Anda di halaman 1dari 38

PENERAPAN FISIOLOGI PERNAPASAN DAN PEREDARAN DARAH DALAM ANESTESIA / ANALGESIA I

Dr. H. J. Lalenoh, SpAn

OKSIGENASI JARINGAN :
I.
II. III.

RESPIRASI EKSTERNAL TRANSPORT OKSIGEN RESPIRASI INTERNAL

RESPIRASI EKSTERNAL

VT = TIDAL VOLUME 500 ml IRV = INSPIRATORY RESERVE VOLUME 3100 ml ERV = EXPIRATORY RESERVE VOLUME 1200 ml RV = RESIDUAL VOLUME 1200 ml IC = INSPIRATORY CAPACITY (VT + IRV) FRC = FUNCTIONAL RESIDUAL CAPACITY (ERV + RV) VC = VITAL CAPACITY (VT + IRV + ERV) 4800 ml TLC = TOTAL LUNG CAPACITY 6000 ml

VC (VITAL CAPACITY ) : 1. SVC (SLOW VITAL CAPACITY) VC DIMANA EKSPIRASI DILAKUKAN TIDAK DENGAN TENAGA / KEKUARAN 2. FVC (FORCED VITAL CAPACITY) VC DIMANA EKSPIRASI DILAKUKAN SECEPAT MUNGKIN DENGAN TENAGA / KEKUATAN YANG MAKSIMAL

FEV1 (FORCED EXPIRATORY VOLUME IN 1 SECOND) DIMANA VOLUME UDARA EKSPIRASI DILAKUKAN DENGAN TENAGA / KEKUATAN DALAM DETIK PERTAMA DARI FVC 83% DARI FVC

PENYAKIT PARU : 1. RESTRICTIVE DISEASE : PENYAKIT YANG MEMENGARUHI KEMAMPUAN INSPIRASI PARU Diagnose : VC , IC DAN TLC VC RESTRICTIVE COMPONENT 2. OBSTRUCTIVE DISEASE : PENYAKIT YANG MEMNGARUHI KEMAMPUAN EKSPIRASI PARU Diagnose : FEV1 (< 75% DARI FVC) DAN TLC FEV1 OBSTRUCTIVE COMPONENT

MINUTE VOLUME = TIDAL VOLUME X RESP. RATE = 500ml X 16 / MENIT = 8000ml = 8 liter TIDAL VOLUME (VT) = ALVEOLAR VENTILATION (VA) + DEAD SPACE VENTILATION (VD)

VT = VA + VD

JALAN NAPAS : 1. UPPER AIRWAY : HIDUNG, MULUT, FARINGS,

LARINGS

2.

TRACHEO BRONCHIAL TREE : TRAKEA,

3.

BRONKUS S/D BRONKIOLUS TERMINALIS PARENCHYM PARU : BRONKIOLUS RESPIRATORIUS, DUKTUS ALVEOLARIS, SAKUS ALVEOLARIS

Catatan : 1 & 2 VD (DEAD SPACE VENTILATION) 3 VA (ALVEOLAR VENTILATION)

VT = VA + VD MISALNYA : VT = 500 ML VA = 350 ML BERARTI : VD = 150 ML


NORMAL : VD/ VT = 0.2 0.4 VD = DEAD SPACE VENTILATION = PHYSIOLOGIC DEAD SPACE = 150 ML

PHYSIOLOGIC DEAD SPACE, TERDIRI DARI: 1. ANATOMIC DEAD SPACE : 1ml/POUND BB (= 2ml / KgBB) 2. ALVEOLAR DEAD SPACE: ALVEOLUS VENTILASI KAPILER PULMO TIDAK PERFUSI 3. VENTILASI > PERFUSI : misl OVERVENTILATION ATAU UNDERPERFUSION

# VT (500 ml) = VA (350ml) + VD (150ml) # MINUTE VOLUME (MINUTE VENTILATION) = TIDAL VOLUME X RESP. RATE # MV = VT X RR JIKA RESP RATE = 16X / MENIT BERARTI MV = 500 ml X 16 = 8000ml = 8 L # MINUTE ALVEOLAR VENTILATION = ALVEOLAR VENTILATION X RESP. RATE # MAV = VA X RR JIKA VA = 350 ml BERARTI MAV = 350 ml X 16 = 5600 ml = 5.6 L

VT (250 ml) X RR(40) = MV (10L) VA (100 ml) X RR(40) = MAV (4L) VT (500 ml) X RR(20) = MV (10L) VA (350 ml) X RR(20) = MAV (7L)

VT (1000 ml) X RR(10) = MV (10L) VA (850 ml) X RR(10) = MV (8.5L)

PHYSIOLOGIC SHUNT : BAGIAN DARI CARDIAC OUTPUT (CURAH JANTUNG) YG TIDAK MELAKUKAN PERTUKARAN UDARA DENGAN UDARA ALVEOLAR.

PHYSIOLOGIC SHUNT, TDD: 1. ANATOMIC SHUNTING: BGN DARI CURAH JANTUNG (2 %), YANG TIDAK MELALUI PEMB. DARAH PULMONER, TTP LGSG DR JANTUNG KANAN KE JANTUNG KIRI MELALUI VENA BRONCHIAL, VENA PLEURAL, V. THEBESIAN (NORMAL ANATOMIC SHUNTING)

PATHOLOGIC ANATOMIC SHUNTING, misl

SHUNTING PEMB. DARAH O/K ADA TUMOR PARU, A/ ADA DEFECT PD DINDING VENTRICULAR.

2. CAPILARY SHUNTING : DARAH MASUK DALAM

CAPILER PULMONER, TTP MELAKUKAN KONTAK DENGAN ALVEOLI YG TIDK BERVENTILASI

3. PERFUSI > VENTILASI : MIS. VENTILASI


ALVEOLAR ATAU BLOOD FLOW RATE

CATATAN : ANATOMIC SHUNTING DAN CAPILLARY SHUNTING DISEBUT JUGA TRUE SHUNTING (ABSOLUT SHUNTING) KONSEP DASAR RESPIRASI EKSTERNAL : - ALVEOLUS VENTILASI - CAPILLER PULMO PERFUSI - ALVEOLUS TDK ADA VENTILASI SHUNTING - CAPILLER PULMO TDK ADA PERFUSI DEAD SPACE

ADA 4 KEMUNGKINAN ALVEOLUS DAN CAPILLER PULMO :

1. UNIT NORMAL :

-VENTILASI NORMAL
-PERFUSI NORMAL

2. UNIT DEAD SPACE:-VENTILASI NORMAL -PERFUSI CAP. PULMTO TDK ADA

3. UNIT SHUNT : -ALVEOLUS TDK BERVENTILASI -PERFUSI NORMAL

4. SILENT UNIT : -ALVEOLUS TDK BERVENTILASI -PERFUSI CAP. PULMO TDK ADA

RESPIRASI EKSTERNAL DITENTUKAN OLEH : 1. TEKANAN O2 ALVEOLAR: - Inspired Oxygen Fraction (Fi O2) - Mechanical Ventilation (Tidal Volume = VT) - Distribusi Ventilasi melalui cabang tracheobronchial - Pengambilan O2 dari alveolus ke darah 2. DIFUSI O2 MELALUI MEMBRAN ALVEOLAR CAPILLER. 3. ADANYA INTRA PULMONARY SHUNTING

Fi O2 (Inspired Oxygen Fraction) : Konsentrasi O2 yang diberikan pada udara inspirasi seorang penderita. Misalnya : tidal volume (VT) 500ml udara inspirasi mengandung O2 250 ml berarti Fi O2 = 250/500 x 100% = 50%

KOMPOSISI UDARA LUAR : =NITROGEN 79 % =OKSIGEN 20,9 % =CO2 0.04% =UAP AIR JADI Fi O2 UDARA LUAR ADALAH 20.9%

# SISTEM PEMBERIAN O2 :

HIGH FLOW SYSTEM : UDARA INSPIRASI DIPEROLEH SELURUHNYA DARI ALIRAN GAS MESIN / APPARATUS LOW FLOW SYSTEM : UDARA INSPIRASI SELAIN DIPEROLEH DARI ALIRAN GAS APPARATUS, JUGA DARI UDARA LUAR.

# O2 YANG DIBERIKAN MELALUI CATHETER NASAL LOW FLOW SYSTEM 1L 2L 3L 4L 5L 6L dst O2 O2 O2 O2 O2 O2 Fi O2 Fi O2 Fi O2 Fi O2 Fi O2 Fi O2 24% 28% 32% 36% 40% 44%

# O2 YANG DIBERIKAN MELALUI MESIN ANESTESIA HIGH FLOW SYSTEM N2O 4L + O2 4L Fi O2 50% (50%) (50%) N2O 6L + O2 2L Fi O2 25% (75%) (25%)

# MESIN ANESTESIA :

SISTEM NON REBREATHING : UDARA

EKSPIRASI TIDAK AKAN DIHIRUP LAGI PADA WAKTU INSPIRASI SISTEM REBREATHING : UDARA EKSPIRASI AKAN DIHIRUP LAGI PADA WAKTU INSPIRASI MESIN DILENGKAPI DENGAN SODA-LIME YANG AKAN MENYERAP CO2 DARI UDARA EKSPIRASI.

# PEMBERIAN O2 50% UTK WAKTU 3 HARI ATAU LEBIH DALAM KLINIK OKSIS; TETAPI PEMBERIAN O2 100% INTRA OPERATIF / SAAT RESUSITASI / KEAD. EMERGE-NCY 24 JAM AMAN.

# INSPIRASI UDARA LUAR Fi O2 20.9 % & TEK. O2 DALAM TRAKEA 149 mmHg CAT: PTO2= (PB-PH2O) X Fi O2 PTO2 = TEKANAN O2 DLM TRAKEA PB = TEKANAN BAROMETER/TEKANAN UDARA LUAR = 76 mmHg PH2O = TEKANAN UAP AIR = 47 mmHg PTO2 = (760-47) X 20.9 = 149 mmHg TEK. O2 DLM ALVEOLUS (PaO2) 101 mmHg TEK. O2 DLM DARAH ARTERIEL (PaO2) 97 mmHg

TRANSPORT OKSIGEN
# TEK. O2 DARAH ARTERIEL (PaO2) HIPOKSEMIA # UNTUK TRANSPORT O2 TIDAK DITENTUKAN HANYA OLEH TEKANAN O2 DARAH ARTERIEL TETAPI JUGA OLEH FAKTOR LAIN, YAITU OXYGEN CONTENT.

# O2 CONTENT : 1. O2 YANG TERIKAT PADA Hb 2. O2 YANG LARUT DALAM PLASMA


# O2 YANG TERIKAT PADA Hb : O2 + Hb HbO2 (OKSI HEMOGLOBIN) CO2 + Hb HbCO2 (REDUCED HEMOGLOBIN)

# O2 PADA Hb BUKAN DILARUTKAN ATAU DALAM BENTUK TEKANAN PARTIAL, TETAPI DALAM BENTUK SATURASI DERAJAT SATURASI HbO2 SESUAI TEKANAN O2 YANG ADA.

HEMOGLOBIN DISSOCIATION CURVE (SIGMOID CURVE)

1 gr Hb JENUH / SATURAS DGN 1, 34 ml O2 JADI BILA Hb 15 gr% 15 X 1.34 ML DAN BILA PO2 100 mmHg SATURASI 100 % DENGAN DEMIKIAN O2 YANG TERIKAT PD Hb ADALAH : 15 X 1.34 X 1 (100%) = 20.1 VOL % O2 YANG LARUT DALAM PLASMA TIAP TEKANAN O2 (PO2) 1 mmHg KELARUTAN O2 0.003 ml UNTUK TIAP 100 ML DARAH. 1 ML O2 / 100 ML DARAH SATUANNYA VOLUME %

JADI BILA PO2 100 mmHg O2 YANG LARUT DALAM PLASMA 100 X 0.003 = 0.3 VOL% O2 CONTENT = O2 TERIKAT Hb + O2 LARUT DALAM PLASMA

BEBERAPA PERBANDINGAN CONTOH BERIKUT :

1. Hb 15 gr%,PO2 100mmHg SAT.100% Hb 15 X 1.34 X 1 = 20.1 VOL% PLASMA 100 X 0.003= 0.3 VOL% O2 CONTENT = 20.4 VOL%

2. Hb 15 gr%, PO2 50mmHg SAT. 85 % Hb 15 X 1.34 X 0.85= 17.09 VOL% PLASMA 50 X 0.003= 0.15 VOL% O2 CONTENT = 17.24 VOL%

3. Hb 8 gr%, PO2 100mmHgSAT. 100%


Hb 8 X 1.34 X 1 = 10.72 VOL% PLASMA 100 X 0.003= 0.3 VOL% O2 CONTENT = 11.02 VOL%

OLEH KARENA ITU UNTUK OPERASI, TERUTAMA OPERASI ELEKTIF, MINIMAL Hb PENDERITA HARUS 10 gr%.

End Of Lecture