Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI & PENGUKURAN

INSTRUMENTASI & PENGUKURAN LEVEL CAIRAN


OLEH : YUDISTIRA 100302008

JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE 2012

LEMBAR TUGAS Judul Praktikum Laboratorium Jurusan / Prodi Nama Semester / Kelas NIM : : : : : Instrumentasi dan Pengukuran Level cairan Komputasi dan Pengendalian Proses T. Kimia / D3 YUDISTIRA IV / B2 Rp : 100302008

Anggota Kelompok I : Eda Aprilda Muhammad Syaidina Mirnawati

Uraian Tugas 1. Menentukan laju alir cairan keluar tangki 2. Tentukan penurunan level cairan tiap 10% di tangki sirkulasi dengan mencatat waktu dan indikator 3. Tentukan waktu dan catat waktu indikator level tiap kenaikan 10% 4. Lakukan pengulangan point 1 , 2 , 3 dan 4 sebanyak 3 5. Hitung nilai rata-rata

Ka Laboratorium

Buketrata, 10 April 2012 Dosen Pembimbing

Ir. Syafruddin. M.Si NIP : 19650819 199802 1 001

Ir. Syafruddin. M.Si NIP : 19650819 199802 1 001

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum Mata Kuliah Nama NIM Kelas / Semester Nama Dosen Pembimbing NIP Ka Laboratorium NIP Tanggal Pengesahan

: : : : : : : : : :

Instrumentasi dan Pengukuran Level Cairan Praktek Instrumentasi dan Pengukuran Yudistira 100302001 B2 RP / IV ( Empat ) Ir. Syafruddin. MSi 19650819 199802 1 001 Ir. Syafruddin. MSi 19650819 199802 1 001 10 April 2012

Ka Laboratorium

Buketrata, 10 April 2012 Dosen Pembimbing

Ir. Syafruddin. M.Si NIP : 19650819 199802 1 001

Ir. Syafruddin. M.Si NIP : 19650819 199802 1 001

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum Dapat Mengetahui Konsep-konsep dasar Instrumentasi dan pengukuran level cairan Dapat mengetahui dan memahami unit-unit Instrumentasi dan pengukuran level Dapat mengkalibrasi Instrumentasi dan pengukuran level cairan Dapat mengetahui dan memahami akuarasi Instrumentasi dan pengukuran level

1.2 Alat Dan Bahan Yang Digunakan. Alat dan Bahan yang Digunakan Seperangkat CRL Stopwatch Beaker Gelas & gelas ukur Bahan yang Digunakan Air (Aquadest) Udara

Gambar 1. Peralatan Praktikum Instrumentasi Level Cairan

1.3 Prosedur Percobaan 1. Periksa volume Cairan dalam tangki persegi bawah cukup levelnya 2. Hubungkan Peralatan CRL dengan sumber listrik PLN 3. Hidupkan alat CRL 4. Buku katup tekanan pelan-pelan hingga cairan mengalir ke tangki silinder kaca 5. Tutup 2 (dua) valve yang terdapat dibawah tangki silinder kaca 6. Catat waktu yang diperlukan tiap kenaikan level 10 % dan catat level recording 7. Tutup katup udara tekan pada level tepat 100% dan matikan peralatan CRL 8. Buka 1 (satu) valve yang terdapat dibawah tangki silinder kaca 9. Catat waktu yang diperlukan tiap penurunan level 10 % dan catat level recording 10. Ulangi percobaan tersebut sebanyak 5 kali

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Alat-alat instrumentasi yang dipergunakan untuk mengukur dan menunjukkan besarnya tinggi permukaan cairan digunakan diferensial transmitter elektrik yang dilengkapai dengan instrumentasi lain seperti control valve, pressure gauge, pompa recorder controller dan tangki. Tujuan pengukuran tinggi permukaan cairan pada proses adalah untuk : 1. Mencegah kerusakan equipment dan kerugian akibat cairan bahan untuk proses industri terbuang. 2. Pengontrolan jalannya proses. 3. Mendapatkan spesifikasi yang diinginkan seperti pada Evaporator-evaporator hydrocarbon. 2.2. Terminologi Pengukuran Terminologi yang umum digunakan dalam teknik instrumentasi dan control : 1. Proses variabel . Besaran fisis atau kimia atau suatu keadaan yang dapat berupa suhu, aliran, tekanan, cahaya, pH dan sebagainya, yang berubah terhadap waktu. 2. Variabel control Besaran atau keadaan yang diukur dan diatur oleh peralatan automatic controller. 3. Control agent (Medium) Bahan atau energy yang terdapat didalam proses yang mempengaruhi harga dari variabel kontrol dan alirannya diatur oleh final kontrol elemen. 4. Measuring elemen Elemen-elemen yang ikut serta dalam pengukuran perubahan dari variabel kontrol. 5. Primary control element Bagian dari control yang menyebabkan pergerakkan atau variasi dari besaran yang diukur untuk menjalankan sistem kontrol. 6. Final control element Bagian dari sistem kontrol misalnya katub membran, lever motor atau electrical beater, yang mengerjakan langsung suatu alat control. 7. Automatic controller Suatu mekanisme yang mengukur harga-harga dari suatu besaran atau keadan dan bekerja mempertahankannya didalam batas-batas yang tertentu. 8. Set point Harga dari variabel kontrol yang ingin dicapai dan dipertahankan. Suatu control biasanya diperlengkapi dengan satu jarum penunjuk untuk titik penentuan (set point) dan peralatan untuk di set.

9. Control Point Harga rata-rata dari variabel kontrol yang dipertahankan control pada keadaan beban konstan. 10. Respone kontrol Operasi yang terjadi oleh control sebagai akibat dari perubahan pada variable kontrol. 11. On-Off Respone Suatu control respont dimana final control elemen berubah dengan cepat dari suatu nilai ekstrim ke nilai ekstrim secara periodik sebagai akibat dari perubaha variable kontrol. 12. Direct Acting Controller Suatu controller yang memperbesar tekanan udara bagi control unit jika terjadi kenaikan pada harga variabel kontrol. 13. Referse Akting Controller Suatu controller yang memperkecil tekanan udara control unit jika terjadi kenaikan pada harga variabel kontrol. 14. Adjusment sensitivity atau proportional response Suatu response dari controller yang sebanding dengan perubahan dari variable kontrol. 15. Throttling Range atau Propotional Band Batas dari harga maxsimum dan minimum dari perubahan variabel control untuk membuat pergerakan/operasi dari control elemen yang terahir dari batas maxsimum ke batas minimum. 16. Sensitivity Suatu unit dari propotional response yang dinyatakan dalam satuan tertentu. Untuk alat yang bekerja dengan tekanan sensitivity dapat dinyatakan dengan p. 17. Offset Perbedaan antara yang diinginkan (Set point) dengan besaran yang terjadi sebagai output (control point) dari sebuah propotional controller. 18. Load Change (Perubahan beban) Suatu perubahan didalam keadaan-keadaan proses yang membutuhkan suatu perubahan posisi dari control element yang terahir untuk menjaga harga yang diinginkan bagi control point. 19. Synchronization Proses untuk menyetel Controller Output melalui posisi dari control element yang terahir sedemikian rupa hingga control point yang diinginkan dijaga pada suatu posisi yang tetap dengan set point. 20. Reset rate Satuan pengukuran untuk menyatakan reset response. Perbandingan antara kecepatan perubahan dari control element yang terahir sesuai dengan reset response dan juga

terhadap propotional response yang mengikuti suatu keadaan perubahan dari alat ukur. Reset rate biasanya dinyatakan dalam cycle per menit. 21. Error Adalah selisih antara nilai set-point dikurang dengan nilai measured variable. Error bisa negatif bisa juga positif.Bila set point lebih besar dari measured variabel error akan menjadi positif.sebaliknya bila set point lebih kecil dari measured variabel error akan menjadi negatif. 22. Span Adalah nilai pengukuran dari transduser atau sensor, contoh : Span dari transduser 0 100, maka zero adalah 0 dan range adalah 100. Jika rangenya adalah 50 150 . 23. Transmitter Adalah alat yang berfungsi untuk membaca sinyal sensing element, dan mengubahnya menjadi sinyal yang dapat dimengerti oleh controller. 24. Transducer Adalah unit pengalih sinyal. Kata transmitter seringkali dirancuhkan dengan transducer. Transducer lebih bersifat umum sedangkan transmitter lebih khusus pada pemakaiannya dalam sistem pengukuran. 2.3. Metoda Pengukuran Tinggi Permukaan Cairan (Level). Pengukuran permukaan, volume, berat cairan pada bahan kering dalam bejana atau tabung sering kali dijumpai. Pengukuran yang teliti seringkali sulit dicapai. Luasnya variasi karat dan sifat cair dan besarnya ukuran bejana penyimpanan yang diperlukan untuk pengukuran isi di dalam fraksi satu liter adalah halangan yang harus diatasi. Metode umum yang digunakan untuk melaksanakan pengukuran ini termasuk teknik langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung tinggi permukaan cairan dapat dilihat dari penggunaan gelas penglihat atau gelas ukur biasa dalam bejana dianggap merupakan metode yang paling sederhana untuk mengukur tinggi permukaan cairan .Metode ini sangat efektif digunakan didalam pengukuran langsung. Metode yang digunakan secara luas untuk langsung mengukur permukaan adalah pelampung sederhana,yang dapat dihubungkan dengan tranduser gerakan sesuai untuk menghasilkan sinyal listrik yang sebanding dengan permukaan cairan . Beberapa metode tidak langsung meliputi pengukuran (permukaan), tekanan, pengukuran kerapatan (densitas), pengukuran tinggi permukaan dengan pemberat, dan lain-lain. Metode pengukuran tinggi permukaan cairan ada dua,yaitu 1. Pengukuran dilihat langsung Tinggi permukaan cairan dapat dilihat langsung dan diduga kedalamannya dan ditunjukkan dalam satuan pengukuran panjang (meter). Dengan diketahui tinggi permukaan cairan maka volume dari cairan yang di ukur dapat dicari bila dikehendaki 2. Metoda Mekanik Gaya pada cairan menghasilkan gerak mekanik. Pergerakan mekanik ini kemudian di kalibrasi dalam bentuk skala angka-angka.

TINGGI CAIRAN

DILIHAT LANGSUNG

Gambar 2.1 Metoda dilihat langsung

GAYA PADA CAIRAN

GERAK MEKANIK

KALIBRASI

Gambar 2.2 Metoda mekanik 2.4. Jenis-jenis Alat Ukur Tinggi Permukaan Cairan. Dalam mengukur tinggi permukaan cairan dalam suatu tangki pemrosesan maupun dalam tangki penimbunan dipergunakan alat ukur tinggi permukaan cairan yang sesuai dengan bentuk penggunaannya. Alat ukur permukaan cairan terdiri dari beberapa jenis diantaranya : 1. Mistar Ukur Suatu batang dengan skala yang telah dikalibrasi dicelupkan secara vertikal dari atas ke dalam cairan yang akan diukur, atau dimasukkan sampai terjadi sentuhan antara permukaan cairan dan ujung mistar ukur. Ketinggian permukaan pada hal pertama dibaca pada batas pembasahan mistar, pada hal kedua pada suatu titik acuan tertentu (misalnya pinggiran wadah). Nilai ukur tergantung pada besar dan bentuk wadah. Mistar ukur hanya boleh digunakan untuk wadah yang sebelumnya dipakai untuk mengkalibrasi mistar yang bersangkutan. Apabila digunakan mistar ukur yang salah atau cara pencelupan yang tidak betul (misalnya miring) nilai ukur akan menjadi salah pula. Mistar ukur merupakan alat ukur yang paling sederhana untuk cairan dalam wadah terbuka yang terlalu tinggi.Tidak cocok untuk pengukuran yang harus dilakukan

seringkali dan menuntut ketelitian tinggi.Juga tidak cocok untuk pengukuran dalam bejana bertekanan atau berisi cairan berbusa.

2. Gelas Penduga (Level glass) Gelas penduga dapat menunjukkan tinggi permukaan cairan dalam suatu bejana atau container secara langsung. Prinsip yang dipergunakan pada gelas penduga adalah prinsip bejana berhubungan. Gelas penduga (Level glass) terdiri dari dua jenis yaitu : - Gelas penduga ujung terbuka - Gelas penduga ujung tertutup

Gambar 3.2 Gelas penduga ujung terbuka Gambar 2.3. menunjukkan skematik dari sebuah bejana dan gelas penduga ujung terbuka. Pemasangan dari gelas penduga ini sangat sederhana. Pada bejana disediakan suatu pipa pengambilan dimana gelas penduga ditempatkan.Seal (Packing) disediakan agar sambungan jangan sampai bocor. Klem juga disediakan agar gelas menduga tetap pada posisinya. Sebagian cairan dalam bejana, akan mengalir kedalam Gelas penduga. Tinggi permukaan cairan pada Gelas penduga dan bejana biasanya sama, karena bejana dan Gelas penduga adalah merupakan dua bejana berhubungan. Gelas penduga ujung terbuka dipergunakan pada tangki-tangki tidak bertekanan yang tingginya tidak melebihi 15 meter, seperti tangki-tangki penampung minyak diesel motor bakar dan lain-lain.

Gambar 2.4 Gelas penduga ujung tertutup Gambar 2.4. menunjukkan gelas penduga ujung tertutup dengan bejana bertekanan tinggi. Bahwa kedua ujung gelas penduga dihubungkan dengan bejana. Ujung bagian bawah tersambung dengan bagian bejana berisi uap (kosong). Level glass yang dipergunakan untuk cairan yang bertekanan tinggi harus diberi pelindung kaca tahan banting dan harus dilengkapi dengan kerangan-kerangan isolasi yang memungkinkan level glass dilepas dari sistem sewaktu perbaikan atau pembersihan. Level glass yang dipergunakan untuk cairan dengan temperature yang tinggi harus dilengkapi dengan saluran buangan. Saluran ini berfunngsi untuk mencegah thermal shock yang dapat memecahkan level glass sewaktu menjalankan kembali sesudah perbaikan. Level glass juga sering diperlengkapi dengan lampu penerang untuk mempermudah pemeriksaan terutama pada malam hari. 3. Pemberat dan Pita.

Gambar 2.5 Pemberat dan Pita sering dilakukan pada tangki-tangki yang mengandung cairan yang bisa melengket dan memberikan bekas warna pada pengukuran Crude oil, Condensate Hydrocarbon dan lain-lain. Disamping itu pada tangki harus disediakan lubang agar bobot dapat masuk dan diturunkan.

4.

Alat Ukur Dengan Penggeser.

Disebut Displacer adalah karena pada prinsipnya nilai gerak apung yang dihasilkan oleh displacer didesain untuk menggantikan (displacement ) nilai volume cairan yang menghasilkan gerak apung tersebut. Prinsip ini dapat dibuktikan seperti pada gambar 2.6

Gambar 2.8 Penghembus untuk Transmitter tinggi permukaan cairan Pada gambar B, air setinggi 7 inchi pada silinder mengurangi berat penggesser sebesar 1 Ib dan pada gambar C, air setinggi 14 inchi menggantikan (mengurangi) berat dari penggeser sebesar 2 Ib sehingga berat dari penggeser kini hanya sebesar 1 Ib. Padahal penggesernya tidak diapa-apakan. Ada 3 hal yang penting untuk diperhatikan pada kejadian ini yaitu : 1. Penggeser tidak akan terapung diatas cairan, melainkan sebagian akan terbenam, karena penggeser itu sendiri mempunya berat tertentu dan terikat pada gantungan (support arm). 2. Naiknya tinggi permukaan cairan akan membuat penggeser naik, karena adanya gaya apung yang lebih besar dari cairan. Akan tetapi pergerakan dari penggeser hanya kecil sekali dibandingkan dengan naiknya tinggi permukaan cairan. 3. Perubahan pada kedudukan penggeser akan mengakibatkan perubahan pada kedudukan penunjuk dari timbangan.

Gambar 2.7 Penggeser dengan meteran Gambar 2.7. menunjukkan disain dari penggeser dengan meteran penunjuk. Perhatikan bahwa tabung pemuntir dipergunakan langsung untuk menggerakan penunjuk (pointer). Penggeser selalu dihubungkan dengan transmitter sinyal. Output dari transmitter kemudian dikirimkan ke meteran penunjuk. Output ini bisa berupa sinyal pneumatic maupun sinyal listrik. Prinsip kerja dari alat ukur dengan penggeser pada umumnya dapat dikatakan sebagai berikut : Perubahan pada tinggi permukaan cairan yang diukur akan mengakibatkan perubahan pada gaya apung dari cairan tersebut. Ini akan membuat penggeser bergerak turun atau naik. Pergerakan penggeser akan menghasilkan gerak memuntir pada tabung pemuntir. Pergerakan pada tabung pemuntir kemudian dipergunakan untuk menghasilkan sinyal pneumatic atau listrik. Kemudian sinyal ini dikirimkan kemeteran penunjuk. Meteran penunjuk dapat berupa meteran dengan Tabung Bourdon.

5.

Alat Ukur Tinggi Permukaan Cairan Dengan Beda Tekanan.

Diafragma dan pengembus seperti yang dibicarakan pada alat-alat ukur tekanan dapat dipergunakan untuk mengukur tinggi permukaan cairan Akan tetapi, sama halnya dengan Penggeser maka diafragma dan pengembus selalu dihubungkan dengan transmitter, baik pneumatik atau listrik. Kemudian, tekanan sinyal pneumatik atau tegangan listrik ini diturunkan ke meteran penunjuk yang telah dikalibrasi sebelumnya.

Gambar 2.8. Pengembus untuk Transmitter Tinggi Permukaan Cairan Gambar 2.8. menunjukkan skematik dari pengembus yang dipergunakan dalam pengukuran tekanan.Penghembusan seperti ini juga dapat dipergunakan untuk pengukuran tinggi permukaan cairan. 6. Alat ukur dengan sistem gelembung.

Gambar 2.9. Sistem Gelembung.

Gambar 2.9. menunjukkan skematik dari alat ukur tinggi permukaan cairan dengan sistem gelembung. Meteran penunjuk untuk alat ukur ini umumnya adalah pressur gage dengan tabung bourdon yang telah dikalibrasi sebelumnya kedalam bentuk skala proses. Alat ukur Tinggi Permukaan Cairan dengan sistem gelembung dipergunakan pada tangki-tangki air, tidak bertekanan (tekanan statis). Sistem gelembung memerlukan catu udara bertekanan yang kontinu. Biasanya tekanan udara ini maxsimum 50 psi. Udara ini dimasukkan kedalam tabung yang terbenam (tegak) pada cairan yang akan diukur. Semakin tinggi permukaan cairan yang akan diukur semakin besar tekanan udara yang dibutuhkan untuk dapat mengatasi tekanan statis yang diberikan cairan.Dengan demikian, tinggi permukaan cairan dapat diukur melalui besaran tekanan udara yang dibutuhkan. 2.5. Jenis lain dari alat ukur tinggi permukaan cairan. 1. Meteran tangki penyimpanan (storage tank gages)

Gambar 2.10. Meteran tangki penyimpanan. Gambar 2.10. menunjukkan skematik dari meteran tangki penyimpanan. Alat ini terdiri dari pelampung dan pita baja. Bila tinggi permukaan cairan naik maka pelampungpun turut naik. Angka yang ditunjuk oleh ujung pita baja menunjukkan tinggi permukaan cairan yang diukur. . Angka ini biasanya dalam satuan panjang, akan tetapi dapat diperhitungkan menjadi satuan isi. Meteran tangki penyimpanan seperti ini sering disebut seperti ini sering disebut dengan nama pelampung dan pita (float and tape) dan dipergunakan dalam pengukuran cairan pada tangki penimbunan yang tidak bertekanan.

2. Kotak diafragma

Gambar 2.11. Kotak diafragma Gambar 2.11. menunjukkan skematik dari alat ukur tinggi permukaan cairan yang disebut kotak diafragma. Alat ini terdiri dari meteran penunjuk, pipa dan diafragma dan sistem ini diisi udara bertekanan setara dengan tekanan atmosfir. Meteran penunjuk, biasanya adalah jenis Presure gage dengan tabung bourdon yang dikalibrasi kedalam bentuk skala proses. Bila tinggi permukaan cairan naik maka tekanan dalam sistem pengukuran akan naik. Ujung pipa pada kotak dibuat bengkok 90 supaya saluran pengukuran jangan tersumbat oleh diafragma.

2.5 Pengukuran Tinggi Permukaan Pengukuran liquid level tinggi permukaan cairan, adalah digunakan untuk : Mengatur kondisi process Mengetahui isi /volume Mengetahui kecepatan aliran (flow) Mengetahui kedalaman cairan 1. Mengatur Kondisi Process

1. 2. 3. 4.

Level dan temperatur harus dijaga pada batas-batas tertentu agar produk yangdihasilkan memenuhi persyaratan mutu (terjadi pemisahan fraksi yang memenuhi persyaratan mutu). Makin tinggi level yang diatur, makin lama cairan tersebut berada dalam coloum., maksudnya makin banyak fraksi ringan yang teruapkan. 2. Mengetahui Isi/Volume

Perubahan ketinggian cairan dalam tangki akan ditunjukkan oleh sebuah indikator ini menunjuk pada sebuah skala yang telah dikonfirmasikan dalam satuan volume. 3. Mengetahui Jumlah Aliran

A = Level awal B = Level akhir

Kecepatan aliran(flow) dapat dihitung dari perubahan tinggi cairan dalam satuan waktu.

X = volume cairan yang dipindahkan T = waktu yang diperlukan untuk memindahkan

2.6 Model Sistem Instrumentasi Secara umum blok diagram sistem pengukuran dapat dilihat pada gambar adalahsebagai berikut :

Sensor/Transduser

PengondisiSinyal

PengolahSinyal

Display

Nampak bahwa sistem instrumentasi terdiri dari 4 (empat) bagian utama, dimulai darisensor yang langsung menyentuh titik pengukuran, artinya bersentuhan langsung dengan besaran yang diukur, dan berakhir dengan display (tampilan) yang berfungsi sebagai interface bagi pengguna dalam melakukan instrumentasi. Sensor (pengindera) atau transduser merupakan ujung depan dari sistem pengukuran.Fungsi dari sensor dalam hal ini adalah mengubah besaran non listrik menjadi listrik, sehinggamemungkinkan pengukuran besaran non listrik melalui sistem pengukuran secara listrik atauelektronik. Permasalahan utama dari sistem pengukuran secara elektrik maupun elektronik terletak pada sensor. Sebelum ada sensor atau transducer, maka pengukuran secara elektrik atau elektronik tidak dapat dilakukan. Misalnya, tidak akan termometer elektronik jika tidak ada sensor atau transduser yang dapat mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik.Pengkondisi sinyal berfungsi untuk menyiapkan sinyal yang dikeluarkan oleh sensor,sehingga dapat diproses pada rangkaian pengolah sinyal. Proses yang terjadi pada pengondisi 3sinyal salah satunya menentukan besarnya arus, tegangan atau menghilangkan gangguansehingga sinyal yang diproses pada pengolah sinyal benar-benar sesuai dengan karakteristik besaran yang akan diukur.Proses pengukuran terjadi pada pengolah sinyal. Pada bagian ini besarnya sinyal hasildari pengondisi sinyal dibandingkan dengan besaran yang sejenis yang sudah ditetapkan.Agar proses pembandingan dapat sesuai dengan nilai besaran yang diukur, maka pada bagianini dilakukan kalibrasi dari besaran yang telah ditetapkan. Akurasi pengukuran ini seringdisebut juga dengan validitas sebuah alat ukur. Proses pengukuran dapat dilakukan secaraanalog maupun dijital.Ujung akhir sebuah sistem pengukuran adalahdisplay atau tampilan. Fungsi bagian iniadalah menyajikan informasi hasil pengukuran kepada kita yang menggunakan alat ukur.Tampilan ini juga dapat disajikan dalam bentuk analog maupun dijital.

BAB III. DATA PENGAMATAN 3.1 Penentuan Laju Alir Tabel 1.1 Laju Alir Bukaan Penuh 100% Percobaan 1 2 3 Rata-rata waktu ( s ) 4 5 5 4.6 Volume (ml) 200 200 200

Laju Alir keluar adalah

= 43.5 ml/s

Tabel 1.2 Laju Alir bukaan 50% Percobaan 1 2 3 Rata-rata waktu ( s ) 14 13 14 13.6 Volume (ml) 200 200 200

Laju Alir keluar adalah 3.2 Pembacaan Penurunan Level

= 14.7 ml/s

Tabel 1.3 Penurunan level setiap 10% pada bukaan 100% No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 %T 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 %I 109,5 109,5 93,5 94,5 84,5 73,4 64,8 54,3 54,7 54,5 54,5 Waktu (S) 0 12 16 26 33 40 49 58 68 75 83

Tabel 1.4 Penurunan Level setiap 10% pada bukaan 50% No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 %T 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 %I 109,6 109,5 104,4 94,4 84,4 74,3 64,2 54,2 44,1 34,1 24,2 Waktu (S) 0 119 144 147 156 162 171 177 195 199 214

3.3

Pembacaan Penaikan Level Tabel 1.5 Penaikan level setiap 10% pada bukaan 100% No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 %T 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 %I 20,5 33,9 39,4 50,1 64,1 70,1 82,7 91,5 103,4 108,7 108,7 Waktu (S) 0 85 87 89 90 95 99 103 106 108 105

Tabel 1.6 Penaikan level setiap 10% pada bukaan 50% No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 %T 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 %I 24,5 33,5 43,5 53,5 63,6 73,9 83,7 93,8 103,8 109,5 109,5 Waktu (S) 0 85 88 90 105 106 112 125 143 152 154

3.4 Pembacaan grafik penurunan level


120 100 %Level Cairan 80 60 40 20 0 0 20 40 60 80 100 Waktu ( S )

%T %I

Grafik 3.1 Penurunan Level setiap 10% pada bukaan 100%

120 100 % Level Cairan 80 60 40 20 0 0 50 100 150 200 250 Waktu ( S ) %T %I

Grafik3.2 Penurunan Level setiap 10% pada bukaan 50%

3.5 Grafik Pembacaan Penaikan Level


120 100

% Level Cairan

80 60 40 20 0 0 20 40 60 Waktu ( S ) 80 100 120 %T %I

Grafik 3.3 Penaikan level setiap 10% pada bukaan 100%

120 100 % Level Cairan 80 60 40 20 0 0 50 100 Waktu ( S ) 150 200 %T %I

Grafik 3.4 Penaikan level setiap 10% pada bukaan 50%

BAB IV . PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN 4.1 Pembahasan

Pada percobaan ini, yang pertama kali dilakukan dalam pengukuran level cairan adalah mengkalibrasi dengan menggunakan alat yang berupa rotameter

Maka saat melakukan kalibrasi, mula-mula valve dibuka, lalu cairan yang terdapat di bawah tangki silinder kaca turun melalui selang ke dalam gelas ukur 200 mL untuk dikalibrasi. Ketika cairan dialirkan, stopwatch ditekan lalu dilihat berapa kecepatan laju alirnya cairan pada saat berhenti di keadaan 200 mL, dan ternyata berhenti pada keadaan waktu tepat di 4 second (detik), hal ini telah dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan dan hasilnya tetap sama. Hasil yang ditunjukkan pada rotameter yaitu pada skala 10. Oleh karena itu, laju alir keluarnya adalah
200 mL mL

/4 s = 50

/s.

Setelah selesai dikalibrasi, barulah diamati perubahan penurunan level setiap 10 % pada tangki, dan pada display instrument, serta pada waktu yang diperlukan saat penurunan level cairan pada valve terbuka 100 % tiap waktu tersebut yaitu pada % T (tangki); 100 sampai dengan 0 yang diamati dari tabung silinder kaca. Dan pada percobaan level cairan, dilakukan sebanyak 3 kali. Saat percobaan 1,2 dan 3, terdapat pula % I (indikator) dan waktu (s) yang turut diamati pada saat perubahan penurunan level. Lalu dihitung rata-rata dari ketiga percobaan yang telah diamati tersebut. Dan pada perubahan penurunan level setiap 10 % pada valve terbuka 50 % tiap waktu, juga dilakukan step (tahapan atau langkah) yang sama. Selanjutnya, pada pengolahan data, dibuat grafik perubahan penurunan level 10 % pada valve terbuka 100 % tiap waktu, dan pada valve terbuka 50 % tiap waktu juga. Kemudian, dari lampiran juga terdapat contoh perhitungan yang bertujuan untuk menyatakan persen penyimpangan level cairan pada tangki vs inkator, yaitu pada saat valve terbuka 100% dan 50 %. Di mana contoh dari perhitungannya adalah sebagai berikut : % = Level Cairan (Tangki) - Level Cairan (Indikator) Level Cairan (Tangki) x 100 %

4.2 Kesimpulan Adapun kesimpulan pada percobaan ini yaitu : Debit air yang keluar pada tangki bukaan penuh 100% adalah 43.5% Sedangkan debit air yang keluar pada tangki bukaan 50% adalah 14.7% Laju alir keluar ( volume level cairan ) dipengaruhi oleh waktu dan tekanan Tekanan didalam level cairan semaki lama semakin sedikit Waktu yang dibutuhkan pada saat valve terbuka penuh 100% > dari pada waktu yang dibutuhkan pada valve terbuka 50% Sistem ini dapat diaplikasikan untuk mengontrol level cairan apa saja, karena kesederhanaan sistemnya. Kepresisian pengkondisian dari contoh perhitungan untuk menghitung persen penyimpangan level cairan pada tangki vs indicator yang digunakan akan sangat berpengaruh pada hasil yang akan diperoleh. Dari hasil pengkalibrasian yang telah dilakukan dari pengamatan, sehingga dapat diketahui hasil akhir laju alir keluarnya sebesar 50 /s. Dan pada setiap penurunan 10 % pada valve terbuka 100 % dan 50 % tiap waktu, diperoleh dan diketahui nilai perubahan penurunan levelnya.
mL

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2009 a. Instrumentasi dan pengukuran level cairan Jawa Tengah.

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2009. Instrumentasi dan pengukuran level cairan . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Irianto, Djoko Pekik. 2006. Instrumentasi dan pengukuran level cairan . Yogyakarta: Andi Offset DR.ENG.Y.D.HERMAWAN
Instrumentasi dan pengukuran level cairan Informasi 2008 (SNATI 2008) Yogyakarta, 21 Juni 2008

http://www.scribd.com/doc/87456812/Instrumentasi-Pengukuran-Level-Cairan-d32012 http://agussuwasono.com/artikel/instrumentasi/433-alat-ukur-tinggi-permukaancairan.html http://www.scribd.com/doc/25303347/Instrumentation-and-Calibration http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18600/3/Chapter%20II.pdf http://abdi-tunggal.blogspot.com/2011/02/pengukuran-level.html