Anda di halaman 1dari 7

TITIK KRITIS KEHALALAN PRODUKSI OBAT-OBATAN Berdasarkan panduan Al-Quran dan Sunnah, sebenarnya sangat mudah untuk menentukan

kehalalan suatu obat. Obat-obatan ini setidaknya harus memenuhi 3 aspek terkait, yakni: 1. Tidak terbuat dari bahan haram (untuk obat dalam). 2. Tidak terbuat dari bahan yang najis (obat luar dan dalam). 3. Tidak terkontaminasi oleh bahan haram (dalam proses produksi, penyimpanan, dan distribusi). Semua tanaman halal untuk dikonsumsi, kecuali tanaman yang memiliki efek samping merugikan, seperti beracun. Obat herbal termasuk sediaan kering dan sediaan galenik (ekstrak, minyak atsiri, infusi atau larutan tanaman dll) dapat dikatakan halal (Taylor 2001). Ada asumsi bahwa obat herbal berstatus halal telah mendorong konsumsi obat ini terkait keterikatan budaya (Merz & Yi 2008; Tuschinsky 1995; Cleveland 2009), meski perlu penelaahan lebih lanjut. Namun yang perlu diwaspadai adalah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama manufaktur) membuat penilaian mengenai status kehalalan menjadi tidak mudah. Hal ini ditambah lagi dengan terjadinya kenyataan perdagangan bebas dimana proses produksi bahan mentah dan obat terjadi pada daerah yang berjauhan, dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Hal lain yang menjadi kritis adalah pada aspek proses produksi, pengemasan, penyimpanan dan distribusi yang mampu menjamin dicegahnya kontaminasi silang bahan haram ke dalam obat herbal yang halal. Sediaan kering tanaman obat dapat dikatakan halal untuk dikonsumsi, asalkan tidak terdapat pemrosesan lebih lanjut (selain proses pengeringan) dan tidak tercemari oleh bahan-bahan yang bersifat najis (kotor). Obat herbal yang berasal dari terkadang memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk meningkatkan khasiatnya. Setidaknya ada 3 titik kritis yang menentukan kehalalan obat, yakni proses dan bahan isolasi melalui ekstraksi, proses dan bahan fermentasi dan penggunaan bahan pendukung (eksipien). Upaya ektraksi bahan aktif dapat dilakukan dengan penggunaan pelarut, antara lain alkohol. Alkohol sebagai salah satu bahan yang menyebabkan efek serupa khamr, yakni memabukkan, memiliki ketentuan khusus dalam penggunaannya. Majelis Ulama Indonesia sendiri memperbolehkan pemakaian etanol sebagai pelarut apabila dalam produk akhir tidak terkandung residu alkohol. Alkohol yang digunakan pun tidak boleh merupakan produk samping industri minuman keras (AIFDC ICU 2008; AIFDC ICU 2009). Selain melalui proses

ekstraksi, obat herbal terkadang didapatkan melalui proses fermentasi. Hal ini antara lain dapat dilihat pada proses pembuatan jus mengkudu (Morinda citrifolia). Proses fermentasi yang terlalu lama dapat menyebabkan kadar alkohol meningkat hingga mencapai taraf yang memabukkan, sehingga tergolong haram. Selain itu, tujuan awal dari pembuatan jus tersebut pun perlu ditelaah, apakah untuk meningkatkan zat aktif dari mengkudu atau sekaligus untuk mendapatkan efek minuman keras. Apabila diniatkan untuk membuat minuman keras, hal ini tentu dilarang dan menjadikan jus mengkudu tersebut haram hukumnya. Salah satunya hal lain yang menentukan kehalalan proses produksi obat terkait dengan penambahan bahan-bahan farmasetik, yakni bahan tambahan (bukan obat) yang diracik bersama obat membentuk produk farmasetik. Bahan-bahan tersebut bisa berupa substansi pembasah, gelidan, bufer, emulsifier, pewarna, perisa, pemanis, pengisi tablet, pelarut, bahan enkapsulasi, dll. Bahan-bahan ini bisa saja berasal dari bahan mentah atau proses produksi yang membuatnya menjadi haram. Bahan kapsul, sebagai contoh, tergolong sebagai bahan yang kritis status kehalalannya. Kapsul diperlukan untuk mengemas obat herbal sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Kapsul umumnya terbuat dari gelatin, sementara kebanyakan gelatin berasal dari babi. Produksi gelatin dunia pada tahun 2007 adalah sebesar 326.000 ton, dengan 46% diantaranya berasal dari kulit babi, 29.4% dari kulit sapi, 23.1% dari tulang sapi, dan 1.5% dari bagian lain (Karim & Bhat 2008). Terkadang, obat herbal dalam proses formualsinya menggunakan campuran tambahan material yang berasal dari hewan, seperti tulang atau kelenjar hewan. Hal ini pun harus diwaspadai dengan memastikan bahwa hewan tersebut tergolong halal. Salah satu hal yang mampu menjadikan diperbolehkannya pemakaian suatu substansi haram sebagai obat adalah vitalnya obat tersebut dan ketiadaan alternatif pengganti obat tersebut. Namun, hal ini memerlukan penilaian ilmiah yang cermat dan hati-hati. Contohnya akan diberikan dalam dua kasus. Kasus pertama adalah pada penggunaan sodium (natrium) heparin dan kalsium heparin. Salah satu sumber senyawa ini yang umum adalah yang berasal dari mukosa usus babi. Bahan ini antara lain berfungsi antikoagulan darah dalam upaya mencegah penyumbatan akibat gumpalan darah yang menyumbat (penyebab serangan jantung). Ia pun berperan penting mencegah penyumbatan darah pada saat operasi jantung dan pada saat dialisis darah. Mengingat pentingnya bahan ini sebagai antikoagulan, ada yang melegalkan (baca: menghalalkan) penggunaan obat ini meskipun berasal dari bahan haram. Namun, penilaian yang ilmiah dan sistematis makan menemukan bahwa ternyata ada alternatif bahan yang halal, yakni yang berasal paru-paru sapi (yang tentunya disembelih atas nama Allah). Dalam kasus

ini, pemakaian sodium heparin yang berasal mukosa usus babi menjadi haram karena ketersediaan alternatif. Kasus kedua adalah pada pemakaian vaksin X yang menggunakan enzim tripsin sebagai katalis. Tripsin umumnya digunakan untuk melepaskan sel vero dari mikrokarrier (biasanya N,N-diethyl amino ethyl) pada proses produksi vaksin. Tripsin diperoleh dari ekstraksi protease menggunakan asam atau alkohol dari pankreas mamalia (umumnya babi). Enzim ini sangat umum digunakan dalam produksi antara lain vaksin polio oral dan vaksin polio inaktif (Martindale 1977; Parfit 1999). Enzim ini tidak akan terdeteksi pada produk akhir. (Asumsi atas) ketiadaan residu tripsin pada produk akhir dan pentingnya vaksin tersebut membuat penilaian umum menganggap halalnya vaksin yang dibuat menggunakan enzim tripsin babi. Sebenarnya, ada alternatif enzim tripsin yang berasal dari sapi. Namun, pemakaian yang belum umum (sehingga memerlukan penelitian mendalam) dan berjangkitnya penyakit BSE (bovine spongiform encephalopathy) yang populer sebagai penyakit sapi gila, menyebabkan penggunaan enzim tripsin dari sapi menjadi dihindari. Dalam kasus ini, pemakaian vaksin yang menggunakan tripsin babi dalam proses produksinya menjadi halal, sepanjang tiadanya alternatif lain. Namun, proses penelitian untuk mencari alternatif proses produksi yang halal harus terus menerus didorong untuk mengurangi konsumsi obat haram karena alasan keterpaksaan. Aspek kehalalan obat juga sangat terkait dengan obat yang berasal dari produk yang mengalami rekayasa genetik, yang populer disebut GMO (genetically modified organism). Secara tradisional, pengenalan (onkorporasi) gen asing dilakukan melalui sistem persilangan atau perkawinan. Proses ini memakan waktu, dan hasilnya pun memiliki variasi dengan derajat tertentu. Hal ni diatasi dengan teknologi rekayasa genetika. GMO melibatkan sebuah penyisipan sebuah gen asing (dari sebuah spesies) ke dalam gen spesies yang berlainan jenis (Al-Hayani 2007; Chassy 2009). GMO pun dapat berlaku pada sebuah tanaman untuk memperbaiki karakteristik tanaman tersebut. Umat Islam belum memiliki panduan yang jelas dan global mengenai proses ini. Namun secara sederhana, sudah ada kesepakatan mengenai haramnya konsumsi produk yang berasal dari rekayasa genetika dengan menggunakan gen binatang yang haram untuk dikonsumsi (seperti gen babi). Jelas, obat herbal yang berasal dari tanaman GMO yang mengandung gen babi dapat dipastikan keharamannya.

Standar Obat yang Halal

Kehalalan obat tergantung pada: sifat bahannya, pengaruh makanan pada bahan-bahannya, proses pembuatannya dan pengaruh pada penggunanya. Sifat bahan obat meliputi bahan aktif obat dan bahan farmaseutik. Sumber bahan aktif obat, baik obat dalam maupun obat luar berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pembuatan obat (produk farmasi), baik obat dalam maupun obat luar, disamping bahan aktif obatnya, dapat pula mengalami penambahan bahan lain. Jika bahan-bahannya berasal dari lemak atau minyak hewan, tentu perlu kajian tentang hewannya halal atau haram dikonsumsi dan pemeriksaan proses penyembelihannya. Jadi apapun bahannya tentu perlu kehalalannya dengan teliti, demi memberikan ketenangan kepada masyarakat muslim sebagai konsumen. OBAT-OBATAN DARI TUMBUHAN Islam melarang menggunakan tumbuh-tumbuhan yang merusak akal untuk dijadikan obatobatan, karena menghambat dzikir kepada Allah Swt. Ada tiga jenis tumbuha-tumbuhan terlarang yang disebut-sebut dalam buku-buku fiqh, yaitu : hasyisy, opium dan kat. Untuk mengetahui pandangan islam tentang tiga tumbuh-tumbuhan tersebut, cukup dengan mempelajari pandangan islam tentang hasyisy, kemudian mengembangkan kepada tumbuhtumbuhan lain. Para ahli fiqh, baik dari mahzab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali, sepakat mengenai keharaman hasyisy, karena merusak akal, mengahambat dzikir kepada Allah Swt dan mengandung unsure-unsur racun yang berpengaruh pada syaraf. Ibnu At-Taaimiyyah mengatakan Seluruh ulama kaum muslimin sepakat mengatakan hasyisy adalah haram. Orang islam yang menghalalkannya dituntut untuk berotobat. Jika tidak mau berotobat dia dijatuhi hukuman mati sebagai murtad. Allah SWT. Berfirman: yang artinya Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatanmu itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksudmenimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran meminum khamer dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Q.S. Al-Maidah (5) 90-91).

Ayat ini melarang mengkonsumsi khamer karena menghalangi mengingat Allah dan shalat. Jika demikian hokum mengkonsumsi khamer, maka demikian pula hokum mengkonsumsi hasyisy, opium dan kat. Jadi hokum yang berlaku pada khamer tersebut dikembangkan kepada tumbuh-tumbuhan lain yang sama. OBAT-OBATAN DARI HEWAN Pembuatan obat yang halal dari hewan hendaklah dari hewan yang halal dikonsumsi. Untuk mengetahui hewan yang halal dikonsumsi perlu mempelajari pembahasan tentang hewan dalam fiqh islam. Allah SWT. Berfirman: yang artinya Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 173). Obat Halal Yang Susah Didapat Di Indonesia Dunia obat-obatan berkembang sedemikian pesat, mengikuti kualitas dan kuantitas penyakit yang tak kalah cepatnya berkembang. Aspek kehalalan kembali menjadi korban penelitian farmasi yang telah memanfaatkan apa saja, asalkan bisa memberikan kesembuhan. Termasuk penggunaan bahan dari babi, organ manusia, dan bahan haram lainnya. Pengkajian mengenai kehalalan obat ini banyak mengalami kesulitan dan hambatan, terutama berkaitan dengan minimnya informasi yang bisa diakses masyarakat umum. Pada obat-obatan yang beredar melalui resep dokter sangat sulit ditelusuri kandungan dan komposisi bahannya, karena akses yang didapatkannya juga sangat terbatas. Definisi obat menurut Permenkes No.1010/Menkes/Per/XI/2008 adalah obat jadi yang merupakan sediaan atau paduan bahan bahan termasuk produk biologi dan kontrasepsi yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan kesehatan. Sedangkan yang dapat menjadi titik kritis dari segi kehalalannya pada obat adalah penggunaan beberapa bahan yang digunakan sebagai bahan tambahan pada produk ataupun proses pembuatannya yang dapat bersumber dari bahan haram. Seperti misalnya penggunaan gelatin untuk cangkang kapsul atau coating vitamin yang dapat terbuat dari babi ataupun sapi,

alkohol untuk pelarut obat-obatan (tetapi apabila kandungan alkohol dalam obat tersebut < 0,5% masih ditolerir oleh bagian fatwa MUI) serta penggunaan bagian tubuh/sel dari binatang untuk proses pembuatan vaksin termasuk sebagai media pertumbuhan vaksin. Menurut Departemen Kesehatan sendiri sampai saat ini memang belum ada ketentuan pencantuman label halal pada produk obat di Indonesia, persyaratan yang ditetapkan kepada produk obat lebih kepada persayaratan mutu dan keamanan. Tetapi menurut Dra. Sri Indrawaty Apt, M.Kes dari Bina Kefarmasian dan Alkes Departemen Kesehatan menyebutkan bahwa untuk obat-obatan yang mempunyai indikasi penggunaan bahan non halal dalam proses pembuatan ataupun pada produk akhirnya akan ditanya asal-usul bahan tersebut dan dimintai sertifikat dari lembaga syariat setempat. Kemudian apabila ternyata produk obat tersebut memang mengandung bahan yang haram, maka harus dicantumkan dalam penandaannya untuk obat yang haram, seperti kotak berwarna merah dengan dasar putih serta tulisan PADA PROSES PEMBUATANNYA BERSINGGUNGAN DENGAN BAHAN BERSUMBER BABI Menurut LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) untuk menentukan halal tidaknya suatu produk bukan merupakan hal yang mudah. Hal ini karena untuk menentukan halal atau tidak bukan hanya berdasar dari asal bahan baku, bahan tambahan atau bahan penolong yang digunakan saja tetapi juga harus diketahui proses produksinya. Karena mungkin saja walaupun bahan bakunya halal tetapi ketika dalam proses pembuatannya tercampur/bersinggungan dengan bahan yang tidak suci atau haram maka hasil akhir produk yang dihasilkan pun akan menjadi tidak halal. Walaupun demikian menurut KH. Maaruf Amin ada beberapa kondisi tertentu yang dapat membuat sesuatu yang wajib menjadi tidak wajib yaitu keadaan darurat (ad-dharurah). Kadaan darurat tersebut menimbulkan dispensasi mengenai bolehnya mengkonsumsi yang haram untuk pengobatan, karena yakin adanya bahaya yang mengancam/menimbulkan kematian bila tidak mengkonsumsi obat tersebut dan belum ada obat lain yang dapat menggantikan obat tersebut. Contoh kasusnya adalah penggunaan vaksin meningitis untuk orang yang akan pergi haji/umrah yang marak menjadi pemberitaan tahun lalu karena diyakini telah terkontaminasi dengan bahan dari babi. Untuk kasus tersebut MUI membolehkan penggunaan vaksin meningitis itu karena sampai saat ini masih belum ditemukan vaksin meningitis lain yang halal. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa keadaan darurat tersebut hanya bersifat sementara, dalam arti apabila telah ditemukan obat lain yang lebih halal maka harus diganti segera.