Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Protein merupakan suatu unsur selular utama, meliputi kira-kira 50 % berat kering dari sel. Protein ada di dalam tubuh dan berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel, juga berperan dalam melangsungkan proses biokimia. Pentingnya protein bagi tubuh terlihat dari kenyataan bahwa apabila tubuh kehilangan 14% dari total protein, maka dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius. Tujuan dari praktikum biokimia dengan materi pencernaan protein adalah untuk mengetahui proses pencernaan protein yang terjadi dalam tubuh. Manfaat praktikum ini adalah dapat mengetahui proses pencernaan protein yang terjadi dalam tubuh.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Protein

2.1.1. Pengertian Protein Kata protein berasal dari kata yunani protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia. Oleh karena sel itu merupakan pembentuk tubuh kita, maka protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukkan dan pertumbuhan tubuh (Poedjiadi, 1994). Protein adalah gabungan dari asam amino dan terdapat di sebagian besar dari tubuh manusia dan hewan tingkat tinggi. Sebagian protein merupakan penyusun tubuh (daging, kulit dan sebagainya). Protein disusun oleh asam amino dengan ikatan amida yang disebut ikatan peptida. Protein merupakan senyawa polipeptida yang dihasilkan dari polimerisasi asam-asam amino, protein dibagi menjadi dua, yaitu protein yang larut dalam air dan protein yang sukar larut dalam air (Soemardjo, 1997).

2.1.2. Klasifikasi Protein

Protein digolongkan dan di klasifikasi seperti berikut: Protein-protein Sederhana, protein ini bila pecah menjadi satuansatuan-satuan yang lebih sederhana hanya menghasilkan asam-asam alpha amino atau turunan nya.

Protein terkonjugasi, peruraian dari senyawa ini menunjukkan bahwa mereka terbentuk atas protein-protein sederhana dan gugus-gugus lain yang tidak menunjukkan sifat protein (Sastrohamidjojo, 2005). Berdasarkan Strukturnya, terdiri atas Protein Sederhana Terdiri atas molekul-molekul asam amino. Menurut molekulnya terbagi menjadi protein tiger yang terbentuk syarat dan protein globular yang terbentuk bulat/elips. Terdiri dari polipeptida yang berlipat-lipat dan protein gabungan terdiri atas protein dan gugus bukan protein (gugus protestik). Beberapa jenis protein gabungan antara lain mukoprotein, glikoprotein, lipoprotein, lukreoprotein.Berdasarkan bentuknya, protein terdiri atas protein globular yaitu protein yang bentuknya menggulung,larut dalam air dan protein Fibrous yaitu protein yang bentuknya memanjang, contoh kolagen (Poedjiadi, 1994).

2.1.3. Tempat Pencernaan Protein

Pencernaan protein terjadi di lambung dan di usus halus. Di lambung, protein di cerna oleh enzim pepsin dan di usus halus, protein dicerna oleh enzim pankreas. Pencernaan protein sangat di pengaruhi oleh suhu dan pH. dengan adanya bantuan HCl dan terjadi dalam suasana asam dengan pH 2. Pepsin mampu mengubah protein menjadi polipeptida besar/pepton. Polipeptida dengan bantuan enzim pankreas diubah menjadi oligopeptida. Oligopeptida oleh enzim brush border diubah menjadi asam amino, dipeptida, dan tripeptida (Murwani, 2009).

2.1.4. Proses Pencernaan Protein

Proses pencernaan protein diubah menjadi pepton dengan bantuan enzim pepsin yang terdapat di dalam lambung. Pepton akan diubah menjadi asam amino dengan bantuan enzim tripsin di dalam usus halus. Saluran pencernaan initer disekresikan dengan sel tertentu sehingga protein menjadi asam amino yang siap diabsorbsi oleh tubuh. Asam amino inilah yang akan diserap tubuh (Martoharsono,2006). Proses pencernaan protein berlanjut dalam intestinum. Semua protein yang akan di cerna, di rombak ke dalam asam amino dan sisanya masih dapat tinggal dalam bentuk peptida. Asam amino dapat larut dan siap diserap oleh filli dinding usus halus. Asam-asam amino tersebut kemudian masuk dalam darah dan terus dibawa keseluruh tubuh. Tahap pencernaan protein berakhir dengan adanya kerja getah usus. Potongan asam amino adalah hasil akhir dari pencernaan protein yang langsung diserap oleh tubuh. (Kusnawijaya, 1993).

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum biokimia dengan materi Pencernaan Protein dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 1 Mei 2012 pada pukul 09.00-11.00 WIB di Laboratorium Biokimia Nutrisi, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.

Materi

Alat yang dipergunakan dalam praktikum Pencernaan Protein

adalah

tabung reaksi sebagai tempat untuk mereaksikan zat-zat kimia, pipet ukur untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui, pipet filer sebagai alat untuk menyedot larutan yang dapat di pasang pada pangkal pipet ukur, gelas beker untuk menampung zat kimia, erlenmeyer untuk menampung Larutan dan bahan atau cairan, water bath untuk menciptakan suhu yang konstan. Bahan dalam praktikum pencernaan protein adalah air, pepsin panas, EP panas, EP (ekstrak pankreas), pepsin , HCl 0,1 N, dan NaOH 0,1 N.

3.2.

Metode

3.2.1. Pencernaan Protein oleh Pepsin

Metode yang digunakan dalam percobaan pencernaan protein oleh pepsin adalah dengan melarutkan PTR dengan 2 ml pepsin dan 1 ml air dalam tabung

reaksi. Melarutkan PTR dengan 2 ml pepsin dan 1 ml HCl 0,45%. Melarutkan PTR dengan 2 ml pepsin panas dan 1 ml HCl 0,45%. Reaksi positif (+) jika PTR terlarut dan reaksi negative (-) jika PTR tidak terlarut.

3.2.2. Pencernaan Protein oleh Ekstrak Pankreas (EP)

Metode yang digunakan dalam percobaan pencernaan protein oleh ekstrak pankreas adalah dengan mencampurkan PTR dengan 2 ml EP dan 1 ml air. Mencampurkan PTR dengan 2 ml EP dan 1 ml NaOH 0,1 N. Mencampurkan PTR dengan 2 ml EP panas dan 1 mL NaOH 0,1 N. Reaksi positif (+) jika larutan pada tabung berwarna bening dan reaksi negatif (-) jika larutan pada tabung berwarna keruh.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil percobaan Proses Pencernaan Protein, Pencernaan Protein oleh Pepsin dan Pencernaan Protein oleh Ekstrak Pankreas (EP). dapat diperoleh data data dibawah ini.

4.1.1. Pencernaan Protein oleh Pepsin

Hasil praktikum Pencernaan Protein oleh Pepsin diperoleh data sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Pengamatan Pencernaan Protein oleh Pepsin Tabung Reagen yang di masukkan D E F PTR + 2 mL pepsin + 1 mL Air PTR + 2 mL pepsin + HCl 0,45% PTR + 2 mL pepsin panas + 1 mL HCl 0,45%

Inkubasi 30 + -

Sumber : Data Primer Praktikum Biokimia, 2012.

Berdasarkan

Praktikum Pencernaan Protein oleh Pepsin Hal ini

menunjukkan bahwa pada tabung D yang diisi PTR dilarutkan dengan 2 ml pepsin dan 1 ml air menghasilkan reaksi negatif yang menjadikan warna coklat bening dimana putih telur rebus yang berada pada tabung tidak terlarut dan masih terlihat karena pepsin bekerja pada konsentrasi asam sedangkan air bekerja pada konsentrasi netral sehingga pepsin yang bekerja sebagai enzim tidak dapat bekerja dalam suasana netral yang telah dimasukkan 1 ml air, hal ini sesuai dengan pendapat Aryulina (2006) yang menyatakan bahwa protein dicerna dilambung oleh enzim pepsin, yang aktif pada pH 2-3 (suasana asam).

Tabung E yang diisi PTR dilarutkan dengan 2 ml pepsin dan HCl 0,45% menghasilkan reaksi positif karena putih telur bertindak sebagai substrat dapat bekerja dengan adanya enzim pepsin pada suasana asam karena penambahan HCl, hal ini sesuai pendapat dengan Aryulina (2006) menyatakan bahwa protein dicerna dilambung oleh enzim pepsin, yang aktif pada pH 2-3 (suasana asam). Tabung F yang diisi PTR dilarutkan dengan 2 ml pepsin panas dan 1 mL HCl 0,45% menghasilkan reaksi negatif karena pepsin mengalami kerusakan dan tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, hal ini sesuai pendapat Kimball (1994) yang menyatakan bahwa enzim akan rusak pada suhu tinggi.

4.1.2. Pencernaan Protein oleh Ekstrak Pankreas

Hasil praktikum Pencernaan Protein oleh Ekstrak Pankreas diperoleh data sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Pengamatan Pencernaan Protein oleh Ekstrak Pankreas Tabung Reagen yang dimasukkan G H I PTR + 2 mL EP + 1 mL Air PTR + 2 mL EP + 1 mL NaOH 0,1 N PTR + 2 mL EP Panas + 1 mL NaOH 0,1 N

Inkubasi 30 + -

Sumber : Data Primer Praktikum Biokimia, 2012.

Berdasarkan Praktikum Pencernaan Protein oleh Ekstrak Pankreas Hal ini menunjukkan bahwa pada tabung G yang diisi PTR dilarutkan dengan 2 ml EP dan 1 mL air menghasilkan reaksi negatif karena PTR yang bertindak sebagai

subtrat, 2 ml Ekstrak Pankreas sebagai enzim, dan 1 ml air yang pH nya netral sehingga tidak dapat dicerna dalam usus dikarenakan pencernaan enzim pankreas bekerja pada suasana basa sedangkan pada tabung G bersuasana netral dengan adanya air, hal ini sesuai pendapat Deman (1993) yang menyatakan bahwa enzim pankreas mampu bekerja pada suasana basa antara 7,5-8,2. Tabung H yang diisi PTR dilarutkan dengan 2 ml EP dan 1 mL NaOH 0,1 N menghasilkan reaksi negatif positif karena pada pencernaan PTR yang bertindak sebagai subtrat dapat bekerja dengan bantuan enzim pankreas dalam keadaan basa karena ditambahkan NaOH 0,1 N, hal ini sesuai dengan pendapat Deman (1993) menyatakan bahwa enzim pankreas mampu bekerja pada suasana basa antara 7,5 sampai 8,2. Tabung I yang diisi PTR dilarutkan dengan 2 ml EP panas karena dan 1 mL NaOH 0,1 N menunjukkan reaksi negatif karena EP panas mengalami kerusakan dan tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, hal ini sesuai pendapat Kimball (1994) bahwa enzim akan rusak pada suhu tinggi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum

Pencernaan Protein dapat di ambil

kesimpulan bahwa Protein merupakan suatu unsur selular utama dalam tubuh dan berperan dalam melangsungkan proses biokimia. Pencernaan protein terjadi di lambung dan di usus halus. Di lambung protein di cerna oleh enzim pepsin dan di usus halus protein dicerna oleh enzim pankreas. Pencernaan protein sangat di pengaruhi oleh suhu dan pH.

5.2.

Saran

Berdasarkan praktikum Pencernaan Protein ada beberapa saran yang dapat di sampaikan. Pada saat praktikum praktikan diusahankan untuk tenang dalam melakukan percobaan untuk memeroleh hasil yang maksimal. Dalam pelarutan penambahan dan pengurangan sebaiknya di lakukan dengan teliti.

DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, D. 2006. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta. Deman. 1993. Kimia Makanan. Erlangga, Jakarta. Kimball, J. W. 1992. Biologi jilid 1. Erlangga, Jakarta. Murwani, R. 2009. Pokok Bahasan Protein dan Asam Nukleat. Laboratorium Biokimia Nutrisi, Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Universitas diponegoro, Semarang. Poedjiadi. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia, Jakarta. Poedjiadi, A. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Sastrohamidjojo, Harjono. 2005. Kimia Organik. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Sumardjo, Damin. 1997. Kimia Kedokteran. Universitas Diponegoro, Semarang.

LAMPIRAN

1.1. Pencernaan Protein

Alat

Keterangan

sebagai tempat untuk mereaksikan zat-zat kimia.

Tabung reaksi

Sebagai tempat menyimpan tabung reaksi. Rak tabung

Alat untuk menyedot larutan yang dapat di pasang pada pangkal pipet ukur.

Pipet filer

Merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Pipet ukur

Di gunakan untuk menampung zat kimia.

Gelas beker

Berfungsi untuk menampung Larutan, bahan atau cairan.

Erlenmeyer

Fungsi utama water bath adalah untuk menciptakan suhu yang konstan.

Water bath