CARITA TANAH PASUNDAN Periode Awal sampai Taruma Nagara Konon menurut wangsakerta, kerajaan pertama di tanah jawa

adalah Salaka Nagara atau Rajatapura (Negeri Perak) dengan pendiri Aki Tirem (=Argyre : Ptolemy). Letaknya di teluk lada Pandeglang sekarang sekitar tahun 150 M. Pemerintahan Salaka Nagara dipimpin oleh raja-raja dengan gelar Dewawarman. Tercatat bahwa gelar Dewawarman diturunkan selama 8 generasi (Dewawarman I - VIII). Diperkirakan kejayaannya hanya sampai tahun 362 M. Selanjutnya penguasaan wilayah Jawa (bag Barat) dilanjutkan oleh Taruma Nagara dan Salaka Nagara pun menjadi kerajaan kecil. Kerajaan Taruma Nagara tercatat dimulai sejak tahun 358 M dengan raja pertama bernama Jayasingawarman. Jayasingawarman berasal dari negeri Salankayana di India. Dia dianggap pendiri kerajaan yang juga merupakan menantu Dewawarman VIII. Pada pemerintahan raja ke-3, cucu Jayasingawarman yaitu Purnawarman (395 – 434), ibukota kerajaan dipindah ke kota baru dengan nama Sundapura (Kota Suci) disekitar muara Ciaruteun. Pada masa Suryawarman (535 - 561 M) yang merupakan cucu Purnawarman, kekuasaan Taruma dilebarkan ke arah timur. Untuk itu dalam tahun 526 M, Manikmaya, menantu Suryawarman dari Tirta Kancana, diberikan kekuasaan untuk mendirikan kerajaan baru di Kendan, sekarang terletak di daerah Nagreg (terletak antara Bandung dan Garut). Selanjutnya cicit Manikmaya yang bernama Wretikandayun (612) memindahkan ibukota Kendan ke kota baru yang diberi nama Galuh (=Permata). Kota tersebut diapit 2 sungai yaitu Citanduy dan Cimuntur. Kota tersebut sekarang bernama Desa Karang Kamulyan di Ciamis. Cerita terus berlanjut dan raja-raja terus silih berganti sampai dengan raja terakhir yaitu Linggawarman raja yang ke-12 ditahun 669 M. Dalam masa penguasaan Taruma telah terdapat 48 kerajaan bawahan diantaranya adalah Salaka Nagara, Galuh, Kendan serta Sunda Sambawa. Dikarenakan tidak memiliki anak laki-laki maka kekuasaan Linggawarman turun kepada menantu pertamanya Tarusbawa. Sebenarnya dia mempunyai 2 anak perempuan yang bernama Manasih dan Sobakancana. Manasih menikah dengan Tarusbawa pewaris kerajaan Sunda Sambawa dan Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri kerajaan Sriwijaya. Tarusbawa merupakan raja yang panjang umur dan berkuasa lama, diperkirakan berkuasa dari 669-723 M. Dia digantikan oleh cucu menantunya yang bernama Rakeyan Jamri atau lebih dikenal dengan Prabu Sanjaya Harisdharma. Adapun sang putera mahkota, anak Tarusbawa meninggal sebelum dinobatkan, menyebabkan Tarusbawa digantikan oleh cucu perempuannya yang bernama Tejakancana yang bersuamikan Sanjaya ini. Sanjaya adalah anak Sanaha adik perempuan dari Bratasena raja Galuh saat itu. Pada masa pemerintahan Tarusbawa, terjadi perselisihan antara 2 menantu Lingawarman. Akibat perselisihan ini Jayanasa/Sriwijaya menyerang Taruma/Tarusbawa (wangsakerta). Akibat serangan itu Taruma melemah, sehingga Tarusbawa kembali ke kerajaan asalnya Sunda Sambawa dengan membawa kekuasaan Taruma. Selanjutnya Taruma Nagara dia ubah namanya menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama Taruma menjadi Sunda dijadikan momen oleh Galuh/Wretikandayun untuk menyatakan lepas dari Sunda/Taruma (670). Dengan alasan merasa sederajat dengan kerajaan Sunda (sama-sama kerajaan bawahan Taruma) atau mungkin merasa berjasa membantu melawan Sriwijaya. Wretikandayun (cicit Manikmaya) mengklaim wilayah kekuasaan Taruma sebelah Timur dari Kali Cipamali sampai kali Citarum. Saat itu Wretikandayun sudah berumur 78 tahun. Sehingga dia sudah mengenal betul kondisi politik Taruma. Klaim Galuh tersebut berlangsung mulus, karena Tarusbawa menghindari terjadinya peperangan. Bahkan saat itu Tarusbawa merupakan sahabat dari Bratasena anak dari Wretikandayun. Sehingga itulah akhir dari cerita Taruma Nagara yang melemah dan menjadi 2 kerajaan dengan sungai citarum sebagai batas. Masa Keemasan Galuh Selanjutnya di Galuh, diceritakan bahwa Wretikandayun yang bergelar Maharaja Suradharma Jayaprakosa setidaknya memiliki 3 anak dari Pohaci Bunga Mangle (Manawati/Candrarasmi) yaitu : Sempakwaja (Jatmika), Jantaka dan Mandiminyak (Amara). Diantara anaknya yang menggantikan dirinya adalah anak bungsunya yang bernama Mandiminyak. Dikarenakan anak tertuanya bernama Sempakwaja dan anak keduanya Jantaka dianggap cacat jasmani. Mandiminyak digantikan oleh anaknya dari Rababu (Parwati?) yang bernama Bratasena (Sena). Namun Sena digulingkan oleh sepupunya, anak dari Sempakwaja yang bernama Purbasora. Purbasora saat itu dibantu oleh raja Indraprahasta dari sekitar daerah Cirebon. Hal ini menyebabkan Sena lari ke Kalingga (sebelum Mataram Kuno) negeri nenek istrinya yaitu Maharani Shima. Sanjaya yang merupakan keponakan Bratasena, melakukan serangan balas dendam ke Purbasora. Serangan ini dia lakukan setelah ia dinobatkan menjadi raja Sunda (723-732 M) Hal ini mengakibatkan keluarga Purbasora dimusnahkan. Sedangkan panglima perangnya yang bernama senopati Bimaraksa (Aki Balangantrang) berhasil melarikan diri ke daerah Geger Sunten. Bimaraksa merupakan anak dari Jantaka (anak kedua Wretikandayun). Dengan Serangan balas dendam ini, Galuh pun dikuasai oleh Sanjaya. Sanjaya tak lama berkuasa di Galuh, untuk menciptakan ketentraman di Galuh, selanjutnya kekuasaan Galuh ia serahkan kepada Permana Dikusuma. Permana merupakan cucu dari Pubasora. Namun sebelumnya, Permana oleh Sanjaya dijodohkan dengan Dewi Pangrenyep anak dari Anggada (Patih Sunda). Dia juga mengangkat anaknya Tamperan sebagai kepala pasukan Galuh. Untuk Demunawan adik Purbasora (anak Sempakwaja dan Wulansari), dia memberikan kekuasaan atas Kuningan dan Galunggung.

Perang besar tersebut akhirnya didamaikan oleh Demunawan yang saat itu sudah menjadi Resi. Ragasuci merupakan suami dari Dara Puspa puteri Kerajaan Melayu (Jambi) adik dari Dara Kencana istri Kertanegara. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi peperangan yang besar. Susuktunggal pun memberikan tahtanya kepada menantunya tersebut sehingga Sunda Galuh kembali menyatu.852). Penerus Sri Jayabupati yang ke-5 adalah Prabu Dharmasiksa. Sebelum dijodohkan dengan Pangrenyep. dan juga merupakan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Beliau memindahkan ibukota dari kawali (Galuh) ke Pakuan. Sehingga saat itu sebenarnya kekuasaan Sanjaya meliputi Kerajan Sunda. Singamurti kembali ke negerinya bersama Raden Wijaya. Beliau adalah suami Singamurti (Dyah Lembu Tal).891). Saat diadakan pesta sabung ayam di Galuh yang dihadiri juga oleh Tamperan yang saat itu sudah menjadi raja Sunda.Tahun 732 M. Namun selain cerita pantun tersebut. Peristiwa ini menjadi istimewa karena Ia beribu seorang puteri Sriwijaya saudara dari Raja Wurawuri. Setelah dewasa maka Niskalawastu dinobatkan menjadi raja Sunda. Dalam perdamaian itu Sunda Galuh kembali menjadi terpisah. Sebagai penghargaan atas keberaniannya melawan Majapahit saat itu. Dalam serangan ini Tamperan dan Pengrenyep tewas. Namun sang putera mahkota Jaya Dharma meninggal sebelum dinobatkan. Manarah dan Banga dijodohkan dengan cicit Demunawan. Kedua anaknya masing-masing diwarisi bagian kerajaan. Sebutan Pajajaran sendiri merupakan kependekan dari Pakuan Pajajaran. Kedudukan putera mahkota Jayadarma akhirnya digantikan oleh adiknya yang bernama Ragasuci (1297-1303). Kedudukan Linggabuana digantikan sementara oleh adiknya Bunisora selaku Pemangku Jabatan. Sanjaya juga mewarisi Mataram/Kalingga dari ayahnya yang mengakibatkan ia melepaskan tahta kekuasaan di Sunda kepada anaknya Tamperan. Permana sudah memiliki anak dari Naganingrum (anak dari Bimaraksa) yang bernama Surotama atau Manarah atau lebih dikenal dengan Ciung Wanara. Kisah ratu Purbasari lebih dikenal di masyarakat dengan cerita pantun Lutung Kasarung. terjadi kejadian yang disebut Pralaya. Jaya Dewata dinikahkan dengan Kentring Manik Mayang Sunda anak dari Susuktunggal. Manarah memiliki 7 anak. Niskalawastu mempunyai anak dari Lara Sakarti yang bernama Susuktunggal dan dari Mayangsari bernama Dewaniskala. Hal ini dikarenakan anak Linggabuana (Niskalawastukancana) waktu itu belum dewasa. penguasa Singasari. Kerajaan Galuh serta kerajaan (Bhumi) Mataram (Kalingga Utara). ia memiliki anak bernama Kamarasa atau (Hariang/Arya) Banga. raja Kerajaan Medang. Masa Sunda Galuh sampai Sunda Pajajaran Sunda Galuh terus bertahan dalam perjalanan waktu. Ini gambaran dari keadaan ibukota . Manarah melakukan kudeta terhadap Banga. Sehingga Sanjaya/Mataram mengirimkan pasukan untuk membalas dendam sekaligus membantu Banga. Dalam peperangan tersebut. Pakuan Pajajaran kurang lebih berarti Istana(=Pakwwan) yang berjajar. Keturunan Manarah putus hanya sampai cicit dari Purbasari yang bernama Prabulinggabumi (813 . Linggabuana diberi gelar Prabu Wangi. Adapun istri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa. Akibat pembagian waris tersebut Sunda kembali menjadi dua kerajaan. Pralaya adalah penyerangan besar besaran Wurawuri/Sriwijaya terhadap kerajaan Medang. Singamurti merupakan anak Mahisa Campaka yang berarti cicit dari Ken Arok. Dewa Niskala memiliki anak yang bernama Jaya Dewata (=Sri Baduga Maharaja). namun kesemuanya perempuan. Bekas kerajaan Sunda di berikan kepada Susuktunggal. tidak ada catatan lain yang lebih lanjut untuk menjelaskan keadaan pemerintahannya pada waktu itu. Seyogyanya dia akan digantikan oleh Rakeyan Jayadarma. Sunda diberikan kepada Banga dan Galuh diberikan kepada Manarah. Harya Banga terdesak. Dan akhirnya Ragasuci dinobatkan menjadi raja kerajaan Sunda. Sedangkan selanjutnya dari Pangrenyep. Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 . Dimasa Jaya Dewata inilah Sunda lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Tahta akhirnya turun ke anak perempuannya yang ke-7 yang bernama Purbasari yang bersuamikan Guruminda Sang Ministri. Banga sendiri diyakini sebagai anak hasil hubungan gelap antara Tamperan dan Pangrenyep. hingga pada suatu masa dalam kepemimpinan Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042) raja Sunda ke-20. Mereka memiliki anak yang bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya (Raden Wijaya). Selanjutnya keturunan ke-5 Ragasuci adalah Prabu Linggabuana (1350-1357). Sejak tahun 852. Selanjutnya untuk memperkuat perdamaian. Galuh dan Sunda kembali bersatu dibawah kekuasaan Rakeyan Wuwus dan selanjutnya disebut jaman Sunda Galuh. Sang Manarah setelah menjadi raja mendapat gelar Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana. Sedangkan rakeyan Wuwus merupakan cicit dari Harya Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Diperkirakan sejak saat Prabu Niskalawastu gelar Siliwangi muncul. sedangkan bekas kerajaan Galuh diberikan kepada Dewa Niskala. Manarah dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari adik dari Kencana Wangi. Prabu Linggabuana adalah raja Sunda yang tewas dalam perang Bubat. Ia diberi gelar Prabu Kretabuwana Yasawiguna Aji Mulya. Di negerinya setelah dewasa. Kudeta ini dilakukan dengan sokongan dari Bimaraksa dan bantuan Indraprahasta serta Kuningan. Silih wangi berarti pengganti Prabu Wangi selanjutnya raja-raja penggantinya juga disebut sebagai Siliwangi . Untuk itu Tamperan yang dikenal juga sebagai Rakai Panaraban (saat itu panglima di Galuh) dia panggil pulang dari Galuh ke Sunda untuk diserahi tahta Sunda. Sehingga saat Permana Dikusuma wafat (konon dibunuh atas perintah Tamperan) yang diangkat menjadi raja Galuh adalah Banga. Akibat meninggalnya Jaya Dharma. Saat Jayadewata mewarisi Galuh (1482-1521).

Maulana Hasanuddin sendiri merupaan anak sunan dari istrinya yang bernama Nyai Kawunganten. Rara Santang kemudian memiliki anak yang bernama Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Pernyataan ini ditandai dengan tidak lagi melakukan pengiriman upeti ke Pajajaran. Penerus Geusan Ulun adalah anak tirinya dari Ratu Harisbaya yaitu Rangga Gempol Kusumah Dinata atau Raden Aria Suradiwangsa (1620-1624). Sejak itu tidak ditemukan lagi catatan mengenai keberadaan sang Prabu Surya Kancana. Banten + Cirebon). Ia adalah anak dari Surasowan yang merupakan adik kandung dari Surawisesa. dan statusnya sebagai 'kerajaan' diubahnya menjadi 'kadipaten'. Penerus tahta Jaya Dewata adalah Surawisesa anak dari Kentring Manik Mayang Sunda. dibantu Banten dan Demak. wilayah sisa kerajaan Sunda waktu itu tidak pernah berada dalam administrasi kekuasaan kesultanan Banten. Sedangkan Kian Santang diberikan kekuasaan untuk mengkontrol pelabuhan Cerbon menggantikan kakeknya Ki Gendeng Tapa. Jaya Dewata pun menikah dengan Ambetkasih puteri Ki Gedeng Sindang Kasih juga dengan Subanglarang puteri Ki Gendeng Tapa raja Singapura (daerah sekitar Cirebon). dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang). Pada masanya pula terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan dengan Cirebon. mengutus empat prajurit pilihan (Kandaga Lante) untuk pergi ke Kerajaan Sumedang Larang untuk mencari perlindungan. Sementara itu. kalung bersusun dua dan tiga. Namun secara de facto. Mataram semakin kuat. Tahun 1527 Sunda Kalapa diserang Cirebon dengan tujuan untuk membalas serangan portugis atas Malaka (1511). Pada tahun 1620 M Sumedang Larang tunduk kepada Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung. Prabu Surya Kancana sebelum meninggalkan Pakuan. Kejadian ini pada masa Raja Sunda keturunan Jaya Dewata yang ke-5 yaitu Prabu Surya Kancana/Ragamulya/Nusyamulya (1567-1579). Masa Sumedang Larang sampai Jatuh ke Tangan Belanda Pada saat pemerintahan Sumedang berada di tangan Prabu Geusan Ulun/Angkawijaya. Serangan dipimpin oleh Fatahillah/Tubagus Pasai yang merupakan veteran perang Malaka yang juga menantu Sunan Gunung Jati. Dengan diberikannya pusaka tersebut kepada Prabu Geusan Ulun (1580-1608). Istana Pakuan jatuh ke tangan pasukan koalisi Islam (Demak. Mataram (=Sultan Agung) sedang dalam masa kejayaannya. Dalam masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah. Akhirnya pada 11 Wesaka 1501 tahun Saka (8 Mei 1579) Kerajaan Sunda Pajajaran akhirnya benar-benar runtuh. Dalam perjanjian terakhir. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran. maka dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran telah menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Sumedang Larang. Cirebon menyatakan melepaskan diri dari Pajajaran. kesultanan Banten dikarenakan telah memiliki batu Gigilang serta merupakan keturunan langsung Jaya Dewata dari kakeknya (=Sunan Gunung Jati). Dari Subanglarang ini Jaya Dewata memiliki anak yang bernama Kian/Rakean Santang/Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Rara Santang. tampekan. Selanjutnya Cerbon berkembang dari asalnya kerajaan bawahan menjadi sebuah kesultanan setelah mendapat dukungan Demak. (Tome Pires). Sunan Gunung Jati selaku tetua (keturunan dekat Siliwangi) meminta bagi para penghuni kota pakuan yang tidak mau beragama Islam untuk keluar. Subanglarang adalah murid dari Pondok Pesantren Quro pimpinan Syekh Hasanuddin di Karawang. Serangan menyebabkan Sunda Kelapa jatuh ke Cirebon dan kemudian namanya di ubah menjadi Jayakarta . Peperangan ini berhasil didamaikan oleh Mataram. Sejak masa tersebut perselisihan antara Sunda dan para sultan (Cerbon+Banten) pun semakin membesar. . Pada masa pemerintahan Surawisesa (1521 – 1535) dia membangun kerjasama dengan Portugis. Kerjasama ini dibangun oleh Surawisesa yang saat itu sudah merasa terancam oleh kesultanan Cerbon yang didukung oleh Demak. Sehingga demi kepentingan politik (terutama untuk menghadapi Banten) Sumedang menyatakan bergabung dengan Mataram. Portugis diberi keleluasaan oleh Sunda untuk beroperasi di Sunda Kelapa. Kekuasaan Kian Santang turun kepada menantu sekaligus keponakannya anak dari Rara Santang yang bernama Syarif Hidayatullah. Sehingga kerajaan tersebut dinamai Pakuan Pajajaran dengan lebih singkatnya Pajajaran . Maulana Yusuf mengklaim sebagai pewaris sah atas tahta Pajajaran. siger. Keruntuhan ditandai dengan dibawanya Watu Gigilang/Palangka Sriman Sriwacana batu tempat penobatan raja Sunda ke istana Surosowan Banten. Pada masa Kerajaan Pajajaran sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf anak Maulana Hasanuddin.yang terdiri dari banyak istana yang rapi berjajar. Selain dengan Kentring Manik Mayang Sunda. Selanjutnya anak Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan Banten. Sehingga sampai saat ini masih dipercayai sebagian besar masyarakat Sunda bahwa Prabu Siliwangi (yang terakhir) Ngahyang . Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan. Di masyarakat Sunda peristiwa ini dikenal dengan peristiwa ”Ngahyang”. Pada masa Surya Kancana sudah keluar dari Pakuan (Ngahyang). Hasil perjanjian ini mengakibatkan 40 orang anggota pasukan elit kerajaan sunda keluar dan akhirnya bermukim di Cibeo dan konon menjadi Masyarakat Kanekes (=”Urang Baduy”). Hasil perdamaian menyebabkan Sumedang kehilangan wilayah Majalengka. Sunda runtuh setelah beberapa kali diserang Kesultanan Banten dan Cirebon. Sehingga Banten pun bersitegang dengan Sumedang. Namun Geusan Ulun mendapatkan Ratu Harisbaya (puteri kerabat Mataram) yang menandakan kedekatan dengan Mataram serta kemerdekaan dari Cerbon (akibat kejatuhan Pajajaran). serta perhiasan lainnya seperti benten. Kekhawatiran Surawisesa terbukti. 1524 Cirebon dibantu Demak merebut Banten.

Pemerintahan dikembalikan kepada Rangga Gede. wilayah Priangan sisa kerajaan Sunda yang terakhir diserahkan oleh Mataram kepada Belanda (1677). Cara yang dipakai Mataram untuk membawa beras ke sekitar Batavia sebagai bekal bagi prajurit-prajurit adalah pengiriman seorang utusan yang bernama Warga. Kyai Dipati Mandurareja dan Tumenggung Upasanta tepekur tak mampu menengadahkan wajahnya. menunggu keputusan sakral Harga diri Mataram Tibalah saat Sang Raja mengadili. Kompeni menerima warga dengan baik. konon ia selanjutnya diangkat menjadi orang dalam istana Mataram. Bayangkanlah teriakan-teriakan aba-aba dari Tumenggung Baureksa di akhir tahun 1628 saat harus memimpin anak buahnya bertempur satu lawan satu melawan tentara Kompeni di sela-sela rimbun pohon hutan di luar Batavia. Namun pemberontakan ini dapat dipatahkan dan menyebabkan Dipati Ukur akhirnya dihukum oleh Sultan Agung (1632). Mempermalukan anak-cucu sampai tujuh belas turunan. Parakan Muncang dan Tatar Ukur (Bandung). Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menangkap dan menghukum penjara Dipati Rangga Gede. lalu cucuran darah. Siasat ini kemudian dibocorkan oleh . Pemerintahan Sumedang kemudian diserahkan kepada adiknya. Tahun 1813 Banten sepenuhnya dikuasai Belanda. perhitungan dan kerjasama yang lebih menyeluruh. Dan tahun 1705 Belanda juga berhasil menguasai Cerbon dan Priangan Timur (Galuh) melalui perjanjian dengan Mataram. dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Rintih tertahan saat dada sobek tertombak hukuman Raja. (Disarikan oleh : Firman Raharja . Madura. Keempat kadipaten ini lebih dikenal dengan nama Priangan. Padi itu akan ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan ke Batavia. Hanya bisik titip untuk masa depan anak istri. Karena Rangga Gede/Rangga Gempol II tidak mampu menahan serangan pasukan Banten. Menunggu keputusan Sang Raja. Mereka ksatria. namun terpaksa harus gagal karena kurangnya persiapan. tercenung anak cucu nanti Sunyi sepi mencekam. ia akhirnya melarikan diri. tidak ada lagi perlawanan gagah dari satu kekuasaan resmi pribumi yang mampu menyerang Kompeni dengan demikian frontal-nya. Saat itu wilayah Sunda telah kehilangan kekuasaan atas Cerbon dan Majalengka (Sultan Cerbon). dan lebih dari itu yang terasa adalah hati yang ngilu. Wirabaja (Galuh). Sukapura. Adapun kadipaten lain yang langsung dibawah kontrol Mataram (Amangkurat I) adalah Karawang. nyeri. Banten (Sultan Banten). Sehingga wilayah Sunda kecuali Banten telah berada dalam kontrol Belanda. untuk (pura-pura?. dalam kondisi letih. Mataram gagal! Abad-abad berikutnya hanyalah abad yang penuh dengan hina-dina. Sekacé (Sindangkasih). Disusul tahun 1808 Istana Surosowan Banten jatuh ke tangan Raffless/Belanda (saat itu dibawah Inggris). yang nyawanya belum terpisah dari raga. Sehingga sejak saat itu. Pada tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Mereka datang berkuda membawa bendera. Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1629 M Meskipun Mataram tidak berhasil merebut benteng Batavia dan menundukkan Kompeni pada tahun 1628. Sementara itu orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal. Namun demikian sisa wilayah ini pun sebenarnya tunduk kepada Mataram. Seakan ini adalah perlawanan terbesar yang mampu dikerahkan oleh leluhur kita pada masa itu. perih merasakan kegagalan. Ayah (Dayeuhluhur).171207) PENYERANGAN MATARAM KE BATAVIA Merinding berdiri bulu kuduk saya bila membaca kisah riwayat pertempuran tentara Mataram saat menyerbu benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. segera akan tersusul dengan cucuran air mata Hening yang mencekam. Entah apa yang akan mereka dapat nanti. Jakarta (VOC) dan Galuh (Mataram). Ketika rembulan berdarah terbit Angin yang meniup dari buritan dan membawa pulang ke Mataram adalah angin kematianMati di pertempuran atau mati di alun-alun adalah tidak akan ada beda lagi Segala keletihan dan kepedihan adalah sudah diniati karena keyakinanRaungan perwira nan ksatria adalah juga lolongan pedihnya Duri kekuasaan asing yang menancap di ulu hati tidak tercabut juga Serasa membelah perut sendiri pun akan dilakukan Derasnya keringat yang mengalir hari-hari kemarin. Dengan dihukumnya Dipati Ukur. Pada saat kekuasaan Mataram mulai menurun. Dipati Rangga Gede. panji-panji dan mereka juga membawa gajah. mungkin juga bingung bercampur malu terpaksa harus pulang menghadap Sang Raja-nya. mereka tidak begitu saja menyerah. Banyumas. Serangan tersebut mengalami kegagalan (1628) dan Bahureksa pun tewas. Sampai dengan keluh tertahan tubuh mereka ambruk satu per satu karena jantung tertembus timah panas atau dada terbelah sangkur. Sebagai tanda bakti.Suatu saat Rangga Gempol diperintahkan oleh Sultan Agung untuk memimpin penyerangan ke Sampang. Ini kegagalan yang bersejarah. Keberangkatan mereka dari ibukota Mataram adalah pada bulan Juni. Karena menolak untuk dihukum akibat kekalahan ini. Menyesali dari kegagalan para leluhur yang yang serasa ini adalah fatal karena akan berdampak bagi berabad-abad sesudahnya. tak berlepas diri dari tanggung jawab akan sebuah kegagalan. tak kuasa menolaknya.Mataram gagal! Dan sejak itu. pedih. Mereka yang masih selamat. bukan lagi terpikir nyawa sendiri. Apakah bayangan tentang kekalahan itu tak pernah muncul sebelumnya di benak para prajurit Mataram ini? Mereka harus pulang. yaitu pada tahun 1629 tentara Mataram berangkat lagi menuju Batavia dengan perlengkapan senjata-api. Sehingga sisa wilayah Sunda yang masih dipimpin oleh pewaris tahta yang ”sah” tinggal empat kadipaten yaitu Sumedang. Kawasen. Prajurit-prajurit Mataram bagaikan melolong-lolong. jeung Banjar (Panjer). Mata sembab berkaca-kaca. Tahun berikutnya. Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta).peng. Dipati Ukur memberontak terhadap kekuasaan Mataram.[i] Sebagian pasukan Mataram mencoba mengusir ternak Kompeni akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Kompeni. secara otomatis wilayah kerajaan Sunda telah sepenuhnya dikuasai Belanda. Pada akhir bulan Agustus 1629 penjaga-penjaga Kompeni yang ditempatkan beberapa kilometer di sungai Ciliwung telah melihat barisan depan. Namun sejak saat itu Rangga Gempol tidak pernah kembali ke Sumedang. Dalam masa pemerintahannya Sumedang Larang diserang pasukan Kesultanan Banten.) minta maaf kepada Kompeni mengenai hal yang telah terjadi. Imbanagara. “Kami adalah orang yang gagal”. Air Sungai Marunda pun berubah merah teraliri darah putra-putra pertiwi dari Mataram. melengking pekik mereka ingin merampungkan tugas mulia yang dibebankan oleh Sang Raja untuk mengenyahkan bangsa asing yang ingin menjajah ini.

Oleh sebab itu kapal Inggris yang membawa utusan ini dicegat. Desas-desus bahwa Mataram akan melancarkan suatu serangan lagi terhadap Batavia terdengar oleh Kompeni. Setelah mendapat keterangan ini Kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal. Armada diperkuat dengan pembuatan perahu baru di Jepara. Setelah berusaha untuk menyerang selama kurang lebih 10 hari pada akhir bulan September 1629 mereka mulai menarik diri sambil banyak meninggalkan korban. Mereka mendapat perintah untuk memusnahkan semua perahu-perahu Mataram dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan sepanjang pantai utara Jawa. Pemerintahan Mataram tahun 1641 mengadakan perpindahan penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Barat di daerah Sumedang yang ternyata sangat mengkhawatirkan VOC. di mana perahu-perahu Mataram. awaknya berjumlah 693 orang. untuk melepaskan tawanannya bilamana Sultan meminta kapal Belanda untuk membawa utusan ini. Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. karena tawanan-tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. yang sebenarnya suatu kemungkinan bagi Belanda. sehingga ketika Warga tiba di Batavia untuk kedua kalinya ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita. Dengan perahu-perahu ini mereka membuat perairan antara Banten dan Batavia tidak aman. Antara Tahun 1630-1645 Setelah gagal menduduki Batavia. bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Peristiwa lain adalah ketika VOC merasa bahwa Jambi dan Palembang mengancam keamanan VOC. Dari beberapa tawanan diketahui bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan. Keadaan menjadi tegang ketika Inggris menawarkan membawa seorang utusan Mataram ke Mekah. tidak begitu baik.[ii] Tetapi sementara itu hubungan dengan Mataram diusahakan. Mereka membiarkan menembak benteng hingga persediaan mesiu habis. Mereka sangat berhasil membuat Kompeni pusing dengan serangan-serangan kecil-kecilan yang dilancarkan Mataram terhadap kapalkapal Kompeni setelah perang tahun 1629 M. Oleh sebab itu Kompeni selalu mencari jalan untuk mencoba memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda itu. akan tetapi utusanutusan yang dikirim Kompeni tidak memenuhi syarat Mataram. Benteng Hollandia dapat mereka rusakkan. Sebenarnya perpindahan ini adalah sebagai persiapan terhadap penyerangan terhadap Banten yang tidak mau tunduk kepada Mataram. Meskipun demikian mereka toh mendekati benteng Hollandia dengan mengadakan pendekatan melalui parit-parit. Kompeni mengarahkan perhatiannya terhadap Cirebon. Mataram antara tahun 1630-1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal Kompeni. Pelayaran ke Timur tidak begitu berhasil. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Mataram pun terbuka. Pada hari-hari berikutnya Mataram maju ke Benteng dan pada tanggal 21 September 169 tembakan mulai terhadap benteng VOC. perundingan antara Mataram dan VOC dibuka kembali pada tahun 1630. karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara. Persediaan padi di sini pun habis dibakar oleh VOC. Sementara tembakan-tembakan dilancarkan terhadap benteng Belanda. setelah Tegal mendapat perusakan. dan hal ini memang menyebabkan kelemahan mereka. utusan Mataram dan hadiah untuk ke Mekah ditahan oleh VOC dan dibawa ke Batavia. Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun 1645 tidak mengalami perbaikan. Kota ini juga mendapat gilirannya. rumah-rumah dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis. maka VOC mencegat suatu armada Mataram yang terjadi dari 80 perahu yang sedang menghantar kembali raja Palembang. Harapan akan bantuan ini kemudian hilang.seorang anak buah dari salah satu perahu warga. usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama. akan tetapi di sini mereka gagal. Jan Pieterszoon Coen mendadak meninggal diserang suatu penyakit. Hubungan antara Kompeni dan Mataram setelah tahun 1642. mereka menuju benteng Bommel. Akibat dari dimusnahkannya gudang beras Mataram. . Setelah berhasil. Dengan cepat mereka mengirim armada terdiri dari 8 buah kapal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful