Anda di halaman 1dari 1

Kelor, moringa pterygosperma C.. Gaertn ( M.

Oleifera ) Famili : moringaceae

Berasal dari india utara dan pakistan, kelor diintroduksikan ke asia tenggara dan kini ditanamluas pada dataran rendah di banyak wilayah tropika. Pohon ini tumbuh untuk daun, bunga, dan muda yang dapat dimakan. Sebagai tanaman tahunan deciduous, pohon tumbuh setinggi 7 8 m dengan daun besar. Panjang sekitar 50 cm, yang kebanyakan menyirip dua atau tiga. Kelompok bunga berkelamin ganda berwarna putih krem atau kuning pucat terbentuk pada ketiak daun pada malai yang menyebar. Buah berbentuk kapsul, ramping, runcing, menggantung, mencapai panjang 50 cm. Biji hampir bulat, dengan diameter sekitar 1 cm, dan memiliki tiga sayap tipis yang menempel. Perbanyakan tanaman kemungkinan dengan biji, tetapi umumnya digunakan setek batang. Pertumbuhan tanaman yang umumnya cepat menyebabkan tanaman dapat berproduksi mulai umur 1 tahun setelah tanam. Pohon kelor ini sangat toleran terhadapt kekeringan, dan menyukai tanah subur dan berdrainase baik. Buah muda dipanen pada sekitar 50 75 hari setelah antesis; diperlukan 50 hari lagi sebelum biji matang dapat dipanen. Polong muda mirip dengan kacang panjang, vigna unguiculata, dan dimakan dengan cara yang sama. Seperti kacang panjang, polong kelor cepat menjadi berserat. Jaringan dalam buah polong yang berlendir dan sedikit pedas juga dimakan, seringkali dalam kari. Akar memiliki rasa mirip horseradish, tetapi tidak dimakan. Bunga, pucuk tajuk, dan daun, disamping polong, biasa digunakan sebagai sayuran. Bahkan biji juga dapt dimakan setelah alkaloid yang beracun dihlangkan melalui pemasakan. Biji biasanya digoreng, amat mirip kacang tanah, dan memiliki rasa yang sama. Minyak biji yang dapat diekstrak, walaupun juga dapat dimakan, memiliki kegunaan lain. Disamping memiliki banyak kegunaan sayuran pohon kelor biasa dgunakan sebagi ting pagar, lanjaran, dan naungan, dan seluruh bagian tanaman tampaknya memiliki khasiat obat.