Anda di halaman 1dari 4

Fraktur Tibia Plateau

Tibia adalah tulang yang menahan beban utama dari kaki,yaitu sekitar 85%. Tibia plateau terdiri dari permukaan articular medial dan lateral atas yang merupakan kartilaginosa menisci. Medial plateau lebih besar dan concave pada sagital dan coronal axes. Lateral plateau meluas lebih tinggi dan convex pada bidang sagital dan koronal. Tibia plateau normal adalah menyerong 10 derajat posteroinferior. Kedua plateau dipisahkan satu sama lain oleh area interkondilaris, yang nonarticular dan yang berfungsi sebagai lampiran tibialis dari ligamentum cruciatum. Tiga tulang prominences ada 2-3cm sebelah distal tibia plateau. Tuberkulum tibia terletak di anterior, dimana disisipan ligamen patella. Permukaan articular medial dan itu mendukung condilus medial lebih kuat dari pada sebelah lateral. Oleh karena itu fraktur sebelah lateral lebih sering. Fraktur media plateau berhubungan dengan cedera yan lebih berat dan lebih sering mencederai jaringan lunak.

Mekanisme cedera Mekanisme cedera biasanya berupa trauma abduksi atau juga biasanya berupa pukulan langsung pada bagian lateral tungkai dengan kaki terfiksasi langsung pada permukaan tanah. Trauma menekan lutut ke arah valgus medial dan mendorong kondilus femur ke plato (plateau = permukaan datar) tibia lateral. Tulang yang osteoporotik akan mengalami patah tulang sebelum ligamen kolateral medial lutut robek.

Gambaran klinik Lutut membengkak dan mungkin mengalami deformitas.memar biasanya luas dan jaringan terasa seperti adonan karena hemartrosis. Hemartrosis yang besar, tegang dan nyeri harus diaspirasi dalam keadaan aseptik.Pemeriksaan secara hati-hati (atau pemeriksaan dibawah anestesi) dapat menunjukan ketidakstabilan medial atau lateral.kaki dan ujung kaki harus diperiksa dengan cermat untuk mencari ada tidaknya tandatanda cedera pembuluh darah atau neurologi. Pemeriksaan sinar x Sinar X anteroposterior, lateral, dan oblik biasanya dapat memperlihatkan fraktur, tetapi tingkat kominusi atau depresi dataran tidak terlihat jelas tanpa tomografi. Foto tekanan (dibawah anestesi) kadang kadang bermanfaat untuk menilai tingkat ketidakstabilan sendi. Bila kondilus lateralis remuk, ligamen medial sering utuh, tetapi apabial epikondilus medial remuk, ligament lateral sering robek. Dalam perencanaan terapi, perlu diketahui terlebih tipe frakturnya, yang terdiri dari 6 tipe, yaitu: Tipe 1 (fraktur biasa pada kondilus tibia lateralis) Pada pasien yang lebih muda, mungkin terdapat retakan vertical dengan pemisahan fragment tunggal. Fraktur ini mungkin sebenarnya tidak bergeser, atau jelas sekali tertekan dan miring. Kalau retakannya lebar, fragmen yang lepas atau meniscus lateral dapat terjebak dalam celah. Tipe 2 (peremukan kominutif pada kondilus lateralis dengan depresi pada fragmen) Biasanya terjadi pada orang tua dengan osteoporosis. Tipe 3 (peremukan kominutif dengan fragment luar utuh) Mirip dengan tipe 2, tetapi segment tulang sebelah luar memberikan selembar permukaan sendi yang utuh. Fragment yang tertekan dapat melesak ke dalam tulang subkondral. Tipe 4 (fraktur pada kondilus media) Terkadang akibat cedera berat, dengan perobekan ligament kolateral lateral. Tipe 5 (fraktur pada kedua kondilus) Dengan batang tibia yang melesak diantara keduanya. Tipe 6 (kombinasi fraktur kondilus dan subkondilus) Biasanya akibat daya aksial yang hebat

Terapi Terapi dengan traksi dapat dilakukan dengan sederhana saja dan sering menghasilkan fungsi lutut yang baik, tetapi sering tersisa sedikit angulasi. Di sisi lain, tindakan pembedahan untuk pemulihan permukaan yang hancur dapat menghasilkan penampilan sinar-X yang baik dan kekakuan lutut. Fraktur yang tak bergeser atau yang sedikit bergeser.

Hemartrosis diaspirasi dan pembalut kompresi dipasang. Tungkai diistirahatkan pada mesin CPM (Continuous Passive Motion) dan gerakan lutut dimulai. Segera setelah nyeri dan pembengkakan akut telah mereda (biasanya dalam seminggu), gips penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan menahan beban sebagian dengan kruk penopang. pembebanan bebas ditunda hingga fraktur telah sembuh (6-8 minggu). Tipe 1-fraktur yang bergeser. Fragment kondilus yang besar harus benar-benar direduksi dan difiksasi pada posisinya. Ini yang terbaik dilakukan dengan operasi terbuka. Tipe 2-frakut kominutif Pada dasarnya ini adalah fraktur kompresi, mirip dengan fraktur kompresi pada vertebra. Kalau depresi ringan (kurang dari 5mm) dan lutut stabil, atau kalau pasien telah tua dan lemah atau mengalami osteoporosis, fraktur diterapi secara tertutup dengan tujuan memperoleh kembali mobilitas dan fungsi dan bukannya restitusi anatomis. Ssetelah aspirasi dan pembalutan kompresi, traksi rangka dipasang lewat pen berulir melalui tibia,7cm di bawah fraktur. Kondilus dicoba untuk dibentuk, lutut kemudian difleksikan dan diekstensikan beberapa kali untuk membentuk tibia bagian atas pada kondilus femur yang berlawanan. Kaki diletakan di bantal dengan 5kg traksi, latihan aktif harus dilakukan tiap hari. Pilihan lainnya, lutut dapat diterapi sejak permulaan dengan mesin CPM, untuk semakin meningkatkan rentang gerakan. Seminggu setelah terapi ini, penggunaan mesin dihentikan dan latihan aktif dimulai. Segera setelah fraktur lengket (biasanya setelah 3-4minggu) , pen traksi dilepas, gips-penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan bangun dengan kruk penopang. Pembebanan penuh ditunda selama 6 minggu lagi. Pada pasien muda dengan fraktur tipe 2, terapi ini dianggap terlalu konservatif,dan reduksi terbuka dengan peninggian plateau dan fiksasi internal sering menjadi pilihan. Tipe 3-kominusi dengan fragment lateral yang utuh Prinsipnya hampir sama dengan terapi tipe 2. tetapi, fragment lateral dengan kartilago artikular yang utuh merupakan permukaan berpotensi mendapat pembebanan, maka reduksi yang sempurna lebih penting. Cara ini kadang kadang dilakukan secara tertutup dengan traksi yang kuat dan kompresi lateral. Jika berhasil, fraktur diterapi dengan traksi atau CPM. Kalau reduksi tertutup gagal, reduksi terbuka dan fiksasi dapat dicoba. Pasca operasi, latihan dimulai secepat mungkin dan 2 minggu kemudian pasien dibiarkan bangun dengan gips-penyangga yang dipertahankan hingga fraktur telah menyatu. Tipe 4 Dapat diterapi dengan gips-penyangga. Kalau fragment nyata sekali bergeser atau miring, reduksi terbuka dan fiksasi diindikasikan. kalau ligament lateral juga terobek, ini harus diperbaiki sekligus.

Tipe 5 dan 6 Cedera berat yang menambah risiko sindroma kompartement. Fraktur bikondilus sering direduksi dengan traksi dan pasien kemudian diterapi seperti pada cedera tipe 2. Fraktur yang lebih komplek dengan kominusi yang berat lebih baik ditangani secara tertutup, meskipun traksi dan latihan mungkin harus dilanjutkan selama 4-6 minggu hingga fraktur cukup lengket untuk memungkinkan penggunaan gips-penyangga. Kalau terdapat beberapa fragment yang dengan jelas bergeser, fiksasi interna dapat dibenarkan.

Komplikasi Dini Sindroma kompartemen pada fraktur bikondilus tertutup terdapat banyak perdarahan dan resiko munculnya sindroma kompartemen.kaki dan ujung kaki harus diperiksa secara terpisah unuk mencari tanda-tanda iskemia. Belakangan Kekakuan Sendi Pada fraktur kominutif berat dan setelah operasi kompleks, terdapat banyak risiko timbulnya kekakuan lutut, resiko ini dicegah dengan (1) menghindari imobilisasi gips terlalu lama (2) mendorong dilakukannya gerakan secepat mungkin. Deformitas Deformitas varus atau valgus yang tersisa amat sering ditemukan, baik karena reduksi fraktur yang tak sempurna ataupun karena pergeseran ulang selama terapi. Untungnya deformitas yang moderate dapat member fungsi yang baik, meskipun pembebanan berlebihan pada satu kompartement secara terus menerus dapat menyebabkan predisposisi untuk osteoarthritis dikemudian hari.