.00.860.674. namun belum terbayar sampai saat gugatan pailit diajukan.317.782.304.000. b. 75% dari gaji mereka saat ini.426.682.611.Pebruari.739.615.000.529. maka total aktivanya hanya dapat menutupi/melunasi sebagian kewajiban wesel bayar.000. PEP hanya membayar tagihan rekening listrik berjalan (bulan Januari 2005).096.01K/N/2005 tanggal 15 Pebruari 2005 memutuskan pailit PEP dalam perkara melawan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) (sahamnya dimiliki Bank Indonesia dan Departemen Keuangan RI) terkait dengan utang PEP berupa tiga surat sanggup (promissory notes) senilai US$3. 2) Laporan Keuangan Konsolidasi PEP per 30 September 2004 membukukan rugi bersih sebesar sehingga Rp1.797. Sehubungan PEP dinyatakan pailit.571.00 yang dibuat tahun 1997 dan jatuh tempo sejak tahun 1998.108. sehingga tunggakan rekening listrik PLN per 31 Desember 2004 sebesar Rp108.

00. Sesuai dengan: a.1. Fungsi Pengawasan Kredit C. Selanjutnya.00) dari tunggakan piutang pelanggan tersebut. seharusnya perhitungan BK PEP dibukukan ke dalam Sistem Tata Usaha Langganan (TUL IV-04) dan laporan pendapatan PLN. Direksi PLN serta General Manager PLN Disjateng tidak konsekuen dalam menerapkan ketentuan yang berlaku dalam hal pemutusan aliran listrik PEP. b.611. c.674.674. apabila dalam jangka waktu pembayaran yang telah ditentukan pelanggan belum melunasi pembayaran atas pemakaian tenaga listriknya. PLN menjelaskan.E/012/DIR/2004 tanggal 26 Maret 2004.000.00Rp1. apabila dalam jangka waktu 60 hari terhitung sejak hari pertama dari jangka waktu pelaksanaan pemutusan sementara pelanggan belum melunasi rekening listrik. Oleh karena itu.674. Keputusan Direksi PLN Nomor 021.611. PLN berhak melaksanakan pemutusan rampung berupa penghentian penyaluran tenaga listrik dengan mengambil sebagian atau seluruh Instalasi milik PLN. PLN berhak melaksanakan pemutusan sementara penyaluran tenaga listriknya. halaman 4 dan 5. menyatakan bahwa Pendapatan BK diakui secara akrual setelah berakhirnya masa pembayaran rekening listrik.461.000. b.706. General Manager PLN Disjateng serta Deputi Manager Niaga dan Deputi Manager Akuntansi tidak mematuhi ketentuan untuk membukukan nilai piutang BK pada TUL IV04 dan pendapatan akrual atas BK. menyatakan bahwa pelanggan yang terlambat membayar rekening listrik.706. SE Direksi PLN No. Hal ini mengakibatkan indikasi kerugian negara pada PLN minimal (per 31 Desember 2004) sebesar Rp106.K/010/DIR/2003 tanggal 31 Desember 2003.611.755. selain dikenakan sanksi pemutusan aliran listrik. juga dikenakan BK. Hal tersebut terjadi karena: a. Dengan demikian.berpotensi mengalami kerugian sebesar Rp106. bahwa sebagai tindak lanjut dari berita media massa perihal 22 BPK-RI/AUDITAMA V .00 (Rp108.008. Keputusan Direksi PLN Nomor 337.K/0599/DIR/1995 tanggal 23 Mei 1995. PLN seharusnya telah melaksanakan pemutusan aliran listrik PEP sejak tahun 1999.

193.00 % 4 = (2-3)/3 .14.00 (tanpa BK) akan dilunasi secara bertahap yaitu tanggal 21 Juni 2005 sebesar Rp1. KEP-426/A/J.43 7.969.00 2.2/03/2005 tanggal 29 Maret 2005 disebutkan bahwa Kurator menghimbau kepada JPN selaku kuasa hukum PLN agar aliran listrik ke PEP tidak diputus karena Kurator masih mengupayakan adanya perdamaian dengan harapan perusahaan tetap beroperasi.896.161.980.B-097/G/Gp.645.38 39.A/7/2004.565.912. BPK – RI menyarankan agar Direksi PLN mengupayakan dan memantau pembayaran angsuran tunggakan PEP sesuai kesepakatan tanggal 20 Juni 2005 dan segera melaksanakan pemutusan sementara apabila PEP tidak dapat menepati kesepakatan tersebut. PLN belum melaksanakan keputusan Direksi tentang sanksi pemutusan aliran listrik kepada pelanggan yang menunggak Nilai tunggakan listrik PLN sesuai hasil pemeriksaan per 31 Desember 2004 sebesar Rp2.264.203.d.685. sesuai Berita Acara Rapat Verifikasi Lanjutan PEP tanggal 12 Mei 2005 Kurator menetapkan PLN sebagai kreditur preferen setelah Direktorat Jenderal Pajak.664.912.047.35 23 BPK-RI/AUDITAMA V .738.161.681.808.00 309.50 miliar dan sisanya akan dibayar tiap bulan sebesar Rp3. 3 bulan 3 s. 11.00 1.715.00 dengan rincian sebagai berikut: Umur tunggakan 1 s.246.902.keputusan Mahkamah Agung tentang pailit PEP dan berdasarkan keputusan bersama Jaksa Agung RI dan Dirut PLN No.333.555.202.00 1. upaya penyelesaian tunggakan PEP tersebut dilakukan oleh dan bersama pihak Kejaksaan Agung RI selaku Jaksa Pengacara Negara (JPN).608.142. Selanjutnya berita acara kesepakatan angsuran tunggakan rekening listrik PEP tanggal 20 Juni 2005 antara lain menyatakan bahwa pokok tunggakan PEP sebesar Rp65. Disamping itu.00 512.203.854.358.645.35% dibandingkan nilai tunggakan per 31 Desember 2003 sebesar Rp1.76 26.598.902.377.50 miliar paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.193.854. 12 bulan di atas 12 bulan Jumlah tunggakan Per 31/12/2004 Per 31/12/2003 2 3 1.375.00 milar.00 187.053.00 atau meningkat 7. paling lambat tanggal 10 Juli 2005 sebesar Rp2.053.00 696. Kerja sama penagihan tunggakan PEP ini dilaksanakan dan dikukuhkan dengan Surat Kuasa Khusus dari Dirut PLN kepada Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun). Sesuai surat Jamdatun No.d.969.

Seluruh unit PLN akan terus melakukan upaya-upaya penagihan dan pemutusan dalam rangka menurunkan jumlah tunggakan sesuai SK Direksi No. PLN berhak melaksanakan pemutusan sementara penyaluran tenaga listriknya. b. Apabila dalam jangka waktu 60 hari terhitung sejak hari pertama dari jangka waktu pelaksanaan pemutusan sementara pelanggan belum melunasi rekening listrik.053.1.499.K/0599/DIR/1995 tanggal 23 Mei 1995. BPK – RI menyarankan agar PLN lebih tegas melaksanakan pemutusan aliran listrik kepada pelanggan yang menunggak sesuai ketentuan.645. PLN berhak melaksanakan pemutusan rampung berupa penghentian penyaluran tenaga listrik dengan mengambil sebagian atau seluruh instalasi milik PLN. Fungsi Pengawasan Kredit C. Hal ini mengakibatkan PLN tidak dapat memanfaatkan dana atas tunggakan piutang pelanggan sebesar Rp2. Hal tersebut terjadi karena PLN belum melaksanakan sepenuhnya SK Direksi PLN baik sanksi pemutusan sementara maupun pemutusan rampung dan Tim Pemutus dari Cabang/Area Pelayanan yang koordinasi dengan pihak lain (POLRI-ABRI) belum juga bekerja secara optimal.969.161.327.K/059/DIR/1995 tanggal 23 Mei 1995.053.1. 24 BPK-RI/AUDITAMA V .645.969.00 dari jumlah tunggakan sebesar Rp2. Sesuai Keputusan Direksi PLN Nomor 021. Bahkan hasil pemeriksaan Tim BPK-RI menunjukkan pula adanya piutang pelanggan yang telah berumur lebih dari 3 bulan namun PLN belum melaksanakan pemutusan sementara dan pemutusan rampung (bongkar). PLN menjelaskan. Apabila dalam jangka waktu pembayaran yang telah ditentukan pelanggan belum melunasi pembayaran atas pemakaian tenaga listriknya. bahwa hal ini terjadi karena keterbatasan tenaga dalam melakukan pemutusan mengingat banyaknya pelanggan yang menunggak pembayaran. 021.161. dan bekerjasama dengan instansi terkait utamanya dengan POLRI dan Kejaksaaan.239.00. halaman 4 dan 5 diatur bahwa: a. Fungsi Pengawasan Kredit C.PLN hanya melaksanakan pemutusan rampung atas tunggakan sebesar Rp480.00. halaman 4 dan 5.

23 Agustus 2005 dengan nilai kontrak sebesar Rp117. Seharusnya hasil laporan PPL-USU disampaikan dalam 2 laporan semester yaitu Semester I (Agustus-Desember 2004) dan Semester II (Januari-Juni 2005) dan pembayaran dilakukan setelah Laporan Semester II diserahkan dan disetujui yaitu sesuai dengan ketentuan berikut: a.000.079/BBI melalui Cek/Bilyet Giro Bank BNI No. Hasil pekerjaan yang disampaikan oleh PPL-USU ternyata tidak berupa laporan per semester.d. Pekerjaan pemantauan lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Labuhan Angin sebesar Rp117. PPL-USU diwajibkan menyampaikan hasil pekerjaannya dalam Laporan Semester I dan Semester II (Laporan 25 BPK-RI/AUDITAMA V .000.00. melainkan laporan pengelolaan dan pemantauan lingkungan periode Agustus – September 2004 dan periode Nopember – Desember 2004. pekerjaan pemantauan lingkungan seharusnya dilaksanakan sampai dengan tanggal 23 Agustus 2005 ternyata telah dinyatakan selesai 100% tanggal 8 Desember 2004 sesuai Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan No. Semesteran). b.K/TAHUN 2003 tanggal 4 Desember 2003 antara lain menyatakan bahwa PLN Pikitring Sumut dalam melakukan kegiatannya wajib melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup kepada Bapedal Propinsi Sumatera Utara dan Bapedalda Kabupaten Tapanuli Tengah Sesuai persyaratan dalam perjanjian.016/061/BAPPSPR/2004.660/2861.000.PLN2004/PIKITRING SUMUT/2004 tanggal 24 Agustus 2004 PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Sumatera Utara dan Aceh (Sumut) telah menunjuk Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Sumatera Utara (PPL-USU) untuk melakukan pekerjaan pemantauan lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin dengan jangka waktu kegiatan 365 hari kalender sejak tanggal 24 Agustus 2004 s.00 sesuai bukti pembayaran kas/bank No. Keputusan Gubenur Sumatera Utara (Gubsu) No. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa: a.000.BD 899 337 tanggal 30 Desember 2004.12. Pekerjaan tersebut telah dibayar sekaligus sebesar Rp117.009. Sesuai kontrak.PJ.00 juta tidak sesuai dengan ketentuan dalam kontrak Berdasarkan Surat Perjanjian No.

23 juta dalam pelaksanaan kontrak pekerjaan Perbaikan/pemeliharaan jaringan listrik Dalam Keadaan Bertegangan Berdasarkan kontrak No. training sebesar Rp11. PLN kurang memperoleh prestasi pekerjaan pengelolaan dan pematauan lingkungan periode Januari s. b. yang telah disetujui oleh Pemberi Tugas/Direksi Pekerjaan. Harga kontrak terdiri atas harga peralatan PDKB sebesar Rp8.293. Rincian 26 BPK-RI/AUDITAMA V .716.00 (termasuk PPN) dan jangka waktu pelaksanaan selama 10 bulan atau s.915.161. Terdapat biaya yang perlu diperhitungkan kembali sebesar Rp607.PJ/061/2003 tanggal 31 Desember 2003 PLN P3B telah menunjuk PT Dinamika Elektrik Mandiri untuk melaksanakan pengadaan peralatan dan pelatihan untuk pekerjaan Perbaikan/pemeliharaan jaringan listrik Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) senilai Rp20. 13.00 telah terbayarkan lebih awal (bulan Desember 2004). BPK–RI menyarankan agar PLN Pikitring Sumut lebih tegas melaksanakan kontrak dan mengharuskan PPL–USU untuk melaksanakan pembuatan tambahan laporan lingkungan sesuai time frame yang dipersyaratkan dalam kontrak.setiap 6 (enam) bulan sekali terhitung sejak tanggal ditetapkannya keputusan ini. Pembayaran tahap II untuk Laporan Tahap/Semester II (Januari-Juni 2005) senilai 50% harga kontrak atau senilai Rp58.PLN2004/PIKITRING SUMUT/2004 tanggal 24 Agustus 2004 pasal 8 tentang cara pembayaran menyebutkan antara lain pembayaran tahap II sebesar 100 % dari nilai kontrak dapat dilakukan setelah menyerahkan Laporan Semester II.378.00.00.540.000. maka akan dipertimbangkan kepada PPL-USU untuk melaksanakan pembuatan tambahan laporan lingkungan sesuai time frame yang dipersyaratkan dalam kontrak yakni pada bulan Juni 2005. Agustus 2005.PJ.d 31 oktober 2004.077. b. PLN Pikitring Sumut menjelaskan sesuai temuan BPK.500.d.000. Hal tersebut mengakibatkan: a.009.460. Surat Perjanjian No.661. Hal tersebut terjadi karena Direksi Pekerjaan tidak cermat dalam menilai/memutuskan tingkat kemajuan pekerjaan jasa dari PPL-USU.

Bagian Keuangan kurang cermat dalam melakukan verifikasi atas berkas tagihan pelatihan lines man. Bagian perencanaan kurang cermat dalam menetapkan item pekerjaan yang belum diperlukan dalam kontrak pekerjaan PDKB (d.h. Hal ini berarti pelaksanaannya dilakukan setelah berakhirnya jangka waktu kontrak.00 (termasuk PPN) terdiri atas biaya pelatihan dan penginapan. Hal tersebut mengakibatkan kelebihan perhitungan/pembayaran kepada pemborong sebesar Rp607. pekerjaan supervisi).184.987.00 (Rp86.039.00).h. 27 BPK-RI/AUDITAMA V . Biaya pelatih selama 2 hari yang harus dipotong dari pembayarannya sebesar Rp86.245. Dari pemeriksaan diketahui hal – hal berikut: a.280. Begitu pula Bagian Perencanaan PLN P3B didalam menetapkan item pekerjaan (d.400.00 (termasuk PPN).176.140.00 + Rp520. Oleh karena itu biaya supervisi tersebut tidak selayaknya dimasukkan kedalam kontrak dan seyogyanya dikurangkan dari nilai kontrak. New Zealand.987. Didalam surat perjanjian/kontrak tercantum biaya supervisi 4 kali datang masing .896. Pelaksanaan training tersebut sesuai kontrak dilaksanakan oleh Omaka. Biaya supervisi tersebut belum direalisasikan.233. Didalam pelaksanaan pelatihan (daftar hadir peserta) calon lines man terdapat 1 orang instruktur dari Omaka (Bill Mathew) yang terlambat datang dari New Zealand selama 2 hari.280. Hal tersebut terjadi karena : a.896.masing 3 hari sebesar Rp520. Di dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dinyatakan bahwa fungsi supervisi dari Omaka untuk mengawasi kelancaran pekerjaan/praktek dan melakukan penyegaran kembali hasil pelatihan para lines man PDKB yang rencananya dilaksanakan pada tahun 2005.00 dan training pelaksana PDKB /lines man (36 orang) sebesar Rp6. namun tetap diperhitungkan pembayarannya.i.876.477. Bagian Keuangan PLN P3B seharusnya melakukan pembayaran kepada pemborong/rekanan sesuai dengan prestasi pekerjaan yang telah dilaksanakan.00.245. b. b.training adalah instruktur PDKB (10 orang) sebesar Rp5.i pekerjaan supervisi) seharusnya sesuai dengan jangka waktu dan lingkup pekerjaan dalam kontrak.

800 kVA atau melebihi daya kontrak sebesar 88. PLN Disjabar kurang menagih biaya beban PT Asahimas Chemical sebesar Rp21.PLN P3B menjelaskan sebagai berikut: a.000 kVA) atau senilai Rp21. 14. PLN P3B akan melakukan amandemen kontrak untuk kerja kurang 2 mandays bagi instruktur Omaka (Bill Mathews) yang terlambat hadir di Indonesia selama 2 hari. sehingga kurang diperhitungkan sebesar 800 kVA (152.000.800 kVA (88. PLN Disjabar APJ Banten dalam menghitung biaya beban bulanan ternyata tidak memperhitungkan biaya beban per trafo sesuai kontrak melainkan menggabungkan beban kedua trafo tersebut. BPK–RI menyarankan agar PLN membuat amandemen kerja kurang 2 mandays bagi instruktur Omaka dan biaya supervisi.007. Beban trafo 2 bulan Desember 2004 tercatat dalam kVA maks sebesar 88.600.Pj/160/UBD JABAR/2001 tanggal 21 Juni 2001. Hal tersebut mengakibatkan PLN kurang menagih biaya beban sebesar Rp21. maka akan dilakukan amandemen kerja kurang.Pj/160/UBD JABAR/2001 tanggal 21 Juni 2001 dan trafo 2 dengan daya terpasang sebesar 88.00 (800 x Rp27. 28 BPK-RI/AUDITAMA V .000 kVA sesuai kontrak No.600.800 kVA + 64.000.000.00). Pekerjaan supervisi dimaksudkan untuk penyegaran kembali dari hasil pelatihan para lines man PDKB dan mendiskusikan kesulitan/hambatan yang ditemukan pada lines man di lapangan berdasarkan pengalaman melaksanakan PDKB yang rencananya akan dilaksanakan tahun 2005. Namun demikian.000 kVA sedang beban trafo 1 sesuai kVA maks sebesar 63. PLN Disjabar APJ Banten hanya memperhitungkan biaya beban bulan Desember 2004 sebesar jumlah daya kontrak sebesar 152. apabila biaya supervisi tersebut tidak layak dimasukkan dalam kontrak sesuai temuan BPK–RI. b.000).000 kVA.008.120 kVA atau dibawah daya kontrak sehingga biaya beban sesuai ketentuan harus dihitung untuk daya 152.800 kVA – 152.00.60 juta Penyaluran tenaga listrik ke pelanggan PT Asahimas Chemical dilaksanakan melalui dua trafo yakni trafo 1 dengan daya terpasang sebesar 64.000 kVA sesuai kontrak No.

Dirut PLN menindaklanjuti temuan dengan menyampaikan surat permintaan ijin 29 BPK-RI/AUDITAMA V .Hal tersebut terjadi karena PLN Disjabar APJ Banten tidak mentaati ketentuan kontrak dalam menghitung biaya beban PT Asahimas Chemical.92 untuk 11 (sebelas) proyek tambahan. 15. dan 2) PLN melaporkan amandemen perjanjian pinjaman kepada Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas dan memohon persetujuan tertulis dari Menko Perekonomian (dahulu Menko Ekuin) atas pemanfaatan sisa alokasi kredit ekspor luar negeri sebesar EUR27.Prima K/2005 tanggal 14 Pebruari 2005.050/160/UPJ.859.422. BPK – RI menyarankan agar PLN menghitung biaya beban pelanggan sesuai dengan ketentuan kontrak dan pemeriksa intern PLN Disjabar memonitor penerimaan tagihan tersebut. BPK-RI menyarankan agar : 1) PLN mentaati peraturan perundang-undangan dan peraturan-peraturan di bawahnya yang berkaitan dengan pelaksanaan penggunaan KE luar negeri.8 Tahun 1984 tanggal 10 Oktober 1984 dan peraturan–peraturan dibawahnya.08 juta tidak sesuai dengan Inpres No.422.86 ribu atau setara dengan Rp226. Hal ini mengakibatkan pembangunan proyek-proyek tambahan yang termasuk dalam scope to be confirmed later melanggar Instruksi Presiden (Inpres) No.343. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2003 Dalam pemeriksaan tahun buku 2003 terdapat 6 (enam) temuan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Seluruh temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan status 3 (tiga) temuan dinyatakan selesai dan sisanya 3 (tiga) temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya. PLN Disjabar menjelaskan kekurangan biaya beban tersebut telah ditagihkan ke PT Asahimas Chemical dengan surat No.8 Tahun 1984 dan tidak termasuk dalam proyek-proyek prioritas yang didanai dengan KE. Hal ini terjadi karena PLN mengabaikan peraturan perundangan-undangan yang berlaku dalam pemanfaatan sisa alokasi KE (perubahan perjanjian pinjaman). Pemanfaatan sisa alokasi pinjaman kredit ekspor (KE) luar negeri setelah hasil renegosiasi sebesar EUR27. yaitu: a.

137.943.03 ribu atau setara dengan Rp3. Hal tersebut mengakibatkan PPh a.penggunaan sisa pinjaman ke Bappenas dan Menteri Perekonomian No.80 (kurs 1USD 31 Desember 2003 = Rp8. PLN Kantor Pusat belum memungut dan menyetorkan PPN atas transaksi jasa konsultan dan uang perdamaian perkara/sengketa Proyek Penyempurnaan Ash Valley (Ash Disposal Works) PLTU Suralaya sebesar Rp1. Hal tersebut terjadi karena Dinas Perbendaharaan PLN Kantor Pusat belum sepenuhnya menaati ketentuan perpajakan.300. Dalam tindak lanjut PLN telah melakukan konsultasi ke Kantor Pajak bahwa untuk uang perdamaian tidak dikenakan PPN. 30 BPK-RI/AUDITAMA V .n Cleary. 2) Kurangnya pemahaman manajemen PLN tentang aturan perpajakan.507.00) mengandung potensi kerugian bagi keuangan PLN.064. Pembayaran akibat kesalahan pemotongan PPh merugikan keuangan PLN sebesar US$405.598. c.445. BPK-RI menyarankan agar PLN memungut dan menyetorkan PPN atas pembayaran jasa CGS&H dan pembayaran konsultan PT Enico National Development. BPK-RI menyarankan agar PLN berusaha meminta restitusi atas kelebihan pembayaran PPh pasal 23 dan pasal 26 atas jasa konsultan CGS&H.443.202.502.00 + Rp180. Untuk selanjutnya agar PLN mematuhi ketentuan perpajakan yang berlaku.Gothlieb.18 + Rp1.445.000.000. Dinas Pajak. dan Bagian Keuangan PLN.20 juta Hal tersebut mengakibatkan Negara tidak dapat memanfaatkan dana yang berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp1.03087/530/DIRUT/2004 tanggal 1 Juni 2004 dan berlaku surut sejak tahun 2002.028.40 atau setara dengan Rp3.00).58 juta.500.502.576.18 (Rp22. b. Hal ini terjadi karena: 1) Tidak adanya koordinasi antara Kelompok Kerja Renegosiasi Kontrak Khusus (KKRKK).Steel & Hamnton(CGS&H) yang telah disetorkan PLN ke Kas Negara sebesar USD405. PLN menindaklanjuti temuan dengan mengupayakan mengajukan restitusi atas kelebihan pembayaran PPh pasal 23 dan 26.

625. yaitu: a. PLN telah menindaklanjuti temuan dengan mengusulkan diterbitkan PP atas penyertaan modal pemerintah. BPK-RI menyarankan agar PLN segera mengajukan PP atas perubahan Nilai Penyertaan Modal Negara yang baru. Hal ini mengakibatkan nilai PMN sebesar Rp18.00 yang disajikan dalam Laporan Keuangan per 31 Desember 2002 belum didukung dengan bukti formal yang sesuai dengan ketentuan.463.37 triliun statusnya masih dalam rancangan Peraturan Pemerintah di 31 BPK-RI/AUDITAMA V .589. BPK-RI menyarankan agar PLN segera mengupayakan percepatan pengurusan penerbitan PP atas status PMN tersebut. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2002 Dalam pemeriksaan tahun buku 2002 terdapat 5 (lima) temuan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. sampai saat laporan ini dibuat belum terselesaikan. b.463. Perkembangan usulan tersebut sampai awal Mei 2005 sebagai berikut: 1) Sejumlah Rp3. Hal ini mengakibatkan nilai Penyertaan Modal Negara(PMN) setelah revaluasi aktiva tetap pada Laporan Keuangan per 31 Desember 2002 belum didukung dengan bukti formal yang sah.16.864. Nilai penyertaan modal negara sebesar Rp18.930. PLN menindaklanjuti temuan dengan mempelajari/mengkaji yang mendasari selisih revaluasi menjadi tambahan modal disetor. Hal ini terjadi karena pengurusan Peraturan Pemerintah yang merupakan bukti formal untuk mencatat akun-akun tersebut. Seluruh temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan status 3 (tiga) temuan dinyatakan selesai dan sisanya 2 (dua) temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya.99 juta dalam laporan keuangan per 31 Desember 2002 belum didukung dengan dokumen yang memenuhi ketentuan. Perubahan struktur modal PLN karena revaluasi aktiva tetap belum ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). Hal ini terjadi karena PLN belum memproses permohonan penerbitan PP kepada Menteri Keuangan.

32 BPK-RI/AUDITAMA V . 2) Sejumlah Rp5. 3) PLN terus menyelesaikan laporan proyek–proyek selesai dan secara bertahap mengajukan permohonan kepada Dirjen LPE untuk mendapatkan status sementara dan tetap kepada Menteri ESDM.1685/90/SJU/05 tanggal 9 Mei 2005.7 triliun sudah diusulkan oleh Sekjen Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada Menteri Keuangan dengan surat No.Sekretariat Negara.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PENGENDALIAN INTERN v BPK-RI/AUDITAMA V .II.

dan laporan arus kas konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. laporan laba rugi. Standar tersebut mengharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material.BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 25. dan telah menerbitkan laporan nomor: 25.A/Auditama. laporan perubahan ekuitas. Dalam memenuhi tanggung jawabnya tersebut. diperlukan estimasi dan pertimbangan 33 BPK-RI/AUDITAMA V . kami mempertimbangkan pengendalian intern PLN untuk menentukan prosedur audit yang kami laksanakan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan dan tidak dimaksudkan untuk memberikan keyakinan atas pengendalian intern tersebut. Manajemen PLN bertanggung jawab untuk menyusun dan memelihara suatu pengendalian intern. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan dan Standar Auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam perencanaan dan pelaksanaan audit kami atas laporan keuangan konsolidasian PLN untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2004.tanggal 31 Desember 2004.V/GA/V/2004 tanggal 30 Mei 2005.B/Auditama V/GA/V/2005 LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kami telah mengaudit neraca konsolidasian PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selanjutnya disebut PLN .

Karena adanya keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern. proyeksi setiap evaluasi atas pengendalian intern ke periode yang akan datang mengandung risiko bahwa suatu prosedur menjadi tidak memadai lagi karena perubahan kondisi yang terjadi atau efektivitas desain dan operasi pengendalian intern tersebut telah berkurang. Tujuan suatu pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai. bukan keyakinan absolut. Pertimbangan kami atas pengendalian intern tidak perlu mengungkapkan semua masalah dalam pengendalian intern yang mungkin merupakan kelemahan material menurut Standar Audit Pemerintahan yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan.dari pihak manajemen tentang taksiran manfaat dan biaya yang berkaitan dengan pengendalian intern. Begitu juga. Untuk tujuan laporan ini. kami memperoleh pemahaman tentang desain pengendalian intern yang relevan dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan. kami menggolongkan pengendalian intern signifikan ke dalam kelompok berikut ini: • • • • • Direktorat Transmisi dan Distribusi Direktorat Pembangkitan dan Energi Primer Direktorat Niaga dan Pelayanan Pelanggan Direktorat Keuangan Direktorat Sumberdaya Manusia dan Organisasi Untuk semua golongan pengendalian intern tersebut di atas. kekeliruan atau ketidakberesan dapat saja terjadi dan tidak terdeteksi. kepada manajemen bahwa aktiva terjamin keamanannya dari kerugian sebagai akibat pemakaian atau pengeluaran yang tidak diotorisasi dan bahwa transaksi dilaksanakan dengan otorisasi manajemen dan dicatat semestinya untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. serta kami menentukan risiko pengendalian. Suatu kelemahan material adalah kondisi yang dapat dilaporkan yang di dalamnya desain dan operasi satu atau lebih komponen pengendalian intern tidak mengurangi risiko ke tingkat yang relatif rendah tentang terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan dalam jumlah yang akan material dalam 34 BPK-RI/AUDITAMA V .

Namun. Drs. MA Register Negara No. Misnoto. kami mencatat masalah-masalah tertentu yang tidak material berkaitan dengan pengendalian intern dan operasinya disertai saran perbaikannya yang kami kemukakan pada Lampiran B. Auditor Utama Keuangan Negara V Penanggung Jawab Audit. 30 Mei 2005 35 BPK-RI/AUDITAMA V . Kami mencatat bahwa tidak ada masalah berkaitan dengan pengendalian intern dan operasinya yang kami pandang memiliki kelemahan material sebagaimana kami definisikan di atas. Ak.hubungannya dengan laporan keuangan auditan dan tidak terdeteksi dalam waktu semestinya oleh karyawan dalam pelaksanaan normal fungsi yang ditugaskan kepadanya. D-1416 Jakarta.

Berdasarkan Loan Agreement (LA) tersebut dibuat Sub Loan Agreement (SLA) No.d.394.41.90 juta atas pokok sebesar Rp1.965.965.S1022/A.8757/822/DITKEU/1997/M tanggal 23 Juni 1997 yang ditujukan kepada Direktur Pengelolaan Penerusan Pinjaman Departemen Keuangan. Jerman.2197 PPP No. PLN tidak melakukan pengembalian atas pinjaman yang telah terlanjur cair sebesar Rp1.Ras/ZKG 2209 tanggal 23 April 1997. Kewajiban termasuk bunga dan denda sampai dengan tanggal 12 Pebruari 2004 sebesar Rp22.965. Jumlah penarikan yang telah dilakukan sampai dengan tanggal 26 Nopember 1996 sebesar DM 1. PLN mengembalikan pinjaman sebesar Rp22.270. Rekonsiliasi kewajiban eks pinjaman KFW No.AL.2197 tanggal 2 Desember 1993 dalam rangka pembiayaan 150 kV transmisi sistem Java Bali phase II.SLA760/DP3/1994 antara PLN.58 sesuai yang diatur dalam SLA dengan rincian perhitungan 36 BPK-RI/AUDITAMA V . Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK). dengan kontrak pinjaman KWF AL. Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman (DP3).LAMPIRAN B 1.074.07 juta Pemerintah Indonesia telah memperoleh pinjaman (loan agreement) dari Kreditanstalt fur Wiederaufbau (KFW). dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) selaku penata usaha pinjaman tersebut ternyata baru dilakukan sesuai Berita Acara Rapat tanggal 21 Januari 2004.9266131/F.41 walaupun telah mengajukan pembatalan SLA. 31 Desember 2000.033. PLN juga tidak memasukkan pinjaman tersebut dalam restrukturisasi hutang SLA yang tertunggak dalam periode 1 Januari 1998 s.760/DP3/1994 tanggal 21 September 1994 yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan PLN.074.478. PLN meminta dilakukan pembatalan SLA No.86/1997 tanggal 23 Mei 1997 dan surat KFW No.58 ekuivalen dengan Rp1.9266131/F. Pelaksanaan LA tersebut dibatalkan sesuai surat Departemen Keuangan No.394.903. Selain itu.253.270.760/DP3/1994 tanggal 21 September 1997 sehubungan dengan pembatalan LA tersebut melalui surat No.

PLN menjelaskan bahwa: a.639. Biaya pinjaman sebesar Rp20.06 490.550. Pengendalian atas pinjaman lemah.066991 tanggal 12 Pebruari 2004 sebesar Rp22.394. SLA-760/DP3/94 tanggal 21 September 1994 dan memonitor setiap pencairan pinjaman SLA.902.965.967.58 BRI melakukan penagihan senilai Rp22.52 27.991.394.033.270.074.738.B.074.394.429.903. PLN melakukan pembayaran dengan bukti bank pengeluaran No.41) merupakan pemborosan dan merugikan keuangan PLN.408. PLN seharusnya segera mengembalikan pinjaman tersebut setelah mengajukan surat permintaan pembatalan pinjaman SLA No.449.849.894. 6. sehingga status SLA tersebut di DP3 belum dibatalkan 37 BPK-RI/AUDITAMA V .58 – Rp1.270.251-V/KC/RTL/PRG/02/2004 tanggal 6 Pebruari 2004.033.469. 4.58 kepada PLN berdasarkan hasil rekonsiliasi tersebut dengan surat No.574. Sampai saat ini surat PLN ke DP3 No. Hal tersebut terjadi karena: a.17 (Rp22.06 12.51 34.58.033. 2. 7.828. 3.965..43 22.033.41 7.903.903.sebagai berikut: No. PLN tidak mengembalikan pinjaman segera setelah mengajukan pembatalan pinjaman tersebut. Uraian Pokok Bunga Pemerintah Jasa Bank Komitmen Denda Pokok Denda Bunga Denda Biaya Komitmen Jumlah Nilai (Rp) 1.8757/822/DITKEU/1997/M tanggal 23 Juli 1997 tentang permohonan pembatalan SLA No 760/DP3/1994 tersebut tidak dijawab dengan alasan yang tidak diketahui.564.356.394. 5.763. b.41 110. 1.903.

PLN merencanakan untuk menutup SLA tersebut dalam rapat rekonsiliasi yang akan datang dengan BRI dan DP3.394. sehingga kepemilikan sahamnya agar tetap dipertahankan. Direksi PLN berkaitan dengan hal tersebut sesuai risalah RUPS PLN Tahun Buku 2003 menjelaskan antara lain: 1) PT Unelec Indonesia (PT Unindo) masih berpeluang untuk meningkatkan kinerjanya dimasa mendatang.903. BPK – RI menyarankan agar PLN meningkatkan pengendalian pinjaman. DP3 tidak pernah mengingatkan masalah ini. Pengendalian atas investasi jangka panjang PLN berupa penyertaan saham masih lemah Risalah RUPS RKAP 2003 dan RUPS Laporan Keuangan Tahun Buku 2002 antara lain memutuskan bahwa PLN harus menjual. Dalam setiap rapat rekonsiliasi periode 1997-2004. c. yang memungkinkan mengetahui status setiap pinjaman setiap saat secara terintegrasi. b. 2. kedua perusahaan tersebut belum pernah mengirimkan laporan keuangannya. tetapi dalam rapat rekonsiliasi tanggal 21 Januari 2004 DP3 mendesak PLN untuk segera melunasi tunggakan tersebut sebesar Rp22. 2) PT Geo Dipa Energi (PT GDE) walaupun belum menghasilkan laba tetapi ada peningkatan ROE dari tahun sebelumnya. penjelasan Direksi atas kondisi kedua perusahaan tersebut tidak didukung dengan data yang memadai. yang lalai dalam memonitor pinjaman yang telah di tarik dan pemutusan SLA.58 sesuai dengan ketentuan persyaratan pinjaman yang diatur dalam SLA. Dengan demikian.(masih open). PLN saat ini sedang membangun ERP (Enterprise Resource Planning) untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang. Sampai dengan tanggal 29 Maret 2005. Nilai penyertaan kepada PT 38 BPK-RI/AUDITAMA V . melepaskan atau melikuidasi cucu perusahaan maupun penyertaan ekuitas anak perusahaan pada kepemilikan saham minoritas di perusahaan lain apabila Rate of Return (ROR) lebih rendah dari 10%. dan Direksi PLN memberikan teguran kepada pengelola administrasi pinjaman SLA yang terkait di PLN.033.

000 Penyertaan saham pada PT Unindo sebesar Rp14.2 Tahun 1998 tanggal 7 Januari 1998.570.Unindo dan PT GDE tersebut adalah: No 1.475.980. PLN menjelaskan bahwa : a. 39 BPK-RI/AUDITAMA V .36 2002 33. PLN akan melakukan analisa untuk meneliti kinerja dan mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan indikator keuangan berdasarkan laporan keuangan tahun berjalan tersebut. c. Pemberian informasi yang tidak didukung dengan data yang memadai tersebut memungkinkan RUPS salah mengambil keputusan dan PLN menderita kerugian atas nilai penyertaan di kedua perusahaan tersebut. Nilai penyertaan pada PT Unindo nihil karena akumulasi rugi perusahaan telah melebihi nilai tercatat penyertaan saham. PLN minimal setiap semester akan memonitor laporan keuangan tahun berjalan kedua perusahaan.00 Jml tercatat 31/12/2004 (Rp) Nihil 218.632. BPK – RI menyarankan agar PLN meningkatkan pengendalian atas setiap penyertaan di perusahaan lain dengan cara antara lain dengan lebih aktif mendapatkan laporan keuangan perusahaan untuk dianalisa perkembangan penyertaan di perusahaan tersebut.248. Hal tersebut terjadi karena pengendalian PLN dalam memonitor perkembangan penyertaan saham pada PT Unindo dan PT GDE lemah. Setiap hasil analisis akan disampaikan secara langsung maupun melalui RUPS kepada kedua perusahaan tersebut untuk ditindaklanjuti.570.000 218. 2. Perusahaan PT Unindo PT GDE Jumlah Domisili Jakarta Bandung Jenis usaha Penunjang penyedia tenaga listrik Penyedia tenaga listrik Tahun % operasi penyertaan 1988 44.475. b. Setiap investasi saham seharusnya dimonitor perkembangannya agar diketahui hasil (ROR) dari suatu investasi.00 didasarkan pada Peraturan Pemerintah RI No.

490.306.320.643.00 dan Rp3.53 ribu dan Rp2.573. PT Kwarsa Hexagon. menghentikan kucuran dana (disbursement) sejak tanggal 28 Desember 2003.16% atau sampai dengan tahap pekerjaan Laporan Pembaharuan Studi dan Implementasi Program. Sisa uang muka yang harus dipertanggungjawabkan konsultan NKC sebesar Yen 274.00.00.00. konsultan memperpanjang jaminan uang muka berupa garansi dari Bank of Tokyo Mitsubishi.280. Tanggal 2 Desember 2004..3.384.04-20 tanggal 18 Juni 2004.00 dan sampai dengan pemberhentian pekerjaan tersebut telah dipertanggungjawabkan sebesar Yen90. Terdapat sisa uang muka pekerjaan jasa supervisi proyek Pusat Listrik Tenaga Air Peusangan senilai Yen 274.830.643.00 dan Rp24.280.525 dan Rp 2. Ltd sebesar Yen 274.039.2 MW) selama 71.280.008. PLN KP menyerahkan pelaksanaan dan pengawasan pembangunan PLTA Peusangan kepada Pikitring Sumut.IP-441 dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC).798. 40 BPK-RI/AUDITAMA V .862.80.384. Aceh (2 x 44. Tahun 2002 karena situasi di Aceh tidak aman.64 juta yang belum jelas kelanjutannya dan masih harus dipertanggungjawabkan PLN telah menandatangani kontrak No. pihak konsultan meninggalkan pekerjaan tersebut dalam progress pekerjaan 39.439. PT Asana Wirasta Setia dan PT Amythas Experts & Associates (Konsultan) untuk pekerjaan jasa supervisi engineering pembangunan 2 Unit Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan.6 bulan atau sampai dengan tanggal 25 Desember 2003 dengan nilai kontrak Yen2. Kelanjutan pekerjaan jasa supervisi engineering semakin sulit dipastikan dengan pemberhentian kucuran dana tersebut. kelanjutan pekerjaan jasa supervisi tersebut belum dapat dipastikan.780.LTD (NKC) bekerjasama dengan PT Indra Karya.680.804. Pemberi pinjaman yaitu JBIC melalui suratnya No.384.890.255. Pekerjaan jasa supervisi engineering tersebut dibiayai dari pinjaman jangka panjang sesuai perjanjian No.853.00 dan Rp921. Bulan April 1997 PLN memberikan uang muka kepada konsultan NKC sebesar Yen364. Sampai dengan kontrak tersebut berakhir tanggal 25 Desember 2003.506.525 dan Rp 2.00 yang semula berakhir tanggal 26 Mei 2004 menjadi 28 Februari 2005.PJ/070/1997/M tanggal 2 April 1997 dengan NIPPON KOEI CO.

599.00 yang belum dipertanggungjawabkan konsultan NKC dan pencatatan PDP menjadi berlarut-larut.830.717. BPK–RI menyarankan agar PLN segera menagih uang muka yang belum dipertanggungjawabkan tersebut kepada rekanan pelaksana kontrak.00 tidak jelas nomor kontraknya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. namun uang muka tersebut sampai dengan 41 BPK-RI/AUDITAMA V .260. Seharusnya PLN Pikitring Sumut meminta kejelasan kelanjutan pekerjaan tersebut dari Kantor Pusat (KP) dan memberikan informasi sisa uang muka. Pengendalian atas saldo pembayaran dimuka kepada kontraktor masih lemah Pemeriksaan atas Daftar Rekapitulasi Bulanan Pembayaran Dimuka kepada Kontraktor selama 4 tahun dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 yang dibuat oleh Dinas Akuntansi Kantor Pusat (DKP) diketahui bahwa sebagian besar saldo Pembayaran Dimuka kepada kontraktor tidak mengalami mutasi adalah sebagai berikut: a.384.Sampai dengan pemeriksaan berakhir. Hal tersebut mengakibatkan PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Sumatera Utara dan Aceh (Sumut) berpotensi mengalami kerugian atas sisa uang muka sebesar Yen 274.301.182.525 dan Rp2. Pembayaran dimuka kepada 37 kontraktor sebesar Rp9. b. 1998 dan secara administrasi belum ditutup/dipertanggungjawabkan.00 yang tahun penandatanganan kontrak berkisar antara tahun 1989 s. belum ada kejelasan dan kepastian kelangsungan pembangunan PLTA Peusangan tersebut dan sisa uang muka yang masih ada di konsultan NKC.d. Dinas Pengelolaan Keuangan (DLK) Kantor Pusat menjelaskan bahwa proyek yang dikerjakan para kontraktor tersebut telah selesai. Pembayaran dimuka kepada 18 kontraktor sebesar Rp5.655.280.643. Hal tersebut terjadi karena Staf Operasi PLN Pikitring Sumut dan Aceh kurang perhatian atas penyelesaian pembangunan PLTA Peusangan. PLN menjelaskan bahwa uang muka yang belum dipertanggungjawabkan tersebut akan ditarik dari konsultan NKC. 4.

372. Hal tersebut mengakibatkan saldo pembayaran dimuka kepada kontraktor sebesar Rp14.00) tidak diketahui kepastian statusnya. PLN menjelaskan akan membentuk tim/task force untuk : a. Uang muka yang telah diberikan kepada kontraktor harus diperhitungkan dan ditutup dengan pembayaran kontraktor berikutnya atau pembayaran akhir kontrak. 42 BPK-RI/AUDITAMA V .599. bekerjasama dengan bagian Pengelola Kas dan bagian pengelola kontrak. b.tanggal 24 Maret 2005 belum ditutup.655. Seharusnya: a.182. BPK – RI menyarankan agar PLN meningkatkan pengendalian uang muka serta segera merealisasikan pembentukan tim dan melaksanakan pembenahan administrasi uang muka.260. b. c. Menelusuri pembukuan atas pembayaran dan progres fisik dan bila ternyata terdapat kekeliruan pencatatan akan dilakukan koreksi. b.483. Posisi saldo Pembayaran Dimuka kepada kontraktor selalu disesuaikan dengan tingkat kemajuan fisik atau pembayaran kepada kontraktor yang bersangkutan. DKP melakukan pencatatan Pembayaran Dimuka kepada kontraktor dengan tertib yaitu melengkapi data pendukung antara lain nomor kontrak yang bersangkutan.00 (Rp9.717. Menelusuri nomor kontrak-kontrak lama yang berkaitan dengan pembayaran dimuka tersebut. akan dilakukan pembenahan terhadap administrasi pembayaran dimuka dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Akan dilakukan rekonsiliasi antara Akuntansi Kantor Pusat dengan Pengelolaan Kas secara periodik (bulanan/triwulan).00 + Rp5. Hal tersebut terjadi karena pengendalian DKP dan DLK atas pemberian uang muka kepada kontraktor lemah serta tidak melakukan rekonsiliasi antara DKP dan DLK atas uang muka yang telah diberikan dengan pembayaran sesuai kemajuan fisik. Disamping itu. Dalam setiap adanya pembayaran atau progres fisik untuk kontrak-kontrak yang baru akan dilakukan penyesuaian terhadap pembayaran dimuka.860.301.

Tenaga listrik yang dijual PLN sebagian berasal dari pembelian listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) antara lain dari PLTU Paiton yang dikembangkan oleh PT Jawa Power (PT JP) yang didasarkan pada Kontrak Power Purchase Agreement (PPA) tanggal 3 April 1995 dengan daya terpasang sebesar 2 x 610 MW.00.5.482. bahwa formula penyesuaian harga BBM. maka formulasi kontrak berikutnya akan diusahakan untuk diubah dengan mengeluarkan unsur BBM sebelum 43 BPK-RI/AUDITAMA V . harga BBM tersebut ikut disesuaikan dengan kurs dolar yang berlaku. Perhitungan Penyesuaian BBM dalam formula penyesuaian harga batubara untuk listrik swasta Paiton tidak tepat. Harga BBM ditetapkan oleh Pertamina setiap bulan dalam mata uang rupiah sehingga tidak dipengaruhi nilai kurs dolar.308.308. Namun begitu untuk menghindari terjadinya “double counting” dimasa mendatang. sehingga perhitungan harga BBM dalam tahun 2004 terlalu tinggi sebesar Rp1. namun “double counting” tersebut bisa menguntungkan PLN apabila rupiah menguat. Pemeriksaan atas formula penyesuaian harga batubara menunjukkan bahwa harga batubara disesuaikan berdasarkan fluktuasi nilai kurs dolar dan harga BBM (HSD). Namun dalam rumus perhitungan/penyesuaian harga batubara. Harga BBM ditetapkan dalam rupiah sehingga seharusnya tidak diperhitungkan dalam penyesuaian harga batubara yang disebabkan fluktuasi kurs dolar. sebaliknya akan merugikan PLN jika rupiah melemah. Perhitungan biaya pembelian tenaga listrik yang harus dibayar PLN kepada PT JP antara lain berupa komponen C yakni untuk pembayaran bahan bakar batubara yang dikeluarkan oleh PT JP untuk membangkitkan tenaga listrik. Hal tersebut terjadi karena ketidakcermatan PLN dalam pembuatan formula penyesuaian harga batubara.482. Kontrak tersebut telah dilakukan addendum PPA tanggal 8 Juli 2002.297. memang mengandung konsekuensi “double counting”.297.00 yang merupakan pemborosan dan merugikan keuangan PLN. PLN menjelaskan. Menguatnya mata uang dollar terhadap rupiah pada tahun 2004 mengakibatkan PT PLN (Persero) membayar lebih mahal untuk komponen C kepada PT JP senilai Rp1.

BA hanya menyatakan bahwa PT KIJ telah memberikan penjelasan umum dan memberikan data antara lain ijin lokasi kawasan dan persetujuan ANDAL. PLN atas surat penawaran tersebut telah menunjuk Konsultan Appraisal PT Sucofindo untuk melakukan penilaian harga pasar tanah PT KIJ di Cilegon. tanggal 11 Agustus 2003. RPL untuk ± 500 Ha serta peninjauan kondisi situasi dan topografi tanah Selanjutnya PT Jababeka melalui surat penawaran tanggal 7 Nopember 2003 mengajukan penawaran lahan di Kawasan Industri Jababeka – Cilegon dengan harga sebesar Rp125. Banten melalui 44 BPK-RI/AUDITAMA V . Pengendalian atas pengadaan lahan untuk proyek regasifikasi LNG lemah SK Direksi PLN No.000. menyatakan PT KIJ menjamin bahwa pada saat penyerahan. Cilegon. Banten. tidak dalam sengketa. Dalam pelaksanaannya. 176/KIJ/XI/2003. dan biaya administrasi lainnya). Panitia pengadaan lahan telah melakukan peninjauan lokasi di Kawasan Industri Jababeka dan hasil peninjauan tersebut dituangkan dalam BA tanggal 11 September 2003.dilakukan penyesuaian terhadap kurs. 201. lahan yang dibeli menyatu dan tidak dalam keadaan dijaminkan di bank. Biaya Pengalihan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 5%.K/010/DIR/2003. Biaya Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). tanah telah memiliki sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB). dan tidak dalam kondisi dijaminkan kepada pihak manapun. PLN membentuk Tim Pengadaan Lahan untuk pembangunan Liquified Natural Gas Receiving Terminal and Regasification Facilities (LNG RTRF) dan PLTGU di Kawasan Industri Jababeka. BA tersebut tidak menjelaskan mengenai kondisi tanah yang dibeli antara lain tanah sudah bersertifikat. BPK – RI menyarankan agar PLN dan IPP Paiton swasta segera mengamandemen formula penyesuaian harga batubara tersebut. RKL. tanggal 7 Nopember 2003. Dasar pertimbangan dalam SK tersebut antara lain bahwa Tim Energi Primer PLN telah melaporkan dan merekomendasikan lahan Kawasan Industri PT Jababeka di Propinsi Banten sebagai calon lokasi LNG Terminal dan PLTGU baru. 6. Surat Penawaran No.00/m2 (belum termasuk PPN 10%. yang ditandatangani oleh Dirut PLN.

800.00 + PPN Rp1.000.000 m2 (170 hektar) di Cilegon (Desa Teratai. tanggal 31 Maret 2004 menyetujui proses penunjukan langsung pengadaan lahan kepada PT KIJ. Realisasi pembayaran tahap I sebesar Rp20.866. 0146.BA/063/DIRKIT/2004.00.000/m2.SPK tanggal 6 Januari 2004.000.000. tanggal 27 Mei 2004. PT KIJ meminjam kembali 23 sertifikat tanah asli (HGB) seluas 1. Sertifikat asli bukti pemilikan tanah berjumlah 23 buah Dengan BA No.835. Berdasarkan negosiasi harga tanggal 5 dan 9 Pebruari 2004 ditetapkan harga Rp110.000.700.000.000.154 m2 yang telah diserahkan kepada PLN untuk dilakukan pemecahan 45 BPK-RI/AUDITAMA V . tanggal 08 April 2004 senilai Rp187.570. No. BA tersebut menyatakan bahwa PT KIJ menyerahkan: a. Pembayaran tahap I tersebut pada dasarnya merupakan uang muka perikatan. 0049-2/BA/970/DITKIT/2004 tanggal 23 Juni 2004 tentang peminjaman sertifikat tanah untuk proses balik nama.Pj/060/DIRKIT/04 – 001/KIJ-V/PPJBPLN/III/2004. dilakukan paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah perjanjian ditandatangani disertai penyerahan dokumen yang berkaitan dengan tanah dilengkapi dengan berita acara yang ditandatangani oleh para pihak. 038.00 (Rp18.000. menyatakan telah melakukan penilaian atas 23 sertifikat HGB PT KIJ seluas 1. BPHTB 5%.000. Gambar rencana lokasi pembebasan tanah LNG Terminal Cilegon b. Pembayaran tahap II sebesar 90% dari harga tanah dilakukan pada saat penandatanganan Akta Jual Beli Tanah. Banten) dengan nilai pasar sebesar Rp199. Sidang Direksi No. biaya PPAT dan administrasi lainnya). Laporan PT Sucofindo tanggal 20 Januari 2004.000.00) telah dilakukan sesuai BA Serah Terima No. Sesuai dengan perjanjian bahwa pembayaran tahap I sebesar 10% dari harga tanah.010/2004.00 (belum termasuk PPN 10%. Selanjutnya berdasarkan Nota Dinas tanggal 31 Maret 2004.000.000.000.00 menggunakan dana APLN tahun 2004.000.700. Serang. Dalam perjanjian tidak ada persyaratan bagi PT KIJ untuk menyerahkan jaminan uang muka sebesar nilai uang muka yang diterima.000. Pelaksanaan pembelian lahan tersebut dengan menerbitkan Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli Tanah (SPPJBT) antara PLN dengan PT KIJ. Dirut PLN mengeluarkan penetapan pembelian lahan kepada PT KIJ seluas ± 170 Ha dengan nilai beli Rp187.

SH. maka dokumen HGB tersebut secara fisik seharusnya dikuasai oleh bank yang bersangkutan. bulan Oktober 2004).000. Untuk itu PLN telah menunjuk Notaris Hj. bahwa biaya PPAT/Notaris untuk pengalihan hak ditanggung PLN.166. Selain itu sesuai ketentuan perundangan tidak dapat dialihkan/dijual ke pihak lain sebelum ada surat roya (pembebasan hutang) dari bank pemberi kredit.d. PT KIJ akan melaksanakan proses balik nama tersebut dalam waktu 120 hari (s. 46 BPK-RI/AUDITAMA V . Oleh karena apabila HGB tersebut masih dijaminkan di bank pemberi kredit. Sesuai perjanjian pengikatan jual-beli tanah.d.68 Ha) atau hanya 9. PT KIJ menganggap masalah tersebut hanya bersifat teknis dan tidak ada masalah yang mendasar. Informasi tersebut di atas menimbulkan keraguan bahwa: a. 4 Oktober 2004). melalui Surat Perjanjian No. Greta Noordian. PT KIJ mengakui baru menyerahkan kepada notaris surat dokumen tanah seluas 156.00 dan jangka waktu pelaksanaan selama 120 hari (s.2.d.000 m2) atas nama PLN.847 m2 (15. sehingga dokumen tanah belum dapat diserahkan oleh PT KIJ kepada notaris tersebut. tanggal 4 Juni 2004 dengan biaya Rp880.700.000.22% dari keseluruhan luas lahan sebesar 170 Ha yang diperjanjikan. Akan tetapi notaris belum dapat melaksanakan pekerjaannya meskipun telah dilakukan dua kali perpanjangan waktu (Amandemen I tanggal 1 Oktober 2004 dan Amandemen II tanggal 6 Januari 2005) dengan batas waktu perpanjangan s. 31 Agustus 2005. Sertifikat HGB sejumlah 23 buah yang pernah diserahkan kepada PLN dan diambil kembali oleh PT KIJ merupakan HGB untuk lokasi tanah yang akan dibeli oleh PLN sesuai perjanjian.dan penggabungan menjadi satu sertifikat tanah (seluas 1. Notaris melalui surat tanggal 30 September 2004 memberitahukan PLN bahwa dokumen tanah yang telah diserahkan oleh PT KIJ baru sebagian dan itupun masih dalam proses pengajuan HGB ke BPN yang kebetulan pengurusannya diserahkan oleh PT KIJ kepada notaris tersebut. Alasan yang diajukan oleh notaris adalah PT KIJ belum mendapatkan pembebasan (Roya) dari bank (pemberi kredit). PT KIJ dalam surat tanggal 21 September 2004 yang ditujukan kepada Panitia Pengadaan Lahan menyatakan bahwa pengurusan surat roya memerlukan persetujuan 16 buah bank/LKNB yang saat ini sedang dalam pengurusan untuk itu.PJ/061/MKPST/2004.

72.201. c. tanggal 11 Agustus 2003 antara lain menugaskan Tim Pengadaan Lahan untuk melaksanakan pengadaan lahan dengan kriteria lahan telah bersertifikat.. dan 82) tidak terdapat dalam peta rincikan. sudah menyatu dan tidak dalam status dijaminkan kepada pihak manapun. SK Direksi No. 71.K/920/DIR/1998 Bab V. benda itu berada. d. dalam tangan siapa pun.K/010/DIR/2003.b.00) c. Sertifikat HGB sejumlah 23 buah yang diserahkan oleh PT KIJ sebagai persyaratan pembayaran uang muka seharusnya cocok/sesuai dengan peta lokasi/rincikan lahan yang menjadi lampiran yang tidak terpisahkan (merupakan satu kesatuan) dari Surat Perjanjian Perikatan Jual-Beli Tanah antara PLN dengan PT KIJ.038.570. Dalam penjelasan lebih lanjut dikatakan bahwa hal tersebut merupakan cara bisnis yang wajar bagi PT KIJ karena PLN baru memberikan uang muka sebesar 10% (Rp20. 70. KUH PERDATA a) Pasal 1198 menyatakan bahwa “si berpiutang yang mempunyai suatu hipotik yang telah dibukukan.5. ……. peta rincikan tersebut baru diterima dari PT KIJ pada tanggal 22 Maret 2005. Panitia pengadaan ternyata tidak memiliki peta rincikan (site plan) lokasi lahan yang akan dibeli. (2) Sebagian sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB No. Hasil pencocokan fotocopy 23 buah sertifikat HGB (sertifikat asli dipinjam kembali oleh PT KIJ) dengan peta rincikan tersebut adalah (1) Berdasarkan peta tersebut diketahui bahwa tanah yang dibeli belum menyatu.000.1. 54. Berdasarkan permintaan Tim BPK-RI melalui Panitia. Panitia pengadaan lahan PLN dalam penjelasannya menyatakan tidak tahu kalau lahan yang akan dibeli masih dalam status dijaminkan di bank.000. 53. (3) Sebaliknya sebagian lahan yang masuk dalam peta rincikan tersebut masih dalam proses pelepasan hak/pembebasan (belum bersertifikat) Sesuai dengan: a. menyatakan bahwa uang muka dapat diberikan sesuai perjanjian setelah rekanan menyerahkan jaminan uang muka.” 47 BPK-RI/AUDITAMA V . b. dapat menuntut haknya atas benda tak bergerak yang diperikatkan. 57. Keputusan Direksi PLN No.

Proses pengalihan hak lahan atas nama PLN berlarut-larut dan belum dapat dipastikan penyelesaiannya. dan sudah bersertifikat (HGB).00 kepada PT KIJ tidak sah. c) Pasal 1209 menyatakan bahwa hipotik hapus : (1) karena hapusnya perikatan pokok. PT KIJ berindikasi melakukan tindak pidana penipuan karena pada saat menerima pembayaran tahap I. 48 BPK-RI/AUDITAMA V . Hal tersebut mengakibatkan: a. Tim pengadaan lahan LNG RTRF tidak melaksanakan tugas pokok yang sudah ditetapkan oleh Direksi (d. e. Atas hal tersebut (butir 1) Pembayaran tahap I sebesar Rp20. menyita benda tak bergerak yang diperikatkan. setelah ia memperingatkan si berutang.i Dirut) PLN dalam hal menjamin diperolehnya lahan yang bebas dari sengketa/penjaminan.b) Pasal 1199 menyatakan bahwa “si berpiutang berhak untuk. diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun. b. kondisi lahan menyatu .000. dari tangan orang ke tiga yang menguasainya. menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya. dengan memakai nama palsu atau martabat palsu. KUHPIDANA pasal 378 menyatakan bahwa barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. (3) karena penetapan tingkat oleh hakim.h. c. (2) karena pelepasan hipotiknya oleh si berpiutang. ataupun rangkaian kebohongan. atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang. Direktur Pembangkitan Energi Primer tidak melakukan pengendalian secara optimal atas pelaksanaan tugas panitia pengadaan lahan. b. dengan tipu muslihat. dan mengusahakan penjualannya”.570. telah menyerahkan dokumen (HGB) tanah yang tidak sesuai dengan peta lokasi yang diperjanjikan.000. Hal tersebut terjadi karena: a.

menyatakan bahwa 16 HGB dapat dilakukan transaksi jual-beli tahap I. bahwa: a.000. Sesuai temuan BPK-RI bahwa dari 23 HGB yang diserahkan/ditunjukkan kepada PLN pada saat pembayaran tahap I : 1) Sejumlah 16 HGB (140. Untuk itu surat tanah akan segera diserahkan kepada Notaris untuk dapat dilakukan transaksi jual beli tahap III. Surat pernyataan dari PT Jababeka tanggal 29 April 2005. 2) Sejumlah 7 HGB (± 30 Ha) yang diserahkan PT Jababeka ternyata tidak termasuk dalam peta lokasi tanah yang akan dibeli PLN. Surat keterangan Notaris tanggal 12 April 2005 (terlampir). yang sebelumnya menghadapi masalah tuntutan kembali dari masyarakat setempat. PLN telah meminta dan menerima bank garansi sebagai jaminan pembayaran uang muka ini. Hal ini sesuai penjelasan dalam surat notaris tanggal 2 Mei 2005. b.570. menyatakan bahwa masalah tersebut telah dapat diatasi.00 (termasuk PPN) adalah sebagai tanda ikatan berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual-Beli (PPJB) agar tanah tidak dijual ke pihak lain.000. Atas temuan BPK-RI tersebut Jababeka (pihak penjual) bersedia mengganti sesuai yang dimaksud dengan menyerahkan lahan seluas ± 30 Ha.PLN menjelaskan. dengan syarat dilakukan dalam satu kesatuan waktu yang bersamaan dengan pihak-pihak terkait dalam sertifikat itu. Selanjutnya akan dapat dilakukan transaksi jual-beli tahap II. dengan rincian/kondisi : Lahan seluas 17 ha (41 bidang tanah) dengan bukti Surat Pelepasan Hak atas Tanah saat ini sedang dalam proses sertifikasi menjadi HGB atas nama PT Jababeka di BPN. Sesuai temuan BPK – RI. Untuk itu PLN akan meneliti apakah ke 16 HGB tersebut masih terikat dengan pihak terkait/bank (dijaminkan ke bank) atau sudah dibebaskan dari hak pertanggungan (diroya) dan sudah diterima oleh notaris yang bersangkutan. Pembayaran tahap I sebesar Rp20.70 Ha) termasuk dalam peta lokasi/peta rincikan tanah yang akan dibeli PLN. 49 BPK-RI/AUDITAMA V . Lahan seluas 13 ha dengan status Surat Pelepasan Hak.

201. Meminta pertanggungjawaban dari Jababeka untuk segera menyerahkan/mengganti HGB sesuai lokasi yang disyaratkan dalam kontrak.749 calon pelanggan yang telah satu bulan hingga lima tahun membayar BP. b. Tingginya jumlah pelanggan daftar tunggu tersebut antara lain menurut Bagian Pelayanan PLN Cabang Makassar karena belum tersedianya kWH Meter dan Perum Perumnas belum membangun perumahannya. BPK – RI menyarankan agar PLN segera melakukan inventarisasi daftar tunggu pelanggan untuk menentukan prioritas dan memberikan sambungan listrik sesuai dengan 50 BPK-RI/AUDITAMA V .111 calon pelanggan yang telah lebih dari 5 tahun (sejak April 1998) membayar BP dan 2.K/010/DIR/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Hal tersebut mengakibatkan PLN kehilangan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan dari penjualan listrik. Hal ini terjadi karena Bidang Pelayanan dan Niaga pada PLN Cabang Makassar belum sepenuhnya menerapkan tingkat mutu pelayanan. PLN Cabang Makassar belum sepenuhnya menerapkan tingkat mutu pelayanan dalam penyambungan listrik perumahan Pemeriksaan atas pendapatan Biaya Penyambungan (BP) PLN Cabang Makassar diketahui bahwa PLN sampai dengan Desember 2004 belum dapat memenuhi permintaan sambungan listrik kepada 1. Tingkat mutu pelayanan yang diterbitkan oleh PLN Cabang Makassar menyatakan bahwa kecepatan pelayanan sambungan tegangan rendah adalah selama 25 Hari. Memberikan teguran kepada tim pengadaan tanah yang tidak melaksanakan tugas sesuai SK Direksi No.BPK – RI menyarankan agar Direksi PLN: a.043 buah dan sampai dengan tanggal 16 Desember 2004 telah didistribusikan ke unit rayon/ranting sebanyak 3. Namun cek fisik di gudang tanggal 7 Desember 2004 menunjukkan persediaan kWH Meter sebanyak 1672 buah. 7.345 buah. PLN Cabang Makassar menjelaskan bahwa kWH meter tersebut baru diterima dari Kantor Wilayah awal bulan Nopember 2004 sebanyak 4.

363.296.464.715 84.769.884. Boyolali. dan Sragen menyatakan bahwa Pemda keberatan atas tagihan PJU yang dipasang masyarakat tersebut dan meminta agar pendataan tersebut dilakukan bersama-sama dengan Pemda.530 4.145.344.710.948.890. 8. 8.315.944.020 8. K U D U S APJ.276. 9.794.686 32. Blora.057 Dibayar 683. 6.670 3. Cilacap. Wonosobo.231.255.296. CILACAP APJ.189.067.189.248.408.673. SALATIGA APJ.900 0 0 0 0 3.948.344.113 Saldo 35.88 juta PLN Disjateng telah melakukan pendataan atas Penerangan Jalan Umum (PJU) yang dipasang oleh masyarakat dalam rangka menurunkan susut tenaga listrik.944 No 1.210 1. Klaten. Surakarta.594. 3.315. Bantul.020 8.408. Surat Keputusan (SK) Direksi PLN No.435 22.435 22. menerbitkan rekening dan menagihkan kepada masing-masing Pemerintah Daerah (Pemda) di Jawa Tengah.890. Kudus.594. KLATEN APJ.306.884. APJ APJ.833 112.00 yang telah dibayar dari total tagihan rekening Pemda yang diterbitkan tahun 2004 sebesar Rp118.010.255.067.476.948. YOGYAKARTA APJ. SEMARANG APJ.105 3.248.492.586 32.363.845 5.00 merupakan tunggakan PJU dengan rincian sebagai berikut: PJU tidak sah (Rupiah) Piutang Aliran Listrik 36.778 0 5.464. PURWOKERTO APJ. MAGELANG Jumlah Hasil konfirmasi ke Pemda Semarang. 2.327.K/010/DIR/2004 tanggal 27 Pebruari 2004 antara lain menyatakan bahwa pemasangan PJU tidak sah termasuk dalam pengertian 51 BPK-RI/AUDITAMA V .435 0 743. sedangkan sisanya sebesar Rp112.574.330.018. Susut tenaga listrik yang berasal dari pemasangan penerangan jalan umum oleh masyarakat di Jawa Tengah merugikan PLN sebesar Rp112.113.493 84. Banyumas. 7.306.prioritas tersebut. SURAKARTA APJ.833 118.210 487.985.879.574.057.845 5. Pendataan tersebut ternyata belum seluruhnya berkoordinasi dengan Pemda sehingga hanya sebesar Rp5.00. 4 5.401.724.401.530 8.

PLN akan melanjutkan upaya penagihan dan telah disepakati jadwal pembahasan tanggal 15 Juni 2005 dengan Pemda Kudus. BPK – RI menyarankan agar: a.PJ/061/UBKITLURSU/2002 tanggal 1 Mei 2002 PLN Kitlursu telah menunjuk PT Citra Bintang Familindo (PT CBF) untuk mengangkut BBM (HSD dan MFO) dari supply point Pertamina ke PLTGU Belawan dengan ongkos angkut sebesar Rp53. Kontrak tersebut telah beberapa kali dilakukan amandemen untuk perpanjangan jangka waktu pengangkutan dan penyesuaian ongkos angkut. Dengan demikian seharusnya PLN penertiban atas pemasangan PJU tidak No. b.00 tersebut merugikan keuangan PLN.054 dan 055.68.09 juta dalam penyesuaian ongkos angkut BBM selama tahun 2004 Berdasarkan kontrak No.884.2% dari ongkos angkut merupakan biaya bunker yang dipengaruhi harga BBM. PLN berkoordinasi dengan Pemda setempat dalam melakukan pendataan PJU tidak sah.015/liter. Ongkos angkut setelah penyesuaian 52 BPK-RI/AUDITAMA V . PLN bekerjasama dengan Pemda untuk menertibkan/melakukan pemutusan atas PJU tidak sah yang tidak dibayar oleh Pemda setempat. sesuai Disjateng melakukan SK Direksi PLN Pemakaian listrik oleh masyarakat untuk PJU sebesar Rp112. sah tersebut. 16 Juni 2005 dengan Pemda Solo.susut distribusi non teknik. Terdapat ketidakhematan sebesar Rp810. PLN menjelaskan bahwa upaya penagihan tunggakan ini telah dilakukan oleh PLN Disjateng dan masing-masing APJ dengan berkoordinasi dengan Pemda setempat.944.K/010/DIR/2000. serta 17 Juni 2005 dengan Pemda Klaten dan Pemda Yogyakarta. Rumus penyesuaian ongkos angkut dalam kontrak menunjukkan bahwa 57. Hal tersebut terjadi karena PLN Disjateng tidak melakukan penertiban atas PJU tidak sah dan tidak berkoordinasi dalam melakukan pendataan PJU tersebut dengan masing-masing Pemda di Jawa Tengah. Selama pembahasan belum selesai maka PLN akan melakukan pemutusan PJU tersebut untuk mencegah kerugian yang lebih besar. 9.948.

025/liter dibandingkan harga kontrak awal.00 Rp124. pelayaran pulang pergi dan pembongkaran berdasarkan pemeriksaan dokumen kontrak berkisar 94.250 liter Rp1.107% dari ongkos angkut sebesar Rp53.yang berlaku selama tahun 2004 sebesar Rp63.015 dengan perhitungan sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Kebutuhan BBM operasi (terbanyak) Harga BBM saat kontrak Nilai biaya bunker (1 x 2) Volume BBM yang diangkut (minimal) Biaya bunker per liter BBM yang diangkut (3/4) Ongkos angkut kontrak (tanpa PPN 10%) Porsi biaya bunker terhadap ongkos angkut (5/6 x 100) 100. PLN Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Utara (Kitlursu) menjelaskan bahwa 53 BPK-RI/AUDITAMA V .04 per liter.d.52 atau (Rp0. Hal tersebut terjadi karena penyusun rumusan penyesuaian ongkos angkut yang berasal dari kenaikan harga BBM kurang cermat dan kurang memperhatikan prinsip kehematan.00)). Biaya bunker atau kebutuhan BBM untuk operasi tanker selama pemuatan.000 liter Rp27.463 liter s.088.52 merupakan pemborosan dan merugikan keuangan PLN.240. Seharusnya setiap penyesuaian harga BBM didasarkan kepada kebutuhan riil BBM yang dibutuhkan untuk operasi tanker.8911 x 909.015 52.000.650.875. sehingga terdapat selisih ketidakhematan sebesar Rp0.015 x (Rp1.088.04 – Rp62. Porsi biaya bunker yang berasal dari BBM berdasarkan kebutuhan BBM tersebut seharusnya hanya sebesar 52.47893 x Rp53.624 per liter Rp53. 100.088.8911 per liter (Rp63.1489) dari nilai penyesuaian ongkos angkut sebesar Rp63. Total ketidakhematan nilai ongkos angkut BBM HSD dan MFO sebanyak 909.250 liter.107% Dengan demikian ongkos angkut setelah penyesuaian selama tahun 2004 seharusnya hanya sebesar Rp62.00 4.240.627 liter).015 + (0.00/Rp1.500.088.310.1489 per liter (0.627 liter selama tahun 2004 sebesar Rp810.04 atau naik sebesar Rp10.875. Ketidakhematan penyesuaian ongkos angkut selama tahun 2004 sebesar Rp810.52107 x Rp53.

10.PJ/131/PIKITRING JBN/2004 tanggal 12 Juli 2004 dengan lingkup pekerjaan pondasi switchyard dan pekerjaan pengadaan dan pemasangan peralatan E/M 150 kV GI Surya Cipta. PLN Pikitring JBN menjelaskan akan melakukan amandemen untuk kerja kurang tersebut. dan PT Indonesia Power (IP).000. Dari hasil pemeriksaan atas kontrak tersebut diketahui terdapat item biaya pengangkutan material dari gudang Cawang dengan nilai pekerjaan sebesar Rp75. Dalam pekerjaan tersebut ternyata tidak ada persyaratan bagi pemborong untuk mengambil material dari gudang PLN di Cawang.000. BPK–RI menyarankan agar dilakukan perubahan rumusan penyesuaian ongkos angkut BBM dengan mendasarkan pada realisasi kebutuhan bahan bakar tanker sesuai hasil independent surveyor.PLN akan menugaskan independent surveyor untuk menghitung biaya bunker kapal untuk menentukan kebutuhan bahan bakar untuk rumusan biaya kenaikan BBM.000. Hal tersebut terjadi karena panitia pengadaan kurang cermat didalam memperhitungkan biaya pekerjaan sesuai lingkup pekerjaan. Kontrak angkutan BBM tahun 2005. Terdapat kontrak yang memuat ongkos pengangkutan material yang tidak perlu dilaksanakan PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Jawa Bali Nusa Tenggara (JBN) dan konsorsium Va Tech dan Kencana Alam mengikat kontrak No. 54 BPK-RI/AUDITAMA V .00. Item biaya yang tercantum dalam kontrak seharusnya sesuai dengan lingkup pekerjaan yang wajib dilaksanakan oleh pemborong/pelaksana kegiatan dan kelebihan perhitungan harga kontrak untuk ongkos angkut sebesar Rp75.060.000. rumusannya akan disempurnakan dan sebagai referensi akan mempelajari kontrak BBM yang ada di unit lain seperti PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).00 harus ditagihkan/dipotongkan dari pembayaran.

999).081.72/m atau lebih rendah sebesar Rp5.504. Sedangkan harga XLPE MV yang diperhitungkan dalam surat penawaran pabrikan PT Terang Kita hanya sebesar Rp16. Sesuai surat General Manager (GM) Disjateng No.00 menjadi Rp9.08 juta Dalam rangka memenuhi kebutuhan kabel Twisted TM NA2XSY-T 3 x 240 + 50 mm2 tahun 2004.d.00).00 per meter.000.504.84/m dari nilai penyesuaian sebesar Rp50. Penyesuaian harga tersebut didasarkan atas kenaikan kurs USD (Rp8.00 per meter.615.16 (Rp5. kenaikan harga aluminium berdasarkan harga satuan LME (USD 1.d. Hal tersebut terjadi karena panitia kurang cermat dalam membuat perhitungan 55 BPK-RI/AUDITAMA V .081.72). Jumlah kabel twisted TM yang dipesan oleh seluruh APJ Disjateng periode 1 Oktober s.616. 31 Desember 2004 harga disesuaikan menjadi Rp173.BPK–RI menyarankan agar PLN segera membuat amandemen kontrak kerja kurang tersebut.00. Kemahalan nilai kontrak sebesar Rp99.40/m atau 51.151.615. maka sejak tanggal 1 Oktober s.934. Panitia menggunakan harga dasar sebesar Rp27. 31 Desember 2004 sebanyak 17.777.857.JTY/2004 tanggal 8 Oktober 2004 yang didasarkan pada Berita Acara (BA) Negosiasi Penyesuaian Harga Satuan No. Harga yang ditetapkan dalam PKS sebesar Rp141.84 x 17.999 m sehingga nilai kemahalan kontrak sebesar Rp99.000.51% dari harga pabrikan dalam menyesuaikan harga XLPE Insulation MV.00/m atau 12% dari harga pabrikan Rp141.16 tersebut merupakan pemborosan dan merugikan keuangan PLN Disjateng. Dengan demikian nilai komponen XLPE MV seharusnya hanya sebesar Rp44.00/m.888/612/D. PLN Disjateng telah melakukan pengadaan material tersebut melalui PKS dengan pabrikan.000.129/612/TIM PKS MDU/2004 tanggal 6 Oktober 2004. Seharusnya panitia cermat dalam menghitung variabel dasar untuk penyesuaian harga kontrak. Penyesuaian harga kabel twisted tegangan menengah melalui perjanjian kerjasama terlalu tinggi sebesar Rp99.54/m.00 menjadi USD 1.705. 11.448.362. dan apresiasi harga rata – rata minyak (USD 32/barel menjadi USD 45/barel).

20 yang seharusnya hanya Rp7.Pj/061/KITLURSU/2004 tanggal 14 Mei 2004.000.00 didasarkan pada referensi harga dari Practice Solution PTE.000.360.589. Ltd.000.00 (Rp6.615.395.000. 12.34 menjadi Rp7.00 sesuai kontrak No. PLN Disjateng menjelaskan setuju dengan temuan BPK – RI dan selanjutnya akan ditagihkan kepada pabrikan yang bersangkutan dengan nilai Rp99.00 karena panitia salah menjumlahkan harga dengan ROK sebagai dasar untuk menghitung faktor kali nilai HPS yaitu Rp7.759.692.16.00 yang dilaksanakan oleh CV Karya Cipta Putra Pintu Batu (CV KCPPB) sesuai kontrak No. Panitia kurang cermat dalam membuat Harga Perhitungan Sendiri (HPS) Ketidakcermatan tersebut tampak dari masih ditemukannya kesalahan aritmatik dalam perhitungan HPS dan kesalahan memahami kondisi harga di referensi harga pabrik.16.615. HPS yang ditetapkan panitia sebesar Rp3.746.00 – Rp6.penyesuaian harga.779.000. 2) Pengadaan Turbin Blades dan Diaphragm PLTG Wescan I Sektor Belawan yang dilaksanakan oleh PT Prayojana Karya (PT PK) senilai Rp3.746.201.509.270.095.PJ/061/KITLURSU/2004 tanggal 23 Agustus 2004.852.870. Masalah ini terjadi di PLN Kitlursu sebagai berikut: 1) Pengadaan retrofit chlorofac PLTGU Sektor Belawan senilai Rp6.00 sehingga nilai kontrak pengadaan lebih mahal sebesar Rp19.300.000.081.86 ditambah Rp177.00).00271/Q-04 tanggal 15 Maret 56 BPK-RI/AUDITAMA V . Nilai pengadaan dengan memperhitungkan koreksi aritmatik tersebut adalah sebesar Rp6.300. Pengendalian kewajaran harga pengadaan melalui penetapan Harga Perhitungan Sendiri masih lemah Hasil pemeriksaan atas pengadaan dibeberapa unit PLN menunjukkan bahwa: a. sesuai surat No.94. HPS yang ditetapkan sebesar Rp6.081.692.000.093.219.000. BPK – RI menyarankan agar PLN menegur panitia pengadaan dan segera menagih pabrikan sebesar Rp99.759.

000.324. ternyata panitia dalam menghitung HPS dalam kondisi F.276.B Singapore (luar negeri).1/Dirut/V/2004/Kitlur 57 BPK-RI/AUDITAMA V .PJ/061/PKITLURSS/2004 tanggal 10 Agustus 2004. 31 Desember 2004.213.00 (Rp3.00 didasarkan pada referensi kontrak PJB No.293.771.O.000.000.d. HPS dibuat berdasarkan atas penawaran PT CDB No. Nilai pengadaan berdasarkan referensi harga F. namun terdapat HPS yang memperhitungkan ROK lebih dari 10%.771.600.00 – Rp3.B Belawan dan ROK maksimum 10% adalah sebesar Rp3.589. Hal ini terjadi dalam pengadaan element air heater sisi dingin PLTU unit 3 Belawan senilai Rp831.00 (Rp831.O. b.00 yang dilaksanakan oleh CV Baroma Asih sesuai kontrak No.839.00).00 – Rp799.000.B) Belawan.O.276.00 sehingga nilai kontrak lebih mahal sebesar Rp67.020.293.PJ/061/2000 tanggal 28 Pebruari 2000 dan memperhitungkan ROK sebesar 15%.000.Pj/061/KITLURSU/2004 tanggal 5 Pebruari 2004. Nilai pengadaan dengan memperhitungkan ROK maksimum 10% adalah sebesar Rp799.000.839.00).00 sehingga nilai kontrak lebih mahal sebesar Rp32.080.030. HPS dibuat tidak sesuai ketentuan 1) Perhitungan ROK diatas batas maksimum sesuai yang ditetapkan Direksi PLN di PLN Kitlursu Ketentuan ROK yang dapat diperhitungkan dalam HPS adalah maksimum 10%. Surat tersebut menyatakan bahwa harga penawaran dalam kondisi Factory on board (F.607. Harga kontrak sebesar Rp249.852.000.360.600. HPS yang ditetapkan panitia sebesar Rp835.160.105.161.00 per bulan untuk jangka waktu 5 bulan terhitung tanggal 1 Agustus s. Indonesia. 2) HPS memperhitungkan PPh rekanan di PLN Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Selatan (Kitlurss) PLN Kitlurss menunjuk langsung PT Cogindo Daya Bersama (PT CDB) untuk melakukan pekerjaan jasa pengoperasian dan pemeliharaan Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) Indralaya unit 2 berdasarkan kontrak No.2004.

HPS dibuat belum mendasarkan pada harga kontrak/Surat Perintah Kerja (SPK) untuk barang atau pekerjaan sejenis setempat/unit PLN lain yang sedang/telah dilaksanakan.958. Nilai pengadaan tanpa bea masuk (0%) seharusnya hanya sebesar Rp11.00 sehingga nilai kontrak pengadaan lebih mahal sebesar Rp376. HPS dibuat tidak mendasarkan tarif dari instansi yang berwenang Panitia pengadaan di PLN Kitlursu membuat HPS untuk pengadaan suku cadang pembangkit yang berasal dari luar negeri (impor). pabrikan kabel.00.00 – Rp230.821.381.381.150.635.936.464.11.663A/F/PH/CMI/VI/04 tanggal 5 Juli 2004).595.00 sesuai dengan nilai HPS yang ditetapkan panitia untuk keempat kontrak tersebut.972.00).828.63)}.821.625.861. 1) Pengadaan MDU di PLN Disjatim Pengadaan dan pemborongan pekerjaan penggantian jaringan distribusi PLN Disjatim dalam tahun 2004.589.00.tanggal 16 Juli 2004 sebesar Rp249. PT Bambang Djaya (surat No. selalu memperhitungkan bea masuk 5%.869.869.00 (11.972. HPS atas MDU yang dibuat oleh panitia didasarkan atas informasi harga pabrikan trafo.600. Rp27. Hasil pemeriksaan atas pengadaan MDU melalui PKS oleh pabrikan yang sama di berjumlah 58 BPK-RI/AUDITAMA V .464.758.057/BDM/0704 tanggal 8 Juli 2004). c. Barang tersebut merupakan bagian mesin diesel atau semi diesel yang seharusnya sesuai dengan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tidak dikenai bea masuk (0%).589.779.63 sehingga nilai kontrak lebih mahal sebesar Rp93.85 {5 x (Rp249.SGM/1340/SPH/VII/2004 tanggal 6 Juli 2004) dan PT Citra Mahasurya Industries (surat No. Pengadaan suku cadang impor di PLN Kitlursu selama tahun 2004 dilaksanakan dalam 4 kontrak dengan total nilai kontrak Rp11. Nilai HPS tanpa PPh rekanan adalah sebesar Rp230.00 yang dalam perhitungannya memasukkan PPh 7.160.600.160. dilaksanakan oleh rekanan yang berkonsorsium dengan pabrikan material distribusi utama Nilai (MDU) MDU dalam dalam 24 kontrak kontrak dengan tersebut total nilai Rp62. d.996. PT Terang Kita (surat No.962.5%.635.00 .758.

00 Selisih (72.000.000.620. Harga kontrak terdiri dari harga trafo yang sudah termasuk biaya supervisi pemasangan sebesar Rp72.195.000.000.00 252.000.423.00) (394.00) 59 BPK-RI/AUDITAMA V .000. yang terdiri dari harga 4 trafo sebesar Rp15.000.195.979.00 – Rp25.210. Panitia membuat HPS sebelum pajak sebesar Rp15.577. dengan rincian sebagai berikut: Uraian Trafo 4 buah beserta kelengkapanya Biaya Angkutan ke 4 lokasi Total Total (+PPN) HPS Seharusnya 15.500. Solo Baru dan GI Alta Prima Gresik dengan rekanan PT Elektrima Karya Tama (PT EKT) yang berkonsorsium dengan PT Unindo berdasarkan kontrak No.195.210.988.00) (358.13/061RJKB/2003 tanggal 18 Juli 2003.183.114.114.920.440.000.979.00 Kontrak No.000.321 15.00) (286. Panitia menerbitkan HPS berdasarkan harga kontrak SPK No. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa PLN P3B Region Jakarta dan Banten juga mengadakan kontrak pengangkutan trafo ke 4 lokasi GI tersebut dengan rekanan yang sama.00 sehingga nilai kontrak lebih mahal sebesar Rp2.102.000.321/PJ/061/2004 senilai Rp17.00 (Rp27.00 17.00 dan ongkos angkut sebesar Rp539. Nilai pengadaan MDU dengan harga loko pabrik di PLN Disjabar dalam jumlah kuantitas MDU yang dibeli seharusnya hanya sebesar Rp25.00 15. 2) Pengadaan Trafo di PLN P3B a) PLN P3B Kantor Induk PLN P3B Kantor Induk melakukan pengadaan dan pemasangan trafo 150/20 KV 60 MVA di GI Bogor baru. Serang.000.577.000.958.920.900.440.000.275.00 17.861.00.00 dan ongkos angkut.00 15.000.00 539.970.538.PLN Disjabar menunjukkan bahwa realisasi harga pengadaan MDU pada periode yang sama ternyata jauh dibawah informasi harga pabrikan di PLN Disjatim.000.962.000.000.00 berdasarkan informasi harga PT EKT pada pelelangan tahun 2004 di P3B Region Jawa Barat.195.500.275.012.500.651.000.000.368.538.00).00 dan tidak termasuk biaya supervisi pemasangan.

102.000.00 183. sedangkan RKS maupun kontrak hanya mencakup pengadaan dan tidak sampai pemasangan trafo.102.000.00 Selisih (Rp) 88.000.800.623.000.102 lebih mahal sebesar Rp217.00 396.00 (Rp17.Rp17.860.00 berdasarkan referensi harga kontrak pengadaan trafo tahun 2003. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa PLN P3B Region Jawa Barat juga melaksanakan kontrak No.640.00) (197.000.102. maka nilai HPS seharusnya sebesar Rp17.185. Nilai HPS maupun kontrak memperhitungkan biaya supervisi pemasangan untuk 4 buah trafo sebesar Rp72.404.00) (72.Pj/061/RJKB/2004 tanggal 24 September 2004 PLN P3B Region Jakarta Banten melaksanakan pengadaan trafo 60 MVA 150/20 KV untuk GI Citra Habitat New Tanjung.800.476.000.00 17.321.160.00 dengan rincian: No 1 2 3 Uraian Trafo (termasuk oli ) Trafo 4 buah Pengangkutan Ke 4 GI Supervisi Pemasangan Total Total (+ PPN) HPS Seharusnya (Rp) 15.000.151.000. b) PLN P3B Region Jakarta Banten Berdasarkan kontrak No.000.820.000.404.00 sehingga nilai kontrak lebih mahal sebesar Rp394.059. maka nilai kontrak seharusnya hanya sebesar Rp17.500.616. 3) Pekerjaan pembangunan/pengadaan konstruksi Sambungan Kabel Tegangan 60 BPK-RI/AUDITAMA V .000.00 .000.00.000.000.000.00.880.00 (213.402.00) (217.000.402.00 Nilai Kontrak (Rp) 15.000.000.160.Apabila harga kontrak tersebut dipakai sebagai dasar perhitungan HPS kontrak No.476.00 17.402. Harga kontrak PLN P3B Region Jawa Barat bila digunakan sebagai referensi harga untuk membuat HPS kontrak No.00 72.183.00).000.000.000.00) Dengan demikian nilai kontrak No. Panitia membuat HPS sebesar Rp17.000.00 Termasuk harga trafo 15.000.000.880.00 15.872. dan harga per unit sebesar Rp3.000.012.880.000.185.476. Lengkong dan Damayasa senilai Rp17.PJ/061/RJBR/2004 tanggal 27 Juli 2004 untuk pengadaan barang sejenis dengan rekanan yang sama.000.000.00.440.185.640.352.000.00 dengan rekanan PT EKT yang berkonsorsium dengan PT Unindo.

PJ/130/PIKITRING JBN/2004 tanggal 26 Juli 2004. HPS tersebut tidak disahkan oleh Pemimpin Proyek dan perhitungannya tidak mengacu pada kontrak sejenis yang dilakukan sebelumnya.413.000.046 bila digunakan sebagai dasar untuk membuat HPS kontrak No.162.354. dengan rincian sebagai berikut : a) Kontrak No.00 terdiri dari pengelasan baut untuk 662 tower sebesar Rp2.600. maka nilai HPS seharusnya sebesar Rp2.875.00.000.00 dan biaya persiapan Rp12.000.740. 4) Kontrak pengadaan/pemborongan pekerjaan di Pikitring JBN Hasil pemeriksaan secara uji banding kontrak-kontrak sejenis yang dilaksanakan sebelumnya oleh proyek Pikitring maupun informasi harga pabrikan yang diperoleh melalui kontrak PLN P3B diketahui terdapat kemahalan harga kontrak sebesar Rp1.000.046.768.00.400. Pekerjaan tersebut antara lain berupa penggantian kabel yang sebagian dilaksanakan dengan sistem supply and erect dan sebagian lainnya disediakan oleh PLN.00 dari uji petik 3 kontrak.00 terdiri dari: 61 BPK-RI/AUDITAMA V .Menengah (SKTM) 20 kV di PLN Disjaya PLN Disjaya telah melaksanakan 21 paket pekerjaan pembangunan/pengadaan kontruksi SKTM 20 kV. HPS panitia setelah PPN sebesar Rp3. lingkup pekerjaan pengelasan baut 662 tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV Tasikmalaya-Depok dengan pelaksana kontrak PT Mekar Harapan Lestari.315.00.122.075.000.844.063. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa biaya pengangkutan kabel sistem supply and erect ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pengangkutan kabel yang kabelnya disediakan oleh PLN sebesar Rp40.00 terdiri dari pengelasan baut untuk 662 tower ditambah biaya persiapan.826. Harga kontrak No. Uji banding kontrak sebelumnya menunjukkan bahwa kontrak No.614.990. terdapat item pekerjaan pengelasan mur baut tower dengan nilai borongan setiap tower hanya sebesar Rp3.063.PJ/130/PI KITRING JBN/2004 tanggal 29 Maret 2004.000. Nilai borongan sebesar Rp3.

No 1 2

Uraian Pengelasan baut 662 tower Biaya persiapan Total Total (+ PPN)

HPS Seharusnya (Rp) 2.093.244.000,00 12.000.000,00 2.105.244.000,00 2.315.768.400,00

Nilai Kontrak (Rp) 2.730.830.000,00 65.000.000,00 2.795.830.000,00 3.075.413.000,00

Selisih (Rp) (637.586.000,00) (53.000.000,00) (690.586.000,00) (759.644.600,00)

Dengan demikian nilai kontrak No.063 lebih mahal sebesar Rp759.644.600,00. b) Kontrak No.042.1.PJ/131/PIKITRING JBN/2003 tanggal 25 Agustus 2003, senilai Rp47.402.949.000,00 (termasuk PPN) untuk lingkup pekerjaan pengadaan dan pemasangan 150/20 kV Trafo 60 MVA steel structure gantry, E/M, metalclad switchgear, dan Telekomunikasi GI 150 kV Poncol, terdapat pengadaan 2 set Power Transformator (trafo) 150/20 kV 60 MVA lengkap dengan aksesorisnya (Merk Alstom dari PT Unindo) dengan harga satuan Rp4.257.000.000,00 termasuk PPN. HPS yang dibuat panitia tanggal 22 Juli 2003 sebesar Rp47.733.841.100,00 dengan HPS trafo sebesar Rp4.684.900.000,00 per set (termasuk PPN) mengacu kepada kontrak No. 096B.PJ/131/PIKITRING JBN/2002 tanggal 2 Desember 2002 untuk pekerjaan pengadaan dan pemasangan trafo tenaga 1x60 MVA Gardu Induk Tigaraksa. Uji banding pengadaan sejenis yang diadakan di PLN P3B kontrak No. 089.PJ/061/RJKB/2003 yang dilaksanakan PT EKT berkonsorsium dengan PT Unindo (pabrikan trafo) menunjukkan bahwa harga Trafo 150/20kV 60 MVA lengkap dengan aksesorisnya dari PT Unindo tanggal 7 Agustus 2003 adalah sebesar Rp3.959.400.000,00 per set termasuk PPN. Dengan demikian harga kontrak No.042.1.PJ lebih mahal sebesar Rp595.200.000,00 (2 set x (Rp4.257.000.000,00 – Rp3.959.400.000,00)). c) Kontrak No. 046.PJ/130/PI KITRING JBN/2004 tanggal 29 Maret 2004, lingkup pekerjaan pondasi, erection dan stringing SUTET 500 kV associated PLTGU Muara Tawar tahap II dengan pelaksana pekerjaan PT Perfect Circle Engineering,

62

BPK-RI/AUDITAMA V

yang di dalamnya terdapat pengadaan 1 (satu) buah Tower tipe DD-3 dengan harga setelah PPN Rp1.640.366.200,00. Uji banding dengan kontrak sebelumnya No.028.PJ/130/PIKITRING JBN/2003 tanggal 8 Agustus 2003 untuk pekerjaan pengadaan tower dan aksesoris (paket 2) SUTET 500 kV associated PLTGU Muara Tawar Harga tower dengan tipe DD-3, harga tower setelah PPN hanya Rp1.406.027.700,00. Dengan demikian harga tower kontrak No.046 tanggal 29 Maret 2004 lebih mahal sebesar Rp234.338.500,00 (Rp1.640.366.200,00 - Rp1.406.027.700,00). e. HPS belum sepenuhnya didukung dengan referensi harga PLN Kitlurss menunjuk PT Starrindo Perkasa Semesta (PT SPS) untuk melaksanakan pekerjaan pembuatan tanah, tiang gantry dan tiang pemandu di Borang senilai Rp3.637.000.000,00 berdasarkan kontrak No.168.PJ/061/PKITLURSS/2003 tanggal 2 Desember 2003. HPS ditetapkan sebesar Rp3.653.667.000,00 diantaranya berupa nilai pengadaan dan pemasangan sheet piles concrete sheet piles ongkos Rp2.171.685.000,00 angkut (harga satuan sebesar tiang Rp750.000,00 x volume 2.895,58 m). Harga satuan tersebut terdiri dari harga concrete Rp525.000,00; Rp50.000,00; pemancangan Rp150.000,00; dan alat bantu Rp25.000,00. Harga concrete sheet piles tersebut berdasarkan referensi harga PT Wijaya Karya Beton Wilayah Penjualan II sesuai surat No.PS.01.03/WB-C 110/2003 tanggal 26 Agustus 2003, sedangkan ongkos angkut dan biaya pemancangan tidak didukung referensi harga. Atas permintaan Tim, panitia memberikan referensi biaya pemancangan berdasarkan analisa harga PT SPS bertanggal 30 Agustus 2000 tanpa tanda tangan Dirut PT SPS. SK Direksi PLN No.038.K/920/DIR/1998 tanggal 3 Juni 1998 menyatakan bahwa panitia pengadaan/pelelangan diharuskan membuat dan menetapkan HPS. HPS tersebut adalah harga yang dikalkulasikan secara keahlian yang digunakan sebagai acuan sebelum melakukan pengadaan barang dan jasa. HPS tersebut harus dibuat/disusun secara cermat dengan menggunakan data/referensi dasar dan pertimbangan antara lain kombinasi dari RKS,

63

BPK-RI/AUDITAMA V

harga pasar setempat pada waktu penyusunan HPS, harga kontrak/SPK untuk barang atau pekerjaan sejenis setempat yang sedang/telah dilaksanakan, daftar harga dan tarif dari instansi yang berwenang. Selisih lebih mahal nilai kontrak sebesar Rp5.482.327.454,85 merupakan pemborosan dan merugikan keuangan PLN. Hal tersebut terjadi karena panitia kurang cermat dalam membuat HPS dan belum menaati ketentuan dalam membuat dan menetapkan HPS. PLN menjelaskan sebagai berikut: a. Kitlursu akan membuat amandemen kerja kurang terhadap kontrak pengadaan retrofit chlorofac sebesar Rp19.509.000,00 serta akan menagih PT Prayojana Karya sebesar Rp67.080.161,00 dan CV Baroma Asih sebesar Rp32.324.000,00. Selain itu Kitlursu akan mengirim surat ke Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai untuk menanyakan tarif bea masuk dan untuk kontrak berikutnya setiap perhitungan HPS akan mengacu pada tarif bea masuk yang berlaku tersebut. b. Kitlurss akan memberitahukan PT CDB untuk menyusun addendum kerja kurang sebesar Rp93.595.936,85. Selain itu Kitlurss belum didukung dengan referensi harga dari instansi yang khusus bergerak dibidang jasa konstruksi khususnya penyediaan alat berat seperti Departemen Pekerjaan Umum. c. Disjatim telah membuat HPS melalui informasi harga dari pabrikan. Namun sesuai temuan BPK – RI ternyata pabrikan tersebut memberikan informasi harga pabrikan yang berbeda dengan harga pabrikan di unit lain. Disjatim akan memberikan sanksi kepada pabrikan yang bersangkutan dengan tidak diikutsertakan dalam pengadaan selama periode tertentu sesuai ketentuan yang berlaku di PLN. Selanjutnya untuk yang akan datang, dalam menyusun HPS akan dipertimbangkan realisasi harga pengadaan di unit lain disamping informasi harga dari pabrikan. d. P3B akan membuat addendum kontrak dengan rekanan PT EKT untuk memperjelas pelaksanaan pekerjaan supervisi tersebut dan meningkatkan koordinasi antar panitia pengadaan untuk memperoleh informasi harga yang lebih menjamin pengelolaan dana

64

BPK-RI/AUDITAMA V

untuk kepentingan PLN. e. Disjaya akan menagih kembali selisih lebih kepada kontraktor yang bersangkutan. f. Pikitring JBN akan mencari informasi tentang harga kontrak sebelumnya yang paling akhir dan/atau harga pabrikan/agen tunggal yang berlaku saat penyusunan untuk pengadaan yang akan datang. BPK–RI menyarankan agar: a. Panitia meningkatkan pengendalian dalam membuat HPS dan menaati ketentuan dalam penetapan HPS. b. PLN memberikan teguran kepada personil yang lalai dan tidak menaati ketentuan c. Direksi PLN mengenakan sanksi kepada PT Bambang Djaya, PT Terang Kita, dan PT Citra Mahasurya Industries sesuai ketentuan. d. PLN membuat standarisasi komponen kontrak dan penghitungan HPS. 13. Modifikasi pusat listrik berbahan bakar solar di Payo Selincah dan Batanghari senilai Rp62.569,23 juta belum didukung dengan kontrak penyediaan gas Dalam rangka meningkatkan keandalan pasokan listrik di Propinsi Jambi dan Riau, PLN bermaksud melakukan modifikasi pusat listrik berbahan bakar solar (HSD) menjadi pusat listrik berbahan bakar gas. Untuk itu, PLN dan Conoco Phillips telah membuat nota kesepahaman jual beli gas dari Kontrak Bagi Hasil (KBH) Corridor Blok pada bulan Desember 2002. Nota kesepahaman tersebut akan berakhir bila dalam satu tahun setelah penandatanganan kesepahaman ini belum ditandatangani kontrak jual beli gas. Meskipun sampai dengan bulan Nopember 2003 Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) belum ditandatangani dan nota kesepahaman jual beli gas tersebut berakhir, ternyata PLN Kitlurss tetap menandatangani dua kontrak modifikasi bahan bakar PLTG dan PLTD sebagai berikut: a. SP No.171.Pj/061/PKITLURSS/2003 tanggal 5 Desember 2003 Kontrak pekerjaan gasifikasi 6 (enam) unit mesin Mirrlees KV 12 Major PLTD Payo Selincah yang dilaksanakan oleh PT Bukaka Teknik Utama (PT BTU) senilai

65

BPK-RI/AUDITAMA V

Kontrak tersebut diperpanjang menjadi penyerahan paling lambat tanggal 15 Desember 2004 sesuai Addendum No.1320/610/PKITLURSS/2004 tanggal 12 Nopember 2004 meminta kepada PLN KP agar segera menyediakan gas untuk pembangkit tersebut. namun tidak dicapai kesepakatan harga (USD 2.Ad/061/PKITLURSS/2004 tanggal 5 Oktober 2004.157.5 – 2.00.202. Kontrak tersebut diperpanjang menjadi penyerahan paling lambat tanggal 13 Desember 2004 sesuai Addendum No.00. Jumlah pembayaran yang telah dilakukan PT PLN Kitlurss sebesar Rp32. PLN Kitlurss dengan surat No.00.080. Menanggapi surat tersebut Deputi Direktur Energi Primer PLN KP dengan surat No.367. b.078.780.00.789.Rp24. Setiap keputusan investasi harus direncanakan sebaik mungkin dan dibuat skala prioritas agar hasil yang diharapkan dari investasi tersebut dapat segera dimanfaatkan.172. Sehubungan belum ada kejelasan mengenai pasokan gas untuk kedua pembangkit tersebut. 66 BPK-RI/AUDITAMA V .705.081.00991/150/DD. engineering dari HSD menjadi dual fuel system (HSD dan gas) 2 (dua) unit PLTG Batanghari yang dilaksanakan oleh CV Akrisah senilai Rp38. Jangka waktu penyerahan pekerjaan paling lambat tanggal 28 Nopember 2004.Add/061/PKITLURSS/2004 tanggal 23 Juli 2004.800.01/BA-SM/L010/XI/2004 tanggal 1 Nopember 2004 pekerjaan instalasi dan modifikasi telah selesai 100% sedang testing dan comissioning belum dapat dilakukan menunggu ketersediaan gas. PLN Kitlurss telah melakukan pembayaran kepada PT BTU sebesar Rp20. Sampai dengan tanggal 14 Desember 2004 pekerjaan tersebut telah mencapai ± 90%.6/MMBTU) dan tanpa SBLC. SP No. Jangka waktu penyerahan pekerjaan paling lambat tanggal 31 Juli 2004.000.Pj/061/PKITLURSS/2003 tanggal 8 Desember 2003 Kontrak pengadaan dan pemasangan/modifikasi system bahan bakar.86/MMBTU) dan jaminan pembayaran berupa Stand By Letter of Credit (SBLC) karena PLN menghendaki harga lebih murah (sekitar USD 2.243.151.750.EPI/2004 tanggal 6 Desember 2004 menyatakan bahwa atas beberapa hal teknis telah dicapai kesepakatan dengan pihak Conoco Phillips. Sesuai BA No.

000.00.6/MMBTU.135.Hal tersebut mengakibatkan investasi modifikasi sistem bahan bakar yang telah dikeluarkan sebesar Rp52.2/MMBTU.000.5 – 2.800. sedangkan PLN menghendaki USD 2. Lemahnya perencanaan investasi yang belum sepenuhnya memperhitungkan kebutuhan sarana pendukung.84/MMBTU flat selama 10 tahun. Pada saat pembahasan untuk perjanjian jual-beli (Head of Agreement).99 juta dan Rp1. PLN KP lambat dalam memproses jual beli gas untuk PLTG Batanghari dan PLTD Payo Selincah. bahwa : a.580. Terdapat material persediaan Slow Moving di PLN Wilayah Palembang dan Disjaya masing – masing senilai Rp4. Sudah ada indikasi gas supplier dari PGN dan Amaralda Hess. tetapi harganya masih di atas US$3. c. PLN menjelaskan.495. PLN Kitlurss tetap menandatangani kontrak modifikasi sistem bahan bakar PLTG Batanghari dan PLTD Payo Selincah meskipun sampai saat nota kesepahaman jual beli gas berakhir masih belum ada kontrak jual beli gas untuk pusat pembangkit tersebut. Hal tersebut terjadi karena: a. Sudah dilakukan upaya mencari pemasok gas lain melalui BP MIGAS dengan surat tanggal 5 Pebruari 2004 dan 25 Januari 2005 dan belum ada jawaban.324. Nilai SBLC tersebut sangat memberatkan PLN dan untuk pembebasan SBLC tersebut sudah diupayakan ditingkat Pemerintah yaitu BP Migas namun belum berhasil. b.00 menjadi sia-sia dan tertunda pemanfaatannya.92 juta Hasil pemeriksaan atas Laporan Persediaan Material tahun 2003 dan 2004 67 BPK-RI/AUDITAMA V .515. BPK–RI menyarankan agar PLN segera menyelesaikan kontrak gas dengan tetap berusaha mendapatkan harga gas yang menguntungkan perusahaan. Selain itu Conoco Philips meminta jaminan pembayaran atau Stand By Letter of Credit (SBLC) untuk kontrak tahunan 10. 14. Conoco Philips menawarkan harga USD 2.000 TBTU sebesar Rp269. b.

310. PLN Disjaya dan Wilayah S2JB menjelaskan bahwa material dimaksud sebagian akan digunakan untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam tahun 2005.135.menunjukkan bahwa terdapat persediaan yang berumur lebih dari satu tahun dan belum dipisahkan sebagai persediaan slow moving di PLN Disjaya Area Jaringan (AJ) Tangerang sebesar Rp1.915.515.00 (Rp1. Hal tersebut mengakibatkan PLN tidak dapat memanfaatkan dana yang tersimpan dalam material slow moving sebesar Rp5.643.936 dan persediaan material pemeliharaan sebesar Rp275.643. Hasil pemeriksaan fisik di gudang AJ Tangerang dan gudang Kramasan menunjukkan bahwa ada beberapa material persediaan slow moving yang diantaranya telah ketinggalan teknologi dan tidak dapat digunakan lagi. Setiap pengadaan seharusnya didasarkan kepada kebutuhan sehingga dapat diminimalisasi material slow moving di gudang.925.135. BPK – RI menyarankan agar setiap perencanaan pengadaan material selalu didasarkan kepada kebutuhan unit pengguna material serta PLN Disjaya dan PLN Wilayah S2JB segera memanfaatkan dan atau membursakan material slow moving tersebut.953. 68 BPK-RI/AUDITAMA V . Hal tersebut terjadi karena lemahnya perencanaan pengadaan material yang belum sepenuhnya memperhitungkan kebutuhan material di PLN Disjaya dan PLN Wilayah S2JB.373 dan di PLN Wilayah Sumatera Selatan.00 + Rp4.990. Jambi dan Bengkulu (S2JB) sebesar Rp4.651.310.631.925.515.00 yang terdiri dari persediaan material Pekerjaan Dalam Pelaksanaan (PDP) sebesar Rp860.293.00) dan Bagian Gudang terbebani tanggung jawab untuk mengelola persediaan yang tidak bermanfaat bagi PLN.990. selebihnya merupakan persediaan yang masih dalam kondisi baik namun tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di AJ Tangerang dan Wilayah S2JB. Material yang masih baik tetapi tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan serta material yang ketinggalan teknologi atau tidak digunakan dilingkungan PLN Disjaya dan Wilayah S2JB akan dibursakan ke unit lain.00 berupa persediaan material PDP.

Pembacaan meter elektronik tidak berfungsi Sebagian pelanggan yang sudah terpasang AMR mengalami gangguan komunikasi sehingga pembacaan meter masih dilakukan manual dengan rincian sebagai berikut: 1) PLN Disjaya Pekerjaan pengembangan aplikasi AMR dan implementasi data manajemen dituangkan dalam kontrak No. Pemeriksaan pada APJ Malang atas 67 KWH meter yang telah terpasang di pelanggan. Laporan Stand Meter dari Sistem Pemantauan Pelanggan Besar Disjaya periode Januari sampai dengan Desember 2004 menunjukkan bahwa rata-rata 35.159 pelanggan.383.000.PJ/061/D. Penerapan sistem Automatic Meter Reading belum memberikan manfaat sesuai yang diharapkan PLN telah menerapkan sistem Automatic Meter Reading (AMR) yakni sistem pembacaan meter jarak jauh secara otomatis khususnya pada pelanggan potensial dengan daya terpasang di atas 197 kVA.204 pelanggan. 2) PLN Disjatim Pemasangan 85 KWH meter elektronik terintegrasi dengan sistem AMR untuk pelanggan tegangan menengah keatas dan gardu distribusi dilakukan oleh PT Hulu Mas Nusantara.00 dilaksanakan oleh konsorsium Lembaga Penelitian Masyarakat (LPM) Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan PT Abakus Informindo System pada 4.831 pelanggan.85% pelanggan mengalami gagal baca meter secara otomatis dan pembacaan stand meternya dilakukan secara manual.15.090. Pemeriksaan atas pelaksanaan penerapan AMR tersebut di PLN Disjaya dan PLN Disjatim menunjukkan bahwa: a. menunjukkan bahwa meter elektronik tersebut dalam keadaan terganggu konektivitasnya sehingga pembacaan stand meter dilakukan secara manual.330. dan modemnya (AMR) sebanyak 2.IV/2004 senilai Rp1. Sampai dengan Desember 2004 jumlah pelanggan yang sudah terpasang meter elektroniknya sebanyak 4. 69 BPK-RI/AUDITAMA V .

MARGOMULYO 55 JL. Set up time switch tidak berfungsi Pemeriksaan fisik secara uji petik terhadap Sistem AMR APJ Surabaya Utara menunjukkan bahwa beberapa pelanggan counter WBP-AMRnya tidak bergerak.215.676.676. sehingga pemakaian energi listrik pada waktu beban puncak tidak tercatat senilai Rp11. b. KONTRAK AC-0384613 AC-0335780 AF-0690961 AD-0346462 Sesuai dengan: a. Pemakaian energi oleh pelanggan dengan tarif ganda seharusnya dicatat dengan mempertimbangkan waktu beban puncak (WBP) dan luar waktu beban puncak (LWBP) dan SE 028. Hal tersebut mengakibatkan PLN belum dapat memanfaatkan pembacaan meter elektronik terintegrasi dengan sistem AMR dan PLN masih kurang menagih pemakaian listrik kepada pelanggan sebesar Rp11. RKS dinyatakan bahwa permintaan akan penyerahan pengoperasian pekerjaan dapat diajukan kepada pemberi tugas segera setelah pekerjaan ini diselesaikan secara keseluruhan dan sesuai dengan kontrak serta dapat dioperasikan dengan baik.00. maka diperlakukan data historis rata-rata tiga bulan terakhir dan WBP ditentukan 1. Hal tersebut terjadi karena: a. c. Manajemen PLN dalam membuat kontrak pengadaan meter elektronik dan pengembangan aplikasi AMR tidak memasukkan klausul jangka waktu uji coba (commissioning test) sebelum membuat berita acara serah terima 100%. Perencanaan pemasangan meter elektronik dilaksanakan kurang cermat. Pelanggan tersebut adalah : PELANGGAN ALAS MAS II HERRY SUGIARTO ASABA PAB KARET SUMBER REJEKI ALAMAT JL.b. MARGOMULYO II/68 B JL. SIDORAME 24 DAYA 240 345 345 345 TARIF I3 I3 B3 I3 NO. Pengendalian atas pelaksanaan kontrak berupa pengawasan masih kurang dilakukan 70 BPK-RI/AUDITAMA V .4 x Rp LWBP. TAMAN AIS NASUTION JL. b.E/012/DIR/2002 menyatakan bahwa pelanggan yang alat ukurnya tidak berfungsi. antara lain faktor propagansi dan sinyal.00.215.

Selain itu PLN disjatim agar melakukan set-up kembali KWH meter tersebut dan menagihkan kekurangan rekening ke pelanggan yang bersangkutan. b. Pengendalian atas tanah masih lemah Dari pemeriksaan atas aktiva tanah diketahui terdapat sebagian tanah milik PLN yang belum bersertifikat dan administrasi tanah masih lemah yakni masih ditemukan adanya perbedaan pencatatan luas tanah antara administrasi umum dengan akuntansi sebagai berikut: a. d. PLN akan mengenakan tagihan kekurangannya kepada pelanggan yang bersangkutan.715.016 m2 yang terdiri dari tanah yang telah bersertifikat seluas 8.197 m2 dan seluas 270. luas tanah milik PLN Wilayah Sulselra seluas 8. PLN Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) Luas tanah milik PLN Wilayah Sulselra menurut bidang administrasi dan kesekretariatan sebesar 8.antara lain monitoring atas keberhasilan pengambilan data stand meter.96 m2 71 BPK-RI/AUDITAMA V . PLN menjelaskan bahwa pelanggan tersebut di atas sudah di set-up. sehingga WBP tercatat dalam LWBP. PLN menjelaskan: a. Sesuai data akuntansi. tetapi jamnya tidak sesuai dengan kondisi real time. Untuk meningkatkan keberhasilan komunikasi maka PLN Disjaya akan mengupayakan merubah sistem komunikasi dari ruang kontrol ke meter elektronik dengan menggunakan GSM to GSM dan mengganti antene lama (bawaan pabrik) dengan model ground plane UHF. PLN kurang cermat dalam melakukan pengaturan time-switch pada saat pemasangan meter elektronik. BPK – RI menyarankan PLN Disjaya dan Disjatim mengupayakan agar KWH meter elektronik terintergrasi AMR dapat segera terbaca secara otomatis jarak jauh dan meminta pertanggungjawaban rekanan atas biaya yang terkait dengan kerusakan selama masih dalam masa pemeliharaan.824. PLN Disjatim menjelaskan akan membuat kesepakatan tentang masa commissioning selama 3 bulan dan masa pemeliharaan dimulai setelah masa commissioning berakhir.492. 16.819 m2 belum bersertifikat.986.

dan seluas 540 m2 dengan nilai perolehan Rp3.750. PLN Kitlursu telah melakukan inventarisasi 72 BPK-RI/AUDITAMA V . d.492.950 m2 belum bersertifikat.081.015.480.00 dari PLN Pikitring Sumatera Bagian Selatan (SBS) pada bulan Juni 2004.134.150.00. Pemeriksaan atas aktiva tanah tersebut menunjukkan hal-hal berikut: 1) Terdapat tanah milik PLN Proyek Jaringan (Proring) DKI dan Banten seluas 1.00 di Pengalengan telah menjadi milik pihak ketiga dengan bukti sertifikat HGB No.166.455. Daftar kelengkapan berita acara STP tersebut menunjukkan bahwa aktiva yang diserahkan termasuk tanah seluas 91.530.04 m2 (8. Selain itu.928.000.558.00.senilai Rp73.000.790 m2 senilai Rp32.00 berupa tanah kosong dan gudang yang tidak dimanfaatkan.016 m2 – 8.362.000.31 m2 dengan nilai perolehan sebesar Rp65. PLN Pikitring memiliki tanah seluas 628.457. namun hanya tercatat seluas 18 m2 dengan nilai sebenarnya sebesar Rp7. b. PLN Kitlursu Menindaklanjuti temuan BPK-RI tahun 2002.000.1 Pengalengan Bandung tanggal 7 Juni 1998 atas nama Koperasi Peternakan Bandung Selatan.068.950 m2 senilai Rp8.989.060 m2 dengan nilai perolehan sebesar Rp7.00 di Andir (Bandung).00 yang bila dibandingkan dengan data administrasi dan kesekretariatan maka terdapat selisih seluas 493. 2) Terdapat tanah tanpa bukti kepemilikan/sertifikat seluas 6.000. Jatiwaringin dan Sukamenak yang sebagian besar telah dihuni oleh pihak ketiga dengan Surat Ijin Penempatan (SIP). Data tanah yang tercatat pada akuntansi untuk tanah tapak tower Talang Kelapa yang sesuai STP seluas 64.399.000 m2. PLN Kitlurss PLN Kitlurss melalui Serah Terima Proyek (STP) telah menerima PLTG Kaji Talang Kelapa-Betung senilai Rp51.191.000. seluruh tanah yang diterima seluas 91.00.824. c.000.96 m2). PLN Pikitring JBN Sesuai data akuntansi.

e.372. dan akta jual beli. PLN Wilayah Sulselra menjelaskan perbedaan data luas tanah antara data akuntansi dan menurut administrasi direncanakan untuk diselesaikan secara gradual (Bidang Keuangan berkoordinasi dengan Bidang Komunikasi.029 m2 yang dimiliki/dikuasai PLN Kitlursu namun belum bersertifikat. Sertifikasi tanah telah dilaksanakan secara bertahap dan akan terus dilaksanakan.012 m2 dan terdapat 45 bidang tanah seluas 1. diantaranya seluas 91. Setiap aktiva tanah yang dimiliki perusahaan seharusnya didukung dengan bukti kepemilikan hak yang jelas dan sah serta diadministrasikan dengan baik. PLN Pikitring JBN menjelaskan akan membentuk Tim penyelesaian dan pengurusan sertifikat dan apabila mengalami kendala akan bekerja sama dengan pengacara/bantuan hukum. berisiko dan dapat menimbulkan persengketaan dengan pihak ketiga di kemudian hari serta nilai aktiva tanah PLN belum menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Bukti kepemilikan hanya berupa surat ganti rugi. copy pelepasan hak.540 m2 di Sektor Pekanbaru. Hal tersebut mengakibatkan tanah milik PLN yang belum bersertifikat tersebut lemah dari segi hukum. Hukum. Hal tersebut terjadi karena kebijakan pengurusan sertifikat belum menjadi prioritas manajemen PLN dan tim inventarisasi tanah dan bidang akuntansi belum berkoordinasi dengan baik dalam memutakhirkan data tanah. dan Administrasi). PLN S2JB Terdapat tanah seluas 105.828 m2 di Sektor Sibolga dan seluas 61. namun belum tercatat dalam daftar aktiva tetap DTE per 30 September 2004.tanah seluas 2. b. Selain itu terdapat aktiva tanah yang dikuasai PLN Kitlursu seluas 11. PLN menjelaskan bahwa: a.322 m2 hasil inventarisasi yang belum tercatat dalam laporan keuangan PLN Wilayah S2JB per 31 Desember 2004.425 m2 belum bersertifikat. c. 73 BPK-RI/AUDITAMA V . PLN Kitlurss menjelaskan bahwa tanah yang tercatat seluas 18 m2 di DTE telah dikoreksi dan PLN Kitlurss akan meminta sertifikat ke PLN Pikitring SBS.181.

PLN Kitlursu menjelaskan bahwa sertifikasi tanah akan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan daerah yang rawan sesuai dengan kemampuan anggaran. e. PLN Wilayah S2JB menjelaskan telah dibentuk tim inventarisasi dan laporan akuntansi akan disesuaikan berdasarkan hasil kerja tim. Nilai kontrak jasa supervisi untuk pembangunan PLTU Labuhan Angin terlalu tinggi sebesar US$87. tanggal 1 Desember 2004 untuk melaksanakan pekerjaan jasa supervisi konstruksi PLTU Labuhan Angin Unit 1 & 2 (2x115 MW).000. b.274. 74 BPK-RI/AUDITAMA V .PLN 2004/061/Pikitring Sumut/2004. sedangkan tanah seluas 11. Tanah seluas 61. Pemeriksaan atas dokumen kontrak menunjukkan hal-hal berikut: a.00 ribu PLN Pikitring Sumut telah menunjuk langsung PT Prima Layanan Nasional Engineering (PLN-E) dengan surat perjanjian No.000. karena biaya tersebut merupakan biaya alih teknologi PLN-E yang tidak ada kaitan dengan lingkup pekerjaan kontrak konsultan PLN-E.036.828 m2 akan dibukukan berdasarkan inventarisasi tim tanah. Nilai kontrak maksimum sebesar Rp29.495 (termasuk PPN) yang terdiri atas biaya langsung personil (remunerasi) dan non personil. 17.00 untuk keperluan transfer of knowledge. berusaha menyelesaikan sengketa tanah dengan pihak ketiga dengan memperhatikan kepentingan perusahaan serta melakukan koordinasi antar tim inventarisasi tanah dan bidang akuntansi untuk memutakhirkan data tanah.00 dan US$649. Uji banding dengan kontrak supervisi yang dilaksanakan sebelumnya oleh PLN-E untuk pembangunan 6 unit PLTGU Muara Tawar (6 x 110 MW) terdapat biaya pekerjaan yang seharusnya tidak perlu diperhitungkan dalam nilai kontrak senilai US$87.d.690. Tim Negosiasi belum melaksanakan fungsinya untuk memformulasikan HPS. BPK – RI menyarankan agar PLN secara bertahap mengurus sertifikat dengan mengutamakan daerah yang rawan sesuai dengan kemampuan anggaran.540 m2 di Sektor Pekanbaru tersebut akan dibukukan setelah diserahterimakan PLN Piktring SBS.PJ.

00. Gardu.816.Tim Negosiasi Pikitring Sumut seharusnya membuat HPS sebagai acuan untuk menetapkan kewajaran harga/item pekerjaan dalam kontrak sesuai SK Pemimpin proyek Pikitring Sumut No.62/PPIKITRING SUMUT/2004 tanggal 22 Juni 2004.932.00 yang berasal dari kontrak pekerjaan tahun 2001.00 yang tertuang dalam 64 kontrak. Pemasangan Cubicle dan Elektromekanik yang belum selesai dengan rincian sebagai berikut : a.532. c. 18. akan ditindaklanjuti secara legalitas terhadap PLN-E sesuai dengan ketentuan yang berlaku.398. PLN Pikitring Sumut menjelaskan bahwa untuk yang akan datang.00. BPK–RI menyarankan agar panitia pengadaan selalu membuat dan menetapkan HPS sebagai acuan dalam menilai kewajaran harga pengadaan dan membuat addendum kontrak untuk kerja kurang senilai US$87. akan memformulasikan HPS untuk setiap pengadaan barang atau jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan untuk item Transfer of Knowledge. Pada bulan Desember 2004 terdapat penyelesaian 9 kontrak senilai Rp1.727.682.000.859. Terdapat 112 kontrak pekerjaan jasa konstruksi sejak tahun 2002 s.00 yang tertuang dalam 19 kontrak.730. Selain itu. Hal tersebut mengakibatkan alokasi pengeluaran biaya untuk kontrak jasa supervisi PLN-E terlalu tinggi sebesar US$87. 75 BPK-RI/AUDITAMA V .920.945. Pekerjaan tahun 2002 senilai Rp4. Hal tersebut terjadi karena Tim Negosiasi tidak sepenuhnya melaksanakan fungsinya dalam pembuatan HPS dan tidak sepenuhnya memperhatikan aspek kehematan dalam proses negosiasi. Pekerjaan tahun 2004 senilai Rp156.d 2004 yang penyelesaiannya berlarut-larut Hasil pemeriksaan terhadap saldo buku besar dan rekap kartu PDP pada PLN Disjaya 2004 menunjukkan bahwa saldo PDP tahun 2004 sebesar Rp194. Pekerjaan tahun 2003 senilai Rp32.914.302.704.000. Dengan demikian masa penyelesaian pekerjaan tersebut membutuhkan waktu 3 tahun atau 1.074K.00 yang tertuang dalam 29 kontrak.159 terdiri dari 112 kontrak pekerjaan konstruksi antara lain SKTM. b.105.095 hari.

Penyelesaian pekerjaan seharusnya sesuai kontrak dan hasilnya dapat dimanfaatkan secepat mungkin. Untuk selanjutnya setiap periode akan dilakukan rekonsiliasi antara akuntansi dengan bidang terkait sehingga penyelesaian pekerjaan PDP konstruksi tidak berlarut-larut. PLN Disjaya menjelaskan bahwa PDP tahun 2002 secara fisik telah selesai 100% sedangkan untuk tahun 2003 ada beberapa pekerjaan yang belum selesai karena masalah ijin boring jalan tol (proses persetujuan ijin) dan ada pekerjaan tambah kurang yang ditargetkan selesai dalam tahun 2005. Hasil Program PHP ini ternyata tidak menunjukkan keadaan jumlah barang digudang yang sebenarnya. Bagian Logistik dan Bagian Akuntansi. BPK – RI menyarankan agar PLN Disjaya lebih meningkatkan pengendalian atas pelaksanaan kontrak konstruksi antara lain melalui pengenaan denda keterlambatan sesuai ketentuan kontrak. TUG-7 belum dapat diperhitungkan sebagai pengurang persediaan apabila TUG 8/TUG 9 belum diterbitkan karena pada saat TUG-7 diterbitkan belum terjadi pengeluaran barang dari gudang. Hal ini mengakibatkan tingkat keandalan lama padam dan frekuensi padam tidak dapat dicapai secara optimal. 76 BPK-RI/AUDITAMA V . karena perhitungan sisa material di gudang menggunakan rumus: Sisa material = Bon Penerimaan Barang (TUG-3) dikurangi Perintah/Permintaan Barang (TUG-7) dikurangi Bon Pengeluaran Barang (TUG-8/TUG-9).laporan pelaksanaan pekerjaan untuk PDP lainnya belum diperoleh tim. Pengembangan Program Periperal Hyper TextProtocol untuk material cadang dan pemeliharaan pada PLN P3B Kantor Induk masih belum tepat Bagian Tekhnologi Informasi (TI) PLN P3B Kantor Induk membuat Program Periperal Hyper Text Protocol (PHP) yang berfungsi untuk mengetahui stok material yang dapat dijalankan secara on-line antara Bagian Gudang. Hal ini disebabkan perencanaan dan pengendalian atas pelaksanaan kontrak pekerjaaan jasa konstruksi tidak memadai. 19.

namun belum dilakukan STP.00 yang sudah Serah Terima Pengoperasian Proyek (STOP) ke Unit Pengelola namun belum dilakukan Serah Terima Proyek (STP). 2) Dalam rangka penyelesaian proses STP.940. Hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap proyek proses STP tersebut diketahui : 1) 60 hasil proyek tersebut telah dioperasikan selama 7 sampai dengan 15 bulan yaitu sejak dilakukan STOP. Hal tersebut berakibat perencanaan kebutuhan barang oleh Bagian Logistik menjadi tidak tepat.126. Bagian Akuntansi mencatat persediaan material berdasarkan kartu persediaan di gudang yang dibuat secara manual.Atas kesalahan program PHP tersebut. 20. Sedangkan Bagian Logistik masih menggunakan data persediaan yang dihasilkan oleh program PHP dalam menyusun rencana kebutuhan material. Seharusnya program PHP tersebut dapat menghasilkan informasi persediaan barang di gudang secara akurat. Proses serah terima proyek antara PLN Pikitring JBN dengan unit pengelola aset berlarut–larut Hasil pemeriksaan secara uji petik atas PDP pada PLN Pikitring JBN diketahui : a. PLN Distribusi/Wilayah) antara lain mencocokkan peralatan yang akan diserah terimakan 77 BPK-RI/AUDITAMA V . BPK-RI menyarankan agar PLN lebih meningkatkan perencanaan dan pengendalian pembuatan program serta melakukan evaluasi penerapan dan penyempurnaan program.248. Tim STP PLN Pikitring JBN telah melakukan cek fisik bersama tim dari Unit PLN Unit Pengelola (PLN P3B. PLN menjelaskan bahwa P3B sedang melakukan penyempurnaan program PHP tersebut bersamaan dengan penerapan/aplikasi SIMAT (Sistim Informasi Material Terpadu). Terdapat 60 Hasil kegiatan proyek (proyek) senilai Rp323. Hal tersebut terjadi disebabkan perencanaan dan pengendalian PLN P3B dalam membuat Program PHP kurang memadai serta evaluasi atas penerapan Program PHP belum dilakukan.

Kepala Proring DKI Jaya dan Banten melalui surat No.000.E/026/DIR/1996 tentang tatacara serah terima proyek selesai dari PLN unit pelaksana proyek kepada PLN unit pengelola dan anak perusahaan mengatur sebagai berikut : a. sedangkan Unit Pengelola sudah memanfaatkan peralatan tersebut untuk menghasilkan pendapatan namun tidak membukukannya sebagai aktiva dan tidak memperhitungkan biaya penyusutan. keterlambatan penerbitan STP mengakibatkan Bagian Akuntansi Pikitring JBN masih membukukan proyek-proyek tersebut sebagai PDP. Hasil pemeriksaan fisik BPK-RI secara uji petik pada tanggal 29 Januari 2005 terhadap peralatan terpasang Gardu Induk Bantul dan Semanu menunjukkan bahwa peralatan tersebut sudah beroperasi dan dimanfaatkan dengan baik oleh PLN Unit Pengelola. Dengan demikian. Terdapat kontrak pengadaan dan pemasangan LFC SCADA PLTU Suralaya Unit 5. menyatakan bahwa PLN Unit Pelaksana Proyek dapat langsung melaksanakan STP Selesai kepada PLN Unit Pengelola termasuk nota pemindahbukuan dari biaya Proyek Selesai tersebut. 018.dan mengidentifikasi kekurangan-kekurangan (kelemahan yang harus dilengkapi/diperbaiki oleh PLN pikitring JBN (pending matters). Dari hasil pemeriksaan dan konfirmasi kepada PLN Unit Pengelola dapat disimpulkan bahwa pending matters yang terjadi pada umumnya tidak bersifat material/substantial yang dapat mempengaruhi pengoperasian peralatan tersebut. 78 BPK-RI/AUDITAMA V .00. 073/640/PRORINGDKIJAYA&BANTEN/2005 tanggal 14 Pebruari 2005 menjelaskan bahwa proyek tersebut telah beroperasi/dimanfaatkan dengan baik oleh PLN P3B namun belum dilakukan Serah Terima Proyek (STP).1. SE Direksi PLN No. Bab II pasal 1 ayat 1.495. 6 dan 7 dengan nomor kontrak 021. b.BA/130/Proring DKI Jaya dan Banten/2002 tanggal 18 Maret 2002.PJ/13/PIKITRING JBN/2001 tanggal 19 Nopember 2001 yang dilaksanakan oleh PT Bandung Isco senilai Rp902. Proyek tersebut telah selesai 100% dan telah dilakukan penyerahan pekerjaan pertama dengan nomor 046 BA/130/PIKITRING JBN/2002 tanggal 15 Pebruari 2002 serta telah berakhir masa pemeliharaan sesuai berita acara masa pemeliharaan nomor 060.

940. PLN menjelaskan bahwa: a. Hal tersebut diatas mengakibatkan Laporan Keuangan PLN tahun 2004 membukukan aktiva PLN terlalu rendah dan PDP terlalu tinggi masing-masing sebesar Rp324. 60 proyek yang telah beroperasi senilai Rp323. Koordinasi PLN Pikitring dengan unit pengelola aset akan ditingkatkan sehingga proses STP dapat segera diselesaikan dalam tahun 2005 diikuti dengan nota pembukuan.621.E/026/DIR/1996. BPK RI menyarankan agar : a. maka apabila proyek atau bagian proyek sudah akan selesai harus segera disiapkan inventarisasi aktiva/barang yang akan diserahterimakan dengan memperhatikan pengelompokan jenis Aktiva Tetap sesuai dengan kode perkiraan PLN yang berlaku.248.00 + Rp902. Sesuai ketentuan di atas maka PDP yang telah selesai dan beroperasi/dimanfaatkan seharusnya dapat langsung diproses Berita Acara STP dan pemindah bukuan PDP Proyek ke Aktiva PLN Unit Pengelola. Penandatanganan STP untuk proyek selesai dan telah dioperasikan tersebut segera dilaksanakan kedua pihak.074.000. Penyerahan hasil proyek lainnya/berikutnya dilakukan secara langsung melalui STP (tanpa harus melalui STOP). b.57. Hal tersebut terjadi karena PLN Pikitring JBN dan Unit Pengelola (PLN P3B dan Distribusi/Wilayah) tidak melaksanakan ketentuan yang diatur dalam Edaran Direksi PT PLN nomor 018. sedangkan penyelesaian pending matters yang ada tetap dilakukan tanpa menghambat penerbitan STP dan nota pemindahbukuan.718.248.b.495.940.842. Pasal 3 menyatakan untuk mempercepat pelaksanaan serah terima.126.126. b. 79 BPK-RI/AUDITAMA V .00 (Rp323.00 tersebut telah dikoreksi menjadi aktiva tetap dan telah dihitung/dibebankan penyusutannya dalam laporan keuangan PLN tahun 2004.248.499.00) serta biaya operasi (penyusutan) diperhitungkan terlalu rendah sebesar Rp9.

BPD Jambi Pemeriksaan secara uji petik atas prosedur bank receipt pada PLN Cabang Jambi. Hal tersebut mengakibatkan aktiva hibah tersebut tidak tercatat pada PLN Pikitring JBN maupun PLN P3B dan biaya penyusutan belum pernah diperhitungkan/dibukukan. Hasil pemeriksaan terhadap daftar aktiva tetap diketahui bahwa aktiva hibah tersebut tidak tercatat pada laporan keuangan PLN Pikitring JBN tahun buku 2004. Aktiva hibah tersebut telah dioperasikan oleh PLN P3B sebelum dilakukan serah terima tanggal 5 September 2002. BA STP belum ditandatangani oleh PLN P3B. Hal tersebut disebabkan PLN Pikitring JBN menganggap bahwa Unit Pengelola yang seharusnya melakukan penilaian aktiva hibah.21.SKt/130/PIKITRING JBN/2002 tanggal 5 September 2002. Perolehan aktiva seharusnya dibukukan oleh PLN Pikitring JBN sesuai nilai perolehan/nilai pasar. 80 BPK-RI/AUDITAMA V . PT JP pada saat menyerahkan aktiva hibah tersebut tidak memberikan data tentang nilai perolehan. namun sampai dengan saat pemeriksaan tanggal 14 Pebruari 2005. Pengajuan Berita Acara Serah Terima Proyek (BASTP) dari PLN Pikitring JBN kepada PLN P3B telah dilakukan tanggal 9 Desember 2004. Sedangkan penilaian atas harga taksiran aset yang dihibahkan dilakukan oleh PLN P3B. 22. Terdapat aktiva hibah dari PT Jawa Power kepada PLN yang belum dicatat sebagai aktiva tetap PLN Pikitring JBN memperoleh hibah dari PT Jawa Power (PT JP) berupa Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 kV Paiton Unit 5 dan 6 sesuai Taking-Over Certificate Nomor: 232. BPK-RI menyarankan BA STP atas aktiva hibah tersebut segera diselesaikan dan PLN P3B menaksir nilai aktiva tersebut. PLN Piktiring JBN menjelaskan bahwa proses BA STP yang telah disampaikan ke PLN P3B akan dimonitor penyelesaiannya dan diharapkan selesai pada tahun 2005. Pengendalian atas rekening koran Bank Receipt PLN S2JB masih lemah a.

804. BPD tidak terdaftar sebagai bank receipt berdasarkan ketentuan dari PLN KP.06.d 25) setiap harinya pada payment poin tersebut selalu ada penerimaan penjualan rekening listrik.d Oktober 2004 menunjukkan bahwa terdapat keterlambatan penyetoran penerimaan pelunasan rekening listrik lebih dari satu hari dari rekening koran PLN Cabang Jambi ke rekening koran bank receipt PLN S2JB yaitu BNI Cabang Sarolangun. Oktober dan Nopember 2004 menunjukkan bahwa selama periode pembayaran rekening listrik (tgl 6 s. c. Penunjukan BPD sebagai bank penampungan tersebut tidak diikat dalam suatu perjanjian namun hanya pembukaan rekening normal. Kota Baru dan Seberang Kota bulan September. PLN S2JB Cabang Jambi tidak dapat mengenakan denda kepada BPD Jambi atas keterlambatan penyetoran secara otomatis ke rekening koran PLN S2JB karena tidak dibuat perjanjian kerjasama. Selain itu. namun disetorkan ke bank receipt PLN Cabang Jambi pada setiap akhir bulan. BPD Jambi tidak memberikan bunga/jasa giro atas pengendapan dana PLN pada rekening tersebut. Pemeriksaan atas mutasi rekening koran Ranting Muara Sabak dan Muara Tebo menunjukkan bahwa BPD Jambi Hanya melakukan transfer/mendebet sebanyak 1 atau 2 kali dalam satu bulan.menunjukkan bahwa uang hasil tagihan pelanggan dari PLN Ranting Muara Tebo dan Muara Sabak disetor ke rekening Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi. Hasil perbandingan antara Laporan Rekening Lunas Harian (TUL V-02) dan Bukti Penyetoran Uang (TUL V-06) menunjukkan bahwa sebagian payment point KUD tidak menyetor seluruh hasil penjualan rekening listrik pada hari yang sama. b. KUD dan Koperasi Lainnya Pemeriksaan secara uji petik terhadap penerimaan penjualan rekening listrik pada beberapa payment point yang dikelola KUD pada Rayon Telanaipura. BNI dan BRI Pemeriksaan uji petik atas rekening koran bank receipt pada bulan Mei s. Cabang Bangko dan BRI Cabang Muara Bulian. PLN S2JB belum mengenakan denda atas keterlambatan penyetoran tersebut sebesar Rp7.746. 81 BPK-RI/AUDITAMA V .

maka transfer penerimaan RL pada bank receipt dilakukan dengan otomatis.E/541/DIR/99 tanggal 5 Juli 1999 tentang proses transfer dana receipt secara otomatis yang disempurnakan dengan Edaran Direksi PLN No. b. angka A. 82 BPK-RI/AUDITAMA V . Pembukaan rekening di BPD dilakukan karena kondisi mendesak yaitu pada saat pembukaan ranting baru yang waktunya sangat sempit.E/012/DIR/2002 tanggal 28 Juni 2002 tentang Mekanisme arus dana receipt pasal IV. bank receipt bersedia memberikan ganti rugi dengan rumus = (Nominal transfer x hari keterlambatan x suku bunga deposito 3 bulan yang berlaku) : 360 hari.128. yang menyebutkan bahwa seluruh penerimaan di kantor pelayanan UP dan tingkat dibawahnya secara harian ditransfer otomatis ke unit pelaksana induk atasannya. Hal ini mengakibatkan PLN tidak dapat memanfaatkan dana hasil penagihan sesegera mungkin dan PLN tidak dapat menagih denda atas keterlambatan tersebut. serta PLN tidak memperoleh bunga jasa giro atas transaksi rekening tersebut. berdasarkan Perjanjian Kerjasama Induk diketahui bahwa apabila terjadi keterlambatan transfer. PLN akan melakukan pendekatan untuk mengadakan perjanjian seperti bank receipt lainnya.a. Setiap payment point diikat dengan perjanjian yang mengatur hak dan kewajiban masingmasing pihak. PLN akan membuat surat teguran KUD-KUD untuk menyetor uang hasil penjualan rekening listrik sesuai ketentuan dan membuat TUL V-04 (rekening lunas) secara tertib serta membuat surat tagihan denda kepada masing-masing bank. Selain itu. di Muara Tebo hanya ada BRI Kantor Kas yang menginduk ke Muara Bungo. sedangkan bank lain di Muara Sabak tidak ada. Hal tersebut terjadi karena pengendalian intern atas arus penerimaan dana pada PLN Cabang Jambi masih lemah. PLN Cabang Jambi memberikan teguran kepada KUD yang terlambat menyetorkan hasil penerimaan rekening ke bank receipt.010.SE Direksi PLN No. PLN menjelaskan bahwa : a. b. BPK – RI menyarankan agar: a.

965. PLN Pikitring JBN terlambat menerima pendapatan lain-lain yang berasal dari penjualan rumah dinas sebesar Rp706.000. 045. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa waktu dan nilai pembayaran angsuran sewa beli 17 rumah dinas dengan harga jual sebesar Rp1.K/020/DIR/2003 tanggal 17 Pebruari 2003. Pembeli yang tidak mendapat peringatan pertama adalah pembeli yang belum membayar angsuran sama sekali. maka PLN Pikitring JBN akan memberi peringatan pertama. Ketidaktegasan PLN Pikitring JBN melakukan peringatan cenderung mempengaruhi pembeli rumah dinas untuk melalaikan pembayaran angsurannya.053. b.804. maka PLN Pikitring JBN berhak memutus Surat Perjanjian ini secara sepihak dan pembeli harus mengembalikan rumah tersebut dalam keadaan kosong selambat-lambatnya tiga bulan terhitung sejak tanggal diputuskan Surat Perjanjian. Hal tersebut mengakibatkan: a.23.00 diantaranya tunggakan atas 6 rumah dinas yang tidak pernah dibayar angsurannya sebesar Rp502. Penjualan rumah dinas tahap I sebanyak 49 buah rumah dibayar oleh penghuni rumah dinas secara angsuran dengan jangka waktu selambat-lambatnya 5 tahun atau 60 bulan terhitung sejak perjanjian ditandatangani. Nilai tunggakan angsuran per 31 Desember 2004 sebesar Rp706.00 tidak sesuai dengan perjanjian. Pengendalian angsuran pembayaran rumah dinas yang dijual masih lemah Penghapusan Aktiva Tetap Tak Bergerak – Rumah Dinas pada PLN Pikitring JBN tahap I didasarkan pada persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN No.000. 83 BPK-RI/AUDITAMA V .030. 042. PLN Pikitring JBN baru mengeluarkan peringatan pertama kepada 12 pembeli rumah dinas pada 16 Pebruari 2003.00. maka akan diberikan peringatan kedua demikian seterusnya hingga apabila telah diberikan peringatan ketiga namun pembeli tetap belum melunasi angsuran.000. Apabila dalam jangka waktu 1 bulan sejak peringatan pertama pembeli tetap belum melunasi angsuran.00.000. S-74/MIPBUMN/1998 tanggal 24 Juli 1998 yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Direksi PLN No.053. Sesuai Pasal 6 Perjanjian Sewa Beli Rumah diatur bahwa apabila pembeli tidak melunasi angsuran sesuai Pasal 5.K/523/DIR/1999 tanggal 15 Maret 1999 dan Keputusan Direksi No.

120.909.54 (EUR32. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2003 Dalam pemeriksaan tahun buku 2003 terdapat 30 (tiga puluh) temuan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Hal ini mengakibatkan kerugian yang ditanggung PLN dan kerugian Negara sebesar EUR98.321.68) atau Rp967.91 ribu.533. PLN Pikitring JBN menjelaskan akan membuat surat teguran dan penagihan kepada penunggak. ketiga serta pemutusan perjanjian terhadap penunggak. Terdapat keterlambatan penarikan pinjaman pertama kali atas pinjaman luar negeri dengan fasilitas kredit ekspor pada proyek GITET Tasikmalaya sehingga PLN dan Negara dirugikan sebesar EUR98. yaitu: a.28 dan diantaranya lebih bayar biaya komitmen sebesar Rp123.61 ribu.Hal tersebut terjadi karena Bagian Umum PLN Pikitring JBN tidak sepenuhnya memperhatikan ketentuan Pasal 6 Perjanjian Jual Beli Rumah dalam hal memberikan peringatan.186.722. 24. dan diantaranya terdapat lebih bayar sebesar EUR12.d. 3) Koordinasi antara Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran dengan PLN 84 BPK-RI/AUDITAMA V .68. BPK – RI menyarankan agar PLN Pikitring JBN melaksanakan ketentuan perjanjian sewa beli rumah dinas secara tegas antara lain dalam melaksanakan ketentuan pemberian peringatan pertama s. 2) Amandemen No. Hal ini terjadi karena : 1) Kelalaian PLN dalam memenuhi Perjanjian Penerusan Pinjaman berupa kelengkapan dokumen yang diperlukan untuk penarikan pinjaman pertama kali. Seluruh temuan tersebut telah ditindaklanjuti dengan status 9 (sembilan) temuan dinyatakan selesai dan sisanya 21 (dua puluh satu) temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya.538.86 + EUR66.1 tanggal 14 Oktober 2002 atas Loan Agreement tanggal 30 Agustus 2000 antara pihak KfW dengan Republik Indonesia tidak memperhatikan klausul yang telah disepakati oleh pihak KfW.

Hal ini disebabkan Dinas Akuntansi Kantor Pusat dan DLK tidak pernah melakukan rekonsiliasi dan DLK tidak sesegera mungkin menyampaikan dokumen-dokumen pendukung ke DKP sebagai dasar pencatatan akuntansi.tidak berjalan sebagai mestinya. PLN menjelaskan bahwa perbaikan klausul tersebut masih menunggu keputusan mengenai cosmetic rate dan kelebihan bayar tersebut sudah disepakati dengan Depkeu untuk dikompensasikan dengan pembayaran angsuran pokok dan bunga. Kondisi tersebut mengakibatkan penyajian laporan keuangan khususnya laporan laba rugi tidak menyajikan kondisi biaya yang sebenarnya. Hal ini disebabkan Dinas Keuangan PLN Kantor Pusat (KP) tidak mematuhi peraturan yang berlaku. BPK-RI menyarankan agar : 1) PLN melaksanakan prosedur pertanggung jawaban persekot pegawai secara tertib 85 BPK-RI/AUDITAMA V . BPK-RI menyarankan agar DLK dan DKP melakukan rekonsiliasi secara berkala dan membukukan saldo Pembayaran Dimuka secara tertib dan mutakhir Dalam tindak lanjut.945. 2) Pimpinan Proyek dan PLN Kantor Pusat memperhatikan kelengkapan dokumen yang diperlukan untuk penarikan pinjaman pada periode-priode berikutnya agar keterlambatan penarikan pinjaman tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.41 juta tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.010. b. c.470. Dalam tindak lanjut.921. PLN menjelaskan bahwa DLK dan DKP telah melakukan rekonsiliasi secara periodik. Pemberian Porsekot Dinas senilai Rp14. Pengendalian intern atas pembukuan Pembayaran Dimuka masih lemah Hal ini mengakibatkan posisi saldo Pembayaran Dimuka per 31 Desember 2003 sebesar Rp418. BPK-RI menyarankan agar : 1) PLN memperbaiki klausul biaya komitmen pada perjanjian atas pinjaman Tranche-B.00 belum menggambarkan keadaan senyatanya.

86 BPK-RI/AUDITAMA V . Keuangan RI 2001 sebesar sebesar USD256. Hal ini dapat terjadi karena Bagian Keuangan PLN KP dan KKRKK kurang cermat dalam melakukan verifikasi dan pembayaran tagihan dari konsultan CGS&H.891.00 diragukan.958. Terdapat kelebihan pembayaran sebesar US$310.41 terdiri atas : 1) Pembayaran 2) Kelebihan yang menjadi kewajiban tagihan Departemen Juli s.648.61 pembayaran untuk September USD54. Hal tersebut mengakibatkan PLN salah melakukan pembayaran yang melebihi kewajibannya kepada CGS&H sebesar USD310.89 ribu kepada konsultan Cleary.sesuai ketentuan yang berlaku. Gottlieb.310. BPK-RI menyarankan agar PLN memperhitungkan kelebihan pembayaran kepada CGS&H dan mengupayakan penggantiannya kepada Departemen Keuangan RI maupun Pertamina. e. 2) Pemberian persekot kepada pihak ketiga tidak dibukukan dalam akun pinjaman pegawai.514.80.31 juta belum akurat Hal tersebut mengakibatkan mengakibatkan : 1) Validitas dan akurasi Aktiva Tetap Tanah dan Bangunan senilai Rp228. namun agar dipindahkan ke akun biaya dibayar dimuka atau dibiayakan pada tahun berjalan. Penyajian akun atas Tanah dan Gedung-gedung Batu senilai Rp228. d.242.65 juta sudah dipertanggungjawabkan bulan Mei 2005. Steen & Hamilton(CGS&H). Dalam tindak lanjut. PLN menindaklanjuti akan mengupayakan penagihannya ke PT Pertamina. PLN menjelaskan sudah dibuat Nota Dinas kepada pihak –pihak yang mengambil persekot untuk segera dipertanggungjawabkan dan dalam tahun 2004 jumlah persekot yang telah dipertanggungjawabkan Rp13.25 juta dan sisanya sebesar Rp132.892.d. Untuk selanjutnya KKRKK dan Bagian Keuangan PLN lebih cermat dalam menghitung pembayaran yang menjadi kewajiban PLN.514.

777. Sistem pengendalian atas arus dokumen (Flow of Document) akuntansi pada PLN KP masih lemah Hal-hal tersebut di atas mengakibatkan pencatatan dan pembukuan yang dilakukan DKP tidak tepat.d.00.42 juta. 87 BPK-RI/AUDITAMA V .254.132.482. Hal ini disebabkan PLN tidak secara tegas menerapkan sanksi keterlambatan pembayaran angsuran rumah sebagaimana diatur dalam Surat Perjanjian Sewa Beli Rumah. BPK-RI menyarankan agar PLN berusaha melengkapi data administratif dan dokumen kepemilikan termasuk sertifikat atas tanah yang dimiliki. Wijaya atas pemisahan kepemilikan tanah setiap unit PLN dan Anak Perusahaan.151. Hal-hal di atas disebabkan : 1) Tidak ada koordinasi yang baik antara Akuntansi Keuangan KP (DKP) dengan Bidang Pengelolaan Kantor Pusat dan Fasilitas (PKPF) dalam mendokumentasikan data Inventarisasi Wisma dan Rumah Dinas. PLN menjelaskan telah dibuat surat teguran kepada yang bersangkutan dan sampai dengan 31 Desember 2004 sudah ada pelunasan sehingga saldo tunggakan angsuran rumah dinas tinggal sebesar Rp1. PLN menjelaskan bahwa sudah dilakukan rekonsiliasi antara DKP dan Sekretaris Perusahaan untuk melengkapi data administratif. 2) Bidang PKPF tidak menyampaikan informasi kepada Unit Arsip Perusahaan (UAP) Jl.67 juta. Terdapat tunggakan angsuran rumah dinas di PLN Kantor Pusat sebesar Rp3. Hal ini mengakibatkan PLN tidak dapat sesegera mungkin memanfaatkan dana hasil penjualan rumah. g.2) Aktiva Tetap Bangunan kurang catat sebesar Rp5. Dalam tindak lanjut. Dalam tindak lanjut. f. ketiga sesuai jangka waktu keterlambatan dan apabila tetap tidak ada pelunasan setelah terbit teguran ketiga tersebut agar dipertimbangkan untuk pemutusan kontrak dan meminta kembali rumah-rumah tersebut sesuai yang ditentukan dalam perjanjian. BPK-RI menyarankan agar PLN memberikan surat teguran pertama s.

163. Dalam tindak lanjut. 2) Mencatat penerimaan kiriman uang harus berdasarkan bukti setor bank yang dilampirkan dalam LKU 88 BPK-RI/AUDITAMA V .Hal ini disebabkan DKP dan unit-unit kerja lainnya tidak memahami Pedoman Sistem dan Prosedur Akuntansi Umum PLN. penerimaan. 3) Perusahaan kehilangan kesempatan menggunakan dana sebesar Rp40.242.923. Pengendalian intern atas fisik dan administrasi dana perusahaan khususnya Bank Receipt PLN KP (BR KP)lemah Hal tersebut mengakibatkan: 1) Membuka peluang praktek yang tidak sehat berupa pengalihan dana ke rekening pihak lain sebelum ditransfer ke rekening BR KP. BPK-RI menyarankan agar : 1) Meningkatkan pengendalian intern atas fisik dan administrasi dana perusahaan khususnya BR KP antara lain dengan menindaklanjuti keberadaan uang selama selang waktu antara LKU dengan pengiriman uang dan mengirimkan hasilnya ke BPK-RI.15 (asumsi suku bunga 6% per tahun). pengiriman.453. 3) KP tidak melakukan tindak lanjut atas selisih hasil rekonsiliasi. BPK-RI menyarankan agar semua unit kerja PLN mematuhi pedoman sistem dan prosedur akuntansi umum dan melakukan pemantauan arus dokumen. 2) Pencatatan penerimaan dalam akun BR tidak berdasarkan penerimaan uang dari R/K atau nota dari bank. 2) Saldo BR KP tidak mencerminkan keadaan sebenarnya (terlalu tinggi). Hal tersebut disebabkan: 1) Pengendalian intern atas fisik dan administrasi dana perusahaan khususnya BR KP lemah. PLN menjelaskan bahwa sedang dilakukan usaha untuk mengatasi masalah tersebut melalui sistem terpadu (on line). h.00 dan kesempatan memperoleh pendapatan bunga sebesar Rp72.162. dan pencatatannya.

Hal ini disebabkan kurangnya pengendalian intern perusahaan terhadap pengelolaan AT sesuai ketentuan yang berlaku antara lain kurangnya koordinasi antar unit yang terkait dalam pengelolaan AT.Disbali Pemakaian kembali aset yang disetujui untuk dihapuskan telah diadministrasikan sesuai peraturan yang berlaku . PLN menjelaskan bahwa tindak lanjut yang telah dilaksanakan: . BPK-RI menyarankan agar PLN meningkatkan pengendalian atas AT dan melaksanakan ketentuan yang berlaku secara menyeluruh. Penelitian/penelusuran sebagian aset/rumah dinas yang sudah lunas/masih mencicil sedang dilakukan. P3B telah mengirimkan surat permintaan pemindahbukuan atas aset dimaksud ke Pikitring JBN . Dalam tindak lanjut.Disjatim Point (e) dan (f) telah dilakukan koreksi.Disjaya Aktiva tanah dan bangunan telah dirinci fisiknya dan lokasinya oleh Tim Inventarisasi Aktiva Tetap.P3B Aktiva tersebut dari Pikitring JBN yang belum dinotabukukan ke P3B. CIS dan Kontrol harian.3) Mencari pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi pengalihan dana ke rekening pihak lain dan memberi sanksi pihak terkait sesuai ketentuan yang berlaku. PLN telah melakukan desentralisasi wewenang serta pengamanan pendapatan melalui program SIP3 (revenue protection). . . Pengendalian atas pembukuan aktiva masih lemah. i. Hal tersebut mengakibatkan nilai aktiva dalam LK tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.Disjabar 89 BPK-RI/AUDITAMA V .

Terdapat pencatatan dan revaluasi ganda aset dengan harga perolehan Rp4.00 membebani perusahaan tanpa memberikan manfaat bagi perusahaan.398.000 (Rp194. Terdapat Aktiva Tetap senilai Rp86. Hal ini mengakibatkan PLN kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan dan aktiva senilai Rp86. l.000) telah dicatat tahun 2004.698. Akiva Tetap tanah belum didukung dengan bukti kepemilikan yang memadai Hal ini mengakibatkan kepemilikan tanah seluas 2. j.885.098. BPK-RI menyarankan agar PLN melakukan inventarisasi dan memeriksa kembali hasil revaluasi aset yang mengalami mutasi dalam tahun 2002 serta melakukan koreksi nilai AT.661 m2 yang berada di bawah penguasaan PLN lemah dari segi hukum serta berisiko dapat menimbulkan persengketaan 90 BPK-RI/AUDITAMA V . Hal ini terjadi disebabkan PLN belum optimal dalam melakukan pengurusan sertifikat tanah sehubungan terbatasnya anggaran. ATTB dan beban penyusutan tahun 2002. PLN menjelaskan bahwa duplikasi tersebut telah dikoreksi tahun 2003.000+Rp5. k.893.661 m2 yang berada dibawah penguasaan PLN lemah dari segi hukum serta berisiko dapat menimbulkan persengketaan dengan pihak ketiga.89 juta yang belum memberikan manfaat bagi PLN.398. BPK-RI menyarankan agar PLN mengoptimalkan pemanfaatan komponen-komponen pendukung penghantar GI yang telah terpasang dan berkoordinasi dengan unit bisnis terkait untuk membuat perencanaan untuk meningkatkan kapasitas operasi. akan tetapi merupakan sarana untuk extension. PLN menjelaskan bahwa Aktiva Tetap tersebut tidak masuk dalam kategori Aktiva belum dimanfaatkan (ATBM). Dalam tindak lanjut.400.05 juta Hal tersebut mengakibatkan kepemilikan tanah seluas 2.292. Dalam tindak lanjut.569.292.Nilai aktiva tersebut senilai Rp200. Hal ini disebabkan pembangunan GI kurang direncanakan dengan baik.

806.703..918. Dalam tindak lanjut.100. Pekerjaan Dalam Pelaksanaan (PDP) Pikitring JBN tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya yaitu terlalu tinggi sebesar Rp814. Hal tersebut mengakibatkan: 1) LK tahun 2003 tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. m. BPK-RI menyarankan agar PLN membuat perencanaan yang lebih baik dan melaksanakan sepenuhnya ketentuan yang berlaku untuk segera mengiventarisir/ menyelesaikan pending item PDP tersebut.305. Anggaran tahun 2005 sebesar Rp5.masih dalam proses Serah Terima Proyek.263.240. BPK-RI menyarankan agar PLN menyediakan anggaran yang cukup untuk melakukan proses sertifikasi terhadap tanah yang belum memiliki sertifikat hak tanah.276. Hal ini terjadi disebabkan PLN belum optimal dalam melakukan pengurusan sertifikat tanah sehubungan terbatasnya anggaran. sehingga biaya penyusutan terlalu rendah.000.dengan pihak ketiga.546. PLN menjelaskan bahwa dari nilai PDP termaksud di atas menjadi Aktiva Tetap Rp681.sedang sisanya sebesar Rp133. n.00 untuk 2 GI dan 38 SPK untuk 471 persil.754. yaitu PDP disajikan terlalu tinggi dan AT terlalu rendah 2) Pendapatan atas aktiva PDP konstruksi yang telah dioperasikan telah diakui sedangkan biaya penyusutan belum dibebankan sesuai dengan statusnya sebagai PDP.448.00 untuk 459 persil dan 312 tower serta 1 lot. Pengendalian atas penerimaan penjualan tenaga listrik melalui Bank Receipt (BR) pada 91 BPK-RI/AUDITAMA V . Hal tersebut terjadi karena konstruksi kurang direncanakan dengan baik dan Pikitring belum sepenuhnya melaksanakan ketentuan yang berlaku yaitu untuk segera menyelesaikan beberapa pending item dan menerbitkan STP. Dalam tindak lanjut. PLN menjelaskan secara bertahap sudah memproses sesuai anggaran yang tersedia tahun 2004 sebesar Rp5.05 juta.804. kemudian membuatkan STP serta memindahbukukannya menjadi AT.

Hal tersebut mengakibatkan PLN belum dapat memanfaatkan pendapatan sebesar Rp9. o. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya itikad baik dari PT Semen Bosowa. Terdapat beberapa pelanggan besar (golongan tarif I – 3 dan I – 4) yang belum membayar biaya keterlambatan atas pembayaran rekening listrik sebesar Rp9. Hal tersebut mengakibatkan PLN tidak dapat segera memanfaatkan pendapatan penjualan tenaga listrik untuk kegiatan operasi perusahaan.699. Hal tersebut terjadi karena pengawasan dari Bagian Keuangan dan Bagian Penagihan PLN terhadap PP maupun BR belum optimal dan pengenaan sanksi keterlambatan BR belum dilakukan secara tegas. PLN menjelaskan sebagai berikut: 1) PT Semen Bosowa telah mengakui adanya biaya keterlambatan dan masih dalam proses penagihan.64 92 BPK-RI/AUDITAMA V .25 untuk operasi perusahaan dan pelanggan tersebut cenderung untuk melakukan pembayaran rekening listrik tidak tepat waktu. BPK-RI menyarankan agar PLN menambahkan klausul dalam Surat Keputusan Direksi mengenai TUL yang mengatur sanksi dan denda keterlambatan pembayaran BK dan selanjutnya membuat amandemen Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik dengan pelanggan besar yang menunggak BK. serta dalam surat perjanjian antara PLN S2JB Cabang Palembang dengan Bank BNI 46 Cabang Musi tidak tercantum pasal mengenai denda keterlambatan.699.069.07 juta. PLN menjelaskan bahwa PLN sudah membuat surat teguran dan mengenakan denda/sanksi keterlambatan serta meningkatkan pengawasan BR dan PP.789. PT Surya Kertas. Dalam tindak lanjut. Dalam tindak lanjut.PLN masih lemah. 2) PT Surya Kertas telah melakukan pembayaran biaya keterlambatan sebesar Rp13. dan PT Bumitirto Sumberkoyo untuk segera membayar BK tersebut serta tidak adanya sanksi yang tegas dari PLN terhadap pelanggan yang tidak membayar BK. BPK-RI menyarankan agar PLN membuat surat teguran dan mengenakan denda/sanksi keterlambatan serta meningkatkan pengawasan BR dan PP.

11 juta.juta. PLN menjelaskan secara umum TUL masih menggunakan 93 BPK-RI/AUDITAMA V . dan data pada Bagian Akuntansi serta belum melaksanakan opname fisik piutang pelanggan sesuai dengan ketentuan BPK-RI menyarankan agar seluruh Cabang/Rayon/Ranting pada PLN Sumut segera kembali menerapkan Sistem TUL secara benar dan ketekoran rekening listrik agar segera diselesaikan. q. Dalam tindak lanjut. menertibkan pelaksanaan rekonsiliasi bulanan serta menindaklanjuti hasil rekonsiliasi. V-02. 3) PT Bumitirto telah melakukan pembayaran biaya keterlambatan sebesar Rp39. Pengendalian atas pencatatan Biaya Penyambungan (BP) dan Uang Jaminan Langganan (UJL) masih lemah.054. PLN menjelaskan bahwa telah dilakukan rekonsiliasi mutasi BP dan UJL secara periodik. 3) Hasil rekonsiliasi tidak segera ditindaklanjuti kedalam koreksi BPK-RI menyarankan agar PLN meningkatkan pengendalian atas pencatatan BP dan UJL.054. Hal tersebut mengakibatkan PLN Sumut tidak dapat menggunakan dana yang kurang disetor sebesar Rp1. Administrasi Pelanggan. Dalam tindak lanjut.105.587. p.80 juta. dan Keuangan belum sepenuhnya melaksanakan rekonsiliasi bulanan antara TUL IV-04. Hal tersebut mengakibatkan pembukuan saldo BP dan UJL belum sepenuhnya sesuai dengan kenyataannya. Hal tersebut terjadi karena Bagian Penagihan. Sistem TUL dan pengamanan pendapatan belum berjalan sesuai ketentuan sehingga PLN Wilayah Sumut tidak dapat menggunakan dana yang kurang disetor sebesar Rp1. Akuntansi. 2) Rekonsiliasi bulanan belum tertib dilakukan. Selisih pencatatan BP dan UMTL/UJL tersebut terjadi karena: 1) Pengendalian atas pencatatan BP dan UJL masih lemah.

Pengelolaan barang-barang berupa material PDP dan barang-barang yang termasuk ATTB di beberapa Gudang Pikitring JBN kurang memadai. 94 BPK-RI/AUDITAMA V . BPK-RI menyarankan agar PLN meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM yang ditugaskan di gudang. PLN menjelaskan bahwa sudah dilakukan pemutakhiran TUG-2 dan layout penempatan material PDP/ATTB/Barang sudah dihapuskan serta diadakan penambahan jumlah petugas gudang secara out sourcing s. ATTB. PLN Disjaya tidak melakukan penyesuaian piutang pada saat pengenaan tagihan susulan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) sehingga pendapatan kurang catat sebesar Rp8. BPK-RI menyarankan agar PLN melakukan pembukuan tagihan susulan sesuai pedoman yang ditetapkan. Hal tersebut disebabkan Bagian Akuntansi AP belum sepenuhnya melakukan pembukuan tagihan susulan sesuai pedoman yang ditetapkan. Hal ini menjadi penyebab kurang lancarnya pelaksanaan opname phisik bulanan.312. r.00 masih dalam proses. Dalam tindak lanjut.105. Penyelesaian ketekoran rekening sebesar Rp1.konvensional/manual. maupun barang-barang yang sudah dihapuskan yang ada di gudang setiap saat sulit untuk diketahui dan diidentifikasi. Dalam tindak lanjut. Hal tersebut mengakibatkan material PDP.368 .131.00.312. Untuk ke depan mulai tahun 2005 diprogramkan data elektronik untuk menuju on line. Hal ini terjadi karena keterbatasan kuantitas maupun kualitas sumber daya manusia yang ditugaskan di gudang.054.13 juta. Hal ini mengakibatkan pendapatan dalam LK PLN terlalu rendah sebesar Rp8. PLN menjelaskan bahwa penyesuaian piutang atas pengenaan tagihan susulan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) telah dilakukan sesuai jurnal koreksi/adjusment dari PLN Pusat terhadap Laporan Keuangan tahun 2003 berdasarkan surat Deputy Direktur Akuntansi Kantor Pusat No.587.

t.IV/2003 tanggal 12 Desember 2003 perihal Perlakuan Akuntansi Tagihan Susulan P2TL. Dalam tindak lanjut. u. Jabar dari Rp60 M turun menjadi Rp29M Disbali : telah membongkar kecuali 33 pelanggan karena telah melunasi tunggakan rekening listrik. Disjateng : Telah dibentuk Tim Penegakan Tunggakan dan dilakukan kontrak pemutusan dengan pihak ketiga. PLN menjelaskan bahwa telah dilakukan kontrak dengan pihak ketiga untuk pemutusan rampung dan hasilnya terjadi penurunan saldo piutang contoh: S2JB dari Rp5. Harga satuan dari Harga Perhitungan Sendiri (HPS) kontrak sewa peralatan komunikasi 95 BPK-RI/AUDITAMA V . Beberapa APJ tunggakan mencakai nihil. 2698/545/D. Disjaya : pemutusan dengan diprioritaskan untuk pelanggan dengan tunggakan besar dan dilaksanakan oleh mitra kerja termasuk sosialisasi ke pelanggan tentang ketertiban pembayaran reklis.01670/093/DD. Disjatim : tahun 2004 tunggakan telah mencapai Rp14.4 milyar. BPK-RI menyarankan agar PLN melaksanakan sepenuhnya Keputusan Direksi PLN tentang sanksi pemutusan sementara ataupun pemutusan rampung.AKT/2004 tanggal 04 Juni 2004 perihal Penyesuaian Laporan Keuangan Konsolidasi (Audited) 2003 Buku Besar dan Jurnal Penyesuaian untuk selanjutnya Area Pelayanan akan diingatkan kembali untuk dilakukan perhitungan penyesuaian Piutang P2TL pada saat pengenaan tagihan susulan tersebut secara accrued sesuai surat MBKEU No. Hal tersebut terjadi disebabkan PLN belum sepenuhnya melaksanakan Keputusan Direksi PLN tentang sanksi pemutusan sementara ataupun pemutusan rampung. PLN belum sepenuhnya melaksanakan keputusan direksi tentang sanksi pemutusan sementara ataupun pemutusan rampung Hal ini mengakibatkan PLN tidak dapat memanfaatkan dana atas tunggakan piutang dari pelanggan.496 M turun menjadi Rp253 Juta Distr.

Dari 7 (tujuh) temuan tersebut telah ditindaklanjuti tahun 2004 dengan status 1 (satu) temuan dinyatakan selesai dan sisanya 6 (enam) temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya. Seluruh temuan tersebut telah ditindaklanjuti pada tahun 2003 dengan status 9 (sembilan) temuan dinyatakan selesai dan sisanya 7 (tujuh) temuan masih perlu dipantau tindak lanjutnya.475.081. BPK-RI menyarankan agar segera melakukan pemindahbukuan ATBM tersebut menjadi Aktiva Tetap. Hal ini terjadi disebabkan PLN Pikitring JBN mengeluarkan Berita Acara Serah Terima Operasi (BA STOP) dan tidak segera diikuti dengan penerbitan Berita Acara Serah Terima Proyek (BA STP). Atas hal tersebut diperkirakan timbul ketidakhematan sebesar Rp411. PLN menjelaskan bahwa dari nilai tersebut telah di-STP-kan 96 BPK-RI/AUDITAMA V . BPK-RI menyarankan agar panitia pengadaan mentaati ketentuan HPS yang diatur dalam SK Direksi.725.00. Dalam tindak lanjut.63 juta.060. 25. Hal ini disebabkan panitia pengadaan tidak mentaati ketentuan HPS yang diatur dalam SK Direksi. PLN menjelaskan bahwa Disjatim telah menerbitkan surat teguran kepada panitia yang terkait. Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan tahun 2002 Dalam pemeriksaan tahun buku 2002 terdapat 16 (enam belas) temuan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. yaitu: a. Terdapat aktiva yang telah dimanfaatkan tetapi masih dibukukan pada akun Aktiva Tetap Belum Dimanfaatkan pada PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Jawa-Bali dan Nusa Tenggara sebesar Rp2.dan komputer masih memperhitungkan Pajak Penghasilan (PPh) rekanan. Hal ini mengakibatkan penyajian akun Aktiva Tetap Belum Dimanfaatkan (ATBM) pada Laporan Keuangan PLN Pikitring JBN tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

BPK-RI menyarankan agar penilaian mutasi atas persediaan dan PDP material disesuaikan dengan peraturan yang berlaku dan dilakukan penyempurnaan perangkat lunak persediaan dan PDP Material secepat mungkin. dan akun Aktiva Tetap yang terkait dengan PDP Konstruksi yang telah selesai dan dipindahkan ke akun Aktiva Tetap kurang akurat. akun Persediaan.834. Hal ini mengakibatkan pembayaran oleh PLN KP kepada Pertamina belum akurat. dan Biaya Pemeliharaan (pemakaian material). BPK – RI menyarankan agar PLN segera dan selalu berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk melakukan rekonsiliasi secara tepat waktu.426. Penggunaan Program Focus atas Persediaan Material dan Pekerjaan Dalam Pelaksanaan (PDP) Material di PLN Disjaya masih perlu disempurnakan Hal ini mengakibatkan penyajian akun Selisih Harga Material sebagai Pendapatan/Beban Diluar Usaha. Dalam tindak lanjut PLN menjelaskan bahwa program focus hanya mengenal penilaian harga rata – rata tertimbang yang seharusnya berlaku khusus untuk material pemeliharaan. Hal ini terjadi karena perincian Tagihan Pusat dari Pertamina sebagai data pembanding belum diterima.sebesar Rp2. PLN Unit Bisnis Distribusi Jaya dan Tangerang dan Area Pelayanan Surabaya Utara dan 97 BPK-RI/AUDITAMA V . PDP Konstruksi.12 juta dan sisanya belum di-STP-kan sebesar Rp48. akun PDP Material. d. Sebagian pembayaran atas penerimaan BBM PLN Kitlursu oleh PLN Kantor Pusat tidak didasarkan rekonsiliasi. c. sedangkan material PDP menggunakan nilai harga perolehan maka saat ini telah dilakukan pengembangan/perubahan program menjadi SIMAT ( Sistem Informasi Material) dan mulai Januari 2005 telah diaplikasikan. Telah dilakukan rekonsiliasi dengan Pertamina. b. Hal ini terjadi disebabkan ketidak layakan Program Focus dalam mendukung pencatatan Bidang Akuntansi atas transaksi material baik material pemeliharaan dan material untuk PDP.247.51 juta.

Hal ini terjadi disebabkan PLN UP Cikokol dan UP Menteng belum sepenuhnya melaksanakan Keputusan Direksi PLN tentang sanksi pemutusan sementara ataupun pemutusan rampung. PLN Unit Bisnis Distribusi Jaya dan Tangerang belum sepenuhnya melaksanakan Keputusan Direksi PLN tentang sanksi Pemutusan Sementara ataupun Pemutusan Rampung Hal ini mengakibatkan PLN tidak dapat memanfaatkan dana sebesar Rp9.256.3.007.6.900.100.322.00 di UP Cikokol dan UP Menteng dan sebesar Rp46. 2) PLN APSBU dan APSBS Ketentuan yang berlaku ( Keputusan Direksi PLN No.822/10/D/IV/2003 tanggal 23 Oktober 2003).00.OPS 001 tanggal 25 Pebruari 2002 butir VI. BPK-RI menyarankan agar penerbitan Prosedur Tetap mengacu pada kebijakan Direksi dan kekurangan penyesuaian UJL agar ditagih kepada pelanggan.2 menentukan bahwa UJL tidak diperhitungkan/ditagihkan dalam menghitung Tagihan Susulan.955.114. Penyesuaian UJL ditagihkan setelah pelanggan melunasi tagihan susulan (surat No. e. Hal ini mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan sekurang-kurangnya sebesar Rp1.00 di APSBU dan APSBS.K/010/DIR/2001 tanggal 31 Desember 2001 Pasal 6 ayat 2) belum ditaati.229. 98 BPK-RI/AUDITAMA V .6.Selatan tidak melakukan penyesuaian Uang Jaminan Langganan pada saat pengenaan Tagihan Susulan Program Penertiban Tenaga Listrik.00 dan Rp10.383.428. Hal ini terjadi disebabkan: 1) PLN UP Cikokol dan UP Menteng Prosedur Tetap (SOP) P2TL yang disahkan oleh Manager Bidang Operasi dan Pelayanan Gangguan PLN Disjaya No.490.876. Dalam tindak lanjut PLN menjelaskan bahwa guna memperlancar penyelesaian tagihan susulan atas pelanggan yang terkena P2TL. PLN belum/tidak menambahkan penyesuaian UJL.

183. 99 BPK-RI/AUDITAMA V .BPK-RI menyarankan agar pengenaan sanksi kepada pelanggan yang menunggak dilakukan secara lebih intensif sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penyelesaian kontrak pada masa jaminan pemeliharaan berlarut – larut sehingga hutang kepada rekanan sebesar Rp14.97 juta tidak jelas penyelesaian. BPK-RI menyarankan agar Direksi PLN segera mengambil kebijakan penyelesaian atas proyek tersebut sehingga status hutang kepada pihak ketiga menjadi jelas. f. Pada tingkat pengadilan negeri PLN dinyatakan kalah dan pada tingkat pengadilan tinggi PLN dinyatakan menang. Dalam tindak lanjut. PLN menjelaskan bahwa tindak lanjut penyelesaian kontrak ini masih menunggu hasil keputusan dari Mahkamah Agung. Hal ini terjadi disebabkan status penyelesaian kontrak tersebut tidak jelas. Hal ini mengakibatkan penyelesaian hutang kepada rekanan menjadi berlarut-larut dan tidak jelas penyelesaiannya. Dalam tindak lanjut PLN menjelaskan bahwa pelaksanaan pekerjaan pemutusan sementara dan pemutusan rampung sudah di outsourcing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful