Anda di halaman 1dari 104

KAPITA SELEKTA HUKUM ACARA PIDANA

OLEH
H. AGUS TAKARIAWAN, SH., MH

PEMBAGIAN HUKUM
HUKUM

HUKUM PUBLIK

HUKUM PRIVAT

ANTARA LAIN HUKUM PIDANA

MATERIIL (KUHP)

FORMIL (KUHAP)

EMPIRIK (KRIMINOLOGI)

PENGERTIAN H.A.P
J.DE

BOSCH KEMPER :

SEJUMLAH ASAS DAN PERATURAN UU YANG MENGATUR HAK NEGARA UNTUK MEMIDANA BILAMANA UU HUKUM PIDANA DILANGGAR.
SIMONS

HUKUM YANG MENGATUR CARA-CARA NEGARA DENGAN ALAT PERLENGKAPANNYA MENGGUNAKAN HAKNYA UNTUK MENGADILI DAN MEMIDANA
3

VAN BEMMELEN
HAP

ADALAH SUATU KUMPULAN KETENTUAN HUKUM YANG MENGATUR CARA BAGAIMANA NEGARA , BILAMANA DIHADAPKAN PADA SUATU KEJADIAN YANG MENIMBULKAN SYAK WASANGKA TELAH TERJADINYA SUATU PELANGGARAN HUKUM PIDANA, MAKA DENGAN PERANTARAAN ALATALATNYA MENCARI KEBENARAN, MENETAPKAN DI MUKA HAKIM, DAN OLEH HAKIM DIBERI SUATU PUTUSAN MENGENAI PERBUATAN YANG DITUDUHKAN, BAGAIMANA HAKIM HARUS MEMBUKTIKAN SUATU HAL YANG TELAH TERBUKTI, DAN BAGAIMANA PUTUSAN TERSEBUT HARUS DIJALANKAN

TUJUAN HAP
TUJUAN DARI HUKUM ACARA PIDANA ADALAH UNTUK MENCARI DAN MENDAPATKAN ATAU SETIDAK-TIDAKNYA MENDEKATI KEBENARAN MATERIIL, IALAH KEBENARAN YANG SELENGKAP-LENGKAPNYA DARI SUATU PERKARA PIDANA DENGAN MENERAPKAN KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA SECARA JUJUR DAN TEPAT DENGAN TUJUAN UNTUK MENCARI SIAPAKAH PELAKU YANG DAPAT DIDAKWAKAN MELAKUKAN SUATU PELANGGARAN HUKUM, DAN SELANJUTNYA MEMINTA PEMERIKSAAN DAN PUTUSAN DARI PENGADILAN GUNA MENEMUKAN APAKAH TERBUKTI BAHWA SUATU TINDAK PIDANA TELAH DILAKUKAN DAN APAKAH ORANG YANG DIDAKWAKAN ITU DAPAT DIPERSALAHKAN.
(KEPUTUSAN MENTERI KEHAKIMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : M.01.PW.07.03 TH. 1982, TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA)
5

FUNGSI HAP
FUNGSI HAP : VAN BEMMELEN 1. MENCARI MENEMUKAN KEBENARAN 2. PEMBERIAN KEPUTUSAN OLEH HAKIM 3. PELAKSANAAN KEPUTUSAN

SUBJEK DAN OBJEK HAP


SUBJEK

HAP :

ARTI SEMPIT :
POLISI, JAKSA, HAKIM, PENGACARA

ARTI LUAS :
SETIAP ORANG

OBJEK

HAP :

KEPENTINGAN HUKUM MASYARAKAT KETERTIBAN HUKUM KEPENTINGAN HUKUM INDIVIDU - HAM


7

SUMBER H.A.P
KUHAP UU

TENTANG INSTANSI TERKAIT:


KEKUASAAN KEHAKIMAN PERADILAN UMUM MAHKAMAH AGUNG KEPOLISIAN KEJAKSAAN, DLL

UU UU UU UU UU

UU

TINDAK PIDANA KHUSUS

SUMBER H.A.P
UU UU

NOMOR 8 TAHUN 1981 NOMOR 4 TAHUN 2004 DAN PERUBAHANNYA UU NOMOR 48 TAHUN 2009 UU NOMOR 5 TAHUN 2004 JO UU NOMOR 14 TAHUN 1985 DAN PERUBAHAN UU NOMOR 3 TAHUN 2009 UU NOMOR 2 TAHUN 1986 DAN PERUBAHANNYA UU NOMOR 49 TAHUN 2009 UU NOMOR 16 TAHUN 2004 UU NOMOR 18 TAHUN 2003 UU NOMOR 12 TAHUN 1995

ASAS-ASAS PENTING YANG TERDAPAT DALAM HAP


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

PERADILAN YANG CEPAT,SEDERHANA, DAN BIAYA RINGAN PRADUGA TIDAK BERSALAH (PRESUMPTION OF INNOCENCE) INNOCENCE ASAS OPORTUNITAS. PEMERIKSAAN PENGADILAN TERBUKA UNTUK UMUM. PERSAMAAN DI MUKA HUKUM (EQUALITY BEFORE THE LAW. PERADILAN DILAKUKAN OLEH HAKIM KARENA JABATANNYA TETAP. TERSANGKA/TERDAKWA BERHAK MENDAPAT BANTUAN HUKUM. ASAS AKUSATOR BUKAN INKISITOR PEMERIKSAAN HAKIM YANG LANGSUNG DAN LISAN.

10

ASAS-ASAS HAP TERSEBUT MENIMBULKAN PRANATA BARUDALAM KUHAP


TERJAMINYA HAM BANTUAN HUKUM PADA SEMUA TINGKAT PEMERIKSAAN BATAS WAKTU PENANGKAPAN DAN PENAHANAN GANTI KERUGIAN DAN REHABILITASI PRA PERADILAN PRA PENUNTUTAN PENGGABUNGAN PERKARA BERKAITAN DENGAN GUGATAN GANTI KERUGIAN UPAYA HUKUM ( PERLAWANAN SAMPAI DENGAN PK) KONEKSITAS HAWASMAT
11

PROSES HUKUM ACARA PIDANA


KEPOLISIAN SUMBER TINDAKAN LAPORAN TERTANGKAP TANGAN PENGADUAN DIKETAHUI PETUGAS P-21 DILIMPAHKAN KEJAKSAAN PUTUSAN BEBAS SURAT DAKWAAN

DI AJUKAN KE PN

LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM PEMIDANAAN UPAYA HUKUM EKSEKUSI

PENYELIDIKAN PROSES PEMERIKSAAN

PENYIDIKAN

12

ASAS-ASAS DALAM UU KEKUASAAN KEHAKIMAN


PASAL PASAL PASAL PASAL PASAL

MENGADILI MENURUT HUKUM TANPA MEMBEDABEDAKAN ORANG

4 AYAT (1):

8: PRESUMPTION OF INNOCENCE 13: TERBUKA UNTUK UMUM 2 AYAT (4): C. JUSTITIE 1 ANGKA (1): KEKUASAAN NEGARA YG MERDEKA PASAL 12 AYAT (1): DGN HADIRNYA TERDAKWA PASAL 9 AYAT (1): GANTI RUGI & REHABILITASI PASAL 56 : SETIAP ORANG TERSANGKUT PERKARA BERHAK MEMPEROLEH BANTUAN HUKUM
13

ILMU-ILMU PEMBANTU DALAM HUKUM ACARA PIDANA


LOGIKA PSIKOLOGI PSIKIATRI KRIMINALISTIK

KEDOKTERAN FORENSIK DACTILOSKOPI TOKSIKOLOGI & BALISTIK FORENSIK


KRIMINOLOGI

14

POKOK BAHASAN
PENGHENTIAN

PENYIDIKAN PENGHENTIAN PENUNTUTAN PENYAMPINGAN PERKARA UNTUK KEPENTINGAN UMUM SURAT DAKWAAN EKSEPSI/KEBERATAN UPAYA HUKUM ATAS PUTUSAN EKSEPSI BANTUAN HUKUM SAKSI MAHKOTA TELECONFRENCE ALAT BUKTI TP KHUSUS PUTUSAN UPAYA HUKUM

15

PENGHENTIAN PENYIDIKAN
PENYIDIK DAPAT MENGHENTIKAN PENYIDIKAN KARENA :
TIDAK

CUKUP BUKTI, ATAU BUKAN TINDAK PIDANA,ATAU DEMI HUKUM [ PASAL 109 AYAT(2) ] ,
hal ini terjadi bilamana tersangka meninggal dunia perkaranya tergolong ne bis in idem atau kadarluarsa. (BAB VIII KUHP PSL 76,77 DAN 78)
16

PENGHENTIAN PENUNTUTAN
PU MEMUTUSKAN UNTUK MENGHENTIKAN PENUNTUTAN KARENA TIDAK TERDAPAT CUKUP BUKTI, ATAU BUKAN TINDAK PIDANA, ATAU PERKARA DITUTUP DEMI HUKUM

17

PENYAMPINGAN PERKARA UNTUK KEPENTINGAN UMUM


PPKU TIDAK TERMASUK DALAM PENGHENTIAN PENUNTUTAN, TETAPI MERUPAKAN WEWENANG JAKSA AGUNG BERDASARKAN PASAL 35 HURUF C UU NO 16 TH 2004, YANG PENJELASANNYA BERBUNYI yang dimaksud dengan kepentingan umum
adalah kepentingan bangsa dan negara dan/atau kepentingan masyarakat luas. Mengesampingkan perkara sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini merupakan pelaksanaan asas oportunitas, yang hanya dapat dilakukan oleh Jaksa Agung setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang 18

ASAS OPURTINITAS TIDAK MURNI INGGRIS


CVS BOLEH MENYAMPINGKAN PERKARA DEMI KEPENTINGAN UMUM UNTUK DELIK RINGAN TERDAKWA TERLALU TUA ANAK DIBAWAH UMUR BERPENYAKIT MENTAL ALASAN TEKNIS : TIDAK CUKUP BUKTI DERAJAT KESALAHAN RENDAH

19

AS
JAKSA AMERIKA

OTONOM DALAM MELAKSANAKAN WEWENANG DIREKSI (DISCREATIONARY POWER) DARI SEJAK PENYIDIKAN SAMPAI PADA PASCA PERSIDANGAN POWER HAMPIR BEBASAN SEPENUHNYA UNTUK MENENTUKAN UNTUK MENUNTUT ATAU TIDAK BERKOMPROMI YANG DISEBUT PLEA BARGAINING

20

AMERICAN BAR ASOSIATION STANDAR UNTUK MENERAPKAN DISKRESI PENUNTUTAN


1. 2. 3. 4. 5. 6.

PU APAKAH CUKUP BUKTI MEMIDANA TERDAKWA PU TIDAK WAJIB MENUNTUT SEMUA DAKWAAN YANG TERSEDIA CUKUP BUKTI TIDAK BOLEH UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI POLITIS POPULARITAS DALAM HAL MENYANGKUT ANCAMAN SERIUS TERHADAP MASYARAKAT PERKARA SERIUS TERHADAP MASYARAKAT HARUS DILAKUKAN PENUNTUTAN PU TIDAK BOLEH MENCARI DAKWAAN SELAIN BERDASARKAN BUKTI-BUKTI DIPERSIDANGAN

21

SINGAPURA
PENUNTUT POLISI (POLICE PROSCUTER) MELAKUKAN NEGOSIASI PROSCUTER UNTUK MENARIK ATAU MENGURANGI DAKWAAN.

22

THAILAND
WALAUPUN CUKUP BUKTI JAKSA DAPAT TIDAK MENUNTUT

23

FILIPINA
JAKSA DAPAT BERNEGOSIASI ANTAR PIHAK-PIHAK PEMBAYARAN RESTITUSI KEPADA KORBAN KEJAHATAN SEBAGAI UNSUR ALTERNATIF PENUNTUTAN

24

BELANDA
MENGARTIKAN ASAS OPURTINITAS SEBAGAI PU BOLEH MEMUTUSKAN UNTUK MENUNTUT ATAU TIDAK DENGAN SYARAT ATAU TIDAK

25

KATEGORI PENYAMPINGAN PERKARA


ALASAN KEBIJAKAN (POLICY ) UNTUK PERKARA RINGAN, UMUR TERDAKWA SUDAH TUA, KERUSAKAN TELAH DIPERBAIKI ALASAN TEKNIS ANTARA LAIN ATAU TIDAK CUKUP BUKTI, LEWAT WAKTU PERKARA DIGABUNG DENGAN PERKARA LAIN

26

JEPANG
PENUNTUTAN SIFAT

TIDAK PERLU KARENA

DELIK UMUR DAN LINGKUNGAN TERSANGKA , BERAT DAN KEADAAN DELIK KEADAAN SESUDAH DELIK DILAKUKAN

27

NORWEGIA (UU TH 1887, UU HAPID 1981)

PENYAMPINGAN PERKARA DENGAN DISERTAI SYARAT-SYARAT : MENIMA NON CURAT PRAETOR

DASAR

28

PENGANUT ASAS LEGALITAS


JERMAN TIDAK BOLEH MENYAMPINGKAN PERKARA

KECUALI DENGAN PERSETUJUAN HAKIM ANTARA LAIN JIKA TINGKAT KESALAHAN RENDAH DAN KEPENTINGAN UMUM TIDAK MEMERLUKAN

29

AUSTRIA DAN ITALI


SAMA SEKALI TIDAK BOLEH MENYAMPINGKAN PERKARA DAPAT MINTA KEPADA HAKIM MENGHENTIKAN PERKARA

30

SURAT DAKWAAN
PENGERTIAN:

SURAT AKTA YG MEMUAT PERUMUSAN TINDAK PIDANA YG DIDAKWAKAN, YG DISIMPULKAN DARI HASIL PENYIDIKAN PENYIDIK, YG MERUPAKAN DASAR SERTA LANDASAN BAGI HAKIM DLM PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN
FUNGSI:

DASAR DAN LANDASAN PEMERIKSAAN PERSIDANGAN+ PENENTU ARAH/PEDOMAN DALAM PEMERIKSAAN PERSIDANGAN
31

SYARAT SURAT DAKWAAN


SYARAT

FORMIL:

BERTANGGAL DAN TANDATANGAN PU MEMUAT IDENTITAS TERDAKWA LENGKAP


SYARAT

MATERIL:

URAIAN CERMAT, JELAS, LENGKAP TINDAK PIDANA YG DIDAKWAKAN MENYEBUT WAKTU& TEMPAT TINDAK PID
32

BIASA/TUNGGAL. ALTERNATIF:

SALING MENGECUALIKAN / ATAU


KUMULASI

MASING-MASING HARUS DIBUKTIKAN


BERLAPIS/SUBSIDIARITAS:

PRIMER SUBSIDER MENGECUALIKAN TAPI BERURUT DARI YG TERBERAT


33

PERUBAHAN SURAT DAKWAAN


PASAL

144 KUHAP:

SATU KALI SEBELUM SIDANG DIMULAI PALING LAMBAT 7 HARI SEBELUM SIDANG
APA

YG DIRUBAH? JURISPRUDENSI DAN DOKTRIN:


KESALAHAN LOCUS DAN TEMPUS REDAKSI DAKWAAN SESUAI RUMUSAN DELIK PERUBAHAN DAKWAAN TUNGGAL MENJADI ALTERNATIF TAPI TETAP PERBUATAN YG SAMA

34

PENGERTIAN KEBERATAN / EKSEPSI


PENGERTIAN EKSEPSI ATAU EXCEPTION ADALAH : TANGKISAN (PLEAD) ATAU PEMBELAAN YANG TIDAK MENGENAI ATAU TIDAK DITUJUKAN TERHADAP MATERI POKOK SURAT DAKWAAN TETAPI KEBERATAN ATAU PEMBELAAN DITUJUKAN TERHADAP CACAT FORMIL YANG MELEKAT PADA SURAT DAKWAAN
35

PRINSIP PENGAJUAN KEBERATAN / EKSEPSI


JIKA DIPERHATIKAN PSL 156 (1) PENGAJUAN KEBERATAN YANG MENYANGKUT PEMBELAAN ATAS ALASAN FORMIL OLEH TERDAKWA ATAU PENASEHAT HUKUM ADALAH HAK DENGAN KETENTUAN :
PRINSIP

HARUS DIAJUKAN PADA SIDANG PERTAMA YAKNI SESAAT ATAU SETELAH PENUNTUT UMUM MEMBACA SURAT DAKWAAN BILA PENGAJUAN DILAKUKAN DILUAR TENGGANG YANG DISEBUTKAN, EKSEPSI TIDAK PERLU DITANGGAPI PENUNTUT UMUM DAN PN, KECUALI MENGENAI EKSEPSI KEWENANGAN MENGADILI YANG DISEBUT DALAM PSL 156 (7)
36

KLASIFIKASI KEBERATAN/EKSEPSI
I. II. III.

PASAL 156 (1) KUHAP UNDANG-UNDANG LAIN PRAKTEK PERADILAN

37

I. KEBERATAN/EKSEPSI EX. PASAL 156 (1) KUHAP

PENGADILAN TIDAK BERWENANG MENGADILI PERKARANYA. 2. DAKWAAN TIDAK DAPAT DITERIMA. 3. DAKWAAN HARUS DIBATALKAN.
1.

38

KEBERATAN/EKSEPSI KEWENANGAN MENGADILI

1. 2.

SECARA ABSOLUT. SECARA RELATIF.

39

KEBERATAN/EKSEPSI DAKWAAN TIDAK DAPAT DITERIMA EKSEPSI SUBJUDICE. 2. EXCEPTION IN PERSONAM. 3. EKSEPSI KELIRU SISTEMATIKA DAKWAAN SUBSIDAIRIATAS. 4. KELIRU BENTUK DAKWAAN YANG DIAJUKAN.
1.

40

KEBERATAN/EKSEPSI DAKWAAN BATAL ATAU BATAL DEMI HUKUM TIDAK MEMENUHI PASAL 143 (2) KUHAP YAITU
1. 2. 3. 4.

TIDAK MEMUAT TANGGAL DAN TANDA TANGAN. TIDAK SECARA LENGKAP MENYEBUT IDENTITAS TERDAKWA. TIDAK MENYEBUT LOCUS DELICTI DAN TEMPUS DELICTI. TIDAK CERMAT, JELAS LENGKAP URAIAN TENTANG TINDAK PIDANA YANG DIDAKWAKAN.
41

II.

EKSEPSI BERDASARKAN UNDANGUNDANG LAIN DAN PRAKTEK PERADILAN

KEWENANGAN ATAU HAK UNTUK MENUNTUT HAPUS ATAU GUGUR. 2. TUNTUTAN PENUNTUT UMUM TIDAK DAPAT DITERIMA. 3. LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM.
1.

42

EKSEPSI KEWENANGAN ATAU HAK UNTUK MENUNTUT HAPUS ATAU GUGUR


_

EXCEPTION JUDICATE ATAU NE BIS IN IDEM (PASAL 76 KUHP) 2. EXCEPTION IN TEMPORES (PASAL 78 KUHP) 3. TERDAKWA MENINGGAL DUNIA (PASAL 77 KUHP)
1.

43

EKSEPSI TUNTUTAN PENUNTUT UMUM TIDAK DAPAT DITERIMA


PENYIDIKAN TIDAK MEMENUHI KETENTUAN PASAL 56 (1) KUHAP. 2. TIDAK MEMENUHI SYARAT DELIK ADUAN.
1.

44

EKSEPSI LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM _

JIKA PERBUATAN YANG DIDAKWAKAN KEPADA TERDAKWA TERBUKTI, TETAPI PERBUATAN ITU TIDAK MERUPAKAN SESUATU TINDAK PIDANA
45

PUTUSAN TERHADAP EKSEPSI


1.

2.

PUTUSAN SELA EKSEPSI KEWENANGAN MENGADILI, DAKWAAN TIDAK DITERIMA. SURAT DAKWAAN HARUS DIBATALKAN PASAL 156 (1) KUHAP. PUTUSAN AKHIR UNTUK EKSEPSI TUNTUTAN PENUNTUT UMUM TIDAK DAPAT DITERIMA. KEWENANGAN ATAU HAK UNTUK MENUNTUT HAPUS ATAU GUGUR. LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM.
46

UPAYA HUKUM TERHADAP PUTUSAN SELA MENGENAI EKSEPSI EX. PASAL 156 (1) KUHAP, PERLAWANAN KEPADA PENGADILAN TINGGI (PASAL 156 (2), (3) KUHAP). 2. TERHADAP PUTUSAN AKHIR MENGENAI EKSEPSI LAINNYA ADALAH BANDING
1.
47

JENIS PUTUSAN EKSEPSI


Ps. 156 (2) memberi wewenang kepada Hakim untuk menerima (mengabulkan) atau tidak menerima (menolak) eksepsi yang diajukan terdakwa atau penasehat hukum, ATAU DIPUTUS SETELAH SELESAI PEMERIKSAAN.

48

PENGERTIAN PERLAWANAN

Perlawanan adalah Upaya Hukum yang dapat dilakukan atau yang dapat dibenarkan terhadap putusan sela yang dijatuhkan Hakim (Pengadilan Negeri) mengenai Eksepsi, khususnya eksepsi kewenangan mengadili.

INSTANSI YANG BERWENANG


Yang berwenang memeriksa dan memutus perlawanan terhadap putusan eksepsi adalah Pengadilan Tinggi.

49

YANG BERHAK MENGAJUKAN PERLAWANAN


1. 2.

Penuntut Umum berhak mengajukan perlawanan. Terdakwa berhak mengajukan perlawanan.

50

PROSES PENYELESAIAN PENGADILAN TINGGI

Pengadilan Tinggi harus segera memeriksa dan memutus perlawanan paling lambat 14 hari dari tanggal penerimaan (registrasi). dan langsung segera menyampaikan putusan ke Pengadilan Negeri. Perlawanan diterima Pengadilan Tinggi Kalau Pengadilan Tinggi menerima (mengabulkan) perlawanan, berarti : Pengadilan Tinggi membatalkan putusan sela. Menyatakan Pengadilan Negeri tidak berwenang mengadili. Menunjuk Pengadilan (Pengadilan Negeri) yang berwenang untuk itu, dan memerintahkan untuk segera melakukan pemeriksaan. Putusan Pengadilan Tinggi atas pengabulan, langsung final tidak bisa dibanding atau dikasasi Pengadilan Negeri segera mengembalikan berkas perkara kepada Penuntut Umum untuk dilimpahkan kepada 51

MASALAH PENGIRIMAN BERKAS KE PENGADILAN TINGGI _


1.

EKSEPSI DITERIMA (DIKABULKAN) Apabila Hakim mengabulkan eksepsi tentang tidak berwenang mengadili, dan atas pengabulan itu, Penuntut Umum, mengajukan perlawanan ke Pengadilan Tinggi, maka menurut pasal 156 (2) :
dengan pengabulan itu, Pengadilan Negeri menghentikan atau tidak melanjutkan pemeriksaan perkara. oleh karena pemeriksaan perkara tidak dilanjutkan : * tidak ada halangan untuk mengirimkan seluruh berkas perkara ke Pengadilan Tinggi dalam rangka penyelesaian perlawanan yang diajukan Penuntut Umum. * namun demikian, dengan menyampaikan salinan putusan sela sajapun dianggap memadai bagi 52 Pengadilan Tinggi untuk mengambil putusan.

2.

EKSEPSI DITOLAK (tidak diterima) Sesuai dengan ketentuan pasal 156 (2) apabila Hakim menolak (tidak menerima) eksepsi tentang kewenangan mengadili yang diajukan terdakwa / penasehat hukumnya Pemeriksaan perkara terus dilanjutkan. Meskipun terdakwa / penasehat hukumnya mengajukan perlawanan ke Pengadilan Tinggi, pemeriksaan perkara tetap dilanjutkan, tidak boleh dihentikan. Sehubungan dengan itu, agar proses pemeriksaan yang diperintahkan Ps. 156 (2) tidak terhalang : * Pengadilan Negeri tidak dibenarkan mengirimkan berkas ke Pengadilan Tinggi. * Yang disampaikan hanya salinan putusan sela saja.

53

KONSTRUKSI PENERAPAN PERLAWANAN YANG DIAJUKAN BERSAMAAN DENGAN BANDING _


1.

2.

EKSEPSI YANG DISEBUT DALAM KETENTUAN AYAT INI Yang pertama-tama perlu dipahami adalah mengenai jenis atau bentuk eksepsi apa yang dimaksud dalam pasal 156 (5) huruf a Untuk mengetahui dengan pasti eksepsi apa yang dimaksud, harus didekati melalui metode sistematika dikaitkan dengan teori ellipsis ketentuan ayat (5) ini merupakan rangkaian dari ayat 2, 3 dan 4 yang mengatur tentang sistem penyelesaian eksepsi kewenangan mengadili secara relatif. Begitu juga dari sudut ellipsis ayat (5) huruf a tidak mengulang-ulang lagi menyebut eksepsi kompetensi relatif didalamnya karena hal itu sudah disebut secara jelas dalam pasal 156 (1) dan ayat 2, 3 dan 4 telah mengkhususkan dan memfokuskan pembicaraan/hanya terhadap eksepsi kompetensi relatif saja, sedang eksepsi yang lain dianggap cukup singkat pengaturannya. Bertitik tolak dari pemikiran diatas perlawanan yang diatur dalam ketentuan ini hanya sebatas perlawanan terhadap putusan eksepsi kompetensi relatif CARA PENGGABUNGAN PERLAWANAN DAN BANDING Seperti yang dijelaskan Ps. 156 (5) huruf a, membolehkan 54

TERDAKWA/PENASEHAT HUKUM MENGAJUKAN EKSEPSI TENTANG KOMPENTENSI RELATIF TERHADAP EKSEPSI ITU ADA BEBERAPA KEMUNGKINAN :
I.

Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan sela, menolak atau tidak menerima eksepsi :
Terhadap putusan sela, terdakwa tidak mengajukan perlawanan langsung. Dengan demikian Pengadilan Negeri melanjutkan penyelesaian pemeriksaan yang dibarengi dengan penjatuhan putusan akhir.

II.

Pengadilan Negeri menjatuhkan putusan sela yang menegaskan : eksepsi baru dapat diputus (akan diputus) setelah pemeriksaan perkara selesai.
55

Apabila terdakwa / penasehat hukumnya mengajukan perlawanan bersama-sama dengan permintaan banding, Pengadilan Tinggi harus mentaati ketentuan jangka waktu penyelesaian yang digariskan Ps. 156 (5) huruf a.
I. II.

III. IV.

Pengadilan Tinggi memprioritaskan penyelesaian. Pengadilan Tinggi harus segera memeriksa dan memutus paling lambat 14 hari terhitung dari tanggal diterima (diregistrasi) Fokus pemeriksaan. Perlawanan dikabulkan Pengadilan Tinggi Kalau Pengadilan Tinggi mengabulkan perlawanan, hal itu langsung menimbulkan akibat hukum : 56

V.

Pengadilan Negeri tidak berwenang mengadili Dengan demikian pengabulan atas perlawanan yang dibarengi dengan pembatalan putusan eksepsi, sekaligus dengan sendirinya meliputi putusan akhir terhadap pokok perkara. Oleh karena itu putusan Pengadilan Tinggi harus mencantumkan amar. Pengadilan Tinggi menyampaikan salinan putusan. Perlawanan ditolak Pengadilan Tinggi Apabila Pengadilan Tinggi menolak perlawanan, berarti Pengadilan Tinggi membenarkan kewenangan Pengadilan Negeri mengadili perkara dan pemeriksaan maupun putusan akhir yang dijatuhkan Pengadilan Negeri adalah sah.

57

PERMASALAHAN BANTUAN HUKUM BERDASARKAN PASAL 56 AYAT 1 KUHAP YANG MENEGASKAN :


HAK TERSANGKA ATAU TERDAKWA DIDAMPINGI PENASEHAT HUKUM APABILA TINDAK PIDANA YANG DISANGKAKAN ATAU DIDAKWAKAN DIANCAM DENGAN PIDANA MATI ATAU ANCAMAN PIDANA 15 TAHUN ATAU LEBIH ATAU BAGI YANG TIDAK MAMPU YANG DIANCAM DENGAN PIDANA 5 TAHUN ATAU LEBIH YANG TIDAK MEMPUNYAI PENASEHAT HUKUM SENDIRI, PEJABAT YANG BERSANGKUTAN DALAM PROSES PERADILAN WAJIB MENUNJUK PENASEHAT HUKUM BAGI MEREKA.

58

MENGENAI HAL TERSEBUT KITA SEBAIKNYA BERPENDIRIAN :


1. 2.

3.

4.

5.

PSL. 56 (1) KUHAP, JANGAN DITERAPKAN SECARA STRICT LAW DAN FORMALISTIC LEGAL THINGKING PASAL TERSEBUT TIDAK DITERAPKAN SECARA KAKU TAPI HARUS DILENTURKAN, SEHINGGA TIDAK MENIMBULKAN AKIBAT YANG JELEK DAN KETIDAK ADILAN OLEH KARENA ITU, PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO. 1565 K/PID/1991, YANG MENYATAKAN TUNTUTAN PENUNTUT UMUM TIDAK DAPAT DITERIMA ATAS ALASAN PEMERIKSAAN PENYIDIKAN TIDAK DIHADIRI OLEH PENASEHAT HUKUM, JANGAN DIANGKAT DAN DIJADIKAN SEBAGAI STARE DECISIS SEHUBUNGAN DENGAN ITU, MESKIPUN PADA PEMERIKSAAN PENYIDIKAN TERSANGKA TIDAK DIDAMPINGI PENASEHAT HUKUM, BAIK DISEBABKAN DIA SENDIRI TIDAK MENUNJUK MAUPUN DISEBABKAN PEJABAT PENYIDIK TIDAK MENYEDIAKAN (MENUNJUK), TIDAK MENGAKIBATKAN PEMERIKSAAN PENYIDIKAN BATAL DEMI HUKUM (NULL AND VOID). KECUALI APABILA SECARA TEGAS TERSANGKA TELAH MENUNJUK PENASEHAT HUKUM DAN SECARA TEGAS PULA MENGHENDAKI PEMERIKSAAN DIHADIRI PENASEHAT HUKUM TERSEBUT, APABILA HAL INI DILANGGARBARU DIBENARKAN MENEGAKAN MIRANDA RULE ATAU PSL 56 (1) KUHAP SECARA KONSEKUEN BEGITU JUGA KELALAIAN MENYAMPAIKAN MIRANDA WARNING TERMASUK PENASEHAT HUKUM KEPADA TERSANGKA ATAU TERDAKWA, TIDAK BERAKIBAT PEMERIKSAAN TIDAK SAH (ILLEGAL) ATAU BATAL DEMI HUKUM

59

SAKSI MAHKOTA
PADA HAKEKATNYA SAKSI MAHKOTA ATAU KROON GETUIGE ADALAH SAKSI YANG DIAMBIL DARI SALAH SEORANG TERSANGKA/TERDAKWA DIMANA KEPADANYA DIBERIKAN SUATU MAHKOTA TERHADAP KETERANGAN SAKSI MAHKOTA INI ADA PERKEMBANGAN MENARIK DARI MAHKAMAH AGUNG RI. DISATU PIHAK MAHKAMAH AGUNG BERPENDIRIAN BAHWA UNDANG-UNDANG TIDAK MELARANG JIKALAU JAKSA/PENUNTUT UMUM MENGAJUKAN SAKSI MAHKOTA DIPERSIDANGAN DENGAN AYARAT SAKSI INI DALAM KEDUDUKANNYA SEBAGAI TERDAKWA TIDAK TERMASUK DALAM SATU BERKAS PERKARA DENGAN TERDAKWA YANG DIBERIKAN KESAKSIAN (PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG RI NO: 1986 K/PID/1989 TANGGAL 21 MARET 1990). SEDANGKAN DILAIN PIHAK BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG RI NO: 1174 K/PID/1994 TANGGAL 3 MEI 1995, PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG RI NO: 1592 K/PID/1995 TANGGAL 5 MEI 1995.
60

TELECONFERENCE
SECARA FORMAL LEGALISTIK TELECONFERENCE BERTENTANG DENGAN PASAL 160 AYAT 1 KUHAP HURUF a DAN PASAL 167 KUHAP YANG MENGHARUSKAN PEMERIKSAAN SAKSI DALAM RUANG SIDANG, JADI SECARA TEKSTUAL DITUNTUT KEHADIRAN SEORANG SAKSI SECARA FISIK DIRUANG PERSIDANGAN. AKAN TETAPI KENYATAANNYA UNTUK MENCARI DAN MENEMUKAN KEBENARAN MATERIIL YANG BERMUARA PADA KEADILAN DALAM PRAKTIK SEDIKIT TELAH DITINGGALKAN. MISALNYA, SECARA FAKTUAL PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG RI NO. 661 K/PID/1988 TANGGAL 19 JULI 1991 DENGAN KAEDAH DASAR DIMANA KETERANGAN SAKSI YANG DISUMPAH DI PENYIDIK KARENA SUATU HALANGAN YANG SAH TIDAK DAPAT HADIR DI PERSIDANGAN, DIMANA KETERANGANNYA TERSEBUT DIBACAKAN MAKA SAMA NILAINYA DENGAN KESAKSIAN DIBAWAH SUMPAH. TELECONFERENCE TELAH DIGUNAKAN DALAM SIDANG :
1. 2. SIDANG RAHADI RAMELAN PENGADILAN HAM AD HOC DAN ABU BAKAR BAASYIR

61

ALAT BUKTI ELEKTRONIK DITINJAU DARI KEPERLUAN PRAKTEK


Dalam

KUHAP tidak diatur alat bukti elektronik Dalam Undang-Undang Khusus telah diatur (Tindak Pidana Korupsi, Terorisme, Tindak Pidana Pencucian Uang) Penemuan dan Pembentukan hukum oleh hakim Pasal 16 dan 28 UU Nomor 4 Tahun 2004 Hukum Acara bersifat imperatif akan tetapi tidak bersifat mutlak

62

ALAT BUKTI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI


Alat bukti sesuai KUHAP Perluasan alat bukti petunjuk berupa: alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan ini ; dan dokumen yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna
63

Alat Alat

bukti sebagaimana dalam KUHAP ; bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu ; dan Dokumen sebagai dimaksud Pasal 1 angka 7, yaitu: data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tidak terbatas pada: a. tulisan, suara, atau gambar ; b. peta, rancangan, foto atau sejenisnya ; c. Huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.

Alat-Alat Bukti Tindak Pidana Pencucian Uang (Pasal 38 UU 15/2002 yo UU 25/2003)

64

Alat Alat

Bukti sebagaimana KUHAP ; bukti lain berupa informasi yang diucapkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau serupa dengan itu ; dan Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapunaa selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: 1. Tulisan, suara, atau gambar ; 2. Peta, rancangan, foto, atau sejenisnya ; 3. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya. 65

Alat-alat bukti tindak pidana terorisme (Pasal 27 UU Nomor 15 Tahun 2003 yo Perpu Nomor 1 Tahun 2002)

APAKAH SEBENARNYA BUKTI ELEKTRONIK ITU?


Alat bukti elektronik meliputi perangkat keras sistem komputer atau jaringan komputer dan peralatan lainnya yang tersambung ke komputer, perangkat lunak yang dapat berupa sistem informasi, sistem data base dan atau sistem aplikasi yang tersimpan atau terpasang dalam sistem komputer atau jaringan komputer (Pasal 1 RUU Tindak Pidana di Bidang Teknologi Informasi)
66

BARANG BUKTI ELEKTRONIK DAPAT DIKUALIFIKASIKAN SEBAGAI ALAT BUKTI YANG SAH MENURUT PASAL 184 AYAT (1) KUHAP
Pasal 189 KUHAP Barang bukti elektronik adalah keterangan terdakwa. 2. Pasal 186 KUHAP Kebenaran isi barang bukti elektronik yang disampaikan oleh seorang ahli adalah sebagai bukti keterangan ahli.
1.

67

Pasal 187 KUHAP Dalam rekaman medis secara elektronik yang diisi oleh dokter yang telah ditansfer dalam bentuk tulisan, sebagai alat bukti surat. 4. Pasal 188 KUHAP Barang bukti elektronik yang telah ditransfer dalam bentuk tulisan (Pasal 187 KUHAP) dan tidak disangkal oleh Terdakwa mengenai alat bukti petunjuk
3.
68

PUTUSAN HAKIM
BEBAS LEPAS

(VRIJSPRAAK), 191 AYAT 1:

DAKWAAN TIDAK TERBUKTI

DARI SEGALA TUNTUTAN (ONTSLAG VAN ALLE RECHTSVERVOLGING), 191 AYAT 2:


PERBUATAN TERBUKTI BUKAN TINDAK PIDANA

PEMIDANAAN,

193:

PERBUATAN DAN KESALAHAN TERBUKTI

69

BEBAS (VRIJSPRAAK)
PERBUATAN

SAMA SEKALI TIDAK

TERBUKTI TIDAK MEMENUHI PRINSIP MINIMUM PEMBUKTIAN TIDAK ADA KEYAKINAN HAKIM

70

PUTUSAN LAIN (EKSEPSI)


DAKWAAN

TIDAK DAPAT DITERIMA, 156 AYAT 1:

BUKAN TINDAK PIDANA NE BIS IN IDEM KEDALUARSA TERDAKWA TIDAK DAPAT DIHADIRKAN

DAKWAAN

BATAL DEMI HUKUM, 143 AYAT 3 DAN 156 AYAT 1:


DAKWAAN TDK MERUMUSKAN SEMUA UNSUR DELIK TDK MERINCI SECARA JELAS PERAN DAN PERBUATAN TERDAKWA DAKWAAN KABUR (OBSCUUR LIBEL) MELANGGAR PASAL 144 PERUBAHAN SURAT DAKWAAN

71

ISI PUTUSAN AKHIR(197 AYAT 1)


KEPALA: DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YME IDENTITAS TERDAKWA DAKWAAN PERTIMBANGAN LENGKAP:
TUNTUTAN

FAKTA & KEADAAN DI SIDANG HAL YG MEMBERATKAN & MERINGANKAN, PEMBUKTIAN

PIDANA PERATURAN PERUNDANGAN HARI & TANGGAL MUSYAWARAH PERNYATAAN KESALAHAN TERDAKWA-PIDANA PEMBEBANAN BIAYA PERKARA PENENTUAN BARANG BUKTI
72

PPsl. 214 ayat (4) Psl. 156 ayat (3,4,5) PERLAWANAN BIASA PPsl. 29 ayat 2 Psl. 154 ayat 1 jo 149

BANDING KASASI

l. Psl. 67, 233 s/d 243 PsPsl. 244 s/d 258

LUAR BIASA

KASASI DEMI KEPENTINGAN HUKUM

Psl. 259 s/d 262

PPENINJAUAN KEMBALI

Psl. 263 s/d. 269


73

UPAYA HUKUM
BIASA:

BANDING KASASI
LUAR

BIASA:

PENINJAUAN KEMBALI KASASI DEMI KEPENTINGAN HUKUM

74

TUJUAN UPAYA HUKUM


MEMPERBAIKI

KEKELIRUAN

PUTUSAN MENCEGAH KESEWENANGAN DAN PENYALAHGUNAAN JABATAN PENGAWASAN TERHADAP KESERAGAMAN PENERAPAN HUKUM

75

BANDING
PUTUSAN

YG TDK DPT DIBANDING

67:
PUTUSAN BEBAS PUTUSAN LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN
ALASAN

BANDING,

APAPUN ALASAN DAPAT DIGUNAKAN UTK MENGAJUKAN BANDING, KRN PT ADALAH JUDEX FACTIE - PERKARA DIPERIKSA ULANG
76

KASASI (PASAL 244-258)


TERHADAP

SEMUA PUTUSAN PERKARA PIDANA YG DIBERIKAN PADA TINGKAT TERAKHIR OLEH PENGADILAN LAIN SELAIN DARI MA , DPT DIMINTAKAN KASASI KEPADA MA, KECUALI PUTUSAN BEBAS. PUTUSAN BEBAS:
BEBAS MURNI BEBAS TIDAK MURNI (KEPMENKEH THN 1983)

77

PUTUSAN BEBAS TIDAK MURNI


DALAM

PUTUSAN TERDAPAT KEKELIRUAN PENAFSIRAN TERHADAP TINDAK PIDANA YG DISEBUT DLM SURAT DAKWAAN BILA DLM MENJATUHKAN PUTUSAN TSB PENGADILAN MELAMPAUI BATAS WEWENANG, DLM ARTI MEMPERTIMBANGKAN UNSUR NON YURIDIS, SPT AGAMA, POLITIK, KEMANUSIAAN DLL

78

ALASAN KASASI
PASAL

253 AYAT (1) KUHAP:

SUATU PERATURAN HUKUM TIDAK DITERAPKAN ATAU DITERAPKAN TIDAK SEBAGAIMANA MESTINYA CARA MENGADILI TIDAK DILAKUKAN MENURUT KETENTUAN UU PENGADILAN MELAMPAUI BATAS WEWENANGNYA

79

PUTUSAN KASASI
PASAL

254, 245, 246 KUHAP:

KASASI TDK DPT DITERIMA: TIDAK TERPENUHI SYARAT FORMIL KASASI DITOLAK: TERPENUHI SYARAT FORMIL, TAPI KEBERATAN TDK DITERIMA KASASI DIKABULKAN:
MEMBATALKAN PUTUSAN PN ATAU PT, MENGADILI SENDIRI MEMPERBAIKI PUTUSAN PN ATAU PT

80

KASASI DEMI KEPENTINGAN HUKUM


TERHADAP

PUTUSAN YG IN KRACHT, DARI SEMUA PENGADILAN KECUALI MA DIAJUKAN OLEH JAKSA AGUNG KRN JABATANNYA (259 AYAT 1) PUTUSAN TDK BOLEH MERUGIKAN PIHAK YG BERKEPENTINGAN (259 AYAT 2)
81

PENINJAUAN KEMBALI
TERHADAP

SEMUA PUTUSAN PENGADILAN YG IN KRACHT (263 AY 1), KECUALI VRIJSPRAAK & ONTSLAG DIAJUKAN OLEH TERPIDANA ATAU AHLI WARISNYA SYARAT
ADANYA NOVUM DLM PELBAGAI PUTUSAN TERDAPAT PERTENTANGAN KEKHILAFAN/KEKELIRUAN HAKIM
82

PENINJAUAN KEMBALI (PSL 24 UU NO.48/2009, JO UU NO 4 TH 2004, PSL 263 s/d PSL 269)

83

PSL 263 AYAT 1 TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN YANG TELAH MEMPEROLEH KEKUATAN HUKUM TETAP, KECUALI PUTUSAN BEBAS ATAU LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM, TERPIDANA ATAU AHLI WARISNYA DAPAT MENGAJUKAN PERMINTAAN PENINJAUAN KEMBALI KEPADA MAHKAMAH AGUNG
84

UNSUR-UNSUR PK
DAPAT DIAJUKAN TERHADAP SEMUA PUTUSAN PENGADILAN YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP 2. TIDAK DAPAT DIAJUKAN TERAHADAP PUTUSAN BEBAS DAN LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM
1.

85

YANG DAPAT MENGAJUKAN PK


BERDASARKAN PSL 263 AYAT 1
-

TERPIDANA atau AHLI WARIS

BERDASARKAN YURISPRUDENSI - JAKSA (MA NO.55 PK/PID/1996 DAN MA NO.3 PK/PID/2001) - PIHAK KETIGA YANG BERKEPENTINGAN (MA NO.4 PK PID/2000, MA NO.55 PK/PID/2006, MA NO.59 PK/PID/2006)

86

ALASAN PK (PSL 263 AYAT 2)


APABILA TERDAPAT KEADAAN BARU 2. APABILA DALAM PELBAGAI PUTUSAN TERDAPAT SALING BERTENTANGAN 3. APABILA TERDAPAT KEKHILAFAN HAKIM ATAU SUATU KEKELIRUAN YANG NYATA
1.
87

TATA CARA MENGAJUKAN PK


PERMINTAAN DIAJUKAN KEPADA PANITERA PN YANG MEMUTUS PERKARA 2. PANITERA MEMBUAT AKTA PERMINTAAN PK
1.

CATATAN : TIDAK ADA BATASAN WAKTU UNTUK MENGAJUKAN PK

88

PEMERIKSAAN PERMINTAAN PK DISIDANG PN (PSL 265)


1. 2.

3.

4.

KETUA PN MENUNJUKAN HAKIM YANG AKAN MEMERIKSA OBJEK PEMERIKSAAN SIDANG TIDAK DIPERKENANKAN MEMERIKSA HAL-HAL YANG BERADA DILUAR ALASAN PK YANG DIAJUKAN OLE PEMOHON SIFAT PEMERIKSAAN RESMI DAN TERBUKA UNTUK UMUM DIHADIRI OLEH PEMOHON, JAKSA DIMANA MEREKA DAPAT MENYAMPAIKAN PENDAPATNYA DIBUAT BERITA ACARA SIDANG DAN BERITA ACARA PENDAPAT

89

PUTUSAN PK
PERMINTAAN DINYATAKAN TIDAK DAPAT DITERIMA 2. PUTUSAN MENOLAK PERMINTAAN PK 3. PUTUSAN YANG MEMBENARKAN ALASAN PK
1.

90

BEBERAPA ASAS DALAM PK


PIDANA YANG DIJATUHKAN TIDAK BOLEH MELEBIHI PUTUSAN SEMULA 2. PERMINTAAN PK TIDAK MENANGGUHKAN PELAKSANAAN PUTUSAN 3. PERMINTAAN PK HANYA DAPAT DILAKUKAN SATU KALI
1.
91

1. 2. 3. 4. 5. 6.

REGLEMENT OF DE STRAF VORDERING PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NO.1 THN 1969 PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NO.1 THN 1980 UU NO.14 THN 1970 (UU POKOK KEKUASAAN KEHAKIMAN) UU NO.8 THN 1981 UU NO. 48 THN 2009
92

SEJARAH HUKUM POSITIF MENGENAI PK

ASAS OPURTINITAS TIDAK MURNI INGGRIS


CVS BOLEH MENYAMPINGKAN PERKARA DEMI KEPENTINGAN UMUM UNTUK DELIK RINGAN TERDAKWA TERLALU TUA ANAK DIBAWAH UMUR BERPENYAKIT MENTAL ALASAN TEKNIS : TIDAK CUKUP BUKTI DERAJAT KESALAHAN RENDAH

93

AS
JAKSA AMERIKA

OTONOM DALAM MELAKSANAKAN WEWENANG DIREKSI (DISCREATIONARY POWER) DARI SEJAK PENYIDIKAN SAMPAI PADA PASCA PERSIDANGAN POWER HAMPIR BEBASAN SEPENUHNYA UNTUK MENENTUKAN UNTUK MENUNTUT ATAU TIDAK BERKOMPROMI YANG DISEBUT PLEA BARGAINING

94

AMERICAN BAR ASOSIATION STANDAR UNTUK MENERAPKAN DISKRESI PENUNTUTAN


1. 2. 3. 4. 5. 6.

PU APAKAH CUKUP BUKTI MEMIDANA TERDAKWA PU TIDAK WAJIB MENUNTUT SEMUA DAKWAAN YANG TERSEDIA CUKUP BUKTI TIDAK BOLEH UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI POLITIS POPULARITAS DALAM HAL MENYANGKUT ANCAMAN SERIUS TERHADAP MASYARAKAT PERKARA SERIUS TERHADAP MASYARAKAT HARUS DILAKUKAN PENUNTUTAN PU TIDAK BOLEH MENCARI DAKWAAN SELAIN BERDASARKAN BUKTI-BUKTI DIPERSIDANGAN

95

SINGAPURA
PENUNTUT POLISI (POLICE PROSCUTER) MELAKUKAN NEGOSIASI PROSCUTER UNTUK MENARIK ATAU MENGURANGI DAKWAAN.

96

THAILAND
WALAUPUN CUKUP BUKTI JAKSA DAPAT TIDAK MENUNTUT

97

FILIPINA
JAKSA DAPAT BERNEGOSIASI ANTAR PIHAK-PIHAK PEMBAYARAN RESTITUSI KEPADA KORBAN KEJAHATAN SEBAGAI UNSUR ALTERNATIF PENUNTUTAN

98

ASAS OPURTINITAS MURNI


BELANDA
MENGARTIKAN ASAS OPURTINITAS SEBAGAI PU BOLEH MEMUTUSKAN UNTUK MENUNTUT ATAU TIDAK DENGAN SYARAT ATAU TIDAK

99

KATEGORI PENYAMPINGAN PERKARA


ALASAN KEBIJAKAN (POLICY ) UNTUK PERKARA RINGAN, UMUR TERDAKWA SUDAH TUA, KERUSAKAN TELAH DIPERBAIKI ALASAN TEKNIS ANTARA LAIN ATAU TIDAK CUKUP BUKTI, LEWAT WAKTU PERKARA DIGABUNG DENGAN PERKARA LAIN

100

JEPANG
PENUNTUTAN SIFAT

TIDAK PERLU KARENA

DELIK UMUR DAN LINGKUNGAN TERSANGKA , BERAT DAN KEADAAN DELIK KEADAAN SESUDAH DELIK DILAKUKAN

101

NORWEGIA (UU TH 1887, UU HAPID 1981

PENYAMPINGAN PERKARA DENGAN DISERTAI SYARAT-SYARAT : MENIMA NON CURAT PRAETOR

DASAR

102

PENGANUT ASAS LEGALITAS


JERMAN TIDAK BOLEH MENYAMPAIKAN PERKARA

KECUALI DENGAN PERSETUJUAN HAKIM ANTARA LAIN JIKA TINGKAT KESALAHAN RENDAH DAN KEPENTINGAN UMUM TIDAK MEMERLUKAN

103

AUSTRIA DAN ITALI


SAMA SEKALI TIDAK BOLEH MENYAMPINGKAN PERKARA DAPAT MINTA KEPADA HAKIM MENGHENTIKAN PERKARA

104