Anda di halaman 1dari 4

VI.

PEMBAHASAN Praktikum ini dilakukan pengujian untuk menentukan kadar serat kasar yang terkandung dalam roti, tepung terigu dan ampas tepung tapioka. Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4 1.25%) dan natrium hidroksida (NaOH 1.25%). Selain itu, serat kasar juga dapat didefinisikan sebagai sisa bahan makanan yang telah mengalami proses pemanasan dengan asam kuat dan basa kuat selama 30 menit yang dilakukan di laboratorium. Sampel dipanaskan dengan asam kuat yaitu H2SO4 dan dengan basa kuat yaitu NaOH selama 15 menit. Prosedur yang dilakukan yaitu setelah penambahan asam kuat atau basa kuat selalu diberikan perlakuan pemanasan yaitu selama 15 menit, Hal ini bertujuan agar asam dan basa kuat ini dapat menghidrolisis kandungan dalam sampel dengan sempurna. Saat pengadukan sampel, disarankan tidak menggunakan spatula besi karena dapat menyebabkan korosi saat bereaksi dengan asam kuat. Dalam prosedur juga dilakukan pencucian sesaat sebelum dikeringkan di oven. Pencucian ini harus dilakukan secara urutan yaitu K2SO4, akuades panas lalu alkohol untuk mendapatkan serat kasar yang murni. Pada saat pengeringan kertas saring harus dilakukan berulang kali sehingga didapatkan berat yang konstan. Apabila pengeringan tidak dilakukan berulang kali dan tidak mendapatkan berat yang konstan maka akan berpengaruh juga kepada hasil akhir dari pengukuran kadar serat kasar tersebut. Pada semua percobaan yang dilakukan ternyata berbeda dan angka yang dihasilkan juga tidak sesuai dengan literatur. Pada literature kadar serat tepung terigu adalah sekitar 1,29%-1,89%, roti sekitar 3% dan ampas tapioka sekitar 7,3%-10,8%. Hal ini mungkin dipengaruhi faktor penambahan larutan yang tidak sesuai pencucian oleh praktikan yang kurang netral dan penyaringan yang kurang pas, oleh karena itu terdapat perbedaan hasil akhir kadar dari berbagai sampel tersebut.

VIII. KESIMPULAN Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang di-gunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4 1.25%) dan natrium hidroksida (NaOH 1.25%). Pemanasan setelah penambahan asam kuat dan basa kuat untuk membantu hidrolisis bahan oleh asam dan basa kuat tersebut secara sempurna Pencucian residu harus secara berurutan agar didapatkan serat kasar yang murni Dari hasil praktikum didapatkan kadar serat kasar dari setiap sampel tidak sesuai dengan literature karena dipengaruhi faktor penambahan larutan yang tidak sesuai pencucian oleh praktikan yang kurang netral dan penyaringan yang kurang pas, oleh karena itu terdapat perbedaan hasil akhir kadar dari berbagai sampel tersebut.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. http://onggoklampung.multiply.com/ journal/item/4/Onggok_untuk_Bahan_Pakan. ( Diakses pada tanggal 24 April)

Joseph, godlief. 2002. Manfaat Serat Makanan Bagi Kesehatan Kita. Available [online]: http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/04212/godlief_joseph.htm [15 Maret 2010]

Sudarmadji, S., dkk. 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty Yogyakarta :Yogyakarta.

Tgl. Praktikum : 31 Maret Tgl. Penyerahan : 28 April

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS PANGAN PENENTUAN KADAR SERAT KASAR Disusun oleh : Kelompok 6

VENNY MEIZARNA MUHAMMAD REYHAN YOGA SUYOGA DENNYTA STELLA LITA ANISSAFITRI

240210090030 240210090031 240210090033 240210090034 240210090035

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011