Anda di halaman 1dari 15

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 1 dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM IKHTIOLOGI Produksi Pakan Alami, Penanganan Hama-Penyakit dan Pembenihan Ikan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara

Disusun oleh : Nama NIM Asisten : PRASETYO F P P : 08/267348/BI/08130 : M. NUR FATKKUROHMAN

LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 2 dari 15

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam budi daya ikan bandeng, teknologi yang diterapkan juga berkembang dari tradisional yang mengandalkan masukan benih (nener) dan pengolahan makanan alami hingga pemberian pakan buatan secara terencana (Ahmad et al. 1997). Dengan rasa daging yang enak dan harga yang terjangkau, bandeng sangat digemari oleh masyarakat terutama di Jawa dan Sulawesi Selatan. Sejalan dengan meningkatnya permintaan, efisiensi budi daya menjadi tuntutan utama dalam upaya peningkatan produktivitas serta pendapatan petambak/nelayan. Selama ini, pengembangan budi daya bandeng di masyarakat tidak banyak menemui kesulitan karena ikan ini memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan ikan lainnya, yaitu: 1) teknik pembenihannya telah dikuasai sehingga pasokan benih tidak tergantung dari alam, 2) teknologi budi dayanya relatif mudah, 3) bersifat euryhaline, toleran terhadap perubahan salinitas antara 0158 ppt (Ismail et al. 1994), 4) bersifat herbivorous dan tanggap terhadap pakan buatan, 5) formulasi pakan buatan untuk ikan bandeng relatif mudah, 6) tidak bersifat kanibal dan mampu hidup dalam kondisi berjejal, 7) dapat dibudidayakan secara polikultur dengan spesies lainnya seperti baronang, 8) meskipun dagingnya bertulang, tetapi rasanya lezat dan di beberapa daerah memiliki tingkat preferensi konsumsi yang tinggi, dan 9) dapat digunakan sebagai umpan bagi industri penangkapan tuna (Rachmansyah et al. 1997). Langkah langkah budidaya untuk membudidayakan ikan bandeng antara lain yaitu, 1. Penyediaan benih Kini sebagian besar benih bandeng diperoleh dari hatchery, tidak lagi dari alam. 2. Penebaran benih Benih yang ditebar dalam KJA sebaiknya berukuran gelondongan. Hal ini disebabkan nener belum mampu mengatasi pengaruh lingkungan perairan yang berarus dan bergelombang. Keuntungan lain penggunaan gelondongan adalah benih dapat tumbuh cepat sehingga mempersingkat waktu pemeliharaan. Padat penebaran sangat tergantung pada ukuran ikan dan wadah budi daya. Sifat perenang cepat dan melawan arus perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan padat penebaran. Padat penebaran ikan berukuran 3 g sebesar 200-30o ekor/m3. Adapun padat tebar ikan berukuran 100-15o g/ekor adalah 125 ekor/m3. Penebaran hendaknya dilakukan pada pukul 06.00-08.00 atau 19.00-20.00 untuk menghindari ikan stres akibat perubahan kondisi lingkungan perairan. Adaptasi salinitas hendaknya dilakukan sebelum benih ditebar dan disesuaikan dengan salinitas perairan di lokasi KJA. Transportasi bandeng ke

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 3 dari 15

karamba dapat dilakukan dengan penggunaan kantong plastik berisi air 5-10 l dan oksigen dengan perbandingan 1 : 2. Padat penebaran gelondongan ukuran 10 cm sekitar 5o ekor/kantong, dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam. Penggunaan penoksetan0l 20o mg/l dan penurunan suhu dapat diaplikasikan dalam pembiusan ikan selama transportasi untuk mencegah kerusakan fisik. 3. Pendederan Pendederan nener dapat dilakukan di petakan tambak, bak terkontrol, maupun hapa yang ditancapkan di tambak. Pendederan umumnya berlangsung selama 8o hari. Pendederan bertujuan untuk mendapatkan gelondongan bandeng berukuran 751oo g/ekor. Selama tahap pendederan pertambahan bobot ikan per hari berkisar 40-50 mg. 4. Pembesaran Lama pembesaran untuk mencapai ukuran di atas 300 g dengan benih berukuran sekitar 3 g adalah 120 hari. Adapun lama pembesaran untuk mencapai ukuran konsumsi (500 g/ekor) dengan berat benih 20 g selama 5 bulan. 5. Pemberian pakan Pakan utama bandeng terdiri dari organisme plankton, benthos, detritus, dan epifit. Dalam budi daya bandeng sekarang, digunakan juga pakan ikan buatan (pelet). Budi daya bandeng dalam KJA sepenuhnya mengandalkan pada pakan buatan dengan kandungan proteinnya berkisar 20-30%. Umumnya pakan diberikan sebanyak 10-30% dari total bobot ikan/hari. Waktu pemberian pakan dilakukan sebanyak 2-3 kali sehari (pagi, siang, dan sore). Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit agar pakan tidak banyak terbuang. Pemberian pakan dapat juga dengan metode satiasi (sekitar 90% ikan dalam kondisi kenyang). Pertumbuhan ikan perlu dipantau setiap bulan. Tujuannya sebagai acuan dalam menentukan jumlah pakan yang diberikan serta mengevaluasi perkembangan bobot dan kesehatan ikan. 6.Pengendalian hama penyakit Bandeng yang dibudidayakan di laut umumnya bebas dari parasit dan hampir tidak didapatkan organisme yang bersifat patogen. 7.Panen Bandeng dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi (300-500 g/ekor) dengan lama pemeliharaan 4-5 bulan dari gelondongan. Sementara itu, bandeng super dapat dipanen setelah berukuran 800 g/ekor dengan masa pemeliharaannya selama 120 dari gelondongan ukuran 100150 g/ekor. Tingkat produktivitas bandeng dalam KJA ditentukan oleh faktor laju pertumbuhan,

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 4 dari 15

sintasan, kuantitas, dan kualitas pakan serta pengelolaan budi daya. Panen bisa dilakukan secara selektif atau total dengan menggunakan serer. Untuk budidaya ikan kerapu, benih yang digunakan bisa berasal dari tangkapan maupun pembenihan. Umumnya jumlah benih dari tangkapan sangat terbatas, ukuran tidak seragam, sering terserang penyakit akibat luka saat penangkapan dan pengangkutan. Dengan alasan tersebut lebih baik benih yang digunakan berasal da pembenihan. Selain jumlahnya banyak, ukuran relatif seragam serta kualitas dan kontinuitas terjamin. Benih yang sehat tampak dari warnanya cerah, geraknya lincah dan aktif, nafsu makannya tinggi serta tidak ada cacat tubuh. Kepadatan optimum untuk fase pendederan adalah 150-200 ekor/m3 dengan rata-rata panjang ikan 9-12 cm dan berat 15-25 g. Setelah dibesarkan selama 1-1,5 bulan, kepadatannya dikurangi menjadi 100 ekor/m3. Kepadatan ini harus dipertahankan hingga masa pembesaran 2 bulan, selanjutnya kepadatan menjadi 20-25 ekor/m3 dipertahankan selama 4 bulan hingga ikan mencapai ukuran konsumsi (400-500 g). Untuk pemberian pakan, pada umumnya untuk ikan kerapu diberikan ikan rucah segar karena harganya relatif murah, bisa juga pakan buatan berupa pellet sebagai pengganti ikan rucah. Keberhasilan pembesaran ikan kerapu sangat tergantung pada kecukupan pakan. Pada tahap awal pembesaran, pemberian pakan dilakukan sesering mungkin sampai ikan benar-benar kenyang, minimal tiga kali sehari. Tahap berikutnya waktu dan frekwensi pemberian pakan harus tepat agar pertumbuhan baik dan penggunaan pakan menjadi efisien, karena berkaitan dengan pencernaan dan pemakaian energi. Sebaiknya pemberian pakan 2 kali sehari pada saat pagi dan sore hari. Pakan ikan segar harus dicacah hingga ukurannya sesuai dengan bukaan mulut ikan. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang diberikan dapat efisien dikonsumsi ikan yang dipelihara dan memberikan kelangsungan hidup yang baik yaitu :\
Tabel 1. Standar jenis dan dosis penggunaan pakan pada setiap tingkatan pembesaran ikan kerapu macan dan bebek. No. 1. 2. Dosis dan Jenis pakan Ikan mean segar (%) Pellet (%) Ukuran ikan (gram) 50 - 75 7,5 - 10 5 - 7,5

15 - 25 10 - 15 7,5 - 10

400 - 500 5 - 7,5 3-5

Sumber: Kumpulan SNI Bidang Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya, 2002

Kerapu macan termasuk ikan buas dan memiliki sifat kanibal. Oleh sebab itu kegiatan pemilahan atau penyeragaman ukuran harus secara rutin dilakukan. Hal ini dilakukan agar setiap waring/jaring hanya diisi ikan yang berukuran sama, bila ada perbedaan ukuran maka ikan yang lebih kecil akan kalah bersaing dengan ikan yang lebih besar dalam memperoleh makanan, hal ini bisa menyebabkan banyak kematian.

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 5 dari 15

Penyeragaman ukuran dilakukan mulai dari awal pembesaran dan selanjutnya diteruskan minimal setiap dua minggu sekali, terutama kalau terdapat variasi ukuran. Pemilahan ukuran dilakukan dengan jaring/waring diangkat lalu ikan diambil dan ditampung dalam ember plastik berkapasitas 100 liter, kemudian ikan diseleksi berdasarkan ukuran dan dimasukan kembali dalam wadah pemeliharaan. Pengamatan kesehatan ikan perlu dilakukan secara visual dan organoleptik untuk mengamati ektoparasit dan morfologi ikan. Sedangkan pengamatan secara mikroskopik dilakukan di laboratorium untuk pemeriksaan jasad patogen (endo perasit, jamur, bakteri dan virus). Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter atau kertas lakmus untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu. B. Tujuan Tujuan praktikum lapangan ini adalah untuk mempelajari teknik pembenihan, pemberian pakan alami, penanganan hama-penyakit serta pembesaran ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatuus) dan kerapu bebek ( Cromileptes altivelis) yang memiliki kualitas baik yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

II. METODE KERJA 1. Alat dan Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini berupa kolam-kolam budidaya ikan serta laboratorium pembudidayaan pakan alami. Alat yang dipergunakan adalah alat tulis untuk mencatat informasi yang diberikan. Kamera digital untuk merekam informasi. 2. Cara Kerja Petugas balai budidaya ikan air payau menjelaskan langkah-langkah usaha

pembudidayaan ikan di perairan air payau. Penjelasan dari petugas dipahami dan dicatat pointpoint pentingnya. Penjelasan dari petugas ini kemudian akan dijadikan bahan informasi pembuatan laporan.

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 6 dari 15

Pada praktikum kali ini, dilakukan pembelajaran mengenai upaya pembudidayaan ikan di perairan air tawar. Kegiatan praktikum kali ini dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara yang merupakan lembaga yang berkedudukan dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen Pertanian. BBPBAP merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam bidang rekayasa teknologi yang didirikan pada tahun 1971. Lembaga tersebut melakukan penelitian mengenai siklus hidup udang dari telur hingga dewasa secara terkendali sehingga dapat dibudidayakan di lingkungan tambak. Lembaga tersebut juga mulai mengembangkan jenis lain selain udang, diantaranya ikan bersirip, ekinodemata dan moluska air. Hal tersebut mampu mengatasi masalah penyediaan induk matang telur sehingga mendorong perkembangan industri udang secara nasional. Dalam struktur organisasi, BBPBAP bertugas dalam melaksanakan kegiatan

perekayasaan, pengujin, penerapan, dan bimbingan penerapan standar teknik, alat, dan mesin, serta sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan, pengendalian hama dan penyakit, pengawasan benih dan budidaya, penyuluh, dan kegitan lain yang sesuai. Kegiatan teknis yang dilakukan oleh BBPBAP dibagi dalam beberapa divisi meliputi Divisi Pembenihan Udang-udangan, Divisi Pembenihan Ikan-ikanan, Divisi Pembesaran Udangudangan dan Divisi Pembesaran Ikan-ikanan. Lembaga tersebut memiliki beberapa laboratorium, yaitu Laboratorium Kesehatan MKHA, Laboratorium Pakan Hidup dan Pakan Buatan seta kolam-kolam pemeliharaan. Kegiatan pembenihan diupayakan agar dapat menguasai siklus reproduksi hewan yang akan dikultivasi, misalnya udang windu, serta dapat mengendalikan reproduksi sehingga dapat diatur sesuai kebutuhan. Pembenihan yang dilakukan meliputi Pembenihan Ikan Tidak Bersirip dan Pembenihan Ikan Bersirip. Secara umum, proses pembenihan tersebut meliputi Domestikasi calon induk, Pematangan gonad, Pemeliharaan larva, Pendederan dan Pengujian mutu benih. a. Kelompok Pembenihan Ikan Tidak Bersirip di BBPBAP menangani beberapa komoditas, antara lain : Udang Windu (Penaeus monodon)

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN Udang Galah (Macrobrachium resenbergii) Udang Putih (Penaeus merguiensis) Kepiting Bakau (Scylla sp.) Rajungan (Portunus pelagicus) Udang Rostris (Litopenaeus stylirostris)

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 7 dari 15

Kelompok Pembenihan Ikan Tidak Bersirip mengupayakan pengembangan teknologi pembenihan komoditas lokal yang dinilai potensial dari segi teknis dan ekonomis untuk diaplikasikan serta komoditas introduksi, misalnya udang Rostris (Litopenaeus stylirostris). b. Kelompok Pembenihan Ikan Bersirip di BBPBAP menangani beberapa komoditas, antara lain: Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Kerapu Lumpur (Epinephelus suillus) Kerapu Tikus/ Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Kakap Putih (Lates calcarifer) Bandeng (Chanos chanos forskal) Baronang (Siganus sp.)

Laboratorium Pakan Hidup Salah satu faktor pendukung keberhasilan budidaya ikan dan udang adalah nutrisi pakan alami. Salah satu staf yang mengelola laboratorium pakan alami di BBPBAP adalah Ibu Siska. Kegiatan yang dilakukan diantaranya menyediakan kultur plankton dalam biakan murni, skala bibit dan skala massal. Pemanfaatan biakan murni dalam bentuk cair atau padat selain sebagai persediaan kultur juga sebagai inokulan dalam kultur bibit. Selanjutnya dari kultur bibit dikembangkan ke skala semi massal dan massal yang digunakan sebagai pakan alami bagi komoditas budidaya. Adapun jenis plankton yang disediakan adalah Chlorella vulgaris sebagai pakan brachiura, Skeletonema costatum, Chaetoceros calcitrans dan Tetraselmis chuii sebagai pakan udang windu, Dunaliella salina, Porphyridium sp., Nitzchia sp., Spirulina platensis dan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 8 dari 15

Brachionus plicatilis. Chlorella vulgaris digunakan sebagai pakan larva udang, sedangkan Spirulina platensis digunakan sebagai pakan larva udang dan ikan kakap. Penyediaan plankton bagi konsumen tidak hanya dalam bentuk segar, namun telah dilakukan upaya peningkatan nilai tambah pada produk pasca panen berupa tepung alga. Dengan menggunakan sarana dan cara sederhana telah dapat dihasilkan tepung alga kering yang dapat dimanfaatkan baik untuk komoditas budidaya maupun untuk menunjang kesehatan manusia.

(a) (b) Gambar 1. Kultur mikroalga skala laboratorium (a) dan tepung alga (b) Kultur alga didapatkan dengan isolasi dengan agar langsung dari alam atau berasal dari isolat yang terdapat di LIPI. Isolasi alga langsung dari alam dilakukan menggunakan metode streak plate dengan medium yang dipadatkan dengan bacto agar (dosis 1,5 gram tiap 100 ml medium). Medium tersebut diperkaya dengan N dan P yang merupakan komponen yang paling dibutuhkan alga. Dalam kultur diatom, perlu dilakukan penambahan silika. Aerasi dilakukan pada kultur dengan volume 500-3000 ml. Pemindahan kultur dari skala laboratorium ke skala semi massal atau dari skala semi massal ke skala massal dilakukan saat kultur beada pada fase pertumbuhan eksponensial. Syarat suatu organisme dapat digunakan sebagai pakan alami diantaranya mudah dicerna, mudah dibudidayakan, tidak beracun dan ukurannya kecil. Pakan alami yang diberikan pada komoditas budidaya disesuaikan dengan kesukaan makan hewan tersebut. Biasanya, udang lebih cenderung menyukai jenis diatom, misalnya Skeletonema sp. yang berumur 1-2 hari. Pakan disesuaikan dengan salinitas. Misal : Skeletonema hidup dengan salinitas 28 ppt padahal udang 20 ppt.

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 9 dari 15

Kontaminasi yang terjadi pada tahap kultur laboratorium dapat dengan mudah diketahui dengan melihat warna kultur tersebut. Misalnya pada kultur Chlorella sp. yang seharusnya berwarna hijau akan berubah menjadi agak biru jika terkontaminasi dengan Microcystis. Jenis pakan lain yang dikembangkan selain alga adalah artemia. Artemia merupakan pakan yang baik karena mengandung DHA, EPA dan protein yang tinggi. Di alam, artemia hidup di danau air asin dengan salinitas yang sangat tinggi, yaitu 30 ppt dan paling ekstrem pada 220 ppt. Pada kondisi ekstrem, artemia akan menghasilkan telur yang dilapisi selubung tebal. Artemia memiliki ukuran yang bervariasi pada selama hidupnya, ukuran yang paling besar adalah 14 mm. Jika artemia hidup pada salinitas 220 ppt akan berwarna merah. Hal ini karena artemia memiliki 3 macam hemoglobin. Di kondisi ekstrem salinitas tinggi, jika hemoglobin tipe 1 tidak berfungsi lagi, maka digunakan tipe 2 dan selanjutnya tipe 3, hingga akhirnya salinitas tidak dapat ditolerir dan menyebabkan kematian.

(a) (b) Gambar 2. Artemia dan poster pengeringan kista artemia di BBPBAP Larva artemia disebut nauplius. Larva tersebut berukuran 200 m. Larva artemia digunakan sebagai pakan alami udang atau ikan pada fase exsogenous feeding. Keuntungan yang didapat dari sifat ekstrem artemia adalah dengan memanfaatkannya untuk menghasilkan telur. Induk artemia dalam sekali bertelur dapat menghasilkan 32-24 butir. Artemia dipelihara dalam tambak garam, selanjutnya telur yang dihasilkan akan dipanen dan dikeringkan. Dalam 1 gr berisi 380 ribu butir. Harga 0,5 kg telur artemia adalah Rp 300.000.

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 10 dari 15

Laboratorium Kesehatan MKHA Pengelolaan lingkungan akuatik dan kesehatan komoditas yang dikembangkan merupakan penentu keberhasilan budidaya secara massal. Pengkajian mengenai kondisi lingkungan serta kesehatan komoditas yang dikembangkan dipantau secara terus-menerus di Laboratorium Kesehatan MKHA. Laboratorium tersebut melaksanakan fungsi pelayanan, pengujian, pemantauan dan pengembangan dalam metode diagnosis penyakit ikan dan udang di tambak milik BBPBAP dan melayani permintaan pengujian ikan dan udang di tambak milik masyarakat. Laboratorium di BBPBAP merujuk pada standar nasional dan internasional, sehingga hasil pengujiannya cepat, tepat dan efisien. Laboratorium yang terdapat di Laboratorium ini diantaranya Laboratorium Genetika, Laboratorium Histopatologi, Laboratorium Biologi Molekular, Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Serologi. Pelayanan pada laboratorium-laboratorium yang ada di laboratorium MKH ini antara lain Layanan pemeriksaan Mikrobiologis

Mengetahui Perkembangan populasi bakteri Upaya mengendalikan bakteri merugikan Pengamatan Biologi Molekuler

Deteksi dini keberadaan pathogen dalam inang Seleksi induk dan benih bebas virus Diagnosis virus jenis WSSV, TSV, IHHNV, VNN

Layanan Pemeriksaan parasitologi


Diagnosis berbagai jenis parasit pada ikan dan udang Menentukan parameter yang merupakan indicator kemunduran mutu lingkungan Menentukan kondisi kesehatan udang dan ikan Pemeriksaan Histopatologi

Menjelaskan aspek patologi infeksi Pathogen Menentukan derajat serangan Pathogen Mengungkapkan jenis penyakit baru

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN Pemeriksaan secara Immuno Kimia

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 11 dari 15

Deteksi cepat Pathogen ( virus, bakteri ) Berguna dalam pemeliharaan ( skrinning ) induk bebas pathogen spesifik Digunakan dalam pemeriksaan induk atau species introduksi Di laboratorium biologi molekular, dilakukan analisis penyakit menggunakan metode

yang lebih canggih, diantaranya menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) terhadap virus bercak putih (SEMBV) dan penggunaan teknologi imunokimia untuk TSV (Taura Syndrome Virus). Dengan metode tersebut, keuntungan yang didapat diantaranya hanya memerlukan sampel dalam jumlah yang sedikit, sampel yang berasal dari luar daerah dapat dengan mudah dianalisis dengan didahului proses fiksasi sel agar sel tidak lisis. Di laboratorium mikrobiologi, dilakukan identifikasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pengujian secara mikrobiologis dilakukan dengan isolasi, identifikasi dan penghitungan jumlah mikroorganisme penyebab penyakit. Bakteri yang perlu diwaspadai pada jenis ikan dan udang salah satunya adalah bekteri vibrio. Jika dalam suatu sampel benih ikan maupun udang ditemukan bakteri tersebut dalam jumlah > 104 sel/cc, maka benih ikan/udang tidak layak untuk dibudidayakan. Jika jumlah bakteri 103-104 sel/cc, maka ikan/udang dimungkinkan berada dalam kondisi stres (sakit). Sedangkan pada jumlah bakteri 102-103 sel/cc, dimungkinkan udang/ikan berada dalam kondisi yang baik untuk selanjutnya menghasilkan panen yang maksimal. Pada kondisi stres (sakit), ikan/udang masih dapat hidup. Namun, ikan/udang tersebut tidak dapat melakukan pertumbuhan secara optimal sehingga menyebabkan penurunan hasil panen. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya mengganti air, pemberian pakan dan aerasi yang dilakukan secara intensif. Diharapkan dengan hal tersebut panen ikan/udang dapat sedikit dihindarkan dari kegagalan. Pada pemeriksaan histopatologi, identifikasi penyakit dilakukan secara konvensional dengan membandingkan struktur jaringan yang terinfeksi dengan jaringan normal. Untuk dapat melihat kerusakan jaringan, dilakukan pengirisan jaringan atau orgen kemudian dilakukan pembuatan preparat untuk diamati di bawah mikroskop. Keuntungan dari metode ini diantaranya

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 12 dari 15

dapat melihat sedikit saja kerusakan jaringan atau organ yang ditimbulkan oleh penyakit meskipun kerusakan belum tampak secara morfologis.

Gambar 3. Poster jenis-jenis penyakit pada udang dan ikan serta salah satu prosedur indentifikasinya (dengan PCR)

Budidaya Ikan Kerapu di BBPBAP Salah satu komoditas ikan budidaya di BBPBAP adalah ikan kerapu. Induk ikan kerapu yang dimiliki adalah Kerapu Bebek/ Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis), Kerapu Lumpur (Epinephelus suillus) sebanyak 11 ekor dan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) sebanyak 10 ekor. Induk kerapu yang terdapat di BBPBAP berumur 25 tahun. Induk tersebut diberi pakan berupa cumi (20%), ikan kembung (20%) dan menir (20%) serta tambahan vitamin E.

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 13 dari 15

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 310C, salinitas antara 30 -33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang. Kriteria induk kerapu diantaranya bebas penyakit, gerakan berenang tenang, bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh. Jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri. Pemijahan induk kerapu dilakukan dengan perbandingan 1 betina : 2 jantan dengan berat yang sama. Pemijahan pada ikan kerapu biasanya hanya terjadi pada malam bulan purnama, maka untuk keperluan pengadaan benih secara massal diperlukan manupulasi lingkungan dan induksi hormonal agar induk mudah memijah. Induksi hormonal dilakukan dengan penyuntikan ekstrak hipofisis ikan donor. Manipulasi lingkungan yaitu dengan perlakuan kejutan suhu air dari air yang relatif panas menjadi dingin, namun tetap dalam kisaran hidup ikan kerapu atau dapat dilakukan dengan perlakuan mentup kolam induk selama 5 hari (5 hari gelap) dan menurunkan ketinggian air kolam sampai 5 cm di atas tubuh ikan. Dengan perlakuan tersebut, induk yang telah matang gonad dan telah mengalami ovulasi dengan induksi hormon diharapkan dapat memijah secara alami. Telur yang dihasilkan dari pemijahan induk kerapu selanjutnya dipanen dan ditetaskan. Selama 10 hari larva dipelihara pada kolam dengan aerasi dan air yang tetap, namun setelah 10 hari larva dipelihara pada air yang mengalir dan diganti terus-menerus. Sebelum yolk hampir habis, larva yang telah berumur 3 hari sudah mulai diberi makan rotifera. Pakan yang diberikan pada larva ikan disesuaikan dengan ukuran mulutnya. Setelah larva berumur 12 hari, pakan yang diberikan berupa artemia (nauplius), sedangkan pakan buatan baru akan diberikan setelah larva berumur 14 hari. Pada umur 9-10 hari, larva telah memiliki 3 spina, yaitu 1 di bagian dorsal dan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 14 dari 15

2 di bagian pektoral. Spina terpanjang ketika larva berumur 20-25 hari, selanjutnya spina tersebut akan mereduksi. Larva berubah menjadi juvenil ketika berumur 30 hari. Ikan kakap dan kerapu memiliki sifat kanibal yang alami ketika masih dalam fase larva. Untuk menghindari adanya penurunan jumlah larva akibat saling memakan, maka pakan harus tersedia dalam jumlah berlebih. Adanya saling memakan antar larva mengakibatkan ukuran larva yang bervariasi dalam kolam pemeliharaan. Untuk menghindari penurunan jumlah larva karena tingkat kanibal yang tinggi, maka perlu dilakukan pemisahan larva berdasarkan ukurannya. Saling memakan pada larva ikan kerapu menyebabkan larva tersebut sama-sama mati, sedangkan pada ikan kakap menyebabkan salah satu larva saja yang mati termakan. Pada ikan kerapu, keberhasilan penetasan telur mencapai 85%, namun tingkat kanibal yang tinggi menyebabkan juvenil yang didapat hanya sekitar 30%. Benih yang dihasilkan selanjutnya dipindahkan pada kolam pendederan. Pada pendederan, kerapu bebek dari ukuran 4 cm menjadi 10 cm berkisar 40-75 hari, dengan kelangsungan hidup 70-95% sedanngkan kerapu macan dari ukuran 2 cm menjadi 7 cm memerlukan waktu 30-40 hari dan kelangsungan hidupnya berbeda dengan perbedaan sistem/jenis pakannya. Dengan pemberian pakan pellet kelangsungan hidupnya berkisar 20-40% sedangkan dengan pakan hidup berupa jembret (udang kecil) menghasilkan kelangsungan hidup 60-75% karena tingkat kanibalisme dapat ditekan. Ikan kerapu tergolong dalam komoditas ikan yang bernilai jual tinggi terutama untuk keperluan ekspor. Ikan kerapu ekspor biasanya berukuran 500 1000 gram dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada padi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen.

IV. KESIMPULAN Kesimpulan yang bias ditarik adalah bahwa Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara merupakan lembaga yang berkedudukan dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen Pertanian. BBPBAP merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam bidang rekayasa teknologi. BBPBAP bertugas dalam melaksanakan kegiatan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM IKTHIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN

No. dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Juni 2008 01 15 dari 15

perekayasaan, pengujin, penerapan, dan bimbingan penerapan standar teknik, alat, dan mesin, serta sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan, pengendalian hama dan penyakit, pengawasan benih dan budidaya, penyuluh, dan kegitan lain yang sesuai. Kegiatan teknis yang dilakukan oleh BBPBAP dibagi dalam beberapa divisi meliputi Divisi Pembenihan Udang-udangan, Divisi Pembenihan Ikan-ikanan, Divisi Pembesaran Udangudangan dan Divisi Pembesaran Ikan-ikanan. Lembaga tersebut memiliki beberapa laboratorium, yaitu Laboratorium Kesehatan MKHA, Laboratorium Pakan Hidup dan Pakan Buatan serta kolam-kolam pemeliharaan.

V. DAFTAR PUSTAKA Ahmad, T., M.J.R. Yakob, D. Rohaniawan, M. Suparya, dan Budiman. 1997. Sistem usaha perikanan berbasis bandeng umpan. Laporan Hasil Penelitian ARMP 1996/97. Balai Penelitian Perikanan Pantai, Maros. 57 hlm. Anonim. 2010. Buku Petunjuk Teknis Budidaya Laut Ikan Kerapu, Ditjen P. Budidaya. http://my.opera.com/indiejeans/blog/tehnik-budidaya-kerapu-macan. diakses pada tanggal 30 juni 2010 Ismail, A., A. Poernomo, P. Sunyoto, Wedjatmiko, Dharmadi, dan R.A.I. Budiman. 1994. Pedoman Teknis Usaha Pembesaran Ikan Bandeng di Indonesia. Seri Pengembangan Hasil Penelitian No. 26/1993. Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 73 hlm. Rachmansyah, S. Tonnek, dan Usman. 1997. Produksi ikan bandeng super dalam karamba jaring apung di laut. Dipresentasikan pada Seminar Regional Hasil-Hasil Penelitian Berbasis Perikanan, Peternakan dan Sistem-Sistem Usaha Tani Di Kawasan Timur Indonesia, Naibonat-Kupang, 2830 Juli 1997. 22 hlm. Situs Resmi BBPBAP Jepara. 2010. http://www.udang-bbbap.com/sejarah. diakses pada
tanggal 19 juni 2010.