Anda di halaman 1dari 28

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.

Pengertian Pengukuran Kinerja Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkatan percapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam

mewujudkan sasaran, tujuan, visi, misi organisasi yang tertera dalam planing suatu organisasi. Dengan kata lain kinerja menyebut prestasi tingkat keberhasilan individu atau organisasi. Kinerja dapat diketahui hanya individu suatu kelompok tersebut yang ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini berupa tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai. Tanpa tujuan atau target, kinerja seseorang atau organisasi tidak mungkin dapat diketahui karena tujuan atau target ini adalah sebagai tolok ukur keberhasilan atau kinerja. Sedangkan pengukuran kinerja (performance measurement) adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang atau jasa; kualitas barang dan jasa (seberapa baik barang dan jasa diserahkan kepada pelanggan dan sampai seberapa jauh pelanggan terpuaskan); hasil kegiatan dibandingkan dengan maksud yang diinginkan; dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan (Mahsun, 2006:25).

2.1.1 Elemen pokok pengukuran kinerja Elemen pokok suatu pengukuran kinerja antara lain (Mahsun, 2006:26):
1.

Menetapkan tujuan, sasaran dan strategi organisasi atau perusahaan. Tujuan adalah pemyataan secara umum (belum secara ekplisit) tentang apa yang ingin dicapai organisasi atau perusahaan. Sasaran merupakan tujuan organisasi yang sudah dinyatakan secara ekplisit dengan disertai batasan waktu jelas. Strategi adalah cara atau teknik yang digunakan organisasi untuk mencapai tujuan dan sasaran. Tujuan, sasaran, strategi tersebut ditetapkan dengan berpedoman pada visi dan misi organisasi.

2.

Merumuskan indikator dan ukuran kinerja. Indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung yaitu hal-hal yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja. Ukuran kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara langsung. Indikator kinerja dan ukuran kinerja ini sangat dibutuhkan untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan, sasaran dan strategi. Indikator kinerja dapat berbentuk faktor-faktor keberhasilan utama (critical success factor) dan indicator kinerja kunci (key performance indicator). Faktor keberhasilan utama adalah suatu yang mengindikasikan

kesuksesan

kinerja

unit

kerja

organisasi. Area

in

waktu tertentu. Sedangkan indikator kinerja kunci merupukan sekumpulan indikator yang dapat dianggap sebagai ukuran kinerja kunci baik yang bersifat finansial maupun nonfinansial untuk melaksanakan operasi dan kinerja unit bisnis.

3.

Mengukur tingkat ketercapaian tujuan dan sasaran organisasi Jika kita sudah mempunyai indikator dan ukuran kinerja yang jelas, maka pengukuran kinerja bisa diimplementasikan. Mengukur tingkat ketercapaian tujuan, sasaran dan strategi adalah membandingkan hasil aktual dengan indikator dan ukuran kinerja yang telah ditetapkan..

4. Evaluasi kinerja (feedback, penilaian kemajuan organisasi, meningkatkan akuntabilitas). Evaluasi kinerja akan memberikan gambaran kepada penerima informasi mengenai nilai kinerja yang berhasil dicapai organisasi. Merupakan upaya kongkrit dalam memformulasikan tujuan strategi organisasi sehingga lebih terwujud dan terukur. kualitas pengambilan keputusan dan

2.1.2 Pengukuran kinerja dan peningkatannya Pengukuran kinerja bukanlah tujuan akhir melainkan merupakan alat agar dihasilkan manajemen yang lebih efisien dan terjadi peningkatan kinerja. Hasil dari pengukuran kinerja akan memberitau kita apa yang telah terjadi, bukan mengapa hal itu terjadi atau apa yang harus dilakukan. Suatu organisasi harus menggunakan pengukuran kinerja secara efektif agar dapat mengidentifikasi strategi dan perubahan operasional apa yang dibutuhkan serta proses yang diperlukan dalam perubahan tersebut. Pengukuran kinerja menyediakan dasar bagi organisasi untuk menilai: 1. 2. 3. 4. 5. Bagaimana kemajuan atas sasaran yang telah ditetapkan. Membantu dalam mengenai area-area kekuatan dan kelemahan. Menentukan tindakan yang tepat untuk meningkatkan kinerja. Menunjukkan bagaimana kegiatan mendukung tujuan organisasi. Membantu dalam langkah inisiatif. 6. 7. Mengutamakan alokasi sumber daya Meningkatkan produk-produk dan jasa-jasa kepada pelanggan. membuat keputusan-keputusan dengan

2.2.

Performance Prism 2.2.1. Pengertian Performance Prism Menurut Andy Neely et al (2002) yang dimaksud Performance Prism adalah suatu pemikiran yang mencari bantuan untuk mengintegrasikan lima perspektif terkait dan menyediakan suatu struktur yang mengijinkan para eksekutip untuk berpikir menjawab lima pertanyaan pokok: 1. Stakeholder kepuasan Satisfaction : Siapa yang menjadi stakeholder kunci dan apa yang mereka inginkan serta apa yang mereka perlukan? 2. Stakeholder Contribution : Kontribusi apakah dari stakeholder yang kita perlukan jika kita akan mengembangkan kemampuan tersebut? 3. Strategies : Strategi apa yang seharusnya diterapkan untuk memenuhi apa yang menjadi kinginan dan kebutuhan stakeholder? 4. Processes : Proses kritis apakah yang diperlukan untuk menjalankan strategi tersebut? 5. Capabilities : Kemampuan apa yang harus kita operasikan untuk meningkatkan proses tersebut? Performance prism merupakan penyempurnaan dari teknik pengukuran kinerja yang ada sebelumnya (seperti Balanced

Scorecard dan IPMS) sebagai sebuah kerangka kerja (framework). Keuntungan dari framework tersebut adalah melibatkan semua stakeholder dari organisasi, terutama investor, pelanggan, endusers, karyawan, para penyalur, mitra persekutuan, masyarakat dan regulator. Pada prinsipnya metode ini dikerjakan dalam dua arah yaitu dengan mempertimbangkan apa kebutuhan dan keinginan (needs and wants) dari semua stakeholder, dan uniknya lagi metode ini juga mengidentifikasikan kontribusi dari stakeholders terhadap organisasi tersebut. Pada pokoknya hal itu menjadi hubungan timbal balik dengan masing -masing stakeholder Filosofi performance prism berasal dari sebuah bangun prisma yang memiliki lima segi yaitu untuk atas dan bawah adalah satisfaction dari stakeholder dan kontribusi stakeholder. Sedangkan untuk ketiga sisi berikutnya adalah strategy, process dan capabilitay. Prisma juga dapat membelokkan cahaya yang datang dari salah satu bidang ke bidang yang lainya. Hal ini menunjukkan kompleksitas dari performance prism yang berupa interaksi dari kelima sisinya . Performance prism memiliki pendekatan pengukuran kinerja yang dimulai dari stakeholder, bukan dari strategi . Identifikasi secara detail tentang kepuasan dan kontribusi stakeholder akan membawa sebuah organisasi dalam sebuah pengambilan keputusan berupa strategi yang tepat. Sehingga

dimungkinkan organisasi dapat mengeveluasi strategi yang telah dilakukan sebelumnya.

Gambar 2.1 Kerangka kerja Performance Prism 2.2.2. Ruang Lingkup Performance Prism Ruang lingkup performance prism meliputi interaksi antara Stakeholder contribution dan Stakeholder satisfaction yang kemudian diproyeksikan kedalam strategy, process dan Capability. Ruang lingkup tersebut dapat dijelaskan pada gambar 2.2 berikut:

Gambar 2.2 Ruang Lingkup Performance Prism (Neely dan Adams, (2000 a, b, c)) Pihak manajemen dalam hal ini mempertimbangkan ada enam kunci pada hubungan stakeholder yaitu: 1. Investor (Shareholder) Suatu perusahaan umum harus menerapkan usaha terbaiknya untuk membawa pada harapan para investornya. 2. Pelanggan (Customer) Perusahaan selalu ingin mempertahankan pelanggan dan menemukan lebih banyak lagi pelanggan potensial. 3. Karyawan (Employees) Perusahaan harus mempertahankan karyawan, karena hal ini berarti suatu nilai tambah bagi investor dan pelanggan

(menunjukkan

performance

perusahaan

baik),

tetapi

penghematan biaya harus tetap dilakuakan. 4. Penyalur (Supplier) Banyaknya perusahaan akan supplier yang memenuhi dapat kebutuhan

cenderung

mengakibatkan

pembengkakan biaya, karena

mempunyai efek pada biaya

administratif ( misal untuk membayar faktur /invoices dll). Pengurangan biaya untuk hal ini perlu untuk secara hati-hati ditargetkan, dirundingkan beberapa kembali kontrak dengan persediaan para perlu untuk Sistem

supplier.

Pengukuran Kinerja Supplier difokuskan dalam rangka memonitor prestasi dan kemajuan pada penghematan biaya, hal ini tentunya perlu data-data yang akurat untuk melakukan pengukuran . 5. Regulators Peraturan Pemerintah secara langsung memberikan pengaruh yang besar bagi perusahaan, pemenuhan dengan

peraturan merupakan suatu comformity (bukan hanya issu). Perusahaan manapun harus memelihara reputasinya di dalam pasar, karenanya ketidak berhasilan pemenuhan peraturan berpotensi merusakkan publisitas reputasi dari di dalam pasar. Karena

korporasi dapat dirusakkan oleh hal tersebut,

belum lagi proses pengadilan sebagai konsekwensinya memberikan biaya-biaya tambahan. 6. Communities Masyarakat (communities) adalah faktor lain yang (pada waktunya resesi) kadang-kadang mereka dihubungkan ke regulator juga, (misal hukum ketenaga-kerjaan). Kebijakan standar etis harus ditempatkan secara internal dan secara eksternal. Ini merupakan tuntutan di dalam lingkungan bisnis masa kini. Dan untuk baiknya pihak manajemen harus memasti kan bahwa aspek ini dapat dipenuhi dalam upaya perbaikan sistem pengukuran kinerja perusahaan.

2.3.

Key Performance Indicator Untuk menghasilkan indikator kinerja yang fokus pelu dibua lndikator Kinerja Kunci (Key Performance Indikator). Indikator Kinerja Kunci adalah indikator level tinggi yang memberikan gambarar komprehensif mengenai kinerja suatu program, aktivitas, atau organisasi Tujuan dibuatnya Indikator Kinerja Kunci adalah untuk memberikar informasi kepada pihak eksternal dalam rangka menilai kinerja, yaiti efektivitas dalam mencapai tujuan yang diharapkan serta efisiensi dalan penggunaan sumber daya. (Mahmudi, 2005)

Sebelum disusun Indikator Kinerja Kunci (IKK) perlu disusun Faktor Keberhasilan Kritis (Critcal Success Factors). Faktor Keberhasilan Kritis (FKK) menjadi faktor kunci keberhasilan organisasi. Faktor Keberhasilan Kritis bersifat kualitatif. Oleh karena itu perlu dikuantifikasikan agar dapat diukur. Indikator Kinerja Kunci merupakan indikator kinerja yang berfokus pada faktor utama kerberhasilan organisasi. Dengan dibuatnya FKK dan IKK memungkinkan bagi manajer berfokus pada kesuksesan organisasi dari memonitor tingkat pencapaian tujuan organisasi.

2.4.

Metode Analitical Hierarchy Proses (AHP) 2.4.1 Pengertian AHP Pembobotan KPI dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya adalah dengan Analitical Hierarcy Process (AHP) Peralatan utama proses Analisis Hirarki (Analytical Hierarchy Process) adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dalam penjabaran hirarki tujuan, tidak ada pedoman yang pasti seberapa jauh pengambil keputusan menjabarkan tujuan menjadi yang lebih rendah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam melakukan proses penjabaran hirarki tujuan adalah:

1.

Pada saat pembelajaran tujuan ke dalam sub tujuan, harus diperhatikan apakah setiap aspek dari tujuan yang lebih, tinggi tercakup dalam sub tujuan tersebut.

2.

Meskipun hal tersebut terpenuhi, perlu manghindari terjadinya pembagian yang terlampau banyak, baik dalam arah horizontal maupun vertikal.

3.

Suatu tujuan belum di tetapkan untuk dijabarkan atas hirarki tujuan yang lebih rendah harus ditentukan suatu tindakan atau hasil terbaik yang dapat diperoleh bila tujuan tersebut tidak dimasukkaan. Model AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, dapat

memecahkan masalah yang kompleks dimana aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak (Kadarsyah, 1998: 130-131). Beberapa keuntungan yang diperoleh dalam penerapan AHP, antara lain: 1. Sifatnya yang fleksibel, manyebabkan penambahan dana pengurangan kriteria pada suatu hierarki dapat dilakukan dengan mudah dan tidak mengacaukan atau merusak hierarki 2. Dapat memasukkan preferensi pribadi sekaligus

mengakomodasi berbagai kepentingan pihak lain sehingga diperoleh penilaian yang objektif dan tidak sektoral.

3.

Proses

perhitunganya

relatif

mudah

karena

hanya

membutuhkan operasi dan logika sederhana. 4. Dengan cepat dapat menunjukkan prioritas, dominasi, tingkat kepentingan ataupun pengaruh dari setiap elemen terhadap eemen lainya . AHP juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu antara lain: 1. Partsipan yang dipilih harus memiliki kompetensi pengetahuan dan pengalaman mendalam terhadap segenap aspek

permasalahan serta serta mengenai metode AHP itu sendiri. 2. Bila ada pertisipan yang kuat maka aka n mempengaruhi partisipan yang lainya. 3. Penilaian cenderung subjektif karena sangat dipengaruhi oleh situasi serta preferensi, pesepsi, konsep dasa r dan sudut pandang partisipan. 4. Jawaban atau penilaian responden yang konsisten tidak selalu logis dalam arti sesuai dalam permasalahan yang ada. (Saaty, 1988 : 7-9) 2.4.2 Prinsip Pokok Analitical Hierarcy Process Dalam menggunakan AHP, ada tiga prinsip pokok yang harus diperhatikan, yaitu: (Saaty, 1988 : 7-9) 1. Prinsip penyusunan hierarki

Untuk memperoleh pengetahuan yang rinci, pikiran kita menyusun realitas yang kompleks kedalam bagian yang menjadi elemen pokoknya, dan kemudian bagian ini kendala bagian bagiannya lagi dan seterusnya secara hierarki (berjenjang). 2. Prinsip menentukan prioritas Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar atau pihak-pihak terkait yang berkompeten terhadap pengambilan keputusan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. 3. Prinsip konsistensi logis Dalam mempergunakan prinsip ini, AHP memasukkan baik aspek kualitatif maupun kuantitatif pikiran manusia. Aspek kuantitatif untuk mengekspresikan penilaian dan preferensi secara ringkas dan padat sedangkan aspek kualitatif untuk mendefinsikan persoalan dan hierarkinya. 2.4.3 Langkah-langkah AHP Langkah-Langkah yang harus dilakukan dalam penyelesaiai suatu masalah dengan menggunakan metode AHP adalah sebaga berikut (Ramdhani dan Kadarsah, 1998:131 -132): 1. Mendefinisikan diinginkan. masalah dan menentukan solusi yang

2.

Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum dilanjutkan dengan sub-sub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah.

3.

Membuat

matriks

perbandingan

berpasangan

yang

menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemei terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingka diatasnya. Perbandingan berdasarkan "judgment" dari

pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. 4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/ 2] buah, dengan i adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi. 6. 7. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesiskan judgement dalam menentukan prioritas elemen-elemen pada tingkat hierarki terendah sampai pencapaian tujuan. 8. Memeriksa inkonsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10% maka penialaian data judgement harus diperbaiki. 2.4.4 Formulasi Matematis

Formulasi matematis AHP dilakukan dengan menggunakan suatu matrik. Misalkan dalam suatu sub sistem operasi terdapat n elemen operasi, yaitu elemen-elemen A1, A2, A3 ............An, maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-elemen operasi akan membentuk matrik perbandingan. Skala nilai perbandingan berpasangan menurut Saaty adalah berikut: Tabel 2.1 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan Intensitas Kepentingan Keterangan Kedua elemen 1 sama pentingnya Penjelasan Dua elemen memiliki pengaruh yang sama besar terhadap tujuan Elemen yang satu sedikit lebig 3 penting dari pada elemen yang lainya Elemen yang satu lebih penting dari 5 elemen yang lainya elemen dibanding elemen yang satunya Satu elemen jelas lebih mutlak 7 penting daripada elemen lainya elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen dibanding elemen lainya Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu Pengalaman dan penilaian sedikit meyokong satu

yang mungkin menguatkan

Satu elemen mutlak Bukti yang mendukung penting daripada 9 elemen lainya elemen yang sat terhadap elemen yang lain memiliki tigkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan Nilai-nilai antara dua pertimbangan 2,4,6,8 nilai yang berdekatan Jika untuk aktivitas i mendapatkan satu angka kebalikan dibanding dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikanya dibanding dengan i pilihan Nilai ini diberikan jika ada kompromi antara dua

2.4.5

Perhitungan Bobot Elemen Pada dasarnya formulasi matematis pada model AHP dilakukan dengan menggunakan suatu matriks. Misalkan, dalam suatu sub sistem operasi terdapat n elemen operasi, yaitu elemenelemen operasi Al, A2, A3,An, maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-elemen operasi tersebut akan membentuk matriks perbandingan. Perbandingan berpasangan dimulai dari tingkat hirarki paling tinggi, dimana suatu kriteria digunakan

sebagai dasar pembuatan perbandingan. Selanjutnya perhatikan elemen yang akan dibandingkan.

..

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. Gb. 2.3 Matriks Perbandingan berpasangan Matriks An x n merupakan matriks resiprokal. .. ..

Dan diasumsikan terdapat elemen, yaitu w1, w2, , wn yang akan dinilai secara perbandingan. Nilai (judgment) perbandingan secara berpasangan antara i wj) dapat dipresentasikan seperti matriks tersebut.

Dalam hal ini matriks perbandingan adalah matriks A dengan unsurnya adalah ai,j dengan i, j = 1, 2,...., n. Unsur-unsur matriks tersebut diperoieh deri

membandingkan satu elemen operasi terhadap elemen operasi lainnya untuk tingkat hirarki yang sama. Misalnya unsur an ada perbandingan kepentingan elemen operasi A1 dengan elemen ope Ai sendiri, sehingga dengan sendirinya nilai unsur an adalah sa dengan 1. Dengan cara yang sama maka diperoieh semua un diagonal matriks perbandingan sama dengan 1. Nilai unsur adalah perbandingan kepentingan elemen operasi A1 terhadap elemen operasi A2. Besarnya nilai a21 adalah 1/ a12 yang menyatakan tingkat intensitas kepentingan elemen operasi terhadap elemen operasi A1. Bila vektor pembotan elemen-elemen operasi A1,

A2,,An tersebut dinyatakan sebagai vektor W, dengan W = (W1, W2, Wn), maka nilai intensitas kepentingan elemen operasi A1 dibandingkan A2 dapat pula dinyatakan sebagai perbandingan bobot elemen operasi A1 terhadap A2 yakni W1/W2 yang sama dengan ai2, sehingga matriks perbandingan pada Gambar dapat pula dinyatakan sebagai berikut:

.. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. Gb. 2.4 Matriks Perbandingan Preferensi Nilai-nilai wi/ wj, dengan i, j = 1, 2, ...., n dijajagi dari partisipan, yaitu orang-orang yang berkompeten dalam .. ..

permasalahan yang dianalisis. Bila matriks ini dikalikan dengan vektor kolom W = (W1, W2,Wn), maka diperoleh hubungan : AW = nW................................... (1)

Bila matriks A diketahui dan ingin diperoleh nilai W, maka dapat diselesaikan melalui persamaan berikut: [A-n] W = 0.... matrik identitas. Persamaan (2) dapat menghasilkan solusi yang tidak nol bila [jika dan hanya jika) n merupakan eigenvalue dari A dan W adalah eigenvektor-nya. (2) dimana I adalah

Setelah eigenvalue matriks perbandingan A tersebut diperoleh, misalnya 1, 2,..., n, dan berdasarkan matriks A yang mempunyai keunikan, yaitu aii = 1 dengan i = 1, 2, , n, maka :

Disini semua eiginvalue bernilai nol, kecuali satu yang tidak nol, yaitu eigenvalue maksimum. Kemudian jika penilaian yang dilakukan konsisten, akan diperoleh eigenvalue maksimum pada persamaan. AW = max W Selanjutnya persamaan (2) dapat diubah menjadi: [ A - max I ] W = 0 .................... (3)

Untuk memperoleh harga nol, maka yang perlu diset adalah : A - max I = 0 ..................................... (4)

berdasarkan persamaan (4) dapat diperoleh harga max ke persamaan (3) dan ditambah dengan persamaan :

Maka akan diperoleh bobot masing-masing elemen operasi (Wi dengan i = 1, 2, ...., n) yang merupakan eigenvektor yang bersesuaian dengan eigenvalue maksimum.

2.4.6

Perhitungan Consistency Index (CI) Dan Consistency Ratio (CR) Matrik bobot yang diperoleh dari hasil perbandingan secara berpasangan tersebut, harus mempunyai hubungan kardinal dan ordinal sebagai berikut: Hubungan Kardinal: aij . ajk = aik Hubungan Ordinal: Ai > Aj, Ai > Ak, maka Ai > Ak Dalam teori matriks diketahui bahwa kesalahan kecil pada koefisien akan menyebabkan penyimpangan kecil pula pada eigenvalue. Dengan mengkombinasikan apa yang telah diuraikan sebelumnya, jika diagonal utama dari matriks A bernilai satu dan jika A konsisten, maka penyimpangan kecil dari aij akan tetap menunjukkan eigenvalue terbesar, tanax , nilainya akan mendekati n dan eigenvalue sisanya akan mendekati nol. Penyimpangan dari konsistensi dinyatakan dengan Indeks Konsistensi, dengan persamaan:

dimana: max n = eigenvalue maksimum = ukuran matriks

Indeks Konsistensi (CI); matriks random dengan skala penilaian 9 (1 sampai dengan 9 ) beserta kebalikannya sebagai Indeks Random (RI). Berdasarkan perhitungan Saaty dengan menggunakan 500 sampel, jika "judgment" numerik diambil secara acak dari skala 1/ 9, 1/ 8, , 1, 2, , 9 akan diperoleh rata-rata

konsistensi untuk matriks dengan ukuran yang berbeda, sebagai berikut: Tabel 2.2 Nilai Indeks Random
Ukuran Matriks 1,2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Indeks Random (RI) 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56 1.57 1.59

Perbandingan antara CI dan RI untuk suatu matriks didefinisikan sebagai rasio konsistensi (CR). Untuk model AHP matrik perbandingan dapat diterima jika Nilai Rasio Konsistensi 0.1 (Ramdani dan Kadarsah, 1998:136-138)

2.5.

Pengujian Konsistensi Hirarki Sebelum dilakukan pengujian untuk matriks perbandingan yang didapatkan dari partisipan/ responden. Pengujian hams dilakukan pula untuk konsistensi hirarki. Prinsipnya adalah dengan mengalikan semua nilai Consistency Index (CI) dengan bobot suatu kriteria yang menjadi acuan pada suatu matriks berpasangan dan kemudian menjumlahkannya. Jumlah tersebut dibandingkan dengan nilai yang didapat dengan cara yang sama tetapi untuk suatu matriks random. Hasil akhirnya berupa suatu parameter yang disebut dengan Consistency Ratio of Hierarchy (CRH), persamaan sebagai berikut: dengan

Keterangan: CIH = Consistency Index of Hierarchy RIH = Random Index of Hierarchy

Prosedur perhitungan dapat diuraikan dalam langkah-langkah berikut: 1. Perbandingan antar kriteria yang dilakukan untuk seluruh hirarki akan menghasilkan beberapa matriks perbandingan berpasangan. Setiap matriks akan mempunyai beberapa hal berikut. a. Satu kriteria yang menjadi acuan perbandingan antara kriteria pada tingkat hirarki dibawahnya. b. Nilai bobot untuk kriteria acuan tersebut, relatif terhadap kriteria ditingkat lebih tinggi. c. Nilai Consistency Index (CI) untuk matriks perbandingan berpasangan tersebut. d. Nilai Random Index (RI) untuk matriks perbandingan berpasangan tersebut. 2. Untuk setiap matriks perbandingan, kalikan nilai CI dengan bobot kriteria acuan. Jumlahkan semua hasil perkalian tersebut, maka akan didapatkan Consistency Index of Hierarchy (CRH). 3. Untuk setiap matriks perbandingan, kalikan nilai Rl dengan bobot kriteria acuan. Jumlahkan semua hasil perkalian tersebut, maka akan didapatkan Random Index of Hierarchy (RIH). Nilai Consistency Index of Hierarchy (CRH) didapatkan dengan membagi OH dengan RIH. Sama halnya dengan konsistensi matriks perbandingan berpasangan tersebut, suatu hirarki disebut konsisten bila nilai CRH tidak lebihdari 0,10 (CRH < 0,10).

2.6.

Geometrik Mean (Rata-rata ukur) Yang dimaksud geometrik Mean ialah perhitungan rata-rata akar pangkat n dari hari perkalian setiap pnegamatan. Rumus :

Keterangan : X1 X2 Xn
: Pengamatan ke-1

: Pengamatan ke-2 : Pengamatan ke-n

Rata-rata ukur hanya dapat digunakan untuk n kecil. Bila n besar maka perhitungan nya adlah dengan menggunakan logaritmanya Rata-rat ukur dengan n besar. Logaritma dengan rata-rata ukur sama dengan pengamatan dibagi dengan banyaknya pengamatan. Jadi rata-rata ukur samadengan anti logaritma dari jumlah logaritma setiap pengamatan dibagi dengan jumlah pengamatan. Rumus:

(Eko budiarto, 2002:76-77)

2.7.

Tinjauan Pustaka Dalam penelitian Iwan Vanany dengan judul "Perancangan dan Sistem Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja Dengan Metode Performance Prism dengan Studi Kasus pada Hotel X" menguraikan hasil penelitian perancangan sistem pengukuran kinerja pada sebuah perusahaan dalam bisnis hotel dengan model Performance Prism. Selama ini, sistem pengukuran kinerja di Hotel X belum merepresentasikan kinerja organisasi secara komprehensif dan integratif. Oleh karena itu, perlu dilakukan perancangan kembali sistem pengukuran kinerjanya. Dari kondisi objektif hotel X, model yang tepat digunakan adalah model Performance Prism dibanding model lain. Hasil rancangan menunjukkan bahwa stakeholder hotel X meiiputi: konsumen, tenaga kerja, supplier, pemilik/investor, serta pemerintah dan masyarakat sekitar lingkungan hotel. Sistem pengukuran kinerja memuat 36 KPI yang meiiputi 6 KPI konsumen, 9 KPI staff manajerial, 9 KPI staff operasional, 4 KPI supplier, 3 KPI pemilik/investor, serta 5 KPI pemerintah dan masyarakat di sekitar lingkungan hotel. Dari hasii implementasi sistem pengukuran kinerja dengan proses scoring system menggunakan metode OMAX menunjukkan nilai current performance indicator yang telah dicapai oleh hotel X adalah sebesar 50,75%. Hasil pengukuran menjadi landasan pihak manajemen mengevaluasi dan menentukan rencana kerja perbaikan sehingga harapan dari semua stakeholder dapat terpenuhi.

Penelitian yang kedua yaitu penelitian Arif Pujiatur Romadhon dengan judul "Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja RS Widodo Ngawi dengan Balanced Score Card (BSC) dan AHP (Analytic Hierarchy Process) ". Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perspektif yang paling berpengaruh terhadap kinerja Rumah Sakit Widodo. Dengan menggunakan metode AHP dapat diketahui bahwa perspektif yang menempati urutan pertama yaitu perspektif pelanggan dengan nilai bobot 0,3634. Penelitian yang ketiga yaitu penelitian M. Chatsani dengan judul "Usulan Perancangan Konsep BSC {Balanced Scorecard) Dan AHP {Analytic Hierarchy Process) Untuk Pengukuran Kinerja Pada Riyadi Palace Hotel Surakarta". Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan sistem pengukuran kinerja (SPK) Riyadi Palace Hotel Surakarta yang meliputi perspektif finansial, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dikatakan cukup baik dengan menggunakan perancangan konsep Balanced Scorecard fan AHP. Berdasarkan beberapa penelitian diatas, dapat diketahui bahwa pengukuran kinerja merupakan salah satu cara untuk mengetahui kinerja aktual dan sebagai dasar untuk penyusunan strategi bagi prusahaan.

Dalam penelitian ini penulis akan memgunakan dimensi pengukuran kinerja yang dikemukakan oleh Iwan Vanany, Arif Pujianto Romadhon, M.Chatsani, yaitu mengukur kinerja dengan pendekatan pengukuran kinerja yang dimulai dari stakeholder, bukan dari strategi.

Beri Nilai