Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Sejarah dan Peranan Pemikiran dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Filsafat

Barat

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Ilmu atau Sains merupakan komponen terbesar yang diajarkan dalam semua strata pendidikan. Walaupun telah bertahun-tahun mempelajari ilmu, pengetahuan ilmiah tidak digunakan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu dan teknologi telah kehilangan rohnya yang fundamental, karena ilmu telah mengurangi bahkan menghilangkan peran manusia, dan bahkan tanpa disadari manusia telah menjadi budak ilmu dan teknologi. Ilmu dianggap sebagai hafalan saja, bukan sebagai pengetahuan yang mendeskripsikan, menjelaskan, mendeskripsikan gejala alam untuk kesejahteraan dan kenyamanan hidup. Kini ilmu telah tercerabut dari nilai luhur ilmu, yaitu untuk menyejahterakan manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu dan teknologi menjadi bencana bagi kehidupan manusia, seperti pemanasan global dan dehumanisasi. Oleh karena itu, filsafat ilmu mencoba mengembalikan roh dan nilai luhur dari ilmu, agar ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan manusia. Filsafat ilmu akan mempertegas bahwa ilmu dan teknologi adalah instrument dalam mencapai kesejahteraan bukan tujuan. Filsafat ilmu diberikan sebagai pengetahuan bagi orang yang ingin mendalami

hakikat ilmu dan kaitannya dengan pengetahuan lainnya. Bahan yang diberikan tidak ditujukan untuk menjadi ahli filsafat. Dalam masyarakat religious, ilmu dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan. Manusia diberi daya fikir oleh Tuhan, dan dengan dayar fikir inilah manusia menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi. Pengaruh agama yang kaku dan dogmatis kadangkala menghambat perkembangan ilmu. Oleh karenanya diperlukan kecerdasan dan kejelian dalam memahami kebenaran ilmiah dengan system nilai dalam agama, agar keduanya tidak saling bertentangan. Dalam filsafat ilmu, ilmu akan dijelaskan secara filosofis dan akademis sehingga ilmu dan teknologi tidak dapat tercerabut dari nilai agama, kemanusiaan dan lingkungan. Dengan demikian filsafat ilmu akan memberikan nilai dan orientasi yang jelas bagi setiap ilmu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Filsafat, Ilmu dan Ilmu Pengetahuan Mendefinisikan filsafat bukanlah termasuk hal yang mudah, karena filsafat merupakan sebuah pengetahuan yang radikal dan tanpa batas. Meskipun demikian, karena salah satu kerja filsafat adalah memberikan batasan, maka dengan terpaksa ia pun harus dibatasi. Menurut Sutarjo A. Wiramiharja, filsafat dapat diartikan dengan pengetahuan tentang cara berpikir terhadap segala sesuatu. Juhaya S. Praja mengatakan bahwa arti yang sangat formal dari filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi. Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa kritisnya filsafat adalah kritis dalam arti bahwa filsafat tidak pernah merasa puas, tidak pernah menganggap sesuatu telah selesai dan senang membuka kembali perdebatan. Sifat kritis filsafat ditunjukkan dengan 3 macam pendekatan dalam filsafat, yakni pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa, filsafat adalah pengetahuan tentang berpikir kritis sistematis; pengetahuan tentang pemahaman universal terhadap semua persoalan; dan pengetahuan tentang kebenaran pemikiran yang tanpa batas dan masalah yang tidak pernah tuntas. Adapun ilmu merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa arab yakni alima yang berarti mengetahui. Sedangkan dalam bahasa inggris ilmu dikenal dengan istilah science, yang berasal dari bahasa latin yaitu scientia (pengetahuan) atau scire (mengetahui). Sedangkan dalam bahasa yunani dikenal dengan sebutan episteme.

Dalam kamus bahasa Indonesia ilmu merupakan suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metodemetode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu. Sedangkan definisi ilmu dalam Encyclopedia Americana, adalah pengetahuan yang bersifat positif dan sistematis. Paul Freedman dalam The Principles of Scientific Research mendefinisikan ilmu sebagai bentuk aktivitas manusia dengan melakukannya manusia memperoleh suatu pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan cermat tentang alam dimasa lampau, sekarang dan kemudian hari, serta suatu kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya dan mengubah lingkungannya serta mengubah sifat-sifatnya sendiri. S. Hornby mengartikan ilmu sebagai susunan atau kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta. Sedangkan pengetahuan itu sendiri dalam Encyclopedia of

Phylosophy didefinisikan sebagai knowledge is justified true belief (kepercayaan yang benar). Sedangkan menurut Sidi Gazalba pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. Pengetahuan merupakan terminology generic yang mencakup seluruh hal yang diketahui manusia. Dengan demikian pengetahuan merupakan

kemampuan manusia seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pengamatan dan intuisi yang mampu menangkap alam dan kehidupannya serta mengabstrasikannya untuk mencapai suatu tujuan. Dari definisi ilmu dan pengetahuan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang metodis, sistematis, koheren tentang suatu bidang tertentu atas realitas/ kenyataan. Ia membantu manusia dalam mengorientasikan dirinya dalam dunia. Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan jika mempunyai

ciri, tanda dan syarat-syarat tertentu, yakni sistematik, rasional, empiris, eksperimental, umum dan kumulatif.

B. Perkembangan dan Peran Filsafat Barat terhadap Ilmu Pengetahuan Menurut catatan sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Mitos adalah pencerahan masyarakat yang hidup pada masa lalu dalam menemukan jawaban-jawaban atas masalah yang disebabkan oleh situasi dan kondisi alam. Murtadho Muthahari mengatakan bahwa pandangan manusia tentang berbagai gejala alam merupakan jawaban yang cerdas sesuai dengan kapasitasnya, tetapi kemudian semua jawaban itu oleh manusia modern disebut sebagai realitas kebodohan dan cara berpikir primitf. Meskipun demikian, dunia mitos yunani kuno berhasil melahirkan sejumlah filosof yang tingkat pengaruhnya belum terkalahkan. Filosof yunani setingkat Socrates, Plato dan Aristoteles merupakan trio filosof besar yunani pada abad ke-6 sampai abad ke-4 SM merupakan titk kunci pemikiran filosof dan saintis modern. Hampir tak satu pun kajian ilmiah yang ditemukan manusia modern tanpa merujuk tiga tokoh ini. Corak pemikiran mereka yang dialektik, spekulatif, imajinatif, radikal dan sistematik dalam persoalan tentang ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman, telah menobatkan mereka sebagai sosok pemikir yang agung.

Gerakan demitologi yang dilakukan Socrates, Plato dan Aristoteles telah menjadikan filsafat mampu mencapai perkembangan yang mencengangkan. Sejak itu filsafat yang bercorak mitologis berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang praktis dan mulai menjarak dengan aspek-aspek mistik. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Aristoteles bahwa filsafat merupakan aktivitas aktivitas pemikiran rasional yang yang dapat dapat

dipertanggungjawabkan.

Sebagai

dipertanggungjawabkan, ilmu harus bebas dari ikatan keyakinan dan bebas dari doktrin dan pemahaman yang kaku. Keberanian Aristoteles dalam dunia pemikiran empiris dan rasional ini telah dipuja ilmuwan barat modern sebagai pemikiran yang sulit ditemukan kesalahannya. Mereka merasa kesulitan untuk meyakini bahwa pemikiran aristoteles mengandung kelemahan dan kesalahan, meskipun ia sendiri tidak pernah mengklaim bahwa pemikirannya merupakan teori yang selalu benar. Sikap berlebihan ini memang tidak selamanya salah. Sebab, Aristoteles merupakan filosof pertama yang membagi ilmu pada 2 wilayah yang praksis. Kedua ilmu itu disebutnya sebagai ilmu pengetahuan poietis (terapan) dan ilmu pengetahuan praktis (dalam arti normative seperti etika dan politik), selain tentu yang dimaksudkannya itu ilmu pengetahuan teoritis. Dari dua cabang bentuk pengetahuan itu, ia membagi lagi menjadi ilmu alam, ilmu pasti dan filsafat pertama yang disebut metafisika. Pengaruh tradisi empiris-rasional yang telah dibangun Aristoteles dan diawali oleh guru-gurunya, telah mengubah dunia mistik menjadi dunia ilmu. Namun ternyata proses ini tidak bertahan lama. Pasca kematian Aristoteles, filsafat yunani kuno kembali menjadi praksis bahkan mistis. Hal ini terlihat dari ajaran stoa, epicurus dan plotinus. Pada saat ini keharusan filsafat dan ilmu untuk mengabdi pada agama menjadi semakin

tampak dan nyata. Filsafat lebih menjadi bercorak teologis dan ideologis (tertutup) jika dibandingkan dengan corak sebelumnya yang ilmiah. Pada saat ini, ilmu pengetahuan dihubungkan dengan kitab suci umat Kristen dalam bentuk hubungan history of scientific progress (sejarah perkembangan ilmu), bukan pada social psychology-nya sehingga elastisitas ilmu pengetahuan menjadi tidak tampak. Bentuk hubungan seperti yang diperagakan masyarakat Kristen dicatat sejarah telah melahirkan sejumlah kerugian, diantaranya adalah terjadinya pertentangan antara kajian keilmuan dengan kajian keagamaan sehingga perkembangan ilmu menjadi ilmu pengetahuan adalah upaya untuk menentang doktrin agama dan ilmuwan adalah para penentang agama yang harus disingkirkan. Kondisi seperti ini telah menyebabkan hilangnya tradisi agung yunani yang kritis sekaligus dialektika. Sebagian besar pengikut ajaran Kristen yang fanatic tumbuh menjadi penentang yang kuat terhadap perkembangan empiris-rasional yang dibangun oleh filosof awal yunani, sehingga masyarakat dunia kembali gandrung pada wacana mitologis. Pada zaman patristic dan pertengahan (200M-1600M) merupakan zaman dimana filsafat begitu erat, bahkan berada di bawah naungan agama. Pada masa ini terdapat dua pendirian yang berlawanan yakni berdasarkan agama Kristen dan berdasarkan filsafat yunani yang dianggap sebagai kebudayaan kafir. Abad pertengahan ini dibagi menjadi dua zaman yakni zaman patristic dan zaman skolastik. Zaman keemasan patristic meliputi yunani dan latin. Di yunani, zaman keemasan terbangun setelah kaisar konstantinus agung

mengeluarkan Edil Milano yang melindungi warganya untuk menganut agama Kristen. Sebelumnya, gereja mengalami penindasan di bawah penguasa romawi. 3 bapak gereja yang penting untuk dikenal mewakili

pemikiran pada masa ini adalah Gregorius, Basilus dan Gregorius (adik basilus). Pada dasarnya mereka menggunakan neo-platonisme, namun mereka menolak disebut platonisme yang sangat merendahkan materi. Zaman keemasan patristic latin terjadi pada abad ke-4 dengan munculnya Agustinus yang dinilai menjadi pemikir besar untuk seluruh zaman patristic. Adapun kekuatan dan kelemahan pemikirannya adalah bahwa pemikiran merupakan integrasi dan teologi Kristen dan pemikiran filsafatinya. Ia tidak sepaham dengan pemahaman yang mengatakan bahwa filsafat itu otonom atau lepas dari iman kristiani. Sedangkan zaman keemasan skolastik terjadi pada abad ke-13. Pada masa ini filsafat tetap dipelajari meskipun tidak secara mandiri, filsafat dipelajari dalam hubungannya dengan teologi. Abad ini ditandai dengan 3 hal penting : (1) Berdirinya universitas-universitas, (2) Munculnya ordoordo kebiaraan baru (Fransiskan dan Dominikan), (3) Diketemukannya filsafat Yunani, melalui komentar Ibn Rushd, yang dipelajari dan dikritik dan diteliti dengan cermat oleh Thomas Aquinas (1225-1274M). Filsafat abad pertengahan diakhiri oleh Nicolaus Cosanus (14011464). Ia membedakan 3 macam pengenalan yakni panca indra, rasio dan intuisi. Pengenalan indrawi kurang sempurna, sedangkan rasio

membentuk konsep berdasarkan pengenalan indrawi. Adapun aktivitasnya dikuasai prinsip nonkontradiksi (tidak mungkin sesuatu ada dan tidak ada). Dan dengan menggunakan intuisi manusia dapat mencapai sesuatu yang tak terhingga. Setelah masa yunani sedemikian rupa, muncul dan bangkitlah masa renaissance. Sementara ilmu pengetahuan arab dalam kemunduran, eropa mulai menggeliat dari tidurnya menyaksikan kecemerlangan islam. Sejarah keilmuan lebih berkembang mulai abad ke-14 dan 15 melalui ekspedisi-ekspedisi besar, seperti ekspedisi Vasco De Gama ke India

Timur. Tokoh-tokoh renaissance seperti Francis Bacon, Descartes, Newton, Kepler, Nicolaus, Galileo dan lainnya mempercepat kemajuan pengetahuan ilmiah. Bahkan Bertrand Russell menyatakan bahwa Copernicus, Kepler, Galileo, dan Newton adalah 4 orang besar yang sangat menonjol keahliannya dalam menciptakan ilmu pengetahuan. Francis Bacon adalah seorang filosof besar pertama yang menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat dapat mengubah dunia. Menurut Bertrand Russell, francis bacon merupakan peletak dasar metode induktif modern dan seorang pioneer percobaan sistematisasi logika dalam menyusun teori keilmuan. Zaman renaissance merupakan zaman kelahiran kembali kebudayaan klasik, yaitu kebudayaan yunani dan romawi. Pada masa ini perguruan tinggi bertambah banyak dan cabang-cabang keilmuan berlipat ganda. Dalam tempo yang relative singkat telah mencapai zaman modern. Sebagian orang menganggap bahwa periode modern hanyalah perluasan periode renaissance. Bertrand Russell menyatakan bahwa dalm sejarah, sebuah masa secara umum dapat dinyatakan sebagai masa modern dengan adanya perubahan mental yang menunjukkan adanya perbedaan bila dibanding dengan abad pertengahan. Perbedaan itu tampak pada 2 hal yakni berkurangnya cengkeraman kekuasaan gereja dan bertambah kuatnya otoritas ilmu pengetahuan. Founding Father filsafat modern adalah Michelde Montaigne (15332592). Ia merupakan seorang moralis yang mewarisi sekeptisi pendahulunya dan meragukan indra atau pun akal budi. Dalam ilmu pengetahuan pendapatnya terangkum dalam perumusan bahwa ide manusia itu berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya, juga menurut zamannya.

Filsafat modern dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu; 1. Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme. 2. Dialektika, Idealisme, Dialektika Materialisme. 3. Fenomenologi dan Eksistensialisme. 4. Filsafat Kontemporer dan Pasca Modernisme. Pemikir empirisme dan kaum rasionalis yakni Jhon Locke, Berkeley dan Hume berpendapat bahwa dasar pengetahuan itu adalah sensasi yang berasal dari rangsangan-rangsangan yang berdasar pada pengalaman. Hal yang paling penting adalah bahwa ilmu pengetahuan itu harus berkembang karena perkembangan tidak dapat ditolak. Bukan apriori yang dituntut oleh ilmu pengetahuan melainkan aposteriori atau setelah pengalaman. Imanuel Kant berpendapat bahwa dalam kritisisme, ilmu pengetahuan harus memiliki kepastian sehingga rasionalisme adalah benar. Ia juga membenarkan pendapat kaum empiris. Ia mengajukan sintesis apriori sebagai sarat untuk ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berasal dari dua hal yakni bahan yang di dapat dari luar atau disebut das ding an sich, dan pengolahan sintesis dari diri sendiri atau das ding fuermich. Muncul juga aliran dialektika idealism dan dialektika materialism yang merupakan hasil pemikiran George Wilhelm Friedrich Hegel (17701831) yang berorientasi pada ilmu sejarah, ilmu alam dan ilmu hukum. Pada awalnya pendiriannya tidak berbeda dengan gurunya yakni Schelling (1775-1854), tapi semakin lama pendiriannya berbeda dengan Schelling bahkan lebih popular dikemudian hari. Diantara pandangan penting Hegel adalah dalilnya yang menyatakan bahwa segenap realitas bersifat rasional dan yang rasional bersifat nyata. Dengan pernyataan ini dia membantah pendapat filsafat dan kepercayaan Jerman yang disebut Romantika yang mengutamakan perasaan. Hal lain yang dianggap penting adalah metode

dialektikanya, yaitu usaha mendamaikan, mengompromikan 2 pendapat atau lebjh atau keadaan yang bertentangan menjadi sebuah satu kesatuan. Ada tiga fase dalam dialektika yaitu tesis, antithesis dan fase yang ketiga adalah aufgehoben yang mendamaikan 2 fase sebelumnya. Ketiga fase ini disebut sintesis, contoh : anak menjadi sintesis dari ibu dan bapak, demokrasi konstitusional menjadi sintesis dari dictator dan anarki menjadi merupakan sintesis dari ada dan tiada. Hegel membagi filsafat menjadi 3 bagian yaitu logika, filsafat alam dan filsafat roh. Hegel merupakan symbol dari idealism Jerman yang didukung oleh Arthur Schopenhauer. Penerus filsafat hegel yang pertama adalah Ludwig Feuerbach (18041872), ia mampu memberikan kritikan yang tajam atas pemikiran hegel yang dipandangnya sebagai puncak rasionalisme modern. Menurutnya, dalam irrasionalisme selalu ada suasana religious sehingga pengenalan indrawi kurang mendapat penghargaan yang semestinya. Ia berpendapat bahwa adanya agama merupakan gambaran keinginan manusia yang timbul dari penderitaannya di dunia. Manusia mengangankan sesuatu diluar dunia, seperti suasana yang tenteram, sempurna dan bahagia itu adalah Allah. Teologi harus diubah menjadi antropologi. Kultur dan ilmu pengetahuan mampu membangun dunia yang bahagia. Selanjutnya, Karl Marx (1818-1883), ia dianggap sebagai exponent filsafat materialism. Setelah mengenal filsafat Hegel, ia menjadi exponent Hegelian kiri, ia belajar hukum. Pikiran-pikirannya extreme sehingga masyarakat dan pemerintah tidak mudah menerimanya, sampai akhirnya dia harus berpindah-pindah kota. Tentang dielektikannya Marx

berpendapat bahwa segala sesuatu yang bersifat rohani merupakan hasil dari materi. Hal itu berarti bahwa bukan roh yang mendahului, melainkan materi sehingga sesuai dengan pendapat Feurbach, ia mengajukan

pemikiran materialism dialektis. Materialisme dialektis menganggap, bahwa perubahan kuantitas dapat membuat perubahan kualitas. Sebagai ideologi politik materialism ini berkembang dinegara-negara yang karenanya menjadi komunis seperti Uni Soviet dan RRC. Pada tahun 1800-1950M muncul aliran baru dalam filsafat yang dikenal dengan sebutan Fenomenologisme dan Eksistensialisme. Para ahli lebih mengartikan fenomenologi sebagai suatu metode dalam mengamati, memahami, mengartikan dan memaknai sesuatu sebagai pendirian atau suatu aliran filsafat. Sedangkan eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala hal berpangkal pada eksistensinya. Setelah masa modernisme, datanglah masa pasca modernisme yang dimulai pada tahun 1950. Hal terpenting dalam memahami pasca modernisme adalah pemakaian atas tiga pengertian yang berbeda, yaitu : 1. Pascamodernitas yaitu suatu era yang menampilkan ketidakpercayaan atas mumpuninya pengetahuan dan penelitian ilmiah. 2. Pascamodernisme merupakan ekspresi cultural dimana terjadi penjabaran antara realitas dan fiksi oleh media. 3. Pemikiran pascamodern adalah pemikiran yang mengganti konsepsi ketidakbergantungan realitas dari peneliti dengan ide-ide tentang bahasa sebagai hal yang sebenarnya mengandung struktur realitas sosial yang perspektial. Namun pada dasarnya, pascamodern merupakan sangkalan atas beberapa keyakinan abad modern, khususnya menyangkut filsafat (epistemology), ilmu pengetahuan dan nasionalitas. Pada intinya pasca modernis meyakini bahwa realitas diciptakan manusia dan kelompok orang dalam berbagai konteks pribadi, historis, dan cultural. Hal ini bersifat kontras dengan keyakinan modernis bahwa kenyataan merupakan beberapa kebenaran yang abadi dan ditemukan melalui pengalaman, nalar yang tidak biasa atau metode ilmiah.

Pascamodernisme memiliki banyak kesamaan dengan romantisme, eksistensialisme, aspek-aspek psikologi humanistiknya James, bahkan kelompok filsafat sofis yang berpendapat bahwa, tidak hanya terdapat satu kebenaran, kebenaran-kebenaran itu berkaitan dengan pengalaman individual. Sumbangan pascamodern terhadap sofis, skeptis, romantis, eksistensialis dan psikologi humanistic adalah keyakinan terhadap kebenaran yang selalu bersifat relative secara cultural, kelompok atau perspektif personal.

C. Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, philosophia meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans,1982). Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara ilmu dan pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut. Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar-

bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalinmenjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan. Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F. Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya Knowledge is Power, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis. Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk, 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The

Liang Gie, 1999) menyebut filsafat dari ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences). Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan a higher level of knowledge, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontology, epistemologi dan aksiologi. Hal ini di dukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukka oleh ilmu. Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah. Lebih jauh, Jujun S. Suriasumantri (1982:22), dengan meminjam pemikiran Will Durant- menjelaskan antara ilmu dengan filsafat dengan mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang berhasil merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan,

menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Untuk melihat hubungan antara filsafat dan ilmu, ada baiknya kita lihat pada perbandingan antara ilmu dan filsafat dalam bagan di bawah ini, (disarikan dari Drs. Agraha Suhandi, 1992).

Ilmu
Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti

Filsafat
Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan. Keseluruhan yang ada Menilai obyek renungan dengan suatu makna, misalkan religi, kesusilaan, keadilan, dsb. Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu

Obyek penelitian yang terbatas Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai tertentu Bertugas memberikan jawaban

D. Penutup Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan semangat masa dimana kita hidup melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menempatkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan-jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menopang dunia baru, mencetak manusiamanusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan nasional, rasial dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita-cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Adapun keilmuan barat, merupakan ilmu yang memiliki corak, sifat dan karakter yang sekuler. Sebab, ilmu modern sebenarnya lahir dari sikap

antitetik terhadap rancang bangun keilmuan Kristen yang menempatkan gereja sebagai pusat kajian berbagai bidang. Lahirnya keilmuan barat yang bersifat sekuler ini, telah menyebabkan ilmu berkembang dalam percepatan teknologi yang tinggi, namun sekaligus menghilangkan nilainilai spiritual, bahkan ilmu cenderung atheistic. Sikap ini muncul karena epistemology keilmuan barat cenderung pada basis epistemology kealaman, dimana kebenaran dilandaskan pada corak teleleologis yang natural, dinamik, teratur, runtut dan dapat dibuktikan secara empirikrasional. Ilmu alam dianggap sebagai sesuatu yang sangat akurat dan dapat dibuktikan secara empiris yang nilai benarnya harus dibenarkan secara factual. Revolusi ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para ilmuwan dan para filosof barat modern, terus berkembang. Perkembangan ini semakin memperlihatkan hasil yang maksimal, terutama ketika Einstein merombak kerangka filsafat Newton yang sudah mapan melalui teori quantumnya. Teori ini telah mengubah persepsi dunia ilmu tentang sifat-sifat dasar dan perilaku materi sedemikian rupa, sehingga para pakar dapat melanjutkan penelitiannya. Melalui karya Einstein ini, manusia modern dapat mengembangkan ilmu dasar, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi dan molekuler yang pada tahap tertentu telah dibangun di yunani dan dunia islam, menjadi ilmu pengetahuan yang demikian luas dan mendalam, dan tidak hanya mengglobalkan dunia, tetapi juga telah melahirkan revolusi besar, dalam berbagai tatanan sistem kehidupan.

Daftar Pustaka 1. Filsafat Ilmu Drs. Atang Abdul Hakim. MA. Drs.Beni Ahmad Saibani, M.Si. Pustaka Setia. Bandung. 2. Makalah filsafat ilmu pengetahuan Dr. Slamet Ibarahim, S.DEA. Apt. Dosen Farmasi ITB 2008 3. Artikel hubungan antara filsafat dengan ilmu, Ahmad Sudrajat 4. Artikel ilmu pengetahuan, H. Mumuh M. Zakaria