P. 1
CARITA TANAH PASUNDAN

CARITA TANAH PASUNDAN

|Views: 47|Likes:
Dipublikasikan oleh Aria Nugraha

More info:

Published by: Aria Nugraha on May 28, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2012

pdf

text

original

CARITA TANAH PASUNDAN Periode Awal sampai Taruma Nagara Konon menurut wangsakerta, kerajaan pertama di tanah jawa

adalah Salaka Nagara atau Rajatapura (Negeri Perak) dengan pendiri Aki Tirem (=Argyre : Ptolemy). Letaknya di teluk lada Pandeglang sekarang sekitar tahun 150 M. Pemerintahan Salaka Nagara dipimpin oleh raja-raja dengan gelar Dewawarman. Tercatat bahwa gelar Dewawarman diturunkan selama 8 generasi (Dewawarman I - VIII). Diperkirakan kejayaannya hanya sampai tahun 362 M. Selanjutnya penguasaan wilayah Jawa (bag Barat) dilanjutkan oleh Taruma Nagara dan Salaka Nagara pun menjadi kerajaan kecil. Kerajaan Taruma Nagara tercatat dimulai sejak tahun 358 M dengan raja pertama bernama Jayasingawarman. Jayasingawarman berasal dari negeri Salankayana di India. Dia dianggap pendiri kerajaan yang juga merupakan menantu Dewawarman VIII. Pada pemerintahan raja ke-3, cucu Jayasingawarman yaitu Purnawarman (395 – 434), ibukota kerajaan dipindah ke kota baru dengan nama Sundapura (Kota Suci) disekitar muara Ciaruteun. Pada masa Suryawarman (535 - 561 M) yang merupakan cucu Purnawarman, kekuasaan Taruma dilebarkan ke arah timur. Untuk itu dalam tahun 526 M, Manikmaya, menantu Suryawarman dari Tirta Kancana, diberikan kekuasaan untuk mendirikan kerajaan baru di Kendan, sekarang terletak di daerah Nagreg (terletak antara Bandung dan Garut). Selanjutnya cicit Manikmaya yang bernama Wretikandayun (612) memindahkan ibukota Kendan ke kota baru yang diberi nama Galuh (=Permata). Kota tersebut diapit 2 sungai yaitu Citanduy dan Cimuntur. Kota tersebut sekarang bernama Desa Karang Kamulyan di Ciamis. Cerita terus berlanjut dan raja-raja terus silih berganti sampai dengan raja terakhir yaitu Linggawarman raja yang ke-12 ditahun 669 M. Dalam masa penguasaan Taruma telah terdapat 48 kerajaan bawahan diantaranya adalah Salaka Nagara, Galuh, Kendan serta Sunda Sambawa. Dikarenakan tidak memiliki anak laki-laki maka kekuasaan Linggawarman turun kepada menantu pertamanya Tarusbawa. Sebenarnya dia mempunyai 2 anak perempuan yang bernama Manasih dan Sobakancana. Manasih menikah dengan Tarusbawa pewaris kerajaan Sunda Sambawa dan Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri kerajaan Sriwijaya. Tarusbawa merupakan raja yang panjang umur dan berkuasa lama, diperkirakan berkuasa dari 669-723 M. Dia digantikan oleh cucu menantunya yang bernama Rakeyan Jamri atau lebih dikenal dengan Prabu Sanjaya Harisdharma. Adapun sang putera mahkota, anak Tarusbawa meninggal sebelum dinobatkan, menyebabkan Tarusbawa digantikan oleh cucu perempuannya yang bernama Tejakancana yang bersuamikan Sanjaya ini. Sanjaya adalah anak Sanaha adik perempuan dari Bratasena raja Galuh saat itu. Pada masa pemerintahan Tarusbawa, terjadi perselisihan antara 2 menantu Lingawarman. Akibat perselisihan ini Jayanasa/Sriwijaya menyerang Taruma/Tarusbawa (wangsakerta). Akibat serangan itu Taruma melemah, sehingga Tarusbawa kembali ke kerajaan asalnya Sunda Sambawa dengan membawa kekuasaan Taruma. Selanjutnya Taruma Nagara dia ubah namanya menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama Taruma menjadi Sunda dijadikan momen oleh Galuh/Wretikandayun untuk menyatakan lepas dari Sunda/Taruma (670). Dengan alasan merasa sederajat dengan kerajaan Sunda (sama-sama kerajaan bawahan Taruma) atau mungkin merasa berjasa membantu melawan Sriwijaya. Wretikandayun (cicit Manikmaya) mengklaim wilayah kekuasaan Taruma sebelah Timur dari Kali Cipamali sampai kali Citarum. Saat itu Wretikandayun sudah berumur 78 tahun. Sehingga dia sudah mengenal betul kondisi politik Taruma. Klaim Galuh tersebut berlangsung mulus, karena Tarusbawa menghindari terjadinya peperangan. Bahkan saat itu Tarusbawa merupakan sahabat dari Bratasena anak dari Wretikandayun. Sehingga itulah akhir dari cerita Taruma Nagara yang melemah dan menjadi 2 kerajaan dengan sungai citarum sebagai batas. Masa Keemasan Galuh Selanjutnya di Galuh, diceritakan bahwa Wretikandayun yang bergelar Maharaja Suradharma Jayaprakosa setidaknya memiliki 3 anak dari Pohaci Bunga Mangle (Manawati/Candrarasmi) yaitu : Sempakwaja (Jatmika), Jantaka dan Mandiminyak (Amara). Diantara anaknya yang menggantikan dirinya adalah anak bungsunya yang bernama Mandiminyak. Dikarenakan anak tertuanya bernama Sempakwaja dan anak keduanya Jantaka dianggap cacat jasmani. Mandiminyak digantikan oleh anaknya dari Rababu (Parwati?) yang bernama Bratasena (Sena). Namun Sena digulingkan oleh sepupunya, anak dari Sempakwaja yang bernama Purbasora. Purbasora saat itu dibantu oleh raja Indraprahasta dari sekitar daerah Cirebon. Hal ini menyebabkan Sena lari ke Kalingga (sebelum Mataram Kuno) negeri nenek istrinya yaitu Maharani Shima. Sanjaya yang merupakan keponakan Bratasena, melakukan serangan balas dendam ke Purbasora. Serangan ini dia lakukan setelah ia dinobatkan menjadi raja Sunda (723-732 M) Hal ini mengakibatkan keluarga Purbasora dimusnahkan. Sedangkan panglima perangnya yang bernama senopati Bimaraksa (Aki Balangantrang) berhasil melarikan diri ke daerah Geger Sunten. Bimaraksa merupakan anak dari Jantaka (anak kedua Wretikandayun). Dengan Serangan balas dendam ini, Galuh pun dikuasai oleh Sanjaya. Sanjaya tak lama berkuasa di Galuh, untuk menciptakan ketentraman di Galuh, selanjutnya kekuasaan Galuh ia serahkan kepada Permana Dikusuma. Permana merupakan cucu dari Pubasora. Namun sebelumnya, Permana oleh Sanjaya dijodohkan dengan Dewi Pangrenyep anak dari Anggada (Patih Sunda). Dia juga mengangkat anaknya Tamperan sebagai kepala pasukan Galuh. Untuk Demunawan adik Purbasora (anak Sempakwaja dan Wulansari), dia memberikan kekuasaan atas Kuningan dan Galunggung.

Diperkirakan sejak saat Prabu Niskalawastu gelar Siliwangi muncul. Sebelum dijodohkan dengan Pangrenyep. Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Sehingga saat itu sebenarnya kekuasaan Sanjaya meliputi Kerajan Sunda. Kerajaan Galuh serta kerajaan (Bhumi) Mataram (Kalingga Utara). Kedudukan Linggabuana digantikan sementara oleh adiknya Bunisora selaku Pemangku Jabatan. Beliau adalah suami Singamurti (Dyah Lembu Tal). Ini gambaran dari keadaan ibukota . Ia diberi gelar Prabu Kretabuwana Yasawiguna Aji Mulya. Sanjaya juga mewarisi Mataram/Kalingga dari ayahnya yang mengakibatkan ia melepaskan tahta kekuasaan di Sunda kepada anaknya Tamperan. Saat Jayadewata mewarisi Galuh (1482-1521). Akibat meninggalnya Jaya Dharma. Singamurti kembali ke negerinya bersama Raden Wijaya. Kedudukan putera mahkota Jayadarma akhirnya digantikan oleh adiknya yang bernama Ragasuci (1297-1303). Sedangkan rakeyan Wuwus merupakan cicit dari Harya Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Pralaya adalah penyerangan besar besaran Wurawuri/Sriwijaya terhadap kerajaan Medang. Namun selain cerita pantun tersebut. Sehingga saat Permana Dikusuma wafat (konon dibunuh atas perintah Tamperan) yang diangkat menjadi raja Galuh adalah Banga. Ragasuci merupakan suami dari Dara Puspa puteri Kerajaan Melayu (Jambi) adik dari Dara Kencana istri Kertanegara. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi peperangan yang besar. Seyogyanya dia akan digantikan oleh Rakeyan Jayadarma. Dalam serangan ini Tamperan dan Pengrenyep tewas. Sehingga Sanjaya/Mataram mengirimkan pasukan untuk membalas dendam sekaligus membantu Banga. tidak ada catatan lain yang lebih lanjut untuk menjelaskan keadaan pemerintahannya pada waktu itu. Kudeta ini dilakukan dengan sokongan dari Bimaraksa dan bantuan Indraprahasta serta Kuningan. Manarah dan Banga dijodohkan dengan cicit Demunawan. Selanjutnya untuk memperkuat perdamaian. Sebagai penghargaan atas keberaniannya melawan Majapahit saat itu. Kisah ratu Purbasari lebih dikenal di masyarakat dengan cerita pantun Lutung Kasarung. Dan akhirnya Ragasuci dinobatkan menjadi raja kerajaan Sunda. ia memiliki anak bernama Kamarasa atau (Hariang/Arya) Banga. Dalam perdamaian itu Sunda Galuh kembali menjadi terpisah. sedangkan bekas kerajaan Galuh diberikan kepada Dewa Niskala. hingga pada suatu masa dalam kepemimpinan Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042) raja Sunda ke-20. Selanjutnya keturunan ke-5 Ragasuci adalah Prabu Linggabuana (1350-1357). Masa Sunda Galuh sampai Sunda Pajajaran Sunda Galuh terus bertahan dalam perjalanan waktu. Jaya Dewata dinikahkan dengan Kentring Manik Mayang Sunda anak dari Susuktunggal.Tahun 732 M. Perang besar tersebut akhirnya didamaikan oleh Demunawan yang saat itu sudah menjadi Resi. Akibat pembagian waris tersebut Sunda kembali menjadi dua kerajaan. Susuktunggal pun memberikan tahtanya kepada menantunya tersebut sehingga Sunda Galuh kembali menyatu. Sunda diberikan kepada Banga dan Galuh diberikan kepada Manarah. penguasa Singasari. Hal ini dikarenakan anak Linggabuana (Niskalawastukancana) waktu itu belum dewasa. Sedangkan selanjutnya dari Pangrenyep. Sang Manarah setelah menjadi raja mendapat gelar Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana. Setelah dewasa maka Niskalawastu dinobatkan menjadi raja Sunda. Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 . Harya Banga terdesak. Banga sendiri diyakini sebagai anak hasil hubungan gelap antara Tamperan dan Pangrenyep. Dalam peperangan tersebut. Sejak tahun 852. Dewa Niskala memiliki anak yang bernama Jaya Dewata (=Sri Baduga Maharaja). Manarah dengan Kancanawangi dan Banga dengan Kancanasari adik dari Kencana Wangi. Galuh dan Sunda kembali bersatu dibawah kekuasaan Rakeyan Wuwus dan selanjutnya disebut jaman Sunda Galuh. Manarah melakukan kudeta terhadap Banga. Manarah memiliki 7 anak. raja Kerajaan Medang. Di negerinya setelah dewasa. Mereka memiliki anak yang bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya (Raden Wijaya). Dimasa Jaya Dewata inilah Sunda lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Bekas kerajaan Sunda di berikan kepada Susuktunggal. Peristiwa ini menjadi istimewa karena Ia beribu seorang puteri Sriwijaya saudara dari Raja Wurawuri. Pakuan Pajajaran kurang lebih berarti Istana(=Pakwwan) yang berjajar. Tahta akhirnya turun ke anak perempuannya yang ke-7 yang bernama Purbasari yang bersuamikan Guruminda Sang Ministri. namun kesemuanya perempuan. Adapun istri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa. dan juga merupakan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Niskalawastu mempunyai anak dari Lara Sakarti yang bernama Susuktunggal dan dari Mayangsari bernama Dewaniskala. Penerus Sri Jayabupati yang ke-5 adalah Prabu Dharmasiksa. Saat diadakan pesta sabung ayam di Galuh yang dihadiri juga oleh Tamperan yang saat itu sudah menjadi raja Sunda. Linggabuana diberi gelar Prabu Wangi. Sebutan Pajajaran sendiri merupakan kependekan dari Pakuan Pajajaran. terjadi kejadian yang disebut Pralaya. Singamurti merupakan anak Mahisa Campaka yang berarti cicit dari Ken Arok.852). Untuk itu Tamperan yang dikenal juga sebagai Rakai Panaraban (saat itu panglima di Galuh) dia panggil pulang dari Galuh ke Sunda untuk diserahi tahta Sunda. Namun sang putera mahkota Jaya Dharma meninggal sebelum dinobatkan. Keturunan Manarah putus hanya sampai cicit dari Purbasari yang bernama Prabulinggabumi (813 . Permana sudah memiliki anak dari Naganingrum (anak dari Bimaraksa) yang bernama Surotama atau Manarah atau lebih dikenal dengan Ciung Wanara. Silih wangi berarti pengganti Prabu Wangi selanjutnya raja-raja penggantinya juga disebut sebagai Siliwangi . Prabu Linggabuana adalah raja Sunda yang tewas dalam perang Bubat. Beliau memindahkan ibukota dari kawali (Galuh) ke Pakuan. Kedua anaknya masing-masing diwarisi bagian kerajaan.891).

Pada tahun 1620 M Sumedang Larang tunduk kepada Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung. Rara Santang kemudian memiliki anak yang bernama Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Sementara itu. serta perhiasan lainnya seperti benten. Serangan menyebabkan Sunda Kelapa jatuh ke Cirebon dan kemudian namanya di ubah menjadi Jayakarta . Dalam perjanjian terakhir. Sehingga sampai saat ini masih dipercayai sebagian besar masyarakat Sunda bahwa Prabu Siliwangi (yang terakhir) Ngahyang . Istana Pakuan jatuh ke tangan pasukan koalisi Islam (Demak. Kekuasaan Kian Santang turun kepada menantu sekaligus keponakannya anak dari Rara Santang yang bernama Syarif Hidayatullah.yang terdiri dari banyak istana yang rapi berjajar. Subanglarang adalah murid dari Pondok Pesantren Quro pimpinan Syekh Hasanuddin di Karawang. Dengan diberikannya pusaka tersebut kepada Prabu Geusan Ulun (1580-1608). kesultanan Banten dikarenakan telah memiliki batu Gigilang serta merupakan keturunan langsung Jaya Dewata dari kakeknya (=Sunan Gunung Jati). Prabu Surya Kancana sebelum meninggalkan Pakuan. Sedangkan Kian Santang diberikan kekuasaan untuk mengkontrol pelabuhan Cerbon menggantikan kakeknya Ki Gendeng Tapa. Di masyarakat Sunda peristiwa ini dikenal dengan peristiwa ”Ngahyang”. Namun secara de facto. Maulana Hasanuddin sendiri merupaan anak sunan dari istrinya yang bernama Nyai Kawunganten. Ia adalah anak dari Surasowan yang merupakan adik kandung dari Surawisesa. Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan. Selain dengan Kentring Manik Mayang Sunda. Kejadian ini pada masa Raja Sunda keturunan Jaya Dewata yang ke-5 yaitu Prabu Surya Kancana/Ragamulya/Nusyamulya (1567-1579). Kerjasama ini dibangun oleh Surawisesa yang saat itu sudah merasa terancam oleh kesultanan Cerbon yang didukung oleh Demak. (Tome Pires). Hasil perjanjian ini mengakibatkan 40 orang anggota pasukan elit kerajaan sunda keluar dan akhirnya bermukim di Cibeo dan konon menjadi Masyarakat Kanekes (=”Urang Baduy”). mengutus empat prajurit pilihan (Kandaga Lante) untuk pergi ke Kerajaan Sumedang Larang untuk mencari perlindungan. Portugis diberi keleluasaan oleh Sunda untuk beroperasi di Sunda Kelapa. Peperangan ini berhasil didamaikan oleh Mataram. wilayah sisa kerajaan Sunda waktu itu tidak pernah berada dalam administrasi kekuasaan kesultanan Banten. Sejak masa tersebut perselisihan antara Sunda dan para sultan (Cerbon+Banten) pun semakin membesar. Tahun 1527 Sunda Kalapa diserang Cirebon dengan tujuan untuk membalas serangan portugis atas Malaka (1511). tampekan. Pada masanya pula terjadi perselisihan yang menimbulkan peperangan dengan Cirebon. 1524 Cirebon dibantu Demak merebut Banten. Maulana Yusuf mengklaim sebagai pewaris sah atas tahta Pajajaran. Sehingga Banten pun bersitegang dengan Sumedang. siger. Dari Subanglarang ini Jaya Dewata memiliki anak yang bernama Kian/Rakean Santang/Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Rara Santang. dibantu Banten dan Demak. Pada masa Kerajaan Pajajaran sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf anak Maulana Hasanuddin. Hasil perdamaian menyebabkan Sumedang kehilangan wilayah Majalengka. Akhirnya pada 11 Wesaka 1501 tahun Saka (8 Mei 1579) Kerajaan Sunda Pajajaran akhirnya benar-benar runtuh. Selanjutnya Cerbon berkembang dari asalnya kerajaan bawahan menjadi sebuah kesultanan setelah mendapat dukungan Demak. Kekhawatiran Surawisesa terbukti. Pada masa Surya Kancana sudah keluar dari Pakuan (Ngahyang). Cirebon menyatakan melepaskan diri dari Pajajaran. . Penerus tahta Jaya Dewata adalah Surawisesa anak dari Kentring Manik Mayang Sunda. Sehingga kerajaan tersebut dinamai Pakuan Pajajaran dengan lebih singkatnya Pajajaran . Namun Geusan Ulun mendapatkan Ratu Harisbaya (puteri kerabat Mataram) yang menandakan kedekatan dengan Mataram serta kemerdekaan dari Cerbon (akibat kejatuhan Pajajaran). Dalam masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah. Sehingga demi kepentingan politik (terutama untuk menghadapi Banten) Sumedang menyatakan bergabung dengan Mataram. Keruntuhan ditandai dengan dibawanya Watu Gigilang/Palangka Sriman Sriwacana batu tempat penobatan raja Sunda ke istana Surosowan Banten. Banten + Cirebon). Masa Sumedang Larang sampai Jatuh ke Tangan Belanda Pada saat pemerintahan Sumedang berada di tangan Prabu Geusan Ulun/Angkawijaya. Mataram (=Sultan Agung) sedang dalam masa kejayaannya. Penerus Geusan Ulun adalah anak tirinya dari Ratu Harisbaya yaitu Rangga Gempol Kusumah Dinata atau Raden Aria Suradiwangsa (1620-1624). maka dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran telah menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Sumedang Larang. Jaya Dewata pun menikah dengan Ambetkasih puteri Ki Gedeng Sindang Kasih juga dengan Subanglarang puteri Ki Gendeng Tapa raja Singapura (daerah sekitar Cirebon). dan statusnya sebagai 'kerajaan' diubahnya menjadi 'kadipaten'. kalung bersusun dua dan tiga. Pada masa pemerintahan Surawisesa (1521 – 1535) dia membangun kerjasama dengan Portugis. Pernyataan ini ditandai dengan tidak lagi melakukan pengiriman upeti ke Pajajaran. Selanjutnya anak Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan Banten. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran. Mataram semakin kuat. Serangan dipimpin oleh Fatahillah/Tubagus Pasai yang merupakan veteran perang Malaka yang juga menantu Sunan Gunung Jati. Sunda runtuh setelah beberapa kali diserang Kesultanan Banten dan Cirebon. Sunan Gunung Jati selaku tetua (keturunan dekat Siliwangi) meminta bagi para penghuni kota pakuan yang tidak mau beragama Islam untuk keluar. dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang). Sejak itu tidak ditemukan lagi catatan mengenai keberadaan sang Prabu Surya Kancana.

Sebagai tanda bakti. pedih. Mereka datang berkuda membawa bendera. segera akan tersusul dengan cucuran air mata Hening yang mencekam. Pemerintahan dikembalikan kepada Rangga Gede. dan lebih dari itu yang terasa adalah hati yang ngilu.peng. Sukapura. Kawasen. Hanya bisik titip untuk masa depan anak istri. Bayangkanlah teriakan-teriakan aba-aba dari Tumenggung Baureksa di akhir tahun 1628 saat harus memimpin anak buahnya bertempur satu lawan satu melawan tentara Kompeni di sela-sela rimbun pohon hutan di luar Batavia. Keempat kadipaten ini lebih dikenal dengan nama Priangan. Dipati Rangga Gede. Keberangkatan mereka dari ibukota Mataram adalah pada bulan Juni. Ketika rembulan berdarah terbit Angin yang meniup dari buritan dan membawa pulang ke Mataram adalah angin kematianMati di pertempuran atau mati di alun-alun adalah tidak akan ada beda lagi Segala keletihan dan kepedihan adalah sudah diniati karena keyakinanRaungan perwira nan ksatria adalah juga lolongan pedihnya Duri kekuasaan asing yang menancap di ulu hati tidak tercabut juga Serasa membelah perut sendiri pun akan dilakukan Derasnya keringat yang mengalir hari-hari kemarin. Mata sembab berkaca-kaca. untuk (pura-pura?. (Disarikan oleh : Firman Raharja . secara otomatis wilayah kerajaan Sunda telah sepenuhnya dikuasai Belanda. yaitu pada tahun 1629 tentara Mataram berangkat lagi menuju Batavia dengan perlengkapan senjata-api. Imbanagara. Prajurit-prajurit Mataram bagaikan melolong-lolong. Kyai Dipati Mandurareja dan Tumenggung Upasanta tepekur tak mampu menengadahkan wajahnya. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menangkap dan menghukum penjara Dipati Rangga Gede. Adapun kadipaten lain yang langsung dibawah kontrol Mataram (Amangkurat I) adalah Karawang. Dalam masa pemerintahannya Sumedang Larang diserang pasukan Kesultanan Banten. Sekacé (Sindangkasih). Pada tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Wirabaja (Galuh). Sementara itu orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal. Jakarta (VOC) dan Galuh (Mataram). Pada akhir bulan Agustus 1629 penjaga-penjaga Kompeni yang ditempatkan beberapa kilometer di sungai Ciliwung telah melihat barisan depan. melengking pekik mereka ingin merampungkan tugas mulia yang dibebankan oleh Sang Raja untuk mengenyahkan bangsa asing yang ingin menjajah ini.Suatu saat Rangga Gempol diperintahkan oleh Sultan Agung untuk memimpin penyerangan ke Sampang.Mataram gagal! Dan sejak itu. konon ia selanjutnya diangkat menjadi orang dalam istana Mataram. mungkin juga bingung bercampur malu terpaksa harus pulang menghadap Sang Raja-nya.[i] Sebagian pasukan Mataram mencoba mengusir ternak Kompeni akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Kompeni. Sehingga sejak saat itu. Padi itu akan ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan ke Batavia. namun terpaksa harus gagal karena kurangnya persiapan. Namun demikian sisa wilayah ini pun sebenarnya tunduk kepada Mataram. yang nyawanya belum terpisah dari raga. tak berlepas diri dari tanggung jawab akan sebuah kegagalan. Ini kegagalan yang bersejarah. tak kuasa menolaknya. Dan tahun 1705 Belanda juga berhasil menguasai Cerbon dan Priangan Timur (Galuh) melalui perjanjian dengan Mataram. perhitungan dan kerjasama yang lebih menyeluruh. “Kami adalah orang yang gagal”. tercenung anak cucu nanti Sunyi sepi mencekam. ia akhirnya melarikan diri. Dengan dihukumnya Dipati Ukur. Siasat ini kemudian dibocorkan oleh . Karena menolak untuk dihukum akibat kekalahan ini. Mataram gagal! Abad-abad berikutnya hanyalah abad yang penuh dengan hina-dina. Disusul tahun 1808 Istana Surosowan Banten jatuh ke tangan Raffless/Belanda (saat itu dibawah Inggris). Madura. Dipati Ukur memberontak terhadap kekuasaan Mataram. dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Rintih tertahan saat dada sobek tertombak hukuman Raja.) minta maaf kepada Kompeni mengenai hal yang telah terjadi. Pemerintahan Sumedang kemudian diserahkan kepada adiknya. Mempermalukan anak-cucu sampai tujuh belas turunan. mereka tidak begitu saja menyerah. Sehingga wilayah Sunda kecuali Banten telah berada dalam kontrol Belanda. dalam kondisi letih. Namun sejak saat itu Rangga Gempol tidak pernah kembali ke Sumedang. Namun pemberontakan ini dapat dipatahkan dan menyebabkan Dipati Ukur akhirnya dihukum oleh Sultan Agung (1632). Cara yang dipakai Mataram untuk membawa beras ke sekitar Batavia sebagai bekal bagi prajurit-prajurit adalah pengiriman seorang utusan yang bernama Warga. nyeri. Penyerbuan Mataram ke Batavia pada Tahun 1629 M Meskipun Mataram tidak berhasil merebut benteng Batavia dan menundukkan Kompeni pada tahun 1628. Menunggu keputusan Sang Raja. Seakan ini adalah perlawanan terbesar yang mampu dikerahkan oleh leluhur kita pada masa itu. jeung Banjar (Panjer). Pada saat kekuasaan Mataram mulai menurun. lalu cucuran darah. Banyumas. Serangan tersebut mengalami kegagalan (1628) dan Bahureksa pun tewas. Apakah bayangan tentang kekalahan itu tak pernah muncul sebelumnya di benak para prajurit Mataram ini? Mereka harus pulang. perih merasakan kegagalan. Sehingga sisa wilayah Sunda yang masih dipimpin oleh pewaris tahta yang ”sah” tinggal empat kadipaten yaitu Sumedang. Tahun 1813 Banten sepenuhnya dikuasai Belanda. bukan lagi terpikir nyawa sendiri. panji-panji dan mereka juga membawa gajah. Karena Rangga Gede/Rangga Gempol II tidak mampu menahan serangan pasukan Banten. Saat itu wilayah Sunda telah kehilangan kekuasaan atas Cerbon dan Majalengka (Sultan Cerbon). Air Sungai Marunda pun berubah merah teraliri darah putra-putra pertiwi dari Mataram. Menyesali dari kegagalan para leluhur yang yang serasa ini adalah fatal karena akan berdampak bagi berabad-abad sesudahnya. Ayah (Dayeuhluhur). Parakan Muncang dan Tatar Ukur (Bandung). Entah apa yang akan mereka dapat nanti. Mereka yang masih selamat. Tahun berikutnya. Sampai dengan keluh tertahan tubuh mereka ambruk satu per satu karena jantung tertembus timah panas atau dada terbelah sangkur. Kompeni menerima warga dengan baik.171207) PENYERANGAN MATARAM KE BATAVIA Merinding berdiri bulu kuduk saya bila membaca kisah riwayat pertempuran tentara Mataram saat menyerbu benteng Kompeni Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. wilayah Priangan sisa kerajaan Sunda yang terakhir diserahkan oleh Mataram kepada Belanda (1677). Banten (Sultan Banten). tidak ada lagi perlawanan gagah dari satu kekuasaan resmi pribumi yang mampu menyerang Kompeni dengan demikian frontal-nya. Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta). Mereka ksatria. menunggu keputusan sakral Harga diri Mataram Tibalah saat Sang Raja mengadili.

Benteng Hollandia dapat mereka rusakkan. yang sebenarnya suatu kemungkinan bagi Belanda. setelah Tegal mendapat perusakan. Keadaan menjadi tegang ketika Inggris menawarkan membawa seorang utusan Mataram ke Mekah. Persediaan padi di sini pun habis dibakar oleh VOC. usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama. Setelah berhasil. akan tetapi di sini mereka gagal. Dengan perahu-perahu ini mereka membuat perairan antara Banten dan Batavia tidak aman. di mana perahu-perahu Mataram. Setelah mendapat keterangan ini Kompeni mengirimkan armadanya ke Tegal. dan hal ini memang menyebabkan kelemahan mereka. Pelayaran ke Timur tidak begitu berhasil. Sementara tembakan-tembakan dilancarkan terhadap benteng Belanda. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Mataram pun terbuka. utusan Mataram dan hadiah untuk ke Mekah ditahan oleh VOC dan dibawa ke Batavia.[ii] Tetapi sementara itu hubungan dengan Mataram diusahakan.seorang anak buah dari salah satu perahu warga. bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Harapan akan bantuan ini kemudian hilang. rumah-rumah dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis. sehingga ketika Warga tiba di Batavia untuk kedua kalinya ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita. . Jan Pieterszoon Coen mendadak meninggal diserang suatu penyakit. Armada diperkuat dengan pembuatan perahu baru di Jepara. karena tawanan-tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. akan tetapi utusanutusan yang dikirim Kompeni tidak memenuhi syarat Mataram. Pemerintahan Mataram tahun 1641 mengadakan perpindahan penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Barat di daerah Sumedang yang ternyata sangat mengkhawatirkan VOC. Akibat dari dimusnahkannya gudang beras Mataram. Desas-desus bahwa Mataram akan melancarkan suatu serangan lagi terhadap Batavia terdengar oleh Kompeni. Mereka mendapat perintah untuk memusnahkan semua perahu-perahu Mataram dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan sepanjang pantai utara Jawa. Hubungan antara Kompeni dan Mataram setelah tahun 1642. perundingan antara Mataram dan VOC dibuka kembali pada tahun 1630. Peristiwa lain adalah ketika VOC merasa bahwa Jambi dan Palembang mengancam keamanan VOC. Kota ini juga mendapat gilirannya. awaknya berjumlah 693 orang. Dengan cepat mereka mengirim armada terdiri dari 8 buah kapal. Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun 1645 tidak mengalami perbaikan. Sebenarnya perpindahan ini adalah sebagai persiapan terhadap penyerangan terhadap Banten yang tidak mau tunduk kepada Mataram. Antara Tahun 1630-1645 Setelah gagal menduduki Batavia. Mereka membiarkan menembak benteng hingga persediaan mesiu habis. untuk melepaskan tawanannya bilamana Sultan meminta kapal Belanda untuk membawa utusan ini. Kompeni mengarahkan perhatiannya terhadap Cirebon. Mataram terus menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis. Mataram antara tahun 1630-1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal Kompeni. Meskipun demikian mereka toh mendekati benteng Hollandia dengan mengadakan pendekatan melalui parit-parit. Oleh sebab itu Kompeni selalu mencari jalan untuk mencoba memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda itu. tidak begitu baik. Dari beberapa tawanan diketahui bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan. Pada hari-hari berikutnya Mataram maju ke Benteng dan pada tanggal 21 September 169 tembakan mulai terhadap benteng VOC. Mereka sangat berhasil membuat Kompeni pusing dengan serangan-serangan kecil-kecilan yang dilancarkan Mataram terhadap kapalkapal Kompeni setelah perang tahun 1629 M. Setelah berusaha untuk menyerang selama kurang lebih 10 hari pada akhir bulan September 1629 mereka mulai menarik diri sambil banyak meninggalkan korban. karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di kepulauan Nusantara. mereka menuju benteng Bommel. maka VOC mencegat suatu armada Mataram yang terjadi dari 80 perahu yang sedang menghantar kembali raja Palembang. Oleh sebab itu kapal Inggris yang membawa utusan ini dicegat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->