Anda di halaman 1dari 2

.

Qiyas aulawi ialah yang 'illatnya sendiri menetapkan adanya hukum,sementara cabang lebih pantas menerima hukum daripada ashal,seperti haramnya memukul ibu bapak yang diqiaskan haramnya memaki kepada mereka,dilihat dari segi 'illatnya ialah menyakiti,apalagi memukul lebih-lebih menyakiti. (Dalam pelajaran "mafhum",ini disebut"fahwalkhi-tab"). b-Qiyas Musawi (bersamaan 'illatnya).

Dari definisi-definisi tersebut, kita dapat melihat bahwa inti dari

a. Syarat ashal/pokok: Syarat ashal/pokok ada 3 macam: 1).Hukum ashal harus masih tetap (berlaku),karena kalau sudah tidak berlaku lagi (sudah diubah/mansukh) niscaya tak mungkin far'i berdiri sendiri. 2).Hukum yang berlaku pada ashal,adalah hukum syara',karena yang sedang dibahas oleh kita ini hukum syara' pula. 3).Hukum pokok/ashal tidak merupakan hukum pengecualian.Seperti sahnya puasa bagi orang yang lupa,meskipun makan dan minum.. b. Syarat-syarat far'i ada 3 : 1).Hukum far'i janganlah berujud lebih dahulu daripada hukum ashak.Misalnya mengqiyaskan wudlu' kepada tayammum di dalam berkewajiban niat dengan alasan bahwa kedua-duanya thaharah.Qiyas tersebut tidak benar,karena wudlu' (dalam contoh ini sebagai cabang) diadakan sebelum hijrah,sedang tayammum (didalam contoh ini sebagai ashal) diadakan sesudah hijrah.Bila qiyas tersebut dibenarkan,berarti menetapkan hukum sebelum ada 'illat.Yakni karena wudlu' itu berlaku sebelum tayammum. 2).'Illat,hendaknya menyamai 'illanya ashal. 3).Hukum yang ada pada far'i itu menyamai hukum ashal.

Istihsan adalah ketika seorang mujtahid lebih cenderung dan memilih


hukum tertentu dan meninggalkan hukum yang lain disebabkan satu hal yang dalam pandangannya lebih menguatkan hukum kedua dari hukum yang pertama.

Menurut Ibn Qayyim Istishab adalah menyatakan tetap berlakunya hukum yang telah ada dari suatu peristiwa atau menyatakan belum ada

Qiyas musawi? ialah 'illatnya sama dengan 'illat qias aulawi,hanya hukum yang berhubungan dengan cabang (far'i) itu,sama setingkat dengan hukum ashalnya. Seperti qiyas memakan harta benda anak yatim kepada membakarnya,dilihat dari segi 'illatnya ialah sama-sama melenyapkan. (Dalam pelajaran "mafhum" ini disebut "lahnal khithab"). c-Qiyas Dilalah (menunjukkan).

nya hukum suatu peristiwa yang belum penah ditetapkan hukumnya.Sedangkan definisi Asy-Syatibi adalah segala ketetapan yang telah ditetapkan pada masa lampau dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang. maka hukumnya boleh sesuai kaidah :

Qiyas dilalah,ialah yang 'illatnya tidak menetapkan hukum,tetapi juga menunjukkan juga adanya hukum. Seperti mengqiyaskan wajibnya zakat harta benda anak-anak yatim dengan wajibnya zakat harta benda orang dewasa, Qiyas syibh,adalah mengqiyaskan cabang yang diragukan diantara kedua pangkal kemana yang paling banyak menyamai. keturunan Adam ; dapat juga diqiyas dengan karena kedua-duanya adalah harta benda yang dapat

Artinya :Pangkal sesuatu adalah kebolehan

Kebolehan adalah pangkal (asal) meskipun tidak ada dalil yang menunjukan atas kebolehannya,dengan demikian pangkal sesuatu itu adalah boleh. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah :129

c. Syarat-syarat 'illat ada 3 : 1).Hendaknya 'illat itu berturut-turut,artinya jika 'illat itu ada,maka dengan sendirinya hukumpun ada. 2).Dan sebaliknya apabila hukum ada,'illatpun ada. 3).'Illat jangan menyalahi nash,karena 'illat itu tidak dapat mengalahkannya, Contoh : Sebagian Ulama berpendapat bahwa perempuan dapat melakukan nikah tampa izin walinya (tampa wali),dengan alasan bahwa perempuan dapat memiliki dirinya diqiyaskan kepada bolehnya menjual harta bendanya sendiri. Qiyas tersebut tidak dapat diterima,karena berlawanan dengan nash hadist Nabi saw. 5. Macam-macam qiayas : Qiyas ini ada empat macam:(1).Qiyas Aulawi,(2).Qiyas Musawi,(3).Qiyas Dilalah,dan (4).Qiyas Syibh. Qiyas Aulawi dan Qiyas Musawi,biasa disebut Qiyas 'illat,karena qiyasqiyas ini mempersamakan soal cabang dengan soal pokok karena persamaan 'illatnya. a-Qiyas aulawi (lebih-lebih).

dimiliki,dijual,diwakafkan dan diwariskan. Dengan demikian tentu lebih sesuai diqiyaskan dengan harta benda semacam ini,karena ia dapat dimiliki dan diwariskan dan sebagainya.Adapun menurut istilah, Istihsan memiliki banyak definisi di kalangan ulama Ushul fiqih. Diantaranya adalah: Istishab adalah akhir dalil syara yang dijadikan tempat kembali para Mujatahid untuk mengetahui hukum suatu peristiwa yang dihadapinya. 1. Mengeluarkan hukum suatu masalah dari hukum masalah-masalah Ulama Ushul Fiqh berkata sesungguhnya Istishab adalah akhir tempat Artinya :Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk

kamu

yang serupa dengannya kepada hukum lain karena didasarkan hal lain yang lebih kuat dalam pandangan mujtahid.

beredarnya fatwa

Istishab terbagi dalam beberapa macam diantaranya : 2. Dalil yang terbetik dalam diri seorang mujtahid, namun tidak dapat 1.Istishab al-baraah al-Ashliyyah ()

diungkapkannya dengan kata-kata.

3.

Meninggalkan apa yang menjadi konsekwensi qiyas tertentu menuju

Menurut Ibn al-Qayyim disebut Barat al-Adam al-Ashliyyah ( )

qiyas yang lebih kuat darinya.

4.

Mengamalkan dalil yang paling kuat di antara dua dalil.

Seperti terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapakan Taklifnya.

2.Istishab al-ibahah al-ashliyah

shalat sunah, puasa sunah, bersedekah dan lain-lain. \

yaitu Istishab yang berdasarkan atas hukum asal dari sesuatu yang

(Hukum yang ditetapkan dengan) yakin itu tidak akan hilang (terhapus) oleh hukum yang ditetapkan dengan) ragu-ragu.

Mubah.Istishab semacam ini banyak berperan dalam menetapkan hukum


di bidang muamalah.Landasannya adalah sebuah prinsip yang mengatakan ,hulum dasar dari sesuatu yang bermanfaat boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari selama tidak ada dalil yang melarangnya,seperti makanan,minuman,hewan dll.Prinsip ini berdasarkan ayat 29 surat albaqarah

Asal sesuatu itu adalah ketetapan sesuatu yang telah ada menurut keadaan semula,sehingga terdapat ketetapan sesuatu yang mengubahnya.

Ulama ushul membagi maslahah kepada tiga bagian, yaitu:

Artinya :Dia lah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk

1. Maslahah dharuriyah

kamuAl-baqarah:29
Maslahah dharuriyah adalah perkara-perkara yang menjadi tempat 3.Istishab al-hukm tegaknya kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan manusia, merajalelalah kerusakan,timbullah fitnah, dan yaitu Istishab yang berdasarkan pada tetapnya status hukum yang telah ada selam tidakada sesuatu yang mengubahnya.Misalnya seseorang yang telah melakukan akad nikah akan selamanya terikat dalam jalinan suami istri sampai ada bukti yang menyatakan bahwa mereka telah bercerai. 2.Maslahah Hajjiah: 4.Istishab Wasaf Maslahah hajjiyah ialah, semua bentuk perbuatan dan tindakan yang Setiap Fuqaha menggunakan Istishab dari a sampai c sedang mereka berbeda pendapat. Ulama Syafiiyah dan Hanbaliyah menggunakan Istishab ini secara mutlaq. tidak terkait dengan dasar yang lain (yang ada pada maslahah dharuriyah) yang dibutuhkan oleh masyarakat.Hajjiyah ini tidak rusak dan terancam, tetapi hanya menimbulkan kepicikan dan kesempitan, dan hajjiyah ini berlaku dalam lapangan ibadah, adat, muamalat, dan dan Berdasarkan Istishab ,beberapa prinsip Syara dibangun ,yaitu : bidang jinayat.Dalam hal ibadah misalnya, qashar shalat, berbuka puasa bagi yang musafir. 3.Maslahah tahsiniyah Asal segala sesuatu itu mubah (boleh dikerjakan) Maslahah tasiniyah ialah mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh bagian mahasinul akhlak. Asal pada manusia adalah kebebasan Tahsiniyah juga masuk dalam lapanganan ibadah, adat, muamalah, dan bidang uqubat. Lapangan ibadah misalnya, kewajiban bersuci dari najis, menutup aurat,memakai pakaian yang baik-baik ketika akan shalat, mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah, seperti (Menurut hukum) asal(nya) tidak ada tanggungan kehancuranyanghebat. berjihad dengan belajar oleh sebab itu belajarlah dengan sungguhsungguh.