Anda di halaman 1dari 5

I. PENDAHULUAN Eucalyptus pellita F. Muell (Dari bahasa Yunani: = "tertutupi dengan baik") adalah jenis pohon dari Australia.

. Ada lebih dari 700 spesies dari E. pellita F.muell, kebanyakan asli dari Australia, dengan beberapa dapat ditemukan di Papua Nugini dan Indonesia dan juga sampai Filipina. Anggota genus pohon ini dapat ditemukan hampir di seluruh Australia, karena telah beradaptasi dengan iklim daerah tersebut; bahkan tidak ada satu benua yang dapat digambarkan dengan sebuah genus pohon seperti Australia dengan E. pellita F.muell. Klasifikasi Eucalyptus pellita. (Tjitrosoepomo, 2000) Divisi Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dycotyledoneae : Myrtales : Mrytaceae : Eucalyptus : Eucalyptus pellita F. Muell E. pellita F.muell merupakan salah satu jenis tanaman yang di kembangkan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) karena sifatnya yang mudah menyesuaikan diri dan kayunya dapat di gunakan untuk bahan pulp. Jenis ini merupakan salah satu spesies endemik Indonesia yang tumbuh di Papua sampai dengan ketinggian di atas 800 m dpl dengan curah hujan 900 mm-2.100 mm/tahun dan iklim kering yang jelas

E. pellita F.muell tergolong dalam famili Myrtaceae, yang di cirikan dengan bunga memiliki banyak kelopak yaitu lima buah, bakal buahnya memiliki banyak bakal biji, permukaan kulitnya mengering tipis dan terlepas-lepas, Anggota family ini antara lain adalah tanaman buah-buahan, seperti: jambu air, jambu bol, jambu buji, jambu mawar, dan jamblang. Tanaman hias, seperti: bunga sikat botol. Tanaman obat dan industri, seperti: cengkeh, salam, jambu biji, kayu putih, dan E. pellita F.muell (FAO, 1979). E. pellita F.muell ditemukan dan di tanam di seluruh bagian dunia. Dari total 800.000 ha di beberapa negara, setengah dari penanamannya terdapat di Portugal dan Spanyol (Little, 1983). Tanaman ini juga banyak ditemukan di Australia, Brazil, Kuba, Ghana, Indonesia, Peru, Sri lanka, dan Simbabwe. E. pellita F.muell sendiri mempunyai 2 daerah sebaran, yaitu Australia, di Semenanjung Cape York (Queesland) sampai dengan Cairns dan Townsville pada bagian utara (12-18LS) dan pada bagian selatan Brisbane sampai dengan daerah Beteman, New South Wales (27-36LS). Selain itu E. pellita F.muell dapat ditemukan di Papua New Guinea (PNG) dan Papua bagian tenggara (Broker and Kleinig, 2006). Sebaran E. pellita F.muell di Indonesia sendiri hanya terdapat di Merauke (Papua), tepatnya di antara Kecamatan Bupul dan Muting, dengan kondisi lingkungan yang tidak jauh berbeda dengan Sumatra dan Kalimantan yang merupakan daerah pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia (Leksono et al., 1996). E. pellita F.muell ini tumbuh di daerah iklim basah pada kisaran elevasi 0-750 m dpl, dengan curah hujan rata-rata pertahun 900-2.100 mm dan suhu udara

antara 6-160 0 C (NAS, 1983). Umumnya umur tanaman E. pellita F.muell dapat mencapai maksimal 1-10 tahun. Jumlah serta distribusi curah hujan taunan yang sangat lebar yaitu berkisar antara 900-2400 mm, selang curah hujan yang lebar ini menunjukkan bahwa tanaman E. pellita F.muell memiliki kemampuan adaptasi terhadap temperatur antara 12-24 0 C dengan tekstur tanah ringan sampai sedang, pH tanah asam sampai netral, dan toleran terhadap naungan (FAO, 1979). Tanaman ini berupa pohon atau perdu, berdaun tunggal, bersilang berhadapan, pada cabang-cabang mendatar seakan-akan dalam dua baris dalam satu bidang dan kebanyakan tanpa daun penumpu, kadang-kadang poligam atau aktinomorf. E. pellita F.muell ini memiliki bentuk daun bulat, kelopak atau mahkota terdiri dari 4 sampai 5 daun mahkota, bakal buahnya tenggelam, mempunyai satu tangkai putik, beruang 1 sampai 8 bakal biji dalm tiap ruang. Bunga Eucalyptus pellita F muell bersifat hermaprodit, majemuk dalam rangkaian malai dimana dalam tiap rangkaian terdiri atas 3 sampai 7 kuntum bunga dan terletak pada ketiak daun, bagian yang nampak pada saat bunga mekar adalah stamen yang berwarna kuning muda, bentuk gabungan dari sepal dan petal membentuk tepi atau operculum yang berfungsi sebagai tutup pada waktu bunga masih kuncup. Buah bermacam-macam dan pada ujungnya masih terlihat jelas tampak kelopak yang tidak gugur, sisa tangkai putik dan sisa benangsari yang tertinggal dalam kelopak. Bijinya sedikit atau tanpa endosperm, lembaga lurus, bentuk bengkok atau melingkar, adapula yang terpuntir seperti spiral. E. pellita F.muell memiliki keunggulan antara lain kandungan seratnya cukup tinggi dan untuk bahan baku rayon, kualitasnya lebih bagus dari pohon pinus. Tanaman Eucalyptus

pellita F muell dengan spesiesnya yang lebih dari 500 dikenal cepat pertumbuhannya dan mudah tumbuh. Tanaman ini umumnya tumbuh di daerah semi (curah hujan rendah), daerh tropis dan sub-tropis dengan tingkat kesuburan yang rendah. Keunggulan lain yaitu dikelola dengan coppice atau sistem karena tunas E. pellita F.muell akan segera tumbuh setelah di tebang ( FAO, 1979). E. pellita F.muell dapat tumbuh mencapai ketinggian 10-25 m, warna kulit batang coklat kuning sampai abu kecoklatan dan warna batang putih. Daun bertangkai bulat telur memanjang sampai bentuk lanset (Steenis, 2002) Tulang daun jelas, pertulangan sekunder menyirip atau sejajar, berbau harum jika diremas. kulit mati setiap tahun. Banyak jenis pohon E. pellita F.muell memiliki kulit halus di bagian atas dan kulit kasar di bagian bawah. Jenis- jenis kulit kayu: 1. Stringybark: terdiri dari benang yang dapat di tarik dari potongan- potongan panjang, biasanya tebal dengan tekstur kenyal. 2. Ironbark: kasar, keras, dan sangat berkerut. Hal ini karena getah kering yang di keluarkan oleh pohon yang memberikan warna merah gelap atau bahkan warna hitam. 3. Tessellated: kulit rusak menjadi banyak serpihan yang berbeda, serpihan ini seperti gabus dan dapat mengelupas. 4. Kotak: memiliki serat pendek. 5. Pita: memiliki kulit yang keluar dari potongan- potongan tipis panjang longgar tetapi masih melekat di beberapa tempat, potongan pita ini bisa berlangsung lama. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka, tujuan PKL ini adalah untuk :

1. mengetahui morfologi klon E. pellita F.muell di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta. 2. meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai bidang ilmu yang ditekuninya dalam wujud nyata di lapangan. 3. Hasil Praktek Kerja Lapangan ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai sifat-sifat morfologi klon E. pellita F.muell khususnya yang ada di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta