Anda di halaman 1dari 20

Daftar Isi

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Klarifikasi Kelompok 2.2 Perkembangan Kelompok 2.3 Struktur Kelompok BAB III ANALISA dan PEMBAHASAN 3.1 Definisi dan Klarifikasi Kelompok 3.2 Tahap-tahap Perkembangan Kelompok 3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesuksesan Kelompok 3.4 Proses Pengambilan Keputusan dalam Kelompok BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran DAFTAR PUSTAKA 17 18 19 11 13 15 10 4 4 6 1 2 2 3 ii i

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tiap hari manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok - kelompok ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok - kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barang kali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu. Banyak teori yang mengembangkan suatu anggapan mengenai awal mula terbentuknya suatu kelompok. Teori yang sangat dasar terbentuknya kelompok adalah mencoba menjelaskan adanya afiliasi diantara orang-orang tertentu teori ini disebut Propinquiti atau teori pendekatan, teori pendekatan ini ialah bahwa seseorang berhubungan dengan orang lain disebabkan karena adanya kedekatan uang dan daerahnya atau (spatial and geographical proximity). Dasar pokok yang amat penting dari daya tarik antar individu dan pembentukan kelompok adalah secara sederhana karena adanya kesempatan berinteraksi satu sama lain. Hal ini dapat di pahami secara jelas, bahwa orang yang jarang melihat, atau berbicara satu sama lain sulit dapat tertarik. Hasil-hasil penelitian membuktikan bahwa faktor lingkungan juga merupakan penentu untuk menaikkan atau mengurangi kesempatan berinteraksi.

Sebuah perusahaan merupakan kerjasama dari tim. Sebuah klub sepak bola merupakan hasil kerjasama sebuah tim. Bahkan untuk hal-hal yang bersifat individual pun tetap memerlukan sebuah tim untuk dapat berfungsi secara baik. Sebagai contoh dapat kita lihat pada olahraga perseorangan seperti olah raga tinju, lari, golf maupun catur. Kita tidak dapat berhasil mencapai suatu kesuksesan dalam olah raga tersebut tanpa adanya kerjasama. Seorang atlet tinju, lari, golf, dan olah raga individu lainnya tetap membutuhkan pelatih, manajer, maupun para pendukungnya untuk saling bekerjasama dalam mencapai sukses. Kapan dan di mana pun orang bersama - sama, atau berada dalam kebersamaan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, itulah sebuah tim. Prioritas utama sebuah tim apapun adalah untuk belajar berfungsi seefektif dan seefisien mungkin, sehingga secara individu dan bersama-sama, anggota tim itu dapat meraih sasaran yang tepat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat meraih kesuksesan tanpa bekerjasama dengan orang lain.

1.2 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.3

Rumusan Masalah Apakah definisi dan klasifikasi dari kelompok ? Apa saja tahap tahap perkembangan kelompok ? Faktor faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan kelompok ? Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam kelompok ? Tujuan

1.3.1 Dapat menjelaskan definisi dan klasifikasi kelompok.

1.3.2

Dapat menjelaskan tahap tahap perkembangan suatu kelompok. 2

1.3.3 1.3.4 1.4

Dapat mengetahui factor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan kelompok. Dapat mengetahui proses pengambilan keputusan dalam kelompok. Manfaat

Dapat memahami bagaimana dasar dasar perilaku kelompok dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan atau hasil kerja mereka dalam suatu organisasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Klasifikasi Kelompok

Kelompok adalah dua atau lebih individu yang berinteraktif dan saling bergantung bergabung untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Berdasarkan tujuan dan proses terbentuknya, kelompok terbagi beberapa jenis yaitu :
1. Kelompok formal, kelompok kerja yang ditugaskan dan didefinisikan oleh struktur

organisasi,
2. Kelompok

informal, kelompok yang tidak berstruktur formal maupun secara

organisasional, timbul sebagai respons terhadap kebutuhan akan kontak sosial.


3. Kelompok yang terdiri atas individu-individu yang melapor secara langsung kepada

seorang manajer/pimpinannya. 4. Kelompok tugas adalah orang-orang yang secara bersama menyelesaikan tugas. 5. Kelompok kepentingan adalah orang-orang yang bekerja untuk mencapai tujuan khusus dan yang menjadi perhatian masing-masing orang. 6. Mereka yang berkumpul bersama karena mereka memiliki satu atau lebih persamaan karakteristik.

2.2 Perkembangan Kelompok 2.2.1 Model Lima-Tahap Kelompok menempuh lima tahap yang jelas terbedakan: pembentukan, keributan, penormaan, pelaksanaan, dan peristirahatan. 4

Tahap pertama, pembentukan dicirikan oleh banyak sekali ketidakpastian mengenai

maksud, struktur dan kepemimpinan kelompok. Para anggota melakukan uji coba untuk menentukan tipe-tipe perilaku apakah yang dapat diterima baik. Tahap ini selesai ketika para anggota telah mulai berpikir tentang diri mereka sebagai bagian dari kelompok.
Tahap keributan adalah tahap konflik di dalam kelompok. Para anggota menerima baik

eksistensi kelompok, tetapi melawan batasan-batasan yang diterapkan oleh kelompok terhadap individualitas. Lebih lanjut, ada koflik mengenai siapa yang akan mengendalikan kelompok. Bila tahap ini telah terlewati, terdapat hierarki yang relatif jelas mengenai kepemimpinan di dalam kelompok itu.
Tahap penormaan adalah tahap di mana berkembang hubungan yang akrab dan kelompok

menunjukkan sifat kohesif [saling-tarik]. Saat itu sudah ada rasa memiliki identitas kelompok dan persahabatan yang kuat. Tahap ini selesai bila struktur kelompok telah kokoh dan kelompok itu telah menyesuaikan serangkaian harapan bersama atas apa yang disebut sebagai perilaku anggota yang benar.
Tahap pelaksanaan. Pada titik ini stuktur telah sepenuhnya berfungsi dan diterima baik.

Energi kelompok telah bergeser dari mencoba mengerti dan memahami satu sama lain menjadi pelaksanaan tugas yang ada di depan mata.
Bagi kelompok kerja yang permanen, pelaksanaan adalah tahap terakhir dalam

perkembangannya. Tetapi bagi komite, tim, satuan tugas temporer, maupun kelompok serupa yang mempunyai pelaksanaan tugas terbatas, ada tahap peristirahatan. Dalam tahap ini, kelompok mempersiapkan pembubaran. Performa tugas yang baik tidak lagi merupakan prioritas puncak kelompok itu. Sebagai gantinya, perhatian diarahkan ke pengelompokan aktivitas. Respon anggota kelompok beraneka dalam tahap ini. Ada yang merasa puas, 5

dengan bersenang-senang atas prestasi kelompok. Yang lain mungkin murung atas hilangnya persahabatan yang diperoleh selama kehidupan kelompok kerja itu.

2.2.2 Model Alternatif: Untuk Kelompok Temporer dengan Tenggat Kelompok-kelompok temporer yang dibatasi tenggat waktu tampaknya tidak mengikuti model sebelumnya. Studi-studi menunjukkan bahwa kelompok itu memiliki urutan tindakan (atau bukan-tindakan) mereka sendiri yang unik: 1. pertemuan pertama menentukan arah kelompok 2. fase pertama kegiatan kelompok adalah fasi inersia (lemas tanpa energi) 3. terjadi peralihan pada akhir fase pertama, yang terjadi tepat ketika kelompok itu telah menghabiskan separuh waktu dari waktu yang telah disediakan 4. transisi mengawali perubahan-perubahan besar 5. fase inersia kedua mengikuti masa transisi 6. pertemuan terakhir kelompok dicirakan oleh kegiatan yang sangat terpacu. 2.3 Sturktur Kelompok Kelompok kerja bukanlah gerombolan yang tidak terorganisasi. Mereka mempunyai struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan dan meramalkan sebagian besar perilaku individu di dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri. 1. Kepemimpinan Formal, orang ini umumnya mempunyai jabatan seperti misalnya manajer unit, manajer bagian, penyelia, mandor, pimpinan proyek, kepala satuan tugas, ataupun ketua komite. Pemimpin ini dapat memainkan peranan penting dalam keberhasilan kelompok. 6

2. Peran, adalah seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial tertentu. Pemahaman perilaku peran secara dramatis akan disederhanakan jika masing-masing dari kita memilih satu peran dan memainkannya secara teratur dan konsisten. Identitas peran. Ada sikap dan perilaku aktual tertentu yang konsisten dengan peran

dan menciptakan identitas peran. Orang mempunyai kemampuan untuk dengan cepat beralih peran bila mereka menyadari bahwa situasi dan tuntutannya jelas-jelas membutuhkan perubahan besar. Persepsi Peran. Pandangan seseorang mengenai bagaimana seseorang seharusnya

bertindak dalam situasi tertentu disebut persepsi peran. Berdasarkan penafsiran atas bagaimana kita meyakini bagaimana seharusnya perilaku kita, kita terlibat ke dalam tipetipe perilaku tertentu. Pengharapan Peran. Pengharapan peran didefinisikan sebagai bagaimana orang lain

meyakini apa seharusnya tindakan anda dalam situasi tertentu. Bagaimana anda berprilaku, sebagian besar ditentukan oleh peran yang didefinisikan dalam konteks tindakan anda. Konflik peran. Bila individu dihadapkan pada pengharapan peran yang berlainan,

akibatnya adalah konflik peran. Konflik ini muncul bila individu menemukan bahwa patuh pada tuntutan satu peran menyebabkan dirinya kesulitan mematuhi tuntutan peran lain. Dalam keadaaan ekstrem, itu akan mencakup situasi di mana dua atau lebih pengharapan peran saling berlawanan. 3. Norma, semua kelompok telah menegakkan norma, yaitu standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh anggota kelompok. Norma ini memberitahu para anggota apa 7

yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu. Dari titik pandang individu, norma itu mengatakan apa yang diharapkan dari anda dalam situasi tertentu. Bila disepakati dan diterima oleh kelompok, norma bertindak sebagai alat untuk mempengaruhi perilaku anggota kelompok dengan pengawasan eksternal yang minimal. Norma berbada di antara kelompok-kelompok, komunitas dan masyarakat, tetapi semuanya mempunyai norma. 4. Status, yaitu posisi atau peringkat yang ditentukan secara sosial yang diberikan ke kelompok atau anggota kelompok oleh orang lain. Status dan Norma. Telah ditunjukkan bahwa status mempunyai beberapa pengaruh yang menarik terhadap kekuatan norma dan tekanan untuk penyesuaian. Orang-orang berstatustinggi juga lebih mampu bertahan terhadap tekanan konformitas dari rekan sekerja mereka dibandingkan dengan status lebih-rendah. Individu yang dinilai tinggi oleh kelompok kerja tetapi tidak banyak memerlukan atau mempedulikan imbalan sosial yang diberikan oleh kelompok secara khusus akan mampu memperhatikan secara minimal norma-norma konformitas. Kesetaraan Status. Penting bagi anggota kelompok untuk meyakini bahwa hierarki status itu setara. Jika dipersepsikan adanya kesetaraan, terciptalah ketidakseimbangan yang terjadi dalam berbagai jenis perilaku korektif. Status dan Budaya. Pentingnya status bervariasi di antara berbagai budaya. Prancis misalnya, sangat sadar status. Selain itu, negara-negara berlainan mengenai kriteria yang menciptakan status. Pesannya di sini adalah untuk memastikan bahwa anda memahami siapa dan apa yang menentukan status bila berinteraksi dengan orang dari budaya yang berbeda dari budaya anda. 8

5. Ukuran, apakah ukuran kelompok mempengaruhi perilaku keseluruhan kelompok itu? Jawaban atas pertanyaan itu adalah Ya definitif, tetapi efeknya bergantung pada variabel bergantung mana yang anda perhatikan. Bukti-bukti misalnya menunjukkan, misalnya, bahwa kelompok kecil lebih cepat menyelesaikan tugas daripada kelompok besar. Tetapi jika kelompok itu bekerja dalam pemecahan masalah, kelompok besar secara konsisten mendapat nilai yang lebih baik daripada kelompok yang kecil. 6. Komposisi, kebanyakan kegiatan kelompok menuntut aneka ragam keterampilan dan pengetahuan. Dengan adanya tuntutan ini, bisa disimpulkan bahwa kelompok heterogenkelompok yang terbentuk dari individu-individu yang tidak mirip-akan lebih besar kemungkinannya untuk mempunyai kemampuan dari informasi yang beraneka dan seharusnya lebih efektif. 7. Kepaduan, kelompok kelompok itu berbeda menurut kepaduan [cohesiveness] mereka, yakni sejauh mana para anggota tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap di dalam kelompok. Studu-studi secara konsisten memperlihatkan bahwa hubungan kepaduan dan produktivitas tergantung pada norma-norma yang berkaitan dengan kinerja yang dibangun oleh kelompok.

BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN 3.1 Definisi dan Klasifikasi Kelompok a. Kelompok 9

Kelompok adalah dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai tujuan tertentu. b. Kelompok Formal Kelompok formal adalah kelompok kerja bentukan yang didefinisikan oleh struktur oraganisasi dengan penugasan kerja yang sudah ditentukan. Perilaku-perilaku yang harus ditunjukan di dalam kelompok ini ditentukan dan diarahkan ke sasaran organisasi. c. Kelompok Informal Kelompok informal adalah kelompok yang tidak terstruktur formal dan tidak ditentukan oleh oraganisasi, dan terjadi karena respons terhadap kebutuhan akan hubungan sosial. Kelebihannya adalah kelompok ini bisa memenuhi kebutuhan sosial anggotanya yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja anggotanya itu. d. Kelompok Komando Kelompok komando adalah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang melapor langsung kepada manajer tertentu, atau dengan kata lain kelompok komando adalah manajer dan semua bawahannya. e. Kelompok Tugas Kelompok tugas adalah orang-orang yang secara bersama-sama menyelesaikan tugas.

10

f.

Kelompok Kepentingan Kelompok kepentingan adalah orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan

khusus dan yang menjadi perhatian masing-masing orang. g. Kelompok Persahabatan Kelompok persahabatan adalah persekutuan sosial yang sering dikembangkan dari situasi kerja, ditetapkan bersama-sama karena memiliki satu atau lebih karakteristik yang sama.

3.2 Tahap-tahap Perkembangan Kelompok 3.2.1 Model Lima Tahap Lima tahap dan model laternatif bagi kelompok-kelompok temporer dengan tenggat waktu. Model pengembangan kelompok lima tahap mensifati kelompok sebagai melewati lima tahap yang jelas, yaitu: a. Tahap pembentukan (forming) Pada tahap ini dicirikan oleh banyak ketidakpastian mengenai maksud, struktur, dan kepemimpinan kelompok. Para anggota melakukan uji coba untuk menemukan tipe-tipe perilaku apakah yang dapat diterima baik. Tahap ini selesai ketika para anggota telah mulai berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok. b. Tahap keributan (storming) Tahap keributan adalah tahap komplik di dalam kelompok (intragrup). Para anggota menerima baik eksistensi kelompok, tetapi melawan batasan-batasan yang diterapkan oleh kelompok-kelompok individualitas.

11

c.

Tahap penormaan (norming) Tahap penormaan adalah tahap di mana berkembang hubungan yang akrab dan kelompok

menunjukan sifat kohesif (saling tarik). Sudah ada rasa memiliki identitas kelompok dan persahabatan yang kuat. Tahap ini selesai jika telah terbentuk struktur kelompok yang kokoh dan menyesuaikan harapan bersama atas apa yang disebut sebagai perilaku anggota yang benar. d. Tahap Pelaksanaan (performing) Tahap pelaksanaan adalah tahap berfungsinya struktur dan diterima baik. Energy kelompok telah bergeser dari mencoba mengerti dan memahami satu dengan yang lain menjadi pelaksana tugas yang ada. e. Tahap Peristirahatan (adjourning) Tahap peristirahatan adalah tahap terakhir dalam pengembangan kelompok pada kelompok sementara, dicirikan oleh perhatian kepenyelesaian aktivitas bukannya ke kinerja petugas.

3.2.2 Model Alternatif Model ini untuk Kelompok Temporer dengan Tenggat. Kelompok ini memiliki urutan tindakan (atau bukan tindakan) mereka sendiri yang unik, seperti: a. b. c. d. e. f. Menentukan arah kelompok. Fase inersia (lemas tanpa energi). Fase transisi (peralihan). Transisi mengawali perubahan besar. Fase inersia kedua mengikuti masa transisi. Pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh kegiatan yang sangat terpicu.

12

3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesuksesan Kelompok Faktor-faktor yang menyebabkan suatu kelompok lebih sukses dari kelompok lain adalah karena kemampuan anggota kelompok, ukuran kelompok, tingkat konflik, dan tekanan internal pada anggota untuk menyesuaikan diri pada norma kelompok. Setiap kelompok kerja dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan kondisi internalnya. 3.3.1 Kondisi Eksternal pada Kelompok Semua kelompok kerja dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang dipaksakan dari luar. Kondisi eksternal ini mencakup: strategi keseluruhan organisasi, struktur wewenang, peraturan formal, sumber daya, proses seleksi karyawan, evaluasi kinerja dan system imbalan, bidaya, dan tataran kerja fisik. 1. Strategi Organisasi Strategi keseluruhan organisasi yang meliputi tujuan-tujuan organisasi dan cara-cara untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan oleh manajemen puncak. 2. Struktur Otoritas Ketentuan mengenai otoritas yang dimiliki oleh setiap bagian / setiap individu dalam suatu organisasi karena setiap individu atau kelompok memiliki otoritas yang berbeda-beda, seperti : siapa melapor kepada siapa, siapa yang mengambil keputusan, atau keputusan apakah yang pengambilannya diberikan kepada individu atau kelompok.

13

3.

Peraturan formal Organisasi menciptakan aturan, prosedur, kebijakan, dan ragam lain untuk membakukan

perilaku karyawan. Hal ini dilakukan untuk membuat konsistensi perilaku karyawan dan bisa diprediksikan apa yang akan dilakukan kelompok kerja karyawan tersebut. 4. Sumber Daya Organisasional Merupakan sumber daya uang, waktu, bahan mentah, peralatan yang dialokasikan oleh organisasi pada kelompok. 5. Proses Seleksi Personil Kriteria-kriteria tertentu yang digunakan dalam proses merekrut karyawan yang akan menentukan siapa yang akan ditempatkan ke dalam suatu kelompok kerja. 6. Evaluasi Kinerja dan Sistem Ganjaran (imbalan) Proses melakukan evaluasi terhadap hasil kerja anggota kelompok setelah dievaluasi, maka perlu diteruskan dengan system ganjaran (imbalan) akan hasil evaluasi tersebut. 7. Budaya Organisasi Merupakan standar perilaku untuk karyawan mengenai perilaku yang dapat diterima dengan baik atau yang tidak dapat diterima, seperti cara berpakaian, peraturan organisasi, perilaku jujur, integritas, dan semacamnya. 8. Tataran Fisik Kerja Tataran fisik kerja yang dipaksakan ke kelompok oleh pihak-pihak eksternal mempunyai landasan kerja yang penting bagi perilaku kelompok kerja. 3.3.2 Sumber Daya Anggota Kelompok Ada dua sumber daya yang berperan sangat penting pada anggota individu, yaitu kemampuan dan karakteristik kepribadian. 14

1.

Kemampuan Ada hubungan antara kemampuan intelektual (pengetahuan) dan keterampilan dengan

relevansi terhadap tugas terhadap kinerja kelompok. 2. Karakteristik Kepribadian Ada hubungan antara karakteristik kepribadian yang positif dalam budaya terhadap produktivitas, semangat dan kekohersifan kelompok.

3.4 Proses Pengambilan Keputusan Dalam Kelompok Proses pengambilan keputusan dalam organisasi adalah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama, didalam organisasi rentan terjadinya selisih pendapat begitu juga keputusan dalam mengambil sikap, dapat diartikan cara organisasi dalam pengambilan kepurusan. Terdapat 4 metode bagaimana cara organisasi dalam pengambilan keputusan, yaitu : kewenangan tampa diskusi (authority rule without discussion), pendapat ahli (expert opinion), kewenangan setelah diskusi (authority rule after discussion), dan kesepakatan (consensus). 3.4.1 Kewenangan Tanpa Diskusi Biasanya metode ini sering dilakukan oleh para pemimpin yang terkesan militer. mempunyai beberapa keuntungan jika seorang pemimpin menggunakan metode ini dalam pengambilan keputusan, yaitu cepat, maksudnya seorang pemimpin mempunyai keputusan ketika oraganisasi tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menentukan atau memutuskan kebijakan apa yang harus diambil. Tetapi apabila metode ini sering dipakai oleh pemimpin akan memicu rasa kurang kepercayaan para anggota organisasi tersebut terhadap kebijakan yang telah diambil oleh pemimpin tanpa melibatkan para anggota yang lainnya dalam perumusan pengambilan keputusan. 15

3.4.2

Pendapat Ahli Kemampuan setiap orang berbeda-beda, ada yang berkemampuan dalam hal politik,

pangan, tekhnologi dan lain-lain, sangat beruntung jika dalam sebuah organisasi terdapat orang ahli yang kebetulan hal tersebut sedang dalam proses untuk diambil keputusan, pendapat seorang ahli yang berkopeten dalam bidangnya tersebut juga sangart membantu untuk pengambilan keputusan dalam organisasi. 3.4.3 Kewenangan Setelah Diskusi Metode ini hampir sama dengan metode yang pertama, tapi perbedaannya terletak pada lebih bijaknya pemimpin yang menggunakan metode ini disbanding metode yang pertama, maksudnya sang pemimpin selalu mempertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota organiasi dalam proses pengambilan keputusan. Terdapat kelemahan didalam metode ini, setiap anggota akan besaing untuk mempengaruhi pemimpin bahwa pendapatnya yang lebih perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yang ditakutkan pendapat anggota tersebut hanya mamberikan nilai positif untuk dirinya dan merugikan anggota organisasi yang lai. 3.4.4 Kesepakatan

Dalam Metode ini, sebuah keputusan akan diambil atau disetujui jika didalam proses pengambilan keputusan telah disepakati oleh semua anggota organisasi, secara transparan apa tujuan, keuntungan bagi setiap anggota sehingga semua anggota setuju dengan keputusan tersebut. Negara yang demokratis biasanya akan menggunakan metode ini. Tetapi metode seperti ini tidak dapat berguna didalam keadaan situasi dan kondisi yang mendesak atau darurat disaat sebuah organisasi dituntut cepat dalam memberikan sebuah keputusan.

BAB IV Penutup
16

4.1 Kesimpulan
Adanya kesamaan pekerjaan, seringnya bertemu serta kesamaan kesenangan, dapat menimbulkan kedekatan satu sama lain dan terciptalah suatu kelompok itu. Kelompok merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tujuan dan proses terbentuknya, kelompok dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah kelompok formal, kelompok informal, kelompok tugas, kelompok kepentingan, kelompok yang terdiri dari individu yang melapor secara langsung kepada pimpinannya, serta mereka yang berkumpul bersama dikarenakan memiliki persamaan karakteristik. Perkembangan kelompok itu dimulai dari tahap pembentukan dimana banyak ketidakpastian mengenai apa yang diinginkan oleh kelompok serta struktur dan kepemimpinannya. Tahap ini dikatakan selesai apabila para anggota berfikir bahwa mereka merupakan bagian dari kelompok. Dilanjutkan dengan adanya konflik dalam grup, rasa memiliki terhadap kelompok tersebut, terbentuknya struktur kelompok, lalu berfungsinya struktur dan dapat diterima dengan baik. Tahap terakhir dicirikan dengan selesainya aktivitas. Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu kelompok dikatakan lebih sukses dibanding kelompok lainnya. Yang pertama adalah kondisi eksternal, seperti strategi organisasi, struktur otoritas, bahkan sistem ganjaran yang akan diterima. Lalu kemampuan dan karakteristik dari masing-masing anggota yang berdampak terhadap kinerja dan produktivitas kelompok serta tepat tidaknya dalam proses pengambilan suatu keputusan.

4.2 Saran
Masuknya kedalam suatu kelompok dianggap penting karena kelompok memberikan pengakuan dan status bagi para anggotanya. Dengan bergabungnya dalam suatu kelompok, para 17

individu dapat merasa lebih kuat dan lebih resisten terhadap ancaman. Kelompok juga dapat memenuhi kebutuhan sosial. Bagi banyak orang, interaksi 'on the job' merupakan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan mereka akan keanggotaan. Dengan adanya kelompok pun, apa yang biasanya tidak dapat dicapai oleh individu seringkali terwujud. Dalam organisasi juga, ada saat dimana dibutuhkannya lebih dari satu orang untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu. Hal-hal diatas menunjukkan bahwa keberadaan suatu kelompok akan sangat dibutuhkan.

Daftar Pustaka
Robbins, Stephen P. 1995. Teori Organisasi Struktur, Desain dan Aplikasi. Arcan Jakarta Sondari, R. , 2010, Dasar-Dasar Perilaku Kelompok, [online], 18

(http://ekonomosae.blogspot.com/2010/01/po-rini.html , diakses tanggal 20 Mei 2012)

Wolfoxs., 2010, Dasar-Dasar Perilaku Kelompok,[online], (http://accountingcenter.wordpress.com/2010/01/28/dasar-dasar-perilaku-kelompok/,diakses tanggal 20 Mei 2012)

19