Anda di halaman 1dari 4

Erika Fitrianti (I11110046) Patofisiologi peningkatan tekanan Arteri Peran system saraf Salah satu fungsi system saraf

dalam pengaturan sirkulasi adalah kemampuannya untuk menimbulkan peningkatan tekanan arteri secara cepat, sehingga seluruh fungsi vasokonstiktor dan kardioakselerator system saraf simpatis dirangsang secara bersamaan. Pada saat yang sama, terjadi inhibisi resifrokal dari sinyal penghambat vagal parasimpatis kejantung. Akibatnya,

timbul 3 perubahan utama secara serentak yang masing-masing membantu meningkatkan tekanan arteri: 1. Hampir seluruh arteriol dalam sirkulasi sistemik akan berkonstriksi sehingga akan meningkatkan tahanan perifer total dan tekanan arteri. 2. Pembuluh besar lain dalam sirkulasi, terutama vena, akan berkonstriksi dengan kuat. Keadaan ini akan menggantikan darah yang keluar dari pembuluh darah besar di perifer kearah jantung, sehingga meningkatkan volume darah dalam ruang jantung. Peregangan jantung kemudian menyebabkan jantung berdenyut dengan kekuatan yang lebih besar sehingga memompa darah dalam jumlah yang lebih besar pula, hal ini juga akan meningkatkan tekanan arteri. 3. Akhirnya, jantung secara langsung dirangsang oleh system saraf otonom, yang

selanjutnya memperkuat pompa jantung. Keadaan ini banyak disebabkan oleh peningkatan frekuensi denyut jantung , kadang-kadang sampai sebesar tiga kali normal. Selain itu, sinyal saraf simpatis mempunyai pengaruh langsung yang signifikan untuk meningkatkan kekuatan kontraktilitas otot jantung, hal ini juga akan meningkatkan kemampuan jantung untuk memompa volume darah yang lebih besar. Selama perangsangan simpatis yang kuat, jantung dapat memompa darah sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan keadaan normal. Hal ini turut berperan dalam menimbbulkan peningkatan akut tekanan arteri yang lebih tinggi lagi. Peningkatan Tekanan Arteri Selama Kerja Fisik- Hasil Penting Peningkatan Rangsang Simpatis

Salah satu efek paling penting dari peningkatan aktivitas simpatis saat kerja fisik adalah untuk meningkatkan tekanan arteri. Hal ini akibat dari berbagai efek perangsangan , antara lain (1) vasokonstriksi arteriol dan arteri kecil pada sebagian besar jaringan tubuh kecuali pada otot yang aktif (2) peningkatan aktivitas pemompaan oleh jantung dan (3) peningkatan hebat tekanan pengisian sistemik rata-rata yang terutama disebabkan oleh kontraksi vena. Efek-efek ini bekerja bersama-sama yang akhirnya selalu meningkatkan tekanan arteri Selama kerja fisik. Kenaikan ini dapat sekecil 20 mmHg atau sebesar 80 mmHg bergantung pada keadaan sewaktu melakukan kerja fisik. Bila seseorang melakukan kerja fisik dalam keadaan tegang tetapi hanya menggunakan sedikit otot saja, respons simpatis tetap terjadi di seluruh tubuh. Pada beberapa otot yang aktif, terjadi vasodilatasi tetapi pada semua tempat lain di tubuh terutama terjaid efek vasokonstriksi yang seringkali meningkatkan tekanan arteri rata-rata sampai setinggi 170 mmHg. Peningkatan Tekanan Arteri Selama Kerja Otot dan Jenis Stress Lainnya Contoh penting kemampuan system saraf untuk meningkatkan tekanan arteri adalah adalah peningkatan tekanan selama kerja otot. Selama kerja berat, otot-otot sangat membutuhkan peningkatan aliran darah. Sebagian peningkatan ini akibat vasodilatasi lokal pada vascularisasi otot yang disebabkan oleh peningkatan metabolism sel-sel otot. Sebagian peningkatan lainnya akibat peningkatan serentak tekanan arteri yanfg disebabkan oleh perangsangan simpatis pada sirkulasi secara keseluruhan selama kerja fisik. Pada kerja fisik yang paling berat, tekanan arteri meningkat sekitar 30-40% yang akan meningkatkan aliran darah sampai sebesar dua kali lipat lebih banyak. Peningkatan tekanan arteri selama kerja fisik terutama akibat dari efek berikut; ketika area motorik otak menjadi teraktivasi untuk menyebabkan kerja fisik, pada kerja fisik yang bersamaan sebaian besar system pengaktivasi retikuler pada batang otak juga teraktivasi,

yang melibatkan peningkatan perangsangan yang sangat besar diarea vasokonstriktor dan kardioakselerator di pusat vasomotor. Keadaan ini akan meningkat tekanan arteri dengan segera untuk menyetarakan besarnya peningkatkan aktivitas otot. Pada banyak jenis stress lain di samping kerja otot, peningkatan tekanan darah yang serupa juga dapat terjadi. Sebagai contoh, selama terjadi rasa takut yang ekstrem, tekanan

arteri kadang-kadang meningkat sampai dua kali normal dalam waktu beberapa detik. Keadaan ini disebut reaksi alarm, dan hal ini meningkatkan tekanan arteri yang dapat dengan segera menyediakan darah bagi setiap atau seluruh otot tubuh yang mungkin harus memberi respons segera untuk menimbulkan gerakan lari menjauh dari bahaya. Kenaikan Volume Cairan Dapat Meningkatkan Tekanan Arteri dengan Meningkatkan Curah Jantung atau Tahanan Perifer Total.

Peningkatan Volume Cairan Ekstra sel

Peningkatan Volume Darah

Peningkatan tekanan pada pengisian Sirkulasi rata-rata

Peningkatan Aliran Balik Vena ke jantung

Peningkatan Curah Jantung

Autoregulasi
Peningkatan Resistensi perifer total

Peningkatan Tekanan Arteri

Skema ini menggambarkan bahwa, seluruh mekanisme yang mengakibatkan kenaikan volume cairan ekstrasel akan meningkatkan terkanan arteri. Urutan peristiwanya adalah (1) kenaikan volume cairan ekstrasel (2) meningkatkan volume darah yang (3) meningkatkan

tekanan pengisian sirkulasi rata-rata yang (4) meningkatkan aliran balik darah vena ke jantung, yang (5) meningkatkan curah jantung yang (6) meningkatkan tekanan arteri. Ada dua cara yang dapat meningkatkan tekanan arteri melalui kenaikan curah jantung. Salah satu cara tersebut adalah pengaruh langsung kenaikan curah jantung dalam meningkatkan tekanan, dan yang lainnya adalah pengaruh tidak langsung yang menyebabkan kenaikan tahanan vascular perifer melalui autoregulasi aliran darah.

Bila darah yang mengalir melalui suatu jaringan jumlahnya berlebihan, maka pembuluh darah jaringan setempat akan berkonstriksi dan menurunkan aliran darahnya kembali normal. Fenomena ini disebut autoregulasi, yang secara sederhana berarti pengaturan aliran darah oleh jaringan itu sendiri. Bila kenaikan volume darah meningkatkan curah jantung, aliran darah di seluruh jaringan tubuh akan meningkat sehingga mekanisme autoregulasi ini akan menyebabkan konstriksi pembuluh darah di seluruh tubuh. Keadaan ini selanjutnya akan meningkatkan tahanan perifer lokal . Pada akhirnya karena tekanan arteri sama dengan curah jantung dikali tahanan perifer lokal, maka peningkatan sekunder pada tahanan perifer total yang disebabkan oleh mekanisme autoregulasi sangat membantu dalam meningkatkan tekanan arteri. Sebagai contoh, kenaikan curah jantung yang hanya sebesar 5-10% dapat meningkatkan tahanan arteri dari tekanan arteri rata-rata normal sebesar 100 mmHg menjadi 150 mmHg. Bahkan peningkatan curah jantung yang sedikit ini sering tidak dapat diukur. Sumber : Guyton & Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC; 2008.