Anda di halaman 1dari 6

1. Computed Tomography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) a.

Definisi Computed Tomography (CT) adalah pemeriksaan pencitraan untuk

mendapatkan potongan melintang densitas dan citra terkomputerisasi dari pancaran sinar-X/ system detektor (Patel, 2007). Pencitraan otak dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis dan gambaran prognosis (Muir, 2010) CT-scan merupakan pemeriksaan baku emas (gold standard) dalam membedakan infark dengan perdarahan. Pilihan CT-scan atau MRI akan tergantung pada ketersediaan alat, seberapa sakit, kondisi pasien, serta biaya dan efektivitasnya (Gofir, 2009). Jika CT yang tersedia, strategi pencitraan yang menghasilkan QALYS (quality adjusted life years) tertinggi dengan biaya terendah adalah untuk memeriksa pasien segera dengan CT-scan, karena CT-scan praktis, cepat (beberapa menit untuk memeriksa otak), mudah digunakan untuk pasien gawat, biaya lebih murah, dan secara akurat mengidentifikasi perdarahan intrakranial secepatnya setelah perdarahan itu terjadi dan penting untuk gambaran yang memiliki kecurigaan SAH (Gofir, 2009). Tetapi, CT-scan mengalami keterbatasan. Perdarahan intraserebri akan disalahartikan sebagai stroke iskemik jika CT-scan tidak dilakukan dalam 10-14 hari setelah stroke (Gofir, 2009).

Lobus Frontal

Fossa Hipofisis Lobus Temporal Medula Ventrikel ke4 Serebelum

Gambar 1. CT-scan kepala normal (Patel, 2007).

Nukleus kaudatus Kapsula interna Talamus Ventrikel ke3

Gambar 2. CT-scan kepala normal (Patel, 2007).

Lobus frontal

Ventrikel lateral Lobus parietal

Lobus oksipital

Gambar 3. CT-scan kepala normal (Patel, 2007).

b. Gambaran CT-scan pada kelainan intrakranial dapat berupa: 1) High Density (hiperdens). Bila densitas lesi lebih tinggi daripada jaringan normal sekitarnya. 2) Isodensity (Isodens). Bila densitas lesi sama dengan jaringan sekitarnya 3) Low Density (hipodens). Memperlihatkan gambaran CT-scan dengan nilai absorbs yang rendah seperti pada infark. (Rasad et al., 2009) c. Kelainan-kelainan jaringan otak menurut Rasad et al. (2009) yang dapat ditemukan pada CT-scan kepala yaitu: 1) Tumor otak 2) Kelainan serebrovaskuler 3) Trauma kepala 4) Anomali 5) Penyakit-penyakit infeksi 6) Atrofi serebral atau penyakit-penyakit degeneratif. d. Gambaran radiologis infark serebri

Infark disebabkan oklusi pembuluh darah oleh trombosis atau emboli, hingga terbentuk nekrosis iskemik jaringan otak (Rasad et al., 2009). Gambaran dapat normal secara keseluruhan sampai 6 jam sesudah onset (Rasad et al., 2009), walaupun sebagian besar infark akan terlihat dalam 24 jam pertama. Kelainan awal seringkali tidak jelas. Hilangnya diferensiasi abu-abu/putih menyebabkan penurunan densitas (Patel, 2007). Sesudah 4 hari akan tampak gambaran hipodens pada CT-scan (Rasad et al., 2009).

e. Gambaran radiologis hemoragik intraserebral Sekitar 5% disebabkan perdarahan akut yang berlanjut menjadi infark (Patel, 2007). Pada CT-scan tampak area hiperdens homogeni. Bila pemeriksaan CT dilakukan lebih dari 2 minggu sejak onset serangan, akan tampak gambaran enhancement berbentuk cincin di daerah tepi hematom yang bisa menetap sampai 1 bulan. Pada stadium kronis, maka area hematom akan terlihat hipodens berbatas tegas karena hematomnya telah diserap (Rasad et al., 2009).

Gambar 4. CT otak: infark arteri serebralis anterior yang melibatkan lobus anterior (tanda panah) (Patel, 2007).

Gambar 5. CT otak: infark territorial baru pada daerah arteri serebri media (tanda panah) yang menunjukkan sedikit efek massa terhadap kompresi ventrikel lateral (Patel, 2007).

Gambar 6. CT otak: infark territorial lama yang telah berkembang pada arteri serebralis posterior (tanda panah) (Patel, 2007).

Gambar 7. Tampak area hiperdens dengan perifokal edema di daerah parietal kanan, para ventrikular. Perdarahan intraparenkim (Rasad et al., 2009). Gofir, A. 2009. Manajemen Stroke-Evidence Based Medicine. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press Muir, K. W. 2010. Stroke. Medical Progress. Vol 37. No 5:235-9 Patel, P. R. 2007. Lecture Notes: Radiologi. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga Rasad, S., Kartoleksono S., Ekayuda I. 2009. Radiologi Diagnostik. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI