Anda di halaman 1dari 13

Khotbah Yang Menggelisahkan

KHUTBAH PERTAMA
Kaum muslimin sesungguhnya nikmat yang paling agung yang diberikan kepada kita, adalah nikmat iman dan nikmat berjalan di atas sunah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya dua nikmat ini, hanya diberikan oleh Allah Subhanahu wa Taala kepada hamba-hamba-Nya yang mau bersungguh-sungguh mengikuti sunah Rasul-Nya yaitu dengan menuntut ilmu syari yang bersumber dari Alquran dan sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Mengamati realitas para dai pada zaman kita sekarang ini, alhamdulillah semangat untuk menyeru kepada Islam sangat banyak sekali, akan tetapi sangat disayangkan wahai saudaraku betapa sedikitnya dai yang berdakwah dengan ilmu dan metode yang dilandasi dengan firman Allah Subhanahu wa Taala, sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan fatwa-fatwa para ulama baik dari kalangan sahabat nabi maupun ulama-ulama rabbani setelah mereka. Semoga di kemudian hari akan lahir generasi yang menyeru umat agar kembali kepada Islam dengan berlandaskan ilmu dan dengan cara yang penuh hikmah.

Kaum muslimin rahimakumullah


Sebuah kenyataan yang sangat merisaukan pada hari-hari ini, banyak para dai yang seakan-akan mereka di atas ilmu akan tetapi materi dakwah mereka dipenuhi dengan celaan terhadap pemimpin. Dengan mudahnya mereka mengumumkan kesalahan-kesalahan pemimpin dan dengan rasa senang hati mereka menyebarkan aib-aib para pemimpin supaya kaum muslimin mengetahui kejelekan-kejelekan yang dilakukan oleh pemimpinnya. Wahai saudaraku, perhatikanlah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang berkaitan dengan hak para pemimpin yang wajib ditunaikan oleh para nasihat. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang ingin menasihati para pemimpin, maka janganlah menampakkan pembicaraan dengan di hadapan khalayak, tapi hendaklah ia menggandeng tangannya dan menyendiri dengannya maka jika dia menerimanya (itulah kebaikannya) dan jika tidak maka sungguh dia telah menunaikan kewajibannya dan telah memenuhi hak pemimpinnya. (HR. Hakim 3:290 dan Ahmad 3:404) Hadis yang mulia ini telah dipraktikkan oleh generasi pertama dari umat ini dan para ulama yang berpegang teguh dengan kitab dan sunnah. Lalu di manakah posisi kita di antara barisan mereka? Jangan sampai kita mengambil ilmu agama ini dari orang-orang yang tidak faham terhadap agamanya sendiri.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah


Karena perbuatan dai-dai yang tidak bertanggung jawab tadi, maka bermunculanlah dampak-dampak negatif yang tidak diinginkan oleh agama kita yang mulia ini. Di antaranya berupa pembangkangan sebagian kaum muslimin terhadap pemimpin mereka sehingga kaum muslimin terpecah menjadi beberapa kelompok.

Wahai saudaraku kaum muslimin rahimakumullah dengarkanlah petuah-petuah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang telah beliau sampaikan untuk umatnya pada 14 abad yang silam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Wajib atas muslim untuk mendengar dan taat kepada hal-hal yang disukai maupun yang dibenci. Selama tidak diperintah dalam hal kemaksiatan dan jika diperintah dalam hal kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat. (HR. Bukhari, no.2955 dan Muslim, no.1839) Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, Barang siapa yang membenci sesuatu yang dilakukan pimpinannya maka hendaklah bersabar, karena sesungguhnya barang siapa yang keluar sejengkal saja dari (ketaatan kepada) pemimpin, maak sungguh matinya seperti matinya orang-orang jahiliyyah. (HR. Bukhari, no.7054 dan Muslim, no.1849) Dan masih banyak sekali hadis-hadis yang memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin kita, meskipun mereka adalah pemimpin yang zalim yang selalu membuat kerusakan di muka bumi ini.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah


Ada suatu pelajaran dari kisah yang sangat mengharukan datang dari Imam ahlus sunah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau bersungguh-sungguh untuk mempraktikkan nasihat-nasihat dari nabi yang tertuang dalam hadis-hadis di atas. Beliau dicambuk, dibelenggu dengan rantai dan dipenjara bertahun-tahun lamanya karena mempertahankan aqidah bahwa Alquran kalamullah bukan makhluk. Aqidah ahlus sunah wal jamaah, aqidah yang murni yang diambil dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa Alquran adalah kalamullah dan bukan makhluk. Namuan demikian Imam Ahmad bin Hanbal bersabar dan selalu taat kepada pemimpinnya dan tidak melakukan perlawanan. Lebih dari itu beliau tetap menasihati kaum muslimin untuk selalu taat kepada pemimpinnya dan sabar atas cobaan yang menimpa mereka dengan mengatakan, Jangan kalian memecah belah ketaatan (terhadap pemimpin kalian) bersabarlah kalian.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.


Inilah salah satu contoh adab seorang ulama kepada pemimpinnya, semoga Allah memberikan rahmat yang luas kepada Imam Ahmad bin Hanbal karena beliau telah memberikan suatu tauladan yang sangat baik untuk umat ini. Maka dari itu, hednaknya kita meneladani para ulama kita karena ilmu mereka yang luas dan dalam. Mereka lebih mengetahui ilmu agama dan lebih berani dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar. Karena kedalaman dan keluasan ilmu dan pandangan mereka, maka mereka memilih bersabar atas cobaan yang menimpa mereka dari pada menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Wahai saudarau, resapilah dan teladanilah sikap Imam Ahmad yang penuh hikmah tadi selanjutnya marilah kita jadikan bahan introspeksi, supaya kita semua berada dalam satu barisan, tidak bercerai-berai. Dan janganlah kita tertipu dengan kelihaian para dai dan khatib dalam berbicara karena sesungguhnya kita berada pada suatu zaman yang jumlah orang-orang berilmu sedikit, sebaliknya, jumlah dai dan khotib yang pandai berbicara sangat banyak, sebagai mana yang telah dikatakan oleh sahabat yang mulia Abdulloh bin Masud: Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang banyak ulamanya dan sedikit para juru khutbahnya dan sungguh setelah kalian akan ada suatu zaman yang banyak para juru khutbahnya dan sedikit ulamanya.

KHUTBAH KEDUA
: Maasyiral muslimin, sidang shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah
Jika kita harus selalu taat dan bersabdar atas perlakuan pemimpin terhadap diri kita, lalu bagaimana cara yang benar untuk menasihati para pemimpin yang terjerumus dalam kesalahan!? Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya Islam adalah agama yang telah sempurna yang tidak didapati di dalamnya kekurangan sedikitpun dna tidak didapati pula di dalamnya suatu permasalahan kecuali Islam telah mambahasnya. Islam mengajarkan adabadab yang berkenaan dengan masalah yang kita anggap sepele, lalu bagaimana dengan permasalahan yang sangat agung ini, permasalahan yang berkaitan dengan kemaslahatan (kebaikan) umat. Seperti halnya dengan kepemimpinan, tentu saja Islam memberikan perhatian ekstra dan membahasnya secara detail, tidak ada kekurangan di dalamnya. Wahai saudara-saudaraku, Islam telah mengajarkan kita cara yang benar dalam menasihati para pemimpin yang terjerumus dalam kesalahan yaitu dengan mendoakan mereka dengan kebaikan dan keistiqomahan dalam agama. Selalu berusaha memperingatkan mereka dari kesalahan-kesalahan dengan cara yang sangat rahasia supaya tidak diketahui oleh khalayak. Ada kalanya dengan mengajak mereka berbicara empat mata atau mengirim surat kepada mereka atau semisalnya dari bentuk nasihat yang rahasia. Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang ingin menasihati para pemimpin maka janganlah menampakkan pembicaraan dengan di hadapan khalayak, tapi hendaklah ia menggandeng tanganna dan menyendiri dengannya maka jika dia menerimanya (itulah kebaikannya) dan jika tidak maka sungguh dia telah menunaikan kewajibannya dan telah memenuhi hak pemimpinnya. (HR. Hakim 3:290 dan Ahmad 3:404) Dan cara seperti inilah yang telah dipraktikkan oleh para ulama kita. Alangkah indahnya apa yang telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Andai saja kami memiliki suatu doa yang terkabukan, niscaya kami akan berdoa denagnnya untuk kebaikan para pemimpin. Begitulah para pendahulu kita dari kalangan orang-orang shalih, sungguh mereka telah memberikan suri tauladan yang baik bagi kita. Tentunya kewajiban kita sebagai generasi yang datang setelah mereka adalah meneladani mereka dan mengikuti jejak yang telah mereka tempuh karena mereka adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Taala. Semoga Allah merahmati Imam Malik bin Anas, yang telah mengatakan, Tidak akan baik akhir umat ini kecuali sebagaimana apa yang membuat baik pada awalnya. Sungguh betapa benarnya ucapan beliau yang mulia ini. Akhirnya kita memohon kepada Allah supaya memperbaiki para pemimpin kita dan rakyatnya, serta menjadikan antara keduanya saling sayang-menyayangi.

Download Naskah Materi Khutbah Jumat


Download Ebook Khutbah Jum'at: khutbah yang Menggelisahkan (121)

Info Naskah Khutbah Jumat


Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 10 Tahun 6, Jumada Ula 1428 H Kata kunci: Kafir, khutbah jumat, materi khutbah jumat, naskah khotbah jumat, aqidah, tauhid, islam.

Related Posts
No related posts.

Baca selengkapnya: http://khotbahjumat.com/khotbah-yang-menggelisahkan/#ixzz1vQ3EXYVe Read more about Bersih Hati by null

Unjuk Rasa Dalam Kacamata Islam


. .

KHUTBAH PERTAMA Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah


Pada zaman tatkala semua orang boleh menyampaikan aspirasinya, bebas berbicara, bebas menentukan hak pilihnya, dan bebas berekspresi, ternyata kita saksikan fenomena tersebut banyak sekali menerabas dan melanggar undang-undang Islam. Di antara sikap yang menyelisihi norma Islam itu adalah melakukan demonstrasi (unjuk rasa), yaitu sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Demostrasi biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang diberlakukan oleh suatu pihak. Unjuk rasa pada umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya, atau juga para karyawan dan pegawai yang minta dinaikkan gajinya. Di samping itu, ada juga unjuk rasa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dengan tujuan-tujuan yang lain pula. Sebagaimana kita ketahui, demonstrasi ini telah berkembang dan menjamur di tanah air tercinta. Dan yang lebih parah lagi, unjuk rasa dijadikan sebagai simbol kebebasan berekspresi di Indonesia. Itulah profil demonstrasi (unjuk rasa), salah satu di antara produk-produk sistem demokrasi yaitu gagasan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Semua itu adalah undang-undangnya orang kafir. Unjuk rasa terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di negeri kita. Misalnya, ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar -yang berakibat melonjaknya harga bahan pokok dan lainnya- maka sebagian masyarakat dan para aktivis pelajar tidak menerima keputusan pemerintahan tersebut. Mereka pun menyikapinya dengan mengerahkan massa dan menggalang persatuan dalam rangka mengadakan demostrasi dan mengungkap kejelekan-kejelekan

pemerintah di atas mimbar. Ujung-ujungnya terjadilah tindakan anarkis, kekerasan, dan pengrusakan. Itulah sekelumit fenomena yang dapat kita rekam di tengah-tengah masyarakat. Ketahuilah, wahai saudaraku, tindakan-tindakan itu semua tidaklah menyelesaikan perkara tetapi justru memperparah dan memperumit masalah. Sikap ini termasuk penyakit jiwa. Apbila melihat seuatu yang tidak selaras dengan kehendaknya dan tidak disepakati oleh hawa nafusnya, maka muncullah di dalam jiwanya keluh kelas. Sebagaimana Allah berfirman, {21 } } 91{ } 02{

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh keash lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan maka ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia amat kikir. (QS. Al-Maarij: 19-21) Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah, Demonstrasi dan unjuk rasa bukanlah jalan dakwah sebagaimana yang diutarakan oleh sebagian orang. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya untuk mengetahui terlebih dahulu apakah aktivitas semacam ini dibenarkan secara syari ataukah tidak. Mungkinkah kita memperjuangkan Islam, menasihati pemerintah melalui demonstrasi dan unjuk rasa di pinggir-pinggir jalan dan di gedung-gedung parlemen? Adakah hal ini semua dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat, dan tabiin, yang mana mereka merupakan generasi terbaik umat ini. Tidak pernah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memperjuangkan Islam dengan cara ini, bahkan hal ini akan menimbulkan banyak madharat (kerugian) yang lebih besar. Tidak ada kebaikan sedikit pun yang kita peroleh kecuali kalau kita mencontoh suri teladan umat ini yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam para sahabatnya, dan para tabiin yang sudah mapan ilmunya dalam berdakwah. Cukuplah mereka kita jadikan panutan dalam bersikap dan bertindak untuk meraih kembali kejayaan Islam yang kini telah terlepas dari kaum muslimin. Hendaklah kita mengingat perkataan Imam Malik

Tidak akan baik penghujung umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya. (Lihat Hal al-Muslimu Mudzaman Bittibai Madzhab Muayyan oleh Muhammad Sulthon al-Mashumi al-Khunjadi: 100) Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Tidak tersembunyi lagi bahwa mafsadat (kerusakan) yang diakibatkan demonstrasi amatlah besar. Demonstrasi bukanlah jalan keluar dari masalah yang dihadapi oleh pemerintah. Jika memang tujuannya untuk menasihati pemerintah bukanlah seperti itu caranya melainkan dengan menasihati mereka (pemerintah) dengan cara yang syari dan ittiba (ikut) kepada salaf sholih. Nasihatilah mereka dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan demonstrasi, bukan dengan mengerahkan massa sambil membawa spanduk bertuliskan kritikan (baca: hujatan) kepada pemerintah. Waliyadzu billah. Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadi renungan kita dalam masalah ini. Beliau bersabda,

Barang siapa yang hendak menasihati penguasa pada suatu masalah, maka janganlah dia tampakkan dengan terang-terangan. Akan tetapi, hendaklah ia pegang tangannya dan menyendiri dengannya. Kalau dia menerima (nasihat itu) maka itu bagus, namun jika tidak maka dia telah menunaikan kewajibannya untuk memberikan nasihat. (HR. Ahmad dalam Musnadnya-nya: 3:403 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah:1096) Sebab itu, kita harus memahami bahwa nasihat bagi pemerintah adalah dengan menaati mereka dalam perkara yang maruf, mendoakan mereka, dan menunjuki mereka ke jalan yang benar serta menjelaskan kekeliruan yang mereka lakukan supaya dapat dihindari. Dan hendaknya nasihat itu diberikan secara rahasia (empat mata) antara si pemberi nasihat dan penguasa tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

Barang siapa melihat sebuah kemungkaran hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka bencilah kemungkaran itu dalam hatinya. (HR. Muslim: 49) Di antara para ulama yang menyebutkan dampak buruk demonstrasi adalah Syaikh Muhammad bin Shalih alUtsaimin. Beliau berkata, Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya. Kemudian pada demonstrasi juga terdapat kericuhan dan kekacau-balauan, keributan, dan gangguan keamanan, sehingga menyebabkan hal ini dilarang. Pada demonstrasi juga sering terdapat pengrusakan; pemecahan kaca, pintu, dan selainnya (tindakan anarkis), begitu pula ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita) serta mengakibatkan kerusakan kemungkaran dan yang semisalnya. (Lihat Al-Jawab al-Abhar, Hal.75) Syaikh Al-Alamah Ahmad bin Yahya Muhammad an-Najmi, tatkala mengomentari kelompok Ikhwanul Muslimin beliau berkata, Tanzhim berupa gerakan pengerahan massa dan demonstrasi, Islam tidak mengenal tindakan semacam ini dan tidak pula mengakuinya. Ini merupakan perkara yang baru (ada akhir-akhir ini). Bahkan demonstrasi adalah perbuatan orang-orang kafir yang telah ditiru oleh kebanyakan kaum kita (umat Islam). Lantas apakah setiap kali orang-orang kafir melakukan suatu perbuatan mengharuskan kita menyetujui perbuatan mereka? Sesungguhnya Islam ini tidak akan menang apabila diraih dengan cara pengerahan dan unjuk rasa. Namun, Islam akan menang dengan jihad yang dibangun di atas aqidah yang shahih dan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sesungguhnya para rasul dan pengikutnya telah mendapatkan berbagai macam cobaan tetapi mereka tidak diperintah selain untuk bersabar. (Al-Maurid al-Adzbuz Zulal, Hal.225) . ,

KHOTBAH KEDUA

Kaum muslimin yang dirahmati Allah


Barangkali timbul tanda tanya di benak kita: Bila memang pemerintah mempunyai sikap yang tak selaras dengan kita, tidak sesuai dengan buah pikiran dan ide kita, pemerintah tidak berhukum dengan hukum Allah atau mungkin telah berbuat kezhaliman, dan lain-lainnya yang kontradiktif dengan apa yang kita inginkan, lantas bagaimana kita harus bersikap terhadap pemimpin yang seperti itu? Bolehkah kita memberontak atau mengerahkan massa untuk demonstrasi beramai-ramai memprotesnya? Tidak boleh begitu! Sikap yang terbaik bagi kita adalah sabar dan tabah. Sekali lagi, bersikaplah sabar dan tabah! Janganlah kita terbawa oleh arus emosi sehingga bersikap gegabah yang kerapkali menjadikan pelakunya kebablasan tak terkendali. Jangan lalai dari bimbingan cahaya ilahi dan menyimpang dari rel syari. Ketahuilah, wahai saudaraku sekalian, Islam memang memerintahkan kepada setiap pemimpin untuk berlaku adil dan bijaksana dalam memimpin dan memakmurkan rakyatnya. Namun, apabila pemimpin gagal melakukannya maka Islam memerintahkan kepada kita untuk tetap mematuhinya selagi pemerintah itu tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Tidak boleh kita memberontak terhadapnya, untuk menghindari timbulnya kerusakan yang lebih besar. Mari kita renungkan bersama pesan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, . .

Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. Aku berkata, Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu? Beliau bersabda, Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka. (HR. Muslim no. 1847).

Kaum muslimin yang dirahmati Allah


Kita pasti menginginkan hidup bahagia, aman, tenteram, pemimpin yang ideal yang mampu mengayomi kita sebagai rakyatnya, dan jauh dari huru-hara. Semua orang pasti mendambakannya. Maka untuk menggapainya, tinggalkanlah segala bentuk kezhaliman dan kembalilah ke jalan Allah. Sebagaimana ditandaskan dalam ayat Alquran:

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (QS. Al-Anam: 129) Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sadi berkata, Apabila hamba banyak melakukan kezhaliman dan dosa-dosa, maka Allah akan menjadikan bagi mereka para pemimpin zhalim yang mengajak kepada kejelekan. Sebaliknya, apabila mereka baik, shalih, dan istiqomah dalam ketaatan, maka niscaya Allah akan mengangkat bagi mereka para pemimpin yang adil dan baik. (Tafsir Karimi ar-Rohman, Hal.239) Jadi, semua yang terjadi di negeri kita tercinta ini merupakan takdir yang sudah ditentukan oleh Allah. Semestinya kita menyikapinya dengan sabar, tenang, dan tawakal kepada Allah. Itulah yang diwajibkan oleh syariat, bukan menyikapinya dengan penuh emosi, sibuk mencaci maki pemerintah, melakukan kudeta, berdemonstrasi, dan melakukan tindakan anarkis yang keluar dari jalur Islam. Namun, ini tidak berarti kita harus bersikap pasrah, pesimis, putus asa, dan mengeluh. Kita harus tetap optimis dan berusaha memperbaiki nasib dan keadaan, asalkan tetap dalam koridor syari. Allah berfirman,

sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Rad: 11) Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Di penghujung khotbah ini kita memohon semoga Allah menjadikan negeri Indonesia seabgai negeri yang aman sentosa dan menjadikan pemimpin-pemimpinnya berlaku adil kepada rakyatnya menjauhkan mereka dari perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Marilah kita bahu-membahu membangun negeri tercinta ini dengan perkara-perkara yang baik. Jangan gegabah dalam mengambil sikap yang berkaitan dengan keputusan pemerintah.

. . . .

Download Naskah Materi Khutbah Jumat


Download Ebook Khutbah Jum'at unjuk-rasa-dalam-kacamata-islam (118)

Info Naskah Khutbah Jumat

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-8, www.khotbahjumat.com

Artikel terkait: Syirik, kufur, khutbah jumat, materi khutbah jumat, naskah khotbah jumat, aqidah, tauhid, islam. Keyword/Kata Kunci : Demonstrasi Related Posts
No related posts.

No tags for this post.

GOT SOMETHING TO SAY? GO FOR IT!


Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

Pilih untuk berlangganan diskusi pada topik Khutbah Jumat Ini Takwa, Introspeksi Diri Pasca Ramadhan Persatuan Umat Islam dari Mimpi Menuju Kenyataan

Pedoman Khutbah Jumat

o o o o

Definisi Khutbah Jumat Doa Khutbah Jumat Keutamaan Hari Jumat Mukaddimah Khutbah Jumat Panduan Khutbah Hukum Berbicara Ketika Khotbah Jumat Kreatif Memilih Khutbah Membaca Sebagian Al-Quran Dalam Khutbah Jumat Menghindari Penggunaan Hadis Dhaif dan Maudhu Sebagai Dalil

Akhlak dan Muamalah (13) Artikel Khutbah Jumat (4) Bersih Hati (20) Fikih (10) Jalan Kebenaran(18) Khutbah Idul Fitri (1) Khutbah Jumat Pilihan (51) Nasehat (49) Panduan Khutbah Jumat (2) Pondasi Agama (18) Rumah Tangga (5) Video Khutbah Jumat (1) Wallpaper (1)

Donasi

Aplikasi Yufid

Populer Terkini Komentar Tags

Perayaan Tahun Baru Islam


NOVEMBER 22, 2011 24 COMMENTS

Persiapan Menuju Hari Akhir


JULY 18, 2011 14 COMMENTS

Amar Maruf Nahi Mungkar


NOVEMBER 28, 2011 10 COMMENTS

Waspadai Perbuatan Zina dan Sarananya


MAY 3, 2012 9 COMMENTS

Surga atau Neraka!


NOVEMBER 25, 2011 5 COMMENTS

Video Khotbah Jumat Yufid.TV


Khutbah Jumat: Kiat Istiqamah di Zaman Fitnah from

Baca selengkapnya:http://khotbahjumat.com/unjuk-rasa-dalam-kacamata-islam/#ixzz1vQ4q3EFv Read more about demonstrasi by null