Anda di halaman 1dari 4

A. PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG EFEKTIF DALAM MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH 1.

Definisi Pengambilan Keputusan Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal ini berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dan mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan. Dalam hal ini arti pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan. Definisi pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan. Dan keputusan di dalam manajemen dibagi 2 : a. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang-ulang dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah. Contoh keputusan pemesanan barang. b. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg tidak terjadi berulangulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain merupakan contoh keputusan tidak terprogram. Sumber : http://ventznino.blogspot.com/2012/04/definisi-pengambilan-keputusan.html 2. Proses Pengambilan Keputusan Manajemen sekolah yang bermutu dalam konteks pengambilan keputusan biasanya memperhatikan kerangka berpikir, sebagai berikut: 1. Keputusan manajemen sekolah diawali dengan pemilihan alternatif terbaik,

2. Keputusan manajemen sekolah adalah keputusan yang membawa pembaharuan, 3. Proses kelompok berperan sangat besar dalam dunia manajemen sekolah yang berhasil. Oleh karena itu, manajer atau administrator sekolah memerlukan staf pelaksana yang inovatif, partisipatif dan produktif. Proses kelompok (peran kepala sekolah dan staf pelaksana) nampak jelas dalam pembahasan pembuatan keputusan yang melibatkan banyak pihak, pembuatan keputusan melaluim gugus mutu, dan keputusan sekolah secara partisipatif. Pengambilan Keputusan Melibatkan Banyak Pihak. MBS memberi peluang pada sekolah untuk menentukan nasib sendiri dalam membuat keputusan-keputusan sekolah. Rencana pembuatan keputusan harus dibuat, dikaji secara mendalam, disosialisasikan secara jelas dan diimplementasikan secara efektif dan efisien. Bagi guru, orang yang paling masuk akal untuk diajak bekerjasama dalam pembuatan keputusan pada tingkat organisasi adalah Kepala Sekolah. Dan sebaliknya Kepala Sekolah bisa mengajak guru atau Komite Sekolah. Pihak-pihak yang dilibatkan dalam pembuatan keputusan dapat lebih luas spektrumnya. Pihak dinas Diknas dan Dewan Pendidikan Kabupaten/kota misalnya dapat melibatkan guru dalam membuat keputusan di bidang kurikulum. Sementara itu, kepala sekolah dapat menyatukan kekuatan misalnya melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS). Melalui wadah dapat berbagi pengalaman antara lain: memecahkan masalah, menyusun perencanaan bersama, memperluas wawasan kependidikan. Kepala Dinas Diknas Kabupaten/Kota juga mempunyai kewenangan dalam pembuatan keputusan, baik untuk keperluan intern maupun dalam kerangka perbaikan kinerja sekolah. Dalam kerangka MBS, Kepala Dinas dan pemerintah Kabupaten/kota hanya membuat garis-garis kebijakan yang perencanaan dan implementasinya untuk sebagian diserahkan kepada pihak sekolah. Dengan cara itu berarti Kepala Dinas dan Pemerintah Kabupaten/Kota membuat rencana dasar sekolah dan dengan kebijakan yang sama menekankan bahwa Kepala Sekolah mengorganisasikan sekolahnya dengan meminta saran/cara/masukan dari para guru. Kepala sekolah dan guru harus diijinkan dan diberi ruang gerak membuat keputusan dan menyusun rencana yang dipilihnya dalam bentuk atau gaya yang dianggap layak. Kegiatan itu dapat dilakukan oleh Kepala sekolah dan guru dan/atau bersama-sama pihak Komite Sekolah. Meski MBS itu dapat diartikan sebagai otonomi sekolah, Kepala sekolah dan guru tidak secara mutlak diberi kebebasan penuh untuk menjalankan sekolah secara independen, mereka tetap diberi kekuasaan untuk mengorganisasikan dengan cara tertentu sehingga keputusan perencanaan yang dibuat memiliki resiko paling rendah. Untuk itu

Kepala Dinas Diknas, dan Dewan Pendidiikan Pemerintah Kabupaten/kota harus menentukan tujuan umum yang diperluas, garis besar tujuan, dan hasil akhir program pendidikan. Pengambilan Keputusan Melalui Gusus Mutu. MBS berintikan bahwa sekolah menjadi sentral manajemen mutu proses dan produk pembelajaran. Johnson & Johnson telah mengembangkan secara detail tentang bagaimana kelompok dapat membuat rencana dan keputusan terbaik, yaitu: ada banyak sistem delegasi dalam pembuatan keputusan sekolah. Kelompok dibatasi antara 5-7 atau 4-12 anggota yang profesional sepertinya bekerja cukup efektif. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa dua ataulebih dari satu Kepala Sekolah dalam membuat keputusan bersama lebih baik dibandingkan dengan satu kepala sekolah. Guru tidak dapat mengakses satu sama lain karena mereka memiliki tanggungjawab pada kelas mereka. Perilaku ini dapat diubah melalui prakasa struktural, seperti pembentukan tim pengajaran, pembentukan kelompok kerja tertentu (Young, 1988), Penggunaan secara ekstensif kelompok kecil guru dengan melibatkan mereka dalam pembuatan keputusan bagi sekolah. Kelompok kecil itu dapat berupa gugus kualitas (quality circle). Gugus kualitas (GK) atau gugus Mutu (GM) muncul pada kisaran tahun 1970 an dan 1980 an di dunia industri. Dilingkungan persekolahan, Gm itu dapat terdiri dari guru-guru senior secara keilmuan dan metodologi pembelajaran, anggota komite sekolah dari kalangan pakar atau praktisi yang mapan, tim pengendali manajemen pembelajaran, dsb. 3. Ukuran Keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah Sekolah yang telah menerapkan MBS dapat dilihat dari beberapa ukuran atau indikator. Indikator-indikator tersebut dapat dilihat dari 3 pilar kebijakan pendidikan nasional yaitu : a. Pemerataan dan peningkatan akses, b. Peningkatan mutu dan daya saing, c. Serta tata layana pendidikan yang lebih baik. Berdasarkan ketiga pilar tersebut, indikator-indikator keberhasilan implementasi MBS dapat dilihat dari semakin meningkat dan membaiknya: a. Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan, b. Kualitas layanan pendidikan (seperti pembelajaran), yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa dan jumlah siswa yang tingkat tinggal kelas menurun,

c. Produktivitas sekolah (efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya), d. Relevansi pendidikan, e. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan, f. Partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan, (8) iklim dan budaya kerja sekolah, g. Kesejahteraan guru dan staf sekolah, serta h. Demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Sumber : http://images.dedi1968.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SGXj0goKCEEAADtOe Zs1/inisiasi_3_semester_2_mbs_3.pdf?key=dedi1968:journal:47&nmid=103136111 B. SATUAN PENDIDIKAN SEBAGAI PUSAT BUDAYA 1. Keluarga Sebagai Satuan Pendidikan 2. Lembaga Non Formal Sebagai Satuan Pendidikan 3. Sekolah Sebagai Satuan Pendidikan C. SATUAN PENDIDIKAN SEBAGAI PUSAT KEBUDAYAAN 1. Proses Menanamkan Nilai Budaya 2. Norma-norma 3. Sosialisasi Perilaku Budaya