Anda di halaman 1dari 39

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) RAYON 11: UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA (PROGRAM SERTIFIKASI GURU-GURU IPA

SMP)

MATERI TUTORIAL PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG)

PENYUSUNAN RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)

Disusun Oleh AHMAD ABU HAMID Dosen Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY

Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Yogyakarta 2008 DAFTAR ISI
Halaman Judul Halaman 1

Daftar Isi I. PENDAHULUAN II. PENDEKATAN MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA 1. Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Diskaveri dan Inkuairi 2. Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Konstruktivisme 3. Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Kontekstual 4. Pendekatan Salingtemas 5. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah 6. Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Kooperatif 7. Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Keterampilan Proses 8. Starter Experiment Approach III. METODE MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA 1. Metode Ceramah 2. Metode Eksperimen 3. Metode Demonstrasi 4. Metode Diskusi 5. Metode Memecahkan Masalah 6. Metode Tugas 7. Metode Mengajar Beregu IV. MODEL-MODEL MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN 1. Model-Model Mengajar Secara Umum (1) Kelompok Model Pengolahan Informasi (2) Kelompok Model Personal (3) Kelompok Model Sosial (4) Kelompok Model Sistem Perilaku 2. Model Mengajar yang Disarankan dalam Pembelajaran IPA V. KURIKULUM, SILABUS, DAN RPP 1. Kurikulum 2. Silabus 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) VI. PENUTUP DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN

2 3 8 9 10 12 14 15 16 18 19 19 20 21 21 22 22 22 22 24 25 27 29 30 32 33 40 41

I. PENDAHULUAN Sebelum menyusun RPP, guru seharusnya membaca, memahami, menghayati, dan memperhatikan secermat-cermatnya mengenai: 1. kurikulum yang sedang berlaku (misalnya kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP), dengan harapan guru dapat memahami rasional, pengertian, fungsi dan tujuan, ruang lingkup, standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi

2.

3.

4.

5.

pokok, pengalaman belajar, serta cara-cara, proses, dan prosedur evaluasi hasil belajar yang ditetapkan oleh kurikulum buku-buku kependidikan dan keguruan, dengan harapan guru dapat memahami konsep-konsep psikologi pendidikan, teori belajar dan perkembangan mental, model, pendekatan, dan metode pembelajaran, media pembelajaran, serta konsep-konsep evaluasi hasil belajar buku-buku pelajaran untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, atau buku-buku pelajaran di perguruan tinggi; dengan harapan guru mampu memahami hakikat ilmu yang diajarkan dan memilih materi pelajaran sebagai referensi jurnal atau majalah kependidikan, dengan harapan guru dapat memperoleh wawasan pengembangan pembelajaran dan evaluasi hasil belajar atau implikasi praktis teori dan temuan penelitian, serta situasi, kondisi, dan kemampuan sekolah, dengan harapan guru dapat memahami lingkungan sekolah, media pembelajaran yang ada di sekolah, kemampuan murid, serta metode apa yang akan digunakan dalam pembelajaran.

Secara ringkas dapat dilukiskan seperti bagan 1 berikut.


KURIKULUM YANG BERLAKU BUKU KEPENDIDIKAN BUKU-BUKU PELAJARAN SIKON DAN KEMAMPUAN SEKOLAH JURNAL MAJALAH

RASIONAL, PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN, RUANG LINGKUP, SK DAN KD, MATERI POKOK, PENGALAMAN BEL, SERTA EVALUASI YG TELAH DITETAPKAN

KONSEP-KONSEP PSIKOLOGI PEND, TEORI BEL, MODEL PEMB, METODE MENGAJAR, MEDIA PEMB, SERTA EVALUASI HASIL BELAJAR. 1. DIBACA,

HAKIKAT ILMU DAN BUKU SBG REFERENSI

SIKON SEK, SERTA KEMAMPUAN SEKOLAH, GURU, SISWA, SARANA DAN PRA SARANA SEKOLAH (LAB DKK)

IMPLIKASI PRAKTIS TEORI DAN TEMUAN PENELITIAN

DIFAHAMI,

DIHAYATI,

DAN

2.

PENYUSUNAN

SILABUS

DAN

RENCANA

PELAKSANAAN

Dengan menggunakan RPP, guru seharusnya dapat mengajar yang mendidik; sehingga dapat menumbuhkembangkan ranah kognitif, afektif, psikomotorik, kreativitas, kemandirian, serta ranah keimanan dan ketaqwaan murid-muridnya. Dengan demikian, perkembangan kognitif, afektif, psikomotorik, keimanan, dan ketaqwaan murid menjadi tanggung jawab guru di sekolah atau madrasah. Pendidikan yang bernuansa keimanan dan ketaqwaan secara garis besar dilukiskan oleh bagan 2 berikut.
KEIMANAN

9 7 5 2 8

1. ALLAH SWT MEMBERI PETUNJUK KEPADA PENDIDIKAN BERNUANSA MANUSIA 2. MANUSIA MAKHLUK YANG ISTIMEWA, MENGERTI ALAM RAYA, ALAM GHOIB, DAN ATURANNYA KARENA DIBERI PETUNJUK OLEH ALLAH SWT 3. MALAIKAT (ALAM GHOIB, ENERGI POSITIF) 4. SYAITHON (ALAM GHOIB, ENERGI NEGATIF) 5. JIN (ALAM GHOIB, ENERGI NEGATIF, KADANGKALA POSITIF) 6. HEWAN (INSTING, MENGIKUTI ATURAN ALAM) 7. TUMBUHAN (INSTING, DALAM MENGIKUTI ATURAN ALAM) 6 8. BENDA MATI (ALAM RAYA, MENGIKUTI ATURAN ALAM) 9. BENDA GHOIB LAINNYA (SURGA DAN NERAKA) 10. GARIS 1-2 PETUNJUK ALLAH SWT (SHIROTHOL MUSTAQIM)

Pendidikan dan pembelajaran yang benuansa keimanan dan ketaqwaan seharusnya dapat menumbuhkembangkan rasa kagum dan rasa patuh kepada Alloh sang pencipta alam. Allohlah yang menciptakan, mendisain, menggerakkan, dan pada akhirnya merusak alam semesta sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada makhluk yang dapat merintangi semua kehendak-Nya. Kapan terjadi ? Alloh SWT yang maha tahu perencanaannya. Dalam pengajaran ada satu komponen aktif yang terlibat, yaitu guru mengajar. Dalam hal mengajar, guru aktif dalam menyampaikan materi pelajaran kepada murid-muridnya dengan menggunakan berbagai media pembelajaran yang ada serta untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam pengajaran, guru hanya menyampaikan materi pelajaran, jika murid telah memahami materi yang diajarkan guru, selesailah proses pengajaran. Dalam pembelajaran ada dua komponen aktif yang terlibat, yaitu: guru mengajar dan murid belajar. Dalam proses pembelajaran, guru dan murid bekerja bersama-sama atau bersinergi untuk menemukan dan memahami konsep pokok (esensi) materi pelajaran, serta untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dengan menggunakan media atau objek pembelajaran. Jika murid telah memahami materi pelajaran yang diajarkan guru dan murid telah mencapai tujuan pembelajaran dengan sukses, selesailah proses pembelajaran. Jadi dalam proses pengajaran dan proses pembelajaran, guru hanya menyampaikan materi pelajaran dan menumbuhkembangkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik murid. Guru belum menumbuhkembangkan aspek spiritual atau aspek religius murid. Dalam pendidikan, guru seharusnya dapat menumbuhkembangkan atau membina aspek keimanan dan ketaqwaan murid-muridnya; sehingga murid mempunyai akhlak yang mulia. Dalam pendidikan, guru sebaiknya dapat menumbuhkembangkan aspek kecerdasan (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) atau kecerdasan religius (RQ) murid-muridnya. Kalau boleh dinyatakan, penyampaian materi pelajaran hanya digunakan guru dan murid sebagai wahana untuk menumbuhkembangkan aspek keimanan dan ketaqwaan. Secara garis besar perbedaan antara pengajaran, pembelajaran, dan pendidikan disampaikan seperti dalam kolom berikut.
A. PENDIDIKAN, PENGAJARAN, DAN PEMBELAJARAN KETIGANYA HARUS DAPAT MENINGKATKAN 1. KEMAMPUAN DASAR, 2. KETERAMPILAN DASAR, DAN 3. AKHLAK YANG MULIA SISWA. - PENDIDIKAN MENYANGKUT KETIGANYA (1, 2, DAN 3) - PENGAJARAN MENYANGKUT KEDUANYA (1 DAN 2) DENGAN PENEKANAN KEGIATAN GURU - PEMBELAJARAN MENYANGKUT KEDUANYA (1 DAN 2) DENGAN PENEKANAN KEGIATAN GURU DAN KEGIATAN MURID

Pendidikan menyangkut pembinaan aspek keimanan dan ketaqwaan murid. Telah kita ketahui bersama, bahwa aspek keimanan dan ketaqwaan berkaitan erat dengan lingkungan murid. Lingkungan murid dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang. Ada yang memandang dari segi lingkungan belajar murid, lingkungan keluarga murid, lingkungan sebaya murid, dan lingkungan masyarakat tempat tinggal murid. Tidak kalah pentingnya adalah tontonan murid. Kebiasaan murid menonton media komunikasi audio visual sangat mempengaruhi kadar keimanan dan ketaqwaan murid. Pada saat ki Hajar Dewantara hidup, kebiasaan ini belum menjamur. Karena apa ? Karena pada saat ki Hajar Dewantara hidup, tontonan audio visual belum menyentuh masyarakat luas; sehingga aspek ini belum dirumuskan. Tontonan audio visual yang dimaksud adalah tayangan televisi dan tayangan dalam komputer baik sendiri-sendiri maupun komputer yang telah terhubung dengan internet. Menurut hemat penulis, kedua jenis tayangan ini seperti pedang bermata banyak (tidak hanya bermata dua). Jika ditinjau dari kemanfaatannya, kedua jenis tayangan ini sangat bermanfaat. Karena kedua jenis tayangan ini membuka cakrawala atau membuka wawasan murid. Mengapa demikian ? Karena dengan menonton kedua jenis tayangan ini, murid dapat mengetahui berbagai perkembangan ilmu (agama, biologi, fisika, kimia, matematika, teknologi, sosial, politik, ekonomi, dan ilmu-ilmu lainnya). Batas antar negara sudah dihilangkan, batas antar budaya sudah dihapuskan, serta batas antar etnis sudah tidak ada. Namun jika ditinjau dari aspek kerugiannya (madhorotnya) kedua jenis tayangan ini tidak mendidik sama sekali, apalagi jika ditinjau dari aspek agama serta aspek keimanan dan ketaqwaan. Sudah jelas, bahwa berciuman antara pria dan wanita selain muhrimnya (orang yang haram dinikah) itu hukumnya haram, tetapi dalam kedua jenis tayangan ini boleh-boleh atau syah-syah saja. Membuka aurat pada khalayak umum itu haram hukumnya, namun dalam kedua jenis tayangan ini syah-syah saja. Dari aspek sopan santun, kedua jenis tayangan ini sudah menghilangkan jejak kesopanan dan kesantunan. Contoh-contoh lainnya dapat diteliti lagi. Oleh sebab itu, secara garis besar dikenal tiga taraf pendidikan, yaitu: 1. pendidikan informal yang dilaksanakan dalam lingkup keluarga 2. pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah dan madrasah 3. pendidikan nonformal yang dilaksanakan dalam masyarakat. Ketiga taraf pendidikan ini secara garis besar dilukiskan dalam bagan 3 berikut.
TIGA TARAF PENDIDIKAN / TRI PUSAT PENDIDIKAN
MELETAKKAN DASARDASAR IMAN, ISLAM, DAN TAQWA SERTA ETIKA DAN ETHOS KERJA MEMBERIKAN KEMAMPUAN DAN KETERAMPILAN DASAR

PENDIDIKAN INFORMAL

PENDIDIKAN FORMAL

MENGISI KESENJANGAN YANG TERDAPAT ANTARA TUNTUTAN DUNIA KERJA DENGAN KEMAMPUAN NYATA SUMBER DAYA MANUSIA

PENDIDIKAN NONFORMAL

Ada tiga komponen utama dalam proses belajar mengajar (PBM) atau kegiatan belajar mengajar (KBM) atau teaching learning process atau instruction (pembelajaran), yaitu: proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan evaluasi hasil pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ada keterlibatan guru dan murid dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran harus teramati dan terukur, dengan demikian, guru yang merencanakan tujuan pembelajaran dan murid yang harus mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses evaluasi, guru yang merencanakan dan melaksanakan evaluasi serta murid yang dikenai atau yang diukur kemampuan, keterampilan, sikap, perilaku, serta aspek keimanan dan ketaqwaannya. Jadi ada hubungan fungsional antara proses pembelajaran, tujuan, dan evaluasi hasil pembelajaran yang dikenal sebagai trianggulasi proses pembelajaran seperti yang dilukiskan dalam bagan 4 berikut.
TRIANGGULASI PBM / KBM / TEACHING-LEARNING PROCESS / INSTRUCTION / PEMBELAJARAN

APPROACH, STRATEGY, METHODE, AND TECHNIQUE

PBM

TUJUAN

GOAL, AIM, OBJECTIVE, AND TARGET

EVALUATION = MEASUREMENT + VALUE JUDGMENT = NON MEASUREMENT + VALUE JUDGMENT

EVALUASI

Dalam interaksi pembelajaran ada tiga hal penting yang perlu dicermati, yaitu: guru, murid, dan objek pembelajaran. Jika guru aktif mengajar dan murid pasif dalam belajar, maka interaksi pembelajaran berpusat kepada guru, sehingga disebut teacher centered. Jika guru hanya memfasilitasi proses pembelajaran dan murid aktif belajar dalam rangka menemukan konsep, prinsip, teori, azas, aturan, dan atau hukum; maka murid sebagai pusat aktivitas pembelajaran, sehingga sering disebut sebagai student centered. Dalam proses pembelajaran dengan guru sebagai pusat pembelajaran, murid biasanya hanya menghafal apa yang disampaikan guru. Jika dalam proses pembelajaran, murid aktif mengelola objek pembelajaran, maka murid mengerti apa yang mereka pelajari. Dalam teacher centered guru mudah dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, serta mengevaluasi hasil pembelajaran. Namun murid sangat susah dalam melaksanakan proses belajar, karena murid terbelenggu kreativitasdan kemandiriannya serta tidak melaksanakan diskaveri dan inkuairi.

Dalam student centered guru sulit dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, serta sulit dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi hasil pembelajaran. Mengapa demikian ? Karena guru harus merencanakan pengalaman belajar apa yang harus dialami dan dilewati murid, media dan objek belajar apa yang harus digunakan agar murid dapat melakukan proses diskaveri dan inkuairi, modelpendekatan-metode mengajar apa yang harus digunakan agar murid dapat menemukan konsep yang akan disampaikan, serta instrumen apa saja yang harus digunakan agar kognitif, afektif, psikomotorik, serta aspek keimanan dan ketaqwaan dapat teramati, terukur, dan dapat dinilai. Dengan demikian, guru sangat sulit dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses maupun produk pembelajaran. Namun murid sangat senang dalam melaksanakan proses belajar, karena murid melaksanakan proses menemukan (diskaveri dan inkuairi); sehingga murid dapat menemukan sendiri konsep, prinsip, teori, azas, aturan, dan atau hukum yang dipelajarinya. Hubungan fungsional antara guru, murid, dan media pembelajaran (objek belajar) dalam pembelajaran dapat dilukiskan seperti bagan 5 berikut.
SULIT BAGI GURU, MUDAH BAGI MURID, PERLU INKUAIRI

GURU IB-M

MUDAH BAGI GURU, BERAT BAGI MURID, TIDAK PERLU INKUAIRI

MURID (MENGERTI)
TEACHER CENTERED

OBJEK BELAJAR MURID (HAFAL)


STUDENT CENTERED

II. PENDEKATAN MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA A. 1. PEMBELAJARAN INKUAIRI IPA DENGAN PENDEKATAN DISKAVERI DAN

PENDEKATAN DISKAVERI DAN INKUAIRI DILUKISKAN SEPERTI BAGAN 6 BERIKUT.

GEJALA ALAM ATAU FAKTA

DIAMATI DAN DINALAR OLEH SISWA, KEMUDIAN ADA

DINALAR OLEH SISWA , DIARAHKAN OLEH GURU, KEMUDIAN ADA JAWABAN SEMENTARA ATAS MASALAH (HIPOTESIS)

SISWA MENCARI BUKTI-BUKTI UNTUK MENJAWAB MASALAH MELALUI EKSPERIMEN (PENGAMATAN, PENGUMPULAN DATA ATAU PENGUKURAN, TABULASI DATA, ANALISIS DATA, DAN PENGAMBILAN KESIMPULAN) UNTUK FISIKA, KIMIA, DAN IPBA

SISWA MENCARI BUKTI-BUKTI UNTUK MENJAWAB MASALAH MELALUI EKSPERIMEN (PENGAMATAN, PENGUMPULAN DATA, PENGGOLONG-GOLONGAN, KLASIFIKASI, TABULASI DATA, ANALISIS DATA, DAN PENGAMBILAN KESIMPULAN) UNTUK BIOLOGI

CATATAN.
PADA HAKIKATNYA PENDEKATAN PEMBELAJARAN MERUPAKAN LANGKAH-LANGKAH MENGAJAR YANG BERSIFAT FILOSOFIS, TEORITIS, DAN AKSIOMATIS. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MEMILIKI: 1. BASIS FILOSOFIS YANG MEMUNCULKAN PRINSIP ATAU HUKUM, 2. BASIS PSIKOLOGIS YANG MEMUNCULKAN PENGGUNAAN TEORI BELAJAR ATAU TEORI PERKEMBANGAN MENTAL YANG DITEORIKAN OLEH PARA PAKAR, SERTA 3. BASIS PEDAGOGIK YANG DIBANGUN OLEH SUATU PERIODE (ALOKASI WAKTU) YANG BEBAS DAN TIDAK TERSTRUKTUR DALAM PEMBELAJARAN. SECARA GARIS BESAR HUBUNGAN FUNGSIONAL KETIGA BASIS DARI SUATU PENDEKATAN DILUKISKAN SEPERTI BAGAN 7 BERIKUT.
PENDEKATAN DISKAVERI DAN INKUAIRI

BASIS FILOSOFIS: MENGEMBANGKAN PENGERTIAN SAINS (IPA)

BASIS PSIKOLOGIS: MENERAPKAN TEORI BELAJAR BRUNER

BASIS PEDAGOGIK: DIBANGUN OLEH PERIODE (ALOKASI WAKTU) YANG BEBAS DAN TIDAK TERSTRUKTUR DALAM PEMBELAJARAN

UNTUK SEMUA KEGIATAN DISKAVERI DAN INKUAIRI, PADA AWALNYA SISWA DIBIMBING DAN DIARAHKAN PENUH OLEH GURU. PADA PERIODE TERTENTU, SISWA MASIH DIBIMBING DAN DIARAHKAN OLEH GURU PADA TAHAP-TAHAP YANG DIPANDANG RUMIT. PADA AKHIRNYA SISWA DIBEBASKAN UNTUK KREATIF MELAKUKAN KEGIATAN DISKAVERI ATAU KEGIATAN INKUAIRI. KEGIATAN-KEGIATAN DISKAVERI DALAM PEMBELAJARAN SAINS (IPA) ADALAH: 1. MELAKUKAN EKSPERIMEN (PERCOBAAN) 2. MENGAMATI GEJALA ATAU FAKTA ALAM YANG DITAMPILKAN DALAM EKSPERIMEN (PERCOBAAN) DAN MENGUMPULKAN DATA MELALUI PENGUKURAN 3. MEMASUKKAN DATA KE DALAM TABEL DATA DAN MENGANALISIS DATA 4. MENARIK KESIMPULAN 5. MENERAPKAN HASIL EKSPERIMEN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SERTA 6. MEMBUDAYAKAN SIKAP ILMIAH. KEGIATAN-KEGIATAN INKUAIRI DALAM PEMBELAJARAN SAINS (IPA) ADALAH:

MENEMUKAN DAN MERUMUSKAN MASALAH MENENTUKAN UBAHAN BEBAS DAN UBAHAN TERIKAT MERUMUSKAN HIPOTESIS MERENCANAKAN EKSPERIMEN UNTUK MENGUJI HIPOTESIS MELAKSANAKAN EKSPERIMEN (PERCOBAAN) DAN MENGGUNAKAN ALAT UKUR MELAKUKAN OBSERVASI DAN MENGUMPULKAN DATA (INFORMASI) EKSPERIMEN TABULASI DATA, ANALISIS DATA, MEMBUAT GRAFIK, DAN MEMANIPULASI DATA MENGAMBIL KESIMPULAN MENGOMUNIKASIKAN HASIL MELALUI PEMBUATAN LAPORAN EKSPERIMEN (PERCOBAAN) 10. MENGAPLIKASIKAN KONSEP YANG DIPEROLEH DARI EKSPERIMEN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, TEKNOLOGI, DAN INDUSTRI, SERTA 11. MEMBUDAYAKAN SIKAP ILMIAH. PENDEKATAN INKUAIRI PADA PRINSIPNYA MERUPAKAN PERLUASAN PENDEKATAN DISKAVERI DALAM HAL KEGIATAN DAN TINGKAT PERKEMBANGAN MENTAL MURID YANG MELAKUKAN KEGIATAN. PENDEKATAN INKUAIRI SUDAH MENGGUNAKAN TINGKATAN PERKEMBANGAN MENTAL YANG LEBIH TINGGI DAN LEBIH RUMIT DARI PENDEKATAN DISKAVERI.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

B. C. 2. PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME


PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME MENEKANKAN PADA PEMBINAAN KEPADA SISWA UNTUK MENEMUKAN ATAU MEMBANGUN ILMU DAN TEKNOLOGI DENGAN KEMAMPUAN DIRINYA SENDIRI. KEGIATAN-KEGIATAN DALAM PENDEKATAN KONTRUKTIVISME DILUKISKAN DALAM BAGAN 8 BERIKUT.

ORIEN

SISWA BELAJAR DENGAN COBA-COBA (LEARNING BY TRIAL AND ERROR) SISWA BELAJAR DARI / MELALUI PENGALAMAN (LEARNING BY EXPERIENCES) TES ATAU OBSERVASI KEPADA SISWA IPA ITU MUDAH

PENGGALI AN IDE RESTRUKTURISASI

GURU MEMBINA DAN MENGARAHKAN SISWA SISWA BELAJAR DENGAN MELAKUKAN (LEARNING BY DOING), SISWA BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KETERAMPILAN PROSES (LEARNING BY PROCESS SKILL), SISWA BELAJAR UNTUK HIDUP BERSAMA (LEARNING BY LIVE TOGETHER MELALUI EMPATI SIMPATI MANAJEMEN KONFLIK), SISWA BELAJAR UNTUK MENJADI YANG LEBIH BAIK (LEARNING TO BE GOOD), DAN SISWA BELAJAR UNTUK MEMAHAMI DAN MENGERTI (LEARNING TO KNOW) KONSEP

APLIK

REVIU
PEMBANDING AN DENGAN IDE AWAL

EKSPERIMEN IPA / PERCOBAAN IPA PENARIKAN KESIMPULAN DAN APLIKASI KONSEP

MEMBANDINGKAN KESIMPULAN YANG DIPEROLEH SISWA DENGAN IDE AWAL YANG TELAH DISAMPAIKAN SISWA

CATATAN. SEBAIKNYA PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DILAKUKAN DENGAN TIGA TINGKATAN, YAITU: 1. SEMUA KEGIATAN DIBIMBING PENUH OLEH GURU 2. SEBAGIAN KEGIATAN DIBIMBING PENUH OLEH GURU 3. SEMUA KEGIATAN DILAKUKAN SISWA DENGAN KREATIVITAS DAN TANGGUNG JAWAB PENUH DARI SISWA.

1. 3. PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL


PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA HAKIKATNYA DIGUNAKAN UNTUK MEMECAHKAN PERSOALAN-PERSOALAN AKTUAL YANG DIHADAPI MURID. MISALNYA: PERSOALAN GEMPA BUMI, PERSOALAN BANJIR YANG ADA KAITANNYA DENGAN PERSOALAN EKOSISTEM, PERSOALAN PEMANASAN GLOBAL YANG ADA KAITANNYA DENGAN POLUSI, PERSOALAN KEPENDUDUKAN YANG ADA KAITANNYA DENGAN PROGRAM TRANSMIGRASI DAN KELUARGA BERENCANA. PENDEKATAN KONTEKSTUAL DILUKISKAN SEPERTI PADA BAGAN 9 BERIKUT. PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELIBATKAN TUJUH KOMPONEN PEMBELAJARAN EFEKTIF BERIKUT. (1) KONSTRUKTIVISME, (2) BERTANYA, (3) PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN YANG DIPEROLEH DARI KEGIATAN PENEMUAN (INKUAIRI), (4) MENEMUKAN, (5) MASYARAKAT BELAJAR, (6) PEMODELAN, DAN (7) PENILAIAN APA ADANYA (AUTHENTIC ASSESSMENT). MEMPUNYAI SEPULUH KARAKTERISTIK BERIKUT. (1) ADA KERJASAMA, (2) ADA SINERGIS KINERJA YANG SALING MENUNJANG, (3) PEMBELAJARAN DAPAT MENYENANGKAN MURID, SEHINGGA MURID BELAJAR DENGAN BERGAIRAH, (4) PEMBELAJARAN TERINTEGRASI ANTARA TEORI DAN PRAKTIKUM, (5) PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN BERBAGAI SUMBER BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN, (6) MURID BELAJAR AKTIF, KREATIF, DAN INOVATIF, (7) ADA TUKAR PENDAPAT DENGAN TEMAN PADA SAAT PEMBELAJARAN BERLANGSUNG, (8) MURID BELAJAR SECARA KRITIS DAN GURU HARUS KREATIF, (9) ADA KARYA MURID (KARYA YANG BAIK DITEMPEL DI DINDING KELAS), SERTA (10) NILAI TIDAK HANYA NILAI KOGNITIF SAJA, TETAPI HARUS ADA NILAI HASIL KARYA MURID, LAPORAN PRAKTIKUM, LAPORAN TUGAS, KARANGAN MURID, NILAI SIKAP MURID, DAN NILAI KETERAMPILAN MURID. MURID SEHARUSNYA (1) TAHU KONSEP YANG DIPELAJARI KAITANNYA DENGAN SITUASI SENYATANYA, (2) BELAJAR SECARA ALAMIAH DALAM BENTUK KEGIATAN DAN PENGALAMAN, (3) MAMPU MEMBUAT HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN YANG DIMILIKI DENGAN PENERAPANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, (4) SADAR AKAN MANFAAT APA YANG AKAN DIPEROLEH DARI PROSES BELAJAR, SERTA (5) SADAR BAHWA DALAM KEHIDUPAN INI PERLU IDE-IDE YANG CEMERLANG

CATATAN. DALAM PELAKSANAANNYA, PEMBELAJARAN IPA SMP ATAU MTs DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL, GURU SEBAIKNYA TAHU MATERI APA YANG ADA KAITANNYA DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI. MISALNYA MATERI TEKANAN. KEMUDIAN GURU MERENCANAKAN PENGALAMAN APA YANG HARUS DILALUI SISWA AGAR MEREKA TAHU TENTANG KONSEP TEKANAN. GURU BERTANYA KEPADA MURID, RENCANA DAN PERCOBAAN APA YANG AKAN DILAKSANAKAN UNTUK MEMPEROLEH KONSEP TEKANAN. KEMUDIAN GURU BERSAMA-SAMA DENGAN MURID MENYIAPKAN PERANGKAT PERCOBAANNYA DAN MURID MELAKUKAN PERCOBAAN. PADA SAAT MURID BEKERJA, GURU BERKELILING MELAKUKAN OBSERVASI KEGIATAN MURID, MEMBIMBING MURID, SERTA MELAKSANAKAN EVALUASI AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK MURID DENGAN LEMBAR PENILAIAN. AKHIRNYA GURU MELAKSANAKAN DISKUSI KELAS UNTUK MENARIK KESIMPULAN DAN MENERAPKAN HASIL PERCOBAAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI. DENGAN CARA INI MURID DILATIH UNTUK BELAJAR MANDIRI DAN MENJADI MASYARAKAT TERPELAJAR. DENGAN DEMIKIAN GURU SANGAT BERAT DALAM MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SERTA SULIT DALAM MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN.

4. PENDEKATAN SALINGTEMAS (SAINS, LINGKUNGAN, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT)


PENDEKATAN SALING TEMAS DILUKISKAN SEPERTI DALAM BAGAN 10 BERIKUT.

PENDEKATAN SALINGTEMAS LINGKUNGAN

PENGENALAN, PEMAHAMAN, ATAU PENEMUAN SAINS ATAU TEKNOLOGI

SAINS

TEKNOLOGI

MASYARAKAT

MERANCANG DAN MEMBUAT KARYA TEKNOLOGI DENGAN MEMPERHITUNGKAN DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT

UJICOBA HASIL KARYA TEKNOLOGI

PERBAIKAN DAN PENYEMPURNAAN HASIL KARYA TEKNOLOGI SERTA MEMPERHATIKAN MASUKANMASUKAN MENGENAI DAMPAKNYA TERHADAP CATATAN.
SKENARIO PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN SALINGTEMAS MINIMAL ADA LIMA JENIS ATAU TIPE, YAITU: a. TIPE PERTAMA: (A) PENGENALAN, PEMAHAMAN, DAN PENEMUAN KONSEP, PRINSIP, TEORI, ATAU HUKUM-HUKUM SAINS. (B) MERANCANG DAN MEMBUAT KARYA TEKNOLOGI SERTA MEMPERHITUNGKAN DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN

DAN MASYARAKAT. (C) UJICOBA HASIL KARYA TEKNOLOGI. (D) PERBAIKAN DAN PENYEMPURNAAN HASIL KARYA TEKNOLOGI SERTA MEMPERHATIKAN MASUKANMASUKAN MENGENAI DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT. (E) PENERAPAN HASIL KARYA TEKNOLOGI DI MASYARAKAT. b. TIPE KEDUA: (A) MENGKAJI SALAH SATU BENTUK PRODUK TEKNOLOGI. (B) MEMAHAMI HUKUM-HUKUM SAINS YANG TERDAPAT DI DALAMNYA SERTA DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT. (C) MENIMBANGNIMBANG UNTUNG DAN RUGINYA PENERAPAN PRODUK TEKNOLOGI TERSEBUT SERTA MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK DITERUSKAN ATAU TIDAKNYA PENGGUNAAN PRODUK TEKNOLOGI TERSEBUT. (D) MENGUSULKAN PENERAPAN PRODUK TEKNOLOGI YANG LAIN YANG LEBIH RAMAH LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT, JIKA PRODUK TEKNOLOGI YANG DIKAJI SANGAT MENGGANGGU LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT. c. TIPE KETIGA: (A) MENGKAJI DAMPAK PENGGUNAAN PRODUK TEKNOLOGI. (B) MENGKAJI APAKAH ADA HUKUM-HUKUM SAINS YANG MENDASARINYA SERTA MEMIKIRKAN SEBAB-SEBAB TERJADINYA DAMPAK NEGATIF DAN POSITIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT ATAS PENGGUNAAN PRODUK TERSEBUT. (C) MENEMUKAN HUKUM-HUKUM SAINS YANG MENDASARI PRODUK TEKNOLOGI TERSEBUT SERTA MENEMUKAN PENYEBAB ADANYA DAMPAK POSITIF ATAU NEGATIF TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT. (D) MEMPERBAIKI DAN MENYEMPURNAKAN PRODUK TEKNOLOGI TERSEBUT, MENERAPKANNYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT, SERTA MENELITI DAMPAK POSITIF ATAU NEGATIF PENERAPAN PRODUK TEKNOLOGI YANG SUDAH DISEMPURNAKAN TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT. (E) MENGUSULKAN DIGUNAKANNYA PRODUK TEKNOLOGI BARU YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN DITERIMA MASYARAKAT SECARA NORMATIF. d. TIPE KEEMPAT: (A) MENGKAJI HARAPAN MASYARAKAT. (B) MENGKAJI APAKAH ADA HUKUM-HUKUM SAINS YANG DAPAT DITERAPKAN DALAM SUATU PRODUK TEKNOLOGI YANG DAPAT MEMENUHI HARAPAN MASYARAKAT SERTA MENGKAJI DAMPAK PENGGUNAAN PRODUK TEKNOLOGI TERSEBUT DALAM MASYARAKAT DAN LINGKUNGANNYA. (C) MENEMUKAN HUKUM-HUKUM SAINS YANG MENDASARI SUATU PRODUK TEKNOLOGI YANG SESUAI DENGAN HARAPAN MASYARAKAT SERTA KAIDAH-KAIDAH DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENEMUKAN NORMA-NORMA YANG ADA DI MASYARAKAT. (D) MENGUSULKAN ALTERNATIF-ALTERNATIF PENGGUNAAN PRODUK TEKNOLOGI YANG SESUAI DENGAN HARAPAN MASYARAKAT DENGAN SEGALA ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN YANG AKAN TIMBUL e. TIPE KELIMA: (A) MENGKAJI BENCANA ALAM. (B) MENGKAJI ALTERNATIFALTERNATIF YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGATASI BENCANA ALAM. (C) MENGKAJI APAKAH ADA KAITAN ANTARA SAINS DAN TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGATASI BENCANA ALAM. (D) MENEMUKAN ADANYA KAITAN ANTARA HUKUM-HUKUM SAINS DENGAN TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGATASI BENCANA ALAM, SERTA MERANCANG DAN MENERAPKAN TEKNOLOGI BARU UNTUK MENGATASI BENCANA ALAM. (E) MENEMUKAN TEKNOLOGI ALTERNATIF UNTUK MENGATASI BENCANA ALAM SERTA MENEMUKAN MANFAAT SAINS UNTUK MENGATASI BENCANA ALAM. PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN SALINGTEMAS MEMANG AGAK RUMIT. NAMUN KARENA PENTING DAN PERLUNYA MURID MENGETAHUI PENERAPAN SAINS (IPA) DALAM TEKNOLOGI SERTA DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT, PENDEKATAN INI PERLU DILAKSANAKAN DI SEKOLAH. MISALNYA DENGAN TOPIK KAJIAN: a. DAMPAK LINGKUNGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR b. DAMPAK LINGKUNGAN PENGGUNAAN LISTRIK TENAGA BATUBARA c. DAMPAK PENGGUNAAN SEL SURYA SEBAGAI PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKAT d. PENGGUNAAN KINCIR ANGIN SEBAGAI SUMBER ENERGI LISTRIK ALTERNATIF e. DAMPAK PENGGUNAAN BUSWAY TERHADAP MASYARAKAT f. BANJIR DAN PENANGGULANGANNYA g. DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF GEMPA BUMI DALAM MASYARAKAT h. BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF i. CAMPURAN AIR DAN MINYAK BUMI SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

j.

TELEPON TANPA PULSA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI ALTERNATIF

PENDEKATAN SALINGTEMAS DENGAN METODE DISKUSI DAN METODE TUGAS KELIHATANNYA LEBIH MUDAH UNTUK DITERAPKAN DI SEKOLAH. HAL INI DIKEMUKAKAN, KARENA PERSIAPAN PEMBELAJARANNYA AGAK LEBIH MUDAH DILAKUKAN GURU. PENERAPAN PENDEKATAN SALINGTEMAS HARUS HATI-HATI. KARENA TINGKAT PEMIKIRAN MURID BERBEDA-BEDA. PERSEPSI DARI HASIL PENGAMATAN MURID TERHADAP LINGKUNGAN DAN MASYARAKATNYA JUGA BERBEDA-BEDA. SEBAGAI CONTOH, MURID SMP DAN SMA BERKUNJUNG KE BATAN KARTINI DI BABARSARI. SUDAH TENTU HASIL KUNJUNGANNYA BERBEDA-BEDA, KARENA TINGKAT PEMIKIRAN DAN PERSEPSI MURID SMP MEMANG BERBEDA DENGAN MURID-MURID SMA. OLEH SEBAB ITU, PENERAPAN PENDEKATAN SALINGTEMAS DAPAT BERBEDA-BEDA HASILNYA.

5. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED INSTRUCTION)


PENDEKATAN PEMBELJARAN BERBASIS MASALAH DIILUSTRASIKAN DALAM BAGAN 11 BERIKUT. 3. MASALAH YANG AUTENTIK MASALAH NYATA (AUTHENTIC) DAN BERMAKNA DISAJIKAN OLEH GURU DENGAN CARA MENCERITAKAN PENGALAMANNYA ATAU MENDEMONSTRASIKAN SUATU PERCOBAAN, KEMUDIAN GURU MENGGALI PENGALAMAN MURID DAN MENUNTUN MURID UNTUK MEMBUAT MASALAH, SERTA MEMINTA SARAN KEPADA MURID TENTANG PEMECAHAN MASALAH. DENGAN DEMIKIAN MURID DAPAT DENGAN MUDAH MELAKUKAN PENYELIDIKAN DAN MURID DAPAT MENEMUKAN SENDIRI KONSEP ATAU HUKUM YANG DIPELAJARINYA / DIPERMASALAHKAN (INKUAIRI)

PENYELIDIKAN, PERCOBAAN, KERJASAMA, BELAJAR, DAN 4. BERDIALO

GURU MEMFASILITASI, MEMBIMBING, MEMOTIVASI, MENGARAHKAN, DAN MENGORGANISASIKAN KEGIATAN MURID DENGAN HARAPAN AGAR MURID DAPAT DENGAN MUDAH MENGADAKAN PENYELIDIKAN PERCOBAAN BELAJAR
1. GURU MELAKUKAN DISKUSI KELAS AGAR MURID DAPAT BERDIALOG (MENGOMUNIKASIKAN HASIL PERCOBAANNYA) DAN DAPAT MENEMUKAN KONSEP SESUAI DENGAN TUJUAN PEMBELAJARAN YANG TELAH DITETAPKAN.

MENEMUKAN KONSEP, SERTA MENGHASILKAN KARYA DAN PERAGAAN

2. GURU DALAM SETIAP KEGIATAN MENILAI

CATATAN.
1. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH [PADA HAKIKATNYA HAMPIR MIRIP DENGAN STARTER EXPERIMENT APPROACH (SEA)] YANG SANGAT EFEKTIF UNTUK: a. MENGAJARKAN PROSES BERFIKIR TINGKAT TINGGI b. MEMBANTU MURID MEMPROSES INFORMASI YANG TELAH DIMILIKI c. MEMBANTU MURID MEMBANGUN SENDIRI PENGETAHUANNYA TENTANG ALAM 2. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERDASARKAN PADA: a. TEORI PEMODELAN TINGKAH LAKU, TEORI PEMROSESAN INFORMASI, DAN PSIKOLOGI KOGNITIF

b. PANDANGAN PARA KONSTRUKTIVIS MENGENAI BELAJAR ATAU DISEBUT TEORI PEMBELAJARAN, MISALNYA: TEORI PIAGET, VYGOTSKY, DAN TEORI BRUNER. 3. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SESUAI DENGAN PRINSIP-PRINSIP CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL), YAITU: INKUAIRI, KONSTRUKTIVISME, DAN MENEKANKAN PADA CARA BERFIKIR TINGKAT TINGGI (ANALISIS, SINTESIS, DAN EVALUASI). 4. TEORI PIAGET. PIAGET MENYATAKAN ADA EMPAT TINGKAT PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK, YAITU: a. SENSORI MOTOR USIA (0 2) TAHUN b. PRA OPERASIONAL USIA (2 7) TAHUN c. OPERASIONAL KONKRET USIA (7 11) TAHUN d. OPERASIONAL FORMAL USIA 11 TAHUN SAMPAI ANAK DEWASA. 5. TEORI VYGOTSKY.
VYGOTSKY BERKEYAKINAN BAHWA PEMBELAJARAN TERJADI JIKA ANAK BELAJAR MENANGANI TUGASTUGAS YANG BELUM DIPELAJARI NAMUN TUGAS-TUGAS ITU MASIH DALAM JANGKAUAN KEMAMPUANNYA SERTA FUNGSI MENTAL PADA UMUMNYA MUNCUL DALAM KERJASAMA ANTAR INDIVIDU. OLEH SEBAB ITU, (1) PEMBELAJARAN KOOPERATIF PERLU DILAKSANAKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA, SEHINGGA MURID DAPAT BERINTERAKSI DENGAN TEMAN-TEMANNYA. (2) MURID SECARA BERTAHAP SEHARUSNYA MAMPU BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP TUGAS-TUGASNYA ATAU PEMBELAJARANNYA.

6. TEORI BRUNER. BELAJAR MELALUI PROSES MENEMUKAN KONSEP MERUPAKAN TEORI BELAJAR YANG DIKEMBANGKAN OLEH BRUNER. MENEMUKAN KONSEP DENGAN DIRINYA SENDIRI MELALUI AKTIVITAS BELAJAR MERUPAKAN PENGALAMAN BELAJAR YANG MENYENANGKAN MURID. OLEH SEBAB ITU, PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN DISKAVERI / INKUAIRI PERLU DILAKSANAKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA. 7. SINTAKS PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH SEPERTI DITUNJUKKAN TABEL BERIKUT.
FASE FASE 1: PENYAJIAN DAN PERUMUSAN MASALAH FASE 2: ORGANISASI TUGAS-TUGAS DAN KEGIATAN BELAJAR FASE 3: PENYELIDIKAN MAUPUN PERCOBAAN SECARA KELOMPOK ATAU INDIVIDU TINGKAH LAKU GURU MENJELASKAN TUJUAN PEMBELAJAEAN, ALAT DAN BAHAN YANG DIPERLUKAN, SERTA MEMOTIVASI MURID AGAR AKTIF DALAM PEMECAHAN MASALAH MEMBANTU MURID MENDEFINISIKAN DAN MENGOR-GANISASIKAN TUGAS-TUGAS ATAU KEGIATAN BELAJAR MURID YANG BERHUBUNGAN DENGAN MASALAH MEMOTIVASI, MEMBIMBING, DAN MENGARAHKAN MURID UNTUK BEKERJA SESUAI LANGKAH-LANGKAH YANG SUDAH DITENTUKAN AGAR MURID MEMPEROLEH DATA / INFORMASI YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH. JANGAN LUPA, GURU HARUS MENGEVALUASI RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK MURID. MEMBANTU MURID DALAM MERENCANAKAN DAN MENYIAPKAN KARYA YANG SESUAI DENGAN MASALAH, MISALNYA: LAPORAN, VIDEO, DAN MODEL. MEMBANTU MURID DALAM BERBAGI TUGAS YANG AKAN DIKERJAKAN MEMBANTU MURID UNTUK MELAKUKAN REFLEKSI ATAU EVALUASI TERHADAP PENYELIDIKAN ATAU PERCOBAAN YANG MEREKA LAKSANAKAN

FASE 4: MENGEMBANGKAN MENYAJIKAN HASIL KARYA

DAN

FASE 5: ANALISIS DAN EVALUASI PROSES PEMECAHAN MASALAH

6. PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN KOOPERATIF


CIRI-CIRI PENDEKATAN KOOPERATIF ADALAH: a. MURID BEKERJA DALAM KELOMPOK SECARA KOOPERATIF UNTUK MENUNTASKAN MATERI BELAJARNYA, SEHINGGA SEMUA ANGGOTA KELOMPOK FAHAM BETUL DENGAN MATERI PELAJARAN YANG DIPELAJARINYA b. KELOMPOK TERDIRI DARI MURID YANG MEMPUNYAI KEMAMPUAN TINGGI, SEDANG, DAN KURANG ATAU TERDIRI DARI MURID YANG MEMPUNYAI KETERAMPILAN TINGGI, SEDANG, DAN KURANG c. ANGGOTA KELOMPOK BERASAL DARI SUKU BANGSA, BUDAYA, DAN JENIS KELAMIN YANG BERBEDA-BEDA d. PENGHARGAAN LEBIH CONDONG PADA PENGHARGAAN KELOMPOK DARI PADA PENGHARGAAN INDIVIDUAL

e. MURID MENERIMA DAN MENYADARI AKAN ADANYA KERAGAMAN DAN MAMPU MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN-KETERAMPILAN SOSIAL f. DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KETERAMPILAN KOOPERATIF (MENGELABORASI, MEMERIKSA, MENANYAKAN, MENETAPKAN TUJUAN, DAN BERKOMPROMI) YANG BERFUNGSI UNTUK MELANCARKAN HUBUNGAN KERJA MELALUI KOMUNIKASI ANTAR ANGGOTA KELOMPOK SERTA HUBUNGAN TUGAS MELALUI PEMBAGIAN TUGAS DALAM KELOMPOK. ADA EMPAT MACAM TIPE PENDEKATAN KOOPERATIF YANG SERING DIGUNAKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA, YAITU: PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION), TIPE JIGSAW, TIPE KELOMPOK PENYELIDIKAN, DAN TIPE STRUKTURAL. MASING-MASING TIPE BERBEDA-BEDA DALAM KEGIATANNYA. OLEH SEBAB ITU, GURU SEBAIKNYA TAHU PERSIS LANGKAH-LANGKAH MASING-MASING TIPE. LANGKAH-LANGKAH PENDEKATAN KOOPERATIF ADA ENAM FASE YANG DISAJIKAN SEPERTI TABEL BERIKUT. FASE 1 TUGAS GURU MENYAMPAIKAN TUJUAN MEMOTIVASI MURID TINGKAH LAKU GURU MENYAMPAIKAN SK, KD, INDIKATOR, DAN TUJUAN PEMBELAJARAN 2. MEMBERIKAN BIMBINGAN AGAR MURID TERMOTIVASI UNTUK MEMPELAJARI MATERI PELAJARAN ATAU MENEMUKAN KONSEPKONSEP YANG MEREKA PELAJARI GURU MENYAJIKAN INFORMASI MELALUI DEMONSTRASI, BERCERITA, ATAU MENGGALI PENGALAMAN MURID; DAPAT PULA MELALUI PENYEDIAAN BAHAN BACAAN 1. MENJELASKAN KEPADA MURID BAGAIMANA CARANYA MEMBENTUK KELOMPOK BELAJAR ATAU KELOMPOK PERCOBAAN 2. MEMBANTU SETIAP KELOMPOK BELAJAR (PERCOBAAN) AGAR MAU DAN MAMPU MELAKUKAN TUGAS-TUGASNYA MEMBIMBING ANGGOTA KELOMPOK UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS-TUGASNYA DAN BELAJAR 1. MENGEVALUASI PRESTASI BELAJAR MURID MELALUI TES DAN OBSERVASI KEGIATAN MURID, HASIL KERJA KELOMPOK MELALUI PRESENTASI KELOMPOK, SERTA MENGEVALUASI KETERAMPILAN KOOPERATIF DAN KETERAMPILAN SOSIAL LAINNYA MELALUI PENAMPILAN ANGGOTA KELOMPOK DALAM KERJA KELOMPOK MENCARI CARA-CARA UNTUK MENGHARGAI UPAYA ATAU HASIL BELAJAR TIAP-TIAP ANGGOTA KELOMPOK ATAUPUN KELOMPOK

a. b.

MENYAJIKAN INFORMASI

MENGORGANISASIKAN MURID KE DALAM KELOMPOK-KELOMPOK BELAJAR

MEMBIMBING KELOMPOK BEKERJA DAN BELAJAR EVALUASI

MEMBERIKAN PENGHARGAAN

7. PEMBELAJARAN IPA DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES


PEMBELAJARAN YANG MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES (PKP) MENEKANKAN PADA PROSES ILMIAH, PENGUASAAN KONSEP-KONSEP ILMIAH, PEMBUDAYAAN SIKAP ILMIAH, DAN KOMUNIKASI HASIL YANG DIPEROLEH DARI PROSES ILMIAH. DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 12 BERIKUT.

TIGA PILAR PENDIDIKAN IPA, YAITU: PROSES ILMIAH, PRODUK ILMIAH, DAN SIKAP ILMIAH DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES

DIPERLUKAN KEMAMPUAN: OLAH FIKIR DAN OLAH NALAR (PSIKIS) SERTA KEMAMPUAN OLAH PERBUATAN (FISIK)

MURID DILATIH UNTUK: TERAMPIL DALAM MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN

MURID BELAJAR DG MELAKUKAN: PENGAMATAN, PENGUKURAN DAN

ADA SEPULUH LANGKAH PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN IPA, YAITU: 1. TETAPKAN TUJUAN PEMBELAJARAN 2. TETAPKAN MATERI PELAJARAN 3. TETAPKAN ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN YANG DIGUNAKAN 4. RENCANAKAN PROSEDUR PEMBELAJARAN, YANG MENCAKUP a. MOTIVASI KEPADA MURID b. PRESENTASI (YANG MELIPUTI KEGIATAN DEMONSTRASI DAN MEMBUAT PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG MENGARAH KE KESIMPULAN YANG AKAN DIPEROLEH) 5. BUAT KELOMPOK-KELOMPOK PERCOBAAN 6. BANDINGKAN DAN ABSTRAKSIKAN HASIL YANG DIPEROLEH DARI PERCOBAAN 7. APLIKASIKAN KONSEP YANG DIPEROLEH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI 8. EVALUASI PROSES PEMBELAJARAN (RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK MURID MELALUI OBSERVASI KEGIATAN MURID) DAN HASIL BELAJAR MURID 9. TETAPKAN PEKERJAAN RUMAH APA YANG HARUS DIKERJAKAN MURID 10. KOMUNIKASIKAN HASIL PERCOBAAN MELALUI DISKUSI KELAS DAN LAPORAN PERCOBAAN / KEGIATAN. ADAPUN KETERAMPILAN PROSES DAN SUB KETERAMPILAN PROSES YANG DIMAKSUD DITUNJUKKAN DALAM TABEL BERIKUT.

NO
1

KET PROSES SAINS Mengamati

SUB KETERAMPILAN PROSES SAINS 1. Menggunakan sebanyak mungkin indera 2. Menggunakan fakta-fakta yang relevan 3. Mencari kesamaan dan perbedaan 4. Mengklasifikasikan 1. Mencatat setiap pengamatan secara terpisah 2. Menghubungkan hasil-hasil pengamatan 3. Menemukan suatu pola dalam satu seri pengamatan 4. Menarik kesimpulan Terampil / fasih mengemukakan apa yang mungkin terjadi berdasarkan pada hasil-hasil pengamatan 1. Terampil menggunakan alat dan bahan percobaan 2. Mengetahui mengapa harus demikian dalam menggunakan alat dan bahan percobaan 1. Menerapkan konsep yang telah dipelajari (hasil percobaan) pada situasi baru 2. Menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi 3. Mampu menyusun hipotesis 1. Mampu menentukan alat, bahan, dan sumber bacaan yang akan digunakan

Menafsirkan pengamatan

3 4

Meramalkan Menggunakan dan bahan alat

Menerapkan konsep

Merencanakan kegiatan

Berkomunikasi melalui diskusi kelas dan laporan percobaan

Mengajukan pertanyaan

2. Mampu menentukan ubahan-ubahan yang akan diamati, diukur, dan ditulis 3. Mampu menentukan ubahan tetap dan ubahan berubah 4. Mampu menentukan cara-cara dan langkah kerja 5. Mampu menentukan bagaimana cara mengolah hasilhasil pengamatan untuk mengambil kesimpulan 1. Menyusun dan menyampaikan secara sistematis dan jelas 2. Menjelaskan hasil pengamatan atau percobaan 3. Mendiskusikan hasil percobaan 4. Menggambarkan data dengan grafik dan tabel 5. Mampu membaca grafik dan atau tabel 1. Mampu bertanya apa, bagaimana, dan mengapa demikian 2. Bertanya untuk meminta penjelasan 3. Mengajukan pertanyaan yang berlatar belakang pengajuan hipotesis

CATATAN.
PADA PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES (PKP) DALAM PEMBELAJARAN IPA, GURU HARUS SABAR DALAM MEMBIMBING, MENGARAHKAN, DAN DALAM MENGEVALUASI MURID-MURIDNYA (GUBARDI = GURU SABAR MURIDNYA JADI). PKP AGAK BERBEDA SEDIKIT DENGAN PENDEKATAN DISKAVERI DAN INKUAIRI, YAITU PADA KOMUNIKASI HASIL. JIKA DALAM PKP KOMUNIKASI HASIL DAPAT BERWUJUD DISKUSI KELAS YANG MERUPAKAN PROSES KOMUNIKASI ANTAR MURID, JIKA DALAM PENDEKATAN DISKAVERI DAN INKUAIRI DAPAT BERWUJUD DISKUSI KELAS ATAU LAPORAN EKSPERIMEN.

8. STARTER EXPERIMENT APPROACH (SEA)


LANGKAH-LANGKAH SEA (PENDEKATAN PEMBELAJARAN DENGAN PERCOBAAN SEBAGAI PEMICU KEGIATAN) ADALAH: a. MULAILAH PEMBELAJARAN DENGAN MEMOTIVASI MURID DAN DEMONSTRASI CARA KERJA SUATU ALAT, DEMONSTRASI CARA MELAKUKAN SUATU PERCOBAAN, ATAU DEMONSTRASI CARA KERJA SUATU PENELITIAN. b. AJAKLAH MURID UNTUK AKTIF MENGAMATI DEMONSTRASI YANG DILAKSANAKAN. c. MINTALAH MURID UNTUK MENULISKAN HASIL PENGAMATANNYA DALAM KARTU PENGAMATAN YANG TELAH DISEDIAKAN. d. KUMPULKAN SEMUA KARTU HASIL PENGAMATAN MURID. TEMPELKAN SATU ATAU TIGA KARTU YANG DIHASILKAN MURID YANG MEWAKILI SUATU JENIS PENELITIAN (PERCOBAAN). PILIHLAH SALAH SATU KARTU HASIL PENGAMATAN UNTUK MERUMUSKAN HIPOTESIS (DUGAAN SEMENTARA / KESIMPULAN SEMENTARA). e. MULAILAH KEGIATAN PERCOBAAN UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS YANG ADA, MISALKAN ADA TIGA HIPOTESIS YANG SEJENIS, MAKA ADA TIGA KELOMPOK BESAR MURID. KELOMPOK BESAR INI DAPAT DIBAGI LAGI MENJADI KELOMPOK KECIL YANG BERANGGOTAKAN DUA ATAU TIGA ORANG MURID. DALAM KEGIATAN INI GURU HANYA MENYEDIAKAN ALAT, BAHAN, DAN PERANGKAT PERCOBAAN SERTA MEMBIMBING DAN MENJAWAB PERTANYAAN MURID. f. BIARKANLAH MURID BEKERJA SESUAI DENGAN IRAMA BELAJAR MURID, MENCOBA, MENGAMBIL DATA DAN MEMASUKKAN DATA KE DALAM TABEL HASIL PENGAMATAN DAN PENGUKURAN, MENGANALISIS DATA, SERTA MENARIK KESIMPULAN HASIL PERCOBAAN. JANGAN LUPA, GURU HARUS BERKELILING MENILAI AFEKSI DAN PSIKOMOTORIK MURID DENGAN MENGGUNAKAN LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN MURID SERTA MENJAWAB PERTANYAAN MURID, MEMBIMBING, DAN MEMOTIVASI MURID DENGAN RAMAH DAN SANTUN. g. AJAKLAH MURID MERUMUSKAN KESIMPULAN HASIL PERCOBAAN DAN JANGAN LUPA GURU MENULISKAN KESIMPULAN HASIL PERCOBAAN DI PAPAN TULIS. h. AJAKLAH MURID UNTUK MENERAPKAN KESIMPULAN YANG DIPEROLEH KE DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI MELALUI LATIHAN SOAL ATAU YANG SEJENIS. i. ADAKAN EVALUASI PADA RANAH KOGNITIF MELALUI TES AKHIR PEMBELAJARAN.

j. AJAKLAH MURID UNTUK MENUTUP PEMBELAJARAN DAN MENGEMASI PERANGKAT PERCOBAAN SERTA MENYIMPANNYA DI ALMARI ATAU RAK TEMPAT PERALATAN PERCOBAAN.

C. METODE MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN SAINS (IPA)


METODE MERUPAKAN LANGKAH-LANGKAH PROSEDURAL YANG SPESIFIK DAN SISTEMATIS UNTUK MENCAPAI TUJUAN (OBJECTIVES) TERTENTU. METODE MENGAJAR ADALAH KUMPULAN PRINSIP-PRINSIP YANG TERKOORDINIR (TERENCANA, DILAKUKAN SECARA SADAR, TERATUR, SISTEMIK, DAN SISTEMATIS) UNTUK MELAKSANAKAN PENGAJARAN YANG MEMPUNYAI TUJUAN (OBJECTIVES) TERTENTU.

1. METODE CERAMAH
METODE MERUPAKAN LANGKAH-LANGKAH PROSEDURAL YANG SPESIFIK DAN SISTEMATIS UNTUK MENCAPAI TUJUAN TERTENTU. SEDANGKAN METODE MENGAJAR DIARTIKAN SEBAGAI KUMPULAN PRINSIP-PRINSIP YANG TERKOORDINIR (TERENCANA, DILAKUKAN SECARA SADAR, TERATUR, SISTEMIK, DAN SISTEMATIS) UNTUK MELAKSANAKAN PENGAJARAN YANG MEMPUNYAI TUJUAN (OBJECTIVES) TERTENTU. JADI METODE BERBEDA DENGAN PENDEKATAN DAN STRATEGI. JIKA PENDEKATAN BERSIFAT FILOSOFIS, TEORITIS, DAN AKSIOMATIS SEDANGKAN KALAU METODE SUDAH BERSIFAT PRAKTIS DAN SISTEMATIS. STRATEGI MENGAJAR DIMAKNAI SEBAGAI SEKUMPULAN METODE MENGAJAR. METODE CERAMAH DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 13 BERIKUT.
MEMPERHATIKAN, MENDENGARKAN, MENCATAT, DAN BERTANYA MENGENAI INFORMASI GURU

GURU

MEMBERI INFORMASI TENTANG MATERI PELAJARAN DENGAN MEDIA: PAPAN TULIS, ALAT TULIS, SLIDE, OHP, KOMPUTER, MINIATUR, ATAU GAMBAR TEACHER CENTERED

MURID

GURU AKTIF

MURID PASIF

2. METODE EKSPERIMEN
METODE EKSPERIMEN DAPAT DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 14 BERIKUT.
KEGIATAN RUTIN: PENELITIAN DENGAN TUJUAN SEBAGAI PEDOMAN KEGIATAN EKSPERIMEN DENGAN PERANGKAT PERCOBAAN SIMULASI EKSPERIMEN DENGAN KOMPUTER EKSPERIMEN ANGAN-ANGAN DENGAN KERTAS DAN ALAT TULIS

IPA WAN

MURID

MURID BERLATIH MENJADI IPA-WAN DENGAN PSIKIS, FISIK, KREATIVITAS, DAN KEMANDIRIANNYA UNTUK MENCAPAI TUJUAN PEMBELAJARAN

MURID MELAKUKAN PERCOBAAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT, BAHAN, DAN PERANGKAT PERCOBAAN SERTA LEMBAR KEGIATAN MURID (LKM) UNTUK MENCAPAI TUJUAN (OBJECTIVES)

MURID AKTIF MELAKUKAN KEGIATAN PRAKTIKUM ATAU PERCOBAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN PEMBELAJARAN (STUDENT

CATATAN.
PRAKTIKUM MERUPAKAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN MURID UNTUK BERLATIH MENGGUNAKAN ALAT, BAHAN, DAN PERANGKAT PERCOBAAN GUNA MENCAPAI TUJUAN (OBJECTIVES) TERTENTU. PRAKTIKUM MEMERLUKAN PEDOMAN ATAU PETUNJUK. PEDOMAN PRAKTIKUM SEHARUSNYA BERISI LANGKAH-LANGKAH KERJA YANG KREATIF, PROSES BERFIKIR YANG ANALITIS DAN SISTEMATIS, SERTA KEMANDIRIAN MURID DALAM BERTINDAK DAN BERFIKIR. OLEH SEBAB ITU, PEDOMAN YANG SEPERTI INI DISEBUT LEMBAR KEGIATAN MURID (LKM). LEMBAR KEGIATAN MURID YANG BERISI LANGKAH-LANGKAH KERJA YANG SUDAH PASTI, SEPERTI RESEP MASAKAN, SEHINGGA MURID DIDIDIK MENJADI MESIN (ROBOT), PEDOMANNYA DISEBUT SEBAGAI LEMBAR KERJA MURID (LKM). DISINI KITA MENGGUNAKAN AKRONIM YANG SAMA (LKM) PADA ISTILAH YANG BERBEDA. SELANJUTNYA KITA MENGGUNAKAN AKRONIM LKM (LEMBAR KEGIATAN MURID). METODE EKSPERIMEN MERUPAKAN KEGIATAN BELAJAR DAN MENGAJAR (PEMBELAJARAN) DENGAN MURID AKTIF MELAKUKAN KEGIATAN SECARA INDIVIDUAL ATAU KELOMPOK DALAM MENGGUNAKAN FIKIRAN (NALAR), ALAT, BAHAN, DAN PERANGKAT PERCOBAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN (OBJECTIVES) TERTENTU. METODE EKSPERIMEN MERUPAKAN SITUASI DAN KONDISI PEMBELAJARAN YANG DIBUAT OLEH GURU SEDEMIKIAN RUPA, SEHINGGA MURID AKTIF SECARA INDIVIDUAL ATAU KELOMPOK DALAM MENGGUNAKAN FIKIRAN (NALAR), ALAT, BAHAN, DAN PERANGKAT PERCOBAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN (OBJECTIVES) TERTENTU. SETELAH EKSPERIMEN SEBAIKNYA DILAKSANAKAN DISKUSI KELAS UNTUK MENARIK KESIMPULAN, MENGOMUNIKASIKAN HASIL, MEMAHAMI KONSEP YANG DIPEROLEH, SERTA MENGAPLIKASIKAN HASIL YANG DIPEROLEH DARI PERCOBAAN.

3. METODE DEMONSTRASI
METODE DEMONSTRASI DIILUSTRASIKAN DALAM BAGAN 15 DAN 16 BERIKUT. GURU MENGAMBIL DATA, MENTABULASIKAN DATA, MENGANALISIS DATA, DAN MENGAMBIL KESIMPULAN MURID MEMPERHATIKAN, MENCATAT, DAN BERTANYA

MEMPERLIHATKAN CARA KERJA SUATU ALAT ATAU MELAKUKAN PERCOBAAN

ATAU DAPAT DILAKUKAN SEBAGAI BERIKUT SEBAGIAN MURID MENGAMBIL DATA, MENTABULASIKAN DATA, MENGANALISIS DATA, DAN MENGAMBIL KESIMPULAN MURID LAINNYA MEMPERHATIKAN, MENCATAT, DAN BERTANYA

MEMPERLIHATKAN CARA KERJA SUATU ALAT ATAU MELAKUKAN PERCOBAAN

4. METODE DISKUSI
DALAM PELAKSANAAN METODE DISKUSI SEBAIKNYA GURU MEMBAWA MASALAH ATAU MEMBAWA DATA PERCOBAAN. DAPAT PULA GURU MEMBERIKAN INFORMASI-INFORMASI YANG MENGANDUNG MASALAH, KEMUDIAN GURU MENYURUH MURID UNTUK MENEMUKAN

DAN MERUMUSKAN MASALAH. DENGAN DEMIKIAN MURID AKTIF DALAM MENEMUKAN DAN MERUMUSKAN MASALAH, KEMUDIAN AKTIF PULA DALAM KEGIATAN DISKUSI. METODE DISKUSI DAPAT DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 17 BERIKUT.

MEMBERI MASALAH ATAU MEMBAWA

GU MEMB

MURID MEMBENTUK MODERATOR, PENULIS, DAN MELAKSANAKAN DISKUSI KELAS UNTUK MEMECAHKAN

GURU SEBAGAI: PENGARAH, DINAMISATOR, MOTIVATOR, FASILITATOR, DAN EVALUATOR

5. METODE MEMECAHKAN MASALAH (PROBLEM SOLVING METHOD)


METODE MEMECAHKAN MASALAH DAPAT DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 18 BERIKUT.

G U R U

MENCERITAKAN PENGALAMANNYA ATAU MENDEMONSTRASIKAN SUATU PERCOBAAN


BERTANYA DAN MENGGALI PENGALAMAN MURID

MEMINTA SARANSARAN MURID UNTUK MEMECAHKAN MASALAH


MEMBERI TUGAS UNTUK MERENCANAKAN PERCOBAAN ATAU PENYELIDIKAN

MURID MELAKUKAN PERCOBAAN ATAU PENYELIDIKAN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH DAN MEMPEROLEH

6. METODE TUGAS
DALAM PELAKSANAAN METODE TUGAS, GURU HARUS HATI-HATI DALAM MEMILIH TUGAS YANG DIBERIKAN KEPADA MURID. SEBAIKNYA TUGAS HARUS DAPAT DIKERJAKAN MURID DAN TUGAS TIDAK TERLALU MEMBEBANI MURID. TUGAS JUGA HARUS DISESUAIKAN DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN MENTAL MURID. METODE TUGAS DAPAT DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 19 BERIKUT. MEMBIMBING DAN MENILAI MURID SECARA INDIVIDUAL UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS SAMPAI SELESAI YANG BERUPA KARYA TULIS FIKSI, KARYA ILMIAH, LAPORAN PENELITIAN, ATAU LAPORAN KUNJUNGAN KE PABRIK

G U R U

MEMBERI TUGAS TERTENTU KEPADA MURID DAN MEMBERIKAN KELELUASAAN UNTUK BEKERJA SENDIRI DI SEKOLAH ATAU DI LUAR SEKOLAH

7. METODE MENGAJAR BEREGU (TEAM TEACHING)


METODE MENGAJAR BEREGU DAPAT DIILUSTRASIKAN SEPERTI BAGAN 20 BERIKUT.

GURU KURANG KEAHLIANN YA DI

GURU DAN AHLI TERTENTU MENGAJAR

AHLI MENDEMONSTRASIKAN KEAHLIANNYA SERTA MURID BERTANYA DAN

D. MODEL- MODEL MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN


(TULISAN INI DISARIKAN DARI BUKU STRATEGI BELAJAR MENGAJAR IPA TULISAN UDIN S. WINATAPUTRA, dkk. YANG DITERBITKAN OLEH DEPDIKBUD DIRJEN DIKDASMEN DI JAKARTA TAHUN 1993 / 1994 DARI HALAMAN 34 SAMPAI HALAMAN 98)

1. MODEL-MODEL MENGAJAR SECARA UMUM MODEL DIARTIKAN SEBAGAI BENDA TIRUAN DARI BENDA ASLINYA ATAU SESUNGGUHNYA. SEDANGKAN MODEL BELAJAR MENGAJAR (PEMBELAJARAN) DIARTIKAN SEBAGAI KERANGKA KONSEPTUAL YANG MELUKISKAN PROSEDUR YANG SISTEMATIS DALAM MENGORGANISASIKAN PENGALAMAN BELAJAR UNTUK MENCAPAI TUJUAN BELAJAR YANG TELAH DITETAPKAN SERTA BERFUNGSI SEBAGAI PEDOMAN GURU DALAM MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN AKTIVITAS BELAJAR MENGAJAR. MODEL PEMBELAJARAN DAPAT KATEGORI (KELOMPOK), YAITU: DIKELOMPOKKAN MENJADI EMPAT

(1) KELOMPOK MODEL PENGOLAHAN INFORMASI (THE INFORMATION PROCESSING FAMILY) YANG TERBAGI MENJADI: a. MODEL PENCAPAIAN KONSEP (BRUNER, GOODNOW, DAN AUSTIN 1967) Model pencapaian konsep berawal dari penelitian mengenai proses berfikir. Penelitian dilakukan oleh Bruner, Goodnow, dan Austin. Penelitian didesain untuk membantu murid mempelajari konsep-konsep yang dapat digunakan untuk mengorganisasikan informasi-informasi. Penelitian didesain agar dapat membantu murid untuk mempelajari konsep dengan efektif. Model pencapaian konsep digunakan dalam meningkatkan kemampuan belajar dengan cara yang lebih mudah. Model pencapaian konsep mempunyai tiga fase kegiatan, yaitu: (1) penyajian data dan identifikasi konsep, (2) mengetes pencapaian konsep, dan (3) menganalisis strategi berfikir. b. MODEL BERFIKIR INDUKTIF (INDUCTIVE THINKING, HILDA TABA, 1966) Model ini dirancang dan dikembangkan oleh Hilda Taba pada tahun 1966 dengan tujuan untuk mendorong murid menemukan dan mengorganisasikan informasi, menciptakan nama suatu konsep, serta menjajagi berbagai cara yang dapat menjadikan murid lebih terampil dalam menyingkap dan mengorganisasikan informasi. Model ini dirancang dan dikembangkan untuk melatih murid dalam melakukan pengetesan hipotesis yang melukiskan hubungan antar variabel (ubahan).

c. MODEL LATIHAN PENELITIAN (INQUIRY TRAINING) Model ini dirancang dan dikembangkan oleh Richard Suchman pada tahun 1962. Model ini banyak digunakan untuk melibatkan murid dalam proses penalaran mengenai hubungan sebab akibat, sehingga menjadikan murid lebih fasih dan cermat dalam mengajukan pertanyaan, membangun konsep, merumuskan hipotesis, dan mengetes hipotesis. d. MODEL PEMANDU AWAL (ADVANCE ORGANIZERS) Model ini dirancang dan dikembangkan oleh David Ausubel pada tahun 1963. Model ini dimulai dengan penyajian konsep yang digunakan sebagai pemandu untuk memahami konsep berikutnya yang lebih kompleks. Model ini digunakan untuk memberi pengalaman belajar murid untuk memahami materi pembelajaran dengan menggunakan berbagai media pembelajaran, misalnya: dalam membaca buku, jurnal, internet, dan media lainnya. e. MODEL MEMORISASI (MEMORIZATION) Model ini dirancang dan dikembangkan oleh Pressley dan Levin pada tahun 1981 dan diterapkan lebih luas lagi oleh Lucas dan Laroyne pada tahun 1984. Model ini dapat digunakan untuk membimbing agar murid dapat dengan mudah menangkap materi pelajaran dengan menggunakan berbagai sarana pendidikan. Model ini dapat digunakan untuk membelajarkan murid secara kelompok maupun secara individual. Model ini berdasarkan pada proses memorisasi, yaitu: strategi atau proses yang dapat digunakan untuk menghafalkan dan mengasimilasikan suatu informasi. f. MODEL PENGEMBANGAN INTELEK (DEVELOPING INTELECT) Model ini didasarkan pada hasil penelitian mengenai perkembangan kognitif murid yang dilakukan oleh Piaget (1952), Sigel (1960), Gullivan (1967), dan Kohlberg (1976). Tujuan penggunaan model ini antara lain: untuk membantu guru menyesuaikan pembelajaran dengan taraf kematangan kognitif murid dan untuk merancang cara-cara meningkatkan kecepatan perkembangan kognitif murid. g. MODEL PENEMUAN / PENELITIAN ILMIAH (SCIENTIFIC INQUIRY) Model ini dapat digunakan untuk mengajarkan metode ilmiah secara langsung, untuk membudayakan sikap ilmiah secara langsung, dan untuk memahami informasi dasar secara langsung. Model ini juga dapat digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep kedisiplinan yang mendasar dan untuk memahami suatu bidang ilmu tertentu. Model ini memfokuskan pada pelatihan murid untuk menjadi peneliti yang handal. (2). KELOMPOK MODEL PERSONAL (PERSONAL MODEL) Model personal berdasarkan pada pandangan kedirian dari individu. Mengapa demikian ? Karena kenyataan hidup manusia pada akhirnya terletak pada kesadaran individu serta pengertian umum atau hukum pada hakikatnya merupakan hasil kesepakatan individu-individu yang hidup, bekerja, dan membentuk kelompok. Proses pendidikan sengaja diusahakan agar murid dapat memahami diri sendiri dengan baik, agar murid kreatif untuk mencapai kualitas yang lebih baik, serta agar

murid dapat mandiri dan produktif; sehingga murid menjadi sadar akan dirinya dan bertanggung jawab atas tujuan hidupnya. Kelompok model personal terbagi menjadi: a. MODEL PENGAJARAN TANPA ARAHAN (NON DIRECTIVE TEACHING) Model ini bertumpu pada prinsip persahabatan antara guru dan murid, sesuai dengan pendapat Carl Rongers (1983). Guru memfokuskan untuk membantu murid memahami peranan utama dirinya dalam mencapai tujuan hidupnya. Guru berfungsi memberi informasi mengenai kemajuan yang telah dicapai dan membantu murid memecahkan masalah yang mereka hadapi; sehingga murid dapat merencanakan, melaksanakan, melaporkan, dan mengevaluasi suatu penelitian atau pekerjaan yang dihadapi. b. MODEL SINEKTIS (SYNECTICS MODEL) Model ini digunakan untuk mengembangkan kelompok kreatif di lingkungan industri. Namun dalam perjalanannya dapat digunakan untuk mengembangkan kelompok kreatif murid-murid sekolah menengah. Model ini dapat membantu murid untuk membuka pemecahan masalah, kegiatan tulis menulis (jurnalistik), dan perbengkelan. Kegiatan dimulai dengan pembeberan masalah, diskusi pemecahan masalah, bekerja untuk memecahkan masalah, dan diskusi untuk mengambil kesimpulan. Oleh sebab itu, model ini cocok untuk kelompok. c. MODEL LATIHAN KESADARAN (IAWARENESS TRAINING MODEL)

Model ini berisikan serangkaian kegiatan lokakarya yang dapat mendorong murid untuk memperluas hubungan antar individu, citra diri, dan penampilan diri. Dengan kegiatan ini murid diharapkan mempunyai pandangan yang luas dan mandiri. d. MODEL PERTEMUAN KELAS (CLASSROOM MEETING MODEL) Model ini dilaksanakan dengan pertemuan kelas yang dibagi menjadi dua kelompok (minimal). Kelompok pertama menjadi kelompok yang bertanggung jawab atas perilakunya dan kelompok kedua berfungsi sebagai lingkungan sosial kelompok pertama. Mereka (kelompok pertama dan kedua) berdiskusi tentang pertanggungjawaban perilaku kelompok pertama; sehingga diperoleh perbedaan perseorangan, menghargai tugas-tugas bersama, dan menghargai hak-hak orang lain dalam lingkungan sosialnya. Murid mempunyai pengalaman dalam berbagai situasi, pengalaman pemenuhan kebutuhan akan harga diri, dan pemenuhan kebutuhan saling pengertian; ternyata model pertemuan kelas telah memberikan metode langsung untuk mengelola suasana pembelajaran dan metode langsung untuk mengorganisasikan anggota kelas (murid) agar dapat bertanggung jawab atas situasi kelas. Oleh karena itu, model pertemuan kelas sering disebut sebagai model pengelolaan kelas (classroom management model). (3). KELOMPOK MODEL SOSIAL (SOCIAL MODELS)

Gotong royong merupakan salah satu fenomena (gejala) kehidupan masyarakat. Gotong royong atau kerja sama dapat membangkitkan dan menghimpun energi masyarakat secara bersama yang kemudian disebut sinergi. Kelompok model sosial dirancang untuk memanfaatkan fenomena gorong royong atau kerja sama. Sebaiknya kita meneliti kemanfaatan efek dari hadiah yang diberikan atas keberhasilan kerja sama suatu kelompok. Kita sebaiknya meneliti keberhasilan struktur tugas atau tanggung jawab dalam suatu kerja sama kelompok yang diberi hadiah atau rewards. Penelitian yang telah dilaksanakan menghasilkan kesimpulan, bahwa belajar bersama dapat membantu berbagai proses belajar. Sinergi dapat memberikan beberapa keuntungan dalam proses belajar. Kelompok model sosial terbagi menjadi: a. MODEL INVESTIGASI KELOMPOK (GROUP INVESTIGATION MODEL) , JOHN DEWEY, 1917) Berpangkal pada pendapat John Dewey (1917) Herbert Thelen (1960) menyatakan, bahwa pendidikan dalam masyarakat yang demokratis sebaiknya mengajarkan proses demokratis secara langsung. Oleh sebab itu, pendidikan bagi murid-murid sebaiknya diorganisasikan dengan cara melaksanakan penelitian bersama atau dengan cara menemukan (inkuairi) masalah-masalah sosial atau masalah-masalah akademis. Pada hakikatnya model investigasi kelompok dirancang untuk membimbing murid menemukan dan mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai situasi dan kondisi untuk mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan mengetes hipotesis, serta mengambil kesimpulan. b. MODEL BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING MODEL) Model bermain peran dirancang dan dikembangkan oleh Fanie dan Heorfe Shaftel (1984). Model ini digunakan untuk membantu murid mempelajari nilai-nilai sosial dan pencerminannya dalam perilaku. Model ini digunakan pula untuk membantu murid mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu sosial, mengembangkan empati dan simpati terhadap orang lain, mengelola konflik, serta memperbaiki keterampilan sosial. Dalam model bermain peran, sebaiknya murid dibimbing untuk memecahkan berbagai konflik, belajar mengambil peranan orang lain, dan dibimbing untuk mengamati perilaku sosial. c. MODEL PENEMUAN MODEL) YURISPRUDENSI (JURISPRUDENTIAL INQUIRY

Model ini dirancang khusus untuk pembelajaran hukum atau matapelajaran kewarganegaraan. Oleh sebab itu, model ini menggunakan studi kasus dalam proses peradilan dan menerapkannya dalam suasana pembelajaran di kelas atau di sekolah. Murid sengaja dilibatkan dalam masalah-masalah hukum yang menuntut suatu kebijakan putusan. d. MODEL LATIHAN LABORATORIS (LABORATORY TRAINING MODEL)

Pengalaman menyatakan, bahwa keberhasilan individu atau kelompok dalam berbagai bidang, tergantung pada tingkat pengertian sosial, keterampilan, serta kemampuan setiap orang untuk menciptakan suasana penghargaan pada perbedaan individual dan bagaimana tugas-tugas bersama dapat dikoordinasikan. e. MODEL PENEMUAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (SOCIAL SCIENCE INQUIRY MODEL) Model penemuan / penelitian IPS dikembangkan atas kerangka konseptual model penemuan / penelitian ilmiah padfa umumnya. Model penelitian IPS dikembangkan lebih spesifik lagi dengan menggunakan metode-metode keilmuan antropologi, sejarah, geografi, psikologi sosial, dan sosiologi. Model ini dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran, misalnya: tujuan akademis, proses intelektual, menguji dirinya sendiri, perilaku kelompok, dan proses sosial lainnya. Dasar model ini antara lain: proses kesepakatan sosial. (4). KELOMPOK MODEL SISTEM PERILAKU (BEHAVIORAL SYSTEMS MODEL / BEHAVIORAL MODIFICATION MODEL) Dasar teori umum yang digunakan kelompok model sistem perilaku ini antara lain: teori belajar sosial, modifikasi perilaku, sibernetika, serta sistem komunikasi yang mengoreksi dirinya sendiri dan memodifikasi perilaku dalam hubungannya dengan tugas-tugas yang dilaksanakan. Berdasarkan pada teori stimulus respon telah dipelajari bagaimana mengorganisasikan struktur tugas dan umpan balik agar dapat mempermudah hilangnya rasa takut pada murid, bagaimana belajar membaca dan menghitung, bagaimana mengembangkan keterampilan fisik dan sosial, bagaimana menghilangkan rasa cemas dan cara yang santai, serta bagaimana cara mempelajari keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang diperlukan oleh seorang ahli. Oleh sebab itu, kelompok model sistem perilaku memusatkan perhatiannya pada perilaku yang teramati, metode tugas, tugas-tugas yang diberikan untuk mencapai keberhasilan, dan mengkomunikasikan hasil keberhasilan tugas yang dibebankan kepada sesorang atau kelompok. Kelompok model sistem perilaku terbagi menjadi model-model berikut. a. MODEL BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING MODEL) Model belajar tuntas (mastery learning) pada hakikatnya sama dengan model pembelajaran langsung (direct instruction), model berprograma (programmed instruction), dan model pembelajaran berbingkai. Model-model ini mempunyai ciri yang serupa, yaitu: (1) bahan-bahan yang akan dipelajari disusun dalam beberapa unit dari yang paling sederhana ke yang kompleks, (2) bahan-bahan yang disajikan kepada murid diorganisasikan secara individual dengan menggunakan berbagai media pembelajaran, (3) murid belajar secara bertahap menurut kecepatan belajarnya dan selalu diadakan tes hasil belajar, serta (4) murid dapat mengulangi pelajaran yang dinyatakan gagal sampai murid dinyatakan sukses. b. MODEL BELAJAR KONTROL DIRI (LEARNING SELF CONTROL MODEL)

Model belajar kontrol diri berdasar pada asumsi, bahwa perilaku murid merupakan hasil belajar. Dengan kata lain, murid harus diberi kemudahan untuk belajar bagaimana bertanggung jawab atas lingkungan personal dan lingkungan sosialnya, serta memahami dirinya secara utuh. Model ini digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan menghindarkan murid dari keengganan melibatkan diri dalam kesempatan belajar yang telah disediakan. Secara praktis model ini dapat dikombinasikan dengan model lain untuk mengajar bagaimana cara menghadapi tugas akademis dan tugas sosial secara positif. c. MODEL LATIHAN KETERAMPILAN DAN PENGEMBANGAN KONSEP (TRAINING FOR SKILLS AND CONCEPT DEVELOPMENT MODEL) Ada dua pendekatan yang dikembangkan atas dasar teori pemikiran sibernetika mengenai perilaku, yaitu: (1) model teori ke praktek dan (2) model simulasi. Model teori ke praktek memadukan dua hal, yaitu: teori dan praktek melalui penampilan suatu keterampilan oleh guru atau tutor, kegiatan praktek oleh murid, umpan balik oleh guru, tutor, dan murid, serta sampai pada tahap dikuasainya keterampilan oleh murid. Simulasi dirancang dari kehidupan sehari-hari murid, dengan menciptakan situasi belajar yang mirip dengan situasi senyatanya, kemudian murid berlatih menampilkan keterampilannya sesuai dengan keadaan senyatanya, dan akhirnya murid dapat menguasai keterampilan yang menjadi tujuan pembelajaran. Model ini biasa digunakan untuk melatih pilot pesawat terbang, nahkoda kapal, pengemudi panser, dan semua jajarannya. d. MODEL LATIHAN ASERTIF (ASSERTIVE TRAINING MODEL) Model latihan asertif berangkat dari masalah-masalah komunikasi. Tujuan model ini ialah terciptanya komunikasi yang integratif dan jujur. Murid didorong untuk berkomunikasi dengan orang lain mengenai perasaannya dan tujuannya. Manakala murid terpaksa untuk berdalih, murid tetap menjaga perasaan orang lain agar orang lain tidak merasa tersinggung. Ciri umum model latihan asertif adalah: menguraikan tugas-tugas belajar murid ke dalam bagian-bagian yang kecil dengan perilaku yang berurutan. Guru maupun murid berupaya untuk mengendalikan lingkungan belajar dengan titik berat peranan kontrol guru. MODEL MANA YANG SESUAI DENGAN HAKIKAT IPA DAN HAKIKAT PEMBELAJARAN IPA ? PEMILIHAN MODEL MEMANG DISERAHKAN KEPADA GURU SEPENUHNYA. HANYA SAJA GURU HARUS: 1. MENGETAHUI KELAYAKAN MODEL PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN 2. MENGETAHUI TUJUAN MODEL PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN 3. MENGENAL SECARA UTUH KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN 4. MENGENAL KELEMAHAN DAN KEKUATAN SETIAP MODEL PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN

UNTUK MENGETAHUI SECARA UMUM CIRI-CIRI UTAMA DARI KEEMPAT KELOMPOK MODEL PEMBELAJARAN DI ATAS PERHATIKAN TABEL BERIKUT.

NO
1 2 3 4

KELOMPOK MODEL
PENGOLAHAN INFORMASI PERSONAL SOSIAL SISTEM PERILAKU

ORIENTASI POKOK
PROSES KOGNITIF, PEMAHAMAN DUNIA, PEMECAHAN MASALAH, DAN BERFIKIR INDUKTIF KESADARAN INDIVIDU, UNIQUENESS, KEMANDIRIAN, DAN PEMBINAAN KEPRIBADIAN SEMANGAT BERKELOMPOK (SYNERGY), KEBERSAMAAN, INTERAKSI SOSIAL, DAN INDIVIDU SEBAGAI AKTOR SOSIAL SOCIAL LEARNING, KOREKSI DIRI, TERAPI PERILAKU, DAN RESPON TERHADAP TUGAS

2. MODEL MENGAJAR YANG DISARANKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA PADA UMUMNYA MODEL MENGAJAR MEMPUNYAI UNSUR-UNSUR SEBAGAI BERIKUT: a. SINTAKS, YAITU: TAHAP-TAHAP KEGIATAN DARI SUATU MODEL b. SISTEM SOSIAL, YAITU: HUBUNGAN ANTARA GURU, MURID, MEDIA PEMBELAJARAN, MATERI PELAJARAN, TUJUAN PEMBELAJARAN, SERTA LINGKUNGAN SEKOLAH PADA KHUSUSNYA DAN LINGKUNGAN GURUMURID PADA UMUMNYA. c. PRINSIP REAKSI, YAITU: POLA KEGIATAN YANG MENGGAMBARKANBAGAIMANA SEHARUSNYA GURU MELIHAT DAN MEMPERLAKUKAN MURID, TERMASUK BAGAIMANA SEHARUSNYA GURU MEMBERI RESPON KEPADA MURID. PRINSIP REAKSI MEMBERI PETUNJUK KEPADA GURU BAGAIMANA GURU MENGGUNAKAN ATURAN PERMAINAN (KEGIATAN PEMBELAJARAN) YANG BERLAKU PADA SETIAP MODEL. d. SISTEM PENDUKUNG, YAITU: SEMUA SARANA, ALAT, BAHAN, DAN MEDIA PEMBELAJARAN YANG DIPERLUKAN DALAM MELAKSANAKAN SUATU MODEL. e. EFEK PEMBELAJARAN, YAITU: HASIL BELAJAR YANG DICAPAI LANGSUNG DENGAN CARA MENGARAHKAN MURID PADA TUJUAN PEMBELAJARAN YANG TELAH DITETAPKAN. f. EFEK PENGIRING, YAITU: HASIL BELAJAR LAINNYA YANG DIHASILKAN OLEH SUATU PROSES PEMBELAJARAN SEBAGAI AKIBAT TERCIPTANYA SUASANA BELAJAR YANG DIALAMI LANGSUNG OLEH MURID TANPA PENGARAHAN LANGSUNG DARI GURU. MODEL YANG DISARANKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA (SAINS) ANTARA LAIN: a. MODEL LATIHAN PENELITIAN ATAU MODEL LATIHAN PENEMUAN (INKUAIRI) UNTUK MELATIH MURID MENEMUKAN KONSEP, PRINSIP, TEORI, AZAS, ATAU HUKUM-HUKUM ALAM DENGAN DIRINYA SENDIRI, UNTUK MELATIH KETERAMPILAN SAINS ATAU METODE ILMIAH PADA MURID, SERTA UNTUK MEMBUDAYAKAN SIKAP ILMIAH PADA DIRI MURID. b. MODEL PENCAPAIAN KONSEP UNTUK MENGEMBANGKAN PENALARAN INDUKTIF. c. MODEL SINEKTIKS UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIFITAS MURID.

d. MODEL PERTEMUAN KELAS UNTUK MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN DAN PENGARAHAN DIRI, KETERBUKAAN DAN KEUTUHAN, SERTA UNTUK PENCAPAIAN TUJUAN MELALUI EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN. DALAM PENYUSUNAN RPP YANG LENGKAP, APABILA BAPAK / IBU GURU MEMILIH SALAH SATU MODEL TERSEBUT, MAKA JANGAN LUPA MENULISKAN: SINTAKS, SISTEM SOSIAL, PRINSIP REAKSI, SISTEM PENDUKUNG, EFEK PEMBELAJARAN, DAN EFEK PENGIRINGNYA. E. KURIKULUM, SILABUS, DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1. KURIKULUM KURIKULUM MERUPAKAN SEPERANGKAT RENCANA DAN PENGATURAN ISI DAN BAHAN PELAJARAN SERTA CARA YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN. KURIKULUM DISUSUN UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN MEMPERHATIKAN TAHAP PERKEMBANGAN MURID, KESESUAIANNYA DENGAN LINGKUNGAN, KEBUTUHAN MASYARAKAT, SERTA PERKEMBANGAN ILMU, TEKNOLOGI, DAN SENI; SESUAI DENGAN JENIS DAN JENJANG MASING-MASING SATUAN PENDIDIKAN. TUJUAN PENDIDIKAN TERDIRI DARI: TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL, TUJUAN INSTITUSIONAL, TUJUAN KURIKULER, DAN TUJUAN INSTRUKSIONAL. TUJUAN-TUJUAN INI DIJABARKAN KE DALAM: STANDAR KOMPETENSI (SK), KOMPETENSI DASAR (KD), TUJUAN PEMBELAJARAN, DAN INDIKATOR ATAU INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBELAJARAN (IKP). KOMPETENSI MERUPAKAN SEPERANGKAT KEMAMPUAN YANG HARUS DIPELAJARI, DIKUASAI, DAN DITAMPILKAN MURID YANG MENGGAMBARKAN PROFIL (SOSOK) YANG UTUH, TERAMATI, DAN TERUKUR. KOMPETENSI YANG DIMAKSUD ANTARA LAIN: KEMAMPUAN AKADEMIS, KECAKAPAN HIDUP, KEMAMPUAN MORAL, KARAKTER YANG KUAT, KEBIASAAN HIDUP SEHAT, SEMANGAT BEKERJASAMA, DAN APRESIASI ESTETIKA TERHADAP DUNIA SEKITARNYA. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) MERUPAKAN SUATU RENCANA DAN PENGATURAN MENGENAI SEPERANGKAT KEMAMPUAN YANG HARUS DIPELAJARI, DIKUASAI, DAN DITAMPILKAN MURID; SERTA CARA YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN. ADA EMPAT KONSEP DASAR YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM KBK, YAITU: 1. KEMAMPUAN NYATA YANG HARUS DITAMPILKAN MURID 2. KECAKAPAN HIDUP 3. PENGUASAAN SECARA TUNTAS TERHADAP SEPERANGKAT KEMAMPUAN, JIKA DIBERIKAN PEMBELAJARAN YANG BERMUTU DAN WAKTU YANG CUKUP 4. SEKOLAH SEBAGAI INSTITUSI ESENSIAL HARUS BERANI: a. MELAKUKAN PEMBUATAN DAN PENGEMBANGAN SILABUS MATA PELAJARAN

b. MELAKSANAKAN PENERAPAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH c. MENYELENGGARAKAN BROAD BASED EDUCATION, SERTA d. MENYELENGGARAKAN PROGRAM GANDA. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) MERUPAKAN BENTUK OTONOMI YANG BENAR-BENAR HEBAT. KARENA KTSP DIHARAPKAN DISUSUN SENDIRI OLEH SEKOLAH. NAMUN PRAKTEKNYA, NOL BESAR, KARENA SEKOLAH KURANG PERCAYA DIRI PADA KEMAMPUANNYA. KTSP MERUPAKAN KURIKULUM OPERASIONAL YANG DISUSUN OLEH MASING-MASING SATUAN PENDIDIKAN DAN DILAKSANAKAN DI MASINGMASING SATUAN PENDIDIKAN ITU. KTSP TERDIRI DARI: 1. TUJUAN PENDIDIKAN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN 2. STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN 3. KALENDER PENDIDIKAN, SERTA 4. SILABUS. PENGEMBANGAN KTSP MENGACU PADA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN, AGAR TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL TERCAPAI. STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TERDIRI ATAS: 1. STANDAR ISI (SI) 2. STANDAR PROSES 3. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) 4. STANDAR TENAGA KEPENDIDIKAN 5. STANDAR SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN 6. STANDAR PENGELOLAAN (MANAJEMEN) 7. STANDAR PEMBIAYAAN, SERTA 8. STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN (SPP). STANDAR ISI (SI) MENCAKUP: 1. LINGKUP MATERI PADA JENIS DAN JENJANG PENDIDIKAN 2. TINGKAT KOMPETENSI UNTUK MENCAPAI KOMPETENSI LULUSAN PADA JENJANG DAN JENIS PENDIDIKAN 3. KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM, SERTA 4. SK DAN KD SETIAP MATA PELAJARAN PADA SETIAP SEMESTER DARI SETIAP JENIS DAN JENJANG PENDIDIKAN. SETELAH MEMBACA, MEMAHAMI, MENCERMATI, DAN MENGHAYATI KURIKULUM AKAN DIPEROLEH BEBERAPA HAL YANG DIPANDANG PERLU, YAITU: 1. RASIONAL KURIKULUM YANG MEMUAT MENGAPA, APA SEBABNYA, DAN BAGAIMANA KURIKULUM ITU DIUBAH 2. PENGERTIAN YANG MENCAKUP HAKIKAT IPA DAN PEMBELAJARANNYA 3. FUNGSI DAN TUJUAN YANG MEMUAT FUNGSI MATA PELAJARAN IPA DAN TUJUAN PEMBELAJARAN IPA 4. RUANG LINGKUP YANG TERDIRI ATAS BEKERJA ILMIAH SERTA PEMAHAMAN KONSEP DAN PENERAPANNYA 5. STANDAR KOMPETENSI BAHAN KAJIAN YANG MEMUAT KOMPONEN BAHAN KAJIAN IPA, YAITU: a. KERJA ILMIAH YANG TERDIRI ATAS:

(1). PENYELIDIKAN ATAU PENELITIAN (2). BERKOMUNIKASI ILMIAH (3). PENGEMBANGAN KREATIVITAS DAN PEMECAHAN MASALAH (4). SIKAP DAN NILAI ILMIAH b. PEMAHAMAN KONSEP DAN PENERAPANNYA YANG TERDIRI ATAS: (1). MATERI PELAJARAN PADA JENJANG PENDIDIKAN TERTENTU (2). KAITAN DENGAN TEKNOLOGI, LINGKUNGAN, DAN MASYARAKAT 6. STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN IPA 7. RAMBU-RAMBU YANG MEMUAT ANTARA LAIN: a. PEMBERIAN PENGALAMAN BELAJAR SECARA LANGSUNG b. KETERAMPILAN PROSES IPA (MENGAMATI, MENGGOLONGKAN ATAU MENGKELASKAN, MENGUKUR, MENGGUNAKAN ALAT, MENGOMUNIKASIKAN HASIL, MENAFSIRKAN, MEMPREDIKSI, MENGANALISIS, MENSINTESIS, DAN MELAKUKAN PERCOBAAN SECARA TERSTRUKTUR) c. SIKAP ILMIAH (RASA INGIN TAHU, JUJUR, TOLERAN, KETERBUKAAN FIKIRAN DAN KRITIS, SERTA TEKUN DAN TIDAK MUDAH MENYERAH) d. PEMBELAJARAN IPA e. PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA f. SISTEM PENILAIAN YANG MENYANGKUT: (1). JENIS TAGIHAN YANG MELIPUTI: KUIS, PERTANYAAN LISAN, ULANGAN HARIAN, ULANGAN BLOK (UMUM), TUGAS INDIVIDUAL, TUGAS KELOMPOK, RESPONSI (UJIAN PRAKTIKUM), LAPORAN PRAKTIKUM. (2). BENTUK INSTRUMEN YANG MELIPUTI: PILIHAN GANDA, URAIAN OBJEKTIF, URAIAN BEBAS, JAWABAN SINGKAT, MENJODOHKAN, PERFORMANS TEST, SERTA PORTOFOLIO. D. 2. SILABUS SILABUS MERUPAKAN RENCANA PEMBELAJARAN PADA SUATU MATA PELAJARAN YANG MENCAKUP: a. IDENTITAS SEKOLAH b. STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR c. MATERI POKOK DAN URAIAN MATERI PEMBELAJARAN d. KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN BELAJAR e. TUJUAN PEMBELAJARAN DAN INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBELAJARAN f. SISTEM PENILAIAN YANG TERDIRI ATAS: JENIS TAGIHAN, BENTUK INSTRUMEN, DAN CONTOH INSTRUMEN g. ALOKASI WAKTU, SERTA h. SUMBER, BAHAN, DAN ALAT PEMBELAJARAN. SILABUS DAPAT DISUSUN UNTUK SATU SEMESTER, SATU TAHUN, DUA TAHUN, TIGA TAHUN, EMPAT TAHUN, LIMA TAHUN, ATAU ENAM TAHUN; BERGANTUNG PADA JENJANG PENDIDIKAN YANG BERLAKU (UNTUK SD, ENAM TAHUN, UNTUK SMP TIGA TAHUN, DAN UNTUK SMA TIGA TAHUN). DALAM PERMENDIKNAS RI NOMOR 22 TAHUN 2006 SILABUS MEMUAT: a. IDENTITAS MATA PELAJARAN ATAU TEMA PELAJARAN b. SK DAN KD

c. MATERI PEMBELAJARAN d. KEGIATAN PEMBELAJARAN e. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI f. PENILAIAN g. ALOKASI WAKTU, SERTA h. SUMBER BELAJAR. SILABUS DIKEMBANGKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN BERDASARKAN STANDAR ISI (SI), STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL), DAN PANDUAN PENYUSUNAN KTSP. DALAM PELAKSANAANNYA PENGEMBANGAN SILABUS DAPAT DISUSUN OLEH GURU SECARA INDIVIDUAL, GURU SECARA BERKELOMPOK DALAM SATU SEKOLAH, MGMP, PUSAT KEGIATAN GURU (PKG), DAN DINAS DIKNAS TINGKAT KABUPATEN ATAU KOTAMADYA. UNTUK SD DAN SMP PENGEMBANGAN SILABUS MENJADI TANGGUNGJAWAB BERSAMA ANTARA GURU DAN DINAS DIKNAS KABUPATEN ATAU KOTAMADYA. UNTUK SMA/SMK MENJADI TANGGUNG JAWAB GURU DAN DINAS DIKNAS PROVINSI. UNTUK MI/MTs/MA/MAK MENJADI TANGGUNG JAWAB GURU DAN KANWIL DEPAG PROVINSI. 3. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MERUPAKAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN YANG AKTUAL, FAKTUAL, KONSEPTUAL, DAN KONTEKSTUAL YANG BENAR-BENAR HENDAK DILAKSANAKAN DI KELAS, LABORATORIUM, BENGKEL, LAPANGAN, PASAR, MASJID, ATAU DI ALAM LINGKUNGAN SEKOLAH. JADI RPP BENAR-BENAR SUATU RENCANA PEMBELAJARAN YANG DISUSUN GURU DAN DILAKSANAKAN OLEH GURU DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG NOTABENE ADA PROSES EVALUASINYA. RPP UNTUK JAM PERTAMA, BERBEDA DENGAN RPP UNTUK JAM TERAKHIR. RPP UNTUK KELAS I.A BERBEDA DENGAN RPP UNTUK KELAS I.C (MISALNYA). HAL INI DIKARENAKAN ADA PERBEDAAN ESENSIAL ANTARA JAM PERTAMA DAN TERAKHIR, MISALNYA: JAM PERTAMA MURID MASIH FRES, BELUM LELAH, BELUM LAPAR, BELUM TERGESA-GESA PULANG. JIKA JAM TERAKHIR, MURID SUDAH LAPAR, SUDAH LELAH, SUDAH TERGESAGESA PULANG, DAN SUDAH LOYO. OLEH SEBAB ITU, ADA PERBEDAAN PSIKOLOGIS BAGI MURID PADA JAM PERTAMA DAN JAM TERAKHIR; SEHINGGA RPP-NYAPUN BERBEDA. APAKAH ADA RPP BENTUK BAKU ? TIDAK ADA RPP YANG BAKU. KARENA PEMBAKUAN DILAKUKAN OLEH FIHAK-FIHAK TERTENTU SAJA DAN RPP BAKU HANYA BERLAKU PADA SISTEM (FIHAK-FIHAK TERTENTU) YANG MEMBAKUKAN. MENGAPA ? KARENA RPP MENYANGKUT PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI KELAS YANG BERBEDA-BEDA KARAKTER MURIDNYA, BERBEDA-BEDA KEADAAN PSIKOLOGIS MURIDNYA, BERBEDA-BEDA KONDISI KELASNYA, DAN BERBEDA-BEDA WAKTUNYA; MAKA RPP TIDAK ADA YANG BAKU. PENYUSUNAN RPP TIDAK BOLEH ADA CAMPUR TANGAN

POLITIS, KARENA RPP MERUPAKAN HAK PREROGRATIF GURU ATAU OTONOMI GURU DAN DILAKSANAKAN OLEH GURU. PENDAPAT MENGENAI KOMPONEN RPP SANGAT BANYAK RAGAMNYA. DI BAWAH INI SAYA NUKILKAN BEBERAPA PENDAPAT DARI PEMERHATI PENDIDIKAN, TUTOR PELATIHAN, DAN PRAKTISI PENDIDIKAN. PEMERHATI PENDIDIKAN ADALAH: PARA KOLOMNIS PENDIDIKAN, DOSEN KEPENDIDIKAN, DAN PAKAR-PAKAR KEPENDIDIKAN. TUTOR PELATIHAN ADALAH: PELATIH DALAM PELATIHAN YANG DISELENGGARAKAN OLEH PEMERINTAH ATAU LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT. SEDANGKAN YANG DIMAKSUD DENGAN PRAKTISI PENDIDIKAN ADALAH: PARA GURU SEKOLAH (GURU SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, ATAU GURU SMK). PENDAPAT MEREKA SEPERTI ILUSTRASI DALAM TABEL BERIKUT:

PEMERHATI PENDIDIKAN
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. SATUAN PENDIDIKAN MATA PELAJARAN KELAS SEMESTER STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR TUJUAN PEMBELAJARAN MATERI POKOK SUMBER, ALAT, DAN BAHAN INDIKATOR PENGALAMAN BELAJAR METODE MENGAJAR SISTEM PENILAIAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

TUTOR PELATIHAN

PRAKTISI PENDIDIKAN

SATUAN PENDIDIKAN MATA PELAJARAN KELAS SEMESTER POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM 8. TUJUAN PEMBEL KHUSUS 9. MODEL PENGAJARAN 10.SUMBER PEMBELAJARAN 11.ALAT DAN BAHAN

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

12. 13.

14. 15.

NAMA SEKOLAH KELAS SEMESTER MATA PELAJARAN MATERI POKOK ALOKASI WAKTU STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBELAJARAN MATERI POKOK PEMBELAJARA STRATEGI PEMBELAJARAN YANG MEMUAT: INDIKATOR PEMBELAJARAN, PROSES PEMBELAJARAN, DAN WAKTU MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PENILAIAN YANG MEMUAT: JENIS TAGIHAN, BENTUK INSTRUMEN, DAN CONTOH INSTRUMEN PENILAIAN NAMA PEMBUAT KEPALA SEKOLAH

DALAM RPP ADA STANDAR KOMPETENSI (SK), KOMPETENSI DASAR (KD), TUJUAN PEMBELAJARAN, DAN INDIKATOR. SK DAN KD ADA DALAM KURIKULUM, BAIK KBK MAUPUN KTSP. INDIKATOR HANYA ADA DALAM KBK, TIDAK ADA DALAM KTSP; ANDAIKAN ADA ITU DIPINJAM DARI KBK. INDIKATOR BUKAN TUJUAN PEMBELAJARAN, TETAPI CIRI-CIRI MURID YANG TELAH MENCAPAI SECARA TUNTAS TUJUAN PEMBELAJARAN YANG TELAH DITENTUKAN. SEDANGKAN TUJUAN PEMBELAJARAN HARUS TERAMATI DAN TERUKUR; SEHINGGA SANGAT OPERASIONAL DAN DAPAT DIEVALUASI. OLEH SEBAB ITU, SUSUNAN LOGISNYA ADALAH: SK, KD, TUJUAN PEMBELAJARAN, BARU INDIKATOR. SEBAGAI CONTOH. DALAM KBK MAUPUN KTSP ADA PEMAHAMAN KONSEP MENGENAI ENERGI DAN PERUBAHANNYA. KEMUDIAN MATERI POKOKNYA ADALAH: HUKUM OHM. SK-NYA ADALAH: MENERAPKAN KONSEP KELISTRIKAN DAN KEMAGNETAN UNTUK MEMAHAMI KETERKAITANNYA DENGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SEHINGGA

MENYADARI MAHA TINGGINYA ILMU ALLAH SWT. SEDANGKAN KD-NYA ADALAH: MENGANALISIS PERCOBAAN LISTRIK DINAMIS DALAM SUATU RANGKAIAN. DALAM KTSP TIDAK ADA INDIKATORNYA. JIKA LOGIKA KITA MENENTUKAN TUJUAN PEMBELAJARAN LEBIH DULU, MAKA TUJUAN PEMBELAJARANNYA ADA TIGA RANAH, YAITU: RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK YANG DISUSUN SEBAGAI BERIKUT. TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM RANAH KOGNITIF. MURID DAPAT: a. MENULISKAN KEMBALI HUKUM OHM DENGAN BENAR b. MENGHITUNG HARGA HAMBATAN LISTRIK DALAM SUATU RANGKAIAN TUNGGAL JIKA DIKETAHUI BEDA POTENSIAL YANG TERPASANG PADA HAMBATAN DAN KUAT ARUS LISTRIK YANG MENGALIR PADA HAMBATAN TERSEBUT c. MENGHITUNG HARGA HAMBATAN SEBUAH MAGIG JAR, JIKA DIKETAHUI BEDA POTENSIAL YANG TERPASANG DAN KUAT ARUS YANG MENGALIR PADANYA TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM RANAH AFEKTIF. MURID DAPAT: a. JUJUR (BOLEH TELITI, HATI-HATI, DAN CERMAT) DALAM MENGAMBIL DATA PERCOBAAN b. KREATIF DALAM MENGUBAH-UBAH BEDA POTENSIAL YANG TERPASANG PADA SEBUAH HAMBATAN DENGAN MENGUBAH-UBAH BATERE ATAU MENGUBAH TEGANGAN POWER SUPPLY YANG DIGUNAKAN c. KREATIF DALAM MENGGUNAKAN BEBERAPA HAMBATAN YANG HARGANYA BERBEDA-BEDA DALAM RANGKAIAN SERI, PARALEL, ATAU CAMPURAN YANG DIBERI BEDA POTENSIAL YANG BERBEDA-BEDA TUJUAN PEMBELAJARAN DALAM RANAH PSIKOMOTORIK. MURID DAPAT: a. TERAMPIL DALAM MENGAMBIL DATA YANG BERKAITAN DENGAN BEDA POTENSIAL YANG TERPASANG PADA HAMBATAN DAN KUAT ARUS LISTRIK YANG MENGALIR PADA SUATU HAMBATAN b. TERAMPIL DALAM MEMBUAT TABEL DATA HASIL PENGAMATAN DAN PENGUKURAN c. TERAMPIL DALAM MENGGUNAKAN VOLTMETER DC, AMPERMETER DC, DAN OHMMETER d. TERAMPIL MELAKUKAN PERCOBAAN HUKUM OHM APABILA DISEDIAKAN BEBERAPA HAMBATAN, BEBERAPA BATERE, VOLTMETER DC, AMPERMETER DC, DAN OHMMETER INDIKATORNYA APA ? INDIKATOR BUKAN TUJUAN, BAIK TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU / TIU) MAUPUN TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK / TIK). JADI INDIKATORNYA HARUS KITA BUAT SENDIRI, YAITU: MURID DAPAT MELAKUKAN PERCOBAAN HUKUM OHM, SEHINGGA DAPAT MENEMUKAN HUBUNGAN R = V / I DENGAN BENAR SERTA DAPAT

MENERAPKANNYA TEKNOLOGI.

DALAM

KEHIDUPAN

SEHARI-HARI

DAN

DALAM

INDIKATOR INI TIDAK BERBEDA JAUH DENGAN INDIKATOR YANG ADA DALAM KBK, YAITU: MENYELIDIKI HUBUNGAN KUAT ARUS LISTRIK DAN BEDA POTENSIAL DALAM SUATU RANGKAIAN. DALAM INDIKATOR INI ADA KATA MENYELIDIKI YANG BERMAKNA MENELITI ATAU MELAKUKAN EKSPERIMEN, SEHINGGA DIPEROLEH PRODUK ILMIAH DAN SIKAP ILMIAH. NAMUN DALAM INDIKATOR INI BELUM ADA UNSUR PENERAPANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN DALAM TEKNOLOGI. DALAM PERMENDIKNAS NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DISEBUTKAN BAHWA a. RPP DIJABARKAN DARI SILABUS UNTUK MENGARAHKAN KEGIATAN BELAJAR MURID DALAM UPAYA MENCAPAI KD b. SETIAP GURU BERKEWAJIBAN MENYUSUN RPP SECARA LENGKAP DAN SISTEMATIS AGAR PEMBELAJARAN BERLANGSUNG SECARA INTERAKTIF, INSPIRATIF, MENYENANGKAN, MENANTANG, DAN MEMOTIVASI MURID UNTUK BERPARTISIPASI AKTIF, SERTA MEMBERIKAN RUANG YANG CUKUP BAGI PRAKARSA, KRETIVITAS, DAN KEMANDIRIAN SESUAI DENGAN BAKAT, MINAT, DAN PERKEMBANGAN FISIK SERTA PSIKOLOGI MURID. c. RPP DISUSUN UNTUK SETIAP KD YANG DAPAT DILAKSANAKAN DALAM SATU KALI PERTEMUAN ATAU LEBIH. d. GURU MERANCANG PENGGALAN RPP UNTUK SETIAP PERTEMUAN YANG DISESUAIAN DENGAN PENJADWALAN DI SEKOLAH. 4. KOMPONEN RPP YANG DIGUNAKAN DALAM DIKLAT DALAM PERMENDIKNAS NOMOR 22 TAHUN 2006 DITEGASKAN BAHWA KOMPONEN RPP ADALAH: a. IDENTITAS MATA PELAJARAN YANG MELIPUTI: SATUAN PENDIDIKAN, KELAS, SEMESTER, PROGRAM/PROGRAM KEAHLIAN, MATA PELAJARAN ATAU TEMA PELAJARAN, DAN JUMLAH PERTEMUAN b. STANDAR KOMPETENSI (SK) c. KOMPETENSI DASAR (KD) d. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI, YAITU: PERILAKU YANG DAPAT DIUKUR DAN ATAU DIOBSERVASI UNTUK MENUNJUKKAN KETERCAPAIAN KD TERTENTU YANG MENJADI ACUAN PENILAIAN MATA PELAJARAN. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI DIRUMUSKAN DENGAN MENGGUNAKAN KATA KERJA OPERASIONAL YANG DAPAT DIAMATI DAN DIUKUR YANG MENCAKUP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KETERAMPILAN. e. TUJUAN PEMBELAJARAN YANG MENGGAMBARKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR YANG DIHARAPKAN DICAPAI OLEH MURID SESUAI DENGAN KD f. MATERI AJAR YANG MEMUAT FAKTA, KONSEP, PRINSIP, DAN PROSEDUR YANG RELEVAN SERTA DITULIS DALAM BENTUK BUTIR-BUTIR SESUAI DENGAN RUMUSAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI g. ALOKASI WAKTU YANG DITENTUKAN SESUAI DENGAN KEPERLUAN UNTUK PENCAPAIAN KD DAN BEBAN BELAJAR

h. METODE PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN OLEH GURU UNTUK MEWUJUDKAN SUASANA BELAJAR DAN PROSES PEMBELAJARAN AGAR MURID MENCAPAI KD DAN INDIKATOR YANG TELAH DITETAPKAN. PEMILIHAN METODE PEMBELAJARAN DISESUAIKAN DENGAN SITUASI DAN KONDISI MURID SERTA KARAKTERISTIK DARI SETIAP INDIKATOR DAN KOMPETENSI YANG HENDAK DICAPAI PADA SETIAP MATA PELAJARAN. PENDEKATAN TEMATIK DIGUNAKAN UNTUK MURID KELAS 1 SAMPAI KELAS 3 SD/MI i. KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG TERDIRI DARI: (1) PENDAHULUAN YANG MERUPAKAN KEGIATAN AWAL DALAM SUATU PERTEMUAN PEMBELAJARAN YANG DITUJUKAN UNTUK MEMBANGKITKAN MOTIVASI DAN MEMFOKUSKAN PERHATIAN MURID UNTUK BERPARTISIPASI AKTIF DALAM PROSES PEMBELAJARAN (2) KEGIATAN INTI YANG MERUPAKAN PROSES PEMBELAJARAN UNTUK MENCAPAI KD. KEGIATAN PEMBELAJARAN DILAKUKAN SECARA INTERAKTIF, INSPIRATIF, MENYENANGKAN, MENANTANG, MEMOTIVASI MURID UNTUK BERPARTISIPASI AKTIF, SERTA MEMBERIKAN RUANG YANG CUKUP BAGI PRAKARSA, KREATIVITAS, DAN KEMANDIRIAN SESUAI DENGAN BAKAT, MINAT, DAN PERKEMBANGAN FISIK SERTA PSIKOLOGIS MURID. KEGIATAN INI DILAKUKAN SECARA SISTEMATIS DAN SISTEMIK, MELALUI PROSES EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI. (3) PENUTUP MERUPAKAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN UNTUK MENGAKHIRI AKTIVITAS PEMBELAJARAN YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM BENTUK RANGKUMAN ATAU KESIMPULAN, PENILAIAN, REFLEKSI, UMPAN BALIK, DAN ATAU TINDAK LANJUT j. PENILAIAN HASIL AKHIR. DALAM KEGIATAN PENILAIAN HASIL AKHIR PERLU DITULIS DAN DICERMATI PROSEDUR DAN INSTRUMEN PENILAIAN PROSES DAN HASILBELAJAR YANG DISESUAIKAN DENGAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI DAN MENGACU PADA STANDAR PENILAIAN k. SUMBER BELAJAR. PENENTUAN SUMBER BELAJAR DIDASARKAN PADA SK, KD, INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI, MATERI AJAR, DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN. DALAM PERMENDIKNAS NOMOR 22 TAHUN 2006 DITEGASKAN BAHWA PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPP ADA ENAM, YAITU: a. MEMPERHATIKAN PERBEDAAN INDIVIDU MURID b. MENDORONG PARTISIPASI AKTIF MURID c. MENGEMBANGKAN BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS d. MEMBERIKAN UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT (PENGUASAAN, PENGAYAAN, DAN REMIDI) e. KETERKAITAN DAN KETERPADUAN ANTARA SK, KD, INDIKATOR, MATERI AJAR, KEGIATAN PEMBELAJARAN, PENILAIAN, DAN SUMBER BELAJAR DALAM SATU KEUTUHAN PENGALAMAN BELAJAR) f. MENERAPKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI. KOMPONEN RPP SANGAT BERVARIASI. DALAM DIKLAT INI RPP HARUS DITULIS LENGKAP, DENGAN HARAPAN PESERTA DAPAT DIKETAHUI KEMAMPUAN SENYATANYA DALAM MENYUSUN RPP; MISALNYA: DALAM MENYUSUN MATERI PEMBELAJARAN, LEMBAR KEGIATAN MURID (LKM /

LKS), KISI-KISI EVALUASI, SOAL / TES, LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN MURID DALAM RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK, SERTA KRITERIANYA. DENGAN KECEPATAN DAN KETEPATAN WAKTU YANG DIGUNAKAN BAPAK / IBU, DAPAT DIKETAHUI PULA APAKAH BAPAK / IBU BIASA MENULIS RPP YANG LENGKAP ATAU TIDAK. JUGA DAPAT DIKETAHUI PEMBELAJARAN DENGAN METODE APA YANG BIASA BAPAK / IBU GURU GUNAKAN DI SEKOLAH. APAKAH METODE CERAMAH ATAU METODE LAINNYA. APAKAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN INKUAIRI ATAU PENDEKATAN LAINNYA. BAPAK/IBU GURU MAMPU DIHARAPKAN DAPAT MENYUSUN RPP DENGAN MODEL PEMBELAJARAN YANG TEPAT YANG BERISI: 1. SINTAKS, 2. SISTEM SOSIAL, 3. PRINSIP REAKSI, 4. SISTEM PENDUKUNG, 5. EFEK PEMBELAJARAN, DAN 6. EFEK PENGIRINGNYA. MENYUSUN RPP DENGAN INSTRUMEN PENILAIAN YANG LENGKAP DAN DILENGKAPI DENGAN KRITERIA PENILAIANNYA; SERTA BAPAK/IBU GURU MELAKSANAKAN DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH; MAKA BAPAK/IBU GURU DAPAT DIKATEGORIKAN PROFESIONAL. INILAH YANG INGIN DICAPAI DALAM DIKLAT SERTIFIKASI GURU. JADI GURU DAPAT MERUBAH BUDAYA MENGAJARNYA, TIDAK CERAMAH MELULU, kembali ke LAPTOP, demikian kata Tukul. MENURUT PENULIS KOMPONEN RPP TERDIRI ATAS: A. IDENTITAS YANG MEMUAT: 1. SATUAN PENDIDIKAN 2. MATA PELAJARAN 3. KELAS 4. SEMESTER 5. TAHUN PELAJARAN 6. TOPIK / TEMA / POKOK BAHASAN 7. ALOKASI WAKTU, DAN 8. PENULIS RPP B. STANDAR KOMPETENSI (DIAMBIL DARI KTSP) C. KOMPETENSI DASAR (DIAMBIL DARI KTSP) D. TUJUAN PEMBELAJARAN (DIBUAT SENDIRI) 1. RANAH KOGNITIF (CIPTA / AKLIYAH) 2. RANAH AFEKTIF (RASA / IMANIYAH) 3. RANAH PSIKOMOTORIK (KARSA / AMALIYAH) E. INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBELAJARAN / INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI (DIBUAT SENDIRI) F. MODEL PEMBELAJARAN (PILIH MODEL MANA YANG SESUAI DENGAN TUJUAN PEMBELAJARAN (APA YANG HARUS DIKEMBANGKAN DALAM DIRI MURID), EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN, INDIKATOR, SK, KD, DAN MATERI PEMBELAJARAN) G. PENDEKATAN DAN METODE MENGAJAR

1. PENDEKATAN MENGAJAR (PILIH YANG SESUAI DENGAN PEMBELAJARAN YANG AKAN DILAKSANAKAN) 2. METODE MENGAJAR (PILIH YANG SESUAI DENGAN PEMBELAJARAN YANG AKAN DILAKSANAKAN) H. PENGALAMAN BELAJAR MURID (PILIH YANG SESUAI DENGAN KEGIATAN MURID YANG AKAN DILAKUKAN) I. SUMBER BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN 1. SUMBER BELAJAR (PILIH YANG SESUAI DENGAN PEMBELAJARAN YANG AKAN DILAKSANAKAN) 2. MEDIA PEMBELAJARAN / ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN (PILIH YANG SESUAI DENGAN PEMBELAJARAN YANG AKAN DILAKSANAKAN) J. MATERI PEMBELAJARAN ATAU KAJIAN DARI BUKU REFERENSI DITULIS LENGKAP, DENGAN TUJUAN JIKA ADA SALAH KONSEPSI ATAU SALAH PERSEPSI BIAR MUDAH UNTUK MEMBINA. K. LEMBAR KEGIATAN MURID (DITULIS LENGKAP, DILAMPIRKAN) KEGIATAN MURID HARUS MEMBERI PELUANG KEPADA MURID UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIVITAS DAN KEMANDIRIANNYA. (DITULIS LENGKAP). L. SKENARIO (STRATEGI) PEMBELAJARAN YANG MEMUAT: INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBELAJARAN, PROSES PEMBELAJARAN (KEGIATAN GURU DAN KEGIATAN MURID), SERTA ALOKASI WAKTU (DITULIS LENGKAP) M. INSTRUMEN EVALUASI INSTRUMEN EVALUASI YANG DIGUNAKAN DAN CARA-CARA PENILAIANNYA DALAM RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK. KISI-KISI EVALUASI DAN KRITERIA PENILAIANNYA SERTA PROGRAM REMEDIASI DAN PROGRAM PENGAYAAN BESERTA TESNYA HARUS DITULIS LENGKAP; DENGAN TUJUAN MUDAH DIEVALUASI DAN DIARAHKAN. F. PENUTUP MENGAPA PENULIS BERPENDAPAT RPP HARUS DIBUAT DEMIKIAN ? KARENA PERUBAHAN DAN INOVASI PENDIDIKAN DI INDONESIA HARUS DIUTAMAKAN PADA BAGIAN TERKECIL PENDIDIKAN, YAITU: GURU DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN PEMBELAJARAN ATAU PERUBAHAN GURU MENGAJAR DAN MURID BELAJAR. PERANAN GURU HARUS BERGESER DARI APA YANG AKAN DIPELAJARI KE BAGAIMANA MENYEDIAKAN DAN MEMPERKAYA PENGALAMAN BELAJAR MURID. PENGALAMAN BELAJAR DAPAT DIPEROLEH MELALUI SERANGKAIAN KEGIATAN UNTUK MENGEKSPLORASI ALAM MELALUI INTERAKSI AKTIF DENGAN TEMAN, LINGKUNGAN, DAN NARA SUMBER LAINNYA. PENDIDIKAN IPA MENEKANKAN PADA PEMBERIAN PENGALAMAN LANGSUNG, AGAR MURID MAMPU MENJELAAJAHI DAN MEMAHAMI ALAM

SECARA ILMIAH. PENDEKATAN MENGAJAR DALAM PENDIDIKAN IPA SEBAIKNYA MEMADUKAN ANTARA PENGALAMAN PROSES DAN PEMAHAMAN IPA DALAM BENTUK HAND-ON-ACTIVITY. OLEH SEBAB ITU, PENDIDIKAN IPA DIARAHKAN UNTUK MENCARI TAHU DAN BERBUAT, SEHINGGA MURID MEMPEROLEH PEMAHAMAN YANG MENDALAM TENTANG ALAM, DAPAT MENANGGAPI ISU LOKAL NASIONAL, DAN GLOBAL, DAPAT MENILAI SECARA KRITIS PERKEMBANGAN IPA DAN TEKNOLOGI YANG MEMPUNYAI DAMPAK YANG LUAR BIASA, SERTA DAPAT MEMILIH KARIER DENGAN TEPAT. PERUBAHAN DAN INOVASI PENDIDIKAN DI INDONESIA SEHARUSNYA DITUJUKAN KEPADA BAGIAN TERKECIL PENDIDIKAN, YAITU: PEMBELAJARAN. KESEJAHTERAAN GURU AKAN DITINGKATKAN. KEILMUAN GURU SUDAH MENINGKAT. OLEH SEBAB ITU, INOVASI PEMBELAJARAN HARUS DIUPAYAKAN DENGAN MEMBUAT RPP YANG LENGKAP. GURU HARUS MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN IPA YANG AKTUAL, FAKTUAL, KONSEPTUAL, DAN KONTEKSTUAL, BERDASARKAN RPP YANG DITULIS. GURU SEBAIKNYA MEMPUNYAI RASA SABAR DAN TAWAKAL DALAM MENDIDIK PUTA PUTRINYA DAN MENDIDIK MURIDNYA. GURU SEBAIKNYA HARUS MEMBIASAKAN DIRI UNTUK MELAKUKAN INOVASI PEMBELAJARAN, MENULIS HASILNYA DALAM LAPORAN PENELITIAN, MENGOMUNIKASIKAN HASIL PENELITIANNYA DALAM SEMINAR, MENULIS HASIL PENELITIANNYA DALAM JURNAL ATAU MAJALAH ILMIAH KEPENDIDIKAN, AKHIRNYA GURU NAIK PANGKAT DAN JABATAN FUNGSIONALNYA. GAJI GURU MENINGKAT, KESEJAHTERAAN GURU DAN KELUARGANYA MENINGKAT, AKHIRNYA GURU-GURU DAPAT MEMFASILITASI PUTRA PUTRINYA UNTUK MENGENYAM PENDIDIKAN STRATA DUA (S-2). ALHAMDULILLAHI ROBBILALAMIIN. JANGAN NGLOKRO, YANG MUDA-MUDA SAJA YANG SEHARUSNYA MELAKUKAN INOVASI PEMBELAJARAN. SLOGAN/JARGON INI JANGAN SAMPAI TERUCAPKAN DAN TERLAKSANA. MENGAPA DEMIKIAN ? KARENA PERBAIKAN NASIB BANGSA YANG CARUT MARUT SAAT INI TERLETAK DI PUNDAK GURU DAN DOSEN YANG BIJAKSANA DAN KREATIF. WALLOHU ALAM BISHOWAB. RPP YANG TELAH DIBUAT OLEH BAPAK / IBU GURU DINILAI DALAM ASPEKASPEK BERIKUT. 1. PERUMUSAN TUJUAN PEMBELAJARAN (kejelasan rumusan, kelengkapan cakupan rumusan, dan kesesuaian dengan kompetensi dasar). 2. PEMILIHAN DAN PENGORGANISASIAN MATERI AJAR / KAJIAN DARI BUKU REFERENSI (kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan karakteristik murid, keruntutan dan sistematika materi, serta kesesuaian materi dengan alokasi waktu). 3. PEMILIHAN SUMBER BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN (kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan karakteristik murid). 4. SKENARIO ATAU KEGIATAN GURU DAN MURID DALAM PEMBELAJARAN (kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, karakteristik murid, dan kelengkapan langkah-langkah dalam pembelajaran, serta kesesuaian dengan alokasi waktu).

5. PENILAIAN HASIL BELAJAR (kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran, kejelasan prosedur penilaian, dan kelengkapan instrumen penilaian).
E. DAFTAR PUSTAKA 1. Ahmad Abu Hamid, 2006, Kajian Fisika Sekolah, Diktat Kuliah, Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. 2. . . . . ., 2004, Pembelajaran Fisika di SMA, Makalah disampaikan di Kanwil Diknas DIY, Yogyakarta: Yayasan Anak Bangsa Mandiri. 3. BSNP, 2007, Model Penilaian Kelas Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Depdiknas 4. . . . . ., 2007, Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh / Model Silabus, Jakarta: Depdiknas 5. Dirjen Dikti, 2008, Pedoman Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Penilaian Portofolio, Buku 1, 2, 3, 4, dan Buku 5, Jakarta: Depdiknas 6. Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2005, Standar Kompetensi Madrasah Tsanawiyah, Jakarta: Depag RI. 7. Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Jakarta: Depdiknas. 8. Sugeng Paranto, 1981, Evaluasi Pendidikan, Diktat Kuliah, Surabaya: FKIE IKIP Surabaya. 9. Udin S. Winataputra, dkk., 1994, Strategi Belajar Mengajar IPA, Modul PGPA 3510, Jakarta: Depdikbud RI. 10. Wasis, dkk., 2002, Beberapa Teori yang Melandasi Pengembangan Model-Model Pengajaran, Modul Pelatihan Terintegrasi, Jakarta: Depdiknas RI. 11. . . . . . , 2002, Beberapa Model Pengajaran dan Strategi Belajar dalam Pembelajaran IPA Fisika, Modul Pelatihan Terintegrasi, Jakarta: Depdiknas RI. 12. Zamzani, 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Makalah disampaikan pada pelatihan guru-guru Madrasah Ibtidaiyah DIY, Yogyakarta: Kanwil Depag Provinsi DIY. 13. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Contoh RPP yang disusun secara bebas 2. Riwayat Penulis

SELAMAT BEKERJA, SEMOGA SUKSES