Anda di halaman 1dari 47

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Apendisitis

1.1.1 Latar Belakang Sistem pencernaan atau sistem gastrointestin adalah sistem organ dalam manusia yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut. Usus buntu atau sekum dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendix adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin dimana memiliki/ berisi kelenjar limfoid. Selain itu, Appendiks juga didefinisikan sebagai organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ). Devertikulum adalah lekukan luar seperti kantong yang terbentuk dari lapisan usus yang meluas sepanjang defek dilapisan otot. Pengertian appendicitis adalah suatu peradangan pada appendiks yang berbentuk cacing, yang berlokasi dekat katup ileocecal ( long, Barbara C, 1996 hal 228). Appendicitis juga didefinisikan sebagai peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307). Appendisitis akut dinegara maju lebih tinggi daripadadi negara berkembang namun dalam tiga empat dasawarsa terjadi peningkatan.kejadian ini diduga disebabkan oleh meningkatnya pola makan berserat dalam menu sehari hari, pada laki laki dan perempuan pada umumnya sebanding kecuali pada umur 20 30 tahun insiden pada laki laki lebih tinggi. Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur , hanya pada anak yang kurang dari satu tahun yang jarang dilaporkan, mungkin karena tidak terduga sebelumnya. Insiden tertinggi terjadi pada kelompok umur 20 30 tahun, setelah itu menurun. Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju daripada Negara berkembang, namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan perubahan pola makan, yaitu Negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat. Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada menjelang dewasa. Insiden

apendisitis sama banyaknya antara wanita dan laki-laki pada masa prapuber, sedangkan pada masa remaja dan dewasa muda rationya menjadi 3:2, kemudian angka yang tinggi ini menurun pada pria. 1.1.2 Tujuan Khusus a. Menjelaskan anatomi dan fisiologi apendix b. Menjelaskan definisi dari Apendisitis c. Menjelaskan etiologi dari Apendisitis d. Menjelaskan patofisiologi dari Apendisitis e. Menjelaskan manifestasi klinis yang timbul akibat Apendisitis f. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik yang harus dilakukan pada pasien Apendisitis g. Menjelaskan komplikasi yang ditimbulkan dari Apendisitis h. Menjelaskan prognosis dari Apendisitis i. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan Apendisitis 1.1.3 Tujuan Umum Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa keperawatan dapat mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit apendisitis agar dalam pelaksanaannya mahasiswa dapat mengimplementasikan dengan baik dan benar. 1.2 Divertikular Disease

1.2.1 Latar Belakang Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi pada satu atau beberapa divertikula. Devertikulitis terjadi bila makanan atau bakteri tertahan di suatuatu divertikulisis yang menghasilkan infeksi dan inflamasi yang dapat membentuk drainase dan akhirnaya membentuk abses. Divertikulitis jarang terjadi pada orang yang berumur dibawah 40 tahun. Oleh karena itu, melihat dari paparan yang sudah dijelaskan di atas. Maka melalui makalah ini, penulis mencoba menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit apendisitis dan divertikular. Diharapkan dengan adanya makalah ini,

mahasiswa dapat mengerti dan memahami bagaimana cara merawat pasien dengan penyakit apendisitis dan divertikular.

1.2.2 Tujuan Khusus a. Menjelaskan anatomi dan fisiologi divertikulum b. Menjelaskan definisi dari Divertikular disease c. Menjelaskan etiologi dari Divertikular disease d. Menjelaskan patofisiologi dari Divertikular disease e. Menjelaskan manifestasi klinis yang timbul akibat Divertikular disease f. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik yang harus dilakukan pada pasien Divertikular disease g. Menjelaskan komplikasi yang ditimbulkan dari Divertikular disease h. Menjelaskan prognosis dari Divertikular disease i. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan Divertikular disease 1.2.3 Tujuan Umum Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa keperawatan dapat mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit divertikular agar dalam pelaksanaannya mahasiswa dapat mengimplementasikan dengan baik dan benar.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Apendisitis 2.1.1 Anatomi dan Fisiologi Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Usus Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon terdiri dari kolon kolon kolon menanjak melintang menurun

(ascending), (transverse),

(descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan "kolon kanan", sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan "kolon kiri" (longo, 2010) Fungsi usus besar: 1. Mengabsorbsi 80%-90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dan cairan menjadi massa semipadat. 2. Memproduksi kimus. 3. Mengeksresikan zat sisa dalam bentuk feses. Usus besar dibedakan menjadi: a. Coecum. Merupakan pembatas antara ileum dengan kolon. b. Kolon. Pada kolon terjadi gerakan mencampur isi kolon dengan gerakan mendorong. Pada kolon ada tiga divisi yaitu: Kolon asendens; yang merentang dari coecum sampai ke tepi bawah hati disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.

Kolon transversum ; merentang menyilang abdomen ke bawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah pada fleksura spienik. Kolon desendens; merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rectum (boulton 2011). Gerakan usus besar, di bagi menjadi dua gerakan, yaitu: 1. Gerakan Mencampur (Haustrasi) Gerakan segmentasi dengan konstriksi sirkular yang besar pada kolon, 2.5 cm otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen hampir tersumbat. Saat yang sama, otot longitudinal kolon (taenia koli) akan berkontraksi. Kontraksi gabungan tadi menyebabkan bagian usus yang tidak terangsang menonjol keluar (haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas puncak dalam waktu 30 detik, kemudian menghilang 60 detik berikutnya, kadang juga lambat terutama sekum dan kolon asendens sehingga sedikit isi hasil dari dorongan ke depan. Oleh karena itu bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan dicampur sehingga bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar, dan cairan serta zat terlarut secara progresif diabsorbsi hingga terdapat 80-200 ml feses yang dikeluarkan tiap hari (boulton 2011).. 2. Gerakan Mendorong (Pergerakan Massa) Banyak dorongan dalam sekum dan kolon asendens dari kontraksi haustra yang lambat tapi persisten, kimus saat itu sudah dalam keadaan lumpur setengah padat. Dari sekum sampai sigmoid, pergerakan massa mengambil alih peran pendorongan untuk beberapa menit menjadi satu waktu, kebanyakan 1-3 x/hari gerakan. Selain itu, kolon mempunyai kripta lieberkuhn tapi tidak ber-vili. Menghasilkan mucus (sel epitelnya jarang mengandung enzim). Mucus mengandung ion bikarbonat yang diatur oleh rangsangan taktil , langsung dari sel epitel dan oleh refleks saraf setempat terhadap sel mucus Krista lieberkuhn. Rangsangan n. pelvikus dari medulla spinalis yang membawa persarafan parasimpatis ke separuh sampai dua pertiga bagian distal kolon. Mucus juga

berperan dalam melindungi dinding kolon terhadap ekskoriasi, tapi selain itu menyediakan media yang lengket untuk saling melekatkan bahan feses. Lebih lanjut, mucus melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang berlangsung dalam feses, ion bikarbonat yang disekresi ditukar dengan ion klorida sehingga menyediakan ion bikarbonat alkalis yang menetralkan asam dalam feses. Mengenai ekskresi cairan, sedikit cairan yang dikeluarkan melalui feses (100 ml/hari). Jumlah ini dapat meningkat sampai beberapa liter sehari pada pasien diare berat (boulton 2011). Absorpsi dalam Usus Besar Sekitar 1500 ml kimus secara normal melewati katup ileosekal, sebagian besar air dan elektrolit di dalam kimus diabsorbsi di dalam kolon dan sekitar 100 ml diekskresikan bersama feses. Sebagian besar absorpsi di pertengahan kolon proksimal (kolon pengabsorpsi), sedang bagian distal sebagai tempat penyimpanan feses sampai akhirnya dikeluarkan pada waktu yang tepat (kolon penyimpanan) (boulton 2011). Absorbsi dan Sekresi Elektrolit dan Air. Mukosa usus besar mirip seperti usus halus, mempunyai kemampuan absorpsi aktif natrium yang tinggi dan klorida juga ikut terabsorpsi. Ditambah taut epitel di usus besar lebih erat dibanding usus halus sehingga mencegah difusi kembali ion tersebut, apalagi ketika aldosteron teraktivasi. Absorbsi ion natrium dan ion klorida menciptakan gradien osmotic di sepanjang mukosa usus besar yang kemudian menyebabkan absorbsi air. Dalam waktu bersamaan usus besar juga menyekresikan ion bikarbonat (seperti penjelasan diatas) membantu menetralisir produk akhir asam dari kerja bakteri didalam usus besar (boulton 2011). Kemampuan Absorpsi Maksimal Usus Besar Usus besar dapat mengabsorbsi maksimal 5-8 L cairan dan elektrolit tiap hari sehingga bila jumlah cairan masuk ke katup ileosekal melebihi atau melalui sekresi usus besar melebihi jumlah ini akan terjadi diare (Boulton, 2011). 2.1.2 Definisi Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan pada apendiks. Apendiks disebut juga umbai cacing. Kita sering salah kaprah dengan mengartikan apendisitis dengan istilah usus buntu, karena usus buntu sebenarnya adalah sekum. Organ apendiks pada awalnya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh). Organ ini cukup sering menimbulkan masalah kesehatan dan peradangan akut apendiks yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumya berbahaya. 2.1.3 Etiologi Apendistis Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur, penyakit cacing atau parasit . Berikut akan dijelaskan tentang hal hal tersebut : 1. Obstruksi lapisan saluran lumen appendiks Obstruksi lapisan saluran lumen appendiks dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : benda asing misalnya biji cabai, pembesaran jaringan limfoid, kanker. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu. 2. Penyakit cacing atau parasit Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), cacing atau parasit yang masuk ke dalam sistem pencernaan melalui makanan yang dikonsumsi. Cacing yang beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu. 2.1.4 Patofisiologi Apendisitis Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi

normal dari mukosa apendiks yang distensi. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia, menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi (luka) mukosa dan invasi bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah (Mc.burney), keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Infiltrat

apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. (Jehan, E., 2003).

2.1.5 Klasifikasi Apendisitis 1. Apendisitis Akut a. Apendisitis Akut Sederhana (Cataral Appendisitis)

Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan. Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa. b. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis) Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum. c. Appendicitis Akut Gangrenosa Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen.

2.

Appendicitis Infiltrat Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat

dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya. 1. Appendicitis Abses Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic. 2. Appendicitis Perforasi Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik. 3. Appendicitis Kronis Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi.

2.1.6 Manifestasi Klinis Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar umbilikus. Hal ini disebabkan oleh pembengkakan akibat inflamasi. Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Ruptura pada appendix bisa memicu peningkatan nyeri. Mual dan muntah bisa mucul dalam apendisitis sebagai akibat dari nyeri yang muncul. Mual dan muntah umumnya muncul terutama bila terjadi nyeri sekitar umbilikus.

Sebagai hasil dari akumulasi bakteri di apendix terjadilah inflamasi. Hal ini memicu peningkatan sel darah putih dan peningkatan suhu hingga 38.8 celsius. Penurunan nafsu makan juga muncul akibat adanya nyeri, mual, dan muntah tersebut. (Hurst, 2008) 2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Sel darah putih: tinggi dengan pergeseran ke kiri 10,000 sampai 16,000/cmm, neutrophilis 75%. 2. Abdominal films: munculnya fecalith di kuadran kanan bawah atau lokal ileus. 3. Barium enema (di bawah tekanan rendah): mengosongkan usus buntu dan massa (berguna dalam kasus atipikal dan bayi); tidak umum dipakai dalam kasus-kasus rutin 4. Pyelogram intravena (IVP): untuk membedakan penyakit usus buntu yang diduga dari penyakit saluran kemih. 5. Urinalisis: sedikitnya jumlah erytrosit dan leukosit 2.1.8 Web of Caution

2.1.5 Penatalaksanaan Penatalaksanaan apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendektomi. Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi. Penggunaan ligasi ganda pada setelah appendektomi terbuka dilakukan dengan jahitan yang mudah diserap tubuh. Ligasi yang biasa dilakukan pada apendektomi adalah dengan purse string (z-stich atau tobacco sac) dan ligasi ganda. Pada keadaan normal, digunakan jahitan purse string. Ligasi ganda digunakan pada saat pembalikkan tunggul tidak dapat dicapai dengan aman, sehingga yang dilakukan adalah meligasi ganda tunggul dengan dua baris jahitan. Dengan peningkatan penggunaan laparoskopi dan peningkatan teknik laparoskopik, apendektomi laparoskopik menjadi lebih sering. Prosedur ini sudah terbukti menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah, akan tetapi terdapat peningkatan kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk diagnosis dan terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita. Beberapa studi mengatakan bahwa laparoskopi meningkatkan kemampuan dokter bedah untuk operasi.

Insisi Grid Iron (McBurney Incision) Insisi Gridiron pada titik McBurney. Garis insisi parallel dengan otot oblikus eksternal, melewati titik McBurney yaitu 1/3 lateral garis yang

menghubungkan spina liaka anterior superior kanan dan umbilikus. Figure 3.1 Lanz transverse incision Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah pusat, insisi transversal pada garis miklavikula-midinguinal. Mempunyai

keuntungan kosmetik yang lebih baik dari pada insisi grid iron.

Figure 3.2 Rutherford Morissons incision (insisi suprainguinal) Merupakan insisi perluasan dari insisi McBurney. Dilakukan jika apendiks terletak di parasekal atau retrosekal dan terfiksir. Figure 3.3

Low Midline Incision Dilakukan jika apendisitis sudah terjadi perforasi dan terjadi peritonitis umum.

Figure 3.4 Insisi paramedian kanan bawah Insisi vertikal paralel dengan midline, 2,5 cm di bawah umbilikus sampai di atas pubis.

Figure 3.5 Tabel 3.1 Macam-macam Insisi untuk apendiktomi

2.2 Diverticular Disease 2.2.1 Anatomi Fisiologi Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Usus Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon terdiri dari kolon kolon kolon menanjak melintang menurun

(ascending), (transverse),

(descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan "kolon kanan", sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan "kolon kiri" (longo, 2010)

Fungsi usus besar: 4. Mengabsorbsi 80%-90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dan cairan menjadi massa semipadat. 5. Memproduksi kimus. 6. Mengeksresikan zat sisa dalam bentuk feses. Usus besar dibedakan menjadi: c. Coecum. Merupakan pembatas antara ileum dengan kolon. d. Kolon. Pada kolon terjadi gerakan mencampur isi kolon dengan gerakan mendorong. Pada kolon ada tiga divisi yaitu: Kolon asendens; yang merentang dari coecum sampai ke tepi bawah hati disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika. Kolon transversum ; merentang menyilang abdomen ke bawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah pada fleksura spienik. Kolon desendens; merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rectum (boulton 2011). Gerakan usus besar, di bagi menjadi dua gerakan, yaitu: 3. Gerakan Mencampur (Haustrasi) Gerakan segmentasi dengan konstriksi sirkular yang besar pada kolon, 2.5 cm otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen hampir tersumbat. Saat yang sama, otot longitudinal kolon (taenia koli) akan berkontraksi. Kontraksi gabungan tadi menyebabkan bagian usus yang tidak terangsang menonjol keluar (haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas puncak dalam waktu 30 detik, kemudian menghilang 60 detik berikutnya, kadang juga lambat terutama sekum dan kolon asendens sehingga sedikit isi hasil dari dorongan ke depan. Oleh karena itu bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan dicampur sehingga bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar, dan cairan serta zat terlarut secara progresif diabsorbsi hingga terdapat 80-200 ml feses yang dikeluarkan tiap hari (boulton 2011)..

4. Gerakan Mendorong (Pergerakan Massa) Banyak dorongan dalam sekum dan kolon asendens dari kontraksi haustra yang lambat tapi persisten, kimus saat itu sudah dalam keadaan lumpur setengah padat. Dari sekum sampai sigmoid, pergerakan massa mengambil alih peran pendorongan untuk beberapa menit menjadi satu waktu, kebanyakan 1-3 x/hari gerakan. Selain itu, kolon mempunyai kripta lieberkuhn tapi tidak ber-vili. Menghasilkan mucus (sel epitelnya jarang mengandung enzim). Mucus mengandung ion bikarbonat yang diatur oleh rangsangan taktil , langsung dari sel epitel dan oleh refleks saraf setempat terhadap sel mucus Krista lieberkuhn. Rangsangan n. pelvikus dari medulla spinalis yang membawa persarafan parasimpatis ke separuh sampai dua pertiga bagian distal kolon. Mucus juga berperan dalam melindungi dinding kolon terhadap ekskoriasi, tapi selain itu menyediakan media yang lengket untuk saling melekatkan bahan feses. Lebih lanjut, mucus melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang berlangsung dalam feses, ion bikarbonat yang disekresi ditukar dengan ion klorida sehingga menyediakan ion bikarbonat alkalis yang menetralkan asam dalam feses. Mengenai ekskresi cairan, sedikit cairan yang dikeluarkan melalui feses (100 ml/hari). Jumlah ini dapat meningkat sampai beberapa liter sehari pada pasien diare berat (boulton 2011). Absorpsi dalam Usus Besar Sekitar 1500 ml kimus secara normal melewati katup ileosekal, sebagian besar air dan elektrolit di dalam kimus diabsorbsi di dalam kolon dan sekitar 100 ml diekskresikan bersama feses. Sebagian besar absorpsi di pertengahan kolon proksimal (kolon pengabsorpsi), sedang bagian distal sebagai tempat penyimpanan feses sampai akhirnya dikeluarkan pada waktu yang tepat (kolon penyimpanan) (boulton 2011). Absorbsi dan Sekresi Elektrolit dan Air. Mukosa usus besar mirip seperti usus halus, mempunyai kemampuan absorpsi aktif natrium yang tinggi dan klorida juga ikut terabsorpsi. Ditambah taut epitel di usus

besar lebih erat dibanding usus halus sehingga mencegah difusi kembali ion tersebut, apalagi ketika aldosteron teraktivasi. Absorbsi ion natrium dan ion klorida

menciptakan gradien osmotic di sepanjang mukosa usus besar yang kemudian menyebabkan absorbsi air. Dalam waktu bersamaan usus besar juga menyekresikan ion bikarbonat (seperti penjelasan diatas) membantu menetralisir produk akhir asam dari kerja bakteri didalam usus besar (boulton 2011). Kemampuan Absorpsi Maksimal Usus Besar Usus besar dapat mengabsorbsi maksimal 5-8 L cairan dan elektrolit tiap hari sehingga bila jumlah cairan masuk ke katup ileosekal melebihi atau melalui sekresi usus besar melebihi jumlah ini akan terjadi diare (Boulton, 2011). 2.2.2 Definsi Diverticular Disease Penyakit divertrikel usus besar adalah penyakit fungsional yang dihasilkan dari aktivitas neuromuskuler diubah dalam usus besar. Terjadinya akibat dari peradangan sekitar divertikulum tunggal. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan abses pericolic atau panggul. Perforasi bebas dari purulen menyebabkan peritonitis. Komunikasi asli dengan lumen usus biasanya lenyap. Lebih jarang, dengan baik evolusi cepat atau kegagalan leher divertikular untuk melenyapkan, mengembangkan komunikasi bebas antara lumen usus dan rongga peritoneal, menyebabkan peritonitis tinja. Peritonitis fecal hasil dalam tingkat kematian sangat tinggi. \Pendekatan operasi untuk pasien dengan penyakit divertikular berlubang harus individual dan tergantung pada tahap penyakit yang hadir, kondisi umum pasien, pengalaman ahli bedah di operasi usus besar dan ketersediaan fasilitas dan personil untuk memberikan perawatan intensif. Dalam lembaga yang lebih besar bila kondisi yang optimal, reseksi primer dari usus yang sakit dengan atau tanpa anastomosis menjadi prosedur pilihan. Dalam lembaga yang lebih kecil atau jika kondisi tidak optimal, kolostomi transversal kanan dengan drainase segmen berlubang dapat diandalkan untuk mengendalikan penyakit dengan tingkat kematian dibandingkan dengan reseksi primer. Jika perforasi bebas dan peritonitis fecal yang hadir, exteriorization atau reseksi segmen utama berlubang harus dilakukan. Kami tidak akan merekomendasikan anastomosis primer dalam situasi seperti ini (Hinchey, 1978) 2.2.3 Etiologi Diverticular

Diverticular terjadi bila makanan dan bakteri tertahan di suatu divertikulum yang menghasilkan infeksi dan inflamasi yang dapat membentuk drainase dan akhirnya menimbulkan perforasi atau pembentukan abses. Diverticula juga bisa diakibatkan oleh connective-tissue diseases seperti Ehlers Danlos syndrome, Marfans syndrome, and autosomal-dominant polycystic kidney disease. 2.2.4 Patofisiologi a. Diverticulosis Diet rendah serat mengakibatkan feces sulit dikeluarkan karena feces cenderung keras serta mempersulit motilitas kolon. Keadaan ini memicu peningkatan tekanan intra luminal sebagai kompensasi. Peningkatan yang terlalu tinggi ini bisa mengakibatkan protrusi dari lapisan mukosa dan submukosa, colon artery, dan vasa recta menembus musculus propia serta bagian lemah lain pada dinding kolon. Protrusi inilah yang kemudian menjadi diverticula (Black, 2005). Connective-tissue diseases menyebabkan perubahan structural dinding kolon sehingga mudah robek sehingga memicu diverticulosis (World Gastroenterology Organization, 2007). Dalam pembentukannya ada 2 type diverticula true diverticula dan

pseudodivertivula. True diverticula adalah herniasi mukosa, colon artery, dan vasa recta sehingga menimbulkan bentukan mirip kantung diseluruh dinding colon. Sedangkan psudodiverticula hanya protrusi mukosa melewati musculus propia (longo, 2010). b. Diverticulitis. Adanya diverticula menurunkan motilitas colon. Ditambah dengan menyempitnya saluran colon akibat diverticula membuat feces terperangkap antara diverticula. Keadaan ini rentan terhadap infeksi. Bila terjadi infeksi pada diverticula maka terjadi reaksi inflamasi pada diverticula dan disebut diverticulitis (Longo, 2010). Adanya diverticulitis bisa sangat berbahaya karena rupture pada diverticula bisa memicu haemorrhage, abcess, fistula bahkan perforasi pada kolon. 2.2.5 Manifestasi Klinis

Seringkali divertikular tidak menimbulkan gejala, meskipun Anda mungkin mengalami penyimpangan dalam kebiasaan buang air besar. Jika gejala muncul, mereka mungkin termasuk yang berikut: a. Nyeri perut, terutama setelah makan di sisi kiri bawah perut b. Dubur tidak nyeri perdarahan atau lewat darah dalam tinja c. Demam d. Mual e. Muntah f. Tidak teratur buang air besar, termasuk sembelit atau diare g. Gas h. Kembung (Hurst, 2008) Beberapa orang dengan diverticulitis mengembangkan fistula, atau lorong-lorong abnormal dari usus ke dalam perut atau ke organ lain seperti kandung kemih. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih gas, dalam urin, nyeri saat kencing, atau kebutuhan lebih sering buang air kecil. Beberapa orang mengembangkan peritonitis, suatu peradangan selaput perut. Gejala peritonitis mungkin termasuk nyeri perut tiba-tiba, kejang otot, menjaga (kontraksi otot tak sadar untuk melindungi daerah yang terkena), dan mungkin sepsis, istilah untuk infeksi yang telah menyebar ke darah. Peritonitis dapat mengancam kehidupan jika tidak diobati. Tanpa komplikasi penyakit divertikular biasanya tidak berhubungan dengan gejala. Gejala terkait dengan komplikasi penyakit divertikular termasuk diverticulits dan perdarahan. Penyakit divertikular adalah penyebab umum dari perdarahan yang signifikan dari usus besar. Divertikulitis - infeksi pada divertikula - dapat menyebabkan satu atau lebih dari gejala berikut: nyeri di perut, menggigil, demam dan perubahan kebiasaan buang air besar. Gejala yang lebih intens berhubungan dengan komplikasi serius seperti perforasi (pecah), abses atau pembentukan fistula (koneksi abnormal antara usus besar dan organ lain atau kulit). 2.2.6 Pemeriksaan Diagnosis Diverticular

1. Barium enema: menunjukkan divertikulum dan pemendekan, penyempitan, dan deformitas haustral. 2. Ultrasonography: menunjukkan masa atau abses. 3. Sigmoidoscophy atau colonoscopy: lubang di diverticula mungkin tampak (risiko tinggi perforasi jika instrument masuk divertikulum). 4. Pyelogram intravena (IVP): untuk menyingkirkan massa pada ureter kiri atau fistula usus vesikalis. 5. Sel darah putih: meningkat dengan pergeseran ke kiri di diverticulitis. 6. Urinalisis: beberapa sel darah merah mungkin ditemukan di urin jika ureter terpengaruh. 2.2.7 Web of Caution

2.2.8 Penatalaksanaan Usus di istirahatkan dengan menunda asupan oral, memberikan cairan intravena, dan melakukan pengisapan nasogastrik bila ada muntahan atau distensi. Antibiotic spectrum luas diberikan selama 7 sampai 10 hari. Pemeridin (Demoral) diberikan untuk menghilangkan nyeri. (Morfin tidak digunakan karena preparat ini akan meningkat segmentasi dan tekanan intraluminal.Asupan oral ditingkatkan bila gejala berkurang. Diet rendah serta mungkin tetap diperlukan sampai tanda infeksi berkurang. Antipasmodik seperti propantelinm bromide (Pro-Ban-thine) dan

oksifensiklimin (Daricon)dapat diberikan. Feses normal dapat dicapai dengan menggunakan preparat bulk (Metamucil)atau pelunak feses (Colane),dengan mengisi minyak hangat ke dalam rectum, atau dengan memasukkan supositoria evakuan (dulcolax).Rencana profil laktik ini akan mengurangi bakteri flora usus, menurunkan bulk feses, dan melunakkan massa feses, sehingga feses bergerak lebih mudahmelalui area obstruksi inflamasi

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Asuhan Keperawatan Apendisitis 3.1.1 Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan yang meliputi aspek biopsiko-sosio-spiritual secara komperhensif. Maksud dari pengkajian adalah untuk mendapatkan informasi atau data tentang paasien . data tersebut berasal dari pasien (data primer), dari keluarga (data keluarga), dan data dari catatan yang ada (data tersier). Pengkajian dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan melalui wawancara, observasi langsung , dan melihat catatan medis, adapun data yang diperlukan pada klien apendisitis adalah sebagai berikut a. Data dasar Adapun data dasar yang dikumpulkan meliputi : 1. Identitas klien Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin,status perkawinan, per suku bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat tanggal masuk rumah sakit, pendapatan, nomor register, diagnosa medis. Apendisitis sering ditemukan pada orang berusia antara 20-40 tahun. Orang yang terlalu muda atau terlalu tua memiliki bentuk apendiks yang berbeda. 2. Riwayat Kesehatan Sekarang Meliputi perjalanan penyakitnya, awal dari gejala yang dirasakan klien, keluhan timbul secara mendadak atau bertahap, factor pencetus, upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. 3. Riwayat kesehatan masa lalu Berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang,pemeriksaan fisik,keadaan umum. 4. Riwayat kesehatan keluarga Meliputi adakah keluarga yang mempunyai penyakit keturunan 5. Riwayat psikososial Meliputi mekanisme koping yang digunakan klien untuk mengatasi masalah dan bagaimana motivasi kesembuhan dan cara klien menerima keadaannya. 6. Pola kebiasaan sehari-hari

Meliputi cairan, nutrisi, eliminasi, personal hygine, istirahat tidur, aktivitas dan latihan secara kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan. b. Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi Inspeksi: Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit,kembung bila terjadi perforasi, penonjolan perut kanan bawah terlihat pada appendikuler abses. Pemeriksaan pada anak, perhatikan posisi anak yang terbaringpada meja periksa. Anak menunjukkan ekspresi muka yang tidak gembira. Anaktidur miring ke sisi yang sakit sambil melakukan fleksi pada sendi paha, karena setiap ekstensi meningkatkan nyeri. 2. Palpasi Tujuan palpasi adlah untuk menentukan apakah penderita sudah mengalami iritasi peritoneum atau belum.Pada pemeriksaan abdomen pada anak dengan permukaan tangan yang mempunyai suhu yang sama dengan suhu abdomen anak.Biasanya cukup dipanaskan dengan dengan menggosokgosok tangan dengan pakaian penderita.Tangan yang dingin akan merangsang otot dinding abdomen untuk berkontraksi sehingga sulit menilai keadaan intraperitoneal.Abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung.Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan,dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri.Palpasi dengan permukaan dalam (volar) dari ujung-ujung jari tangan,dengan tekanan yang ringan dapat ditentukan adanya nyeri tekan. 3. Perkusi Pada pemeriksaan ini biasanya didapatkan nyeri saat dilakukan perkusi. 4. Auskultasi Peristaltik normal,peristaltic menghilang pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat perforasi apendiks. Auskulatasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis,tetapi kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltic usus. 5. Rectal toucher dan Vaginal Toucher Colok dubur juga tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis pada anak kecil karena biasanya menangis terus menerus.

Walaupun pemeriksaan colok dubur dan colok vagina seringkali tidak didapatkan kelainan, namun pada apendisitis dengan posisi pelvis tidak jarang didapatkan nyeri tekan pada jam 9-12 pada pemeriksaan colok dubur dan vagina.Nyeri tekan pada pemeriksaan colok dubur dan vagina dapat memperkuat diagnosis namun tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis apendisitis akut. 6. Per-Sistem (B1-B6) a. B1 (Breath) b. B2 (Blood) : Takipnoe, pernapasan dangkal : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan

pendarahan, mimisan splenomegali. c. B3 (Brain) :-

d. B4 (Bladder) : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang. e. B5 ( Bowel) :Distensi abdomen,nyeri tekan atau nyeri

lepas,kekakuan,pomen sekitar penurunan atau tidak danya bising usus,nyeri abdomen sekitar epigastrium dan sekitar umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc.Burney,meningkat karena berjalan,bersin,batuk,atau nafas dalam,nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan atau posisi duduk tegak. f. B6 (Bone) : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak. c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang terdiri atas pemeriksaan laboratorium, radiologis, danhistopatologis. Secara umum pemeriksaan penunjang biasanya diperlukan pada kasuskasus yang meragukan. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap dan CReactive Protein bertujuan untuk melihat adanya tanda-tanda inflamasi. Pemeriksaan lain seperti urin lengkap bertujuan untuk mencari kelainan lain atau diagnosis banding dari apendisitis akut.Pemeriksaan radiologis tidak selalu diperlukan dan disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia.

1. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium masih merupakan bagian penting untuk menilai awal keluhan nyeri kwadran kanan bawah dalam menegakkan diagnosis apendisitis akut. Pada pasien dengan apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat, walaupun hal ini bukan hasil yang karakteristik.Penyakit infeksi pada pelvis terutama pada wanita akan memberikan gambaran laboratorium yang terkadang sulit dibedakan dengan apendisitis akut.Pemeriksaan laboratorium merupakan alat bantu diagnosis. Pada dasarnya peradangan merupakan reaksi lokal dari jaringan hidup terhadap suatu jejas. Reaksi tersebut meliputi reaksi vaskuler, neurologik, humoral dan seluler. 2. Foto Polos Abdomen Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu. Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan bawah yang sesuai dengan lokasi apendiks, gambaran ini ditemukan pada 20% kasus.1,5 Kalau peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian kanan bawah akan kolaps. Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara. Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain. Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan.Gambaran ini tampak pada penderita apendisitis akut.1 Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara bebas di bawah diafragma.Pemeriksaan radiologi dengan kontras barium enema hanya digunakan pada kasuskasus menahun. Pemeriksaan radiologi dengan barium enema dapat menentukan penyakit lain yang menyertai apendisitis. Barium enema adalah suatu pemeriksaan x-ray dimana barium cair dimasukkan ke kolon dari anus untuk memenuhi kolon. Tes ini dapat seketika menggambarkan keadaan kolon di sekitar dimana peradangan yang terjadi juga didapatkan pada kolon. 3. Ultrasonografi

Ultrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis apendisitis akut maupun apendisitis dengan abses.Untuk dapat mendiagnosis apendisitis akut diperlukan keahlian,ketelitian, dan sedikit penekanan transduser pada abdomen. Apendiks yang normal jarang tampak dengan pemeriksaan ini.Apendiks yang meradang tampak sebagai lumen tubuler,diameter lebih dari 6 mm, tidak ada peristaltik pada penampakan longitudinal, dan gambaran target pada penampakan transversal.Keadaan awal apendisitis akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan apendiks, lumen yang utuh, dan diameter 911 mm.Keadaan apendiks supurasi atau gangren ditandai dengan distensi lumen oleh cairan,penebalan dinding apendiks dengan atau tanpa apendikolit.Keadaan apendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding apendiks yang asimetris, cairan bebas intraperitonial, dan abses tunggal atau multipel.Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada apendisitis akut, ditemukan adanya fekalit, udara intralumen, diameter apendiks lebih dari 6 mm,penebalan dinding apendiks lebih dari 2 mm dan pengumpulan cairan perisekal.Apabila apendiks mengalami ruptur atau perforasi maka akan sulit untuk dinilai, hanya apabila cukup udara maka abses apendiks dapat diidentifikasi. 4. Computed Tomography Scanning (CT-Scan) Pada keadaan normal apendiks, jarang tervisualisasi dengan pemeriksaan skening ini.Gambaran penebalan dinding apendiks dengan jaringan lunak sekitar yang melekat,mendukung keadaan apendiks yang meradang.CT-Scan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90100% dan 9697%, serta akurasi 94100%.Ct-Scansangat baik untuk mendeteksi apendiks dengan abses atau flegmon. 5. Laparoskopi (Laparoscopy) Dibidang bedah, laparoskopi dapat berfungsi sebagai alat diagnostik dan terapi. Disamping dapat mendiagnosis apendisitis secara langsung, laparoskopi juga dapat digenakan untuk melihat keadaan organ

intraabdomen lainnya. Hal ini sangat bermanfaat terutama pada pasien wanita. Pada apendisitis akut laparoskopi diagnostik biasanya dilanjutkan dengan apendektomi laparoskopi.

3.1.2 Diagnosis dan Intervensi Keperawatan a. Pre-operatif Diagnosis : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal Tujuan : Nyeri akan berkurang atau teratasi

Kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mengontrol nyeri,penggunaan agen farmakologi diharapkan dapat menghentikan atau mengurangi nyeri

Intervensi 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.

Rasional 1. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat

memberikan tindakan selanjutnya. 2. Anjurkan untuk

2. Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi dan dapat mengurangi rasa nyeri

melakukan pernapasan da lam,masase,atur yang posisi

nyaman,ajarkan

metode distraksi,ajarkan teknik relaksasi. 3. Beri analgetik 3. Profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti). 4. Tingkatkan istirahat 4. Istirahat yang cukup dapat mengurang nyeri

Diagnosis : Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah.

Diagnosa :Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah pre opersi Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan

Kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan keseimbangan cairan pasien dapat terpenuhi Intervensi 1. Monitor vital 2. Monitor intake dan out put dan konsentrasi 2. Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan. 3. Beri demi sering. cairan sedikit sedikit tapi 3. Dengan memberikan cairan yang sering akan tanda-tanda Rasional 1. Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.

urine.

meminimalkan hilangnya cairan.

Diagnosis : Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya

Kriteria hasil : Pasien mengetahui tentang proses penyakit dengan indicator pasien dapat mendiskripsikan faktor penyebab,mendeskripsikan faktor resiko,mendeskripsikan tindakan pencegahan untuk komplikasi. Intervensi Rasional

1.

Jelaskan

pada

klien

1. Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh

tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi

2. Menganjurkan aktivitas yang sabar progresif dan

2. Mencegah

luka

baring dan

dapat

mempercepat

penyembuhan

menghadapi

periode istirahat setelah operasi 3. Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi verband, 3. Mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan.

pergantian

pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan

Diagnosis Tujuan Intervensi 1. Kaji

: Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. : Setelah dilakukan perawatan nutrisi pasien dapat terpenuhi sesuai kebutuhan Rasional sejauh mana 1. Menganalisa Hasil yang diharapkan penyebab Status nutrisi pasien

ketidakadekuatan nutrisi klien 2. Perkirakan/hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal

melaksanakan intervensi

kembali normal dengan indikator: intake nutrient

2. Mengidentifikasi kekurangan nutrisi /

adekuat, intake makanan kebutuhan dan minuman normal,

berfokus

pada berat badan normal.

masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.

3. Timbang

berat

badan

3. Mengawasi secara diet.

keefektifan

sesuai indikasi 4. Beri makan sedikit tapi

4. Tidak memberi rasa bosan

sering

dan

pemasukan

nutrisi

dapat ditingkatkan. 5. Anjurkan kebersihan oral sebelum makan 6. Tawarkan minum saat makan bila toleran. 7. Konsul tetang 5. Mulut yang bersih

meningkatkan nafsu makan 6. Dapat mengurangi mual

dan menghilangkan gas 7. Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien kontrol memiliki dan rasa

kesukaan/ketidaksukaan pasien yang

menyebabkan distress

mendorong

untuk makan.

Diagnosis Tujuan Intervensi

: Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan : klien mampu merawat diri sendiri Rasional 1. Agar badan menjadi segar, melancarkan darah dan peredaran meningkatkan Hasil yang diharapkan Setelah tindakan dilakukan keperawatan

1. Mandikan pasien setiap hari mampu sampai klien

melaksanakan

pasien dapat melakukan kebersihan melakukan sehari-hari diri,dapat aktivitas secara

sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. 2. Ganti kotor bersih. 3. Berikan HE pada klien pakaian dengan yang yang 2.

kesehatan

Untuk dari

melindungi kuman

klien dan

mandiri, misalnya:berpakaian,toi leting

meningkatkan rasa nyaman

dan keluarganya tentang 3. Agar klien dan keluarga pentingnya diri 4. HE pada klien dan klien dan merasa lebih tersanjung kebersihan dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene.

keluarganya pentingnya

tentang 4. Agar kebersihan

diri 5. Bimbing keluarga / istri klien memandikan 6. Bersihkan dan atur

kooperatif dalam kebersihan

5. Agar

keterampilan

dapat

diterapkan merasa nyaman

posisi serta tempat tidur 6. Klien klien

dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi

3.1.3 Perencanaan 1. Persiapan umum operasi Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi: a. Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan). b. c. d. Mengukur tanda-tanda vital. Mengukur berat badan dan tinggi badan. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa). e. Wawancara.

2. Persiapan klien malam sebelum operasi Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi : a. Persiapan kulit Kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya infeksi.Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi. b. Persiapan saluran cerna.

Persiapan yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk : 7. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi. 8. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus. 9. Mencegah infeksi faeses saat operasi. Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan : 1. Puasa dan pembatasan makan dan minum. 2. Pemberian enema jika perlu. 3. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu. 4. Jika klien menerima anastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester. b. Persiapan untuk anastesi Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi. c. Meningkatkan istirahat dan tidur Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup. 3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obatobatan Pre-operasi : a. Mencatat tanda-tanda vital b. Cek gelang identitas klien c. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik d. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus e. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir f. Anjurkan klien untuk buang air kecil g. Perawatan mulut jika perlu

h. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala i. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah. 3.1.4 Evaluasi a. Gangguan rasa nyaman teratasi b. Tidak terjadi infeksi c. Gangguan nutrisi teratasi d. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya e. Tidak terjadi penurunan berat badan f. Tanda-tanda vital dalam batas normal (Doengoes,2000) 3.2 Asuhan Keperawatan Klien dengan Penyakit Divertikular 3.2.1 Pengkajian 1. Anamnesa a. Data demografi Meliputi nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, dan alamat b. Keluhan utama Keluhan utama yang terjadi pasien dengan gangguan divertikulum adalah konstipasi, nyeri, mual, muntah, diare dan kram pada kuadran kiri bawah dari abdomen c. Riwayat penyakit dahulu Adanya penyakit konstipasi dan disassociative tissue disease bisa mengarah pada munculnya diverticular disease. d. Onset: biasanya nyeri datangnya mendadak walaupun harus dibedakan, apakah sebelumnya ada riwayat buang air besar tidak seperti biasanya e. Riwayat penyakit sekarang

Riwayat penyakit sekarang adalah perjalanan penyakit mulai dari keluhan atau gejala, proses berjalannnya penyakit sampai masuk rumah sakit dan mendaptkan terapi apa aja sebelumnya. f. Riwayat penyakit keluarga Meliputi penyakit yang mungkin saj menurun, misalkan: kanker, diabetes melitus, hipertensi dan lain-lain. 2. Pemeriksaan Penunjang 1. Sinar X, dengan barium enema ditemukan tumor dan kolon yang kolaps 2. CT Scan ditemukan tumor dan kolon yang kolaps 3. Kolonoskopi, ditemukan tumor di dalam kolon 4. Test Laboratorium 3. Pemeriksaan Fisik B1 (Breath) B2 (Blood) : Takipnea : Anemia: keadaan sirkulasi (denyut nadi, TD postural): adanya syok harus dikenali dan ditangani sedini mungkin takikardi. B3 (Brain) : Pucat, gangguan kesadaran.

B4 (Bladder) : Oliguri. B5 (Bowel) : Kejang perut, Sembelit, Sedikit diare, melena, mual, muntah, anoreksia, nyeri abdomen (walaupun nyeri kolik ringan merupakan gejala non spesifik, nyeri yang berat menunjukkan adanya iskemia intestinal), tidak terabanya massa pada abdomen belum

menyingkirkan kemungkinan keganasan. B6 (Bone) i. : lemas.

Diagnosis Keperawatan dan Intervensi A. Asuhan Keperawatan Pre-operatif 1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit a. Data Subjektif: 1. Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan dengan isyarat. 2. Mengomunikasikan penggambaran nyeri, seperti ketidaknyamanan, mual, rasa sakit menjalar ke belakang, kadang-kadang merasa mulas. b. Data Objektif 1. Klien tampak menghindari nyeri

2. Terlihat respon-respon otonomik seperti diaforesis, perubahan tekanan darah dan pulsasi nadi, serta terjadi dilatasi pupil. 3. Klien tampak melakukan perilaku distraksi seperti mondar-mandir, mencari orang dan/atau aktivitas lain, mupun melakukan aktivitas berulang. 4. Klien terlihat menyeringai c. Tujuan: a. Nyeri berkurang atau hilang b. Pasien dapat mengatasi nyeri secara mandiri d. Kriteria Hasil Klien akan: 1. Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan. 2. Mempertahankan tingkat nyeri pada (sebutkan skala 0-10) atau kurang. 3. Mengenali penyebab dan menggunakan tindakan yang mampu mencegah nyeri. 4. Melaporkan nyeri pada penyedia perawatan kesehatan e. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi Lakukan pengkajian nyeri Rasionalisasi yang Dengan mengetahui kelima faktor

komprehensif meliputi PQRST (Provoke, yang berhubungan dengan timbulnya Quality, Region, Severity, Time) nyeri pada klien, diharapkan tepat

intervensi

yang

dilakukan

untuk mengatasi nyeri. Observasi isyarat ketidaknyamanan Untuk klien nyeri dengan skala 10,

nonverbal, khususnya pada mereka yang klien dapat saja tidak mengikuti tidak mampu mengomunikasikannya perintah, mengejan tanpa dapat

secara efektif

dikendalikan,

menarik-narik,

memukul benda di sekitarnya, tidak responsif terhadap tindakan, tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri yang dirasakan, oleh karena itu perawat harus peka terhadap

ekspresi klien.

Ajarkan klien untuk penggunaan hipnosis, Untuk

melaksanakan

manajemen

relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi nyeri secara nonfarmakologis. musik, hangat distraksi, sebelum, akupresur, setelah, kompres dan bila

memungkinkan saat nyeri berlangsung. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat Suhu ruangan yang panas, cahaya memengaruhi respon klien terhadap nyeri yang terlalu terang, atau suara yang gaduh dapat memicu respon nyeri pada klien. Laporkan kepada dokter jika tindakan Perawat dapat berkolaborasi dengan tidak berhasil atau jika keluhan saat ini dokter untuk pemberian agens

merupakan perubahan yang bermakna dari analgesik sebagai pereda nyeri. pengalaman nyeri klien yang lain.

5. Gangguan rasa nyaman, hipertermi berhubungan dengan peradangan dan infeksi a. Data subjektif: Pasien mengeluhkan adanya peningkatan suhu tubuh. b. Data objektif: 1. Kulit memerah 2. Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal 3. Frekuensi napas meningkat 4. Kejang 5. Kulit hangat bila disentuh 6. Takikardia c. Tujuan 1. Suhu badan normal (36,5-37,5 derajat celcius) 2. Rekuensi napas normal. 3. Tidak terjadi kejang. d. Kriteria hasil 1. Klien akan menunjukkan termoregulasi dibuktikan dengan: a. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan b. Suhu tubuh dalam batas normal

c. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan d. Tidak ada perubahan warna kulit e. Tidak tampak keletihan 2. Klien atau keluarga akan: a. Menunjukkan metode yang tepat untuk mengukur suhu b. Menjelaskan tindakan untuk mencegah atau mengurangi peningkatan suhu tubuh. c. Melaporkan tanda dan gejala dini hipertermia e. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi Rasionalisasi

1. Pantau suhu minimal setiap dua jam Dengan memantau suhu klien secara atau sesuai kebutuhan. kontinu dapat mengetahui apakah

2. Pantau suhu basal secara kontinu, tindakan yang dilakukan efektif untuk sesuai kebutuhan. 3. Pantau warna kulit dan suhu. Ajarkan indikasi keletihan karena panas Panas dan tindakan kedaruratan yang tinggi dapat memicu menunjukkan termoregulasi.

yang keletihan

diperlukan sesuai dengan kebutuhan. Tindakan kolaboratif: Berikan agens antipiretik seperti asetaminofen sesuai kebutuhan Asetaminofen bekerja secara langsung pada sel termoregulasi yang dalam

hipotalamus

menyebabkan

pengeluaran keringat dan vasodilatasi. Hal ini menyebabkan pelepasan panas dan penurunan demam (Karch, 2003).

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia a. Data subjektif: 1. Kram abdomen 2. Nyeri abdomen 3. Merasa kenyang segera setelah mengingesti makanan b. Data objektif 1. Tidak tertarik untuk makan 2. Kurangnya minat pada makanan

3. Konjungtiva dan membran mukosa pucat 4. Menolak untuk makan c. Tujuan: 4. Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi 5. Berat badan pasien meningkat ke arah normal 6. Nafsu makan pasien meningkat d. Kriteria Hasil: Klien akan: 1. Menunjukkan peningkatan status nutrisi yang dapat ditunjukkan dengan status gizi, diukur dengan ABCD, yaitu: a. Antropometri Mengukur besar dan komposisi tubuh. Efektif untuk mengetahui status protein dan kalori. Meliputi pengukuran TB, BB, lipatan kulit dan lingkar lengan. b. Biokimia Deteksi malnutrisi subklinis. Sampel urin dan darah dapat dibuat untuk mengukur nutrien atau metabolit (produk akhir enzim). c. Clinical 1. 2. Membran mukosa basah dan berwarna merah muda Nafsu makan baik

d. Dietary History Umumnya terdiri dari data tentang pola dan kebiasaan makan, pemilihan makanan, pembatasan-pembatasan, intake cairan setiap hari, penggunaan suplemen vitamin dan mineral termasuk masalah diet seperti kesulitan mengunyah atau meneguk, aktivitas fisik, riwayat kesehatan dan cara penyediaan makanan untuk memperoleh data tentang pola dan kebiasaan makan. 2. Melaporkan keadekuatan tingkat energi e. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi Rasionalisasi nutrisi sesuai dengan

1. Ketahui makanan kesukaan klien Memberi untuk makanan. mengubah

kebiasaan makanan yang disukai klien akan meningkatkan nafsu makan, sehingga

2. Tentukan kemampuan klien untuk tidak ditemukan adanya anoreksia. memenuhi kebutuhan nutrisi. 3. Pantau kamdungan nutrisi dan

kalori pada catatan asupan. 4. Timbang klien pada interval yang tepat. Berikan informasi yang tepat tentang Memberi kebutuhan nutrisi dan pendidikan kepada klien

bagaimana maupun keluarganya mengenai nutrisi yang tepat membuat klien mandiri dalam hal pemenuhan kebutuhan nutrisi dan mengatasi anoreksia

memenuhinya.

Tawarkan kudapan, misalnya minuman Buah-buahan segar dapat meningkatkan dan buah-buahan segar atau jus bila nafsu makan karena rasanya yang memungkinkan manis dan segar sehingga membuat klien tidak merasakan mual. Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi Agar makanan terserap optimal di sering sistem pencernaan dan lambung tidak cepat penuh, sehingga kebutuhan

nutrisi klien terpenuhi. Berikan asuhan keperawatan berupa oral hygiene pada klien Untuk menjaga kebersihan mulut dan menjaga kelembaban mukosa.

Kolaborasi dengan ahli gizi: tentukan Agar makanan yang masuk dalam jumlah kalori dan jenis zat gizi yang tubuh klien tidak sembarangan karena dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan memiliki kandungan gizi yang adekuat nutrisi sesuai dengan kebutuhannya.

4. Ansietas berhubungan dengan defisit pengetahuan proses penyakit a. Data subjektif: Mengungkapkan masalahnya secara verbal. b. Data Objektif: 1. Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat 2. Tidak tepat atau terlalu berlebihannya perilaku, misalnya: histeris, agitasi, dan apatis. c. Kriteria Hasil:

Klien atau keluarga akan: 1. Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan yang dianjurkan, misalnya informasi tentang diet. 2. Menunjukkan kemampuan (sebutkan keahlian atau perilakunya) d. Tujuan: Kecemasan klien berkurang atau hilang karena mengetahui proses penyakitnya e. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi Membantu klien dalam Rasionalisasi memahami Agar klien dapat memahami kondisi

informasi yang berhubungan dengan yang terjadi dalam tubuhnya sehingga proses khusus. timbulnya penyakit secara dapat bekerjasama dengan tenaga

kesehatan untuk peningkatan kualitas kesehatannya.

Membantu klien untuk memahami dan Dengan

mengetahui

seluk

beluk

mengetahui secara mental mengenai pembedahan, diharapkan klien dapat pembedahan serta metode pemulihan memiliki mental yang kuat untuk pascaoperasi. dilakukan pembedahan.

Mengikutsertakan keluarga atau anggota Bila perawat telah memberikan edukasi keluarga lain bila memungkinkan kepada klien namun tidak memberikan dampak keluarga kepercayaan diandalkan. yang dapat klien signifikan, menjadi yang maka orang dapat

5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif (diare) a. Data Subjektif: 1. Pasien mengeluh Haus. 2. Pasien mengeluh lemas. b. Data Objektif 1. Penurunan output urine dan peningkatan konsentrasi urine 2. Penurunan tekanan darah dan peningkatan nadi. 3. Penurunan turgor kulit. 4. Penurunan status mental

c. Tujuan: Mempertahankan keseimbangan volume cairan d. Kriteria Hasil Klien akan: 1. Mampu mempertahankan volume cairan pada level fungsional yang ditandai dengan output urine yang adequate (2 liter/hari), ttv stabil, turgor kulit baik. CRT 2 detik. 2. Mampu menunjukkan kemampuan untuk memonitor dan pemperbaiki

kekurangan cairan sesuai indikasi

a. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi Monitor tanda-tanda vital Rasionalisasi Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia. Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine. Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan. Pertahankan asupan cairan minimal 2,5 cc Asupan /hari menghindarkan cairan Kolaborasi dengan dokter pemberian obat Bila diare berhenti maka proses aktif untuk menghentikan diare kehilangan cairan juga terhenti yang dari adequate kekurangan

Ajarkan klien mengenai pemberian asupan Klien dapat memenuhi kebutuhan cairan yang benar cairannya sendiri secara mandiri

B. Tahap Operasi 1. Persiapan umum operasi

Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi: f. Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan). g. h. i. Mengukur tanda-tanda vital. Mengukur berat badan dan tinggi badan. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (H&H, Serum Glukosa, Urinalisa). j. Wawancara.

2. Persiapan klien malam sebelum operasi Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi : c. Persiapan kulit Kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya infeksi.Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi. d. Persiapan saluran cerna. Persiapan yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk : 1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi. 2. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus. 3. Mencegah infeksi faeses saat operasi. Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan : 6. Puasa dan pembatasan makan dan minum. 7. Pemberian enema jika perlu. 8. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu. 9. Jika klien menerima anastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro

intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester. d. Persiapan untuk anastesi Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi. e. Meningkatkan istirahat dan tidur Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup. 3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obatobatan Pre-operasi : j. Mencatat tanda-tanda vital k. Cek gelang identitas klien l. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik m. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus n. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir o. Anjurkan klien untuk buang air kecil p. Perawatan mulut jika perlu q. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala r. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.

C. Asuhan Keperawatan Post-Operatif 1. Risiko infeksi berhubungan dengan diskontinuitas jaringan sekunder terhadap pembedahan 1. Tujuan: Tidak terjadi infeksi postoperasi 2. Kriteria hasil: Klien akan: a. Terbebas dari gejala atau tanda infeksi b. Menunjukkan higiene pribadi yang adekuat

c. Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan d. Mengindikasikan status gastrointestinal dalam batas normal 3. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi 1. Memberikan edukasi Rasionalisasi kepada Pasien yang mengalami defisit

pengunjung untuk mencuci tangan nutrisi mempunyai risiko yang lebih sewaktu masuk dan meninggalkan tinggi ruangan pasien. terhadap infeksi setelah

dilakukan pembedahan. Oleh karena

2. Mengajarkan pasien dan keluarganya itu diharapkan pengunjung menjaga tentang tanda dan gejala infeksi dan higiene pribadi saat berinteraksi kapan harus melaporkannya kepada dengan pasien agar tidak terjadi petugas kesehatan. 1. Aktivitas kolaboratif: 2. Berikan diperlukan terapi antibiotik kontaminasi. Tujuan terapi antibiotik adalah

bila untukk menurunkan populasi bakteri penginfeksi sampai ke titik yang memungkinkan manusia dapat sistem secara imun efektif

menghadapi bakteri tersebut (Karch, 2003). Memberi asuhan keperawatan berupa Untuk mencegah infeksi dan invasi

rawat luka postoperasi dengan teknik bakteri. steril. 1. Bersihkan lingkungan dengan benar Untuk mengendalikan infeksi. setelah dipergunakan pasien. 2. Pertahankan diperlukan 3. Terapkan kewaspadaan universal 4. Batasi jumlah pengunjung bila teknik isolasi bila

diperlukan

2. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik keluarga 1. Data subjektif

a. Pengungkapan secara verbal keinginan untuk mengelola pengobatan penyakit dan mencegah gejala sisa. b. Pengungkapan secara verbal kesulitan pengaturan dari salah satu atau lebih efek atau pencegahan komplikasi. c. Pengungkapan secara verbal bahwa keluarga tidak dapat bertindak untuk mengurangi faktor risiko perkembangan penyakut dan gejala sisa. 2. Data objektif a. Percepatan gejala-gejala penyakit dari anggota keluarga b. Aktivitas keluarga yang tidak tepat dalam mencapai tujuan program pengobatan. c. Kurangnya perhatian terhadap penyakit dan gejala sisa. 3. Tujuan: Keluarga klien dapat membantu klien untuk mematuhi regimen terapeutik yang sudah diprogramkan untuk klien. 4. Kriteria Hasil Keluarga akan: a. Menunjukkan keinginan untuk mengekola regimen terapeutik b. Mengidentifikasi faktor-faktor pengganggu program terapeutik c. Mengatur kegiatan yang biasa dibutuhkan ke dalam program pengobatan anggota keluarga, misalnya diet 5. Intervensi dan Rasionalisasi Intervensi Identifikasi keluarga kemampuan untuk terlibat Rasionalisasi anggota Untuk menentukan anggota keluarga dalam yang mana yang untuk dapat diberi

perawatan pasien

tanggungjawab

melaksanakan

program terapeutik secara mandiri Berikan keterampilan yang dibutuhkan Agar keluarga pasien dapat melaksanakan untuk terapi pasien kepada pemberi program terapeutik kepada pasien secara perawatan mandiri di rumah dapat membantu pemberi

Dukung perawatan yang dilakukan Perawat

oleh anggota keluarga selama dirawat perawatan agar hasil yang dicapai lebih pada saat yang tepat maksimal

3.2.4 Evaluasi g. Nyeri teratasi h. Gangguan rasa nyaman hyperthermia teratasi i. Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi j. Ansietas teratasi k. Kekurangan volume cairan teratasi l. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya m. Tidak terjadi infeksi n. Tidak terjadi penurunan berat badan o. Tanda-tanda vital dalam batas normal (Doengoes,2000)

BAB 4 KESIMPULAN Apendisitis adalah peradangan pada apendiks. Penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi pada satu atau beberapa divertikula. Diverticular paling umum terjadi pada kolon sigmoid (95%). Hal ini diperkirakan bahwa kira-kira 20% pasien dengan divertikulosis mengalami diverticular pada titik yang sama. Seringkali divertikula tidak menimbulkan gejala, meskipun nanti mungkin mengalami penyimpangan dalam kebiasaan buang air besar. Asuhan keperawatan pada pasien apendisitis meliputi pengkajian dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan melalui wawancara, observasi langsung , dan melihat catatan medis, adapun data yang diperlukan pada klien gastritis. Diagnosa yang muncul pada pasien dengan apendisitis terbagi menjadi 2 diagnosa yaitu diagnosa preoperatif yang meliputi gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal, resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah, dan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Ada juga diagnosa post-operatif yang meliputi : resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh, nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun, dan defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. Diagnosa yang muncul pada pasien dengan diverticular juga terbagi menjadi 2 yaitu diagnosa pre-operatif meliputi nyeri berhubungan dengan proses penyakit, gangguan rasa nyaman, hipertermi berhubungan dengan peradangan dan infeksi, dan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia. Juga diagnosa post-operatif yang meliputi risiko infeksi berhubungan dengan malnutrisi dan ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik keluarga.

Daftar Pustaka
Hinchey EJ, Schaal PG, Richards GK. (1978) Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Vol. 2. E/8. Jakarta: EGC. Doenges, Marilyn E. 2008. Nurses Pocket Guide: Diagnosis, Prioritized, Interventions, and Rationales, Philadelphia: F.A Davis Company. Karch, Amy M. & Ariani, Fruoriolina et al. (Ed.). 2010. Buku Ajar Farmakologi Keperawatan. Jakarta: EGC Wilkinson, Judith M. & Meiliya, Eny et al. (Ed.). 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC. Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta. Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. 4.Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Black, Patricia K. 2005. Diverticular disease. Philadelphia: Whurr Publishers. Hurst, Marlene. 2008. Pathophysiology Review. New York, USA: McGraw Hill. Longo, Dan L. 2010. Horrisons Gastroenterology and hepatology. New York: McGraw-hill company Travis, Simon P.L. 2005. Gastroenterology. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.World Gastroenterology Organisation. 2007. World Gastroenterology Organisation Practice Guidelines: Diverticular Disease. Diakses tanggal 19 november 2011. URL: Http://www.worldgastroenterology.org/assets/downloads/en/pdf/guidelines/07_divertic ular_disease.pdf Temple CL, Huchcroft SA, Temple WJ. The natural history of appendicitis in adults. A prospective study. Ann Surg 1995 Mar; 221: 278-81. Birnbaum BA, Wilson SR. Appendicitis at the millennium. Radiology 2000 May; 215: 337e48