Anda di halaman 1dari 5

1

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perkebunan merupakan sektor yang berperan sebagai penghasil devisa negara, salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa adalah komoditas kopi. Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan nasional yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia. Peran tersebut dapat berupa pembukaan kesempatan kerja, serta sebagai sumber pendapatan petani. Di samping itu juga tercipta lapangan kerja bagi pedagang pengumpul hingga eksportir, buruh perkebunan besar dan buruh industri pengolahan kopi. Devisa dari kopi menunjukkan perkembangan yang cukup berarti bagi Indonesia. Dimana Indonesia adalah produsen keempat terbesar kopi dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolumbia, dengan sumbangan devisa cukup besar. Harga kopi Robusta dan Arabika di tingkat global mengalami kenaikan sangat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada transaksi April 2011 harga kopi Robusta tercatat US$ 259 per ton, sangat jauh dibandingkan dengn harga rata-rata pada 2009 yang hanya US$ 165 per ton. Demikian pula, harga kopi Arabika yang tercatat telah melampaui US$ 660 per ton, suatu lonjakan tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata pada 2009 yang hanya US$ 317 per ton. Dengan kinerja ekspor yang mencapai 300 ribu ton saja, maka devisa yang dapat dikumpulkan Indonesia mampu mencapai US$ 77,7 juta. Areal produksi kopi di Indonesia diperkirakan sekitar 1,3 juta hektare, yang tersebar dari Sumatra Utara, Jawa dan Sulawesi. Kopi jenis Robusta umumnya ditanam petani di Sumatra Selatan, Lampung, dan Jawa Timur, sedangkan kopi jenis Arabika umumnya ditanam petani di Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Bali dan Flores. Produktivitas kopi nasional yang sangat rendah tersebut masih sangat jauh dibandingkan dengan produktivitas kopi di Vietnam yang mencapai 3 ton per hektare. Di Indonesia, produktivitas kopi Robusta lebih tinggi dari produktivitas kopi Arabika yang akhir-akhir ini mulai banyak digemari petani Indonesia. Permintaan dunia yang tinggi terhadap kopi Arabika juga telah ikut mendorong Indonesia untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kopi Arabika ini, yang secara rata-rata memiliki harga yang lebih tinggi.

Tabel. 1 Luas Areal Dan Produksi Kopi Indonesia Menurut Jenis Tahun 1999 2011.

Sumber : Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (* Angka Sementara)

Dulunya kopi dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan yang dikelola oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga kini meluas ke perkebunan rakyat. dan hampir seluruh hasilnya diekspor, kecuali kopi yang tidak laku diekspor. Kopi yang berkualitas rendah ini dijual ke pasar dalam negeri. Sejalan dengan didirikannya perkebunan Kopi pada masa itu, maka menjamur pulalah industri pengolahan kopi bubuk meski secara mayoritas skala usahanya masih industri menengah kecil. Industri pengolahan kopi pada umumnya menggunakan bahan baku biji kopi Arabika dan Robusta dengan komposisi perbandingan tertentu. Kopi Arabika digunakan sebagai sumber citra rasa, sedangkan kopi Robusta digunakan sebagai campuran untuk memperkuat body. Kopi Arabika memiliki citra rasa yang lebih baik, tetapi memiliki body yang lebih lemah dibandingkan kopi Robusta. Pertumbuhan produksi KOPI olahan, terutama KOPI bubuk pun terus menanjak. Produksi KOPI bubuk Indonesia pada 2008 telah mencapai 129.659 ton. Dalam lima tahun terakhir (2004-2008), pertumbuhan produksi KOPI ini mencapai rata-rata 5,0 persen per tahun. Sebagaimana akan dibahas di Bab lain dalam Buku Studi ini, dimana hampir seluruhnya produksi KOPI bubuk dalam negeri

dikonsumsi di pasaran lokal, artinya pertumbuhan yang relatif mendatar tersebut merupakan cerminan dari pertumbuhan konsumsi KOPI bubuk lokal yang tumbuhnya relatif landai pula. (BinaUKM, 2011) Jenis diversifikasi produk kopi meliputi kopi bubuk, kopi instan, kopi biji matang (roasted coffee), kopi tiruan, kopi rendah kafein (decaffeinated coffee), kopi mix, kopi celup, ekstrak kopi, minuman kopi dalam botol dan produk turunan lainnya. Struktur industri pengolahan kopi nasional belum seimbang, hanya 20% kopi diolah menjadi kopi olahan (kopi bubuk, kopi instan, kopi mix), dan 80% dalam bentuk kopi biji kering (coffee beans). Industri pengolahan kopi masih kurang berkembang disebabkan oleh faktor teknis, sosial dan ekonomi. Penerapan teknologi pengolahan hasil kopi baru diterapkan oleh sebagain kecil perusahaan industri pengolah kopi, hal ini disebabkan oleh keterbatasan informasi, modal, teknologi, dan manajemen usaha. Produk industri olahan tersebut sangat berpotensi dalam memberikan nilai tambah yang tinggi. Pada era globalisasi perdagangan dewasa ini, kondisi persaingan semakin ketat dimana masing-masing negara saling membuka pasarnya. Pengembangan produk diversifikasi kopi olahan, seperti roasted coffee, instant coffee, coffee mix, decaffeinated coffee, soluble coffee, kopi bir (coffee beer), ice coffee mempunyai arti penting, karena dapat menjadi komoditas unggulan yang mempunyai daya saing tinggi di pasar internasional. Indonesia sebagai negara tropis disamping berpeluang untuk pengembangan produk diversifikasi kopi olahan tersebut diatas, juga berpotensi untuk pengembangan produk industri pengolahan kopi specialties dengan rasa khas seperti: Lintong Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toradja Coffee. Walaupun Indonesia mempunyai peluang besar untuk pengembangan industri pengolahan kopi dan mempunyai prospek besar dipasar domistik dan internasional, namun permasalahan juga sangat kompleks, karena begitu banyak

faktor-faktor yang mempengaruhinya baik internal maupun eksternal dan juga faktor perilaku konsumen, fluktuasi harga dan perdagangan kopi dunia. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage) pada kopi terhadap sektor hulu maupun sektor hilirnya hingga pada sektor linnya dalam perekonomian di Indonesia. Oleh karena itu, dalam hal ini peneliti sangat tertarik dengan keterkaitan industri pengolahan kopi dengan sektor lainnya dalam perekonomian Indonesia untuk dikaji lebih lanjut dengan menggunakan bantuan Tabel Input-Output. 1.2. Rumusan Masalah Indonesia merupakan negara produsen kopi keempat terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Dari total produksi, sekitar 67% kopinya diekspor sedangkan sisanya (33%) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. sebesar 500 gram/kapita/tahun. memperkirakan tingkat Tingkat konsumsi kopi dalam negeri berdasarkan hasil survei LPEM UI tahun 1989 adalah Dewasa ini kalangan pengusaha kopi konsumsi kopi di Indonesia telah mencapai 800

gram/kapita/tahun. Dengan demikian dalam kurun waktu 20 tahun peningkatan konsumsi kopi telah mencapai 300 gram/kapita/tahun. Sebagai negara produsen, Ekspor kopi merupakan sasaran utama dalam memasarkan produk-produk kopi yang dihasilkan Indonesia. Negara tujuan ekspor adalah negara-negara konsumer tradisional seperti USA, negara-negara Eropa dan Jepang. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, telah terjadi peningkatan kesejahteraan dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang akhirnya mendorong terhadap peningkatan konsumsi kopi. Hal ini terlihat dengan adanya peningkatan pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang pada awal tahun 90an mencapai 120.000 ton, dewasa ini telah mencapai sekitar 180.000 ton. Oleh karena itu, secara nasional perlu dijaga keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan kopi terhadap aspek pasar luar negeri (ekspor) dan dalam negeri (konsumsi kopi) dengan menjaga dan meningkatkan produksi kopi nasional. Meningkatnya nilai konsumsi kopi dunia menjadi pendorong bagi industri pengolahan kopi untuk meningkatkan produksinya. Konsumsi kopi Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sekitar 3% setiap tahunnya, lebih tinggi dibanding

pertumbuhan konsumsi kopi dunia yang rata-rata sekitar 2%. Hal tersebut menjadi peluang bagi industri pengolahan kopi. Namun semakin mahalnya harga input produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, menyebabkan produksi kopi semakin sulit meningkat bahkan bisa jadi produksi kopi menjadi turun, sedangkan untuk meningkatkan produksi, industri pengolahan kopi memerlukan suplai bahan baku yang lebih banyak. Dukungan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang telah dimiliki sangat potensial menjadikan Indonesia sebagai negara Industri pengolahan kopi yang dapat diandalkan sebagai pemasok terbesar produk olahan kopi di pasar internasional. Dengan mengacu pada uraian di atas, penelitian ini difokuskan pada beberapa permasalahan antara lain: 1. Mengetahui tingkat keterkaitan ke depan (forward linkages) indutri pengolahan kopi terhadap sektor perekonomian lainnya di Indonesia. 2. Mengetahui tingkat keterkaitan ke belakang (backward linkages) indutri pengolahan kopi terhadap sektor perekonomian lainnya di Indonesia. 3. Mengetahui pengaruh yang ditimbulkan oleh sektor industri pengolahan kopi jika dilihat berdasarkan efek multiplier output, pendapatan dan tenaga kerja. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi setiap pihak yang memerlukan. Untuk pihak pemerintah dan swasta, informasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam rangka menetapkan kebijakan yang tepat untuk pengembangan sektor industri pengolahan kopi juga dalam pengambilan keputusan dan kebijkan investasi terkait dengan indutri tersebut. Untuk pihak akademik, informasi ini diharapkan dapat memperkaya penelitian terkait dengan analisis input output dan sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya.