Anda di halaman 1dari 48

BAB I PENDAHULUAN

Drg Firo baru lulus dokter gigi beberapa bulan yang lalu. Drg firo mempunyai keinginan untuk langsung membuka praktek. Gambaran lokasi dimana drg. Firo akan berpraktek: Daerah perkotaan dengan jumlah penduduk yang padat Penduduk di wilayah tersebut menengah keatas DI wilayah terdapat 5 praktek dokter gigi umum yang praktek swasta pribadi

Agar drg. Firo dapat merealisasi keinginannya untuk berpraktek, maka tahap pertama yang harus dilakukan drg Firo adalah membuat perencanaan praktek dokter gigi sesuai tujuan dan target yang telah ditentukan dengan memperlihatkan estetika dan aspek legal praktek dokter gigi, serta kesehatan dan keselamatan lingkungan kerjanya. 1. Jelaskan beberapa tahapan dalam menentukan tujuan praktek dokter gigi! Sebutkan criteria yang harus diperhatikan dalam mencapai tujuan! Sebutkan hasil(output) yang diharapkan dari pelayanan praktek dookter gigi! 2. Jelaskan mamfaat dan tujuan dilakukannya studi kelayakan sebelum membuka praktek dokter gigi! Jelaskan tahapan dalam membuat studi kelayakan praktek dokter gigi! 3. Jelaskan macam-macam analisisn lingkungan yang dilakuakn sebelum membuka praktek dokter gigi! Mengapa menentukan lokasi tempat praktek dianggap penting? Jelaskan halhal yang harus diperhatikan dan dijadikan pertimbangan pada saat menentukan lokasi tempat praktek! 4. Jelaskan bagaimana menentukan segmentasi pasar praktek dokter gigi!

5. Jelaskan model-model praktek dokter gigi yang dapat dilakukan! Jelaskan pelayanan kedokterna gigi keluarga sebagai model praktek dokter gigi di Indonesia? 6. Jelaskan model pembiyaan yang diterapkan pada praktek dokter gigi! 7. Jelaskan aspek legal seorang dokter gigi yang harus diperhatikan berdasarkan Kode Etik Kedokteran GIgi pada saat akan membuka praktek dokter gigi sesuai model- model praktek dokter gigi! 8. Apa yang harus dipersiapkan oleh dokter gigi yang akan membuka praktek ditinjau dari UU Praktek Kedokteran sehingga sesuai dengan penyelenggarakan Praktek Kedokterna yang baik? 9. Hal apasaja yang harus diperhatikan pada saat mebuka praktek dokter gigi ditinjau dari aspek kesehatan lingkungan? 10. Jelaskan kesehatan dan keselamatan kerja untuk control infeksi, ditempat praktek dokter gigi dan bagaimana penerapannya? 11. Jelaskan lingkungan kerja yang ergonomic di tempat praktek dokter gigi, baik untuk tenaga kesehatan maupun pasien yang mengacu kepada four handed dentistry! 12. Menurut pendapat saudara, bagaimana keberhasilan praktek drg Firo di tempat praktek tersebut!

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN PRAKTEK DOKTER GIGI

2.1 Tujuan Dan Target Usaha DPS

Tujuan dan target usaha adalah tiga hal paling penting yang harus ditetapkan sebelum suatu usaha mulai direncanakan. Dalam penyelenggaraan DPS, bagaimanapun haruslah menonjolkan tujuan pelayanan kesehatan yang diemban IDI sebagai organisasi profesi dokter di Indonesia. Sedangkan penetapan target kemajuan pelayanan kesehatan haruslah disesuaikan dengan kondisi objektif masing-masing daerah.

2.1.1 Tujuan Pelayanan Kesehatan

Tiga kriteria keberhasilan yang dapat digunakan sebagai tolok ukur tercapainya tujuan adalah mampu tetap bertahan (survival), pertumbuhan (growth), dan menghasilkan keuntungan (profitability). Survival adalah kemampuan organisasi untuk mencari alternatif untuk mempelopori bentuk pelayanan kesehatan yang professional. Growth adalah kemampuan organisasi mengembangkan usahanya untuk bertahan dalam persaingan dan peningkatan mutu pelayanan. Sedangkan profitability adalah kemampuan usaha organisasi mendukung peningkatan kesejahteraan.
3

Tercapainya ketiga tujuan tersebut, merupakan suatu rencana jangka panjang yang dapat dicapai dalam waktu tertentu. Secara berturut-turut tujuan yang harus dicapai adalah survival, growth, dan profitability. Gambar 1 di bawah ini memberikan contoh tercapainya tujuan berdasarkan fungsi waktu.

Gambar 1 - Contoh Tolok Ukur Pencapaian Tujuan Organisasi (Dalam Jngka Waktu Enam Tahun) Tahun Kerja No. Goals 1 1. 2. 3. Survival Growth Profitability X 2 X X X X X 3 4 5 6

Sekalipun ketiga tujuan diatas merupakan pendekatan ekonomis, IDI sebagai organisasi profesi dokter di Indonesia harus mampu menjadi pelindung dan penyaring agar seluruh pengembangan usaha tersebut tetap mengedepankan prinsip-prinsip etika dan moral yang menjadikan pelayanan kesehatan tetap bernuansa social. Untuk itu fasilitas pelayanan DPS ini harus mampu menaggulangi masalah-masalah kesehatan primer termasuk pelayanan Keluarga Berencana, dengan diantaranya memberikan : 1. Memberikan pelayanan kesehatan primer secara menyeluruh bagi anggota keluarga. 2. Memberikan pelayanan pencegahan, pengobatan, dan rujukan. 3. Memberikan pelayanan Keluarga Berencana dengan menyediakan pelayanan kontrasepsi yang bervariasi.
4

2.1.2 Target Dan Hasil Yang Diharapkan

Penetapan target pelayanan kesehatan mengacu pada kondisi objektif masing-masing daerah dan kemampuan sumber daya klinik di masing-masing daerah. Oleh karena itu, penetapan target waktu pencapaiannya tidaklah harus sama. Pada contoh uraian Gambar 2 diatas, waktu pencapaian tujuan klinik merupakan target organisasi juga. Namun harus dipahami, target yang harus dicapai tidaklah selalu berwujud kuantitas, namun juga harus mengandung peningkatan kualitas dari waktu ke waktu. Target dan hasil yang diharapkan dari pelayanan DPS sebagai berikut : 1. Memasyarakatkan DPS dengan mendayagunakan seluruh sumberdaya yang dimiliki dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang profesional. 2. Mencapai tingkat survival, dimana DPS berhasil menempatkan diri sebagai pilihan tempat pelayanan kesehatan pasien sesuai jenis pelayanan yang dibutuhkan. 3. Mencapai tingkat growth dalam kondisi persaingan usaha yang terbuka dan sehat, sehingga mampu mandiri dalam mengembangkan usaha pelayanan kesehatan. 4. Mencapai taraf profitability dalam jangka waktu yang ditetapkan berdasarkan kondisi objektif dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki di daerah masing-masing.

2.2 Studi Kelayakan DPS

Studi kelayakan DPS adalah penelitian tentang keberhasilan suatu investasi di bidang jasa DPS. Dari studi kelayakan tersebut, dapat diramalkan manfaat yang mungkin diraih dan dampak

yang mungkin ditimbulkannya. dalam bidang pelayanan kesehatan, studi kelayakan menyangkut dua aspek terpenting, meliputi Manfaat Finansial yaitu apakah DPS tersebut dipandang cukup menguntungkan bila dibandingkan dengan resiko yang harus digadapi dan Manfaat Sosial yaitu besarnya manfaat DPS bagi masyarakat yang menjadi sasaran utama dan masyarakat sekitarnya.

2.2.1 Tujuan Studi Kelayakan

Tujuan studi kelayakan adalah mengidentifikasi kesempatan berusaha secara luas dan mendalam pada bidang pelayanan kesehatan, sehingga menghindarkan keterlanjuran penanaman modal yang tidak efisien yang secara ekonomis tidak menguntungkan. Studi kelayakan dibagi dalam beberapa tahap, dimana masing-masing tahap memiliki tujuan yang spesifik yaitu: 1. mengidentifikasi kesempatan investasi yang menguntungkan dan dilakukan terhadap lingkungan DPS di suatu daerah dengan memperkirakan besarnya peluang usaha 2. Merumuskan seberapa besar peluang investasi investasi pendirian DPS, baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang dengan menelaah berbagai kendala yang mungkin akan menghambat. 3. melakukan penilaian dan analisis data dengan menelaah faktor internal dan eksternal. khususnya terhadap aspek pasar dan pemasaran, teknis pelayanan, kemampuan keuangan, manajemen, hokum dan kondisi social ekonomi masyarakat 4. Menentukan ruang lingkup dan luas pelayanan DPS yang akan didirikan, dengan didasarkan kemampuan sumber daya yang dimiliki, keterbatasan dan kendala yang ada serta tujuan yang hendak dicapai.
6

5. Menyelenggarakan DPS dengan tetap berpegang pada besar anggaran yang tersedia, pola manajemen dan mencapai target kerja yang telah ditetapkan

2.2.2 Hasil Yang Diharapkan Dari Studi Kelayakan Hasil yang diharapkan dari studi kelayakan pelayanan kesehatan ialah diperolehnya data tentang : 1. Ruang lingkup kegiatan DPS meliputi beberapa pelayanan yang akan diberikan, misalnya apakah hanya memberikan pelayanan kesehatan umum atau spesialis 2. Cara-cara kegiatan DPS dilakukan, meliputi siapa yang akan mengelola DPS tersebut, apakah akan dikelola sendiri, bekerjasama atau diserahkan pada pihak lain. 3. Evaluasi terhadap faktor-faktor yang menentukan keberhasilan DPS yang terdiri dari faktor internal maupun eksternal, sehingga dapat dilihat seberapa besar peluang yang dimiliki untuk mengembangkan usaha tersebut. 4. Sarana dan prasarana yang diperlukan oleh DPS, meliputi kebutuhan fasilitas pendukung seperti lokasi yang baik, ruang praktek, jalan penghubung dan peralatan medis. 5. Standar pelayanan kesehatan DPS dan besar biaya yang harus ditanggung pasien untuk memperoleh pelayanan tersebut. 6. Langkah-langkah untuk menyelenggarakan DPS, jadwal kegiatan dan besar investasi yang diperlukan hingga DPS siap beroperasi

2.2.3 Jenis Data Dan Informasi Yang Diperlukan Beberapa aspek yang akan ditelaah dalam studi kelayakan merupakan data yang harus dikumpulkan dalam tahap penelitian. Dalam studi kelayakan DPS, empat aspek yang dianggap paling berpengaruh adalah aspek pasar dan pemasaran, teknis pelayanan, keuangan dan hukum. 1. Aspek Pasar dan Pemasaran, meliputi data tentang : a. Tingkat kebutuhan (permintaan) masyarakat terhadap jasa pelayanan kesehatan baik secara total maupun diperinci menurut letak geografis, jenis pelayanan, kelompok pasien dan sebagainya. b. Tingkat ketersediaan (penawaran) jasa pelayanan DPS yang telah ada sejauh ini di daerah tersebut, pola pertumbuhan di masa lalu dan kemungkinan perkembangannya di masa dating. c. Besar tarif yang diberlakukan untuk masing-masing jenis pelayanan kesehatan oleh penyelenggara jas apelayanan yang berbeda, missal rumah sakit pemerintah atau swasta, klinik atau DPS lain di daerah tersebut. d. Strategi pemasaran yang telah digunakan, apakah masih berpola tradisional atau telah menerapkan prinsip-prinsip pemasaran modern, misalnya menggunakan metode bauran pemasaran (marketing mix) e. Pemetaan pangsa pasar yang dimiliki masing-masing DPS yang telah ada, segmen pasar mana yang masih mungkin dimasuki dan seberapa besar pangsa pasar yang mungkin diperoleh.

2. Aspek Teknis dan Pelayanan meliputi data tentang : a. Optimalisasi pemilihan skala pelayanan, khususnya untuk memilih bentuk pelayanan, apakah untuk meminimumkan biaya pelayanan rata-rata (mass product) atau memaksimumkan keuntungan usaha (profitability) b. Ketepatan pemilihan proses pelayanan untuk menghasilkan satu jenis pelayanan. Misalnya untuk pelayanan pengobatan, apakah hanya tingkat diagnosis ataukah hingga pelayanan laboratorium. c. Pemilihan teknologi yang efisien, yang akan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan dan biaya yang kan dapat ditanggung masyarakat dan pasien calon penanggungnya. d. Penyediaan perlengkapan dan sarana pendukung, misalnya penyediaan obat dan bahan obat-obatan, peralatan teknis, control kualitas. e. Pengaturan jadwal kerja yang realistis, dengan mempertimbangkan berbagai faktor kebutuhan dan kemampuan penyediaan pelayanan. 3. Aspek Keuangan (Finansial) meliputi data tentang : a. Dana yang diperlukan untuk investasi, baik dana untuk kebutuhan penyediaan prasarana dan sarana kerja, maupun dana untuk operasional kerja b. Sumber-sumber pembelajaran yang akan digunakan, seberapa banyak modal yang merupakan modal sendiri dan berapa banyak yang merupakan pinjaman baik yang berjangka panjang maupun jangka pendek c. Perkiraan tingkat penghasilan, biaya yang digunakan dan kondisi laba (rugi) pada berbagai tingkat operasi per satuan waktu tertentu. Target ketiga aspek ini harus ditetapkan, sehingga dapat diestimasi waktu dicapainya posisi titik impas DPS.

4. Aspek Hukum, meliputi data tentang : a. Jaminan-jaminan yang bisa disediakan, jika akan menggunakan sumber dana yang berupa pinjaman b. Berbagai akte, sertifikat, ijin yang diperlukan, surat kontrak kerja sama dan sebagainya

2.2.4 Metode Analisis Data 1. Analisis Aspek Pasar dan Pemasaran, yang paling mendekati kenyataan pasar adalah melakukan survey khusus untuk bisa memperoleh informasi tentang : a. Perilaku konsumsi masyarakat (pasien) terhadap macam pelayanan kesehatan yang tersedia saat ini b. Pengetahuan pasien terhadap jasa pelayanan kesehatan c. Keinginan dan rencana pasien dalam memenuhi kebutuhan jasa pelayanan kesehatan d. Motif pasien dalam menggunakan jasa pelayanan kesehatan e. Kepuasan pasien terhadap jasa pelayanan kesehatan yang belum terpenuhi f. Kebutuhan jasa pelayanan kesehatan yang belum terpenuhi g. sikap pasien terhadap berbagai jasa pelayanan kesehatan h. Karakteristik social ekonomi masyarakat di daerah tersebut, umumnya meliputi faktor umumr, tingkat penghasilan, pekerjaan, tempat tinggal dan sebagainya. 2. Analisis Aspek Teknis dan Pelayanan. dilakukan dengan mempergunakan analisis sebagai berikut : a. Analisis perilaku biaya yaitu untuk mengidentifikasi unsure-unsur dan fungsi biaya
10

b. Analisis perbandingan biaya untuk memilih alternative bentuk pelayanan yang paling efektif dan efisien c. Metode scoring untuk menentukan pilihan lokasi dengan analisis perbandingan biaya d. Metode transportasi untuk menentukan biaya pencapaian lokasi DPS dari tempat tinggal masyarakat 3. Analisis Aspek Keuangan, dilakukan dengan mempergunakan beberapa alat analisi berikut : a. Metode penilaian investasi, dengan meihat kebutuhan dana, baik modal kerja maupun aktiva tetao dan memperhitungkan dari mana sumber dana diperoleh. b. Metode pemilihan sumber dana, dengan melihat struktur modal dan biaya keseluruhan DPS, yang juga digunakan untuk analisis rentabilitas modal sendiri dan pertimbangan aspek likuiditas. c. Analisis Break Event Point yaitu untuk menghitung titik impas usaha, dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian usaha dan penilaian profitabilitas investasi. d. Proyeksi aliran anggaran kas untuk memperkirakan kemampuan memenuhi kewajiban finansial.

2.2.5 Sumber Data Dari rencana nalisis yang disusun, ditentukan data yang diperlukan dan diperkirakan dari mana bisa diperoleh, apakah dalam bentuk data sekunder ataupun data primer. Data sekunder umumnya berasal dari instansi-instansi pemerintah, yang antara lain berbentuk :

11

1. Publikasi Biro Pusat Statistik (BPS) atau kantor Statistik Daerah, antara lain statistic kependudukan, fasilitas kesehatan, distribusi dan rasio dokter, indicator ekonomi, indicator kesehatan dan lingkungan dan sebagainya 2. Publikasi yang dikeluarkan oleh asosiasi industri, perdagangan, kesehatan dan badanbadan lainnya 3. Publikasi yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bekerja sebagai lembaga penelitian Pada umumnya publikasi mengenai daerah-daerah di Indonesia masih jarang, sehingga lebih baik bila melakukan pengumpulan data sendiri. Data akan lebih mendekati kondisi sebenarnya bila dilakukan survai lapangan dengan menggunakan metoda wawancara secara terstruktur dengan menggunakan metoda wawancara secara terstruktur dengan masyarakat yang akan menjadi pasien ataupun wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh kunci yang memiliki pengaruh cukup kuat dalam masyarakat.

12

2.2.6 Kriteria Penilaian Studi Kelayakan Untuk memudahkan studi kelayakan, dalam table 1 disajikan rangkuman berbagai aspek yang ditelaah dengan masing-masing indicator, cara analisis, bentuk data yang diperlukan dan criteria kelayakan dari masing-masing aspek tersebut.

13

2.3 Analisis Lingkungan Tujuan analisis lingkungan adalah untuk menilai lingkungan organisasi secara keseluruhan. Baik factor-faktor yang berada diluar organisasi maupun yang berada didalam organisasi yang semuanya memperngaruhi kemajuan organisasi dalam mencapai tujuan yang ditelah ditetapkan 2.3.1 Peran Atau Fungsi Analisis Lingkungan Policy oriented role : peran analisis yang berorientasi pada kebijakan manajemen atas dan betujuan untuk memperbaiki kinerja organisasi dengan memberikan informasi bagi manajemen tingkat atas tentang kecenderungan utama yang munjul dalam lingkungan Integrated strategic planning role : peran ini bertujuan untuk memperbaiki kinerja organisasi dengan membuat manajemen tingkat atas dan manager divisi menyadari segala isu yang terjadi di lingkungan perusahaan yang memiliki implikasi langsung pada proses perencanaan Functional oriented role : peran ini bertujuan untuk memperbaiki kinerja organisasi dengan menyediakan informasi lingkungan yang memberi perhatian pada efektivitas kinerja fungsi organisasi tertentu. Peranan ini berorientasi pada masalah tertentu dalam perusahaan yang menjadi target utama. 2.3.2 Struktur Lingkungan Secara umum, lingkungnan organisasi dikatagorikan kedalam 2 bagian besar yaitu 1. Lingkungan eksternal : lingkungan yang berada diluar organisasi 2. Lingkungan internal : lingkungan yang berada di dalam organisasi

14

2.3.2.1 Lingkungan Eksternal a. Lingkungan Umum (General Environment) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Factor ekonomi Factor social Factor teknologi Factor politik dan hokum Factor teknologi Factor demografi

b. Lingkungan Industry (Industry Environtment) 1. 2. 3. 4. 5. Ancaman pendatang baru Pemasok (supplier) Pembeli (customer) Produk substitusi Pesaing (competitor)

2.3.2.2 Lingkungan Internal 1. 2. 3. Sumber daya (resources) Kapabilitas (capability) Kompetisi inti (core competence)

Pentingnya analisis lingkungan bahwa organisasi/perusahaan tidak berdiri sendiri. Pengaruh lingkungan yang rumit dan kompleks dapat memperngaruhi banyak bagian berbeda dari sebuah perusahaan.
15

2.4 Segmentasi Pasar Segmentasi pasar merujuk kepada pengertian proses pembagian pasar. Contohnya seperti proses memotong kue tar sedemikian rupa menjadi bentuk bagian-bagian termasuk menentukan potongan kue tar mana yang hendak kita makan. Probabilitas segmentasi pasar muncul dari perbedaan atau variasi konsumen. Titik balik perbedaan tidak lain kesamaan yang menjadi basis penempatan individu konsumen ke dalam segmen. Perbedaan dan kesamaan tersebut, pun dipandang berbeda dalam keberadaannya oleh masing-masing bisnis yang berkepentingan. Oleh karena mengandung persamaan dan perbedaan termasuk sama-sama potongan kue tar, maka setiap segmen dapat diperbandingkan kuantitas dan atau kualitasnya sesuai dengan tujuan. Proses segmentasi dimulai dari penentuan pasar. Lantas pasar dipandang berdasarkan kebutuhan atau preferensi konsumen, perilaku pembelian, karakteristik bisnis maupun manusia, atau berbasis situasi penggunaan. Masing-masing basis pandangan mempertimbangkan tanggapan konsumen terhadap perbedaan, mampu diidentifikasikan, dapat dilaksanakan, efektif dan efisien, serta stabil setiap waktu. Kemudian aktifitas pemilihan segmen pun dilaksanakan yang terikat erat elemen kematangan pasar, struktur persaingan, dan pengalaman bisnis. Pendek kata berlangsung proses identifikasi, pembentukan, penguraian, dan evaluasi segmen. Aktifitasaktifitas tersebut, terjadi setelah kehadiran pasar seperti memotong kue tar, kue tarnya tentu saja ada atau akan kita adakan untuk keberhasilan bisnis yang diinginkan. Sesuai segmen pasar yang dituju, praktek dokter gigi bisa sederhana atau sangat modern. Kesederhanaan praktek dokter gigi tanpa mengurangi hal-hal yang wajib seperti misalnya

16

sterilisasi alat bisa menurunkan operational cost yang ujungnya menurunkan harga pengobatan dan perawatan gigi. Namun untuk pasien menengah ke atas, umumnya mereka menuntut kenyamanan yang tentu saja bisa dipenuhi dokter gigi (dengan senang hati) dengan konsekuensi harga yang ditarik pun sesuai modal pengeluaran.

2.5.

Model-Model Praktek Dokter Gigi yang Dapat Dilakukan 2.5.1. Beberapa model praktek dokter gigi, yaitu:

a. Praktek Sendiri b. Praktek bersama dokter gigi lain c. Asosiasi

A. Praktek Sendiri Praktek sendiri merupakan suatu model praktek dokter gigi dimana hanya ada satu orang dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan. Keuntungan dari praktek sendiri yaitu: 1. Memegang kendali penuh terhadap kebijakan di tempat praktek dan terhadap orang-orang yang bekerja disana 2. Menerima seluruh pendapatan dari hasil praktek 3. Memiliki privasi lebih besar dibanding praktek bersama 4. Konflik personal yang terjadi lebih sedikit

17

5. Lebih mudah membuat perubahan, menjual prakteknya, atau jika ingin pindah tempat praktek. Kerugian dari praktek sendiri yaitu: 1. Tanggung jawab hanya dibebankan ke satu orang 2. Tergantung dari panggilan setiap waktunya dan tidak ada dokter gigi lain yang bisa menggantikannya saat dokter gigi tersebut pergi 3. Bertanggung jawab penuh terhadap semuanya 4. Pengeluaran masih terus berlanjut bahkan ketika dokter gigi tersebut tidak ada dan pemasukannya jadi berkurang 5. Sangat terbatas kesempatan untuk berkonsultasi dengan rekan sejawat.

B. Praktek Bersama Dokter Gigi Lain Dua atau lebih dokter gigi yang memutuskan bekerja atau praktek bersama untuk meningkatkan pelayanan kesehatan tapi menurunkan biaya pelayanan disebut praktek bersama. Praktek bersama ini bisa berupa hubungan partner ataupun grup. Keuntungan praktek bersama ini, antara lain: 1. Biaya pengeluaran bisa dibagi-bagi 2. Potensi pendapatannya lebih besar 3. Lebih bebas untuk tidak praktek karena bisa digantikan oleh rekan sejawat yang berada di tempat praktek 4. Kesempatan berkonsultasi lebih besar 5. Lebih sedikit tanggung jawab manajemen
18

6. Lebih bisa mengontrol kualitas 7. Dapat menghimpun para ahli seperti dokter spesialis 8. Tingkat kuantitas pasien lebih tinggi Sedangkan kerugiannya, antara lain: 1. Struktur organisasinya lebih kompleks 2. Ada pembagian kontrol pengambilan kebijakan 3. Konflik personal bisa terjadi 4. Kemungkinan tejadi ketidakadilan dalam produksi C. Asosiasi Ketika seorang dokter gigi memutuskan untuk berasosiasi dengan seseorang hal ini bisa disebut sebagai praktek bersama dokter gigi lain, tapi bedanya pada hubungan asosiasi, ada ketentuan-ketentuan professional layaknya seorang pegawai. Keuntungan dari hbungan praktek asosiasi ini, yaitu: 1. Sedikit atau tidak ada modal awal yang dikeluarkan. Oleh karena itu asosiasi ini dapat membuka kesempatan bagi seorang dokter gigi yang baru lulus dan membutuhkan pengalaman di bidang tertentu untuk mendapatkan sertifikat spesialisasi yang lagi dikejar. 2. Banyak mendapat pengalaman 3. Bisa langsung mendapat penghasilan 4. Sedikit tanggung jawab management

19

Kerugian dari asosiasi: 1. Harus mematuhi peraturan orang lain yang telah ditetapkan 2. Dokter gigi berada dalam aturan pegawai 3. Kemungkinan ada batasan penghasilan 4. Kemungkinan ada keterbatasan pasien

2.5.2.

Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga Sebagai Model Praktek Dokter Gigi di Indonesia Pelayanan kedokteran gigi keluarga adalah suatu upaya pelayanan bidang

kesehatan gigi dan mulut yang bersifat menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan berkesinambungan yang memusatkan layanannya kepada setiap individu dalam suatu keluarga binaan. Tujuan utama pelayanan kedokteran gigi keluarga adalah tercapainya keluarga yang mandiri dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut dan terpenuhinya kebutuhan keluarga unuik memperoleh pelayanan kesehatan gigi yang optimal, bermutu, terstruktur dan berkesinambungan.

2.5.2.1 Prinsip Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga 1) Dokter gigi kontak pertama (first contact) Dokter gigi keluarga adalah pemberi layanan kesehatan yang pertama kali ditemui pasien dalam menyelesaikan masalah kesehatan gigi dan mulut dan penapis rujukan ke strata kedua dan ketiga.

20

2) Layanan bersifat pribadi (Personal Care) Dokter gigi keluarga memberikan layanan kepada perorangan (pribadi) dengan memperhatikan bahwa setiap orang merupakan bagian dari keluarganya. Keputusan medis mempertimbangkan aspek sosial, budaya dan ekonomi pasien beserta keluarga. 3) Pelayanan Paripurna (Comperhensive) Dalam memberikan pelayanannya, dokter gigi keluarga lebih menekankan pada upaya promotif ,perlindungan khusus, deteksi dan tindakan penanganan dini. 4) Paradigma sehat Dokter gigi keluarga mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri dengan pelayanan yang bersifat promotif dan preventif. 5) Pelayanan berkesinambungan Prinsip ini dilandasi hubungan jangka panjang antara dokter gigi keluarga dan pasiennya 6) Koordinasi dan Kolaborasi Dokter gigi keluarga perlu berkonsultasi dengan disiplin lain untuk mengatasi masalah pasiennya. 7) Family and community oriented

2.5.2.2 Model Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga 1) Dokter gigi keluarga praktek perorangan/Praktek solo

21

Pelayanan dokter gigi keluarga yang dikembangkan atas inisiatif dokter gigi dan perawat gigi dan sesuai dengan standar perijinan yang telah ditetapkan, serta memiliki sertifikat bahwa telah mengikuti melalui Program Pendidikan Kedokteran Gigi Keluarga (PKGK) atau melalui diklat khusus untuk melatih dokter gigi menjadi dokter gigi keluarga sesuai kompetensi yang diharapkan 2) Dokter gigi keluarga praktek berkelompok Dokter gigi keluarga beserta tim yang melaksanakan praktik untuk pelayanan keluarga binaannya sebagai mitra kerja tergabung dalam system pelayanan dokter keluarga/ dokter gigi keluarga sehingga standar klinik dan asuransi kesehatn yang digunakan sesuai dengan konsep dokter gigi keluarga.

2.5.2.3 Ruang Lingkup Pelayanan A. Pelayanan Darurat / Basic Emergency Care 1. Basic Life Support / pertolongan pertama pada keadaan darurat dan gawat darurat untuk selanjutnya dilakukan rujukan bila diperlukan. 2. Mengurangi rasa sakit dan atau eliminasi infeksi / pertolongan pertama pada gigi / mulut karena penyakit / cedera. 3. Reposisi dislokasi sendi rahang. 4. Replantasi gigi. 5. Penyesuaian oklusi (akut). B. Pelayanan Pencegahan / Preventif Care

1) Pendidikan kesehatan gigi (individu / kelompok). 2) Menghilangkan kebiasaan jelek / buruk.


22

3) Tindakan perlindungan khusus. 4) Tindakan penanganan dini (early detection & prompt treatment). 5) Memberi advokasi untuk menanggulangi kelainan saliva dan masalah nutrisi gizi/ diet. C. Pelayanan Medik Gigi Dasar / Simple Care 1. Tumpatan gigi (GIC/resin komposit/tumpatan kombinasi). 2. Ekstraksi gigi (gigi sulung persistensi/gigi tetap karena penyakit/keperluan orthodonti/pencabutan serial (gigi sulung)). 3. Perawatan pulpa (pulp capping/pulpotomi/perawatan saluran akar gigi anterior). 4. Perawatan/pengobatan abses. 5. Penanganan dry socket. 6. Mengobati ulkus rekuren (aphtosa) 7. Pengelolaan halitosis. D. Pelayanan Medik Gigi Khusus / Moderate Care 1. Konservasi gigi 2. Pedodonsi 3. Periodonsia 4. Bedah mulut 5. Orthodonti 6. Prostodonsia 7. Oral medicine

23

2.6. Model Pembiayaan yang Dapat Diterapkan pada Praktek Dokter Gigi Untuk melaksanakan bisnis pelayanan kesehatan, dokter gigi memerlukan investasi berupa SDM, alat, teknologi, dan modal. Berbagai investasi ini harus ditanggung oleh pihak penyelenggara pelayanan kesehatan yang dalam hal ini tenaga professional dokter gigi. Dalam menjalankan usaha tersebut, dokter gigi memiliki peran ganda yakni sebagai tenaga profesional yang bertugas memberi pelayanan kesehatan gigi secara holistik kepada pasien sesuai standar profesi yang berlaku dan sebagai pemodal usaha yang fungsinya mengupayakan roda bisnis pelayanan kesehatan terus berjalan sesuai tatanan manajemen. Oleh karena itu dokter gigi harus mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu pelayanan kesehatan dan harus menetapkan tarif yang rasional berdasarkan perhitungan biaya satuan. Sistem pembiayaan yang selama ini banyak dikenal dan umum dilakukan adalah melalui sistem pembayaran berdasarkan pelayanan yang dikerjakan (fee for service) dan metode kapitasi (capitation). 1. Fee for Service (Out of pocket) Pada model ini setiap dokter mendapatkan gaji atau jasa pelayanan berdasarkan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasiennya. Misal: pasien datang, dokter meresepkan obat pada pasien, maka dokter akan mendapatkan jasa dari hasil pemberian resep tersebut. Dan apabila dokter melakukan suatu tindakan, seperti operasi, maka dokter akan mendapatkan jasa dari operasi yang telah dilakukannya. Modifikasi dari model ini adalah dengan pembayaran per kasus (case payment), yakni misalnya untuk sebuah kasus perawatan endodontik atau untuk pembuatan gigi
24

tiruan yang membutuhkan sekian kali proses dan kunjungan secara keseluruhan hingga selesai dikenakan tarif tertentu yang merupakan satu paket. Pada fee for service, pembayaran jasa kesehatan berasal dari masing masing individu pasien. Pada jenis pembiayaan ini, sering terjadi penyimpangan seperti overutilisasi jasa kesehatan dimana dokter dapat memberikan pelayanan yang pada dasarnya tidak dibutuhkan, namun sengaja diberikan dengan tujuan agar semakin banyak layanan yang diberikan, maka pendapatan yang didapat dari layanan tersebut akan semakin besar. Keuntungan dari metode ini, tarif dapat berubah kapanpun jika dokter gigi merasa tarif tersebut tidak sesuai karena inflasi ataupun perubahan pada prosedurnya. Keuntungan lain yaitu mengizinkan hubungan langsung antara produksi dan pendapatan. Hal ini mnyediakan insentif untuk dokter gigi untuk meningkatakan produksinya. Kerugian dari metode ini adalah hubungannya dengan masalah pengumpulan akun. Dokter gigi harus bertindak seperti agen pengumpulan dan biasanya diasumsikan pada jumlah tertentu dari buruknya debt. Masalah lain adalah cash flow bergantung pada produksi atau pelayanan yang dilakukan. Dan juga pendapatan yang bervariasi setiap bulannya bergantung pada jumlah perawatan yang tersedia. Perhitungan yang baik dapat membantu dokter gigi untuk menghindari masalah cash flow yang inadekuat. 2. Kapitasi Sistem kapitasi adalah sistem pembayaran pada dokter keluarga/ pelayanan primer yang ditunjuk pihak asuransi. Merupakan model yang bersifat prospektif, dimana pembiayaan pelayanan kesehatan yang dilakukan di muka berdasar jumlah tanggungan kepala per suatu daerah tertentu dalam kurun waktu tertentu tanpa melihat frekuensi

25

kunjungan tiap kepala tersebut. Misal: dokter X dalam suatu wilayah dengan 1000 orang penduduk dan tiap orang tiap bulannya membayar premi kepada dokter sejumlah Rp. 10.000,00. Maka tiap bulan, dokter tersebut akan mendapatkan uang sebesar Rp. 10.000.000. Dimana 1000 orang yang dievaluasinya tersebut dapat datang ke praktik dokter dengan bebas dan mendapatkan tindakan apapun sesuai dengan keluhannya tersebut. Adanya sisa tiap bulan dana yang tidak digunakan oleh dokter akan menjadi gaji dokter tersebut. Tentu saja kasus-kasus yang akan ditangani tidak semuanya dan ada kontrak tersendiri. Keuntungan model ini adalah rumah sakit atau dokter sebagai penyedia layanan kesehatan (health provider) mendapat jaminan adanya pasien (captive market) dan kepastian dana di awal tahun/kontrak. Bila berhasil mengefisienkan pelayanan, health provider akan mendapatkan keuntungan. Hal ini diharapkan membuat dokter dapat lebih taat prosedur dan menekankan pelayanan lebih kepada promosi dan prevensi. Dalam penerapannya, sistem ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu adanya kecenderungan underutilization, kemungkinan timbulnya konflik bila dokter belum memahami sitem ini dengan baik, dan resiko kerugian bila peserta sedikit. Model pembiayaan ini yang sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia sekarang dan dipakai biasanya dalam sistem asuransi.

26

2.7 Bentuk Legal dalam Praktek Hal-hal yang harus diperhatikan seorang dokter gigi yang mana merupakan kewajiban umum yang harus diingat dalam Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia adalah yang terdapat dalam bab I mengenai Kewajiban umum . SURAT KEPUTUSAN NOMOR: SKEP/034/PB PDGI/V/2008 Bab 1 Kewajiban Umum 1) Pasal 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghayati, mentaati dan mengamalkan Sumpah / Janji Dokter Gigi Indonesia dan KodeEtik Kedokteran Gigi Indonesia 2) Pasal 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib menjunjung tinggi norma-norma kehidupan yang luhur dalam menjalankan profesinya. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghormati norma-norma yang hidup di dalam masyarakat. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib mentaati peraturan atau undang-undang Republik Indonesia sertaaturan-aturan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. 3) Pasal 3 Dalam menjalankan profesinya Dokter Gigi di Indonesia tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan untuk mencari keuntungan pribadi
27

Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia dilarang melakukan promosi dalam bentuk apapun seperti memuji diri, mengiklankan alat dan bahan apapun, memberi imingiming baik langsung maupun tidak langsung dan lain lain, dengan tujuan agar pasien datang berobat kepadanya. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia dilarang menggunakan gelar atau sebutan profesional yang tidak diakui oleh Pemerintah Indonesia. Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia boleh mendaftarkan namanyadalam buku telepon atau direktorilaindengan ketentuan tidak ditulis dengan huruf tebal, warna lain atau dalam kotak. Ayat 4 Informasi profil Dokter Gigi yang dianggap perlu oleh masyarakatdikeluarkan oleh Pemerintah atau Persatuan Dokter Gigi Indonesia baik melalui media cetak maupun elektronik 4) Pasal 4 Setiap dokter Gigi di Indonesia agar menjalin kerjasama yang baik dengan tenaga kesehatan yang lain.

5) Pasal 6 Setiap dokter Gigi di Indonesia dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan

28

masyarakat, wajib bertindak sebagai motivator, pendidik dan pemberi pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

Hal-hal yang harus diperhatikan saat akan membuka praktik ditinjau dari segi UndangUndang Praktik Kedokteran sehingga sesuai dengan Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang baik akan dijelaskan di bawah ini. Dimana dalam UU Praktik Kedokteran ada diatur tentang Penyelenggaran Praktik Kedokteran yang baik yang mana diambil dari bab VII dalam pasal 36,37,38 bagian kesatu Penyelenggaraan Praktik Kedoteran.

2.8 Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Menurut Undang-Undang No. 29 BAB VII PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN Bagian Kesatu Surat Izin Praktik

1. Pasal 36 Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik. 2. Pasal 37 (1) Surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dikeluarkan oleh pejabat kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat praktik kedokteran atau kedokteran gigi dilaksanakan.
29

(2) Surat izin praktik dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat. (3) Satu surat izin praktik hanya berlaku untuk 1 (satu) tempat praktik. 3. Pasal 38 (1) Untuk mendapatkan surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, dokter atau dokter gigi harus: a. memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi yang masih berlaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, Pasal 31, dan Pasal 32; b. c. mempunyai tempat praktik; dan memiliki rekomendasi dari organisasi profesi.

(2) Surat izin praktik masih tetap berlaku sepanjang : a. surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi masih berlaku; dan b. tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin praktik.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai surat izin praktik diatur dengan Peraturan Menteri. Dimana oleh karena itu hal-hal yang harus diperhatikan antara lain adalah melakukan registrasi dokter gigi (UU Praktik Kedokteran Indonesia bab VI pasal 29 dan 35 yang mana secara rinci dijelaskan sebagai berikut :

30

BAB VI REGISTRASI DOKTER DAN DOKTER GIGI

1) Pasal 29 (1) Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi. (2) Surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. (3) Untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi harus memenuhi persyaratan : a. memiliki ijazah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter gigi spesialis; b. mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji dokter atau dokter gigi; c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental; d. memiliki sertifikat kompetensi; dan e. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. (4) Surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi berlaku selama 5 (lima) tahun dan diregistrasi ulang setiap 5 (lima) tahun sekali dengan tetap memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

31

huruf c dan huruf d.

2) Pasal 35

1) Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan kompetensi yang dimiliki, yang terdiri atas: a. mewawancarai pasien; b. memeriksa fisik dan mental pasien; c. menentukan pemeriksaan penunjang; d. menegakkan diagnosis; e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien; f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi; g. menulis resep obat dan alat kesehatan; h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi; i. menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah terpencil yang tidak ada apotek. 2) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kewenangan lainnya diatur dengan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia.

32

2.9 Lingkungan Fisik Tempat Praktek Dokter Gigi Faktor fisiologis meliputi warna, pencahayaan, musik, suhu ruangan, dan peralatan di ruangan. Warna memainkan peran utama bagaimana pasien memandang praktek dan staf kesehatan, produktivitas, dan moral. Kantor yang menarik, ceria dan efisien menginspirasi kepercayaan staf dan kenyamanan pasien. Kantor membosankan, kotor dan berantakan dapat membuat sikap keraguan dan ketidakpercayaan pada pasien. Warna-warna terang lebih menarik daripada warna gelap. Beberapa dekorator bekerja dengan warna gelap untuk dinding, tetapi menggunakan aksen dengan warna terang untuk mengimbangi warna gelapnya. Cahaya dari warna-warna hangat dapat menciptakan lingkungan ceria. Warna sejuk, seperti hijau terang dan biru, dapat menghasilkan suasana tenang. Tempat praktek dokter gigi tidak perlu lagi menunjukkan penampakan steril. Desainer masa kini seringkali menambahkan kehangatan dan keindahan dalam ruangan, dengan mempertahankan kenyamanan dan efisiensi. Pasien akan merasa senang apabila ia merasakan kenyamanan ruangan tersebut. Produktivitas staf pun akan meningkat jika bekerja pada lingkungan kerja yang menyenangkan.

2.10

Kontrol Infeksi Pada Tempat Praktek Dokter Gigi

The CDC Guidelines for Infection Control in Dental Health Care Setting 2003 disebutkan tentang standar perawatan untuk pengendalian infeksi di kedokteran gigi. Laporan ini memberikan rekomendasi mengenai 1) mendidik dan melindungi petugas pelayanan kesehatan gigi; 2) mencegah penularan patogen melalui darah; 3) kebersihan tangan; 4)alat pelindung diri; 5) dermatitis kontak dan hipersensitivitas lateks; 6) sterilisasi dan disinfeksi peralatan untuk
33

perawatan pasien; 7) pengendalian infeksi lingkungan; 8) waterlines dental unit, biofl, dan kualitas air; dan 9) pertimbangan khusus (misalnya handpieces gigi dan perangkat lain, radiologi, obat-obatan parenteral, prosedur bedah mulut, dan laboratorium gigi. Karena perawatan pasien sebenarnya dimulai di ruang praktek seorang dokter gigi, penting untuk mengidentifikasi peran asisten administrasi yang berhubungan dengan pengendalian infeksi di daerah klinis. Setiap pekerja di perawatan kesehatan gigi bertanggungjawab untuk memutuskan siklus penularan penyakit.

34

35

36

Program perlindungan kesehatan bagi dokter gigi dan stafnya dilaksanakan dengan pendekatan menyeluruh (komprehensif) yaitu meliputi pelayanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.

Pelayanan Preventif Pelayanan ini diberikan guna mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, penyakit menular dilingkungan kerja dengan menciptakan kondisi pekerja dan mesin atau tempat kerja agar ergonomis, menjaga kondisi fisik maupun lingkungan kerja yang memadai dan tidak menyebabkan sakit atau mebahayakan pekerja serta menjaga pekerja tetap sehat. Kegiatannya antara lain meliputi: 1. Pemeriksaan kesehatan yang terdiri atas: a. Pemeriksaan awal/sebelum kerja b. Pemeriksaan berkala c. Pemeriksaan khusus 2. Imunisasi. 3. Kesehatan lingkungan kerja. 4. Perlindungan diri terhadap bahaya dari pekerjaan. 5. Penyerasian manusia dengan mesin dan alat kerja.

37

6. Pengendalian bahaya lingkungan kerja agar ada dalam kondisi aman (pengenalan, pengukuran dan evaluasi).

Pelayanan Promotif Peningkatan kesehatan (promotif) pada pekerja dimaksudkan agar keadaan fisik dan mental pekerja senantiasa dalam kondisi baik. Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sehat dengan tujuan untuk meningkatkan kegairahan kerja, mempertinggi efisiensi dan daya produktifitas tenaga kerja di lingkungan Laboratorium Teknik Kesehatan Gigi. Kegiatannya antara lain meliputi: 1. Pendidikan dan penerangan tentang kesehatan kerja. 2. Pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja yang sehat. 3. Peningkatan status kesehatan (bebas penyakit) pada umumnya. 4. Perbaikan status gizi. 5. Konsultasi psikologi. 6. Olah raga dan rekreasi.

Pelayanan Kuratif Pelayanan pengobatan terhadap tenaga kerja yang menderita sakit akibat kerja dengan pengobatan spesifik berkaitan dengan pekerjaannya maupun pengobatan umumnya serta upaya
38

pengobatan untuk mencegah meluas penyakit menular dilingkungan pekerjaan. Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sudah memperlihatkan gangguan kesehatan/gejala dini dengan mengobati penyakitnya supaya cepat sembuh dan mencegah komplikasi atau penularan terhadap keluarganya ataupun teman kerjanya. Kegiatannya antara lain meliputi: 1. Pengobatan terhadap penyakit umum. 2. Pengobatan terhadap penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

Pelayanan Rehabilitatif Pelayanan ini diberikan kepada pekerja karena penyakit parah atau kecelakaan parah yang telah mengakibatkan cacat, sehingga menyebabkan ketidakmampuan bekerja secara permanen, baik sebagian atau seluruh kemampuan bekerja yang baisanya mampu dilakukan sehari-hari. Kegiatannya antara lain meliputi: 1. Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan kemampuannya yang masih ada secara maksimal. 2. Penempatan kembali tenaga kerja yang cacat secara selektif sesuai kemampuannya. 3. Penyuluhan pada masyarakat dan pengusulan agar mau menerima tenaga kerja yang cacat akibat kerja.

39

2.11 Lingkungan Kerja Ergonomik

Ergonomik adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara manusia dengan lingkungan kerjanya dan efek lingkungan kerja terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Kaitan antara faktor fisik dan psikologikal berperan dalam menciptakan lingkungan praktik bebas jenuh. Area kerja yang didesain secara ergonomik akan membuat staf kerja melakukan tugasnya secara efisien. Dengan mempelajari pola kerja, memungkinkan untuk membuat desain lingkungan kerja sesuai kemampuan dan kebutuhan para staf. Menciptakan lingkungan kerja yang ergonomik akan membuat pekerjaan lebih efisien dan produktif serta mengurangi ketidaknyamanan dan kecelakaan. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang ergonomik dapat mengikuti empat panduan, yaitu : 1. 2. 3. 4. Lingkungan fisik Prinsip waktu dan pergerakan Posisi tubuh Pemilihan peralatan kerja

2.11.1

Lingkungan Fisik Faktor fisik meliputi warna, cahaya, suara, kelembaban udara, ruangan, perabotan

dan peralatan. Warna berperan penting dalam memunculkan persepsi bagaimana praktik terhadap pasien dan kesehatan, produktivitas dan moral staf. Desain ruang kerja yang atraktif, ceria dan efisien mencerminkan keprcayaan diri staf dan kenyamanan pasien. Ruangan kerja yang membosankan, tidak rapi dan kotor akan membuat pasien ragu-ragu
40

untuk datang. Sebaiknya dipilih warna terang daripada warna gelap. Warna terang membuat lingkungan lebih ceria sedangkan warna lembut seperti hijau dan biru membuat atmosfer lingkungan lebih tenang. Namun, warna gelap juga bisa dikombinasikan dengan warna terang seperti abu-abu dikombinasikan dengan warna merah jambu. Klinik gigi tidak harus selalu mencerminkan sebuah kantor yang steril dan terlihat kaku. Desainer saat ini berusaha membuat ruangan dengan menambahkan unsur kehangatan dan kenyamanan bagi para staf dan pasien. Dengan ruangan yang nyaman, akan meningkatkan kenyamanan juga bagi pasien dan produktivitas staf. Lingkungan fisik yang ergonomik meliputi: 1. Desain Ruang Kerja menurut Americans with Disabilities Act : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Buat ruang parkir khusus untuk orang cacat. Sediakan tempat berjalan untuk mengakomodasi kursi roda. Sediakan jalur yang landai untuk akses ke gedung dan kantor. Perluas pintu masuk untuk mengakomodasi kursi roda. Gunakan huruf timbul dan huruf Braille di pengontrol lift. Sediakan alarm visual dan pendengaran. Sediakan tempat untuk berpegangan. Tinggikan dudukan toilet dan perluas kamar mandi. empatkan tisu dan handuk toilet mudah dijangkau. Letakkan gelas dispenser dekat dengan sumber air.

41

k. 2.

Hindari karpet berbulu.

Pengaruh Lingkungan terhadap Pasien Di negara dengan sinar matahari ekstrim beberapa pasien mungkin akan mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD). Sinar matahari membuat jam tubuh kita bangun pada siang hari dan tidur pada malam hari. Kesehatan, mood dan kebiasaan seseorang dipengaruhi kualitas dan kuantitas sinar matahari. SAD dapat menyebabkan winter depression atau gangguan tidur. Oleh karena itu, beberapa perusahaan menggunakan pancahayaan yang terangnya dapat disesuaikan untuk terapi.

3.

Desain Ruang Resepsi Ruang resepsi (tidak dikatakan ruang tunggu sebab berkonotasi negatif) adalah jalan masuk ke ruang pemeriksaan gigi dan memberikan kesan pertama pada pasien tentang dokter gigi. Atmosfer yang hangat dapat menciptakan ruang tunggu yang nyaman. Suatu kantor direfleksikan dari ruang resepsinya. Pasien dapat mengurus administrasi di meja asisten. Untuk privasi, pasien harus mendapat akses yang mudah ke toilet. Tempat duduk di ruang resepsi dapat bermacam-macam sesuai dengan gaya masing-masing orang. Umumnya, harus menyediakan dua kursi untuk masing-

masing ruang periksa gigi. Di tempat yang banyak praktik seperti orthodontics dan pediatrics, biasanya memerlukan tiga atau empat kursi. Jarak antar tempat duduk penting untuk menjaga privasi pasien ketika mengisi data pribadi pada formulir. Kenyamanan merupakan perhatian utama dalam memilih perabotan di ruang resepsi, tidak terlalu formal dan tidak terlalu santai. Dipan dengan

42

bantal atau kursi tanpa lengan terkadang menyulitkan bagi pasien muda yang masih tangkas apalagi pada pasien tua atau pasien artritis. Fasilitas dengan gestur cerdas seperti meja tinggi dengan peralatan elektronik cocok untuk pebisnis atau siswa untuk menggunakan laptop selama menunggu. Juice bar atau membuat kopi sendiri merupakan pertimbangan khusus bagi pasien yang sibuk. Fasilitas ini menandakan bahwa dokter gigi peduli dengan waktu pasien dan ingin membuat klinik gigi merupakan tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Kunci untuk menciptakan ruang resepsi yang nyaman : a. b. Sediakan bel kecil di meja resepsionis sebagai pertanda pasien datang. Kedatangan pasien harus segera diketahui. Jendela kaca membuat resepsionis mengetahui aktivitas pasien. c. Rak untuk meletakkan jas hujan harus dapat dijangkau dengan mudah oleh anakanak maupun orang dewasa. d. Rak majalah diletakkan di dinding atau dekat meja sehingga mudah dijangkau oleh anak-anak ataupun orang dewasa. e. f. Kalau perlu sediakan ruang khusus anak-anak misalnya di klinik pediatric. Jumlah kursi dan meja disediakan tergantung jumlah pasien. Kombinasi kursi dengan sofa disusun sedemikian rupa untuk membuat nyaman pasien. g. Adanya pengharum ruangan akan mengusir hawa gigi dan tulisan dilarang merokok bisa ditempatkan di pintu masuk. h. i. j. Pisahkan kamar kecil dari ruang resepsi. Tulisan di tiap ruangan harus cukup besar agar bisa dibaca oleh semua pasien. Intensitas cahaya dan warna harus cukup untuk membaca.

43

4.

Desain Kantor Ruangan kerja harus sehat, santai dan meminimalisasi gangguan. Ruang kantor terletak di tengah, antara ruang resepsi dan ruang pemeriksaan gigi untuk memudahkan akses pasien dan memudahkan bagi resepsionis mengawasi aktivitas pasien di ruang resepsi. Faktor yang harus diperhatikan dalam desain ruang kantor adalah akses yang mudah, perencanaan ruang, kesehatan, keamanan dan keselamatan. Saran yang bisa dipertimbangkan : a. b. c. d. e. f. Asisten administrasi harus berada di depan ruang resepsi. Sediakan dua meja tinggi yang nyaman dan efisien. Sediakan ruanagan bagi pasien untuk mengisi formulir. Ruang kantor harus bisa melihat aktivitas pasien di ruang resepsi. Sistem interkom harus dilengkapi dengan telepon yang mudah dijangkau asisten. Kontrol pusat sistem musik, pemanasan, pendinginan dan pencahayaan harus berada di ruang kantor. g. h. Sediakan lemari untuk menyimpan arsip. Tempat kecil di bawah meja memudahkan untuk menyimpan benda penting seperti buku telepon. i. j. k. Laci untuk menyimpan dokumen disesuaikan dengan penggunaannya. Tempatkan laci sesuai kebutuhan. Ruangan kecil tambahan untuk menjawab panggilan pribadi dan melakukan percakapan pribadi dengan pasien.

44

2.11.2

Prinsip Waktu dan Pergerakan

Ketika memilih penempatan alat dan perabotan, waktu dan pergerakan menjadi pertimbangan penting. Waktu dan pergerakan berarti jumlah waktu yang dibutuhkan dan derajat pergerakan dalam melakukan tugas. Dokter gigi kadang menghabiskan waktunya di ruang kerja. Oleh karena itu, sebelum mendesain letak peralatan dan perabotan, staf harus menentukan pekerjaan yang paling sering dilakukan dan material yang sering digunakan. Kemudian mengklasifikasikannya berdasarkan tingkatannya. Untuk menciptakan pergerakan ekonomis harus mengeliminasi langkah yang tidak dibutuhkan, menyusun kembali peralatan, menata prosedur, menyederhanakan tugas dan mengevaluasi hasilnya. Dengan menjalankan prinsip waktu dan pergerakan ekonomis akan mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas. Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona kerja disekitar Dental Unit yang disebut Clock Concept. Bila kepala pasien dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang kepala pasien, maka arah jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone,arah jam 2 sampai jam 4 disebut Assistens Zone, arah jam 4 sampai jam 8 disebut TransferZone, kemudian dari arah jam 8 sampai jam 11 disebut Operators Zone sebagai tempatpergerakan Dokter Gigi

. Clock Concep (Nusanti, 2000)


45

Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat Gigi serta tidak terlihat oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien.Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi inidilengkapi dengan Semprotan Air/Angin dan Penghisap Ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap. Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi Selain pergerakan yang terjadi di seputar Dental chair.

2.11.3

Posisi Tubuh Posisi tubuh dokter maupun pasien sangan menentukan efektifitas kerja.Khusus

bagi dokter posisi kerja yang baik akan memberikan dampak yang baik bagi kinerja dan ketahanan kerja.Sedangkan bagi posisi yang baik pada pasien ,akan mempermudah akses dan visibilitas dokter gigi. 2.11.4 Pemilihan Peralatan Kerja Hendaknya seorang dokter gigi mempersiapkan secara matang macam-macam alat yang akan digunakan pada saat menangani pasien.Hal ini dilakukan agar efisiensi dan efektifitas kerja tetap terjaga.

46

2.12

Skenario

Dokter gigi Firo mungkin akan cukup berhasil dengan praktiknya karena daerah yang akan menjadi lokasi praktik dari dokter gigi Firo memiliki penduduk yang padat dan penduduk tersebut memiliki ekonomi menengah ke atas. Umumnya penduduk dengan ekonomi menengah ke atas peduli dengan kesehatan gigi dan mulut sehingga kebutuhan akan kesehatan gigi dan mulut meningkat pada daerah tersebut. Dokter gigi Firo mungkin akan mendapatkan saingan dari lima dokter gigi umum praktik swasta pribadi pada daerah tersebut. Oleh karena itu, agar tercipta praktik yang berhasil, selain diperlukannya profesionalisme yang tinggi dari dokter gigi Firo, dokter Firo juga memerlukan strategi pemasaran atau marketing yang baik.

47

DAFTAR PUSTAKA

Buchori. 2007. Manajemen Kesehatan Kerja dan Alat Pelindung Diri. USU Repository. Domer, Larry. 1980. Dental Practice Management, Concept and Application. London. The C.V. Mosby Company Ladley, Betty. 2006. Practice Management for The Dental Team. Canada: Mosby Elsevier. . 2007. Pedoman Penyelenggaraan Kedokteran Gigi Keluarga. Jakarta: Depkes Kode Etik Kedokteran Gigi. PDGI. 2008 UU Praktik Kedokteran no. 29 Tahun 2004 http://febricilla.blogspot.com/2011/02/sistem-pembiayaan-pelyanan-kesehatan.html http://www.facebook.com/note.php?note_id=150398508336515 .html dokter gigi onlie http://id.shvoong.com/business-management/management/1657108-segmentasipasar/#ixzz1LdPRphhq http:// c_dewi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/.../Analisis+Lingkungan.pd.html

48