Anda di halaman 1dari 17

PERCOBAAN 3 EFEK SEDATIF

I.

TUJUAN PERCOBAAN Mempelajari pengaruh obat penekan susunan saraf pusat.

II. DASAR TEORI

Obat-obat penekan susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas. Obat tersebut mungkin merangsang atau menghambat aktivitas SSP secara spesifik atau secara umum. Beberapa kelompok memperlihatkan seletivitas yang jelas seperti analgetik-antipiretik yang khusus mempengaruhi dan mengatur pusat pengatur suhu tubuh dan pusat nyeri tanpa pengaruh yang jelas terhadap pusat lain. Sebaliknya anestesi dan hipnotik sedatif merupakan penghambat SSP yang bersifat umum sehingga dosis yang melampaui selalu disertai koma. Obat yang efek utamanya terhadap SSP yaitu anestesi umum, hipnotik sedatif, psikofarmaka, antikonvulsi, pelemas otot yang bekerja sentral, analgetik antipiretik, analgesik narkotika dan perangsangan SSP. Obat yang mempengaruhi SSP lainnya antara lain amfetamin dan antihistamin. Obat-obat seperti hipnotik, sedatif dan anestesi memberikan perbedaan efek yang nyata. Anestesi merupakan obat yang dapat menyebabkan hilangnya rasa/pemati rasa. Anestesi dibedakan menjadi dua yaitu anestesi sistemik dan anestesi lokal. Sedatif adalah obat tidur yang dalam dosis lebih rendah dari terapi yang diberikan pada siang hari untuk tujuan menenangkan. Sedatif termasuk ke dalam kelompok psikoleptika yang mencakup obat-obat yang menekan atau menghambat sisem saraf pusat. Efek terbesar dari obat-obat sedasi adalah hipnotik yaitu kehilangan kesadaran. Untuk obat-obat tertentu kenaikan dosis dapat menyebabkan kenaikan efek menjadi hipnotik. Hipnotika merupakan obat penekan SSP yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Obat hipnotik

menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis. Hipnotik sedatif relatif tidak selektif mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk atau tenang, menidurkan hinga yang berat

(kecuali benzodiazepin) menyebabkan hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati bergantung pada dosis. ( Ganiswara, 1995 )

Penggolongan obat yang bekerja dengan mekanisme penekanan sistem saraf pusat dilihat berdaasrkan efek terapeutiknya adalah: 1. Depresan sistem saraf pusat umum 2. Rangsang sistem saraf pusat umum 3. Obat sistem saraf pusat selektif ( Bertram G.Katzung, 1998 ) Umumnya obat-obat penenang digunakan dalam keadaan insomia. Insomia dapat disebabkan beberapa hal, sehingga untuk mengobatinya secara selektif perlu diketahui penyebabnya. Penggunaan obat-obat penekan SSP pada keadaan insomia hanya perlu diberikan pada insomia jangka pendek. Obat-obat penekan SSP antara lain golongan barbiturat ( fenobarbital ), tumbuhan alam yang memiliki efek sedasi seperti akar Valerian. Namun ada obat-obat non SSP yang mampu memberi efek seperti penekan SSP, sebagai contohnya obat antihistamin.

Fenobarbital Fenobarbital, merupakan hablur atau serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa agak pahit. Sebagai antikonvulsi, fenobarbital digunakan dalam penanganan seizure tonik-klonik (grand mal) dan seizure parsial. Fenobarbital juga berkhasiat sebagai hipnotik sedasi tergantung dosis yang diberikan.

Gambar 1. Struktur kimia Fenobarbital

CTM Klorfeniramin maleat mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 100,5% C6H19ClN2.C4H4O4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan dan memiliki berat molekul 390,67. Klorfeniramin maleat berupa serbuk hablur, putih;

tidak berbau, larutan mempunyai pH antara 4 dan 5, mudah larut dalam air, larut dalam etanol dan kloroform; sukar larut dalam eter dan dalam benzena. (Farmakope IV, 1995). Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan antihistamin penghambat reseptor H1 (AH1). Pemasukan gugus klor pada posisi para cincin aromatik feniramin maleat akan meningkatkan aktifitas antihistaminnya. Efek samping antihistamin ini yaitu munculnya efek sedasi.

Gambar 2. Struktur kimia CTM

Lelap Lelap merupakan brandname yang berkhasiat sebagai sedatif hipnotik. Lelap berisi : valeriana radix 38,46%, myristicae semen 17,69% 20,77%

eleuthroginseng radix 15,38%, polygalae radix

lelap mempunyai indikasi yaitu meningkatkan kualitas tidur dan membuat tidur lebih pulas. Kandungan dari lelap seperti akar valerian mempunyai khasiat sebagai sedatif. Begitupun dengan biji pala mengandung miristin yang dapat menenangkan dan bersifat membius ( menyebabkan kantuk dan memperlambat pernafasan ). ( anonim, 2010 )

III. ALAT DAN BAHAN A. Alat 1. Spuit injeksi (0,1-1) ml 2. Jarum oral (ujung tumpul) 3. Beker glass 4. Rotarod (batang berputar 5. Stopwatch

B. Bahan 1. Larutan fenobarbital 1% dalam air 2. Larutan CTM 4mg% dalam air 3. Larutan lelap 0,25 mg% dalam air 4. Larutan NaCl 0,9% dalam air

IV. CARA KERJA Ambil 4 mencit

Timbang bobot masing-masing mencit dan hitung volume obat yang diberikan pada masing-masing mencit

Semua mencit diletakkan diatas rotarod selama 5 menit

Lakukan pemberian obat secara peroral

Mencit 1 ( kontrol ) NaCl 0,9% - PO

Mencit 2 Fenobarbital 1% PO

Mencit 3 CTM 4mg% - PO

Mencit 4 Lelap 25mg%

Pada menit ke 0;5;10;20;30;45;60;90;120 mencit diletakkan diatas rotarod selama 2 menit

Amati dan catat berapa kali mencit jatuh dari rotarod

Hitung %DS

V.

HASIL PERCOBAAN Mencit 1 2 3 4 BB (g) 31,9 22,2 13,6 28,3 Volume pemberian (ml) 0,28 0,17 0,18 0,38

1. Mencit 1, (control) NaCl dalam air 0,9% Dosis 80 mg/kgBB Dosis individu =

80 x31,9 2,552mg 1000 900mg 100ml


2,555 mg 100ml = 0,28ml 900 mg

Volume pemberian = =

2. Mencit 2, fenobarbital 1% , dosis 80mg/kgBB Dosis individu =


80 x 22 ,2mg x 100ml = 1,776mg 1000 mg

Volume pemberian = =

1000mg 100ml
1,776 mg x 100ml = 0,17ml 1000 mg

3. Mencit 3, lelap 0,25%, dosis 32,5mg/kgBB Dosis individu Volume pemberian = = =


32 ,5 x13,6 = 0,442mg 1000 mg

250mg 100ml
0,442 mg x 100ml = 0,18ml 250 mg

4. Mencit 4, CTM 4%, dosis 0,52mg/kgBB Dosis individu =


0,52 x 28,3 = 0,014mg 1000 mg

Volume pemberian =

4mg 100ml

0,014 mg x 100ml = 0,38ml 4mg

Obat

Repl ikasi 0 3 0,6 2 0,4 1 0,2 1 5 2 -

Menit 10 20 30 45 60 90 2 1 0,2 1 1 2 0,6 1 1 0,4 1 0,2 1 1 0,4 1 0,2 1 1 1 0,6 1 2 0,6 1 1 0,4 2 1 4 1 1,4 1 2 3 1,2 3 1 1 2 0,8 1 1 3 1 1 4 1 7 120 1 1 0,4 1 2 2 2 4 2,2 1 1 5 1,4 7

klpk

NaCl 0,9%

1 2 3 4 5

0 9 2 1 5

3,4

0,4 0,4 2 1 2

17 5
1 11 6 11 14 8,6

Fenobarbital 1%

1 2 3 4 5

0,4 0,6 1 0,2 -

43 5
1 4 6 0 16 5,4

Lelap 0,25%

1 2 3 4 5

27 5
18 20,6

CTM 4mg%

2 3 4 5

4 1 1 1,2

3 1

6 2

6 1 1 2 2

5 2 3 2,2

4 1 3 1,6

5 2 1 4 3

6 1 6 4

6 2 7 4,4

45 5 7 28

0,8 1,6

103 5

VI.

PEMBAHASAN

Tujuan percobaan kali ini yaitu agar mahasiswa mampu mempelajari pengaruh obat penekan susunan saraf pusat. Efek terhadap susunan saraf pusat yang dipelajari antara lain hipnotik dan sedatif. Kedua obat tersebut sama-sama menekan SSP namun terdapat perbedaan akibat yang ditimbulkan. Obat sedatif hanya menurunkan kewaspadaan sedangkan hinotik hingga kehilangan kesadaran. Ada obat-obat lain yang tidak bekerja pada SSP namun mempunyai efek sedasihipnotik. Namun jika dosis obat hipnotik dinaikkan maka akan menyebabkan efek anestesi. Urutan efek dari yang paling ringan hingga paing berat : Sedatif hipnotik anestesi koma kematian. Sedatif menyebabkan turunnya kewaspadaan hingga efek maksimalnya adalah hipnotik ( hilangnya kesadaran ), sedangkan hipnotik dengan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan efek anestesi ( mati rasa ), koma bahkan hingga kematian. Mencit diletakkan pada rotarod selama 5 menit. Hal ini bertujuan agar mencit terbiasa dengan rotarod. Sebelum diberikan banyaknya dosis, dihitung terlebih dulu dosis individu untuk masing-masing mencit. Dosis pemberian ini beragam tergantung dengan kondisi fisiologis mencit. Pemberian dilakukan secara per-oral pada hewan uji. Dosis pemberian juga dapat berpengaruh pada efek farmakologis yang ditimbulkan. Semakin tinggi dosisnya maka semakin tinggi pula efek sedatif dan lamanya berefek.

Dalam percobaan ini, obat hipnotik-sedatif yang digunakan adalah fenobarbital, lelap dan CTM. Fenobarbital Fenobarbial merupakan golongan barbiturat yang dapat memberikan efek hipnotik. Secara kimia barbiturat merupakan turunan asam barbiturat. Asam barbiturat sendiri tidak menyebabkan sepresi SSP, efek hipnotik dan sedatifnya muncul bila pada posisi 5 ada gugusan alkil atau aril. Gugus karbonil pada posisi 2 bersifat asam lemah karena dapat berautomerisasi. Penggantian unsur O pada atom C di posisi 2 dengan unsur S dapat menaikkan kelarutannya dalam lemak. Secara umum, perubahan struktur yang menaikkan kelarutannya dalam lemak akan menurunkan mula kerja dan lama kerja obat,meningkatkan metabolisme pengrusakan dan ikatan terhadap protein serta sering kali meningkatkan efek hipnotiknya. Farmakodinamik : efek utama dari golongan barbiturat adalag depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai mulai dari sedasi, hipnotik, berbagai anestesia, koma sampai kematian.Barbiturat tidak dapat menghilangkan nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dengan kata lain, golongan barbiturat memberikan efek hipnotik lebih tinggi dibanding hanya sedasi saja. Mekanisme kerja pada SSP : golongan barbiturat bekerja pada seluruh SSP, walaupun setiap tempat tidak sama kuatnya. Untuk dosis non-anestesi terutama menekan respon pasca sinaps. Penghambatan hanya terjadi pada GABA-nergik, walaupun demikian efek yang terjadi mungkin tidak semuanya melalui GABA sebagai mediator. Barbiturat menghasilkan efek yang berbeda pada eksitasi dan inhibisi transmisi sinaptik. Kapasitas kerja barbiturat membantu kerja GABA menyerupai benzodiazepin, yaitu dengan potensiasi inhibisi neuron dengan GABA sebagai mediator. GABA dan fenobarbital secara aktif terikat selektif dengan reseptor GABA. Pengikatan ini akan menyebabkan pembukaan kanal Cl-. Membran sel saraf normal tidak permeabel dengan ion klorida, tetapi bila kanal Cl- terbuka memungkinkan masuknya ion klorida. Dapat meningkatkan potensial elektrik sepanjang membran sel dan menyebabkan sel sukar terksitasi akibatnya hiperpolarisasi dan muncul efek sedasi-hipnotik. Namun untuk barbiturat pada

dosis yang lebih tinggi bersifat sebagai agonis GABA-nergik, sehingga pada dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan depresi SSP yang berat. Fenobarbital mempengaruhi SSP juga berpengaruh terhadap sistem lainnya, seperti pada susunan saraf perifer, memperlambat pernafasan, penurunan frekuensi nadi dan menurunkan tonus usus untuk berkontraksi. Fenobarbital mempunyai absorbsi 6-18 jam dan mempunyai rata-rata waktu paruh 80-120 jam. Mula kerja bervariasi mulai dari 10 hingga 60 menit. Fenobarbital dimetabolisme hampir sempurna di hati sebelum diekskresikan lewat ginjal. Keadaan fisiologis seperti tua-muda, penyakit hati dan kehamilan juga dapat mempengaruhi waktu paruh dan waktu eliminasi dari fenobarbital.

Lelap Lelap merupakan obat sedatif yang berkhasiat untuk memperpanjang masa tidur dan meningkatkan kualitas tidur. Sebagai obat sedasi, efek maksimal yang diberikan adalah hilangnya kesadaran. Lelap berisi : valeriana radix 38,46%, myristicae semen 17,69%, eleuthroginseng radix 15,38%, 20,77%. Sediaan lelap yaitu tablet salut 250mg. Akar valerian bersifat adiktif jika diberikan bersama-sama dengan benzodiazepin dan barbiturat. Akar valerian dapat meruntuhkan asam isovalerenik yang memicu pelepasan unsur melalui SSP sehingga mengurangi ketegangan. Kandungan dari akar valerian itu sendiri adalah asam valerenik dan valepotriat yang mempunyai efek terhadap katabolisme dengan reseptor GABA. Valerian berpengaruh pada komponen presinaptik dari neuron GABA-nergik yang mempengaruhi pelepasan sinaptomal GABA, akan menghambat re-uptake GABA dan menghambat katabolisme GABA dengan penghambatan GABA transminase. Mekanisme kerja valerian yaitu dengan menghambat enzim GABA transminase. Fungsi enzim itu sendiri yaitu menghambat terbentuknya GABA. Jika enzim penghambatnya dihambat maka jumlah GABA menjadi berlebih dalam otak. Dengan jumlah GABA yang banyak maka kemungkinan pembukaan kanal klorida semakin besar dan efek sedasi yang ditimbulkanpun dapat diperpanjang. polygalae radix

Selain akar valerian, lelap juga mengandung biji pala. Dalam biji pala terdapat miristin yang dapat bersifat sebagai sedasi. Penambahan miristin ini dapat mengoptimalkan efek sedatif akar valerian. Mekanisme kerjanya secara pasti belum diketahui namun miristin dapat mempengaruhi sistem pernafasan (memperlambat sistem pernafasan) dan dapat menyebabkan kantuk. Miristin ini bersifat membius sehingga dapat menimbulkan efek sedasi. Miristin dapat melebarkan bronkus sehingga timbul efek dilatasi dan memperlambat pernafasan. Kandungan miristin ini beraksi sebagai monoamine oksidase ( MOE ) inhibitor. Polygalae Radix dapat memberikan efek menenangkan perasaan, meredam cemas dan membantu proses tidur. Mekanisme kerjanya pada saluran pernafasan. Eleuthroginseng Radix / eleuthro ginseng mengandung senyawa ginsenosides yang dapat meningkatkan energi mengatasi efek stress. Kandungan lain seperti Panaxans dapat membantu menurunkan tekanan darah. Dengan meningkatkan elastisitas permeabilitas kapiler dapat menimbulkan perasaan tenang dan efek sedasi.

CTM Klorfeniramina maleat merupakan antihistamin1 golongan alkilamin. Farmakologi : antagonisme terhadap histamin. AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos. Pada otot polos, AH1 bekerja dengan menghambat bronkokontriksi ( menyebabkan dilatasi pernafasan ). Kerja AH1 pada SSP yaitu dapat merangsang ataupun menghabat SSP. Dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan SSP dengan menyebabkan kantuk, berkurangnya kewaspadaan, dan waktu reaksi yang lambat. Farmakokinetiknya, efek muncul setelah 15-30 menit. CTM mempunyai masa kerja relatif sedang yaitu 4-6 jam. Dosis lebih tinggi untuk golongan alkilamin dapat menyebabkan sedatif. Semua AH1 memberikan efek samping. Efek samping AH yang paling sering adalah sedasi. Jadi rasa kantuk sampai hilangnya kesadaran bukanlah indikasi utama dari AH, melainkan efek samping yang ditimbulkannya.

Perbandingan fenobarbital, Lelap dan CTM Fenobarbital merupakan obat golongan hipnotik sehingga dengan kenaikan dosis dapat menyebabkan anestesi. Pemberian Fenobarbital selalu disertai dengan hilangnya kesadaran. Lelap merupakan obat sedatif sehingga dengan dosis yang lebih tinggi hanya dapat menyebabkan hilangnya kesadaran. Sebagai obat sedatif, lelap memberikan rasa tenang hingga tertidur. Efek hipnotik hingga anestesi tidak mampu diberikan oleh lelap. CTM merupakan antihistamin dan efek sedasi yang ditimbulkan merupakan efek samping yang diberikan. Selain sebagai antihistamin, CTM dapat berfungsi sebagai sedasi. Kenaikan dosis lebih tinggi tidak mampu mncapai hipnotik. Hanya beberapa antihistamin yang mampu mencapai anestesi namun untuk CTM dosis tertinggi hanya mencapai sedatif. Secara teoritis, fenobarbital mampu memberikan efek hipnotik yang lama dan yang paling tinggi dibanding kedua obat lainnya. Waktu paruh fenobarbital juga tergolong sangat lama sehingga pemakaian fenobarbital dapat menyebabkan akumulasi dalam plasma. Setelah itu CTM yang mempunyai masa kerja dibawah fenobarbital. Lelap merupakan obat sedatif yang tergolong dalam obat herbal. Obat herbal mempunyai onset yang lebih lama dibanding dengan fenobarbital dan CTM yang merupakan obat kimia. Dalam percobaan, sebagai kontrol diberi perlakuan dengan pemberian NaCl 0,9%. Kontrol berfungsi sebagai pembanding dimana tanpa pemberian obat sedatif-hipnotik. Pemberian fenobarbital menyebabkan mencit kali jatuh rata-rata 8,6 kali/menit. Lelap memberikan rata-rata kali jatuh 5,4/ menit dan CTM 20,6/menit. Hasil percobaan tersebut tidak sesuai dengan teoritisnya. Telah dijelaskan di atas, bahwa onset fenobarbital 10-60 menit sedangkan untuk CTM hanya 15-30 menit. Dengan waktu memberikan efek yang lebih singkat mengakibatkan efek sedasi-hipnotik yang ditimbulkan juga lebih singkat. Bekerja sebagai antihistamin, CTM juga segera memberikan efek samping yaitu sedasi. Dalam waktu 15-30 menit CTM sudah berefek, sedangkan fenobarbital memerlukan waktu 10-60 menit untuk berefek walau durasi fenobarbital lebih lama dibanding dengan CTM. Hal ini juga bukan berarti efek sedasi yang

diberikan CTM lebih besar dari fenobarbital. CTM mampu memberikan efek lebih cepat dibanding fenobarbital menyebabkan kali jatuh pada menit pertama bervariasi. Selain itu kondisi fisiologis hewan uji juga dapat mempenngaruhi efek sedasihipnotik yang diberikan. Untuk mencit yang tua, efek ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan mencit yang masih muda.

Grafik kurva respon


5

NaCl 4,5 fenobarbital 4 Lelap 3,5 CTM


3 2
1,5 1 0,5 0

0,6 0,4 0,2 1,2

5 0,4 0,4 0 0,8

10 0,4 0,6 0,2 1,6

20 0,2 0,6 0,4 2

30 0 0,2 0,4 2,2

45 0,2 0,6 0,6 1,6

60 0,4 1,4 1,2 3

NaCl 0,6

90 0,8 1 1 4

120 0,4 2,2 1,4 4,4

2,5

fenobarbital 0,4 Lelap 0,2 CTM 1,2

10

20

30

45

60

90

120

Gambar 3. Grafik respon dengan waktu Dalam grafik terlihat bahwa pemberian CTM memberikan jumlah jatuh tertinggi dibandingkan dengan kontrol dan dua obat lainnya. Dalam grafik juga terlihat bahwa semakin lama perlakuan pada mencit, jumlah jatuh dari rotarod semakin besar. Hal ini berarti bahwa makin lama dari waktu pemberian, obat tersebut semakin berefek ( fenobarbital, lelap dan CTM ). Dalam grafik juga dapat terlihat profil farmakokinetika nya yaitu kapan obat tersebut mulai berefek. Untuk CTM pada menit ke-lima sudah berefek dengan jumlah jatuh yang semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Untuk fenobarbital efek sedasi mulai muncul secara signifikan pada menit ke 30 dimana jumlah jatuh pada grafik menanjak. Untuk lelap efek sedasi mulai muncul pada menit ke 10 dengan jumlah jatuh pada grafik yang semakin menanjak.untuk ke tiga obat efek sedasi umumnya sudah mulai muncul pada menit ke 5.

Histogram respon vs obat

obat jumlah jatuh nacl ( kontrol ) 3,4 fenobarbital 8 25 Lelap 5,4 CTM 20,6 20
15 10

jumlah jatuh

jumlah jatuh

5
0 nacl ( kontrol ) fenobarbital Lelap CTM

Gambar 4. Histogram respon dengan obat Dalam histogram terlihat bahwa kontrol mempunyai jumlah jatuh kurang dari 5, sedangkan fenobarbital dan CTM mempunyai jumlah jatuh kurang dari 10. Jumlah jatuh tertinggi dengan pemberian CTM ( > 20 kali/menit ).

Hasil percobaan belum sesuai dengan teoritisnya yaitu dengan urutan jumlah jatuh dari yang terbanyak hingga terendah yaitu : fenobarbital CTM lelap kontrol. Keadaan teknik dalam praktikum juga mempengaruhi jumlah jatuh, seperti apakah volume yang diberikan benar-benar teapt sesuai dosis masingmasing mencit dan fisiologis dari hewan uji.

Analisis ANOVA Analisis ANOVA dikatakan memberikan hasil signifikan jika hasil yang diberikan kurang dari 0,05. Keakuratan ANOVA mencapai 95%. Dari tabel deskriptif diperoleh nilai rata-rata untuk masing-masing obat. Pada tabel ANOVA diperoleh nilai 0,045. Nilai tersebut kurang dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan dengan pemberian masing-masing obat memberikan hasil efek sedatif yang signifikan.

Kontrol memberikan hasil yang signifikan dengan ketiga obat yang diberikan. Hal ini disebabkan kontrol tidak diberikan obat sedasi sehingga jumlah jatuhnya memberi hasil yang signifikan dengan obat-obat sedasi. Untuk perbandingan antara kontrol dengan fenobarbital memberikan hasil yang tidak signifikan baik secara LSD maupun Tukey. Pada LSD perbandingan antara kontrol dan fenobarbital 0,394 dan pada tukey 0,817. Hal ini berarti bahwa pemberian fenobarbital dan kontrol tidak memberikan efek sedasi yang signifikan. Begitupun perbandingan antara kontrol dengan Lelap. Untuk perbandingan antara kontrol dengan lelap memberikan hasil yang tidak signifikan baik secara LSD maupun Tukey. Pada LSD perbandingan antara kontrol dan lelap 0,740 dan pada tukey 0,986. Hal ini berarti bahwa pemberian lelap dan kontrol tidak memberikan efek sedasi yang signifikan. Pada tabel tukey hasil signifikan hanya ditunjukkan dengan perbandingan kontrol dengan CTM yaitu 0,046. Untuk antar data lainnya tidak memberikan hasil yang signifikan. Sedangkan pada tabel LSD, hasil signifikan ditunjukkan oleh NaCl dan CTM dengan nilai 0,010 dan lelap dengan CTM dengan nilai 0,021. Pemberian obat fenobarbital dan CTM secara ANOVA tidak memberikan hasil yang cukup signifikan. Ini berarti efek sedasi pemberian fenobarbital dengan CTM memberikan hasil yang tidak begitu signifikan. Hasil ini disebabkan karena CTM mempunyai onset yang masih dalam rentang onset fenobarbital. Disebabkan saat onset CTM tercapai, onset fenobarbital tercapai sehingga jumlah jatuh yang diberikan kurang signifikan.

VII. -

KESIMPULAN Hasil percobaan memberikan hasil jumlah jatuh mencit dari yang terkecil hingga terbesar dengan urutan obat adalah lelap fenobarbital CTM. Hasil ini tidak sesuai dengan teoritisnya.

Analisis ANOVA hasil signifikan hanya ditunjukkan oleh NaCl dan CTM dengan nilai 0,010 dan lelap dengan CTM dengan nilai 0,021. Sedangkan fenobarbital dan lelap tidak memberikan hasil yang signifikan.

VIII. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Obat tidur Lelap. www.dechacare.com/lelap-P49.html. diakses 23 Maret 2012 Bertram G.Katzung. 1998. Farmakologi Dasar Dan Klinik Edisi VI. EGC : Jakarta. Ganiswara,dkk. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta : UIP

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PERCOBAAN 3 EFEK SEDATIF

Di susun oleh :

Ari Desi Astuti Bujaningrum Ega Agustina Didit Prasetyoningsih Bunga Tri Novika

10247 FA 10252 FA 10256 FA 08166 F

AKADEMI FARMASI NASIONAL SURAKARTA 2012