Anda di halaman 1dari 19

KELUARGA BERENCANA

Pengertian KB Lazim digunakan di kalangan ulama yang memperbolehkannya berarti Tahzim al-Nasl ( pengaturan Keluarga ).

Arti lain : Merupakan suatu tindakan perecanaan pasangan suami istri untuk mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval kelahiran dan menentukan jumlah anak sesuai dengan kemampuannya serta situasi kondisi masyarakat dan negara.

Program KB di Indonesia
Diatur oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN ) merupakan lembaga yang agar program KB berjalan sesuai yang direcanakan.

Metode KB terdiri atas 3 secara garis besar antara lain:


1. tanpa alat bantu 2. menggunakan alat bantu 3. sterilisasi

Pandangan Ulama tentang Pembatasan Kelahiran


Hampir semua menolak adanya Undang-undang publik atau sejenis itu yang membatasi kebebasan suami istri dalam perencanaan jumlah keluarga, mengharamkan sterilisasi dan pada umumnya membolehkan berbagai tindakan pencegahan kelahiran yang sifatnya sementara dengan alasan dibenarkan oleh syarak dan atas dasar persetujuan pasangan suami istri tersebut.

Pencegahan Kehamilan menurut Ulama Klasik


Di masa lalu pencegahan kehamilan disebut juga azl. Beberapa ulama membolehkan azl.

Tapi, ada beberapa ulama yang berbeda pendapat, antara lain :


1. Ibnu Hibban (270-354H),Ibnu Hazm,Mahzab Zhahiriyah,dll. Menyatakan haram karena berarti memutuskan keturunan. 2. Ulama Fikih Madinah. Memiliki dua sudut pandang. Pertama, sudut kepentingan umat hukumnya makruh karena termasuk upaya menyedikitkan keturunan. Kedua, sudut hubungan suami istri, apabila kerelaan dari kedua belah pihak, maka hukumya mubah. 3. Ulama Mahzab Hanafi. Membolehkan dengan syarat ada kerelaan dari pihak istri. 4. Jumhur Ulama Sunni,Syiah dan Ibadiyah. Menyatakan mubah. Al-Ghazali termasuk yang membolehkan.

Pandangan Ulama Kontemporer tentang KB


1. KB Hukumnya Boleh
Alasan Ulama yang membolehkan KB, sebagai berikut : a. Untuk memberikan kesempatan bagi wanita beristirahat antara dua kehamilan. b. Jika salah satu atau kedua orang pasangan suami istri memiliki penyakit yang dapat menularkan. c. Untuk melindungi kesehatan ibu. d. Jika keuangan suami tidak mencukupi untuk membiayai lebih banyak anak. e. Imam al-Ghazali menambahkan, untuk menjaga kecantikan ibu.

Dalil-dalil yang Membolehkan KB, antara lain:


1. Ayat yang menekankan agar meninggalkan generasi yang kuat, bukan yang lemah : pada Q.s.al-Nisa (4) : 9 2. Ayat al-Quran menekankan agar merencanakan keluarga dengan menjaga kesehatan ibu dan anak, baik selama hamil, melahirkan, menyusui, dan memeliharanya : pada Q.s.al-Ahqaf (46) : 15, alBaqarah (2): 233, Luqman (31):44

2. Kelompok yang Menolak KB


Ulama yang menolak KB, antara lain dengan alasan bahwa :

a. KB sama dengan membunuh bayi. b. KB merupakan tindakan tidak wajar (non alamiah) dan bertentangan dengan fitrah. c. KB mengindikasikan pada ketidakyakinan akan perintah dan ketentuan Tuhan. d. KB berarti mengabaikan doa Nabi agar umat Islam memperbanyak jumlahnya. e. KB akan membawa petaka konsekunsi-konsekuensi sosial. f. KB adalah suatu jenis konspirasi Imperialis Barat terhadap negaranegara yang berkembang.

Metode Ber-KB
Secara garis besar ada tiga metode KB yang digunakan, yaitu :
1. Tanpa alat bantu 2. Dengan menggunakan alat bantu 3. Sterilisasi

Secara global terdiri atas dua cara,yaitu :


1. Sifatnya sementara

2. Sifatnya permanen

Metode KB yang Sifatnya Sementara


Menurut Ulama yang membolehkan KB, menggunakan cara atau alat kontrasepsi hendaknya tidak dipaksakan, agar menggunakan alat tidak bertentangan dengan syariat Islam dan disepakati oleh pasangan suami istri. Misalnya, ber-KB melalui senggama terputus (azl) yang bersifat sementara.

KB Tanpa Alat
Secara umum ulama membolehkan KB menggunakan cara atau alat kontrasepsi sepanjang tidak dipaksakan, dinilai tidak bertentangan dengan syariat Islam, dan mesti disepakati oleh suami istri.

KB dengan Alat Kontrasepsi


Antara lain:

1. Kondom 2. Diafragma 3. Spermisida 4. Penutup serviks (cervical cap) 5. Implan atau Susuk 6. Kontrasepsi dengan suntikan Medroksiprogesteron 7. Pil KB 8. Intravag atau Tisu KB 9. IUD (Intra Uterine Device) atau Spiral 10. Pil anti konsepsi (Lyndiol)

Pandangan Ulama Indonesia tentang KB


Secara umum lembaga-lembaga fatwa di Indonesia menerima dan membolehkan KB.
Dengan beberapa argumen, antara lain: a. Untuk menjaga keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. b. Untuk menjaga keperluan hidup keluarga dan anakanak. c. Untuk menjaga keselamatan jiwa, kesehatan, atau pendidikan anak-anak.

Kontroversial Hukum Penggunaan IUD


Ulama di Indonesia berbeda pendapat tentang pemasangan IUD,antara lain :
1. Menurut MUI Bahwa penggunaan IUD dalam pelaksanaan KB dapat dibenarkan, jika pemasangan dan pengontrolannya dilakukan dengan tenaga medis dan/atau para medis wanita, atau jika terpaksa dapat dilakukan oleh tenaga medis pria dengan didampingi oleh suami atau wanita lain.

2. Menurut Dewan Hisbah PERSIS Bahwa menggunakan IUD syubhat, sejauh masih ada cara lain yang tidak menimbulkan mafsadah apa-apa dilihat dari segi keagamaan, maka tempuhlah cara tersebut. 3. Menurut ulama-ulama NU Bahwa dasarnya menggunakan spiral (IUD) itu hukumnya boleh, sama dengan azl atau ala-alat kontrasepsi lainnya, tetapi cara memasangnya harus melihat aurat vital maka hukumnya haram, termasuk kategori haram lighairi.

Vaksin KB dari Sperma