Anda di halaman 1dari 13

PERANCANGAN ALAT UKUR KECEPATAN ANGIN REALTIME Adhiatma M. Nur Hadi (D41107144) dan Arief Jayakusuma A.

(D41107112) Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Abstrak Angin secara umum adalah udara yang bergerak dipermukaan bumi. Angin mempunyai arah dan kecepatan yang ditentukan oleh adanya perbedaan tekanan udara dipermukaan bumi. Angin bertiup dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah dan arahnya cenderung mendatar. Semakin besar perbedaan tekanan udara maka semakin besar kecepatan angin. Untuk keperluan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai Metereologi dan geofisika diperlukan suatu alat yang dapat mengukur kecepatan angin. Salah satu metode pengukuran kecepatan angin yaitu dengan menggunakan anemometer. Anemometer jenis Cup merupakan alat pengukuran kecepatan angin yang bekerja secara mekanik. Alat ini memberikan respon atas gaya dinamik yang berasal dari angin yang bekerja pada alat tersebut. Alat ini bekerja dengan memperhitungkan jelajah dari Cup yang berputar dari angin yang berasal dari segala arah. Dalam tugas akhir ini, telah dibuat sebuah perangkat keras untuk mengukur kecepatan angin secara real time. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin ini menggunakan sensor encoder sebagai transducer yang kemudian diteruskan ke mikrokontroler DT-AVR Low Cost Micro System. Alat ini dibuat sedemikian rupa hingga dapat mengukur kecepatan angin minimal 0,001 m/s. Alat ukur kecepatan angin ini dilengkapi dengan software monitoring yang kemudian yang secara otomatis menampilkan database dari kecepatan angin yang terukur pada PC (Personal Computer). Kata kunci: Kecepatan angin, DT-AVR Low Cost Micro System, Software monitoring. 1. 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah nelayan, keperluan olahraga dan dunia penerbangan. Untuk mengetahui kecepatan angin dapat diukur dengan alat yang disebut anemometer. Teknologi anemometer pun terus berinovasi. Pada awalnya pengukuran kecepatan angin hanya terbatas untuk mengetahui kecepatan sesaat saja, namun kemudian berkembang sistem komputerisasi yang memungkinkan kecepatan angin dapat diketahui secara real time. Bertitik tolak dari alasan tersebut diatas, maka penulis bermaksud untuk turut berpartisipasi dengan cara menyumbangkan salah satu peralatan elektronika yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan angin secara realtime yang dilengkapi dengan software monitoring. Dalam perancangan alat ukur kecepatan angin ini, digunakan PC (personal computer) sebagai display yang secara otomatis menampilkan database dari kecepatan angin yang terukur.

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat terutama hal-hal yang dapat membantu kerja dan kinerja manusia. Seiring perkembangan tersebut para mahasiswa dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut sesuai dengan disiplin ilmunya masingmasing.

Dari ilmu yang telah didapat selama di bangku perkuliahan baik pada mata kuliah mengenai rangkaian elektronika, rangkaian logika dan algoritma hardware, software serta pengembangan skill keilmuan mengenai komputer, maka penulis tertarik untuk membuat rancang bangun suatu konsep peralatan sebagai pengembangan dari mata kuliah yang didapat selama ini. Salah satu unsur alam yang penting dalam kehidupan manusia adalah angin. Sifat utama dari angin (udara) adalah gerakannya yang diperlukan untuk membantu menunjang kehidupan manusia. Dalam pemanfaatannya angin digunakan untuk keperluan pembangkit tenaga listrik, sebagai pendorong perahu layar

1.2

Perumusan Masalah Permasalahan yang kami angkat sebagai objek penelitian pada tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana merancang alat ukur kecepatan angin real time. 2. Bagaimana memonitoring kecepatan angin secara real time. 3. Bagaimana membandingkan hasil pengukuran rancangan dengan alat ukur kecepatan angin yang lain. 1.3 Batasan Masalah Untuk kemudahan dan lebih terperincinya pembahasan pada tugas akhir ini, maka kami memberikan batasan permasalahan sebagai berikut: 1. Perancangan alat ukur ini hanya dapat mengukur kecepatan angin. 2. Sensor yang digunakan adalah rotary encoder tipe Omron E6A2-CW5C. 3. Sistem pengendali yang digunakan berbasis mikrokontroller ATMEGA8535, DT-AVR Low Cost Micro System dengan programming environment CodeVision AVR. 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah: 1. Merancang alat ukur kecepatan angin real time. 2. Memonitoring kecepatan angin secara real time. 3. Membandingkan hasil pengukuran rancangan dengan alat ukur kecepatan angin lainnya.

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Berisi tentang perancangan Alat Ukur Kecepatan Angin Realtime. BAB 4 ANALISA HASIL PERANCANGAN Dari data yang telah dikumpulkan maka akan dilakukan analisis berupa tabel dan grafik manual. BAB 5 PENUTUP Berisi kesimpulan pengembangan akhir dan saran

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Angin Atmosfer selalu dalam keadaan bergerak. Gerak atmosfer ada dua jenis yaitu gerak nisbi terhadap permukaan bumi, yang dinamakan angin, dan gerak bersama-sama dengan bumi yang berotasi terhadap sumbunya. Jenis gerak terakhir ini berpengaruh terhadap arah angin nisbi terhadap permukaan bumi. Gerak atmosfer terhadap permukaan bumi mempunyai dua arah, parah horizontal dan arah vertikal. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah. Pada perinsipnya panas disimpan oleh tanah, air atau udara, hal ini menyebabkan perbedaan temperatur, dan tekanan udara. Perbedaan tekanan ini menghasilkan gaya yang mendorong udara di sekitarnya.

2.1.1. Kecepatan Angin


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan angina yaitu, gradien barometris letak tempat , tinggi tempat dan keadaan topografi suatu tempat. Kecepatan angin juga dipengaruhi oleh percampuran atmosferik secara khas mengikuti putaran harian yang dikendalikan pemanasan matahari. Putaran harian ini seringkali menyebabkan variasi kecepatan angin yang bertambah pada siang hari dan berkurang pada malam hari. Pada kondisi normal, kecepatan angin maksimal seringkali terjadi di sore hari. Angin terkuat biasanya ditemukan dalam daerah terbuka. Karakteristik permukaan seperti bukit dapat mempercepat angin saat angin tersebut lewat di atas bukit.

1.5

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan tugas akhir ini terbagi dalam lima bab yaitu:
BAB 1 PENDAHULUAN Berisi latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang dasar-dasar teori diperlukan serta literatur-literatur mendukung dalam mendesain alat kecepatan angin.

yang yang ukur

2.1.2. Pola Angin


Hukum Buys Ballot menyatakan bahwa udara yang mengalir dari daerah yang bertekanan maksimum ke daerah yang bertekanan minimum. Arah angin akan membelok ke kanan dibelahan bumi utara dan membelok ke kiri di belahan bumi selatan. Pembelokan ini disebabkan karena adanya rotasi bumi (gaya coriolis). Di Indonesia yang secara geografis terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam bulan berada di utara dan enam bulan berada di selatan khatulistiwa, maka angin pasat tersebut mengalami perubahan menjadi angin muson (angin musim) barat dan angin muson timur. Dari letak geografis dan pengaruh angin muson maka Indonesia dibagi menjadi tiga musim, yaitu musim hujan, musim kemarau dan musim peralihan.

2.2 Hubungan Kecepatan Sudut dengan Kecepatan Linier Andaikan r jarak dari sumbu ke titik p di dalam benda, sehingga titik itu bergerak dalam lingkaran berjari-jari r, seperti pada gambar. Bila jari-jari membentuk sudut dengan sumbu patokan, jarak s ketitik p, diukur sepanjang lintasan lingkaran, ialah s = r ...........(2.1) Jika dinyatakan dalam radian p

2.1.3. Alat Pengukur Angin


Meskipun pada kenyataannya angin tidak dapat dilihat bagaimana wujudnya, namun masih dapat diketahui keberadaannya melalui efek yang ditimbulkan benda-benda yang mendapat hembusan angin seperti ketika melihat dahan pohon bergerak atau bendera yang berkibar menandakan bahwa ada angin yang berhembus. Darimana angin bertiup dan berapa kecepatannya dapat diketahui dengan menggunakan alat-alat pengukur angin.

Gambar 2.2. Jarak yang ditempuh titik p sama dengan Diferensialkan kedua ruas persamaan ini terhadap t; maka karena r konstan, kita peroleh : ...(2.2)

tetapi

tidak lain ialah besaran kecepatan linier ialah kecepatan sudut

v titik p, dan

benda yang berputar. Karena itu = r (2.3) dan besar v kecepatan linier sama dengan hasil kali kecepatan sudut dengan jarak r dari titik ke sumbu. Dan = 2 f ...(2.4) Sehingga di masukkan ke dalam persamaan (2.3) = r (2 f ) = f . 2 r ....................................................(2.5)

Gambar 2.1. Alat pengukur angin (a) Anemometer Cup (b) Anemometer Digital (c) Windsock Kecepatan angin diukur dengan alat yang disebut anemometer. Anemometer ada dua jenis yaitu jenis mangkok/cup dan digital. Windsock, yaitu alat yang digunakan untuk mengetahui arah angin dan memperkirakan besar kecepatan angin.

Karena 2 r = keliling lingkaran, dan f ialah frekuensi maka, = keliling lingkaran * frekuensi ..........(2.6) 2.3 Konsep Mikrokontroler

mampu mengirim data 8 bit sekaligus dalam sekali detak. (Widodo Budiharto & Gamayel Rizal, 2006 p.65) 2.4.1. Port Komunikasi Serial

Mikrokontroler adalah salah satu dari bagian dasar dari suatu sistem komputer. Meskipun mempunyai bentuk yang jauh lebih kecil dari suatu komputer pribadi dan komputer mainframe, mikrokontroler dibangun dari elemen-elemen dasar yang sama. Secara sederhana, komputer akan menghasilkan output spesifik berdasarkan inputan yang diterima dan program yang dikerjakan.

Komunikasi serial membutuhkan port sebagai saluran datanya. Port serial ini dikenal di komputer dengan nama COM1/COM2. Pada komunikasi serial dikenal dua jenis konektor serial, yaitu konektor 25-pin (DB25) dan konektor 9-pin (DB9) yang berpasangan, jantan dan betina. Bentuk dari konektor DB25 sama persis dengan port pararel.

2.3.1 Mikrokontroler AVR


Secara historis, mikrokontroler AVR pertama kali diperkenalkan ke pasaran sekitar tahun 1997 oleh perusahaan Atmel. AVR (Alf and Vegards Risc Processor) pertama kali dikembangkan pada tahun 1996 oleh dua orang mahasiswa asal Norwegian Institute of Technology. Untuk memenuhi kebutuhan dan aplikasi industri yang sangat beragam, mikrokontroler keluarga AVR ini muncul di pasaran dengan tiga seri utama, yaitu tinyAVR, classicAVR (AVR) dan megaAVR. Tabel 2.1. Perbedaan berdasarkan jumlah memori
Mikrokontroler AVR Jenis TinyAVR AVR (classicAVR) MegaAVR
Paket IC Flas

DB9betina

DB9 jantan

DB25 betina DB25 jantan Gambar 2.5. Konektor Serial DB9 dan DB25 2.5 Defenisi Encoder Encoder adalah rangkaian logika yang menerima input n dan output m, sedemikian rupa sehingga hanya satu masukan saja yang di aktifkan pada setiap saat. Encoder merupakan sebuah rangkaian yang berfungsi untuk menterjemahkan keaktifan salah satu inputnya menjadi urutan bit-bit biner. Encoder adalah kebalikan dari decoder, yaitu memiliki saluran input dan hanya satu saluran input yang dapat berhubungan dengan kombinasi beberapa saluran output. A0 A1 An D
Encoder
0 D D 1 n

seri

AVR

Memori (byte)
EEPROM SRAM

8-32 20 - 44 32 64

12 18 8 128

64 - 128 128 - 512 512 4

0 - 128 01 512 4

Gambar 2.6. 2.4 Komunikasi Serial

Blok diagram encoder

Pada prinsipnya, Komunikasi serial adalah komunikasi dimana pengiriman data dilakukan per bit, sehingga lebih lambat dibandingkan komunikasi pararel seperti pada printer yang

Gambar 2.7.

Rangkaian encoder

2.5.1

Rotary Encoder

3.2

Rotary encoder adalah divais elektromekanik yang dapat memonitor gerakan dan posisi. Rotary encoder umumnya menggunakan sensor optik untuk menghasilkan serial pulsa yang dapat diartikan menjadi gerakan, posisi, dan arah.

Perancangan Umum Rancangan Pada perancangan pembuatan alat pengukur kecepatan realtime mempunyai tahapan-tahapan seperti pada gambar 3.2 dibawah ini :
Start

Deteksi Angin Oleh Baling-baling

Encoder

Gambar 2.8. Bagan skematik sederhana dari rotary encoder 2.6 Visual Basic 6.0 Visual basic atau sering disingkat VB adalah perangkat lunak untuk menyusun program aplikasi yang bekerja dalam lingkungan sistem operasi windows. Seperti program berbasis windows lainnya, Visual basic terdiri dari banyak windows. Ketika akan memulai Visual basic sekumpulan windows yang paling berkaitan inilah yang disebut dengan Integrated Development Environtment (IDE). 2.7 MySQL MySQL adalah sebuah perangkat lunak sistem manajemen basis data SQL (bahasa Inggris: database management system) atau DBMS yang multithread, multi-user, dengan sekitar 6 juta instalasi di seluruh dunia SQL adalah sebuah konsep pengoperasian database, terutama untuk pemilihan atau seleksi dan pemasukan data, yang memungkinkan pengoperasian data dikerjakan dengan mudah secara otomatis. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di Laboratorium Perangkat Lunak Komputer (LPLK) Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar dan berlangsung selama 6 bulan yang dimulai bulan September 2011 sampai dengan bulan Februari 2012.
Mikrokontroler DT-AVR LOW COST MICRO SYSTEM Tampilkan Data Pada Komputer

Tampilkan Data Pada LCD

End

Gambar 3.3. Flowchart prinsip kerja alat ukur perancangan Cara kerja dari gambar 3.3 diatas adalah : Alat ukur perancangan ini bekerja berdasarkan konversi sinyal analog ke sinyal digital. Ketika baling-baling mendeteksi adanya udara yang bergerak, maka secara otomatis baling-baling yang mengopel encoder akan berputar dan menghasilkan output berupa tegangan pada dua phasanya, A dan B. Output dari encoder kemudian diproses oleh mikrokontroler DT AVR Low Cost Micro System, kemudian sinyal akan dikirimkan menggunakan konverter serial RS232 yang dihubungkan dengan port J3 pada mikrokontroler. Untuk penerimaan data dari mikrokontroler ke komputer maka komputer harus dilengkapi dengan port RS232. Setelah data diterima oleh komputer maka akan diolah dan terekam secara otomatis pada komputer.

3.3

Perancangan dan Pembuatan Perangkat Keras (Hardware) Pada Sub bab ini akan menjelaskan tentang perancangan mekanik dan perancangan elektronika. A. Perancangan Mekanik Bagian mekanik pada alat ukur ini merupakan bagian yang dapat berputar yang terdiri atas baling-baling dan tiang yang nantinya akan dihubungkan ke mikrokontroler. Secara fisik, tinggi alat ini adalah 18 cm. Untuk lebih jelasnya, berikut bagian-bagiannya: a. Box : merupakan kotak tempat rangkaian mikrokontroller dan rangkaian encoder yang terbuat dari bahan fiber glass. Box ini berukuran panjang 15 cm, lebar 8,5 cm dan tinggi 8,2 cm. Box ini juga dimodifikasi sebagai tempat penyangga encoder dan baling-baling dengan menambahkan pipa setinggi 6,5 cm. b. Baling-baling : terdiri dari tiga buah cup dengan jarak antar cup baling-baling sebesar 1200dan panjang jari-jari baling-baling 15 cm. Cup baling-baling memiliki diameter 6 cm yang terbuat dari bahan plastik yang ringan. c. Ring kopel : digunakan untuk mengkopel baling-baling dengan encoder yang terbuat dari bahan plastik berbentuk selinder berongga. Tinggi ring kopel 2 cm. d. Lempengan : berfungsi sebagai tempat melekatnya encoder pada tiang penyangga. Lempengan ini terbuat dari fiber glass dengan ketebalan 0,3 cm dan berbentuk lingkaran dengan diameter 4 cm. e. Tiang penyangga : terbuat dari pipa paralon berukuran diameter 4 cm, dengan panjang pipa 6,5 cm, tiang ini juga berfungsi sebagai rumah encoder.

a.

Rangkaian Mikrokontroler (DT-AVR Low Cost Micro System) Rangkaian ini merupakan sebuah modul mikrokontroler dengan tipe DT AVR Low Cost Micro System yang digunakan untuk mengimplementasikan pengendali dalam membaca dan mengolah sinyal yang masuk dari sensor terhadap pendeteksian suatu objek. Jenis Ic yang digunakan pada mikrokontroler ini adalah IC ATMega 8535.

Gambar 3.8.

Rangkaian sistem minimum ATmega 8535

Dari gambar 3.8 diatas, Terdapat empat PORT ekspansi. Dalam perancangan alat ukur ini hanya menggunakan tiga dari empat port yang ada yaitu, PORTA yang terhubung pada rangkaian indikator (LCD 2X16) serta PORTB dan PORTD yang dihubungkan ke rangkaian encoder. 3.4 Perancangan Software Perancangan software untuk alat pengukur kecepatan angin realtime ini dapat dilihat pada flowchart gambar 3.12.
Start

Inisialisasi PORT, USART, TIMER, LCD

Baca Input Encoder

Aktifkan Timer, Hitung Jumlah Count

Kirim Data UART ke Komputer

Tampilkan Data Pada LCD

Proses Berlanjut

Gambar 3.4.

Desain alat pengukurkecepatan angin realtime

End

B. Rancangan Elektronika

Gambar 3.12. Flowchart pengukur kecepatan angin realtime

4. ANALISA HASIL PERANCANGAN


NO DATE TIME SPEED (m/s)

4.1 Prosedur Pengukuran Kecepatan Angin Prosedur kecepatan angin di lakukan secara langsung di lingkungan sekitar dengan memperhatikan ketinggian tempat (minimal 8 meter diatas permukaan laut) dan range kecepatan antara 0 25 m/s . Adapun konfigurasi dari alat ukur dapat terlihat pada gambar berikut : 10 m Gambar 4.1 Konfigurasi Alat Ukur Pada pengujian pengukuran kecepatan angin ini digunakan modul prototype baling-baling yang terdiri dari rangkaian mikrokontroler DT AVR Low Cost Micro System, rotary encoder Omron type E6A2-CW5C dengan resolusi 200 P/R. yang kemudian dihubungkan pada software interface pada komputer.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38

Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday ,

25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012

7:32:39 PM 7:32:43 PM 7:32:47 PM 7:32:50 PM 7:32:53 PM 7:32:57 PM 7:33:00 PM 7:33:03 PM 7:33:07 PM 7:33:10 PM 7:33:13 PM 7:33:16 PM 7:33:20 PM 7:33:23 PM 7:33:26 PM 7:33:29 PM 7:33:32 PM 7:33:36 PM 7:33:39 PM 7:33:43 PM 7:33:46 PM 7:33:50 PM 7:33:53 PM 7:33:57 PM 7:34:01 PM 7:34:04 PM 7:34:08 PM 7:34:11 PM 7:34:15 PM 7:34:19 PM 7:34:22 PM 7:34:26 PM 7:34:30 PM 7:34:33 PM 7:34:36 PM 7:34:39 PM 7:34:43 PM 7:34:47 PM

0 0.35 0.38 0.26 0.22 0.09 0.17 0.31 0.29 0.12 0.08 0.22 0.33 0.32 0.41 0.32 0.23 0.24 0.21 0.12 0.09 0.06 0.04 0 0 0 0 0 0 0 0 0.02 0.07 0.13 0.19 0.31 0.22 0.25

4.2 Pengukuran dan Monitoring Kecepatan Angin yang Terukur Pengukuran kemudian dibagi menjadi dua bagian yaitu, pengukuran dengan anemometer digital yang nantinya digunakan sebagai parameter pembanding dan pengukuran dengan menggunakan alat yang telah dirancang. 4.2.1 Hasil Pengukuran dan Monitoring Menggunakan Anemometer Digital Untuk pengukuran dengan anemometer digital ini dilakukan secara manual. Pengukuran ini dilakukan empat kali yaitu pagi, siang, sore, dan malam. Untuk anemometer digital digunakan modul anemometer Lutron AM-4206. Pengujian pada Pagi Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 07.32 07.38 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Cerah Tabel 4.1 Hasil pengujian kecepatan angin dengan anemometer pada pagi hari

Tabel 4.1 memperlihatkan data monitoring dengan menggunakan anemometer digital. Data tersebut mewakili kondisi angin selama 15 menit pengambilan data.

Gambar 4.2

Grafik kecepatan angin dengan anemometer pada pagi hari

Data yang ada pada tabel 4.1. kemudian dimasukkan dalam grafik 4.2. diatas. Terlihat bahwa kondisi angin terkadang berubah-ubah namun stabil pada kondisi tertentu. Pengujian pada Siang Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 01.00 01.05 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Cerah

Gambar 4.3. Grafik kecepatan angin dengan anemometer pada siang hari Gambar 4.3. yang tampak diatas merupakan data yang terekam selama monitoring pada siang hari. Dari grafik tersebut memperlihatkan bahwa kecepatan angin tidak menentu. Angin yang berhembus untuk kondisi cuaca yang normal saat itu relatif berubah-ubah. Pengujian pada Sore Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 03.18 03.24 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Hujan

Gambar 4.5. Grafik kecepatan angin dengan


anemometer pada malam hari Grafik kecepatan angin yang ditampilkan diatas cenderung mengalami peningkatan. Kecepatan angin fluktuatif antara 0.2 m/s hingga 1 m/s. 4.2.2 Hasil Pengukuran dan Monitoring Menggunakan Alat Ukur Rancangan Berikut hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur kecepatan angin realtime : Pengujian pada Pagi Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 07.32 07.49 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Cerah Tabel 4.2. Hasil pengujian kecepatan angin dengan alat ukur pada pagi hari
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , DATE 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 TIME 7:32:39 PM 7:32:43 PM 7:32:47 PM 7:32:50 PM 7:32:53 PM 7:32:57 PM 7:33:00 PM 7:33:03 PM 7:33:07 PM 7:33:10 PM 7:33:13 PM 7:33:16 PM 7:33:20 PM 7:33:23 PM 7:33:26 PM 7:33:29 PM 7:33:32 PM 7:33:36 PM 7:33:39 PM 7:33:43 PM 7:33:46 PM 7:33:50 PM 7:33:53 PM 7:33:57 PM 7:34:01 PM 7:34:04 PM 7:34:08 PM 7:34:11 PM 7:34:15 PM 7:34:19 PM 7:34:22 PM 7:34:26 PM 7:34:30 PM SPEED (m/s) 0 0.376 0.41 0.362 0.246 0.092 0.27 0.328 0.309 0.106 0.096 0.222 0.366 0.405 0.357 0.342 0.207 0.217 0.202 0.14 0.096 0.077 0.058 0 0 0 0 0 0 0 0 0.024 0.096

Gambar 4.4. Grafik kecepatan angin dengan anemometer pada sore hari Dari gambar grafik 4.4 diatas memperlihatkan data hasil monitoring kecepatan angin di sore hari. Dari grafik tersebut, angin cenderung dalam kecepatan yang stabil. Angin yang berhembus relatif lebih rendah.

Pengujian pada Malam Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 07.05 07.11 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Cerah

Dari hasil pengambilan data yang dilakukan saat pagi hari, didapatkan sejumlah data kecepatan angin berkisar antara 0 0,453 m/s.Data tersebut kemudian akan ditampilkan dalam bentuk grafik dibawah ini.

angin pada saat itu lebih besar bila dibandingkan pada pagi hari. Pengujian pada Sore Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 03.19 03.35 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Hujan

Gambar 4.6.

Grafik kecepatan angin dengan alat ukur pada pagi hari Gambar 4.8. Grafik kecepatan angin dengan alat ukur pada sore hari Dari grafik diatas, dapat terlihat bahwa kecepatan angin saat sore hari cenderung lebih kecil dan berubah-ubah. Maksimum kecepatan yang tercatat selama proses pengambilan data adalah 0,916 m/s. Kondisi pengamatan saat itu hujan. Pengujian pada Malam Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 06.14 07.28 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Cerah

Grafik kecepatan angin yang digambarkan diatas menunjukkan bahwa angin yang bertiup di pagi hari relatif rendah. Akibat pengaruh tekanan udara yang rendah disekitarnya. Pengujian pada Siang Hari Hari / tanggal : Sabtu, 25 Februari 2012 Pukul : 01.00 01.16 Wita Tempat : Lantai 4 Gedung PBT Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kondisi Cuaca : Cerah

Gambar 4.7. Grafik kecepatan angin dengan alat ukur pada siang hari Adapun tampilan grafik yang muncul diatas didapat dari hasil pengukuran yang dilakukan siang harinya, dimana kondisi angin pada saaat itu cukup tinggi berkisar antara kecepatan 0,284 hingga 5,723 m/s. Nilai maksimum kecepatan

Gambar 4.9.

Grafik kecepatan angin dengan alat ukur pada malam hari Dari data grafik yang ada maka terbentuklah grafik kecepatan angin diatas, dimana angin yang bertiup saat itu tidak menentu. Kecepatan angin maksimun yang tercatat mencapai kecepatan 1,046 m/s.

4.3. Perbandingan Hasil Pengukuran antara Anemometer dan Alat Ukur Rancangan 4.3.1 Pagi Hari Tabel 4.3 Perbandingan pengukuran alat rancangan dengan anemometer
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 DATE TIME SPEED (m/s) Alat Anemo Ranca- -meter ngan Digital 0 0 0.35 0.376 0.38 0.41 0.26 0.362 0.22 0.246 0.09 0.092 0.17 0.27 0.31 0.328 0.29 0.309 0.12 0.106 0.08 0.096 0.22 0.222 0.33 0.366 0.32 0.405 0.41 0.357 0.32 0.342 0.23 0.207 0.24 0.217 0.21 0.202 0.12 0.14 0.09 0.096 0.06 0.077 0.04 0.058 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kesalahan (%) 0 7.42 7.89 39.23 11.81 2.22 58.82 5.8 6.55 11.66 20 0.91 10.91 26.56 12.92 6.87 10 9.58 3.81 16.66 6.66 28.33 45 0 0 0 0 0 0 0 0

4.3.2.

Siang Hari

Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday , Saturday ,

25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012 25 February 2012

7:32:39 PM 7:32:43 PM 7:32:47 PM 7:32:50 PM 7:32:53 PM 7:32:57 PM 7:33:00 PM 7:33:03 PM 7:33:07 PM 7:33:10 PM 7:33:13 PM 7:33:16 PM 7:33:20 PM 7:33:23 PM 7:33:26 PM 7:33:29 PM 7:33:32 PM 7:33:36 PM 7:33:39 PM 7:33:43 PM 7:33:46 PM 7:33:50 PM 7:33:53 PM 7:33:57 PM 7:34:01 PM 7:34:04 PM 7:34:08 PM 7:34:11 PM 7:34:15 PM 7:34:19 PM 7:34:22 PM

Gambar 4.11.

Perbandingan grafik antara anemometer dan alat ukur siang hari

Pada gambar 4.11. diatas merupakan gambaran perbandingan data alat ukur dengan anemometer digital. Terdapat perbedaan pengukuran antara alat ukur yang dirancang dengan anemometer digital. Perbedaan pengukuran tersebut terangkum dalam tabel persentase kesalahan. 4.3.3. Sore Hari

Gambar 4.12.

Perbandingan grafik antara anemometer dan alat ukur sore hari

Perbandingan grafik antara alat ukur dan anemometer pagi hari Pada tabel 4.3 merupakan tabel perbandingan antara data monitoring alat ukur digital dengan anemometer pada pagi hari. Kecepatan angin dapat diamati dengan jelas pada gambar 4.10. diatas. Terdapat perbedaan pengukuran antara alat ukur yang dirancang dengan anemometer digital.

Gambar 4.10.

Dari gambar 4.12.diatas dapat dilihat bahwa hasil perbandingan antara anemometer digital dengan alat ukur rancangan yang dilakukan sore hari terdapat perbedaan dimana data yang terukur pada anemometer cenderung lebih rendah dibandingkan alat ukur yang telah dibuat. Angin yang berhembus pun relatif lebih rendah saat itu bila dibandingkan dengan waktu pengambilan data yang lain.

4.3.4.

Malam Hari

Gambar 4.16. Tampilan monitoring sore Gambar 4.13. Perbandingan grafik antara anemometer dan alat ukur di malam hari. Pada gambar 4.13. terlihat bahwa perbandingan pengukuran menggunakan anemometer dengan alat ukur rancangan hampir sama. 4.4 Tampilan Monitoring pada Visual Basic 6.0 Berikut merupakan tampilan/display yang muncul pada layar komputer: 4.4.1 Pagi Hari 4.4.4 Malam Hari

Gambar 4.17. Tampilan monitoring malam Setelah melakukan pengujian alat ukur dan monitoring terhadap kecepatan angin di lingkungan sekitar, kita dapat melihat hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat intensitas angin yang muncul dilingkungan sekitar agak rendah pada masing-masing bagian. Namun tingkat kecepatan angin pada siang hari cenderung lebih tinggi dibandingkan pagi, sore dan malam hari.

Gambar 4.14. Tampilan monitoring pagi 4.4.2 Siang Hari

Gambar 4.15. 4.4.3 Sore Hari

Tampilan monitoring siang

4.5 Pembahasan Pada alat pengukuran kecepatan angin ini, diperoleh data kecepatan angin realtime. Data tersebut kemudian tersimpan dalam bentuk database yang dapat ditampilkan kapan saja. Angin yang berhembus di pagi hari berada di level speed 0 - 0.42 m/s. Dengan kecepatan maksimum yang terekam oleh alat sebesar 0.42 m/s. Pada siang hari kecepatan angin berada pada level speed yang lebih tinggi yaitu 0.6 5.53 m/s. Dengan kecepatan maksimum 5.53 m/s. Kenaikan dan perubahan yang terjadi di siang hari ini dipengaruhi akibat perbedaan suhu siang hari yang tinggi sehingga tekanan udara disekitarnya menjadi rendah.

Pada sore hari kecepatan angin relatif menurun pada level speed 0 0.52 m/s. Dengan kecepatan maksimum 0.52 m/s. Pada saat pengamatan yang dilakukan pada sore hari terjadi hujan. Kondisi ini juga sama pada rekaman data kecepatan angin di malam hari. Angin yang berhembus berada pada level speed 0 1.04 m/s. Dengan kecepatan maksimum yang terekam oleh alat sebesar 1.04 m/s. Dari grafik, kita dapat melihat secara umum data hasil pengukuran dari empat pengambilan data yaitu pagi, siang, sore dan malam. Dalam grafik tersebut telah terlihat bahwa perbandingan pengukuran antara anemometer digital dengan alat ukur kecepatan angin realtime tidaklah berbeda jauh. Hal itu dapat dilihat dengan jelas di beberapa titik pada grafik perbandingan. Pada software wind speed 1.0 terekam dan ditampilkan kecepatan angin tiap waktu, kecepatan maksimum, kecepatan minimum dan kecepatan rata-rata. Untuk tanggal 25-26 februari 2012, kecepatan maksimum angin yang ditunjukkan oleh software yaitu 5.723 m/s dan kecepatan rata-rata angin pada tanggal tersebut yaitu 1.986 m/s. 4.6 Persentase Kesalahan Dilihat dari tabel perbandingan data kecepatan angin antara alat ukur kecepatan realtime dengan anemometer digital terdapat beberapa perbedaan hasil pengukuran. Perbedaan tersebut disebabkan beberapa faktor, antara lain: Jenis dan bahan baling-baling yang digunakan, mengakibatkan pengaruh pada kemampuan baling-baling untuk berputar dan menangkap angin. Sensor yang digunakan pada anemometer digital berbeda dengan sensor alat ukur kecepatan angin realtime. Adapun untuk menghitung persentase kesalahannya menggunakan rumus:

Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut: 4.4 Persentase kesalahan kecepatan angin
Hasil Pengamatan Gambar 4.10 Gambar 4.11 Gambar 4.12 Gambar 4.13 RATA-RATA % kesalahan 5.466 3.898 6.393 0.076 3.958

(Speed Alat Ukur - Speed Anemometer)

% kesalahan = Speed Anemometer

5. PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dan analisis hasil uji coba maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Dari hasil uji dari tiap-tiap jarak yang berbedabeda pada pengambilan data dapat disimpulkan: 1. Telah dirancang desain dan prototype alat ukur kecepatan angin real time menggunakan mikrokontroler ATmega 8535. Alat yang didesain dengan tiga buah cup baling-baling ini menggunakan encoder sebagai sensor yang dilengkapi dengan serial conector dan software winsped 1.0 sebagai sistem monitoringnya. 2. Monitoring yang dilakukan kecepatan angin di lingkungan sekitar selama 1 hari dengan kondisi cuaca yang cerah dan hujan, dapat terlihat hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat intensitas angin yang muncul di lingkungan sekitar pada siang harinya lebih tinggi dibandingkan waktu yang lain yaitu berada pada level speed 0,6 5,53 m/s. 3. Dari 4 kondisi waktu pengambilan data kecepatan angin, perbandingan hasil pengukuran kecepatan angin pada alat ukur kecepatan angin realtime dengan anemometer digital tidak berbeda jauh dengan rata-rata 100% x persentase kesalahan 3.958 %.

5.2 SARAN Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, sehingga perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk menghasilkan sebuah alat ukur kecepatan angin yang lebih handal. Berikut beberapa saran: 1. Perancangan alat ukur kecepatan angin ini bisa ditambahkan dengan alat pendeteksi arah angin. 2. Perancangan alat ukur ini bisa di tambahkan dengan menggunakan wireless. 3. Perancangan alat ukur ini bisa ditambahkan dengan program interkoneksi sehingga monitoring dapat dilakukan secara online melalui jaringan internet. DAFTAR PUSTAKA [1] Budiharto, Widodo dan Rizal, Gamayel. (2007). Belajar Sendiri 12 Proyek Mikrokontroler untuk Pemula. Jakarta: PT. Elex Media Kamputindo. [2] Prawirowardoyo, Susilo. (1996). Meteorologi. Bandung: ITB. [3] Mihdar Ali, Habib. (2011). Sistem Monitoring Polusi Udara. Makassar: Universitas Hasanuddin. [4] Asfar, Asywadi dan Ismandiady (2011). Implementasi Pengontrolan Rotasi Tower Pengukuran Antena Berbasis ATMEGA16. Makassar: Universitas Hasanuddin. [5] Suardiwerianto, Yogi. (2010). Pola Umum Angin Indonesia. Ilmu Kelautan.com. Diakses Desember 12, 2011 dari http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/fi sika-oseanografi/405-pola-umum-angin-diindonesia [6] San Lohat, Alexander. (2008-2009). Hubungan kecepatan sudut dengan kecepatan linear. Diakses Januari 23, 2012 dari http://www.scribd.com/doc/37037325/1/Hu bungan%C2%A0antara%C2%A0Kecepatan %C2%A0Sudut%C2%A0dengan%C2%A0 Frekuensi%C2%A0dan%C2%A0PeriodeRotasi [7] DT-AVR Low Cost Micro System. Diakses Januari 20, 2012 dari http://innovativeelectronics.com/innovative_ electronics/pro_dtavrlcm.htm

[8] Rizqiawan, Arwindra. (2009). Rotary encoder. Bandung: ITB. Diakses Januari 20, 2012 dari http://konversi.wordpress.com/2009/06/12/s ekilas-rotary-encoder/ [9] Muhammad H, Rashid. (1993). Optocoupler. Diakses Februari 10, 2012 dari http://www.scribd.com/doc/39604496/21/O ptocoupler [10] Volturie. (2010). Pengertian Visual Basic 6.0. Diakses Februari 15, 2012 dari http://3ka-09.digimon.tv/t9-pengertianvisual-basic [11] Nurjaya.(2010).Defenisi dan Sejarah My SQL. Diakses Februari 15, 2012 dari http://www.blogofnurjaya.com/2010/01/defi nisi-dan-sejarah-mysql.html