CARITA TANAH PASUNDAN Periode Awal sampai Taruma Nagara Konon menurut wangsakerta, kerajaan pertama di tanah jawa

adalah Salaka Nagara atau Rajatapura (Negeri Perak) dengan pendiri Aki Tirem (=Argyre : Ptolemy). Letaknya di teluk lada Pandeglang sekarang sekitar tahun 150 M. Pemerintahan Salaka Nagara dipimpin oleh raja-raja dengan gelar Dewawarman. Tercatat bahwa gelar Dewawarman diturunkan selama 8 generasi (Dewawarman I - VIII). Diperkirakan kejayaannya hanya sampai tahun 362 M. Selanjutnya penguasaan wilayah Jawa (bag Barat) dilanjutkan oleh Taruma Nagara dan Salaka Nagara pun menjadi kerajaan kecil. Kerajaan Taruma Nagara tercatat dimulai sejak tahun 358 M dengan raja pertama bernama Jayasingawarman. Jayasingawarman berasal dari negeri Salankayana di India. Dia dianggap pendiri kerajaan yang juga merupakan menantu Dewawarman VIII. Pada pemerintahan raja ke-3, cucu Jayasingawarman yaitu Purnawarman (395 – 434), ibukota kerajaan dipindah ke kota baru dengan nama Sundapura (Kota Suci) disekitar muara Ciaruteun. Pada masa Suryawarman (535 - 561 M) yang merupakan cucu Purnawarman, kekuasaan Taruma dilebarkan ke arah timur. Untuk itu dalam tahun 526 M, Manikmaya, menantu Suryawarman dari Tirta Kancana, diberikan kekuasaan untuk mendirikan kerajaan baru di Kendan, sekarang terletak di daerah Nagreg (terletak antara Bandung dan Garut). Selanjutnya cicit Manikmaya yang bernama Wretikandayun (612) memindahkan ibukota Kendan ke kota baru yang diberi nama Galuh (=Permata). Kota tersebut diapit 2 sungai yaitu Citanduy dan Cimuntur. Kota tersebut sekarang bernama Desa Karang Kamulyan di Ciamis. Cerita terus berlanjut dan raja-raja terus silih berganti sampai dengan raja terakhir yaitu Linggawarman raja yang ke-12 ditahun 669 M. Dalam masa penguasaan Taruma telah terdapat 48 kerajaan bawahan diantaranya adalah Salaka Nagara, Galuh, Kendan serta Sunda Sambawa. Dikarenakan tidak memiliki anak laki-laki maka kekuasaan Linggawarman turun kepada menantu pertamanya Tarusbawa. Sebenarnya dia mempunyai 2 anak perempuan yang bernama Manasih dan Sobakancana. Manasih menikah dengan Tarusbawa pewaris kerajaan Sunda Sambawa dan Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri kerajaan Sriwijaya. Tarusbawa merupakan raja yang panjang umur dan berkuasa lama, diperkirakan berkuasa dari 669-723 M. Dia digantikan oleh cucu menantunya yang bernama Rakeyan Jamri atau lebih dikenal dengan Prabu Sanjaya Harisdharma. Adapun sang putera mahkota, anak Tarusbawa meninggal sebelum dinobatkan, menyebabkan Tarusbawa digantikan oleh cucu perempuannya yang bernama Tejakancana yang bersuamikan Sanjaya ini. Sanjaya adalah anak Sanaha adik perempuan dari Bratasena raja Galuh saat itu. Pada masa pemerintahan Tarusbawa, terjadi perselisihan antara 2 menantu Lingawarman. Akibat perselisihan ini Jayanasa/Sriwijaya menyerang Taruma/Tarusbawa (wangsakerta). Akibat serangan itu Taruma melemah, sehingga Tarusbawa kembali ke kerajaan asalnya Sunda Sambawa dengan membawa kekuasaan Taruma. Selanjutnya Taruma Nagara dia ubah namanya menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama Taruma menjadi Sunda dijadikan momen oleh Galuh/Wretikandayun untuk menyatakan lepas dari Sunda/Taruma (670). Dengan alasan merasa sederajat dengan kerajaan Sunda (sama-sama kerajaan bawahan Taruma) atau mungkin merasa berjasa membantu melawan Sriwijaya. Wretikandayun (cicit Manikmaya) mengklaim wilayah kekuasaan Taruma sebelah Timur dari Kali Cipamali sampai kali Citarum. Saat itu Wretikandayun sudah berumur 78 tahun. Sehingga dia sudah mengenal betul kondisi politik Taruma. Klaim Galuh tersebut berlangsung mulus, karena Tarusbawa menghindari terjadinya peperangan. Bahkan saat itu Tarusbawa merupakan sahabat dari Bratasena anak dari Wretikandayun. Sehingga itulah akhir dari cerita Taruma Nagara yang melemah dan menjadi 2 kerajaan dengan sungai citarum sebagai batas. Masa Keemasan Galuh Selanjutnya di Galuh, diceritakan bahwa Wretikandayun yang bergelar Maharaja Suradharma Jayaprakosa setidaknya memiliki 3 anak dari Pohaci Bunga Mangle (Manawati/Candrarasmi) yaitu : Sempakwaja (Jatmika), Jantaka dan Mandiminyak (Amara). Diantara anaknya yang menggantikan dirinya adalah anak bungsunya yang bernama Mandiminyak. Dikarenakan anak tertuanya bernama Sempakwaja dan anak keduanya Jantaka dianggap cacat jasmani. Mandiminyak digantikan oleh anaknya dari Rababu (Parwati?) yang bernama Bratasena (Sena). Namun Sena digulingkan oleh sepupunya, anak dari Sempakwaja yang bernama Purbasora. Purbasora saat itu dibantu oleh raja Indraprahasta dari sekitar daerah Cirebon. Hal ini menyebabkan Sena lari ke Kalingga (sebelum Mataram Kuno) negeri nenek istrinya yaitu Maharani Shima. Sanjaya yang merupakan keponakan Bratasena, melakukan serangan balas dendam ke Purbasora. Serangan ini dia lakukan setelah ia dinobatkan menjadi raja Sunda (723-732 M) Hal ini mengakibatkan keluarga Purbasora dimusnahkan. Sedangkan panglima perangnya yang bernama senopati Bimaraksa (Aki Balangantrang) berhasil melarikan diri ke daerah Geger Sunten. Bimaraksa merupakan anak dari Jantaka (anak kedua Wretikandayun). Dengan Serangan balas dendam ini, Galuh pun dikuasai oleh Sanjaya. Sanjaya tak lama berkuasa di Galuh, untuk menciptakan ketentraman di Galuh, selanjutnya kekuasaan Galuh ia serahkan kepada Permana Dikusuma. Permana merupakan cucu dari Pubasora. Namun sebelumnya, Permana oleh Sanjaya dijodohkan dengan Dewi Pangrenyep anak dari Anggada (Patih Sunda). Dia juga mengangkat anaknya Tamperan sebagai kepala pasukan Galuh. Untuk Demunawan adik Purbasora (anak Sempakwaja dan Wulansari), dia memberikan kekuasaan atas Kuningan dan Galunggung.

Beliau memindahkan ibukota dari kawali (Galuh) ke Pakuan. Pakuan Pajajaran kurang lebih berarti Istana(=Pakwwan) yang berjajar. terjadi kejadian yang disebut Pralaya. Manarah dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari adik dari Kencana Wangi. Adapun istri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa. Dalam serangan ini Tamperan dan Pengrenyep tewas. Masa Sunda Galuh sampai Sunda Pajajaran Sunda Galuh terus bertahan dalam perjalanan waktu. Dimasa Jaya Dewata inilah Sunda lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. tidak ada catatan lain yang lebih lanjut untuk menjelaskan keadaan pemerintahannya pada waktu itu. Galuh dan Sunda kembali bersatu dibawah kekuasaan Rakeyan Wuwus dan selanjutnya disebut jaman Sunda Galuh. Silih wangi berarti pengganti Prabu Wangi selanjutnya raja-raja penggantinya juga disebut sebagai Siliwangi . Tahta akhirnya turun ke anak perempuannya yang ke-7 yang bernama Purbasari yang bersuamikan Guruminda Sang Ministri. Selanjutnya untuk memperkuat perdamaian. Sejak tahun 852. Dalam peperangan tersebut. dan juga merupakan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. raja Kerajaan Medang. Manarah memiliki 7 anak. Prabu Linggabuana adalah raja Sunda yang tewas dalam perang Bubat. namun kesemuanya perempuan. Dalam perdamaian itu Sunda Galuh kembali menjadi terpisah. Peristiwa ini menjadi istimewa karena Ia beribu seorang puteri Sriwijaya saudara dari Raja Wurawuri. ia memiliki anak bernama Kamarasa atau (Hariang/Arya) Banga. Kisah ratu Purbasari lebih dikenal di masyarakat dengan cerita pantun Lutung Kasarung. Ia diberi gelar Prabu Kretabuwana Yasawiguna Aji Mulya. Sehingga saat Permana Dikusuma wafat (konon dibunuh atas perintah Tamperan) yang diangkat menjadi raja Galuh adalah Banga.852). Mereka memiliki anak yang bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya (Raden Wijaya). Beliau adalah suami Singamurti (Dyah Lembu Tal). sedangkan bekas kerajaan Galuh diberikan kepada Dewa Niskala. Sanjaya juga mewarisi Mataram/Kalingga dari ayahnya yang mengakibatkan ia melepaskan tahta kekuasaan di Sunda kepada anaknya Tamperan. Singamurti kembali ke negerinya bersama Raden Wijaya. Kedudukan Linggabuana digantikan sementara oleh adiknya Bunisora selaku Pemangku Jabatan. Sebagai penghargaan atas keberaniannya melawan Majapahit saat itu. Kudeta ini dilakukan dengan sokongan dari Bimaraksa dan bantuan Indraprahasta serta Kuningan. Saat Jayadewata mewarisi Galuh (1482-1521). Kerajaan Galuh serta kerajaan (Bhumi) Mataram (Kalingga Utara). Dan akhirnya Ragasuci dinobatkan menjadi raja kerajaan Sunda. Sebelum dijodohkan dengan Pangrenyep. Kedua anaknya masing-masing diwarisi bagian kerajaan. Banga sendiri diyakini sebagai anak hasil hubungan gelap antara Tamperan dan Pangrenyep. penguasa Singasari. Hal ini dikarenakan anak Linggabuana (Niskalawastukancana) waktu itu belum dewasa. Akibat pembagian waris tersebut Sunda kembali menjadi dua kerajaan. Jaya Dewata dinikahkan dengan Kentring Manik Mayang Sunda anak dari Susuktunggal. Keturunan Manarah putus hanya sampai cicit dari Purbasari yang bernama Prabulinggabumi (813 . Sunda diberikan kepada Banga dan Galuh diberikan kepada Manarah.891). Pralaya adalah penyerangan besar besaran Wurawuri/Sriwijaya terhadap kerajaan Medang. Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Sehingga Sanjaya/Mataram mengirimkan pasukan untuk membalas dendam sekaligus membantu Banga. Bekas kerajaan Sunda di berikan kepada Susuktunggal. Sedangkan selanjutnya dari Pangrenyep. Sebutan Pajajaran sendiri merupakan kependekan dari Pakuan Pajajaran. Akibat meninggalnya Jaya Dharma. Penerus Sri Jayabupati yang ke-5 adalah Prabu Dharmasiksa. Manarah melakukan kudeta terhadap Banga. Niskalawastu mempunyai anak dari Lara Sakarti yang bernama Susuktunggal dan dari Mayangsari bernama Dewaniskala. Linggabuana diberi gelar Prabu Wangi. Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 . Susuktunggal pun memberikan tahtanya kepada menantunya tersebut sehingga Sunda Galuh kembali menyatu. Ini gambaran dari keadaan ibukota . Permana sudah memiliki anak dari Naganingrum (anak dari Bimaraksa) yang bernama Surotama atau Manarah atau lebih dikenal dengan Ciung Wanara. Namun selain cerita pantun tersebut. Untuk itu Tamperan yang dikenal juga sebagai Rakai Panaraban (saat itu panglima di Galuh) dia panggil pulang dari Galuh ke Sunda untuk diserahi tahta Sunda. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi peperangan yang besar. Selanjutnya keturunan ke-5 Ragasuci adalah Prabu Linggabuana (1350-1357).Tahun 732 M. Harya Banga terdesak. Namun sang putera mahkota Jaya Dharma meninggal sebelum dinobatkan. Dewa Niskala memiliki anak yang bernama Jaya Dewata (=Sri Baduga Maharaja). hingga pada suatu masa dalam kepemimpinan Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042) raja Sunda ke-20. Sehingga saat itu sebenarnya kekuasaan Sanjaya meliputi Kerajan Sunda. Sang Manarah setelah menjadi raja mendapat gelar Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana. Kedudukan putera mahkota Jayadarma akhirnya digantikan oleh adiknya yang bernama Ragasuci (1297-1303). Saat diadakan pesta sabung ayam di Galuh yang dihadiri juga oleh Tamperan yang saat itu sudah menjadi raja Sunda. Perang besar tersebut akhirnya didamaikan oleh Demunawan yang saat itu sudah menjadi Resi. Ragasuci merupakan suami dari Dara Puspa puteri Kerajaan Melayu (Jambi) adik dari Dara Kencana istri Kertanegara. Setelah dewasa maka Niskalawastu dinobatkan menjadi raja Sunda. Diperkirakan sejak saat Prabu Niskalawastu gelar Siliwangi muncul. Singamurti merupakan anak Mahisa Campaka yang berarti cicit dari Ken Arok. Di negerinya setelah dewasa. Seyogyanya dia akan digantikan oleh Rakeyan Jayadarma. Sedangkan rakeyan Wuwus merupakan cicit dari Harya Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Manarah dan Banga dijodohkan dengan cicit Demunawan.

Sehingga kerajaan tersebut dinamai Pakuan Pajajaran dengan lebih singkatnya Pajajaran . dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang). Akhirnya pada 11 Wesaka 1501 tahun Saka (8 Mei 1579) Kerajaan Sunda Pajajaran akhirnya benar-benar runtuh. Kejadian ini pada masa Raja Sunda keturunan Jaya Dewata yang ke-5 yaitu Prabu Surya Kancana/Ragamulya/Nusyamulya (1567-1579). Selanjutnya Cerbon berkembang dari asalnya kerajaan bawahan menjadi sebuah kesultanan setelah mendapat dukungan Demak. Jaya Dewata pun menikah dengan Ambetkasih puteri Ki Gedeng Sindang Kasih juga dengan Subanglarang puteri Ki Gendeng Tapa raja Singapura (daerah sekitar Cirebon). 1524 Cirebon dibantu Demak merebut Banten. Maulana Hasanuddin sendiri merupaan anak sunan dari istrinya yang bernama Nyai Kawunganten. wilayah sisa kerajaan Sunda waktu itu tidak pernah berada dalam administrasi kekuasaan kesultanan Banten. Hasil perdamaian menyebabkan Sumedang kehilangan wilayah Majalengka. Peperangan ini berhasil didamaikan oleh Mataram. tampekan. Istana Pakuan jatuh ke tangan pasukan koalisi Islam (Demak. kalung bersusun dua dan tiga. Pada masa Kerajaan Pajajaran sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf anak Maulana Hasanuddin. Sunda runtuh setelah beberapa kali diserang Kesultanan Banten dan Cirebon. Portugis diberi keleluasaan oleh Sunda untuk beroperasi di Sunda Kelapa. Namun Geusan Ulun mendapatkan Ratu Harisbaya (puteri kerabat Mataram) yang menandakan kedekatan dengan Mataram serta kemerdekaan dari Cerbon (akibat kejatuhan Pajajaran). Sehingga Banten pun bersitegang dengan Sumedang. Banten + Cirebon). Sedangkan Kian Santang diberikan kekuasaan untuk mengkontrol pelabuhan Cerbon menggantikan kakeknya Ki Gendeng Tapa. Di masyarakat Sunda peristiwa ini dikenal dengan peristiwa ”Ngahyang”. mengutus empat prajurit pilihan (Kandaga Lante) untuk pergi ke Kerajaan Sumedang Larang untuk mencari perlindungan. Sehingga sampai saat ini masih dipercayai sebagian besar masyarakat Sunda bahwa Prabu Siliwangi (yang terakhir) Ngahyang . Pada masa pemerintahan Surawisesa (1521 – 1535) dia membangun kerjasama dengan Portugis. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran. . Pada masa Surya Kancana sudah keluar dari Pakuan (Ngahyang). Ia adalah anak dari Surasowan yang merupakan adik kandung dari Surawisesa. Masa Sumedang Larang sampai Jatuh ke Tangan Belanda Pada saat pemerintahan Sumedang berada di tangan Prabu Geusan Ulun/Angkawijaya. Kekuasaan Kian Santang turun kepada menantu sekaligus keponakannya anak dari Rara Santang yang bernama Syarif Hidayatullah. Sejak masa tersebut perselisihan antara Sunda dan para sultan (Cerbon+Banten) pun semakin membesar. Penerus Geusan Ulun adalah anak tirinya dari Ratu Harisbaya yaitu Rangga Gempol Kusumah Dinata atau Raden Aria Suradiwangsa (1620-1624). Pada tahun 1620 M Sumedang Larang tunduk kepada Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung. Selain dengan Kentring Manik Mayang Sunda. Dengan diberikannya pusaka tersebut kepada Prabu Geusan Ulun (1580-1608). Sementara itu. Sunan Gunung Jati selaku tetua (keturunan dekat Siliwangi) meminta bagi para penghuni kota pakuan yang tidak mau beragama Islam untuk keluar. dibantu Banten dan Demak. Mataram semakin kuat. Dalam perjanjian terakhir. dan statusnya sebagai 'kerajaan' diubahnya menjadi 'kadipaten'. Pernyataan ini ditandai dengan tidak lagi melakukan pengiriman upeti ke Pajajaran. Serangan dipimpin oleh Fatahillah/Tubagus Pasai yang merupakan veteran perang Malaka yang juga menantu Sunan Gunung Jati. Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan. Sejak itu tidak ditemukan lagi catatan mengenai keberadaan sang Prabu Surya Kancana. siger. Pada masanya pula terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan dengan Cirebon. Serangan menyebabkan Sunda Kelapa jatuh ke Cirebon dan kemudian namanya di ubah menjadi Jayakarta . Penerus tahta Jaya Dewata adalah Surawisesa anak dari Kentring Manik Mayang Sunda. maka dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran telah menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Sumedang Larang. Dari Subanglarang ini Jaya Dewata memiliki anak yang bernama Kian/Rakean Santang/Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Rara Santang. Mataram (=Sultan Agung) sedang dalam masa kejayaannya. Keruntuhan ditandai dengan dibawanya Watu Gigilang/Palangka Sriman Sriwacana batu tempat penobatan raja Sunda ke istana Surosowan Banten. Hasil perjanjian ini mengakibatkan 40 orang anggota pasukan elit kerajaan sunda keluar dan akhirnya bermukim di Cibeo dan konon menjadi Masyarakat Kanekes (=”Urang Baduy”). Subanglarang adalah murid dari Pondok Pesantren Quro pimpinan Syekh Hasanuddin di Karawang. Kekhawatiran Surawisesa terbukti. Rara Santang kemudian memiliki anak yang bernama Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. (Tome Pires). Sehingga demi kepentingan politik (terutama untuk menghadapi Banten) Sumedang menyatakan bergabung dengan Mataram. Maulana Yusuf mengklaim sebagai pewaris sah atas tahta Pajajaran. Prabu Surya Kancana sebelum meninggalkan Pakuan. serta perhiasan lainnya seperti benten. Selanjutnya anak Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan Banten. Kerjasama ini dibangun oleh Surawisesa yang saat itu sudah merasa terancam oleh kesultanan Cerbon yang didukung oleh Demak. Cirebon menyatakan melepaskan diri dari Pajajaran. Tahun 1527 Sunda Kalapa diserang Cirebon dengan tujuan untuk membalas serangan portugis atas Malaka (1511). Namun secara de facto. kesultanan Banten dikarenakan telah memiliki batu Gigilang serta merupakan keturunan langsung Jaya Dewata dari kakeknya (=Sunan Gunung Jati).yang terdiri dari banyak istana yang rapi berjajar. Dalam masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah.

Mata sembab berkaca-kaca.171207) PENYERANGAN MATARAM KE BATAVIA Merinding berdiri bulu kuduk saya bila membaca kisah riwayat pertempuran tentara Mataram saat menyerbu benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.[i] Sebagian pasukan Mataram mencoba mengusir ternak Kompeni akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Kompeni. Siasat ini kemudian dibocorkan oleh . Parakan Muncang dan Tatar Ukur (Bandung). lalu cucuran darah. Mereka yang masih selamat. Sekacé (Sindangkasih). Kompeni menerima warga dengan baik. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menangkap dan menghukum penjara Dipati Rangga Gede. Pada akhir bulan Agustus 1629 penjaga-penjaga Kompeni yang ditempatkan beberapa kilometer di sungai Ciliwung telah melihat barisan depan. Disusul tahun 1808 Istana Surosowan Banten jatuh ke tangan Raffless/Belanda (saat itu dibawah Inggris). panji-panji dan mereka juga membawa gajah. yang nyawanya belum terpisah dari raga. segera akan tersusul dengan cucuran air mata Hening yang mencekam. Tahun berikutnya. Sementara itu orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal. Prajurit-prajurit Mataram bagaikan melolong-lolong. Jakarta (VOC) dan Galuh (Mataram). tidak ada lagi perlawanan gagah dari satu kekuasaan resmi pribumi yang mampu menyerang Kompeni dengan demikian frontal-nya. Menunggu keputusan Sang Raja. Seakan ini adalah perlawanan terbesar yang mampu dikerahkan oleh leluhur kita pada masa itu. Dipati Rangga Gede. pedih. dan lebih dari itu yang terasa adalah hati yang ngilu. tercenung anak cucu nanti Sunyi sepi mencekam. dalam kondisi letih. melengking pekik mereka ingin merampungkan tugas mulia yang dibebankan oleh Sang Raja untuk mengenyahkan bangsa asing yang ingin menjajah ini. Sampai dengan keluh tertahan tubuh mereka ambruk satu per satu karena jantung tertembus timah panas atau dada terbelah sangkur. Mereka datang berkuda membawa bendera. dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. nyeri. Serangan tersebut mengalami kegagalan (1628) dan Bahureksa pun tewas.peng. Ini kegagalan yang bersejarah. wilayah Priangan sisa kerajaan Sunda yang terakhir diserahkan oleh Mataram kepada Belanda (1677). tak berlepas diri dari tanggung jawab akan sebuah kegagalan. Saat itu wilayah Sunda telah kehilangan kekuasaan atas Cerbon dan Majalengka (Sultan Cerbon). untuk (pura-pura?. Hanya bisik titip untuk masa depan anak istri. Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1629 M Meskipun Mataram tidak berhasil merebut benteng Batavia dan menundukkan Kompeni pada tahun 1628. (Disarikan oleh : Firman Raharja . Sehingga sisa wilayah Sunda yang masih dipimpin oleh pewaris tahta yang ”sah” tinggal empat kadipaten yaitu Sumedang. Ketika rembulan berdarah terbit Angin yang meniup dari buritan dan membawa pulang ke Mataram adalah angin kematianMati di pertempuran atau mati di alun-alun adalah tidak akan ada beda lagi Segala keletihan dan kepedihan adalah sudah diniati karena keyakinanRaungan perwira nan ksatria adalah juga lolongan pedihnya Duri kekuasaan asing yang menancap di ulu hati tidak tercabut juga Serasa membelah perut sendiri pun akan dilakukan Derasnya keringat yang mengalir hari-hari kemarin.) minta maaf kepada Kompeni mengenai hal yang telah terjadi. Pada saat kekuasaan Mataram mulai menurun. Pemerintahan Sumedang kemudian diserahkan kepada adiknya. Keberangkatan mereka dari ibukota Mataram adalah pada bulan Juni. mereka tidak begitu saja menyerah. Pada tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. perhitungan dan kerjasama yang lebih menyeluruh. ia akhirnya melarikan diri. tak kuasa menolaknya. Padi itu akan ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan ke Batavia. Kawasen. Ayah (Dayeuhluhur). Namun pemberontakan ini dapat dipatahkan dan menyebabkan Dipati Ukur akhirnya dihukum oleh Sultan Agung (1632). Mempermalukan anak-cucu sampai tujuh belas turunan. Adapun kadipaten lain yang langsung dibawah kontrol Mataram (Amangkurat I) adalah Karawang. secara otomatis wilayah kerajaan Sunda telah sepenuhnya dikuasai Belanda.Mataram gagal! Dan sejak itu. Menyesali dari kegagalan para leluhur yang yang serasa ini adalah fatal karena akan berdampak bagi berabad-abad sesudahnya. “Kami adalah orang yang gagal”. bukan lagi terpikir nyawa sendiri. Banyumas. Wirabaja (Galuh). mungkin juga bingung bercampur malu terpaksa harus pulang menghadap Sang Raja-nya.Suatu saat Rangga Gempol diperintahkan oleh Sultan Agung untuk memimpin penyerangan ke Sampang. Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta). Entah apa yang akan mereka dapat nanti. Namun sejak saat itu Rangga Gempol tidak pernah kembali ke Sumedang. Karena Rangga Gede/Rangga Gempol II tidak mampu menahan serangan pasukan Banten. Sehingga sejak saat itu. Sehingga wilayah Sunda kecuali Banten telah berada dalam kontrol Belanda. menunggu keputusan sakral Harga diri Mataram Tibalah saat Sang Raja mengadili. Keempat kadipaten ini lebih dikenal dengan nama Priangan. Dengan dihukumnya Dipati Ukur. Karena menolak untuk dihukum akibat kekalahan ini. Mereka ksatria. perih merasakan kegagalan. Mataram gagal! Abad-abad berikutnya hanyalah abad yang penuh dengan hina-dina. yaitu pada tahun 1629 tentara Mataram berangkat lagi menuju Batavia dengan perlengkapan senjata-api. Apakah bayangan tentang kekalahan itu tak pernah muncul sebelumnya di benak para prajurit Mataram ini? Mereka harus pulang. jeung Banjar (Panjer). Madura. Bayangkanlah teriakan-teriakan aba-aba dari Tumenggung Baureksa di akhir tahun 1628 saat harus memimpin anak buahnya bertempur satu lawan satu melawan tentara Kompeni di sela-sela rimbun pohon hutan di luar Batavia. Dan tahun 1705 Belanda juga berhasil menguasai Cerbon dan Priangan Timur (Galuh) melalui perjanjian dengan Mataram. Imbanagara. Cara yang dipakai Mataram untuk membawa beras ke sekitar Batavia sebagai bekal bagi prajurit-prajurit adalah pengiriman seorang utusan yang bernama Warga. Sebagai tanda bakti. Dipati Ukur memberontak terhadap kekuasaan Mataram. Banten (Sultan Banten). Sukapura. Tahun 1813 Banten sepenuhnya dikuasai Belanda. Pemerintahan dikembalikan kepada Rangga Gede. Kyai Dipati Mandurareja dan Tumenggung Upasanta tepekur tak mampu menengadahkan wajahnya. Namun demikian sisa wilayah ini pun sebenarnya tunduk kepada Mataram. Air Sungai Marunda pun berubah merah teraliri darah putra-putra pertiwi dari Mataram. Rintih tertahan saat dada sobek tertombak hukuman Raja. namun terpaksa harus gagal karena kurangnya persiapan. Dalam masa pemerintahannya Sumedang Larang diserang pasukan Kesultanan Banten. konon ia selanjutnya diangkat menjadi orang dalam istana Mataram.

utusan Mataram dan hadiah untuk ke Mekah ditahan oleh VOC dan dibawa ke Batavia. Pemerintahan Mataram tahun 1641 mengadakan perpindahan penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Barat di daerah Sumedang yang ternyata sangat mengkhawatirkan VOC. usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama. Akibat dari dimusnahkannya gudang beras Mataram. Benteng Hollandia dapat mereka rusakkan. Mataram antara tahun 1630-1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal Kompeni. Hubungan antara Kompeni dan Mataram setelah tahun 1642. Armada diperkuat dengan pembuatan perahu baru di Jepara. karena tawanan-tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. Setelah mendapat keterangan ini Kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal. akan tetapi utusanutusan yang dikirim Kompeni tidak memenuhi syarat Mataram. mereka menuju benteng Bommel. dan hal ini memang menyebabkan kelemahan mereka. Harapan akan bantuan ini kemudian hilang. Mereka sangat berhasil membuat Kompeni pusing dengan serangan-serangan kecil-kecilan yang dilancarkan Mataram terhadap kapalkapal Kompeni setelah perang tahun 1629 M. Pelayaran ke Timur tidak begitu berhasil. Kota ini juga mendapat gilirannya. karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara. tidak begitu baik. di mana perahu-perahu Mataram. Dengan cepat mereka mengirim armada terdiri dari 8 buah kapal. Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun 1645 tidak mengalami perbaikan. Sementara tembakan-tembakan dilancarkan terhadap benteng Belanda. perundingan antara Mataram dan VOC dibuka kembali pada tahun 1630. Setelah berhasil.seorang anak buah dari salah satu perahu warga. Oleh sebab itu kapal Inggris yang membawa utusan ini dicegat. Keadaan menjadi tegang ketika Inggris menawarkan membawa seorang utusan Mataram ke Mekah. Peristiwa lain adalah ketika VOC merasa bahwa Jambi dan Palembang mengancam keamanan VOC. akan tetapi di sini mereka gagal. Kompeni mengarahkan perhatiannya terhadap Cirebon. Oleh sebab itu Kompeni selalu mencari jalan untuk mencoba memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda itu. Persediaan padi di sini pun habis dibakar oleh VOC. Meskipun demikian mereka toh mendekati benteng Hollandia dengan mengadakan pendekatan melalui parit-parit. Antara Tahun 1630-1645 Setelah gagal menduduki Batavia. . Dengan perahu-perahu ini mereka membuat perairan antara Banten dan Batavia tidak aman. Mereka mendapat perintah untuk memusnahkan semua perahu-perahu Mataram dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan sepanjang pantai utara Jawa. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Mataram pun terbuka. Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. sehingga ketika Warga tiba di Batavia untuk kedua kalinya ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita. rumah-rumah dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis. Mereka membiarkan menembak benteng hingga persediaan mesiu habis. Sebenarnya perpindahan ini adalah sebagai persiapan terhadap penyerangan terhadap Banten yang tidak mau tunduk kepada Mataram. Setelah berusaha untuk menyerang selama kurang lebih 10 hari pada akhir bulan September 1629 mereka mulai menarik diri sambil banyak meninggalkan korban. setelah Tegal mendapat perusakan. yang sebenarnya suatu kemungkinan bagi Belanda. bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Desas-desus bahwa Mataram akan melancarkan suatu serangan lagi terhadap Batavia terdengar oleh Kompeni. awaknya berjumlah 693 orang. Jan Pieterszoon Coen mendadak meninggal diserang suatu penyakit. maka VOC mencegat suatu armada Mataram yang terjadi dari 80 perahu yang sedang menghantar kembali raja Palembang.[ii] Tetapi sementara itu hubungan dengan Mataram diusahakan. untuk melepaskan tawanannya bilamana Sultan meminta kapal Belanda untuk membawa utusan ini. Dari beberapa tawanan diketahui bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan. Pada hari-hari berikutnya Mataram maju ke Benteng dan pada tanggal 21 September 169 tembakan mulai terhadap benteng VOC.