Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KLIMATOLOGI PENGUAPA ( EVAPORASI )

Oleh : RUSMATATI CCA 111 0017

Dosen :
Ir. NUWA, MP

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN KEHUTANAN 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Penguapan (Evaporasi). Adapun penulisan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas KLIMATOLOGI UNIVERSITAS PALANGKA RAYA, FAKULTAS PERTANIAN DAN JURUSAN ILMU KELAUTAN 2011. Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini. Kami juga berharap dengan adanya makalah ini dapat menjadi salah satu sumber literatur atau sumber informasi pengetahuan tentang kelembaban udara. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan karya tulis kami. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Palangha Raya, 01 Mei 2012

penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......i DAFTAR ISI............ii


1. BAB I PENDAHULUAN.1

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah..........................................2 1.3 Tujuan Penulisan............................................2 1.4 Manfaat Penulisan...3 2. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Evaporasi......................................................................... ..4 2.2 Proses yang terjadi saat Pristiwa Evaporasi............... .4 2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pristiwa Evaporasi......... .7 2.4 Konsep Penting Tentang Pristiwa Evaporasi.............. .9 2.5 Perbedaan Evaporasi dengan Destilasi..................................................... 10 2.6 Evaporasi sebagai pembentuk dan pengendali Cuaca.................... 12 2.7 Evaporasi dalam bidang perikanan..............................................................12 3. BAB III PENUTUP................................13

DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi. Umumnya penguapan dapat dilihat dari lenyapnya cairan secara berangsur-angsur ketika terpapar pada gas dengan volume signifikan. Evaporasi atau penguapan merupakan pengambilan sebagian uap air yang bertujuan utuk meningkatkan konsentrasi padatan dari suatu bahan makanan cair. Salah satu tujuan lain dari operasi ini adalah untuk mengurangi volume dari suatu produk sampai batas-batas tertentu tanpa menyebabkan kehilangan zat-zat yang mengandung gizi. Pengurangan volume produk, akan mengakibatkan turunnya biaya pengangkutan. Disamping itu, juga akan meningkatkan efisiensi penyimpanan dan dapat membantu pengawetan, atas dasar berkurangnya jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh microorganisma untuk kehidupannya. Salah satu contoh untuk pengawetan adalah susu kental manis. Operasi penguapan yang mungkin digunakan untuk suatu produk sangat bervariasi, hal ini tergantung pada karakteristik bahan produk. Dalam banyak kasus, karakteristik bahan ini berpengaruh pada design evaporator (alat penguap). Adapun contoh dari karakteristik bahan adalah kekentalan bahan dan kepekatan bahan terhadap suhu serta kemampuan bahan untuk membuat alat mengalami korosi. Menaikkan konsentrasi dari fraksi padatan di dalam produk bahan makanan cair adalah dengan menguapkan air bebas yang ada didalam produk. Proses penguapan ini dilakukan dengan menaikkan temperatur produk sampai titik didih dan menjaganya untuk beberapa waktu sampai konsentrasi yang diinginkan. Kegiatan evaporasi pada bahan pangan dapat dilakukan dengan cara tradisional atau modern. Cara tradisioanal biasa digunakan pada evaporasi dalam pembuatan gula merah secara tradisional dengan menguapkan sejumlah air dalam nira sehingga terbentuk kristal gula. Sedangkan evaporasi vakum dengan menggunakan alat avaporator vakum seperti dalam pembuatan susu kental manis dengan suhu yang rendah dan diberi tekanan sehingga nutrisi dalam bahan tetap terjaga.

1.2 Tujuan Penulisan Untuk mengetahui pengertian evaporasi(penguapan) Untuk mengetahui proses yang terjadi saat peristiwa evaporasi Berlangsung Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peristiwa evaporasi Berlangsung Untuk mengetahui konsep penting tentang peristiwa evaporasi Untuk mengetahui perbedaan evaporasi dan destilasi Untuk mengetahui hubungan peristiwa evaporasi dengan cuaca Untuk mengetahui manfaat peristiwa evaporasi di bidang perikanan

II. TINJAUAN PUSAKA Pada waktu pengukuran evaporasi, maka kondisi atau keadaan ketika itu harus diperhatikan, mengingat faktor itu sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Kondisi-kondisi ini tidak merata untuk seluruh daerah. Umpamanya, di bagian yang satu disinari matahari, di bagian yang lain berawan. Oleh karena itu, pengukuran evaporasi harus dilakukan untuk keseluruhan daerah tersebut, sehingga harga evaporasi yang diperoleh tidak menyimpang (Sosrodarsono dan Takeda, 1976). Pengukuran evaporasi biasanya menggunakan panci evaporasi yang berdiameter 120 cm (panci klas A). Biasanya alat ini dilengkapi dengan termometer air, cup counter anemometer, hook gauge (alat pengukur tinggi air), still well, (tempat menempatkan hook gauge pada waktu pengamatan) (BMG, 2006). Banyaknya evaporasi diketahui dari air yang dituangkan hari ini ditambah dengan curah hujan jika ada dan dikurangkan dengan air sisa keesokan harinya. Satuan penguapan (E) adalah mm (Sosrodarsono dan Takeda,1976). Laju evaporasi bergantung masukan energi matahari yang diterima. Semakin besar jumlah energi matahari yang diterima, maka semakin banyak molekul air yang diuapkan. Secara umum, total air yang diuapkan melalui proses evaporasi dari permukaan laut adalah sebesar 3,8 x 1020 gram, sedangkan yang diuapkan oleh evapotranpirasi dari daratan (termasuk danau, waduk, sungai) adalah sebesar 0,6 x 1020 gram (Lakitan, 1997).

III. PEMBAHASAN 3.1 Pengertian Evaporasi Penguapan adalah proses perubahan fase cair menjadi uap. Uap air di udara berasal dari penguapan air di permukaan bumi. Kondensasi dan presipitasi mengembalikan air ini ke permukaan bumi, melengkapi siklus hidrologi. Meskipun demikian, penguapan tidak terjadi dengan kecepatan yang konstant dan tidak tergantung pada persediaan air yang ada. 2.2 Proses Yang Terjadi Saat Peristiwa Evaporasi Berlangsung Terdapat banyak air di lap lapisan bumi baik itu di daratan maupun di lautan dengan kuantitas yang maha besarnya. komposisi air tersebut seakan menjadi modal terpenting dari proses terjadinya evaporasi atau penguapan dan teramat penting pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup. Air hujan yang jatuh diatas daratan sebagian meresap kedalam tanah (infiltrasi) sebagian ditahan tumbuh tumbuhan ( Intersepsi ), sebagian menguap kembali (evaporasi ) dan sebagian menjadi lembab. Jadi evaporasi terjadi di segenap bagian didalam siklus hidrologi. Adapun siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Evaporasi itu sendiri sepintas kilas diawali dari Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. Berikut adalah gambar siklus hidrologi dan evaporasi sebagai bagian dari siklus tersebut.

Evaporasi terjadi melalui serangkaian proses dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun faktor terjadinya evaporasi adalah : udara diatasnya

Angin , Semakin besar kecepatan angin semakin besar evaporasi Tekanan atmosfir g dari pada untuk air tawar dan berkurang kalau berat jenisnya meningkat ) Kelembapan , semakin kelembapan udara semakin kecil Evaporasi

Air, baik itu yang terdapat dalam tanah maupun di laut atau yang bersumber dari manapun dapat menguap karena adanya radiasi energi yang bersumber dari : a. Matahari b. Panas yang didalam angin c. Panas yang didalam tanah d. Panas yang didalam air

Radiasi matahari dapat memanasi udara secara intensif yang menyebabkan udara mengembang dan naik keatas sambil membawa molekul moleku air. Molekul air tersebut terbawa angin dan keatas kemudian berkumpul disuatu daerah yang dingin hingga ahirnya terkondensasi dan terbentuklah hujan. Ada kalanya terdapat energi untuk penguapan , tetapi karena udara jenuh atau hampir jenuh maka terdapat suatu keseimbangan antara penguapan air dan sulingan air atmosfir. Keadaan demikian sering terjadi didaerah lembab disekitar khatulistiwa seperti dinegara kita.

2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peristiwa Evaporasi Berbagai faktor yang menghambat dan mempercepat kecepatan dan jumlah penguapan (Hasan, 1970), adalah :
a. Suhu Kecepatan

penguapan berubah-ubah langsung terhadap suhu air. Dengan kenaikan suhu air dan tekanan uap air, kemampuan titik-titik air untuk

menguap ke udara mengalami kenaikan dengan cepat. Hal ini identik dengan kenyataan bahwa air panas akan mengalami penguapan lebih cepat daripada air dingin.
b. Kelembaban nisbi (kelembaban udara)

Kelembaban udara dipengaruhi oleh jumlah uap air di udara. Penguapan akan lebih besar apabila kelembaban nisbi rendah.
c. Angin

Angin sangat mempercepat terjadinya penguapan, karena angin mengganti udara basah dekat permukaan air dengan udara kering. Untuk lautan, biasanya angin hanya menggerakan udara basah tanpa membawa udara kering dari atas permukaan laut.
d. Susunan air

Penguapan berubah-ubah secara kebalikan dengan kadar garam pada air, sehingga penguapan lebih tinggi pada air tawar dari pada air asin. Dalam keadaan yang ekuivalen air laut akan menguap lebih lama 5% dari air tawar.
e. Wilayah Penguapan (luas permukaan)

Penguapan akan lebih besar pada daerah yang memiliki permukaan yang luas daripada daerah yang memiliki permukaan yang kecil.
f.

Tekanan Udara Pada umumnya, jika tekanan udara lebih rendah di atas permukaan air, penguapannya lebih besar. Pengaruh tekanan udara yang rendah tersebut bisa diabaikan dengan faktor-faktor lain, misalnya kelembaban nisbi yang tinggi

g. Panas laten penguapan

Penguapan terjadi apabila adanya transfer energi panas (matahari). Energi panas ini dibutuhkan untuk mengubah sifat benda (wujud benda) dari cair menjadi uap. Oleh karena panas ini hanya dipakai untuk mempengaruhi peralihan dari cair menjadi uap, dan tidak mempunyai efek terhadap suhu cairan maupun uapnya, maka dinamakan panas laten. Pada waktu pengukuran evaporasi, maka kondisi atau keadaan ketika itu harus diperhatikan, mengingat faktor itu sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Kondisi-kondisi ini tidak merata untuk seluruh daerah. Umpamanya, di bagian yang satu disinari matahari, di bagian yang lain berawan. Oleh karena itu, pengukuran evaporasi harus dilakukan untuk keseluruhan daerah tersebut, sehingga harga evaporasi yang diperoleh tidak menyimpang (Sosrodarsono dan Takeda, 1976).

Pengukuran evaporasi biasanya menggunakan panci evaporasi yang berdiameter 120 cm (panci klas A). Biasanya alat ini dilengkapi dengan termometer air, cup counter anemometer, hook gauge (alat pengukur tinggi air), still well, (tempat menempatkan hook gauge pada waktu pengamatan) (BMG, 2006). Banyaknya evaporasi diketahui dari air yang dituangkan hari ini ditambah dengan curah hujan jika ada dan dikurangkan dengan air sisa keesokan harinya. Satuan penguapan (E) adalah mm (Sosrodarsono dan Takeda,1976). Laju evaporasi bergantung masukan energi matahari yang diterima. Semakin besar jumlah energi matahari yang diterima, maka semakin banyak molekul air yang diuapkan. Secara umum, total air yang diuapkan melalui proses evaporasi dari permukaan laut adalah sebesar 3,8 x 1020 gram, sedangkan yang diuapkan oleh evapotranpirasi dari daratan (termasuk danau, waduk, sungai) adalah sebesar 0,6 x 1020 gram (Lakitan, 1997). 2.4 Konsep Penting Tentang Peristiwa Evaporasi Ada beberapa konsep penting : a. Transpirasi, yaitu proses hilangnya air dalam tumbuhan akibat penguapan melalui stomata daun.. b. Evapotranspirasi, yaitu penguapan yang terajdi pad permukaan air, tanah, maupun tumbuhan air pada suatu DAS. c. Potential evaporation, yaitu jumlah penguapan persatu-satuan luas dan waktu yang terjadi pada keadaan atmosfer saat itu, apa bila tersedia cukup air. d. Actual evaporation, yaitu jumlah penguapan persatu-satuan luas dan waktu yang benar-benar terjadi pada saat itu. e. Potential evapotranspiration, yaitu jumlah penguapan yang berasal dari tumbuhan, tubuh air, permukaan tanah dalam keadaan jenuh pada kondisi iklim saat itu (syarat air yang tersedia berlebihan). f. Actual evapotranspiration, yaitu jumlah penguapan yang berasal dari tumbuhan,tubuh air, permukaan tanah dalam keadaan jenuh yang benarbenar terjadi pada saat itu. 2.5 Perbedaan Evaporasi dengan Destilasi Apa perbedaan evaporasi dengan destilasi? Dalam proses evaporasi, uap yang dihasilkan biasanya adalah komponen tunggal dan walaupun uap tersebut masih berupa campuran, biasanya dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Dalam destilasi, uap yang dihasilkan masih memiliki komponen yang lebih dari satu. Biasanya, dalam proses evaporasi, zat cair pekat yang dihasilkan adalah produk dari proses evaporasi dan uapnya dikondensasi untuk kemudian dibuang. Tetapi bisa pula sebaliknya, air yang mengandung mineral seringkali di-evaporasi untuk mendapatkan air yang bebas zat padat terlarut, misalnya untuk air umpan boiler, air proses atau untuk dikonsumsi manusia. Cara seperti ini disebut destilasi air

(water distillation), tetapi dari segi teknik proses ini adalah evaporasi. Penyelesaian terhadap masalah evaporator sangat ditentukan oleh karakteristik cairan yang akan di-evaporasi. Berikut ini adalah beberapa hal penting mengenai zat cair yang akan di-evaporasi. a. Konsentras Cairan encer yang diumpankan ke dalam evaporator mungkin cukup encer sehingga sifat fisiknya sama dengan zat pelarutnya, misalnya air. Akan tetapi, semakin lama konsentrasi cairan yang di-evaporasi akan meningkat sehingga memiliki sifat tersendiri. Konsentrasi, densitas dan viskositasnya akan meningkat dan mungkin dapat mencapai titik jenuh. Jika cairan jenuh dipanaskan terus menerus, maka akan terjadi pembentukan kristal dan kristal-kristal ini akan menyumbat tabung evaporator. Titik didih cairan akan jauh meningkat bila konsentrasi zat padat didalamnya bertambah sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari larutan tidak jenuh pada tekanan yang sama. b. Pembentukan busa (foaming) Beberapa bahan tertentu, lebih-lebih zat organik, akan membusa ketika diuapkan. Busa yang stabil akan ikut keluar evaporator bersama uap dan menyebabkan banyaknya bahan yang ikut terbawa dan terbuang. c. Kepekaan bahan terhadap suhu Beberapa bahan, seperti bahan kimia farmasi dan makanan dapat rusak bila dipanaskan walaupun dalam waktu yang singkat sehingga diperlukan teknik khusus untuk meng-evaporasi bahan tersebut. d. Kerak Beberapa larutan tertentu dapat menyebabkan pembentukan kerak pada permukaan pemanasan. Hal ini menyebabkan terganggunya perpindahan panas ke larutan. Jika kerak sudah terlalu tebal maka operasi evaporator yang kontinyu harus dihentikan dan pembersihannya dapat memakan biaya. e. Bahan konstruksi Bahan konstruksi yang digunakan untuk evaporator harus memiliki daya hantar yang tinggi terhadap panas dan tahan terhadap bahan yang akan di-evaporasi sehingga tidak merusak konstruksi atau mengkontaminasibahan yang sedang di-evaporasi. Selain itu, banyak pula karakteristik lain yang perlu diperhatikan, antaralain kalor spesifik, kalor konsentrasi, titik didih, titik beku, sifat racun,bahaya ledak, radioaktivitas dan persyratan operasi steril. Oleh karena adanya perbedaan karakteristik zat cair, maka dikembangkanlah berbagai jenis rancang evaporator. Jenis evaporator yang dipilih utamanya tergantung dari karakteristik zat cair yang akan diproses.

2.6 EVAPORASI SEBAGAI PEMBENTUK DAN PENGENDALI CUACA Cuaca adalah keadaan atmosfir ditempat dan disaat tertentu. Jadi lain tempat dan lain saat cuacanya pun lain. Adapun iklim adalag keaadan cuaca atau keseluruhan dari gejala gejala cuaca didaerah tertentu sepanjang tahun dan dari tahun ketahun. Definisi lainnya berdasarkan sumber yang kami dapatkan iklim adalah keberaturan keadaan udara untuk periode yang lama. Salah satu bentuk dari cuaca adalah hujan dimana hujan terjadi karena penguapan air (evaporasi ) , terutama air dari permukaan laut yang merupakan sumber evaporasi terbesar pembentuk cuaca. Air tersebut dalam bentuk molekul naik ke atmosfir dan mendingin kemudian menyuling dan jatuh sebagian diatas laut dan sebagian diatas daratan. 2.7 EVAPORASI DALAM BIDANG PERIKANAN Salah satu bentuk relevansi dari efaporasi dalam dunia perikanan secara nyata adalah pada BUDIDAYA UDANG-UDANGAN seperti udang windu, udang galah dan lain lain. Adapun proses evaporasi dilakukan pasca panen yang bertujuan untuk menghilangkan atau memusnahkan mikroba mikroba yang dapat menghambat pertumbuhan benih yang akan ditebar nantinya. Selain itu pengeringan tambak dengan diuapkan secara total bertujuan pula untuk mempertahankan salinitas dan sanitasi dari tambak itu sendiri.

IV. PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat di ambil kesimpulan yaitu, Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap, hal ini terjadi apabila air cair berhubungan dengan atmosfer yang tidak jenuh, baik secara internal pada daun (transpirasi) maupun secara eksternal pada permukaan-permukaan yang basah. Suatu tajuk hutan yang lebat menaungi permukaan di bawahnya dari pengaruh radiasi matahari dan angin yang secara drastis akan mengurangi evaporasi pada tingkat yang lebih rendah. Dapat pula dikatakan bahwa evaporasi adalah penguapan air dari permukaan air, tanah, dan bentuk permukaan bukan vegetasi lainnnya oleh proses fisika. Dua unsur utama untuk berlangsungnnya evaporasi adalah energi (radiasi) matahari dan ketersediaan air. Proses-proses fisika yang menyertai berlangsungnya perubahan bentuk dari cair menjadi gas berlaku pada kedua proses evaporasi Dan dalam dunia perikanan evaporasi mempunyai tujuan dalam mempertahankan mempertahankan salinitas dan sanitasi dari tambak itu sendiri hingga setelah itu dilakukan pemupukan dan diisi air kembali. Selain itu pula ada proses lain yaitu menghilangkan atau memusnahkan mikroba mikroba yang dapat menghambat pertumbuhan benih yang akan ditebar nantinya 3.2 Saran Di harapkan dari penulisan makalah ini kita dapat mengetahui proses terjadinya evaporasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan manfaat peristiwa evaporasi di bidang perikanan.

DAFTAR PUSTAKA

BMG, 2006. Prinsip dan Tetapan Modern klimatologi .Terjemahan Suminar .Erlangga. Jakarta Lakitan, 1997. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta Sosrodarsono dan Takeda, 1976 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, IPB, Bogor