Anda di halaman 1dari 5

RESUME TAK CHAPTER 13 BEHAVIORAL ACCOUNTING RESEARCH

Adabina Cindina Prasetya Bhagasnara Dewanto Satriaputra

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 2012

Chapter 13 Behavioral Accounting Research


BAR didefinisikan sebagai : studi mengenai perilaku para non akuntan ketika mereka dipengaruhi oleh fungsi dan laporan akuntansi. BAR bisa dikatagorikan riset positif dalam hal ingin menemukan fakta. BAR bersumber dari psikologi, sosiologi, teori organisasi, dan umumnya tidak membuat asumsi bagaimana perilaku manusia akan tetapi tujuannya adalah untuk menemukan alasan manusia berperilaku seperti adanya. Dalam bab ini berfokus pada informasi yang terdapat dalam laporan keuangan untuk pengguna eksternal perusahaan. BAR tipe ini diketahui sebagai tipe Human Judgement Theory (HJT) atau Human Information Processing (HIP). Tujuan dasar HJT adalah untuk mendeskripsikan cara orang dalam menggunakan dan memproses segala informasi tentang akuntansi dan lainnya dalam konteks pengambilan keputusan. Meskipun the Brunswik Lens model sudah mendominasi dalam hal metode pengambilan keputusan ada juga dua pendekatan utama dalam research. Salah satunya process tracing, yaitu upaya untuk membangun sebuah representasi pohon keputusan penilaian seseorang. Dan yang lainnya adalah probabilistic judgement dimana proses keputusan digambarkan sebagai probabilitas pernyataan berdasar Bayes Theory.

Brunswik Lens Model Model ini sudah digunakan sebagai analytical framework dan dasar dari kebanyakan studi yang melibatkan prediksi dan evaluasi. Model ini digunakan untuk menganalisis hubungan antara berbagai petunjuk dengan pengambilan keputusan, penilaian atau prediksi, dengan melihat keteraturan respon atas petunjuk tersebut. Pembuat keputusan digambarkan melihat berbagai petunjuk dan potongan informasi, yang kemudian terkait dengan kejadian tertentu, dengan tujuan mencapai keputusan atau kesimpulan tentang kejadian tersebut. Secara umum, penggunaan Brunswik model membawa kita pada hal-hal berikut: Pola cues yang digunakan dalam berbagai kondisi Bobot yang diberikan decision maker pada setiap cues

Relative accuracy dari prediksi dan evaluasi yang dilakukan decision maker dari berbagai tingkat keahlian Keadaan dimana expert system dapat mengungguli kinerja manusia Stabilitas atau konsistensi dari penilaian manusia dari waktu ke waktu. Tingkat pemahaman decision maker yang berbeda dalam penggunaan data Tingkat kemufakatan yang ditunjukkan dari berbagai pekerjaan yang membutuhkan kerja tim

Proses Tracing Method Decision model yang bersumber dari Brunswik lens model memiliki prediksi power yang sangat kuat. Lens model terbukti menjadi predictor yang lebih baik dibanding manusia pembuat model itu sendiri. Hal ini karena lens model mengeliminasi keadaan seperti kelelahan atau kurang kosentrasi yang terjadi pada manusia. Namun kekurangan utamanya adalah lens model ini secara implisit mengasumsikan bahwa manusia dapat memproses semua informasi secara bersamaan. Namun kenyataannnya pembuat keputusan biasanya memproses info satu persatu step by step. Selain fungsi prediksi researcher dan practicioner juga butuh penjelasan bagaimana proses pengambilan keputusan tersebut. Hal ini diperlukan untuk memperbaiki kekurangan dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Proses tracing merupakan metode dimana pembuat keputusan diberikan studi kasus namun ia harus mendeskripsikan secara verbal step yang dilakukannya. Hasilnya dicatat kemudian dibuatlah tree decision diagram yang menunjukkan proses pengambilan keputusan. Kekurangan dari proses tracing adalah decision maker biasanya sulit untuk mendeskripsikan langkah yang mereka kerjakan, bisa jadi mereka terlalu familiar dengan step tersebut sehingga melakukan nya secara implisit dan dibawah batas kesadaran. Keadaan ini coba diatasi dengan menggabungkan predictive power dan descriptive power, dengan terknik statistic bernama CART (classification and regression trees) yaitu dengan menggabungkan rekomendasi dari analisis dengan deskriptiv pengambilan keputusan decision maker. Semakin banyak data yang

digunakan semakin kompleks decision trees nya sehingga semakin sulit untuk melatih analisis lain denga pendekatan yang simple.

Probabilistic Judgement Model probalistic judgement digunakan pada saat prediksi awal atau prediksi dari suatu revisi yang disebabkan oleh adanya bukti baru yang timbul. Dalam model ini cara yang benar untuk merevisi prediksi awal tersebut adalah dengan menggunakan teori Bayes yang mengatakan probabilitas revisi = likelihood ratio (yang merupakan nilai sebelumnya yang ingin direvisi) dikali dengan prior odds (yang merupakan probabilitas awal). Model ini telah banyak dilakukan penelitian dari sisi psikologi yang mengatakan pengambil keputusan bukan statistic intuitif yang baik. Berdasarkan penelitian dilihat bahwa khususnya akuntan dalam pengambilan keputusan menggunakan rule of thumb yang disebabkan oleh kompleksitas dari keputusan tersebut dan pengetahuan akuntan sendiri mengenai hal tersebut. Karena dilihat bahwa dalam konteks pengambil keputusan perkalian Bayes tidak dapat digunakan saat merevisi maka para peneliti melakukan penelitian lebih lanjut dalam bidang psikologi; representataive, availability, anchoring. Rule of thumbs ini walaupun tidak dapat digunakan dalam meneliti para pengambil keputusan, tetapi ini merupakan metode yang efisien dan efektif dengan kompleksitas dan batas dari proses kognitif manusia. Ada tiga jenis rule of thumbs, yaitu: 1. Representative. Rule of thumbs menunjukkan bahwa ketika menilai probabilitas dari sebuah item dari sebuah populasi, manusia cenderung menentukan seberapa besar representative dari item tersebut terhadap populasi. Item yang dinilai pengambil keputusan lebih presentative diasses memiliki kemungkinan keterjadian paling besar. 2. Availability. Rule of thumb dari penilainan keterjadian sebuah peristiwa didasarkan apa yang muncul pertama kali dalam pikiran. Sebagai konsekuensinya kemungkinan yang disebabkan oleh peristiwa sensasional kemungkinan dioverestimate. 3. Anchoring dan adjustment.

Rule of thumbs ini mengatakan bahwa proses penilaian secara umum menyangkut apa yang awal kita percaya atau respon awal kita sebagai anchor dan yang informasi lain digunakan untuk menyesuaikan respon kita. Sebagai akibatnya ada kemungkinan penyesuaian yang tidak mencukupi. Penelitian ini menggunakan auditor sebagai subjek ideal karena auditor banyak menggunakan audit judgement yang membutuhkan penyesuaian ketika

menemukan fakta atau informasi baru.