Anda di halaman 1dari 19

10 KASUS MALPRAKTEK DUNIA MEDIS

Menurut Catatan, lebih dari 195.000 orang amerika meninggal karena malpraktik atau kesalahan Dokter dari 37 Juta catatan pasien setiap tahunnya. angka ini lebih tinggi daripada kecelakaan lalulintas darat laut dan udara, AIDS, Kanker digabungkan menjadi satu. Berikut catatan berbagai kasus malpraktek yang sempat saya rangkum dari berbagai sumber di internet. 01. Salah tanam Sperma

Ketika Nancy Andrews, dari Commack, NY, menjadi hamil setelah mengikuti program bayi tabung di sebuah klinik kesuburan di New York. mereka mereka mengharapakan anak yang lebih menarikdari orang tuanya.Setelah tes DNA yang disarankan dokter di klinik tersebut, maka pihak klinik kemudian secara sengaja menggunakan sperma orang lain untuk ditanamkan ke sel telur Nancy Andrews . Ketika bayi mereka lahir pada 19 Oktober 2004, mereka menuntut karena tindakan malpraktik yang dilakukan klinik tersebut. 02. Salah cangkok jantung dan paru-paru,

17 tahun, seorang imigran Meksiko,datang ke Amerika Serikat untuk mencari perawatan medis atas jantung dan paru-parunya. Kemudian ia menjalani transplantasi Jantung & paru-paru oleh Dokter Ahli Bedah Rumah Sakit di Universitas Duke di Durham, NC, Namun ia meninggal 2 minggu kemudian setelah menerima jantung dan paru-paru pasien dari golongan darah yang tidak cocok dengan dia. Santilln, yang memiliki jenis darah-O, telah menerima organ dari tipe donor A . Dokter di Duke University Medical Center gagal untuk memeriksa kompatibilitas sebelum operasi dimulai. Santilln meninggal pada operasi kedua yang dimaksudkan untuk mencoba memperbaiki kesalahan, dia menderita kerusakan otak dan komplikasi yang kemudian berakibat fatal.
Jsica Santilln seorang gadis berusia

03. Salah Ambil Testis

Kasus malpraktek lainnya dialami oleh Benjamin Houghton seorang veteran angkatan udara. Dokter melihat adanya gangguan pada testis sebelah kiri dan memutuskan untuk melakukan operasi untuk membuangnya. namun pada saat operasi dokter justru melakukan kesalahan dengan membuang testis sebelah kanan yang sehat. Pasien tersebut kemudian mengajukan ganti rugi sebesar Us$200.000 karena kesalahan fatal tersebut 04. Souvenir 13 Inch

Donald Church, 49 tahun, memiliki tumor di perut ketika ia tiba di Universitas Washington Medical Center di Seattle pada bulan Juni 2000. Ketika dia kembali, tumor sudah tidak ada namun sebuah logam retractor sepanjang 13 Inci ketinggalan didalam rongga perutnya. Untunglah, Dokter Ahli Bedah mampu mengangkat retractor tersebut segera setelah ditemukan, dan ia tidak mengalami kesehatan jangka panjang akibat dari kesalahan tersebut. Rumah sakit setuju untuk membayar ganti rugi sebesar US$ 97,000. 05.Operasi ....salah pasien!!

Joan Morris (nama samaran) adalah perempuan 67 tahun menjadi korban malpraktek yang sangat memalukan. ia yang seharusnya menjalani operasi otak justru jantungnya yang dibedah. Wanita tersebut sudah di meja operasi selama satu jam, dan dokter telah membuat torehan -torehan di dada, artery, alur dalam sebuah tabung dan snaked atas ke dalam hatinya (prosedur dengan risiko perdarahan, infeksi, serangan jantung dan stroke). namun tiba-tiba seorang dokter dari depatemen lain menelepon dan bertanya apa yang anda lakukan dengan pasien saya? tidak ada yang salah dengan jantungnya ! . dokter bedah

itupun memeriksa catatan medis pasien dan menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan yang fatal. 06.Mengoperasi otak di sisi yang salah

selama periode tahun 2007 dokter di RS Rhode Island tercata 3 kali melakukan malpraktek. kejadian pertama pada bulan Februari dimana dokter membuat lubang pada sisi kepala yang salah. kemudia Agustus, seorang pria 86 tahun meninggal tiga minggu setelah seorang ahli bedah di Rumah Sakit Rhode Island secara tidak sengaja melakukan operasi di salah satu sisi kepalanya. Untuk yang ketiga kalinya terjadi Nov 23 2007. perempuan 82-an tahun menjalani suatu operasi untuk menghentikan pendarahan otak dan tengkorak nya. J neurosurgeon di rumah sakit memulai mengoperasi pengeboran sisi sebelah kanan kepala pasien, meskipun sebuah CT scan menunjukkan perdarahan di sebelah kiri, 07. Membuang kaki yang salah

Mungkin ini adalah kasus yang paling terkenal yakni kasus kesalahan pemotongan kaki di Tampa (Florida) terhadap pria 52 tahun Willie King, saat prosedur pemotongan pada Februari 1995. Akibat kesalahan fatal rumah sakit tersebut di cabut licensi nya selama 6 bulan dan denda 10.000 US$ dan membayar 900.000 US$ terhadap Willie King dan terakhir tim operasi membayar juga 250.000 US$ terhadap King 08.membuang Ginjal yang sehat

seorang pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit Park Nicollet Metodhist Louis Park, Minnesota, karena memiliki tumor yang diyakini menjadi kanker. Namun, dokter salah mendiagnosa dan membuang ginjal yang sehatnya. Penemuan ini dilakukan pada hari berikutnya ketika diperiksa oleh tim patologi dan tidak menemukan bahwa ginjal yang diaggap berpotensi kanker, ternyata utuh dan berfungsi dengan baik. 09. Bangun ketika dioperasi

Pria dari Virginia Barat ini mengaku terbangun dari Pingsannya ketika dioperasi dan merasakan setiap sayatan dari pisau bedah yang dilakukan tim dokter yang mengoperasi. Hal ini menyebabkan trauma selama dua minggu kemudian, Sherman Sizemore kemudian mengajukan tuntutan ke Rumah Sakit Umum Raleigh Beckley, W.Va., Jan 19, 2006 untuk operasi penyelidikan dan menentukan penyebabnya ia terbangun. Dia dilaporkan mengalami fenomena yang dikenal sebagai kematirasaan kesadaran sebuah kondisi di mana seorang pasien bedah dapat merasakan sakit, tekanan atau kegelisahan saat operasi, tetapi tidak dapat bergerak atau berkomunikasi dengan dokter. 10.Salah bypass artery

Dua bulan setelah dua kali operasi bypass jantung yang dimaksudkan untuk menyelamatkan hidupnya, pelawak dan mantan Pembawa acara Saturday Night Live. Dana Carvey mendapat berita bahwa ahli bedah jantung telah mem bypassed artery yang salah. Perlu dilakukan operasi darurat untuk menghilangkan sumbatan yang dapat membunuh pria 45 tahun ini. Carvey membawa perkara terhadap rumah sakit tersebut, dengan mengatakan ahli bedah telah melakukan kesalahan fatal dan menuntut US $ 7,5 juta
Salah sperma

Ketika Nancy Andrews mendapati dirinya hamil karena pembuahan dengan prosedur bayi tabung di salah satu klinik kesuburan di New York, ia dan suaminya tentu mengharapkan lahirnya buah hati yang manis, ya setidaknya yang tak jauh beda dengan rupa mereka sebagai orang tua. Namun, siapa sangka bahwa bayi yang dilahirkan ternyata memiliki kulit yang jauh lebih gelap dari pasangan tersebut. Hasil tes DNA yang kemudian mereka lakukan mendapati bahwa para dokter di New York Medical Services for Reproductive Medicine telah keliru menggunakan sperma pria lain untuk membuahi sel telur Nancy. Meski 'salah bapak', namun untungnya pasangan ini bersedia membesarkan Baby Jessica seperti anak mereka sendiri. Meski begitu, pasangan ini tetap menuntut pihak klinik atas kelalaian yang

mereka lakukan. Salah donor

Tidak ada yang menyangka bahwa Jessica Santillan tidak bisa lagi menikmati keindahan dunia hingga masa tuanya. Gadis belasan tahun ini menghembuskan nafas terakhir 2 minggu setelah transplantasi jantung dan paru-paru dari donor yang ternyata tak memiliki kesamaan tipe darah dengannya. Para dokter di Duke University Medical Center terbukti gagal memeriksa sesuai-tidaknya golongan darah pendonor dan penerima sebelum operasi dimulai. Kerusakan otak dan komplikasi pun tak dapat dihindari sehingga membuat imigran Meksiko ini kehilangan nyawanya. Saat itu, Jessica sengaja datang ke Amerika Serikat 3 tahun sebelumnya untuk mencari pengobatan bagi kondisi jantungnya yang bermasalah. Gadis bergolongan darah O ini ternyata menerima donor organ dari seseorang bergolongan darah A. Ketidakcocokan tersebut menyebabkan Jessica jatuh koma, dan dia meninggal tak lama setelah percobaan mengembalikan organ lama mengalami kegagalan. Salah operasi Untuk ketiga kalinya dalam tahun yang sama, para dokter di Rhode Island Hospital melakukan kesalahan operasi pada pasiennya. Insiden terbaru terjadi 3 tahun silam, tepatnya tanggal 23 November 2007 saat seorang nenek berusia 80 tahun lebih harus menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan yang terjadi antara otak dan tengkoraknya. Ahli bedah di RS tersebut pun mulai mengebor kepala bagian kanan, padahal hasil CT scan menunjukkan bahwa pendarahan terjadi pada sisi kiri. Beruntung kesalahan ini segera diketahui sehingga langsung mendapat penanganan. Kasus serupa lain pernah terjadi pada dokter berbeda. Tragisnya, seorang kakek 86 tahun juga meninggal 3 minggu setelah mengalami kasus salah operasi serupa. (vem/meg)

Melanggar Disiplin Kedokteran, dr. Boyke Tidak Bisa Praktek Selama 6 Bulan
HL | 19 November 2011 | 13:38 aktual Dibaca: 2808 Komentar: 128 11 dari 16 Kompasianer menilai

Terhitung selama 6 bulan sejak tanggal 17 November 2011, Surat Tanda Registrasi (STR) dr. Boyke dicabut. Pihak Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) menyatakan, pencabutan STR tersebut disebabkan adanya pelanggaran disiplin kedokteran. Akibat dari pembekuan STR tadi, semestinya dr. Boyke tidak bisa praktek selama 6 bulan. (Sumber: DetikHealth) Dr Boyke sendiri sudah menjelaskan kronologisnya. Kejadiannya berawal di tahun 2008, seorang pasien datang ke kliniknya di daerah Tebet. Si pasien ini sudah kemana-mana mencari dr. Boyke dan akhirnya bertemu di Klinik Pasutri ini. Karena Klinik pasutri belum mengantungi izin praktek, maka dr. Boyke merujuk pasien tadi ke rumah sakit di kawasan Gandaria, Jakarta. Alasannya, di rumah sakit ini ada kerabat dr. Boyke, sehingga diharapkan dr. Boyke bisa mendampingi selama operasi berlangsung. Operasi yang dilakukan untuk pengangkatan kista, myom dan menangani perlengketan usus (karena sudah 2 kali operasi) dilakukan oleh tim dokter dari rumah sakit tersebut, dan dr. Boyke ikut mendampingi . Operasi berjalan dengan lancar dan tugas dr. Boyke sudah selesai mendampingi operasi tadi. Tidak diduga kondisi si pasien memburuk. Sebagai yang merujuk rumah sakit, dr. Boyke menyarankan untuk pindah ke RSPI, usus pasien tadi harus diangkat. Hingga kini kondisinya sudah sembuh dan sehat. Setelah 1,5 tahun kemudian, ternyata anak dari pasien tadi melaporkan kasus ini ke MKDKI, katanya untuk memberi pelajaran pada dr. Boyke supaya lebih care dalam menangani pasien. Menurut dr. Boyke, itu karena mungkin dulu dia sering pergi-pergi. Menurutnya juga, dia hanya merujuk saja dan yang operasi ada tim yang lain. Sebetulnya, menurut dr. Boyke, kesalahan terberat itu karena surat izin praktik di klinik Pasutri miliknya belum keluar, tapi ia sudah praktik. Lamanya keluar izin tadi disebabkan kebijakan Pemda DKI yang menyebut perumahan tidak boleh dijadikan tempat usaha/praktek. Akibat prosedur yang kepanjangan akhirnya dia lalai mengurus surat-surat tadi. Dan akhirnya setelah 3,5 tahun kasus ini bergulir, keluarlah keputusan dr Boyke direkomendasikan akan dibekukan STRnya.

ilustrasi/admin/shutterstock Pembekuan atau pencabutan surat izin dan atau surat registrasi memang tidak melulu disebabkan karena kasus malpraktek, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu di Medan, seorang dokter berinisial BB (58) yang akan dicabut izin prakteknya oleh IDI Medan karena kasus penjualan bayi. Bisa juga pembekuan atau pencabutan izin tadi disebabkan karena pelanggaran kedisiplinan, seperti dr. Boyke tadi. Adapun beberapa pelanggaran kedisiplinan ini termasuk diantaranya:

bersikap dan berperilaku buruk kurang berkomitmen terhadap kewajiban klinis memiliki masalah dalam hal kompetensi tidak jujur berkaitan dengan masalah seksual memiliki masalah komunikasi dengan sejawatnya

Apabila ada satu dari hal tadi dilakukan oleh dokter, atau dokter gigi, dapat dikenakan sanksi disiplin berupa peringatan tertulis, pencabutan izin registrasi dan SIP, atau kewajiban untuk mengikuti pendidikan kembali. Sedikit bercerita, teman saya mempunyai seorang adik yang paru-parunya terkena infeksi. Selama setahun lebih dia batuk dan setelah didiagnosa, paru-parunya berisi cairan dan harus disedot. Penyedotan yang pertama berlangsung di sebuah rumah sakit di luar kota dan sudah dapat mengurangi penderitaan si pasien. Air di paru-paru sudah terbuang. Beberapa bulan kemudian, kembali paru-parunya terisi air, sampai-sampai si pasien susah berjalan dikarenakan kakinya ikut membengkak. Menilik pengalaman pertama, si kakak membawa pasien tadi ke rumah sakit di kotanya. Rumah sakit tadi menolak dengan alasan tidak ada rujukan dari dokter untuk melakukan tindakan penyedotan. Akhirnya, si adik ditinggal dipulangkan ke rumah,

sementara kakaknya menuju ke dokter L (sebut saja begitu) yang dikenal ahli mengenai paruparu. di tempat praktek dokter L, permintaan rujukan tadi ditolak karena si pasien tidak dihadirkan. Maka si kakak kembali ke rumah untuk membawa adiknya ke dokter L. Sesampainya di tempat praktek dokter L, pasien yang sudah susah jalan tadi diminta menunggu antrian. Karena antrian panjang, si kakak meminta ijin untuk didahulukan. Tanpa disangka, dokter L tadi keluar ruang praktek dan berbicara dengan keras, didepan semua pasien yang ada. Intinya, dia menyatakan kalau si pasien tadi sudah tidak tertolong, umurnya cuma sebentar lagi. Jadi dia tidak mau mendahulukan si adik dan malah menyuruhnya pulang. Sangat disayangkan memang ucapan dokter tadi. Si kakak merasa tersinggung dan marah diperlakukan seperti itu. Mungkin benar kalau si pasien tadi sudah tak tertolong. Mungkin benar kalau semua usaha mereka akan sia-sia. Dan memang pada akhirnya si adik pun meninggal dunia. Adalah etika yang kemudian menjadikan hal ini sebagai suatu hal yang amat disayangkan terjadi. Perilaku buruk dari dokter tadi bisa dijadikan dasar pencabutan izinnya. Semoga kisah ini hanya segelintir kecil dari wajah kedokteran kita. Masih banyak prestasi dari kedokteran kita yang patut dibanggakan. Kasus Malpraktek Penyelesaian kasus malpraktek RS. X yang menimpa si A tak kunjung usai, meskipun sudah lebih dari enam bulan bergulir di Pengadilan Negeri M.

Kuasa hukum A , B menilai proses peradilan terhadap kasus malpraktek tersebut berlangsung lambat dan terdapat banyak ketidaksesuaian.

Gugatan sudah dilakukan sejak Juli 2009, namun hingga saat ini belum juga selesai karena banyak pelaksanaannya yang tidak sesuai, jelas B, di Jakarta, Kamis.

B menjelaskan dalam beberapa sidang sering terjadi keterlambatan dari pihak kuasa hukum tergugat yang menyebabkan saksi yang dihadirkan penggugat tidak dapat menunggu dan berdampak pada dibatalkannya sidang.

Bahkan, tambah B, dalam sidang terakhir Selasa (9/2) terjadi ketidaksesuaian hukum acara. Seharusnya saksi dari penggugat diselesaikan seluruhnya terlebih dahulu, tetapi kemarin justru dihadirkan saksi dari pihak tergugat,? ujar B.

Selain terdapat ketidaksesuaian dalam proses peradilan, Didit menilai ahli yang dihadirkan untuk memberikan keterangan tidak independen. Kedua ahli yang dihadirkan, yaitu Prof. Dr. D dan E. "Saksi menjelaskan bagaimana injeksi cemen tersebut seharusnya dilakukan, namun ia menjelaskannya dihubungkan dengan kondisi pasien," jelas B.

Menurutnya, ahli hanya berkompeten memberikan keterangan sesuai dengan keahliannya, bukan menambahkannya dengan informasi lain atau pun melakukan pembelaan.

Hingga saat ini sudah dilaksanakan 16 persidangan untuk menghadirkan saksi dan ahli. Aberharap kasus ini dapat bisa segera selesai. "Saya berharap kasus ini bisa cepat selesai karena ini bukan hanya masalah saya, tetapi menyangkut hak pasien dan konsumen Indonesia," jelas

Kasus ini bermula pada oktober 2005 ABS mengeluh sakit pada punggungnya dan berobat di RS. Siloam Internasional di Karawaci, Tanggeran. Berbagai pemeriksaan, seperti MRI pun dilakukan.

Kemudian dokter syaraf, Dr. F yang memeriksannya menyarankan untuk dilakukan ?injeksi cement?, yaitu menyuntikan kandungan tulang ke dalam tulang. Namun, yang terjadi adalah terjadi kegagalan dalam operasi tersebut.

"Setelah operasi saya sadar saya tidak bisa menggerakan tubuh kiri saya, dan ternyata yang melakukan suntikan tersebut bukan F, tetapi asistennya dokter G," jelas

A mengatakan, pihak rumah sakit atau pun dokter tidak memberitahukan sebelumnya bahwa ada pergantian dokter, padahal sebelum operasi dimulai dokter eka masih ada.

Alasannya dokter F. Padahal selama ini dia yang merawat, tetapi tiba-tiba dialihkan begitu saja ke asisten,?ujar ABS

Selain itu, B mengatakan dokter tidak memberitahukan resiko kegagalan suntik injeksi ini. "Pasien kan berhak tau segala kemungkinan yang bisa menimpanya. Ini pelanggaran hak konsumen," jelas B.

Bahkan, ia menambahkan pasien kesulitan mendapatkan rekam medis dari rumah sakit dengan alasan isi rekam medis tersebut milik rumah sakit dan tidak boleh dibawa keluar.

Kini, A harus berjalan dengan tongkat karena kaki kirinya lumpuh. Selain itu, pinggang kirinya sering sekali kram dan kaki kanan sering terasa terbakar. "Menurut dokter daya mengalami `brown sequard syndrome` semacam trauma dibagian tulang belakang," jelas abs.

Akibat malpraktik ini A mengalami banyak kerugian, ia tak lagi seproduktif dulu karena terhambat geraknya dan harus rutin melakukan terapi. "Saya sekarang lima kali seminngu terapi otot kaki agar sensor motoriknya bisa kembali dan otot tidak menjadi kecil," A.

Pembahasan Kasus Kasus Mal Pratek

Hal hal yang menjadi masalah dalam mal praktek di atas adalah : 1. 1. Tidak ada pemberitahuan pergantian petugas medis dalam penanganan pasien

2. 2. Tidak memberitahukan resiko kegagalan suntik ijeksi cement yaitu menyuntikan kandungan tulang kepada tulang. 3. 3. Kesulitan mendapatkan rekam medis rumah sakit dengan alasan isi rekam medis tersebut milik rumah sakit dan tidak boleh dibawa keluar. Dengan masalah masalah mal praktek di atas dapat di lihat dari sudut pandang : 1. Aspek Hukum pidana pasal pasal 360 KUHP yaitu Kelalaian yang menyebabkan seseorang luka berat dihukum dengan pidana penjara paling lama 5 tahun. karena pasien menderita kelumpuhan pada tubuh bagian kiri.

Melanggar Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan Bab V Standard Profesi Pasal 21, 22, 23

Melangar Undang Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan pasal 8, 24, 58

2. Aspek Kode Etik Pada perinsip etik di sebutkan Tidak merugikan (Nonmaleficience) artinya Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Kejujuran (Veracity) yang intinya memberikan informasi kepada klien tentang keadaan yang sedang di alaminya. . Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. 3. Aspek Disiplin Praktik SOP di kerjakan sesuai prosedure Melangar Standar profesi kerena seharusnya yang melakukan injeksi kepada pasien adalah dokter utama tetapi di berikan kepada pasienya tanpa memberi informasi kepada pasien Standar pelayanan adanya jaminan kesehatan pada klien.

KASUS MALPRAKTEK OBSERVASI

Mar 30, '08 7:55 AM for everyone

Pada tahun 1979 terjadi kasus malpraktek pada William Milligan. Awalnya William Milligan dituduh melakukan perampokan dan pemerkosaan atas tiga orang perempuan pada 1977. Sempat terjadi pro dan kontra mengenai kasus ini. Milligan sempat dimasukkan dalam Lima State Hospital for The Criminally Insane, atau dalam kata lain penjara orang-orang gila di kota Lima,

Amerika. Kepala psikiater disana yang bernama Dr.Frederick Milkie mendiagnosis berdasarkan DSM II (Diagnostic and Statistical Manual edisi kedua) bahwa Milligan mengalami skizofrenia dengan axis I 295.5 pseudopsikofasis skizofrenia, 303.2 kecanduan alcohol menurut riwayat, 304.6 ketergantungan obat stimulan menurut riwayat dan axis II 301.7 Kepribadian antisosial subtipe kasar. Ketika ditanya dalam sidang, Dr.Frederick Milkie mengatakan bahwa ia merawat Milligan dengan cara skillful neglect, yaitu dengan kemahiran mengabaikan dan dengan memberikan obat stellazine (obat anti-psikotik). Ternyata cara ini tidak memberikan kemajuan pada Milligan. Para psikiater lain menemukan bahwa Milligan bukan mengalami skizofrenia, tetapi Kepribadian ganda, yang disebut Multiple Personality Disorder (sekarang disebut Dissociative Personality Disorder). Dari kasus ini terlihat terjadinya malpraktek observasi oleh Dr. Frederick Milkie, dalam bidang psikiatri. Malpraktek dalam bidang ini dapat berdampak buruk karena dengan kesalahan observasi maka akan terjadi kesalahan diagnosis dan akhirnya kesalahan obat dan treatment seperti yang dialami Milligan.

ANALISA Kasus diatas dapat dikatakan merupakan malpraktek observasi karena kesalahan diagnosis yang terjadi disebabkan oleh observasi dari Dr.Frederick Milkie yang kurang seksama terhadap Milligan. Kekurangan-kekurangan dalam hal observasi dari Dr.Frederick Milkie ini menyebabkan terjadinya kesalahan diagnosis, seperti yang akan dijabarkan secara lebih mendalam dalam paragraph-paragraf berikutnya. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan diagnosis ini: Pertama, Dalam DSM IV TR (DSM terbaru untuk saat ini), khususnya pada bagian Diffrential Diagnosis untuk Dissociative Identity Disorder (kepribadian ganda), bahwa gangguan ini memiliki gejala yang mirip dengan skizorenia atau gangguan alam perasaan. Pada saat seseorang berpindah kepribadian, orang tersebut dapat dianggap mengalami delusi, yang mana delusi adalah gejala pada skizofrenia. Saat orang yang mengalami kepribadian ganda berkomunikasi dengan kepribadiannya yang lain, orang tersebut dapat dianggap mengalami halusinasi auditori yang merupakan gejala skizoprenia. Karena alasan tersebut, maka kesalahan diagnosis antara

kepribadian ganda dan skizoprenia secara umum mudah terjadi bahkan mungkin sering terjadi. Karena itu, untuk dapat membedakan kepribadian ganda dengan skizofren, tentu membutuhkan observasi yang lebih seksama dalam waktu yang lama. Perlu diingat, DSM IV-TR juga menuliskan bahwa factors that support a diagnosis of Dissociative Identity Disorder are the presence of clear-cut dissociative symptematologywith sudden shifts in identity states, the persistence and consistency of identity-specific demeanors and behaviors over time, reversible amnesia,(p. 529). Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa untuk mendiagnosis kepribadian ganda dan membedakan gangguan ini dari gangguan lain dibutuhkan waktu yang lama untuk melihat konsistensi karakter maupun pola tingkah lakunya. Kedua, Dr, Frederick Milkie mengatakan bahwa ia baru pernah melihat Milligan tiga kali, yaitu saat pertama kali Milligan dipindahkan ke bawah perawatannya pada 24 oktober 1979, saat meninjau ulang pada 30 oktober 1979, dan pada pagi sebelum sidang dimulai, yaitu tanggal 30 november 1979 (Keyes, 1982/2006). Observasi untuk menentukan diagnosis tentu tidak cukup hanya dengan melakukan observasi sebanyak tiga kali. Seperti yang dituliskan sebelumnya, untuk melihat seseorang mengalami kepribadian ganda dibutuhkan melihat konsistensi karakter dari waktu ke waktu, yang berarti butuh waktu yang lama dan jumlah pemeriksaan yang berulang-ulang. Jadi, malpraktek ini terjadi salah satunya karena jumlah waktu yang dilakukan untuk observasi cenderung terlalu sedikit. Ketiga, Dr. Frederick Milkie sendiri mengatakan bahwa ia tidak menerima definisi kepribadian ganda dalam DSM II (Keyes, 1982/2006). Dengan pandangan tersebut, maka tentu saja Dr. Frederick Milkie akan cenderung menghindari utnuk mendiagnosis seseorang mengalami kepribadian ganda. Fenomena ini biasa disebut dengan Accessibility, yaitu the extent to which schemas and concepts are at the forefront of peoples minds and are therefore likely to be used when making judgements about the social world (Aronson, Wilson, Akert, 2004). Dalam kata lain, suatu keputusan yang dibuat sangat dipengaruhi oleh apa yang dipercayai dan ada dalam skema seseorang. Dalam kasus ini, Dr. Frederick Milikie memiliki pandangan bahwa kepribadian ganda yang dituliskan dalam DSM II kurang tepat sehingga dengan sendirinya segala tingkah laku yang diobservasinya akan cenderung terlihat bebeda dari cirri-ciri kepribadian ganda. Subjektifitas Dr.Frederick Milkie ini juga dapat dilihat ketika ia menjelaskan gejala yang dilihatnya. Ia mengatakan bahwa gejala yang dialami Milligan adalah marah, panik, segalanya berjalan tidak sesuai denga keinginan Milligan sehingga kemarahan menguasai dirinya dan bertindak sesuai dorongan hati. Gejala ini mungkin bisa sedikit menjelaskan mengenai diagnosis kepribadian anti sosial yang dibuatnya, tetapi sama sekali tidak berhubungan dengan diagnosis skizofrenia, dimana diagnosis utama skizofrenia dibuat berdasarkan adanya delusi dan halusinasi.

malpraktek
KASUS MALPRAKTEK OBSERVASI Mar 30, '08 7:55 AM for everyone Pada tahun 1979 terjadi kasus malpraktek pada William Milligan. Awalnya William Milligan dituduh melakukan perampokan dan pemerkosaan atas tiga orang perempuan pada 1977. Sempat terjadi pro dan kontra mengenai kasus ini. Milligan sempat dimasukkan dalam Lima State Hospital for The Criminally Insane, atau dalam kata lain penjara orang-orang gila di kota Lima,

Amerika. Kepala psikiater disana yang bernama Dr.Frederick Milkie mendiagnosis berdasarkan DSM II (Diagnostic and Statistical Manual edisi kedua) bahwa Milligan mengalami skizofrenia dengan axis I 295.5 pseudopsikofasis skizofrenia, 303.2 kecanduan alcohol menurut riwayat, 304.6 ketergantungan obat stimulan menurut riwayat dan axis II 301.7 Kepribadian antisosial subtipe kasar. Ketika ditanya dalam sidang, Dr.Frederick Milkie mengatakan bahwa ia merawat Milligan dengan cara skillful neglect, yaitu dengan kemahiran mengabaikan dan dengan memberikan obat stellazine (obat anti-psikotik). Ternyata cara ini tidak memberikan kemajuan pada Milligan. Para psikiater lain menemukan bahwa Milligan bukan mengalami skizofrenia, tetapi Kepribadian ganda, yang disebut Multiple Personality Disorder (sekarang disebut Dissociative Personality Disorder). Dari kasus ini terlihat terjadinya malpraktek observasi oleh Dr. Frederick Milkie, dalam bidang psikiatri. Malpraktek dalam bidang ini dapat berdampak buruk karena dengan kesalahan observasi maka akan terjadi kesalahan diagnosis dan akhirnya kesalahan obat dan treatment seperti yang dialami Milligan. ANALISA Kasus diatas dapat dikatakan merupakan malpraktek observasi karena kesalahan diagnosis yang terjadi disebabkan oleh observasi dari Dr.Frederick Milkie yang kurang seksama terhadap Milligan. Kekurangankekurangan dalam hal observasi dari Dr.Frederick Milkie ini menyebabkan terjadinya kesalahan diagnosis, seperti yang akan dijabarkan secara lebih mendalam dalam paragraph-paragraf berikutnya. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan diagnosis ini: Pertama, Dalam DSM IV TR (DSM terbaru untuk saat ini), khususnya pada bagian Diffrential Diagnosis untuk Dissociative Identity Disorder (kepribadian ganda), bahwa gangguan ini memiliki gejala yang mirip dengan skizorenia atau gangguan alam perasaan. Pada saat seseorang berpindah kepribadian, orang tersebut dapat dianggap mengalami delusi, yang mana delusi adalah gejala pada skizofrenia. Saat orang yang mengalami kepribadian ganda berkomunikasi dengan kepribadiannya yang lain, orang tersebut dapat dianggap mengalami halusinasi auditori yang merupakan gejala skizoprenia. Karena alasan tersebut, maka kesalahan diagnosis antara kepribadian ganda dan skizoprenia secara umum mudah terjadi bahkan mungkin sering terjadi. Karena itu, untuk dapat membedakan kepribadian ganda dengan skizofren, tentu membutuhkan observasi yang lebih seksama dalam waktu yang lama. Perlu diingat, DSM IV-TR juga menuliskan bahwa factors that support a diagnosis of Dissociative Identity Disorder are the presence of clear-cut dissociative symptematologywith sudden shifts in identity states, the persistence and consistency of identity-specific demeanors and behaviors over time, reversible amnesia,(p. 529). Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa untuk mendiagnosis kepribadian ganda dan membedakan gangguan ini dari gangguan lain dibutuhkan waktu yang lama untuk melihat konsistensi karakter maupun pola tingkah lakunya. Kedua, Dr, Frederick Milkie mengatakan bahwa ia baru pernah melihat Milligan tiga kali, yaitu saat pertama kali Milligan dipindahkan ke bawah perawatannya pada 24 oktober 1979, saat meninjau ulang pada 30 oktober 1979, dan pada pagi sebelum sidang dimulai, yaitu tanggal 30 november 1979 (Keyes, 1982/2006). Observasi untuk menentukan diagnosis tentu tidak cukup hanya dengan melakukan observasi sebanyak tiga kali. Seperti yang dituliskan sebelumnya, untuk melihat seseorang mengalami kepribadian ganda dibutuhkan melihat konsistensi karakter dari waktu ke waktu, yang berarti butuh waktu yang lama dan jumlah pemeriksaan yang berulang-ulang. Jadi, malpraktek ini terjadi salah satunya karena jumlah waktu yang dilakukan untuk observasi cenderung terlalu sedikit. Ketiga, Dr. Frederick Milkie sendiri mengatakan bahwa ia tidak menerima definisi kepribadian ganda dalam DSM II (Keyes, 1982/2006). Dengan pandangan tersebut, maka tentu saja Dr. Frederick Milkie akan cenderung menghindari utnuk mendiagnosis seseorang mengalami kepribadian ganda. Fenomena ini biasa disebut dengan Accessibility, yaitu

the extent to which schemas and concepts are at the forefront of peoples minds and are therefore likely to be used when making judgements about the social world (Aronson, Wilson, Akert, 2004). Dalam kata lain, suatu keputusan yang dibuat sangat dipengaruhi oleh apa yang dipercayai dan ada dalam skema seseorang. Dalam kasus ini, Dr. Frederick Milikie memiliki pandangan bahwa kepribadian ganda yang dituliskan dalam DSM II kurang tepat sehingga dengan sendirinya segala tingkah laku yang diobservasinya akan cenderung terlihat bebeda dari cirri-ciri kepribadian ganda. Subjektifitas Dr.Frederick Milkie ini juga dapat dilihat ketika ia menjelaskan gejala yang dilihatnya. Ia mengatakan bahwa gejala yang dialami Milligan adalah marah, panik, segalanya berjalan tidak sesuai denga keinginan Milligan sehingga kemarahan menguasai dirinya dan bertindak sesuai dorongan hati. Gejala ini mungkin bisa sedikit menjelaskan mengenai diagnosis kepribadian anti sosial yang dibuatnya, tetapi sama sekali tidak berhubungan dengan diagnosis skizofrenia, dimana diagnosis utama skizofrenia dibuat berdasarkan adanya delusi dan halusinasi.

Pasien Dioperasi Tanpa Pemberitahuan Keluarga


24 hari sudah Nina Dwi Jayanti, putri pasangan Gunawan dan Suheni warga Jalan Perum Pucung Baru Blok D2 No.6 Kecamatan Kota Baru, Cikampek ini terbaring ditempat tidur Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Menurut cerita orangtuanya yang juga karyawan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo atau RSCM, Nina masuk ke rumah sakit pada tanggal 15 Februari 2009 lalu karena mengeluh tak bisa buang air besar. Setelah sampai di rumah sakit, dokter langsung memberikan obat untuk memperlancar buang air besarnya. Namun karena tak kunjung sembuh, dokter kemudian menebak sakit Nina kemungkinan karena menderita apendik atau usus buntu. Nina pun langsung dibedah dibagian ulu hati hingga dibawah puser, tapi anehnya, dokter yang menangani pembedahan tidak memberitahukan atau tidak minta ijin terlebih dahulu kepada orangtuanya, sebagai prosedur yang harus ditempuh dokter bila ingin melakukan tindakan operasi atau pembedahan. Ternyata setelah dibedah, dugaan bahwa Nina menderita usus buntu tidak terbukti. Dokter lalu membuat kesimpulan berdasarkan diagnosa, Nina menderita kebocoran kandung kemih. Nina kemudian dioperasi tapi juga tidak memberitahukan orangtuanya. Bekas-bekas operasi itu terlihat di perut Nina yang dijahit hingga 10 jahitan lebih. Kedua orangtua Nina hanya bisa pasrah dan minta pertanggungjawaban pihak Rumah Sakit RSCM atas kesehatan anaknya. Ayah Nina yang juga bekerja di RSCM ini akan mengadukan kasusnya ke Menteri Kesehatan dan siap dipecat dari pekerjaannya. (Endro Bawono/Sup)

Gara-Gara Malpraktek, Separuh Wajah Tumini Rusak

- Tumini harus menjalankan hari-harinya dengan kondisi setengah wajah rusak. Semua berawal pada 6 tahun silam, warga Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah itu semula merasa terganggu dengan jerawat di pipi kanannya sehingga ia berobat ke Rumah Sakit Wirasana Purbalingga. Setelah pemeriksaan, pihak rumah sakit langsung meminta agar jerawat tersebut segera dioperasi. Bukannya tambah membaik, bekas jahitan operasi lepas dan pipi Tumini jadi berlubang. Karena bertambah parah, akhirnya pihak Rumah Sakit Wirasana menganjurkan Tumini untuk berobat ke Rumah Sakit Sarjito Yogyakarta. Disana, ibu tiga anak itu harus menjalani operasi. Namun setelah dilakukan, lagi-lagi kondisi luka di wajah Tumini semakin parah, bahkan lubang di pipinya semakin lebar. Saking mengenaskannya, dari lubang tersebut bisa terlihat lidah Tumini. Kini Tumini hanya bisa pasrah menjalani hari-harinya. Karena kondisinya, ia hanya bisa makan bubur cair secara perlahan dan kerap mengalami kesulitan menelan. Tidak hanya itu, suaranya juga tak jelas lagi.(Nanang Anna Nurani/Sup)

Usus Terburai Pasca Operasi Kanker

- Setelah menjalani operasi kanker rahim, derita panjang tetap harus dialami Masriyah, warga Desa Pegejugan, Brebes, Jawa Tengah. Saat operasi yang berhasil mengangkat kanker rahimnya beberapa waktu lalu, dokter mengeluarkan usus dalam perutnya dan membiarkannya hingga kini. Keterbatasan fasilitas rumah sakit dijadikan dalih dokter yang menangani operasinya. Masriyah sepintas tampak sehat, namun ibu 3 anak ini harus rela menjalani hidup dengan usus besarnya terburai keluar. Penderitaannya berawal saat dirinya menjalani operasi kanker rahim di Rumah Sakit Dedi Jaya, Brebes Agustus lalu. Saat menjalani operasi, tim dokter berhasil mengangkat kanker rahimnya, namun tidak langsung mengembalikan ususnya. Dokter berdalih, ususnya akan dikembalikan ke kondisi semula pada tahap operasi selanjutnya, karena harus menunggu luka operasi bertambah mengering. Namun hingga tiga kali operasi, tetap saja dibiarkan ususnya terburai keluar. Dokter menyatakan, usus Masriyah tidak bisa dikembalikan karena keterbatasan peralatan di rumah sakit.

Jika buang air besar, tidak lagi melalui anus, namun melalui ususnya. Berat badannya pun kini terus merosot dan sering merasakan mual serta nyeri dibagian ususnya. Masriyah menduga dokter telah melakukan kesalahan saat operasi. Bahkan Masriyah mengaku diminta membayar 7,5 juta rupiah meski menggunakan kartu JPS Askin. Said Hasan menambahkan, Masriyah merupakan pasien dengan kartu Askin. Biaya sebesar 7,5 juta rupiah hanya untuk membayar obat-obatan maupun kelengkapan operasi yang tidak ditanggung dalam kartu Askin. (Kuncoro Wijayanto/Sup)

Bocah 3 Bulan Tewas, Diduga Korban Malpratek


- Seorang bayi berusia 3 bulan tewas setelah menjalani operasi kecil dibagian perutnya. Korban meninggal beberapa saat setelah menjalani operasi akibat terlalu banyak mengeluarkan darah. Suasana duka masih menyelimuti keluarga pasangan Uyung Amiyadi dan istrinya Yanti Nurhayati. Warga Tegal Munjul, Purwakarta ini baru saja kehilangan putra keduanya M Rizal Amiyadi yang tewas saat menjalani operasi di Rumah Sakit Efarina Etaham Purwakarta. Keluarga korban menduga, anak kedua mereka yang baru berusia 3 bulan meninggal akibat salah prosedur dalam penanganan operasi. Menurut keluarganya, korban yang sebelumnya didiagnosa menderita hermia dalam kondisi sehat dan siap untuk menjalani operasi. Namun karena buruknya pelayanan serta terjadinya kesalahan prosedur, korban akhirnya meninggal dunia. Bahkan keluarga korban menemukan sisa selang yang tertinggal di perut korban saat jasadnya dimandikan. Keluarga korban rencananya akan menuntut tim medis Rumah Sakit Efarina Etaham bertanggungjawab atas kematian anaknya. Pasalnya keluarga korban menemukan sejumlah kejanggalan dalam penanganan korban. Sementara itu pihak rumah sakit mengakui, pasien yang ditanganinya meninggal beberapa saat setelah menjalani operasi. Pasca operasi kecil terjadi kondisi tidak terduga yang menimpa pasien. Sayangnya pihak rumah sakit tidak bersedia menjelaskan kondisi yang disebutnya tidak terduga itu. Menanggapi tudingan keluarga korban adanya dugaan terjadinya malpraktik, pihak rumah sakit meminta keluarga korban untuk menunggu hasil rapat tim medis yang sebelumnya melakukan operasi. Mereka bertanggungjawab sepenuhnya atas tindakan yang dilakukan tim medis rumah sakit.