Anda di halaman 1dari 39

KULIT DAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

Ny.B 27 tahun, dengan keluhan dikedua lipat paha dan dibawah payudaranya terasa sangat gatal

KELOMPOK IV

KELOMPOK IV

Olga Ayu Pratami 0302007198 Vivi Puspitasari 0302008255 Sureza Larke Wajendra 0302009244 Jeni Yuliana 0302010141 Larasayu Citra M 0302010158 Maulitha Agustine 0302010171 Mentari 0302010178

Nadya Zahra 0302010201 Okky Nafiriana Runy Oktavianty P Shafa 0302010252 Ully Amri Yasmine Salida 0302010279 0302010274 0302010214 0302010242

LAPORAN KASUS

Seorang wanita Ny.B 27 tahun, datang ke PUSKESMAS dengan keluhan dikedua lipat paha dan dibawah payudaranya terasa sangat gatal yang dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Ny.B baru sebulan yang lalu melahirkan dan saat ini sedang menyusui bayinya. Di daerah yang gatal tersebut tampak bercak-bercak kemerahan, tampak pula papula-papul dan pustul dibagian tepi juga tampak skuama. Pasien mengatakan karena terasa gatal maka ia membeli krem di apotik akan tetapi kelainnya bertambah meluas.

Ny.B 27 tahun

HIPOTESIS
Infeksi Jamur : Tinea Kandidosis intertrigenosa eritrasma Dermatitis seboroik

Allergi Obat

Skabies

ANAMNESIS
Riwayat Bagian mana yang lebih dulu terasa gatal? Penyakit Apa krim yang digunakan sebelumnya? Sekaran Apakah sebelumnya pernah mengalami hal yang sama? g
Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Keluarga

Apakah menderita penyakit DM? Apakah menderita penyakit kronik yang lain?

Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama?

Riwayat Apakah ada kebiasaan berendam kaki dalam air terlalu lama? Kebiasaan Apakah pasien menggaruk daerah tersebut?

ANALISA MASALAH
Status Pasien

Identitas : Ny. B

Nama

Umur
Jenis Kelamin Pekerjaan

: 27tahun
: Perempuan :-

Status
Alamat

::-

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis Keadaan Umum Baik

Kesadaran Keadaan Gizi Pemeriksaan Tanda Vital


TD Nadi RR Suhu

Compos mentis Baik Hasil yang didapat


110/80 mmHg (Normal) 80 x/menit (Normal) 18 x/menit (Normal) Afebris (tidak demam)

Interpretasi
Normal : < 120/80 mmHg Normal : 60-90 x/menit Normal : 16-24 x/menit Normal : 36,5-37,2

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Kepala Rambut Hasil yang didapat Normochepal (normal) Interpretasi Normal Hitam, distribusi merata Normal (normal)

PEMERIKSAAN FISIK

STATUS DERMATOLOGIS
Lokasi : di daerah kulit lipat paha dan di bawah payudara

Efloresensi Eritema pembuluh Papul1 Pustul dari cm

: eritematosa, papul dan pustul di pinggir lesi : kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran darah kapiler yang reversibel : Penonjolan di atas permukaan kulit, sirkumskrip, berukuran diameter lebih kecil dari cm, dan berisikan zat padat : gelembung yang berisi nanah, berukuran kurang

Ukuran
Numular Plakat

: numular sampai plakat (eritematosa)


: ukuran sebesar uang logam 5 rupiah atau 100 rupiah : ukuran lebih besar dari numular

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah Lengkap :


Pemeriksaan Hb Ht Trombosit Leukosit Hasil yang didapat 13 g/dl (Normal) 36 % (Normal) 150.000/ul (Normal) 11.000/ul (Sedikit meningkat) Interpretasi Nilai Normal : 12 14 g/dl Nilai Normal : 36 46 % Nilai Normal : 150.000 450.000/ul Nilai Normal : 5.000 10.000/ul Leukosit sedikit meningkat mungkin karena adanya inflamasi. Diff Count

0/2/4/59/28/7 (Normal) Nilai Normal


0-1/ 1-3/ 2-6/ 50-70/ 20-

Pemeriksaan KOH 20 %

Hasil yang didapat tidak ditemukan hifa panjang dengan spora menyebar

Interpretasi Tidak adanya jamur penyebab penyakit infeksi jamur pada pasien ini. Kemungkinan spesimen yang diambil untuk pemeriksaan salah, bukan dari lesi yang aktif sehingga pemeriksaan KOH 20% perlu diulang.

Patch Tes (uji tempel)

(-)

uji patch tes negatif menandakan pasien tidak mengalami hipersensitivitas

DIAGNOSIS

Kandidosis Intertriginosa

DIAGNOSIS BANDING

DD :
Tinea cruris et korporis
Tinea korporis et cruris

PENATALAKSANAAN NON MEDIKA MENTOSA


Non- Medika Mentosa
Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi Menjaga kebersihan kulit Menghindari kelembapan pada kulit

PENATALAKSANAAN MEDIKA MENTOSA


Topikal :
Larutan ungu gentian -1% untuk selaput lendir, 12% dioleskan pada kulit sehari 2 kali selama 3 hari. Nistatin : berupa krim, salap, emulsi Grup azol antara lain : Mikonazol 2% berupa krim atau bedak Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dank rim Tiokonazol, bufonazol, isoknazol Sikloproksolamin 1% larutan, krim

KOMPLIKASI
Vulvovaginitis Infeksi candida berulang pada kulit

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam Ad sanationam Ad Komestikum

: Ad Bonam
: Ad Bonam : Ad Bonam :Ad Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Kulit

HISTOLOGI
Epidermis : epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk, berasal dari ektoderm. Terdiri dari beberapa lapisan, yaitu : Stratum korneum Stratum lusidum Stratum granulosum Stratum spinosum Stratum basal

HISTOLOGI
Dermis : jaringan ikat, berasal dari mesoderm

Terdiri atas 2 lapisan yang tidak begitu jelas batasnya, yaitu :

Stratum papilare, terdiri atas sel sel yang terdapat pada jaringan pengikat longgar dengan serabut kolagen halus.

Stratum reticulare, terdiri atas jaringan pengikat yang mengandung serabut serabut kolagen

Subcutis atau Hypodermis

Merupakan jaringan ikat longgar dapat jaringan ikat lemak

VASKULARISASI
Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus superfisial dan pleksus profunda

FISIOLOGI KULIT

Fungsi Proteksi Fungsi Absorpsi Fungsi Ekskresi

Fungsi Persepsi/Sensorik
Fungsi Termoregulasi Fungsi Keratinisasi

Fungsi Pembentukan Vitamin D


Fungsi Pembentukan Pigmen- Melanosit

KERATINISASI KULIT
inti menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf Sel gepeng dan bergranula (sel granulosum)

Sel yang sudah mengalami keratinisasi meluruh

Digantikan dengan sel di bawahnya

sel spinosum
sel basal mengadakan pembelahan

EFLORESENSI
Efloresensi Primer
Makula , Papul, Plak, Urtika, Nodus, Nodulus, Vesikel, Bula, Pustule, Kista

Efloresensi Sekunder
Skuama, Krusta, Erosi, Ulkus, Sikatriks

MEKANISME GATAL

SEL- SEL IMUN PADA KULIT

Epidermis

Dermis

Sel keratinosit Sel langerhans Limfosit Melanosit

Dermal DC Plasmacytoid DCs Limfosit gamma delta NK-T cell Makrofag

Mekanisme pertahanan kulit dan mukosa terhadap infeksi


TNF menstimulasi sel dendritik untuk membawa antigen
Sel T efektor menuju ke kulit untuk melenyapkan antigen
daerah parakortek nodus limfatikus kepada sel T CD4

sel limfosit efektor dan sel limfosit memori

sel T CD4 berproliferasi dan berdiferensiasi

sel limfosit memori berdiam di jaringan dan limfoid sekunder

KANDIDIASIS INTERTRIGINOSA
DEFINISI

Kandidiasis Intertriginosa adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans . Lesi yang terjadi pada daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glands penis, dan umbilikus. Berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.

EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Hubungan ras dengan penyakit ini tidak jelas tetapi insidendiduga lebih tinggi di negara berkembang. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada daerahtropis dengan kelembaban udara yang tinggi dan pada musim hujan sehubungan dengandaerah-daerah yang tergenang air.

ETIOLOGI

Yang tersering sebagai penyebab adalah Candida albicans. C. albicans adalah jamur dimorfik yang memungkinkan untuk terjadinya 70-80% dari semua infeksi candida, sehingga merupakan penyebab tersering dari candidiasis superfisial dansistemik.

PATOGENESIS
Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen 1. Faktor Endogen :
Perubahan fisiologik - Kehamilan, karena perubahan Ph dalam vagina - Kegemukan, karena banyak keringat, dll Umur Orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna

Imunologik penyakit genetik

PATOGENESIS
2. Faktor Eksogen 1. iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat 2. kebersihan kulit 3. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur 4. kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanospotitis

PENCEGAHAN

Keadaan umum dan higienitas yang baik dapat membantu pencegahan infeksi kandida, yakni dengan menjaga kulit selalu bersih dan kering. Bedak yang kering mungkin membantu pencegahan infeksi jamur pada orang yang mudah terkena.Penurunan berat badan dan kontrol gula yang baik pada penderita diabetes mungkin membantu pencegahan infeksi tersebut

Tinea kruris

Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.

Tinea korporis

Kelainan yang terlihat merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas terdiri atas eitema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata. Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang mendadak biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea corporis et cruris atau sebaliknya tinea cruris et corporis.

KESIMPULAN

Kandidiasis Intertriginosa adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans. Sering di temukan pada daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glands penis, dan umbilikus. Berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer. Penatalakasaan dapat berupa non-medikamentaosa dan medikamentosa. Medikamentosa dibagi menjadi pemberian topilkal dan sistemik, dengan pemberian yang tepat, progosis dari pasien ini adalah baik

DAFTAR PUSTAKA

Suparlan, A., G., dkk, Kandidiasis, dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi, LAB/ UPF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, RSUD Dokter Soetomo, Hal 15-18, Surabaya, 1994 Siregar, R., S., Dermatitis Seboroika, dalam Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Edisi Kedua, Hal 104-106, Balai Penerbit EGC, Jakarta, 2002 Twycross R, Greaves MW, Handweker H, Jones EA, Libretto SE, Szepietowski JC, Zylicz Z. Itch: scratching more than the surface. Q J Med 2003; 96:7-26. Granstein RD, Luger T. Neuroimmunology of Skin: Basic Science to Clinical Practice. Berlin: Springer; 2009. p. 104.

TERIMA KASIH