CARITA TANAH PASUNDAN Periode Awal sampai Taruma Nagara Konon menurut wangsakerta, kerajaan pertama di tanah jawa

adalah Salaka Nagara atau Rajatapura (Negeri Perak) dengan pendiri Aki Tirem (=Argyre : Ptolemy). Letaknya di teluk lada Pandeglang sekarang sekitar tahun 150 M. Pemerintahan Salaka Nagara dipimpin oleh raja-raja dengan gelar Dewawarman. Tercatat bahwa gelar Dewawarman diturunkan selama 8 generasi (Dewawarman I - VIII). Diperkirakan kejayaannya hanya sampai tahun 362 M. Selanjutnya penguasaan wilayah Jawa (bag Barat) dilanjutkan oleh Taruma Nagara dan Salaka Nagara pun menjadi kerajaan kecil. Kerajaan Taruma Nagara tercatat dimulai sejak tahun 358 M dengan raja pertama bernama Jayasingawarman. Jayasingawarman berasal dari negeri Salankayana di India. Dia dianggap pendiri kerajaan yang juga merupakan menantu Dewawarman VIII. Pada pemerintahan raja ke-3, cucu Jayasingawarman yaitu Purnawarman (395 – 434), ibukota kerajaan dipindah ke kota baru dengan nama Sundapura (Kota Suci) disekitar muara Ciaruteun. Pada masa Suryawarman (535 - 561 M) yang merupakan cucu Purnawarman, kekuasaan Taruma dilebarkan ke arah timur. Untuk itu dalam tahun 526 M, Manikmaya, menantu Suryawarman dari Tirta Kancana, diberikan kekuasaan untuk mendirikan kerajaan baru di Kendan, sekarang terletak di daerah Nagreg (terletak antara Bandung dan Garut). Selanjutnya cicit Manikmaya yang bernama Wretikandayun (612) memindahkan ibukota Kendan ke kota baru yang diberi nama Galuh (=Permata). Kota tersebut diapit 2 sungai yaitu Citanduy dan Cimuntur. Kota tersebut sekarang bernama Desa Karang Kamulyan di Ciamis. Cerita terus berlanjut dan raja-raja terus silih berganti sampai dengan raja terakhir yaitu Linggawarman raja yang ke-12 ditahun 669 M. Dalam masa penguasaan Taruma telah terdapat 48 kerajaan bawahan diantaranya adalah Salaka Nagara, Galuh, Kendan serta Sunda Sambawa. Dikarenakan tidak memiliki anak laki-laki maka kekuasaan Linggawarman turun kepada menantu pertamanya Tarusbawa. Sebenarnya dia mempunyai 2 anak perempuan yang bernama Manasih dan Sobakancana. Manasih menikah dengan Tarusbawa pewaris kerajaan Sunda Sambawa dan Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri kerajaan Sriwijaya. Tarusbawa merupakan raja yang panjang umur dan berkuasa lama, diperkirakan berkuasa dari 669-723 M. Dia digantikan oleh cucu menantunya yang bernama Rakeyan Jamri atau lebih dikenal dengan Prabu Sanjaya Harisdharma. Adapun sang putera mahkota, anak Tarusbawa meninggal sebelum dinobatkan, menyebabkan Tarusbawa digantikan oleh cucu perempuannya yang bernama Tejakancana yang bersuamikan Sanjaya ini. Sanjaya adalah anak Sanaha adik perempuan dari Bratasena raja Galuh saat itu. Pada masa pemerintahan Tarusbawa, terjadi perselisihan antara 2 menantu Lingawarman. Akibat perselisihan ini Jayanasa/Sriwijaya menyerang Taruma/Tarusbawa (wangsakerta). Akibat serangan itu Taruma melemah, sehingga Tarusbawa kembali ke kerajaan asalnya Sunda Sambawa dengan membawa kekuasaan Taruma. Selanjutnya Taruma Nagara dia ubah namanya menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama Taruma menjadi Sunda dijadikan momen oleh Galuh/Wretikandayun untuk menyatakan lepas dari Sunda/Taruma (670). Dengan alasan merasa sederajat dengan kerajaan Sunda (sama-sama kerajaan bawahan Taruma) atau mungkin merasa berjasa membantu melawan Sriwijaya. Wretikandayun (cicit Manikmaya) mengklaim wilayah kekuasaan Taruma sebelah Timur dari Kali Cipamali sampai kali Citarum. Saat itu Wretikandayun sudah berumur 78 tahun. Sehingga dia sudah mengenal betul kondisi politik Taruma. Klaim Galuh tersebut berlangsung mulus, karena Tarusbawa menghindari terjadinya peperangan. Bahkan saat itu Tarusbawa merupakan sahabat dari Bratasena anak dari Wretikandayun. Sehingga itulah akhir dari cerita Taruma Nagara yang melemah dan menjadi 2 kerajaan dengan sungai citarum sebagai batas. Masa Keemasan Galuh Selanjutnya di Galuh, diceritakan bahwa Wretikandayun yang bergelar Maharaja Suradharma Jayaprakosa setidaknya memiliki 3 anak dari Pohaci Bunga Mangle (Manawati/Candrarasmi) yaitu : Sempakwaja (Jatmika), Jantaka dan Mandiminyak (Amara). Diantara anaknya yang menggantikan dirinya adalah anak bungsunya yang bernama Mandiminyak. Dikarenakan anak tertuanya bernama Sempakwaja dan anak keduanya Jantaka dianggap cacat jasmani. Mandiminyak digantikan oleh anaknya dari Rababu (Parwati?) yang bernama Bratasena (Sena). Namun Sena digulingkan oleh sepupunya, anak dari Sempakwaja yang bernama Purbasora. Purbasora saat itu dibantu oleh raja Indraprahasta dari sekitar daerah Cirebon. Hal ini menyebabkan Sena lari ke Kalingga (sebelum Mataram Kuno) negeri nenek istrinya yaitu Maharani Shima. Sanjaya yang merupakan keponakan Bratasena, melakukan serangan balas dendam ke Purbasora. Serangan ini dia lakukan setelah ia dinobatkan menjadi raja Sunda (723-732 M) Hal ini mengakibatkan keluarga Purbasora dimusnahkan. Sedangkan panglima perangnya yang bernama senopati Bimaraksa (Aki Balangantrang) berhasil melarikan diri ke daerah Geger Sunten. Bimaraksa merupakan anak dari Jantaka (anak kedua Wretikandayun). Dengan Serangan balas dendam ini, Galuh pun dikuasai oleh Sanjaya. Sanjaya tak lama berkuasa di Galuh, untuk menciptakan ketentraman di Galuh, selanjutnya kekuasaan Galuh ia serahkan kepada Permana Dikusuma. Permana merupakan cucu dari Pubasora. Namun sebelumnya, Permana oleh Sanjaya dijodohkan dengan Dewi Pangrenyep anak dari Anggada (Patih Sunda). Dia juga mengangkat anaknya Tamperan sebagai kepala pasukan Galuh. Untuk Demunawan adik Purbasora (anak Sempakwaja dan Wulansari), dia memberikan kekuasaan atas Kuningan dan Galunggung.

Ia diberi gelar Prabu Kretabuwana Yasawiguna Aji Mulya. Perang besar tersebut akhirnya didamaikan oleh Demunawan yang saat itu sudah menjadi Resi. Sehingga Sanjaya/Mataram mengirimkan pasukan untuk membalas dendam sekaligus membantu Banga. Manarah memiliki 7 anak. Selanjutnya untuk memperkuat perdamaian. Sedangkan selanjutnya dari Pangrenyep. Kudeta ini dilakukan dengan sokongan dari Bimaraksa dan bantuan Indraprahasta serta Kuningan. sedangkan bekas kerajaan Galuh diberikan kepada Dewa Niskala. Pralaya adalah penyerangan besar besaran Wurawuri/Sriwijaya terhadap kerajaan Medang. namun kesemuanya perempuan. Silih wangi berarti pengganti Prabu Wangi selanjutnya raja-raja penggantinya juga disebut sebagai Siliwangi . Sehingga saat Permana Dikusuma wafat (konon dibunuh atas perintah Tamperan) yang diangkat menjadi raja Galuh adalah Banga. Adapun istri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa. penguasa Singasari. Dan akhirnya Ragasuci dinobatkan menjadi raja kerajaan Sunda. Susuktunggal pun memberikan tahtanya kepada menantunya tersebut sehingga Sunda Galuh kembali menyatu. Selanjutnya keturunan ke-5 Ragasuci adalah Prabu Linggabuana (1350-1357). Hal ini dikarenakan anak Linggabuana (Niskalawastukancana) waktu itu belum dewasa. Setelah dewasa maka Niskalawastu dinobatkan menjadi raja Sunda. Beliau adalah suami Singamurti (Dyah Lembu Tal). Sehingga saat itu sebenarnya kekuasaan Sanjaya meliputi Kerajan Sunda. Prabu Linggabuana adalah raja Sunda yang tewas dalam perang Bubat. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi peperangan yang besar. Sejak tahun 852. Dalam perdamaian itu Sunda Galuh kembali menjadi terpisah. Kisah ratu Purbasari lebih dikenal di masyarakat dengan cerita pantun Lutung Kasarung. Singamurti merupakan anak Mahisa Campaka yang berarti cicit dari Ken Arok. Banga sendiri diyakini sebagai anak hasil hubungan gelap antara Tamperan dan Pangrenyep. Sang Manarah setelah menjadi raja mendapat gelar Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana. Kedudukan Linggabuana digantikan sementara oleh adiknya Bunisora selaku Pemangku Jabatan. Manarah melakukan kudeta terhadap Banga. Dalam serangan ini Tamperan dan Pengrenyep tewas. Galuh dan Sunda kembali bersatu dibawah kekuasaan Rakeyan Wuwus dan selanjutnya disebut jaman Sunda Galuh. Untuk itu Tamperan yang dikenal juga sebagai Rakai Panaraban (saat itu panglima di Galuh) dia panggil pulang dari Galuh ke Sunda untuk diserahi tahta Sunda. Penerus Sri Jayabupati yang ke-5 adalah Prabu Dharmasiksa. Manarah dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari adik dari Kencana Wangi. Linggabuana diberi gelar Prabu Wangi. Namun selain cerita pantun tersebut. Ragasuci merupakan suami dari Dara Puspa puteri Kerajaan Melayu (Jambi) adik dari Dara Kencana istri Kertanegara. Keturunan Manarah putus hanya sampai cicit dari Purbasari yang bernama Prabulinggabumi (813 . Peristiwa ini menjadi istimewa karena Ia beribu seorang puteri Sriwijaya saudara dari Raja Wurawuri. Sedangkan rakeyan Wuwus merupakan cicit dari Harya Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). dan juga merupakan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Kerajaan Galuh serta kerajaan (Bhumi) Mataram (Kalingga Utara). Niskalawastu mempunyai anak dari Lara Sakarti yang bernama Susuktunggal dan dari Mayangsari bernama Dewaniskala. Akibat meninggalnya Jaya Dharma. Permana sudah memiliki anak dari Naganingrum (anak dari Bimaraksa) yang bernama Surotama atau Manarah atau lebih dikenal dengan Ciung Wanara. Ini gambaran dari keadaan ibukota . Sebagai penghargaan atas keberaniannya melawan Majapahit saat itu. Sanjaya juga mewarisi Mataram/Kalingga dari ayahnya yang mengakibatkan ia melepaskan tahta kekuasaan di Sunda kepada anaknya Tamperan. Dalam peperangan tersebut. Sebelum dijodohkan dengan Pangrenyep. Namun sang putera mahkota Jaya Dharma meninggal sebelum dinobatkan. Di negerinya setelah dewasa. Masa Sunda Galuh sampai Sunda Pajajaran Sunda Galuh terus bertahan dalam perjalanan waktu. tidak ada catatan lain yang lebih lanjut untuk menjelaskan keadaan pemerintahannya pada waktu itu. Seyogyanya dia akan digantikan oleh Rakeyan Jayadarma. Kedua anaknya masing-masing diwarisi bagian kerajaan. hingga pada suatu masa dalam kepemimpinan Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042) raja Sunda ke-20. Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Dewa Niskala memiliki anak yang bernama Jaya Dewata (=Sri Baduga Maharaja).891). Beliau memindahkan ibukota dari kawali (Galuh) ke Pakuan. Harya Banga terdesak.Tahun 732 M. ia memiliki anak bernama Kamarasa atau (Hariang/Arya) Banga. Saat Jayadewata mewarisi Galuh (1482-1521). Akibat pembagian waris tersebut Sunda kembali menjadi dua kerajaan. Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 . Jaya Dewata dinikahkan dengan Kentring Manik Mayang Sunda anak dari Susuktunggal. Singamurti kembali ke negerinya bersama Raden Wijaya. Mereka memiliki anak yang bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya (Raden Wijaya). Kedudukan putera mahkota Jayadarma akhirnya digantikan oleh adiknya yang bernama Ragasuci (1297-1303). terjadi kejadian yang disebut Pralaya. Sebutan Pajajaran sendiri merupakan kependekan dari Pakuan Pajajaran. Bekas kerajaan Sunda di berikan kepada Susuktunggal. Tahta akhirnya turun ke anak perempuannya yang ke-7 yang bernama Purbasari yang bersuamikan Guruminda Sang Ministri. Saat diadakan pesta sabung ayam di Galuh yang dihadiri juga oleh Tamperan yang saat itu sudah menjadi raja Sunda. raja Kerajaan Medang. Diperkirakan sejak saat Prabu Niskalawastu gelar Siliwangi muncul. Dimasa Jaya Dewata inilah Sunda lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Manarah dan Banga dijodohkan dengan cicit Demunawan. Pakuan Pajajaran kurang lebih berarti Istana(=Pakwwan) yang berjajar. Sunda diberikan kepada Banga dan Galuh diberikan kepada Manarah.852).

dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang). Pada masa Kerajaan Pajajaran sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf anak Maulana Hasanuddin. Tahun 1527 Sunda Kalapa diserang Cirebon dengan tujuan untuk membalas serangan portugis atas Malaka (1511). Sehingga kerajaan tersebut dinamai Pakuan Pajajaran dengan lebih singkatnya Pajajaran . Sehingga demi kepentingan politik (terutama untuk menghadapi Banten) Sumedang menyatakan bergabung dengan Mataram. Dalam masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah. Hasil perjanjian ini mengakibatkan 40 orang anggota pasukan elit kerajaan sunda keluar dan akhirnya bermukim di Cibeo dan konon menjadi Masyarakat Kanekes (=”Urang Baduy”). Peperangan ini berhasil didamaikan oleh Mataram. Selanjutnya Cerbon berkembang dari asalnya kerajaan bawahan menjadi sebuah kesultanan setelah mendapat dukungan Demak. Pada masanya pula terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan dengan Cirebon. Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan. Maulana Yusuf mengklaim sebagai pewaris sah atas tahta Pajajaran. Namun secara de facto. serta perhiasan lainnya seperti benten. Di masyarakat Sunda peristiwa ini dikenal dengan peristiwa ”Ngahyang”. Serangan menyebabkan Sunda Kelapa jatuh ke Cirebon dan kemudian namanya di ubah menjadi Jayakarta . Sunda runtuh setelah beberapa kali diserang Kesultanan Banten dan Cirebon. . Kerjasama ini dibangun oleh Surawisesa yang saat itu sudah merasa terancam oleh kesultanan Cerbon yang didukung oleh Demak. Maulana Hasanuddin sendiri merupaan anak sunan dari istrinya yang bernama Nyai Kawunganten. Pada masa Surya Kancana sudah keluar dari Pakuan (Ngahyang). Penerus tahta Jaya Dewata adalah Surawisesa anak dari Kentring Manik Mayang Sunda. Dengan diberikannya pusaka tersebut kepada Prabu Geusan Ulun (1580-1608). Pada tahun 1620 M Sumedang Larang tunduk kepada Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung. kalung bersusun dua dan tiga. Portugis diberi keleluasaan oleh Sunda untuk beroperasi di Sunda Kelapa. 1524 Cirebon dibantu Demak merebut Banten. Kekuasaan Kian Santang turun kepada menantu sekaligus keponakannya anak dari Rara Santang yang bernama Syarif Hidayatullah. Penerus Geusan Ulun adalah anak tirinya dari Ratu Harisbaya yaitu Rangga Gempol Kusumah Dinata atau Raden Aria Suradiwangsa (1620-1624).yang terdiri dari banyak istana yang rapi berjajar. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran. dibantu Banten dan Demak. Sehingga sampai saat ini masih dipercayai sebagian besar masyarakat Sunda bahwa Prabu Siliwangi (yang terakhir) Ngahyang . siger. Serangan dipimpin oleh Fatahillah/Tubagus Pasai yang merupakan veteran perang Malaka yang juga menantu Sunan Gunung Jati. Mataram semakin kuat. Sunan Gunung Jati selaku tetua (keturunan dekat Siliwangi) meminta bagi para penghuni kota pakuan yang tidak mau beragama Islam untuk keluar. Selain dengan Kentring Manik Mayang Sunda. mengutus empat prajurit pilihan (Kandaga Lante) untuk pergi ke Kerajaan Sumedang Larang untuk mencari perlindungan. Banten + Cirebon). Selanjutnya anak Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan Banten. Rara Santang kemudian memiliki anak yang bernama Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Istana Pakuan jatuh ke tangan pasukan koalisi Islam (Demak. Jaya Dewata pun menikah dengan Ambetkasih puteri Ki Gedeng Sindang Kasih juga dengan Subanglarang puteri Ki Gendeng Tapa raja Singapura (daerah sekitar Cirebon). wilayah sisa kerajaan Sunda waktu itu tidak pernah berada dalam administrasi kekuasaan kesultanan Banten. Prabu Surya Kancana sebelum meninggalkan Pakuan. Kejadian ini pada masa Raja Sunda keturunan Jaya Dewata yang ke-5 yaitu Prabu Surya Kancana/Ragamulya/Nusyamulya (1567-1579). Dalam perjanjian terakhir. Dari Subanglarang ini Jaya Dewata memiliki anak yang bernama Kian/Rakean Santang/Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Rara Santang. Kekhawatiran Surawisesa terbukti. maka dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran telah menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Sumedang Larang. kesultanan Banten dikarenakan telah memiliki batu Gigilang serta merupakan keturunan langsung Jaya Dewata dari kakeknya (=Sunan Gunung Jati). Mataram (=Sultan Agung) sedang dalam masa kejayaannya. Subanglarang adalah murid dari Pondok Pesantren Quro pimpinan Syekh Hasanuddin di Karawang. Sementara itu. Pada masa pemerintahan Surawisesa (1521 – 1535) dia membangun kerjasama dengan Portugis. Masa Sumedang Larang sampai Jatuh ke Tangan Belanda Pada saat pemerintahan Sumedang berada di tangan Prabu Geusan Ulun/Angkawijaya. Sejak itu tidak ditemukan lagi catatan mengenai keberadaan sang Prabu Surya Kancana. Sedangkan Kian Santang diberikan kekuasaan untuk mengkontrol pelabuhan Cerbon menggantikan kakeknya Ki Gendeng Tapa. tampekan. Akhirnya pada 11 Wesaka 1501 tahun Saka (8 Mei 1579) Kerajaan Sunda Pajajaran akhirnya benar-benar runtuh. Namun Geusan Ulun mendapatkan Ratu Harisbaya (puteri kerabat Mataram) yang menandakan kedekatan dengan Mataram serta kemerdekaan dari Cerbon (akibat kejatuhan Pajajaran). Sehingga Banten pun bersitegang dengan Sumedang. (Tome Pires). Ia adalah anak dari Surasowan yang merupakan adik kandung dari Surawisesa. Keruntuhan ditandai dengan dibawanya Watu Gigilang/Palangka Sriman Sriwacana batu tempat penobatan raja Sunda ke istana Surosowan Banten. Cirebon menyatakan melepaskan diri dari Pajajaran. Pernyataan ini ditandai dengan tidak lagi melakukan pengiriman upeti ke Pajajaran. dan statusnya sebagai 'kerajaan' diubahnya menjadi 'kadipaten'. Sejak masa tersebut perselisihan antara Sunda dan para sultan (Cerbon+Banten) pun semakin membesar. Hasil perdamaian menyebabkan Sumedang kehilangan wilayah Majalengka.

Sehingga wilayah Sunda kecuali Banten telah berada dalam kontrol Belanda. Dengan dihukumnya Dipati Ukur. Dalam masa pemerintahannya Sumedang Larang diserang pasukan Kesultanan Banten. untuk (pura-pura?. dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Serangan tersebut mengalami kegagalan (1628) dan Bahureksa pun tewas. Sukapura. Keberangkatan mereka dari ibukota Mataram adalah pada bulan Juni. Sampai dengan keluh tertahan tubuh mereka ambruk satu per satu karena jantung tertembus timah panas atau dada terbelah sangkur. Jakarta (VOC) dan Galuh (Mataram).) minta maaf kepada Kompeni mengenai hal yang telah terjadi. panji-panji dan mereka juga membawa gajah. Siasat ini kemudian dibocorkan oleh . Sehingga sejak saat itu.peng. Dipati Rangga Gede. (Disarikan oleh : Firman Raharja . Tahun 1813 Banten sepenuhnya dikuasai Belanda. tak berlepas diri dari tanggung jawab akan sebuah kegagalan. Mereka yang masih selamat. segera akan tersusul dengan cucuran air mata Hening yang mencekam. Menyesali dari kegagalan para leluhur yang yang serasa ini adalah fatal karena akan berdampak bagi berabad-abad sesudahnya. Mereka datang berkuda membawa bendera. secara otomatis wilayah kerajaan Sunda telah sepenuhnya dikuasai Belanda. Apakah bayangan tentang kekalahan itu tak pernah muncul sebelumnya di benak para prajurit Mataram ini? Mereka harus pulang. Saat itu wilayah Sunda telah kehilangan kekuasaan atas Cerbon dan Majalengka (Sultan Cerbon). tak kuasa menolaknya. Ayah (Dayeuhluhur). Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta). Banten (Sultan Banten). Dan tahun 1705 Belanda juga berhasil menguasai Cerbon dan Priangan Timur (Galuh) melalui perjanjian dengan Mataram. Sebagai tanda bakti. Kyai Dipati Mandurareja dan Tumenggung Upasanta tepekur tak mampu menengadahkan wajahnya. namun terpaksa harus gagal karena kurangnya persiapan. Disusul tahun 1808 Istana Surosowan Banten jatuh ke tangan Raffless/Belanda (saat itu dibawah Inggris). wilayah Priangan sisa kerajaan Sunda yang terakhir diserahkan oleh Mataram kepada Belanda (1677). Bayangkanlah teriakan-teriakan aba-aba dari Tumenggung Baureksa di akhir tahun 1628 saat harus memimpin anak buahnya bertempur satu lawan satu melawan tentara Kompeni di sela-sela rimbun pohon hutan di luar Batavia. Karena menolak untuk dihukum akibat kekalahan ini. menunggu keputusan sakral Harga diri Mataram Tibalah saat Sang Raja mengadili. Pemerintahan dikembalikan kepada Rangga Gede. tercenung anak cucu nanti Sunyi sepi mencekam. Pemerintahan Sumedang kemudian diserahkan kepada adiknya.[i] Sebagian pasukan Mataram mencoba mengusir ternak Kompeni akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Kompeni. Hanya bisik titip untuk masa depan anak istri.Suatu saat Rangga Gempol diperintahkan oleh Sultan Agung untuk memimpin penyerangan ke Sampang. nyeri. Dipati Ukur memberontak terhadap kekuasaan Mataram. Imbanagara. Rintih tertahan saat dada sobek tertombak hukuman Raja. dalam kondisi letih. Kawasen. Mempermalukan anak-cucu sampai tujuh belas turunan. lalu cucuran darah. ia akhirnya melarikan diri. yaitu pada tahun 1629 tentara Mataram berangkat lagi menuju Batavia dengan perlengkapan senjata-api. melengking pekik mereka ingin merampungkan tugas mulia yang dibebankan oleh Sang Raja untuk mengenyahkan bangsa asing yang ingin menjajah ini. bukan lagi terpikir nyawa sendiri. Prajurit-prajurit Mataram bagaikan melolong-lolong. Namun sejak saat itu Rangga Gempol tidak pernah kembali ke Sumedang. perih merasakan kegagalan. Pada saat kekuasaan Mataram mulai menurun.Mataram gagal! Dan sejak itu. perhitungan dan kerjasama yang lebih menyeluruh. konon ia selanjutnya diangkat menjadi orang dalam istana Mataram. mungkin juga bingung bercampur malu terpaksa harus pulang menghadap Sang Raja-nya. Pada akhir bulan Agustus 1629 penjaga-penjaga Kompeni yang ditempatkan beberapa kilometer di sungai Ciliwung telah melihat barisan depan. Madura. Sekacé (Sindangkasih). Sehingga sisa wilayah Sunda yang masih dipimpin oleh pewaris tahta yang ”sah” tinggal empat kadipaten yaitu Sumedang. Padi itu akan ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan ke Batavia. Cara yang dipakai Mataram untuk membawa beras ke sekitar Batavia sebagai bekal bagi prajurit-prajurit adalah pengiriman seorang utusan yang bernama Warga. Parakan Muncang dan Tatar Ukur (Bandung). Air Sungai Marunda pun berubah merah teraliri darah putra-putra pertiwi dari Mataram. Sementara itu orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal. Banyumas. Pada tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Ini kegagalan yang bersejarah. dan lebih dari itu yang terasa adalah hati yang ngilu. Seakan ini adalah perlawanan terbesar yang mampu dikerahkan oleh leluhur kita pada masa itu. Kompeni menerima warga dengan baik. Keempat kadipaten ini lebih dikenal dengan nama Priangan. Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1629 M Meskipun Mataram tidak berhasil merebut benteng Batavia dan menundukkan Kompeni pada tahun 1628. Menunggu keputusan Sang Raja. mereka tidak begitu saja menyerah. tidak ada lagi perlawanan gagah dari satu kekuasaan resmi pribumi yang mampu menyerang Kompeni dengan demikian frontal-nya. jeung Banjar (Panjer). Karena Rangga Gede/Rangga Gempol II tidak mampu menahan serangan pasukan Banten. Ketika rembulan berdarah terbit Angin yang meniup dari buritan dan membawa pulang ke Mataram adalah angin kematianMati di pertempuran atau mati di alun-alun adalah tidak akan ada beda lagi Segala keletihan dan kepedihan adalah sudah diniati karena keyakinanRaungan perwira nan ksatria adalah juga lolongan pedihnya Duri kekuasaan asing yang menancap di ulu hati tidak tercabut juga Serasa membelah perut sendiri pun akan dilakukan Derasnya keringat yang mengalir hari-hari kemarin. Mataram gagal! Abad-abad berikutnya hanyalah abad yang penuh dengan hina-dina. yang nyawanya belum terpisah dari raga. Entah apa yang akan mereka dapat nanti. Namun pemberontakan ini dapat dipatahkan dan menyebabkan Dipati Ukur akhirnya dihukum oleh Sultan Agung (1632). Mata sembab berkaca-kaca. Wirabaja (Galuh).171207) PENYERANGAN MATARAM KE BATAVIA Merinding berdiri bulu kuduk saya bila membaca kisah riwayat pertempuran tentara Mataram saat menyerbu benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Tahun berikutnya. Mereka ksatria. pedih. Adapun kadipaten lain yang langsung dibawah kontrol Mataram (Amangkurat I) adalah Karawang. Namun demikian sisa wilayah ini pun sebenarnya tunduk kepada Mataram. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menangkap dan menghukum penjara Dipati Rangga Gede. “Kami adalah orang yang gagal”.

Setelah berhasil. Armada diperkuat dengan pembuatan perahu baru di Jepara. Persediaan padi di sini pun habis dibakar oleh VOC. yang sebenarnya suatu kemungkinan bagi Belanda. Kota ini juga mendapat gilirannya. akan tetapi utusanutusan yang dikirim Kompeni tidak memenuhi syarat Mataram. Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. maka VOC mencegat suatu armada Mataram yang terjadi dari 80 perahu yang sedang menghantar kembali raja Palembang. setelah Tegal mendapat perusakan. dan hal ini memang menyebabkan kelemahan mereka. Dengan cepat mereka mengirim armada terdiri dari 8 buah kapal. Sementara tembakan-tembakan dilancarkan terhadap benteng Belanda. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Mataram pun terbuka. utusan Mataram dan hadiah untuk ke Mekah ditahan oleh VOC dan dibawa ke Batavia. akan tetapi di sini mereka gagal. Desas-desus bahwa Mataram akan melancarkan suatu serangan lagi terhadap Batavia terdengar oleh Kompeni. Benteng Hollandia dapat mereka rusakkan. Meskipun demikian mereka toh mendekati benteng Hollandia dengan mengadakan pendekatan melalui parit-parit. bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Harapan akan bantuan ini kemudian hilang. Setelah mendapat keterangan ini Kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal. Mereka sangat berhasil membuat Kompeni pusing dengan serangan-serangan kecil-kecilan yang dilancarkan Mataram terhadap kapalkapal Kompeni setelah perang tahun 1629 M. rumah-rumah dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis. karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara. Pemerintahan Mataram tahun 1641 mengadakan perpindahan penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Barat di daerah Sumedang yang ternyata sangat mengkhawatirkan VOC. Setelah berusaha untuk menyerang selama kurang lebih 10 hari pada akhir bulan September 1629 mereka mulai menarik diri sambil banyak meninggalkan korban. di mana perahu-perahu Mataram. Mereka mendapat perintah untuk memusnahkan semua perahu-perahu Mataram dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan sepanjang pantai utara Jawa. Keadaan menjadi tegang ketika Inggris menawarkan membawa seorang utusan Mataram ke Mekah. Oleh sebab itu Kompeni selalu mencari jalan untuk mencoba memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda itu. perundingan antara Mataram dan VOC dibuka kembali pada tahun 1630. Jan Pieterszoon Coen mendadak meninggal diserang suatu penyakit. Antara Tahun 1630-1645 Setelah gagal menduduki Batavia. Pelayaran ke Timur tidak begitu berhasil. Akibat dari dimusnahkannya gudang beras Mataram. Sebenarnya perpindahan ini adalah sebagai persiapan terhadap penyerangan terhadap Banten yang tidak mau tunduk kepada Mataram. Hubungan antara Kompeni dan Mataram setelah tahun 1642. Kompeni mengarahkan perhatiannya terhadap Cirebon. sehingga ketika Warga tiba di Batavia untuk kedua kalinya ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita.[ii] Tetapi sementara itu hubungan dengan Mataram diusahakan. Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun 1645 tidak mengalami perbaikan. Oleh sebab itu kapal Inggris yang membawa utusan ini dicegat. mereka menuju benteng Bommel. tidak begitu baik. Mereka membiarkan menembak benteng hingga persediaan mesiu habis. karena tawanan-tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. Mataram antara tahun 1630-1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal Kompeni. Dengan perahu-perahu ini mereka membuat perairan antara Banten dan Batavia tidak aman. Peristiwa lain adalah ketika VOC merasa bahwa Jambi dan Palembang mengancam keamanan VOC. untuk melepaskan tawanannya bilamana Sultan meminta kapal Belanda untuk membawa utusan ini. . usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama. Pada hari-hari berikutnya Mataram maju ke Benteng dan pada tanggal 21 September 169 tembakan mulai terhadap benteng VOC. awaknya berjumlah 693 orang. Dari beberapa tawanan diketahui bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan.seorang anak buah dari salah satu perahu warga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful