Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH ANOMALI CUACA TERHADAP PERKEMBANGAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT)*)

Oleh Achmadi Susilo**) ABSTRAK Perubahan iklim global berdampak terhadap kehidupan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), dan penampilan produksi tanaman. Faktor iklim seperti temperatur, kelembaban udara, dan fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, dan kemampuan diapause serangga, sedangkan pengaruh tidak langsung adalah terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang. Faktor iklim juga berpengaruh terhadap siklus hidup, virulensi, penularan, dan reproduksi patogen, serta ketahanan inang terhadap patogen. Permasalahan kajian ini adalah : (a) Apakah perubahan iklim global berdampak pada perkembangan OPT, dan (b) bagaimanakah solusi untuk proteksi tanaman terhadap OPT terkait perubahan iklim. Pendekatan metodologi dilakukan dengan mengkaji pustaka dan berbagai hasil riset untuk menelaah keterkaitan perubahan iklim dengan perkembangan OPT. Hasil kajian menunjukkan bahwa : (a) telah terjadi perubahan iklim global dan berdampak terhadap serangan OPT, dan (b) Dampak tersebut disebabkan karena manusia (pejabat, pihak swasta, peneliti, petani) telah terhegemoni oleh paham Cartesian-Newtonian yang bersifat Mekanistik dan Reduksionistik, (c) solusi mengatasi dampak perubahan iklim terhadap OPT adalah dengan cara melakukan tindakan adaptif, dan antisipasi dalam melakukan tindak proteksi terhadap tanaman, antara lain (1) merubah paradigma dari Antroposentrisme menjadi penganut paradigma holistic, (2) meningkatkan pemahaman petani tentang sifat agroekosistem agar lebih jeli dalam merespon perubahan yang ada, (3) melakukan studi menyeluruh tentang dampak perubahan iklim terhadap OPT, (4) mengembangkan metode budi daya tanaman yang lebih adaptif, sehingga tanaman lebih sehat dan tahan terhadap OPT, (5) Perlu dibentuk Sekolah Lapangan Iklim (SLI) di tingkat petani untuk menjembatani rendahnya pemanfaatan informasi prakiraan iklim dari BMG kepada petani di lapangan. Kata Kunci : Anomali cuaca, proteksi tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT)
*) Materi Rapat Koordinasi Pengelolaan SDA dengan instansi yang menangani pengelolaan SDA di Kabupaten/Kota se Jawa timur di Hotel Utami, Surabaya 27-28 Juni 2011.

**) Prof. Dr. Ir. Achmadi Susilo, MS adalah Guru Besar Ilmu Pertanian dan Ketua Lembaga Penelitian di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

1. PENDAHULUAN Eksistensi sumber daya alam memegang peranan amat penting bagi berlangsungnya kehidupan di muka bumi ini. Pemanfaatan sumber daya alam adalah esensial untuk keberkelanjutan pembangunan guna mendorong pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, mengurangi wabah penyakit, dan mencegah kelaparan bagi masyarakat. Kegiatan manusia dalam pembangunan dewasa ini semakin banyak memanfaatkan SDA dan menggunakan energi terkait dengan bahan bakar yang berasal dari fosil dan alih 1

guna lahan dari hutan menjadi pemukiman. Kegiatan-kegiatan manusia tersebut, berakibat meningkatnya efek gas rumah kaca (GRK), yang disebabkan emisi gas-gas CO2 (karbon dioksida), CH4 (metana), N2O (nitrogen oksida), PFC (perflourokarbon), HFC (hidroflourokarbon), dan SF6 (sulfur heksaflorida). Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir akibat aktivitas manusia di muka bumi ini menyebabkan terjadinya pemanasan global (Bettiol, at all). Terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca, banjir saat musim hujan, kemarau panjang, semuanya merupakan akibat yang terjadi terkait dengan dampak perubahan iklim secara global. Adanya perubahan iklim global ini sebenarnya dikarenakan ulah manusia sendiri terutama yang menganggap dirinya adalah makhluk paling bernilai, sementara alam tidak memiliki nilai. Cara pandang antroposentrisme ini seperti dikemukakan oleh Botzler, dkk,1993 (dalam Keraf. 2002) yang memandang bahwa manusia sebagai pusat dari system alam semesta. Manusia dianggap paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitannya dengan alam. Hanya manusia yang punya nilai sedangkan alam tidak memiliki nilai. Salah satu tujuan pokok dalam pembangunan di sektor pertanian adalah meningkatkan produksi dan mempertahankan kesediaan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Jumlah penduduk yang terus meningkat dan luas lahan pertanian yang makin menyempit menuntut untuk melakukan rekayasa teknologi agar produksi tetap tersedia dalam jumlah yang cukup. Banyak factor yang berpengaruh terhadap produksi pertanian, dua diantaranya adalah factor cuaca / iklim dan persoalan ancaman setiap saat dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dapat menurunkan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas. Cuaca adalah keadaan fisis dari atmosfir pada suatu saat yang pendek dan suatu tempat tertentu, sedangkan iklim adalah suatu keseluruhan dari keadaan atmosfir dalam jangka waktu panjang dan tempat yang berlainan. Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan, kenaikan muka air laut, dan suhu udara, serta peningkatan kejadian iklim ekstrim berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan iklim yang saat ini dihadapi Indonesia. Perubahan iklim akan menyebabkan: (a) seluruh wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah dibanding wilayah subtropis; (b) wilayah selatan Indonesia mengalami penurunan curah hujan, sedangkan wilayah utara akan mengalami peningkatan curah hujan. Perubahan pola hujan tersebut menyebabkan berubahnya awal dan panjang musim hujan. (Tim Sintesis Kebijakan. 2008). Meningkatnya hujan pada musim hujan menyebabkan tingginya frekuensi kejadian banjir, sedangkan menurunnya hujan pada musim kemarau akan meningkatkan risiko kekekeringan. Sebaliknya, di wilayah Indonesia bagian utara, meningkatnya hujan pada musim hujan akan meningkatkan peluang indeks penanaman, namun kondisi lahan tidak sebaik di Jawa. Tren perubahan ini sangat berkaitan dengan sektor pertanian. 2

Strategi antisipasi dan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi rencana strategis Departemen Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tahan (resilience) terhadap variabilitas iklim saat ini dan mendatang. Upaya yang sistematis dan terintegrasi, serta komitmen dan tanggung jawab bersama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan guna menyelamatkan sektor pertanian. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu disusun kebijakan kunci Departemen Pertanian dalam rangka melaksanakan agenda adaptasi mulai tahun 2007 sampai 2050, yang meliputi rencana aksi yang bersifat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang (Anonim. 2007). Selain cuaca/iklim, ancaman serangan OPT menjadi factor pembatas dalam upaya peningkatan produksi pertanian di Indonesia baik pada tanaman pangan dan hortikultura, tanaman industri maupun tanaman perkebunan. OPT dibagi menjadi tiga macam yakni tergolong hama, penyakit atau patogen dan tumbuhan pengganggu (gulma). Pada umumnya hama menimbulkan gangguan pada tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, maupun moluska. Sedangkan penyakit dapat menimbulkan gangguan secara fisiologis pada tanaman budidaya, yang antara lain disebabkan oleh serangan jamur (cendawan), bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi. Serangan OPT di pertanaman rata-rata menurunkan produksi 30% dari produksi hasil dan pada tahap pasca panen menurunkan 20% potensi hasil. Adanya perubahan iklim global menyebabkan terjadinya anomali cuaca, dan hal ini berpengaruh terhadap kehidupan OPT, baik pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan dan pekembangan populasi OPT yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tanaman inang. Dengan penerapan kebijakan dan teknologi perlindungan tanaman (PHT) yang benar, kehilangan hasil akibat serangan OPT dapat dikurangi sehingga kuantitas dan kualitas hasil dapat meningkat daripada sebelumnya. Permasalahan yang muncul adalah apakah perubahan iklim global akan berpengaruh terhadap perkembangan OPT ? dan bagaimanakah jalan keluar yang harus dilakukan terutama mengantisipasi dampak perubahan iklim tersebut terhadap perkembangan OPT pada agroekosistem ? II. PERMASALAHAN (1). Perubahan iklim dengan segala penyebabnya secara factual sudah terjadi di tingkat local, regional dan global. Peningkatan emisi dan konsentrasi GRK menyebabkan terjadinya pemanasan global, diikuti dengan naiknya permukaan air laut akibat pemuaian dan pencairan es di kutub. Naiknya tinggi permukaan laut akan meningkatkan energy yang tersimpan dalam atmosfir, sehingga mendorong terjadinya perubahan iklim, antara lain El Nino dan La Nina yang sangat berpengaruh terhadap kondisi cuaca/iklim di wilayah Indonesia dengan geografi kepulauan.

(2). Ancaman OPT terus terjadi sebagai salah satu dampak penting adanya anomali cuaca di Indonesia. Contohnya adalah outbreak wereng coklat (Nilaparvata lugens), penggerek batang padi (Tryporiza sp), tikus, dan penyakit tungro yang terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pada Juli 2005, wereng cokelat di pantura jawa telah merusak 10.644 ha tanaman padi di Kabupaten Cirebon. Total serangan OPT secara nasional pada periode Januari-Juni 2006 mencapai 135.988 hektar dengan puso 1.274 hektar. Bulan Maret dan April yang lalu, kita dikejutkan dengan ledakan ulat bulu (Lymantria sp dan Arctornis submarginata, famili Lymantriidae). Hama ini telah menyerang 14.813 pohon mangga di Probolinggo dan berbagai tanaman lainnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Barat. musuh alami seperti predator, parasitoid dan biotik lainnya. (3). Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, RH dan fotoperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga (Wiyono, 2007). Berbagai fakta menunjukkan bahwa El-Nino dan LaNina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman, seperti penggerek batang dan wereng coklat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, belalang di Lampung pada MH 1998 dan penyakit tungro di Jawa Tengah, NTB, dan Sulawesi Selatan. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu seranganOPT. (4). Kejadian ledakan populasi OPT tersebut di atas ditengarai karena telah rusaknya ekosistem di pertanian Indonesia. Hal ini disebabkan para pejabat kita ( baik di pemerintahan, maupun swasta), peneliti, bahkan para petani dan masyarakat lainnya telah menganut paradigm Antroposentrisme yang bersifat Reduksionistik dan Mekanistik yang lebih mengedepankan rasio, memuja kehebatan manusia dan memandang SDA adalah objek dalam pembangunan. Hal ini berdampak pada kerusakan/ketidakseimbangan agroekosistem dan salah satunya sebagai pemicu terjadinya ledakan OPT. III. ANALISIS PERMASALAHAN Pada saat ini di muka bumi telah terjadi fenomena anomali iklim yang luar biasa. Hal ini ditandai dengan terjadainya pergeseran musim panas (kemarau) dan musim penghujan yang tidak bisa lagi diprediksi, temperature udara yang meningkat tajam, terjadinya angin puting beliung, el-nino maupun lanina, terjadinya banjir, kekeringan, dsb semuanya berpengaruh terhadap kehidupan manusia, dan tanaman pertanian yang dibudidayakan. Mengapa semua ini dapat terjadi? Hal ini disebabkan telah terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan global. Aktifitas manusia dalam pembangunan seperti pembangunan industrialisasi, transportasi, intensifikasi di bidang pertanian, maupun penebangan hutan, telah memicu dan mendorong terjadinya perubahan keseimbangan ekosistem dan hal ini juga mendorong pula terjadinya perubahan cuaca/iklim. 4 Ledakan ulat bulu tersebut ditengarai karena gangguan ekosistem antara lain yang disebabkan oleh perubahan iklim, berkurangnya

1.Unsur-unsur Iklim dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan OPT


Fotoperiodisme, suhu, kelembaban/curah hujan, dan angin merupakan unsur cuaca dan iklim yang sangat berpengaruh terhadap OPT. a. Fotoperiodisme. Unsur radiasi matahari yang berperan dan memiliki pengaruh khusus terhadap kehidupan tanaman adalah kualitas, intensitas dan periodisitas. Intensitas radiasi menurut Arifin (2008) adalah jumlah energi yang diterima oleh suatu organisme yang berpengaruh terhadap aktifitas fisiologis organisme. Jika intensitas tinggi, maka aktifitas evaporasi pada tubuh serangga meningkat sehingga serangga kehilangan air yang makin meningkat. Sebagai reaksi biologisnya maka serangga akan segera mengganti kehilangan air dari tubuhnya itu dengan mengkonsumsi bagian tanaman yang berkadar air tinggi. Serangga juga terpengaruh oleh warna cahaya. Spodoptera litura yang menyerang bawang merah tertarik oleh cahaya berwarna ungu atau biru sehingga mereka akan datang dan tertangkap oleh sinar lampu. Hal ini banyak dimanfaatkan oleh petni dalam pengendalian hama secara fisik. Contohnya pada hama coklat Helopheltis sp. Unsur radiasi yang berhubungan dengan lamanya penyinaran adalah perioditas radiasi. Dalam kehidupannya ada yang tidak tahan terhadap lama penyinaran sehingga serangga tersebut akan menghindari cahaya langsng dan baru mencari makan pada watu malam hari. Contohnya adalah ulat grayak (Spodoptera litura). dan ulat tanah Agrotis sp. b. Suhu. Salah satu faktor yang menentukan dalam mengatur kegiatan serangga hama adalah suhu udara. Pengaruh suhu terlihat pada proses fisiologi hama dan menjadi faktor pembatas dalam kehidupan hama. Adanya fluktuasi suhu yang suatu saat mengakibatkan suhu melampaui batas suhu minimum atau maksimum sangat berpengaruh terhadap aktifitas fisiologis serangga. c. Faktor curah hujan / kelembaban. Kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap aktifitas serangga. Hujan yang tinggi dan lebat disamping secara fisik dapat membunuh telur dan larva, akan menyebabkan kelembaban udara tinggi sehingga dapat menghambat perkembangan serangga hama. Namun di sisi lain kelembaban yang tinggi juga dapat pula mendorong telur serangga hama untuk menetas lebih cepat dari biasanya. d. Angin. Salah satu unsur cuaca yang dapat mempengaruhi kehidupan serangga maupun patogen adalah angin. Angin berpengaruh terhadap proses penyebaran serangga dari satu tempat ke tempat lainnya. Contoh wereng coklat (Nilaparvata lugen Stall) akan menyebar dengan cepat saat dibantu oleh angin, makin kencang angin, maka makin jauh penyebaran hama ini. Menurut Nurhayati, dkk (2004), angin juga berpengaruh terhadap distribusi spora di udara dan intensitas serangan cendawan Corynespora caassiicola pada tanaman karet. 5 Hal ini dapat menyebabkan terhentinya aktifitas fisiologis serangga hama, pertumbuhan telur dan larva juga akan terhenti.

Apabila situasi cuaca berubah maka unsur-unsur cuaca seperti radiasi matahari, suhu, kelembaban, hujan dan angin juga akan mengikuti berubah. Perubahan variasi unsur-unsur cuaca ini amat berpengaruh terhadap kehidupan serangga maupun mikroorganisme penyebab patogen. Oleh karena itu informasi tentang keadaan cuaca di setiap wilayah merupakan informasi yang amat penting untuk diketahui dan menjadi perhatian para petani terutama dalam kaitannya dengan pengendalian OPT, sehingga dapat dilakukan upaya pengendalian OPT yang tepat, efektif dan efisien. 2. Pengaruh Anomali Iklim terhadap Perkembangan OPT Kehidupan organisme di muka bumi sangat dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan di sekitarnya, yang merupakan faktor pembatas bagi kehidupannya. Cuaca dan iklim merupakan faktor eksternal abiotik yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan organisme pengganggu tanaman. Serangga merupakan kelompok hewan yang bersifat poikilotermal yang amat peka terhadap terjadinya perubahan cuaca dan iklim. Dalam kehidupan serangga hama, faktor cuaca dan iklim berpengaruh terhadap gejolak populasi. Unsur cuaca dan iklim yang amat berperan terhadap perkembangan populasi serangga adalah : fotoperiodisme, suhu, kelembaban / hujan dan angin. Perubahan iklim akan mempengaruhi kehidupan serangga hama maupun patogen penyebab penyakit pada tanaman pertanian. Perubahan iklim akan memacu berbagai pengaruh yang berbeda terhadap jenis hama dan penyakit. Perubahan iklim akan mempengaruhi kecepatan perkembangan individu hama dan penyakit, jumlah generasi hama, dan tingkat inokulum patogen, atau kepekaan tanaman inang. Menurut Wiyono(2007) pengaruh iklim terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk, yaitu (1) eskalasi, di mana hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar; (2) perubahan status; dan (3) degradasi. Patogen yang ditularkan melalui vektor perlu mendapat perhatian penting, kerusakan tanaman akan menjadi berlipat ganda akibat patogen dan serangga vektornya ( Garrett et al. 2006). Peningkatan suhu udara merangsang terjadinya ledakan serangga vektor. Indonesia memiliki beberapa penyakit penting yang ditularkan oleh vektor seperti virus kerdil pada padi, CVPD pada jeruk, dan yang lainnya. Selain mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas vektor, peningkatan suhu juga mendorong aktivitas patogen tertentu. Patogen yang memiliki adaptabilitas pada suhu yang cukup luas akan mudah beradaptasi dengan peningkatan suhu udara. memacu berbagai pengaruh yang berbeda terhadap jenis hama dan penyakit. Perubahan iklim akan mempengaruhi kecepatan perkembangan individu hama dan penyakit, jumlah generasi hama, dan tingkat inokulum patogen, atau kepekaan tanaman inang.. Selain mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas vektor, peningkatan suhu juga mendorong aktivitas patogen tertentu. Patogen yang memiliki adaptabilitas pada suhu yang cukup luas akan mudah beradaptasi dengan peningkatan suhu udara. 6

a. Pengaruh Faktor-faktor Iklim terhadap Hama Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5 C untuk pertumbuhan populasinya (Bonaro et al. 2007). Contoh yang lain adalah pertumbuhan populasi penggerek batang padi putih berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, sementara itu panjang hari berpengaruh terhadap diapause serangga penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) di Jawa (Triwidodo, 1993). Umumnya seranggaserangga hama yang kecil seperti kutu-kutuan menjadi masalah pada musim kemarau atau rumah kaca karena tidak ada terpaan air hujan. Pada percobaan dalam ruang terkontrol peningkatan kadar CO2 pada selang 389-749l/L meningkatkan reproduksi tungau Tetranychus urticae (Heagle et al., 2002) Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang mempengaruhi ketahanannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen. Sebagai contoh adalah perkembangan populasi ulat bawang Spodoptera exigua pada bawang merah lebih tinggi pada musim kemarau, selain karena laju pertumbuhan intrinsik juga disebabkan oleh tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen yang rendah (Hikmah, 1997). b. Pengaruh Faktor-faktor iklim terhadap penyakit tumbuhan. Dari konsep segitiga penyakit tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan fisik sangat berpengaruh terhadap proses timbulnya penyakit. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen. Hasil penelitian Nurhayati, dkk (2004) menunjukkan bahwa faktor lingkungan khususnya cuaca berpengaruh terhadap distribusi spora di udara dan intensitas serangan cendawan Corynespora caassiicola pada tanaman karet. Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit. Kelembaban udara dan kecepatan angin berpengaruh pada pemencaran konidium penyakit patek tembakau Cercospora nicotianae (Tantawi. 2007). Garret et al. (2006) menyatakan bahwa perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen. Bakteri penyebab penyakit kresek pada padi Xanthomonas oryza pv. oryzae mempunyai suhu optimum pada 30 C (Webster dan Mikkelsen, 1992). Sementara F. oxysporum pada bawang merah mempunyai suhu pertumbuhan optimum 28-30 C (Tondok, 2003). Bakteri kresek penularan utamanya adalah melalui percikan air sehingga hujan yang disertai angin akan memperberat serangan. Pada temperatur yang lebih hangat periode inkubasi penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum ) lebih 7

cepat di banding suhu rendah. Sebaliknya penyakit hawar daun pada kentang yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans lebih berat bila cuaca sejuk (18-22 C) dan lembab. Faktor-faktor iklim juga berpengaruh terhadap ketahanan tanaman inang. Tanaman vanili yang stres karena terlalu banyak cahaya akan rentan terhadap penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Fusarium. Ekspresi gejala beberapa penyakit karena virus tergantung dari suhu. Dinamika lingkungan biotik juga dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim. Habitat mikro daun atau disebut filoplan mempunyai tingkat kolonisasi ragi (yeast) yang lebih tinggi dibanding akar karena kemampuan mikrob tersebut untuk mentolerir kekeringan. Yeast tersebut berperan penting dalam pengendalian hayati penyakit-penyakit yang menyerang tajuk. Jenis dan kelimpahan cendawan penghuni daun bawang merah yang bersifat saprofitik dipengaruhi oleh curah hujan dan kelembaban udara relatif (Wiyono, 1997). IV. SOLUSI YANG DITAWARKAN Untuk mengurangi dan menanggulangi dampak perubahan iklim terhadap perkembangan dan distribusi OPT serta intensitas serangan OPT terhadap pertanaman, maka diperlukan upaya antisipasi yang tepat. (1). Langkah pertama adalah merubah paradigma. Cara pandang manusia (para pimpinan instansi/pejabat pemerintah, swasta, peneliti, pendidik dan para petani) haruslah berubah, yakni tidak lagi menganut paradigm Cartesian-Newtonian, tetapi menganut paham holistic-ekologis. Hal ini amat penting dan amat mendasar dan perubahan itu harus dimulai dari sekarang tanpa ditawar-tawar lagi. (2). Pemantauan terhadap dinamika serangan OPT yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi. Ploting data kejadian serangan OPT selama 10-20 tahun terakhir dapat dilakukan untuk mempelajari hubungan antara perubahan iklim dengan serangan OPT. Spasialisasi data melalui pemetaan perubahan serangan OPT di wilayah sentra produksi tanaman (pangan) yang rentan pada 10-20 tahun terakhir akan lebih informatif. (3). Identifikasi faktor-faktor iklim yang berpengaruh terhadap perkembangan dan distribusi serangan OPT perlu dilakukan. Penetapan faktor iklim yang paling berpengaruh menjadi sangat penting sebagai upaya prediksi serangan OPT di masa yang akan datang. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan model prediksi iklim yang dikaitkan dengan model prediksi serangan OPT. Untuk membangun model tersebut, pembangunan basisdata iklim dan serangan OPT perlu dilakukan. (4). Pest and diseases forecasting network. Untuk antisipasi serangan OPT di masa yang akan datang, sistem peringatan dini (early warning system) perlu dibangun. Pembangunan sistem informasi iklim dan serangan OPT menjadi sangat penting. Pengembangan jejaring informasi serangan OPT (pest and diseases forecasting network) perlu dilakukan dan harus menjadi kebijakan yang dikedepankan. Jejaring ini didukung dengan data dan informasi spasial dari citra maupun data dan informasi iklim dari stasiun iklim serta informasi serangan OPT dari Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang telah dikompilasi di tingkat nasional di Direktorat Perlindungan Tanaman, Ditjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian. 8

(5). Sekolah lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) bagi petani dan kelompok tani merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang masih sangat relevan untuk dilakukan hingga saat ini. Untuk lebih memberdayakan petani dan kelompok tani dalam mengatasi permasalahan serangan OPT, SLPHT perlu ditingkatkan menjadi Sekolah Lapang Iklim (SLI) bahkan berkembang menjadi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SLPTT). Gagasan Perlunya Memberdayakan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) di Tingkat Petani ini adalah langah yang tepat dan harus segera dimulai di Jawa Timur. Boer (2009) menjelaskan bahwa tujuan SLI adalah : (a) meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim dan kemampuannya mengantisipasi kejadian iklim ekstrim, (b) membantu petani mengamati unsurunsur iklim dan menggunakannya dalan mendukung usahatani mereka, dan (c) membantu petani menterjemahkan informasi prakiraan iklim untuk menyusun strategi budidaya yang lebih tepat. Selain itu dengan memberdayakan SLI, diharapkan petani juga memahami pentingnya data tentang prakiraan iklim dan pengaruhnya terhadap perkembangan populasi OPT sehingga dapat di deteksi sedini mungkin dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengendalian terhadap OPT. Keberhasilan dan kegagalan peningkatan produksi pertanian disamping karena faktor OPT, juga disebabkan adanya perubahan iklim di suatu daerah. Dengan semakin majunya sistem pengamatan iklim global dan teknologi prakiraaan iklim, kemampuan untuk memperkirakan kejadian iklim ekstrem saat ini sudah sangat baik, namun informasi tersebut masih belum cepat sampai pada petani di lapangan. Bahkan banyak para petani yang tidak memahami tentang teknologi prakiraan iklim maupun jenis-jenis peralatan yang digunakan untuk memonitor dan mendapatkan data tentang iklim, maupun pentingnya informasi iklim bagi budidaya tanaman. IV. PENUTUP Perubahan iklim global akan terus mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan perilaku manusia dalam mengeksploitasi SDA untuk kepentingan pembangunan. Untuk itu diperlukan perubahan perilaku manusia agar dalam pemanfaatan SDA memperhatikan keseimbangan dan pelestarian fungsi lingkungan. Perubahan perilaku manusia harus diawali dengan perubahan paradigma manusia terhadap terhadap alam ini, yakni merubah paradigma antroposentrisme menjadi penganut paham holistic-ekologis. Perubahan iklim global akan berpengaruh tidak saja terhadap kehidupan tanaman budidaya (teruatama penampilan produksi tanaman), akan tetapi dapat berpengaruh terhadap perkembangan OPT, terutama menyangkut peningkatan maupun penurunan serangan OPT. Jenis OPT mengalami peningkatan serangan diantaranya penyakit bakteri Xanthomonas oryzae pada padi, hama keong emas, dan hama Trips pada tanaman lombok. Selain itu adanya ledakan ulat bulu baru-baru ini juga merupakan indikasi adanya anomali cuaca yang ekstrim. OPT yang mengalami pengurangan serangan antara lain : jamur Phytophthora infestans pada tomat, dan Jamur Perenopspora pada bawang merah. Untuk mengantisipasi persoalan tersebut perlu dilakukan studi khusus dan lebih mendalam tentang dampak perubahan iklim 9

terhadap perkembangan OPT agar dapat dirumusan langkah antisipasi yang tepat. Memberdayakan dan menyebarluaskan Sekolah lapangan Iklim (SLI) merupakan salah satu alternative dan merupakan langkah edukatif yang tepat agar kualitas sumberdaya manusia / petani terutama pemahaman tentang pentingnya peranan data tentang cuaca / iklim terhadap keberhasilan usaha budidaya dan proteksi tanaman. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Strategi dan Inovasi Teknologi Pertanian Menghadapi Perubahan Iklim Global. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 29 p ----------. 2009. Pemanasan suhu global mempercepat pembiakan generasi hama. Crop science. Arifin. 2008. Perubahan Iklim Global dan Perlindungan tanaman. Materi pelatihan SLPHT Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur, 9 10 Desember 2008. Boer, Rizaldi. 2009. Sekolah lapangan Iklim Antisipasi Resiko Perubahan Iklim. Salam. Ed. Januari 2009. p 8-10. Bonaro, O., A Lurette,, C Vidal, J Fargues. 2007. Modelling temperature-dependent bionomics of Bemisia tabaci (Q-biotype) Physiological Entomology,32: 50-55 Garret, K.A., S.P. Dendy, E.E. Fraih, M.N. Rouse, S.E. Travers. 2006. Climate change effect to plant disease: genome to ecosystem. Ann, Rev. Phytopathol 44;489-509 Heagle, A.S. J. C. Burns, D. S. Fisher, And J. E. Miller. 2002. Effects of carbon dioxide enrichment on leaf chemistry and reproduction by twospotted spider mites (Acari: Tetranychidae) on white clover. Environ. Entomol. 31: 594-601 Hikmah, Y. 1997. Tingkat parasitasi larva Spodoptera exigua pada musim hujan dan musim kemarau. Skripsi. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanaian IPB. Keraf, Sonny. 2002. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas, jakarta. 322 hal. Nurhayati, A. Situmorang, Z.R. Djafar, dan Suparman. 2004. Faktor lingkungan dan model peramalan penyakit gugur daun karet Corynespora.J. lingk & pembang. Vol 24(4) :243-253 Las, Irsal. 2007. Strategi dan Inovasi Antisipasi Perubahan Iklim. Balai Besar Sumberdaya lahan. Tantawi, Achmad rafiq. 2007. Hubungan kecepatan angin dan kelembaban udara terhadap pemencaran konidium C. Nicotianae. Agritrop 26(4) : 160-167. Tim sintesis kebijaan. 2008. Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian, strategi antisipasi dan teknologi adaptasi, J. Pengemb.Inovasi Pertanian 1 (2) : 138 140. Triwidodo, H. 1993. Bioecology of White Stem Borer of Rice in Indonesia. Ph D. Thesis. University of Wisconsin, Madison Wiyono, S. 1997. Succession and Diversity of Shallot Phylloplane Fungi: Its Relation to Purple Blotch Disease. Master Thesis. University of Goettingen, Germany 10

11